Anda di halaman 1dari 48

MANAJEMEN KEPERAWATAN

Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional


Edisi 3







Nursalam


Penerbit Salemba Medika, tahun 2011
ISBN: 978-602-8570-73-2
Daftar Isi

Tentang Penulis iii
Kata Pengantar v
Daftar Isi vii

BAGIAN 1

Tren Isu Pengelolaan Perubahan Manajemen Keperawatan 1
Bab 1 Konsep Dasar Perubahan 3
Jenis dan Proses Perubahan 5
Teori-teori Perubahan 6
Strategi Membuat Perubahan 10
Kunci Sukses Strategi untuk terjadinya Perubahan yang Baik 11
Tahap dan Pedoman Pengelolaan Perubahan 12
Agen Pembaharu 14
Daftar Pustaka 15

Bab 2 Pengelolaan Tren dan Isu Perubahan Keperawatan Indonesia
dalam Proses Profesionalisasi 17
Kebijaksanaan Pemerintah (Depkes) Tentang Profesionalisasi
Keperawatan 18
Perubahan Profesi Keperawatan di Indonesia 19
Permasalahan 23
Langkah Strategis dalam Menghadapi Tren dan Isu Perubahan
Keperawatan di Masa Depan 26
Perubahan dan Pengembangan Peran Perawat Profesional
di Masa Depan 37
Daftar Pustaka 44

BAGIAN 2

Konsep Manajemen dan Kepemimpinan Keperawatan 47
Bab 3 Konsep danProses Manajemen Keperawatan 49
Pendahuluan 49
Filosofi dan Misi 50
Proses Manajemen Keperawatan 52
Daftar Pustaka 55

Bab 4 Teori Manajemen dan Kepemimpinan 57
Ilmu Manajemen 57
Manajemen Hubungan Antar manusia (1930-1970) 59
Pengembangan Teori Kepemimpinan 60
Teori Kontigensi dan Situasional 66
Teori Kontemporer (Kepemimpinan dan Manajemen) 67
Teori Motivasi 67
Teori Z 68
Teori Intraktif 69
Kompetensi yang Harus Dimiliki oleh Manajer Keperawatan dalam
Meningkatkan Efektifitas Kepemimpinanya pada Abad ke-21 69
Instrumen Penilaian Kecenderungan Gaya Kepemimpinan 74
Contoh Kasus 74
Daftar Pustaka 75

Bab 5 Standar Praktik Keperawatan 77
Tujuan Standar Keperawatan 78
Jenis-jenis Standar Profesi Keperawatan 79
Daftar Pustaka 82

BAGIAN 3

Perencanaan dan Pengaturan 83
Bab 6 Motivasi dan Kepuasan Kerja 85
Teori Motivasi dan Manajemen 85
Motivasi Kerja 88
Penampilan dan Kepuasan Kerja 92
Keberhasilan Penyelesaian Tugas Sebagai Strategi Meningkatkan
Kepuasan Kerja 94
Contoh Kasus 1 94
Contoh Kasus 2 95
Daftar Pustaka 95

Bab 7 Pendelegasian dan Supervisi 97
Ketidakefdektifan dalam pendelegasian 97
Konsep pendelegasian 98
Prinsip Utama Pendelegasian 101
Contoh Kasus 1 105
Contoh Kasus 2 106
Daftar Pustaka 106

Bab 8 Komunikasi dalam Manajemen Keperawatan 107
Proses Komunikasi 107
Prinsip Komunikasi Manajer Keperawatan 108
Model Komunikasi 109
Strategi Komunikasi dalam Praktik Keperawatan di Rumah Sakit 111
Aplikasi Komunikasi dalam Asuhan Keperawatan 112
Daftar Pustaka 115

Bab 9 Manajemen Konflik, Kolaborasi dan Negoisasi 117
Sejarah Terjadinya Manajemen Konflik 118
Kategori Konflik 119
Proses Konflik 119
Penyelesaian Konflik 120
Negoisasi 122
Contoh Kasus 125
Daftar Pustaka 125


BAGIAN 4

Pengelolaan Pelaksanaan dalam Praktik Keperawatan Profesional 127
Bab 10 Sistem Model Metode Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) 129
Pendahuluan 129
Faktor-faktor yang Berhubungan dalam Perubahan MAKP 130
Metode Pengelolaan Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan
Profesional 132
Metode Penghitungan Kebutuhan Tenaga Keperawatan 142
Penghitungan Beban Kerja 149
Daftar Pustaka 151

Bab 11 Aplikasi Model Metode Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) 153
Pendahuluan 153
Perubahan Model Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan 153
Langkah Pengelolaan MAKP 154
Daftar Pustaka 194

BAGIAN 5

Pengelolaan Pendidikan Tinggi Keperawatan 195
Bab 12 Pendidikan Tinggi Keperawatan 197
Hakikat Pendidikan Tinggi Keperawatan 198
Pendidikan Keperawatan Sebagai Pendidikan Keprofesian 199
Penataan Pendidikan Tinggi Keperawatan 205
Daftar Pustaka 217

Bab 13 Pengelolaan Penyususnan Kurikulum Institusi 219
Dasar dan Langkah Penyususnan Kurikulum Lengkap Pendidikan
Tinggi Keperawatan 220
Langkah-langkah Penyususnan Kurikulum Lengkap dan Muatan Lokal 221
Kesimpulan 225
Daftar Pustaka 226

Bab 14 Pengelolaan Pembelajaran Praktikum (Laboratorium) 227
Konsep Pembelajaran Praktikum 228
Kegiatan Pembelajaran Praktikum 232
Daftar Pustaka 240

Bab 15 Metode Pembelajaran Program Profesi di Klinik dan Lapangan 241
Pendahuluan 241
Konsep Program Profesi (PBK/PBL) 242
Metode Pembelajaran 243
Model Bimbingan Praktik 251
Kesimpulan 253
Daftar Pustaka 253

Bab 16 Pengelolaan Program Profesi Ners 255
Pendahulua 255
Tujuan Program Profesi 256
Kompetensi Program Profesi 256
Metode Pembelajaran 259
Sistem Evaluasi 260
Daftar Pustaka 264

Bab 17 Pengelolaan Evaluasi Program Profesi (Klinik dan Lapangan) 265
Konsep Evaluasi Hasil Belajar Performa Klinik 266
Pengelolaan Evaluasi Klinik 269
Pelaksanaan Evaluasi Klinik 269
Model Evaluasi Klinik 270
Pemberian Nilaa (Score) 273
Keputusan dan Pemberian Predikat 273
Contoh Kasus 274
Daftar Pustaka 274

Bab 18 Kualitas Pelayan Buku Mutu dan Total Quality Management 275
Kualitas Pelayanan Sebagai Proses 275
Strategi dalam Mencapai Kualitas Pelayanan 277
Contoh Kasus 283
Daftar Pustaka 283


BAGIAN 6

Pengawasan 285
Bab 19 Penilaian Kinerja Perawat 287
Pendahuluan 287
Prinsip-prinsip Penilaian 288
Proses Kegiatan Penilaian Kerja 290
Standar Instrumen Penilaian Kerja Perawat dalam Melaksanakan
Asuhan Keperawatan 291
Masalah dalam Penilaian Pelaksanaan Kerja 293
Contoh Kasus 293
Daftar Pustaka 294
Bab 20 Mutu Pelayanan Keperawatan 295
Pendahuluan 295
Konsep Mutu Pelayanan Keperawatan 296
Indikator Penilaian Mutu Asuhan Keperawatan 298
Audit Internal Pelayanan Keperawatan 301
Audit Personalia 302
Keselamatan Pasien 307
Perawatan Diri 328
Kepuasan Pasien 328
Kenyamanan 331
Kecemasan 333
Pengetahuan 335
Contoh Kasus 338
Daftar Pustaka 339

Bab 21 Perencanaan Pelayan Keperawatan di Rumah Sakit Metode Balance
Scorecard (BSC) 341
Sejarah Penggunaan BSC 343
Daftar Pustaka 359




Lampiran 1 Lampiran Sistem Manajemen Keperawatan pada Tingkat Ruangan L-1
Lampiran 2 Lampiran Desain Laboratorium Keperawatan dan Peralatan L-2
Lampiran 3 Lampiran Pelaporan dan Penilaian L-9
Lampiran 4 Lampiran Contoh Angket Pengumpulan data L-13
Lampiran 5 Metode Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) di Ruang
Irna Bedah X RS Y L-33
Lampiran 6 Overan (Sif/ Hand Over) L-41
Lampiran 7 Ronde Keperawatan (Nursing Rounds) L-49
Lampiran 8 Pengelolaan Obat (Sentralisasi Obat) L-63
Lampiran 9 Supervisi Kinerja Perawat dalam Asuhan Keperawatan L-77
Lampiran 10 Penerimaan Pasien Baru L-93
Lampiran 11 Lampiran Pengkajian Data Dasar dan Fokus L-113
Lampiran 12 Dokumentasi Keperawatan L-123
Indeks I-1

Keperawatan sebagai profesi merupakan bagian dari masyarakat, ini akan terus berubah seirama
dengan berubahnya masyarakat yang terus-menerus berkembang dan mengalami perubahan, demikian
pula dengan keperawatan. Keperawatan dapat dilihat dari berbagai aspek, antara lain keperawatan
sebagai bentuk asuhan profesional kepada masyarakat, keperawatan sebagai iptek, serta keperawatan
sebagai kelompok masyarakat ilmuwan dan kelompok masyarakat profesional. Dengan terjadinya
perubahan atau pergeseran dari berbagai faktor yang memengaruhi keperawatan, maka akan berdampak
pada perubahan dalam pelayanan/asuhan keperawatan, perkembangan iptekkep, maupun perubahan
dalam masyarakat keperawatan, baik sebagai masyarakat ilmuwan maupun sebagai masyarakat
profesional.
Seperti telah dipahami bahwa tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada
Milenium III, termasuk asuhan keperawatan akan terus berubah karena masalah kesehatan yang
dihadapi masyarakat terus-menerus mengalami perubahan. Masalah keperawatan sebagai bagian
masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat juga terus-menerus berubah, karena berbagai faktor-faktor
yang mendasarinya juga terus mengalami perubahan. Dengan berkembangnya masyarakat dan berbagai
bentuk pelayanan profesional serta kemungkinan adanya perubahan kebijakan dalam bidang kesehatan
yang juga mencakup keperawatan, maka mungkin saja akan terjadi pergeseran peran keperawatan
dalam sistem pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Era kesejagatan, hendaknya oleh para penggiat keperawatan dipersiapkan secara benar dan
menyeluruh, mencakup seluruh aspek keadaan atau peristiwa yang sedang atau telah terjadi dan yang
akan berlangsung dalam era tersebut. Memasuki era Milenium III, kita dihadapkan pada perkembangan
iptek yang terjadi sangat cepat. Proses penyebaran iptek juga disertai dengan percepatan penyebaran
berbagai macam barang dan jasa yang luar biasa banyak dan beragam. Hal ini disebabkan pesatnya
perkembangan teknologi transportasi, telekomunikasi, dan jenis teknologi lainnya. Semuanya ini
mencerminkan terjadinya proses pensejagatan dengan segala ciri dan konsekuensinya.
Ada 4 skenario masa depan yang diprediksikan akan terjadi dan harus diantisipasi dengan baik
oleh profesi keperawatan Indonesia (Ma[arifin Husin, 1999):
1. Masyarakat berkembang
Masyarakat akan lebih berpendidikan. Hal ini membuat mereka memiliki kesadaran yang lebih tinggi
akan hak dan hukum, menuntut berbagai bentuk dan jenjang pelayanan kesehatan yang profesional,
dan rentang kehidupan daya ekonomi masyarakat semakin melebar.
2. Rentang masalah kesehatan melebar
Sistem pemberian pelayanan kesehatan meluas, mulai dari teknologi yang sederhana sampai pada
teknologi yang sangat canggih.
3. Ilmu pengetahuan dan teknologi
Iptek terus berkembang dan harus dimanfaatkan secara tepat guna.
4. Tuntutan profesi terus meningkat
Hal ini didorong oleh perkembangan iptek medis, permasalahan internal pada profesi keperawatan,
dan era kesejagatan.

Menurut Toffler (1979), terdapat 4 kategori umum perubahan sosial yang memengaruhi peran
keperawatan, yaitu pergeseran menuju ke arah pengasuhan diri sendiri dan rasa tanggung jawab
seseorang terhadap kesehatannya, yang meliputi:
1. Pengaruh faktor-faktor lingkungan terhadap kesehatan.
2. Pergeseran penekanan pelayanan kesehatan dengan lebih menekankan pada upaya pencegahan
gangguan kesehatan.
3. Perubahan peran dari pemberi pelayanan kesehatan.
4. Cara-cara baru pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan yang memberikan penerima
pelayanan kesehatan tanggung jawab yang lebih besar dalam perencanaan kesehatan.

terlibat di dalamnya. Pada tahap ini, semua orang yang terlibat dan lingkungan yang tersedia harus
dikaji tentang kemampuan, hambatan yang mungkin timbul, dan dukungan yang akan diberikan.
Mengingat mayoritas praktik keperawatan berada pada suatu organisasi/instansi, maka struktur
organisasi harus dikaji apakah peraturan yang ada, kebijakan, budaya organisasi, dan orang yang
terlibat akan membantu proses perubahan atau justru menghambatnya. Fokus perubahan pada tahap
ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat terhadap proses
perubahan tersebut.
Tahap 3: Mengkaji motivasi change agent dan sarana yang tersedia
Pada tahap ini, diperlukan suatu komitmen dan motivasi manajer dalam proses perubahan.
Pandangan manajer tentang perubahan harus dapat diterima oleh staf dan dapat dipercaya. Manajer
harus mampu menunjukkan motivasi yang tinggi dan keseriusan dalam pelaksanaan perubahan
dengan selalu mendengarkan masukan-masukan dari staf dan selalu mencari solusi yang terbaik.

Tahap 4: Menyeleksi tujuan perubahan
Pada tahap ini, perubahan harus sudah disusun sebagai suatu kegiatan secara operasional,
terorganisasi, berurutan, kepada siapa perubahan akan berdampak, dan kapan waktu yang tepat
untuk dilaksanakan. Untuk itu diperlukan suatu target waktu dan perlu dilakukan ujicoba sebelum
menentukan efektivitas perubahan.
Tahap 5: Memilih peran yang sesuai dilaksanakan oleh agen pembaharu
Pada tahap ini, perlu ada suatu pemilihan seorang pemimpin atau manajer yang ahli dan sesuai di
bidangnya. Manajer tersebut akan dapat memberikan masukan dan solusi yang terbaik dalam
perubahan serta dia bisa berperan sebagai seorang mentor yang baik. Perubahan akan berhasil
dengan baik apabila antara manajer dan staf mempunyai pemahaman yang sama dan memiliki
kemampuan dalam melaksanakan perubahan tersebut.
Tahap 6: Mempertahankan perubahan yang telah dimulai
Sekali perubahan sudah dilaksanakan, maka harus dipertahankan dengan komitmen yang ada.
Komunikasi harus terbuka dan terus diinformasikan supaya setiap pertanyaan yang masuk dan
permasalahan yang terjadi dapat diambil solusi yang terbaik oleh kedua belah pihak.
Tahap 7: Mengakhiri bantuan
Selama proses mengakhiri perubahan, maka harus selalu diikuti oleh perencanaan yang
berkelanjutan dari seorang manajer. Hal ini harus dilaksanakan secara bertahap supaya individu
yang terlibat mempunyai peningkatan tanggung jawab dan dapat mempertahankan perubahan yang
telah terjadi. Manajer harus terus-menerus bersedia menjadi konsultan dan secara aktif terus terlibat
dalam perubahan.
Perubahan dalam organisasi dalam 3 tingkatan yang berbeda, yaitu: individu
yang bekerja di organisasi tersebut; perubahan struktur dan sistem; dan
perubahan hubungan interpersonal. Strategi membuat perubahan dapat
dikelompokan menjadi 4 hal yakni: 1) Memiliki visi yang jelas; 2) Menciptakan
budaya organisasi tentang nilai-nilai moral dan percaya kepada orang lain; 3)
Sistem komunikasi yang jelas, singkat; dan sesering mungkin; dan 4)
Keterlibatan orang yang tepat.
1. MEMILIKI VISI YANG JELAS
Visi ini merupakan hal yang sederhana dan utama, karena visi dapat
memengaruhi pandangan orang lain. Misalnya visi J.F Kennedy, menempatkan
seseorang di bulan sebelum akhir abad ini. Visi harus disusun secara jelas,
ringkas, mudah dipahami, dan dapat dilaksanakan oleh setiap orang.
2. MENCIPTAKAN I KLIM ATAU BUDAYA ORG ANISASI YANG
KONDUSIF
Menciptakan iklim yang kondusif dan rasa saling percaya adalah hal yang
penting. Perubahan akan lebih baik jika mereka percaya seseorang dengan
kejujuran dan nilai-nilai yang diyakininya. Orang akan berani mengambil suatu
risiko terhadap perubahan, apabila mereka dapat berpikir jernih dan tidak
emosional dalam menghadapi perubahan. Setiap perubahan harus diciptakan
suasana keterbukaan, kejujuran, dan secara langsung.
Menurut Porter & OGrady (1986) upaya yang harus ditanamkan dalam
menciptakan iklim yang kondusif adalah:
1. Kebebasan untuk berfungsi secara efektif.
2. Dukungan dari sejawat dan pimpinan.
3. Kejelasan harapan tentang lingkungan kerja.
4. Sumber yang tepat untuk praktik secara efektif.
5. Iklim organisasi yang terbuka.
3. SISTEM KOMUNIKASI YANG JELAS, SINGKAT, D AN
BERKESINAMBUNGAN
Komunikasi merupakan unsur yang penting dalam perubahan. Setiap
orang perlu dijelaskan tentang perubahan untuk menghindari atau
informasi yang salah. Semakin banyak orang mengetahui tentang keadaan, maka
mereka akan semakin baik dan mampu dalam memberikan pandangan ke depan
dan mengurangi kecemasan serta ketakutan terhadap perubahan. Menurut Silber
(1993), komunikasi satu arah (top-down) tidak cukup dan sering menimbulkan
kebingungan karena orang tidak mengetahui apa yang akan terjadi.
Pertanyaan yang perlu disampaikan pada tahap awal perubahan menurut Doerge
& Hagenow (1995) adalah: 1) apakah yang sedang terjadi sudah benar?; 2) apa
yang lebih baik; dan 3) jika Anda bertanggung jawab dalam perubahan, apa
yang akan Anda lakukan?
4. KETERLIBATAN ORAN G YANG TEPAT
Perubahan perlu disusun oleh orang-orang yang kompeten. Begitu rencana
sudah tersusun, maka segeralah melibatkan orang lain pada setiap jabatan di
organisasi, karena keterlibatan akan berdampak terhadap dukungan dan
advokasi.
KUNCI SUKSES STRATEGI UNTUK TERJADINYA PERUBAHAN
YANG BAIK:
Keberhasilan perubahan tergantung dari strategi yang diterapkan oleh agen
pembaharu. Hal yang paling penting adalah harus MULAI:
1. MULAI DIRI SENDIR I
Perubahan dan pembenahan pada diri sendiri, baik sebagai individu
maupun sebagai profesi merupakan titik sentral yang harus dimulai. Sebagai
anggota profesi, perawat tidak akan pernah berubah atau bertambah baik dalam
mencapai suatu tujuan profesionalisme jika perawat belum memulai pada
dirinya sendiri. Selalu mengintrospeksi dan mengidentifikasi kekurangan dan
kelebihan yang ada akan sangat membantu terlaksananya pengelolaan
keperawatan di masa depan.
2. MULAI DARI HAL-HAL YANG KECIL
Perubahan yang besar untuk mencapai profesionalisme manajer
keperawatan Indonesia tidak akan pernah berhasil, jika tidak dimulai dari hal-hal
yang kecil. Hal-hal yang kecil yang harus dijaga dan ditanamkan perawat
Indonesia adalah menjaga citra keperawatan yang sudah mulai membaik di hati
masyarakat dengan tidak merusaknya sendiri. Sebagai contoh dalam manajemen
bangsal, seorang manajer harus menjaga diri dari perilaku yang negatif,
misalnya dengan berbicara kasar, tidak disiplin waktu, dan tidak melakukan
tindakan tanpa memerhatikan prinsip aseptik-antiseptik.
3. MULAI SEKARANG, JANG AN MENUNGGU-NUNGGU
Sebagaimana disampaikan oleh Nursalam (2000), lebih baik sedikit daripada
tidak sama sekali, lebih baik sekarang daripada harus terus menunggu.
Memanfaatkan kesempatan yang ada merupakan konsep manajemen
keperawatan saat ini dan masa yang akan datang. Kesempatan tidak akan datang
dua kali dengan tawaran yang sama.


TAHAP PENGELOLAAN PERUBAHAN
Pengelolaan perubahan menjadi kompetensi utama bagi manajer perawat saat
ini. Ketidakefektifan penerapan perubahan akan berdampak buruk terhadap
manajer, staf, dan organisasi serta menghabiskan waktu dan dana yang sia-sia.
Pegawai ingin belajar perubahan dari pimpinan. Bolton et al. (1992)
menjelaskan 10 tahap pengelolaan perubahan organisasi sebagaimana pada tabel
di bawah ini.

Untuk terlaksananya suatu perubahan, maka hal-hal yang tersebut di bawah ini dapat dijadikan sebagai
pedoman dalam pelaksanaan perubahan.
1. Keterlibatan
Tidak ada seorang pun yang mengetahui semuanya. Menghargai kemampuan dan pengetahuan orang
lain serta melibatkannya dalam perubahan merupakan langkah awal kesuksesan perubahan. Orang
akan bekerja sama dan menerima pembaharuan jika mereka menerima suatu informasi tanpa
ancaman dan bermanfaat bagi dirinya.
2. Motivasi
Orang akan terlibat aktif dalam pembaharuan jika mereka termotivasi. Motivasi tersebut akan timbul
jika apa yang sudah dilakukan bermanfaat dan dihargai.
3. Perencanaan
Perencanaan ini termasuk jika sistem tidak bisa berjalan secara efektif dan perubahan apa yang harus
dilaksanakan.
4. Legitimasi
Setiap perubahan harus mempunyai aspek legal yang jelas, siapa yang melanggar, dan dampak apa
yang secara administratif harus diterima olehnya.
5. Pendidikan
Perubahan pada prinsipnya adalah pengulangan belajar atau pengenalan cara baru agar tujuan dapat
tercapai.

6. Manajemen
Agen pembaharu harus menjadi model dalam perubahan dengan adanya keseimbangan antara
kepemimpinan terhadap orang dan tujuan/produksi yang harus dicapai.
7. Harapan
Berbagai harapan harus ditekankan oleh agen pembaharu: hasil yang berbeda dengan sebelumnya
direncanakan; terselesaikannya masalah-masalah di institusi; dan kepercayaan dan reaksi yang positif
dari staf.
8. Asuh (nurturen)
Bimbingan dan dukungan staf dalam perubahan. Orang memerlukan suatu bimbingan dan perhatian
terhadap apa yang telah mereka lakukan, termasuk konsultasi terhadap hal-hal yang bersifat pribadi.
9. Percaya
Kunci utama dalam pelaksanaan perubahan adalah berkembangnya rasa percaya antartim. Semua
yang terlibat harus percaya kepada agen pembaharu dan agen pembaharu juga harus percaya kepada
staf yang terlibat dalam perubahan.

CHANGE AGENT
Dalam perkembangan karier profesional, setiap individu akan terpanggil untuk menjadi agen
pembaharu. Menjadi agen pembaharu akan menjadi hal yang sangat menarik dan menyenangkan
sebagai bagian dari peran profesional. Keadaan tersebut akan terjadi, jika Anda merespons setiap
perubahan yang terjadi di sekeliling Anda (Vestal, 1999).
1. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengontrol perilaku Anda dan bagaimana cara Anda
mengelola perubahan. Anda dapat memilih sebagai pionir, penjelajah, dan seorang yang berpikiran
positif, serta pelaku dengan motivasi yang tinggi. Anda dapat mengawali proses perubahan dengan
mengurangi/menghilangkan hambatan-hambatan dan memulainya setahap demi setahap. Hal ini
tidak berat untuk melihat perawat dapat mengontrol perilaku tersebut, sehingga perawat akan
menjadi pemimpin yang baik pada masa depan.
2. Untuk menjadi seorang agen pembaharu yang efektif, Anda perlu menjadi bagian dari perubahan dan
tidak menjadi orang yang resisten terhadap perubahan, berpartisipasi aktif dalam perubahan yang
sedang berlangsung akan menjadikan peran Anda menjadi lebih bermakna di kemudian hari.
3. Menyeleksi setiap fenomena yang terjadi dan memilih hal-hal yang akan diubah. Perubahan bukan
hanya hal-hal yang mudah, tetapi juga hal-hal yang memerlukan suatu tantangan. Sebagaimana orang
bijak mengatakan siapa saja bisa berhasil menyeberangi di laut yang tenang, tetapi keberhasilan
menyeberangi ombak akan mendapatkan penghargaan yang sesungguhnya.
4. Hadapilah setiap perubahan dengan senang dan penuh humor. Yakinkan bahwa perubahan adalah hal
yang menantang, dan menjadi agen pembaharu akan lebih sulit. Jika Anda mengalami stres karena
terlalu serius dalam perubahan tersebut, maka Anda akan mengalami gangguan kesehatan. Keadaan
tersebut berdampak buruk terhadap diri Anda sendiri dan institusi tempat Anda bekerja.
5. Selalu berpikiran ke depan daripada hanya merenungi hal-hal yang sudah terjadi pada masa lalu (fix
the past). Berpikirlah suatu cara terbaru dan kesempatan untuk terlaksananya suatu perubahan.
Belajar dari kesalahan, dan berpikir terus ke depan akan menjadikan Anda seorang agen pembaharu
yang sukses. Hal yang harus disadari adalah bahwa apa yang Anda lakukan sekarang belum tentu
dapat dipetik manfaatnya pada saat ini. Oleh karena itu, kesuksesan dalam perubahan harus disertai
langkah-langkah antisipatif untuk kesuksesan institusi di masa depan.

DAFTAR PUSTAKA
Bolton et al. (1992). Ten Steps for Managing Organisational Change, Journal of Nursing
Administration, 22, 14-20.
(lulusan DIII keperawatan) dan pada tahun 2015 sudah lebih dari 80% perawat
berpendidikan Ners.
Pada saat ini pelbagai upaya untuk lebih mengembangkan pendidikan
keperawatan profesional memang sedang dilakukan. Caranya adalah dengan
mengkonversi pendidikan SPK ke jenjang Akademi Keperawatan dan dari
lulusan Akademi Keperawatan diharapkan dapat melanjutkan ke jenjang
Program pendidikan Ners (S1 Keperawatan). Dalam rangka menambah jumlah
lulusan perawat profesional tingkat sarjana, perlu upaya penambahan jumlah
dan kualitas Pendidikan Keperawatan yang menghasilkan Ners. Perlu diadakan
penataan sistem regulasi pendidikan keperawatan, agar institusi
penyelenggaraan program pendidikan Ners memperhatikan kualitas lulusannya.
Penataan mendasar yang harus dipersiapkan dalam menghadapi tuntutan
kebutuhan mencakup hal-hal berikut:
Penyusunan kompetensi sesuai dengan standar Pendidikan Keperawatan
Indonesia, Organisasi Profesi dan ICN (International Council of Nursing) .
Penyusunan kurikulum institusional berdasarkan kurikulum nasional (yang
ada) terdiri atas dua tahap, yaitu tahap program akademik dan keprofesian
sebagai kurikulum institusi.
Menjabarkan kurikulum institusi ke dalam Garis Besar Program
Pengajaran dan silabi (rancangan pembelajaran).
Mengembangkan staf akademik terutama dalam bidangbidang kelompok
Ilmu Keperawatan Dasar, Kelompok Ilmu Keperawatan Komunitas, dan
Kelompok Ilmu Keperawatan Klinik (anak, maternitas, medikalbedah,
dan jiwa).
Jumlah dan bidang pengembangan staf akademik disesuaikan dengan
tuntutan kebutuhan pengembangan institusi.
Mengembangkan sarana dan prasarana pendidikan, termasuk tempat
praktik klinik dan komunitas keperawatan.
Mengembangkan organisasi pengelolaan di institusi pendidikan.
Mengembangkan sistem pengendalian dan pembinaan PSIK/FIK.

Reformasi pendidikan keperawatan bagi perawat practicioners difokuskan
pada perubahan pemahaman pemberian asuhan keperawatan secara profesional
dengan didasarkan standar praktik keperawatan dan etik keperawatan (Watson
dan Phillips, 1999). Tujuan peningkatan pendidikan tersebut berguna bagi
perawat dalam mempersiapkan diri sebagai seorang pemimpin dalam mengelola
pelayanan keperawatan kepada pasien di RS/Komunitas. Kepemimpinan yang
profesional harus sepenuhnya disadari dan didukung oleh peningkatan ilmu
keperawatan yang kokoh dan meningkatkan kontribusi pelayanan keperawatan
kepada masyarakat.
Selanjutnya para perawat diharapkan mampu melakukan penelitian dan
kajiankajian ilmiah terhadap masalah-masalah yang dihadapi di klinik serta
masalah-masalah yang berhubungan dengan peningkatan kualitas layanan. Di
samping itu dengan pendidikan yang tinggi, diharapkan akan memberikan
kepercayaan diri yang tinggi dan otonomi didalam melaksanakan pelayanan
keperawatan. Dasar kekuatan utama keperawatan adalah housed in nursing
knowledge. Pertanyaan selanjutnya adalah

(Chrisman, 1992, p.
40). Tantangan tersebut memerlukan persiapan pendidikan yang memadai bagi
semua perawat yang praktik di klinik/komunitas sebelum melakukan praktik
keperawatan profesional.
2. PENGEMBANGANILMUKE PERAWA TAN
Ilmu keperawatan harus secara terus-menerus dikembangkan. Prioritas
utama dalam pengembangan ilmu keperawatan adalah tantangan untuk
mengembangkan substansi isi ilmu melalui pengkajian yang mendalam. Tahap
kedua adalah menerapkan prinsip-prinsip ilmu keperawatan dalam praktik
keperawatan profesional yang dapat dilihat pada diagram hubungan antara ilmu,
riset, dan praktik di bawah ini.
Keperawatan harus dapat menjabarkan isi dari disiplin ilmu untuk dapat
memberikan justifikasi dan promosi secara langsung dalam kegiatan
keperawatan. Pengembangan ilmu keperawatan melalui riset akan dapat
berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain dan membedakan kontribusi
keperawatan terhadap tim kesehatan lainnya.
Alternatif lain yang bisa dikembangkan adalah dengan membentuk
Komunitas Profesional Keperawatan. Kelompok ini beranggotakan perawat
dengan disiplin dan keahlian yang memadai.

Tugas Komunitas Profesional keperawatan adalah:
1) Pengembangan metode dan sistem pemberian asuhan keperawatan.
2) Menetapkan standar asuhan keperawatan.
3) Mengelola tenaga keperawatan (Kelompok Pengampu).
4) Mengelola pelaksanaan praktik keperawatan.
5) Mengelola metode Pengalaman Belajar Klinik kepada mahasiswa
keperawatan.
6) Bertanggung jawab terhadap kualitas hasil layanan.
Ilmu Keperawatan yang menjadi prioritas pengembangan adalah:
(1) Ilmu Keperawatan Dasar sebagai dasar pelayanan keperawatan
profesional.
(2) Ilmu Keperawatan Anak.
(3) Ilmu Keperawatan Maternitas.
(4) Ilmu Keperawatan MedikalBedah.
(5) Ilmu Keperawatan Gawat Darurat.
(6) Ilmu Keperawatan Jiwa.
(7) Ilmu Keperawatan Komunitas dan Keluarga
(8) Ilmu Keperawatan Gerontik.
(9) Ilmu Manajemen Keperawatan


3. PERUBAHAN PARADIGMA DAN LINGKUP RISET
KEPERAWATAN
Pelaksanaan riset merupakan dasar ilmu dan seni di dalam praktik
keperawatan profesional. Pelaksanaan riset keperawatan berdasarkan praktik
keperawatan dapat memengaruhi dan mengubah arah perkembangan pendidikan
serta praktik. Riset keperawatan harus dilihat dari sebagai bagian integrasi dari
praktik keperawatan. Perawat yang bekerja dengan pasien dan peka terhadap
respons dari individu terhadap penyakit dan kesehatan. Perawat dipersiapkan
untuk mengidentifikasi masalah dan menganalisisnya melalui penelitian yang
berdampak terhadap pelayanan keperawatan untuk semua orang.
Berdasarkan filosofi keperawatan yang kita yakini, bahwa perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan harus berdasarkan pada 3 hal: humanistik,
holistik, dan care. Sehingga masalah-masalah keperawatan harus berdasarkan
filosofi tersebut dan tercermin dalam paradigma keperawatan. Asuhan yang
diberikan oleh perawat harus dapat mengatasi masalah-masalah klien secara
fisik, psikis, dan sosial-spiritual dengan fokus utama mengubah perilaku klien
(pengetahuan, sikap, dan keterampilannya) dalam mengatasi masalah kesehatan
sehingga klien dapat mandiri.
Misalnya, jika klien anak dirawat di rumah sakit dengan typus
abdominalis terpasang infus dan tidak boleh bergerak kemana-mana, maka anak
tersebut akan mengalami stres fisik akibat keluhan sakit dan psikis akibat dari
tindakan pemasangan infus serta larangan untuk bergerak. Stres psikis yang
terjadi akan berdampak terhadap imunitas dan kopingnya yang justru akan
memperlambat kesembuhan klien. Ilmu keperawatan yang ada harus dapat
memfasilitasi bagaimana anak tersebut dapat merasa home (tidak seperti di
rumah sakit), tidak merasa tertekan, dan diperhatikan oleh orang terdekat. Bukan
justru menambah stres psikologis dengan suasana lingkungan yang menakutkan
dan petugas selalu bersikap kurang ramah dan selalu memaksakan setiap
melakukan tindakan keperawatan/medis (misalnya menyuntik). Keadaan yang
demikian akan berdampak dalam proses penyembuhan klien. Hasil penelitian
yang dilaksanakan di Amerika menyebutkan bahwa memperlakukan anak-anak
yang dirawat di rumah sakit seperti di rumah sendiri, memberi kebebasan anak
untuk bermain sebatas kemampuannya, dan merasa diperhatikan menunjukkan
angka yang signifikan dalam percepatan penyembuhan klien dibandingkan
dengan anak yang mengalami stres psikologis akibat suasana/lingkungan yang
tidak kondusif.
Roy (1980) dalam Nursalam (2002 & 2008) mendefinisikan paradigma
keperawatan sebagai berikut:
1. Manusia (individu yang mendapatkan asuhan keperawatan).
2. Tujuan Keperawatan.
3. Konsep sehat.
4. Konsep lingkungan.
5. Pedoman tindakan keperawatan.
1. Manusia
Roy (1980) dalam Nursalam (2002) menyatakan bahwa penerima jasa
asuhan keperawatan adalah individu, keluarga, kelompok, komunitas atau sosial.
Masing masing diperlakukan oleh perawat sebagai sistem adaptasi yang holistik
dan terbuka. Sistem terbuka tersebut berdampak terhadap perubahan yang
konstan terhadap informasi, kejadian, energi antara sistem dan lingkungan.
Interaksi yang konstan antara individu dan lingkungan dicirikan oleh perubahan
internal dan eksternal. Dengan perubahan tersebut individu harus
mempertahankan integritas dirinya, di mana setiap individu secara kontinu
beradaptasi.


Input
Sistem adaptasi mempunyai input yang berasal dari internal individu. Roy
(1980) dalam Nursalam (2002) mengidentifikasi bahwa input sebagai suatu
stimulus. Stimulus adalah suatu unit informasi, kejadian atau energi dari
lingkungan. Sejalan dengan adanya stimulus, tingkat adaptasi individu direspons
sebagai suatu input dalam sistem adaptasi. Tingkat adaptasi tersebut tergantung
dari stimulus yang didapat berdasarkan kemampuan individu. Tingkat respons
antara individu sangat unik dan bervariasi tergantung pengalaman yang
didapatkan sebelumnya, status kesehatan individu, dan stresor yang diberikan.
Proses
Roy (1980) dalam Nursalam (2002) menggunakan istilah mekanisme
koping untuk menjelaskan proses kontrol individu sebagai suatu sistem adaptasi.
Beberapa mekanisme koping adalah genetik, misalnya sel-sel darah putih dalam
melawan bakteri yang masuk dalam tubuh. Mekanisme lainnya adalah juga
perlu dipelajari, misalnya penggunaan antiseptik untuk mengobati luka. Roy
(1980) dalam Nursalam (2002) menekankan ilmu keperawatan yang unik untuk
mengontrol mekanisme. Mekanisme tersebut dinamakan regulator dan kognator.
Sistem regulator mempunyai sistem komponen input, proses internal, dan
output. Stimulus input berasal dari dalam atau luar individu. Perantara sistem
regulator dinamakan sistem kimiawi, saraf, dan endokrin. Refleks otonomik,
sebagai respons neural berasal dari batang otak dan spinal cord, diartikan
sebagai suatu perilaku output dari sistem regulasi. Organ target dan jaringan
yang ada dibawah kontrol endokrin juga memproduksi perilaku output regulator.
Banyak proses fisiologis dapat diartikan sebagai perilaku subsistem regulator.
Misalnya, regulator tentang respirasi, pada sistem ini akan terjadi peningkatan
oksigen, pada akhir metabolisme, yang akan merangsang kemoreseptor pada
medulla untuk meningkatkan laju respirasi. Stimulasi yang kuat pada pusat
tersebut akan meningkatkan respirasi hingga kelipatan 6-7 kali.
Stimulus terhadap subsistem kognator juga berasal dari faktor internal dan
eksternal. Perilaku output subsistem regulator berperan sebagai umpan balik
terhadap stimulus subsistem kognator. Proses kontrol kognator berhubungan
langsung dengan fungsi otak yang tinggi terhadap persepsi atau proses
informasi, keputusan, dan emosi. Persepsi proses informasi juga berhubungan
dengan seleksi perhatian, kode, ingatan, Belajar berhubungan dengan proses
imitasi/meniru, dan reinforcement. Sedangkan penyelesaian masalah dan
pengambilan keputusan merupakan proses internal yang berhubungan dengan
keputusan, dan khususnya emosi untuk mencari kesembuhan, dukungan yang
efektif, dan kebersamaan.
Dalam mempertahankan integritas seseorang, regulator, dan kognator
bekerja secara bersamaan. Tingkat adaptasi seseorang sebagai suatu sistem
adaptasi dipengaruhi oleh perkembangan individu dan penggunaan mekanisme
koping. Penggunaan mekanisme koping yang optimal akan berdampak baik
terhadap tingkat adaptasi individu dan meningkatkan tingkatan rangsangan di
mana individu dapat merespons secara positif.

Efektor
Proses internal yang terjadi pada individu sebagai sistem adaptasi, Roy
mendefinisikan sebagai sistem efektor. Empat efektor atau gaya adaptasi
tersebut meliputi: (1) fisiologis; (2) konsep diri; (3) fungsi peran; dan (4)
ketergantungan fisik/spiritual. Mekanisme regulator dan kognator bekerja pada
mode tersebut. Perilaku yang berhubungan terhadap mode tersebut sebagai
manifestasi dari tingkat adaptasi individu dan mengakibatkan penggunaan
mekanisme koping. Dengan mengobservasi perilaku seseorang berhubungan
dengan mode adaptasi, perawat dapat mengidentifikasi adaptif atau
ketidakefektifan respons sehat dan sakit.
1. Mode Fisiologis
(1) Oksigenasi: mendeskripsikan tentang pola penggunaan oksigen
berhubungan dengan respirasi dan sirkulasi.
(2) Nutrisi: menjabarkan tentang pola penggunaan nutrien untuk memperbaiki
kondisi tubuh dan perkembangan.
(3) Eliminasi: memaparkan tentang pola eliminasi.
(4) Aktivitas dan istirahat: menjelaskan tentang pola aktivitas, latihan,
istirahat, dan tidur.
(5) Integritas kulit: menguraikan tentang pola fungsi fisiologis kulit.
(6) Rasa/senses: memaparkan tentang fungsi sensori persepsi berhubungan
dengan panca indera: penglihatan, penciuman, perabaan, pengecapan, dan
pendengaran.
(7) Cairan dan elektrolit: menggambarkan pola fisiologis penggunaan cairan
dan elektrolit.
(8) Fungsi neurologis: menjelaskan tentang pola kontrol neurologis,
pengaturan, dan intelektual.
(9) Fungsi endokrin: mendeskripsikan tentang pola kontrol dan pengaturan
termasuk respons stres dan sistem reproduksi.
2. Konsep Dir i
Mode konsep diri mengidentifikasi pola nilai, kepercayaan, dan emosi
yang berhubungan dengan ide diri sendiri. Perhatian ditujukan pada kenyataan
keadaan diri sendiri tentang fisik, individual, dan moral-etik.
3. Fungsi Peran
Fungsi peran mengidentifikasi tentang pola interaksi sosial seseorang
berhubungan dengan orang lain akibat dari peran ganda.
4. Interdependen
Interdependen mengidentifikasi pola nilai-nilai manusia, kehangatan,
cinta, dan memiliki. Proses tersebut terjadi melalui hubungan interpersonal
terhadap individu maupun kelompok.

2. Keperawatan
Roy (1980) dalam Nursalam (2002) mendefinisikan bahwa tujuan
keperawatan adalah meningkatkan respons adaptasi berhubungan dengan 4
mode respons adaptasi. Perubahan internal dan eksternal dan stimulus input
tergantung dari kondisi koping individu. Kondisi koping seseorang atau
keadaan koping seseorang merupakan tingkat adaptasi seseorang. Tingkat
adaptasi seseorang akan ditentukan oleh stimulus focal, contex tual, dan
residual . Focal adalah suatu respons yang diberikan secara langsung terhadap
ancaman/input yang masuk. Penggunaan focal pada umumnya, tergantung
tingkat perubahan yang berdampak terhadap seseorang. Stimulus contextual
adalah semua stimulus lain pada seseorang baik internal maupun eksternal yang
memengaruhi situasi dan dapat diobservasi, diukur, dan secara subjektif
disampaikan oleh individu. Stimulus residual adalah karakteristik/riwayat dari
seseorang yang ada dan timbul relevan dengan situasi yang dihadapi tetapi sulit
diukur secara objektif.
Kasus: Pada seseorang yang mengalami nyeri dada, stimulus yang secara
langsung pada klien dinamakan focal, yaitu kurangnya oksigen pada otot
jantung. Stimulus kontekstual meliputi: suhu 40C; sensasi nyeri, umur, berat
badan, kadar gula darah dan derajat kerusakan arteri. Stimulus residual meliputi
riwayat merokok dan stres yang dialami.

Tindakan Keperawatan
Tindakan keperawatan yang diberikan adalah meningkatkan respons
adaptasi pada situasi sehat dan sakit. Tindakan tersebut dilaksanakan oleh
perawat dalam memanipulasi stimulus focal, contextual dan residual pada
individu. Dengan memanipulasi semua stimulus tersebut, diharapkan individu
akan berada pada zona adaptasi. Jika memungkinkan, stimulus focal yang dapat
mewakili dari semua stimulus harus distimulus dengan baik. Misalnya klien
dengan nyeri dada, stimulus focal adalah ketidakseimbangan antara kebutuhan
oksigen oleh tubuh dan persediaan oksigen yang dapat disediakan oleh jantung.
Untuk mengubah stimulus focal, perawat perlu memanipulasi stimulus
kebutuhan supaya respons adaptif dapat terpenuhi. Jika stimulus focal tidak
dapat dirubah, perawat harus meningkatkan respons adaptif dengan
memanipulasi stimulus kontekstual dan residual.
Perawat perlu mengantisipasi bahwa klien mempunyai risiko adanya
ketidakefektifan respons pada situasi tertentu. Perawat harus mempersiapkan
dirinya sebagai individu untuk mengantisipasi perubahan melalui penguatan
mekanisme kognator, regulator atau koping yang lainnya. Tindakan
keperawatan yang diberikan pada teori ini meliputi: mempertahankan respons
yang adaptif dengan mendukung upaya klien secara kreatif menggunakan
mekanisme koping yang sesuai.



3. Konsep Sehat
Roy (1980) mendefinisikan sehat merupakan suatu continum dari
meninggal sampai dengan tingkatan tertinggi sehat. Dia menekankan bahwa
sehat merupakan suatu keadaan dan proses dalam upaya dan menjadikan dirinya
secara terintegrasi secara keseluruhan. Integritas individu dimanifestasikan oleh
kemampuan individu untuk memenuhi tujuan mempertahankan pertumbuhan,
reproduksi, dan mastery.
4. Konsep Lingkungan
Stimulus dari individu dan stimulus sekitarnya merupakan unsur penting
tentang lingkungan. Roy (1980) mendefinisikan lingkungan sebagai semua
kondisi lingkungan yang memengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan
dan perilaku seseorang dan kelompok. Pemahaman yang baik tentang
lingkungan akan membantu perawat meningkatkan adaptasi dalam mengubah
dan mengurangi risiko akibat dari lingkungan sekitarnya. Dengan keterlibatan
seseorang dalam pendidikan, kesehatan, industri, dan politik, berarti akan
mengubah stimulus lingkungan terhadap situasi kesehatan dan sakit.




PERUMUSAN MASALAH RI SET KEPERAWATAN
Riset keperawatan terutama ditujukan pada masalah-masalah keperawatan
di Klinik (misalnya, sesuai 11 pola fungsi kesehatan dari Gordon; sembilan pola
respons kesehatan dari NANDA; dan lainnya); masalah keperawatan di
Pendidikan; dan di sistem Pelayanan Kesehatan lainnya.



MENYELEKSI MASALAH RISET KEPERA WATAN (NURSALAM,
2003)
Prioritas/lingkup riset keperawatan berdasarkan kelompok ilmu
keperawatan kemudian dikembangkan menjadi:
1. Prioritas kesehatan dan pencegahan penyakit pada masyarakat.
2. Pencegahan perilaku dan lingkungan yang berakibat buruk pada masalah
kesehatan.
3. Menguji model praktik keperawatan di komunitas.
4. Menentukan efektivitas intervensi keperawatan pada infeksi HIV/AIDS.
5. Mengkaji pendekatan yang efektif pada gangguan perilaku.
6. Evaluasi intervensi keperawatan yang efektif pada penyakit kronis.
7. Identifikasi faktor-faktor bio-perilaku yang berhubungan dengan
kemampuan koping.
8. Mendokumentasikan efektivitas pelayanan kesehatan/keperawatan.
9. Mengembangkan masalah dan metodologi riset pelayanan
kesehatan/keperawatan.
10. Menentukan efektivitas biaya perawatan pasien.
PERUBAHAN DAN PENGEM BANGAN PERAN PERAWA T
PROFESIONAL DI MASA DEPAN

Pelayanan keperawatan di masa mendatang harus dapat memberikan
consumer minded terhadap pelayanan yang diterima. Hal ini didasarkan pada
tren perubahan saat ini dan persaingan yang semakin ketat. Oleh karena itu,
perawat dapat mendefinisikan, mengimplementasikan, dan mengukur perbedaan
bahwa praktik keperawatan harus dapat dijadikan sebagai indikator agar
kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang profesional di masa
depan terpenuhi. Sementara kualitas layanan keperawatan pada masa mendatang
belum jelas, peran perawat harus dapat menunjukkan dampak yang positif
terhadap sistem pelayanan kesehatan. Ada 4 hal yang harus dijadikan perhatian
utama keperawatan di Indonesia:
(1) Definisi peran perawat.
(2) Komitmen terhadap identitas keperawatan.
(3) Perhatian terhadap perubahan dan tren pelayanan kesehatan kepada
masyarakat.
(4) Komitmen dalam memenuhi tuntutan tantangan sistem pelayanan
kesehatan melalui upaya yang kreatif dan inovatif.


Implikasi pelayanan keperawatan di masa mendatang dapat dijawab
dengan memahami dan melaksanakan Karakteristik Perawat ProIesional dan
Perawat Milenium tersebut di bawah ini.

Menurut Nursalam (2001), peran perawat di masa depan harus
berkembang seiring dengan perkembangan iptek dan tuntutan kebutuhan
masyarakat. Sehingga perawat dituntut mampu menjawab dan mengantisipasi
terhadap dampak dari perubahan. Sebagai perawat profesional, maka peran yang
diemban adalah CARE yang meliputi:

Keterangan:
C = Communication
Ciri khas perawat profesional di masa depan dalam memberikan
pelayanan keperawatan harus dapat berkomunikasi secara lengkap,
adekuat, cepat. Artinya setiap melakukan komunikasi (lisan maupun tulis)
dengan teman sejawat dan tenaga kesehatan lainnya harus memenuhi
ketiga unsur di atas dengan didukung suatu fakta yang memadai. Profil
perawat masa depan yang terpenting adalah mampu berbicara dan menulis
bahasa asing, minimal bahasa Inggris. Hal ini dimaksudkan untuk
mengantisipasi terjadinya persaingan/pasar bebas pada abad ke-21 ini.
A = Activity
Prinsip melakukan aktivitas/pemberian asuhan keperawatan harus dapat
bekerja sama dengan teman sejawat dan tenaga kesehatan lainnya,
khususnya tim medis sebagai mitra kerja dalam memberikan asuhan
kepada pasien. Aktivitas tersebut harus ditunjang dengan menunjukkan
kesungguhan dan sikap empati dan bertanggung jawab terhadap setiap
tugas yang diemban. Hal ini diperlukan pada saat ini dan masa yang akan
datang dalam upaya mewujudkan jati diri perawat dan menghilangkan
masa lalu keperawatan yang hanya bekerja seperti robot dan berada pada
posisi inferior dari tim kesehatan lainnya.
Yang penting diantisipasi di masa depan adalah ketika memberikan
asuhan harus berdasarkan ilmu yang dapat/tepat diaplikasikan di institusi