Anda di halaman 1dari 3

SESAJEN DALAM KACAMATA ISLAM

I. Pendahuluan
Di era modern ini, kita masih sering mendengar kata sesajen. Kita juga
masih sering melihat sesajen tersebut terutama di lingkungan pedesaan bahkan
di kalangan masyarakat islam sekalipun. Lebih dari itu, kegiatan-kegiatan serta
adegan-adegan yang menjurus pada sesajen sering terlihat di layar kaca,
nampaknya ada kepercayaan yang sudah mendarah daging. Sesajen seolah
memiliki nilai sakral di sebagaian besar masyarakat kita pada umumnya. Acara
sakral ini dilakukan untuk mencari berkah di tempat-tempat tertentu yang
diyakini keramat atau di berikan kepada benda-benda yang diyakini memiliki
kekuatan ghaib, semacam keris, trisula dan sebagainya untuk tujuan yang
bersifat duniawi.
Yang menjadi permasalahan sekarang adalah banyak kaum muslimin
berkeyakinan bahwa acara tersebut merupakan hal biasa bahkan dianggap
sebagai bagian daripada kegiatan keagamaan. Sehingga diyakini pula apabila
suatu tempat atau benda keramat yang biasa diberi sesaji lalu pada suatu pada
saat tidak diberi sesaji maka orang yang tidak memberikan sesaji akan kualat
(celaka, terkena kutukan).
Tak bisa diingkari lagi bahwa fenomena ini memang terjadi di tengah-
tengah kitam, bahkan dengan jumlah yang tidak sedikit. Seseorang yang paling
berpendidikan sekalipun kadang tak luput dari hal-hal yang demikian. Mereka
yang terdidik untuk berpikir secara rasional ternyata kerasionalan itu hilang
begitu saja ketika berhadapan dengan hal yang demikian.
Yang sangat disesalkan, di antara penduduk negeri ini banyak yang tidak
sadar dari maksiat mereka dengan musibah yang menimpa. Mereka malah
melakukan praktik-praktik kesyirikan, membuat sesajen penolak bala yang
dipersembahkan kepada roh-roh penguasa laut, penguasa gunung, penguasa
darat, dan sebagainya.
Kami menulis makalah ini dengan tujuan:
1. Terungkapnya kebenaran tentang sesajen.
2. Mengingatkan pembaca tentang sesajen dalam pandangan islam.
3. Mengubah keyakinan masyarakat tentang sesajen.
II. Adakah Sesajen dalam Islam?
Sesajen berarti sajian atau hidangan. Sesajen memiliki nilai sakral di
sebagaian besar masyarakat kita pada umumnya acara sakral ini dilakukan
untuk ngalap berkah (mencari berkah) di tempat-tempat tertentu yang diyakini
keramat atau di berikan kepada benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan
ghaib, semacam keris, trisula dan sebagainya untuk tujuan yang bersifat
duniawi. Sedangkan waktu penyajiannya di tentukan pada hari-hari tertentu.
Seperti malam jum'at kliwon, selasa legi dan sebagainya. Adapun bentuk
sesajiannya bervariasi tergantung permintaan atau sesuai "bisikan ghaib" yang
di terima oleh orang pintar, paranormal, dukun dan sebagainya.
Anehnya perbuatan yang sebenarnya pengaruh dari ajaran Animisme dan
Dinamisme ini masih marak dilakukan oleh orang-orang pada jaman
modernisasi yang serba canggih ini. Hal ini membuktikan pada kita bahwa
sebenarnya manusianya secara naluri/ fitrah meyakini adanya penguasa yang
maha besar, yang pantas dijadikan tempat meminta, mengadu, mengeluh,
berlindung, berharap dan lain-lain. Fitrah inilah yang mendorong manusia terus
mencari Penguasa yang maha besar ? Pada akhirnya ada yang menemukan batu
besar, pohon-pohon rindang, kubur-kubur, benda-benda kuno dan lain-lain, lalu
di agungkanlah benda-benda tersebut. Pengagungan itu antara lain
diekspresikan dalam bentuk sesajen yang tak terlepas dari unsur-unsur berikut:
menghinakan diri, rasa takut, berharap, tawakal, do'a dan lainnya. Unsur-unsur
inilah yang biasa disebut dalam islam sebagai ibadah.
Islam datang membimbing manusia agar tetap berjalan diatas fitrah.
namun fitrah yang di maksud dalam islam adalah fitrah yang lurus sesuai
dengan syari'at islam. Allah S.W.T menerangkan tentang fitrah yang lurus
tersebut dalam Al Qur'an surat Ar-Ruum ayat 30;
g~ ElE_;_4 g]-g
LOgLEO _ =4O;Cg *.-
/-- 4OC "EEL-
OgOU4 _ Cgl> -UECg
*.- _ CgO -g].-
Oj1^- ;4 4O4-
+EEL- 4pOU;4C ^@
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah
atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada
peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui

Yang dimaksud dengan fitrah Allah dalam ayat diatas yaitu ciptaan Allah.
manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid.
kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka
tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
III. Sesajen dalam Kacamata Islam

IV. Keyakinan Masyarakat tentang Sesajen

V. Penutup

VI. Daftar Pustaka
http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/aqidah-manhaj/sesaji-sesajian-
sesajen-adakah-dalam-islam/
http://ummiyun.blogspot.com/2008/10/sesajen-dalam-pandangan-islam.html
http://ghuroba.blogsome.com/2008/01/27/ritual-sesaji-sesajian-sesajen-adakah-
dalam-islam/
Fauzan, Abu Abdillah; 2009; Darus Salaf; Depok