Anda di halaman 1dari 4

Bahaya Smartphone untuk Anak

Survei The Nielson Company menyebutkan bahwa anak usia 6 tahun hingga 12 tahun rata-rata menginginkan iPads, Toches iPod, dan iPhone sebagai hadiah. Tepatkah jika orang tua lantas memberikannya begitu saja? Tablet dan smartphone tak hanya digandrungi orang dewasa.Rupanya gadget ini sudah mulai memikat hati anak-anak praremaja. iPads,Toches iPod,dan iPhone ternyata menjadi barang impian bagi anak usia 6 tahun hingga 12 tahun. Begitulah hasil riset yang baru saja dilansir The Nielson Company. Sebagai orang tua, sebaiknya Anda berpikir ulang sebelum memberikan hadiah berupa tablet dan smartphone untuk si kecil. Bahaya radiasi dari tablet dan smartphone tersebut setidaknya sudah diperingatkan oleh para produsen gadget tersebut. Misalnya, adanya tulisan Jauhkan jangkauan dari anak-anak.Tapi, banyak orang tua yang tidak menghiraukannya. Radiasi gelombang mikro dari perangkat telekomunikasi tersebut, rupanya bisa memengaruhi kesehatan buah hati Anda. Alihalih ingin menyenangkan anak, yang ada justru kesehatan buah hati Anda terancam. Sebuah laporan ilmiah yang diterbitkan dari Health Trust Lingkungan (EHT) mengungkapkan bahwa kepala anak-anak menyerap radiasi gelombang mikro dari ponsel dua kali lebih daripada orang dewasa. Selain itu, ponsel yang dibawa dalam kantong kemeja atau celana orang dewasa memiliki risiko radiasi 47 kali lebih tinggi daripada pedoman yang ditetapkan oleh Federal Communications Commission (FCC) di Amerika Serikat. Apalagi bagi anak yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil. Tingkat radiasi jika mereka membawanya dalam saku, maka akan jauh lebih besar. Standar untuk ponsel telah dikembangkan berdasarkan ilmu dan asumsi-asumsi lama tentang bagaimana kami menggunakan ponsel.Dan itulah mengapa mereka perlu untuk mengubah dan melindungi anak-anak dari radiasi tersebut, kataDrDevraDavis,pendiri EHT dan anggota Badan Penasihat Healthy Child Healthy Word Advisory Board. Dr Davis juga meminta para orang tua untuk memperhatikan peringatan yang tertera di label tablet dan smartphone yang akan diberikan kepada buah hati mereka. Sebagian kecil orang dapat mengalami pingsan atau kejang (bahkan jika mereka tidak pernah memiliki satu sebelumnya) bila terkena lampu kilat atau pola cahaya seperti ketika bermain game atau menonton video,Kata Dr Davis. Sebaiknya, harga murah jangan membuat para orang tua semakin gegabah.Bahaya radiasi ini yang harus menjadi perhatian utama.Apalagi, kini bayi dan balita sudah tertarik dengan perangkat ini. Sekarang bayi dan balita bisa belajar membaca dari perangkat ini. Mereka juga bisa tertidur sambil mendengarkan musik dari smartphone yang ditaruh di bawah bantalnya, ungkap Dr Davis. Sekali lagi dia menekankan bahwa otak anak bisa menyerap radiasi ini dengan sangat baik. Apalagi otak anak-anak dengan masalah belajar, autisme, atau gangguan neurologis lainnya, mungkin lebih rentan terhadap pengaruh radiasi dibandingkan teman-teman yang sehat, tambahnya. Memang tidak bisa disangkal bahwa gadget merupakan barang yang menyenangkan bagi anak.

Resolusi gambar yang bagus, suara yang nyaman,dan berbagai fitur yang ditawarkan sungguh sangat mudah membuat anak terpikat. Tidak heran bila akhirnya anakanak jatuh cinta kepada tablet dan smartphone ini, kata Rachel Lincoln Sarnoff, Direktur Eksekutif dan CEO Dunia Anak Sehat. Bahkan, mungkin anakanak akan lebih tertarik belajar melalui media ini. Sebuah cara baru belajar yang menyenangkan tentunya. Namun, teknologi ini berkembang lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahami dampak kesehatannya. Kami tidak meminta orang tua untuk tidak membelikan gadget ini untuk anak-anak.Kami hanya meminta mereka untuk mengambil tindakan pencegahan dan lebih berhati-hati, katanya. Jangan sampai kesehatan anak yang menjadi taruhannya.

Pengaruh Gadget pada Otak Anak


KOMPAS.com - "Memberi anak usia di bawah 20 tahun BlackBerry akan merusak bagian otak PFC (preFrontalCortecs)." Demikian bunyi suatu pernyataan di Facebook yang dikutip seseorang dari Twitter. Sekarang ini, smartphone seperti BlackBerry memang sudah menjadi "mainan" anak-anak SD. Namun, benarkah dampaknya bisa sejauh itu? Ternyata, psikolog Elly Risman dari Yayasan Kita dan Buah Hati, bisa menjelaskan kebenaran mengenai kerusakan otak ini, yang berkaitan dengan konten pornografi jika diakses menggunakan smartphone. Kerusakan pada bagian di otak akibat pornografi pernah diungkap oleh seorang psikiater dari Amerika Serikat, Mark Kastleman. Otak depan Elly mengatakan, otak depan pada anak sebetulnya belum berkembang baik. Bagian otak depan ini akan matang pada usia 25 tahun. Otak depan merupakan pusat yang memerintahkan tubuh untuk melakukan sesuatu. Sementara reseptornya yang mendukung otak depan adalah otak belakang, yang menghasilkan dopamin, yaitu hormon yang menghasilkan perasaan nyaman atau rileks pada seseorang. Bila sejak dini anak sudah terpapar oleh pornografi, rekamannya akan sulit dihapus dari ingatan dan pikiran untuk jangka waktu yang lama. Bila tidak diantisipasi, anak bisa kecanduan karena pengaruh hormon dopamin yang dihasilkan ketika anak menikmati pornografi. Akibatnya, sistem pada bagian otak depan mengalami kekacauan dan tubuh jadi tak lagi memiliki kontrol diri. Hasil riset neuroscience lainnya dari Donald Hilton Jr, ahli bedah otak dan dokter terkemuka dari Texas, menemukan bahwa pornografi sesungguhnya adalah penyakit, karena dapat mengubah struktur dan fungsi otak, dengan kata lain merusak otak di lima bagian. Kecanduan pornografi ini menurutnya lebih berat ketimbang kecanduan kokain. Penelitian dari American Academic of Child Psychology juga memaparkan kemungkinan buruknya smartphone, yakni hilangnya kreativitas di usia muda karena dalam pengerjaan tugas-tugas yang sifatnya akademis, anak-anak cenderung mengandalkan mesin pencari dalam internet yang memungkinkan mereka melakukan copy-paste. Menyaring info Smartphone memang memiliki banyak kelebihan. Dunia bagai dalam genggaman tangan. Selain bertelepon, anak-anak bisa mencari apa pun dengan bantuan situs pencari seperti Google atau Yahoo!. Anak juga dimungkinkan selalu terhubung dengan jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, Twitter, Kaskus, dan sebagainya. Fasilitas-fasilitas ini, di satu sisi menyimpan potensi menyebarkan aneka informasi yang belum layak diakses oleh anak. Misalnya saja, anak mencari situs-situs dewasa lewat Google atau Yahoo!. Atau setiap hari sibuk berjejaring sosial yang membuatnya lupa keluarga dan lupa belajar. Belum lagi di jejaring

sosial ini sudah banyak terdengar anak-anak menjadi korban pelecehan orang dewasa, baik secara emosional maupun fisik (anak dibawa kabur oleh kenalannya di dunia maya). Sayangnya, tak sedikit orangtua yang justru memberikan smartphone kepada anak-anaknya yang masih terbilang polos. Alasannya, agar orangtua dapat berkomunikasi kapanpun dengan anak, ingin anaknya ikut tren dan percaya diri dalam bergaul, atau sekadar menuruti rengekannya. Fenomena yang kemudian terjadi, anak tampak begitu lekat dengan smartphone-nya. Ia baru merasa aman dan eksis bila selalu terhubung dengan orang lain. Kalau tidak, ia khawatir dirinya dikucilkan, sehingga anak selalu membawa kemanapun smartphone-nya. Ia lebih mementingkan berkomunikasi dengan orang-orang "nun jauh" di sana ketimbang dengan orang-orang di sekelilingnya. Narasumber: Ani Fegda, MPi, Psi, dari Esensi Mitra Solusi, Konsultan SDM, dan Daniel Kusnadi, Web Developer, Digital Campaign Consultant