Anda di halaman 1dari 7

Sumber Artikel : http://rovicky.wordpress.

com/2008/01/07/merekayasa-sungai-bengawan-solo/

Merekayasa Sungai Bengawan Solo


Sekalian untuk mengklarifikasi bahwa bukan soal salah - benar untuk memanfaatkan Flood Plain, tetapi bagaimana menyiasati perilaku alam ini mestinya juga diketahui sebelum memanfaatkan dengan tepat. Sebenarnya manusia ini diberi karunia otak untuk melakukan rekayasa (tapi bukan rekapaksa). Dibawah ini ada beberapa rekayasa sungai di Jawa yang sukses dan yang sedang dicoba kekuatannya. Kenyataan memang masih ada saja gagalnya, tetapi kalau dilihat keberhasilannya juga patut diacungi jempol. Floodplain Dataran yang penuh karunia Memang tidak salah manusia memanfaatkan floodplain. Karena pada kenyataannya floodplain itu daerah yang subur karena tempat ini sering diberi pupuk hara secara alami. Hanya saja proses pemupukannya ini dengan mekanisme yang disebut banjir. Banjir bukan bencana kalau dari sisi penyuburan dengan distribusi unsur hara ini. Tetapi manusia ini seringkali tidak adil dalam menilai fenomena alam, ketika airnya dirasakan terlalu berlimpah dan menganggu, barulah manusia menyebutnya bencana. Seperti hujan sering dimaknai karunia, tapi kalau kebanyakan jadi dimaknai badai yang berarti bencana juga kan ? Sejak jaman dahulu kehidupan manusia selalu berdekatan dengan air, salah satunya berada pada sepanjang sungai. Itulah sebabnya secara arkeologis kalau melihat perkembangan kebudayaan manusia tidak pernah terlepas dari sungai. Tidak hanya untuk bercocok tanam saja, namun juga untuk kebutuhan tempat tinggal, kebutuhan transportasi dll, semua tersedia di sepanjang sungai. Yang lebih paling mudah sebenarnya adalah lebih mengenali seluruh produk alami ini dan menggunakannya sesuai dengan proses-proses alamiahnya. Misalnya menggunakan dataran banjir untuk persawahan, menggunakan sungai untuk sumber air dan transportasi, juga memanfaatkan lereng gunung untuk tempat wisata dengan membangun villa dll. Namun ketika jumlah manusia meningkat maka diperlukan usaha tambahan manusia, untuk tidak hanya menggunakan atau mengeksploitasi alam secara berlebihan dan meninggalkannya, selanjutnya mencari yang lain lagi. Konsekuensi menggunakan dataran banjir tentu saja ada tersendiri, misalnya banjir tahunan, lima tahunan dll. Dengan memanfaatkan teknologi manusia mulai merekayasa sungai ini (meluruskan aliran, meninggikan tanggul, mengatur besar kecilnya aliran dan sebagainya). Perlunya Sedikit Rekayasa Rekayasa merupakan salah satu usaha manusia untuk memanfaatkan alam ini dengan lebih baik, lebih efisien serta tidak membahayakan eksistensi atau kehidupannya (less-disaster).

Alam ini apa adanya saja juga sudah baik, tetapi manusia fitrahnya selalu punya keinginan untuk menuju ke yang lebih baik. Maka diperlukanlah usaha dalam bentuk rekayasa (engineering). Salah satunya dalam memanfaatkan sungai ini adalah merekayasa alirannya. Jangan dikira bahwa rekayasa sungai dan produk-produk alami itu monopoli jaman sekarang. Jaman dahulu di Mesir kuno juga sudah ada pemanfaatan dan mengubah aliran Sungai Nil. Juga pemanfataan dan mofikasi Sungai Gangga di India. Bengawan Solo yang dimodifikasi kalau modifikasi bengawan solo hmm menarik juga kan ? Benar Sungai besar atau lebih dikenal dengan Bengawan Solo ini sudah mengalami modifikasi besar-besaran. Hampir seluruh bagian dari Bengawan Solo ini sudah mengalami modifikasi. Bagian hulu, aliran dan hilir sungai ini sudah dimodif habiss.

Modifikasi Bengawan Solo secara alami Modifikasi alamiah pembalikan arah aliran Sungai Solo Tahu ngga kalau Bengawan solo ini sejak awalnya sudah dimodifikasi oleh alam ? Ya, modifikasi alamiah ini bukan sembarangan, yang dimodifikasi adalah arah alirannya. Dahulu aliran sungai Bengawan Solo ini keselatan dan sekarang mengalir ke utara. Perubahan aliran sungai bengawan solo ini diperkirakan terjadi sekitar 2 atau paling tidak sejuta tahun lalu. Coba tengok gambar sebelah yang menujukkan sungai purba Bengawan Solo yang sudah menjadi sebuah lembah yang berkelok-kelok. pada Gambar

Bagaimana bisa berbalik arah aliran ini ? Sebelumnya arah aliran sungai Bengawan Solo ini mengalir ke arah selatan. Sungai ini bermuara di Samudra Hindia Indonesia. Proses tektonik tentunya sejak dulu juga ada. Lempeng Ustrali di sebelah kanan (selatan) ini menabrak dan menghunjam ke bawah Pulau Jawa.

Karena adanya kerak Ustral imenghunjam kebawah tentunya bagian pinggir (bag selatan) Pulau Jawa ini akan terangkat terus menerus kan ? Sehingga lama kelamaan aliran air permukaan yg melalui sungai akan terganggu. Sampai akhirnya ketika pengangkatannya sudah cukup tinggi, maka airpun tidak dapat mengalir ke arah selatan, dan berbalik ke utara. Saat ini kita hanya dapat mengamati adanya endapan - endapan sungai Bengawan Solo purba. Pengangkatan ini masih terus berlangsung hingga saat ini. Pengangkatan ini terjadi bersamaan pula dengan proses terjadinya gempa.

Modifikasi sungai Bengawan Solo ini juga dilakukan oleh manusia mulai darihulu hingga hilir. Bendungan Gajah Mungkur Waduk Gajah Mungkur berada 3 KM di sebelah selatan Kota kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Bendungan atau waduk ini dibangun mulai tahun 1970-an dan mulai beroperasi pada tahun 1978. Waduk dengan wilayah luas genangan kurang lebih 8800 ha. Beberapa fungsi dari waduk ini antara lain : untuk mengairi sawah seluas 24 000 ha di daerah Sukoharjo, Klaten, Karanganyar hingga ke Sragen. Selain itu juga untuk memasok air minum Kota Wonogiri. Fungsi lainnya adlah menghasilkan listrik dari PLTA yang awalnya di design untuk sebesar 12,4 MegaWatt. Waduk yang didesign berusia 100 tahun ini ternyata mengalamipendangkalan yang sangat cepat. Sehingga usia waduk ini menjadi lebih pendek dari yang diperkirakan sebelumnya.

Pendangkalan ini sangat mungkin merupakan akibat dari kesalahan dari pemeliharaan. Ketika sebuah waduk dibuat, maka tentusaja akses ke jalan-jalan disini semakin berkembang.

Solo Baru dengan aliran sungai yang lurus ! Modifikasi manusia, Manusia memang banyak membutuhkan karunia dari alam, namun manusia masih selalu ingin lebih dari sekedar yang disediakan alam. Bukan karena nafsu saja, namun karena keterbatasan penyediaan alam karena jumlah manusia yang bertambah. Salah satunya adalah pemanfatan dataran untuk pemukiman, pertanian dan kebutuhan lain (rekreasi dll). Salah satu modifikasi aliran sungai telah dilakukan pada Sungai Bengawan Solo. Hal ini dilakukan untuk mempermudah mengontrol sungai yang alirannya akan menjadi sederhana (lurus). Secara alami diketahui aliran sungai itu akan selalu berkelok-kelok karena terjadinya proses pengendapan. Pengendapan ini memerlukan tempat baru sehingga proses pengendapan akan selalu terjadi ketika aliran sungai menjadi perlahan, salah satunya saat berkelok. Sungai yang diluruskan ini secara sepintas memang menjadikan alirannya sederhana namun kalau dilihat dari perilaku sungai dan perilaku aliran air, maka kita tahu bahwa yang lurus seperti ini belum tentu lebih mudah dikontrol. Dalam waktu tertentu sangat mungkin aliran lurus ini akan berkembang menjadi aliran alami. Akan terjadi pengendapan-pengendapan juga pada bagian-bagian tertentu dari sungai yang harus dipelihara supaya tidak terjadi pedangkalan. Pendangkalan kanal inilah yang mengurangi kemampuan kanal dalam mengalirkan air. Delta Pangkah (Delta buatan) Tidak hanya bagian tengah saja Bengawan Solo ini dimodif, bahkan bagian hilir atau bagian ujung sungai inipun sudah direkayasa (dimodifikasi). Delta Pangkah merupakan salah satu hasil modifikasi sungai Bengawan Solo di bagian hilir. Salah satu tujuan dimodifikasinya bagian hilir dari Bengawan Solo ini adalah untuk mengindari pendangkalan di selat Madura. Coba tengok warna biru muda (turqioise) ini, ini memperlihatkan bagaimana endapan sungai di mulut Bengawan Solo. Endapan ini dibawa oleh aliran Bengawan Solo dari ujung hingga hilir.

Delta buatan yang merupakan hasil rekayasa yang berada di sebelah utara kota Gresik. Kali ini saya tampilkan delta yang ada dengan lebih detil lagi. Kita sebut saja Delta Pangkah. Warna biru muda (turquoise) menunjukkan pola penyebaran sedimen yg diangkut oleh aliran air laut yg melalui Selat Madura. Batuan yg keluar dari lubang semburan di Porong ini juga sama secara genetika (pembentukannya). Jadi warna biru muda (turquoise) itu adalah endapan - endapan halus berukuran lempung yg menyebar dan terendapkan didasar - dasar laut. Kalau saja endapan ini selain dari anak-anak sungai dan merupakan sebagian besar berasal dari ujung sungai Bengawan Solo, dimana merupakan daerah erosi sungai, maka tentu saja jumlah endapan yang tertahan oleh Bendungan Gajamungkur bukanlah sedikit. Apalagi ditambah penggundulan hutan yang merusak dan mempercepat erosi, itulah sebabnya usia bendungan Bengawan Solo sangat pendek dari yang diduga sebelumnya. Perhatikan skala pembanding yang ada. Dimensi dari kanal buatan yg konon dibuat sekitar 100 tahun yang lalu ini memiliki panjang 15 Km. Sungai Bengawan Solo ini sudah tidak seperti yang dulu. Sungai ini sudah dan akan selalu mengalami perubahan bentuk fungsi serta perilakunya sepanjang jaman. Sehingga perlu dilakukan penelitian khusus mengenai Bengawan Solo Moderen.

Komentar : Menurut pendapat saya, memang keadaan sungai selalu mengalami perubahan dari awal terbentuknya hingga sekarang dalam segi topografi, penampang dan bentuk sungai, debit, dll. Seperti sungai bengawan solo lama tersebut yang awalnya sungai ini berkelak kelok namun kenyataan sekarang menjadi aliran yang lurus yaitu bengawan solo yang baru. Salah satu modifikasi aliran sungai telah dilakukan pada Sungai Bengawan Solo yang maksud dilakukannya untuk mempermudah mengontrol sungai yang alirannya akan menjadi sederhana (lurus). Secara alami diketahui aliran sungai itu akan selalu berkelok-kelok karena terjadinya proses pengendapan. Pengendapan ini memerlukan tempat baru sehingga proses pengendapan akan selalu terjadi ketika aliran sungai menjadi perlahan, salah satunya saat berkelok. Solusi Menurut Pendapat Saya : Sungai yang diluruskan ini secara sepintas memang menjadikan alirannya sederhana namun kalau dilihat dari perilaku sungai dan perilaku aliran air, maka kita tahu bahwa yang lurus belum tentu lebih mudah dikontrol juga. Pasti akan terjadi pengendapan - pengendapan juga pada bagian - bagian tertentu dari sungai yang harus dipelihara supaya tidak terjadi pedangkalan. Sehingga harus perlu dipikirkan sebuah penanganan : - Melindungi Daerah Hulu sungai. - Hutan jangan sampai gundul, Apabila gundul akan rawan longsor ketika hujan, material material akan banyak jatuh ke sungai, sehingga dari hulu akan membawa banyak sedimen dan bisa terbawa sampai ke hilir. - Memodifikasi atau merekayasa Sungai namun tetap memikirkan Dampak Lingkungan. - Membuat Bangunan Pengatur Sungai, agar Sungai Bengawan Solo tetap aman, yakni seperti bangunan : a. Sangat diperlukan Tanggul untuk penanganan, karena topografi sungai Bengawan Solo lurus ketika air meluap rentan banjir. Tanggul adalah suatu konstruksi yang dibuat untuk mencegah banjir di dataran yang dilindungi. b. Diperlukannya fungsi krib, yakni Krib di bangun untuk merubah arah arus sungai sehingga arah arus utama akan bergeser menjauhi tepi tikungan luar sungai, dengan demikian juga akan mengurangi kecepatan aliran, dan gerusan terminimalisir. c. Bendung-bendung penahan (check dam) yang dibangun di sebelah hulu yang berfungsi memperlambat gerakan dan berangsur-angsur mengurangi volume banjir lahar. d. Groundsill atau ambang adalah salah satu bangunan pengaturan sungai yang dibangun melintang sungai untuk menjaga agar dasar turun berlebihan.

Perlu ada rencana tata ruang DAS Bengawan Solo yang berfungsi untuk mengikat seluruh pemangku kepentingan baik di tingkat pusat maupun daerah agar kegiatan peningkatan penataan Kawasan DAS Bengawan Solo berdasarkan optimalisasi penggunaan lahan dapat dilaksanakan. Optimalisasi Penggunaan Lahan di Kawasan DAS Bengawan Solo.

Sebuah usaha merekayasa sungai tentunya agar tetap terjaganya sungai tersebut dengan memikirkan Analisis Dampak Lingkungan. Seperti pada artikel salah satu tujuan dimodifikasinya bagian hilir dari Bengawan Solo ini adalah untuk mengindari pendangkalan di selat Madura, ini memperlihatkan bagaimana endapan sungai di mulut Bengawan Solo. Endapan ini dibawa oleh aliran Bengawan Solo dari ujung hingga hilir. Di samping itu, aktivitas manusia di sungai merupakan faktor yang sangat penting pada perubahan morfologi, ekologi, maupun hidraulik sungai yang bersangkutan. Bahkan perubahan morfologi sungai besar-besaran, misalnya pelurusan normalisasi sungai Bengawan Solo (dari Sukoharjo sampai Karanganyar) tahun 1994 di Indonesia yang terjadi sepanjang dua abad terakhir ini, merupakan aktivitas manusia dalam merubah morfologi, ekologi, dan hidraulik sungai secara ekstrim. Perubahan-perubahan ini akan menyebabkan gangguan keseimbangan sungai yang bersangkutan dan dapat mengarah kepada destabilisasi sungai.