Anda di halaman 1dari 3

Tingkat Kesuburan Di Setiap Tingkatan Umur

Oleh redaksi pada Sen, 01/14/2013 - 11:33.

Artikel

Tingkat kesuburan manusia diukur dari kualitas sel telur dan spermanya. Kualitas sel telur dan sperma sangat penting pengaruhnya terhadap daya tarik seksual dan kehidupan seksual perempuan dan laki-laki. Kualitas sel telur dan sperma mengalami perubahan sejalan dengan pertambahan usia. Berikut tabel tingkatan kesuburan berdasarkan tingkatan umur. Usia 20-an Tahun Pada usia ini gairah seksual perempuan sedang dalam masa puncak dan dipengaruhi oleh menstruasi yang mencapai puncaknya pada masa ovulasi, sehingga pada masa ini kemungkinan untuk hamil sangat tinggi. Pada laki-laki dengan rentang usia 20 39 tahun, 90% dari tubula di dalam testis mengandung sperma yang matang. Umumnya sperma dihasilkan setiap 5 hari sekali, untuk itu laki-laki perlu melakukan hubungan seksual setiap 5 hari. Usia 30-an Tahun Rentang tahun ini adalah puncak kehidupan seksual perempuan. Pada usia diatas 35 tahun hormon testoteron mulai menurun tetapi tidak mempengaruhi gairah seksual perempuan. Akhir usia 30-an, penurunan hormon terjadi secara drastis, hal yang menyebabkan 30% perempuan pada usia 38 tahun lebih sulit hamil. Pada laki-laki seiring dengan bertambahnya usia, kualitas sperma yang dihasilkan akan menurun. Pada usia 30 tahun hormon testoteron akan terus menurun. Di atas umur 31 tahun, gen dan kromosom akan menurun kualitasnya yang akan menurunkan kualitas sperma yang dihasilkan. Usia 40-an Tahun Memasuki usia 45 tahun ke atas merupakan periode menopause pada perempuan. Jumlah hormon estrogen dan testoteron akan semakin berkurang. Setengah dari perempuan di usia ini mengalami penurunan gairah seksual, menstruasi tidak normal dan vagina mengering. Menopause tidak terjadi secara mendadak, ini ditandai dengan mulai menurunnya kesuburan sejak 10 tahun sebelum menopause. Gairah seksual laki-laki pada rentang usia ini mudah naik dan turun. Jumlah sperma matang pada usia ini mulai menurun sampai 50%. Pada usia 40 tahun ke atas, terjadi perubahan hormonal yang mempengaruhi penampilan fisik, gairah seksual dan fungsi kognitif pada laki-laki. Disadur dari Majalah Ayahbund

Pengerian tingkat kesuburan adalah angka kesuburan/angka ferilitas total (total fertiliyrate) adalah jumlah anak yang akan dilahirkan oleh seorang perempuan pada akhir masa reproduksinya dengan asumsi mengikui pola ferilitas yang berlaku dari usia 15-49 tahun.

Tingkat kesuburan wanita memang dipengaruhi banyak faktor. Hal itu disebabkan alat-alat reproduksi wanita jauh lebih kompleks ketimbang pria. Faktor-faktor apa saja yang patut diperhatikan?

1. Usia
Menurut dr. Dwiana Ocviyanti SpOG, staf pengajar di Departemen Obstetri & Ginekologi FKUI, antara usia 20-30 tahun, tingkat kesuburan wanita sangat tinggi. Namun, di atas usia 35, tingkat kesuburan ini mulai drop. Di atas usia 40 tingkat kesuburan wanita menurun tajam.

2. Usia ibunda saat menopause


Ibu Anda mengalami menopause dini (di bawah usia 45 tahun)? Waspadalah! Tingkat kesuburan wanita ternyata berelasi secara genetis. Wanita yang memiliki ibu dengan menopause normal atau terlambat, lazimnya lebih fertil.

3. Siklus haid
Siklus haid yang baik adalah jika jarak dari hari haid pertama hingga haid pertama berikutnya adalah antara 21-35 hari.

4. Keputihan
a menjadi bencana bagi kesuburan wanita, terutama bila jenis keputihan tersebut tergolong infeksi.
Keputihan bis

5. Saat haid, produksi darah sangat sedikit


Besar kemungkinan Anda adalah pasien sindrom ovarium polikistik. Dampak dari kondisi ini adalah melonjaknya hormon androgen (hormon laki-laki). Gejala lainnya adalah rasa lelah berlebihan, berat badan melonjak drastis, dan keinginan untuk terus ngemil makanan berkadar gula tinggi.

6. Nyeri menjelang atau saat haid


Nyeri menjelang atau saat haid merupakan gejala dari penyakit endometriosis, yakni adanya sel endometrium (sel dalam rahim) yang menempel di tempat yang tidak seharusnya.

7. Merokok

Merokok mengganggu sistem vaskularisasi (peredaran darah) dalam tubuh. Padahal, bila jaringan tidak mendapat aliran darah yang cukup, maka seluruh organ tubuh, termasuk organ-organ reproduksi, menjadi tidak sehat. Ujung-ujungnya, produktivitas ovulasi ikut menurun.

8. Obesitas
Bila BMI (body mass index) Anda di atas 25, lemak secara otomatis menjalani proses esterifikasi (proses spontan yang mengubah lemak menjadi hormon). Sayangnya, hormon ekstra yang dihasilkan itu malah mengganggu keseimbangan hormon yang sudah ada di dalam tubuh. Padahal, untuk proses pengeluaran sel telur, syarat utamanya adalah hormon dalam kondisi seimbang.