Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar belakang

Epilepsi merupakan suatu gejala kompleks dari banyak gangguan fungsi otak yang dikarakteristikkan oleh kejang berulang, hal ini dapat terjadi pada setiap umur angka kejadiannya juga mengalami peningkatan Pada tahun 2000, diperkirakan penyandang epilepsi di seluruh dunia berjumlah 50 juta orang, 37 juta orang diantaranya adalah epilepsi primer, dan 80% tinggal di negara berkembang. Laporan WHO (2001) memperkirakan bahwa rata-rata terdapat 8,2 orang penyandang epilepsi aktif diantara 1000 orang penduduk, dengan angka insidensi 50 per 100.000 penduduk. Angka prevalensi dan insidensi diperkirakan lebih tinggi di negara-negara berkembang. Hasil penelitian Shackleton dkk (1999) menunjukkan bahwa angka insidensi kematian di kalangan penyandang epilepsi adalah 6,8 per 1000 orang. Sementara hasil penelitian Silanpaa dkk (1998) adalah sebesar 6,23 per 1000 penyandang. Dari data diatas penting bagi perawat dalam mempelajari apa definisi dari epilepsi , penyebab serta klasifikasi, manifestasi klinis dari epilepsi , status epileptikus dan bagaimana cara pencegahan dan pengobatan dari epilepsi, begitu juga untuk memberikan asuhan keperawatan yang baik bagi pasien yang mengalami epilepsi, sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang baik dan dapat memberikan yang terbaik bagi pasien epilepsi, oleh karena itu untuk bab selanjutnya akan dijelaskan lebih detail tentang teori epilepsi , status epileptikus dan serta bagaimana memberikan asuhan keperawatan yang baik pada pasien yang mengalami epilepsi. 1.2. Rumusan masalah

1.2.1. Apa definisi dari epilepsi ? 1.2.2. Apa etiologi dari epilepsi ? 1.2.3. Apa klasifikasi dari epilepsi ? 1.2.4. Apa patofisiologi dari epilepsi ? 1.2.5. Bagaimana pathway dari epilepsi ? 1.2.6. Apa saja manifestasi klinis dari epilepsi ? 1.2.7. Bagaimana pencegahan dan pengobatan dari epilepsi ? 1.2.8. Apa yang dimaksud status epileptikus ? 1.2.9. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien epilepsi ? 1.3. Tujuan penulisan 1.3.1. Untuk mengetahui definisi dari epilepsi 1.3.2. Untuk mengetahui etiologi dari epilepsi 1.3.3. Untuk mengetahui klasifikasi dari epilepsi

1.3.4. Untuk mengetahui patofisiologi dari epilepsi 1.3.5. Untuk mengetahui pathway dari epilepsi 1.3.6. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari epilepsi 1.3.7. Untuk mengetahui pencegahan dan pengobatan dari epilepsi 1.3.8. Untuk mengetahui status epileptikus 1.3.9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien epilepsi

1.4. Metode penulisan Makalah ini disusun dengan melakukan studi pustaka dari berbagai referensi melalui buku referensi dan internet.

1.5.

Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dari makalah ini adalah Bab 1 Pendahuluan, terdiri dari : latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab 2 Pembahasan teori , dan Bab 3 asuhan Keperawatan dan Bab 4 penutup.

BAB II PEMBAHASAN TEORI 2.1. Definisi Epilepsi Epilepsi merupakan gejala kompleks dari banyak gangguan fungsi otak yang dikarakteristikkan oleh kejang berulang. Kejang merupakan akibat dari pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel saraf korteks serebral yang ditandai dengan serangan tiba-tiba, terjadi gangguan kesadaran ringan, aktivitas motorik, atau gangguan fenomena sensori. Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karakteristik kejang berulang akibat lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersivat reversibel Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam

serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi. Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri timbulnya serangan paroksimal dan berkala akibat lepas muatan listrik neuron-neuron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik. 2.2. Etiologi Penyebab pada kejang epilepsi sebagian besar belum diketahui , tetapi faktor predisposisi diantaranya : a. Kelainan yang terjadi selama perkembangan janin/kehamilan ibu, seperti ibu menelan obatobat tertentu yang dapat merusak otak janin, mengalami infeksi, minum alcohol, atau mengalami cidera. b. Kelainan yang terjadi pada saat kelahiran, seperti kurang oksigen yang mengalir ke otak (hipoksia), kerusakan karena tindakan. c. Cidera kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada otak d. Tumor otak merupakan penyebab epilepsi yang tidak umum terutama pada anak-anak. e. Penyumbatan pembuluh darah otak atau kelainan pembuluh darah otak f. Radang atau infeksi pada otak dan selaput otak g. Penyakit keturunan seperti fenilketonuria (fku), sclerosis tuberose dan neurofibromatosis dapat menyebabkan kejang-kejang yang berulang. h. Kecendrungan timbulnya epilepsi yang diturunkan. Hal ini disebabkan karena ambang rangsang serangan yang lebih rendah dari normal diturunkan pada anak 2.3. Klasifikasi Epilepsi 2.3.1. Berdasarkan penyebabnya a. Epilepsi idiopatik : bila tidak di ketahui penyebabnya b. Epilepsi simtomatik : bila ada penyebabnya 2.3.2. Berdasarkan letak focus epilepsi atau tipe bangkitan A. Epilepsi partial (lokal, fokal) 1) Epilepsi parsial sederhana, yaitu epilepsi parsial dengan kesadaran tetap normal dengan gejala motorik yakni : a. Fokal motorik tidak menjalar: epilepsi terbatas pada satu bagian tubuh saja b. Fokal motorik menjalar : epilepsi dimulai dari satu bagian tubuh dan menjalar meluas ke daerah lain. Disebut juga epilepsi Jackson. c. Versif : epilepsi disertai gerakan memutar kepala, mata, tubuh. d. Postural : epilepsi disertai dengan lengan atau tungkai kaku dalam sikap tertentu

e. Disertai gangguan fonasi : epilepsi disertai arus bicara yang terhenti atau pasien mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu.Dengan gejala somatosensoris atau sensoris spesial (epilepsi disertai halusinasi sederhana yang mengenai kelima panca indera dan bangkitan yang disertai vertigo). f. Somatosensoris: timbul rasa kesemuatan atau seperti ditusuk-tusuk jarum. g. Visual : terlihat cahaya h. Auditoris : terdengar sesuatu i. Olfaktoris : terhidu sesuatu j. Gustatoris : terkecap sesuatu k. Disertai vertigo l. Disfagia : gangguan bicara, misalnya mengulang suatu suku kata, kata atau bagian kalimat. m. Dimensia : gangguan proses ingatan misalnya merasa seperti sudah mengalami, mendengar, melihat, atau sebaliknya. Mungkin mendadak mengingat suatu peristiwa di masa lalu, merasa seperti melihatnya lagi. n. Kognitif : gangguan orientasi waktu, merasa diri berubah. o. Afektif : merasa sangat senang, susah, marah, takut. p. Ilusi : perubahan persepsi benda yang dilihat tampak lebih kecil atau lebih besar. q. Halusinasi kompleks (berstruktur) : mendengar ada yang bicara, musik, melihat suatu fenomena tertentu, dll. 2) Epilepsi parsial kompleks, yaitu kejang disertai gangguan kesadaran. Serangan parsial sederhana diikuti gangguan kesadaran : kesadaran mula-mula baik kemudian baru menurun. a. Dengan gejala parsial sederhana A1-A4. Gejala-gejala seperti pada golongan A1-A4 diikuti dengan menurunnya kesadaran. b. Dengan automatisme. Yaitu gerakan-gerakan, perilaku yang timbul dengan sendirinya, misalnya gerakan mengunyah, menelan, raut muka berubah seringkali seperti ketakutan, menata sesuatu, memegang kancing baju, berjalan, mengembara tak menentu, dll. - Hanya dengan penurunan kesadaran - Dengan automatisme 3) Epilepsi Parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum (tonik-klonik, tonik, klonik). a. Epilepsi parsial sederhana yang berkembang menjadi bangkitan umum. b. Epilepsi parsial kompleks yang berkembang menjadi bangkitan umum. c. Epilepsi parsial sederhana yang menjadi bangkitan parsial kompleks lalu berkembang menjadi bangkitan umum.

B. Epilepsi umum 1. Petit mal/ Lena (absence) a. Lena khas (tipical absence). Pada epilepsi ini, kegiatan yang sedang dikerjakan terhenti, muka tampak membengong, bola mata dapat memutar ke atas, tak ada reaksi bila diajak bicara. Biasanya epilepsi ini berlangsung selama menit dan biasanya dijumpai pada anak . Gejalanya : - Hanya penurunan kesadaran - Dengan komponen klonik ringan. Gerakan klonis ringan, biasanya dijumpai pada kelopak mata atas, sudut mulut, atau otot-otot lainnya bilateral. - Dengan komponen atonik. Pada epilepsi ini dijumpai otot-otot leher, lengan, tangan, tubuh mendadak melemas sehingga tampak mengulai. - Dengan komponen klonik. Pada epilepsi ini, dijumpai otot-otot ekstremitas, leher atau punggung mendadak mengejang, kepala, badan menjadi melengkung ke belakang, lengan dapat mengetul atau mengedang. - Dengan automatisme - Dengan komponen autonom. b. Lena tak khas (atipical absence) - Gangguan tonus yang lebih jelas. - Permulaan dan berakhirnya bangkitan tidak mendadak. 2. Grand Mal a. Mioklonik Pada epilepsi mioklonik terjadi kontraksi mendadak, sebentar, dapat kuat atau lemah sebagian otot atau semua otot, seringkali atau berulang-ulang. Bangkitan ini dapat dijumpai pada semua umur. b. Klonik Pada epilepsi ini tidak terjadi gerakan menyentak, repetitif, tajam, lambat, dan tunggal multiple di lengan, tungkai atau torso. Dijumpai terutama sekali pada anak. c. Tonik Pada epilepsi ini tidak ada komponen klonik, otot-otot hanya menjadi kaku pada wajah dan bagian tubuh bagian atas, flaksi lengan dan ekstensi tungkai. Epilepsi ini juga terjadi pada anak. d. Tonik- klonik Epilepsi ini sering dijumpai pada umur di atas balita yang terkenal dengan nama grand mal.

Serangan dapat diawali dengan aura, yaitu tanda-tanda yang mendahului suatu epilepsi. Pasien mendadak jatuh pingsan, otot-otot seluruh badan kaku. Kejang kaku berlangsung kira-kira menit diikuti kejang kejang seluruh tubuh. Bangkitan ini biasanya berhenti sendiri. Tarikan napas menjadi dalam beberapa saat lamanya. Bila pembentukan ludah ketika kejang meningkat, mulut menjadi berbusa karena hembusan napas. Mungkin pula pasien kencing ketika mendapat serangan. Setelah kejang berhenti pasien tidur beberapa lamanya, dapat pula bangun dengan kesadaran yang masih rendah, atau langsung menjadi sadar dengan keluhan badan pegal-pegal, lelah, nyeri kepala. e. Atonik Pada keadaan ini otot-otot seluruh badan mendadak melemas sehingga pasien terjatuh. Kesadaran dapat tetap baik atau menurun sebentar. Epilepsi ini terutama sekali dijumpai pada anak. C. Epilepsi tak tergolongkan

Termasuk golongan ini ialah bangkitan pada bayi berupa gerakan bola mata yang ritmik, mengunyah, gerakan seperti berenang, menggigil, atau pernapasan yang mendadak berhenti sederhana.

2.4. Patofisiologi Bangkitan epilepsi dicetuskan oleh suatu sumber gaya listrik di otak yang dinamakan fokus epileptogen. Dari fokus ini aktivitas listrik akan menyebar melalui sinaps dan dendrit ke neuronneuron di sekitarnya dan demikian seterusnya sehingga seluruh belahan hemisfer otak dapat mengalami muatan listrik berlebih (depolarisasi). Pada keadaan demikian akan terlihat kejang yang mula-mula setempat selanjutnya akan menyebar ke bagian tubuh/anggota gerak yang lain pada satu sisi tanpa disertai hilangnya kesadaran. Dari belahan hemisfer yang mengalami depolarisasi, aktivitas listrik dapat merangsang substansia retikularis dan inti pada talamus yang selanjutnya akan menyebarkan impuls-impuls ke belahan otak yang lain dan dengan demikian akan terlihat manifestasi kejang umum yang disertai penurunan kesadaran. Selain itu, epilepsi juga disebabkan oleh instabilitas membran sel saraf, sehingga sel lebih mudah mengalami pengaktifan. Hal ini terjadi karena adanya influx natrium ke intraseluler. Jika natrium yang seharusnya banyak di luar membrane sel itu masuk ke dalam membran sel sehingga menyebabkan ketidakseimbangan ion yang mengubah keseimbangan asam-basa atau elektrolit,

yang mengganggu homeostatis kimiawi neuron sehingga terjadi kelainan depolarisasi neuron. Gangguan keseimbangan ini menyebabkan peningkatan berlebihan neurotransmitter aksitatorik atau deplesi neurotransmitter inhibitorik. Kejang terjadi akibat lepas muatan paroksismal yang berlebihan dari sebuah fokus kejang atau dari jaringan normal yang terganggu akibat suatu keadaan patologik. Aktivitas kejang sebagian bergantung pada lokasi muatan yang berlebihan tersebut. Lesi di otak tengah, talamus, dan korteks serebrum kemungkinan besar bersifat apileptogenik, sedangkan lesi di serebrum dan batang otak umumnya tidak memicu kejang.

2.5. Pathway Epilepsi dan Status Epileptikus

2.6. Manifestasi klinis a) Manifestasi klinik dapat berupa kejang-kejang, gangguan kesadaran atau gangguan penginderaan b) Kelainan gambaran EEG c) Bagian tubuh yang kejang tergantung lokasi dan sifat fokus epileptogen. d) Dapat mengalami aura yaitu suatu sensasi tanda sebelum kejang epileptik (aura dapat berupa perasaan tidak enak, melihat sesuatu, mencium bau-bauan tidak enak, mendengar suara gemuruh, mengecap sesuatu, sakit kepala dan sebagainya) e) Napas terlihat sesak dan jantung berdebar f) Raut muka pucat dan badannya berlumuran keringat g) Satu jari atau tangan yang bergetar, mulut tersentak dengan gejala sensorik khusus atau somatosensorik seperti: mengalami sinar, bunyi, bau atau rasa yang tidak normal seperti pada keadaan normal h) Individu terdiam tidak bergerak atau bergerak secara automatik, dan terkadang individu tidak ingat kejadian tersebut setelah episode epileptikus tersebut lewat i) Di saat serangan, penyandang epilepsi terkadang juga tidak dapat berbicara secara tiba- tiba. j) Kedua lengan dan tangannya kejang, serta dapat pula tungkainya menendang- menendang k) Gigi geliginya terkancing l) Hitam bola matanya berputar- putar m) Terkadang keluar busa dari liang mulut dan diikuti dengan buang air kecil

2.7. Pencegahan dan pengobatan Epilepsi 2.7.1. Upaya sosial luas yang menggabungkan tindakan luas harus ditingkatkan untuk pencegahan epilepsi. Resiko epilepsi muncul pada bayi dari ibu yang menggunakan obat antikonvulsi (konvulsi: spasma atau kekejangan kontraksi otot yang keras dan terlalu banyak, disebabkan oleh proses pada system saraf pusat, yang menimbulkan pula kekejangan pada bagian tubuh) yang digunakan sepanjang kehamilan. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama yang dapat dicegah. Melalui program yang memberi keamanan yang tinggi dan tindakan pencegahan yang aman, yaitu tidak hanya dapat hidup aman, tetapi juga mengembangkan pencegahan epilepsi akibat cedera kepala. Ibu-ibu yang mempunyai resiko tinggi (tenaga kerja, wanita dengan latar belakang sukar melahirkan, pengguna obat-obatan, diabetes, atau hipertensi) harus di identifikasi dan dipantau ketat selama hamil karena lesi pada otak atau cedera akhirnya menyebabkan kejang yang sering terjadi pada janin selama kehamilan dan persalinan. Program skrining untuk mengidentifikasi anak

gangguan kejang pada usia dini, dan program pencegahan kejang dilakukan dengan penggunaan obat-obat anti konvulsan secara bijaksana dan memodifikasi gaya hidup merupakan bagian dari rencana pencegahan ini. 2.7.2. Pengobatan Pengobatan epilepsi adalah pengobatan jangka panjang. Penderita akan diberikan obat antikonvulsan untuk mengatasi kejang sesuai dengan jenis serangan. Pada epilepsi umum sekunder, obat-obat yang menjadi lini pertama pengobatan adalah karbamazepin dan fenitoin. Gabapentin, lamotrigine, fenobarbital, primidone, tiagabine, topiramate, dan asam valproat digunakan sebagai pengobatan kedua. 2.8. Status Epileptikus a. Definisi Adalah serangan kejang kontinu dan berlangsung lebih dari 30 menit atau serangkaian serangan epilepsi yang menyebabkan anak yang tidak sadar kembali.

b. Penatalaksanaan gawat darurat 1. Terapi awal diarahkan untuk menunjang dan mempertahankan fungsi-fungsi vital, meliputi mempertahankan fungsi-fungsi vital, meliputi mempertahankan jalan napas yang adekuat, pemberian oksigen, dan terapi hidrasi, serta dilanjutkan dengan pemberian diazepam (Valium) atau fenobarbitol per IV. Diazepam per rektum merupakan preparat yang sederhana, efektif, dan aman, untuk penatalaksanaan epilepsi sebelum masuk rumah sakit. Lorazepam (Ativan) dapat menggantikan diazepam IV sebagai obat pilihan. Preparat ini memiliki masa kerja yang lebih panjang dan lebih sedikit menyebabkan gawat napas pada anak-anak di atas usia 2 tahun. Merupakan keadaan kedaruratan medis yang memerlukan intervensi segera untuk mencegah cedera permanen pada otak, gagal napas, dan kematian. 2. Kejang tonik-klonik - Selama kejang : Waktu episode kejang a. lakukan pendekatan dengan tenang b. jika anak berada dalam posisi berdiri atau duduk, baringkan anak c. letakkan bantal atau lipatan selimut di bawah kepala anak. Jika tidak tersedia kepala anak bisa disangga oleh kedua tangannya sendiri. d. Longgarkan pakaian yang ketat e. Lepaskan kacamata f. Singkirkan benda-benda keras atau berbahaya

g. Biarkan serangan kejang berakhir tanpa gangguan h. Jika anak muntah miringkan tubuh anak sebagai satu kesatuan ke salah satu sisi Setelah kejang :

a. Hitung lamanya periode postiktal (pasca kejang) b. Periksa pernapasan anak. Periksa posisi kepala dan lidah. c. Reposisikan jika kepala anak hiperekstensi. Jika anak tidak bernapas, lakukan pernapasan buatan dan hubungi pelayanan medis darurat. d. Periksa sekitar mulut anak untuk menemukan gejala luka bakar/kimia atau kecurigaan zat yang mengindikasikan keracunan e. Pertahankan posisi tubuh anak berbaring miring f. Tetap dampingi anak sampai pulih sepenuhnya g. Jangan memberi makanan atau minuman sampai anak benar-benar sadar dan refleks menelan pulih h. Hubungi pelayanan kedaruratan medis jika diperlukan i. Kaji faktor-faktor pemicu awitan kejang (kolaborasi).

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. Pengkajian 3.1.1. Identitas pasien : Nama, umur, alamat, pekerjaan dan penanggung jawabnya. Umur : bisa menyerang segala umur . Pekerjaan : seseorang dengan pekerjaan yang sering kali menimbulkan stress dapat memicu terjadinya epilepsi. 3.1.2. Riwayat kesehatan a. Keluhan utama Kejang b. Riwayat kesehatan sekarang Keluarga pasien mengatakan pasien tiba-tiba tidak sadarkan diri kemudian kejang-kejang disertai mulut berbuih. c. Riwayat kesehatan dahulu 1 tahun yang lalu pasien pernah mengalami kecelakaan yang hebat dan mengalami cidera kepala .

d. Riwayat kesehatan keluarga. Keluaraga pasien mengatakan bahwa ada keluarga yang pernah mengalami kejadian seperti pasien pada saat ini. 3.1.3. Pemeriksaan fisik (ROS) a. B1 (breath): RR meningkat (takipnea) atau dapat terjadi apnea, aspirasi b. B2 (blood): Terjadi takikardia, cianosis c. B3 (brain): penurunan kesadaran d. e. f. B4 (bladder): oliguria atau dapat terjadi inkontinensia urine. B5 (bowel): nafsu makan menurun, berat badan turun, inkontinensia alvi B6 (bone): klien terlihat lemas, dapat terjadi tremor saat menggerakkan anggota tubuh,

mengeluh meriang.

3.1.4. Pemeriksaan diagnostik a) CT Scan dan Magnetik resonance imaging (MRI) untuk mendeteksi lesi pada otak, fokal abnormal, serebrovaskuler abnormal, gangguan degeneratif serebral. Epilepsi simtomatik yang didasari oleh kerusakan jaringan otak yang tampak jelas pada CT scan atau magnetic resonance imaging (MRI) maupun kerusakan otak yang tak jelas tetapi dilatarbelakangi oleh masalah antenatal atau perinatal dengan defisit neurologik yang jelas. b) Elektroensefalogram (EEG) untuk mengklasifikasi tipe kejang, waktu serangan. c) Kimia darah: hipoglikemia, meningkatnya BUN, kadar alkohol darah. - Mengukur kadar gula, kalsium dan natrium dalam darah - Menilai fungsi hati dan ginjal - Menghitung jumlah sel darah putih (jumlah yang meningkat menunjukkan adanya infeksi). - Pungsi lumbal utnuk mengetahui apakah telah terjadi infeksi otak 3.2. Analisa data No Data Etiologi Masalah

1 Ds : Do : Sesak nafas, Sianosis, Adanya buih berlebih , RR > 20x/mnt Peningkatan sekresi saliva Bersihan jalan nafas tidak efektif 2 Ds : Do : Nilai AGD tidak Normal (PO2 : < 80-95 mmHg, PCO2 : >35-45 mmHg, HCO-3 : < 21-26mmHg, PH L <7,35-7,45, SO2 : < 90-100 mmHg)

Pasien mengalami penurunan kesadaran, diam, tidak banyak bergerak Hipoksia pada otak Gangguan perfusi jaringan 3 Ds : Do : Sesak napas RR meningkat > 20x/mnt Penggunaan Otot Bantu pernafasan. Bronkopasme sekunder dengan kenjang Pola nafas tidak efektif 4 Ds : Do : pasien kejang(kaki menendang nendang , ekstermitas fleksi), gigi geligi terkunci, lidah menjulur 5 Ds : Do : pasien nampak lemah A : BB turun B : Hb < 12 -14 g/dl C : Konjugtiva Anemis D : Tinggi Kalori dan Protein kebutuhan 6 Ds : pasien mengatakan nyeri kepala Do : P : Nyeri pada saat beraktivitas. Q : nyeri seperti tertusuk R : nyeri pada kepala S : 7-8 T : Hilang timbul Respon fisik pasca kejang Gangguan rasa nyaman nyeri Spasme mulut sekunder dengan kenjang Nutrisi kurang dari Kejang berulang Resiko cidera

3.3. Diagnosa 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d. peningkatan sekresi saliva. 2. Gangguan perfusi jaringan b.d. hipoksia pada otak. 3. Pola nafas tidak efektif b.d bronkopasme sekunder dengan kejang. 4. Resiko cidera b.d. kejang berulang. 5. Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d Spasme mulut sekunder dengan kejang. 6. Gangguan rasa nyaman nyeri ( Kepala ) b.d. respon fisik pasca bedah. 3.4. Rencana keperawatan

Dx 1: Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi saliva Tujuan : Setelah dilakukan proses keperawatan selama 1x24 jam diharapkan jalan nafas kembali efektif dan paten dengan KH : - TTV normal ( TD: 110 /70 -120/80 ,RR : 16- 20 x/mnt, N : 60 -100x/mnt , S : 36,5 -37,50 C ) - Tidak ada sianosis - Pasien tidak sesak nafas Intervensi Rasional 1. Anjurkan pasien untuk mengosongkan mulut dari benda/zat tertentu/gigi palsu atau alat yang lain jika fase aura terjadi dan untuk menghindari rahang mengatup jika kejang terjadi tanpa ditandai gejala awal. 2. Observasi TTV

3. Letakkan pasien pada posisi miring, permukaan datar, miringkan kepala selama serangan kejang.

4. Tanggalkan pakaian pada daerah leher/abdomen. 5. Masukkan spatel lidah atau gulugan benda lunak sesuai dengan indiksi.

6. Lakukan suction sesuai indikasi

7. Kolaborasi : pemberian O2 1. 1. Mencegah penutupan jalan nafas.

2. Untuk mengetahui keadaan umum pasien RR Meningkat menunjukan adanya gangguan pernafasan. 3. Untuk menghindari aspirasi dan penutupan jalan nafas

4. Memfasilitasi usaha bernapas/ ekspansi dada 5. Dapat mencegah tergigitnya lidah, dan memfasilitasi saat melakukan penghisapan lendir, atau memberi sokongan pernapasan jika diperlukan 6. Menurunkan risiko aspirasi dan membebaskan jalan nafas 7. Dapat menurunkan hipoksia serebral

Dx 2 : Gangguan perfusi jaringan b.d. hipoksia pada otak Tujuan : setelah dilakukan proses keperawatan selama 1x24 jam diharapkan perfusi jaringan normal dengan KH : - Nilai AGD Normal (PO2 : 80-95 mmHg, PCO2 : 35-45 mmHg, HCO-3 : 21-26 mmHg, PH : 7,357,45, SO2 : 90-100 mmHg) - Kesadaran membaik Intervensi Rasional

1. Kolaborasi a. Awasi /gambaran seri AGD dan nadi.

b. Berikan oksigen tambahan sesuai degan indikasi hasil AGD dan toleransi pasien c. Bantu intubasi ,berikan /pertahankan ventilasi mekanik

2. Kaji status GCS 1. a. PaCO2 biasanya meningkat dan PaO2 secara umum menurun ,sehingga terjadi hipoksia. b. Memperbaiki atau mencegah memburuknya hipoksia.

c. Terjadinya kegagalan nafas yang akan datang memerlukan upaya penyelamatan hidup. 2. Penurunan kesadaran menunjukan hipoksia atau penurunan oksigen serebral

Dx 3 : Pola nafas tidak efektif b.d bronkopasme sekunder dengan kejang. Tujuan : setelah dilakukan proses keperawatan selama 1x24 jam diharapkan pola nafas kembali efektif dan paten. Dengan KH : - RR normal (12-20 x/mnt) - Tidak mengguankan otot bantu pernafasan

- Pasien tidak sesak Intervensi Rasional 1. Kolaborasi : Berikan tambahan O2 2. Monitor TTV. 1. Dapat memperbaiki atau mencegah memburuknya hipoksia. 2. Untuk mengetahui keadaan umum pasien.

Dx 4 : Resiko cidera b.d. kejang berulang Tujuan : setelah dilakukan proses keperawatan selama 1x2 jam diharapkan cidera tidak terjadi dengan KH : - Tidak ada cidera fisik - Pasien dalam kondisi aman, - tidak ada memar dan tidak jatuh Intervensi Rasional 1. Jauhkan pasien dari benda benda tajam / membahayakan bagi pasien. 2. Segera letakkan sendok di mulut pasien yaitu diantara rahang pasien.

3. Kaji karakteristik kejang

4. Pasang penghalang tempat tidur pasien Penjagaan untuk keamanan 5. Berikan informasi pada keluarga tentang tindakan yang harus dilakukan selama pasien kejang. 6. Kolaborasi dalam pemberian obat anti kejang (diazepam, lorazepam dll). 1. Benda tajam dapat melukai dan mencederai fisik pasien.

2. Dengan meletakkan sendok diantara rahang atas dan rahang bawah, maka resiko pasien menggigit lidahnya tidak terjadi dan jalan nafas pasien menjadi lebih lancar. 3. Untuk mngetahui seberapa besar tingkatan kejang yang dialami pasien sehingga pemberian intervensi berjalan lebih baik 4. untuk mencegah cidera dan jatuh

5. Melibatkan keluarga untuk mengurangi resiko cedera

6. Obat anti kejang dapat mengurangi derajat kejang yang dialami pasien, sehingga resiko untuk cidera pun berkurang.

Dx 5 : Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d Spasme mulut sekunder dengan kejang. Tujuan : setelah dilakukan proses keperawatan selama 5x24 diharapkan nutrisi pasien tercukupi dengan KH : - BB Naik - Pasien tidak lemah - Hb Normal 12-14 g/dl Intervensi Rasional 1. Berikan makanan melalui NGT

2. Kaji masukan makanan. Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.

3. Monitoring AGD 1. Metode makan dan kebutuhan kalori di dasarkan pada situasi/kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal. 2. Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dispnea. Apalagi pasien dengan spasme mulut akan terjadi penurunan nutrisi. 3. Hb normal menunjukkan nutrisi adekuat

Dx 6 : Gangguan rasa nyaman nyeri ( kepala ) b.d. respon fisik pasca kejang. Tujuan : setelah dilakukan proses keperawatan selama 1x24 jam diharapkan nyeri pasien berkurang dengan KH : - TTV Normal (TD : :110/70 120/ 90 mmHg,RR : 16- 20 x/mnt , N : 60-100x/mnt, S : 36,537,50.C ) - Skala nyeri 1-3 - Wajah tidak meringis kesakitan - Pasien mampu mengendalikan nyeri dengan teknik relaksasi dan distraksi - Pasien mengungkapkan rasa nyeri berkurang. Intervensi Rasional

1. Kaji nyeri secara komprehensif Lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi. 2. Berikan lingkungan yang tenang dan posisi yang nyaman.

3. Observasi TTV

4. Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk mengatasi nyeri. 5. Kolaborasi : berikan obat analgesik sesuai dengan indikasi 1. Untuk mengetahui skala nyeri.

2. Meringankan nyeri dan memberikan rasa nyaman. Posisi yang nyaman dapat memberikan efek maksimal untuk relaksasi 3. Untuk mengetahui keadaan umum pasien 4. Memberikan rasa nyaman pada saat nyeri.

5. Obat analgesik dapat meringankan nyeri

BAB IV PENUTUP 4.1. Kesimpulan Epilepsi merupakan gejala kompleks dari banyak gangguan fungsi otak yang dikarakteristikkan oleh kejang berulang. Kejang merupakan akibat dari pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel saraf korteks serebral yang ditandai dengan serangan tiba-tiba, terjadi gangguan kesadaran ringan, aktivitas motorik, atau gangguan fenomena sensori. Ada beberapa macam epilepsi, yaitu: 1. Berdasarkan penyebabnya: a. Epilepsi idiopatik b. Epilepsi simtomatik

2. Berdasarkan Letak fokus epilepsi atau tipe bangkitan: a. Epilepsi partial b. Epilepsi Umum Status epileptikus : Adalah serangan kejang kontinu dan berlangsung lebih dari 30 menit atau serangkaian serangan epilepsi yang menyebabkan anak yang tidak sadar kembali. Asuhan keperawatan meliputi : pengkajian, pemeriksaan fisik dan diagnostik, analisa data , diagnosa dan renncana keperawatan.

4.3. Saran 4.3.1. Bagi Mahasiswa Meningkatkan kualitas belajar dan memperbanyak literatur dalam pembuatan makalah agar dapat membuat makalah yang baik dan benar. 4.3.2. Bagi Pendidikan Bagi dosen pembimbing agar dapat memberikan bimbingan yang lebih baik dalam pembuatan makalah selanjutnya. 4.3.3. Bagi Kesehatan Memberikan pengetahuan kepada mahasiswa kesehatan khususnya untuk mahasiswa keperawatan agar mengetahui bagaimana Asuhan keperawatan pada pasien epilepsi dan status epileptikus.

DAFTAR PUSTAKA Carpelito, Lynda juall, 2002 Diagnosis Keperawatan edisi 9. EGC Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta : EGC. Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare, 2002. Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner dan Suddarth, edisi 8. Jakarta : EGC. Long, Barbara C 1998. Keperawatan Medikal Bedah : suatu pendekatan proses keperawatan, bandung : yayasan IAPK pajajaran. Potter dan Perry, 2005. Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik Edisi 4. Jakarta : ECG.