P. 1
Modul.doc

Modul.doc

|Views: 103|Likes:
Dipublikasikan oleh MeddyDanial

More info:

Published by: MeddyDanial on Mar 25, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/29/2013

pdf

text

original

PELATIHAN PELATIHAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PENINGKATAN KEMAMPUAN

PERENCANAAN TEKNIS PENGAMANAN PANTAI PERENCANAAN TEKNIS PENGAMANAN PANTAI

PENGENALAN PERANGKAT LUNAK
CRESS dan ACES
Oleh:
Oentoeng Kartono
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DIREKTORAT JENDERAL SUMBER DAYA AIR
DIREKTORAT RAWA DAN PANTAI
November 2007
DAFTAR ISI
1 PERANGKAT LUNAK CRESS
1.1 Modul Program CRESS.................................................................................... 4
1.2 Contoh Aplikasi Hitungan dengan CRESS........................................................ 9
2 PERANGKAT LUNAK ACES
2.1 Functional Area (Area Kegunaan) dan Case (Kasus) dalam ACES.................. 17
2.2 Contoh Aplikasi Hitungan dengan ACES.......................................................... 18
2.3 Transformasi Gelombang (Wave Transformation)............................................ 18
2.4 Desain Struktur (Structural Design).................................................................. 21
Gambar 1 Layar Utama program CRESS................................................................. 3
Gambar 2 Membuka aplikasi CRESS....................................................................... 4
Gambar 3 Sketsa definisi difraksi gelombang........................................................... 9
Gambar 4 Hitungan difraksi gelombang dengan CRESS.......................................... 10
Gambar 5 Hitungan dispersi gelombang linear dengan CRESS............................... 12
Gambar 6 Distribusi intensitas tekanan gelombang.................................................. 14
Gambar 7 Desain caisson metode Goda dengan CRESS........................................ 16
Gambar 8 Sketsa transformasi gelombang............................................................... 19
Gambar 9 Hitungan transformasi gelombang linear dengan ACES.......................... 20
Gambar 10 Contoh output teks................................................................................... 20
Gambar 11 Contoh output grafis................................................................................. 21
Gambar 12 Sketsa definisi revetment sesuai dengan ACES...................................... 22
Gambar 13 Desain revetment tipe urugan.................................................................. 23
2
PENGENALAN PERANGKAT LUNAK
CRESS DAN ACES
PENGANTAR
Hitungan besaran-besaran dalam teknik kelautan dan teknik pantai seperti gelombang,
arus searah pantai (longshore current) dan proses fisik terkait memerlukan hitungan
matematis, mulai dari yang sederhana sampai dengan bentuk persamaan matematik yang
memerlukan penyelesaian dengan metode numerik. Contoh sederhana adalah hitungan
tinggi gelombang di perairan dangkal jika tinggi gelombang di laut dalam diketahui. Dalam
kasus tersebut hitungan tidak sederhana karena memerlukan trial and error, misalnya
dengan metoda Newton-Raphson, Regula Falsi atau Bisection. Contoh lain adalah
hitungan koefisien refraksi, koefisien shoaling gelombang non liniear dan difraksi
gelombang.
Sebenarnya dengan menggunakan metode numerik tingkat elementer dan dengan
bantuan bahasa pemograman seperti FORTRAN, BASIC, PASCAL, MATLAB atau C/C++
masalah tersebut dapat diselesaikan dengan mudah, bahkan sejak versi 5.0 Microsoft
telah mengintegrasikan bahasa pemograman BASIC secara penuh ke dalam seluruh
aplikasi MS Office dalam bentuk macro Visual Basic for Application (VBA) sehingga
memungkinkan aplikasi MS Office seperti Excel dan Word, bahkan Power Point dapat
diotomatisasi menjadi aplikasi berbasis antarmuka pengguna grafis (Graphical User
Interface/GUI). Alternatif penyelesaian yang lain adalah metode analitis (konvensional)
menggunakan kalkulator, tabel, nomogram dan diagram yang khusus dibuat untuk
keperluan tersebut, namun demikian keberadaan suatu program komputer yang khusus
dibuat untuk mengotomatisasi hitungan besaran-besaran tersebut di atas sesungguhnya
akan sangat membantu dan mempercepat proses hitungan, terutama bagi para praktisi di
lapangan.
Dua jenis perangkat lunak hitungan besaran-besaran dasar dalam Teknik Kelautan dan
Teknik Pantai yang telah cukup dikenal dan luas penggunaannya adalah
1. Perangkat lunak CRESS
2. Perangkat lunak ACES
Pemilihan kedua paket program tersebut dalam pelatihan ini berdasarkan pertimbangan
bahwa keduanya cukup dapat diandalkan dan pengoperasiannya relatif mudah.
3
1
PERANGKAT LUNAK CRESS
CRESS adalah sistem analisis berbasiskan komputer interaktif. CRESS memiliki modul-
modul untuk perhitungan teknik kelautan, teknik pantai, teknik sungai, tabel sifat-sifat
material yang sering digunakan dalam bidang desain teknik kelautan/pantai dan geoteknik,
serta program bantu untuk menghitung akar-akar persamaan suku banyak sampai dengan
derajat 4.
CRESS dikembangkan atas kerjasama antara Delft University of Technology (TU Delft)
UNESCO-IHE dan Netherlands Ministry of Public works (Rijkswaterstaat).
Pada saat ini program CRESS versi terbaru (Versi 4.0.1) dapat didownload secara gratis
dari http://www.kennisbank-waterbouw.nl/cress dengan syarat melakukan registrasi
(gratis) lebih dahulu untuk mendapatkan Username dan Password.
Layar Utama (main screen) CRESS pada saat pertama kali dijalankan diberikan pada
Gambar 1. Dari Layar Utama pengguna dapat memilih bahasa (pada saat ini baru tersedia
3 bahasa: Belanda, Inggeris dan Spanyol) melalui menu Language dan mengatur
percepatan gravitasi g melalui menu Rule.
Membuka aplikasi dilakukan dengan meng’klik’ tanda “+” di depan setiap nama modul
kemudian pilih aplikasi yang diinginkan (tanda ) dan ‘klik’ tombol Open rule seperti
ditunjukkan pada Gambar 2.
Gambar 1 Layar Utama program CRESS
4
Gambar 2 Membuka aplikasi CRESS
Modul Program CRESS
CRESS terdiri dari 6 buah modul yang mana masing-masing modul terdiri dari sub-sub
modul yang memiliki kegunaan spesifik. Karena aplikasi-aplikasi yang tersedia sangat
besar, maka dalam pelatihan ini hanya akan dibahas beberapa contoh aplikasi-aplikasi
yang berkaitan dengan bidang Teknik Kelautan dan Teknik Pantai. Bagi para peserta yang
berminat lebih jauh dengan program CRESS, dapat mencoba sendiri aplikasi-aplikasi
lainnya untuk mendapatkan informasi yang lebih detail.
Modul-modul dan aplikasi-aplikasi program CRESS (Versi 4.0.1) adalah,
1. Water Movement
 Wind waves and swell
 Wave/structure interaction
 Wave forces:
− Without slope
− With slope
− Pressure force on a vertical wall
 Wave transmission:
− Reef breakwater
− Conventional breakwater
5
Aplikasi CRESS
− High permeable breakwater
− Impermeable dam
− Vegetation
− Row of piles
− Vertical breakwater
− Small waves and relatively large freeboards
− Smooth low crested structures
− Rubble mound low crested structures
− Wave transmission through piles
− Wave transmission over low breakwater
 Reflection:
− In case of slopes
− Vertical constructions
− Reflection
 Wave rundown and wave runup:
− Wave rundown
− Wave runup on sloping structures
− Wave runup on rough slope – explicit formulae
− Wave rundown on plane, smooth slopes
− Wave rundown, porous slopes
− Wave rundown acc. to Van der Meer
 Overtopping:
− Vertical constructions:
 A retaining wall without quay
 A retaining wall on a quay
 A retaining wall behind a slope with or without berm
 Over vertical wall
 Overtopping during floods
− Dike runup and overtopping (extended routine)
− Reshaping berm breakwaters
− Overtopping per wave
− Velocities and layer thickness in overtopping waves, outer slope
− Velocities and layer thickness in overtopping waves, crest
− Velocities and layer thickness in overtopping waves, inner slope
− Overtopping over dikes
 Waves near the shore
 Refraction, energy decay and longshore currents
− Refraction parallel contourline
− Longshore current by breaking waves at the shoreline
 Shoaling waters
− Setup/Setdown:
 Regular waves
 Irregular waves
− Wave breaking:
 Maximum wave heights
 Breaker depth, shoaling and refraction
 Diffraction
6
− Semi-infinite breakwater
 Wavegrowth
 Wave growth in varying water depth
 Wave growth in constant water depth
 Basics of waves
 Dispersion relation
 Propagating waves
 Standing waves
 Wave damping by bed friction
 Orbital movement
 Flow
 Flow and structures
 Spillway
 Gate structures
 Seepage flow through rock
 Tidal Flow
 Flow through closure gap
 Pipe flow
 Average flow velocity with laminar flow
 Average flow velocity with turbulent flow
 Long waves
 Flow by seiches
 Translation waves
 Frequency of basin
 Open channel flow
 Trapezoidal profile
 Determination of equilibrium depth:
− Roughness known
− Roughness unknown
 Water jets
 Propeller jets
 Main propeller
− Maneuvering ships
 Sailing vessels
− Push barge convoy
− RHK-and motor vessels
 Inflow jets
 In limited water:
− Jet from long chink (narrow opening) with bed friction
− Jet from rectangular opening
− Jet from long gap (approximation)
7
 In unlimited water:
− Mixing layers
− Free jets:
 From wide gap
 From circle shaped pipe
 Overflowing jets
 Ice forces
 Ice characteristics
 Forces on vertical piles
 Forces on vertical structures:
 Ice velocity unknown
 Ice velocity known
 Period character number
 Ice thickness
 Frost number of Ijnsen
 Ice dams
 Forces by thermal expansion
 Forces by wind and flow
 Forces on slopes
 Water levels
 Wind setup (2)
2. Geotechnics
 Soil mechanics
 Active, passive and neutral soil pressure
 Maximum forces on soil
 Groundwater flow
 Darcy
 Non-phreatic
 Partly phreatic
 Phreatic water
 Geotechnical stability
 Retaining walls
 Stability of dikes
 Piping
3. Sediment Transport
 Scour
 Scour in free flowing water
 Scour by jets
 Scour behind sills and groynes
 Local scour near flow narrowing structures
 Scour downstream of a sill
8
 Scour between river groynes
 Scour by waves
 In front of vertical wall
 Scour during execution
 Sand losses during sand closures
 Sediment transport and morphology
 Basic sediment transport calculation (currents)
 Sand transport by waves
 CERC’s Formula
 Queens’ Formula
 Gravel transport
 Paintal
 Mud transport and siltation
 In harbour basins
 Aeolian transport
 River morphology
 Coastal morphology
 Density of water, settling of sediment
4. Material Characteristics
Berisi 19 jenis tabel sifat-sifat fisik material yang berguna dalam desain, antara lain:
fluida, tanah dan batuan, logam, gas dan material konstruksi.
5. Structures
 Protection against currents
 Stone stability top layer bed protection
 Stone stability bank and dike revetment
 Protection against waves
 Rock and stone structures
(31 aplikasi perhitungan armor a.l. Pilarczyk, V.d. Meer, Hudson, dll)
 Other materials
 Asphalt revetment
 Filters
 Hydraulic loads
 Interface stability
 Internal stability
 Geotextiles
 Caisson structures
 Goda
 On riprap berm
6. Mathematical Help Program
9
Contoh Aplikasi Hitungan dengan CRESS
(a) Difraksi Gelombang di belakang Struktur
Difraksi gelombang adalah transfer energi gelombang dalam arah lateral ketika gelombang
menemui penghalang. Difraksi gelombang dihitung berdasarkan teori difraksi cahaya
melalui celah. Penney dan Price (1952) menggunakan teori difraksi cahaya tersebut untuk
menghitung difraksi gelombang di belakang struktur bangunan laut/pantai (groin, jetty atau
pemecah gelombang).
Gelombang yang terdifraksi di belakang struktur, H
D
, dihitung dengan:
I D D
H K H × · ,
dimana K
D
adalah koefisien difraksi dan H
I
adalah gelombang yang belum terdifraksi. K
D
dihitung dihitung dari
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( )
( )
( )
2 2
2
0
2
0
1
cos
2
sin
2
D
x
x
K C x S x C x S x
C x S x
C x t dt
S x t dt
· + + + −
¸ _
·

¸ ,
¸ _
·

¸ ,


dan adalah Fresnel Integral:
;
π
π
(1-1)
Integral Fresnel persamaan (1-1) tidak dapat dihitung secara analitik, karena itu
memerlukan pendekatan dengan metoda numerik.
Sketsa definisi difraksi gelombang diberikan pada Gambar 3.
Gambar 3 Sketsa definisi difraksi gelombang
Dengan menggunakan program CRESS, hitungan numerik integral Fresnel akan
diselesaikan secara otomatis sehingga tinggi gelombang terdifraksi dpat langsung
diperoleh seperti ditunjukkan pada Gambar 4.
INPUT (kotak berwarna terang):
Hi : Tinggi gelombang datang (m)
lokasi/tititk yang dihitung
difraksinya,
tinggi gelombang : H
D
=K
D
x H
I
r
α
θ
0
gelombang datang H
I
semi-infinite breakawater
x
y
10
T : Perioda gelombang datang (detik)
d : kedalaman lokasi yang dihitung difraksinya (m)
τ : sudut gelombang datang (
o
)
x : jarak di belakang struktur (m)
y : jarak sebelah kiri/kanan pintu pemasukan struktur (m)
OUTPUT (kotak berwarna gelap):
Kd : koefisien difraksi (tanpa satuan)
r/L : jarak relatif titik difraksi
β : sudut antara struktur dengan titik difraksi
Gambar 4 Hitungan difraksi gelombang dengan CRESS
(b) Hubungan Dispersi Gelombang Linear
Persamaan dispersi gelombang linear dinyatakan dengan,
kh gk tanh
2
· σ
Persamaan dispersi dapat ditulis kembali menggunakan definisi frekuensi angular dan
angka gelombang,

,
_

¸
¸
·

,
_

¸
¸
·
L
h
L
L
h gT
L
π π
π
2
tanh
2
tanh
2
0
2
(1-2)
dimana
σ = frekuensi angular = 2π/L
k = angka gelombang = 2π/T
h = kedalaman perairan
g = percepatan gravitasi
L = panjang gelombang pada kedalaman h
11
L
0
= panjang gelombang laut dalam
Persamaan (1-2) tidak dapat diselesaikan secara langsung karena L terdapat pada kedua
ruas persamaan, sehingga memerlukan penyelesaian secara iterasi (misalnya metode
Bisection, Regula Falsi atau Newton-Raphson). Dalam hal terdapat tambahan kecepatan
arus, perlu dibedakan antara periode gelombang yang diketahui pada titik tetap (T') dan
periode yang dihitung dalam suatu sistem koordinat yang bergerak bersama-sama dengan
aliran air (T). Karenan alasan tersebut dalam program CRESS hubungan dispersi
dinyatakan dalam sistem koordinat bergerak.
Khusus dalam program CRESS dilakukan transformasi periode gelombang dari koordinat
tetap ke sistem koordinat bergerak dengan:
L
u
T
T

·
'
1
1
(1-3)
dimana T' = periode gelombang pengamatan
Persamaan (1-2) diselesaikan dengan metode Newton-Raphson:
( )
( )
( )
n
n
n
n
n
n
n n
L
L
h
L
u
T
g
L f
L f
L f
L L −

,
_

¸
¸

,
_

¸
¸

· − ·
+
π
π
2
tanh
'
1
1
2 '
1
dengan
(1-4)
Untuk perairan dalam (h>0.5L) panjang gelombang didekati dengan:
u T
gT
u gT
L ' 1
'
8
2
1
2
1
2
'
2
+

,
_

¸
¸
+ + ·
π
π
(1-5)
dan untuk perairan dangkal (h<0.5 L) panjang gelombang didekati dengan:
u T gh T L ' ' + · (1-6)
Kecepatan fase gelombang didefinisikan sebagai:
'
'
T
L
u
T
L
u c c · + · + · (1-7)
Energi gelombang, tanpa arus, per satuan luas adalah:
2
8
1
gH E ρ · (1-8)
Transfer energi rata-rata dalam arah penjalaran gelombang, per satuan waktu dan
persatuan lebar (fluks energi gelombang) adalah:
Enc F · dimana

,
_

¸
¸
+ ·
L
h
L
h
n
π
π
4
sinh
2
2
1
(1-9)
Kecepatan kelompok gelombang adalah: c
g
= nc
12
Dengan menggunakan program CRESS  Water movement  Wind waves and swell 
Basics of waves  Dispersion relation, perhitungan dapat dilakukan secara otomatis.
Gambar 5 menunjukkan contoh aplikasi perhitungan parameter-parameter gelombang dan
besaran terkait berdasarkan persamaan dispersi gelombang linear.
INPUT (pada Gambar 5 kotak berwarna terang):
T’ = periode gelombang
h = kedalaman perairan di mana parameter-parameter gelombang ingin dihitung
u = kecepatan arus
H = tinggi gelombang
ρ = massa jenis air (laut)
OUTPUT (pada Gambar 5 kotak berwarna gelap):
Besaran-besaran gelombang yang dihitung adalah
T = periode gelombang (koordinat bergerak)
L = panjang gelombang pada kedalaman h
c, c’ = kecepatan rambat dan fase gelombang
E, F = energi dan fluks energi gelombang
c
g
= kecepatan kelompok (group) gelombang
Gambar 5 Hitungan dispersi gelombang linear dengan CRESS
(1) Hitungan Stabilitas Struktur (Metode Goda)
Contoh kedua untuk otomatisasi hitungan dengan program CRESS adalah desain struktur
untuk menganalisis stabilitas struktur vertikal (caisson) di atas pemecah gelombang tipe
13
urugan (rubble mound) berdasarkan metode Goda. Struktur caisson perlu didesain untuk
mengatasi gaya-gaya maksimum akibat gelombang tertinggi yang mungkin terjadi selama
service-life-nya.
a. Tinggi Gelombang Rencana
Variasi tinggi gelombang dalam zona gelombang pecah dihitung berdasarkan transformasi
gelombang tidak beraturan (irregular wave transformation) sesuai dengan metode Goda
sebagai berikut:
dimana,
K
s
= koefisien shoaling
H
0
’ = tinggi gelombang signifkan ekivalen di laut dalam
h = kedalaman perairan
L
0
= panjang gelombang di laut dalam
θ = kemiringan pantai
Koefisien-koefisien β0, β1, …. dihitung sesuai dengan formula di bawah ini:
Koefisien-koefisien H
1/3
:
Koefisien-koefisien H
max
:
Hitungan yang sama dapat dilakukan dengan program ACES di bawah Functional Area:
Wave Transformation, Case: Irregular Wave Transformation (Goda’s Method). Dalam
program CRESS, hitungan yang sama digabungkan dalam analisis stabilitas struktur
caisson dengan metode Goda.
b. Intensitas Tekanan Gelombang
( ) { }
'
0
1/ 3
' ' '
0 0 1 max 0 0
: / 0.2,
min , , : / 0.2,
s o
s o
K H h L
H
H h H K H h L β β β
¹ ≥
¹
·
'
+ <
¹
¹
( ) { }
'
0
max 1/ 250
* ' * * ' '
0 0 1 max 0 0
1.8 : / 0.2,
min , , 1.8 : / 0.2,
s o
s o
K H h L
H H
H h H K H h L β β β
¹ ≥
¹
· ·
'
+ <
¹
¹
14
( )
[ ]
( ) [ ]
{ }
0.38
' 1.5
0 0 0
1
0.29
'
max 0 0
0.028 / exp 20 tan
0.52exp 4.2 tan
max 0.92, 0.32 / exp 2.4 tan
H L
H L
β θ
β θ
β θ


·
·
·
1
¸ ]
( )
[ ]
( ) [ ]
{ }
0.38
' 1.5
0 0 0
1
0.29
'
max 0 0
*
*
*
0.052 / exp 20 tan
0.63exp 3.8tan
max 1.65, 0.53 / exp 2.4 tan
H L
H L
β θ
β θ
β θ


·
·
·
1
¸ ]
Elevasi eksak puncak gelombang di sepanjang dinding vertikal seperti caisson sulit untuk
ditaksir karena akan bervariasi dari 1.0H hingga lebih daripada 2.0H, bergantung pada
kecuraman gelombang dan kedalaman air relatif. Untuk menjaga konsistensi dalam
perhitungan tekanan gelombang, elevasi puncak gelombang dihitung dengan formula
sederhana:
( )
max
cos 1 75 . 0 * H β η + ·
Distribusi tekanan gelombang pada penampang caisson diberikan pada Gambar 6.
Tekanan gelombang maksimum p
1
terjadi pada elevasi permukaan air rencana dan
berkurang secara linear sampai elevasi η* dan dasar struktur di mana intensitas tekanan
gelombang ditunjukkan dengan p
2
.
Gambar 6 Distribusi intensitas tekanan gelombang
Intensitas tekanan gelombang dihitung dengan formula-formula berikut:
( ) ( )
¹
¹
¹
¹
¹
;
¹
·
·
+ + ·
1 3 3
1
2
max 0
2
2 1 1
cosh
cos cos 1 5 . 0
p p
kh
p
p
H w p
α
β α α β
dimana
( )

,
_

¸
¸

,
_

¸
¸
− ·
¹
¹
¹
;
¹
¹
¹
¹
'
¹

,
_

¸
¸
1
]
1

¸

·
1
]
1

¸

+ ·
kh h
h
H
d
d
H
h
d h
kh
kh
b
b
cosh
1
1
'
1
2
,
3
min
2 sinh
2
5 . 0 6 . 0
3
max
max
2
2
1
α
α
α
15
h
b
menyatakan kedalaman air pada lokasi sejauh 5H
1/3
ke arah laut dari struktur caisson.
Gaya angkat ke atas pada dasar caisson adalah
( )
max 0 3 1
cos 1 5 . 0 H w p
u
α α β + ·
dengan distribusi tekanan pada dasar struktur caisson berbentuk segitiga.
c. Analisis Stabilitas
Analisis stabilitas dilakukan dengan memeriksa kestabilan struktur caisson terhadap geser
dan guling sebagai berikut:
( )
P
U W
SF

· µ Faktor Aman (Safety Factor) terhadap geser
( )
p
u
M
M Wt
SF

·
Faktor Aman (Safety Factor) terhadap guling
dimana
M
p
= momen total tekanan gelombang terhadap tumit caisson
M
u
= momen total gaya angkat terhadap tumit caisson
P = tekanan total (lateral) gelombang per satuan panjang caisson
t = jarak horisontal antara pusat berat dan tumit caisson
U = gaya angkat total per per satuan panjang caisson
W = berat caisson per satuan panjang pada SWL
µ = koefisien gesekan antara dasar caisson dengan permukaan pemecah gelombang
Dengan menggunakan program CRESS  Structures  Caisson structures  Goda,,
maka desain caisson dengan metode Goda dapat dilakukan secara otomatis.
Gambar 7 menunjukkan contoh aplikasi CRESS untuk desain caisson dengan metode
Goda.
INPUT (pada Gambar 7 ditunjukkan dengan kotak berwarna terang)
H
0
= tinggi gelombang di perairan dalam
T = periode gelombang di perairan dalam
β = sudut datang gelombang dari perairan dalam
h = kedalaman perairan di depan struktur caisson
d = kedalaman berm di depan struktur caisson
h
cc
= tinggi caisson (di bawah SWL)
h
c
= tinggi caisson (di atas SWL)
m = kemiringan dasar perairan di depan berm
16
ρ
c1
= berat jenis caisson (ballast component, bagian atas)
ρ
c2
= berat jenis caisson (ballast component, bagian bawah)
h
fill
= tinggi isian ballast (di atas SWL)
w
c
= lebar caisson
OUTPUT (pada Gambar 7 ditunjukkan dengan kotak berwarna gelap)
η = runup vertikal maksimum terhadap dinding caisson
p
1
= tekanan gelombang maksimum
p
3
= tekanan gelombang di dasar caisson
p
4
= tekanan gelombang di puncak caisson
γ
slide
= faktor keamanan terhadap geser
γ
turnover
= faktor keamanan terhadap guling
Gambar 7 Desain caisson metode Goda dengan CRESS
17
INPUT
2
PERANGKAT LUNAK ACES
ACES adalah perangkat lunak terintegrasi untuk sistem analisis dan disain berbasis
komputer interaktif dalam bidang Teknik Kelautan dan Teknik Pantai.
ACES mula-mula dikembangkan pada tahun 1995 oleh David A. Leenknecht, Andre
Szuwalski dan Ann R. Sherlock untuk U.S. Army Engineer Waterways Experiment Station,
Vicksburg, Mississippi. ACES semula dibuat untuk platform DOS yang terdiri dari 6
functional area. ACES platform DOS yang terakhir adalah versi 1.07f dan tersedia secara
gratis (freeware), namun pada saat ini tidak dapat didownload lagi karena mulai tahun
1999 ACES dikembangkan dengan antarmuka pengguna grafis (GUI) untuk platform
Windows dan diintegrasikan sebagai salah satu modul dalam paket program CEDAS yang
merupakan program komersial (proprietary software).
Sampai dengan saat buku pedoman ini disusun, ACES yang terintegrasi dalam paket
program CEDAS telah mencapai versi 4.03 dan dikembangkan dari 6 menjadi 8 functional
area.
Functional Area (Area Kegunaan) dan Case (Kasus) dalam ACES
ACES versi 4.03 terdiri dari 8 functional area dan 34 case seperti ditunjukkan pada Tabel
2.1 (Judul masing-masing functional area dan case dikutip sesuai dengan judul pada
program).
Tabel 2.1 Area Kegunaan dan Aplikasi ACES
Functional Area Case
1. Wave Prediction
(Peramalan Gelombang)
• Wind Adjustment and Wave Growth
• Beta-Rayleigh Distribution
• Extremal Significant Wave Height
• Constituent Tide Record Generation
• Near-surface Wind Speed
• Holland ‘s Hurricane Wind Model
2. Wave Theory
(Teori Gelombang)
• Linear Wave Theory
• Cnoidal Wave Theory
• Fenton’s Fourier Series Wave Theory
• Wave Parameters
• Solitary Wave Theory
3. Wave Transformation
(Transformasi Gelombang)
• Linear Wave Theory with Snell’s Law
• Irregular Wave Transformation (Goda’s Method)
• Combined Reflection and Diffraction by a Vertical Wedge
• Combined Reflection and Diffraction with a Uniform Grid
18
Tabel 2.1 (lanjutan)
4. Structural Design
(Desain Struktur)
• Breakwater Design Using Hudson and Related Equations
• Toe Protection Design
• Non-breaking Wave Forces at Vertical Walls
• Rubble Mound Revetment Design
5. Wave Runup
(Rayapan Gelombang)
• Irregular Wave Runup on Smooth Slope Linear Beaches
• Wave Runup and Overtopping on Impermeable Structures
• Wave Transmission on Impermeable Structures
• Wave Transmission Through Permeable Structures
• Wave Setup Across Surf Zone
6. Littoral Processes
(Transpor Sedimen
Menyusur Pantai)
• Longshore Sediment Transport (using deep water wave
conditions)
• Longshore Sediment Transport (using breaking wave
conditions)
• Longshore Sediment Transport (using CEDRS/WIS
Statistical Data)
• Beach Nourishment Overfill Ration and Volume
• Calculation of Composite Grain Size Distribution
7. Inlet Processes *)
(Proses Inlet)
• Simplified Inlet Hydraulics
• Wave-Current Interaction in Channel
8. Harbor Design *)
(Desain Pelabuhan)
• Properties of Rectangular Basins
• Vessel-generated Waves
• Surging of Moored Vessel
*) Functional Area yang ditambahkan oleh paket program CEDAS.
Contoh Aplikasi Hitungan dengan ACES
Berikut diberikan 2 buah contoh kasus lapangan yang akan diselesaikan dengan ACES
untuk menghitung besaran-besaran dasar dalam Teknik Kelautan dan Teknik Pantai.
(i) Transformasi Gelombang (Wave Transformation)
(ii) Desain Struktur (Structural Design)
Transformasi Gelombang (Wave Transformation)
Gelombang yang merambat dari perairan dalam menuju ke perairan dangkal akan
mengalami transformasi dalam bentuk refraksi (wave refraction), pendangkalan (wave
shoaling) dan gelombang pecah (wave breaking). Pengaruh refraksi dan pendangkalan
dinyatakan dengan koefisien refraksi (K
R
) dan koefisien shoaling (K
S
) sehingga tinggi
gelombang (H
2
) pada kedalaman d
2
adalah
1 2
H K K H
S R
·
dimana H
1
adalah tinggi gelombang yang diketahui (known wave) pada kedalaman d
1
.
19
Secara teoritis nilai H
2
akan bertambah terus bersamaan dengan berkurangnya kedalaman
d, namun akan dibatasi oleh tinggi gelombang pecah H
b
yang terjadi pada kedalaman d
b
,
sehingga untuk menentukan tinggi gelombang maksimum yang mungkin terjadi (H
2 max
)
harus dilakukan perhitungan secara trial and error.
Pada Gambar 8 disajikan sketsa transformasi gelombang sesuai dengan notasi yang
digunakan dalam Program ACES.

Gambar 8 Sketsa transformasi gelombang
Proses hitungan tersebut di atas akan dilakukan secara otomatis dalam program ACES.
Sebagai contoh penerapan akan dipilih Functional Area dan Case sebagai berikut (lihat
Tabel 2.1):
Functional Area: Wave Transformation
Case: Linear Wave Theory with Snell’s Law
Aplikasi ini menghitung pendangkalan gelombang (wave shoaling) dan refraksi
menggunakan Hukum Snellius dengan sifat-sifat fisik gelombang diramalkan berdasarkan
teori gelombang linear. Penjelasan tentang teori gelombang dapat dilihat pada Buku 3:
Pedoman Perencanaan Teknik Bangunan Pantai , Modul 2 Hidrodinamika Pantai.
INPUT (pada Gambar 9 ditunjukkan dengan kotak berwarna terang)
Satuan (Units): dipilih Metric atau English
Jenis Air (Water): dipilih Salt atau Fresh
cot φ = kemiringan pantai
H
1
= tinggi gelombang (known wave)
T = perioda gelombang (known wave)
d
1
= kedalaman perairan gelombang yang diketahui (known wave)
α = sudut puncak gelombang (known wave), range: 0
O
– 90
O
d
2
= kedalaman perairan gelombang yang dihitung (subject wave)
20
Gambar 9 Hitungan transformasi gelombang linear dengan ACES
OUTPUT berupa besaran-besaran gelombang yang telah mengalami refraksi dan shoaling
pada kedalaman d
2
(subject wave) dan pada perairan dalam (deep water wave), termasuk
tinggi dan kedalaman gelombang pecah yang ditunjukkan dengan bagian yang berwarna
gelap pada Gambar 2.3.
Output dalam bentuk teks dan grafis disajikan pada Gambar 10 dan Gambar 11.
Gambar 10 Contoh output teks
21
Gambar 11 Contoh output grafis
Desain Struktur (Structural Design)
Sebagai contoh penerapan akan dipilih Functional Area dan Case sebagai berikut (lihat
Tabel 2.1):
Functional Area: Structural Design
Case: Rubble Mound Revetment Design
Aplikasi ini menghitung lapisan armor dan lapisan filter untuk konstruksi revetmen urugan,
yaitu berat, ukuran, tebal lapisan dan gradasi ukuran. Juga dihitung rayapan gelombang
(runup) yang mungkin terjadi pada lereng struktur revetmen.
Perhitungan berdasarkan formula stablitas armor riprap untuk gelombang monokromatik
menurut Hudson sebagai berikut
3
50
1
1
1
1
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸

·
w
r
s
r
w
w
Ns
H
w W
dimana
W
50
= berat median batu armor
w
r
= berat volume batu armor
w
r
= berat volume air
H
s
= tinggi gelombang signifikan
N
s
= angka stabilitas
22
Angka stabilitas N
s
yang digunakan dalam ACES berdasarkan penelitian Ahrens dan
Broederick (CERC Stablity Number) dan angka stabilitas berdasarkan penelitian Van der
Meer dan Pilarczyk (Dutch Stability Number). Nilai yang terbesar dari kedua angka
stabilitas tersebut oleh ACES digunakan untuk menghitung kebutuhan berat batu armor
revetmen.
INPUT (pada Gambar 13 ditunjukkan dengan kotak berwarna terang)
Satuan (Units): dipilih Metric atau English
Jenis Air (Water): dipilih Salt atau Fresh
k = kriteria gelombang pecah ≈ 0.78 (gelombang pecah jika H/d > k)
H
s
= tinggi gelombang signifikan di depan tumit struktur revetment
cot φ = kemiringan dasar perairan di depan tumit struktur revetment
d
s
= kedalaman perairan di depan tumit struktur revetment
cot θ = kemiringan lereng struktur revetment
w
r
= berat volume armor
P = koefisien permeabilitas
S = tingkat kerusakan (damage level)
Penjelasan rinci dari setiap parameter input di atas dapat dilihat pada ACES Technical
Reference.
Sketsa definisi revetment sesuai dengan yang digunakan dalam program ACES disajikan
pada Gambar 12.
OUTPUT berupa ketebalan lapisan armor dan lapisan filter serta distribusi ukuran butiran
masing-masing lapisan (% lebih kecil berdasarkan berat berikut berat dan ukuran) yang
ditunjukkan dengan bagian yang berwarna gelap pada Gambar 12.
Gambar 12 Sketsa definisi revetment sesuai dengan ACES
23
Gambar 13 Desain revetment tipe urugan
24
Modul Program CRESS.......................................................................................................5
Contoh Aplikasi Hitungan dengan CRESS.......................................................................10
Functional Area (Area Kegunaan) dan Case (Kasus) dalam ACES..................................18
Contoh Aplikasi Hitungan dengan ACES.........................................................................19
Transformasi Gelombang (Wave Transformation)...........................................................19
Desain Struktur (Structural Design)..................................................................................22
Gambar 1 Layar Utama program CRESS..............................................................................4
Gambar 2 Membuka aplikasi CRESS...................................................................................5
Gambar 3 Sketsa definisi difraksi gelombang.....................................................................10
Gambar 4 Hitungan difraksi gelombang dengan CRESS....................................................11
Gambar 5 Hitungan dispersi gelombang linear dengan CRESS.........................................13
Gambar 6 Distribusi intensitas tekanan gelombang............................................................15
Gambar 7 Desain caisson metode Goda dengan CRESS....................................................17
Gambar 8 Sketsa transformasi gelombang..........................................................................20
Gambar 9 Hitungan transformasi gelombang linear dengan ACES....................................21
Gambar 10 Contoh output teks............................................................................................21
Gambar 11 Contoh output grafis.........................................................................................22
Gambar 12 Sketsa definisi revetment sesuai dengan ACES...............................................23
Gambar 13 Desain revetment tipe urugan...........................................................................24
25

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->