Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN I.

1 Latar Belakang Sebagai mahasiswa farmasi, sudah seharusnya kita mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan obat, baik dari segi farmasetik, farmakodinamik, farmakokinetik, dan juga dari segi farmakologi dan toksikologinya. Farmakologi sebagai ilmu yang berbeda dari ilmu lain secara umum pada keterkaitannya yang erat dengan ilmu dasar maupun ilmu klinik sangat sulit mengerti farmakologi tanpa pengetahuan tentang fisiologi tubuh, biokimia, dan ilmu kedokteran klinik. Jadi, farmakologi adalah ilmu yang

mengintegrasikan ilmu kedokteran dasar dan menjembatani ilmu praklinik dan klinik. Farmakologi mempunyai keterkaitan khusus dengan farmasi yaitu, ilmu cara membuat, menformulasi, menyimpan dan menyediakan obat (Sudjadi, Bagad. 2007). Toksikologi berkembang luas ke bidang kimia, kedokteran hewan, kedokteran dasar klinik, pertanian, perikanan, industri, etimologi hukum dan lingkungan. Perkembangan ini memungkinkan terjadinya reaksi dalam tubuh dalam jumlah yang kecil. Beberapa macam keracunan telah diketahui terjadi berdasarkan kelainan genetik, gejala keracunan dan tindakan untuk mengatasinya berbeda-beda. Peranan hewan percobaan dalam kegiatan penelitian ilmiah telah berjalan sejak puluhan tahun lalu. Agar mengetahui bagaimana cara kita sebagai mahasiswa maupun sebagai seorang peneliti dalam hal ini mengetahui tentang kemampuan obat pada seluruh aspeknya yang

berhubungan dengan efek toksiknya maupun efek sampingnya tentunya kita membutuhkan hewan uji atau hewan percobaan. Hewan coba adalah hewan yang khusus diternakan untuk keperluan penelitian biologis. Hewan laboratorium tersebut di gunakan sebagai uji praktek untuk penelitian

pengaruh bahan kimia atau obat pada manusia. Beberapa jenis hewan yang sering dipakai dalam penelitian (Oryctolagus cuniculus) Marmut maupun (Cavia praktek yaitu : Kelinci parcellus), Mencit (Mus

musculus), Tikus (Rattus novergicus) Pada percobaan kali ini kami melakakuan penanganan hewan coba pada mencit (Mus musculus) dan kelinci (Oryctolagus cuniculus). I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan 1.1.1 Maksud Percobaan Untuk mengetahui cara penanganan dan memegang hewan coba seperti mencit dan kelinci. 1.1.2 Tujuan Percobaan Mahasiswa dapat mengetahui cara penanganan dan memegang hewan coba seperti mencit dan kelinci.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Dasar Teori Dalam arti luas farmakologi ialah ilmu mengenai pengaruh senyawa terhadap sel hidup, lewat proses kimia khususnya lewat reseptor. Dalam ilmu kedokteran senyawa tersebut disebut obat, dan lebih menekankan pengetahuan yang mendasari manfaat dan resiko penggunaan obat. Karena itu dikatakan farmakologi merupakan seni menimbang ( the art of

weighing). Obat didefinisikan sebagai senyawa yang digunakan untuk mencegah, mengobati, mendiagnosis penyakit/gangguan, atau menimbulkan suatu kondisi tertentu, misalnya membuat seseorang infertil, atau melumpuhkan otot rangka selama pembedahan hewan coba. Farmakologi mempunyai keterkaitan khusus dengan farmasi, yaitu ilmu cara membuat, menformulasi, menyimpan dan menyediakan obat(Marjono,M. 2011). Toksikologi adalah pengetahuan tentang efek racun dari obat terhadap tubuh dan sebetulnya termasuk pula dalam kelompok farmakodinamika, karena efek teraupetis obat berhubungan erat dengan efek dosisnya. Pada hakikatnya setiap obat dalam dosis yang cukup tinggi dapat bekerja sebagai racun dan merusak organisme (sola dosis facit venenum; hanya dosis membuat racun. Paracelcus) (Tjay Hoan, Dkk 2007). Hewan coba / hewan uji atau sering disebut hewan laboratorium adalah hewan yang khusus diternakan untuk keperluan penelitian biologik. Hewan percobaan digunakan untuk penelitian pengaruh bahan kimia atau obat pada manusia. Peranan hewan percobaan dalam kegiatan penelitian

ilmiah telah berjalan sejak puluhan tahun yang lalu. Sebagai pola kebijaksanaan pembangunan nasional bahkan internasional, dalam rangka keselamatan umat manusia di dunia adalah adanya Deklarasi Helsinki. Deklarasi ini berisi tentang segi etik percobaan yang meng-gunakan manusia (1964) antara lain dikatakan perlunya diakukan percobaan pada hewan, sebelum percobaan di bidang biomedis maupun riset lainnya dilakukan atau diperlakukan terhadap manusia, sehingga dengan demikian jelas hewan per-cobaan mempunyai mission di dalam keikutsertaannya menunjang program keselamatan umat manusia melalui suatu penelitian biomedis (Sulaksono, M.E., 1992). Ditinjau dari segi sistem pengelolaannya atau cara pemeliharaannya, di mana faktor keturunan dan lingkungan berhubungan dengan sifat biologis yang terlihat/karakteristik hewan percobaan, maka ada 4 golongan hewan, yaitu : 1) Hewan liar. 2) Hewan yang konvensional, yaitu hewan yang dipelihara secara terbuka 3) Hewan yang bebas kuman spesifik patogen, yaitu hewan yang dipelihara dengan sistim barrier (tertutup). 4) Hewan yang bebas sama sekali dari benih kuman, yaitu hewan yang dipelihara dengan sistem isolator Sudah barang tentu penggunaan hewan percobaan tersebut di atas disesuaikan dengan macam percobaan biomedis yang akan dilakukan. Semakin meningkat cara pemeliharaan, semakin sempurna pula hasil

percobaan yang dilakukan. Dengan demikian, apabila suatu percobaan dilakukan terhadap hewan percobaan yang liar, hasilnya akan berbeda bila menggunakan hewan percobaan konvensional ilmiah maupun hewan yang bebas kuman (Sulaksono, M.E., 1987). II.1.1 Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Hewan Percobaan Penanganan hewan percobaan hendaklah dilakukan dengan penuh rasa kasih sayang dan berprikemanusiaan. Di dalam menilai efek farmakologis suatu senyawa bioaktif dengan hewan percobaan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain (Malole, 1989): 1. Faktor internal pada hewan percobaan sendiri : umur, jenis kelamin, bobot badan, keadaan kesehatan, nutrisi, dan sifat genetik. 2. Faktorfaktor lain yaitu faktor lingkungan, keadaan kandang, suasana kandang, populasi dalam kandang, keadaan ruang tempat

pemeliharaan, pengalaman hewan percobaan sebelumnya, suplai oksigen dalam ruang pemeliharaan, dan cara pemeliharaan. 3. Keadaan faktorfaktor ini dapat merubah atau mempengaruhi respon hewan percobaan terhadap senyawa bioaktif yang diujikan.

Penanganan yang tidak wajar terhadap hewan percobaan dapat mempengaruhi hasil percobaan, memberikan penyimpangan hasil. Di samping itu cara pemberian senyawa bioaktif terhadap hewan percobaan tentu mempengaruhi respon hewan terhadap senyawa bioaktif yang bersangkutan terutama segi kemunculan efeknya. Cara pemberian yang digunakan tentu tergantung pula kepada bahan atau bentuk sediaan yang akan digunakan serta hewan percobaan yang

akan digunakan. Sebelum senyawa bioaktif dapat mencapai tempat kerjanya, senyawa bioaktif harus melalui proses absorpsi terlebih dahulu. II.1.2 Rute Pemberian Obat Rute pemberian obat menentukan jumlah dan kecepatan obat yang masuk ke dalam tubuh, sehingga merupakan penentu keberhasilan terapi atau kemungkinan timbulnya efek yang merugikan. Rute pemberian obat dibagi 2, yaitu enternal dan parenteral (Priyanto, 2008). 1. Jalur Enteral Jalur enteral berarti pemberian obat melalui saluran gastrointestinal (GI), seperti pemberian obat melalui sublingual, bukal, rektal, dan oral. Pemberian melalui oral merupakan jalur pemberian obat paling banyak digunakan karena paling murah, paling mudah, dan paling aman. Kerugian dari pemberian melalui jalur enternal adalah absorpsinya lambat, tidak dapat diberikan pada pasien yang tidak sadar atau tidak dapat menelan. Kebanyakan obat diberikan melalui jalur ini, selain alasan di atas juga alasan kepraktisan dan tidak menimbulkan rasa sakit. Bahkan dianjurkan jika obat dapat diberikan melalui jalur ini dan untuk kepentingan emergensi (obat segera berefek), obat harus diberikan secara enteral. 2. Jalur Parenteral Parenteral berarti tidak melalui enteral. Termasuk jalur parenteral adalah transdermal (topikal), injeksi, endotrakeal (pemberian obat ke

dalam trakea menggunakan endotrakeal tube), dan inhalasi. Pemberian obat melalui jalur ini dapat menimbulkan efek sistemik atau lokal. II.1.3 Hewan-Hewan Percobaan 1. Mencit (Mus musculus) (Malole, 1989) Mencit adalah hewan percobaan yang sering dan banyak digunakan di dalam laboratorium farmakologi dalam berbagai bentuk percobaan. Hewan ini mudah ditangani dan bersifat penakut, fotofobik, cenderung berkumpul sesamanya dan bersembunyi. Aktivitasnya di malam hari lebih aktif. Kehadiran manusia akan mengurangi

aktivitasnya. - Cara Memegang mencit Mencit dapat dipegang dengan memegang ujung ekornya dengan tangan kanan, biarkan menjangkau / mencengkeram alas yang kasar (kawat kandang). Kemudian tangan kiri dengan ibu jari dan jari telunjuk menjepit kulit tengkuknya seerat / setegang mungkin. Ekor dipindahkan dari tangan kanan, dijepit antara jari kelingking dan jari manis tangan kiri. Dengan demikian, mencit telah terpegang oleh tangan kiri dan siap untuk diberi perlakuan.

Gambar 1. Cara memegang mencit

- Cara Pemberian Cara pemberian oral Pemberian secara oral pada mencit dilakukan dengan alat suntik yang dilengkapi jarum/kanula oral (berujung tumpul). Kanula ini dimasukkan ke dalam mulut, kemudian perlahan-lahan diluncurkan melalui langit-langit ke arah belakang sampai esophagus kemudian masuk ke dalam lambung. Perlu

diperhatikan bahwa cara peluncuran/pemasukan kanus yang mulus disertai pengeluaran cairan sediaannya yang mudah adalah cara pemberian yang benar. Cara pemberian yang keliru, masuk ke dalam saluran pernafasan atau paru-paru dapat menyebabkan gangguan pernafasan dan kematian. Cara pemberian intra peritoneal Mencit dipegang pada kulit punggungnya sehingga kulit abdomennya tegang, kemudian jarum disuntikkkan dengan membentuk sudut 100 dengan abdomen pada bagian tepi abdomen dan tidak terlalu ke arah kepala untuk menghindari terkenanya kantung kemih dan hati. Cara pemberian subkutan Penyuntikkan dilakukan di bawah kulit pada daerah kulit tengkuk dicubit di antara jempol dan telunjuk kemudian jarum ditusukkan di bawah kulit di antara kedua jari tersebut. Cara pemberian intramuskular Penyuntikan dilakukan ke dalam otot pada daerah otot paha.

Cara pemberian intravena Penyuntikan dilakukan pada vena ekor. Hewan dimasukkan ke dalam kandang individual yang sempit dengan ekor dapat menjulang ke luar. Dilatasi vena untuk memudahkan

penyuntikan, dapat dilakukan dengan pemanasan di bawah lampu atau dengan air hangat. Bobot Badan hewan Coba yang Digunakan Mencit : 17-25 gram 2. Tikus putih (Rattus norvegiens) (Malole, 1989) Tikus berukuran lebih besar daripada mencit dan lebih cerdas. Umumnya tikus putih ini tenang dan demikian mudah digarap. Tidak begitu bersifat fotofobik dan tidak begitu cenderung berkumpul sesamanya seperti mencit. Aktivitasnya tidak begitu terganggu oleh kehadiran manusia di sekitarnya. Bila diperlakukan kasar atau mengalami defisiensi makanan, tikus akan menjadi galak dan sering dapat menyerang si pemegang. Cara memegang tikus Seperti halnya pada mencit, tikus dapat ditangani dengan memegang ekornya dengan menarik ekornya, biarkan kaki tikus mencengkeram alas yang kasar (kawat kandang), kemudian secara hatihati luncurkan tangan kiri dari belakang ke arah kepalanya seperti pada mencit tetapi dengan kelima jari, kulit tengkuk dicengkeram, cara lain yaitu selipkan ibu jari dan telunjuk menjepit kaki kanan depan tikus sedangkan kaki kiri depan tikus di antara jari

tengah dan jari manis. Dengan demikian tikus akan terpegang dengan kepalanya di antara jari telunjuk dan jari tengah. Pemegangan tikus ini dilakukan dengan tangan kiri sehingga tangan kanan kita dapat melakukan perlakuan.

Gambar 2. Cara memegang tikus

Pemberian Obat Cara-cara pemberian oral, ip, sk, im, dan iv dapat dilakukan, seperti pada mencit. Penyuntikan secara iv dapat pula dilakukan pada vena penis tikus jantan dengan bantuan pembiusan hewan percobaan. Penyuntikan sk dapat dilakukan pula pada daerah kulit abdomen. - Bobot Badan hewan Coba yang Digunakan Tikus putih : 150-200 gram 3. Kelinci (Oryctolagus caniculus) (Malole, 1989) Kelinci jarang sekali bersuara kecuali bila dalam keadaan nyeri yang luar biasa. Kelinci cenderung berontak bila merasa terganggu. Kelinci hendaklah diperlakukan dengan halus namun sigap karena ia cenderung berontak. Hewan ini dapat ditangkap dengan memegang kulit pada tengkuknya dengan tangan kiri kemudian pantatnya diangkat dengan tangan kanan dan didekapkan ke badan.

10

Penanganan Untuk perlakuan tertentu dapat digunakan kotak / kandang individual kelinci yang dapat menjaga kelinci agar tak dapat banyak bergerak (restriction box).

Cara Pemberian Obat Cara pemberian oral: Dalam cara pemberian oral pada kelinci digunakan alat penahan terbukanya mulut dan pipa lambung. Alat suntik dihubungkan dengan pipa lambung (dapat digunakan slang yang lunak dengan ukuran sesuai), pipa lambung dimasukkan ke dalam kemudian diluncurkan ke dalam esophagus secara perlahan-lahan Cara pemberian subkutan: Cara pemberian ini dilakukan di bawah kulit di daerah tengkuk atau daerah sisi pinggang. Cara pemberian dilakukan dengan mengangkat kulit dan kemudian jarum ditusukkan ke bawah kulit. Cara pemberian intravena: Dilakukan pada vena marginalis telinga dan penyuntikan dilakukan pada daerah dekat ujung telinga. Untuk memperluas (mendilatasi vena), telinga diulas terlebih dahulu dengan air hangat atau alkohol. Pencukuran bulu bila perlu dapat dilakukan terutama pada hewan yang berwarna bulunya.

11

Bobot Badan hewan Coba yang Digunakan Kelinci : 15-20 gram

4. Marmut (Cavia porcellus) (Malole, 1989) Marmot sebenarnya jinak dan mudah diperlakukan. Marmot dipegang dengan mengangkat badannya dengan kedua tangan. Cara pemberian oral Pemberian oral kepada marmot dapat dilakukan dengan pipa lambung dengan bantuan hewan dianestetik lemah terlebih dahulu. Cara pemberian intra pertoneal Penyuntikan dilakukan pada daerah perut agak ke kanan dari daerah garis tengah dan di atas tulang kematian. Cara pemberian subkutan Penyuntikan dapat dilakukan pada daerah tengkuk: kulit dicubit kemudian jarum disuntikkan ke bawah kulit. Cara pemberian intra pertoneal Kelinci dipegang menggantung pada kaki belakangnya sehingga perut maju ke depan. Penyuntikan dapat dilakukan pada daerah garis tengah di muka kandung kemih. Cara pemberian intramuskular Penyuntikan dilakukan ke dalam otot paha kaki belakang. Cara pemberian intravena Pada marmot cara ini jarang digunakan. Penyuntikan dapat digunakan pada vena marginalis dengan jarum yang halus dan pendek (cara ini dapat dilakukan untuk marmot yang cukup besar)

12

atau pada vena pada bagian paha dengan bantuan anestetik terlebih dahulu atau pada vena penis dengan bantuan anestetik. Pada tiap cara pemberian ini kecuali oral, pembersihan dengan antiseptik pada daerah penyuntikan perlu dilakukan pada sebelum penyuntikan dan setelah penyuntikan perlu dilakukan. Jumlah volume penyuntikan dari tiap cara pemberian dan pada berbagai hewan percobaan berbeda-beda. Bobot Badan hewan Coba yang Digunakan Marmut : 300-500 gram II.1 Uraian Hewan Coba II.1.1 Mencit (Mus musculus) (Syafri, M. 2010) a. Sistem taksonomi mencit adalah sebagai berikut: Kingdom Filum Sub filum Kelas Ordo Genus Spesies : Animalia : Chordata : Vertebrata : Mamalia : Rodentia : Mus : Mus musculus

Mencit memiliki beberapa data biologis, diantaranya: Lama hidup : 1-2 tahun

Lama produksi ekonomis : 9 bulan Lama bunting Kawin sesudah beranak : 19-21 hari : 1-24 jam

13

Umur disapih Umur dewasa Umur dikawinkan Siklus kelamin Perkawinan Berat dewasa

: 21 hari : 35 hari : 8 minggu : poliestrus : pada waktu estrus : 20-40 gram (jantan) 18-35 gram (betina)

II.1.2 Kelinci (Oryctolagus cuniculus) (Syafri, M. 2010) a. Klasifikasi Kingdom Filum Sub filum Kelas Ordo Family Genus Spesies b. Morfologi Kelinci mempunyai punggung melengkung dan berekor pendek, kepalanya kecil dan telinganya tegak lurus ke atas akan tetapi bibir terbelah dan yang bagian atasnya bersambung hingga hidung. Mempunyai beberapa helai kumis dan pembuluh darah banyak terdapat pada telinga. : Animalia : Chordata : Vertebrata : Mamalia : Lagumorida : Leporidae : Oryctolagus : Oryctolagus cuniculus

14

c. Karakteristik Masa reproduksi Masa hamil Umur dewasa Umur kawin Siklus kelamin Periode eksterus Jumlah kelahiran Volume darah Masa perkawinan : 1-3 tahun : 28-35 hari : 4-10 bulan : 6-12 bulan : Setahun 5 kali hamil : 11-15 hari : 4-10 : 10 ml/kg berat badan : 1 minggu

II.2.3 Marmut (Cavia parcellus) (Syafri, M. 2010) a. Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies b. Morfologi Marmut memiliki ukuran fisik sekitar 5 inch dan 2-3 polimel ,tidak terlihat ekor dan mempunyai bulu tebal dan mengembang dan variasi warna. : Animalia : Chordata : Mamalia : Rodentia : Caviae : Cavia : Cavia parcellus

15

c. Karakteristik Puberitas Masa beranak Masa hamil Jumlah lahir Lama hidup Masa tumbuh Masa laktasi Frekuensi lahir Suhu tubuh Volume darah : 60-70 hari : sepanjang tahun : 63 hari : 2-5 ekor : 7-8 bulan : 15 bulan : 21 hari :4 : 37,8-39,50C : 6% BB

II.2.4 Tikus ( Rattus novergicus) (Syafri, M. 2010) a. Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies b. Morfologi Memiliki kepala, badan, dan leher yang terlihat jelas, tubuhnya tertutup rambut, ekornya bersisik, kadang-kadang berambut. Merupakan hewan liar, mempunyai sepasang daun telinga dan bibir yang lentur. : Animalia : Chordata : Mamalia : Rodentia : Murinae : Rattus : Rattus novergicus

16

c. Karakteristik Lama hidup Lama produksi Lama hamil Umur dewasa Umur kawin Siklus eksterus Berat dewasa Jumlah anak : 2-3 tahun : 1 tahun : 20-22 hari : 40-60 hari : 10 minggu : 9-10 gram : 300-400 gram : 9-20 ekor

17

BAB III METODE PERCOBAAN III.1 Alat dan Bahan

III.1.1 Alat 1. Kandang mencit 2. Penutup kandang yang kasar (kawat) 3. Kotak atau kandang individu kelinci III.1.2 Bahan Berupa hewan percobaan seperti : 1. Kelinci (Oryctolagus caniculus) 2. Mencit (Mus musculus) III.2 Cara kerja

III.2.1 Kelinci 1. Kelinci dipegang kulit tengkuknya 2. Pantat diangkat dengan tangan kanan dan didekapkan ke badan 3. Dapat digunakan kotak atau kandang individu kelinci agar tidak banyak bergerak III.2.1 Mencit 1. Ujung ekor diangkat dengan tangan kanan 2. Mencit dibiarkan mencengkram alas penutup kandang yang kasar (kawat) sehingga tertahan ditempat 3. Ibu jari dan jari telunjuk kiri menjepit kulit tenguk seerat mungkin 4. Ekor dipindahkan, dijepit di antara jadi manis dankelingking tangan kiri 5. Mencit siap diberi perlakuan dengan tangan kanan

18

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN IV.1 Hasil Pengamatan

IV.2 Pembahasan Hewan coba / hewan uji atau sering disebut hewan laboratorium adalah hewan yang khusus diternakan untuk keperluan penelitian biologik. Hewan percobaan digunakan untuk penelitian pengaruh bahan kimia atau obat pada manusia. Beberapa jenis hewan yang sering dipakai dalam penelitian maupun praktikum yaitu:Kelinci (Oryctolagus cuniculus) Marmut (Cavia parcellus), Mencit (Mus musculus), Tikus (Rattus novergicus). Percobaan kali ini adalah membahas tentang bagaimana cara penanganan hewan coba sebelum kita melakukan pemberian obat terhadap hewan coba maka dari itu kita harus mengetahui bagaimana cara penanganan hewan coba yang baik dan benar terlebih dahulu. Langkah awal dari percobaan ini adalah menyiapkan alat dan bahan. Setelah itu mulai mempraktekkan cara memperlakukan hewan percobaan yang sebelumnya telah dijelaskan oleh asisten. Hewan yang dipakai dalam

19

percobaan ini adalah Kelinci (Oryctolagus cuniculus) dan Mencit (Mus musculus). Pertama-tama dilakukan perlakuan terhadap kelinci dengan cara dieluselus bagian kepala sampai bagian belakang tubuhnya agar kelinci tenang dan mudah di pegang. Kemudian digenggam atau dipegang pada leher kelinci dengan tangan kanan. Lalu bagian pantat atau bagian belakang ekornya dengan tangan kiri diangkat bersamaan dengan pegangan pada lehernya dan langsung didekapkan di badan kita agar agar kelinci tidak mudah lepas atau melompat. Setelah itu kelinci siap diberi perlakuan. pada hewan coba kelinci, biasanya kelinci

Untuk percobaan tertentu

dimasukkan pada kotak percobaan agar tidak banyak bergerak dan memudahkan peneliti atau praktikkan mengambil sampel misalnya darah kelinci. Selain itu, kita tidak diperbolehkan sekali-kali memegang telinga kelinci pada saat penanganan karena pada telinga kelinci syaraf dan

pembuluh darahnya dapat terganggu dan telinga kelinci juga sangat sensitif, sehingga bila telinganya dipegang, maka dapat mempengaruhi system saraf pada kelinci. Untuk mencit cara penanganannya adalah yang pertama ujung dari ekor mencit diangkat dengan tangan kiri, dibiarkan mencit mencengkram alas penutup kandang yang kasar yang berupa kawat sehingga tertahan ditempat, setelah itu mencit di elus-elus agar tenang dan mudah dipegang. Kemudian ibu jari kita dan jari telunjuk kanan menjepit tengkuk mencit seerat mungkin tetapi tidak boleh terlalu kencang karena mencit terlalu kecil selanjutnya ekor mencit dipindahkan, dijepit di antara jadi manis dan kelingking tangan

20

kanan dengan demikian, mencit yang telah terpegang oleh tangan kanan siap untuk diberi perlakuan.

21

BAB V PENUTUP V.1 Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa berbagai macam hewan uji digunakan di laboratorium, seperti Mencit (Mus musculus) dan Kelinci (Oryctolagus cuniculus) yang masing-masing memerlukan penanganan khusus. Cara perlakuan hewan coba seperti mencit dan kelinci awalnya harus diperhatikan kondisi dari hewan coba tersebut agar hewan coba tidak mengalami stres. Untuk perlakuan mencit awalnya ujung ekor mencit

diangkat dengan tangan kanan ataupun kiri ( tergatung kenyamanan praktikan dalam memegang mencit ). Selanjutnya telunjuk dan ibu jari tangan kiri menjepit kulit tengkuk, sedangkan ekornya tetap dipegang dengan tangan kanan (ataupun sebaliknya). Kemudian, posisi tubuh mencit dibalikkan, sehingga permukaan perut menghadap kita dan ekor dijepitkan diantara jari manis dan kelingking tangan kiri. Sedangkan untuk kelinci awalnya dipegang kulit tengkuknya, kemudian pantat diangkat dengan tangan kanan dan didekapkan ke badan. V.2 SARAN Sebaiknya dalam menangani hewan coba perlu diperhatikan etika-etika penanganan hewan coba di laboratorium.

22