Anda di halaman 1dari 2

RUANG LLINGKUP TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG 1.

Pengertian dan ruang lingkup tindak pidana perdagangan orang Pada masa yang lalu, perdagangan orang merupakan suatu symbol/status social, dimana orang yang mempunyai status social tinggi (ekonomi dan kekuasaan/politik) dipastikan akan mempunyai budak/budak belian. Adapun yang dimaksud dengan budak adalah orang yang dibeli dan dijadikan budak, hamba, jongos. Semua orang yang mempunyai budak akan dianggap mempunyai status social yang tinggi, sehingga hal ini merupakan suatu hal yang umum, yang tidak perlu dikaji dari perkembangan ilmiah. Pada akhir abad ke-20, hampir semua Negara muslim telah memiliki undang-undang dasar yang memuat seluruh atau sebagian besar prinsip HAM yang dikembangkan dalam kerangka hokum Islam, kecuali Negara Arab Saudi yang sampai sekarang masih mempertahankan fikih Islam tradisional sebagai hukum resmi disebuah Negara modern. Namun sejak tahun 1992 berbagai perubahan telah dilakukan, yang mengindikasikan bahwa Negara itu perlahan-lahan sedang mengarah ke sebuah system pemerintahan yang sedikitnya mulai mengakui pentingnya HAM dan prinsip konstitusional. Demikian juga dengan si Indonesia, sebenarnya sejaka wal kemerdekaan sudah tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 sebagai hokum dasar di Indonesia, pada bagian Pembukaan mengamanatkan bahwa Negara dan pemerintahan didirikan untuk melindungi segenap bangsa dan tanah tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum berdasarkan Pancasila. Makna Pembukaan UUD 1945 merupakan kebijakan umum dan landasan, sekaligus politik hokum di Indonesia. Inilah yang seharunya dijadikan landasan dan tujuan dalam setiap usaha melakukan pembaharuan hokum, termasuk pembaharuan hokum pidana dan kebijakan penanggulangan tindak pidana di Indonesia. Di Indonesia, peraturan tentang perdagangan orang sudah di atur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (UU PTTPO). Dalam UU Nomor 21 Tahun 2007 dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan TTPO adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekerasan atau posisi rentan, penjeratan utang atau member bayaran atau manfaat, sehingga mendapat persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di

dalam Negara maupun antar Negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 juga merumuskan mengenai ruang lingkup Tindak Pidana Perdagangan Orang yaitu : 1. Setiap tindakan atau serangkaian tindakan yang memenuhi unsureunsur tindakan pidana yang ditentukan dalam undang-undang ini (Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007). Selain itu Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 juga melarang orang yang memasukan orang memasukan ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk eksploitasi; 2. Membawa Warga Negara Indonesia (WNI) ke luar wilayah NKRI untuk tujuan eksploitasi; 3. Mengangkat anak dengan menjanjikan sesuatu atau memberikan sesuatu unuk maksud eksploitasi; 4. Mengirim anak ke dalam atau ke luar negeri dengan cara apapun dan setiap- orang yang menggunakan atau memanfaatkan korban TPPO dengan cara melakukan persetubuhan atau pencabulan, mempekerjakan korban untuk tujuan eksploitasi atau mengambil keunntungan; 5. Setiap orang yang memberikan atau memasukan keterangan palsu pada dokumen Negara atau dokumen lain untuk mempermudah TPPO; 6. Setiap orang yang memberikan kesaksian palsu, menyampaikan bukti palsu atau barang bukti palsu, atau mempengaruhi saksi secara melawan hokum; 7. Setiap orang yang menyerangan fisik terhadap saksi atau petugas dipersidangan perkara TPPO; setiap orang yang mencegah, merintangi, atau menggalagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan dan persidangan di siding Pengadilan terhadap tersangka, terdakwa, atau saksi dalam perkara TPPO; setiap orang yang membantu pelarian pelaku TPPO; 8. Setiap orang yang memberikan identitas saksi atau korban padahal seharusnya dirahasiakan.