Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) IBS

NUZULUL ZULKARNAIN HAQ FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Irritabel bowel syndrome (IBS) merupakan kelainan fungsional saluran cerna yang sering terjadi yang ditandai dengan nyeri perut, rasa tidak nyaman diperut dan perubahan pola buang air besar (BAB). Sebagai gejala tambahan pada nyeri perut, diare atau konstipasi, gejala khas lain meliputi perut kembung, adanya gas dalam perut, stool urgensi atau strining dan perasaan evakuasi kotoran tidak lengkap Irritabel bowel syndrome merupakan penyakit yang sangat sering ditemukan. Perkiraan yang tepat prevalensi IBS sangat sulit, karena hampir 70% dari orang dengan gejala IBS tidak mendatangi tempat pelayanan kesehatan. Penelitian lain oleh Hungin di 8 negara eropa mendapakan prevalensi IBS sebesar 11,5% (6,2-12%). Sedangkan dari penelitian epidemiologi di Birmingham pada 8386 pasien, didapatkan prevalensi IBS 10,9% (6,6% laki-laki dan 14% perempuan), dengan profil gejala yang ditandai dengan diare 25,4%, konstipasi 24,1% dan gejala bergantian diare dan konstipasi 46,7%. Irritabel bowel syndrome pada umumnya dianggap sebagai penyakitnya wanita, berdasarkan temuan pada sampel dimana wanita 3-4 kali lebih sering dari laki-laki pada seting klinis, dan diperkirakan 2:1 pada komunitas masyarakat.Alasan kenapa wanita lebih sering mengalami IBS belum diketahui. Jika seseorang mengalami gejala gejala seperti konstipasi, diare dan lain lain yang mengindikasikan kepada penyakit IBS, maka sebaiknya orang tersebut langsung memeriksakannya ke rumah sakit atau ke pelayanan kesehatan. Karena apabila terlambat, penyakit IBS ini akan memberikan rasa tidak nyaman yang terus menerusn dan menyebabkan gangguan yang lebih parah pada saluran pencernaan kita. Oleh karena itu penting sekali memeriksakan penyekit ini secepat mungkin ketika kita menemukan gejala gejala yang mengindikasikan pada penyakit IBS. Proses keperawatan juga tidak kalah penting untuk menunjang proses penyembuhan. Oleh karena itu kita perlu mengulas lebih dalam tentang penyakit ini. Supaya dapat membantu proses penyembuhan dan memberikan rasa nyaman dan aman terhadap klien.

1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimana konsep irritable bowel syndrome?

1.2.2 Bagaimana konsep proses keperawatan pada klien dengan gangguan irritable bowel syndrome

1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan umum Menjelaskan konsep dan proses keperawatan pada klien dengan gangguan irritable bowel syndrome. 1.3.2 Tujuan khusus 1. Menjelaskan definisi dari irritable bowel syndrome 2. Menjelaskan klasifikasi dari irritable bowel syndrome 3. Menjelaskan etiologi dari irritable bowel syndrome 4. Menjelaskan manifestasi klinis pada irritable bowel syndrome 5. Menjelaskan klasifikasi dari irritable bowel syndrome 6. Mengidentifikasi patofisiologi dari irritable bowel syndrome 7. Menjelaskan pemeriksaan penunjang dari irritable bowel syndrome 8. Menjelaskan penatalaksanaan dari irritable bowel syndrome 9. Menjelaskan proses keperawatan pada klien irritable bowel syndrome 10. Menjelaskan WOC dari irritable bowel syndrome

1.4 Manfaat 1.4.1 Mahasiswa memahami konsep dan proses keperawatan pada klien dengan gangguan irritable bowel syndrome sehingga menunjang pembelajaran mata kuliah keperawatan pencernaan. 1.4.2 Mahasiswa mengetahui proses keperawatan yang benar sehingga dapat menjadi bekal dalam persiapan praktik di rumah sakit.

BAB 2

KONSEP TEORI

2.1 Definisi IBS

Menurut sistem klasifikasi Rome, IBS ditandai dengan adanya determinan fisiologi yang multipel, yang berperanan pada gejala dari IBS dan bukan merupakan satu penyakit yang tunggal. IBS didefinisikan sebagai kelompok kelainan fungsional dari saluran cerna dimana adanya rasa tidak nyaman atau nyeri perut dihubungkan dengan defekasi atau perubahan pada pola defekasi, dan dengan gambaran kelainan pada defekasi (ketut, 2007) Irritable Bowel Syndrom (IBS) juga didefinisikan sebagai salah satu gangguan gastrointestinal fungsional. Pengertian Irritable Bowel Syndrom (IBS) sendiri adalah adanya nyeri perut, distensi dan gangguan pola defekasi tanpa gangguan organic (anonim,2010) Sedang menurut pilono, 2004. Irritable Bowel Syndrome (IBS) adalah kelainan kompleks dari saluran pencernaan bagian bawah, adanya nyeri perut, distensi dan gangguan pola defekasi tanpa gangguan organik. IBS merupakan gangguan fungsional BAB. IBS utamanya dikarakteristikkan dengan gejala-gejala yang bercorak dan diperburuk dengan stres emosional. Menurut judarwanto,2008. Iritable Bowel Syndrome umum pada orang dari segala usia, termasuk anak-anak. Sekitar 14 persen siswa SMA dan 6 persen dari siswa sekolah menengah melapor terkena gejala IBS. Angka kejadian IBS antara laki-laki dan perempuan sama, meskipun pada orang dewasa lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Perbandingan wanita menderita sindrom ini 2x lebih banyak daripada pria. Berdasarkan beberapa definisi dari IBS di atas, dapat di simpulkan bahwa IBS merupakan salah satu penyakit gastrointestinal fungsional atau gangguan fungsional pergerakan usus. 2.2 Klasifikasi Pada beberapa keadaan IBS dibagi dalam beberapa subgrup sesuai dengan keluhan dominan yang ada pada diri seseorang(pilono, 2004). Subgrup IBS yang sering digunakan membagi IBS menjadi 4 bagian yaitu : 1. IBS predominan nyeri perut 1. Nyeri di fosa iliaka, tidak dapat dengan tegas menunjukkan lokasi sakitnya 2. Nyeri dirasakan lebih dari 6 bulan 3. Nyeri hilang setelah defekasi

4. Nyeri meningkat jika stress dan selama menstruasi 5. Nyeri dirasakan persisten jika kambuh terasa lebih sakit 1. IBS predominan diare 1. Diare sering pada pagi hari dan sering dengan urgensi 2. Biasanya disertai rasa sakit dan hilang setelah defekasi 3. IBS predominan konstipasi 1. Terutama pada wanita 2. Defekasi tidak lampias 3. Biasanya feces disertai lendir tanpa darah 4. IBS predominan alternating pattern 1. Pola defekasi yang berubah-ubah 2. Sering feces keras di pagi hari diikuti dengan beberapa kali 3. Defekasi dan feces menjadi cair pada sore hari

2.3 Etiologi Irritable bowel syndrome merupakan penyakit yang terjadi akibat beberapa penyakit yang berhubungan dengan usus besar. Misalnya diare, konstipasi, gangguan usus, gangguan peristaltik dan gangguan pencernaan lain yang berkenaan dengan usus besar. Sedang sebab sesungguhnya dari sindroma ini belum diketahui. Namun berdasarkan beberapa kasus IBS yan terjadi, faktor yang membawanya antara lain : 1. Stres Stress psikologis dapat merubah fungsi motor pada usus halus dan kolon, baik pada orang normal maupun pasien IBS. Sampai 60% pasien pada pusat rujukan memiliki gejala psikiatri seperti somatisasi, depresi, dan cemas. Dan pasien dengan diagnosis IBS lebih sering memiliki gejala ini. Ada atau tidaknya riwayat abuse pada masa anak-anak (seksual, fisik, atau keduanya) dihubungkan dengan beratnya gejala pada pasien dengan IBS. Ini telah diusulkan bahwa pengalaman awal pada hidup dapat mempengaruhi sistem saraf pusat dan memberikan predisposisi untuk keadaan kewaspadaan yang berlebihan. 1. Mikroorganisme seperti bakteri, virus, kuman dll 2. Intoleransi makanan Beberapa orang dengan IBS cenderung memiliki alergi makanan. Pada tahun 2007 dasar bukti itu tidak cukup kuat untuk merekomendasikan diet ketat. Banyak modifikasi diet yang berbeda telah dicoba untuk memperbaiki gejala IBS. Ada yang efektif dalam beberapa sub-populasi. Sebagai intoleransi laktosa dan IBS memiliki gejala yang sama seperti percobaan diet bebas laktosa sering dianjurkan. Sebuah fruktosa membatasi diet dan asupan fructan telah terbukti berhasil mengobati gejala secara dosis-tergantung pada pasien dengan malabsorpsi fruktosa dan IBS. Sementara banyak IBS pasien percaya bahwa mereka memiliki beberapa bentuk intoleransi

makanan, tes mencoba untuk memprediksi sensitivitas makanan di IBS telah mengecewakan. Satu studi melaporkan bahwa tes antibodi IgG efektif dalam menentukan sensitivitas makanan pada pasien IBS, dengan pasien dengan diet eliminasi mengalami gejala penurunan 10% lebih besar daripada mereka yang diet semu. [64] Lebih data yang diperlukan sebelum pengujian IgG dapat direkomendasikan. Tidak ada bukti bahwa pencernaan makanan atau penyerapan nutrisi yang bermasalah bagi mereka dengan IBS pada tingkat yang berbeda dari mereka yang tidak IBS. Namun, tindakan yang sangat makan atau minum dapat menimbulkan reaksi yang berlebihan dari respon gastrocolic pada beberapa pasien dengan IBS karena kepekaan yang meningkat mendalam mereka, dan ini dapat mengakibatkan perut, sakit diare, sembelit dan / atau konstipasi.

1. Abnormalitas aktifitas usus Dalam 50 tahun terakhir, perubahan pada kontraktilitas kolon dan usus halus telah diketahui pada pasien IBS. Stres psikologis atau fisik dan makanan dapat merubah kontraktilitas kolon. Motilitas abnormal dari usus halus selama puasa,seperti kehilangan dari komplek motor penggerak dan adanya kontraksi yang mengelompok dan memanjang, kontraksi yang diperbanyak, ditemukan pada pasien IBS. Juga dilaporkan adanya respon kontraksi yang berlebihan pada makanan tinggi lemak. Nyeri lebih sering dihubungkan dengan aktivitas motor yang ireguler dari usus halus. 1. Infeksi atau inflamasi Sitokin inflamasi mukosa dapat mengaktivasi sensitisasi perifer atau hipermotilitas. Gwee dkk.11 melaporkan pasien dengan enteritis infeksi, adanya hipokondriasis dan kehidupan penuh stress pada saat infeksi akut memprediksi berkembangnya IBS kemudian. Ditemukan adanya bukti yang menunjukkan bahwa beberapa pasien IBS memiliki peningkatan jumlah sel inflamasi pada mukosa kolon dan ileum. Adanya episode enteritis infeksi sebelumnya, faktor genetik, alergi makanan yang tidak terdiagnosis, dan perubahan pada mikroflora bakteri dapat berperanan pada terjadinya proses inflamasi derajat rendah. Inflamasi dikatakan dapat mengganggu reflex gastrointestinal dan mengaktivasi sistem sensori visceral meskipun jika respon inflamasi yang minimal. Kelainan pada interaksi neuroimun dapat berperanan pada perubahan fisiologi dan hipersensitivitas gastrointestinal yang mendasari IBS

2.4 Manifestasi Klinis Menurut Anonim, 2010. Ada beberapa gejala yang pada umumnya menyertai irritable bowel syndrome. Diantaranya adalah :

1. Ketidak normalan frekuensi defeksi 2. Kelainan bentuk feses 3. Ketidaknormalan proses defekasi (harus dengan mengejan, inkontenensia defekasi, atau rasa defekasi tidak tuntas) 4. Adanya mucus atau lender 5. Kembung atau merasakan distensi abdomen dan sangat bervariasi 6. Ditemukan keluhan diare dengan lendir, darah, kembung, nyeri abdomen bawah. 7. Sembelit 8. Sering buang angin 9. Sendawa 10. Konstipasi

2.5

Patofisiologi

Stres, diet, bakteri, kuman, jenis makanan dan reaktifitas usus yang abnormal dapat menyebabkan IBS. Stres dapat memicu gejala IBS. Ketika seseorang mendapatkan masalah yang menyita pikirannya, maka hal ini dapat mempengaruhi sel- sel saraf dan menjadikan kekejangan pada usus. Kekejangan usus ini dapat mengantarkan kita pada penyakit irritable bowel syndrome. Apalagi stress ini berkepanjangan. Diet yang tidak benar juga dapat memicu adanya IBS. Apabila pola makan seseorang itu sangat besar atau tidak teratur apalagi keadaan pencernaannya bermasalah maka dapat menyebabkan kram dan diare. Setelah itu dapat membuat seseorang itu terkena IBS. Yang ketiga adalah abnormalitas reaksi usus. Ketidaknormalan gerakan usus ini dapat disebabkan oleh berbagai banyak hal diantaranya : asupan makanan yang masuk, mikroorganisme dan stres. Ketidaknormalan gerakan usus ini apabila terlalu lambat akan menyebabkan sembelit, dan jika terlalu cepat akan menyebabkan diare. Intoleransi makanan juga dapat menyebabkan datangnya penyakit IBS ini. Jika seseorang alergi terhadap suatu makanan tertentu, maka dapat menyebabkan gangguan usus dan menjadikan irritabel bowel syndrome Selain itu bakteri juga dapat memberikan efek tertentu terhadap usus dan dapat menyebabkan IBS.

2.6 Pemeriksaan penunjang 1. Penyebab mekanik dan obstruksi harus dilakukan dengan pemeriksaan rontgen kontras dan endoskopi

2. Kelainan mukosa diperiksa dengan rontgen kontras dan biopsi mukosa. 3. Jika diare masalah utama, evaluasi malabsorbsi, dengan pemeriksaan kimia darah dan gambaran hematologic harus dilakukan. 4. Kelainan metabolic harus dicari dengan tes fungsi tiroid dan kimia darah. 5. Kelainan vascular kolagen diperikssa dengan tes serologic 6. Pemeriksaan spesifik untuk neuropati otonom harus dilakukan jika dicurigai dari anamnesis dan pemeriksaaan fisik. Jika pemeriksaan-pemeriksaan ini menunjukkan gangguan motilitas, tentukan apakah gejala yang ada merupakan akibat komplikasi (missal bakteri tumbuh lampau), dan identifikasi daerah yang terkena dengan pemeriksaan pengosongan lambung, pemeriksaan motilitas usus halus, pemeriksaan motilitas kolon, dan / atau pemeriksaan anorektal

2.7

Penatalaksanaan 1. Penatalaksanaan medis 1. Berkenaan sembelit dan diare : berikan serat suplemen, seperti metamucil atau citrucil untuk membantu sembelit kontrol. 2. Pencahar, seperti PEG 3350 (MiraLax, GlycoLax), minyak mineral, atau bisacodyl (Dulcolax), meringankan sedang hingga sembelit berat.

3 Loperamide (Imodium) and bismuth subsalicylate (Pepto-Bismol) membantu meringankan diare. 4 Antispasmodic, seperti dicyclomine (Bentyl), rileks otot polos kontraksi dalam usus dan dapat, secara teoritis, mengurangi rasa sakit yang terkait dengan IBS tetapi harus digunakan dengan hati-hati karena efek samping yang serius yang berpotensi. 5 Antidepresan , termasuk serotonin reuptake inhibitor selektif (SSRI) dan antidepresan trisiklik (TCA), digunakan untuk mengobati IBS, meskipun efektivitas mereka pada anak-anak tidak terdokumentasi dengan baik. Sebelum mengambil salah satu obat, anak-anak dan orang tua mereka harus mencari saran dari penyedia layanan kesehatan untuk membantu mempertimbangkan potensi manfaat terhadap risiko efek samping yang mungkin timbul. 1. Obat Alternatif Karena sering hasil yang tidak memuaskan dari perawatan medis untuk IBS hingga 50 persen orang beralih ke komplementer pengobatan alternatif. 1. Probiotik

Probiotik dapat bermanfaat dalam pengobatan IBS, mengambil 1-10000000000 bakteri menguntungkan per hari dianjurkan untuk hasil yang bermanfaat. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan pada individu strain bakteri menguntungkan untuk rekomendasi yang lebih halus. Sejumlah probiotik telah ditemukan untuk menjadi efektif, termasuk: plantarum Lactobacillus dan Bifidobacteria infantis; Namun, salah satu review menemukan bahwa hanya Bifidobacteria infantis menunjukkan keampuhan. Beberapa yogurt dibuat menggunakan probiotik yang dapat membantu mengurangi gejala sindrom iritasi usus besar. 1. 1. Herbal remedies

Minyak peppermint: enterik dilapisi peppermint telah kapsul telah diusulkan untuk IBS dalam gejala orang dewasa dan anak-anak. Ada bukti yang baik dari efek yang menguntungkan dari kapsul dan dianjurkan bahwa peppermint akan diujicobakan pada semua pasien sindrom iritasi usus besar. Keselamatan selama kehamilan belum didirikan bagaimanapun dan hati-hati diperlukan bukan untuk mengunyah atau memecahkan lapisan enterik dinyatakan refluks gastroesophageal mungkin terjadi sebagai akibat dari sfingter esofagus bawah relaksasi. Kadangkadang mual dan perianal pembakaran terjadi sebagai efek samping. Iberogast: multi-herbal ekstrak Iberogast ditemukan secara bermakna lebih unggul dengan plasebo baik melalui skala nyeri perut dan skor gejala IBS setelah empat minggu pengobatan. Hanya ada bukti terbatas untuk efektivitas obat herbal lain untuk sindrom iritasi usus besar. Seperti semua rempah-rempah adalah bijaksana untuk waspada terhadap interaksi obat mungkin dan efek samping. 1. 1. Yoga Yoga mungkin efektif untuk beberapa penderita sindrom iritasi usus besar. 1. 1. Akupunktur Akupunktur mungkin patut uji coba pada pasien pilih, tapi dasar bukti untuk efektivitas lemah. A meta-analisis oleh Cochrane Collaboration menyimpulkan bahwa sebagian besar uji coba berkualitas rendah dan yang tidak diketahui apakah akupunktur lebih efektif.

BAB 3 Asuhan Keperawatan

Contoh kasus : Novan anak laki-laki usia 8 tahun datang ke rumah sakit karena mengeluh buang air besar kurang lebih 6x per hari. BAB ini disertai lendir, terdapat nyeri pada perut bagian bawah, dan perut terasa kembung. ibu pasien mengeluh selera makan anaknya berkurang sehingga frekuensi dan porsi makannya juga berkurang. Keluhan muncul sudah 1 bulan.

3.1 Pengkajian 1. Anamnesa 1. Identitas Pasien : Nama : Novan Usia : 8 tahun Ayah : Anca Ibu : Irma Pekerjaan ayah : Tukang becak Pekerjaan ibu : Jual jamu Alamat : Mulyorejo 45 SBY Suku bangsa : Jawa

1. Keluhan Utama : nyeri perut 1. Riwayat Penyakit Sekarang : Buang air besar kurang lebih 6x per hari, disertai lendir, terdapat nyeri pada perut bagian bawah, selera makan berkurang, mata cowong, perut terasa kembung, dan rewel . 2. Riwayat Penyakit Masa Lalu : Tidak ada

1. Pemeriksaan Fisik

B1

: Breathing (Respiratory System)

Normal

B2

: Blood (Cardiovascular system)

Nadi : 70 kali/menit Tekanan darah : 80/60 mmHg CRT : 2 detik

B3

: Brain (Nervous system)

Mata cowong

B4

: Bladder (Genitourinary system) Dehidrasi

B5

: Bowel (Gastrointestinal System) Nyeri abdomen Kembung

peristaltik usus: BAB : 6 kali sehari

B6

: Bone, musculuskeletal, integument.

Kulit pucat Lemas turgor kulit jelek

Biopsikososial spiritual

Anxietas

3.2 Analisa Data DATA Data subjektif :

Pasien mengeluh nyeri

ETIOLOGI MASALAH Abnormalitas frekuensi Nyeri Akut defekasi Inflamasi pada usus besar Nyeri abdomen

saat defekasi. Data Objektif :

Pasien menunjukan ekspresi kesakitan saat defekasi Skala nyeri

Nyeri kurang dari 6 bulan Inflamasi usus Defisit volume cairan Peningkatan flora normal Reabsorpsi cairan menurun Diare

Data subjektif :

Pasien mengeluh fesesnya cair. Pasien minum 1 L dalam 24 jam.

Data objektif :

Haluaran urine 190 ml. Input = output Pasien di pasang infus. Penurunan mukosa mulut Perubahan nutrisi kurang terasa kering bau mulut dari kebutuhan Nafsu makan menurun

Data subjektif :

Pasien mengeluh tidak berselera makan

Data objektif :

BB turun 2 kg Pasien tidak menghabiskan porsi makanan yang di berikan.

Data subjektif :

Nyeri abdomen Nafsu makan menurun Lemas

Intoleransi aktifitas 3.3 Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan proses defekasi yang menyakitkan 2. Devisit volume cairan 3. Perubah an nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan nafsu makan. 4. Intolera nce aktifitas berhubungan dengan nyeri akut peningkatan frekuensi defekasi yang abnormal. 5. Ganggu an integritas kulit berhubungan dengan

Pasien mengeluh tidak nyaman dalam melakukan aktifitas seharihari.

Data Objektif :

Pasien tirah baring Penurunan asupan cairan Dehidrasi Turgor kulit jelek Gangguan integritas kulit

Data subjektif :

Pasien mengeluh mulut kering dan kulit bagian rektum sakit (terasa panas) setiap defekasi

Data Objektif :

Turgor kulit lebih dari 3 detik Terdapat ruam merah di kulit sekitar rektum dehidrasi dan meningkatnya frekuensi defekasi (lynda,1999).

3.4 Intervensi 1. Nyeri berhubungan dengan proses defekasi yang menyakitkan Tujuan : Mengurangi atau meringankan rasa nyeri. Kriteria hasil : Rasa nyeri berkurang. Intervensi :

- Mengidentifikasi kualitas, kuantitas, dan letak rasa nyeri R/ : Membantu menentukan jenis penanganan yang tepat ke klien - Memberi terapi non farmakoterapi. R/ : Mencegah resiko nyerih lebih lanjut - Jika nyeri pada kualitas tinggi maka segera beri analgesik R/ : Mengurangi rasa nyeri - Menjelaskan dan memberikan pendidikan kepada pasien bagaimana cara mengatasi nyeri R/ : Mengajari pasien untuk mandiri dalam menangani rasa nyeri tersebut Berikut adalah gambaran ekspresi wajah yang menunjukkan skala nyeri yang dapat kita gunakan untuk mengetahui skala nyeri pada anak.

1. Defisit volume cairan Tujuan : Memenuhi kekurangan volume cairan tubuh Kriteria hasil : Input cairan sama dengan output Intervensi : - Identifikasi faktor - faktor yang berkontribusi terhadap bertambah buruknya dehidrasi. R/ dehidrasi teratasi dan tidak bertambah parah - Pemberian dan pemantauan cairan dan obat IV R/ memiliki asupan cairan oral dan atau intravena yang adekuat 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d penurunan nafsu makan Tujuan : memenuhi intake nutrisi sesuai kebutuhan K.H : 1. asupan nutrisi sesuai kebutuhan terpenuhi 2. nafsu makan kembali normal

Intervensi : - Mengidentifikasi kebutuhan nutrisi pasien R/ : Untuk menentukan nutrisi yang di perlukan oleh pasien - Mengidentifikasi faktor penyebab penurunan nafsu makan R/ : Untuk menentukan intervensi yang tepat pada pasien - Memeberikan asupan nutrisi sesuai kebutuhan R/ : Kebutuhan pasien akan nutrisi terpenuhi - Mengontrol frekuensi dan porsi pemberian makanan sesuai kebutuhan R/ : Menjaga keseimbangan input dan output nutrisi pasien. - Menimbang BB sekali dalam dua hari R/ : Mengontrol kondisi kebutuhan pasien - Memberikan vitamin atau obat penambah nafsu makan

1. Intoleransi aktifitas b.d nyeri akut peningkatan frekuensi defekasi yang abnormal. Tujuan : Memulihkan tenaga pasien untuk beraktifitas seperti sebellumnya K.H : Tenaga pasien pulih seperti sebelumnya Intervensi : - Mengajari pasien sedikit demi sedikit gerakan yang sederhana 1. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan dehidrasi dan meningkatnya frekuensi defekasi tujuan : 1. memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh 2. Mengembalikan integritas kulit ke keadaan normal K.H :

1. integritas kembali normal 2. Kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh terpenuhi Intervensi : - Memberikan asupan cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan - Memberikan terapi cairan secara oral maupun parenteral - Mengidentifikasi kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh - Mengukur atau memantau input dan output cairan - Memberikan lotion ataupun vitamin E untuk menjaga kelembaban kulit.

3.5 WOC (Web of Caution) DOWNLOAD : WOC ASKEP IBS

BAB 4 PENUTUP

4.1

Kesimpulan

Irritable Bowel Syndrom (IBS) didefinisikan sebagai salah satu penyakit gastrointestinal fungsional, dengan gejalanya berupa ketidak normalan frekuensi defeksi, kelainan bentuk feses, ketidak normalan proses defekasi, adanya mucus atau lender, nyeri abdomen dan kembung. pada pemeriksaan rongent menunjukkan infeksi TB pulmo duplex lama aktif yang dapat merupakan penyebab dari IBS. Penatalaksanaan farmakologis, diet dan psikologi dibutuhkan dalam kasus IBS.

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer,Suzzane.2001.Keperawatan Medikal Bedah.jakarta:EGC

Judarwanto. 2008. Nyeri pada anak.. Diakses 13 oktober 2010. Available from: http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/8_edited.pdf Jual, linda.1998.Rencana asuhan dan dokumentasi keperawatan-diagnosa keperawatan dan masalah kolaborasi. Jakarta : EGC Ketut.2007. Perkembangan terkini dalam diagnosis Dan penatalaksanaan irritabel bowel syndrome. Available from : http://www.patient.co.uk/pdf/pilsL104.pdf Behtman.1991.Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta:EGC Donna. 2003. Pedoman Klinis Kep Pediatrik Edisi 4. Jakarta :EGC Pilono.2004.Irritable Bowel Syndrome (IBS) diare kronis. Diakses 18 oktober 2010. http://fkumyecase.net/wiki/index.php?page=Irritable+Bowel+Syndrom+(IBS)+pada+Diare+Kro nis Anonim, 2010. Irritable bowel syndrome. Diakses 13 oktober 2010. Available from : http://en.wikipedia.org/wiki/Irritable_bowel_syndrome#Causes Anonim.2010.Total kesehatan anda. Di akses 18 oktober 2010. Available from : http://www.totalkesehatananda.com/ibs7.