Anda di halaman 1dari 14

October 25, 2008

[PENANGANAN ANURIA PADA ANAK]

Penanganan Anuria Saluran pada Anak Tata Laksana Perdarahan Cerna Pada Bayi dan Anak
M.P. Damanik Sub Bagian Nefrologi Anak IKA-FKUGM/SMF Anak RS Dr. Sardjito Yogyakarta

Pendahuluan Oliguria dan azotemia progresif sering kali menyertai penurunan GFR dan menyebabkan keadaan akut manifestasi klinis anuria harus dianalisis kelainan lokasi di traktrus urinarius. Bila terjadi gangguan filtrasi glomerulus dengan anuria maka ditemukan vesika anuria akan kosong (tidak ditemukan urin pada palpasi). Apabila gangguan setelah vesika anurai misalnya pada orificium urethrae internum dan ditemukan vesika anuria penuh, maka dengan tindakan kateterisasi keadaan akut anuria tersebut bisa diatasi. Demikan halnya bila ditemukan fimosis dengan anuria dengan pertolongan sederhana dengan membuka fimosis anuria bisa diatasi. Pada tulisan ini akan diuraikan penanganan anuria dengan adanya klinis maupun laboratoris menunjukan Gagal Ginjal Akut pada Anak Difinisi GGA Gagal ginjal akut (GGA) adalah peningkatan kreatinin serum (serum creatinine (scr)) dan urea nitrogen di dalam darah secara progresif dan cepat, diikuti dengan ketidakmampuan ginjal untuk mergulasi dalam cairan dan elektrolit dan ekresi dari hasil akhir (buangan) metabolik GGA biasanya tidak berkaitan dengan oliguria (aliran urin urin flow < 0,5 ml/kg per jam). Etiologi GGA Beberapa gangguan dan penyakit dapat menyebabkan GGA (tabel 1). Etiologinya dapat dibagi menjadi yang mempengaruhi perfusi ginjal (menyebabkan gagal prerenal). Yang mempengaruhi ginjal itu sendiri (gagal ginjal) dan yang mempengaruhi saluran pengeluaran urin (gagal postrenal) Tabel 1: Penyebab Gagal Ginjal pada Anak I Prerenal failure Decrreased circulating blood volume
NEFROLOGI | Tatalaksana terkini kegawatan khusus pada anak 1 .

October 25, 2008

[PENANGANAN ANURIA PADA ANAK]

Dehydration Third space loss Salt-washing disease Diabetes insipidus (central renal) Heart failure (congetive restrictive) II Renal disease Vascular disease Haemolyteuremic syndrome (E. Colilatypical) Renal artery thrombosis Renal vein thrombosis Renal cortical necrosis (pernatal insults) Glomerular disease Acute postintectius glomerelonephritis Systemic lupus erythematosus Henoch-schonlein purpura nephritis Anti-GBM positive glomerulonephritis Idiopathic rapidly progressing glomerulonephritis Acute tubular necrosis Hypoxic insults Drug induced (NSAID, ACE-inhobitor, antibiotic, chemotherapeutics, radiographic contrras agents acetaminophen) Exogenous chemicals Endogenous toxims (myglobin hemoglobin) Interstisial nephritis Idiopathic Drug induced (antibiotics NSA ID anticonvulsants) Infection (Pyelonephritis) Parainfectious Infiltrating malignancy Tumor lysis syndrome II Postrenal failure I Obstructive uropathy Bilateral ureteral obstruction Urethral obstruction Single kidney autflow obstruction Gagal ginjal disebabkan oleh hipoperfusi ginjal sekunder dengan penurunan volume darah yang jelas (misalnya: dehidrasi) atau dengan penurunan volume darah sirkulasi sedangkan volume darah totalnya (misalnya: Gagal jantung). Pada gagal pre renal jaringan ginjal secara instriksik sehat dan responsnya terhadap perfusi adekuat. Tubulus merubah cairan dan garam ke dalam bentuk utin yang osmolaritasnya tinggi dan rendah Na.
NEFROLOGI | Tatalaksana terkini kegawatan khusus pada anak 2 .

October 25, 2008

[PENANGANAN ANURIA PADA ANAK]

NEFROLOGI | Tatalaksana terkini kegawatan khusus pada anak

3 .

October 25, 2008

[PENANGANAN ANURIA PADA ANAK]

Tabel 2: Evaluasi dari GGA Prerenal failure Hemolyti c uremic syndrom e Usually oliguria Glomeru lo nephriti s Usually oliguria Acute tubuler necrossis Oliguria or monoligur ia Epithel cells and cast 350 Interstiti al nephritis Usually oliguria Postrena l failure

Urine output

decreas ed

Vanes

Urinalysi Normal s

Urine osmolali ty FEN % Other signs

400-500

Hematur ia, proteinu ria Variabel

Hematu ria, proteinu ria 400-500

Pyuria, eosonop hilia < 350

Usually normal

Vanes

I Loss of circulati ng blood volume elevated BUN

Variabel Previous bloody diarrea, thrombo cyto penia haemolit ic anemaia

Iminging Normal studies

Decreas e flow nad function in renal scan

1 Previonu s infection , systemi c sympto ms determi ne antiGNM, ANCA, antibodi es C3, C4 Normal or increase d echogen city and entarge d kidney at uS

>2

>2 Previonu s infection ? Medicati on ? Easinoph ilia

Vanes Palpabel bladder or mass?

Normal or increased echogenci ty and loss of corticome du llary differentti ation at US

Indrease d echogen city and entarged kidney at US

Dilatatio n at the level of obstruct ion asotope out flow abstruct ion

NEFROLOGI | Tatalaksana terkini kegawatan khusus pada anak

4 .

October 25, 2008

[PENANGANAN ANURIA PADA ANAK]

Gagal ginjal dapat disebabkan oleh penyakit yang mempengaruhi proses vaskularisasi, glomerulus, tubulus atau interstisium. Syndroma hemolitik-uremik mikroangiopati (Microangiopathic haemoliticouremic syndrome (HUS) merupakan penyebab yang tersering dari GGA pada anak. Secara tipical mengikuti penyakit gastrointestinal yang diikuti oleh E. Coli (serotype 0157: H7 adalah yang tersering) dengan colitis hemoragik dan berkaitan dengan anemia thrombositopenia. Sistem saraf pusat juga dapat terpengaruh, timbul dengan gejala letargi, koma, kejang dan iritabilitas. Hal lain yang lebih jarang timbul adalah dengan intoleransi glukosa dan peningkatan enzim pancreas. HUS atipical tidak berkaitan dengan diare dan dapat disebabkan oleh kelainan imunologi, infeksi dan obat. Trombosis arteri dan vena renalis lebih jarang terjadi dan cenderung mempengaruhi bayi baru lahir dan bayi. Satu-satunya penyebab GGA adalah jika terjadi pada ginjal secara bilateral atau pada ginjal dan yang soliter. Diagnosis berdasarkan pada imaging (rongent) dengan scan ginjal dan Ultrasonografi Droppler (US). Nekrosis kotikal ginjal biasanya disebabkan karena hipoksia pada masa perinatal dan ditandai dengan oliguria, hematuria, hipertensi dan non-fuctioning, perfusi ginjal yang buruk yang tampak pada scan ginjal. Semua tipe dari glomerulonefritis dapat menjadi GGA jika cukup parah. Tanda klinisnya adalah hematuria, proteinuria, edema dan hipertensi sebagai gejala peningkatan Scr. Acute Tubular Necrosis (ATN) dapat terjadi karena gagal ginjal yang terjadi jika terdapat hipoksia dan nekrosis tubulae yang sub sekuen (sebagian). Pemberian obat anti inflasi non steroid atau ACE-inhibitor pada pasien dengan perfusi ginjal yang terganggu dapat memicu terjadinya ATN. Juga dapat disebabkan okeh beberapa obat dan toksin (tabel 1). Medikasi juga dapat menyebabkan GGA dengan memicu perkembangan nefritis interstisial akut. Pasien ini sering menunjukankan gejala-gejala reaksi obat: rash, atralgia dan demam. Urinalisis dapat menunjukan piura dan eosnofilia yang steril. Pasien dengan leukemia dan limfoma dapat menjadi GGA sekunder karena sindroma lisis tumor disebakan karena respon dari keganasan terhadap golongan kemoterapi. Sel-sel yang rusak melepaskan asam urea dan prekursornya, metabolit purin dan fosfor yang dapat mempresiptasi dan bentuk kristal di dalam tubulus atau didalam mikrovaskuler ginjal Gagal post renal disebabkan karena obstruksi aliran urin, terutama di katub ureteral posterior pada bayi baru lahir dengan jenis kelamin akilaki namun bisa juga pada bagian lainya sepanjang saluran outflow urin. Pada anak dapat di raba kandung kemihnya atau terdapat masa abdomen. Diagnosanya pada imaging (rongent). Evaluasi GGA
NEFROLOGI | Tatalaksana terkini kegawatan khusus pada anak 5 .

October 25, 2008

[PENANGANAN ANURIA PADA ANAK]

Evaluasi pada anak yang dicurigai menderita GGA harus menyertakan riwayat klinis yang menyeluruh, penentuan apakah terdapat gejala klinis yang relevan dan beberapa pemeriksaan laboratorium dan radiologis. Penilaian secara skematik pada GGA dikarenakan etiologi yang berbeda-beda dapat di lihat pada tabel 2. Riwayat klinis penyakit sebelumnya (misalnya: diare pada HUS, infeksi pada glomerulonefritis, hipoksia perinatal pada nekrosis kortikal renal, penyakit yang berpotensi menyebabkan gagal pre renal), paparan terhadap toksin (ATN). Tanda klinis: letargi, demam, rash, edema, hipertensi, dehidrasi, anemia. Hal yang paling penting untuk membantu diagnosis: Scr, dan Ucr, BUN, osmolalitas urin, Na urin dan plasma, fraksi ekskresi dan NA (FENa) dihitung dengan UNa/PNa: UCr/PCr X 100 % dari sampel urin plasma yang simultan, urinalisis dan urine flow rate, hitung darah. Ultrasonografi Droppler ginjal dan Scan ginjal. Biopsi ginjal mungkin diperlukan pada kasus-kasus glomerulonefritis dan nefritis interstisial untuk menegakkan diagnosisnya. Hal itu harus dilakukan hanya jika hasilnya akan mempengaruhi terapi yang diberikan. Jika kasus ginjal (dengan semua etiologi) tersebut memungkinkan untuk terjadi komplikasi maka fungsi ginjal yang tidak adekuat harus di monitor juga. Hal tersebut termasuk analisis garam (potasisium), kalsium, fosfor seperti halnya analisa asam basa. Penanganan GGA Pada pemeriksaan awal, penilaian yang seksama mengenai status atau tingkat hidrasi pasien sangat diperlukan. Penilaian ini termasuk pengukuran berat badan dan penentuan adanya keberadaan dan tingkat pleural dan atau pericardial efusi dan atau asites. Selain itu, penilaian parameter tekanan vena dan pengukuran kejenuhan O2 akan membantu tetapi biasanya jarang tersedia atau dilakukan. Pemeriksaan laboratorium sebaiknya terdiri dari tes-tes dasar berikut: hitung darah, K, Na, Ca, Cl, fosfor, protein, urea, kreatin, blood gases, analisis urine, U-albumin, Ua-microglobuline, U-na, dan Ucreatinine. Data-data tambahan yang diperlukan sebaiknya dikumpulkan berdasarkan riwayat yang ada dan perkiraan penyebab kegagalan ginjal.

Penanganan Konservatif Pada sebagian besar kasus, suatu penanganan konservatif cukup pada pasien yang tidak memerlukan dialisis. Yang penting pada perawatan konservatif adalah pembatas cairan yang cukup dan seimbang. Terapi cairan yang terus menerus harus dimonitor melalui pengukuran berat badan harian dan tekanan darah, catatan input dan output cairan yang akurat, pemeriksaan fisik dan nutrisi yang cukup.
NEFROLOGI | Tatalaksana terkini kegawatan khusus pada anak 6 .

October 25, 2008

[PENANGANAN ANURIA PADA ANAK]

Tanpa masukan suplemen entral atau nutrisi perenteal 0,5 sampai 1,0 % dari berat badan akan hilang/menyusut tiap hari. Keseimbangan cairan Tingkat pembatasan cairan tergantung pada derajat hidrasi. Kebutuhan dibatasi 400mL/m2 per 24 jam, i.e keadaan Insensible Water Losses (IWL) akibat penambahan jumlah urine yang diekresi. Kehilangan cairan lain atau tidak diketemukannya (redused insensible losses selama ventilasi mekanik) harus diperhitungkan. Perbedaan dari euvolemia sering merupakan proses kumulatif yang lambat. Dalam kasus dehidrasi, volume intravascular seharusnya diperbesar dengan I.V administration ringer lactate (20ml/kg dalam 1 jam). Jika hal ini tidak mengarah pada diuresi yang cukup selama 2 jam, maka penilaian ulang yang seksama diperlukan Isotonic saline kurang tepat untuk rehidrasi karena kemampuan buffringnya yang kurang memadai. infuse potassium yang mengandung solusi dan berlangsung terus menerus harus dihindari dengan ketat. Untuk memonitor kesimbangan cairan, katerisasi kandung kemih dan penentuan tekanan central venous akan membantu. Terlihat sekali dalam pasien yang hipervolemik, keseimbangan cairan yang negatif harus diarahkan, dan dalam kasus oliguria dapat diberikan furosemide (1 mg/kg). Potassium Dalam Acute Renal Failure (ARF), hiperkalemia adalah gangguan elektrolit umum dan potensial mengancam nyawa. Sebaiknya tidak ada pasien yang menerima potassium yang mengandung solusi, makanan, atau obat-obatan hingga fungsi ginjal yang cukup telah diperbaiki kecuali jelas-jelas dia mengalami hipokalemik. Natrium Hiponatremia pada sering disebabkan pada tatalaksana cairan hipotonik yang berlebihan pada pasien oliguri atau anuri. Jika serum Na > 120 mmol/L pembatasan cairan atau sirkulasi air pada dialisis akan dikoreksi dengan kadar Na. Jika serum Na < 120 mmol/L pasien pada keadaan risiko tinggi untuk terjadinya kejang sekunder. Cairan yang mengandung 3% NaCl harus diberikan secara IV perlahan-lahan sampai level kadar Na serum 125 mmol/L menggunakan formula: mEq NaCL = 0,6 x BW (kg) x (125-serum Na (mmol/L)). Efek yang berbahaya pada terapi ini yang perlu dipertimbangkan termasuk volume ekspansi, hipertensi, gagal jantung kongestif. Kenaikan serum Na dapat menyebabkan pontine mylinolysis. ARF jarang disebabkan oleh hipernatremia. Jika ini terjadi merupakan hasil dari kelebihan relatif Na, (biasanya disebabkan oleh
NEFROLOGI | Tatalaksana terkini kegawatan khusus pada anak 7 .

October 25, 2008

[PENANGANAN ANURIA PADA ANAK]

pelaksanaan iatrogenik dari sejumlah cairan natrium hipertonik) atau dari deplesi air (dehidrasi hipernatremia).

bicarbinat

Asidosis Metabolik Asidosis metabolik sering terlihat pada pasien dengan GGA dengan konsekwensi metabolik. Oleh sebab itu tujuan terapi adalah menaikan pH > 7,30. tergantung dari kondisi klinis, koreksi oral atau IV dari ketidakseimbangan metabolik menggunakan sitrat atau bicarbonat yang dapat ditunjukkan sesuai formula berikut: mEq Na HCO3 = 0,3 x BW (kg) x base axcess (mEq/L). Tahap selanjutnya penting untuk mencegah over kompensasi yang menghasilkan alkalosis. Pada bayi prematur koreksi cepat acidosis harus dihindari karena dapat menyebabkan hipokalsemia, tetani dan perdarahan intrakaranial. Hipertensi Hipertensi dapat terjadi pada sekunder dari volume ekstravaskular yang banyak atau berhubungan dengan penyakit yang diderita. Pembatasan penggunaan air dan garam sama baiknya dengan penggunaan furosemid dan obat anti hipertensi lainnya, yang secara umum efektif pada pasien dengan hipertensi ringan. Pada kasus, akut hipertensi, dapat digunakan nifedipin sublingual dengan dosis yang direkomendasikan (0,25-0,5 mg/kg), walaupun responnya tidak dapat diprediksikan. Jika menggunakan diazoxid harus diberikan secara IV pelan pada dosis 0,25-0,5 g/kg per menit. Na Nitropusid, nicardipin sering digunakan untuk manajemen hipertensi yang berat, krisis hipertensi yang mengancam jiwa dan diyakini aman dan efektif. Pada kasus hipertensi berat tidak boleh dilakukan penurunan tensi secara cepat. Nutrisi Nutrisi segera dan adekuat sangat penting untuk GGA. Kebutuhan metabolik meningkat sebagian besar kasus intake secara spontan. Tanpa masukan kalori dan protein yang inadekuat, stabilisasi keadaan metabolik tidak memungkinkan. Intake harus berada tidak kurang dari 30 % diatas intake harian yang direkomendasikan untuk anak sehat. Peningkatan urea serum yang terjadi pada ARF karena cadangan kalori yang tidak cukup dibandingkan peningkatan protein. Kehilangan protein lewat tubuh dan kateter harus juga dipertimbangkan. Untuk pemberian enteral lebih dipertimbangkan karena lebih efisien dibandingkan nutrisi parenteral. Formula rendah kalium dan fospor tetapi tidak rendah protein harus diberikan. Hal ini direkomendasikan saat memulai formula dilusi dan diikuti dengan peningkatan yang cepat dapat konsentrasi osmotik jika

NEFROLOGI | Tatalaksana terkini kegawatan khusus pada anak

8 .

October 25, 2008

[PENANGANAN ANURIA PADA ANAK]

ditoleransi. Nasogastric tube feeding mungkin membantu. parenteral harus dilakukan jika nutrisi enteral tidak mungkin.

Nutrisi

Crush Syndrome Crush injury pada otot yang menyebar sering dihubungkan dengan syok hemodinamik dan myoglobiuria GGA. Hal ini terjadi jika pasien tidak menerima penggantian intravenous secara cepat dan agresif. Pengukuran profilaks, melawan hiperkalemia harus dilakukan dan diuresis alkaline harus dicetuskan dengan infuse manitol. Loop diuretik tidak direkomendasikan meskipun terjadi hipokalsemia karena dapat terjadi lesi-lesi sel aggravate dan pencetusan jaringan kalsium. Jika dialisis penting dilakukan, adanya molekul-molekul dengan berat jenis tinggi menyebabkan eliminasi yang kurang dengan peritoneal dialisis. Di lain pihak, dialisis dengan permeabilitas hemofilter yang tinggi merupakan hal yang kontraversial. Terapi dengan agen vasoaktif dan growth factor Rangkaian terapi GGA masih kontroversial meliputi dopamin, norepinefrin, faktor atrial natriuretik, kalsium chanel blocker, nitric oxide, endothelin, teofilin, insulin-like growth factor-1 epidermal growth factor atau hapatocyte factor. Pencegahan Infeksi Infeksi, khususnya berasal dari kateter vena central, merupakan komplikasi yang umum terjadi pada GGA dan berkorelasi tinggi dengan kejadian kematian pada pasien. Komplikasi ini dapat dicegah dengan penanganan kateter dibatasi dan pelepasan kateter secara awal. Infeksi lokal pada tempat pemasukan kateter dapat diterapi pseudomonas atau jamur invasif dapat ditemukan sebagai penyebab infeksi. Pada pasien septik pelepasan kateter secepatnya harus dilakukan jika bakteri uremia tetap ada tau terjadi penurunan kondisi klinis berturut turut selama 48 jam setelah diberikan terapi antibiotika. Dialisis Dialisis menjadi suatu keharusan jika terjadi keadaan hiperkalemia yang tidak dapat dikoreksi dengan manajemen konservatif, dimana pada beberapa keadaan besar kasus dari kombinasi penampakan gejala klinis, cairan yang berlebihan, ketidakseimbangan elektrolit, peningkatan secara berlebihan ure serum, dan asidosis yang tak terkontrol mengakibatkan keadaan dimana dialisis menjadi hal yang penting. Pada bayi baru lahir, hiperamoneia merupakan situasi khusus dimana dialisis perlu dilakukan awal. Jika kadar amonia serum tidak dapat diturunkan sampai kurang dari 400 mol/L maka dalam beberapa jam dialisis harus dimulai. Pada pasien yang membutuhkan perawatan intensif, ketidakcocokan antara
NEFROLOGI | Tatalaksana terkini kegawatan khusus pada anak 9 .

October 25, 2008

[PENANGANAN ANURIA PADA ANAK]

pemasukan cairan (terutama untuk menopang nutrisi yang tepat dan pengeluaran cairan yang terjadi dapat membuat dialisis atau pengeluaran cairan ekstrakorporal menjadi penting pada keadaan tidak ada uremia yang berat. Kontra Indikasi Penggunaan Dialisis Pada anak-anak, kontra indikasi dialisis secara umum jarang terjadi. Pendekatan secara individual penting pada masing-masing kasus. Perdarahan intra serebral yang berat pada bayi baru lahir atau hipernatremia > 1000 mol/L untuk periode yang lama merupakan kontra indikasi yang diterima untuk dialisis. Berat badan kurang dari 1000 gram dipertimbangkan sebagai kontra indikasi relatif. Metoda dialisis pada kondisi klinis tertentu tidak termasuk dalam keadaan misalnya hemodialisis pada pasien dengan kondisi hemodinamik yang tidak stabil atau peritoneal dialisis pada keadaan defek pada dinding abnormal atau ventrikulo-peritoneal shunt. Pilihan Metoda Dialisis Keuntungan dan kerugian setiap metoda akan mengarahkan keputusan ahli nefrologi untuk memilih suatu metoda spesifik dialisis dalam setiap situasi. Pada umumnya, PD lebih lambat dari pada HD tetapi paling tidak tersedia pada berbagai situasi. CWH lebih unggul dari pada CAVH.

Peritoneal Dialisis Keuntungan: relatif mudah untuk dilakukan, sedikit mempengaruhi tekanan darah dan risiko hypotonia kecil. Kerugian: kehilangan cairan terbatas pada pasien dengan problem hemodinamik disebabkan oleh volume overload, risiko terhadap infeksi pada GGA tinggi. Tehnik: suatu kateter Tenckhoff (lebih disukai versi: single cuff dan curled) dipasang oleh seorang ahli bedah. Oleh karena ukuran badan anak yang bervariasi maka letak kateter dapat diubah. 10 ml cairan /kg ditukarkan tiap jam. Volume akan meningkat secara perlahan setelah 24 jam. Antibiotik (ex: Cefotaxime 1000 mg/I) ditambahkan dalam 24 jam pertama. Dalam keadaan tertentu, heparin ditambahkan. Konsentrasi glukosa pada larutan dialisis akan tergantung pada status hidrasi pasien. Pada pasien dengan penyakit hati, larutan bikarbonat harus dipakai selain larutan laktat. Hal ini juga digunakan penyakit jantung. Hemodialisis
NEFROLOGI | Tatalaksana terkini kegawatan khusus pada anak 10 .

October 25, 2008

[PENANGANAN ANURIA PADA ANAK]

Keuntungan: kehilangan cepat cairan dan kalium, koreksi cepat asidosis. Kerugian: memerlukan akses vena sentral yang besar, volume ekstrakororeal yang besar, potensial yang tinggi terhadap ketidakstabilan hemodinamik, pembersihan kalium jangka lama secara lambat dibanding PADA: membutuhkan heparisisasi. Tehknik: gambaran nyata terdapat dalam chapter ini, pilih ukuran dialiser yang adkuat, bertujuan untuk membersihkan urea paling sedikit 1,5 ml/kg per min. lama 3 jam.

Kepustakaan 1. Meyers KEC, Kaplan BS. Hemolyticuremic syndrome. In Pediatric Nephrology, Barratt TM, Avner ED, Harmon WE (eds). Lippincott, Williams & Willins Baltimore 1999: 811-22 2. Repetto HA. Epidemic hemolytic uremic syndrome in children. Kidney Int 1997; 52: 1708-19 3. Vermeyen HM, Karch H, Branndis M, Zimmerhackl LB. Enterohemorrhargic Escherichia coli infections; following transmission routes. Pediatr Nephrol 2000; 14: 73-83 4. Wong CS, Jelacic S, Habeeb RC, et.al. the risk of the hemolytic uremic syndrome after antibiotic treatment of Escherichia coli 0157: H7 infection. N Engl J Med 2000; 342: 1930-6

NEFROLOGI | Tatalaksana terkini kegawatan khusus pada anak

11 .

October 25, 2008

[PENANGANAN ANURIA PADA ANAK]

SKENARIO KASUS

Vignette berikut digunakan untuk menjawab soal 1-5 Seorang anak laki-laki berumur 7 tahun datang dengan keluhan air kemih menjadi sedikit sejak 2 hari yang lalu, setelah empat hari sebelumnya mengalami mencret dan muntah. Penderita telah dibawa berobat ke dokter dan mendapat oralit serta obat-obatan anti diare. Di rumah sakit, ditemukan penderita dalam keadaan gelisah, berat badan 20 kg (sebelumnya 23 kg), tinggi badan 125 cm, luas permukaan tubuh 0,76 m2, tekanan darah 90/70 mmHg, nadi 132 x/mnt regular ekual dan isi kurang, respirasi 40 x/mnt cepat dan dalam, serta suhu tubuh 37 o C. Pemeriksaan fisik selanjutnya didapatkan, kelopak mata yang cekung, turgor kulit kurang, sedangkan pemeriksaan fisik lain tidak tampak adanya kelainan. Hasil laboratorium menunjukan Hb 12,2 g %, lekosit 7.800/mm2, trombosit 160.000/mm3, kadar ureum serum 168 mg %, kadar kreatinin 8 mg %, diuresis 75 ml/24 jam, tanpa riwayat pernah menderita sakit ginjal sebelumnya. 1. Diagnosis kerja (khusus kelainan ginjal) pada anak tersebut adalah: a. Gagal ginjal akut b. Gagal ginjal kronik eksaserbasi akut c. Insufiensi ginjal d. Gagal ginjal terminal e. SHU 2. Kemungkinan etiologi dari penyakit diatas adalah: a. Hipovolemik b. Syok c. Hipertensi d. Obat anti diare e. Hipoksia 3. Pemeriksaan laboratorium yang membantu konfirmasi diagnosis kelainan diatas adalah: a. Kalium urin b. Natrium urin c. Kreatinin urin d. Protein urin e. Adanya eritrosit dalam urin 4. Penanganan utama penderita tersebut adalah a. Pembatasan cairan yang masuk b. Dialisis peritoneal c. Hemodialisis d. Koreksi hipovolemia
NEFROLOGI | Tatalaksana terkini kegawatan khusus pada anak 12 .

October 25, 2008

[PENANGANAN ANURIA PADA ANAK]

e.

Transfusi Packed Red Cell

5. Batas oliguria pada penderita ini adalah a. Kurang dari 75 ml/24 jam b. Kurang dari 180 ml/24 jam c. Kurang dari 240 ml/24 jam d. Kurang dari 300 ml/24 jam e. Kurang dari 400 ml/24 jam Vignetthe berikut digunakan untuk menjawab soal 6-10 Seorang anak perempuan berusia 9 tahun datang kerumah sakit dengan keluhan utama bengkak seluruh tubuh. Sejak 5 hari yang lalu badan penderita bengkak terutama pagi hari sekitar wajah dan kelopak mata, serta berkurang pada sore hari. Buang air kecil didapatkan 1,2 ml/kgBB/jam Pada pemeriksaan fisik didapatkan: KU : Kompos Mentis Tekanan darah: 140/100 mmHg; Nadi: 96 x/mnt; Respirasi: 20 x/mnt; Suhu: 36,7oC Kepala : Edema palpebra Leher : Tidak ada peningkatan tekanan vena jugular Thorax : Cor tidak ada kelainan Pulmo tidak ada suara nafas tambahan Abdomen : Didapatkan asites Ektremitas : Edema pitting Genital : Edema vulva Hasil laboratorium menunjukan gambaran: Urin : Protein +4 Lekosit 3-4/lapang pandang besar Kast eritrosit (+) Ureum serum : 30 mg/dl Kreatinin serum : 1,1 mg/dl Protein total serum : 3,6 g/dl Albumin serum : 1,5 g/dl 6. Diagnosis yang paling mungkin untuk penderita tersebut diatas adalah a. Sindrom nefritik akut b. Sindrom nefrotik kelainan minimal c. Glomerulonefritis membranoproliferatif d. Gagal ganjal akut e. Nefropati IgA 7. Data laboratorium diatas yang dianggap berperan dalam prognosis kurang baik penderita ini adalah:
NEFROLOGI | Tatalaksana terkini kegawatan khusus pada anak 13 .

October 25, 2008

[PENANGANAN ANURIA PADA ANAK]

a. b. c. d. e.

Adanya proteinuria masif Adanya lekosit dalam urin Adanya eritrosit dalam urin Kadar ureum serum Kadar albumin serum

8. Pemeriksaan laboratorium berikut yang diperiksa untuk melihat prognosis penderita adalah: a. Kadar IgE serum b. Kadar IgM serum c. Kadar C3 serum d. Kadar Cystantin C serum e. Aktivitas renin plasma 9. Pengobatan penderita memberikan hasil yang sangat memuaskan bila diberi obat berikut ini: a. Prednison secara oral b. Methil prednisolon secara intravena c. Siklofosfamid d. Dipiridamol e. Tidak ada pengobatan yang memuaskan 10. a. b. c. d. e. Komplikasi berikut sering dijumpai pada penderita di atas: Aritmia kordis Syok hipovolemik Ensefalopati hipertensi Pielonefritis akut Miokarditis

NEFROLOGI | Tatalaksana terkini kegawatan khusus pada anak

14 .