Anda di halaman 1dari 4

A. DIAGNOSIS 1.

Gambaran Klinis Manifestasi klasik dari bronkiektasis adalah batuk dan produksi sputum harian yang mukopurulen sering berlangsung bulanan sampai tahunan. Hampir 90% pasien mengalami batuk kronik yang produktif. Sputum yang dihasilkan dapat berbagai macam, tergantung berat ringannya penyakit dan ada tidaknya infeksi sekunder. Sputum dapat berupa mukoid, mukopurulen, kental dan purulen. Jika terjadi infeksi berulang, sputum menjadi purulen dengan bau yang tidak sedap. Sputum yang bercampur darah atau hemoptisis dapat menjadi akibat dari kerusakan jalan nafas dengan infeksi akut. Dahulu, jumlah total sputum harian digunakan untuk membagi karakteristik berat ringannya bronkiektasis, tetapi sekarang, berat ringannya bronkiektasis diklasifikasikan berdasarkan temuan radiologis. Gejala spesifik yang jarang ditemukan antara lain: Hemoptisis, terjadi pada 56-92% pasien dengan bronkiektasis. Dyspnea terjadi pada kurang lebih 75% pasien bronkiektasis tapi bukan merupakan temuan yang universal. Nyeri dada pleuritik, terjadi pada 50% pasien wheezing, mungkin sebagai akibat obstruksi jalan nafas pada 34% pasien. Demam, mudah lelah dan berat badan menurun.

(Barker, 2002) 2. Gambaran Radiologis a. Foto toraks Pada penderita bronkiekstasis dapat ditemukan gambaran seperti berikut Ring shadow, bayangan seperti cincin, dengan jumlah satu atau lebih sehingga membentuk gambaran honeycomb appearance atau bounches of grapes.

Tramline shadow, yaitu gambaran dua garis paralel yang putih dan tebal yang dipisahkan oleh daerah berwarna hitam (seperti rel trem)

Glove finger shadow, bayangan sekelompok tubulus yang terlihat seperti jari-jari pada sarung tangan.

Tubular shadow, bayangan yang putih dan tebal, menunjukkan bronkus yang penuh dengan secret. Jarang ditemukan, tapi khas pada bronkiekstasis

b. Bronkografi Bronkografi merupakan pemeriksaan foto dengan pengisian media kontras ke dalam sistem saluran bronkus pada berbagai posisi (AP, Lateral, Oblik). Pemeriksaan ini dapat menentukan bentuk bronkiektasis silindris (tubulus, fusiformis), sakuler (kistik) dan varikosis. Pemeriksaan bronkografi saat ini jarang dilakukan karena prosedurnya yang kurang menyenangkan bagi pasien.

c. CT-Scan CT-Scan resolusi tinggi menjadi pemeriksaan penunjang terbaik untuk mendiagnosis bronkiektasis untuk dan mengklarifikasi temuan pada foto toraks.

B. DIAGNOSIS BANDING 1. Bronkitis kronis. 2. Fibrosis kistik 3. Karsinoma bronkogenik. 4. Tuberkulosis paru C. PENATALAKSANAAN 1. Terapi medikamentosa Bronkodilator, untuk memperbaiki obstruksi, membantu membersihkan sekret. Kortikosteroid, bila diperlukan. Antibiotik, umumnya diberikan saat eksaserbasi akut Obat simptomatis, misal pada penderita dengan hemoptisis, dyspnea, dll.

2. Terapi non-medikamentosa a. Terapi Konservatif Chest physiotherapy, untuk membantu pengeluaran dahak. Memperbaiki faktor lingkungan.

b. Terapi Operatif Tujuan pembedahan adalah untuk mengangkat (reseksi) segmen atau lobus yang terkena. Indikasi: pada pasien bronkiektasis yang terbatas dan resektabel,

yang tidak berespon terhadap tindakan-tindakan konservatif yang adekuat, selain itu juga pada pasien bronkiektasis terbatas, tetapi sering mengalami infeksi berulang atau hemoptisis yang berasal dari daerah tersebut D. PROGNOSIS Prognosis pasien bronkiektasis tergantung pada berat-ringannya serta luasnya penyakit waktu pasien berobat pertama kali. Pada kasus-kasus yang berat dan tidak diobati, prognosisnya jelek, survivalnya tidak akan lebih dari 5-15 tahun. Kematian pasien tersebut biasanya karena penyulit seperti pneumonia, empiema, payah jantung kanan, hemoptisis dan lain-lain.