Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PUPUK DAN PEMUPUKAN Kotoran Sapi dan Jerami

Disusun oleh : KELOMPOK : 13 (Rabu, 07.30-09.10) ASISTEN : Cynthia Monica Sugiono

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

Ketua Kelompok : Arman Firmansyah Anggota : 1. Yudhistira Wharta Wahyudi 2. Rieke Yulian Sari 3. Putri Setya Rahmita 4. Ida Ayu Wahyuningtyas

( 105040207111025 ) ( 105040204111013 ) ( 105040204111014 ) ( 105040204111016 ) ( 105040207111001 )

5. Astri Septiyaningsih Nugraheni ( 105040207111002 ) 6. Herry Pratama Putra 7. Indah Puspitasari 8. Jeany Eka Wulandari 9. Silfa Noferia P 10. Edwin Panigoro 11. Guntur Respyan 12.Tommy Kurniawan Subianto 13. Samsul Huda Asrori 14. Moh. Faisal Asegaf ( 105040207111003 ) ( 105040207111007 ) ( 105040207111009 ) ( 105040207111010 ) ( 105040207111013 ) ( 105040207111014 ) ( 105040207111016 ) ( 105040207111020 ) ( 105040207111025 )

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pertanian telah melahirkan petani yang sangat tergantung pada pupuk kimia. Di lain pihak, penggunaan lahan secara terus menerus berakibat pada penurunan bahan organik tanah dan bahkan sebagian besar lahan pertanian mengandung bahan organik rendah (< 2 %), padahal kandungan yang ideal adalah > 3 %. Tanah dengan kandungan bahan organik rendah akan berkurang kemampuannya dalam mengikat pupuk kimia, sehingga efektivitas dan efisiensinya menurun akibat pencucian dan fiksasi. Perbaikan kesuburan tanah dan peningkatan bahan organik tanah dapat dilakukan melalui penambahan bahan organik atau kompos. Namun demikian, kandungan hara pupuk organik tergolong rendah dan sifatnya slow release, sehingga diperlukan dalam jumlah yang banyak. Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman dan/atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Secara umum, manfaat pupuk organik adalah : memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, meningkatkan daya simpan dan daya serap air, memperbaiki kondisi biologi dan kimia tanah, memperkaya unsur hara makro dan mikro serta tidak mencemari lingkungan dan aman bagi manusia. Kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisatanaman dan kotoran hewan yang telah mengalami prosesdekomposisi atau pelapukan. Selama ini sisa tanaman dankotoran hewan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan

sebagaipengganti pupuk buatan. Kompos yang baik adalah yang sudahcukup mengalami pelapukan dan dicirikan oleh warna yang sudahberbeda dengan warna bahan pembentuknya, tidak berbau, kadarair rendah dan sesuai suhu ruang. Proses pembuatan danpemanfaatan kompos dirasa masih perlu ditingkatkan agar dapatdimanfaatkan secara lebih efektif, menambah pendapatanpeternak dan mengatasi pencemaran lingkungan.

Pada praktikum Teknologi Pupuk dan Pemupukan kita memepelajari tentang pembuatan pupuk kompos dengan berbagai bahan dan perlakuan yang berbeda-beda untuk mengetahui hasil pupuk kompos yang terbaik.

1.2.Tujuan Untuk mengetahui macam-macam pupuk Untuk mengetahui manfaat dari pupuk Untuk mengetahui cara pembuatan pupuk kompos Untuk mengetahui kandungan dari pupuk kompos

1.3.Manfaat Agar mahasiswa mengetahui cara pembuatan pupuk kompos yang baik dan benar serta mengetahui kandungan-kandungan dari pupuk kompos.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Definisi Pupuk Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahanorganikatau pun non-organik (mineral). (Anonymousa,2011) Pupuk adalah bahan pengubah sifat biologi tanah supaya menjadi lebih baik. (Anonymousb,2011) Pupuk adalah senyawa kimia anorganik / organik yang dijumpai di alam atau dibuat manusia yang memiliki nilai hara langsung atau tidak langsung bagi tanaman, pemberian pupuk yang tepat akan menghasilkan perubahan pertumbuhan yang sifatnya positif bagi tanaman. (Anonymousc,2011)

2.2.Macam-macam Pupuk 2.2.1. Berdasarkan Sumber Bahan Dilihat dari sumber pembuatannya, terdapat dua kelompok besar pupuk :
a. b.

Pupuk organik atau pupuk alami Pupuk kimia atau pupuk buatan. Pupuk organik mencakup semua pupuk yang dibuat dari sisa-sisa metabolisme atau organ hewan dan tumbuhan, sedangkan pupuk kimia dibuat melalui proses pengolahan oleh manusia dari bahan-bahan mineral. Pupuk kimia biasanya lebih "murni" daripada pupuk organik, dengan kandungan bahan yang dapat dikalkulasi. Pupuk organik sukar ditentukan isinya, tergantung dari sumbernya;

keunggulannya adalah ia dapat memperbaiki kondisi fisik tanah karena membantu pengikatan air secara efektif. 2.2.2.Berdasarkan Bentuk Fisik Berdasarkan bentuk fisiknya, pupuk dibedakan menjadi :

a.

Pupuk padat Pupuk padat diperdagangkan dalam bentuk onggokan, remahan, butiran, atau kristal. Pupuk cair diperdagangkan dalam bentuk konsentrat atau cairan. Pupuk padatan biasanya diaplikan ke tanah/media tanam.

b.

Pupuk cair diberikan secara disemprot ke tubuh tanaman.

2.2.3.Berdasarkan Kandungannya Terdapat dua kelompok pupuk berdasarkan kandungan:


a.

Pupuk tunggal Pupuk tunggal mengandung hanya satu unsur.

b.

Pupuk majemuk

Pupuk majemuk paling tidak mengandung dua unsur yang diperlukan. Terdapat pula pengelompokan yang disebut pupuk mikro, karena mengandung hara mikro (micronutrients). Beberapa merk pupuk majemuk modern sekarang juga diberi campuran zat pengatur tumbuh atau zat lainnya untuk meningkatkan efektivitas penyerapan hara yang diberikan. (Anonymousd,2011)

2.3.Manfaat Pupuk Memperbaiki struktur tanah begitu juga dengan karakteristiknya, sehingga tanah menjadi gembur, ringan, mudah diolah, dan mudah ditembus akar. Tanah-tanah berat menjadi mudah diolah Kesuburan tanah meningkat Aktivitas mikroba tanah pun meningkat Kapasitas peyerapan air oleh tanah juga meningkat sehingga tanah menjadi mudah menyediakan kebutuhan air yang diperlukan tanaman Memperbaiki habitat hewan yang hidup di tanah dan ketersediaan makanan hewan-hewan tersebut jadi lebih terjamin Meningkatkan ketahanan terhadap perubahan sifat tanah yang terjadi secara tibatiba Mengandung mikroba yang bertugas mengurai bahan-bahan organic Meningkatkan kapasitas pertukaran kation sehingga jika tanaman diberi pupuk dosis tinggi, unsur hara tanaman tidak mudah tercuci

Mempertahankan dan meningkatkan ketersediaan unsur hara di dalam tanah (Anonymouse,2011)

2.4.Definisi Kompos Kompos berasal dari kata latin yaitu compostum, yang artinya

digabungkandi komposisi dari limbah binatang dan tumbuhan (contoh sayuran, sisakotoran sapi) untuk mendapat satu campuran produk yang digunakan untukbahan penyubur tanah. (Anonymousf,2011) Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahanbahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik. (Anonymousg,2011) Kompos adalah pupuk organik yang merupakan hasil pembusukan atau dekomposisi dari bahan- bahan organik seperti tanaman, hewan atau limbah organik lainnya. Kompos yang digunakan sebagai pupuk disebut pula pupuk organik karena berasal dari bahan-bahan organik. (Anonymoush,2011)

2.5.Manfaat Kompos Kompos ibarat multi-vitamin untuk tanah pertanian. Kompos akan meningkatkankesuburan tanah dan merangsang perakaran yang sehat Kompos memperbaiki struktur tanahdengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuantanah untuk

mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaatbagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantutanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dan menghasilkan senyawa yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantutanaman menghadapi serangan penyakit.

Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik kualitasnyadaripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misal: hasil panen lebih tahan disimpan,lebih berat, lebih segar, dan lebih enak. (Anonymousi,2011)

BAB III METODOLOGI

3.1.Tempat dan Waktu Pembuatan Kompos Tempat Waktu : UPT Kompos : Selama Praktikum TPP

Pengukuran Kadar C-Organik, N-Total, dan pH Kompos Alat Tempat Waktu : Lab Kimia Umum : 30 Desember 2011

3.2.Alat dan Bahan : : Untuk pengaduk bahan pupuk : Untuk membalik bahan pupuk : Untuk tempat menyimpan pupuk : Untuk alat pencampuran EM4 dan Mollase : Tempat pencampuran kompos dengan aquadest : Untuk menimbang bahan : Untuk mengukur pH kompos : Tempat pereaksi : Mengambil cairan dalam jumlah kecil : Tempat mereaksikan dalam perhitungan N-Total : Untuk membakar hingga asapnya hilang

a. Garu b. Skrop c. Karung Goni d. Gembor e. Botol Film f. Timbangan g. pH meter h. Erlenmeyer i. Pipet j. Labu Kjeldahl k. Alat destruksi Bahan : a. Jerami b. Kotoran Sapi c. EM 4 d. Molase e. Air f. H20

l. Pengaduk (stirrer) : Sebagai pengaduk

: Sebagai bahan utama pembuatan kompos : Sebagai bahan utama pembuatan kompos : Sebagai bakteri fermentasi kompos : Sebagai bakteri fermentasi kompos : Sebagai bahan campuran EM4 dan Molase : Untuk menghentikan reaksi H2PO4

g. Selen dapat membantu pembakaran

h. Larutan K2Cr2O7 untuk mengikat rantai karbon i. Larutan H2SO4 pekat (diatas 96%) dapat memisahkan rantai karbon j. Larutan H3PO4 85% dapat menghilangkan pengaruh Fe3+ k. FeSO4 digunakan untuk metiltrasi l. Fenilamina untuk mefenilamina m. Larutan buffer digunakan untuk menetralkan pH meter

3.3.Cara Kerja 3.3.1. Pembuatan Kompos


Jerami dan Kotoran Sapi dengan perbandingan 1 : 1 dicampur Tambahkan air gembor dan campur dengan EM4 dan Mollase sebanyak 4 tutup botol

Kemudian diaduk secara rata

Aduk pupuk hingga merata 3 hari sekali

Masukkan bahan-bahan tadi ke dalam karung goni

Kemudian aduk lagi secara merata selama 20 menit

3.3.2. Pengukuran Kadar C-organik, N-total dan pH Kompos a. Pengukuran Kadar C-Organik

Ambil sampel kompos

Timbang 0,1 gram

Masukkan ke erlenmeyer

Tambahkan K2Cr2O7 sebanyak 10 ml

Tambahkan H3PO4 85 % sebanyak 10 ml

Tambahkan Aquadest sebanyak 200 ml

Diakan selama 30 menit

Tambahkan H2SO4 sebanyak 20 ml di ruang pengasaman

Tambahkan indicator difenilamina sebanyak 30 tetes

Titrasi dengan FeSO4 sampai larutan berubah warna menjadi hijau

Catat hasilnya

Hitung Kadar COrganik

b. Pengukuran N-Total

Ambil sampel pupuk

Timbang sebanyak 0,1 gram

Masukan ke dalam tabung kjedahl

Tambahkan selen sebanyak 1 gram

Tambbahkan NaOH 40 % sebanyak 20 ml

Dinginkan lalu tambahkan Aquadest sebanyak 60 ml

Destruksi pada suhu 3000 C sampai uap menghilang

Tambahkan H2SO4 sebanyak 5 ml di ruang pengasaman

Destilasi dengan menggunakan kjedahl

Hasil destilasi ditampung pada Erlenmeyer yang berisi asam borat sebanyak 20 ml

Titrasi dengan H2SO4 sampai larutan berubah warna menjadi merah keunguan

Catat hasilnya

Hitung N-total nya

c. Pengukuran pH Kompos
Ambil sampel sebanyak 5 gram Tempatkan pada fial film Tambahkan Aquadest sebanyak 12,5 ml

Ukur pH menggunakan pH meter

Kocok selama 60 menit menggunakan mesin pengocok

Tutup fial film

Catat hasilnya

3.3.3. Pembuatan Pupuk Granule dan Pupuk Cair Pembuatan Pupuk Granule Ambil hasil ayakan pupuk kompos (1kg) dan tambah molase 100 ml

Ambil hasil pembuatan pupuk kompos

Ayak pupuk kompos beberapa kali

Masukkan dalam kemasan plastik

Masukkan pada pan granular dan beri abu

Pembuatan Pupuk Cair


Ambil pupuk kompos yang telah jadi sebanyak 2 kg Letakkan dalam ember dan tambahkan 1 liter air Aduk campuran bahan tersebut hingga merata

Kemudian, masukkan dalam alat pembuat pupuk cair

Rendam selama 12 jam

Tutup ember dengan plastik

Saring hasilnya

Masukkan dalam kemasan botol plastik

3.4 Analisa Perlakuan Pembuatan Pupuk Granule Pembuatan pupuk kompos granul diawali dengan pengambilan hasil pembuatan pupuk kompos dengan bahan jerami dan kotoran sapi, hasil pupuk kompos kemudian diayak menggunakan ayakan dengan ukuran 5 mm. Hasil dari

ayakan diambil sebanyak 1 kg. hasil ayakan 1 kg dimasukkan ke mesin pan granular selama 10 menit, mesin pan granular berfungsi untuk membuat kompos yang berbentuk granul. Ketika mesin pan granular dinyalakan masukkan abu secara perlahan, pemberian abu ini bertujuan agar pupuk tidak menggumpal sehingga hasilnya akan berbentuk bulatan kecil-kecil. Setelah melalui proses ini hasilnya diambil dan ditaruh wadah kemudian di bungkus. Pembuatan Pupuk Cair Proses pembuatan pupuk cair ini diawali dengan pengambilan bahan pupuk cair, yaitu pupuk kompos berbahan kotoran sapi dan jerami padi yang sudah jadi sebanyak 2 kg, letakkan kompos tersebut kedalam ember yang ditambahkan air sebanyak 1 liter dan aduk campuran kompos dengan air tersebut sampai mengental, kemudian diamkan (rendam) selama 12 jam, agar kandungan pupuk tersebut dapat keluar dan terlarut bersama air. Selanjutnya pada tahapan terakhir pupuk yang sudah direndam selama 12 jam disentrifuse 2000 rpm selama 5 menit, kemudian hasil dari sentrifuse diperas dengan kain, agar pupuk cair tersebut lebih bersih dari ampas-ampas yang masih terkandung dalam pupuk cair hasil dari sentrifuse.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.HASIL 4.1.1. Pengukuran Suhu Setiap Pengamatan


Pengamatan ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tanggal Pengamatan 26 Oktober 2011 2 November 2011 9 November 2011 16 November 2011 23 November 2011 30 November 2011 7 Desember 2011 14 Desember 2011 21 Desember 2011 28 Desember 2011 Suhu Awal Karung 1 26 29 34 28 28 27 29 28 28 29 29 35 26 28 29 28 28 26 28 29 34 29 28 27.5 29 28 29 29 29 34.3 28 28 27.8 28.7 28 28 28.7 Karung 2 Karung 3 Rata-rata

Pengamatan ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Tanggal Pengamatan 26 Oktober 2011 2 November 2011 9 November 2011 16 November 2011 23 November 2011 30 November 2011 7 Desember 2011 14 Desember 2011 21 Desember 2011 28 Desember 2011

Suhu Akhir Karung 1 25 27,5 25 28 27 25 27,5 28 25 Karung 2 24 27,5 25 28 26 25 27,5 28 25 Karung 3 25 27,5 25 28 26 24 27,5 28 24

Rata-rata

24,7 27,5 25 28 26,3 24,7 27,5 28 24,7

Keterangan : Berat Awal, yaitu : Kotoran Sapi 35 kg + Jerami 35 kg = 70 kg Berat Akhir = 35 kg Larutan EM = EM 10 ml + 1 liter air

Berat Awal I 70 kg

Berat kering Sebelum di ayak 31kg Setelah di ayak 30kg

Perhitungan C-Organik, N total, dan pH Kompos Perhitungan C-Organik


Ka = = = x 100% x 100%

= 7,76 % % C-organik = = =
( ( ) )

= 2,1 x 1,0776 % = 0,0226 % % BO = = 1,724 x 0,0226 % = 0,039 %

Keterangan : Vc = Volume Contoh (6,8) Vb = Volume Blanko (BI = 0,86) Ml blangko = 10 ml Ml sampel = 6,5 ml BB = 5,0013 gr

BK = 2,1083 gr Mr N = 58 Perhitungan N total Fk = Faktor Kadar Air = = = = 1,0776 %


( ( ) )

Kadar Nitrogen = = = =

= 8,42 % Keterangan : N (Normalitas) H2SO4 = 0,009395 N Basa Atom Nitrogen = 14 gr Contoh (berat kompos) = 0,1 gr

pH Kompos : 8,08 pH kompos menggunakan ph Meter Untuk Pupuk Cair 2 kg pupuk sampel + 1 liter air disentrifuse menjadi pupuk cair 250 ml

4.2.Pembahasan 4.2.1.Pembuatan Pupuk Kompos Bahan yang digunakan dalam pembuatan kompos yakni 35 kg kotoran sapi segar dan 35 kg jerami, dengan menggunakan karung goni sebagai tempat penyimpanan komposnya. Setelah itu dilakukan penambahan larutan EM 4 10 ml yang dicampur dengan 5 liter air. Pembalikan kompos dilakukan

secara berkala yakni, setiap satu minggu sekali. Dari data hasil pengamatan suhu (baik sebelum maupun sesudah pembalikan) yang dilakukan pada tanggal 26 Oktober 2011 hingga 28 Desember 2011, didapatkan 10 kali pengamatan suhu per minggunya dan diketahui bahwa suhu tidak mencapai 400 C ataupun lebih. Rata-rata suhu yang didapatkan berkisar 250C, sedangkan menurut literatur yang kami peroleh dalam pembuatan pupuk kompos semestinya suhu awal dalam pembuatan kompos mencapai minimal 400C. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Handayani (2009) bahwa untuk menghasilkan suatu kompos yang baik maka pengaturan suhu sangat diperhatikan jika suhu pada kompos mencapai 400C, maka mikroorganisme mesofil akan di gantikan dengan mikroorganisme thermofil, jika suhu mencapai 600 C maka fungi akan berhenti bekerja dan akan digantikan dengan aktinomisetes serta strain bakteri pembentuk spora. Kemudian panas yang dihasilkan pada awal proses pengomposan, panas ini disebabkan oleh kegiatan mikroorganisme yang sedang merombak bahan organik. Pada tahap ini, mikrorganisme memperbanyak diri secara cepat, namun setelah itu, suhu pengomposan akan turun kembali hingga 250-300C yang menandakan kompos matang. Dari hasil pengamatan kenaikan suhu saat sebelum hingga sesudah pembalikan kompos terjadi hingga pada minggu ke-3, namun setelah masuk minggu ke-4, pada suhu awal dan suhu akhir setelah pembalikan kompos cenderung mengalami sedikit penurunan suhunya. Tetapi memasuki minggu ke-5 terjadi kenaikan suhu kembali untuk sebelum dan sesudah pembalikan kompos dan mengalami penurunan kembali pada minggu ke-6, terkecuali pada karung karung II dan karung III, suhu awalnya mengalami penurunan suhunya pada minggu ke-5 untuk karung III dan mengalami kenaikan suhunya pada minggu ke-6 untuk karung II. Namun pada minggu ke-7, penurunan dan kenaikan pada suhu awal dan suhu akhir setelah pembalikan kompos perubahannya sangat nyata yakni untuk karung I dan karung III suhu awalnya mengalami kenaikan namun suhu akhirnya mengalami penurunan dibandingkan suhu akhir pada minggu sebelumnya, dan untuk karung II suhu awal dan suhu akhir setelah pembalikan cenderung mengalami penurunan.

Selain itu juga dapat dilihat suhu awal sebelum dilakukan dan suhu akhir setelah pembalikan selalu mengalami penurunan yang cukup signifikan, namun terkecuali pada pengamatan minggu ke 5 yang tidak ada perubahan yang nyata setelah proses pembalikan itu. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kegagalan pengomposan yaitu selain suhu adalah kelembaban, dan kondisi lingkungannya yakni kondisi lingkungan tempat penyimpanan komposnya. Seperti yang telah diterangkan di awal bahwa kelompok kami menggunakan karung goni sebagai tempat penyimpanannya. Sehingga jika pada tempat penyimpanan lembab atau basah maka pupuk yang tersimpan di dalam karung koni ikut lembab dikarenakan karung goni mudah menyerap air sehingga

kelembapannya pun tidak dapat terkontrol. Jadi juga akan mempengaruhi proses pengomposannya. Menurut Handayani (2009) bahwa pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup oksigen (aerob). Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh porositas dan kandungan air bahan (kelembapan). Apabila aerasi terhambat, maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos. Dapat diketahui bahwa tempat penyimpanan kompos yang kurang sesuai dengan syarat penyimpanan kompos yang dianjurkan, sehingga saat hujan terjadi air hujan akan masuk ke dalam tempat penyimpanan kompos, maka dari itu akan mempengaruhi proses pengomposannya itu sendiri karena sedikit banyak akan terjadi perubahan suhu dan kelembapan pada komposnya. Hal ini sesuai dengan yang kemukakan oleh Guntoro (2003) bahwa Kelembapan memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada ketersediaan oksigen. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik tersebut larut di dalam air. Kelembapan 40-60% adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembapan di bawah

40%, aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembapan 15%. Apabila kelembapan lebih besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap. `4.2.2.Pembahasan Kadar Air Kadar air kompos yang berbahan dasar dari kotoran sapi dan jerami padi dengan perlakuan menggunakan karung goni sebesar 7,76 %. Nilai yang dihasilkan memenuhi standar kualitas kompos menurut SNI, dimana kadar maksimum yang diperbolehkan 50%. Kandungan air berkaitan dengan ketersediaan oksigen untuk aktivitas mikroorganisme aerobik, bila kadar air bahan berada pada kisaran 40%60,5%, maka mikroorganisme pengurai akan bekerja optimal Kadar air sangat berpengaruh terhadap kelembaban kompos yang dibuat. Kelembaban berperan penting terhadap proses dekomposis bahan baku, karena berhubungan dengan aktivitas organisme. Kelembaban optimum untuk proses pengomposan aerobik berkisar 5060% setelah bahan dicampur. Kelembaban campuran bahan kompos yang rendah akan menghambat proses pengomposan dan akan menguapkan nitrogen ke udara. Namun, jika kelembaban tinggi proses pertukaran udara dalam campuran bahan kompos akan terganggu. Poripori udara yang ada dalam tumpukan bahan kompos akan diisi oleh air dan cenderung menimbulkan kondisi anaerobik (Anonymousj, 2012) 4.2.3.Pengukuran Kadar C-Organik Pengukuran C-Organik yang dilakukan di laboratorim Kimia Jurusan tanah, FP-UB pada tanggal 30 Desember 2011, diperoleh hasil data C-Organik = 0,0226 %, dan Bahan Organik (BO) = 0,039 %. Kadar C-organik pada bahan ini tidak memenuhi standar kualitas kompos menurut SNI, dimana kadar minimum 27% dan maksimum yang diperbolehkan 58%. Karbon dibutuhkan mikroorganisme untuk proses pengomposan. Kadar C di dalam kompos menunjukkan kemampuannya untuk memperbaiki sifat tanah. (Anonymousk, 2012)

4.2.4.Pengukuran N-Total Pengukuran kadar Nitrogen total pada kompos dengan bahan dasar yang terbuat dari kotoran sapi dan jerami padi dengan perlakuan menggunakan karung goni ini sebanyak 1,0776 %. Berarti pupuk kompos yang kita buat memenuhi standar kualitas kompos menurut SNI, dimana kadar minimal yang ditentukan adalah 0,40%. Kadar Nitrogen dibutuhkan mikroorganisme untuk pemeliharaan dan pembentukan sel tubuh. Makin banyak kandungan nitrogen, makin cepat bahan organik tersebut terurai, karena mikroorganisme yang menguraikan bahan kompos memerlukan nitrogen untuk perkembangannya. (Anonymousl, 2012) 4.2.5.Pengamatan pH Hasil pengujian pH menunjukkan bahwa nilai pH pupuk kompos kita yang berbahan dasar dari kotoran sapi dan jerami padi dengan perlakuan menggunakan karung goni menunjukkan pH sebesar 8,08. Nilai ini dapat dikatakan kurang memenuhi standar kualitas menurut SNI. Menurut standart kualitas SNI, pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh, proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman), sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral. (Anonymousn, 2012).

BAB V KESIMPULAN

5.1.Kesimpulan Pupuk adalah senyawa kimia anorganik / organik yang dijumpai di alam atau dibuat manusia yang memiliki nilai hara langsung atau tidak langsung bagi tanaman, pemberian pupuk yang tepat akan menghasilkan perubahan pertumbuhan yang sifatnya positif bagi tanaman Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahanbahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik. Pengukuran suhu pupuk yang masih dalam proses selalu saja berubah-ubah dari minggu kedua sampai terkhir yaitu dengan suhu 29, 34.3, 28, 28, 27.8, 28.7. dari hasil penentuan suhu pupuk tersebuh bahwa suhunya teratur dengan suhu yang ada didalam karung goni tersebut meskipun pada minggu ke-4 suhunya mengalami penurunan. Pada awal pembuatan pupuk bahan yang digunakan antara lain jerami dan kotoran sapi, yang masing masing terdiri dari 35 kg kotoran sapi dan 35 kg jerami. Setelah diukur pada hasil akhirnya yaitu dengan berat 35 kg. Pada pembuatan pupuk cair bahan campuran yang digunakan adalah 2 kg pupuk sampel dan 1 liter air. Sedangkan pada pembuatan pupuk granular bahan campuran yang digunakan adalah abu supaya pupuk tidak lengket. Kadar air kompos yang berbahan dasar dari kotoran sapi dan jerami padi dengan perlakuan menggunakan karung goni sebesar 7,76 %. Nilai yang dihasilkan tidak memenuhi standar kualitas kompos menurut SNI, dimana kadar maksimum yang diperbolehkan 50%. Kandungan air berkaitan dengan ketersediaan oksigen untuk aktivitas mikroorganisme aerobik, bila kadar air bahan berada pada kisaran 40%60,5%, maka mikroorganisme pengurai akan bekerja optimal. Hasil data yang diperoleh dari pengukuran C-Organik adalah = 0,0226 %, dan Bahan Organik (BO)= 0,039 %.Kadar C-organik pada bahan ini tidak memenuhi

standar kualitas kompos menurut SNI, dimana kadar minimum 27% dan maksimum yang diperbolehkan 58%. Karbon dibutuhkan mikroorganisme untuk proses pengomposan. Kadar C di dalam kompos menunjukkan kemampuannya untuk memperbaiki sifat tanah.
Pada hasil pengujian pH menunjukkan bahwa nilai pH pupuk sebesar 8,08. Nilai ini dapat dikatakan kurang memenuhi standar kualitas menurut SNI. Menurut standart kualitas SNI, pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. Berdasarkan hasil akhir pembuatan pupuk kompos dapat disimpulkan bahwa pupuk dinyatakan gagal. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kegagalan pengomposan yaitu selain suhu adalah kelembaban, dan kondisi lingkungannya yakni kondisi lingkungan tempat penyimpanan komposnya. Seperti yang telah diterangkan di awal bahwa kelompok kami menggunakan karung goni sebagai tempat penyimpanannya. Sehingga jika pada tempat penyimpanan lembab atau basah maka pupuk yang tersimpan di dalam karung koni ikut lembab dikarenakan karung goni mudah menyerap air sehingga kelembapannya pun tidak dapat terkontrol. Jadi juga akan mempengaruhi proses pengomposannya.

5.2. Saran Semoga dalam praktikum pembuatan pupuk ini bisa dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk menerapkan cara yang lebih sederhana dan memperoleh hasil yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymousa.2011.http://www.scribd.com/doc/32187190/Tugas-Makalah-Dbt-Pupuk. Diakses tanggal 1 Januari 2012 Anonymousb.2011.http://www.anneahira.com/macam-macam-pupuk.htm. Diakses tanggal 1 Januari 2012 Anonymousc.2011.http://cybex.deptan.go.id/lokalita/manfaat-pupuk-bagi-tanaman. Diakses tanggal 1 Januari 2012 Anonymousd.2011.http://www.scribd.com/doc/32187190/Tugas-Makalah-Dbt-Pupuk. Diakses tanggal 1 Januari 2012 Anonymouse.2011.http://www.anneahira.com/manfaat-pupuk.htm. Diakses tanggal 1 Januari 2012 Anonymousf.2011.http://groups.yahoo.com/group/lingkungan/message/176. Diakses tanggal 1 Januari 2012 Anonymousg.2011.http://pupukorganik.wordpress.com/2008/04/16/kompos-pengertian/. Diakses tanggal 1 Januari 2012 Anonymoush.2011http://www.membuatblog.web.id/2010/04/membuat-kompos-darilimbah-rumah-tangga.html. Diakses tanggal 1 Januari 2012 Anonymousi.2011.http://kompos-organik.blogspot.com/2009/03/manfaat-kompos.html. Diakses tanggal 1 Januari 2012 Anonymousj. 2012. Standart Nasional Indonesia, (Online), (http://nasih.staff.ugm.ac.id /p/009%20p%20k.htm. Diakses tanggal 1 Januari 2012 Anonymousk. 2012. Standart Nasional Indonesia, (Online), (http://nasih.staff.ugm.ac.id /p/009%20p%20k.htm. Diakses tanggal 1 Januari 2012 Anonymousl. 2012. Standart Nasional Indonesia, (Online), (http://nasih.staff.ugm.ac.id /p/009%20p%20k.htm. Diakses tanggal 1 Januari 2012 Anonymousm.Kompos.http://id.wikipedia.org/wiki/Kompos. Diakses tanggal 1 Januari 2012 Guntoro Dwi, Purwono, dan Sarwono. 2003. Pengaruh Pemberian Kompos Bagase Terhadap Serapan Hara Dan Pertumbuhan Tanaman Tebu (Saccharum

officinarum L.). Dalam Buletin Agronomi, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Handayani, Mutia. 2009. Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Kompos Terhadap Pertumbuhan Bibit Salam, sebuah skripsi. Dalam IPB Repository diunduh 28 Desember 2011 Toharisman, A. 1991. Potensi Dan Pemanfaatan Limbah Industri Gula Sebagai Sumber Bahan Organik Tanah. C.V. Pustaka Buana. Bandung

LAMPIRAN

Gambar Pembuatan Pupuk Granule dan Cair

Gambar Pembuatan Pupuk Kompos