Anda di halaman 1dari 62

1 HUKUM ACARA SEBAGAI INSTRUMEN PENEGAKAN KEADILAN

OLEH MOH. AMIR HAMZAH

2010

DAFTAR ISI BAB I : LATAR BELAKANG DAN TUJUAN OLAH PIKIR A. Latar Belakang. B. Tujuan . BAB II : METODE OLAH PIKIR BAB III : URAIAN METODE OLAH PIKIR A. B. C. D. E. F. G. H. I. J. K. Indonesia Mempunyai Hukum. Indonesia Memerlukan Pengadilan. Amir Pencari Keadilan. Penetapan Ganti Rugi adalah Kebenaran. Penetapan Denda adalah Keadilan. Sertifikat Tanah adalah Alat Bukti. Amir adalah saksi. Penetapan Wanprestasi Mengikat Para Pihak yang Berperkara. Surat adalah Alat Bukti Yang Kuat Sumpah Pocong adalah Alat Bukti Pengakuan adalah Alat Bukti

BAB IV : KESIMPULAN

BAB I LATAR BELAKANG DAN TUJUAN OLAH PIKIR

A. Latar Belakang. Hakim dalam menangani dan mengadili perkara harus melakukan tiga (3 ) hal, yakni: 1. Finding the law, ascertaining which of the many rules in the legal system is to be applied, or, if none is applicable, reaching a rule for cause (which may or may not stand as a rule for subsequent cases) on the basis of given materials in some way which the legal system points out. 2. Interpreting the rule so chosen or ascertained, that is, determining its meaning as it was framed and with respect to its intended scope. 3. Applying to the cause in hand the rule so found and interpreted.1

Tugas hakim tidak hanya mencocokkan suatu peristiwa atau perkara dengan undang-undang yang berlaku, sehingga hakim hanya sebagai corong undang-undang akan tetapi harus menafsirkan undangundang yang berlaku sesuai dengan rasa keadilan yang berkembang. Pada masa lalu, hakim yang baik adalah hakim yang mampu memberikan kepastian hukum sehingga hakim harus menjadi corong undang-undang, hal ini tidak bisa lepas dari pengaruh pandangan Montesquieu bahwa hakim itu tidak lain adalah alat bicara undang-undang. Bukti bahwa hakim sebagai corong undang-undang, dapat diketemukan dalam Algemeene Bepalingen van Wetgeving atau Aturan Umum tentang melakukan undangundang, yang menyatakan bahwa hakim harus memberikan keputusan
Roscoe Pound, An Introduction to The Philosophy of Law, New Haven and London, Yale University Press, 1953, p. 48
1

4 menurut undang-undang, terkecuali dalam apa yang ditetapkan pada pasal 11, maka ia sekali-kali tidak diperkenankan mengeluarkan pendapatnya tentang nilai dari maksud atau tentang adilnya sesuatu undang- undang.2 Pandangan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa jika putusan hakim itu menggambarkan pendapatnya pribadi, maka orang-orang tidak akan mengetahui secara benar apa yang menjadi kewajibannya dalam perjanjian-perjanjian yang disepakati bersama, hal ini akan mengundang rasa ketidakpastian hukum, dan oleh karena itu maka hakim tidak boleh keluar dari bunyi undang-undang, dan tidak diijinkan menggunakan pendapatnya sendiri tentang makna dan keadilan dalam undang-undang dalam memberikan keputusan. Kepastian hukum erat kaitannya dengan kodifikasi hukum. Pandangan Montesquieu ini ternyata mempengaruhi para pembentuk Undang-undang Dasar Sementara, yang menyatakan bahwa :3 Hukum perdata dan hukum dagang, hukum pidan sipil maupun hukum pidana militer, hukum acara perdata dan hukum acara pidana, susunan dan kekuasaan pengadilan diatur dengan undangundang dalam kitab-kitab hukum, kecuali jika pengundangundang menganggap perlu untuk mengatur beberapa hal dalam undang-undang tersendiri. Dengan kodifikasi diharapkan akan terjamin adanya kepastian hukum, karena segala sesuatu yang perlu diatur tercatat didalam masing-masing kitab hukum, sehingga akan dengan mudah diketemukan kaidah-kaidah hukum, mudah dimengerti, dan dapat digunakan untuk segala soal dan segala waktu. Dengan demikian maka kepastian hukum yang merupakan syarat mutlak bagi gerak hidupnya rakyat yang merdeka dan terhormat akan terjamin. Dengan kitab hukum, memberikan kepastian tentang hak dan kewajiban setiap warga negara, hakim dapat memutus berbagai macam perkara hukum sesuai dengan kitab hukum.

2 3

Pasal 20 Algemeene Bepalingen van Wetgeving. Pasal 102 Undang-undang Dasar Sementara

5 Menurut Roscoe Pound, pada masa itu terdapat anggapan bahwa tugas hakim semata-mata menafsirkan satu kaidah yang diberikan oleh negara atau penguasa dalam suatu proses yang teliti dengan cara logika deduksi, dan secara teknis menerapkan kaidah yang ditafsirkan4, selanjutnya Roscoe Pound menyatakan, its conceives of application of law is involving nothing but a mechanical fitting of the case with the strait jacket of rule or remedy.5 Merupakan anggapan bahwa penerapan hukum merupakan suatu proses mekanis teknis dengan satu tahapan berupa interpretasi. Pandangan Montesquieu ini tidak bertahan lama karena tidak memuaskan rasa keadilan, rasa keadilan yang tidak akan diketemukan dengan hanya melalui fungsi hakim sebagai corong undang-undang, hanya dengan mengumpulkan keterangan-keterangan tentang peristiwa kedalam rangka ketentuan-ketentuan yang ada dalam undang. Pandangan baru ini muncul karena esensi manusia adalah perubahan, dengan perubahan manusia menuju kualitas hidupnya. Permasalahan yang ada dalam masyarakat menimbulkan pemikiran-pemikiran baru, kebutuhankebutuhan baru yang selalu berubah-ubah, sehingga undang-undang yang dimuat dalam kitab hukum memerlukan tafsiran, baik mengenai istilahistilah yang digunakannya maupun mengenai arti dan makna dari undang-undang. Dalam hal ini, tepatlah apa yang dikatakan oleh Cray, bahwa kesulitan pada interpretasi itu muncul jika pembuat undang-undang tidak mempunyai maksud sama sekali terhadap undang-undang yang dibuatnya, dan permasalahan yang muncul adalah tidak teringat atau tidak mengetahui maksud pembuat undang-undang, sehingga apa yang harus dilakukan oleh hakim bukan menetapkan apa yang dimaksud oleh pembuat undang-undang, melainkan menerka apakah kemungkinan

4 5

Roscoe Pound, Loc.cit. Roscoe Pound, Op.cit.p. 49

6 dimaksud mengenai suatu hal yang tidak terlintas di dalam pikiran

pembuat undang-undang, secara detail Cray menyatakan:6 that the difficulties of so called interpretation arise when the legislature has had no meaning at all; when the question wich the raised on the statute never occurred to it; when what the judges have to do is, not to determine what the legislature did mean on a point which was present to its mind, but to guess what it would have intended on a point not present to its mind had the point been present Ajaran pemisahan kekuasaan, legislative, eksekutif, dan yudisial dari Montesquieu tidak bisa dipisahkan secara tajam satu sama lain, dengan menyerahkan tiap-tiap kekuasaan sebagai satu badan yang terpisah secara ekslusif, dalam hal tertentu kekuasaan yudisial dapat menjadi seperti kuasaan legislative manakala melakukan penemuan kaidah baru melalui proses peradilan. Dalam praktek peradilan seringkali dijumpai perkara yang tidak sederhana, terdapat banyak sekali aturan hukum yang potensial untuk diterapkan sedangkan para pihak yang berperkara berbantah-bantahan terhadap kaidah hukum yang akan dijadikan pertimbangan putusan, dalam hal ini beberapa peraturan ditafsirkan agar dapat dilakukan pilihan yang tepat dan bijaksana. Dalam hal ini Roscoe Pound menyatakan7 often the genuine interpretation of the existing rules shows that none is adequate to cover the case and that what is in effect, if not in theory, a new one must be supplied. Dengan demikian keinginan untuk mengadakan undang-undang yang lengkap sampai kepada pengaturan masalah yang kecil-kecil dalam sebuah kitab hukum merupakan hal yang tidak realistis. Peran untuk menciptakan kaidah baru untuk menjatuhkan putusan atas perkara yang dibawa ke pengadilan dilakukan oleh pengadilan tertinggi, yang diajukan oleh pihak-pihak yang tidak puas dan merasa tidak adil terhadap putusan pengadilan tingkat pertama, merupakan suatu keniscayaan.
6 7

Roscoe Pound, Op.cit., p. 50 Roscoe Pound, Op.cit., p. 51

7 Adil merupakan konsep yang sulit dipisahkan dengan konsep hukum, karena persyaratan hukum positif itu harus adil, namun tidak bisa disamakan, hukum dan keadilan adalah dua hal yang berbeda. Hans Kelsen menyatakan bahwa teori hukum murni tidak menolak persyaratan hukum yang adil, selanjutnya menyatakan bahwa teorinya tidak kompeten untuk menjawab pertanyaan apakah suatu hukum tertentu adil atau tidak dan dimana letak unsur terpenting dari keadilan itu, dan lebih lanjut menyatakan bahwa teori hukum murni tidak dapat menjawab pertanyaan semacam itu karena tidak dapat dijawab secara ilmiah, secara detail Hans Kelsen menyatakan: at any rate a pure theory of law in no way opposes the requirement for jus law by declaring itself incompetent to answer the question whether a given law is just or not, and in what the essential element of justice consists. A pure theory of law-a science- cannot answer this question because this question cannot be answered scientifically at all8. Apa arti sesungguhnya bahwa suatu putusan itu adalah putusan yang adil?. Pertanyaan ini berarti bahwa putusan mengatur perbuatan manusia menurut suatu cara yang memuaskan bagi semua orang sehingga semua orang menemukan kebahagiannya dengan putusan itu. Kerinduan akan keadilan merupakan kerinduan abadi manusia akan kebahagian. Kebahagian inilah yang tidak diketemukan manusia secara sendiri-sendiri tapi diketemukan secara bersama-sama baik dalam masyarakat maupun dalam pengadilan melalui putusannya. Keadilan hanya bisa diperoleh melalui prosedur yang fair, hukum acara haruslah fair sehingga output berupa keadilan dapat diciptakan. Jika ini yang diinginkan maka filsafat merupakan kekuatan dalam penyelenggaraan peradilan, sebagaimana yang ditegaskan oleh Roscoe Pound, bahwa the philosophy of law has taken a leading role in all study of human institution 9 dan selanjutnya mengaskan pula bahwa :
Hans Kelsen, General Theory of Law and State, translate by Anders Wedberg, Russel and Russel, New York, 1961, p. 6 9 Roscoe Pound, Op.cit., p. 1
8

8 indeed the every day work of the court was never more completely shape by abstract philosophy ideas than in the nineteenth centrury when lawyers affected to dispise philosophy and analytical jurists believed the had set up self sufficient science of law which stood in no need of any philosophical apparatus10 Peradilan yang dapat memberikan rasa keadilan hanyalah peradilan yang fungsinya (hukum acara) berlangsung berlandaskan pada filsafat hukum, memiliha suatu kaidah hukum untuk diterapkan pada kasus konkrit merupakan pemilihan atas suatu nilai tertentu, yang pasti ini merupakan pekerjaan dalam bidang filsafat hukum.

B. Tujuan . Untuk mengetahui, mengerti, dan memahami bahwa hukum acara sebagai instrument penegakan keadilan sehingga menjadi jelas bahwa prosedur hukum merupakan cara atau proses yang fair dalam menemukan keadilan, keadilan adalah output dari hukum acara.

BAB II
10

Ibid.

METODE OLAH PIKIR

Metode olah pikir yang dipakai minor

adalah silogisme deduktif, yaitu

suatu metode olah pikir yang menggunakan primisa`major , dan primisa kemudian ditarik suatu conclusio, selanjutnya dilakukan uraian terhadap elemen-elemen dari masing-masing silogisme yang telah ditetapkan. Rangkaian silogismenya adalah sebagai berikut:

Silogisme Pertama Primisa mayor Setiap negara mempunyai hukum Primisa minor Conclusio Indonesia adalah Negara Indonesia mempunyai hukum

Silogisme Kedua Primisa mayor Setiap negara memerlukan pengadilan Primisa minor Indonesia adalah Negara

Conclusio

Indonesia memerlukan pengadilan

Silogisme ketiga

10 Primisa mayor Setiap manusia adalah pencari keadilan Primisa minor Conclusio Amir adalah manusia Amir adalah pencari keadilan

Silogisme keempat Primisa mayor Setiap putusan pengadilan adalah kebenaran Primisa minor Penetapan ganti rugi adalah putusan pengadilan Conclusio Penetapan ganti rugi adalah kebenaran

Silogisme kelima Primisa mayor Setiap putusan pengadilan adalah keadilan Primisa minor Penetapan denda adalah putusan pengadilan Conclusio Penetapan denda adalah keadilan

Silogisme keenam

11 Primisa mayor Setiap akta otentik adalah alat bukti Primisa minor Sertifikat tanah adalah akta otentik Conclusio Sertifikat tanah adalah alat bukti

Silogisme ketujuh Primisa mayor Setiap orang adalah saksi

Primisa minor

Amir adalah orang (subyek hukum)

Conclusio

Amir adalah saksi

Silogisme kedelapan Primisa mayor Setiap alat bukti tulisan adalah kuat (ajaran hukum acara perdata) Primisa minor Surat adalah alat bukti tulisan

Conclusio

Surat adalah alat bukti yang kuat

Silogisme kesembilan

12 Primisa mayor Setiap sumpah adalah alat bukti Primisa minor Sumpah pocong adalah sumpah Conclusio Sumpah pocong adalah alat bukti Silogisme kesepuluh Primisa mayor Setiap pengakuan adalah alat bukti Primisa minor Pernyataan tergugat adalah pengakuan Conclusio Pernyataan tergugat adalah alat bukti Silogisme kesebelas Primisa mayor Setiap putusan pengadilan mengikat para pihak yang berperkara (ajaran hukum acara perdata) Primisa minor Penetapan wanprestasi adalah putusan pengadilan Conclusio Penetapan wanprestasi mengikat para pihak yang berperkara

BAB III URAIAN METODE OLAH PIKIR

13 A. Indonesia Mempunyai Hukum Silogisme pertama disusun sebagai berikut: primisa mayor adalah setiap negara mempunyai hukum, primisa minor adalah Indonesia adalah negara, sehingga conclusionya adalah Indonesia mempunyai hukum, conclusi inilah yang dijadikan judul subbab ini. Negara mencakup sekelompok orang yang hidup pada suatu wilayah tertentu. Negara melambangkan dan mengkonkritkan struktur kewibawaan yang didalamnya orang-orang menjalani kehidupan. Didalam Negara, aspek normatif memainkan peranan sentral, yang menampakkan diri dalam dua segi. Pertama adalah tentang kedaulatan negara, artinya kemauan berkuasa dari kewibawaan dalam mengambil keputusan, tanpa kedaulatan tidak ada kewibawaan, dan kedua adalah hubungan timbal balik antara Negara dan hukum. Negara adalah sumber dari hukum, sejauh negara menciptakan hukum dan menjamin pelaksanaan dan penegakannya. Negara terikat pada hukum, sejauh hukum yang dibuatnya tidak sewenang-wenang. Sebagai lembaga sesungguhnya Negara memiliki tugas utama (in optima forma ) untuk mewujudkan keadilan. Negara adalah masyarakat manusia yang terikat dan menempati suatu wilayah tertentu, yang mengorganisasi diri secara politik dalam bentuk sebuah badan hukum publik yang disebut negara11. Dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara selalu melibatkan penggunaan kekuasaan publik melalui alat-alat kekuasaan. Penggunaan kekuasaan selalu cenderung untuk disalahgunaan. Penyalahgunaan kekuasaan pada akhirnya selalu berujung pada kesengsaraan. Penyalahgunaan yang terjadi berulang-ulang menimbulkan dampak bagi segala kehidupan manusia, sehingga muncul gagasan bahwa penggunaan kekuasaan negara dan kekuasaan apapun harus selalu dapat dikontrol
11

12

, artinya tidak pernah

Arief Sidharta, Kajian Kefilsafatan tentang Negara Hukum, Jentera Jurnal hukum Rule of Law, Edisi 3 Tahun II, November 2004, hal. 23 12 Ibid.

14 boleh lepas dari pengawasan dan pengendalian rasional, dan tidak boleh dibiarkan dalam keadaan yang tidak terbatas. Dalam hal inilah hukum untuk kehidupan dirinya. Secara umum, Montesquieu13 menyatakan bahwa hukum adalah are the necessary relation arising from the nature of things. In this sense all beings have their laws: the Deitya His laws, the material world its laws, the intelligences superior to man their laws, the beasts their laws, man his laws. Semua wujud (keberadaan) memiliki hubungan pasti bukan karena kebetulan semata, ada sebab pertama dan akibat (wujud) kedua demikian seterusnya dalam suatu hubungan yang pasti bukan karena kebetulan. Tuhan dengan hukum telah menciptakan segala sesuatu, dan dengan hukum memilihara segala sesuatu. Tuhan bertindak sesuai dengan hukumnya karena Tuhan mengetahui segala sesuatu. Tuhan mengetahui segala sesuatu karena Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Dunia terbentuk dari pergerakan benda-benda sepanjang jaman yang pergerakannya jelas sekali diarahkan oleh hukum-hukum yang tetap, sehingga dunia juga pasti memiliki hukum-hukum yang tetap, jika jika hukum-hukumnya tidak tetap pastilah dunia itu musnah. Demikianlah segala sesuatu yang nampaknya merupakan tindakan yang terjadi tanpa kesengajaan , menyiratkan kepastian adanya hukum tertentu, yang bersifat pasti dan hubungannya yang tetap, sehingga Montesquieu mengibaratkan dengan untaian kalimat: each diversity is uniformity, each change is constancy14 . Manusia diatur oleh hukum yang bersifat pasti, namun sebagai wujud yang berakal manusia selalu melanggar hukum yang ditetapkan oleh Tuhan dan mengubah-ngubah hukum yang ditetapkannya sendiri. Manusia sebagai makhluk berakal memiliki keterbatasan, sehingga bisa mengalami kejahilan dan kesalahan karena adanya nafsu yang
Montesquieu, The Spirit of The Laws, Translated by Thomas Nugent, Hafner Publishing Company, New York, 1949, p. 1 14 Ibid., p. 2.
13

hukum

memainkan perannya. Indonesia adalah sebuah negara, jadi memerlukan

15 menyala-nyala sehingga melupakan penciptanya, karena itu Tuhan mengingatkan manusia melalui hukum-hukum agama. Dengan wujudnya seperti itu, manusia dapat melupakan dirinya karena itu filsafat muncul melalui hukum-hukum moralitas15. Ketika manusia bermasyarakat (negara), manusia kehilangan rasa kelemahannya dan kehilangan rasa kesetaraan antara satu dengan yang lain, masing-masing masyarakat (negara) yang berbeda merasa kuat, inilah pangkal perselisihan. Keadaan inilah memunculkan hukum untuk mengatur pergaulan hidup satu sama lain. Agar pergaulan hidup berjalan dengan baik maka hukum yang berlaku harus terkait dengan pemerintah dan yang diperintah, dan terkait pula dengan sesama anggota masyarakat. Berkaitan dengan hal ini Montesquieu, menyatakan bahwa Law in general is human reason, inasmuch as it governs all the inhabitants of the earth: the political and civil laws of each nation ought to be only the particular cases in which human reason is applied. The should be adapted in such a manner to the people for whom they are framed that it should be a great chance if those of one nation suit another 16 Hukum yang dipunyai Indonesia haruslah hukum yang sesuai dengan watak dan kepribadian manusia Indonesia, bukan watak alam Indonesia. Ilmu hukum bukan merupakan bagian dari ilmu alam akan tetapi bagian dari ilmu mnusia, sebagaimana yang dikatakan oleh Hans Kelsen, bahwa legal science belongs not to the natural sciences, but to the human sciences17 . Ilmu manusia merupakan ilmu nilai, apa yang ada dan apa yang seharusnya. Hukum sebagai norma merupakan realitas ideal bukan realitas kenyataan. Jika hukum merupakan realitas ideal, maka hukum bisa dipisahkan dengan norma-norma realitas lainnya, misalnya moral. Hukum harus sesuai dengan moral merupakan pandangan umum yang disepakati,
Ibid., p. 3. Ibid., p. 6. 17 Hans Kelsen (II), Introduction to The Problems of Legal Theory , translated by Bonnie Litschewski Paulson and Stanley L. Paulson, Clarendom Press, oxford, 1990, p. 15.
16 15

16 yang ditolak adalah pandangan bahwa hukum bagian dari moralitas18. Hukum derajadnya diatas moralitas, namun hukum selalu berkaitan dengan moralitas, dengan kata lain hukum berkarakter moralitas. Serupa dengan moral, hukum berusaha untuk tujuan memuaskan semua orang, kepuasan semua orang adalah kebahagian bersama, inilah yang dinamakan keadilan, rindu akan keadilan merupakan kerinduan kebahagian yang abadi. Dalam kaitannya dengan hukum, dinamakan adil apabila norma umum diterapkan pada satu kasus tetapi tidak diterapkan pada kasus yang sejenis itu dinamakan tidak adil. Dalam kaitannya hukum dan keadilan ini, Hans Kelsen, menyatakan In its literal meaning , however, different from this legal sense of the word, justice stand for an absolute value. Its content cannot be determined by the Pure Theory of Lawor, indeed, arrived by way of rational cognation at all-as the theory of human intellectual endeavour demonstrates, with its failure over a millennium to resolve this problem19 Keadilan merupakan nilai mutlak yang tidak bisa ditetapkan dengan ajaran teori hukum murni, karena dalam keabsahan mutlaknya, keadilan harus dibayangkan sebagai bagian yang berbeda dari, dan lebih tinggi dari hukum positif. Hukum dan keadilan memiliki karakter metafisik yang sama, dan mempunyai fungsi ganda yaitu tergantung cara pandang apakah optimistic atau pesimistik, konservatif atau revolusioner.20 Inilah yang dinamakan bias-bias ideologi yang selalu mendominasi hukum (ilmu hukum). Dalam aliran hukum alam berlaku prinsip dasar bahwa hukum berlaku secara universal dan abadi. Ke-universalan hukum berkenaan dengan lingkup dan cakupan keberlakuan hukum yang ditandai oleh kerangka berpikir, bahwa hukum berlaku dimana-mana tak terbatasi oleh ruang, siapa saja dan siapun tidak terdapat perkecualian, pendispensasian
18 19

Ibid., p. 16 Ibid. 20 Ibid.

17 serta pengkhususan dan pendiskrimisasian. Ke-abadian hukum berkenaan dengan essensi dan sekaligus eksistensi hukum terpahami sebagai hukum dipatuhi dan dilaksanakan sepanjang zaman sampai kapanpun. Dalam hal ini, Protagoras berpendapat bahwa Negara tidak berdasarkan kodrat, tetapi diadakan oleh manusia sendiri.21 Manusia sendiri dapat mengadakan undang-undang, karena manusia diberi keinsyafan akan keadilan hormat kepada orang lain .22 Hukum harus sesuai dengan dasar kodratnya, karena kodrat mahluk mencerminkan kebijaksanaan penciptanya, secara kodrat adalah normatif bagi ciptaanya. Pencipta membuat hukum secara kodrat untuk makhluk ciptaanya. Bagi makhluk yang tidak sendirinya mengikuti kodratnya, berakal budi dengan tumbuh, bergerak, dan berkembang dan

menurut hukum alam, berbeda dengan manusia. Manusia memiliki pengertian dan kemauan bebas, oleh karena itu manusia dapat menentukan sendiri apa yang dilakukannya, maka dengan kodratnya. Hukum kodrat (lex naturalis) menjadi dasar tuntutan moral, ada hubungan antara moral dengan hukum kodrat. Hubungan antara hukum kodrat dengan moral meliputi dua hal sekaligus, yakni mendasarkan norma-norma moral pada wewenang mutlak Tuhan, yang sekaligus menunjukkan rasionalitasnya. Rasionalitas tuntutan moral terletak dalam kenyataan, bahwa tuntutan itu sesuai dan berdasarkan kebutuhan kodrat manusia. Dalam hal ini, Thomas Aquinas, mengatasi irasionalisme dengan mengembalikan norma-norma moral pada kehendak Tuhan tanpa menjelaskan mengapa Tuhan berkehendak demikian.23 Menurut kodratnya Tuhan menghendaki agar manusia hidup sesuai dengan kodratnya sedemikian rupa hingga dapat berkembang, dapat membangun dan baginya kodratnya merupakan hukum dalam arti yang sungguh-sungguh, manusia wajib hidup sesuai

21 22

Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1975, h. 70 Ibid. 23 Ibid.

18 menemukan identitasnya, yang akhirnya menjadi bahagia. Hukum kodrat menuntut manusia agar hidup sesuai dengan martabatnya. Menurut Thomas Aquinas, hukum buatan manusia (lex humana) berlaku apabila artinya isinya seusai dengan hukum kodrat dan pihak yang menetapkan hukum memiliki wewenang berdasarkan hukum kodrat24, suatu peraturan hanya bersifat hukum, mengikat, apabila isinya dapat dilegitimasi secara rasional dari hukum kodrat. Suatu hukum yang bertentangan dengan hukum kodrat tidak memiliki status hukum, melainkan merupakan atau penghancuran hukum (corruplio legis). Dalam hal ini John Rawls, menyatakan: A public system of rules which defines offices and poitions with their rights and duties, power and immunities, and the like. These rules specify certain forms of action as permissible, others as forbidden; and they provide for certain penalties and defences, and so on, when violations occur.25 Sedangkan Montesquieu menyatakan bahwa as members of society that must be properly supported, they have laws relating to the governors and the governed, and this we distinguish by the name of politic law. They have also another sort of laws, as they stand in relation to each other; by which is understood the civil law.26 Pembuatan hukum (undang-undang) suatu Negara dilakukan oleh organ pemerintah. Negara sebagai bentukan masyarakat adalah sebuah organisasi bersifat abstrak. Pemerintah merupakan konkretisasi dari Negara menjalankan tugas-tugas dan kekuasaan Negara. Salah satu kekuasaan Negara yaitu membuat membuat peraturan perundangan. Dalam hal ini Montesquieu,27 menyatakan : there are three species of government: republican, monarchical, and despotic. In order to discover their nature, it is sufficient to recollect the common notion, which suppose three definitions, or rather three facts: that a republican government is that in which the body, or only
Ibid. John Rawls, A Theory of Justice, The Belknap press of Harvard University Press Cambridge, Massachusetts, 1971, p. 47-48. 26 Montesquieu, Op.cit, p. 5. 27 Ibid, p. 8
25 24

19 a part of the people, is possessed of the supreme power; monarchy, that in which a single person governs by fixed and established laws; a despotic government, that in which a single person directs everything by his own will and capried. When the body of the people is possessed of the supreme power, it is called a democracy. When the supreme power is logdged in the hands of a part of the people, it is then an aristocracy. Selain keadilan, kepastian hukum merupakan hal tidak bisa dipisahkan dengan hukum. Kepastian hukum merupakan keadaan dimana perilaku manusia, baik individu, kelompok, maupun organisasi, dan negara beserta organ dan pejabatnya terikat dan berada dalam kerangka yang sudah ditentukan oleh hukum. Perilaku manusia merupakan refleksi dari yang dibayangkan dalam pikiran pembuat hukum (negara). Selain harus ada kepastian hukum, hakekat hukum adalah untuk mewujudkan keadilan dan keteraturan. Keberlakuan hukum positip memerlukan kekuasaan (authority). Menurut Mochtar Kusumaatmadja28 hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan, kekuasaan tanpa hokum adalah kelaliman. Dalam penerapannya, hukum memerlukan suatu kekuasaan untuk mendukungnya. Ciri utama inilah yang membedakan antara hokum disatu pihak dengan norma-norma sosial lainnya dan norma agama. Kekuasaan itu diperlukan oleh karena hukum bersifat memaksa, tanpa adanya kekuasaan, pelaksanaan hukum akan mengalami hambatan-hambatan.29

B.

Indonesia Memerlukan Pengadilan Silogisme yang kedua adalah sebagai berikut: primisa mayor

adalah setiap negara memerlukan pengadilan, primisa minor adalah Indonesia adalah negara, conclusio adalah Indonesia memerlukan pengadilan, conclusion inilah yang dijadikan sub bab.
Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Lili Rasjidi dan Thania Rasjidi, Pengantar filsafat Hukum, Mandar Maju, Bandung, 2007, h. 75.
29

28

Ibid.

20 Negara menjadi berwibawa karena memiliki kekuasaan

kehakiman, baik dalam aspek formal kelembagaan maupun aspek substansi proses. Kelembagaan dalam kekuasaan kehakiman berupa pengadilan, dan badan-badan lain yang melaksanakan fungsi kehakiman. Substansi atau proses kehakiman tertuang dalam produk hukum yang dikeluarkan oleh Negara, dalam bentuk ketentuan-ketentuan. Hukum dibentuk dengan pertimbangan keadilan disamping sebagai kepastian hukum dan kemanfaatan. Keadilan berkaitan dengan pendistribusian hak dan kewajiban, diantara sekian hak yang dimiliki manusia terdapat hak yang bersifat mendasar yang merupakan hak asasi manusia. Dalam masyarakat manapun dan dimanapun, apabila ada hukum maka sesungguhnya ada satu pemegang kedaulatan yang seseorang atau sekelompok orang yang perintah-peritahnya dipatuhi secara kebiasaan oleh mayoritas masyarakat dan yang secara kebiasaan tidak patuh kepada orang atau kelompok orang lainnya. Ini merupakan hal yang mendasar atau fondasi dari sistem hukum. Dalam kaitan dengan masalah ini, H.A.L Hart menegaskan bahwa dalam setiap masyarakat manusia, apapun bentuk politiknya, dalam negara demokrasi ataupun dalam kerajaan absolute, dimana ada hukum akan ditemukan hubungan antara para warga (subyek) yang menjalankan kepatuhan secara detail Hart menyatakan 30: the doctrine assert that in every human society, where there is law, there is ultimately to be found latent beneath the variety of political forms, in a democrancy as much as in an absolute monarchy, this simple relationship between subjects rendering habitual obedience and a soverign who render habitual obedience to no once Struktur vertikal yang terdiri atas pemegang kedaulatan dan para subyek ini, merupakan unsur hakiki dari suatu masyarakat yang memiliki hukum, ibaratnya seperti tulang punggung bagi manusia. Jika struktur ini ada
30

dan satu pemegang kedaulatan

yang secara kebiasaan tidak menjalankan kepatuhan kepada siapapun,

Hart, Op.cit, p. 48.

21 dalam msyarakat tertentu maka bisa dikatakan sebuah negara dan bisa menyatakan bahwa negara telah mempunyai hukum, namun jika ternyata struktur ini tidak ada dalam suatu masyarakat tertentu maka tidak bisa menyatakan telah ada negara dan hukum. Inti masalah pemberlakuan hukum oleh Negara (Indonesia), yang pertama adalah terletak pada ide tentang kebiasaan patuh yang dituntutkan kepada masyarakat, dan yang kedua adalah berkenaan dengan posisi yang diduduki oleh pemegang kedaulatan diatas hukum, yang menciptakan hukum bagi pihak lainnya dan dengan demikian menimpakan bagi pihak lainnya kewajiban-kewajiban atau batasan-batasan. Negara (Indonesia) sebagai pemegang kedaulatan hukum membutuhkan lembaga yudisial untuk melaksanakan kedaulatan. Pengadilan bukan diartikan semata-mata sebagai badan untuk mengadili, melainkan sebagai pengertian yang abstrak, yaitu hal memberikan keadilan. Keadilan merupakan kebajian utama dalam institusi sosial, sebagaima kebenaran dalam sistem pemikiran31, sebagai kebajikan utama keadilan menjadi tolak ukur keberlakuan suatu teori, hukum, dan institusi. Setiap orang memiliki kehormatan berdasarkan keadilan, sehingga tidak bisa dibatalkan sekalipun oleh seluruh masyarakat. Atas dasar ini, maka keadilan menolak lenyapnya kebebasan pada seseorang yang disebabkan hal yang lebih besar yang didapatkan orang lain. Keadilan tidak membiarkan pengorbanan yang dipaksakan pada segelintir orang diperberat oleh sebagaian besar keuntungan yang dinikmati banyak orang, karena itu menurut John Rawls, therefore in a just society the liberties of equal citizenship are taken as settled; the rights secured by justice are not subject to political bargaining or to the calculus of social interests32. Sebaliknya, ketidakadilan bisa dibiarkan hanya ketika butuh menghindari ketidakadilan yang lebih besar.
31 32

John Rawls, Op.cit, p. 3 Ibid., p.4

22 Jika diasumsikan masyarakat merupakan suatu asosiasi mandiri dari orang-orang yang saling berinteraksi sama lain berdasarkan aturan main tertentu yang disepakati sebagai pengikat dan sebagian besar anggotanya bertindak sesuai dengan aturan tersebut, maka yang membnetuk sistem kerja adalah aturan yang disepakati, atau aturan membentuk sistem kerja yang dirancang untuk menunjukkan kebaikan orang-orang yang terlibat didalamnya. Kendati sistem kerja berlangsung, tidak jarang ada konflik kepentingan, hal ini disebabkan karena masingmasing orang memilih bagian yang lebih besar ketimbang bagian yang sedikit. Dalam hal inilah dibutuhkan prinsi-prinsip keadilan sosial33. Keadilan itu bermacam-macam, salah sartunya adalah keadilan invidual dan keadilan sosial. Keadilan individual subyeknya adalah individu, sedangkan keadilan sosial subyeknya adalah struktur dasar masyarakat. Keadilan individual menitik beratkan pada kehendak untuk saling berbagi khak dan kewajiabn serta pengorbanan sesama individu dan mentukan pembagian dinatara individu, sedangkan keadilan sosial menitik beratkan pada cara-cara lembaga sosial utama mendistribusikan hak dan kewajiban fundamental serta menentukan pembagian keuntungan dari kerjasama sosial, seperti pelindungan hukum atas kebebasan berpikir, persaingan pasar, dll. Inti dari kerjasama sosial adalah kesepakatan, sedangkan inti kesepakan adalah prinsip-prinsi keadilan. Prinsip-prinsip inilah yang mngatur segala sesuatu lebih lanjut, tentang jenis-jenis kerjasama sosial, tentang bentuk-bentuk pemerintahan yang bisa didirikan, serta bentuk pengadilan yang akan difungsikan. Cara pandang seperti ini menurut John Rawls disebut justice as fairness34 . Prinsip-prinsip keadilan adalah hasil dari persetujuan dan tawar menawar yang fair,
33 34

yang menentukan

pembagian keuntungan. Prinsip-prinsip inilah merupakan prinsi-prinsip

merupakan prosedur untuk memperoleh prinsip-

Ibid. Ibid., p. 11

23 prinsip keadilan. Fair bisa diperoleh dalam situasi posisi yang hakiki (asali), fair antar individu sebagai person moral, yakni sebagai makluk rasional dengan tujuan dan kemampuan mengenali rasa keadilan. Menurt John Rawls, situasi posisi hakiki merupakan the appropriate initial status quo, and thus fundamental agreements reached in it are fair35. Prinsip-prinsip keadilan disepakati dalam situasi ideal fair. Salah satu bentuk keadilan sebagai fairness adalah memandang berbagai pihak dalam situasi awal sebagai rasional dan sama-sama netral, tidak saling tertarik pada kepentingan masing-masing. Situasi awal harus dikarakterisasi oleh kebutuhan-kebutuhan yang diterima secara luas. Dalam menyusun konsep keadilan sebagai fairness, yang paling penting adalah menentukan prinsip keadilan mana yang akan dipilih dalam posisi awal, tentunya harus dijelaskan situasinya dan merumuskan persoalan-persoalan pilihan yang diungkapkan dengan cermat. Dalam masalah ini John Rawls menyatakan bahwa that once the principles of justice are thought of arising from an original agreement in asituation of equality, it is an open question whether the principle of unility would be acknowledged.36 Dua prinsip awal yang agak berbeda yang harus ditentukan yang paling awal, adalah prinsip kesetaraan dalam penerapan hak dan kewajiban dasar, dan prinsip ketimpangan sosial dan ekonomi, yang mana yang harus didahulukan merupakan pilihan yang sulit. Menentukan pilihan yang utama memerlukan persetujuan semua orang, disinilah letak kesulitannya. Namun bagaimanapun keadilan harus ditegakkan. Jika terjadi konflik maka hakim melalui pengadilan dapat memutuskan keadilan yang paling asali. Pengadilan sebagai pelaksanana kekuasaan kehakiman harus berkarakter independen, tidak memihak dan tidak diintervensi oleh kekuasaan eksekutif maupun kekuasaan legislative. Karakater independen ini merupakan kosekuensi pemisahan kekuasaan ajaran Montesquieu.

35 36

Ibid., p. 12 Ibid.,p. 14

24 C. Amir Pencari Keadilan Silogisme yang ketiga, primisa mayor yang adalah setiap manusia adalah pencari keadilan, primisa minor adalah amir pencari keadilan, conclusion adalah amir pencari keadilan, conclusion inilah yang dijadikan subtitle. Amir adalah orang yang mencari keadilan, pernyataan ini menimbulkan pertanyaan apa itu orang, apakah orang merupakan konsep hukum atau bukan, kalau merupakan konsep hukum maka apa implikasinya terhadap hukum, apakah orang itu subyek hukum atau bukan. Apakah subyek hukum itu, apa hubungannya dengan kewajiban hukum dan hak hukum. Ini merupakan pertanyaan filsafat hukum. Orang adalah subyek hukum, artinya subyek yang mengemban hak dan kewajiban. Konsep subyek hukum merupakan konsep umum yang digunakan dalam hukum positif yang berkaitan erat dengan konsep kewajiban dan hak.37 Konsep subyek hukum menurut definisinya adalah orang yang menjadi subyek kewajiban dan hak, subyek hukum memiliki kewajibankewajiban dan hak-hak menurut hukum, dalam hal ini menyatakan:38 thus, the legal person , as ordinarily understood, also has its legal duties and rights in this same sense. The legal person is the legal substance to wich duties and rights belong as legas qualities. The idea that the person has duties and rights involves the relation of substance and quality Jadi subyek hukum itu berkaitan dengan hubungan antara substansi dan kualitas, sehingga subyek hukum dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni pribadi dalam pengertian fisik (orang) dan pribadi dalam pengertian hukum, yang dikenal dengan badan hukum. Hans Kelsen

37 38

Hans Kelsen, op.cit., p. 93 Ibid.

25 Seorang pribadi adalah seorang manusia yang dianggap sebagai subyek dari kewajiban dan hak, dengan kata lain seorang pribadi adalah seorang manusia yang dianggap sebagai subyek dari kewajiban dan hak. Jika amir adalah subyek dari kewajiban tertentu atau mempunyai suatu kewajiban tertentu berarti tindakan tertentu dari amir adalah isi dari suatu kewajiban hukum. Jika amir adalah subyek dari suatu hak tertentu atau mempunyai hak tertentu, ini berarti bahwa tindakan tertentu amir adalah obyek dari suatu hak. Intinya adalah bahwa tindakan tertentu dari seorang manusia adalah isi dari suatu norma hukum. Norma hukum ini menentukan hanya suatu tindakan atau penghindaran tindakan tertentu dari seseorang, bukan secara keseluruhan, dalam hal ini Hans Kelsen menyatakan bahwa even the total legal order never determines the whole existence of a human being subject to the order , or affects all his mental and bodily functions.39 Orang sebagai subyek hukum hanya berkenaan dengan tindakantindakan dan penghindaran tindakan-tindakan yang spesifik sepanjang tindakannya masuk dalam isi hukum, sehingga dikualifikasikan sebagai kewajiban dan hak dalam hukum yang relevan dengan konsep subyek hukum. Orang sebagai subyek hukum sepanjang mempunya kewajiban dan hak, jika kewajiban dan hak terpisah dengan orang, maka orang itu tidak memiliki eksistensi apapun. Orang dan manusia itu merupakan dua konsep yang berbeda, manusia adalah suatu konsep biologi dan fisiologi, merupakan konsep-konsep ilmu alam, sedangkan pribadi (orang) adalah konsep ilmu hukum, konsep tentang analisis norma-norma hukum.40 Manusia dan orang adalah dua konsep yang sangat berbeda, sehingga menimbulkan konsekuensi bahwa orang sebagai subyek kewajiban dan hak bukanlah manusia yang tindakannya merupakan isi dari kewajibankewajiban atau obyek dari hak-hak, melainkan orang adalah personifikasi dari kewajiban-kewajiban dan hak-hak, dalam hal ini Hans Kelsen secara
39 40

Ibid., p. 94. Ibid.

26 detail menyatakan bahwa: the physical (natural) person is the personification of a set legal norms wich by constituting duties and rights containing the conduct of one and the same human being regulate the conduct of this being.41 Konsep orang tidak berarti apa-apa kecuali sebagai personifikasi dari sejumlah norma hukum, manusia hanya merupakan unsur yang membentuk kesatuan dalam aneka ragam norma hukum, sehingga pernyataan bahwa orang adalah manusia merupakan hal salah, karena apa yang berlaku bagi manusia yang disebut sebagai orang sama sekali tidak berlaku bagi orang. Pernyataan bahwa seorang manusia mempunyai kewajiban dan hak berarti bahwa norma hukum mengatur perbuatan manusia menurut suatu cara tertentu. Pada pihak lain, pernyataan bahwa orang mempunyai kewajiban dan hak sama sekali tidak mengandung suatu pengertian atau tanpa makna, ini berarti bahwa seperangkat kewajiban dan hak yang kesatuannya dipersonifikasikan dengan konsep orang mempunyai kewajiban dan hak. Hukum membebankan kewajiban dan memberikan hak kepada manusia, ini lebih bermakna daripada dinyatakan bahwa hukum membebankan kewajiban dan hak kepada orang, ini berarti bahwa hukum membebankan kewajiban pada kewajiabn dan memberikan hak kepada hak. Hal ini ditegaskan oleh Hans Kelsen bahwa: Only upon human beings-and not upon persons-can duties be imposed and rigt conferred, since only the behavior of human being can be contents of legal norms. The identification of man and physical (natural) person has the dangerous effect of obscuring this principle wich is fundamental to a jurisprudence free of fictions42 Jadi, orang bukan realitas alami melainkan suatu konstruksi pemikiran hukum. Orang adalah konsep pembantu yang dapat digunakan dalam menggambarkan fenomena hukum tertentu.

41 42

Ibid, p. 94-95. Ibid., p. 96

27 D. Penetapan Ganti Rugi adalah Kebenaran. Silogisme yang ke empat, primisa mayor: setiap putusan pengadilan adalah kebenaran, primisa minor : penetapan ganti rugi adalah putusan pengadilan, conclusio : penetapan ganti rugi adalah kebenaran, conclusio ini yang dijadikan sub bab. Jika seseorang menagih kepada orang lain supaya memberikan atau melakukan atau melengkapi sesuatu untuk keuntungan dirinya, maka hal ini masuk dalam satu ikatan atau hubungan hak dan hukum antara dua orang, ini berarti bahwa seseorang menurut keadilan dan hukum boleh menagih dan yang lainnya menurut hukum dan keadilan wajib melakukannya. Situasi ini menurut ahli hukum analitis disebut hak-hak in personam43 , tetapi menurut ahli hukum Inggris dan Aremika menamakan kontrak dan perbuatan melanggar hukum sipil, dengan mempergunakan istilah kontrak dalam arti luas44. Roscoe Pound45 menggunakan konsep pertanggungjawaban untuk situasi yang didalamnya menurut hukum seseorang boleh menagih dan orang lain tunduk atas penagihan itu. Teori pertama mengenai pertanggungjawaban adalah mengenai satu kewajiban untuk menebus pembalasan dendam dari seseorang yang terhadapnya telah dilakukan sutu tindakan yang merugikan (injury), baik oleh orang yang disebut pertama itu sendiri maupun oleh sesuatu yang ada dibawah kekuasaannya, sebagaimana yang dinyatakan oleh Roscoe Pound, bahwa : so far as the beginnings of law had theories, the first theory of liability was in terms of a duty to buy off the vengeance of him to whom an injury had been done whether by oneself or by something in ones power
46

. Dasar pertanggungjawaban meliputi dua rangkap, yakni

pertanggungjawaban berdasarkan kewajiban membayar pampasan (denda) bagi tindakan kerugian yang telah dilakukan; pada pihak lain
43 44

Roscou Pound, Op.cit., p. 73. Ibid. 45 Ibid., p. 74. 46 Ibid.

28 pertangungjawaban berdasarkan pada kewajiban untuk melaksanakan janji yang diucapkan. Hubungan yang harus diurus oleh hukum bertambah banyak dan situasi yang meminta penyelesaian hukum menjadi lebih sulit, maka tidak mungkin lagi dipunyai satu kaidah yang sederhana, tertentu, dan terperinci, untuk tiap jenis perkara yang dapat dibawa ke pengadilan, dan juga tidak mungin hanya dimiliki satu bentuk tetap dan mutlak untuk transaki hukum, karena itu maka dalam hubungan transaksi komersial yang menjadi dasar bukan hanya pada sifat atau bentuk hubungan hukum akan tetapi harus dipertimbangkan tentang gagasan etik sebagaimana yang diinginkan oleh itikad baik ( good faith) dalam hubungan atau transaksi komersial sehingga memandang hukum bukan dalam pandangan mekanis semata akan tetapi mengukur segala sesuatu dengan akal dan bukan dengan kehendak sewenang-wenang saja, sehingga menurut Roscoe Pound emphasis shifted from form to substance; from the letter to the spirit and intent. The statute was thought of as but the lawmakers formulation of a principle of natural law.47 Transasksi formal adalah pedoman yang diakui oleh hukum yang menutupi satu niat hendak melakukan apa yang diminta oleh akan sehat dan itikat baikdalam suatu situasi, apabila niat dan bentuk sejalan maka orang yang berjanji harus bertanggungjawab atas apa yang dijanjikannya. Apabila bentuk yang dipakai tidak menyatakan atau melampaui niat atau merupakan hasil dari satu niat pada lhirnya saja dan bukan dari suatu niat yang sesungghunya maka orang yang menerima janji tidak harus diperkaya secara tidak aadil atas kerugian pihak yang berjanji, sematamata karean berdasarkan bentuk. Kewajiban adalah sesuatu yang diminta oleh etikat baik supaya dikerjakan bukan melakukan sesuatu menurut hurf dan tepat menurut apa yang diminta oleh huruf janaji itu, dan meskipun tidak ada janji yang dinyatakan secara tegas, mungkin ada kewajiban yang
47

Ibid., 77.

29 terkandung di dalam hubungan atau situasi atau transaksi , dipandang sebagai suatu kewajiban oleh etikat baik. Jadi, pertanggungjawaban (liability) adalah sebagai akibat dari perbuatan yang dilakukan dengan sngaja, baik dalam bentuk penyerngan maupun dalam bentuk persetujuan, sumber pertanggungjawaban adalah delik dan kontrak, atau gabungan keduanya.48 Konsep pertanggungjawaban ini, semula merupakan konsep yang berdasarkan kepada niat sebagai bentuk metafisik daripada dalam bentuk etik. Hukum dianggap sebagai satu perwujudan dari gagasan kebebasan dan diadakan untuk memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada setiap orang, oleh karena itu maka tugas hukum adalah memberikan ruang yang sebeasbesanya terhadap kehendak yang dinyatakan, dan tidak memikulkan kewajiban kecuali untuk mencapai kehendak itu, atau untuk mengukurkan kehendak seseorang dengan kehendak orang lain dengan satu hukum yang universal, dalam hal ini Roscoe Pound secara detail menyatakan:49 In the nineteenth century the conception of liability as resting on intention was put in metaphysical raher than ethical form. Law was a realization of the idea of liberty, and existed to bring about the widest possible individual liberty. Liberty was the free will an action. Hence it was the business of the legal order to give the widest effect to the declared will and to impose no duties except in order to effectuate the will or to reconcile the will of one with the will of others by a universal law. Apa yang dulunya merupakan satu teori positif tentang pertanggungjaaban yang berkembang berdasarkan niat, kemudian menjadi satu teori negatif, yang membatasi, yang dapat dikatakan satu teori yang memangkas tentang tidak adanya pertanggungjawaban kecuali atas dasar niat. Pertanggungjawaban hanya diakibatkan oleh kelalaian atau oleh apa yang dianggap kewajiban. Kehendak perseorang yang abstrak adalah titik tengah di dalam teori pertanggungjawaban. Jika seseorang sesungguhnya
48 49

Ibid., p. 78 Ibid., p. 79

30 tidak bersalah , karena lala, namun perintah hukum yang telah ditetapkan dan tidak dapat dibantah dan menganggapnya bertanggungjawab , maka ia dianggap bersalah dan pertangungjawaban hukum historis yang menjadi bukti kelaliannya. Jika sesungguhnya ia tidak memikul suatu kewajiban, namun perintah hukum yang sudah ditetapkan dan tidak terbantah , menganggapnya bertanggungjawab atas kejadian itu, maka seharusnyalah begitu karena ia telah menrima suatu hubungan atau memegang suatu jabatan yang didalamnya satu janji mengenai hal itu dipahamkan, atau ia telah mengambil bagian dalam suatu situasi yang didalmnya dipahamkan ada kewajibannya.

E.

Penetapan Denda adalah Keadilan. Silogisme yang kelima, primisa mayor : setiap pengadilan adalah

keadilan, primisa minor : penetapan denda adalah putusan pengadilan, conclusio: penetapan denda adalah keadilan, conlusio ini dijadikan subtitle. Pembahasan subbab ini berkaitan dengan bab keempat karena beranjak dari persoalan dasar hak dan kewajiban, yang implikasinya adalah pertanggungjawaban (liability). Penekanan pembahasan pada sub bab ini diletakkan pada keadilan dan manusia. Memahami esensi dan prinsip-prinsip keadilan sangat penting melakukan penjelajahan terhadap keadaan dan peristiwa serta pemikiran dalam lintasan masa. Perlintasan masa pemikiran keadilan tercermin dari mashab-mashab berkenaan dengan hukum, yakni mashab hukum alam, mashab positivism dan mashab realism. Manusia sebagai mahluk sosial juga sebagai mahluk psykis. Demokritos50 mengungkapkan bahwa ideal tertinggi dalam hidup manusia adalah euthymia, keadaan batin yang sempurna. Ideal ini tercapai dengan melakukan upaya secara seimbang
50

K. Bertens, Op.cit, h. 65.

31 semua faktor dalam hidup, kesenangan dan kesusahan, kenikmatan dan pantang. Kesenangan adalah ukuran bagi tingkah laku manusia. Sebaliknya manusia mengatur hidupnya demikian rupa, sehingga ia mengalami kesenangan sebanyak mungkin dan kesusahan sedikit mungkin. Protagoras51 menuturkan bahwa manusia adalah ukuran untuk segala-galanya. Dalam pendirian relativisme-nya, ia menyatakan bahwa kebenaran sebagai tergantung pada manusia. Sokrates mengandaikan bahwa keadilan sebagai keutamaan mempunyai suatu hakekat yang tetap. Hakekat yang tetap tersebut tidak menjadi sesuatu berdiri sendiri namun hanya bersifat sebagai idea.52 Keutamaan yang membuat manusia menjadi seorang manusia yang baik, harus dianggap sebagai pengetahuan. Seorang yang mempunyai keutamaan sudah tahu apakah yang baik dan hidup baik. Keutamaan sebagai pengatahuan tentang yang baik tentu merupakan pengetahuan yang menyeluruh dan dapat diajarkan. Yang baik mempunyai nilai yang sama bagi semua manusia. Keutamaan selalu berdasar pengertian yang sama melalui etika.53 Para Stoa hingga Grotius dan filsuf-filsuf dari abad kedelapan belas, menyatakan prinsip-prinsip keadilan, seperti prinsip pacta sunt servanda, atau dalil-dalil yang lebih kontroversial, seperti hak milik atau untuk memuja, sebagai prinsip-prinsip umum, karena dipercaya bahwa alam mengandung prinsip-prinsip umum tentang akal, yakni prinsipprinsip yang mengatur perbuatan manusia dalam arti tertentu.54 Dalam hal ini For Plato the microcosm of the just man is areflection of the pattern of the justice. He therefoe seeks to arrive at the meaning of justice by depicting what a just society, conceived as an ideal society, whether attainable on this earth or not, moght be like. For plato thonks justice applies to objects as well as people- has its proper sphere and that justice means conforming to that sphere.55
Ibid, h. 70. Ibid, h. 88. 53 Ibid, h. 90-92. 54 W. Friedman, Teori dan Filsafat hukum Telaah kritis atas Teori-Teori Hukum (susunan I), Penerjemah Muhamad Arifin, Raja Grafindo Utama, Jakarta, 1993, h. 119. 55 Plato, in Dennis Lloyd, The Idea of Law, Penguin Books, England, 197, p. 118.
52 51

32

Aristoteles memformulasikan beberapa konsep tentang keadilan, yaitu antara keadilan distributive dan keadilan korektif atau remedial; keadilan menurut hukum dan keadilan menurut alam; serta keadilan abstrak dan kepatutan.56 Keadilan distributif mengacu kepada pembagian barang dan jasa kepada setiap orang sesuai dengan kedudukannya dalam masyarakat; dan perlakukan yang sama terhadap kesederajatan di hadapan hukum (equality before the law). Titik beratnya terletak pada kenyataan fundamental. Keadilan tersebut untuk hukum positip, untuk menjelaskan siapa-siapa yang sederajat dalam hukum, diperlukan prinsip-prinsip politik dan etika tertentu.57 Keadilan korektif merupakan ukuran teknis dari prinsip-prinsip yang mengatur penerapan hukum. Dalam mengatur hubungan-hubungan hukum harus ditemukan suatu standar yang umum hubungan-hubungan hukum harus ditemukan suatu atandar yang umum untuk memperbaiki setiap akibat dari setiap tindakan, tanpa memperhatikan pelakunya, dan tujuan dari perilaku-perilaku dan objek-objek tersebut harus diukur melalui suatu ukuran yang objektif. Hukuman harus memperbaiki kejahatan, ganti rugi harus memperbaiki kerugian masyarakat, ganti rugi harus memulihkan keuntungan yang tidak sah.58 Keadilan menurut hukum mendapat kekuasaannya dari apa yang ditetapkan sebagai hukum, apakah adil atau tidak.59 Keadilan menurut alam mendapatkan kekuasaannya dari apa yang menjadi sifat dasar manusia, yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.60 Keadilan abstrak, dimana hukum harus menyamaratakan dan banyak memerlukan kekerasan dalam penerapannya terjadap masalah individu. Kepatutan mengurangi
56 57

W. Friedman, Op.cit, h. 10-11. Ibid, h. 10. 58 Ibid. 59 Ibid, h. 11. 60 Ibid.

33 dan menguji kekerasan tersebut, dengan mempertimbangkan hal yang bersifat individual.61 Dasar hukum alam terdapat dalam diri manusia sendiri. Manusia memiliki kemampuan untuk mengerti segala-galanya secara rasional melalui pemikirannya. Manusia dapat menyusun daftar hukum alam dengan menggunakan prinsip-prinsip a priori yang dapat diterima secara umum. Hukum alam merupakan hukum yang berlaku secara nyata sama seperti hukum positif. Tuhan adalah pencipta alam semesta, oleh karena itu secara tidak langsung Tuhan merupakan dasar hukum alam. Hak-hak alam yang ada pada manusia adalah hak untuk berkuasa atas diri sendiri, yakni hak atas kebebasan, hak untuk berkuasa atas orang lain, hak untuk berkuasa sebagai majikan; hak untuk berkuasa atas milik dan barangbarang. Akal budi merupakan kemampuan yang secara hakiki terbuka bagi manusia. Akal budi dapat dianggap sebagai keterbukaan yang tak terhingga atau sebagai cakrawala tak terhingga, tetapi karena cakrawala tak terhingga, manusia menangkap objek tak terhingga sebagai terhingga. Pandangan yang membahagiakan adalah tujuan akhir segenap orang, sebagai manusia. Kualitas manusia ditentukan oleh kehendaknya, bukan tindakan lahiriah yang menentukan orang baik atau buruk dalam arti moral melainkan sebagai ungkapan kehendak. Manusia memilih antara baik dan buruk, perbuatan baik mengarahkan kepada tujuan akhir, perbuatan buruk menjauhkan daripadanya. Kebebasan merupakam akal budi, sehingga merupakan kemampuan kognitif manusia yang terbuka kepada yang tak terhingga begitu pula kehendak adalah dorongan manusia yang mengarah kepada yang baik, yaitu nilai yang tak terhingga.62Namun demikian keadilan merupakan suatu masalah yang substansial dalam hukum. Tujuan hukum adalah untuk mencari keadilan yang hakiki dari suatu permasalahan yang memperdebatkan keadilan itu sendiri. Secara
61 62

Ibid. Ibid.

34 sederhana, keadilan dapat diartikan tidak berat sebelah, tidak merugikan salah satu pihak, keadilan adalah suatu situasi dimana masing-masing pihak merasa puas dengan apa yang telah diputuskan oleh hukum. Keadilan menurut alam mendapatkan kekuasaannya dari apa yang menjadi sifat dasar manusia, yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.63 Dalam hal ini, Dennis Lloyd, menyatakan Justice cannot mean that we are to treat everyone alike regardless of individual differences, for this would require us, for instance, to condemn to the same punishment everyone who has killedanother person, regardless of suchfactors as the mental incapacity or infacy of the accused. What this formal principle really means is that like shall be treated as like, so that everyone who is classified as belonging to the same category, for a particular purpose, is to be treated in the same way.64 Kewajiban mentaati hukum karena essensi keadilan. Keadilan dipandang sebagai keutamaan umum pula merupakan keutamaan moral. Keadilan menentukan hubungan seyogyanya antara sesama manusia secara baik, dan norma hokum alam dipandang sebagai dimensi keadilan.

F. Sertifikat Tanah adalah Alat Bukti Silogisme ke enam, primisa mayor : setiap akta otentik adalah alat bukti, primisa minor : sertifikat tanah adalah akta otentik, conclusio : sertifikat tanah adalah alat bukti, conclusio ini dijadikan judul subbab. Dugaan bahwa penerapan hukum oleh pengadilan merupakan suatu proses mekanis dan hanya satu fase berupa interpretasi merupakan usaha untuk menghindari penyelenggaraan peradilan yang terlalu bersifat pribadi (over personal), hakim hanya menafsirkan saja tetapi tidak dianggap membuat undang-undang. Alat-alat bukti yang diajukan ke pengadilan dicocokan dengan kaidah hukum yang terdapat dalam undangundang, jika cocok atau sesuai maka pihak yang mempunyai alat bukti
63 64

W. Friedmann, Op.cit, h. 11. Dennis Lloyd, Op.cit, p. 119-120.

35 yang cocok atau sesuai dimenangkan, jika merupakan perkara pidana maka terdakwa dinyatakan bersalah sehingga dijatuhi hukum penjara. Kegiatan mencocokan itu merupakan langkah-langkah penafsiran yang dilakukan oleh hakim, sehingga dapat menerapkan undang-undang. Di alam pemikiran hukum Anglo-American, diakui bahwa pengadilan harus menafsirkan supaya dapat menerapkan undang-undang, tetapi menafsirkan undang-undang dianggap sama sekali tidak membuat undang-undang, dan menerapan hukum dianggap sama sekali tidak menyangkut suatu unsur administrasi (pembuatan undang-undang) dan proses menafsirkan secara keseluruhannya adalah mekanis, secara detail Roscoe Pound, menyatakan bahwa It was admitted in anglo-American legal thinking that court must interpret in order to apply. But the interpretation was taken not to involve any administrative element and tobe wholly mechanical65. Di Eropa Kontinental,66 terdapat anggapan bahwa penafsiran yang dapat dijadikan kaidah hukum yang mengikat bagi perkara di masa depan adalah merupakan kewenangan pembuat undang-undang. Namun disadari ternyata penggunaan interpretasi sungguh merupakan suatu proses penciptaan undang-undang, mengadakan satu hukum baru yang tidak ada kaidah atau tidak ada kaidah yang memadai untuk diterapkan. Salah satu asas hukum yang menyatakan bahwa hakim tidak boleh menolak suatu perkara dengan alasan tidak ada aturan hukumnya atau hukum yang mengatur tidak jelas, maka penafsiran merupakan solusinya. Hakim dapat mengetahui bahwa suatu perkara terdapat kaidah hukum atau tidak ada kaidah hukum jika telah melakukan pengamatan dan penilaian terhadap alat bukti. Kerapkali dalam menangani perkara tidak ada satupun ketentuan undang-undang yang cukup untuk menyelesaikan suatu perkara, dengan interpretasi hakim dapat menemukan kaidah hukum baru. Hakim dalam memeriksa setiap perkara harus sampai kepada putusannya, walaupun kebenaran peristiwa yang dicari itu belum tentu
65 66

Roscoe Pound, op.cit., p.49 Ibid.

36 ditemukan. Benar tidaknya sesuatu peristiwa yang disengketakan sangat bergantung kepada hasil pembuktian yang dilakukan para pihak di persidangan. Oleh karena itu, kebenaran yang dicari di dalam hukum acara perdata sifatnya relatif. Pembuktian dalam arti yuridis tidak dimaksudkan untuk mencari kebenaran yang mutlak. Hal ini disebabkan karena alat-alat bukti, baik berupa pengakuan, kesaksian, atau surat-surat, yang diajukan para pihak yang bersengketa kemungkinan tidak benar, palsu atau dipalsukan. Padahal hakim dalam memeriksa setiap perkara yang diajukan kepadanya harus memberikan keputusan yang dapat diterima kedua belah pihak. Berkaitan dengan masalah pembuktian ini, Sudikno

Mertokusumo, mengemukakan antara lain: "...Pada hakikatnya membuktikan dalam arti yuridis berarti member dasar-dasar yang cukup kepada hakim yang memeriksa perkara yang bersangkutan guna memberi kepastian tentang kebenaran peristiwa yang diajukan oleh para pihak di persidangan....67 Memberikan dasar yang cukup kepada hakim berarti memberikan landasan yang benar bagi kesimpulan yang kelak akan diambil oleh hakim setelah keseluruhan proses pemeriksaan selesai. Putusan yang akan dijatuhkan oleh hakim diharapkan akan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya telah terjadi. Di dalam hukum acara, kepastian akan kebenaran peristiwa sangat tergantung kepada kebenaran itu baru dikatakan ada atau tercapai apabila terdapat kesesuaian antara penilaian hakim dengan peristiwa yang telah terjadi. Sedangkan apabila yang terjadi justru sebaliknya, berarti kebenaran itu tidak tercapai. Setelah pemeriksaan suatu perkara di persidangan dianggap selesai dan para pihak tidak mengajukan bukti-bukti lain, maka hakim akan memberikan putusannya. Putusan yang dijatuhkan diupayakan agar tepat dan tuntas. Secara objektif putusan yang tepat dan
Sudikno Mertokusumo, Jogyakarta, 1988, hal. 107
67

Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty,

37 tuntas berarti bahwa putusan tersebut akan diterima oleh para pihak.

Putusan pengadilan semacam itu penting sekali, khususnya untuk kepercayaan masyarakat kepada lembaga peradilan. Oleh karena itu hakim dalam menjatuhkan putusan akan selalu berusaha agar putusannya kelak seberapa mungkin dapat diterima oleh masyarakat, dan akan berusaha agar lingkungan orang yang akan dapat menerima putusannya itu seluas mungkin. Apabila harapan itu terpenuhi, maka dapat diketahui dari indikatornya antara lain masing-masing pihak menerima putusan tersebut dengan senang hati dan tidak menggunakan upaya hukum selanjutnya (banding maupun kasasi). Seandainya mereka masih menggunakan upayaupaya hukum banding dan kasasi, itu berarti mereka masih belum dapat menerima putusan tersebut secara suka rela sepenuhnya. Digunakannya hak-hak para pihak berupa upaya hukum banding dan kasasi, bukan berarti bahwa putusan peradilan tingkat pertama itu keliru. Secara yuridis,setiap putusan itu harus dianggap benar sebelum ada pembatalan oleh pengadilan yang lebih tinggi (asas res judicata pro veritate habetur). Ketentuan ini dimaksudkan untuk menjamin adanya kepastian hukum, bukan berarti kebenaran peristiwa yang bersangkutan telah tercapai dan persengketaan telah terselesaikan sepenuhnya dengan sempurna, akan tetapi secara formal harus diterima bahwa dengan dijatuhkannya suatu putusan oleh hakim atas suatu sengketa tertentu antara para pihak, berarti untuk sementara sengketa yang bersangkutan telah selesai.Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa di dalam proses perkara perdata yang dicari oleh hakim adalah kebenaran. Untuk merealisasikan hal tersebut, hakim tidak boleh mengabaikan apapun yang ditemukan para pihak yang berperkara. Dalam kondisi seperti ini nyata sekali bahwa dalam perkara perdata hakim bersifat pasif, artinya ruang lingkup atau luas pokok sengketa yang diajukan kepada hakim untuk diperiksa pada asasnya ditentukan oleh para pihak yang berperkara dan bukan oleh hakim. Hakim hanya membantu para pencari keadilan dan

38 berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk dapat tercapainya peradilan yang sederhana,cepat, dan biaya ringan. Hakim dalam mengadili sengketa, hanya memeriksa apa yang ditemukan para pihak sebagai usaha membenarkan dalil gugatan atau bantahannya. Inisiatif beracara datangnya dari para pihak yang bersangkutan. Hakim hanya mempunyai kebebasan untuk menilai sejauhmana yang dituntut oleh pihak-pihak tersebut. Akan tetapi sudah barang tentu hakim tidak sematamata bergantung kepada apa yang dikemukakan para pihak, akan tetapi hakim mempunyai kewajiban untuk menilai sejauhmana kebenaran peristiwa-peristiwa itu, sehingga apa yang dikemukakan para pihak tersebut akan dapat membentu hakim untuk memberikan pertimbangan dalam menjatuhkan putusannya. Dalam menyelesaikan setiap sengketa yang diajukan kepadanya, hakim memerlukan pembuktian terhadap peristiwa yang diajukan para pihak. Membuktikan dalam arti yuridis tidak lain berarti memberi dasardasar yang cukup kepada hakim yang memeriksa perkara yang bersangkutan guna memberi kepastian tentang kebenaran peristiwa yang diajukan.68 Menurut sifatnya alat bukti dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: pertama, bukti yang berasal dari diri para pihak (pengakuan dan sumpah). kedua, alat-alat bukti yang berasal dari luar diri para pihak (surat-surat, persangkaan hakim,dan keterangan para saksi). Alat bukti yang berasal dari diri para pihak dan diberikan berdasarkan atas kejujuran maka dapat dianggap terbukti sebagai suatu peristiwa tertentu. Sedangkan alat bukti yang berasal dari luar para pihak kadang-kadang masih perlu didukung oleh alat-alat bukti lain, terutama apabila peristiwanya tidak dapat dianggap terbukti. Umpamanya saja, hanya terdapat satu orang saksi. Padahal diketahui dari adagium bahwa "satu saksi itu bukan saksi" (Unus testis nullus testis). Keterangan seorang saksi tidak dianggap sebagai suatu kesaksian yang kuat di dalam hukum. Hal itu terutama untuk menghindari adanya kelemahan-kelemahan yang terkandung di dalam
68

Ibid.

39 kesaksian itu. Kelemahan yang dimaksud, baik yang berasal dari iktikad buruk orang yang memberi kesaksian itu maupun kelamahan yang tidak disengaja. Sebagai contoh umpamanya, diajukan saksi seseorang yang kurang ingatannya, atau dapat juga saksi yang keterangannya diperoleh dari orang lain (kesaksian de auditu). Demikian pula halnya dengan alat bukti surat yang

kemungkinannya masih harus dibebani dengan alat bukti lain, jika peristiwanya masih belum dianggap terbukti. Ukuran perbedaan kekuatan sebagai alat bukti adalah karena besar atau kecilnya kemungkinan mendekati kepada kebenaran. Akta otentik umpamanya, lebih besar kemungkinan mendekati kepada kebenaran, karena telah dikuatkan oleh pejabat yang berwenang. Oleh karena itu barangsiapa yang mengajukan akta otentik sebagai alat bukti di persidangan, maka akta otentik tersebut mempunyai kekuatan bukti yang sempurna. Sebagai kon sekuensinya, barangsiapa yang membantah keabsahan dari akta otentik itu harus membuktikan bahwa akta tersebut tidak benar. Sebaliknya, menyangkut akta di bawah tangan, jika akta di bawah tangan dibantah kebenarannya, maka barangsiapa yang mengajukan akta di bawah tangan tersebut sebagai alat bukti, maka yang bersangkutan harus mebuktikan kebenarannya. Kemudian menyangkut masalah bukti persangkaan hakim, untuk alat bukti ini masih memerlukan adanya bukti-bukti lain. Ini disebabkan persangkaan hakim itu timbul berdasarkan adanya bukti atau dalil-dalil lain yang diajukan para pihak. Disamping pengertian akta sebagai surat yang sengaja dibuat untuk dipakai sebagai alat bukti, dalam peraturan undang-undang sering kita jumpai perkataan akta yang maksudnya sama sekali bukanlah surat melainkan perbuatan. Jadi dapatlah disimpulkan yang dimaksud dengan akta adalah: 1. Perbuatan hukum dalam pengertian luas 2. Suatu tulisan yang dibuat untuk dipakai atau digunakan sebagai bukti perbuatan hukum tersebut, yaitu berupa tulisan yang ditujukan kepada pembuktian sesuatu.

40 Sehubungan dengan adanya dualisme pengertian akta ini dalam perundang-undangan, maka akta yang sengaja dibuat dan diperuntukkan sebagai alat bukti.. Menurut sistem hukum acara , hakim terikat dengan alat-alat bukti sah yang diatur oleh undang-undang. Surat merupakan alat bukti tertulis yang memuat tulisan untuk menyatakan pikiran seseorang sebagai alat bukti, dalam hukum acara , diatur tentang permulaan bukti tertulis bahwa dalam segala hal dimana oleh undang-undang diperintahkan suatu pembuktian dengan tulisan-tulisan namun itu jika ada suatu permulaan pembuktian dengan tulisan diperkenankanlah pembuktian dengan saksisaksi, kecuali apabila tiap pembuktian lain dikecualikan selain dengan tulisan yang dinamakan permulaan pembuktian dengan tulisan ialah aturan tertulis. Akta otentik dibagi lagi menjadi dua macam yaitu: 1). akta yang dibuat oleh pejabat (acta ambtelijk, process verbal acte), ialah akta yang dibuat oleh pejabat yang berwenang untuk itu karena jabatannya tanpa campur tangan pihak lain, dengan mana pejabat tersebut menerangkan apa yang dilihat, didengar serta apa yang dilakukannya. 2). akta yang dibuat dihadapan pejabat (partij acte), ialah akta yang dibuat oleh para pihak dihadapan para pejabat yang berwenang untuk itu atas kehendak para pihak, dimana pejabat tersebut menerangkan juga apa yang dilihat, didengar dan dilakukannya. Akta tidak otentik yang sering disebut akta dibawah tangan. Kata-kata dibawah tangan adalah terjemahan harfiyah dari bahasa aslinya bahasa belanda yaitu onderhandsh acte . Dikatakan akta tidak otentik karena tidak dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang berwenang untuk itu, melainkan dibuat sendiri oleh pihak yang berkepentingan dengan tujuan dijadikan alat bukti. Perbedaan akta otentik dan askta dibawah tangan yaitu, bahwa kata otentik merupakan suatu akta yang sempurna, sehingga mempunyai bukti baik secara formiil maupun materiil. Kekuatan pembuktiannya telah melekat pada akta itu secara

41 sempurna. Jadi bagi hakim ia merupakan bukti sempurna sedang akta dibawah tangan baru mempunyai bukti materil jika telah dibuktikawn kekuatan formiilnya dan kekuatan formiilnya baru terjadi setelah pihak yang bersangkutan mengakui akan kebenaran isi dan cara pembuatan akta tersebut, dan bagi hakim merupakan bukti bebas.dan akta otentik mesti terdaftar pada register untuk itu dan tersimpan sehingga kemungkinan hilangnya akta sangat kecil sedangkan akta dibawah tangn tidak terdaftar, sehingga kemungkinan hilangnya lebih besar. Pada hakikatnya kekuatan pembuktian dibedakan atas tiga macam , yaitu : 1). Kekuatan pembuktian lahir, ialah kekuatan pembuktian yang didasarkan atas keadaan lahir dari akta itu, maksudnya bahwa suatu surat yang kelihatannya seperti akta, harus diperlakukan sebagai akta, sampai dibuktikan sebaliknya. Akta otentik mempumyai kekuatan lahir sesuai dengan asas akta publica probant seseipsa yang berarti bahwa suatu akta yang lahirnya tampak sebagai akta otentik, serta memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, maka akta itu harus dianggap sebagai akta otentik, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya, bila syarat-syarat formal diragukan kebenarannya oleh pihak lawan, dia dapat meminta kepada pengadilan untuk meneliti kata tersebut berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan oleh fihak lawan. Kemudian majlis hakim memutuskan apakah akta otentik itu boleh digunakan sebagai bukti atau tidak dalam perkara. 2). Kekuatan pembuktian formiil, bahwa apa yang disebutkan didalam suatu akta itu memang benar apa yang diterangkan oleh pihak-pihak yang bersangkutan, artinya pejabat dan pihak-pihak yang berkepentingan menerangkan dan melakukan seperti disebutkan dalam akta dan benar demikian adanya. Jadi formalitas yang ditentukan undang-undang benarbenar dipenuhi, namun suatu ketika mungkin juga ada fihak yang meragukan kebenarannya bila akta itu dijadikan bukti dalam perkara misalnya saja dalam akta otentik dikatakan bahwa penyerahan barang dilakukan dirumah dalam keadaan baik, padahal sebenarnya bukan

42 diserahkan dirumah melainkan disuatu tempat lain dan dalam keadaan baik padahal sebenarnya bukan diserahkan dirumah melainkan ditempat lain dan alam keadaan baik, ketika dibawa kerumah terjadi kerusakan,dalam akta otentik pejabat menerangkan bahwa barang diserahkan dirumah dalam keadaan baik, ketrerangan hanya bersifat formlitas belaka, keadaan demikian prlu dipertimbangkan oleh majelis hakim apakah akta itu dapat dijadikan bukti atau tidak. 3). Kekuatan pembuktian materiil, bahwa apa yang dimuat dalam akta itu memang benar dan memang sungguh-sungguh terjadi antara para pihak. (jadi tidak hanya diucapkan saja oleh para pihak,tapi juga memang sungguh-sungguh terjadi). G. Amir adalah saksi Silogisme yang ketujuh, primisa mayor : setiap orang adalah saksi, primisa minor : amir adalah orang, conclusio : amir adalah saksi, conclusio ini dijadikan judul sub bab. Pembahasan sub bab ini dijadikan satu dengan pembahasan silogisme ketiga dan keenam, karena secara filsafat termasuk dalam ruanglingkup subyek hukum dan hak serta kewajiban hukum, namun ada beberapa tambahan pembahasan khusus mengenai saksi. Esensi alat bukti saksi adalah secara umum setiap peristiwa dapat dibuktikan dengan kesaksian, kecuali tegas-tegas undang-undang menentukan lain. Kesaksian tentunya dapat dilakukan oleh semua orang yang telah dewasa dan cakap untuk melakukan perbuatan hukum dapat menjadi saksi dan bahkan diwajibkan memberi kesaksian apabila diminta.Yang wajib menyediakan saksi adalah para pihak yang berperkara, karena yang harus meyakinkan tentang kebenaran adalah para pihak yang berperkara. Saksi adalah orang yang didengar keterangannya untuk meneguhkan dalil pihak-pihak yang berperkara. Setiap orang yang cakap hukum dapat menjadi saksi dan menjadi kewajiban hukum untuk melakukan sebagai saksi. Karena begitu pentinya saksi maka apabila seseorang tidak memenuhi kewajibannya sebagai saksi, undang-undang

43 mengancam dengan sanksi. Kesaksian adalah kepastian yang diberikan kepada hakim tentang peristiwa yang disengketakan oleh orang yang bukan salah satu pihak dalam perkara. Kesaksian merupakan ungkapan faktual yang terjadi tentang fakta yang sebenarnya yang diketahui orang lain. Keterangan yang diberikan oleh saksi harus tentang peristiwa atau kejadian yang dialami sendiri, sedangkan pendapat atau dugaan yang diperoleh secara berfikir tidaklah merupakan kesaksian. Disinilah letak perbedaan antara keterangan yang diberikan oleh saksi dan ahli, seorang saksi dipanggil di muka sidang untuk memberikan keterangan untuk menjelaskan peristiwanya, sedangkan seorang ahli dipanggil untuk membnatu hakim dalam mmenilai peristiwanya. Keterangan saksi harus diberitahukan sendiri dan tidak boleh diwakilkan. Kesaksian merupakan alat bukti karena keterangan yang diberikan kepada hakim dipersidangan berasal dari pihak ketiga yang melihat atau mengetahui sendiri peristiwa yang bersangkutan, pihak ketiga pada umumnya melihat peristiwa yang bersangkutan lebih obyektif daripada para pihak yang berkepentingan, para pihak yang berperkara pada umumnya akan mencari benarnya sendiri. Betapa pentingnya arti kesaksian sebagai alat bukti tampak dari kenyataan bahwa banyak peristiwa-peristiwa hukum yang tidak dicatat atau tidak ada alat bukti tertulisnya, oleh karenanya kesaksian merupakan satu-satunya alat bukti yang tersedia. Dalam mempertimbangkan nilai kesaksian, hakim harus

memperhatikan kesesuaian atau kecocokan antara keterangan para saksi, kesesuaian kesaksian dengan apa yang diketahui dari segi lain tentang perkara yang dipersengketakan, pertimbangan yang mungkin ada pada saksi untuk menuturkan kesaksiannya, cara hidup, adat istiadat serta martabat para saksi dan segala sesuatu yang sekiranya mempengaruhi tentang dapat tidaknya dipercayai seorng saksi. Tidaklah cukup kalau saksi hanya menerangkan bahwa ia mengetahui peristiwanya, ia harus

44 menerangkan bagaimana ia sampai dapat mengetahui, sebab musabab sampai ia mengetahui peristiwanya harus disebutkan69. Keterangan saksi yang tidak disertai dengan sebab musababnya sampai ia dapat mengetahui tidak dapat digunakan sebagai alat bukti yang sempurna. Kesaksian hanyalah diperbolehkan dalam bentuk pemberitahuan dari orang yang mengetahui dan dengan mata kepala sendiri, keterangan saksi yang bukan merupakan pengetahuan dan pengalaman sendiri tidak dapat membuktikan kebenaran persaksiannya. Keterangan seorang saksi saja tanpa alat bukti lainnya tidak dianggap sebagai pembuktian yang cukup, seorang saksi bukan saksi, unus testis nullus testis. Kekuatan pembuktian dari kesaksian seorang saksi saja tidak boleh dianggap sebagai sempurna oleh hakim. Keterangan seorang saksi saja kalau dapat dipercaya oleh hakim bersama dengan satu alat bukti lainnya baru dapat merupakan alat bukti yang sempurna, misalnya dengan persangkaan atau pengakuan tergugat. Pihak yang bersengketa tidak boleh didengar sebagai saksi, walaupun para pihak tidak dapat didengar sebagai saksi, namun dibuka kemungkinan untuk memperoleh keterangan dari para pihak dengan diteguhkan melalui sumpah yang digolongkan sebagai alat bukti. H. Surat adalah Alat Bukti Yang Kuat . Silogisme kedelapan, primisa mayor : setiap alat bukti tulisan adalah kuat, surat adalah alat bukti tulisan, conclusio : surat adalah alat bukti yang kuat, conlusio ini merupakan judul sub bab. Pembahasan silogisme yang kedelapan ini merupakan bagian dari pembahasan silogisme ke enam karena berkaitan dengan hak dan kewajiban dalam hukum, namun ada tambahan berkaitan dengan alat bukti surat. Semakin kuat bukti, maka semakin kuat pula keyakinan seorang hakim mengenai kebenaran suatu perkara. Salah satu bentuk alat bukti adalah akta. Akta atau surat yang otentik bisa dikatakan sebagai alat bukti yang paling sempurna.
69

Alat-alat bukti dalam hukum acara

adalah: a.

Sudikno Mertokusumu, op.cit., hal. 123.

45 bukti tertulis/surat b. Bukti dengan saksi c. Persangkaan d. Pengakuan e. Sumpah. Alat bukti bermacam-macam bentuk dan jenisnya, yang diajukan ke dalam persidangan untuk membenarkan dalil atau bantahan yang menggambarkan dan menjelaskan fakta sehingga menjadi alat bagi hakim untuk melakukan penilaian tentang siapa yang paling kuat pembuktiannya. Tidak semua tulisan itu menjadi alat bukti, hanya tulisan yang memenuhi syarat hukum yang merupakan alat bukti tulisan. Alat bukti yang utama dalam hukum acara adalah surat bukan saksi karena hal ini berkaitan dengan kebenaran formil yang diemban oleh pengadilan perdata. Kebenaran formil adalah kebenaran yang terungkap dalam persidangan berdasarkan butki-bukti tulisan. Salah satu alat buktu tulisan adalah surat. Dengan demikian maka surat merupakan alat bukti utama dalam perkara perdata. Surat atau tulisan secara juridis dalam kaitannya sebagai alat bukti harus memenuhi kriteria, yakni : 1) memuat tanda bacaan dalam bentuk aksara, 2) yang tersusun dalam kalimat sebagai pernyataan, 3) ditulis dalam suatu kertas atau bahan lain, 4) ditanda tangani oleh pihak yang membuatnya. Jika tulisan atau surat telah memenuhi hal tersebut maka dapat dijadikan alat bukti yang kuat. Selain itu, jika terdapat tanggal maka kekuatan pembuktian dari tulisan atau surat tersebut menjadi sempurna, namun jika tidak ada tanggalnya bukan berarti cacat sebagai alat bukti akan tetapi cacat yang melemahkan sebagai alat bukti karenadengan tidak ada tanggalnya maka sulit membuktikan atau menentukan kapan pembuatan surat atau tuloisan dimaksud sehingga member peluang kepada pihak lawan untuk menyangkal kebenarannya, sedangkan jika surat tanpa tanda tangan pihak yang membuatnya maka tidak sah sebagai alat bukti tulisan. Fungsi tanda tangan dalam suatu surat memastikan identifikasi atau menentukan tidak lain daripada kebenaran ciri-ciri

penandatangan70 dan sekaligus penandatangan menjamin kebenaran isi


Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hal. 561
70

46 yang tercantum dalam tulisan tersebut. Penandatanganan surat atau akta yang terdiri dari beberapa lembar yang sama, hanya satu saja yang pertama yang ditanda tangani secara langsung, sedangkan duplikatnya sebagai lembar kedua dan seterusnya dengan cara pemasangan karbon dibenarkan oleh hukum, sebagai alat bukti yang sempurna yang nilainya sama dengan surat yang lembar pertama.71 Cap jempol menurut hukum acara disamakan dengan tanda tangan, dengan catatan, dilegalisir oleh pejabat yang berwenang, dilegalisasi diberi tanggal, pernyataan dari pejabat yang meligalisir bahwa orang yang membubuhkan cap jempol dikenal dan diperkenalkan kepadanya, isi akta telah dijelaskan kepada yang bersangkutan, dan pembubuhan cap jempol dilakukan dihadapan pejabat tersebut.72 I. Sumpah Pocong adalah Alat Bukti . Silogisme ke sembilan, primisa mayor : setiap sumpah adalah alat bukti, primisa minor: sumpah pocong adalah sumpah, conclusio : sumpah pocong adalah alat bukti, conslusio inilah yang dijadikan subbab. Pembahasan subbab ini berkaitan dengan silogisme yang ke enam, namun terdapat beberapa tambahan khusus mengenai sumpah. Sumpah pada umumnya adalah suatu pernyataan yang khidmah yang diberikan atau diucapkan pada waktu member janji atau keterangan dengan mengingat akan sifat mahakuasa dari pada Tuhan dan percaya bahwa siapa yang member keterangan atau janji yang tidak benar akan dikhukum oleh Tuhan. Jadi pada hekekatnya sumpah merupakan tindakan yang bersifat relegius yang digunakan dalam peradilan. Sumpah terdiri dari sumpah untuk berjanji melakukan atau tidak melakukan sesuatu (sumpah promissoir), dan sumpah untuk member keterangan guna mengeneguhkan bahwa sesuatu itu benar demikian atau tidak (sumpah assertoir /confirmatoir). Dengan demikian maka keterangan saksi yang
71 72

Ibid. Yahya Harahap, op.cit., hal.562

47 diangkat atas sumpah dan keterangan ahli yang diangka atas sumpah merupakan sumpah promissoir karena sebelum memberikan kesaksian atau pendapatnya harus diucapkan pernyataan atau jani akan memberikan keterangan yang benar dan tidak lain daripada yang sebenarnya73. Sumpah sebagai alat bukti terdiri dari sumpah pelengkap (suppletoir), sumpah pemutus yang bersifat menentukan (decisoir), dan sumpah penaksir ( aestimatoir)74. Sumpah pelengkap (suppletoir) adalah sumpah yang diperintahkan oleh hakim kaena jabatannya kepada salah satu pihak untuk melengkapi pembuktian peristiwa yang menjadi sengketa sebagai dasar putusannya. Untuk dapat diperintahkan bersumpah pelengkap kepada salah satu pihak harus ada pembuktian permulaan lebih dulu, tetapi yang belum mencukupi dan tidak ada alat bukti lainnya sehingga apabila ditambah dengan sumpah pelengkap perkaranya menjadi selesai sehingga hakim dapat menjatuhkan putusan. Fungsi sumpah pelengkap ini adalah menyelesaikan perkara, maka mempunyai kekuatan pembuktian sempurna, namun masih memungkinkan adanya bukti lawan. Pihak lawan boleh membuktikan bahwa sumpah itu palsu apabila putusan yang didasarkan atas sumpah pelengkap itu telah mempunyai kekuatan huku yang pasti, maka bagi pihak yang dikalahkan membuka kemungkinan untuk mengajukan request civil. Hakim karena kewenangannya dapat memerintahkan atau

membebani sumpah pelengkap (suppletoir) kepada salah satu pihak, namun harus selalu memperhatikan ketentuan bahwa tanpa adanya bukti sama sekali hakim tidak boleh memerintahkan atau membebani sumpah pelengkap (suppletoir), demikian pula apabila ternyata alat buktinya cukup lengkap.75 Hakim mempunyai kekebasan untuk menentukan kepada siapa saja yang harus melngkapi dengan sumpah pelengkap (suppletoir), tidak perlu dipersoalkan tentang beban pembuktian, dalam hal ini yang harus
73 74

Sudikno Mertokusumo, op.cit., hal. 141 Ibid. 75 Sudikno Mertokusumu, op.cit., hal. 142

48 dipertimbangkan adalah pihak manakah yang dengan sumpah pelengkap (suppletoir) itu sekiranya akan menjamin kebenaran peristiwa yang menjadi sengketa. Pihak yang diperintahkan oleh hakim untuk bersumpah pelengkap (suppletoir) tidak boleh mengembalikan sumpah pelengkap (suppletoir) tersebut kepada lawannya, ia hanya dapat menolak atau menjalankannya. Sumpah penaksir ( aestimatoir) merupakan sumpah yang diperintahkan oleh hakim karena jabatannya kepada penggugat untuk menentukan jumlah uang ganti kerugian. Dalam praktek seringkali jumlah kerugian yang diajukan pihak yang bersangkutan sering kali simpang siur, maka soal ganti rugi harus dipastikan dengan pembuktian. Sumpah penaksiran( aestimatoir) ini barulah dapat dibebankan oleh hakim kepada penggugat apabila penggugat telah dapat membuktikan haknya atas ganti rugi kerugian itu serta jumlahnya masih belum pasti dan tidak ada cara lain untuk menentukan jumlah ganti kerugian tersebut kecuali dengan taksiran. Kekuatan pembuktian sumpah penaksiran ( aestimatoir) ini sama dengan sumpah pelengkap yakni bersifat sempurna dan masih meungkinkan pembuktian lawan. Sumpah pemutus adalah sumpah yang dibebankan atas permintaan salah satu pihak kepada lawannya. Sumpah decisoir dapat dibebankan atau diperintahkan meskipun tidak ada pembuktian sama sekali, sehingga pembebanan sumpah decisoir ini dapat dilakukan pada setiap saat selama pemeriksaan di persidangan. Inisiatif untuk membebani sumpah decisoir ini dating dari salah satu pihak dan ia pulalah yang menysusun rumusan sumpahnya. Sumpah decisoir ini dapat dibebankan mengenai segala peristiwa yang menjadi sengketa dan bukan mengenai berbagai hal pendapat tentang hukum atau hubungan hukum76, namun peristiwa itu merupakan peristiwa yang harus mengenai perbuatan yang dilakukan sendiri oleh pihak yang disuruh bersumpah. Jika perbuatan itu dilakukan
76

Sudikno Mertokusumu, op.cit., hal. 144

49 oleh kedua belah pihak dan pihak yang disuruh bersumpah tidak bersedia mengucapkan sumpah, dapat mengembalikan sumpah tersebut kepada laawannya. Kalau perbuatan yang dimintakan sumpah itu bukan merupakan perbuatan yang dilakukan bersama oleh kedua belah pihak, melainkan hanya dilakukan oleh pihak yang dibebani smpah saja maka sumpah itu tidak boleh dikembalikan. Akibat mengucapkan sumpah pemutus (decisoir ) adalah kebenaran peristiwa yang dimintakan sumpah menjadi pasti dan pihak lawan tidak boleh membuktikan bahwa sumpah itu palsu, sehingga merupakan alat bukti yang menentukan, oleh karena itu sumpah decisoir harus berkenaan dengan hal yang pokok dan bersifat tuntas atau menentukan serta menyelesaikan sengketa (litis decisoir). Menolak untuk mengucapkan sumpah decisoir akan mengakibatkan dikalahkannya. Sumpah decisoir (decisoir) dapat berbentuk sumpah pocong, sumpah mimbar atau sumpah klenteng. Dalam hal sumpah pocong yang dilakukan di Masjid, pihak yang akan mengucapkan sumpah dibungkus dengan kain kafan seakan-akan ia telah meninggal dunia. Mengucapkan sumpah pocong pada umumnya dianggap merupakan perbuatan yang berat, maka seyogyanya dalam memerintahkan sumpah pelengkap tidak perlu pihak yang bersangkutan oleh hakim diperintahkan untuk melakukan sumpah pocong, walaupun haitu diminta oleh pihak yang dibebani sumpah, karena sifat sumpah pelengkap (suppletoir ) itu melengkapi alat bukti yang ada, maka dengan mengucapkan sumpah biasa (bukan sumpah pocong) dapat dianggap telah dilengkapi alat-alat bukti yang ada. J. Pengakuan adalah Alat Bukti. Silogisme ke sepuluh, primisa mayor: setiap pengakuan adalah alat bukti, primisa minor: pernyataan tergugat adalah pengakuan, conclusi: pernyataan tergugat adalah alat bukti. Conlusio ini dijadikan judul subbab

50 dalam pembahasan ini. Silogisme ini terkait dengan silogisme yang keenam, namun disubbab ini akan diuraikan tentang pengakuan. Pengakuan di persidangan (gerechtelijke bekentenis) merupakan keterangan sepihak, baik tertulis maupun lisan yang tegas dan dinyatakan oleh salah satu pihak, yang membenarkan baik seluruhnya atau sebagian dari suatu peristiwa, hak atau hubungan hukum yang diajukan oleh lawannya, yang mengakibatkan pemeriksaan lebih lanjut oleh hakim tidak perlu lagi.77 Pengakuan merupakan pernyataan dari salah satu pihak di persidangan, yang timbul atas dorongan naluriah manusia. Naluri manusialah yang mengarahkan untuk mewujudkan cita-cita kebenaran. Pengakuan yang jujur merupakan pernyataan dari salah satu pihak untuk mengemukakan yang benar, walaupun merugikan dirinya sendiri. Pengakuan itu berarti membenarkan tentang suatu hal atau kejadian. Pengakuan yang patut dihargai adalah pengakuan yang jujur atau yang benar-benar timbul dari keinsyafan batin para pihak yang berperkara. Pengakuan yang timbul karena keinsyafan batin ini tidak diragukan lagi bahwa akan selaras dengan kebenaran, atau telah sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya telah terjadi. Untuk menentukan kebenaran terhadap suatu kejadian atau peristiwa tertentu diperlukan akal, sementara akal itu dimiliki oleh setiap orang. Akal itulah yang menjadi hakim dalam diri seseorang yang senantiasa memberikan pertimbangan dalam menjatuhkan suatu keputusan atas setiap kejadian. Faktor pikiran logis ini merupakan pendukung bagi para pihak untuk memberikan pengakuan yang jujur, sebab akal yang ada padanya dapat menentukan pilihannya, untuk melakukan yang sesuai dengan kebenaran sebagai yang diharapkan. Untuk dapat menentukan pilihannya itu maka ia berpedoman kepada kaidah-kaidah tentang apa yang harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak terjadi penggabungan antara pengakuan dan sangkalan. Akibatnya terjadi
77

Sudikno Mertokusumo, op.cit., hal. 136.

51 pengakuan yang tidak bulat, akan tetapi pada dasarnya pengakuan itu tidak dapat dipisah-pisahkan. Hal itu karena menyangkut pembuktian, sebab apabila sudah ada pengakuan tidak perlu lagi pembuktian. Hanya hal-hal yang disangkal yang memerlukan pembuktian lebih lanjut. Ilmu pengetahuan membedakan pengakuan menjadi tiga jenis pengakuan. Pertama, pengakuan murni; kedua, pengakuan dengan kualifikasi; dan ketiga, pengakuan dengan klausula. Pengakuan dengan kualifikasi bukan semata-mata sangkalan, tetapi hendak memberikan kualifikasi terhadap pengakuan. Pengakuan dengan klausula, adalah pengakuan dengan tambahan yang bersifat membebaskan. Pengakuan murni adalah pengakuan yang sesuai sepenuhnya dengan fakta atau kejadian. Salah satu pihak menyatakan sesuatu peristiwa pada pihak Pengakuan dapat lainnya, kemudian pihak ini mengakui atau membenarkan, sehingga hakim menyatakan terbukti apa yang dikemukakan. dilakukan dengan tulisan, oleh karena itu pengakuan secara tulisan ini dapat merupakan alat bukti pengakuan sekaligus alat bukti surat. Hakikat dari pengakuan secara tulisan ini memiliki dua fungsi sekaligus. Segi substansinya atau materinya termasuk kategori fungsi sebagai pengakuan, sedangkan apabila dilihat bentuknya sebagai alat bukti surat. Kedua fungsi dari pengakuan secara tulisan itu akan mempunyai kekuatan sebagai alat bukti apabila tidak dibantah oleh pihak lawan, akan tetapi apabila dibantah oleh pihak lawan, maka pihak yang memberikan pengakuan itu harus membuktikan kebenaran dari pengakuan tersebut. Jika ternyata pihak yang mengajukan pengakuan tulisan itu tidak dapat membuktikan kebenarannya, maka pengakuan tulisan itu tidak mempunyai kekuatan alat bukti, baik sebagai pengakuan maupun sebagai bukti surat. Apabila pengakuan secara tulisan yang diajukan di muka sidang itu tidak dibantah oleh pihak lawan, maka pengakuan tersebut dapat diterima sebagai alat bukti sempurna.

52 Pengakuan secara tertulis tersebut merupakan akta di bawah tangan, kekuatan pembuktiannya bersifat formal dan bersifat materiil. Kekuatan pembuktian formal menerangkan bahwa terdapat sesuatu yang diterangkan oleh penandatangan tersebut, berisikan keterangan dari orang yang menandatanganinya. Sedangkan kekuatan pembuktian materiil, memberikan kepastian tentang isi yang diterangkan di dalam akta yang bersangkutan, yang penting adalah kekuatan pembuktian materiil, karena kekuatan pembuktian materiil itu menilai apakah memang benar sesuatu yang diterangkan di dalam akta tersebut, atau sejauhmana isi keterangan tersebut sesuai dengan kebenaran. Dalam perkara perdata, jika tergugat tidak menyangkal kebenaran gugatan penggugat atau bagian-bagian tertentu dari gugatan penggugat tidak dijawab oleh tergugat, maka gugatan penggugat dianggap diakui oleh tergugat secara diam-diam. Jika tergugat mengakui gugatan penggugat seluruhnya, maka hakim harus menganggap peristiwa yang diakui itu terbukti, akan tetapi hal itu tidak berlaku bagi setiap sengketa. Dalam beberapa perkara dalam gugatan mengenai hak milik atau gugatan perceraian, di samping pengakuan tergugat masih diperlukan bukti-bukti lain. Hal itu terutama dimaksudkan untuk menghindari timbulnya pengakuan palsu di dalam gugatan mengenai hak milik. Sedangkan dalam perkara perceraian, dimaksudkan untuk mempersulit terjadinya perceraian. Oleh karena itu di dalam kedua perkara tersebut hanya dengan bukti pengakuan tidak dapat dianggap telah terbukti peristiwa yang bersangkutan. Apabila suatu perkara tidak memiliki bukti-bukti lain kecuali pengakuan tergugat dan tidak disertai sangkalan, maka pengadilan menerima pengakuan itu bukti yang sempurna. Sedangkan pengakuan yang ditulis dalam surat jawaban tergugat, kekuatan pembuktiannya disamakan sebagai pengakuan secara lisan didepan sidang. Pengakuan dengan kualifikasi adalah pengakuan yang dilakukan oleh tergugat yang disertai dengan sangkalan terhadap sebagian dari

53 tuntutan78. Di dalam pengakuan dengan kualifikasi ini tergugat

menambahkan sesuatu pada pokok gugatan, sehingga sebenarnya tergugat tidak mengakui apa pun melainkan memberikan gambaran menurut pandangannya sendiri. Berdasarkan hal di atas, pengakuan dengan kualifikasi sebenarnya adalah pengakuan dan sangkalan. Di satu pihak tergugat mengakui sebagian dari gugatan penggugat, sedangkan di lain pihak tergugat juga menyangkal sebagian lainnya dari gugatan. Terhadap pengakuan dengan kualifikasi ini, undang-undang melarang untuk memisah-misahkan pengakuan tersebut. Pengakuan semacam itu harus diterima secara bulat, dalam arti tidak boleh hanya pengakuan yang diterima sebagai terbukti sedangkan sangkalannya tidak diterima. Pengakuan dengan klausula, adalah pengakuan dari tergugat tentang hal pokok yang diajukan penggugat, akan tetapi disertai dengan keterangan tambahan yang bersifat membebaskan. Pengakuan ini pun pada hakikatnya adalah pengakuan dengan sangkalan. Akan tetapi bedanya adalah bahwa dalam pengakuan dengan. klausula ini terdapat keterangan tambahan yang sifatnya memebebaskan sebagai dasar penolakan gugatan penggugat. Sebagai contoh, pada awalnya tergugat mengakui gugatan penggugat, namun kemudian tergugat mengemukakan alasan untuk melepaskan diri dari gugatan penggugat untuk tidak memenuhinya. Hal itu biasanya dilakukan oleh tergugat karena misalnya dia telah melakukan kewajibannya berupa membayar utangnya, bahkan dia (tergugat) kini mempunyai tagihan dari penggugat. Seperti halnya pengakuan dengan kualifikasi, maka pengakuan dengan klausula pun harus diterima secara bulat dan tidak boleh dipisah-pisahkan dari keterangan tambahannya (onsplitsbare aveu). Menururt Hukum Acara perdata, tiap-tiap pengakuan harus diterima segenapnya, dan hakim tidak berwenang untuk menerima sebagiannya saja dan menolak bagian yang lain, sehingga merugikan orang yang mengakui itu, yang demikian itu hanya boleh dilakukan jika
78

Sudikno Mertokusumo, Op.cit., hal. 150

54 orang yang berhutang mempunyai maksud untuk membebaskan dirinya, menyebutkan perkara yang terbukti itu tidak benar. Berdasarkan kaidah di atas, maka dalam hal terdapat pengakuan tergugat yang disertai keterangan tambahan, maka masih diperlukan sesuatu keterangan berupa pembuktian yang harus dibebankan kepada penggugat. Dalam pengakuan dengan kualifikasi dan pengakuan dengan dengan klausula ini, apabila penggugat dapat membuktikan bahwa keterangan tambahan dari tergugat itu sesungguhnya tidak benar, maka pengakuan itu dapat dipisah-pisahkan. Pertimbangan pembentuk Undangundang dalam menentukan bahwa pengakuan tidak boleh dipisah-pisahkan terutama sekali disebabkan sukar pembebanan pembuktiannya. Untuk bagian yang berisi pengakuan tidak perlu dibuktikan lebih lanjut. Sedangkan bagian tambahan dari pengakuan masih dibebani pembuktian, yakni kepada pihak yang memberi pengakuan. Apabila ternyata pihak yang memberi pengakuan tidak sanggup membuktikannya, konsekuensinya dia akan dikalahkan. Akibatnya maka tuntutan penggugat akan dianggap terbukti dan berarti pula merugikan pihak yang memberikan pengakuan. Untuk mencegah kemungkinan hakim akan memisahkan pengakuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, pembentuk undang-undang secara tidak langsung telah mengisyaratkan bahwa tidak layak apabila tergugat yang memberi pengakuan masih harus dibebani dengan pembuktian. Dengan demikian terhadap pengakuan yang tidak boleh dipisah-pisahkan, kewajiban pembuktian dibebankan kepada penggugat. Pada hakikatnya pengakuan tergugat dengan keterangan tambahan adalah sebagai suatu penyangkalan. Akibatnya penggugat diwajibkan untuk membuktikan kebenaran gugatannya. Pada umumnya penggugat memang dapat membuktikan kebenaran gugatannya, akan tetapi apabila ternyata penggugat kebetulan tidak dapat membuktikan kebenaran gugatannya, maka ketentuan tersebut di atas sungguh merupakan aturan

55 yang merugikan penggugat, karena pada dasarnya gugatan (sebagian dari gugatan) penggugat telah diakui oleh tergugat. Dalam hal-hal menghadapi pengakuan tergugat yang tidak dapat dipisah-pisahkan tersebut, penggugat dapat memilih dua cara, yaitu: Pertama, dia menolak seluruh pengakuan tergugat dan melakukan pembuktian sendiri; Kedua, membuktikan bahwa keterangan tambahan tergugat itu tidak benar. Apabila hal tersebut terbukti, maka penggugat dapat meminta kepada hakim untuk memisahkan pengakuan tersebut sehingga menjadi pengakuan murni yang mempunyai kekuatan pembuktian sempurna serta mengikat.

K. Penetapan Wanprestasi Mengikat Para Pihak yang Berperkara Silogisme ke sembilan, primisa mayor : setiap putusan pengadilan mengikat para pihak yang berperkara, primisa minor: penetapan wanprestasi adalah putusan pengadilan, conclusi: penetapan wanprestasi mengikat para pihak yang berperkara. Conclusio ini yang dijadikan judul subbab ini. Wanprestasi hanya bias terwujud jika ada prestasi. Prestasi merupakan obyek perikatan, yang terdiri dari memberikan sesuatu, melakukan sesuatu, dan tidak melakukan sesuatu. Isi dari prestasi terdapat dalam perjanjian yang dibuat oleh para pihak. Pembuatan perjanjian berdasarkan kepada asas kebebasan berkontrak agar tercipta keadilan bagi para pihak. Kebebasan berkontrak adalah refleksi dari perkembangan paham pasar bebas yang dipelopori oleh Adam Smith, yang pemikirannya berdasarkan pada ajaran hukum alam, sebagaimana juga dilakukan oleh Jeremy Bentham yang dikenal secara umum dengan istilah utilitarianism, yang menghidupkan pemikiran individualistis bahwa individualism merupakan nilai dan mekanisme social, dan kebebasan

56 berkontrak dianggap sebagai prinsip yang umum dan menciptakan keadilan. Dalam perkembangannya, ternyata kebebasan berkontrak menimbulkan kepincangan karena untuk mencapai tujuan kebebasan berkontrak yaitu rasa keadilan, dipersyaratkan adanya situasi yang seimbang diantara para pihak, dalam kenyataann tidak ada sesuatu itu seimbang. Asas kebebasan berkontrak merupakan asas yang universal sifatnya, artinya dianut oleh hukum perjanjian di semua negara pada umumnya79, asas ini muncul sebagai reaksi terhadap suasana dimana aktifitas bisnis dan perdagangan tidak mendapatkan yang terhormat80. Kebencian terhadap pembatasan-pembatasa terhadap perdagangan , keberatan terhadap pemberian hak-hak istimewa, dan hak monopoli, dan pengaruh hukum alam telah mengakhiri mercantile system, dan berubah menjadi paham baru yang selaras dan dituntun oleh asas bahwa manusia bagian dari alam dan sebagai mahluk yang rasional dan cerdas, manusia bertindak sesuai dengan keinginan-keinginannya (desires) dan gerak gerak hatinya (impules). Manusia adalah agen yang meredeka dan oleh karena itu wajar untuk tidak terikat yang sama wajarnya dengan terikat. Tingkah laku yang didasarkan atas pemikiran ini menciptakan aturan dan ketentuan yang diperlukan bagi suatu masyarakat yang baik.Asas moral dan asa keadilan berada diatas semua aturan hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah. Penganjur terkemuka aliran hukum alam ini adalah Hugo Grotius, yang menyatakan bahwa untuk mengadakan perjanjian adalah salah satu dari hak-hak asasi manusia, dan suatu supreme body of law yang dilandasai oleh nalar manusia disebut sebagai hukum alam. Menurutnya, suatu kontrak adalah suatu tindakan suka rela dari seseorang dimana ia berjanji sesuatu kepada orang lain dengan maksud bahwa orang
Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia , Institut Bankir Indonesia, Jakarta, 1993, hal. 18. 80 Essel R. Dillavou (et al), Principles of Business Law, Prenctice_hall Inc, New Jersey, 1962, hal. 51-52
79

57 lain itu akan menerimanya. Thomas Hobbes, menyatakan bahwa hukum alam menekankan tentang perlunya ada kebebasan bagi manusia maka hal itu juga berlaku juga berkaitan dengan kontrak-kontrak.81 Adam Smith telah mengusulkan sebagai salah satu asas ekonomi politik (political economy), suatu ketentuan yang menyatkan bahwa perundang-undangan seyognyanya tidak digunakan untuk mencampuri kebebasan berkontrak karena kebebasan ini penting bagi kelangsungan perdagangan dan industri.82 Menjadi aturan dasar bagi hukum alam bahwa bila naluri yang tamak dari manusia diberikan kebebasan di dalam perdagangan dan apabila kendali-kendali bisnis dan pemerintah dikurangi sampai batas minimum maka hasilnya akan berupa persaingan diantara manusiamasnuia yang bebas, tingkah laku yang bersaing yang dirangsang oleh kepentingan pribadi akan mendorong manusia secara bersemangat dan terus menerus untuk menyempurnakan dan menggandakan barang-barang yang dijual. Selanjutnya, Bentham menyatakan bahwa secara umum tidak seorangpun dapat mengetahui tentang apa yang baik untuk kepentingan dirinya, kecuali dirinya sendiri, oleh karena itu pembatasan terhadap kebebasan berkontrak adalah pembatasan terhadap kebebasan itu sendiri dan semua pembatasanpembatasan terhadap kebebasan adalah jahat dan memerlukan pembenaran untik dapat melakukannya, pemerintah tidak boleh campur tangan dalam hal yang pemerintah sendiri tidak memahaminya83. John Stuart Mill, menyatakan bahwa campur tangan negara di dalam msyarakat manapun juga harus diusahakan seminimum mungkin dan bahwa campur tangan negara yang merintangi kemajuan manusia, tindakan mana merupakan campur tangan terhadap kebebsankebebasan dasar manuaia, oleh karena itu harus dihentikan, selanjutnya menyatakan bahwa seiap orang di dalam masayarakat harus bebas untuk mengejar kepentingannya dengancara yang dipilihnya sendiri, dengan tidak perlu mengacuhkan pendapat-pendapat anggota masyarakat lainyya
81 82

Sutan Remy Sjahdeini, Op.cit., hal. 20 Ibid. 83 Ibid., hal. 24

58 terhadap kebijaksanaan dari tindakan-tindakannya itu, dan selanjutnya mengatakan bahwa fungsi hukum untuk menjamin dapat dilaksanakannya kehendak untuk mengadakan kontrak.84 Dalam perkembangannya, peraturan-peraturan undangan kebebasan berkontrak klasik ini terhadap kebebasan

mngalami kegagalan, hal ini nampak dari bukti-bukti berupa banyaknya peruandang-undangan berkontrak, intervensi yang telah dilakukan oleh peraturan perundangpada mulanya diterima hanya sebagai pengecualianpengecualian saja dari asas umum dari kebebasan berkontrak, tetapi ternyata kemudian diterima sebagai penjelasan.85 Asas umum yang mengemukakan bahwa hukum tidak membatasi syarat-syarat yang boleh diperjanjikan oleh para pihak, merupakan asas yang tidak membebaskan berlakunya syarat-syarat suatu perjanjian hanya karena syarat-syarat perjanjian itu kejam atau tidak adil bagi satu pihak. Berdasarkan asas umum ini, bahwa ruang lingkup asas kebebasan berkontrak meliputi kebebasan para pihak untuk menentukan sendiri isi perjanjian yang ingin mereka buat. Asas umum berikutnya, menyatakan bahwa pada umumnya seseorang menurut hukum tidak dapat dipapksa untuk memasuki suatu perjanjian, hal ini berarti bahwa asas kebebasan berkontrak meliputi kebebasan para pihak untuk menentukan dengan siapa dia ingin atau tidak ingin membuat suatu perjanjian. Asas ini berkaitan erat dengan salah satu asas yang terpenting, yakni kecenderungan dari pemikiran hukum mengenai konsep keadilan yang dianut para individualis yang menakankan pentingnya property (property), termasuk kontrak, yang menekankan pada hak-hak pribadi atas pengorbanan hak-hak publik, dan bahwa campur tangan hukum pada tingkat yang menimun merupakan standart yang idial. asas ini diperaktekan di peradilan Amerika Serikat, bahkan berkeyaiknan
84 85

Ibid., hal. 25. Ibid., hal. 31

59 bahwa setiap kekuatan di dalam masyarakat seharusnya dapat bertindak secara bebas dan hanya dibatasi bahwa hak-hak tersebut hendaknya tidak menimbulkan friksi di masyarakat. Jelasnya, bahwa hak untuk membuat perjanjian adalah bagian dari property perorangan yang harus dilindungi. Implikasinya dari paham ini , pengadilan telah melebih-lebihnkan mengunggulkan dan melindungi hak-hak perorangan dengan mengorbankan kepentingan masyarakat, bahwa kepentingn masyarakat akan dapat terlayani paling baik apabila hak-hak setiap individu mendapat perlindungan dan hak-hak individu untuk secara bebas membuat perjanjian hanya dibatasi bahwa hak terse ut harus menghasilkan kesehatan, kesejahteraaan moral atau keamanan bagi masyarakat86 Dalam perkembangannya , kebebasan bukan tanpa batas, bahwa asas kebebasan berkontrak memang tidak dapat dibiarkan bekerja tanpa pembatasan. Lord Dennin berpendapat bahwa standart from contract yang tidak masuk akal tidak dapat diterima oleh pengadilan dengan menyatakan there is the vigilance of the common law which, while allowing freedom of contract watches to see that is not abuse87. Di negara yang mengantu system common law, kebebasan berkontrak dibatasi oleh peraturan perundang-perundangan dan public policy, dengan demikian jika suatu kontrak melanggar peraturan perundang-undangan dan public policy amaka kontrak tersebut menjadi illegal. Suatu kontrak dapat dikatakan dilarang oleh undang-undang adalah tergantung kepada bagaimana badan legislative menentukannya, dan apa yang dimaksud dengan public policy amamat tergantung kepada nila-nilai yang ada dalam suatu masyarakat. Dalam konstitusi dan peraturan perudang-unangan lainnya tidak ada ketentuan yang secra tegasa menentukan tentang berlakunya asas kebebasan berkontrak bagi perjanjian-perjanjian yang diibuat menurut hukum Indonesia, dan tidak memuat ketentuan yang mengharuskan
Peter Aronstam, Consumer Protection, Freedom of Contract and The Law, Case Town: Juta & Company Limited, 1979, hal. 7 87 Sutan Remy Sjahdeini, Op.cit, hal. 41.
86

60 maupun melarang seseorang untuk mengikatkan diri dalam suatu perjanjian ataupun mengharuskan maupun melarang untuk mengikatkan diri dalam suatu perjanjian. Berlakunya asas konsensualisme memanatapkan adanya kebebasan berkontrak. Tanpa sepakat maka perjanjian yang dibuat tidak sah. Orang tidak dapat dipaksa untuk memberikan sepakat. Disamping itu, juga tidak dilarang seseorang untuk membuat perjanjian dengan pihak manapun juga yang dikendaki, yang dibatasi adalah tentang kecakapan melalukan perbiuatan hukum. Tidak semua orang dianggap cakap melakukan kontrak, hanyalah orang yang sudah dewasa yang dapat melakukan kontrak dengan orang lain.

BAB IV KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan dalam bab III, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penegakan keadilan dapat dilakukan melalui pengadilan dengan menggunakan prosedur yang fair, terbuka, artinya penerapan hukum dilakukan terbuka, tidak memihak sehingga keadilan berpihak pada manusia yang secara kodrati layak memperoleh keadilan, dalam perkara perdata keadilan berpihak kepada yang menang dan tidak berpihak kepada yang kalah, dalam perkara pidana, keadilan beripihak kepada pihak yang secara nyata tidak melakukan perbuatan pidana. Hukum acara merupakan prosedur dalam rangka memperoleh keadilan. Hukum acara adalah prosedur keadilan, keadilan adalah output hukum acara.

61

DAFTAR PUSTAKA

Dennis Lloyd, The Idea Of Law, Penguin Books, Australia, 1972 Essel R. Dillavou (et al), Principles of Business Law, Prenctice_hall Inc, New Jersey, 1962 Edgar Bodenheimer, Jurisprudence, The Philosophy and Method of The Law, Harvar University Press, Cambridge, Massachusetts, 1962 John Rawls, An Theory of Justice, The Belknap Press of Harvard University Press Cambridge, Massachusetts, 1971 H.L.A. Hart, The Concept of Law, Oxford at The Clarendosn Press, 1988 Hans Kelsen, General Theory of Law and State, translate by Anders Wedberg, Russel and Russel, New York, 1961. Hans Kelsen (II), Introduction to The Problems of Legal Theory, translated by Bonnie Litschewski Paulson and Stanley L. Paulson, Clarendom Press, oxford, 1990. Montesquieu, The Spirit of The Laws, Translated by Thomas Nugent, Hafner Publishing Company, New York, 1949 Peter Aronstam, Consumer Protection, Freedom of Contract and The Law, case Town: juta & Company Limited, 1979 Roscoe Pound, An Introduction to The philosophy of Law, New Haven and London Yale University Press, 1975 Meuwissen, Pengembangan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum, dan Filsafat Hukum, terjemahan Arief Sidharta, Aditama, Bandung, 2008 W. Friedman, Teori dan Filsafat hukum Telaah kritis atas Teori-Teori Hukum (susunan I), Penerjemah Muhamad Arifin, Raja Grafindo Utama, Jakarta, 1993.

Lili Rasjidi dan Thania Rasjidi, Pengantar filsafat Hukum, Mandar Maju Bandung, 2007. Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Institut Bankir Indonesia, Jakarta, 1993.

62 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara perdata Indonesia, Liberty, Jogyakarta, 1988. Tresna, Peradilan di Indonesia Dari Abad Ke Abad, Pradnya Paramita, Jakarta Pusat, 1978. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan, Sinar Grafika, Jakarta, 2008.