Anda di halaman 1dari 52

L\150/\-\. !p..rJ..!

200
b
@p417
Edi Slamet lrianto
Syarifuddin Jurdi
336.2- ; ::'4
I .
r 1
p
c.I
/I
Sanksi pelanggaran Pasal 72:
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 12 Tahun
1997 Pasal 44 Tentang Hak Cipta
1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat
(1) dan ayat (2) dipidana penjara masing-masing paling singkat 1
(satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu
juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/
atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (Iima miliar rupiah).
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan,
mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau
barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait, sebagaimana
dimaksud ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(Iima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00
(Iima ratus juta rupiah)
POLITIK PERPAJAKAN
MEMBANGUN DEMOKRASI NEGARA
Kata Pengantar
Dr. Machfud Sidik, MSc.
Sambutan Direktur Jenderal Pajak
Hadi Poemomo
Pengantar
Ketua MPR RI
Dr. HM Hidayat Nurwahid, MA
Pengantar
Prof. Dr. Gunadi, M.Sc.,Akt
ffi
UII Press
Edi Slamet lrianto & Syarifuddin Jurdi
Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi
Yogyakarta: UII Press, 2005
208 hlm. + xliv; 15 x 21 cm
11 ISBN 979-3333-78-7 I1
Negara;--
Buku ini dipersembahkan:
Cetakan Pertama, Oktober 2005
Penyunting : Sobirin Malian
Pracetak : UII Press
Pcnerbit : UII Press Yogyakarta (anggota lKAPI)
Jl. Cik Di Tiro No.! , Yogyakarta
Tel.(0274)547865, Fax.(0274)547864
E-mail: uiipress@asia.com;uiipress@uii.ac.id
l lak cipta (tl2005 pada UII Press dilindungiundang-undang.(all rights reserved)
Kepada dr. Betty Ekawati, 5., Sp. KK., dan Salma Amda.
Untuk mereka yang menjadi
pemain peradaban masa depan;
Muham
mad
Ramdhan Abdurasyid, Hafid Dwi Prasetyo,
Try Luthfi Nugroho,lkbar Riztki Hibatullah,
Queen Choirunisa Tansa Tresna. dan
Ashila Salsabila Syarif, Ahmad Mutawakkil Syarif,
Semoga menjadi lebih baik, maju dan berkualitas.
[vi] __
Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
;;;;;;;; [vii]
Bismillahirrahmanirrahim
KATA PENGANTAR PENULIS
D
engan memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT
adalah suatu kalimat pertama yang perlu kami
ungkapkan, karena dengan ridho, rahmat, dan hidayah-Nya
-buku ini dapat hadir dihadapan pembaca. Pada prinsipnya
buku ini membedah persoalan yang masih relatif langka
dibahas dan dikaji oleh para ilmuwan sosial politik, ekonomi
dan ilmuwan hukum, yakni persoalan politik perpajakan
dengan fokus persoalan demokrasi perpajakan yang belum
menjadi perhatian rezim politik yang berkuasa.
Buku politik perpajakan ini membedah seputar isu-isu
penting mengenai aspek politik, demokrasi, sosial,
kemanusiaan, teologis dan ekonominya. Kami menyadari
menghadirkan wacana politik perpajakan tentu mengundang
persetujuan (pro) dan penolakan (kontra), tepatnya kitab ini
menghadirkan paradigma berpikir barn tentang pajak yang
selama ini hanya menjadi urusan ilmuwan ekonomi dan
hukum semata, sementara aspek krusiallainnya yakni politik
hampir terabaikan -akibat lebih lanjutnya pajak menjadi elitis,
tertutup, dan penuh manipulasi.
Buku ini menurut hemat penulis menghadirkan diskursus
baru tentang pajak -sebuah diskursus yang bisa dipersoalkan
oleh para ilmuwan pajak dan praktisi perpajakan. Mungkin
buku ini banyak mengoreksi dan memberikan cara yang sesuai
dengan prinsip pengelolaan negara yang demokratis kepada
para pelaku perpajakan, terutama -tentu saja -para pembayar
menuju kehidupan ekonomi politik yang lebih terbuka,
transparan, akuntabel, dan ruang partisipasi warga secara
meluas. Selain itu diuraikan pula tentang desentralisasi yang
merupakan isu penting dalam konteks kehidupan politik
bangsa agar isu desentralisasi dapat klop dengan usaha
demokratisasi bangsa pada semua level kehidupan. Pada
bagian-bagian berikutnya, kami menjelaskan makna pajak
yang demokratis, pajak yang berwajah "
manusia",
pajak yang
berdimensi keadilan, pajak yang relevan dengan misi besar
bangsa yakni membebaskan manusia dari kemiskinan,
kemelaratan dan ketertindasan. Begituah seterusnya kami
menguraikan aspek pajak ini, dan bagian tertentu yang
mungkin dapat menjadi bahan perbandingan, kami juga
menghadirkan isu penting lain yang berpotensi besar menjadi
sumber penerimaan negara di masa depail. adalah zakat, yang
dalam beberapa hal tentu berbeda dengan pajak.
Kitab ini menjadi lebih baik -sekalipun kadamya masih
terbatas, tetapi apa yang disajikan terutama isi dan pokok
kajiannya telah dibaca oleh beberapa pihak yang menurut
hemat kami memiliki kompotensi atas masalah politik,
demokrasi, pajak dan birokrasi pemerintahan. Selain itu, buku
ini juga telah diberi beberapa catatan dan masukan oleh
beberapa pihak sebelum diterbitkan, tegasnya buku ini telah
didiskusikan dengan beberapa komponen penting dalam
rangka memperoleh tambahan masukan untuk perbaikannya.
Kepada beberapa pihak yang telah berpartisipasi atas naskah
dasarnya, kami mengucapkan terima kasih, tentu pertama-
tama kami menyampaikan terima kasih kepada Dr. H. Hidayat
Nur Wahid, MA, (selaku Ketua MPR RI maupun sebag
ai
pribadi), Prof. Dr. Gunadi, MSc., dan Dr. Mahfud Sidik, MSc.,
yang telah membaca dan memberikan pengantar bagi kitab
ini. Kesediaan ketiga orang tersebut untuk memberikan
pengantar bagi kitab ini mempakan penghargaan yang tingg
i
buat kami, 'mengingat ketiganya masih menyempatkan diri
untuk membaca dan memberi pengantar bagi buku ini di
[viii] __ Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
pajak yang hanya dibebankan oleh negara, sementara mereka
sebagai pembayar pajak tidak pemah mengetahui pajak yang
telah disetorkan kepada negara, digunakan untuk apa ?
Sebagai isu baru dalam aspek politik dan isu baru pula
dalam konteks ilmu ekonomi dan hukum, kitab politik
perpajakan ini membangun wacana ekonomi politik baru yang
akan menjadi acuan dari kebijakan politik rezim. Rezim politik
segera memikirkan cara mengelola negara yang demokratis,
cara mendesain ekonomi perpajakan yang berjiwa sosial,
sehingga proyek demokrasi dapat diwujudkan bersama
dengan demokrasi politik. Untuk menghadirkan aspek
perpajakan yang demokratis, maka seharusnya pengelola
pajak mengemban amanah rakyat dengan baik, memberikan
akses informasi yang cukup kepada rakyat untuk mengetahui
pemanfaatan keuangan negara yang dikumpulkan dari pajak.
Andai saja kondisi tersebut dapat diciptakan, maka pembayar
pajak akan menyetorkan uang pajaknya kepada negara secara
sukarela -tanpa ada unsur paksaan, tentu dalam hal ini -
negara harus menyediakan ruang bagi mereka -terutama
ruang informasi yang cukup mengenai pemanfaatan uang
.p ajak. Proyek-proyek sosial politik rezim berkuasa yang
dibiayai oleh uang pajak, serta sumber keuangan lain yang
dihimpun dari berbagai sumber hams berwajah "manusia".
Menutup informasi ten tang pajak, sama dengan membiarkan
konsolidasi demokrasi berjalan secara parsial -artinya aspek
politik, ekonomi, hukum, dan budaya sudah semakin
demokratis, tapi soal ekonomi politik yang berkaitan dengan
pajak masih tertutup, tentulah sesuatu yang tidak diinginkan
oleh steak holders dalam masyarakat.
Pada bagian awal buku ini, kami sengaja menguraikan
secara lebih komprehensif tentang demokrasi menurut akar
is tilahnya dan begitu pula dengan makna empirik dalam
kchidupan masyarakat Indonesia. Penjelasan demokrasi itu
scnd iri diorientasikan kepada usaha untuk lebih memahami
makna-rnakna dasamya dengan tujuan yang lebih jelas yakni
Kata Pengantar
__ fix]
Kata Pengantar
__ [xi]
Ixl __ Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
tengah kesibukan sebagai Pejabat Negara, Akademisi dan
Aparatur Birokrasi. Begitu juga dengan Dr. Hadi Poernomo,
MBA sebagai Direktur Jenderal Pajak yang telah memberikan
kata Sambutan bagi buku ini.
Akhirnya penulis ingin mengatakan rasa hutang budi
kepada berbagai pihak terutama Promotor kami yakni Prof.
Dr. Miftah Thoha, MPA; Prof. Dr. Ichlasul Amal, MA; Prof.
Dr. Warsito Utomo, Prof. Dr. Yahya A Muhaimin dan Prof.
Dr. Mardiasmo, MBA. Terima kasih pula kami sampaikan
kepada Dr. Purwo Santoso, MA dan Dr. Erwan Agus
Purwanto, atas waktu dan kesempatan berdiskusi dengan kami
dalam banyak kesempatan, serta perhatiannya yang besar
kepada kami hingga kami sering diberi bahan bacaan bagi
kelancaran studi kami. Kepada teman-teman di program S-3
Ilmu Sosial Politik Sekolah Pascasarjana UGM, diantaranya
Dr. Noudy P. Tendean, M.5i., Dr. Cand. Fadel Muhammad,
Dr. Cand. Hasanuddin, MA, Dr. Cand. Sri Woro
Wahyuningsih, MA, dan Ir. Akbar Tandjung, MS, serta yang
lainnya yang tidak dapat kami sebutkan semua namanya
disini.
Terima kasih tentu pantas kami sampaikan kepada
keluarga, mereka telah merelakan kami untuk berbagi waktu
-bahkan lebih banyak waktu yang kami habiskan untuk
mengurus studi daripada bersama dengan keluarga,
pengorbanan dan kerelaan mereka itulah yang ikut memacu
dan memicu semangat kami dalam menempuh studi dan
menyelesaikan kitab sederhana ini. Mereka adalah dr. Betty
Ekawati, S., Sp.KK, dan generasinya Muhammad Ramdhan
Abdurasyid, Hafid Dwi Prasetyo, Try Luthfi Nugroho, Ikbar
Riztki Hibatullah, Queen Choirunisa Tansa Tresna. Juga
kepada Salma Amda, SS., dan penerusnya Ashila Salsabila
Syarif dan Ahmad Mutawakkkil Syarif.
Perlu juga kami tambahkan, bahwa buku ini masih jauh
d .1 ri kcscmp urnaan dan karena itu -kami mengharapkan
adanya kritik dan koreksi yang diberikan oleh para pembaca
yang budiman guna memperbaiki buku ini. Khusus kepada
penerbit UII Press diucapkan terima kasih atas kesediaannya
menerbitkan buku ini. Akhirnya, semog
a
karya sederhana ini
dapat bermanfaat bagi pembaca yang budiman.
Bulaksumur, September 2005
Penulis
[xii];;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
;;;;; [xiii]
KATA PENGANTAR
S
tudi tentang politik, demokrasi dan perpajakan, ketiga-
tiganya merupakan isu yang sangat penting dalam
kehidupan masyarakat. Ketiga studi tersebut tidak jarang
membingungkan tidak saja bagi masyarakat awam, birokrat,
politisi namun juga para akademisi. Penggalian hubungan
antara ilmu politik,demokrasi dan perpajakan selalu
mengundang kontroversi yang berkepanjangan.
Sympton dan bahaya implementasi demokrasi tanpa
memperhatikan kemampuan ekonomi suatu bangsa akan
membawa keterpurukan, dan kemerosotan kesejahteraan
suatu bangsa. Namun, keberhasilan pelaksanaan demokrasi
khususnya di negara-negara maju akan membawa bangsa
yang bersangkutan ke arah kehidupan pendewasaan
demokrasi dan peningkatan kemampuan ekonomi bangsa yang
bersangkutan termasuk didalamnya mengoreksi ketimpangan
kemampuan ekonomi warga negaranya. Kehidupan
demokrasi yang dewasa akan mengurangi kebrutalan dan
pemaksaan sekelompok kekuatan politik untuk
memarginalkan kelompok minoritas.
Studi tentang perpajakan dalam dekade terakhir tidak
lepas dari aspek politik dan didalamnya termasuk penerapan
prinsip-prinsip demokrasi. Sistem perpajakan di lain pihak
merupakan bagian dari instrumen kebijakan fiskal yang
ditujukan terutama untuk mencapai kebijakan ekonomi makro
yang sasarannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat suatu negara. Fenomena dalam dekade 90-an yang
terjadi di penjuru dunia menunjukkan bahwa negara-negara
[xiv] __ Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
yang mengembangkan sistem demokrasi sebagai pilihan
mengalami kenaikan dari 60 (enam puluh) negara pada tahun
1989 menjadi 100 (seratus) negara pada tahun 2000. Di antara
negara-negara yang menerapkan sistem demokrasi tersebut
justru mengalami penurunan kesejahteraan masyarakatnya .
yaitu pada tahun 1989, persentase negara miskin yang
menerapkan sistem demokrasi sebanyak 15 % dan justru pada
tahun 2000 jumlah negara miskin yang menerapkan sistem
demokrasi tidak selalu menjamin peningkatan pembangunan
ekonomi.
Demikian pula, implementasi desentralisasi yang tidak
didukung dengan grand strategy yang komprehensif yang
ditunjang dengan implementasi yang mempertimbangkan
berbagai aspek baik politik, latar belakang kehidupan bangsa,
pluralitas etnik, keberagaman kebudayaan, sistem demokrasi
dan kemampuan ekonomi bangsa yang bersangkutan akan
menambah deretan negara yang gagal dalam melaksanakan
proses desentralisasi. Desentralisasi dinilai berhasil bila dalam
pelaksanaannya memberikan implikasi meningkatnya
pelayanan sektor birokrasi kepada masyarakat, meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam penyediaan barang publik dan
memenuhi preferensi dari masyarakat serta mempromosikan
kehidupan yang lebih demokratis. Keberhasilan pelaksanaan
desentralisasi tergantung pada desain desentralisasi itu sendiri,
perencanaan strategik, pengembangan kelembagaan dan
capacity building dari lingkungan birokrasi dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah.
Demikian pula sistemperpajakan yang baik terutama hams
memperhatikan aspek kebijakan ekonomi yang dianut oleh
negara yang bersangkutan dalam rangka mensejahterakan
masyarakat dan kemampuan administrasi perpajakan itu
sendiri.
Sistem perpajakan yang baik harus menggali potensi
perpajakan sesuai dengan ketentuan perpajakan yang ada,
__ lxvl
meminimalkan distorsi terhadap kegiatan ekonomi, memenuhi
keadilan di bidang perpajakan serta kemampuan administrasi
perpajakan itu sendiri. Kemampuan administrasi perpajakan
meliputi kelembagaan, sistem dan prosedur perpajakan,
dukungan infrastruktur di dalam melaksanakan administrasi
perpajakan dan sumber daya manusia yang kompeten dalam
melaksanakan kebijakan perpajakan.
Buku Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi
Negara yang ditulis saudara Edi Slamet lrianto dan
Syarifuddin [urdi merupakan upaya pengkayaan pemikiran
yang berkembang baik di negara maju maupun negara
berkembang khususnya Indonesia. Salah satu hal baru yang
dikupas oleh kedua penulis tersebut adalah mengkaji lebih
tajam pemikiran dasar demokrasi perpajakan yang jarang
ditulis baik oleh ilmuwan di bidang politik, sosial, keuangan
negara maupun perpajakan.
Menurut penulis membicarakan demokrasi perpajakan
dalam politik nasional, mengingat rezim politik yang berkuasa
pada masa lalu tidak pemah membuka peluang bagi adanya
mekanisme kontrol, pengalokasian pajak yang dihimpun dari
masyarakat. Pajak dilihat dari segi politik dapat dimaknai
sebagai investasi politik seorang warga negara kepada negara,
investasi dimaksudkan sebagai tabungan rakyat dalam rangka
membantu negara dalammembiayai proyek-proyek politiknya
sehingga ada preferensi politik bagi warga negara yang
bersangkutan dalamsetiap proses politik yang diselenggarakan
pemerintah, artinya masyarakat pembayar pajak mempunyai
hak sama atau dengan kata lain memiliki semacam otoritas
untuk mengetahui pengelolaan pajak terutama berkaitan
dengan penentuan kebijakan negara mengenai pengumpulan,
pengadministrasian dan pemanfaatan pajak.
Menurut kedua penulis, demokrasi yang berarti kesetaraan
dan partisipasi, maka demokrasi perpajakan dapat dimaknai
sebagai terbangunnya sistem perpajakan yang
lxvi] ~ Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
menggambarkan adanya kesetaraan antara pemerintah dan
masyarakat pembayar pajak, sehingga memungkinkan
muneulnya partisipasi masyarakat, sejak dari proses
pembuatan kebijakan perpajakan, pengumpulan pajak dan
pemanfaatan uang pajak.Prinsip demokrasi yang paling urgen
adalah meletakkan kekuasaan ditangan rakyat bukan
ditangan penguasa.
Dengan terbitnya buku PoIitik Perpajakan: Membangun
Demokrasi Negara, saya kira akan memberikan tambahan
waeana baru kepada pemerintah, masyarakat, legislator dan
akademisi yang berminat dalam kajian pengetahuan tentang
politik, demokrasi, desentralisasi, dan kebijakan perpajakan
dalam suatu analisis yang lebih komprehensif.
Jakarta, Agustus 2005
Dr. Maehfud Sidik, M.Se.
__ [xvii]
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
K
ep u tu san pemerintah untuk mengubah kebijakan
anggaran dari yang berbasis resources ke anggaran yang
berbasis pajak, nampaknya merupakan langkah tepat. Sebab
sumber daya alam yang kita miliki seperti migas, selain
dipengaruhi oleh faktor persediaan yang nilainya semakin
menipis juga sangat tergantung kepada pembentukan harga
pasar internasional yang sangat fluktuatif. Artinya, situasi
tersebut sangat sulit untuk dijadikan referensi ketika kita
berketetapan membangun anggaran yang stabil dan dinamis.
Sejalan dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan
bemegara, seeara bertahap peran pajak mengalami pergeseran
yang eukup fantastis. Betapa tidak, pajak yang sebelumnya
hanya sebagai pelengkap penerimaan dalam negeri kini telah
bergeser dan berada pada posisi yang amat sangat
menentukan. Meskipun masih banyak pihak yang kurang puas
terhadap kinerja perpajakan, namun satu hal yang sulit
terbantahkan adalah kontribusi penerimaan pajak yang saat
ini sudah meneapai 80% terhadap penerimaan dalam negeri.
Ke depan peran pajak akan terus meningkat sejalan dengan
meningkatnya pemahaman masyarakat dalam masal ah
perpajakan.
Sudah saatnya, masyarakat mendapatkan pemahaman
yang komprehensif tentang masalah per p aj akan d al am
konteks kehidupan negara yang demokratis. Dal am negara
yang modern dan demokratis, pajak dip ahami sebagai
kewajiban demokrasi warga negara. Ol eh ka rena itu, pajak
bukan hanya menjadi domain pemerintah yang dalam hal ini
Ixviii] Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Direktorat Jenderal Pajak semata, akan tetapi telah menjadi
tanggung jawab seluruh elemen bangsa yang menghendaki
berjalannya sistem kenegaraan yang demokratis. Pemahaman
semacam ini menjadi penting bagi kita sebagai bangsa, agar
kita tidak terjebak pada retorika politik yang cenderung saling
menyalahkan tanpa memahami esensi posisi kita masing-
masing dalam kehidupan bemegara.
Oleh karena itu, saya menyambut baik penyusunan buku
dengan judul Politik Perpajakan Membangun Demokrasi
Negara oleh saudara Edi Slamet Irianto dan Syarifuddin Iurdi.
Penulis telah menjadikan teori politik sebagai pendekatan
kajiannya, yang menurut hemar saya masih sangat langka
dilakukan, karena selama ini pajak baru dikaji dari perspektif
ilmu ekonomi dan ilmu hukum. Dengan demikian, buku ini
diharapkan akan menambah khasanah bacaan tentang
perpajakan baik bagi mahasiswa, dosen, elite politik, elite
birokrasi termasuk aparatur perpajakan maupun semua pihak
yang berminaj terhadap perpajakan Indonesia.
Jakarta, Agustus 2005
Direktur Jenderal Pajak
Hadi Poemomo
NIP.060027375
iiiiiiiiiiii [xix]
PENGANTAR: MENCARI KEADILAN
POLITIK MELALUI PAJAK
Oleh: Dr. HM. Hidayat Nurwahid, MA
Ketua MPR RI
P
engelolaan negara modern selalu didasarkan kepada
prinsip-prinsip keterbukaan (transparansi), efektif dan .
efisien. Sebuah negara dengan sistem politiknya yang
demokratis akan memberi ruang bagi partisipasi warga dalam
seluruh proses politik yang berlangsung. Ketika partisipasi dan
ruang publik untuk rakyat ditutup dan disumbat oleh mesin-
mesin politik dan mesin-mesin teror dan penindas, maka
pengelolaan negara yang transparan sulit diharapkan. Dalam
sejarahnya politik kenegaraan yang dibangun selama ini
menempatkan penguasa dalam konteks yang istimewa,
sementara rakyat berada dalam posisi kooptasi negara, dengan
kata lain -rakyat tidak berdaya ketika berhadapan dengan
penguasa negara. Kondisi politik demikianlah yang ingin
dirubah oleh reformasi politik yang telah berlangsung, agar
terjadi suatu pola hubungan antara rakyat dan negara
(pemerintah) yang seimbang, rakyat memiliki sejumlah hak
dan kewajiban yang harus ditunaikan sebagaimana negara
memiliki keharusan melindungi, mengayomi, d an
mensejahterakan rakyatnya.
Negara modern diikat oleh berbagai .perjanjian yang
dibangun sebagai syarat terciptanya suatu keseimbangan
sosial, ekonomi, politik dan hukum dalam suatu negara yang
beradab. Perjanjian itu sendiri terkait dengan adanya
hubungan timbal balik antara negara dengan masyarakat.
Dengan memakai cara berpikir yang lazim, bahwa negara bisa
ada karena ada rakyat dan rakyat sendiri membutuhkan
pemimpin (negara) untuk mengatur kelangsungan hidup
bersama agar beradab. Kebiadaban tentulah sesuatu yang
tidak diinginkan dalam kehidupan bersama, tanpa negara
keadaban rasanya sulit tercipta.
Dalam mengikat hubungan yang saling membutuhkan itu,
praktek politik negara-negara modem cenderung menerapkan
pola yang lazim dipakai yakni negara memiliki sejumlah
kewenangan yang absah kepada rakyat sebagaimana rakyat
memiliki hak yang dituntut kepada negara. Dalam hal inilah,
pajak menjadi media yang menghubungkan antara
kepentingan negara dengan rakyat dan pajak menjadi syarat
lain bagi terciptanya suatu keseimbangan antara negara dan
rakyat. Rakyat membayar pajak kepada negara dan sebagai
imbalan jasa yang diperoleh rakyat, terutama golongan kaya
yang membayar pajak lebih banyak berupa perlindungan atas
segala kepentingan umum, dengan mewajibkan untuk
mengadakan perjanjian perlindungan wajib antara negara
dengan warganya dan negara memperoleh modal untuk
membiayai proyek sosial kemanusiaannya.
Keadilan politik hanya mungkin diperoleh dengan
memberikan hak-hak dasar warga negara secara proporsional
seperti hak untuk hidup secara layak, hak-kemanusiaan, hak
untuk memperoleh keadilan, hak untuk menikmati
kemerdekaan dan pembangunan, itulah hak-hak dasar yang
diperoleh rakyat dari negara, sebab dengan memberikan hak-
hak tersebutlah - rakyat memperoleh keadilan. Esensi negara
didirikan adalah melindungi kepentingan bersama dan
menjamin kesejahteraan sosial rakyat.
Atas beberepa kemudahan yang diberikan negara -rnaka
rakyat harus pula memenuhi ketentuan yang tetap oleh
negara yakni membayar pajak. Dalam pengelolaan negara
__ [xxi]
[xx] ;;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Pengantar: Mencari Keadilan Politik Melalui Pajak
modem, pajak menjadi sumber pembiayaan politik negara
t e r u t ~ m a membiayai proyek-proyek sosial rezim, sebab tanpa
adanya konstribusi real dari rakyat, negara juga tidak akan
bisa menyukseskan agenda kerja pemerintahan yang
diprogramkan secara nasional melalui komunikasi politik
dengan kekuatan-kekuatan politik yang ada dalam negara
tersebut.
Memang pajak merupakan hal penting dalam urusan
bemegara, sebab dengan pajak itulah distribusi keadilan sosial
dapat dilakukan. Negara 'd en gan pajak akan dapat
mengurangi tingkat kecemburuan sosial sosial warga negara
yang tidak memiliki sumber-sumber ekonomi yang memadai.
Sumber kekayaan yang dimiliki oleh segelintir manusia
harus disesuaikan dengan kondisi riil yang ada dalam
masyarakat. Dalam kondisi tertentu pajak dalam jenis dan
kadar apapun sudah mulai dipikirkan oleh para ilmuwan agar
jenis kekayaan yang dimiliki oleh warga bemilai sosial dan
ekonomi.
Tampaknya, saya sependapat dengan gagasan yang
dibangun dalam buku ini, bahwa pajak sudah harus dikelola
menurut standar dan aturan yang lebih terbuka dan demokratis.
Selama ini pajak bersifat tertutup dan mengandung unsur
manipulasi dan segala macamnya, namun pajak inipun belum
sepenuhnya dapat menghasilkan keseimbangan sosial yang adil
dalam masyarakat.
Negara, Rakyat dan Pajak
Pajak telah berfungi sebagai sumber dana bagi pemerintah
untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya. Salah satu
pembiayaan negara yang penting dalam hal ini adalah
pembangunansosial kemanusiaan, selain pembiayaan Iainnya.
[xxii] ;;;;;;;;;;
keadilan) merupakan tujuan dari pajak, artinya wajib pajak
dikenakan sesuai dengan standarnya yakni secara umum dan
merata, serta disesuaikan dengan kemampuan masing-
masing. Kedua, mereka yang diberi tugas (Dirjen Pajak) harus
memungut pajak berdasatkan Undang-Undang (Syarat
Yuridis). Ketiga, negara perlu menerapkan standar kerja yang
akan dilakukan dengan menggunakan uang pajak, sebab ada
kesan selama ini, negara menggunakan uang pajak secara elitis
sehingg
a
rakyat tidak mengetahui uang pajak dipergunakan
untuk keperluan apa.
Sesuai amanat konstitusi dalam UUD 1945 pasal 23 ayat
2, bahwa negara harus memberikan jamin
an
yang adil kepada
rakyat dengan menggunakan uang pajak. akar dari sejumlah
kekerasan, konflik dan protes rakyat se lama ini adalah
persoal
an
ketidak-adilan secar a ekonomi, sosial, politik, dan
hukum. Maka sud ah saatnya negara mengubah cara
berhubungan dengan rakyat agar sesuai dengan standar
keadilan dan kemanusiaan, negara perlu memperhatikan
rakyat miskin (desa dan kota), sebab [umlah mereka yang
miskin dan terlantar ini semakin bertambah, maka negara
dengan beberapa kewenangan yang dimiliki perlu
menerapkan cara kerja yang optimal untuk mengurangi
kemiskinan, sekaligus berupaya untuk membendung
kekerasan dalam masyarakat.
Pada prinsipnya kehidupan ini telah diciptakan oleh Allah
secara seimbang, adapun kekacauan, ketimpangan dan
kemiskinan itu terjadi -karena ada manusia yang mengambil
lebih dari hak yang semestinya diperoleh, maka dari itu negara
menjadi fasilitator antara kalangan yang memiliki kekayaan
dengan yang tidak. Kekayaan itu sendiri memberikan manfaat
dibidang sosial dan ekonomi kepada pemiliknya, karena
dengan kekayaan -ia akan memperoleh kesempatan untuk
Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Dalam teori negara, bahwa negara melakukan fungsinya
untuk melayani kebutuhan masyarakat, tidak untuk
kepentingan pribadi. Maka kepentingan umum didahulukan
atas kepentingan pribadi dan golongan. Dengan luasnya
medan tanggungjawab negara -rnaka negara membutuhkan
dukungan finansial dari rakyat, maka negara membuat
ketentuan yang akan dijadikan pijakan untuk mengimbangi
ketimpangan sosial dalam masyarakat dengan pajak. Tegasnya
negara, punya beban sosial kemanusiaan dan untuk
memenuhinya negara membuat ketentuan untuk mewajibkan
warga negara atas dasar kedaulatan menanggung pembiayaan
itu sesuai dengan kemampuan.
Kerelaan rakyat membayar pajak sesungguhnya bagian
dari komitmen rakyat untuk menciptakan keseimbangan dan
keadilan sosial dalam masyarakat, itulah yang menjadi inti
dari makna sosial pajak. Dalamhal ini, negara membatasi yang
kuat dengan diwajibkan membayar pajak dan melindungi
yang lemah dengan mendistribusikan uang pajak kepada
mereka yang lemah ini secara merata dan adiL
Dalam batas-batas tertentu, rakyat juga merasa kurang
begitu percaya lagi kepada pemerintah yang diberi tugas
mengelola negara, akibat cara penguasa mengelola negara
yang cenderung korup, penuh manipulasi dan praktek kolusi
dalam pengelolaan pajak. Terkadang dalam kadarnya yang
minimalis, penguasa memberikan beberapa keringanan
kepada wajib pajak sesuai dengan keinginan dan selera mereka
yang berkuasa, akibatnya rakyat yang lain -dimana negara
memberikan beban kepada mereka untuk membayar pajak
menjadi kurang aktif dan bahkan cenderung menghindar dari
kewajiban tersebut.
Untuk mengurangi ketegangan tersebut, negara harus
menerapkan pola kerja yang memenuhi beberapa syarat;
pertama, negara dalam memungut pajak harus adil (syarat
Pengantar: Mencari Keadilan Politik Melalui Pajak
__ [xxiii]
[xxiv] __
pajak itu benar-benar dibutuhkan dan negara tidak lagi
memiliki sumber keuangan lain. Berdasarkan hal tersebut,
negara boleh membebankan pajak kepada war ga negara
asalkan negara tersebut tidak lagi memiliki sumber keuangan
yang dapat menutupi anggaran negara. Kedua, pembagian
beban pajak yang adil. Dengan bersumber pada kekurangan
sumber anggar an negara, maka rakyat wajib membayar paj ak
kepada negara agar diberikan se ear a adil. Ketiga, paj ak
hendaknya di pergunakan untuk kepentingan umat (rakyat)
d an bukan un tuk maksiat d an hawa nafsu. Paj ak h arus
dikelola dengan prinsip kejujuran, keadilan, dan sikap amanah
para pemimpin negara, dengan begitu pajak akan memenuhi
ket entuan yang disyaratkan yakni bukan untuk kepentingan
pribadi, golongan, dan ma ksiat serta memperkaya diri para
pejabat, melainkan untuk membangun infrastruktur sosial yang
bisa dirasakan manfaatnya oleh rakyat banyak. Keempat, pajak
sebelum dilakukan perlu memperoleh persetujuan para ahli
d an eendekia. Sebelum sesua tu pajak dikenakan perlu
memperoleh analisa, kajian, dan pendapat para ahli mengenai
besar dan keeil pajak yang akan dipungut dari masyarakat.
Pajak merupakan bagian dari sejumlah ikatan antara
rakyat dengan negara, karena ia jenisnya ikatan, maka pajak
menjadi sarana komunikasi antara rakyat yang memiliki
sejumlah kelebihan harta dengan mereka yang akan
memperoleh keadilan ekonomi melalui sarana negara. Dalam
beberapa segmen, rakyat selalu menj adi bagian d ari
pengelolaan negara, artinya negara dapat tegak oleh karena
adanya rakyat dan rakyat membutuhkan negar a untuk
mengatur dan mengelola kehidupan menjadi lebih bermoral
dan beradab.
Selain untuk menciptakan kehidupan yang be radab, pajak
juga berfungsi sebagai sumber-sumber keuangan negara yang
akan dapat digunakan untuk membia yai p engeluaran
pemeri ntah. Pajak digunakan sebagai ala t untuk mengatur
Poliiik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
berusaha dibandingkan d engan orang lain yang tidak
memilikinya.
Dalam konteks pemerataan itulah, kekayaan dikenakan
paj ak. Negara menerapkan sistem -dimana pemilik modal atau
golongan kaya diwajibkan membayar pajak atas kekayaannya
kepada negara, tujuan untuk meneiptakan keadilan sosial.
Negara menj adi media penghubung antara warga negara yang
memiliki kekayaan dengan warga yang membutuhkan uluran
tangan negar a untuk menyantun i mer eka ya ng lemah,
must ad 'afin, dan tertindas.
Warga negara yang telah menunaikan kewajiban pajaknya,
maka negara harus memberikan kepastian, kelayakan, keadilan,
dan ekonomi kepada warganya. Dalam sistem pemerintahan
modem dimanapun di dunia ini tetap menerapkan sistem bayar
pajak, dengan jalan demikianlah negara dengan berbagai proyek
sosial kemanusiaannya dapat dijalankan, sebab rakyat punya
kewajiban sosial untuk membantu pembiayaan negara - tentu
bantuan itu sangat disesuaikan dengan tingkat kemampuannya.
Selain itu, pajak juga harus dikelola oleh negara dengan
jelas dan pasti, tidak boleh ada keraguan dalam pengelolaan
pajak, sebab tanpa kepastian tentulah akan mengganggu
jalannya pemerintahan terutama fungsi negara untuk
menjmain keadilan dan kesejahteraan warga melalui distribusi
pajak. melalui distribusi pajak yang meratalah akan dapat
mengurangi kesenjangan sosial dalam masyarakat, dengan
begitu pajak akan meningkatkan taraf hidup rakyat ekonomi
lemah.
Sekalipun pajak tidak begitu banyak dibahas da lam doktrin
teologi Islam, tapi Islam pun memberikan beberapa ketentuan
yang tegas mengenai hal ini terutama negara dalam kondisi
yang tidak stabil. Dalam hal ini, Islam memberikan beberapa
kvtcntuan kepada uma t Islam agar membayar pajak sesuai
d" 11 1\;1I1 konteksnya harus memenuhi syarat seperti yang
d i k.J l clkan oleh Yusuf Al-Qardawi (2004: 1079-1085); periama,
Pengantar: Mencari Keadilan Politik Melalui Pajak
iiiiiiiiiiiiiii [xxv]
[xxvi] ;;;;;;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Pengantar: Mencari Keadilan Politik Melalui Pajak
- ;;;;;;;;;;;; [xxvii]
kebijaksanaan negara dalam memperbaiki atau mengarahkan
aktivitas sektor swasta, karena sektor swasta tidak dapat
mengatasi masalah perekonomian sehingga perekonomian
tidak mungkin diserahkan sepenuhnya kepada sektor swasta.
Pembangunan sosial kemasyarakatan dan ekonomi
merupakan perhatian utama negara, sebab dimensi inilah yang
akan menjamin kelangsungan sebuah bangsa. Oleh karena itu,
negara perlu mewujudkan keeukupan (sustenance) yaitu
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Keeukupan
yang dimaksud tidak sekedar menyangkut kebutuhan
makanan semata, melainkan juga kebutuhan dasar lainnya
seperti sandang, papan, kesehatan dan keamanan; perlu
negara memberikan jati diri (self-esteem) yaitu menjadi manusia
seutuhnya yang merupakan dorongan diri sendiri untuk maju,
menghargai diri sendiri dan merasa diri pantas untuk
melakukan dan meraih sesuatu, serta adanya kebebasan
(freedom) yaitu kebebasan atau kemampuan untuk memilih
berbagai hal atas sesuatu yang dianggap coeok untuk dirinya
dan merupakan salah satu hak azasi manusia.
Pajak dan Zakat dalam Politik Nasional
Dalam bagian ketiga buku ini dibahas tentang zakat, suatu
konsep ekonomi kerakyatan yang diwajibkan dalam Islam.
Tentu hadirnya pembahasan zakat ini menarik, terutama
gagasan yang dikemukakan tentang perlunya negara
memikirkan alternatif sumber keuangan negara, dimana
potensial menjadi sumber keuangan negara, hal penting yang
diinginkan oleh penulis buku ini -sekalipun mungkin
gagasannya perlu diperdebatkan seeara akademik -yakni
negara meski terlibat langsung dalam mengelola zakat. Dalam
Islam, zakat merupakan salah satu kewajiban yang dianjurkan
oleh agama bahkan kata shalat dan zakat diulangi oleh Allah
dalam Qur'an beberapa kali, artinya zakat merupakan
kewajiban agama yang agung dan utama dalam soal ibadah.
Zakat selain menunaikan kewajiban teologis, juga telah
mengamalkan tradisi sosial kemanusiaan yang esensial.
Dengan zakat yang diperintahkan oleh agama, banyak
kaum miskin, anak yatim dan terlantar dapat ditolong. Zakat
berbeda dengan pajak, karena zakat hanya diorientasi untuk
memenuhi ketentuan membantu golongan miskin dan
mustad'afin. Sementara pajak memiliki fungsi yang jauh lebih
besar seperti membiayai proyek sosial dan eadangan devisa
negara. Zakat dibatasi pada harta yang berkembang, meskipun
harta itu dibiarkan oleh pemiliknya, tapi terus mengalami
perkembangan, Islam juga mewajibkan zakat atas harta baik
sedikit maupun banyak. Sementara pajak dikenakan kepada
barang-barang, harta milik yang telah ditentukan menurut
Undang-undang negara.
Untuk memenuhi ketentuan yang adil dalam soal zakat
dan pajak, dimana pengelolanya terdiri dari manusia yang
jujur, adil, dan amanah -barangkali ada baiknya dikutip
pendapat Abu Yusuf yang berkata kepada al-Rasyid: "Wahai
Amirul Mu'minin! Perintahkanlah untuk memilih orang yang
dapat dipereaya, jujur, suka memelihara diri, juga suka
memberikan nasihat, jujur kepada paduka dan kepada rakyat
paduka. Tugaskanlah orang yang demikian untuk
mengumpulkan sedekah di negeri ini. Dan perintahkan kepada
mereka tentang mazhab dan cara-cara mereka serta kejujuran
mereka, sehingga mereka kumpulkan sedekah negeri-negeri
itu dan diserahkan kepadanya. "Sampai berita kepada saya
bahwa petugas-petugas kharaj mengatur orang-orang mereka
untuk mengumpulkan sedekah, kemudian mereka berbuat
semena-mena dan aniaya. Mereka datang dengan harta yang
tidak halal dan tidak meneukupi. Oleh karena itu sepantasnya
orang yang memungut sedekah itu orang yang suka
memelihara dirinya dan mau berbuat kebajikan".
Dalam Islam sangat jelas imbalan atas mereka yang
menunaikan tugas yang diberikan oleh negara seperti petugas
[xxviii] ;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Pengantar: Mencari Keadilan Politik Melalui Pajak
;;;;;;; [xxix]
pajak dan zakat, bahwa mereka ini merupakan golongan yang
berjuang untuk melindungi yang lemah dan membatasi yang
kuat dengan cara yang adil dan jujur. Dalam salah satu
riwayat Rasulullah saw. berkata; "Orang yang bekerja
memungut sedekah dengan benar adalah seperti berperang
di jalan Allah (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah,
dan Ibnu Khuzaimah). Rasulullah berkata pula kepada salah
seorang amil zakat; "Bertakwalah hai Abu Wahid, jangan
sampai engkau datang pada hari kiamat nanti beserta unta
yang menguak, sapi yang melenguh atau kambing yang
mengembik" (HR Tabrani).
Zakat dapat memberantas sistem rentenir, upeti dan riba,
sebab zakat berbeda dengan pajak yang mendasarkan sesuatu
kepada ketentuan yang dipaksakan dan tidak bertendensi
pahala bagi yang mengeluarkan pajak. Dalam hal tertentu
pajak memakai mesin-mesin politik negara, artinya
pemungutan pajak sangat ditentukan oleh kebijakan dan
kekuatan penguasa baik mengenai objek, prosentase, harga
dan ketentuannya - ap abila sang penguasa menghendaki
sesuatu badan atau seseorang dibebaskan dari pajak, atau
dikurangi jumlah kewajiban pajak sebagaimana ditentukan
oleh UU negara, maka sang penguasa dapat melakukan
tindakan tersebut. Dalam zakat, seseorang tidak dibenarkan
mengubah (menambah atau mengurangi) ketentuan yang telah
diwajibkan oleh agama, Allah memberikan ketentuan
kewajiban zakat itu dari seperlima, sepersepuluh, separuh
sampai seperempat puluh (lihat hal. 139-140).
Posisi zakat dalam kehidupan umat Islam tetap akan ada,
dan tidak ada satu penguasa pun yang menghapusnya, karena
zakat perintah Allah, ia memiliki posisi seperti shalat, ia bersifat
abadi hingga akhir zaman. Sementara pajak tidak bersifat
abadi dan tetap, karena pajak dapat saja dikurangi, dinaikkan
dan atau dihapuskan -sangat tergantung kepada penguasa.
Kalau penguasanya kaum borjuasi (kapitalis) maka pajak akan
dinaikkan prosentasenya atau ada kebijakan khusus dari
rezim, tapi kalau penguasanya sosialis (komunis) dengan
sistem politiknya, maka pajak ditiadakan, karena tidak ada
kepemilikan pribadi -semua yang ada milik bersama (diktator
proletariat) (lihat hal. 140).
Dalam praktek politik negara-negara modern, pajak
menjadi sumber devisa negara yang akan dimanfaatkan untuk
membiayai proyek-proyek sosial, politik, kemanusiaan dan
pembangunan masyarakat lainnya, dimana rezim meminta
persetujuan faksi politik (partai politik, ormas danstake holders
lainnya). Negara mendasarkan kebijakan atas aspirasi publik
yang luas. Dalam hal zakat, pengeluarannya ditentukan oleh
perintah agama, ia harus terpisah dari keuangan umumnegara
-sasaran zakat yang penting adalah kemanusiaan dan ke-
Islaman. Pos-pos pengeluaran pajak dan zakat sebetulnya sama
yakni untuk kepentingan bersama, tapi pajak lebih
menekankan kepada "kompromi" politik penguasa dengan
faksi-faksi politik sedangkan zakat sudah jelas dialokasikan
untuk dunia kemanusiaan.
Setelah keluarnya UU No. 38 tahun 1999 tentang
pembentukan Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil
Zakat (LAZ) di daerah-daerah, ini berarti ada keinginan negara
untuk terlibat dalam pengelolaan zakat, bahwa zakat harus
dikelola secara profesional. Di zaman Nabi pengelola zakat
ini sudah dilakukan secara profesional seperti pengelolaan
pajak -hal itu dilakukan untuk meminimalkan terjadinya
penyimpangan dan penyelewengan oleh oknum-oknum
tertentu dalam negara.
Sebelum mengakhiri pengantar, saya merasa p crlu
memberikan apresiasi kepada penulis buku ini, karcna telah
menghadirkan suatu paradigma perpajakan yang jauh lebih
relevan dengan arus perubahan dan r eformasi bangsa.
Tawaran-tawaran yang dihadirkan dalam buku ini sangat
penting untuk rekonstruksi pengelolaan pajak yang
[xxx] __
Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
demokratis. Selama ini pajak hanya dimaknai secara ekonomi
dan hukum, maka sisi demokrasi dan politik dari pajak itu
sendiri belumbanyak dibahas, maka buku inilah yang pertama
mengetengahkan isu dan wacana itu. Oleh karena itu buku
ini harus direspons dengan baik untuk kemudian
mendiskusikan secara akademik dan bila perlu menjadi satu
bahasan penting dalam dunia akademik atau misalnya sudah
saatnya menyediakan Mata Kuliah khusus tentang Politik
Perpajakan, sebab hal ini penting untuk diajarkan kepada
generasi bangsa ini. Akhimya selamat membaca dan saya tidak
perlu menyimpulkan isi buku ini, arifnya pembaca sendirilah
yang menyimpulkan.
Oiiiiiiiiiiiii [xxxi]
. Pengantar
DEMOKRASI PERPAJAKAN: MENCARI
KEMUNGKINAN BARU DALAM POLITIK
NASIONAL
Oleh: Prof. Dr. Gunadi, M.Se., Akt.
D
alam beberapa literatur pajak (West n: 1993) terdapat
adagium yang mengatakan "no tax representation" yang
maksudnya adalah tiada perwakilan (di parlemen dalam
kegiatan politik) tanpa membayar pajak. Adagium ini mencoba
mencari tali-temali antara kegiatan politik (demokrasi) dengan
hak untuk membayar pajak. Kalau masyarakat ingin
berdemokrasi dengan baik dan melaksanakan hak-hak
politiknya (ikut pemilihan umumdsb), biaya demokrasi (politik)
yang terjadi karena kegiatan dimaksud harus dapat ditutup
dari pembayaran pajak para anggota masyarakat.
Walaupun telah 6 tahun Pemerintah memberlakukan
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah
Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang
Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah (yang kernudian
diubah dengan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004),
namun mencari simpul korelasi antar a pajak d engan
demokrasi masih menjadi wacana yang relatif masih langka
dalam konteks kehidupan politik bangsa ini. Artinya negara
mempunyai kewenangan memungut paj ak dari rakyat yang
dijalankan menurut aturan dan norma yang telah ditentukan
secara bersama, melalui proses politik yaitu oleh wakil rakyat
[xxxii] ;;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Demokrasi Perpajakan
__ [xxxiii]
dan pemerintah. Dalam sistem negara modern, pajak
dikenakan kepada penduduk yang memiliki sumber daya
dalam berbagai bentuk termasuk penghasilan, pengeluaran
dan kekayaan.
Pajak diadakan oleh negara dari rakyat dan untuk
kemaslahatan bersama seluruh rakyat atau dalambahasa buku
ini sebagai "kontrak sosial" antara negara dengan rakyat. Pajak
menempati posisi sentral dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara sebagai wahana untuk menyeimbangkan simpul-
simpul politik, ekonomi, sosial dan yang berserakan dalam
masyarakat. Dengan pajak yang dipungut dari rakyat yang
memiliki kewajiban bayar pajak, negara kemudian membuat
proyek kemaslahatan umum yang bernuansa sosial, ekonomi,
politik, dan budaya dalam rangka peningkatan kesejahteraan
bangsa.
Pajak menjadi salah satu sumber dana untuk pembiayaan
pembangunan nasional termasuk pembangunan infra-struktur
sosial dan pelaksanaan tugas kepemerintahan. Oleh sebab itu
diperlukan usaha untuk melakukan intensifikasi dan
ekstensifikasi pemungutannya. Keberhasilan usaha tersebut
ditentukan oleh kesadaran setiap anggota masyarakat untuk
membayar kewajiban pajak, kesungguhan dedikasi dan sikap
aparat pengelola pajak dalam melaksanakan tugasnya secara
profesional, transparan, dan efektif, administrasi dan sistem
perpajakan yang efektif, serta bantuan positif seluruh warga
dan lembaga negara dan masyarakat.
Ada kesan selama ini, bahwa pajak hanya urusan ilmuwan
ekonomi, hukum, dan administrasi. Namun sejatinya pajak
mempunyai aspek sosial, politik dan demokrasi. Oleh karena
itu, dapat dipahami bahwa penulis buku ini berusaha untuk
menghadirkan suatu paradigma baru dalam memahami sisi
lain perpajakan dari aspek sosial politiknya. Namun demikian,
aspek kemanusiaan, sosial, dan demokratis yang manakah
yang belum tersentuh oleh pengelolaan pajak selama ini,
sehingga diperlukan reorientasi kembali aspek perpajakan yang
sesuai dengan standar demokrasi bangsa?
Hemat saya, buku ini telah mengisi ruang dari pertanyaan
itu -walaupun disadari bahwa pengelola
an
pajak yang
didesain dalam bingkai demokrasi belumlah terjadi dalam
sistem perpajakan Indonesia. Permasalahan yang dihadirkan
dalam buku ini nampaknya harus direspons secar a hati-hati
dan akademik, sebab asumsi berpikir yang digunakan
sangatlah politik. Buku ini memahami pajak dalam dimensi
moral, etika, politik. demokrasi dan kemanusiaan, sehubungan
dengan adanya fakta bahwa ketimpangan dalam perpajakan
sering menlgikan negara secara keseluruhan, termasuk rakyat
yang menjadi tujuan distribusi pajak. Dimensi ini sangat
dominan dan menarik untuk dicermati lebih jauh oleh mereka
yang mengelola pajak termasuk saudara Edi Slamet lrianto
salah seorang penulis buku ini sebagai pelaku perpajakan agar
dapat mendesain kembali wajah dan pola perpajakan yang
relevan dengan arus perubahan sistem politik bangsa. Tanpa
mendesain kembali cara pengelola
an
pajak yang sesuai
konteks perubahan, akan menempatkan pajak tidak mengikuti
irama perubahan. Artinya perubahan yang akan mendesain
pajak termasuk menggusur seluruh kelemahan dan
kekurangan praktek pengelolaan perpajakan selama ini.
Pajak dapat diartikan sebagai suatu pungutan yang
merupakan hak prerogatif negara atau iuran yang dibayarkan
oleh rakyat didasarkan pada undang-undang, yang dapat
dipaksakan tanpa balas jasa langsung yang dapat ditunjuk.
Mainstream pemikiran tersebut telah mendorong para pcngelola
pajak berlaku kurang mencerminkan semangat berbangsa dan
bemegara yang berjiwa demokratis.
Negara-bangsa yang baru merdeka hanya membagikan
buah secar a selektif dan timpang kepada rakyat. Pergantian
[xxxiv] iiiiiiiiiiiiij; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Demokrasi Perpajakan
iiiiiiiiiiiiij; [xxxv]
pemerintah yang kurang demokratis tidak secara otomatis
membawa perubahan ke arah perbaikan status sosial,
perempuan, kelas sosial pekerja, atau petani dan kalangan
miskin dan duafa. Proses perubahan yang terjadi baru
bermanfaat secara sosial, ekonomi, politik dan budaya bagi
rakyat kebanyakan - kalau negara memberikan pelayanan dan
pembangunan yang merata tanpa pilih kasih, walaupun
pendekatan prioritas sikap selektif untuk suatu kebijakan
politik tetap diperhitungkan, namun kebijakan dimaksud tetap
berorientasi kemanusiaan secara menyeluruh, dengan begitu
akan memberikan dampak sosial yang positif bagi akomodasi
simpul-simpul kultural dan kohesi sosial menjadi kuat.
Kemerdekaan yang hakiki adalah terbebasnya manusia
dari penindasan, keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan.
Negara dalam konteks yang lebih luas harus memainkan
peran-peran penting dalam rangka mengangkat keterpurukan
bangsa untuk memberikan kemerdekaan baru bagi
kemanusiaan, memperbaiki infrastruktur sosial dan perbaikan
ekonomi masyarakat. Reformasi yang telah berlangsung
mestinya memberikan arah yang jelas bagi pembangunan
kembali simpul-simpul sosial kultural. Reformasi belum
memberikan kontribusi realnya atas bangunan sosial yang
dimaksud, bahkan reformasi yang telah berumur sewindu ini
mengukuhkan praktek politik kaum elite yang cenderung
korup, manipulatif dan jauh dari semangat demokratis yang
menjadi cita-cita dasar reformasi.
Di tengah kondisi politik demikian, praktek perpajakan .
yang agak "bermasalah" harus segera menyadari "bom
waktu" perubahan yang terus berlangsung. Unsur ekonomi
penting yang menyumbang keberlangsungan negara adalah
paj ak, Kalau pajak masih dikelola dengan cara-cara lama,
m.ika akan memperoleh berbagai tekanan dari kalangan sosial
I
l
( ) Ii I i k. Reorientasi pajak agar menjadi lebih demokratis seperti
yang diinginkan oleh penulis buku ini -tentu juga merupakan
keinginan banyak orang menjadi penting untuk segera
dilakukan. Tanpa melakukan perbaikan dalam konteks
perubahan tersebut, pajak akan dirombak oleh mesin
perubahan yang siap sedia untuk memperbaikinya.
Pergantian kepemimpinan yang terjadi setelah kejatuhan
Orde Baru belum dapat memberikan arah politik perpajakan
yang memadai bagi terciptanya suatu mekanisme kerja
perpajakan yang memenuhi ketentuan demokrasi.
Kepercayaan publik terhadap pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) relatif lebih baik dan legitimat dibandingkan
dengan dua pemerintahan sebelumnya. Modal trust yang
dimiliki oleh pemeritahan SBYjauh lebih mungkin melakukan
serangkaian gebrakan moral dan politik terhadap kejahatan
korporasi termasuk kejahatan yang mungkin terjadi dalam
perpajakan.
Dalamhitungan ekonomi politik, suatu pemerintahan yang
legitimasinya langsung diterima dari rakyat akan jauh lebih
besar kekuatannya untuk memperbaiki sistem politik dan
ekonomi bangsa, terutama sistem pajak yang perlu didesain
kembali agar dapat menjadi lebih baik dan mampu membiayai
anggaran negara, terutama pembiayaan proyek yang
berhaluan kemaslahatan sosial.
Sekalipun demikian, pajak yang diimpikan menjadi sumber
utama dalam rangka kemandirian anggaran negara belum
dapat maksimal dikelola oleh pemerintah. Cara-cara
pengelolaan pajak yang penuh bias dan cenderung
menyimpang harus ditinggalkan dengan melakukan perbaikan
internal pajak menuju Good Governance. Sungguhpun begitu,
kalangan pajak sendiri harus ditekan oleh kekuat an negara
agar mereka yang diberi tugas mengelola sumbe r keuangan
negara tersebut dapat menunjukkan perilaku yang demokratis.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah soal keadilan.
Aspek keadilan yang perlu dipenuhi oleh pajak, antara lain
[xxxvi] ;;;;;;;;;;;
tatanan kehidupan bebas dari rekayasa dan urusan kurang
terpuji, penuh dengan rasa keadilan dan bebas dari usaha
untuk memaksakan keyakinan moral kepada orang lain (Franz
Magnis-Suseno, 1995: 67). Rakyat dan negara merupakan dua
unsur yang menyatu. Karena itu, adalah kurang bijak untuk
menempatkan negara dalam posisi sebagai pihak yang
menguasai rakyat. Dalam sistem politik otoriter, negara
seringkali menerapkan pola penaklukan atas rakyat, dan
rakyat hanya menjadi obyek dan bukan sebagai partner.
Akibatnya, kebijakan publik bersifat tertutup dan rakyat hanya
"pasrah" menerima kebijakan tersebut tanpa ada partisipasi.
Dalam tahun 1999, Pemerintah juga memberlakukan
Undang-undang Nomor 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan
Zakat. Pemberlakuan ini mungkin dimaksudkan untuk
menggairahkan pelaksanaan kewajiban syariat Islam untuk
membayar zakat, memobilisasi dana zakat, mengelola dan
memanfaatkannya untuk kemaslahatan umum. Baik pajak
maupun zakat adalah sama-sama merupakan instrumen
pemerataan penguasaan sumberdaya ekonomi dengan
menarik dari yang mampu untuk kemaslahatan bersama dan
penyediaan santunan untuk yang kurang mampu. Untuk
meringankan daya serap tersebut (tream - up effect)
pemerintah berupaya mencari titik integerasi dari keduanya,.
Dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang
perubahan ketiga Undang-undang Pajak Penghasilan 1984,
titik integrasi tersebut dijembatani dengan mengurangkan
zakat dari penghasilan kena pajak pembayar zakat. Hal ini
mengindikasikan bahwa negara ikut berpartisipasi dalam
pembayaran zakat maksimal sebanyak 35% dan pembayar
zakat hanya menanggung sisanya. Sebagai instrumen
mobilisasi dana masyarakat, dengan adanya zakat dan pajak
secara kumulatif akan terdapat dana yang lebih banyak
tersedia untuk kemaslahatan umum.
Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
bahwa beban pajak harus dipikul secara merata dan sesuai
dengan kemampuan pembayar setiap wajib pajak. Prinsip
kesamaan/keadilan (equity), menghendaki bahwa perbedaan
dalam level penghasilan harus mewarnai distribusi pajak.
Selain itu, dalam kebijakan pajak harus melekat aspek
kepastian (certainty). Pajak hendaknya tegas, jelas dan pasti
dan bukan hanya sekedar tuntutan negara kepada masyarakat
untuk membayar pajak, melainkan negara harus memberikan
manfaat sosial (social benefits) yang layak kepada yang
memerlukan. Dari penerimaan pajak negara harus dapat
menyediakan sejumlah kemudahan bagi rakyat untuk
mendapat manfaat ekonomi dan sosial dari pengalokasian
pajak yang dimaksud.
Dalam kasus-kasus tertentu, setelah membayar pajak
kepada negara, rakyat tidak memperoleh informasi tentang
untuk apa penerimaan pajak dibelanjakan. Bahkan lebih baik
lagi apabila rakyat diajak dialog mengenai pengalokasian uang
pajak, apalagi memperoleh imbalan atau manfaat yang
diberikan negara, melainkan dimanfaatkan untuk pembiayaan
negara. Dalam soal ini negara menunaikan sejumlah
kewajiban publik untuk melindungi, mengayomi dan
memberikan rasa aman kepada warga negaranya. Ketika
ketidak-nyaman, ketakutan dan ketidak-pastian terjadi,
masyarakat berhak menuntut negara untuk memberikan
jaminan keamanan atas usaha, kegiatan dan kehidupan
mereka.
Atas dasar itu, dengan meminjam cara berpikir penulis
buku ini menggunakan teori negara dan demokrasi,
nampaknya praktek bemegara yang demokratis itu haruslah
sesuai dengan nilai-nilai dan aspirasi yang eksis dalam
masyarakat. Model kehidupan bemegara yang baik adalah
yang memungkinkan mengadakan kompromi moral dalam
Demokrasi Perpajakan
;;;;;;;;;;; [xxxvii]
[xxxviii] iiiiiiiiiii Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Demokrasi Perpajakan
iiiiiiiiiii [xxxix]
Buku ini hadir tidak terlepas dari kegelisahan yang muncul
dari para pengelola pajak terutama saudara Edi Slamet Irianto
yang punya persepsi pengelolaan pajak yang selama ini kurang
transparan dan tidak demokratis, harus segera dilakukan
perbaikan-perbaikan agar memenuhi standar demokratis,
standar keadilan, dan standar kemanusiaan. Kegelisahan
serupa nampaknya juga muncul dari kalangan masyarakat ,
luas dalam melihat pengelolaan dan pemanfaatan pajak yang
kurang transparan dan bias tersebut.
Ikhtiar yang dilakukan oleh penulis buku ini nampaknya
akan memberikan arah baru bagi format politik perpajakan
yang lebih baik di masa depan. Format itu sendiri terkait
langsung dengan rekonstruksi sejumlah "kekurangan" yang
dirasakan oleh masyarakat dalam pengelolaan pajak. Mereka
mengharap bahwa bangsa ini harus di "bangunkan" dari
segala kemunduran dan sikap yang kurang terpuji, karena
kemajuan hanya dapat diraih dengan menyadari kekeliruan
dan kesalahan dan segera memperbaikinya agar lebih
berkualitas. Semakin berkualitasnya pengelola pajak tentu
akan mengubah citra dan stigma "bermasalah" yang
dikesankan masyarakat.
Perspektif pajak yang relatif baru ini diharapkan dapat
menambah khasanah literatur ekonomi dan hukum. Dalam
dimensi sosial politiknya, pajak perlu direkonstruksi agar
berlandaskan pada kepentingan publik yang luas. Perlu dicatat
bahwa pajak bukan soal kewajiban warga negara kepada
negara saja, tetapi pajak menjadi media penghubung sosial
antara kelompok the have dengan the have not. Tampaknya
aspek ini belum banyak disentuh oleh ilmuwan ekonomidan
hukum yang melihat dari sisi fiskal semata dan normatif,
padahal esensinya pajak juga dapat dipandang dari kacamata
kemanusiaan, sosial dan politik (demokratis).
Pemikiran yang ditawaran dalam buku ini menjadi bahan
penting bagi pelaku perpajakan dan pengambil kebijakan
untuk segera melakukan pembenahan dan perbaikan agar
wajah perpajakan menjadi lebih transparan dan demokratik.
Pajak sebagai bagian dari "kontrak sosial" antara negara
dengan warganya haruslah dapat terpenuhi oleh warganya
berdasar aturan yang memenuhi rasa keadilan dan dapat
menyediakan yang cukup untuk kemaslahatan umum.
Akhimya, kami ucapkan selamat kepada sdr. Edi Slamet
Irianto dan Syarifuddin [urdi yang telah berhasil dengan baik
menyusunbuku ini. Semoga karya tulis yang sedikit bemuansa
"provokatif" ini dapat membuka lembaran diskursus baru
dalam dunia ekonomi politik, terutama isu-isu penting yang
berkaitan dengan perpajakan. Hemat saya, buku ini telah
memperkaya ruang diskursus yang selama ini masih relatif
belum "disinggung" oleh ilmuwan dengan tidak sengaja tanpa
menyentuh dimensi demokrasi perpajakan. Selamat membaca
semoga bermanfaat, bagi para stakeholders perpajakan dan
mereka yang berminat dan peduli pada isu perpajakan.
Jakarta, Agustus 2005
[xl];;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara ;;;;;;;; [xli]
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR PENULIS vu
KATA PENGANTAR xiii
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK xvii
PENGANTAR: MENCARI KEADILAN POLITIK
MELALUI PAJAK xix
PENGANTAR DEMO_KRASI PERPAJAKAN: MENCARI
KEMUNGKINAN BARU DALAM POLITIK
NASIONAL xxxi
DAFTAR ISI........................................................................... xli
Bagian Pertama: DEMOKRASI DAN POLmK KEBANGSAAN:
SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA 1
PENGANTAR................................. ..................................... 1
KONSEP DASAR DEMOKRASI. .................................... 3
Mencari Akar Demokrasi 3
Demokrasi Normatif dan Empirik 9
Menuju Rezim Yang Demokratis 16
DESENTRALISASI DAN DEMOKRASI POLITIK 23
Munculnya Desentralisasi 23
Desentralisasi Demokrasi.................... ................................. 30
Desentralisasi dan Civil Society.......................................... 38
Desentralisasi dan Gerakan Sosial Lokal 43
DEMOKRASI BAGI INDONESIA 47
Beberapa Asumsi Teoritik dan Empirik 47
[xlii] ;;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Rezim Otoriter Memacetkan Demokrasi 53
Demokrasi dan Elite Politik 57
Bagian Kedua: NEGARA, DEMOKRASI DAN PAJAK 61
PENGANTAR....................................... ............................... 61
MENUJU POLITIK PERPAJAKAN 62
FormulaMencari Keadilan Politik 62
Pajak: Keseimbangan Pusat dan Daerah 67
EKONOMI POLITIK NEGARA ~ . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 75
Pajaksebagai Sumber Ekonomi Politik 75
Politik Keadilan DalamPerpajakan 78
Negara dan Politik Perpajakan: Beberapa Asumsi Teoritik 80
DEMOKRATISASI PERPAJAKAN 90
Pemikiran Dasar Demokrasi Pajak 90
Membangun Demokrasi Perpajakan 93
Bagian Ketiga: OTONOMI FISKAL, PAJAK DAN ZAKAT 101
PENGANTAR 101
~
OTONOMI FISKAL DAN KEBIJAKAN FISKAL 103
Perangkat UU Fiskal 103
Otonomi Fiskal dan Nilai Lokal 106
Bagaimana Semestinya Politik Perpajakan? 109
PAJAK: "KONTRAK SOSIAL" NEGARA DAN RAKYAT 112
Pajak: Sumber Pembiayaan Politik 112
Pajak: "Kontrak Sosial" Negara dan Rakyat 115
DialektikaPolitik Perpajakan di Indonesia 124
ZAKAT SEBAGAI ALTERNATIF KEBIJAKAN 135
Zakat: Pengertian dan Permasalahannya 135
Zakat Altematif Sumber Kas Negara 147
Beberapa Persamaan dan Perbedaan Pajak dan Zakat153
Zakat dan Pajak: Bagaimana Seharusnya? 158
Daftar Isi ;;;;;;;; [xliii]
Bagian Keempat: KONTROL RAKYAT TERHADAP PAJAK:
SYARAT DEMOKRATISASI PERPAJAKAN 165
PENGANTAR 165
HAK POLITIK RAKYAT ATAS PAJAK 167
Hak Politik Rakyat Atas Pajak 16
7
Kelemahan Kontrol 172
Problematika Kontrol di Indonesia 17
4
Implikasi Politik dari Kontrol Pajak 179
WUJUD PAJAK YANG DEMOKRATIS 185
Adanya Legitimasi dan Keterbukaan 185
Distribusi Pajakyang Merata 192
DAFTAR PUSTAKA 201
RIWAYAT SINGKAT PENULIS 205
l!s
[xliv] Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
[1]
Bagian Pertama
DEMOKRASI DAN POLITIK
KEBANGSAAN: SEJARAH DAN
PERKEMBANGANNYA
Demokrasi telah. menjadi piCilian utama para pemimpin negara-negara
modern -6ai/(yang sudah. maju maupun yang setfang sebab
demokrasi memberikan jaminan 6agi pluraiisme. 'J{amun demokrasi telah.
menjadi semacam uiacana poCiti/( semata, sebab negara-negara maju yang
memelopori demokjasi tidak; /(unjung memperllhatkan si/(ap dan. tindakiut
yang demokjiuis, sekalipun. j uga suatu negara menganut sistem demokrasi,
tetapi demokjasi lianya ada daiam catatan Iembaran negara -sementara
pra/(Je/( politik;pemerintahan sebuah. tezim yang 6er/(uasa sangat
6ertentangan denqan prinsip demokrasi.
'J{ampaIQ1ya angin perubahan yang "menerpa JJ Indonesia telah. membuka
/(pta/( pnadora demokrasi itu, seningga masa konsotidasi demokrasi unr uk;
mencapai demokjasi yang 6er/(uaCitas tenqah. di[a/(u/(an -ididahului denqan.
sefeiqi pemimpin, dimana raRyat ierlibat [ansgung dalam meneni ukan.
Presiden dan. Wakj[nya, 'J(jpa[a '1Jaera!i dati Wakj[nya - semog a masa
iransisi ini segera 6erak:fzir menuju demokjasi yang diimpikan. bersama yang
berjiuia Indonesia, 6er/(ara/(Jer rdigius dan berdimensi teoloqis.
PENGANTAR
G
elombang baru demokrasi yang terjadi sejak tahun 1998
sebagai titik sentral dari kuatnya d esakan untuk
melakukan reformasi politik, ekonomi, hukum, dan mi liter -
sebab selama ini rezim menggunakan instrumen-instrumen
tersebut untuk mengkooptasi rakyat, demokrasipun mengalami
[2];;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara Demokrasi dan Politik Kebangsaan
;;;;;;;; [3]
kemacetan dan stagnan, karena itu yang perlu dikerjakan oleh
kekuatan pro-demokrasi dan kekuatan civil society adalah
mendesakkan adanya perubahan sistem politik, ekonomi,
hukum, budaya dan tata kerja militer yang selama ini dinilai
terlampau banyak mencampuri wilayah sipil.
Wujud minimalis dari demokrasi yang didesakkan tersebut
memang sebagian telah dirasakan oleh rakyat seperti pemilihan
umum yang semakin terbuka y a ~ g diikuti dengan pemilihan
Presiden secara langsung yang disusul kemudian dengan
pemilihan Kepala Daerah langsung yang serentak digelar
mulai [uni 2005 serta dipilihnya pula wakil-wakil daerah oleh
rakyat secara langsung yang duduk di Dewan Perwakilan
Daerah (DPD). Perubahan-perubahan tersebut tentu
membawa "berkah" bagi usaha untuk membangun demokrasi
kerakyatan yang mencerminkan nilai-nilai sosial kultur
masyarakat.
Pada bagian ini, penulis akan menjelaskan sejumlah hal
yang berkaitan dengan konsep-konsep dasar tentang
demokrasi -baik yang bersifat normatif dan empirik dan dalam
beberapa hal kemungkinan akan menyinggung makna
demokrasi langsung. Berbagai dialektika demokrasi yang
terjadi sebagai akibat dari banyaknya ragam konsep,
pemikiran dan praktek demokrasi dalam alam kehidupan
negara-bangsa (nation-state) modern. Oleh karena itu, penulis
tidak akan menampilkan konsep-konsep ekonomi politik
terutama konsep tentang perpajakan yang menjadi isu sentral
dalam buku ini. Hal ini sengaja dilakukan, agar diperoleh
sejumlah kerangka pemikiran teoritik tentang demokrasi dan
desentralisasi -tujuannya untuk menemukan kerangka kerja
perpajakan yang demokratis yang akan dibahas pada bab-bab
berikutnya.
Ruang publik (public sphere) yang terbuka luas dan bebas
hams digunakan untuk membangun basis-basis demokrasi
yang mampu menaikkan posisi sosial, ekonomi dan politik
rakyat. Selain dimensi ekonomi politiknya tetap memperoleh
bagian terbesar dan selebihnya mengarahkan persoalan
demokrasi kepada upaya untuk menciptakan keadilan sosial,
keadilan ekonomi, keadilan kultural dan keadilan politik agar
tercipta keseimbangan sosial yang baik dalam masyarakat.
Sebab ketidak-adilan akar dari banyak masalah yang akan
mungkin dan berkembang dalam masyarakat, dengan
menjawab tuntutan demokratislah yang akan mengurangi
"pemberontakan politik".
KONSEP DASAR DEMOKRASI
Mencari Akar Demokrasi
Rezim politik yang berkuasa sangat menentukan arah dari
perjalanan suatu bangsa, apakah suatu negara menjadi negara
yang demokratis atau menjadi diktator-otoriter? Dimensi
kepemimpinan politik dalam partai politik, birokrasi
pemerintahan, dan lembaga sosial kemasyarakatan akan
sangat memberikan warna dan cerminan bagi perjalanan
demokrasi. Sebagai contoh, ketikabangsa ini pada dekade
1950-an dalam Majelis Konstituante -dimana para wakil
rakyat hampir memperoleh sebuah kesepahaman politik untuk
membangun Indonesia yang demokratis, bebas dan liberal.
Namun sikap otoriter Soekarno sudah mulai menunjukkan
wujudnya sejak tahun 1958 dengan memberikan pidato yang
kurang mencerminkan sikap sebagai pemimpin yang
demokratis. Puncak dari akumulasi sikap tersebut, tahun 1959
dengan berbagai dalih dan alasan serta dukungan kuat yang
diberikan oleh Militer - Presiden Soekarno membubarkan
Konstituante dengan mengajak para faksi-faksi politik di
Majelis tersebut untuk kembali kepada UUD 1945 yang dijiwai
oleh Piagam [akarta.'
I. Ajakan kembali kepada UUD 1945 diterima baik oleh kekuatan militer
ang memang sudah sangat "muak" menyaksikan perdebatan para politisi
ang belum juga menemukan jalan keluar atas rumusan dasar negara yang
[4];;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara Demokrasi dan Politik Kebangsaan
;;;;;;;; [5]
Banyak pihak yang menyebut, bahwa sikap otoriter
Soekarno tersebut lebih banyak disebabkan oleh lobi-lobi "luar
, pagar" kalangan Islam tertentu, militer dan pihak komunis
. yang semakin menguatkan dugaan itu, tahun 1960 -Soekarno
' membubarkan Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi)
sebagai sayap politik kaummuslimmodernis dan Partai Sosialis
Indonesia (PSI) sebagai sayap politik kaum nasionalis kritis,
oleh rezim dan militer ketika itu, kedua partai ini dianggap
menfasilitasi pemberontakan lokal seperti PRRI dan Permesta.
Dalam sejarah perpolitikan nasional diawal kemerdekaan,
kedua partai itu merupakan penyokong utama demokrasi,
elite-elitenya berpolitik secarba cerdas dan menjauhkan diir
dari cara-cara berpolitik yang tidak demokratis.
Sungguhpun demikian, sikap tegas rezim juag dimaknai
sebagai ketidak-mampun partai-partai politik untuk mengatasi
fokus pada kepentingan partai dan mencapai wawasan
kepentingan nasional." Di tingkat elite juga terjadi perbedaan
pandangan, umpamanya Hatta menegaskan sikapnya, bahwa
rakyat menurutnya harus dididik agar mampu berdemokrasi,
agar para partisipan belajar bertanggungjawab dan '
bertoleransi terhadap pendapat-pendapat yang berbeda-beda
dan belajar menjadi mampu beroposisi." Pendapat Hatta
sejalan dengan pandangan Sjahrir salah seorang tokoh PSI
yang menganggap diperlukan adanya proses berpolitik yang
cerdas dengan mendidik rakyat supaya dapat ber-demokrasi
baru. Meskipun begitu, sejumlah pihak mengatakan, bahwa Majelis
Konstituante yang ditugaskan merumuskan UUD tersebut sudah hampir
final menyepakati naskah perubahan, artinya konsensus demokrasi dasar
antara Masyumi dan PNI waktu itu masih ada, terus menipis, namun ketidak-
sabaran militer dan kelompok-kelompok tertentun dalam masyarakat
menyebabkan Soekarno bertindak otoriter -itulah yang menjadi awal dari
demokrasi Terpimpin.
2. Franz Magnis Suseno,Mencari Format Demokrasi: Sebuah Telaah Fi/osofis
(jakarta: Gramedia, 1995), hIm. 72
3. Lihat kutipan tentang pendapat Hatta yang dikutip oleh Franz Magnis-
Suseno, Ibid.
dengan bertanggungjawab. Mengajarkan rakyat mengenai
.politik atau political education merupakan sesuatu yang penting
untuk membiasakan suasana demokratis dalam masyarakat.
Demokrasi juga akan dapat berjalan apabila dibangun sebuah
budaya komunikasi demokratis. Budaya itu termasuk
kemampuan untuk menerima kekalahan dalam pertandingan
demokratis dan tetap mendukung usaha bersama. Diperlukan
kemampuan untuk bertoleransi serta untuk menjunjung tinggi
[aimees.:
Di tengah multi-kulturalisme model Indonesia diperlukan
juga budaya demokrasi yang memuat budaya konflik
demokratis. Para politisi dan warga negara harus belajar
mengemukakan pandangan dan kepentingan yang
bertentangan dengan tetap menghayati persatuan yang lebih
mendalam -sungguhpun ideologi dan kepentingan yang
berbeda. Kemampuan untuk berhadapan dengan lawan politik
tidak sebagai musuh, melainkan sebagai sarna-sama warga
negara, merupakan unsur hakiki dalam budaya demokrasi.
5
Dengan membiasakan diri semacamitulah nilai-nilai demokrasi
akan dapat tercipta dengan tersedianya ruang publik - dimana
dialog, debat dan diskusi tentang sejumlah persoalan pada
ranah publik yang bebas - baik menyangkut kepentingan
bersama maupun kepentingan pribadi dan golongan, sangat
mendukung terciptanya suatu sistem demokrasi yang baik.
Sesuatu yang belum muncul dalam politik Indonesia adalah
kurang "dewasa"nya elite politik dalammerespons perbedaan,
bahkan pihak yang berbeda dengan sang elite akan dianggap
sebagai musuh, bukan sebagai sahabat atau warga negara
yang memiliki hak dan kepentingan yang sama.
Demokrasi yang hendak dibangun mengalami kemacetan
sejak itu, bahkan demokrasi hanya menjadi impian semata bagi
bangsa ini -selepas kekuasaan dari Seokarno beralih dengan
4. Ibid.
s l bid.
[6];;;;;;;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara Demokrasi dan Politik Kebangsaan
;;;;;;;;;;;;; [7]
suatu tragedi politik dan kemanusiaan - pemerintahan
dikendalikan oleh Presiden Soeharto yang ketika itu masih
berpangkat Mayor Jenderal. Soeharto kemudian
mengendalikan kekuasaan, dengan gaya militernya, rezim
Orde Baru menerapkan pola stabilitas politik guna menjamin
kelangsungan pembangunan ekonomi dan untuk itu -negara
melakukan depolitisasi tahun 1973 dengan memfusikan partai-
partai Islam kedalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
dan partai non-Islam kedalam Partai Demokrasi Indonesia
(PDI). Tentu saja, fusi politik ini sebagai upaya negara untuk
mempersempit ruang konflik dan sekaligus memudahkan
negara untuk mengontrol partai politik. Dalamhal ini, nampak
jelas, bahwa negara dengan penguasanya telah melakukan
langkah diktator dengan memaksa kelompok-kelompok politik
menyatu dalam lembaga politik yang dipaksakan untuk
memenuhi selera penguasa. Padahal syarat utama dari
terciptanya budaya demokrasi, tersedianya perbedaan antara
kelompok masyarakat yang menyatu dalam wadah politik
yang dibentuk atas dasar kepercayaan, kepentingan, dan
harapan sektarian.
Banyak pihak yang menyebut, bahwa keberhasilan negara
menciptakan konsensus demokratis masyarakat juga ikut
ditentukan oleh kelompok minoritas -apakah mereka sudah
merasa cukup aman dan diakui identitasnya. Tentu ini juga,
merupakan sikap yang perlu diperhatikan dalam rangka
membangun tradisi berbudaya demokrasi yang sejati,
sungguhpun begitu yang mayoritas tetap memperoleh ruang
yang besar atas budaya demokratis itu, tanpa mengabaikan
hak dan kepentingan kelompok minoritas.
Dalam rangka melihat kemungkinan tercipta tradisi ini,
Franz Magnis" mengemukakan pandangan, menurutnya, etika
politik akan membantu dengan membedakan antara
6 .
Ibid., him. 74-75.
demokrasi secara formal dan secara substansial. Demokrasi
formalmerupakana necessary, tetapi bukana sufficient condition
bagi demokrasi secara substansial. Tanpa lembaga-Iembaga
demokratis tidak mungkin ada demokrasi. Tetapi apakah
adanya lembaga-Iembaga demokratis sudah menunjuk pada
adanya demokrasi -jadi apakah dengan adanya demokrasi
formal sudah terdapat demokrasi substansial-tergantung dari
apakah lembaga-Iembaga itu melakukan fungsi demokratis
yang menjadi maksud objektif mereka. Dengan demikian,
demokrasi bukan sekedar masalah simbol dan formalisme
kelembagaan, melainkan realisasi demokratis dari
kelembagaan itu yang justru ditunggu-tunggu oleh rakyat.
Sekalipun secara formal dan prosedural misalnya rezim Orde
Baru, tetapi makna empirik dalam realitas -demokrasi justru
tidak berjalan sesuai konsep dasarnya demokrasi itu
dilembagakan.
Demokrasi dalam kadarnya yang minimalis telah
dikembangkan oleh elite-elite politik, elite agama dan
intelektual pada dekade sebelum kemerdekaan -semangat
demokratis itu berkembang dalam skalanya yang formal
setelah Indonesia merdeka dan terlembaga melalui partai
politik yang berdiri dengan berbagai motif dan kepentingan.
Masyumi, sekalipun watak Islamnya kelihatan menonjol tapi
sebetulnya mengembangkan konsep dasar demokrasi yang
sejati -dimana perbedaan dikelola untuk menjadi kekuatan
dalam rangka memperluas wilayah kerja partai. Elite-elite
Masyumi berbeda pendapat dengan elite-elite politik nasionalis
(PNI dan PSI misalnya) dalam merekonstruksi bangsa ini, tapi
tidak membuat mereka saling membenci atau persahabatan
diantara mereka menjadi putus lantaran perbedaan pandangan
diantara mereka mengenai bangunan demokrasi dan politik
bangsa.
Semangat demokratis serupa berkembang dalam partai-
partai nasionalis seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) dan
[8] iiiiiiiiii Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Demokrasi dan Politik Kebangsaan
iiiiiiiiii [9]
<.
PSI serta partai-partai lainnya. Partai-partai ini tetap
mendorong agar Indonesia menjadi negara yang demokratis.
Oleh karena itu, kitapun segera menegaskan, bahwa tradisi
berdemokrasi dalam konteks negara-bangsa telah dilakukan
oleh elite-elite bangsa di masa awal kemerdekaan hingga
menjelang berakhirnya dekade 1950-an, tepatnya sebelum
rezim Demokrasi Terpimpin yang otoriter ditegakkan.
Nilai-nilai demokrasi dapat pula diperoleh diberbagai
daerah dengan cara dan gaya masyarakat lokal berdemokrasi.
Di Sumatra Barat dapat ditemukan public sphere (ruang publik)
yang menjadi arena tukar-pikiran bagi warga yakni Surau-
Surau Masjid. Mereka memanfaatkan Surau Masjid sebagai
arena tukar-pikiran diantara warga. Di Lombok dapat
ditemukan media serupa sebagai sarana komunikasi dan
tukar-pikiran warga yakni Paruga yang mudah ditemukan di
halaman rumah warga. Paruga ini sebagai sarana untuk
berkumpul keluarga dan warga masyarakat yang
membutuhkan informasi dan sebagainya.
Media serupa dapat ditemukan di Bima, masyarakat daerah ,
ini menggunakan Saranggesebagai public sphere (ruang publik)
-mereka menggunakan Sarangge sebagai sarana tukar-pikiran,
agregasi politik, membincangkan masalah yang dihadapinya
dan bahkan Sarangge dapat digunakan untuk bermusyawarah
dalam kadarnya yang minimalis. Sarangge disediakan untuk
dimanfaatkan sebagai media terbuka yang "bebas hambatan"
dari pengaruh lainnya -bahkan di Bima para Kepala Desa
menyediakan Sarangge untuk menerima tamu-tamu politik
yang datang kedesanya. .
Ruang publik yang bebas seperti tersebut di atas merupakan
salah satu syarat bagi terwujudnya demokrasi politik. Politik
kooptasi yang dikembangkan oleh rezim politik -tentu
bcrimplikasi pada perkembangan demokrasi. Serpihan
. Iomokrasi yang tersedia di berbagai daerah nampaknya perlu
. Ii rarn u dan didesain dalam rangka membangun demokrasi
ku lt u r dan demokrasi lokal untuk mendukung proyek
demokrasi bangsa yang tengah mengalami banyak kendala
dan problem dewasa ini. Nilai-nilai lokal yang berwajah
demokratis harus diakomodasi dalam mendesain sistempolitik
lokal yang demokratis, artinya rakyat di daerah dapat
mengembangkan demokrasi dengan ciri khasnya sendiri yang
tentu berbeda dengan demokrasi di daerah lain.
Demokrasi Normatif dan Empirik
Demokrasi seringkali menjadi bahan pembicaraan yang
sudahmembudaya dalamkonteks kebangsaan, itu terjadi sejak
dilakukan reformasi politik tahun 1998. Mulai dari intelektual
hingga orang awam seringkali memperbincangkan demokrasi
sebagai suatu isu bersama -sekalipun mungkin sebagian
diantaranya tidak memahami apa makna dan arah dari
demokrasi yang diperbincangkan. Dernokrasi kerapkali
diidentikkan dengan kebebasan -bahkan kebebasan yang
"kebablasan", tapi itulah demokrasi yang dipahami oleh warga
masyarakat. Untuk tidak terlalu banyak terjebak dan masuk
dalam perangkap yang kurang "sehat" ada baiknya
diketengahkan konsep demokrasi dan sistem politik yang
memberikan dukungan atas konsep tersebut.
Para ilmuwan politik memiliki pemahaman yang hampir
sama, meskipun mengalarni perubahan penekanan sejak
dekade 1960-an, dan menjelang 1970-an pemahaman tentang
demokrasi masih didominasi pendekatan normatif yang
melihat demokrasi sebagai sesuatu yang secara ideal hendak
dilakukan atau diselenggarakan oleh sebuah negara.
Pendekatan normatif berakar pada pemikiran klasik sejak
[aman Yunani Kuno sampai pada pemikiran sosialisme Karl
Marx, yang menekankan demokrasi sebagai sumber
wewenang d antujuan. Demokrasi merupakan kehendak
rakyat untuk mencapai tujuan kebaikan bersama."
7. Lihat Mohtar Mas'oed, Negara, Kapital dan Demokrasi, (yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1994), hal. 4-5
[10].... Polit ik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Pende ka tan normative mengenai demokrasi tidak
seluruhnya dapat diterima oleh ilmuwan politik, oleh karena
kegelisahan empirik dan melihat fenomena real pelaksanaan
demokrasi, maka Ioseph Schumpeter mempelopori pendekatan
empirik yang menggantikan pendekatan normative, sekalipun
penerus pendekatan normative tidak berhen ti. Schumpeter
menyatakan bahwa, pros edur utama demokrasi pemilihan
para pemimpin sec ara kompet it if oleh rakyat yang mereka
pi mpin ya ng memberi kekuasaan pada pemerin tah, bukan
suatu jenis masyarakat dan bukan juga seperangka t tujuan
moral-suatu mekanisme yang mengandung sua tu kompetisi
antara satu atau lebih kelompok para politisi yan g
terorganisasikan dalam partai politik bagi suara yang akan
mencerahkan mereka untuk memerintah sampai pemili han
beriku tnya. Metode demokratis menur u tnya merupakan
tatanan kelembagaan untuk mencapai keputusan-keputusan
poli tik dimana indivi du-ind ividu melalui perjuangan
memperebutkan suara ra kyat pemilih secara kompetiti f dan
memperoleh kekuasaan untuk membuat keputusan."
~
Berangkat dari asumsi empirik tentang demokrasi yang
dipahami oleh Schumpeter sebagai suatu mekanisme - dimana
elite-elite politik bersaing dalam suatu pemilihan umum yang
dilaksanakan se cara bebas -dimana rakyat terlibat dalam
menentukan elite politik yang bakal berkuasa. Konsep
Schumpeter tentang demokrasi empirik tersebut mengawali
makna demokrasi sebagai pembentukan prosedur politik atau
lebih dikenal demokrasi prosedural dan kemudian diikuti oleh
pemikir-pemikir lain. Robert Dahl merumuskan suatu tatanan
politik yang disebutnya "poliarki" ("polyarchy") istilah yang
dipakainya untuk menyebut demokrasi. Menurutnya ciri khas
8 Ioseph Schumpeterdikutip S.P.Varma, Teori Politik Modern, terj. (fakarta:
Rajawali 1995), ha!. 213. Lihat juga Schumpeter di kutip Huntington, The
Third Wave: Democratization in the Late Cent ury, (Norman: University of
Oklahoma Press, 1989), edisi terjemahan oleh Asril Marjohan, Gelombang
Demokratisasi Ketiga, (jakarta: Pustaka Utama Grafitti 1995), ha!. 4-5.
Demokrasi dan Politik Kebangsaan .... [11]
demokrasi adalah sikap tanggap pemerintah secara terus
menerus terhadap preferensi atau keinginan warga
negaranya. Tatanan politik seperti itu bisa digambarkan
dengan memakai dua dimensi teoritik, yaitu seberapa tinggi
tingkat kontestasi, kompetisi atau oposisi yang dimungkinkan
dan seberapa banyak warganegara yang memperoleh
kesempatan berpartisipasi dalam kompetisi politik itu.?
Demokrasi membuka peluang bagi adanya kompetisi,
kontestasi, dan oposisi -pihak yang menang akan berkuasa
dan yang kalah akan menjadi oposisi terhadap kekuasaan.
Warga negara yang memiliki hak untuk bersaing dalam
lapangan politik terbuka peluang -asal memenuhi ketentuan
demokratik yang dipersyaratkan. Persaingan dan kontestasi
akan bermuara pada pembentukan lembaga-Iembaga negara
yang bertugas untuk melayani kepentingan publik, selain tugas-
tugas legislatif dan kehakiman. Tugas-tugas itu dapat disebut
antara lain departemen keuangan yang membawahi
perpajakan, departemen kesehatan, departemen sosial dan
departemen atau lembaga resmi negara lainnya.
Dalam hal ini Robert A. Dahl mencatat terdapat tujuh
lembaga khusus yang berkembang yang membedakan rezim-
rezim politik negara-negara demokrasi modem dari semua
rezim lainnya:" periama , kontrol atas keputusan-keputusan
pemerintah tentang kebijaksanaan secara konstitusional
dibebankan pada pejabat-pejabat yang dipilih. Kedua, para
pejabat yang dipilih selalu berasal dad proses pemilihan yang
dilakukan secara jujur, setiap unsur paksaan dianggap sebagai
9, Robert A. Dahl, Polyarchy: Participation and Opposition, (New Haven &
London: Yale Universit y Press 1971), ha!. 5-6. bdk juga bah asan Mohtar
Mas'oed, Ibid, ha!. 9.
10, Robert A. Dahl, Dil emmas of Pluralist Democracy: Au tonomy vs
Control, (New Haven & London: Yale Univ. Press 1982) atau dapat dilihat
dalam edisi terjemahan oleh Sahat Simamora, Robert A. Dahl, Dil ema
Demokrasi Pluralis: Anta raOtonomi & Kontrol, (jakarta: Rajawali Press, 1986),
ha!. 17-18.
[12];;;;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara Demokrasi dan Politik Kebangsaan
;;;;;;;;;; [13]
suatu hal yang sangat memalukan. Ketiga , secara praktis,
semua orang dewasa mempunyai hak dalam memilih pejabat-
pejabat resmi. Keempat, secara praktis semua orang dewasa
mempunyai hak untuk dipilih sebagai pejabat resmi dalam
pemerintahan, meskipun batas umur untuk dipilih mungkin
lebih tinggi dari batas umur untuk memilih. Kelima, warga
negara mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapat tanpa
ancaman akan dihukum, mengenai soal-soal politik yang
ditentukan secara luas, termasuk melancarkan kritik terhadap
para penjabat, pemerintahan, rezim, tata sosio ekonomi dan
ideologi yang berlaku. Keenam, warganegara mempunyai hak
untuk mendapatkan sumber-sumber informasi alternatif,
karena memang sumber-sumber dimaksud ada dan dilindungi
hukum. Ketujuh, untuk mencapai berbagai hak mereka,
termasuk yang disebut di atas, setiap warga negara juga
mempunyai hak untuk membentuk perkumpulan-
perkumpulan atau organisasi yang relatif independen,
termasuk partai-partai politik dan kelompok kepentingan yang
bebas.
Berangkat dari asumsi teoritik Robert A. Dahl, maka
demokrasi menyediakan ruang dimana warga negara terlibat
dalam berbagai proses politik yang terjadi, sekalipun
keterlibatan rakyat dalam proses tersebut terbatas pada
partisipasi politik untuk menggunakan hak pilih dan hak-hak
demokratis lainnya -tapi demokrasi modem -sebagian -kalau
tidak seluruhnya menganut prinsip perwakilan politik -maka
fungsi-fungsi formal dari keterlibatan rakyat dalam proses
politik diserahkan kepada wakil-wakilnya di parlemen -
sungguhpun suara dan sikap wakil rakyat tidak seluruhnya
mencerminkan aspirasi dan keinginan rakyat yang
diwakilinya.
Sebuah pemerintahan yang legitimate adalah pemerintah
yang memperoleh dukungan kuat dari rakyat, sebab rakyat
pemegang kedaulatan -maka sikap, tindakan dan kebijakan
yang diambil oleh pemerintah sedapat mungkin dapat
mencerminkan keinginan mayoritas kepentingan rakyat yang
telah memberikan legitimasi politiknya. Dalam konteks ini,
Bingham Powel, Jr. mengemukakan pemahaman yang lazim
digunakan dalamIlmu Politik mengenai "political performance"
sebagai indikator kehidupan politik yang demokratis adalah
sebagai berikut:" Pertama, legitimasi pemerintah berdasarkan
atas klaim bahwa pemerintah tersebut mewakili keinginan
rakyatnya. Artinya klaim pemerintah untuk patuh kepada
aturan hukum didasarkan pada penekanan bahwa apa yang
dilakukannya merupakan kehendak rakyat.
Kedua, pengaturan yang mengorganisir bargaining untuk
memperoleh legitimasi dilaksanakan melalui pemilihan umum
yang kompetitif. Pemimpin dipilih dengan interval yang
teratur, dan pemilih dapat memilih diantara beberapa
altematif calon. Dalam praktiknya, paling tidak terdapat dua
partai politik yang mempunyai kesempatan untuk menang
sehingga pilihan tersebut benar-benar bermakna. Keti ga,
sebagian besar orang dewasa dapat ikut serta dalam proses
pemilihan, baik sebagai pemilih maupun sebagai calon untuk
menduduki jabatan penting. Keempat, penduduk memilih
secara rahasia dan tanpa dipaksa. Kelima, masyarakat dan
pemimpin menikmati hak-hak dasar, seperti misalnya
kebebasan berbicara, berkumpul, berorganisasi, dan kebebasan
pers. Baik partai politik yang lama maupun yang baru dapat
berusaha untuk memperoleh dukungan.
Setiap individu dalamnegara demokrasi memiliki sejumlah
hak azasi yang tidak dimiliki oleh rakyat yang hidup dalam
sistem politik diktator-otoriter. Hak-hak tersebut seperti
kebebasan berbicara, berkumpul, berserikat, dan lain
sebagainya -begitu juga dengan pemerintah yang memiliki
11. Bingham Powel, [r, Contemporary Democracies, Participation, Stability,
and Violence, (Harvard University Press, 1982), hal. 3. Kutipan ini diambil
dari makalah, Afan Gaffar "Demokrasi Empirik dalam Orde Baru di
Indonesia", Makalah Seminar AIPI, Yogyakarta 6 September 1989.
[14] __ Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Demokrasi dan Politik Kebangsaan
__ [15]
sejumlah kewenangan yang diatur dalam sistem politik yang
demokratik. Beberapa pemikir lainnya memberikan penekanan
yang sama tentang konsep demokrasi, artinya para ilmuwan
politik memberikan batasan pengertian mengenai demokrasi
yang tampaknya tidak jauh berbeda satu sama lainY _
Sementara O'Donnel dan Schmitter mengemukakan bahwa
unsur-unsur yang harus ada dalam demokrasi politik yaitu:
pemungutan suara secara rahasia; hak pilih universal bagi
orang dewasa; pemilu yang dilangsungkan secara berkala;
kompetisi antar pendukung; akses dan pengakuan terhadap
kelompok; serta pertanggung jawaban eksekutif.
Pada waktu yang berbeda dalam rangka memaknai
demokrasi yang berisikan kompetisi, kontestasi dan partisipasi
-Larry Diamond, Linz dan Lipset, mendifinisikan demokrasi
sebagai suatu sistem pemerintahan yang memenuhi tiga syarat
pokok yaitu: pertama, kompetisi yang sungguh-sungguh dan
meluas diantara anggota masyarakat dan kelompok-kelompok
kepentingan didalam memperebutkan jabatan
pemerintahan yang punya kekuasaan dalam jangka waktu
yang teratur dan tidak menggunakan daya paksa; kedua,
partisipasi politik yang melibatkan sebanyak mungkin warga
negara dalam pemilihan pemimpin atau kebijakan lewat
pemilihan umum yang diselenggarakan secara adil dan teratur
sehingga tidak satupun kelompok sosial (warga negara
dewasa) tanpa kecuali; ketiga, tingkat kebebasan sipil dan
politik yaitu kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan
membentuk dan bergabung dalam organisasi yang cukup
untuk menjamin integritas kompetisi dan partisipasi politik.
12. Lihat dalam Mohtar Masoed, ibi d., hal. 10. O'Donnel et-al
mengemukakan bahwa unsur-unsur yang hams ada dalamdemokrasi poli tik
yaitu: pemungutan suara secara rahasia; hak pilih universal bagi orang
dewasa; pemilu yang dilangsungkan secara berkala; kompetisi an tar
pendukung; akses dan pengakuan terhadap kelompok; serta pertanggung
jawaban eksekutif.
Kontestasi dan kompetisi dalamsistemdemokratik menjadi
sesuatu yang terbuka dilakukan oleh setiap warga negara yang
telah memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan. Sistempolitik
demokratis sejatinya mewajibkan hadimya elemen-elemen;13
pertama, akuntabilitas pemegang kekuasaan, kedua, mekanisme
pergantian kekuasaan secara damai dan teratur, ketiga, sistem
rekrutmen terbuka, keempat, jaminan bagi individu untuk
memiliki dan menggunakan hak-hak dasamya seperti hak
untuk berbicara (freedom of speech), hak menyetakan pikiran
(freedom of expression), dan kebebasan pers (freedom of press),
kelima, kesamaan hak untuk maju dan berkembang dalam
bidang sosial dan ekonomi, dan keenam, diakuinya elemen
konflik yang "manageable".
Kalau melacak lebih jauh konsep demokrasi itu sendiri,
maka akan ditemukan dalam model demokrasi yang
berkembang dalam masyarakat Yunani Kuno, dimana tersedia
sebuah majelis rakyat -setiap warga masyarakat
berkesempatan untuk menghadiri sidang-sidang dalammajelis,
terutama warga yang mendiami Kota Athena. Demokrasi
semacam ini biasa disebut 'dengan demokrasi langsung,
dimana rakyat terlibat langsung dalam seluruh pengambilan
kebijakan publik negara, rakyat tidak mendelegasikan
kewenangan kepada wakil-wakil rakyat seperti yang terjadi
dalam demokrasi perwakilan modern. Model demokrasi
langsung ini hanya dapat ditemukan dalam konteks
masyarakat tradisional.
Di Indonesia sendiri barangkali akan mudah ditemukan
dalamkonteks kehidupan masyarakat lokal tradisionalis seperti
dalam kasus masyarakat Bima sebagaimana telah disinggung.
mereka menggunakan media Sarangge sebagai media untuk
13. Lihat Afan Gaffar, Sistem Kepartaian yang Hegemonik dan Terobosan
Demokrasi di Indonesia, Yogyakarta: PAU Studi Sosial UGM, 1990), hal192-
193. Lihat juga Afan Gaffar, Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hal. 7-9.
[16] __ Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
mengambil keputusan minimalis yang berkaitan langsung
dengan kehidupan rakyat di lingkup desa dan suku. Segala
hal yang dapat diputuskan oleh mereka dalam lingkup
kewargaan, maka masyarakat memutuskan sendiri urusan
mereka -tanpa melibatkan lembaga-Iembaga resmi negara.
Selain itu demokrasi langsung dalam kehidupan politik
kenegaraan barangkali hampir sulit ditemukan dewasa ini,
selain semakin kompleks dan rumitnya urusan tersebut, maka
mekanisme keterwakilan politik menjadi pilihan yang umum
dipakai oleh negara manapun didunia ini, karena sangat tidak
mungkin melibatkan seluruh rakyat yang populasinya dari
waktu ke waktu mengalami penambahan jumlah.
Menuju Rezim Yang Demokratis
Demokrasi seringkali menjadi isu penting dalam setiap
pergantian rezim -apalagi rezim yang diganti diklaim kurang
demokratis atau mungkin otoriter. Kita pun akan segera
membuat daftar yang akan ditawarkan dalam kerangka kita
mengisi perubahan rezim politik itu. Tujuannya agar terjadi
perubahan sistem dan tatanan politik menjadi lebih baik.
Secara sederhana demokratisasi dapat dimaknai sebagai proses
membentuk sistem politik menjadi lebih demokratis. Robert
A. Dahl memaknainya sebagai jalan menuju sistem politik
dimana tingkat kontestasi publik dan partisipasi sama-sama
tinggi tpoli arch-fy." Menurut Huntington demokratisasi
mensyaratkan:" periama, berakhimya sebuah rezim otoriter;
ked ua, dibangunnya sebuah rezim demokratis dan; keiiga,
pengkonsolidasian rezim demokratis itu.
Penataan sistem politik agar menjadi lebih baik tentu
merupakan harapan seluruh steak holder dalam masyarakat
yang tengah menuju perubahan, dalam hal ini Guelarmo
O'Donnel dan Philippe C. Schmitter juga memberi pengertian
14. Dahl, Pobjarchi... op.cii, ha!. 7.
15. Huntington, op. cit., ha!. 45.
Demokrasi dan Politik Kebangsaan __ [17]
yang hampir sama dengan apa yang ditawarkan oleh Dahl.
Menurutnya, demokratisasi mengacu pada proses-proses
dimana aturan-aturan dan prosedur-prosedur kewarganega-
raan diterapkan pada lembaga-Iembaga politik yang dulu
dijalankan dengan prinsip-prinsip lain (misalnya kontrol
dengan kekerasan, tradisi masyarakat, pertimbangan para
pakar dan praktek administratif), atau diperluas sehingga
mencakup mereka yang sebelumnya tidak ikut menikmati hak
dan kewajiban, atau diperluas sehingga meliputi isu-isu dan
lembaga-Iembaga yang semula tidak menjadi wilayah
partisipasi masyarakat (misalnya, badan-badan pemerintah,
jajaran militer, organisasi-organisasi partisan, asosiasi
kepentingan, perusahaan, lembaga pendidikan dan
sebagainya)."
Kelembagaan politik demokratis harus mengikuti standar
yang tersedia dalam sistem demokrasi, artinya kelembagaan
harus mencakup seluruh segmen publik yang luas. Untuk
mengisi kelembagaan dan memperoleh suatu formula sistem
demokratis itu, berbagai pihak mencari kemungkinan agar
perubahan yang tengah terjadi dapat menuju suatu tatanan
yang lebih baik dan maju. Dalam proses itu, antara satu
kelompok atau partai politik memiliki perbedaan, tetapi
perbedaan itu akan bertemu pada satu poros utama yakni
tercipta suatu keseimbangan sosial politik dimana rakyat
berpeluang untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan.
Lalu bagaimana cara atau proses mewujudkan sistem yang
demokratis, atau bagaimana seharusnya demokrasi itu
direalisasikan? Untuk mejawabnya, perlu dirujuk pada
pendapat Huntington." menurutnya terdapat tiga pola
perubahan dari rezim non-demokratis ke rezim demokratis
16. Guillermo O'Donnell &Schrnitter, Transisi Menlljll Demokrasi: Rangkaian
Kemungkinan dan Ketidakpastian, (jakarta: LP3ES, 1993), ha!. 9-10.
17. Huntington, op. cit., ha!. 157-158.
[18];;;;;;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Periama, pola transformasi. Pelaku utama perubahan adalah
para pembaharu yang sedang duduk di pemerintahan.
Reformasi politik dipilih sebagai solusi untuk meluaskan
legitimasi. Untuk memperoleh dukungan baik dalam negeri
maupun internasional termasuk menghindari tekanan-
pemerintah merespon kebutuhan partisipasi politik
masyarakat yang meningkat.
Kedua, pola replacement . Berlangsung kemerosotan
legitimasi pemerintah secara kualitaif yang bisa disebabkan
kerusakan ekonomi nasional yang parah, terbongkarnya
skandal korupsi besar-besaran, atau ideologi negara tidak lagi
mampu dijadikan landasan memecahkan masalah nasional,
Dalam kondosi ini pemerintah mengalami pembusukan,
pelemahan dan makin tidak populer. Melalui pergolakan
politik, kelompok oposisi memimpin perubahan dan
mengambil alih perubahan. Ketiga, pola transplacement. Krisi s
sistem politik dan ekonomi berlangsung. Pemerintahan tidak
terlalu kuat untuk bertahan tetapi pihak oposisi pun tidak
terlalu kuat untuk mengambil alih pemerintahan maka terjadi
interaksi yang berujung pada upaya membagi kekuasaan
minimal untuk sementara waktu. Untuk konteks semacam ini,
biasanya terjadi semacamkompromi politik -dimana faksi-faksi
politik yang ada berkepentingan dengan kekuasaan untuk
mendukung program politik partai, kondisi semacam ini
biasanya disebut dengan transisi.
Transisi politik yang berlangsung dalam masyarakat akan
berimplikasi langsung dengan kondisi perubahan yang terjadi
terutama perubahan rezimpolitik. Dalamhal perubahan rezim,
lazimnya berlangsung dalam beberapa fase penting yaitu,"
Periama, fase persiapan (prepartori phase) dimana individu,
kelompok atau klas menantang atau menggugat aturan-aturan
is, Rustow dikutip oleh Georg Sorensen, Democracy and Democratization:
Prosses and Prospects in A Changing World, (Boulder-San Francisco-Oxford:
Westview Press, 1993), ha\. 42.
Demokrasi dan Politik Kebangsaan ;;;;;;;;;;;; [19]
yang tidak demokratis. Perjuangan menentang rezim non-
demokratis tersebut melebar pada isu-isu persamaan sosial,
distribusi kekayaan yang lebih baik, perluasan hak dan kebeba
san yang akan berakibat memacetkan rezim dan berakhimya
sebuah rezim otoriter yang ditandai dengan mencuatnya
ekspresi kebebasan yang ditunjukan oleh warga negara atau
disebut dengan konsep liberalisasi."
Kedua, fase penegasan (decision phase) yaitu tahapan
permulaan penegakan demokrasi yang stabil melalui
pelembagaan prosedur-prosedur demokrasi yang krusial
seperti penyelenggaraan pemilihan umum dan penataan
lembaga-Iembaga politik lain. Tahapan ini disebut juga periode
transisi yaitu interval (selang waktu) antara satu rezim politik
autoritarian ke rezim yang lain. Transisi dibatasi di satu sisi
oleh dimulainya proses perpecahan sebuah rezim otoritarian
dan di sisi lain oleh pengesahan beberapa bentuk demokrasi
atau kembalinya beberapa bentuk pemerintahan otoriter atau
kemunculan suatu altematif revolusioner. Pada masa transisi
ini aturan main politik sama sekali tidak menentu. Tidak hanya
karena aturan main tersebut bekerja dalam perubahan yang
terus menerus terjadi tapi juga karena aturan tersebut
dipertarungkan dengan sengit. Sebuah tanda tipikal yang
menandai dimulainya suatu masa transisi adalah ketika para
penguasa otoriter demi alasan apapun mulai memodifikasi
peraturan-peraturan mereka sendiri sebagai jaminan yang
lebih kuat bagi hak-hak individu dan kelompok."
Ketiga, fase konsolidasi (consolidation phase) yaitu tahapan
lanjutan demokrasi dimana demokrasi melekat atau mendarah
ciaging pada kultur politik karena semua aktor politik
19. Menurut O'Donnel dan Schmitter, O'Donnell dan Schrnitter, op.cii .,
hill. 7, liberlisasi adalah proses mengefektifkan hak-hak tertentu yang
mclindungi individu dan kelompok-kelompok sosial dari tindakan
:;"wenang-wenang atau tidak sah yang dilakukan oleh negara atau pihak
kdiga.
10. lbid., ha\. 6-7.
[20] __ Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
menyepakati bahwa upaya demokratis merupakan satu-
satunya cara yang absah untuk meraih kekuasaan. Para aktor
politik tidak berkeinginan untuk mencari-cari jalan lain diluar
mekanisme baku yang telah ditetapkan.
Ketiga fase yang ditawarkan yakni fase persiapan, fase
penegasan dan fase konsolidasi dengan variannya masing-
masing akan dilalui oleh sebuh perubahan rezim politik dari
otoriter menuju demokrasi. Fase-fase itu akan disesuaikan
dengan nilai-nilai kultur suatu bangsa -dalamhal ini pelibatan
nilai lokal dalam menata sistem politik baru menjadi sangat
penting dilakukan agar sistem baru yang digagas dan
dirumuskan dapat memberikan "kepuasan" kepada warga
masyarakat. Sementara itu Huntington mencatat beberapa
kondisi yang menunjang konsolidasi demokrasi;" Pertama,
Adanya pengalaman berdemokrasi, semakin lama
pengalaman itu maka semakin stabil demokrasi yang
berlangsung. Kedua, perekonomian yang lebih maju dengan
industri modem, sistemmasyarakat yang kompleks, penduduk
yang lebih berpendidikan. Ketiga, lingkungan internasional
(eksternal) yang mendukung eksistensi rezim demokratis.
Keempat, faktor internal yang berkecenderungan mendukung
rezim demokratis. Kelima, transisi sebagai komitmen bersama
dengan tingkat kekerasan yang lebih rendah. Keena m,
kemampuan rezim memecahkan masalah-rnasalah
kontekstual. Ketujuh, reaksi kelompok-kelompok elite terhadap
kegagalan rezim otoritarian. Kedelapan, sifat lembaga
demokratis yang didirikan (parlementer, pemilihan distrik).
Menjelaskan kondisi yang berubah dalam masyarakat
terutama perubahan tatanan politik, tentu kita tidak akan
pernah berhenti pada pemetaan fase dan kondisi dimana
perubahan sistem politik itu berlangsung. Perubahan yang
terjadi tentu akan didukung pula oleh berbagai asumsi empirik
21. Huntington, op.cii ., hal.347-353.
Demokrasi dan Politik Kebangsaan __ [21]
dan teoritik lain dalam bidang kehidupan yang lain pula.
Dalam hal ini akan ditemukan beberapa hal yang berkaitan
dengan motif perubahan itu berlangsung atau tepatnya faktor
yang ikut mempengaruhinya. Lalu faktor-faktor apa saja yang
mendorong demokratisasi disuatu negara? Ada tiga
pendekatan populer yang lazim digunakan sebagai alat
analisis:" Pertama, pendekatan sosio-ekonomi yang dipelopori
Saymour Martin Lipset." Lipset menemukan korelasi yang
tinggi antara kondisi ekonomi dan terbentuknya demokrasi
yang stabil. Kondisi ekonomi yang membaik menyebabkan
tingkat pendidikan membaik, tingkat letteracy tinggi, urbanisasi
meningkat sehingga banyak orang yang memiliki kesadaran
politik tinggi dan kelas menengah yang menjadi lokomotif
demokrasi juga membesar."
Kedua, pendekatan konflik yang dipelopori Dankwar A.
Rustow." Rustow tidak mencari kondisi yang dibutuhkan
demokrasi, tetapi sebab musabab lahirnya demokrasi.
Menurutnya, setelah tercipta integrasi nasional demokrasi
akan dilahirkan oleh tumbuhnya oposisi dan konflik
kepentingan di kalangan elite. Para elite itu tidak harus
meyakini demokrasi sebagai ideologi. Fragmentasi dan konflik
kepentingan diantara elite itu sendiri yang akan
mentransformasikan sistem. Dalam konflik ini berbagai elite
akan mencari dukungan dikalangan non-elite. Demokrasi
adalah buah dan solusi untuk mengakomodasi dan
22. Lihat Denny J.A, "Prospek Dernokrasi", Gatra, 27 Juli 1996. Lihat juga
I-Iuntington, "Prospek Dernokrasi" dalam Roy C. Macridis et-al (eds),
Perbandingan Poliiik, terjemahan Henry Sitanggang, (Iakarta: Erlangga, 1992),
hal, 8L
23. Seymour Martin Lips et, Political Man: The Social Bases of Politics, (New
York: Feffer & Simons Inc., 1960).
24. Karl W. Deutsch, "Social Mobilisation and Political Development",
American Political Science Review, 55 September 1961, hal. 494 dikutip
Iluntington, Tertib Politik..., op.cit., hal. 54-55.
25. Dankwar A.Rustow, "Transitions to Democracy: Toward a Dynamid
Model," Comparative Politics II, 1970, hal. 337.
[22];;;;;;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
menyatukan kepentingan elite dengan mengubah konflik
menuju kompetisi.
Ketiga, pendekatan kultur yang dipelopori Almond dan
Verba." Dalam risetnya, mereka mcnemukan insting tertcntu
dinegara dcmokratis yang kemudian mereka namakan civic
culture. Oleh para pendukungnya, konsep civic culture lni
dipandang sebagai kondisi yang dibutuhkan demokrasi,
seperti sikap politik yang moderat, toleransi akan perbedaan,
dan pluralitas, kepercayaan terhadap institusi negara, sikap
kritis atas informasi dan social trust diantara anggota
masyarakat.
Berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi terbentuknya
sistem politik demokratis, Adam Przeworski," melihat bahwa
studi-studi terhadap transformasi rezim cenderung dapat
digolongkan ke dalam dua tipe besar. Sejumlah studi
berorientasi makro, memusatkan diri pada kondisi-kondisi
objektif dan bicara dalam bahasa deterministik. Yang lain
cenderung mengkonsentrasikan perhatian pada para aktor
politik dan strategi-strategi mereka, menekankan kepentingan
dan pcrsepsi dan memformulasikan persoalan dalam konteks
kemungkinan-kemungkinan dan pilihan-pilihan. Penelitian
beroricntasi makro cenderung menekankan kondisi-kondisi
objektif, terutama ekonomi dan sosial, seringkali dengan
mengabaikan dinamika politik jangka pendek. Mereka
memandang transformasi politik sebagai sesuatu yang
ditentukan dan berupaya menemukan pola-pola determinansi
melalui generalisasi induktif. Studi-studi ini menunjukan
bahwa demokrasi adalah secara tipikal sebuah konsekwensi
dari pembangunan ekonomi, transformasi struktur kelas,
26. Gabriel A. Almond & Sidney Verba, The Civic Culture, The Princeton,
(New Jersey: Princeton University Press, 1963).
27. Lihat Adam Przeworski, "Sejumlah Masalah dalam Studi Transisi
Menuju Demokrasi" dalam O'Donnel et-al(ed): Transisi Menuju Demokrasi,
Tinjauan Berbagai Perspektij, (Jakarta: LP3ES, 1993), ha!. 75-76.
Demokrasi dan Politik Kebangsaan ;;;;;;;;;;;; [23]
peningkatan pendidikan dan semacamnya. Studi-studi
berorientasi mikro, seperti dalamarus pendekatan karya-karya
Marx mengenai Prancis antara 1848 dan 1851, seperti juga
analisa-analisa Juan Linz mutakhir mengenai kejatuhan-
kejatuhan rezim demokratis cenderung untuk menekankan
perilaku strategis para aktor politik dalam berbagai situasi
historis kongkrit. Przeworski mengklaim bahwa faktor-faktor
objektif yaitu sejumlah kondisi ekonomi, sosial dan budaya,
paling jauh hanya merupakan kendala-kendala terhadap apa
yang dimungkinkan di bawah situasi historis konkrit namun
tidak menentukan apa yang dihasilkan situasi-situasi semacam
itu.
DESENTRALISASI DAN DEMOKRASI POLITIK
Munculnya Desentralisasi
Perubahan politik yang d itandai dengan pergantian
kepemimpinan nasional dari pemimpin personal Soeharto
sebagai simbol politik Orde Baru kepada Presiden BJ. Habibie
pada 21 Mei 1998 telah membawa kepada banyak perubahan
penting, diantara perubahan itu adalah adanya kesediaan
pusat melimpahkan wewenang pemerintahan secara lebih
"
serius"
kepada daerah-daerah. Pelimpahan wewenang itu
biasa diberi makna yang lebih baik atau dengan istilah
desentralisasi kekuasan politik pemerintahan.
Desentralisasi adalah suatu strategi mendemokratisasi sistem
politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan
berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dal am
praktek administrasi publik. Berlawanan dengan sentralisasi
dimana kekuasaan dan pengambilan keputusan
berkonsentrasi pada pusat atau eselon atas, desentralisasi
memperkenankan level kekuasaan pemerintahan yang lebih
rendah atau di bawah dalam menentukan sejumlah isu yang
langsung mereka perhatikan. Desentralisasi biasanya
menyerahkan secara sistematis dan rasional pembagian
[24] iiiiiiiiiii Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
kekuasaan, kewenangan dan tanggung jawab dari pusat
kepada pinggiran, dari level atas pada level bawah, atau dari
pemerintah pusat kepada pemerintah lokal."
Desentralisasi merupakan cara sebuah rezim atau negara
untuk menghadirkan suatu sistem yang lebih mencerminkan
nilai-nilai demokratis, karena sebagian kewenangan telah
diserahkan kepada pemerintah lokal (daerah) untuk terlibat
aktif dalam merespon hal-hal yang berkaitan erat dengan
kehidupan rakyat di daerah. Dalam konteks desentralisasi ini,
G. Shabbir Cheema dan Rondinelli, berpendapat bahwa
penyerahan kekuasaan (devolution), memiliki karakteristik
mendasar yaitu:"
First, local unit ofgovernmentareautonomous, independent, andclearly
perceived asseparatedlevel ofgovernment overwhichcentral authorities
exericise littleornodirect control. Second, thelocal governmetshave clear
and legallyrecognizedgeographical boundarieswithin whichthey exer-
ciseauthorityandperform publicfunctions. Third, local governments have
corporate statusandthepower tosecure recourcestoperform theyfunction.
Fourth, develution implies the need "develop local governments as insti-
tution" in thesensethat they areperceived by local citizens asorganiza-
tionsprovidingservices that satisfytheirneedsandasgovernmental unit
overwhich they havesomeinfluence. Finally, devolutionisanarrange-
ment in whichtherearereciprocal, mutually beneficial, and coordinate
relationships between central andlocal governments; that is, thelocal gov-
ernments has theability to interact reciprocally with other units in the
system of government of which it is a part.
Desentralisasi sendiri menurut hemat penulis hadir sebagai
respons langsung atas meluasnya kekecewaan yang dirasakan
oleh masyarakat daerah. Kekecewaan, perasaan teringkari
dalam bidang-bidang kehidupan tertentu merupakan ekspresi
adanya kondisi deprivasi relatif. Deprivasi relatif adalah
28. Raul P. De Guzman & Mila A. Referma, Decentralization Towards
Democratization and Development, Eropa Secretariat, 1993hal. 3.
29 G. Shabir Chema & Rondinelli, Decentralization and Development, Policy
Implementation in Developing Countries, Baverly Hills, London & New Dhelhi:
Sage Publications, hal. 22.
Demokrasi dan Politik Kebangsaan iiiiiiiiiii [25]
variabel independen dengan ukuran menyeluruh dari
persoalan diskriminasi ekonomi dan politik, potensi
separatisme, perpecahan kelompok agama, kondisi ekonomi
yang buruk atau timpang, pembatasan partisipasi politik dan
kebijaksanaan yang tidak adil. Deprivasi relatif, menurut Guur
dapat diakibatkan oleh ketidakpuasan terhadap nilai
kesejahteraan, ketidakpuasan terhadap nilai-nilai kekuasaan
dan ketidakpuasan terhadap nilai-nilai interpersonal."
Menyatunya berbagai kekecewaan yang dirasakan oleh
rakyat di daerah telah menyebabkan banyak gerakan separatis
yang oleh pemerintah pusat di "obati" dengan desentralisasi
menurut kemauan dan keinginan pemerintah pusat, bukan
yang diharapkan oleh rakyat di daerah. Oleh karena itu,
kondisi deprivasi relatif atas nilai-nilai kesejahteraan secara
jelas hingga kini masih tersedia di berbagai daerah yang
memiliki potensi sumber daya alam, hal itu dapat diamati pada
perasaan tidak sesuai atau tidak puas terhadap kondisi
ekonomi yang ada. Karena kondisi ekonomi yang diharapkan
(aspirasinya) atau yang dianggap menjadi haknya tidak sesuai
dengan apa yang dimiliki. Kesenjangan yang terjadi dalam
bidang ekonomi antara satu individu atau kelompok dengan
individu atau kelompok lainnya akan memacu tingginya
perasaan tidak sesuai antara apa yang dimiliki dengan apa
yang dipertimbangkan menjadi haknya. Beberapa hal yang
dapat menyulut perasaan tidak puas tersebut seperti,
kemampuan sandang, pangan, papan, tingkat penghasilan,
pemilikan barang-barang ekonomi seperti tanah, barang
mewah, perusahaan dan konsumsi barang-barang tertentu.
Desentralisasi yang kini tengah dijalankan sebagai "obat
penawar" rasa sakit daerah terhadap pusat -belumlah dapat
mengobati kekecewaan yang dirasakan rakyat daerah.
Kekecewaan yang bersifat relatif atas nilai-nilai kekuasaan
30 Ibid., hal. 25-27.
[26] __ Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
dapat dilihat pada perasaan tidak sesuai atas kesempatan
berpartisipasi (dalam hal ini menyalurkan aspirasi) terlalu
banyak campur tangan dari pihak penguasa (pusat), serta
perasaan tidak puas atas lembaga yang ada (yang dianggap
tidak mampu menyalurkan aspirasi rakyat secara aman).
Lembaga yang ada terutama yang menyalurkan aspirasi
dianggap tidak sesuai dengan apa yang di harapkan. Beberapa
hal yang menjadi penyebab ketidakpuasan tersebut yang
termasuk nilai kekuasaan adalah: saluran aspirasi yang ada
tidak peka dan terlalu berpihak pada pihak penguasa, tidak
efektif, masih sering terjadinya konflik dalam lembaga atau
fungsi yang belum utuh.
Kekecewaan atas nilai-nilai interpersonal secara jelas dapat
dilihat dari hambatan-hambatan yang ditemui untuk
berinteraksi dengan individu atau kelompok yang lain yang
satu aspirasi atau idealisme. Media untuk berinteraksi secara
langsung misalnya organisasi atau aksi bersama dan media
untuk berinteraksi secara tidak langsung misalnya media massa
baik cetak maupun elektronik tidak berfungsi sebagai ajang
menyampaikan aspirasi, keluhan-keluhan, keyakinan bersama
dan pendapat kepada semua pihak. Kondisi deprivasi relatif
yang meluas di tengah-tengah masyarakat dapat memicu
terjadinya gerakan sosiaL Gerakan sosial dapat didefinisikan
sebagai gerakan suatu organisasi atau sekelompok organisasi
yang bermaksud mengadakan perubahan terhadap struktur
sosial yang sudah ada sebelumnya. Gerakan sosial merupakan
perilaku dari sebagian anggota masyarakat untuk mengoreksi
kondisi yang banyak menimbulkan problem atau
ketidakpastian serta memunculkan kehidupan baru yang lebih
baik."
31. Di Renzo, G., Human Social Behavior: Concepts & Principles of
Sosiology,(USA: Holt, Rinehart & Winston, 1990).
Demokrasi dan Politik Kebangsaan __ [27]
Kondisi semacam itulah yang mendorong
terlaksananya desentralisasi, tanpa meluasnya kekecewaan
rakyat daerah atas kondisi sosial, politik, ekonomi dan
sebagainya tentulah desentralisasi belum menjadi agenda
politik negara. Kebijakan ini lahir sebagai jawaban atas
meluasnya beberapa daerah yang mendesakkan agar merdeka,
berpisah, dan berbagai gerakan separatis lainnya -mereka
(rakyat daerah) melakukan itu, karena "muak" dengan cara
pemerintah pusat menjalankan kebijakan publik, kecewa atas
ketidak-adilan ekonomi, frustrasi atas kemiskinan yang
dirasakan rakyat daerah, marak akan eksploitasi sumber-
sumber daerah serta jengkel atas perilaku politik kalangan
politisi dan birokrasi yang pandai menghipnotis rakyat dengan
janji-janji kosong yang tak pemah terealisasikan.
Terkait dengan ragamnya respons atas desentralisasi yang
berkembang, barangkali perlu melihat motif atau pilar yang
mendorong terjadinya pemberontakan di berbagai daerah
teruatam daerah-daerah yang potensial melakukan
pemberontakan dan punya akar untuk memberontak, menurut
Pratikno" terdapat pilar atau motif terpenting dari
pemberontakan daerah atas pusat yakni; per t ama,
pemberontakan daerah di luar Jawa di latar belakangi oleh
ketimpangan struktur ekonomi antara [awa yang menekankan
kepada sektor manufaktur dan berperan sebagai "net
imporer", sementara luar [awa menjadi andalan utama untuk
kepentingan ekspor. Kedua, pemberontakan daerah tersebut
didorong oleh kekecewaan daerah terhadap sistem
pemerintahan yang sentralistik yang tidak memberikan ruang
yang memadai terhadap otonomi daerah. Posisi politisi di
32. Harap lihat Pratikno, "Desentralisasi, Pilihan Yang Tidak Pernah
Final", dalam Abdul Gaffar Karim (ed.), Kompleksitas Persoalan Otonomi Daerah
di Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar & [urusan Ilmu Pemerintahan UGM,
2003), hlm. 36-37.
[28];;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
daerah di awal kemerdekaan menekankan pentingnya
otonomi daerah sebagai syarat minimal yang memungkinkan
daerah dapat menjaga kepentingan lokal mereka, namun
pemerintah pusat menerapkan sistem sentralistik yang kurang
memberikan ruang bagi daerah.
Ketiga, terdapat permasalahan non-daerah.
Pengorganisasian militer yang berkoinsidensi dengan
pengorganisasian sipil dan bahkan sekaligus menjadi satu
kesatuan dengan polarisasi kultural menjadi penyebab lain
pemberontakan daerah. Kepemimpinan militer di daerah
mempunyai koinsiden dengan kepemimpinan sipil sehingga
di antara keduanya mudah untuk menyatu dengan nama
daerah. Keempai, terkait dengan perdebatan masalah dasar
negara yang memicu munculnya pemberontakan daerah. Sejak
PPKI menetapkan Pancasila sebagai dasar negara, maka sejak
itu pula muncul penolakan daerah, misalnya pemberontakan
Darul Islam adalah respons atas penolakannya terhadap
penghapusan Piagam Jakarta yang mengakomodasi
kepentingan umat Islam, pemberontakan ini dapat besar pada
daerah-daerah yang memiliki basis massa Islam besar seperti
Sulawesi Selatan dan Aceh.
Menguatnya protes itulah yang memungkinkan lahirnya
kebijakan desentralisasi yang penuh -perlu kami tegaskan pula
bahwa sebelum adanya UU No. 22 tahun 1999 atau UU No.
32 tahun 2004 sebagai panduan desentralisasi (otonomi) _
praktekkan desentralisasi telah dilakukan dan dirumuskan
secara baik, tetapi tidak dilaksanakan. Desentralisasi tersebut
didorong oleh dua hal yakni menguatnya protes daerah yang
semakin sulit dibendung oleh pemerintah pusat, oleh karena
itu dapat dikatakan, bahwa kebijakan tersebut lebih merespon
ketidakpuasan daerah terhadap pemerintah pusat, dan
meluasnya semangat demokratisasi yang menuntut ruang
Demokrasi dan Politik Kebangsaan ~ [29]
partisipasi politik yang Iuas.:" Akumulasi kekecewaan
terhadap sistem politik monolitik yang dibangun Presiden
Soeharto kemudian terledakkan dalam bentuk tuntutan
terhadap liberalisasi politik yang menuntut kebebasan
berorganisasi, berpartai-politik, danberoposisi". Kondisi politik
yang semakin terdesak oleh menguatnya semangat yang
mendorong agar tercipta suatu sistem politik yang lebih
mencerminkan rasa keadilan dan mendorong negara dapat
memfasilitasi warganya agar dapat menjadi warga yang dapat
hidup s e c ~ r a layak atau sejahtera (walfare), selain itu,
perubahan yang terjadi dapat membuka kemungkinan bagi
berkembangnya pemikiran-pemikiran alternatif dalam
masyarakat.
Pilar-pilar inilah yang membuahkan kebijakan
desentralisasi terutama ketika posisi TNI dan Polri semakin
tidak ''berdaya'' akibat perilaku kedua lembaga tersebut pada
masa lalu yang terkesan "menindas" dan menekan warga
negara. Ruang kebebasan yang dirasakan oleh warga sangat
menentukan arah pergerakan politik lokal dalam konteks
desentralisasi politik yang berIangsung, tanpa mengurangi
makna dan keberadaan pusat -nampaknya daerah telah
begitu jauh menyelenggarakan pemerintahan yang menurut
ukuran dan takaran lokal sesuai dengan adat dan nilai-nilai
lokal.
Akar dari kebijakan desentralisasi yang paling kuat adalah
berupaya untuk menyatukan simpul-simpul kultural dalam
rangka membangun Indonesia yang multi-kulturalisme yang
selama ini terabaikan dalam pembangunan bangsa.
33. Lihat Syarifuddin Jurdi, Kekuatan-Kekuaian Politik di Indonesia:
Pertarungan Ideologi dan Kepentingan Dalam Konteks Politik Lokal (Naskah Buku),
ha!. 136.
34. Lihat kajian mengenai kesiapan daerah berotonomi dalam Pratikno,
"Mempersiapkan Daerah Berotonomi", makalah yang disampaikan pada
Sarasehan Pelaksanaan Otonomi Daerah yang diselenggarakan oleh FADO
di Denpasar tanggal 22-24 [anuari 2001, him. 4.
[30] __ Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Keseragaman telah menyesatkan warga negara, karena
dengan penyeragaman itu nilai-nilai lokal dan keragaman
(multi-kulturalisme) menjadi terabaikan, akibatnya banyak
nilai lokal tidak terapresiasi -rakyat daerah pun menuntut
diperhatikan oleh pusat yang diekspresikan melalui
kekecewaan atas perlakuan pusat terhadap daerah terutama
nilai-nilai lokal di "pinggir" dalam politik. Kekecewaan antara
satu daerah dengan daerah lain tentu beragam sesuai dengan
watak dan karakter rakyat daerah -bahkan tuntutan untuk
merdeka semakin kuat disuarakan oleh daerah, sekalipun
daerah yang lain menuntut keadilan dan pemerataan
pembangunan yang wajar antar wilayah.
Desentralisasi dimaknai sebagai kebijakan yang tepat dan
menjamin kebersamaan warga dalam negara kesatuan -tentu
desentralisasi ini harus diikuti dengan kebijakan di bidang
ekonomi secara adil. Seperti telah dijelaskan, salah satu
penyebab utama rakyat daerah memberontak, protes dan
menekan pusat adalah soal ketidak-adilan. Distorsi kebijakan
pusat terhadap daerah-daerah tertentu semakin menguatkan
arus protes tersebut, bahkan wilayah Timur negara ini
mengalami ketertinggalan dalam pembangunan infrastruktur
dan sumber daya manusia serta tertinggal dalam banyak hal
bila dibandingkan dengan perhatian dan kebijakan pusat
dalam membangun bagian Barat Indonesia.
Desentralisasi Demokrasi
Penyelenggaraan sistem yang demokratis di tingkat lokal
atau diistilahkan sebagai desentralisasi demokrasi, memiliki
beberapa nilai penting." Pertama, kesetaraan politik (polical
equality). Masyarakat di tingkat lokal sebagaimana halnya
masyarakat di pusat pemerintahan akan mempunyai
kesempatan terlibat dalampembuatan keputusan politik politik
35. RC.Smith, Decentralization: TheTeritorial Dimension of TheState, London,
-George Alen & Unwin 1985, ha124-29.
Demokrasi dan Politik Kebangsaan __ [31]
yang berarti kesetaraan politik karena makin meningkatnya
pengakuan terhadap hak warga negara. Kedua, akuntabilitas
(accountability) yaitu pemegang jabatan publik harus
mempertanggung jawab kan segala bentuk kebijaksanaan dan
politiknya kepada warga masyarakat yang mempercayakan
kepadanya jabatan publik tersebut. Keiiga, responsifitas
(responsiveness) yaitu pemerintah lokallebih memberi perhatian
atau jawaban yang lebih eficien terhadap tuntutan-tuntutan
masyarakat oleh karena pejabat yang mengainbil keputusan
politik sangat memahami kebutuhan sosial, ekonomi dan politik
komunitas di daerahnya.
Bersamaan dengan itu, d esentralisasi demokrasi
berfungsir" Pert ama, memudahkan menyelenggarakan
pendidikan politik (political education) yang seharusnyalah
diselenggarakan oleh negara. Dengan adanya
pemerintahan da erah maka akan menyediakan
kesempatan warga negara berpartisipasi aktif dalam politik,
baik dalam rangka memilih atau kemungkinan untuk dipilih
untuk suatu jabatan publik. Anggota masyarakat karena posisi
tempat tinggal tidak mempunyai peluang untuk terlibat dalam
politik nasional apalagi secara langsung ikut serta membentuk
kebijaksanaan publik secara nasional dan atau memilih
pemimpin nasional, akan mempunyai peluang untuk ikut serta
dalam politik lokal ataupun dalam rangka pembuatan
kebijakan publik. Pengalaman terlibat dalam proses politik
itulah yang disebut pendidikan politik.
Kedua, arena latihan bagi orang-orang yang ingin
membangun karier politik (political training) . Pemerintah
daerah merupakan langkah persiapan untuk meniti karier
lanjutan terutama karier di bidang politik dan pemerintahan
di tingkat nasional. Adalah sesuatu hal yang mustahil bagi
seseorang yang tinggal di daerah untuk muncul dengan begitu
36 Ibid., hal. 20-23.
[32] iiiiiiiiiiiiij; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
saja menjadi politisi berkaliber nasional. Umumnya seseorang
sebelum sampai pada suatu tingkatan berkiprah pada suatu
jenjang tertentu memerlukan persiapan yang sangat panjang.
Keberadaan institusi lokal merupakan wahana yang banyak
dimanfaatkan menapak karier yang lebih tinggi. Ketiga,
mendukung stabilitas politik (political order). Stabilitas nasional
mestinya berawal dari stabilitas di tingkat lokal. Banyak negara
yang mengalami gangguan politik dikarenakan adanya
kecenderungan memperlakukan daerah dengan tidak tepat,
bahkan lebih cenderung bersifat sentralistik.
Sejalan dengan asumsi berpikir tersebut di atas, pemikir
lain yakni Rondinelli melakukan identifikasi dengan
mengemukakan empat belas (14) alasan rasional mengapa
desentralisasi perencanaan pembangunan dan administrasi
cocok untuk negara-negara dunia ketiga seperti halnya
Indonesiar" pertama, perencanaan dapat dilakukan sesuai
dengan kepentingan masyarakat di daerah yang bersifat
heterogen; kedua, dapat memotong jalur birokrasi yang rumit
serta prosedur yang sangat terstruktur dari pemerintah pusat;
ketiga, dalam penyelenggaraan fungsi dan penugasan pejabat
di daerah, tingkat pemahaman serta sensitifitas terhadap
kebutuhan masyarakat daerah akan meningkat; keempat,
penetrasi yang lebih baik dari pemerintah pusat bagi daerah-
daerah yang terpencil atau sangat jauh dari pusat; kelima,
representasi yang lebih luas dari berbagai kelompok di dalam
perencanaan pembangunan; keenam, peluang bagi masyarakat
di daerah untuk meningkatkan kapasitas teknik dan
managerial; ketujuh, meningkatkan efisiensi pemerintahan di
pusat; kedelapan, struktur koordinasi departemen di pusat
dapat mengkoordinasi secara efektif program-programnya di
daerah bahkan sampai pedesaan; kesembilan, melembagakan
37. G. Shabir Cheema and Rondinelli, op.cit., haJ. 14-16. Lihat juga M.
SyaukaniH.R., et-al. Otonomi Daerah dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia, naskah belum diterbitkan, haJ. 30-31.
Demokrasi dan Politik Kebangsaan iiiiiiiiiiiiij; [33]
partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan implementasi
program; kesepuluh, meningkatkan pengaruh atau pengawasan
atas berbagai aktifitas yang dilakukan oleh elite lokal; kesebelas,
administrasi pemerintahan dapat diselenggarakan dengan
fleksibel, inovatif dan kreatif; kedua belas, menetapkan
pelayanan dan fasilitas secara efektif di tengah-tengah
masyarakat, mengintegrasikan daerah-daerah yang terisolasi,
memonitor dan melakukan evaluasi implementasi proyek
pembangunan dengan lebih baik; ketiga belas, memantapkan
stabilitas politik dan kesatuan nasional; dan keempat belas,
meningkatkan penyediaan barang dan jasa di tingkat lokal
dengan biaya yang relatif rendah.
Dalam melahirkan kebijakan desentralisasi bukanlah
sesuatu yang mudah dilakukan, sebab berbagai faksi politik
telah merundingkan beberapa hal yang dapat disepakatinya,
sekalipun sebagian hal lain yang barangkali penting bagi
rakyat di daerah belum dapat disepakati, akhirnya
desentralisasi yang tengah bergulir dalam pentas politik
nasional masih menyisakan banyak persoalan -akibat kuatnya
pertarungan kepentingan elite pusat dalam soal ini. Karena
itulah, dinamika politik nasional dan politik lokal belakangan
ini memiliki makna cukup luas meliputi konflik-konflik, friksi-
friksi maupun gerakan-gerakan yang berkaitan dengan
kekuasaan, lembaga-Iembaga negara dan atau proses
pengambilan keputusan. Dinamika politik juga diidentikkan
dengan perubahan politik atau pembangunan politik. Dalam
hal ini dinamika politik diartikan secara spesifik sebagai
gerakan perlawanan kekuatan-kekuatan daerah (lokal) dalam
kaitan dengan kekuasan pemerintah pusat, sekalipun konsep
perlawanan rakyat daerah ataupun pemerintah daerah dalam
istilah Hasanuddin sebagai upaya untuk memperoleh sejumlah
kcadilan sosial, ekonomi dan politik guna meningkatkan
dcrajat kesejahteraan rakyat daerah.
Respons daerah atas ketidak-adilan pusat dalam melihat
pcmbangunan daerah terutama daerah-daerah yang memiliki
[34];;;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
potensi sumber daya alam melimpah ruah, sebagai implikasi
langsung atas meluasnya kehidupan rakyat daerah yang
miskin. Istilah perlawanan seringkali digunakan oleh
Hasanu d d in" dalam rangka mengidentifikasi sejumlah
perkembangan lokal yang terjadi di Riau setelah munculnya
istilah Riau Merdeka sebagai langkah politik untuk mendesak
pusat agar memperhatikan daerah, penulis lebih elegan
menggunakan istilah respons dan "riak-riak" demokrasi dalam
rangka daerah mendesakkan desentralisasi yang sepenuhnya
dan serius, bukan desentralisasi yang setengah hati, dimana
pusat masih memiliki banyak peluang untuk mengintervensi
pemerintah dan rakyat daerah.
Lazimnya suatu rezim yang demokratis tentu akan
mengedepankan makna-makna kebebasan dalam memerintah
rakyat. Banyak aktifis sosial keagamaan dan gerakan sosial
yang berteriak agar penguasa tidak dan atau mencoba
membatasi kemerdekaan, kebebasan dan partisipasi rakyat
dalam mengawasi rezim, dengan dalil dan alasan apapun
tetap tidak dibenarkan menurut standar demokrasi terutama
sekali dalam konteks desentralisasi demokrasi, dimana rakyat
di daerah berhak untuk terlibat dalam proses politik yang
berlangsung dengan semangat kulturalnya. Demokrasi lokal
adalah demokrasi yang aman, damai dan beradab -apabila
tidak ada tangan-tangan pengacau dan provokatif yang
mengotori demokrasi lokal tersebut. Secara substantif
demokrasi lokal jauh lebih kuat dan mengakar dengan rakyat,
karena itu mereka di daerah akan bersedia berdebat bahwa
ekonomi, politik, budaya dan agama akan lebih mungkin
mengawal demokrasi yang betul-betul demokratis.
38. Hasanuddin dalam rancangan Disertasi Doktoral di UGM memakai
istilah perlawanan rakyat daerah terhadap pemerintah pusat terutama dalam
rangka ia menganalisa peta politik lokal Riau yang menuntut kemerdekaan
sebagai salah satu cara rakyat daerah memberikan perlawanan atas hegemoni
pemerintah pusat terhadap daerah selama ini.
Demokrasi dan Politik Kebangsaan ;;;;;;;;; [35]
Kadang-kadang muncul pandangan yang "aneh" dalam
memandang demokrasi ini, bahwa pemerintahan yang
dijalankan secara tersentralisasi dan tidak mengizinkan
adanya "oposisi" yang dapat menjamin peningkatan
pendapatan dan mengurangi kemiskinan. Anggapan umum
pandangan aneh ini adalah bahwa ketidakmerataan
pendapatan dan kemiskinan demikian memprihatinkan,
sehingga negara merupakan satu-satunya pengelola utama
berbagai bidang industri dan pertanian, penetapan harga, dan
pendistribusian pendapatan, maka akan terjadi perbaikan
dalam segala bidang dan masyarakat akan menikmati hasil
pembangunan secara menyeluruh. Alasan lain yang sering
dikemukakan adalah stabilitas nasional sangat dibutuhkan
untuk menjaga kelangsungan proses pembangunan. Tentu
keanehan cara berpikir ini harus ditinggalkan -selain
menyesatkan - juga melawan arus global yang berkembang
dengan begitu cepat yang mendorong terjadinya liberalisasi
dalam segala sektor kehidupan.
Dengan menguatnya kehidupan liberal dalam "rahim"
bangsa ini, maka negara harus merekonstruksi seluruh aspek
kehidupan bersama yang juga mencerminkan semangat
liberalisme tersebut, tentu liberalisme yang dibenarkan oleh
norma-norma moral agama yang dianut oleh mayoritas
penduduk bangsa ini . Paham liberal tentu telah memperoleh
ruang dalam diskursus keagamaan di tanah air, sekalipun
ruang itu masih menyisakan beberapa paradoks yang
menghadirkan berbagai perdebatan dan polemik di kalangan
penduduk beragama. Tapi wacana liberal itu sendiri
mengandung makna, bahwa tengah terjadi pergeseran pada
tataran wacana dan isu, maka level policy harus juga diikuti
oleh reduksi nilai-nilai lama yang kurang relevan untuk
dipertahankan.
Liberalisme merupakan sahabat "karib"nya demokrasi,
karena keduanya menyediakan ruang kebebasan bagi rakyat.
Kebebasan disediakan sebagai media dimana rakyat
[36];;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
mengekspresikan sejumlah harapan dan keinginannya -dan
negara merespons wacana publik yang hadir itu sebagai bahan
dari kebijakannya. Kondisi ini akan mendukung terbangunnya
.kekuatan civil society yang mandiri dan terbebas dari intervensi
negara, tentu daerah-daerah harus dijauhkan dari upaya
"negara lokal" mengkooptasi kekuatan civil society tersebut.
Marilah menyimak logika kesamaan politik yang
barangkali merupakan unsur penting dan universal dalam
demokrasi. Dalam hal ini Franz dengan mengutip Robert Dahl
bahwasemua anggota untuksebuah kelompok atau asosiasi sama
saja berhak dan mampu untuk berpartisipasi secara sama dengan
rekan-rekannya dalam proses pemerintahan kelompokaiau asosiasi
itU.
39
Logika kesamaan dalam hal ini dapat pula ditemukan
dalam praktek demokrasi rakyat desa yang telah lama eksis.
Begitu juga dengan misalnya demokrasi Yunani yang
mengembangkan kelembagaan yang canggih dengan
meletakkan "kekuasaan sepenuhnya di tangan rakyat".
Kalau kemudian demokrasi itu diartikan sebagai
pemerintahan yang didasarkan kepada mayoritas, maka
demokrasi itu harus diletakkan dalam konteks kedaulatan
rakyat, artinya rakyat berdaulat atas dirinya sendiri. Tidak
ada orang atau kelompok orang yang begitu saja berhak
memerintah rakyat. Franz lebih sederhana lagi memberikan
logikanya, bahwa dengan sendirinya orang berhak mengurus
dirinya sendiri , maka kalau ia mau diurus oleh orang lain,
orang lain harus diberi tugas untuk itu oleh yang
bersangkutan."
Persoalan kedaulatan yang menjadi inti dasar dari
demokrasi -dalam banyak hal diperdebatkan oleh ilmuwan
Islam -argumen kalangan Islam dalam menolak gagasan
kedaulatan rakyat -sebab rakyat hanya menjalankan sebagian
39. Franz Magnis-Suseno, op. cii., hlm. 34.
40. lbid., hlm.39.
Demokrasi dan Politik Kebangsaan ;;;;;; [37]
dari tugas kekhalifahan -sebetulnya yang berdaulat penuh atas
kehidupan ini adalah Tuhan, dari Tuhan itulah sumber
kehidupan (syariat) dan manusia dengan keterbatasannya
menyelenggarakan kehidupan ini. Tegasnya, yang memiliki
kekuasaan hanyalah Allah.
Dalam hal ini [alaluddin Rakhmat" mengatakan, semula
Islam berhadapan dengan dunia modem, menyatakan bahwa
dirinya demokratis. Dimana istilah demokrasi sebenarnya
hanya dipakai untuk "menyederhanakan" perjuangan,
jadi untuk memper-lihatkan cita-cita etika politik yang
dibanggakan oleh Barat sudah ada dalam Islam. Lebih lanjut
Rakhmat mengatakan, istilah demokrasi tidak perlu diagung-
agungkan lagi, cukup bicara tentang Tauhid, karena di
dalarnnya kesamaan antar manusia serta tuntutan keadilan
telah termuat. "Dalam Tauhid, ada kebebasan manusia, ada
pengakuan bahwa satu kelompok manusia tidak boleh
menindas kelompok yang lain".
Pemikir dan aktivis Islam yang tergabung dalam Hizbut
Tahrir Indonesia Shiddiq Al-jawi seperti yang dikutip oleh
Franz mengajukan lima unsur pokok paham demokrasi
dengan akidah Islamiyah. Pertama, demokrasi adalah buatan
dan akal manusia, padahal "dalamIslam syara'lah -dan bukan
akal -yang menjadi rujukan dalam memberikan penilaian-
penilaian... menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. "Dua,
demokrasi memisahkan agama dari negara, padahal "Islam...
mewajibkan dijalankan seluruh urusan kehidupan dan negara
menurut perintah dan larangan Allah... manusia tidak berhak
membuat aturan hidup sendiri." Ketiga, kalau demokrasi
berarti kedaulatan rakyat, "dalam Islam, kedaulatan ada
ditangan syara', bukan di tangan rakyat." Kekuasaan memang
"ditangan umat, artinya, umatlah yang berhak memilih
41. Jalaluddin Rakhmat, "Islam dan Kekuasaan: Aktor dan Instrumen",
dalam M Imam Azis dll (peny.), Agama, Demokrasi dan Keadilan (jakarta:
Gramedia, 1993), hlm, 63-75.
[38];;,;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
penguasa." Akan tetapi menurut syariah "umat tidak berhak
memberhentikan penguasa sebagaimana dalam demokrasi."
Begitupun prinsip keempat, prinsip mayoritas, menurut
penulis dalam Islam hanya berlaku bagi "masalah teknis, yang
tidak membutuhkan keahlian khusus." Akhirnya, kelima,
penulis memperlihatkan bahwa empat kebebasan beraqidah,
berpendapat, kepemilikan dan bertingkah laku "sangat
bertentangan dengan kebebasan yang terdapat dalam Islam".42
Dengan menghadirkan pandangan yang berbeda tentang
demokrasi ini tentu saja sebagai bahan perbandingan -
sekalipun di kalangan internal umat Islam sendiri masih
berbeda paham tentang konsep demokrasi itu sendiri.
Pandangan Rakhmat malah memberikan gambaran -bahwa
dalam Islam sendiri tersedia seperangkat nilai-nilai demokrasi,
karena tauhid itu mengandung makna demokrasi sementara
Al-jawi secara literal konsep demokrasi ditolak dan tidak
ditemukan dalam Islam, karena itu menyesatkan umat.
Sebagian pejuang Islam yang tergabung dalam Masyumi
dahulu juga menekankan pentinganya demokrasi yang diberi
warna Islam seperti istilah teo-demokrasinya Natsir yang
sejalan dengan demokrasi Islam ala Al-Maududi di Pakistan.
Tapi yang jelas secara mayoritas umat Islam di banyak tempat
telah menerima konsep demokrasi secara positif, terlepas dari
pro-kontranya.
Desentralisasi dan Civil Society
Di daerah dalam konteks desentralisasi atau otonomi
daerah telah berkembang berbagai asosiasi sukarela yang
diijinkan oleh UU berdiri dan melakukan pemberdayaan
masyarakat, menyelenggarakan pendidikan politik dan
melakukan peran-peran kontrol atas lembaga negara (Pemda
42. Lihat Shiddiq Al-jawi, "Haruskah Islam Menerima Demokrasi?"
seperti yang dikutip oleh Franz Magnis Suseno, op. cit., hlm. 30-31.
Demokrasi dan Politik Kebangsaan ;;,;;;;; [39]
dan Legislatif Daerah), sebab kedua lembaga negara ini
seringkali mengambil kebijakan yang menyimpang dari garis
yang ditentukan dan bahkan menjadi ajang perkaya diri para
elite politik (DPRD) dan elite birokrasi (Pemda). Kekuatan civil
society yang biasa dimaknai sebagai masyarakat -baik secara
individual maupun secara kelompok yang mampu berinteraksi
dengan negara secara independen," maka dinamika politik
merupakan akibat langsung dari kualitas interaksi tersebut
dimana di satu sisi civil society makin membesar dan tuntutan-
tuntutan politik semakin membesar pula sedangkan di sisi lain
tidak berlangsung pelembagaan hubungan antara masyarakat
dan negara yang memuaskan masyarakat sehingga melahirkan
pembusukan politik (political decay).44
Dalam konteks perubahan politik, masyarakat lokal
(daerah) memiliki sejumlah harapan akan adanya perubahan
dalam kehidupan sosial ekonomi dan politik mereka. Dengan
adanya ruang publik yang bebas, maka rakyat daerah
mengusung sejumlah tuntutan politik (kepentingan politik)
dan apabila lembaga politik tidak siap menyelesaikannya secara
memuaskan, sehingga masyarakat mengambil jalan diluar
konstitusi atau melakukan tindakan kekerasan kolektif, itu
merupakan "musibah" bagi konstruksi demokrasi bangsa. Oleh
karena itu pula, keberadaan civil society menjamin negara
demokratis karena .diantara nilai-nilai civil societ y terdapat
pertanggungjawaban negara dan batasan kekuasaan negara.
Kehadiran civil society mensyaratkan kebebasan ruang batas
aturan yang dilindungi oleh negara."
Begitu pentingnya civil society diberdayakan, maka para
pemikir dalam negeri seperti AS Hikam, Dawam Rahardjo,
Nurcholish Madjid, Maswadi Rauf, Ryaas Rasyid dan lainnya
43. Afan Gaffar, op.cii. , hal. 180.
44. Lihat Huntington, Tertib Politik...r op.cit., hal. 52.
45. Neera Chandhoke, Benturan Negara dan Masyarakat Sipil, (Yogyakarta:
Wacana, 2001), hal. 245
[40];;;;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Demokrasi dan Politik Kebangsaan
;;;;;;;;;; [41]
telah memberikan beberapa garis pemikiran yang tegas tentang
perlunya civil society diperhatikan agar mampu mengangkat
keterpurukan demokrasi bangsa. Untuk melihat beberapa
persyaratan yang hams dipenuhi oleh kekuatan civil society,
Eisenstadt menegaskan prasyarat itu diantaranya:" pertama,
otonomi yaitu kemandirian masyarakat mengambil inisiatif
untuk melakukan kegiatan tanpa ada intervensi negara yang
tidak seharusnya dilakukan. Kehadiran negara hanyalah
sebagai fasilitator yang melakukan regulasi dan penegakan
hukum. Kedua, akses terhadap lembaga negara untuk
memperjuangkan kepentingannya menghubungi secara
langsung pejabat negara, membentuk opini pada media massa,
terlibat secara langsung atau tidak langsung dalam organisasi
politik dan juga melakukan unjuk rasa. Lebih dari itu kalangan
negara atau pemerintah harus memberikan komitmennya
dengan mendengar dan menerima aspirasi warganya serta
'mengambil sejumlah langkah-Iangkah kongkrit. Ketiga, arena
publik yang otonom yaitu adanya ruang publik tempat
masyarakat membahas berbagai persoalan menyangkut segala
bidang kehidupan tanpa campur tangan negara, apalagi
tindakan yang bersifat koersif. Keempat, arena publik yang
terbuka yaitu setiap orang memiliki akses terhadap ruang
publik baik untuk mendapatkan informasi maupun terlibat
aktif didalamnya.
Prasyarat yang diajukan di atas adalah ideal masyarakat
demokrasi liberal. Persoalannya, kondisi ideal tersebut tidak
hadir dengan sendirinya, dan tidak banyak bahasan yang
mengantarkan pada pemahaman bagaimana menyiap-
kannya. Meskipun demikian, dapat dikatakan sedikitnya
kehadiran prasyarat tersebut dalam realitas kehidupan politik
dapat menumpukkan perasaan tidak puas masyarakat dan
46. Eisenstadt dalam Afan Gaffar, op .cit., hal. 180.
dapat menumbuhkan gerakan sosial yang selanjutnya dapat
dijelaskan dengan teori deprivasi relatif. Deprivasi relatif yaitu
perasaan tidak sesuai antara harapan-harapan yang terbentuk
dengan kemampuan masyarakat untuk meraih atau
mempertahankannya. Perubahan yang sangat cepat dan
meluas yang mengenai individu dan masyarakat seperti
disorganisasi sosial, tekanan demografi, dan
ketidakseimbangan ekologis menimbulkan akumulasi
ketegangan, frustrasi, perasaan tidak aman, dan lain keluhan.
Untuk lebih menjelaskan konteks yang tersedia, Ted Robert
Gurr mengemukakan;47
"Relative Deprivation is defined as actorperception of discrepancy, be-
tween their valueexeptions andtheir value capabilities. Value expectations
arethegoods andconditions of life to which people believe they are
rightfully entitled. Value capabilities are thegoods andconditions they
think theyare capable ofgetting andkeeping."
Civil society memiliki suatu tugas berat yakni mendorong
proses politik agar lebih demokratis, artinya civil society sebagai
kekuatan yang menopang terwujudnya kehidupan yang lebih
demokratis, ia yang merupakan representasi dari banyak
lembaga-lembaga independen di luar state telah mendorong
proses politik yang lebih mencerminkan kehendak rakyat.
Kekuatan civil society selama rezim militer Orde Barn tidak
mendapat tempat yang layak, karena public sphere
dikendalikan, diawasi atau dikontrol secara ketat oleh negara."
47. Ted Robert Gurr, Why Men Rebel, (Princeton New Jersey: Princeton
Univ. Press, 1970), hal. 24.
48. Selama rezim Orba, kekuatan-kekuatan masyarakat madani tidak bisa
melakukan kreasi-kreasi terhadap berbagai kegiatan mereka, melainkan
dikontrol secara ketat oleh pemerintah. Kita dapat melihat kehidupan
berbagai kalangan independen selama rezim tersebut berkuasa. Kalangan
pers dikontrol oleh negara melalui Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
sebagai satu-satunya organisasi wartawan yang diakui oleh negara, kalangan
pedagang dan industri dikontrol melalui Kamar Dagang dan Industri
(KADIN), kalangan pemuda dikontrol melalui Komite Nasional Pemuda
Indonesia (KNPI), petani melalui HKTI (Himpunan Kerukunan Tani
Indonesia), kalangan agamawan dikontrol melalui Departemen Agama
[42];;;;;;;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Pemikiran-pemikiran alternatif dari berbagai aliran dalam
masyarakat hampir tidak mendapat tempat yang layak pada
masa pemerintahan Orde Baru, semua diseragamkan
berdasarkan keinginan penguasa, sehingga para peserta didik
di sekolah ditatar melalui penataran P4 (pedoman
penghayatan dan pengamalan Pancasila):".
Kekuatan civil society yang independen dan mandiri hanya
mungkin dapat hadir dan eksis -apabila tersedia pemerintahan
politik yang demokratis, kalau sistem politik yang tidak
demokratis adalah juga mustahil untuk membangun kekuatan
civil society yang independen dan mandiri. Menurut Guseppe
Di Palma, bahwa civil society adalah bagian organik sistem
demokrasi, yang secara definisi berada dalam posisi
perlawanan (opposisional) terhadap rezim-rezim absolutis,
civil society adalah musuh alamiah otokrasi, kediktatoran, dan
bentuk-bentuk lain yang sewenang-wenang", Liberalisasi
politik merupakan faktor terpenting bagi bangunan civil
society, antara negara (pemerintah) dengan gerakan-gerakan
pro-demokrasi dan organisasi-organisasi sosial harus
membangun hubungan kerjasama yang saling kooperatif dan
bukan dalam bentuk konflik. 51
(Depag) dan sebagainya. Semua kekuatan masyarakat madani tidak boleh
memiliki ciri khas sendiri dan harus menggunakan PancasiIa sebagai
azasnya, yang tidak setuju dengan PancasiIa dianggap sebagai organisasi
terlarang.
49. Proses penataran diIakukan sejak muIai dari Sekolah Dasar hingga
Perguruan Tinggi. Pancasila sebagai seuatu yang sakral dan berlaku seperti
agama. P4 sebetuInya merupakan proses "pernbodohan" kepada siswa didik,
karena meIaIui P4 mereka didoktrin tentang peIaksanaan PancasiIa secara
murni dan konsekuen, padahal penguasa bersikap, berperiIaku dan
bertindak sama sekali tidak mencerminkan niIai-niIai PancasiIa. Antara
doktrin yang diterapkan kepada masyarakat dengan praktek dilakukan oleh
penguasa terdapat ketidaksesuaian antara PancasiIa yang berlaku kepada
masyarakat dengan PancasiIa yang kepada penguasa.
so. Guseppe Di PaIma sebagaimana dikutip daIam Ibid., ha!. viii, 6.
51. SyarifuddinJurdi, Pemikiran Politik Islam Indonesia: Periauian Negara,
Khilafah, Masyarakat Madani dan Demokrasi (yogyakarta:Pustaka PeIajar, 2(05).
Demokrasi dan Politik Kebangsaan ;;;;;;;;;;;;; [43]
Untuk lebih menguatkan kita, betapa kekuatan civil society
dibutuhkan dalam membangun masyarakat demokratis,
nampaknya perlu merujuk pada pemikir politik terpenting
abad XX berkebangsaan Italia Antonio Gramsci (1891-1937),
ia mengemukakan gagasannya tentang hegemoni yang
merupakan landasan alternatif terhadap teori Marxis.
Pandangan Gramsci mengenai masyarakat madani memiliki
kesamaan dengan gerakan sosial, bagi Gramsci di zamannya
terjadi konfliktual dan dialektika antara "negara" (state) dan
"masyarakat madani" (civil society) dalam analisisnya tentang
supremasi dan hegemoni." Gramsci mengatakan seperti yang
dikutip oleh Mansour Fakih.
Apa yang dapatkita kerjakan, sejenakadalah menyediakan dua "aras"
supersirukiur, saiuyangdapat disebui "masyarakat sipil(madani)", yakni
esemble organisme yang biasanya disebui "prioat", danaras lainyaitu
"masyarakat politik" atau "negara". Duaaras ini pada saiusisihubungan
dengan[ungsi hegemoni dimana kelompok dominan menjalankan seluruh
masyarakat dansisi lain berhubungan dengan "dominasi langsung"aiau
periniah yangdijalankan melalui negara danpemerintahan "[uridist."
Desentralisasi dan Gerakan Sosial Lokal
Desentralisasi yang menjadi trend politik bangsa telah
berkembang luas menjadi isu-isu populis, bahkan melebihi
makna sebenarnya dari desentralisasi itu sendiri. Dalam
berbagai kasus lokal, desentralisasi telah berkembang menjadi
"mazhab" lokalitas, dimana isu putra daerah menjadi kencang
disuarakan dalam merebut jabatan publik dan jabatan politik
di daerah, padahal hal itu tidak perlu terjadi - karena akan
memacetkan potensi-potensi sumber daya manusia yang
berkualitas untuk membangun daerah. Bersamaan dengan itu,
muncul pula gerakan sosial lokal -dimana gerakan ini
mencakup beberapa, yakni orientasi pada perubahan (change-
52. Ibid.
53. Mansour Fakih, Masyarakat Sipil Untuk Transformasi Sosial: Pergolakan
ldeologi LSM Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm, 59.
[44];;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
orient ed goals), tingkat organisasi (some degree of organization),
tingkat kontinuitas yang sifatnya temporal (some degree of
temporal cotinuity) dan aksi kolektif di luar lembaga (aksi ke
jalan) dan lobi politik di dalam lemaga (some extrainst itutional
and instiiutionali:"
Dalam rangka memperkuat gerakan sosial yang dapat
mendorong sebuah perubahan menuju suatu tatanan sosial
baru yang lebih baik, diperlukan beberapa instrumen penting
yang menjadi acuan dari gerakan sosial tersebut. Instrumen
itu dapat dikelompokkan ke dalam empat tingkatan yang
sekaligus merupakan proses pembentukan gerakan sosial."
pertama, Incipi ent stage. Pada situasi gerakan sosial haruslah
ada tipe dari tekanan struktur atau kondisi sosial yang tidak
memuaskan dialami oleh individu. kondisi yang tidak
menyenangkan dan tidak teraihnya kebutuhan disebabkan
oleh suatu persoalan khusus, misalnya diskriminasi atau
pengangguran. Kondisi ini mengarah pada situasi tidak
nyaman (malaise), mengembangkan alienasi, massa menjadi
gelisah dan mulai muncul keresahan. Hal inilah yang menjadi
karakteristik yang khas yang memungkinkan munculnya atau
kesiapan untuk melakukan gerakan sosial, terutama
menumpuknya kekecewaan di kalangan warga.
Kedua, Popularstage. Pada tingkatan selanjutnya berkembang
sejumlah orang untuk saling mengenal dan membagi perasaan
antara satu dengan yang lain. Identifikasi dengan gerakan akan
meningkat secara cepat bila kondisi yang tidak menyenangkan
bertambah. Pimpinan atau agitator menjadi pemicu dramatisasi
situasi dan meningkatkan jumlah pengikut gerakan. Aktivitas
utama pada fase ini mencakup klarifikasi persoalan dan tujuan
serta memelihara aktifitas yang berbeda dari para anggota
dengan memusatkan pada tujuan gerakan.
54. Cook, K.S. et-aI., Sociological Perspectives on Social Psychology,
(Massachusset: Allyn & Bacon, 1995).
55. Di Renzo, loc.cit.
Demokrasi dan Politik Kebangsaan ;;;;;;; [45]
Keiiga, Organizational stage. Pada fase ini terjadi klarifikasi
tujuan dan mobilisasi aksi. Kelompok formal dan organisasi
yang lebih kompleks akan muncul. Selama periode ini muncul
prilaku yang terstruktur yakni; peran kepemimpinan
terdefinisikan secara jelas; pemimpin formal muncul; tugas-
tugas dikembangkan; kebijaksanaan khusus dan program
kegiatan dibuat; tujuan terbentuk; dan strategi peningkatan
mulai dilaksanakan. Akhirnya faksi atau golongan akan
berkembang, tergantung pada ukuran gerakan, dasar
perbedaan opini tentang persoalan dan metode resolusi.
Keempat, Institutional stage. Fase terakhir ini akan muncul
apabila gerakan yang penuh kesuksesan diintegrasikan dalam
sejumlah struktur sosial dari masyarakat. Suatu saat situasi
dikembangkan, sehingga gerakan sosial tidak lama lagi menjadi
fenomena perilaku kolektif. Organisasi ini menjadi bagian dari
organisasi sosial yang permanen dan lembaga yang terstruktur
dari suatu masyarakat. Akhirnya muncullah lembaga tertentu
yang mempunyai tendensi untuk espansi dan abadi.
Kebanyakan gerakan sosial tidak sampai di sini. Gerakan sosial
akan bermakna dinamika politik ketika gerakan tersebut
berorientasi pada perubahan tatanan politik, seperti tuntutan
liberalisasi politik, penyelenggaraan pemilihan umum yang
demokratis, dan pembentukan pemerintah yang bersih serta
efektif.
Instrumen untuk membangun basis gerakan yang kuat
tentulah diperlukan empat hal diatas -tanpa membuat
semacam desain gerakan, maka jenis dan model seperti apapun
suatu gerakan tidak akan pemah berhasil menjawab persoalan
yang ada -apalagi mencapai tujuan yang diinginkannya.
Gerakan sosial dalam konteks desentralisasi politik
pemerintahan dewasa ini lebih menggantungkan eksistensinya
pada lembaga-Iembaga politik dan pemerintahan daripada
menjadi gerakan yang mandiri untuk membangun rakyat
daerah. Di berbagai daerah telah muncul gerakan sosiallokal
yang bertujuan membangun kesadaran rakyat lokal, tetapi
[46] iiiiiiiiiiiii Politik Perpajalcan: Membangun Demokrasi Negara
kemandirian dan independensi sebagian dari gerakan sosial
itu perlu dipertanyakan, mengingat kedekatan pribadi dan
kelembagaan dengan sumber-sumber kekuasaan di daerah.
Untuk tetap survive dan berkembangnya suatu gerakan
sosial di tingkat lokal -tentulah diperlukan sejumlah hallain
agar tidak terjebak dalam permainan politik (political game)
yang justru akan menjerumuskan arah perjuangan gerakan
sosial itu sendiri. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan
untuk kemajuannya adalah; pertama, daya dukung struktural
(structural condisiveness) dimana suatu gerakan sosial-massa
akan mudah terjadi dalam suatu lingkungan atau masyarakat
tertentu yang berpotensi untuk melakukan suatu gerakan
massa secara spontan dan berkesinambungan. Dalam
lingkungan masyarakat kampus dan pabrik (industri) adalah
lingkungan yang paling kondusif untuk terciptanya gerakan
massa. Kedua, adanya tekanan-tekanan struktural (struktural
strain) akan mempercepat orang untuk melakukan gerakan
massa secara spontan karena keinginan mereka untuk
melepaskan diri dari situasi yang menyengsarakan. Ketiga,
menyebarkan informasi yang dipercayai oleh masyarakat luas.
Hal ini akan membangun perasaan kebersamaan dan juga bisa
menimbulkan kegelisahan secara kolektif akan situasi yang
tidak menguntungkan tersebut. Keempat, faktor yang bisa
memancing tindakan massa, karena emosi yang tidak
terkendali. Misalnya ada rumor atau isu-isu yang bisa
membangkitkan kesadaran kolektif untuk melakukan
perlawanan. Kelima, upaya mobilisasi orang-orang untuk
melakukan tindakan-tindakan yang telah direncanakan.
Faktor persuasi dan komunikasi bisa mempengaruhi tindakan
sosial secara drastis; juga faktor kepemimpinan sangat
berpengaruh dalam mengambil inisiatif para anggotanya
untuk melakukan tindakan."
56 Neil J. Smelser dalam Ron E. Robert dan Robert Marsh Kloss, Social
Movement Between The Balcony and The Barricade, (London: The C.V. Mosby
Demokrasi dan Politik Kebangsaan iiiiiiiiiiiii [47]
DEMOKRASI BAGI INDONESIA
Beberapa Asumsi Teoritik dan Empirik
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam memahami
demokrasi memang tidak sederhana bagi bangsa Indonesia,
mengingat konsep demokrasi seringkali menjadi topeng bagi
kaum elite dalam mempertahankan kekuasaannya. Meski
demikian, konsep demokrasi yang bersifat empirik untuk
konteks ke-Indonesiaan kita dapat dilakukan dengan melihat
beberapa soal yang terkait dengannya dalam kehidupan real
politics. Konsep teoritik demokrasi dalam studi politik dapat
dilihat menggunakan dua asumsi; pertama, dalam dimensi
dikotomi negara- masyarakat telah terjadi perubahan tekanan
pencarian variabel independen. Pencarian variabel independen
itu adalah mula-mula pada sisi masyarakat kemudian berubah
ke negara dan akhir-akhir ini kembali ke masyarakat. Kedua,
teorisasi politik mengenai demokrasi sejak 1970-an penuh
dengan perdebatan mengenai proses redemokratisasi. Sua tu
proses perubahan dari negara yang dikungkung otoriterisme
menuju ke demokrasi (Mohtar Mas'oed, 1994)
Wacana demokrasi dan sejenisnya telah begitu baik
berkembang pada paroh awal kemerdekaan, dimana elite-elite
politik dengan berbagai latar-belakang ideologis, politik,
kultural dan etnik berdiskusi dan berdebat tentang banyak hal
mengenai bangunan sistem politik yang demokratis.
Perbincangan dalam Badan Penyelidikan Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI) telah menunjukkan adanya
kekuatan untuk mendorong sistem politik bangsa agar lebih
maju sesuai dengan prinsip-prinsip dasar demokrasi.
Company, 1979). Dikutip dari Riza Sihbudi dan Moch Nurhasim (eds):
Kerusuhan Sosial di Indonesia, Studi Kasus Kupang, Mataram danSambas, (jakarta:
Grasindo,2001).
[48];;;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Dalam rangka membangun suatu tatanan politik yang baik,
para pendiri bangsa telah dengan serius merumuskan suatu
prinsip dasar demokrasi yang digali dari khasanah budaya
bangsa. Sungguhpun upaya maksimal yang disebut oleh
banyak kalangan sebagai penggalian empirik itu tersedia dan
tercatat dalam sejarah -tapi rezim-rezim politik yang terbentuk
berikutnya justru merasa tergantung dengan banyaknya
perdebatan dan kontestasi yang terjadi dikalangan elite politik
bangsa.
Para akademisi dan intelektual bangsa terutama yang
membidangi masalah politik -sejak tahun 1950-an, utamanya
yang mempelajari negara-negara baru merdeka, menaruh
harapan bagi pembuktian keampuhan "gagasan tentang
kemajuan" (the idea of progress) yang telah merubah Eropa
Barat dan Amerika Utara pada dua abad sebelumnya. Karena
bentuk masyarakat macam itu telah melahirkan format
demokrasi liberal. Syaratnya adalah pengembangan kekuatan
masyarakat, khususnya melalui pembentukan sistem
kepartaian yang mendukung sistem parlementer yang
bertanggung jawab kepada rakyat. Sehingga tekanan
analisisnya (variabel independennya) adalah masyarakat.
Pada dekade 1950-an -kalangan Islam politik maupun
Islam kultural dengan berbagai dalih tetap bersikukuh
mempertahankan prinsip-prinsip demokrasi yang tengah
dibangun bangsa, bahwa aspirasi rakyat mayoritas harus
diakomodasi dalam negara-bangsa, sebab tanpa meng-
akomodasi kepentingan mayoritas sama halnya dengan
diktator minoritas, artinya populasi kaum muslimin yang
banyak harus menjadi jaminan dan dijamin oleh konstitusi
negara demokratis, sekalipun mungkin itu mengalami
problematik -mengingat hasil real politik yang dipertaruh-kan
dalam pemilihan umum yang demokratis justru tidak
memberikan kemenangan mayoritas bagi kalangan Islam -
sekalipun demikian, dapat dikatakan -partai-partai yang tidak
memakai simbol Islam juga menghimpun umat Islam, jadi
Demokrasi dan Politik Kebangsaan ;;;;;;;;; [49]
alasan populasi terbanyak tetap memperoleh ruang dan
justifikasi empirik.
Memasuki dekade 1960-an, demokrasi empirik minimalis
yang tumbuh dan berkembang pada dekade sebelumnya
mengalami "kemacetan" total akibat kuatnya posisi rezim
yang berkuasa, terutama demokrasi Terpimpin yang ''berdiri
tahun 1958" yang kemudian diteruskan oleh penguasa militer
Soeharto setelah peristiwa berdarah 30 September 1965. Secara
teoritik barangkali isu demokrasi kala itu menarik, namun
praktek demokrasi dalam kehidupan real kebangsaan
mengalami "kelumpuhan" total, karena negara (pemerintah
yang berkuasa) tidak menghendaki adanya ruang yang begitu
bebas diberikan kepada warga negara, karena pengalaman
pada demokrasi Liberal yang tidak stabil dengan jatuh-
bangunnya pemerintahan.
Penguasa segera berbenah diri untuk mendesain kerangka
politik baru untuk mengedepankan pem-bangunan pada
sektor ekonomi, pertanian dan peningkatan pendapatan
nasional. Aspek politik hampir tidak memperoleh ruang untuk
hadir bersama pernbangunan pada aspek yang lainnya. Untuk
meminimalkan konflik politik, pemerintah melakukan fusi
politik pada tahun 1970-an awal-tujuan untuk memudahkan
negara mengontrol rakyatnya dan partai politik berada dalam
posisi pengawasan yang ketat dari negara, akibatnya partai
oposisi tidak bisa eksis, mengingat kekuatan politik berada
dalam "bayang-bayang" penguasa, bahkan pemimpin suatu
partai harus memperoleh restu dari pemerintah.
Kondisi politik demikian tentu saja tidak akan bisa disebut
sebagai suatu negara-bangsa yang demokratis, karena hakekat
sebuah sistemdemokratis adalah adanya perbedaan, kompetisi,
pilihan atas segala sesuatu tidak hanya satu, tersedianya partai
oposisi, keterbukaan (transparansi), dan berbagai syarat lain
yang dapat disebut sebagai sistem politik demokratis.
disusul oleh Nahdatul Ulama 1926. Belum lagi dalam jumlah
yang tidak terhitung berkembang asosiasi serupa di daerah-
daerah. Di Sumatera Barat terdapat Perguruan Tawalib, di
Lombok terdapat Nahdatul Wathan, di Sulawesi Selatan ada
Matla'ul Anwar, di [awa terdapat perkumpulan yang sangat
beragam -terutama mulai maraknya pada dekade 1930-an.
Kelahiran organisasi tersebut di atas merupakan langkah
penting dalam mendesain Indonesia yang demokratis. Dalam
Sarekat Islam terdapatsikap nasionalisme yang kuat, sekalipun
nasionalisme tersebut didasarkan kepada nilai-nilai Islam,
bahkan jauh lebih nasionalis dari orang-orang Partai Nasional
Indonesia (PNI) Soekarno atau PNI (Pendidikan Nasional
Indonesia) nya Hatta.
Tegasnya, tradisi berdemokrasi secara empirik dalam alam
kehidupan Indonesia modem telah dilakukan jauh sebelum
kemerdekaan. Setelah kemerdekaan, sikap demokratis para
pendiri bangsa sangat terlihat, seperti dalam Badan Usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang merupakan
badan yang dibentuk khusus membicarakan, merumuskan dan
menyepakati tentang dasar negara - antara faksi-faksi politik,
kaum intelektual, kelompok agama dan kalangan adat terlibat
didalamnya -tentu saja keragaman latar belakang mereka
berpotensi besar untuk berbeda, tapi perbedaan pandangan
dapat dilunakkan oleh semangat kebangsaan.
Tokoh-tokoh Islam yang disebut oleh berbagai kalangan
sebagai kalangan "fundamentalis" seperti Ki Bagus
Hadikusumo yang ngotot mempertahankan rumusan
kompromi politik yang dihasilkan oleh Panitia Sembilan yang
bertugas merumuskan kesepahaman antara kalangan Islam
dan nasionalis tentang diktum syariat Islam -toh akhimya
memperlihatkan sikap politik yang demokratis dengan
menerima penghapusan diktum tentang kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
[50];;;;;;;;;; Poliiik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Membangun demokrasi yang sejati, demokrasi kultural
yang religius dan berkeadaban sebetulnya tidaklah begitu sulit
bagi bangsa Indonesia -tentu, apabila digali nilai-nilai lokal
dan warisan sejarah demokrasi masa lalu. Sebelum
kemerdekaan, elite-elite agama dan nasional terlibat dalam
berbagai polemik tentang isu agama dan nasionalisme.
Sungguhpun mereka berbeda pendapat, tetapi persahabatan
diantara mereka tetap terjalin dengan baik.
Di berbagai daerah tersedia banyak simbol-simbol
demokrasi lokal yang dapat merajut demokrasi nasional. Di
Bima NTB sebagaimana telah disinggung sebelumnya tersedia
Sarangge sebagai public sphere warga, mereka terlibat dalam
berbagai perdebatan dan diskusi tentang banyak masalah yang
terkait dengan kehidupan mereka. Di Lombok tersedia Paruga
sebagai media publik yang dapat dimanfaatkan oleh warga
untuk membahas masalah mereka sehari-hari, Di Sumatera
Barat tersedia Surau-Surau Masjid sebagai media publik yang
religius untuk memikirkan daerah dan masyarakat lokal
mereka. Di [awa barangkali kedai kopi dan juga Surau Masjid
menjadi media publik itu. Di Makassar dapat ditemukan di
tempat-ternpat perkumpulan semi formal dan juga dapat
berkembang di Suaru Masjid, warung Makan dan tempat-
tempat lainnya -dimana warga dapat bertemu dan berdiskusi
tentang segala sesuatu yang perlu mereka bicarakan.
Nampaknya, kalau ditelusuri lebih jauh akan ditemukan nilai-
nilai empirik demokrasi kultural yang berserakan di berbagai
daerah.
Lahimya berbagai gerakan sosial keagamaan yang marak
sejak awal abad ke-20 tentu merupakan cikal-bakal dari
menguatnya ruang yang memberi kebebasan kepada warga
untuk berkumpul dan berserikat. Perkumpulan yang bebas dari
pengaruh dan intervensi negara pada saat berdirinya Sarekat
Dagang Islam 1905, Boedi Oetomo tahun 1908, Sarekat Islam
awal 19i2, Muhammadiyah akhir 1912 yang belakangan
Demokrasi dan Politik Kebangsaan
;;;;;;;;;; [51]
[52];;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Sungguhpun begitu, kalangan Islam menganggap
"pengkhianatan" terhadap kesepakatan 22 [uni 1945 sebagai
bentuk pengingkaran terhadap demokrasi, maka perlu
diperhatikan bahwa kesepakatan antara berbagai faksi dalam
suatu sistem politik demokratis harus dijunjung tinggi, karena
itulah hasil akhir yang dapat dilakukan untuk menjamin sistem
politik yang dibangun men-cerminkan nilai-nilai keadilan dan
keadaban. Untuk itu menarik yang diungkapkan oleh Franz
Magnis-Suseno dalammelihat kesepakatan berbagai aliran dan
faksi politik dengan mengatakan; pertama, sistem politik kita
sekarang masih memiliki defisit dalam kadar
kedemokratisannya, dan kedua, bahwa sekarang sudah
waktunya kadar demokrasi sistem politik kita ditingkatkan."
Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berkedaulatan dan
berkeadilan sesuai pesan konstitusi -tidak ada lagi alasan
untuk tidak sesegara mungkin menyelenggarakan sistem
politik yang demokratis. Kini proses menuju sistem tersebut
masih terhambat oleh kuatnya syahwat politik kaum elite
dalam membela kepentingan politik golongan dan pribadi,
akibatnya bangunan demokrasi tersendat-sendat.
Demokrasi yang dipraktekkan oleh elite politik masih
dalam batas-batas yang kurang demokratis, sebab urusan
domestik elite yang lebih penting dibicarakan dalam lembaga
demokrasi (parlemen) daripada urusan rakyat yang lebih luas.
Di kalangan anggota berkembang isu kenaikan gaji dan
tunjangan anggota Dewan -padahal kondisi real rakyat dalam
keadaan yang serba kesulitan -kenapa pula yang didahulukan
soal kepentingan pribadi elite -daripada kepentingan publik
yang lebih luas, ini merupakan ironi bagi terwujudnya
demokrasi yang baik. Rakyat sudah sangat menginginkan
demokrasi dapat diselenggarakan secara lebih terbuka yang
diikuti oleh kejujuran elite dalammenjalankan sistem tersebut.
57. Franz Magnis-Suseno, MencariSosokDemokrasi: Sebuah Telaah Filosofis,
(jakarta: Gramedia, 1995), hIm. 24.
Demokrasi dan Politik Kebangsaan ;;;;;; [53]
Suara rakyat dalam sistem yang demokratis merupakan
dasar dari pengambilan kebijakan publik, rakyat memiliki
kebebasan yang luas dan dengan kebebasan itu rakyat juga
ikut mengawasi jalannya pemerintahan dan juga nampaknya
elite politik perlu ikut diawasi sepak-terjangnya.
Rezim Otoriter Memacetkan Demokrasi
Dalam rangka melihat beberapa kemungkinan empirik ini,
Samuel P. Huntington justru mengemukakan perkembangan
sebaliknya. Proses penguatan masyarakat melalui sistem
kepartaian itu semakin lama semakin melemah. Lembaga-
lembaga pendukungnya tidak mampu memaksa
pemerintahnya untuk tunduk padanya. Negara yang semula
dianggap sebagai instrumen mulai berubah menjadi
eksplanator. Berubah menjadi aktor dan intervensionis.
Sehingga perhatian studi politik terhadap demokrasi berubah
ke dimensi negara sebagai aktor (variabel independen).
Menjelang akhir 1970-an muncul optimisme kembali
tentang perspektif demokrasi dalam studi ilmu politik dari
dimensi masyarakat. Optimisme itu berkembang tatkala
menyaksikan berubahnya negara-negara yang semula
dirundung otoriterisme berubah menjadi demokrasi, sekalipun
dalam konteks negara-bangsa kita masih menyisakan problem
otoriter pada dekade itu, bahkan mengukuhkan kuatnya
keinginan rezim untuk semakin otoriter. Negara Portugal,
Spanyol, dan Yunani. Begitu pula tatkala melihat
perkembangan di Pakistan, Argentina, Bolivia, Peru, dan
Philipina. Akhirnya diakhir 1980-an dunia menyaksikan
runtuhnya negara-negara otoriterisme Eropa Timur dan Uni
Soviet.
Perubahan rezim politik atau transisi negara
otoritarianisme ke negara demokrasi itu merubah cara
pandang atau analisis dalam studi politik ke masyarakat
kembali. Meskipun kali ini ..
_.....:--------.-- - - - .. - . .- 1
F" ' . ,
MU"" f ill(\J;... : i\ ::, I 'I. d ' :
\ff\ltVERSnAS MAth\ \
YOGVAKA.RT A j

[54];;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara


pelembagaan yang mewakili masyarakat tidak hanya partai
politik saja, juga memasukkan aktor lain yaitu lembaga
swadaya masyarakat (LSM), organisasi sosial keagamaan dan
semua komponen yang dapat dimasukkan ke dalam kategori
civil society. Demokrasi merupakan proyek sosial yang didesain
oleh steak holders dalam masyarakat dengan -tentu aktor-aktor
penting dalam proses tersebut adalah elite-elite dalam
masyarakat dan aktomya tidak tunggal semacam negara atau
personal -melainkan menyebar keberbagai kelembagaan civil
society.
Upaya memberika kerangka teori bagi konsep demokrasi
tentu telah banyak dilakukan, tapi teorisasi demokrasi sejak
1970-an berbeda dengan masa sebelumnya disebabkan oleh
tiga hal. Pertama, teorisasi demokrasi yang berkembang 1950-
an dan 1960-an umumnya berdasarkan pada pengalaman
empirik Eropa Barat dan Amerika Utara. Kedua, penekanan
yang lebih besar pada -variabel politik dan berkurangnya
perhatian pada kondisi-kondisi sosial yang mendukung proses
demokratisasi. Teorisasi sebelum 1970-an biasanya mengenal
tiga ciri yaitu: (1). Ekonomi yang makmur dan merata;
(2). Struktur sosial yang modern, mengenal diversifika-
si dan didominasi oleh kelas menengah yang independen;
dan (3). Budaya politik nasional yang secara implisit sudah
demokratis, yaitu toleran terhadap perbedaan dan cenderung
akomodatif. Ketiga, dalam model demokrasi barat
itu juga digambarkan bahwa proses demokratisasi berlang-
sung secara gradual dan akomodatif. Padahal, pengalaman
masyarakat yang melakukan demokratisasi sejak 1970-an
menunjuk bahwa proses itu umumnya berlangsung
dalam suasana mobilisasi dan ketidaksabaran. Bahkan kadang-
kadang penuh kekerasan.
Dalam teorisasi demokrasi setelah 1970-an perhatian lebih
banyak dicurahkan pada variabel pilihan politik yang diambil
oleh elite atau pemimpin-pernimpin utama. Ternyata ada
Demokrasi dan Politik Kebangsaan ;;;;;;; [55]
negara-negara yang secara kultural dan sosio-ekonominya
belum berkembang sebagaimana ciri masyarakat demokrasi
Eropa Barat dan Amerika Utara bisa berubah menjadi
demokrasi tatkala sekelompok elit berani mengambil pilihan
politik yang mengarah pada demokrasi.
Teorisasi masa kini lebih menekankan persoalan prosedur,
yaitu persoalan penciptaan prosedur. Tumpuannya adalah
gagasan yang dilontarkan [oseph Schumpeter
setengah abad lalu, yaitu demokrasi sebagai metode politik.
Menurut Schumpeter, yang oleh teoritisi klasik disebut
"kehendak rakyat" sebenamya adalah hasil dari proses politik,
bukan motor penggeraknya bersifat empirik, deskrip-
tif, institusional dan prosedural inilah yang mendominasi
teorisasi mengenai demokrasi sejak 1970-an. Di Palma
yang menyatakan bahwa demokrasi ada ketika
gagasan koeksistensi menjadi cukup menarik bagi kelompok-
kelompok utama dalam masyarakat sehingga mereka bisa
diajak bersepakat mengenai aturan-aturan dasar permainan
politik. Definisi demokrasi yang menekankan komponen
hak pilih universal dan pemerintahan mayoritas juga bersifat
prosedural Schumpeterial. Menurut Dahl ciri khas demokrasi
adalah sikap tanggap pemerintah secara terus-menerus
terhadap preferensi atau keinginan warga negaranya.
Tatanan politik seperti itu dapat digambarkan dengan
memakai dua dimensi teoritik, yaitu: (1). Seberapa tinggi
tingkat kontestasi, kompetisi atau oposisi yang dimungkinkan;
dan (2). Seberapa banyak warga negara yang memperoleh
kesempatan berpartisipasi dalam kompetisi politik itu. Dalam
dua dimensi itu Dahl membuat tipologi empat sistem politik:
"hegemoni tertutup", "oligarki kompetitif", "hegemoni
inklusif", dan "poliarki".
Demokrasi itu sendiri dapat dipahami dengan melakukan;
pertama, merumuskan preferensi atau kepentingannya sendiri;
Kedua, memberikan perihan preferensinya itu kepada sesama
[56];;;;;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
warga negara dan kepada pemerintah melalui tindakan
individual maupun kolektif; dan Ketiga, mengusahakan agar
kepentingannya itu dipertimbangkan secara setara dalam
proses pembuatan keputusan pemerintah, artinya tidak
didiskriminasikan berdasar isi atau asal-usulnya.
Kesempatan itu hanya mungkin tersedia kalau lembaga-
lembaga dalam masyarakat bisa menjamin adanya delapan
kondisi, yaitu: (1). Kebebasan untuk membentuk dan
bergabung dalam organisasi; (2). Kebebasan mengungkapkan
pendapat; (3). Hak untuk memilih dalam pemilihan umum;
(4). Hak untuk menduduki jabatan publik; (5). Hak para
pemimpin untuk bersaing memperoleh dukungan dan suara;
(6). Tersedianya sumber-sumber informasi alternatif; (7).
Terselenggaranya pemilihan umum yang bebas dan jujur; dan
(8). Adanya lembaga-Iembaga yang menjamin agar
kebijaksanaan publik tergantung pada suara dalam pemilihan
umum dan pada cara-cara penyampaian preferensi yang lain.
Yaitu demokrasi adalah tatanan politik yang memiliki
liberalisasi dan partisipasi yang tinggi. Semakin besar
pertentangan antara pemerintah dengan kelompok lawannya
itu, semakin mahal "ongkos" toleransi yang harus ditanggung
masing-masing. Artinya, semakin kecil kemungkinan masing-
masing untuk mentolerir tindakan lawan.
Asumsi pertama: Kemungkinan suatu pemerintah akan
mentolerir oposisi akan meningkat kalau "biaya" untuk
bertoleransi bisa diperkirakan turun. Asumsi kedua:
Kemungkinan suatu pemerintah akan mentolerir oposisi akan
meningkat kalau "biaya" untuk menindasnya diperkirakan
meningkat. Dengan demikian, kemungkinan demokrasi
tergantung pada dua "biaya" itu, seperti disebut dalam Asumsi
ketiga: Semakin tinggi "biaya" penindasan melampaui "biaya"
toleransi, semakin besar kemungkinan munculnya sistem
politik yang kompetitif atau demokratis.
Demokrasi dan Politik Kebangsaan ;;;;;;;;;;; [57]
Gagasan Dahl ini menegaskan bahwa syarat bagi
perubahan ke arah tatanan yang lebih demokratis adalah
adanya sikap "saling menjamin" antara pemerintah dengan
aktor non-pemerintah. Demokratisasi adalah upaya
"bargaining" rasional yang berjangka panjang, bukan
tindakan yang bemafsu dan sekali jadi. Rustow dengan tegas
menyatakan bahwa prasyarat pokok bagi demokratisasi
adalah "pembinaan negara-negara" demi kesatuan nasional.
Demokrasi dan Elite Politik
Dalam memahami persoalan politik dan demokrasi dalam
merekonstruksi bangsa ini adalah tergantung pada jenis elite
yang berkuasa. Kalau jenis elite yang berkuasa itu merupakan
jenis elite yang memahami rakyatnya, memahami perbedaan,
dan memahami kondisi bangsanya -maka demokrasi akan
menampakkan wujudnya sebagaimana yang diharapkan.
Dalam rangka kita menjelaskan proses transisi demokrasi ini,
maka variabel yang paling penting dalam menjelaskan adalah
kearah mana demokrasi yang dibangun sejak 1970-an yakni
perilaku elite. "Sikap para elite, perhitungan-perhitungan dan
kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuatnya .... umumnya
menentukan apakah pembukaan kesempatan (bagi demokrasi)
akan terjadi atau tidak".
Linz dan Stepan mencoba menjelaskan kejatuhan dan
kebangkitan kembali demokrasi tidak dengan menelaah
variabel-variabel konflik kelas atau kendala ekonomi, tetapi
dengan mencurahkan perhatian pada perilaku elit atau
kepemimpinan mereka. Walaupun keduanya tidak
mengatakan bahwa kendala struktural tidak penting, mereka
mengkritik karya-karya O'Donnell dan Schmitter sebelumnya
sebagai terlalu banyak bertumpu pada variabel struktural.
"Dugaan kami bahwa demokrasi itu hancur karena faktor-
faktor sosial atau ekonomi pada tingkat makro mungkin salah.
Mungkin saja mereka hancur karena lemahnya kepemim-
pinan. Dapat dijelaskan, bahwa kehancuran demokrasi dipicu
[58] iiiiiiiiiii Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
oleh berbagai faktor -ia tidak bersifat tunggal -melainkan
terkait dengan berbagai faktor lainnya termasuk persoalan
kepemimpinan yang lemah, tidak tegas, dan korup -juga
dipicu oleh kondisi sosial ekonomi warga seeara makro, tentu
di dalamnya persoalan nilai-nilai lokal.
Pemimpin yang setia pada demokrasi menolak penerapan
kekerasan dan sarana yang ilegal dan tidak konstitusional
untuk mengejar kekuasaan. Pemimpin demikian juga tidak
mentolerir tindakan anti-demokratis oleh partisipasi lain. Yang
terakhir mereka menegaskan bahwa "di seluruh dunia sedang
berkembang yang paling banyak menyumbang pada
pengembangan demokrasi adalah -gaya kepemimpinan yang
fleksibel, akomodatif, dan konsensual". Mereka tidak melihat
perilaku elite ditentukan oleh variabel kelas. Sikap elite tidak
dipengaruhi sepenuhnya oleh kepentingan materiil mereka,
bahkan elite yang menduduki kekuasaan dalam suatu negara
otoriter pun bisa terdorong untuk merombak sistem yang
mereka bangun kalau "pertimbangan mengenai reputasi di
masa depan" memaksa mereka melakukan itu. Alasan ini bisa
sama kuatnya dengan kepentingan pemuasan kebutuhan
jangka pendek.
Dalam rangka memperkuat basis dasar demokrasi
diperlukan berbagai daya-upaya maksimal yang
memungkinkan proyek demokrasi tersebut dapat terwujud.
Transisi menuju demokrasi adalah "a matter ofpolitical crafting".
Karena itu persoalan strategi dan taktik menjadi sangat relevan.
Dahl yang yakin bahwa gradualisme, moderasi dan kompromi
adalah kunci menuju keberhasilan transisi kearah demokrasi.
Pengalaman berbagai masyarakat yang melakukan
demokratisasi dalam lingkungan otoriterisme sejak akhir 1970-
an menunjukkan bahwa umumnya transisi itu berlangsung
dalam suasana mobilisasi dan ketidaksabaran. Bahkan tidak
jarang disertai dengan tindak kekerasan. Share menelaah pola-
pola transisi menuju demokrasi berdasar dua kriteria, yaitu
keterlibatan pemerintah yang sedang berkuasa dan jangka
Demokrasi dan Politik Kebangsaan iiiiiiiiiii [59]
waktu (1). Apakah transisi itu dilakukan dengan partisipasi
atau persetujuan para pemimpin rezim otoriter yang berkuasa
atau tidak?; dan (2). Apakah transisi itu berlangsung seeara
bertahap, melewati masa lebih dari satu generasi, atau
berjalan eepat? Hasinya adalah tipologi berikut.
Demokratisasi inkremental, yaitu transisi yang melibatkan
para pemimpin yang sedang berkuasa dan berlangsung seeara
bertahap, adalah tipe yang paling tidak umum. Dalam hal ini
dapat diambil eontoh seperti yang terjadi di negara-negara
maju yaitu Inggris dan negara-negara Eropa Utara, sedikit
sekali negara-negara yang mengalami transisi inkremental.
Kemungkinan transisi melalui perjuangan revolusi yang
berlarut-Iarut, dimana kekuatan oposisi tumbuh seeara
inkremental menghadapi rezim otoriter yang kaku, sangat keeil
seperti itu justru hanya mendorong muneulnya gerakan
revolusioner, yang umumnya didominasi oleh tokoh-tokoh
yang tidak setia kepada tujuan demokrasi seperti yang
didefinisikan di sini.
Karena alasan-alasan itu, kebanyakan teoritisi dan praktisi
politik lebih menekankan pembiearaan mengenai transisi ke
demokrasi seeara eepat. Namun, transisi demokratisasi seeara
eepat itu menghadapi banyak kesulitan. Cepatnya perubahan
aturan main dari otoriter ke demokratis bisa membuka
kemungkinan ketidak stabilan politik. Karakteristik persoalan
itu tergantung pada sifat konsensual atau non-konsensualnya,
Selain itu, demokrasi juga diisi oleh elite-elite politik yang
muneul seeara tiba-tiba tanpa melalui proses seleksi sosial yang
eukup, akibatnya bangunan demokasri yang hendak
dihadirkan sebagai jawaban kegagalan otoriteriasme rezim
sebelumnya menjadi terabaikan, karena elite-elite politiknya
merupakan eerminan dari kebanyakan "watak" otoriter dan
korup -hal itu dapat dlihat dalam transisi politik Indonesia
yang hingga kini belumjuga berakhir sebagai dominannya elite
politik yang "dadakan".
[60];;;;;;;;;; Politik Perpajakan: Membangun Demokrasi Negara
Sebagian besar demokrasi modern justru lahir melalui;
pertama transisi melalui perpecahan. Transisi seperti ini bisa
berlangsung dalam berbagai cara. Yang paling sering adalah
melalui kejatuhan (collapse) rezim otoriter sebelumnya. Kedua
adalah melalui extrication, yaitu ketika enzim otoriter tiba-
tiba kehilangan ligitimasi dan segera menyerahkan kekuasaan
kepada kekuatan oposisi demokratis, seperti yang terjadi di
Argentina sesudah perang Malvinas. Dan cara ketiga yaitu
kudeta, dimana rezim otoriter digulingkan oleh sekelompok
elite dalam militer. Cara terakhir adalah melalui revolusi,
seperti yang di Perancis dua ratus tahun lalu. Yaitu
berlangsung cepat dan konsensual, selalu melibatkan
penolakan terhadap, atau paling tidak delegitimasi, rezim
otoriter sebelumnya. Contoh lain yang paling mutakhir yang
terjadi di Pakistan -dimana proses penggulingan Presiden sipil
yang dipilih secara demokratis Nawa Syarif oleh kekuatan
militer Pakistan yang dipimpin oleh Pervez Musharaf.

;;;;;;;;;; [61]
Bagian Kedua
NEGARA, DEMOKRASI DAN PAJAK
Se6uaJi neqeri yang diurus menurut ptinsip
dan. sikap amanali para pemimpinnqa akan
dapat fiitfup makmur, tentu hams aiaukung oCefi rakyat
yang mendiami neqeri itu fiitfup menutut dasar
yang 1(esaaaran rakyat akan hak dan.
se6agai warga negara akan sangat tergantung dati cara penguasa
membetikan. peCayanan mereka. Se6uaJi neqeri
yang demokjatis, tensulah. rakyatnya mudah. aiajak bicara untuk; menqambil
6ersama yang 6erkaitanpersoalati bersama. 1(akyat sebaqai
warga negara akan aengansenang mem6ayar
pajakyang sudah. menjadi negara,
se6agaimana yang sama aiCakui@n oCefi negara untuk,
mem6erii@n peCayanan pu6fikyang 6aik rakyat,
negara hams mem6uka yang luas rakyat untuk
mengetafiui pemanfaatan pajakyang teCaJi
aikumpu[i@n dari rakyat.
PENGANTAR
M
embicarakan masalah pajak dan politik perpajakan yang
diserempetkan dengan isu demokrasi memang masih
relatif terbatas dibahas oleh para ilmuwan, baik ilmuwan
ekonomi yang khusus mengkaji ekonomi politik maupun para
sarjana hukum ekonomi yang memang didesain untuk terlibat
langsung dalam proses politik perpajakan. Pajak yang menjadi
inti dari pengelolaan pemerintahan telah mengalami banyak
problem terutama berkaitan dengan kebijakan negara dalam
konteks pendistribusian pajak.