Anda di halaman 1dari 169

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam terbitan (KDT)

Muhammad Djafar Saidi


Pembaruan hukum pajaklMuhammad Djafar Saidi
-Ed. I-I.-Jakarta: PTRajaGrafindo Persada, 2007.
xii, 326 hIm., 21cm
Bibliografi: hIm. 321
ISBN 978-979-769-142-4
I. Pajak dan perpajakan-Aspek hukum
Hakcipta 2007, pada Penulis
1. Judul
343.04
07-1-9
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apa pun,
termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa izin sah dari penerbit
2007.0950 RAJ
Dr. Muhammad Djafar Saidi, S.H., M.H.
PEMBARUAN HUKUM PAJAK
Hak penerbitan pada PTRajaGrafindo Persada, Jakarta
Desain cover oleh Stephen Rinaldy
Dicetak di Kharisma Putra Utama Offset
PT RAJAGRAFINDO PERSADA
Kantor Pusat:
JI. Pelepah Hijau IVTN.I. No. 14-15, Kelapa Gading Permai, Jakarta 14240
Tel/Fax : (021) 4520951- 4529409
E-mail: rajapers@indo.net.id Http : / / www.rajagrafindopersada.com
Perwakilan: .
Bandun g-40243 JI.H. Kurdi Timur No. 8 Komplek Kurdi Telp. (022) 5206202.
Yogyakarta-Pondok Soragan Indah Blok A-I, JI. Soragan, Ngestiharjo, Kasihan Bantul,
Telp. (0274) 625093. Surabaya-6011 8. JI. Manyar j aya Blok. B229 A. Komp. Wahana
Wisma Permai, Telp. (031) 5949365. Palembang-30137, JI. Kumbang III No. 4459 Rt.
78, Kel. Demang Lebar Daun Telp. (0711) 445062. Padang-25156, Perum. PalmGriya
Indah11 No. A. 9, KorongGadangTaruko, Telp. (0751)498443. Medan-20215,JI.Amaliun
No. 34/68, Tel p. (061) 7323082. Makasar-9022I, JI. ST. Alauddin Blok A 9/3, Komp.
Perum Bumi Permata Hijau, Telp. (041I) 861618. Banjarmasin-70114,JI. Bali No. 33
Rt. 9, Telp. (0511) 52060. Bali, JI. Trengguli No. 80 Penatih, Denpasar Telp. (0361)
8607995
Kupersembahkan buku ini kepada Istri yang tercinta
Hj. Rohana Huseng, SoHo, MoHo,
dan Putri-putraku tersayang
Eka Merdekawati, S.H., 50S, Arief Kumiawan, SoH. ,
dan Sri Sukmawati.
vii
_ Kata Pengantar
A
tas rakhmat Allah yang Ar-Rahman dan Ar-Rahim, buku ini
dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang cukup lama,
tersusun secara sederhana dengan kalimat yang bersahaja.
Tujuannya adalah agar mudah dibaca, dipahami, dan dipraktikkan
oleh pejabat pajak dan pejabat yang ditunjuk untuk melaksanakan
peraturan perundang-undangan perpajakan, khususnya di kalangan
mahasiswa, baik di tingkat strata satu , strata dua, dan strata tiga.
Kiranya buku ini dapat mengantar kepada pembaca dan setiap
orang yang memerlukannya, dengan penuh harapan semoga dapat
memperoleh tempat dalam hati pembacanya. Selain itu, diharapkan
pula sebagai sumbangsih bagi perkembangan hukum pajak yang
akhir-akhir ini mengalami pembaruan yang sangat mendasar.
Pembaruan tersebut bermula pada tahun 1983 dalam rangka
menata kembali substansi "Hukum Pajak" yang berada dalam
berbagai Undang-undang Pajak dengan meninggalkan warisan
Pemerintah Hindia Belanda.
Disadari bahwa buku ini tidak menampung secara keseluruhan
substansi hukum pajak sehingga akan menyusul buku kedua yang
berjudul Perlindungan Hukum Wajib Pajak dalam Penyelesaian Sengketa
Pajak. Di samping itu, segala kritikan dan saran dalam rangka
viii
Pembaruan Hukum Pajak
ix
penyempurnaan buku ini diterima dengan ucapan terima kasih.
Semoga Allah Swt. membalasnya dengan penuh berkah-Nya.
Akhirnya, diucapkan terima kasih kepada Penerbit PT
RajaGrafindo Persada Iakarta yang bersedia menerbitkan buku ini.
Makassar, 05 Februari 2007
PenuIis,
Kata Pengantar
Daftar Isi
vii
Bab 1. PENDAHULUAN
A. Pengertian
B. Sumber Hukum Pajak
C. Kedudukan Hukum Pajak
D. Tujuan Hukum Pajak
E. Ruang Lingkup Hukum Pajak
BAB 2. PAJAK DAN RETRIBUSI
A. Pengertian
B. Penggolongan Pajak dan Retribusi
C. Fungsi Pajak dan Retribusi
BAB 3. OBJEK PAJAK
A. Pengertian
B. Objek Pajak Penghasilan
C. .Objek Pajak Pertambahan Nilai
D. Objek Pajak Penjualan atas Barang Mewah
E. Objek Pajak Bumi dan Bangunan
F. Objek Bea Perolehan Hak at as Tanah dan
Bangunan
G. Objek Bea Meterai
H. Objek Pajak Daerah
1
1
4
12
17
19
23
23
27
33
35
35
36
42
51
54
57
60
64
x
Pembaruan Hukurn Pajak
Daftar Isi xi
BAB 4.
WAJIB PAJAK
67
BAB 8. UTANG PAJAK 153
A. Pengertian
67
A. Pendahuluan 153
B; Wajib Pajak Penghasilan
69
B. Timbulnya Utang Pajak 155
C. Wajib Pajak Pertambahan Nilai
71
C. Berakhirnya Ut ang Pajak 163
D. Wajib Pajak Penjualan atas Barang Mewah
74
E.
Wajib Pajak Bumi dan Bangunan
75
BAB 9. PENGEMBALIAN KELEBIHAN
F.
Wajib Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
PEMBAYARAN PAJAK 179
Bangunan
77
A. Pendahuluan 179
G. Wajib Bea Meterai
79
B. Surat Ketet apan Pajak Nihil 180
H. Wajib Pajak Daerah
80
C. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar 181
1. Kewajiban Wajib Pajak
81
D. Pengembalian Pendahuluan Kelebihan
J. Hak Wajib Pajak
85
Pembayaran Pajak 184
K. Penanggung Pajak
88
BAB 10. PENAGIHAN PAJAK 187
BABS.
PEJABAT PAJAK
91
A. Hak Mendahulu 187
A. Pendahuluan
91
B. Dasar Penagihan Pajak 192
B.
Wewenang Pejabat Pajak
94
C. Penagihan secara Biasa 198
C. Kewajiban Pejabat Pajak
110
D. Penagihan Seketika dan Sekaligus 224
D. Larangan Pejabat Pajak
116
E. Penagihan secara Paksa 226
BAB6.
F. Perlawanan terhadap Surat Paksa 239
SURAT PEMBERITAHUAN
121
A. Pendahuluan
121
BAB 11. PEMBUKUAN 247
B. Fungsi Surat Pemberitahuan
127
A. Kewajiban Menyelenggarakan Pembukuan 247
C. Surat Pemberitahuan Masa
129
B. Syarat-syarat Penyelenggaraan Pembukuan 248
D. Surat Pemberitahuan Tahunan
131
C. Prinsip Pembukuan 250
E.
Surat Pemberitahuan Objek Pajak
134
D. Penyimpanan Dokumen 253
F.
Surat Pemberitahuan Pajak Daerah
. 135
BAB 12. PEMERIKSAAN 255
BAB 7.
PEMUNGUTAN PAJAK
137
A. Pengertian 255
A. Dasar Hukurn
137
B. Tujuan Pemeriksaan 256
B. .. Yurisdiksi Pemungutan Pajak
140
C. Ruang Lingkup Pemeriksaan 258
C. Sistern Pemungutan Pajak
143
D. Kewajiban yang Diperiksa 259
D. Pelirnpahan Wewenang Pemungutan Pajak
148
E. Penyegelan 261
E. Pembagian Hasil Pajak
149
xii
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 13. SANKSI ADMINISTRASI
A. Pengertian
B. Sanksi Administrasi Berupa Bunga
C. Sanksi Administrasi Berupa Denda
D. Sanksi Administrsai Berupa Kenaikan
BAB 14. PAJAK GANDA
A. Pengertian
B. Pajak Ganda Nasional
C. Pencegahan Pajak Ganda Nasional
D. Pajak Ganda Internasional
E. Pengenaan Pajak Ganda Internasional
F. Pencegahan Pajak Ganda Internasional
BAB 15. PENGAMPUNAN PAJAK
A. Pendahuluan
B. Syarat-syarat Pengampunan Pajak
C. Tujuan Pengampunan Pajak
BAB 16. LEMBAGA KEBERATAN
A. Pendahuluan
B. Kedudukan Lembaga Keberatan
C. Kompetensi Lembaga Keberatan
D. Pemasukan Surat Keberatan
E. Pihak-pihak yang Bersengketa
F. Surat Keputusan Keberatan
DAFTAR PUSTAKA
BIODATA PENULIS
265
265
266
273
277
281
281
282
283
284
285
288
291
291
293
295
299
299
300
303
308
311
316
321
325
D'" Pendahuluan
I,"
A. Pengertian
Hukum pajak sebagai bagian ilmu hukum memiliki istilah yang
berbeda-beda karena penggunaan bahasa yang menyebabkannya,
Dalam literatur berbahasa Inggris, hukum pajak disebut tax law.
Kemudian, dalam bahasa Belanda disebut belasting reeht. Sementara
itu, dalam literatur berbahasa Indonesia digunakan istilah selain
hukum pajak juga hukum fiskal. Sebenarnya hukum pajak dengan
hukum fiskal memiliki substansi yang berbeda. Hukum pajak hanya
sekadar membicarakan tentang pajak sebagai objek kajiannya,
sedangkan hukum fiskal meliputi pajak dan sebagian keuangan
negara sebagai objek kajiannya.
Pengertian hukum pajak pada garis besarnya dapat dibagi
dalam arti luas dan dalam arti sempit. Hukum pajak dalam arti
luas adalah hukum yang berkaitan dengan pajak. Hukum pajak
dalam arti sempit adalah seperangkat kaidah hukum tertulis yang
mengatur hubungan antara pejabat pajak dengan wajib pajak yang
memuat sanksi hukum. Mengingat, bahwa hukum pajak sebagai
bagian ilmu hukum tidak melepaskan sanksi hukum di dalamnya
agar pejabat pajak maupun wajib pajak menaati kaidah hukum
sebagai Dalam arti, terhadap pejabat pajak maupun
2 Pembaruan Hukum Pajak BAB 1: Pendahuluan
3
wajib pajak yang tidak menaati hukum pajak, negara dapat
menerapkan sanksi hukum yang terdapat di dalamya. Sanksi hukum
yang dapat diterapkan berupa sanksi administrasi dan sanksi
pidana.
Di samping pengertian hukum pajak tersebut di atas, Rochmat
Soemitro (1979;24-25) mengemukakan bahwa hukum pajak ialah
suatu kumpulan peraturan yang mengatur hubungan antara
pemerintah sebagai pemungut pajak dan rakyat sebagai pembayar
pajak. Dengan lain perkataan, hukum pajak menerangkan siapa-
siapa wajib pajak (subjek pajak) dan kewajiban-kewajiban mereka
terhadap pemerintah, hak-hak pernerintah, objek-objek apa yang
dikenakan pajak, cara penagihan, cara pengajuan keberatan, dan
sebagainya. Berbeda halnya dengan yang dikemukakan oleh Santoso
Brotodihardjo (1995; 1) bahwa hukum pajak yang juga disebut
hukum fiskal adalah keseluruhan peraturan yang meliputi
wewenang pemerintah untuk mengambil kekayaan seseorang dan
menyerahkannya kembali kepada masyarakat melalui kas negara
sehingga ia merupakan bagian dari hukum publik, yang mengatur
hubungan-hubungan hukum antara negara dan orang-orang atau
badan-badan (hukum) yang berkewajiban membayar pajak
(selanjutnya sering disebut wajib pajak).
Di samping itu, Bohari (2004;29) berpendapat bahwa hukum
pajak adalah suatu kumpulan peraturan yang mengatur hubungan
antara pemerintah sebagai pemungut pajak dan rakyat sebagai
pembayar pajak. Dengan lain perkataan, hukum pajak menerang-
kan: 1) siapa-siapa wajib pajak (subjek pajak) : 2) objek-objek apa
yang dikenakan pajak (objek pajak); 3) kewajiban wajib pajak
terhadap pemerintah; 4) timbulnya dan hapusnya utang pajak;
5) car a penagihan pajak; dan 6) cara mengajukan keberatan dan
banding pada peradilan pajak. Selain itu juga, Erly Suandy (2000;13)
mengatakan bahwa hukum pajak merupakan bagian dari hukum
publik, yang mengatur hubungan antara penguasa sebagai
pemungut pajak dengan rakyat sebagai pembayar pajak (wajib
pajak).
Pada Undang-Undang Nornorf Tahun 1983 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah ketiga
kalinya, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007
(UU KUP), tidak ditemukan adanya pengertian hukum pajak,
melainkan hanya kedudukannya sebagai "ketentuan umum" bagi
peraturan perundang-undangan perpajakan yang lain. UU KUP
merupakan "kaderwet" yang berfungsi sebagai payung terhadap
undang-undang pajak yang sifatnya sektoral, Dalam arti bahwa UU
KUP tidak memuat pengertian hukum pajak yang dapat merangkum
peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dalam suatu
sistem hukum pajak Indonesia.
Keberadaan pengertian hukum pajak sangat memegang
fungsi bagi mereka yang terkait dengan penegakan hukum pajak,
baik terhadap penegakan di luar maupun di dal am lembaga
peradilan pajak. Dalam arti bahwa pengertian hukum pajak
dapat memberi petunjuk bagi penegak hukum pajak dalam meng-
gunakan wewenang dan kewajibannya untuk menegakkan hukum
pajak. Sebaliknya, dapat dijadikan pedoman bagi wajib pajak
dalam melaksanakan kewajiban dan menggunakan hak dalam
rangka memperoleh perlindungan hukum sebagai konsekuensi
dari penegakan hukum pajak.
Penegakan hukum pajak di luar lembaga peradilan pajak hanya
dilakukan oleh pejabat pajak dengan menggunakan wewenang dan
melaksanakan kewajiban berupa menerbitkan surat ketetapan pajak
dan surat keputusan yang terkait dengan penagihan pajak.
Kernudian, penegakan hukum pajak di dalam lembaga peradilan
dilakukan melalui lembaga peradilan pajak maupun lembaga yang
ada dalam lingkungan peradilan umum. Penegakan hukum pajak
4
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 1: Pendahuluan 5
melalui lembaga peradilan pajak tertuju pada penyelesaian sengket a
pajak dan dilakukan dalam Lembaga Keberat an, Pengadilan Pajak,
dan Mahkamah Agung atau hanya Pengadilan Pajak dan Mahkamah
Agung. Sementara itu, penegakan hukum pajak melalui lembaga
yang ada dalam lingkungan per adilan umum tertuju pada
penyelesaian tindak pidana pajak dan dilakukan oleh Pengadilan
Negeri , Pengadil an Tinggi, dan Mahkamah Agung.
B. Sumber Hukum Pajak
Dalam ilmu hukum telah dikenal sumber hukum dalam bentuk
tertulis dan tidak tertulis yang meliputi: 1) peraturan perundang-
undangan; 2) kebiasaan; 3) traktat; 4) yurisprudensi; dan 5) doktrin.
Walaupun hukum pajak merupakan bagian ilmu hukum, hukum
pajak tidak mengenal sumber hukum yang tidak tertulis karena
berdasarkan pengertian hukum pajak, kaidah hukum pajak hanya
lahir karena tertulis dan tidak dilakukan secara kebiasaan. Dengan
demikian, kebiasaan sebagai sumber hukum pada umumnya tidak
dikenal dal am hukum pajak.
I
Hukum pajak sebagai hukum positif merupakan bagian hukum
nasional yan g berlaku dengan memiliki sumber hukum. Akan
t etapi, sumber hukum yang dimiliki oleh hukum pajak hanya
bersumber pada sumber hukum tertulis yang berkaitan di bidang
perpajakan karena keberadaan hukum pajak hanya didukung oleh
peraturan perundang-undangan perpajakan sebagai produk
legislatif dan ditindaklanjuti oleh pihak eksekutif dan yudikatif
dalam rangka penegakannya. Hukum pajak tidak memiliki sumber
hukum yang tidak tertulis karena kebiasaan tidak dikenal dalam
perpajakan. Di samping itu, Pancasila merupakan sumber hukum
dasar nasional yang menjiwai peraturan perundang-undangan di
bidang perpaj akan sehingga memegang peranan penting dalam
pengembangan sumber hukum tertulis. Pancas il a memiliki
kedudukan sebagai alat penguji terhadap sumber hukum tertulis,
apakah terjadi pertentangan atau persesuaian dengan Pancasila
termaksud. Dengan demikian, Pancasila merupakan tolok ukur
untuk menentukan kebenaran substansi hukum yang terkandung
dalam setiap Undang-undang Pajak yang hendak dibe rlakukan.
Sumber hukum pajak yang sifatnya tertulis terdiri dari: 1) UUD
1945; 2) perjanji nan perpajakan; 3) yurisprundensi perpajakan; dan
4) doktrin perpajakan. Untuk lebih jelasnya mengenai sumber
hukum pajak yang sifatnya ter tulis tersebut, dapat diuraikan sat u
per satu sebagai mana berikut di bawah ini .
1. Undang-Undang Dasar 1945
Sebelum amandemen UUD 1945, ketentuan mengenai pajak
diatur pada Pasal 23 ayat (2) UUD 1945 yang ber bunyi "segala
pajak untuk keperluan negara harus berdasarkan undang-undang."
Ketentuan ini mengandung asas legalitas yang mel et akkan
kewenangan pada negara untuk memungut pajak kalau negara
membutuhkannya, tetapi dengan syarat harus berdasarkan undang-
undang. Sebenarnya tidak ada pajak tanpa persetujuan antara rakyat
melalui wakilnya di dal am Dewan Perwakilan Rakyat dengan
Presiden yang diatur dengan undang-undang. Demikian pula dalam
pidat o William Piu dan Karl of Chathan di lnggris yang menga takan
"No taxat ion without representat ion" (t idak ada paj ak t anpa
persetujuan parlemen) .
Pelaksanaan Pasal 23 ayat (2) UUD 1945 telah dit et apkan
dal am berbagai Undang-undang Pajak, baik yang hanya sekadar
memuat ketentuan formal, ketentuan materil, maupun gabungan
antara ket entuan formal dan ketentuan materi!. Adapun Undang-
undang Pajak yang dimaksud di antaranya:
a. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 ten tang Ket entuan
6
j. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan
Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 (UU PPDSP) ;
Setelah UUD 1945 diamandemen, ternyata ketentuan
mengenai pajak mengalami perubahan yang sangat prinsipil. Hal
ini dapat dilihat pada Pasal 23A UUD 1945 yang berbunyi "paj ak
dan pungutan yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur d e ~ g a n
undang-undang." Pasal 23A UUD 1945 tetap mel anjutkan asas
legalitas yang awalnya dari Pasal 23 ayat (2) UUD 1945 . Sekalipun
demikian, terdapat perubahan yang prinsipil karena bukan hanya
pajak melainkan pungutan yang bersifat memaksa harus pula diatur
dengan undang-undang. Hal irii merupakan suatu perkembangan
positif agar tidak sewenang-wenang membebankan pungutan yang
bersifat rnemaksa kepada warga negara tanpa diatur dengan
undang-undang sebagai perwujudan dari negara hukum.
Semua Undang-undang Pajak tersebut tetap diberlakukan
walaupun ketentuaninduknya telah mengalami pergantian dari
Pasal23 ayat (2) UUD 1945 menjadi Pasal23A UUD 1945 . Dasar
hukum keberlakuannya adalah Pasal I Aturan Peralihan UUD 1945
hasil amandemenyangmenyatakanbahwa se gala peraturan
perundang-undangan yang adamasih tetap berlaku selama belum
diadakan yang baru menurutUndang-Undang Dasar ini . Hal ini
bertujuan untuk menjaga kekosongan atau kevakuman hukum di
bidang perpajakan sebagai konsekuensi dariamandemen UUD
1945. Sebenarnya Undang-undang Pajak sebagai sumber hukum
pajak tetap diakui eksistensinya walaupun telah berubah ketentuan
induknya (Pasal 23 ayat (2) UUD 1945). Di. samping itu, telah
pula ditetapkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang
Pengadilan Pajak (UU PENJAK) sebagai penjabaran Pasal23A UUD
1945 yang mencabut Undang-undang Nomor 17 Tahun 1997
tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak .
Pembaruan Hukum Pajak
Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah
ketiga kalinya, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2007 (UU KUP);
b. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan sebagaimana telah diubah ketiga kalinya, terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 (UU PPh) ;
c. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang dan jasa dan Pajak Penjualan Atas
Barang Mewah sebagaimana telah diubah kedua kalinya,
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 (UU
PPN);
d. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi
dan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor
12 Tahun 1995 (UU PBB);
e. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 13
Tahun 1994 (UU BM);
f. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan
Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 (UU BPHTB);
g. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan
sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 17
Tahun 2006 (UU KPB);
h. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (UU
CK) .
i. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 (UU PDRD);
BAB 1: Pendahuluan 7
8
Pembaruan Hukum Pajak
SAS 1: Pendahuluan
9
Walaupun Undang-undang Pajak masih diberlakukan, tidak
tertutup kemungkinan akan ditinjau kembali untuk disesuaikan
dengan substansi yang terkandung dalam Pasal 23A UUD 1945.
Peninj auan kembali Undang-undang Pajak searah dengan tujuan
reformasi agar hukum tidak hanya memihak kepada pejabat pajak,
tet api juga terhadap wajib pajak selaku pembayar pajak. Dalam
arti bahwa Und ang-undang Pajak harus menempatkan pejabat
pajak, dengan wajib pajak pada posisi yang sama dalam pemenuhan
kewenangan atau kewajiban dan hak masing-masing.
2. Perjanjian Perpajakan
Perjanjian dapat pula disebut sebagai traktat yang diadakan
oleh dua pihak at au lebih, maupun antara dua negara atau lebih,
yakni sebagai sumber hukum pada umumnya. Khususnya dalam
hukum pajak, perjanji an perpajakan merupakan sumber hukum
pajak yang tertul is sebagai hasil perjanjian dua negara atau lebih.
. Perjanjian perpajakan bertujuan untuk mencegah terjadinya pajak
ganda internasional (international double taxation) yang menimbulkan
beban tinggi terhadap wajib pajak.
Sekalipun perjanj ian perpajakan merupakan sumber hukum
pajak yang si fatnya tertulis untuk mencegah terjadinya pajak
ganda internasional, kadangkala pajak ganda internasional tidak
dapat terhindarkan dalam penegakan hukum pajak. Mengingat,
bahwa tiap negara memiliki peraturan pajak yang berbeda dengan
negara lain yang menyebabkan mudah terjadi pengenaan pajak
ganda internasional. Untuk mengatasi hal tersebut, negara-negara
yang berkepentingan mengadakan perjanjian penghindaran pajak
internasional agar wajib pajak dari tiap negara yang bersang-
kutan tidak dikenakan pajak ganda.
Pada hakikatnya, perjanjian perpajakan merupakan perjanjian
dua negara atau lebih yang bertujuan untuk mencegah pengenaan
pajak ganda internasional. Dalam arti bahwa pengenaan pajak ganda
dapat dihindari dengan men ggunakan upaya hukum berupa
perjanjian perpajakan yang dil akukan oleh dua negara atau lebih .
Di samping itu, untuk mencegah terjadinya penghindaran pajak
dan penyelundupan pajak internasi onal (international tax avoidance
and tax evasion). Terkait dengan perjanjian perpajakan, menurut laja
Zakaria (2005;25), dilihat dari sudut kepentingan negara maju
maupun kepentingan negara yang sedang berkembang, dapat ditarik
kesimpulan bahwa fungsi perjanjian perpajakan adalah:
a. untuk penghindaran pajak ganda (avoidance of double taxation)
dan pencegahan penyelundupan pajak (preventifoffiscal evasion);
b. khusus dilihat dari sudut kepentingan negara yang sedang
berkembang, untuk mendorong arus penanaman modal,
teknologi, keahlian, dan perdagangan ke negaranya;
c. khusus dilihat dari kepentingan wajib pajak, adanya suatu
kepastian (certainty) untuk beberapa hal penting;
d. dapat mempermudah dan memperlancar transaksi ekonomi
antarn egara sehingga diharapkan dapat memajukan per-
dagangan internasional;
l ' , adanya pemecahan mengenai alokasi pen ghasilan dengan
memberikan suatu metode pemajakan yang disederhanakan;
I. adanya pembagian penerimaan negara di antara negara-negara
yang paling berkaitan dal am pemajakan suatu penghasilan
(sharingof taxation) ;
g. adanya pencapaian suatu tingkat pemajakan yang pantas:
i1 . mcmpertinggi kerja sama antarnegara di bidang t eknik,
ckonomi. dan kultural;
mcnambah pengalaman teknis dan memperluas pengetahuan,
khususnya dalam hukum pajak internasional bagi pejabat-
10
4. Doktrin Perpajakan
Doktrin atau pendapat ahli hukum merupakan pula sumber
hukum pada umumnya. Agar doktrin ini dapat menjadi sumber
hukum pajak, substansinya harus berada dalam konteks di
bidang perpajakan yang dikemukakan ahli hukum pajak. Tidak
semua ahli hukum merupakan ahli hukum di bidang perpajakan.
Mengingat substansi hukum yang terkandung dalam hukum
mengenai perkara pajak yang meliputi sengketa pajak dan tindak
pidana pajak yang telah memiliki kekuatan hukum yang tetap.
Putusan pengadilan yang terkait dengan sengketa pajak adalah
Putusan Pengadilan Pajak maupun Mahkamah Agung yang telah
mempunyai kekuatan hukum mengikat para pihak yang berseng-
keta, sedangkan putusan pengadilan yang terkait dengan tindak
pidana pajak adalah Putusan Pengadilan dalam lingkungan Per-
adilan Umum maupun Mahkamah Agung yang telah mempunyai
kekuatan hukum mengikat. Dengan demikian, yurisprudensi
perpajakan kedua jenis pengadilan boleh diharapkan menunjang
perkembangan hukum pajak di masa
Sumber hukum pajak dalam konteks yurisprudensi perpajakan
dapat dilihat pada Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
Nomor 208.K/TUN/1998, tanggal 22 November 1998. Kaidah
hukum dalam putusan tersebut adalah "Gugatan atau bantahan
wajib pajak terhadap pelaksanaan surat paksa yang diterbitkan oleh
Kepala Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing harus
diajukan kepada Badan Peradilan Pajak." Dan selama "Badan" ini
masih belum terbentuk, gugatan/bantahan tersebut diajukan ke
Pengadilan Negeri dan bukan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara
ex Pasal23 ayat (2) dan Penjelasan Undang-Undang Nomor 9 Tahun
1994 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
Pembaruan Hukum Pajak
pejabat yang berwenang dari kedua negara yang bersangkutan
(pengembangan sumber daya manusia).
Dalam praktik selama ini Indonesia telah melakukan perjanjian
perpajakan dengan negara lain untuk memberikan perlindungan
hukum kepada wajib pajak yang berada di negara luar Indonesia.
Wujud perjanjian perpajakan yang dilakukan Indonesia adalah
dalam bentuk "Perjanjian Pencegahan Pajak Berganda (P3B)", baik
perjanjian itu bersifat bilateral maupun bersifat multilateral.
Perjanjian perpajakan yang dilakukan oleh Indonesia dengan negara
lain adalah mengenai tarif atas bunga, dividen, dan royalti yang
dibayarkan kepada wajib pajak yang terlibat dalam perjanjian
termaksud. Negara yang terlibat dalam perjanjian pencegahanpajak
berganda dengan Indonesia, antara lain Polandia, Belgia, Belanda,
Inggris, jerman, Kanada, Filipina, Thailand, dan ]epang.
Contoh kasus yang dikemukakan oleh]aja Zakaria (2005;53)
berdasarkan ketentuan Pasal 26 UU PPh, tarif pemotongan pajak
penghasilan at as bunga yang dibayarkan kepada subjek pajak luar
negeri adalah sebesar 20% dari bunga bruto. Sementara itu,
berdasarkan ketentuan Pasal 11 ayat (2) Perjanjian Penghindaran
Pajak Ganda antara Indonesia dengan Polandia, besarnya tarif
pemotongan adalah 10% dari jumlah kotor bunga. Berdasarkan
asas hukum lex specialis derogate legi generalis, yang diberlakukan
adalah tarif bunga yang tercantum dalam ketentuan Pasal 11 ayat
(2) Perjanjian Penghindaran Pajak Ganda tersebut.
3. Yurisprudensi Perpajakan
Tak dapat disangkali bahwa yurisprudensi merupakan salah
satu sumber hukum pada umumnya dan juga dikenal dalam hukum
pajak dengan sebutan yurisprudensi perpajakan. Dalam arti,
yurisprudensi perpajakan merupakan sumber hukum pajak yang
tertulis. Yurisprudensi perpajakan adalah putusan pengadilan
SAS 1: Pendahuluan
11
12
Pembaruan Hukum Pajak SAS 1: Pendahuluan
13
pajak sangat memiliki perbedaan yang prinsipil dengan hukum
lainnya karena hukum pajak memiliki ciri khas yang tersendiri .
Doktrin perpajakan hanya dapat lahir kar ena pendapat ahli
hukum pajak dan bukan ahli hukum pada umumnya.
Meskipun pendapat ahli hukum pajak merupakan sumber
hukum pajak, hal ini untuk masa kini belum dapat diharapkan
untuk menunjang pengembangan hukum pajak. Kelangkaan ahli
hukum pajak merupakan salah satu faktor penghambat
perkembangan hukum pajak. Sekalipun terdapat kelangkaan ahli
hukum pajak yang dapat memberi corak tersendiri dalam
perkembangan hukum pajak, tidak berarti hukum pajak mengalami
kesulitan dalam perkembangannya karena doktrin perpajakan hanya
merupakan salah satu sumber hukum pajak dan masih ada sumber
hukum pajak lainnya, seperti Undang-undang Pajak, traktat
perpajakan, dan yurisrudensi perpajakan.
C. Kedudukan Hukum Pajak
Sebagaimana dikatakan oleh Sri Pudyatmoko (2002;35) bahwa
sistem hukum yang berkembang di Indonesia merupakan sistem
hukum yang berasal dari sistem hukum Romawi, di masa
eksistensinya pada warisan yang ditinggalkan oleh Pemerintah
Belanda. Sistem hukum Romawi menarik garis pemisahan yang
tegas antara hukum privat dengan hukum publik. Sistem ini sering
disebut sebagai civil law system atau sistem Eropa Kontinental.
Hukum privat mengatur sekalian perkara yang berisi hubungan
antara sesama warga negara dalam kedudukan yang sederajat,
seperti masalah perkawinan, kewarisan, keluarga, dan perjanjian.
Sementara itu, hukum publik mengatur kepentingan umum, seperti
hubungan antara warga negara dengan negara. la berurusan dengan
hal-hal yang berhubungan dengan masalah kenegaraan serta
bagaimana negara itu melaksanakan tugasnya. Di luar sistem ini ,
misalnya di Inggris, tradisi tersebut tidak diikuti tetapi yan g
digunakan adalah the common law. Dengan adanya sist em yang
berlaku di Inggris ini , baik perorangan maupun badan negaral
pemerintah tunduk pada satu macam sistem hukum saja. Oleh
karena itu, di Inggris tidak ada pengadilan yang secara khusus
berwenang mengadili perkara yang berhubungan dengan negara.
Demikian pula perjanjian yang dibuat antara warga negara dengan
negara tunduk pada hukum yang sama yang mengatur perjanjian
antara sesama warga negara.
Pembagian hukum sesuai civil law system ke dalam hukum privat
dan hukum publik memberikan pemahaman mengenai pemisahan
yang tegas hukum yang masuk ke dalam bagian hukum privat dan
ke dalam hukum publik. Hukum yang masuk ke dalam bagian
hukum privat, misalnya hukum perdata, hukum dagang, hukum
perkawinan, dan sebagainya. Kemudian, hukum yang masuk ke
dalam hukum publik, misalnya hukum rata ne gara, hukum
administrasi (hukum rata usaha negara), hukum pidana, dan hukum
internasional. Berdasarkan pembagian hukum tersebut, ternyata
hukum pajak tidak menampakkan diri sebagai hukum yang berdiri
sendiri karena berada dalam kandungan hukum administrasi.
Sekalipun hukum pajak tidak menampakkan diri sebagai
hukum yang berdiri sendiri, tetap merupakan bagian tak terpisah-
kan dari hukum administrasi dalam konteks hukum publik. Sebagai-
mana dikatakan oleh Munawir (1985; 12) bahwa dilihat dari
lingkungannya, hukum pajak merupakan sebagian dari hukum
publik, tegasnya anak bagian dari hukum tata usaha negara. Hal
yang sama dikemukakan pula oleh Bohari (2004;29), yaitu bahwa
hukum pajak merupakan salah satu bagian dari hukum administrasi
(hukum tata usaha negara). Demikian pula pendapat Wirawan B,
Ilyas (2001;9) yang menyatakan bahwa dalam literatur ternyata
hukum pajak merupakan bagian dari hukum administrasi, yang
14 Pembaruan Hukum Pajak
BAB 1: Pendahuluan 15
merupakan segenap peraturan hukum yang mengatur segala cara
kerja dan pelaksanaan serta wewenang dari lembaga-lembaga
negara serta aparaturnya dalam melaksanakan tugas administrasi .
Lain halnya Chidir Ali (1993;28) yang mengatakan sebaliknya
"hukum pajak" merupakan lapangan hukum yang masih sangat
impopuler, namun hukum pajak yang belum lama oleh beberapa
sarjana, antara lain Prof. Adriani menganggap menj adi suatu cabang
ilmu pengetahuan berdiri sendiri , akhir-akhir ini maju pesat,
sebagai objek studi ilmu hukum, dengan nama hukum pajak. Hal
ini dipertegas oleh Bohari (2004;29) yang mengatakan bahwa ada
aliran yang menghendaki supaya hukum pajak menjadi ilmu
pengetahuan yang berdiri sendiri terlepas dari hukum administrasi
dengan alasan-alasan bahwa hukum pajak: 1) mempunyai tugas
yang bersifat lain daripada pajak dapat dipergunakan sebagai alat
untuk menentukan politik perekonomian; dan 2) mempunyai
istilah-istilah tersendiri untuk lapangan tersendiri.
Berbeda halnya pendapat Santoso Brotodihardjo (1995; 1) yang
menyatakan bahwa hukum pajak memuat unsur-unsur hukum tata
negara dan hukum pidana dengan acara pidananya. Dalam lapangan
lain dari hukum administrasi negara, unsur-unsur tadi tidak begitu
tampak seperti dalam hukum pajak ini, juga peradilan administrasi-
nya diatur dengan sangat rapinya. Iustru inilah, ditambah dengan
luas lapangannya karena erat hubungannya dengan kehidupan
ekonomi, dalam abad ini banyak sarjana hukum, sarjana ekonomi,
dan para cerdik pandai lainnya yang mencurahkan perhatiannya
yang cukup terhadap hukum pajak ini, yang kini dalam beberapa
negara telah menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Juga Rochmat
Soemitro (dalam Munawir, 1985; 13) mengatakan bahwa dari skema
tersebut jelas bahwa hukum pajak merupakan salah satu bagian
dari hukum publik. Jika hukum publik itu mengatur hubungan
antara pemerintah (selaku penguasa) dengan rakyatnya, hukum
pajak mengatur hubungan antara pemerintah selaku pemungut
pajak dengan rakyatnya sebagai wajib pajak.
Ternyata pendapat Rochmat Soemitro ter sebut di atas terlebih
dahulu didukung oleh skema mengenai pembagian hukum ke dalam
hukum publik dan hukum privat. Di dalam pembagian hukum itu
tampak bahwa hukum pajak berdampingan dengan hukum tata
negara, hukum administrasi, hukum pidana, dan hukum inter-
nasional ke dalam hukum publik. Dalam arti bahwa dalam
pembagian hukum ke dalam hukum publik, ternyata hukum pajak
bukan merupakan bagian hukum administrasi, melainkan berdiri
sendiri bersama dengan hukum administrasi. Demikian pula
pendapat Erly Suandy (2000; 12-13) yang menyatakan bahwa
ternyata dari skema yang dibuatnya menempatkan hukum pajak
merupakan bagian dari hukum publik bersama-sama dengan
hukum tat a negara, hukum administrasi, hukum internasional, dan
hukum pidana.
Walaupun ternyata hukum pajak berdiri sendiri berdam-
pingan dengan hukum adrninistrasi, tidak ada alasan-alasan yang
mendukungnya. Seyogianya, pemisahan tersebut harus didukung
oleh alasan-alasan secara keilmuan mengapa hukum pajak
ditempatkan pada kedudukan yang sama dengan hukum adminis-
trasi mengingat alasan-alasan sangat diperlukan dan merupakan
renungan bagi pihak-pihak yang tidak setuju kedudukan hukum
pajak sama dengan hukum administrasi.
Secara kenyataan dan tak dapat dipungkiri bahwa berdasarkan
perkembangan dan kebutuhan negara akan pajak, Undang-undang
Pajak mengalami perubahan (tax reform). Sebagai konsekuensi
pembaruan Undang-undang Pajak ternyata tidak disadari bahwa
hukum pajak telah memisahkan diri dari hukum administrasi.
Secara tegas dikatakan bahwa hukum pajak bukan lagi bagian
hukum adrninistrasi, melainkan kedudukannya sama dalam kajian
16 Pembaruan Hukum Pajak
BAB 1: Pendahuluan 17
ilmu hukum. Dasar pemisahan hukum pajak dari hukum adrninis-
trasi dapat ditinjau dari lima faktor berikut.
1. Sumber hukum pajak berbeda dengan sumber hukum
administrasi.
2. Objek kajian hukum pajak adalah pajak, sedangkan objek kajian
hukum administrasi adalah ketetapan yang bersegi satu yang
ditetapkan oleh pejabat rata usaha negara (administrasi
negara) .
3. Subjek hukum pajak adalah wajib pajak, sedangkan subjek
hukum administrasi adalah pejabat tata usaha negara yang
menerbitkan ketetapan yang menimbulkan sengketa.
4. Penyelesaian sengketa pajak merupakan kompetensi absolut
Pengadilan Pajak, sedangkan penyelesaian sengketa adrninis-
trasi merupakan kompetensi absolut Pengadilan Tata Usaha
Negara.
5. Hukum acara yang digunakan untuk menyelesaikan sengketa
pajak adalah hukum acara peradilan pajak, sedangkan hukum
acara yang digunakan untuk menyelesaikan sengketa tata usaha
adalah hukum acara peradilan tata usaha negara.
Sebagai disiplin ilmu hukum yang telah memisahkan diri
dengan hukum administrasi, ternyata hukum pajak mengandung
aspek hukum tata negara, hukum administrasi, hukum pidana, dan
hukum internasional sehingga tidak dapat digolongkan ke dalam
pembidangan hukum klasik. Dalam arti, substansi hukum pajak
menimbulkan pembidangan dalam hukum pajak ketatanegaraan,
hukum pajak administrasi, hukum pajak kepidanaan (tindak pidana
pajak), hukum pajak formal (hukum penyelesaian sengketa pajak),
dan hukum pajak internasional. Hukum pajak kepidanaan, hukum
pajak formal, dan hukum pajak internasional yang sudah ber-
kembang menjadi suatu disiplin ilmu hukum tersendiri yang telah
diajarkan pada Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Substansi yang terkandung dalam hukum pajak menampakkan
atau memperlihatkan ciri khas sebagai bagian ilmu hukum yang
merupakan hukum fungs ional lfunctionale rechtsvakken) dengan
fungsi mengatur pendapatan dan perekonomian negara/daerah .
Unt uk mencapai fungsi tersebut, hukum paj ak mempunyai
ins trumen berupa sanksi administrasi dan sanksi kepidanaan y a ~ g
dapat diterapkan dalam penegakannya. Instrumen tersebut dapat
digunakan secara selektifdan kalau perlu, secara simultan terhadap
wajib pajak dan pejabat pajak yang tidak menaatinya.
D. Tujuan Hukum Pajak
Sebagaimana diketahui bahwa hukum be rtujuan untuk
mewujudkan keadilan, kemanfaatan, atau kepastian hukum, bukan
hanya dalam bentuk kaidah yang tertulis, tetapi harus tercermin
dalam pelaksanaannya. Demikian pula halnya terhadap hukum
pajak yang diadakan oleh negara sebagai hukum positif yang
mengandung pula tujuan berupa keadilan, kemanfaatan, atau
kepastian hukum. Ketiga tujuan hukum pajak tidak hanya sekadar
tert ulis atau sebagai kaidah hukum tertulis dalam Undang-undang
Pajak, tetapi harus kelihatan dalam penerapannya sehingga hukum
pajak betul-betul merupakan hukum fungsional yang mengabdi
kepada negara sebagai negara hukum dengan penampakan tujuan
keadilan, kemanfaatan, atau kepastian hukum bagi wajib pajak.
Hukum pajak tidak selalu dapat mewujudkan tujuannya berupa
keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum secara sekaligus dalam
suatu penyelesaian sengketa pajak. Kenyataannya bahwa keadilan
dengan kemanfaatan, keadilan dengan kepastian hukum, kernan-
faatan dengan kepastian hukum kadangkala terjadi pertentangan
sehingga tidak mencerminkan keadilan, kemanfaatan, atau
kepastian hukum dalam keputusan penyelesaian sengketa pajak.
18
Pembaruan HukumPajak
SAS 1: Pendahuluan 19
Pihak-pihak yang merasa dirugikan akan menggunakan upaya
hukum untuk melawan keputusan tersebut agar keinginannya dapat
dikabulkan. Sekalipun tujuan hukum pajak tidak dapat terlaksana
secara keseluruhan, diupayakan agar keadilan dan kernanfaatan,
keadilan dan kepastian hukum, atau kemanfaatan dan kepastian
hukum tercermin dalam keputusan termaksud.
Tujuan hukum pajak berupa keadilan dapat tercermin dalam
pengenaan pajak atau tidak kepada waji b pajak, karena dianggap
memiliki objek pajak, tetapi tidak tergolong sebagai objek kena
pajak, berarti wajib pajak yang bersangkutan tidak kena pajak.
Apalagi kalau wajib pajak sama sekaIi tidak memiIiki objek pajak
karena secara hukum dinyatakan paiIit. Maka tidak adil kalau wajib
pajak tersebut dikenakan pajak. Bagi kemanfaatan sebagai tujuan
hukum pajak tercermin dari penggunaan pajak untuk mernbiayai
pemerintahan dan pembangunan dalam upaya rnengurangi batas
pemisah antara orang kaya dengan orang miskin. Pajak yang
dipungut dari wajib pajak tentunya dikembaIikan ke dalam
masyarakat agar dapat dinikmati oleh wajib pajak maupun yang
bukan wajib pajak.
Kepastian hukum sebagai tujuan hukum pajak dapat diterap-
kan dalam hal penagihan pajak maupun dalam penyelesaian
sengketa pajak. Berhubungan karena penagihan pajak tidak boleh
dilakukan oleh siapa pun kecuaIi yang telah ditentukan, termasuk
pula bentuk dan jangka waktu yang harus dipenuhi agar tergolong
sebagai penagihan pajak yang sah. Demikian pula dalam
penyelesaian sengketa pajak terdapat lembaga peradilan pajak
yang . berwenang memeriksa dan memutus sengketa pajak. Di
samping itu, terdapat persyaratan yang harus dipenuhi wajib pajak
untuk mengajukan keberatan, banding, dan gugatan. SebaIiknya,
pihak yang menyelesaikan sengketa pajak harus pula menaati
persyaratan penyelesaian sengketa pajak yang telah ditentukan agar
putusannya boleh diterima oleh pihak-pihak yang bersengketa. .
E. Ruang Lingkup Hukum Pajak
Hukum pajak sebagai bagian dari ilmu hukum memiliki ruang
lingkup berlakunya maupun materi yang dikandungnya. Ditinjau
dari berlakunya, hukum pajak dibedakan atas hukum pajak nasional
dan hukum pajak internasional. Ditinjau dari rnaterinya, hukum
pajak dibedakan atas hukum pajak materil dan hukum pajak formal.
Hukum pajak nasional adalah hukum pajak yang ditetapkan
ole h suatu negara dan berIaku dalam wilayah negara yang
menetapkannya. Dalam hukum pajak nasional terdapat hukum
pajak daerah yang ditetapkan oleh suatu daerah tertentu dalarn
wilayah negara dan berlaku hanya pada daerah yang bersangkutan.
Sementara itu, hukum pajak internasional adalah hukum pajak yang
ditetapkanoleh dua negara atau lebih dan berIaku pada wilayah
yang terikat dari perjanjian yang diadakan untuk itu. Hukum pajak
internasional dapat dibedakan atas hukum pajak internasional
dalam ani sempit dan hukum pajak internasional dalam ani luas.
Dalam kaitan ini, menurut Erly Suandy (2000;151-152),
hukum pajak internasional dalam ani sempit merupakan keseluru-
han kaidah pajak yang berdasarkan hukum antarnegara seperti
traktat-traktat, konvensi-konvensi, dan lain sebagainya, dan
berdasarkan prinsip-prinsip hukum pajak yang telah lazim diterima
baik oleh negara-negara, mempunyai tujuan mengatur soal
perpajakan antara negara-negara yang saIing mempunyai
kepentingan. Hukum pajak internasional dalam ani sempit ini
semata-rnata berdasarkan sumber-sumber asing. Hukum pajak
internasional dalam ani luas ialah keseluruhan kaidah, baik yang
berdasarkan traktat-traktat, konvensi-konvensi, dan prinsip hukum
pajak yang diterirna, baik oleh negara-negara maupun kaidah-kaidah
nasional yang mempunyai sebagai objeknya pengenaan pajak dalam
mana dapat ditunjukkan adanya unsur-unsur asing, yang mungkin
dapat menimbulkan bentrokan hukum antar dua negara atau lebih.
20
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 1: Pendahuluan
21
Mengenai ruang lingkup hukum pajak yang meliputi hukum
pajak materil dan hukum pajak formal dapat dikaji berdasarkan
Undang-undang Pajak sebagai bagian dari hukum positif. Hukum
pajak materil adalah kumpulan kaidah hukum yang merigatur
tentang keadaan-keadaan, perbuatan-perbuatan, dan peristiwa-
peristiwa hukum yang terkait dengan objek pajak, subjek pajak,
wajib pajak, dasar pengenaan pajak, tarif pajak, masa pajak, dan
tahun pajak. Hukum pajak materil tidak dapat berdiri sendiri lepas
dari hukum pajak forma!. Hukum pajak materil tidak memiliki
kepastian hukum tatkala tidak dapat dilaksanakan dan untuk
melaksanakannya diperlukan keberadaan hukum pajak forma!.
Kaidah hukum pajak materil dapat ditemukan atau dijumpai dalam
berbagai Undang-undang Pajak, rnisalnya, secara keseluruhan
kaidah hukum materil terdapat dalam UU PPh, dan UU PPN serta
sebagian hanya dalam UU PBB, UU BPHTB, UU KPB, UU CK, UU
BM, dan UU PDRD karena juga berisikan kaidah hukum forma!.
Dalam arti, ada percampuran antara kaidah hukum materil dengan
kaidah hukum formal dalam Undang-undang Pajak tersebut.
Hukum pajak formal adalah kumpulan kaidah hukum yang
mengatur tentang bagaimana cara melaksanakan dan memper-
tahankan hukum pajak materi!. Sebenarnya hukum pajak formal
berupaya untuk menjamin agar kaidah hukum pajak materil
ditegakkan. Hukum pajak formal pada hakikatnya bersifat mengabdi
pada hukum pajak rnateril, artinya keberadaan hukum pajak formal
menyesuaikan dengan kebutuhan yang dikehendaki untuk
berlakunya hukum pajak materil secara efektif. Maka keberadaan
hukum pajak formal memegang peranan penting. Hukum pajak
formal dan hukum pajak materil memiliki keterkaitan yang tidak
dapat dipisahkan dalam kerangka penegakan hukum pajak.
Sekalipun memiliki keterkaitan dalam penegakan hukum pajak,
keduanya tetap harus dibedakan karena kaidah hukum yang
dikandungnya berbeda pula.
Kaidah hukum pajak formal dapat diternukan secara
keseluruhan dalam UU KUP dan sebagian hanya terdapat dalam
UU PBB, UU BPHTB, UU KPB, UU CK. UU BM, serta UJ PDRD.
Hal ini disebabkan karena Undang-undang Pajak tersebut berisikan
pula ketentuan hukum pajak materi!. Seyogianya kaidah hukum
pajak formal hanya diatur dalam satu undang-undang yang berisi-
kan tentang pendaftaran, surat pemberitahuan, tata cara dan ternpat
pembayaran pajak, penagihan pajak secara biasa, penagihan secara
seketika dan sekaligus, penagihan secara paksa, kuasa hukurn,
pengajuan keberatan dan penyelesaiannya, pengajuan banding dan
I
penyelesaiannya, pengajuan gugatan dan penyelesaiannya, serta
pengajuan peninjauan kembali dan penyelesaiannya. Begitu pula
halnya terhadap kaidah hukum pajak materil dapat dituangkan
dalam satu undang-undang yang berisikan tentang objek pajak,
subjek pajak, wajib pajak, masa pajak, tarif pajak, cara menghitung
pajak. Tujuannya adalah untuk memudahkan penerapannya bagi
wajib pajak, advokat, pengacara, pejabat pajak, kepolisian,
kejaksaan, dan hakim, baik hakim pengadilan pajak maupun hakim
dalam lingkungan peradilan umum.
Pemisahan secara tegas hukum pajak materil dengan hukum
pajak formal ke dalam masing-rnasing Undang-undang Pajak sangat
diperlukan saat kini mengingat bahwa pemisahan tersebut sebagai
konsekuensi untuk menghindari perubahan-perubahan terhadap
setiap Undang-undang Pajak yang hanya berlaku dalam jangka
waktu tidak terlalu lama. Sebenarnya pemisahan itu untuk memberi
penegasan bahwa hukum pajak materil perlu dibuat atau disusun
secara khusus dalam satu Undang-undang Pajak, begitu pula halnya
terhadap hukum pajak forma!.
23
Pajak dan Retribusi
A. Pengertian
Kalau menelusuri literatur yang berkenaan dengan hukum
pajak, dapat dijumpai atau ditemukan berbagai definisi tentang
pajak. Pengertian pajak lebih banyak menitikberatkan pada aspek
ekonomis daripada aspek hukumnya, walaupun yang merumuskan
adalah berpendidikan ilmu hukum, terlebih lagi kalau yang
bersangkutan tidak berpendidikan ilmu hukum. Dengan demikian,
pengertian pajak beraneka ragam tergantung dari sudut kajian bagi
mereka yang merumuskannya.
Berkaitan dengan definisi pajak, Feldmann (1945;52) mengata-
kan bahwa belasting zijn aan de overhead, volgens algemene door haar
vastgestelde normen, verschuldigde afdwingbare praestaties waar geen tegen-
prestatie tegenstaat, en ultsluitend dienende totdekking van publieke
ultgaven (pajak adalah prestasi yang terutang pada penguasa dan
dipaksakan secara sepihak menurut norma-norma yang ditetapkan
oleh penguasa itu sendiri, tanpa ada jasa balik dan semata-mata
guna menutup pengeluaran-pengeluaran umum) . Kemudian
menurut Adriani (1948;22) belasting, de beffing, wear door de overheld
zich door middle van juridische dwangmiddelen verchaft, omde publieke
butgavente bestriden, zulkezonder enige prestatie daartegenovertestellen
24
Pembaruan Hukum Pajak
SAS 2: Pajak dan Retribusi
25
(pajak ialah pungutan 01eh pemerintah dengan paksaan yuridis,
untuk mendapatkan alat-alat penutup bagi pengeluaran-
pengeluaran umum (anggaran belanja) tanpa adanya jasa timbal .
khusus terhadapnya) . Juga Anderson (1951 ;21) mengemukakan
bahwa Tax is a compulsory contribution, levied by the state (in the broad
sense) upon person's property income and privilegesfor purposes of defraying
the expences of goverment (pajak adalah pembayaran yang bersifat
memaksa kepada negara yang dibebankan pada pendapatan
kekayaan seseorang yang diutamakan untuk membiayai pengelua-
ran pemerintah).
~ Selain itu, Soeparman Soemahamidjaja (1964;3) mengemuka-
kan bahwa pajak adalah iuran wajib, berupa uang atau barang,
yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hukum,
guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa
kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum. Demikian pula
halnya oleh Rochmat Soemitro (1977;22) yang mengatakan
bahwa pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan
undang-undang (dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa
timbal (kontra prestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan
yang digunakan untuk membiayai penggunaan umum.
Bohari (2004; 25-26) mengatakan bahwa melihat definisi yang
dikemukakan oleh para sarjana tersebut, maka "unsur-unsur" yang
terdapat dalam definisi tersebut adalah sebagai berikut.
1. Pajak adalah suatu iuran atau kewajiban menyerahkan sebagian
kekayaan (pendapatan) kepada negara. Dapat dikatakan bahwa
pemerintah menarik sebagian daya beli rakyat untuk negara.
2. Perpindahan atau penyerahan iuran itu bersifat wajib, dalam
ani bahwa bila kewajiban itu tidak dilaksanakan, dengan
sendirinya dapat dipaksakan. Artinya, utang itu dapat ditagih
dengan menggunakan kekerasan seperti surat paksa dan sita.
3. Perpindahan itu berdasarkan undang-undang atau peraturan
yang dibuat oleh pemerintah yang berlaku umum. Sekiranya
pemungutan pajak tidak didasarkan pada undang-undang atau
peraturan, ini tidak sah dan dianggap sebagai perampasan hak.
4. Tidak ada jasa timbal (tegen prestasi) yang dapat ditunjuk.
Artinya bahwa antara pembayaran pajak dengan prestasi dari
negara tidak ada hubungan langsung. Prestasi dari negara,
seperti hak untuk mendapatkan perlindungan dari alat-alat
negara, hak penggunaan jalan umum, hak untuk mendapatkan
pengajaran dan sebagainya tidak ditunjuk secara langsung
kepada individu pembayar pajak, tetapi ditunjukkan secara
kolektif atau kepada anggota masyarakat secara keseluruhan.
Buktinya orang miskin yang tidak membayar pajak pun dapat
menikmati prestasi dari negara. Bahkan orang miskin mungkin
lebih banyak menggunakan prestasi dari negara dibandingkan
dengan orang kaya seperti dalam hal penggunaan sarana
kesehatan.
5. Uang yang dikumpulkan tadi oleh negara digunakan untuk
membiayai pengeluaran umum yang berguna untuk rakyat,
seperti pembuatan jalan, jembatan, gedung, gaji untuk pegawai
negeri termasuk ABRI, dan seterusnya.
Kernudian, lima belas tahun setelah itu, Rochmat Soemitro
(1992; 12-13) memandang bahwa pajak dapat ditinjau dari aspek
ekonomis dan aspek hukum. Adapun pengertian pajak dari aspek
ekonomis adalah peralihan kekayaan dari sektor swasta ke sektor
publik berdasarkan undang-undang yang dapat dipaksakan dengan
tidak mendapat imbalan (tegenprestatie) yang secara langsung dapat
ditunjukkan, yang digunakan untuk membiayai pengeluaran umum
dan yang digunakan sebagai alat pendorong, penghambat atau
pencegah untuk mencapai tujuan yang ada di luar bidang keuangan
negara. Sementara itu, pengertian pajak dari aspek hukum adalah
26
Pembaruan Hukum Pajak SAS 2: Pajak dan Retribusi
27
perikatan yang timbul karena undang-undang yang mewajibkan
sesearang yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan aleh
undang-undang (tatsbentand) untuk membayar sejumlah uang
kepada (kas) negara yang dapat dipaksakan, tanpa mendapatkan
suatu imbalan yang secara langsung dapat ditunjuk, yang digunakan
untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara (rutin dan
pembangunan) dan yang digunakan sebagai alat (pendarong atau
penghambat) untuk mencapai tujuan di luar bidang keuangan
negara.
Pajak adalah pungutan aleh pejabat pajak kepada wajib pajak
tanpa tegenprestasi secara langsung dan bersifat memaksa sehingga
penagihannya dapat dipaksakan. Sebenarnya pajak merupakan
pungutan yang bersifat memaksa sebagaimana tersirat dalam Pasal
23A UUD 1945 . Pajak dipungut aleh pajak pejabat sebagai pih ak
yang mewakili negara tanpa tegenprestasi secara langsung kepada
wajib pajak. Sifat yang dimiliki aleh pajak adalah memaksa yang
terjelma dari aspek penagihannya dengan ancaman hukuman
berupa sanksi administrasi maupun sanksi kepidanaan.
Selain pajak dikenal pula retribusi yang merupakan saudara
kembar dari pajak yang tidak memberikan tegenprestasi secara
langsung kepada wajib retribusi. Di dalam Pasal 23A UUD 1945
secara tegas diatur mengenai pajak, tetapi berbeda dengan retribusi
yang tidak diatur secara tegas. Sekalipun demikian, retribusi sangat
dibutuhkan aleh negara dalam kerangka memberikan pelayanan
secara langsung kepada masyarakat. Retribusi dalam Pasal 23A
UUD 1945 merupakan bagian dari "pungutan yang bersifat
mernaksa" yang dibutuhkan aleh negara karena itu diatur dengan
undang-undang.
Pengertian retribusi dalam literatur sangat kurang, bahkan
baleh dikatakan tidak ada literatur secara khusus yang membahas-
nya . Retribusi menurut Munawir (1985;3) ialah iuran kepada
pernerint ah yang dapat dipaksakan dan dapat jasa balik secara
langsung dapat ditunjuk. Paksaan di sini bersifat ekanamis karena
siapa saja yang tidak merasakan jasa balik dari pemerintah, tidak
dikenakan iuran, misalnya retribusi pasar dan retribusi air minum.
Pendapat Munawir tersebut di atas perlu dilakukan perbaikan, yaitu
bahwa paksaan dalam retribusi tidak hanya bersifat ekanamis,
melainkan memuat pula paksaan secara yuridis berupa sanksi
administrasi maupun sanksi kepidanaan. .'
Pengertian retribusi tersebut di atas ternyata ditinjau dari aspek
eka namis bukan dari aspek hukum, padahal yang dibutuhkan
adalah pengertian retribusi yang ditinjau dari aspek hukum.
Sebenarnya harus ada perbedaan mencalak yang dapat membeda-
kan pengertian retribusi dari aspek ekanamis dengan aspek hukum
sehingga kelihatan perbedaannya secara prinsipil. Retribusi adalah
pungut an aleh Pejabat Retribusi kepada Wajib Retribusi yang
bersifat memaksa dengan tegenprestasi secara langsung dan dapat
dipaksakan penagihannya. Sarana hukum yang digunakan untuk
memaksakan penagihan retribusi tidak berbeda dengan pajak,
berupa sanksi administrasi maupun sanksi kepidanaan.
B. Penggolongan Pajak clan Retribusi
Secara hukum, pajak dan retribusi dapat dilakukan peng-
galangan berdasarkan kebutuhan negara dalam membiayai
pemerintahan dan pembangunan di masa kini dan mendatang.
Mengingat pajak dan retribusi merupakan sumber pendapatan
negara maupun daerah, penggalangannya perlu dilakukan
berdasarkan sifat-sifat maupun ciri-ciri yang dimilikinya. Seba-
gaimana dikatakan aleh Munawir (1985;16), cara penggalangan
dapat didasarkan atas sifat-sifat maupun ciri-ciri tertentu yang
terdapat dalam masing-masing pajak dan retribusi.
Apabila kriteria-kriteria tersebut di atas dijadikan patokan
untuk mengetahui penggolongan pajak, berdasarkan penggolongan-
nya ternyata pajak terdiri dari:
1. pajak dalam arti luas dan pajak dalam arti sempit;
2. pajak negara dan pajak daerah;
3. pajak objektif dan pajak subjektif; dan
4. pajak langsung dan pajak tidak langsung.
Penggolongan pajak tersebut tidak mutlak sifatnya karena
boleh saja mengalami perubahan tergantung pada kriteria-kriteria
yang digunakan. Perubahan itu boleh berkurang atau boleh pula
bertambah sesuai kondisi dan kebutuhan di masa mendatang.
Pajak dalam arti luas adalah semua jenis pajak yang dipungut
oleh pernerintah pusat, terrnasuk bea materai, bea dan cukai, dan
pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah, berdasarkan
peraturan perundang-undangan perpajakan. Sernentara itu, pajak
dalarn arti sernpit adalah pajak yang dipungut oleh pernerintah
pusat (tanpa bea rnaterai, bea rnasuk dan cukai) dan pajak yang
dipungut oleh pernerintah daerah berdasarkan peraturan per-
undang-undangan perpajakan di bidang pajak daerah.
Pajak negara adalah pajak yang diadakan oleh negara serta
penagihannya dilakukan oleh pejabat pajak yang ditugasi rnengelola
pajak-pajak negara. Yang rnenjadi ukuran pernbedaan antara pajak
negara dengan pajak daerah adalah dari aspek penagihannya bukan
pada aspek pernungutannya karena ada pajak negara, tetapi
pernungutannya diIakukan oleh aparat kelurahan atau desa,
misalnya pajak bumi dan bangunan. ]urnlah objek pajak negara
relatif tidak terbatas, tetapi negara harus teliti dalarn rnenentukan
objek pajak yang dapat dikenakan pajak. Pajak yang tergolong
sebagai pajak negara adalah:
29
28
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 2: Pajak dan Retribusi
I. pajak penghasilan;
pajak pertambahan nilai barang dan jasa;
3. pajak penjualan atas barang rnewah;
4. pajak bumi dan bangunan;
5. bea rnaterai;
6. bea perolehan hak atas tanah dan bangunan;
7. bea masuk; dan
8. cukai;
Pajak daerah adalah pajak yang diadakan oleh daerah serta
penagihannya dilakukan oleh pejabat pajak yang ditugasi rnengelola
pajak-pajak daerah. Objek pajak daerah terbatas jurnlahnya karena
objek yang telah rnenjadi objek pajak negara tidak boleh digunakan
oleh daerah. Lapangan pajak daerah adalah lapangan pajak yang
bel urn digunakan oleh negara, agar tidak terjadi pajak ganda
nasional yang dapat mernberatkan wajib pajak. Dengan dernikian,
penentuan objek pajak daerah harus diperhatikan terlebih dahulu
objek pajak negara.
Kemudian, pajak daerah sebagaimana dirnaksud dalarn Pasal
2 ayat (1) dan ayat (2) UU PDRD rneliputi pajak daerah provinsi
dan pajak daerah kabupaten/kota. Pajak daerah provinsi sebagai
kewenangan daerah provinsi untuk ditetapkan dalarn bentuk
peraturan daerah terdiri dari:
1. pajak kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air;
2. bea baIik nama kendaraan berrnotor dan kendaraan di atas
air;
3. pajak bahan bakar kendaraan bermotor; dan
4. pajak pengambilan dan pernanfaatan air bawah tanah dan air
permukaan.
Sement ara i t u, pajak daerah kabu pat en /kot a s eb agai
kewenangan kabupateri/kota unt uk ditetapkan dal am bent uk
peraturan daerah terdiri dari:
1. pajak ho tel;
2. pajak restoran;
3. pajak hiburan;
4. pajak reklame;
5. pajak penerangan jalan;
6. pajak pengambilan bahan galian golongan C; dan
7. pajak parkir.
Pajak langsung adalah pajak yang penagihannya dilakukan
secara berkala (periodik) berdasarkan perbuatan hukum yang
dilakukan oleh pejabat pajak menerbitkan surat tagihan pajak, surat
ketetapan pajak kurang bayar, dan surat ketetapan pajak kurang
bayar tambahan. Pengenaan paj ak langsung terkait dengan adanya
tatbestand oleh wajib pajak dalam jangka waktu tertentu (satu tahun
takwim) , seperti Pajak Penghasilan, Pajak Bumi dan Bangunan, serta
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
Pajak t idak langsung adalah pajak yang penagihannya
dilakukan secara tidak berkala (insidentil) dan pada umumnya tidak
berdasarkan surat tagihan pajak, surat ketetapan pajak kurang bayar,
dan surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan. Dikatakan
demikian karena ada pula pajak tidak langs ung yang ditagih dengan
menggunakan surat tagihan pajak, surat ketetapan pajak kurang
bayar, dan surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan. Sebagai
cont oh, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan [ asa dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah.
Penggolongan ret ribusi berbeda dengan penggolongan pajak
karena pada retribusi terdapat imbalan langsung kepada pihak-
pihak yang menggunakan objek ret ribusi yang telah ditentukan .
Objek retribusi sebagaimana dimaksud dala m Pasal 18 ayat (1)
UU PORD terdiri dari :
d. jasa tersebut layak un tuk dikenakan retribusi.
e. Retribusi tidak bertentangan dengan kebijakan nasional
mengenai penyelenggaraannya.
f. Retribusi dapat dipungut secara selektif dan efisien, serta
merupakan salah satu su mber pendapatan daerah yang
potensial.
31
BAB2: Pajak danRetribusi
I. jasa umum;
jasa usaha; dan
3. peri zinan tertentu.
Berdasarkan objek retribusi tersebut, retribusi dibagi atas tiga
golongan, sebagai berikut.
I. Retribusi jasa umum, dengan kriteria sebagai berikut.
a. Retribusi jasa umum bersifat bukan pajak dan bersifat
bukan retribusi jasa usaha atau retribusi perizinan tertentu.
Misalnya, pelayanan kes ehatan dan pel ayanan per-
sampahan.
b. j asa yang bersangkutan merupakan kewenangan daerah
dal am rangka pel aksanaan desentralisasi . Misalnya,
penyewaan aset yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah
daerah, penyediaan tempat penginapan, usaha bengkel
kendaraan, tempat pencucian mobil, dan penjualan bibit.
c. [asa tersebut memberi manfaat khusus bagi orang pribadi
atau badan yang diharuskan membayar retribusi, di
samping untuk melayani kepentingan dan kemanfaatan
umum.
Pembaruan Hukum Pajak 30
2. Retribusi jasa usaha, dengan kriteria sebagai berikut.
a. Retribusi jasa usaha bersifat bukan pajak dan bersifat bukan
jasa atau perizinan tertentu.
b. jasa yang bersangkutan adalah jasa yang bersifat komersial
yang seyogianya disediakan oleh sektor swasta, tetapi
belum memadai atau terdapatnya harta yang dirniliki/
dikuasai daerah yang belum dimanfaatkan seeara penuh
oleh pemerintah daerah.
3. Retribusi perizinan tertentu, dengan kriteria sebagai berikut.
a. Perizinan tersebut termasuk kewenangan pemerintahan
yang diserahkan kepada daerah dalam rangka as as
desentralisasi.
b. Perizinan tersebut benar-benar diperlukan guna melindungi
kepentingan umum.
c. Biaya yang menjadi beban daerah dalam penyelenggaraan
izin tersebut dan biaya untuk menanggulangi dampak
negatif dari pemberian izin tersebut telah ditetapkan.
Penggolongan retribusi tersebut di atas tidak bersifat final
karena daerah masih diberikan wewenang untuk menentukan
retribusi, sepanjang diatur dalam peraturan daerah. Kewenangan
daerah untuk menambah retribusi dilakukan dengan kewenangan
otonominya dan memenuhi kriteria yang telah ditentukan.
Sekalipun masih berwenang memungut retribusi, daerah tidak
boleh melanggar kriteria yang telah ditentukan. Pelanggaran kriteria
yang telah ditentukan mengakibatkan peraturan daerah yang
mengatur retribusi batal demi hukum atau setidak-tidaknya dapat
dibatalkan.
Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam kajian hukum pajak
u-rnyata pajak memiliki fungsi yang berbeda dengan retribusi.
Fungsi pajak dapat berupa fungsi anggaran (fungsi budgeter) dan
fungs i mengatur (fungsi regulerend) , sedangkan fungsi retribusi
hanya memiliki fungsi anggaran (fungsi budgeter). Dalam arti,
rct ribusi tidak memiliki fungsi mengatur (fungsi regulerend)
scbagaimana yang terdapat pada pajak. Hal ini berarti b a h ~ a
rctr ibusi tidak dapat digunakan untuk mengendalikan kehidupan
masyarakat sebagaimana yang dikehendaki oleh pemerintah (baik
pcmerintah pusat maupun pemerintah daerah) . Retribusi hanya
scmat a-rnat a untuk mengisi kas negara maupun daerah sebagai
pcnggantian yang telah dikeluarkan dalam upaya penyediaan sarana
pelayanan kepada masyarakat. Dengan dernikian, pemerintah
dilarang memungut retribusi kepada masyarakat tatkala tidak
mernanfaatkan sarana pelayanan yang telah disediakan. Misalnya,
tcrhadap masyarakat yang tidak menggunakan pasar sebagai tempat
melakukan kegiatan ekonomi, pemerintah dilarang memungut
ret ribusi pasar.
Kedua fungsi pajak tidak mutlak harus beriringan dalam
pelaksanaannya, bergantung pada kemauan politik pemerintah pada
saat itu. Dalam arti bahwa kehendak politik pernerintah untuk
menekan tidak terjadi kejahatan dalam masyarakat. Maka, fungsi
yang digunakan adalah fungsi mengatur dengan eara meningkatkan
tarif pajak sehingga masyarakat tidak dapat membelinya. [ika
penghasilan negara maupun daerah hendak ditingkatkan, fungsi
anggaran yang diterapkan dengan eara menjaring sebanyak-
banyaknya wajib pajak. Dalam praktik bernegara, ternyata kedua
fungsi pajak tersebut diterapkan seeara bersamaan untuk rnewujud-
kan masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana diamanatkan
dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945.
32
Pembaruan Hukum Pajak
g. pemungutan retribusi memungkinkan penyediaan jasa
tersebut dengan tingkat dan/atau kualitas pelayanan yang
baik.
BAB 2: Pajak dan Retribusi
C. Fungsi Pajak clan Retribusi
33
34
Pembaruan Hukum Pajak
35
Berbeda dengan fungsi retribusi yang pada dasarnya tidak
memiliki fungsi mengatur, kecuali hanya memiliki fungsi untuk
mengisi kas negara atau daerah karena retribusi hanya sebagai
penggantian atas jasa yang disediakan oleh negara atau daerah.
Hal ini yang membedakan antara pajak dengan retribusi dari aspek
hukum yang dalam pelaksanaannya kadangkala tidak tampak secara
jelas sehingga penagihannya disamakan dengan pajak.
Objek Pajak
A. Pengertian
Objek pajak merupakan bagian terpenting yang dibicarakan
atau dipersoalkan dalam hukum pajak materil. Objek pajak
dikatakan sebagai bagian terpenting karena wajib pajak tidak
dikenakan pajak kalau tidak memiliki, menguasai, atau menikmati
objek pajak yang tergolong sebagai objek kena pajak sebagai syarat-
syarat objektifdalam pengenaan pajak. Objek yang dapat dikenakan
pajak dalam masyarakat sangat beraneka ragam bergantung pada
kebijakan pembuat undang-undang untuk menjaringnya sebagai
objek pajak.
Objek pajak adalah segala sesuatu yang karena undang-
undang dapat dikenakan pajak. Kata "dapat" dikenakan pajak
mengandung makna bahwa objek pajak boleh atau tidak boleh kena
pajak. Pengenaan pajak terhadap suatu objek harus dipertimbang-
kan secara maksimal agar tidak menimbulkan permasalahan dalam
masyarakat. Oleh karena itu, penentuan suatu objek untuk dikena-
kan pajak lebih dahulu dilakukan penelitian sehingga dapat
menciptakan kemanfaatan bagi negara maupun daerah selaku pihak
yang membutuhkan pajak. Hal ini dipertegas Rochmat Soemitro
(1986;99) yang menyatakan bahwa yang dapat dijadikan objek pajak
36 Pembaruan Hukum Pajak
SAS 3: Objek Pajak 37
banyak sekali macamnya. Segala sesuatu yang ada dalam masyarakat
dapat dijadikan sasaran atau objek pajak, baik keadaan, perbuatan,
maupun peristiwa. Dalam bahasa Jerman disebut sebagai
"tatbestand", misalnya sebagai berikut.
1. Keadaan, misalnya kekayaan seseorang pada suatu saat
tertentu, memiliki kendaraan bermotor, radio, televisi,
memiliki tanah atau barang tak bergerak lainnya, men empati
rumah tertentu (kebanyakan secara statis/tetap).
2. Perbuatan, misalnya melakukan penyerahan barang karena
perjanjian, mendirikan rumah atau gedung, mengadakan
pertunjukan atau keramaian, memperoleh penghasilan,
bepergian ke luar negeri.
3. Peristiwa, misalnya kematian, keuntungan yang diperoleh
secara mendadak, anugerah yang diperoleh karena secara tak
terduga, pokoknya segala sesuatu yang terjadi di luar kehendak
manusia.
Ternyata obj ek yang dapat dikenakan pajak terlalu banyak,
tergantung dari pembuat undang-undang untuk menjaringnya,
sepanjang objek itu tidak melanggar kesusilaan dan kesopanan
dalam masyarakat. Dalam arti, masih terdapat pembatasan yang
harus ditaati oleh pembuat undang-undang untuk menentukan
suatu objek sebagai objek pajak. Sekalipun ada pernbatasan, berarti
pembuat undang-undang tetap dibolehkan untuk menentukan
objek yang dapat dikenakan pajak dan objek tidak dikenakan pajak.
Hal semacam ini yang tergambar dalam tiap-tiap Undang-undang
Pajak yang ditetapkan oleh pembuat undang-undang.
B. Objek Pajak Penghasilan
Pajak Penghasilan sebagai salah satu pajak negara memiliki
objek yang dapat dikenakan pajak, yakni "penghasilan". Pengertian
pcnghasilan menurut Pasal 4 ayat (1) UU PPh adalah se tiap
i.unbahan kemampuan ekonomis yang dit erima atau diperoleh
wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun di luar
Indones ia, yang dapat dipakai untuk kon sumsi at au untuk
mcnambah kekayaan wajib pajak yang bersangkut an, dengan nama
.lan dalam bentuk apa pun, termasuk:
I. penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan at au
jasa yang diterima atau diperol eh termasuk gaji, upah, tun-
jangan, honorarium, komi si, bonus, gratifikasi, uang pensiun,
atau imbalan dalam bentuk lainn ya, kecuali dit entukan lain
dalam undang-undang ini;
hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan peng-
hargaan;
3. laba usaha;
l. keunt ungan karena penjualan atau karena pengalihan harta
termasuk:
a. keuntungan-keuntungan karena pengalihan harta kepada
perseroan dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau
penyertaan modal;
b. keuntungan karena diperol eh pers eroan, persekutuan, dan
badan lainnya karena pengalihan hart a kepada pemegang
saham, sekutu, atau anggota;
c. keuntungan karena likuidasi , penggabungan, pel eburan,
pernekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha ;
d. keuntungan karena pengalihan hart a berupa hibah,
bantuan, sumbangan kecuali yan g diberikan kepa da
keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat,
dan badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan
sosial atau pengusaha kecil t ermasuk kop erasi yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanj ang tidak ada
38 Pembaruan Hukum Pajak BAB 3: Objek Pajak
39
hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan;
5. penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan
sebagai biaya;
6. bunga termasuk premiun, diskonto, dan imbalan karena
jaminan pengembalian utang:
7. dividen, dengan nama dan dalam bentuk apa pun, termasuk
dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan
pembagian sisa hasil usaha koperasi;
8. royalti;
9. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan
harta;
10. penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
11. keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan
jumlah tertentu yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah;
12. keuntungan karena selisih kurs mata uang asing;
13. selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;
14. premi asuransi;
15. iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggota-
nya yang terdiri dari wajib pajak yang menjalankan usaha atau
pekerjaan bebas;
16. tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang
belum dikenakan pajak.
Pengertian penghasilan tersebut di atas tidak memerhatikan
adanya penghasilan dari sumber tertentu, tetapi pada adanya
tambahan kemampuan ekonomis. Dalam hubungan ini menurut
Rochmat Soemitro (1985;63), segala sesuatu yang diterima atau
diperoleh wajib pajak baik berupa uang, barang, atau nikmat pada
prinsipnya merupakan penghasilan yang kena pajak.
Pengertian penghasilan sebagaimana dimaksud pada Pasal 4
ayat (1) UU PPh hanya berpatokan pada penambahan kemampuan
.konomis bukan pada sumber penghasilan itu sepdiri. Dilihat dari
mengalirnya tambahan kemampuan ekonomis kepada wajib pajak,
penghasilan dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu:
I. penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan
pekerjaan bebas seperti, gaji, honorarium, penghasilan dari
praktik dokter, notaris, aktuaris, akuntan, pengacara, dan
sebagainya;
2. penghasilan dari usaha dan kegiatan:
3. penghasilan dari modal, yang berupa harta gerak atau harta
tak gerak, seperti bunga, dividen, royalti, sewa, keuntungan,
penjualan harta, atau hak yang tidak digunakan untuk usaha,
dan lain sebagainya;
4. penghasilan lain-lain, seperti pembebasan utang, hadiah, dan
lain sebagainya.
Terhadap penghasilan berupa deposito dan tabungan-tabungan
lainnya, penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya di
bur sa efek, penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan
atau tabungan serta penghasilan tertentu lainnya, pengenaan
pajaknya diatur dengan peraturan pemerintah. Sebenarnya bunga
deposito dan tabungan-tabungan lainnya serta penghasilan lainnya
yang diperoleh wajib pajak yang bertujuan untuk menambah
kekayaan wajib pajak adalah objek pajak penghasilan. Akan tetapi,
pelaksanaan pengenaan pajaknya akan diatur oleh pemerintah
dalam bentuk peraturan pemerintah. Semua jenis penghasilan yang
terdapat pada Pasal 4 ayat (1) UU PPh adalah objek pajak, tetapi
pengenaan pajak ada yang secara langsung dan ada pul a harus
bergantung pada peraturan pemerintah.
Walaupun penghasilan merupakan objek pajak, tidak semua
penghasilan dikenakan pajak penghasilan karena dalam Pasal 4 ayat
(3) UU PPh telah ditentukan secara limitatif mengenai penghasilan
tidak termasuk objek pajak penghasilan. Adapun objek pajak yang
tidak dikenakan pajak penghasilan adalah:
1. bantuan sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan
ami! zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau
disahkan oleh pemerintah dan para penerima zakat yang
berhak;
2. harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat, dan oleh badan keagamaan atau
badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil
termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan,
sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan,
kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang
bersangkutan:
3. warisan;
4. harta termasuk setoran tunai yang dterima oleh badan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal2 ayat (1) hurufb sebagai
pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal;
5. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau
jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura atau
kenikmatan dari wajib pajak atau pernerintah:
6. pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi
sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan,
asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;
7. dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh
perseroan terbatas sebagai wajib pajak dalam negeri, koperasi,
badan usaha milik negara, atau badan usaha milik daerah, dari
penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan
bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:
a. dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan: dan
b. bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan
badan usaha milik daerah yang menerima dividen,
kepemilikan saham pada badan yang memperoleh dividen
paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor dan
harus mempunyai usaha aktif di luar kepemilikan sahan
tersebut.
8. iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang
dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai;
9. penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun
sebagaimana dimaksud pada angka 7, dalam bidang-bidang
tertentu yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan;
10. bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari
perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi at as saham-
saham, persekutuan, perkumpulan, firrna, dan kongsi;
11. bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan
reksadana selama lima tahun pertama sejak pendirian
perusahaan atau memberikan izin usaha;
12. penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal
ventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang
didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia,
dengan syarat badan pasangan usaha tersebut;
a. merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang
menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang
ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan, atau
b. sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.
40 Pembaruan Hukum Pajak
SAS 3: Objek Pajak
41
C. Objek Pajak Pertambahan Nilai
Penghasil an sebagaimana tersebut merupakan objek pajak,
tetapi tidak dikenakan pajak penghasilan mengingat penentuan
suatu objek pajak masuk ke dalam kategori kena pajak atau tidak
kena pajak harus berdasarkan dengan undang-undang, kecuali
ada pendelegasian undang-undang kepada peraturan yang lebih
rendah. Dengan demikian , tid ak tertutup kemungkinan dapat
bertambah atau berkurang obje k pajak penghasilan yang tidak
diken akan Pajak Penghasilan.
Pajak Pertambahan Nilai merupakan satu di antara dua jenis
pajak yang diatur dalam UU PPN. Selain Pajak Pertambahan Nilai
terdapat pul a Pajak Penjualan at as Barang Mewah yang merupakan
satu kesatuan sebagai pajak ata s konsumsi di dalam negeri.
Sekalipun sebagai satu kes atuan, terdapat perbedaan secara
prinsipil, khususnya di bidan g objek yang dapat dikenakan pajak.
Objek Pajak Pertambahan Nilai secara tegas diatur dalam Pasal
4 ayat (1) UU PPN, yang menyat akan bahwa Pajak Pertambahan
Nilai dikenakan atas:
1. penyerahan barang kena pajak di dalam daerah pabean yang
dilakukan oleh pengusaha;
2. impor barang kena pajak;
3. penyerahan jas a kena pajak di dalam daerah pabean yang
dilakukan oleh pengus aha;
4. pemanfaat an barang kena pajak tidak berwujud dari luar daerah
pabean di dalam daerah pabean;
5. pemanfaatan jasa kena pajak dari luar daerah pabean di dalam
daerah pabean;
6. ekspor barang kena pajak oleh pengusaha kena pajak.
43
BAB 3: ObjekPajak
Unt uk lebih jelas mengenai substansi bagi pengenaan Pajak
Pcrtambahan Nilai, satu per satu dikaji secara mendalam dengan
bcrpatokan pada UU PPN. Hal ini bertuj uan unt uk lebih memberi
pcma haman mengenai pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atas
kcgiatan yang terkait dengan Barang Kena Pajak dan]asa Kena Pajak.
Dengan demikian, diharapkan tidak mengalami kesulitan dalam
mempelajari dan melaksanakan UU PPN.
1. Penyerahan Barang Kena Pajak
Untuk lebih memahami pengertian barang kena pajak, terlebih
dahulu diutarakan tentang barang kena pajak yang meliputi barang
ber wujud dan barang tidak berwujud. Barang berwujud yang
menuru t sifat atau hukumnya dapat berupa barang bergerak dan
barang tidak bergerak, sedangkan barang tidak berwujud adalah
barang yang tidak kelihatan dan tidak dapat dipegang, misalnya
hak merek, hakpaten, dan hakcipta. Barang kena pajak tidak mutlak
harus kena Pajak Pertambahan Nilai karena UU PPN memberi
pengecualian untuk itu. ]enis barang kena pajak yang tidak dikena-
kan Pajak Pertambahan Nilai, walaupun dilakukan penyerahan di
daerah pabean oleh pengusaha, adalah:
a. barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil
langsung dari sumbernya;
b. barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh
rakyat banyak;
c. makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran,
rumah makan, warung, dan sejenisnya;
d. uang, emas batangan, dan surat-sura t berharga.
Hal yar:g termasuk dalam pengertian Penyerahan Barang Kena
Pajak berdasarkan UU PPN, me liputi:
a. penyerahan hak atas barang kena pajak karena suatu perjanjian;
Pembaruan Hukum Pajak
42
44
Pembaruan HukumPajak
BAB 3: Objek Pajak
45
b. pengalihan barang kena pajak karena suatu perjanjia n sewa
beli dan perjanjian leasing;
c. penyerahan barang kena pajak kepada pedagang perantara atau
melalui juru lelang;
d. pemakaian sendiri atau pemberian cuma-cuma atas barang
kena pajak;
e. persediaan barang kena pajak dan aktiva menurut tujuan
semula tidak untuk diperjualbe likan, yang masih tersisa pada
saat pembubaran perusahaan, sepanjang pajak pertambahan
nilai atas perolehan aktiva tersebut menurut ketentuan dapat
dikreditkan;
f. penyerahan barang kena pajak da ri pusat ke cabang atau
sebaliknya dan penyerahan barang kena pajak antarcabang;
g. penyerahan barang kena pajak secara konsinyasi.
Selain yang tertera di atas, masih ada penyerahan barang kena
pajak, tetapi tidak termasuk dalam pengertian penyerahan barang
kena pajak karena tidak semua barang kena pajak yang diserahkan
oleh pengus aha di dalam daerah pabean merupakan objek kena
pajak pertambahan nil ai. Adapun penyerahan barang kena pajak,
tetapi tidak termasuk dalam pengertian penyerahan barang kena
pajak adalah:
a. penyerahan barang kena pajak kepada makelar sebagaimana
dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
b. penyerahan barang kena pajak untuk jaminanutang piutang;
c. penyerahan barang kena pajak dari pusat ke cabang atau
sebaliknya dan penyerahan barang kena pajak antarcabang
dalam hal pengusaha kena pajak memperoleh izin pemusatan
te mp at pajak terutang.
Ketiga jeni s penyerahan barang kena pajak yang tidak termasuk
. la larnpengertian penyerahan barang kenapajakbukan objek k ~ n a
Il:ljak Pert ambahan Nila i. Siapa pun yang rr:elaku!<qll penyerahan
harang kena pajak baik dari luar daerah pabeanmaupun didalarri.
.laerah pabean tidak kena Pajak Pertarnbahaf Nilai . Hal ini
.limaksudkan untuk memberi kepastian hukumterhadap penyera-
han barang kena pajak sebagairiiana dimaksud.dalam PasallA UU
PPN.
2. Impor Barang Kena Pajak
UU PPN tidak hanya mengenakan Pajak Pert ambahan Nilai
rcrhadap penyerahan barang kena pajak di dalam daerah pabean
yang dilakukan oleh pengusaha, tetapi termasuk pula impor barang
kcna pajak. Lain perkataan bahwa impor ba rang kena pajak
merupakan objek kena Pajak Pertambahan Ni lai. Pasal 1 angka 9
VU PPN menegaskan bahwa impor barang kena pajak adalah setiap
kegiatan memasukkan barang dari luar daerah pabean ke dalam
daerah pabean. Pengusaha yang melakukan kegi atan di bidang
impor barang kena pajak dinamakan "impor tir" . Rochmat Soemitro
(1987;32) mengatakan bahwa importir adalah pengusaha (orang
atau badan) yang mempunyai pekerjaan memasukkan barang, baik
barang konsumsi, barang modal atau bahan ke wilayah Republik
Indonesia, dalam lingkungan usaha atau pekerjaannya. Kegiatan
memasukkan barang disebut impor, sedangkan "indentor" adalah
orang atau badan yang bertempat tinggal atau berkedudukan di
Indonesia, yang dalam lingkungan usaha atau pekerjaannya
menyur uh importir untuk mengimpor barang untuk dan atas nama
kepentingannya.
Impor barang kena pajak berbeda dengan penyerahan barang
kena pajak karena tidak ada impor barang kena pajak yang tidak
termasuk dalam pengertian kena Pajak Pertambahan Nilai , seperti
halnya penyerahan barang kena pajak dan penyerahan jasa kena
pajak. Dalam arti, tidak boleh ada penafsiran lain mengenai impor
barang kena pajak, selain yang terdapat dalam UU PPN. Penafsiran
yang terdapat dalam UU PPN merupakan penafsiran autentik yang
tidak boleh diragukan kebenarannya.
3. Penyerahan jasa Kena Pajak
Pengusaha yang melakukan penyerahan jasa kena pajak di
dalam daerah pabean dikenakan Pajak Pertambahan Nilai .]asa kena
pajak adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan
atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang, fasilitas,
kernudahan, atau hak tersedia untuk dipakai termasuk konstruksi
yang dilakukan untuk menghasilkan barang kena pajak karena
pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari
pemesan yang dikenakan Pajak Pertambahan Nilai.
Penyerahan jasa kena pajak adalah setiap kegiatan pemberian
jasa kena Pajak Pertambahan Nilai . Kegiatan pemberian jasa kena
pajak dilakukan oleh pengusaha, walaupun bukan merupakan
pengusaha kena pajak. Siapa pun yang melakukan penyerahan jasa
kena pajak di dalam daerah pabean, termasuk pengusaha kena pajak
dikenakan Pajak Pertambahan Nilai. Pengusaha kena pajak
mengandung arti yang luas dibandingkan dengan pengusaha karena
pengusaha hanya bagian dari pengusaha kena pajak. Hal yang
termasuk dalam pengertian penyerahan jasa kena pajak adalah jasa
kena pajak yang dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri dan/atau
jasa kena pajak yang diberikan secara cuma-cuma.
Tidak semua penyerahan jasa kena pajak yang dilakukan oleh
pengusaha di dalam daerah pabean dikenakan Pajak Pertambahan
Nilai karena UU PPN memberikan pengecualian untuk tidak
dikenakan Pajak Pertambahan Nilai .]asa yang tidak dikenakan Pajak
Pertambahan Nilai, walaupun penyerahannya di dalam daerah
pabean yang dilakukan oleh pengusaha adalah:
4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud
Hak merek, hak paten, dan hak cipta merupakan barang kena
pajak yang tidak berwujud tatkala dimanfaatkan dari luar daerah
47
BAB 3: Objek Pajak
jasa di bidang pelayanan kesehatan medik;
jasa di bidang pelayanan sosial;
jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko;
jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha
dengan hak opsi;
jasa di bidang keagamaan;
jasa di bidang pendidikan;
jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan pajak
tontonan:
h. jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan;
i. jasa di bidang angkutan umum di darat dan di air;
j. jasa di bidang tenaga kerja;
k. jasa di bidang perhotelan;
l. jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalan-
kan pemerintahan secara umum.
Pengecualian pada jasa kena pajak sebagaimana tersebut di
atas bertujuan untuk memberi kepastian hukum dalam pengenaan
Pajak Pertambahan Nilai terhadap pengusaha kena pajak. Sebalik-
nya, pengusaha kena pajak dapat memanfaatkan fasilitas yang telah
disediakan oleh UU PPN agar dalam mel akukan usaha atau
pekerjaannya tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai. Pengecuali-
an ini mencerminkan keadilan bagi pengusaha kena pajak untuk
melakukan usaha atau pekerjaannya semaksimal mungkin tanpa
menghindari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai .
I.
I' ,
d.
!!.
I ,
,I ,
11,
Pembaruan Hukum Pajak
46
5. Pemanfaatan jasa Kena Pajak
Selain pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud dikenal
pula pemanfaatan jasa kena pajak dari luar daerah pabean di dalam
daerah pabean dalam UU PPN. Pemanfaatan jasa kena pajak dari
luar daerah pabean di dalam daerah pabean dikenakan Pajak
Pertambahan Nilai tanpa melihat siapa yang memanfaatkannya
karena setiap kegiatan yang memanfaatkan jasa kena pajak dari
luar daerah pabean di dalam daerah pabean dikenakan Pajak
Pertambahan Nilai.
pabean di dalam daerah pabean dikenakan Pajak Pertambahan Nilai.
Siapa pun yang memanfaatkan barang kena pajak tidak berwujud
dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean wajib membayar
Pajak Pertambahan Nilai. Pernanfaatan barang kena pajak tidak
berwujud didasarkan atas suatu perbuatan hukum berupa perjanjian
yang dilakukan di daerah pabean antara pemilik barang kena pajak
tidak berwujud dengan pengguna barang kena pajak tidak
berwujud. Pengguna sebagai pihak yang memanfaatkan barang kena
pajak tidak berwujud adalah selaku pihak yang dikenakan Pajak
Pertambahan Nilai bukan pemiliknya.
Berbeda halnya kalau barang kena pajak tidak berwujud berasal
dari dalam daerah pabean dan dimanfaatkan di dalam daerah pabean
pula, baik pihak pemilik maupun pihak yang memanfaatkan,
dikenakan Pajak Pertambahan Nilai karena pihak pemilik barang
kena pajak tidak berwujud pada awalnya telah dikenakan Pajak
Pertambahan Nilai, kemudian disusul dengan pihak yang rnernan-
faatkan barang kena pajak tidak berwujud berdasarkan suatu
perjanjian. Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai terhadap kedua
belah pihak bukan merupakan pengenaan pajak ganda nasi anal
karena wajib pajak yang berbeda satu dengan lainnya.
Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai terhadap pihak-pihak yang
mcrnanfaat kan jasa kena pajak dari luar daerah pabean di dalam
. lacrah pabean tidak dapat terhindarkan karena secara hukum
merupakan wajib pajak. Misalnya, Saudara Labaco, tenaga pengajar
Pakultas Hukum Universitas Hasanuddin di Makassar, memanfaat-
kan jasa kena pajak dari pen gusaha Ali Baba yang berkedudukan di
Singapura. Atas pemanfaatan jasa kena pajak tersebut, terutang
11ajak Pertambahan Nilai . Pihak yang wajib membayar Pajak
Pertambahan Nilai adalah saudara Labaco di Makassar sebagai pihak
yang memanfaatkan jasa kena pajak dari luar daerah pabean di
dalam daerah pabean bukan pengusaha Ali Baba yang berkedudukan
di Singapura.
49
BAB 3: Objek Pajak
6. Ekspor Barang Kena Pajak
Ekspor barang kena pajak juga merupakan objek kena Pajak
Pertambahan Nilai tatkala dilakukan 01eh pengusaha kena pajak.
Ketika ekspor barang kena pajak hanya dilakukan 01eh pengusaha
yang bukan pengusaha kena pajak, ekspor barang kena pajak
tersebut tidak kena Pajak Pertambahan Nilai. Ekspor adalah setiap
kegiatan mengeluarkan barang dari dalam daerah pabean ke luar
daerah pabean. Pengusaha kena pajak yang melakukan ekspor
barang kena pajak disebut "eksportir".
Pengusaha kena pajak yang melakukan kegiatan ekspor barang
kena pajak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai dengan tarif 0%
(nol persen). Pengenaan pajak dengan tarif 0% (nol persen)
terhadap pengusaha kena pajak sebagai pelaksanaan tujuan hukum
pajak berupa "kernanfaatan". Tujuannya agar pengusaha kena pajak
dapat melakukan persaingan sehat secara hukum dengan pengusaha
asing untuk memasarkan barang kena pajak yang diekspor. Sekali-
pun demikian, pengusaha kena pajak tersebut tetap mencantum-
kannya dalam surat pemberitahuan yang akan disampaikan pada
Pembaruan Hukum Pajak
48
50
Pembaruan Hukum Pajak
SAS 3: Objek Pajak
51
kantor Direktorat Jenderal Pajak tempat dikukuhkan sebagai
pengusaha kena pajak.
Tatkala dikaji secara hukum mengenai substansi yang ter-
kandung dalam PasaI 4 ayat (1) UU PPN, ternyata terdapat syarat-
syarat penyerahan barang kena pajak dan penyerahan jasa kena
pajak agar dikenakan Pajak Pertambahan Nilai. Syarat-syarat
penyerahan barang kena pajak sebagai berikut.
a. Barang bewujud yang diserahkan merupakan barang kena
pajak.
b. Barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan pula
barang kena pajak.
c. Penyerahan barang kena pajak dilakukan di dalam daerah
pabean.
d. Penyerahan barang kena pajak dilakukan dalam rangka kegiatan
usaha atau pekerjaannya.
Sementara itu, syarat-syarat penyerahan jasa kena pajak untuk
dapat dikenakan Pajak Pertambahan Nilai sebagai berikut.
a. ]asa yang diserahkan merupakan jasa kena pajak.
b. Penyerahan jasa kena pajak dilakukan di dalam daerah pabean.
c. Penyerahan jasa kena pajak dilakukan dalam rangka kegiatan
usaha atau pekerjaannya.
Berdasarkan syarat-syarat penyerahan barang kena pajak dan
syarat-syarat penyerahan jasa kena pajak, dapat diketahui per-
samaan dan perbedaannya. Bahkan kedua syarat tersebut dapat
mengalami perkembangan berdasarkan pesatnya perkembangan
hukum pajak yang mengatur di bidang ekonomi dan perdagangan
di masa kini dan mendatang.
I). Objek Pajak Penjualan atas Barang Mewah
Pajak Penjualan at as Barang Mewah merupakan pula satu di
.uuara dua jenis pajak yang diaturdalam UU PPN. Dalam arti bahwa
I J U PPN selain Pajak Pertambahan Nilai juga diatur pula Pajak
I'('njualan atas Barang Mewah. Sekalipun dernikian, pengenaan
I'ajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dapat diterapkan sebelum
I'njak Pertambahan Nilai dikenakan kepada pihak yang ber-
angkutan karena barang mewah hanya melekat pada barang kena
pajak, tidak berdiri sendiri sebagai objek yang dapat dikenakan Pajak
Pcnjualan atas Barang Mewah.
Kriteria yang digunakan untuk menentukan bahwa barang kena
pajak tergolong barang mewah atau tidak tergolong barang mewah
diatur pada penjelasan Pasal 5 ayat (1) UU PPN. Adapun kriteria
barang kena pajak tergolong barang mewah adalah sebagai berikut.
I. Barang kena pajak bukan merupakan barang kebutuhan pokok.
Barang kena pajak tersebut dikonsumsi oleh masyarakat
tertentu.
3. Pada umumnya barang kena pajak tersebut dikonsumsi oleh
masyarakat yang berpenghasilan tinggi; atau
4. Barang kena pajak tersebut dikonsumsi untuk menunjukkan
status, atau
5. Apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral
masyarakat serta mengganggu ketertiban masyarakat, seperti
minuman alkohol.
Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagai salah satu jenis
pajak yang diatur dalam UU PPN memiliki objek yang dapat
dikenakan pajak. Objek Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang
dapat dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah hanya melekat
pada barang kena pajak yang tergolong mewah. Tidak semua barang
52
Pembaruan Hukum Pajak
SAS 3: Objek Pajak
53
kena pajak dapat dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah,
kecuali yang tergolong mewah dan penyerahan dilakukan oleh
pengusaha yang menghasilkan barang kena pajak tersebut di dalam
daerah pabean dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya. Pengenaan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah hanya satu kali, yaitu pada
waktu penyerahan barang kena pajak yang tergolong mewah. Lain
perkataan bahwa objek Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah
penyerahan yang dilakukan oleh pengusaha yang menghasilkan
barang kena pajak yang tergolong mewah di dalam daerah pabean
dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya. Terdapat kriteria pem-
batasan bagi yang dapat dikenakan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah hanya pada pengusaha yang menghasilkan barang kena
pajak yang tergolong rnewah, tidak termasuk pengusaha yang tidak
menghasilkan barang kena pajak yang tergolong mewah, walaupun
melakukan penyerahan barang kena pajak yang tergolong mewah
di dalam daerah pabean dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya.
Tolok ukur pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
terhadap penyerahan barang kena pajak yang tergolong mewah yang
dilakukan oleh pengusaha yang menghasilkan barang kena pajak
yang tergolong mewah di dalam daerah pabean dalam kegiatan
usaha atau pekerjaannya terletak pada "rnenghasilkan". Termasuk
dalam pengertian menghasilkan barang kena pajak yang tergolong
mewah sebagaimana dimaksud penjelasan Pasal5 ayat (1) UU PPN
adalah kegiatan berikut.
1. Merakit, yakni menggabungkan bagian-bagian lepas dari suatu
barang menjadi barang setengah jadi, seperti merakit rnobil,
barang elektronik, perabot rumah tangga, dan sebagainya.
2. Memasak, yakni mengolah barang dengan cara memanaskan
baik dicampur bahan lain atau tidak.
3. Mencampur, yakni mempersatukan dua atau lebih unsur (zat)
untuk menghasilkan satu atau lebih barang lain.
I . Mengemas, yakni menempatkan satu barang ke dalam suatu
benda yang melindunginya dari kerusakan dan atau untuk
meningkatkan pemasarannya.
r
,
Membotolkan, yakni memasukkan minuman atau benda cair
ke dalam botol yang ditutup menurut cara tertentu.
Tolok ukur ini tidak bersifat statis, melainkan bersifat dinamis
bcrdasarkan perkembangan di masa kini dan mendatang dalam
rangka menjaring sebanyak-banyaknya wajib pajak. Akan tetapi,
pcrkembangan itu tidak boleh melanggar tujuan hukum pajak,
scperti keadilan, kemanfaatan, atau kepastian hukum karena pajak
berdasarkan Pasal 23A UUD 1945 harus diatur dengan undang-
undang, berarti harus ada persetujuan DPR sebagai wakil wajib
pajak di Dewan Perwakilan Rakyat.
Impor barang kena pajak yang tergolong mewah dikenakan
pula Pajak Penjualan atas Barang Mewah selain Pajak Pertambahan
Nilai. Berarti impor barang kena pajak yang tergolong barang
mewah merupakan pula objek Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Objek Pajak Penjualan atas Barang Mewah meliputi penyerahan
barang kena pajak yang tergolong barang mewah dan impor barang
kena pajak yang tergolong barang mewah pula.
Pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas impor
barang kena pajak yang tergolong barang mewah tidak memerhati-
kan siapa yang mengimpor barang kena pajak tersebut dan tidak
memerhatikan apakah impor tersebut dilakukan secara terus-
menerus atau hanya sekali saja. Boleh dikenakan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah bergantung pada yang melakukan impor barang
kena pajak yang tergolong barang mewah. Bahkan kalau pengusaha
kecil yang tidak dikukuhkan menjadi pengusaha kena pajak yang
melakukan impor barang kena pajak yang tergolong barang mewah
dikenakan pula Pajak Penjualan atas Barang Mewah, padahal dalam
UUPPN diterangkan bahwa pengusaha kecil yang tidak dikukuhkan
54
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 3: Objek Pajak
55
sebagai pengusaha kena pajak tidak boleh dikenakan pajak, baik
Pajak Pertambahan Nilai maupun Pajak Penjualan atas Barang
Mewah . Pajak Penjualan atas Barang Mewah hanya dikenakan satu
kali, yaitu pada waktu penyerahan barang kena pajak yang tergolong
barang mewah di dalam daerah pabean dalam kegiatan usaha atau
pekerjaan pengusaha yang bersangkutan atau impor barang kena
pajak yang tergolong barang mewah yang diIakukan oleh siapa saja.
Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagai pajak konsumsi dalam
masyarakat bertujuan untuk menekan konsumen agar tidak
mempertontonkan kekayaannya secara berIebihan.
E. Objek PajakBumi dan Bangunan
Yang menjadi objek Pajak Bumi dan Bangunan adalah "bumi
dan ataubangunan". Keduanya dapat berdiri sendiri maupun secara
bersama-sama sebagai objek yang dapat dikenakan Pajak Bumi dan
Bangunan. Bumi sebagai objek pajak adalah permukaan bumi dan
tubuh bumi yang ada di bawahnya. Pengertian permukaan bumi
meIiputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wiIayah
Indonesia. Sebagai objek Pajak Bumi dan Bangunan, bumi terikat
pada klasifikasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Akan
tetapi , klasifikasi tersebut dapat berubah berdasarkan per-
kembangan di masa mendatang.
Klasifikasi bumi adalah pengelompokan bumi menurut nilai
jualnya dan digunakan sebagai pedoman dan untuk memudahkan
penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang. Dalam
menentukan klasifikasi bumi perIu diperhatikan faktor-faktor antara
lain:
1. letak;
2. peruntukan;
3. pemanfaatan;
4. kondisi Iingkungan, dan lain-lain.
Kemudian, bangunan sebagai objek Pajak Bumi dan Bangunan
1\ lnlah konstr uksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap
p.ula tanah dan atau perairan yang diperuntukkan sebagai ternpat
unggal dan atau tempat usaha. Rochmat Soemitro (1987;9) ber-
""Ildapat bahwa adakalanya orang atau badan memiliki rumah yang
.ula di atas tanah orang lain sehingga pemilik rumah terpisah dari
Ixmilik tanah. UU PBB memungkinkan orang yang memiliki rumah
t1 j atas tanah orang lain dikenakan pajak tersendiri terIepas dari
pajak yang dikenakan pada pemiIik tanah. Dalam keadaan demikian,
scbenarnya dianut asas pemisahan horizontal (horizontal schriding)
.intara pemiIik tanah dan pemiIik rumah yang ada di atas tanah
ynng bersangkutan.
Bangunan sebagai objek Pajak Bumi dan Bangunan dalam
pcngertian yang seluas-luasnya meIiputi :
I . jalan lingkungan yang terIetak dalam suatu kompleks
bangunan seperti hotel, pabrik, emplasemennya, dan lain-lain
yang merupakan satu kesatuan dengan kompleks bangunan
tersebut;
2. jalan tol ;
3. kolam renang;
4. pagar mewah;
5. tempat olahraga;
6. galangan kapal, dan dermaga;
7. taman mewah;
8. tempat penampungan/kilang minyak, air, gas, dan pipa
minyak;
9. fasiIitas lain yang memberikan manfaat.
Kemudian, kriteria untuk menentukan pengenaan Pajak Bumi
dan Bangunan terhadap bangunan bergantung pada klasifikasinya.
Klasifikasi bangunan adalah pengelompokan bangunan rnenurut
nilai jualnya dan digunakan sebagai pedoman untuk memudahkan
penghitungan pajak yang terutang. Dalam menentukan klasifikasi
bangunan harus diperhatikan faktor-faktor antara lain:
1. bahan yang digunakan;
2. rekayasa;
3. letak;
4. kondisi lingkungan dan lain-lain.
Sehubungan dengan faktor-faktor klasifikasi bangunan di atas,
bangunan sebagai objek Pajak Bumi dan Bangunan dapat dikategori-
kan ke dalam bentuk:
1. bangunan tidak bertingkat (susun) yang terbuat dari beton
dan batu:
2. bangunan bertingkat (bersusun) yang terbuat dari beton dan
batu:
3. bangunan semi permanen;
4. bangunan terbuat dari kayu dan bambu.
Tidak semua bumi dan atau bangunan merupakan objek pajak
yang boleh dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan karena ada
pengecualian terhadap bumi dan atau bangunan tidak dikenakan
Pajak Bumi dan Bangunan. Ketentuan itu terdapat pada Pasal 3
ayat (1) UU PBB yang menegaskan bahwa objek tidak kena Pajak
Bumi dan Bangunan:
1. digunakan sernata-mata untuk melayani kepentingan umum
di bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan, dan kebudaya-
an nasional yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh
keuntungan;
2. digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang
sejenis dengan itu;
F. Objek Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dapat pul a
di sebut sebagai Pajak Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
karena UU BPHTB yan g mengaturnya membuka peluang untuk
57
BAB 3: Objek Pajak
~ . merupakan hutan lindung, hutan sua ka alam, hutan wi sat a,
tama n nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa,
dari tanah negara yang belum dibebani su atu hak;
4. diguna kan oleh perwakil an diplomatik, kon sulat berdasarkan
asas perlakuan timbal balik;
5. di gunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional
yang ditentukan oleh Menteri Keuan gan.
Sementara itu, terhadap bumi dan atau ban gunan yang diguna-
kan oleh negara untuk menyelenggarakan pemerintahan, penentuan
pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan diatur lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah. Sekalipun pemerintah berwenang untuk
mene ntukan pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan terhadap objek
yang digunakan untuk menyelenggarakan pemerintahan, tetap
teri kat pada asas kelayakan dan kepatuhan menurut hukum. Dalam
arti bahwa pemerintah harus memerhatikan klasifikasi bumi dan
bangunan dalam menetapkan pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan
terhadap objek yang digunakannya mengingat tidak ada ketentuan
yang memberi pengecualian agar bumi dan atau bangunan yang
digunakan tidak dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan. Dengan
demikian, pemerintah tetap dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan
terhadap bumi dan atau bangunan yang digunakan untuk menye-
lenggarakan pemerintahan karena pemerintah merupakan pula
badan hukum publik yang boleh dikenakan pajak sehingga terj aring
sebagai wajib pajak yang wajib menaati UU PBB.
Pembaruan Hukum Pajak
56
58 Pembaruan Hukum Pajak BAB 3: Objek Pajak
59
menggunakan salah satu dari keduanya. Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan atas Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan. Lain perkataan bahwa Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan merupakan pajak yang dikenakan
terhadap perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan
diperolehnya hak atas tanah dan bangunan. Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan berbeda dengan Pajak Bumi dan
Bangunan, walaupun keduanya menggunakan istilah tanah (bumi)
dan bangunan sebagai objek yang boleh dikenakan pajak.
Objek Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah
perolehan hak yang melekat pada tanah dan bangunan, sedangkan
objek Pajak Bumi dan Bangunan adalah fisik tanah dan bangunan
itu sendiri. Pasal 2 ayat (2) UU BPHTB, menetapkan bahwa
perolehan hak atas tanah dan bangunan sebagai objek pajak
meliputi:
1. Pemindahan hak karena:
a. jual beli;
b. tukar-rnenukar:
c. hibah;
d. hibah wasiat;
e. waris;
f. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya;
g. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan;
h. penunjukan pembeli dalam lelang;
i. pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan
hukum tetap;
J. penggabungan;
k. peleburan usaha;
1. pemekaran usaha;
m. hadiah.
2. Pemberian hak baru karena:
a. kelanjutan pelepasan hak;
/
b. di luar pelepasan hak.
Hak atas tanah dan bangunan adalah hak at as tanah termasuk
hak pengelolaan beserta bangunan di atasnya, sebagaimana diai:ur
dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria dan Undang-Undang Nomor 16 Tahun
1985 tentang Rumah Susun. Hak atas tanah dan bangunan
berdasarkan kedua undang-undang tersebut di atas adalah:
1. hak milik;
2. hak guna usaha;
3. hak guna bangunan;
4. hak pakai;
5. hak milik atas satuan rumah susun;
6. hak pengelolaan.
Perolehan hak atas tanah dan bangunan tidak selalu merupakan
objek yang dapat dikenakan pajak karena ada ketentuan yang
menentukan bahwa objek itu bukan merupakan objek kena Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Pasal 3 ayat (1) UU
BPHTB yang menegaskan bahwa objek pajak yang tidak dikenakan
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah objek pajak
yang diperoleh:
1. perwakilan diplornatik, konsulat berdasarkan asas perlakuan
timbal balik;
2. negara untuk menyelenggarakan pemerintahan dan atau untuk
pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum;
G. Objek Bea Meterai
Bea Meterai merupakan pula jenis dari pajak yang merupakan
pajak langsung yang dibebankan kepada yang menggunakan
dokumen dalam melakukan perbuatan hukum. Bea Meterai adalah
pajak yang dikenakan atas dokumen yang digunakan oleh orang
pribadi atau badan dalam lalu lintas hukum. Oleh karena itu, objek
Bea Meterai adalah dokumen yang digunakan untuk melakukan
perbuatan hukum, baik di dalam maupun di luar peradilan.
D.okumen menurut Pasal 1 ayat (2) huruf a UU BM, adalah kertas
3. badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditetap-
kan dengan keputusan Menteri Keuangan dengan syarat tidak
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain di luar fungsi
dan tugas badan usaha atau perwakilan organisasi tersebut;
4. orang pribadi atau badan karena konversi hak atau karena
perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama;
5. orang pribadi atau badan karena wakaf;
6. orang pribadi atau badan yang digunakan untuk kepentingan
ibadah.
Selain itu, pengenaan pajak objek Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan yang diperoleh karena waris, hibah wasiat,
dan pemberian hak pengelolaan berdasarkan Pasal 3 ayat (2) UU .
BPHTB, diatur dengan peraturan pemerintah. Hal ini berarti bahwa
pemerintah berwenang untuk mengatur prosedur atau tata cara
pengenaan pajak terhadap waris, hibah wasiat, dan hak pengelolaan
dalam bentuk peraturan pemerintah. Substansi yang termuat dalam
peraturan pemerintah tersebut antara lain berisi tentang tata cara
menghitung besarnya Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
at as objek pajak yang diperolehnya karena waris , hibah wasiat, dan
pemberian hak pengelolaan.
61
BAB 3: Objek Pajak
yang berisikan tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang
pcrbuatan, keadaan, atau kenyataan bagi seseorang dan/atau pihak-
pihak yang berkepentingan.
Ketentuan pada Pasal 1 ayat (2) huruf a UU BM, memberikan
batasan mengenai dokumen yang dapat menjadi objek BeaMeterai.
Sebenarnya segala sesuatu yang tidak berisikan tulisan, atau
berisikan tulisan, tetapi tidak mengandung arti dan maksud tentang
perbuatan, keadaan, atau kenyataan bagi orang pribadi seseorang
atau badan yang berkepentingan tidak termasuk dalam pengertian
dokumen. Sebagai contoh, potret, walaupun mengandung arti dan
maksud tentang perbuatan, keadaan, atau kenyataan bagi orang
pribadi atau badan dalam potret tersebut, tidak berisikan tulisan
sehingga tidak termasuk dalam pengertian dokumen.
Dikenakan Bea Meterai at as dokumen yang berbentuk
sebagaimana dimaksud dalam Pasa12 ayat (1) UU BMadalah :
1. surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan
tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai
perbuatan, kenyataan, atau keadaan yang bersifat perdata.
Pihak-pihak yang memegang surat perjanjian atau surat-surat
lainnya tersebut (antara lain surat kuasa, surat hibah, surat
pernyataan), mempunyai kewajiban untuk membayar Bea
Meterai terhadap surat tersebut;
2. akta-akta notaris termasuk salinannya;
3. akta-akta yang dibuat oleh Pejabar Pembuat Akta Tanah
termasuk rangkapnya;
4. surat yang memuat jumlah uang yang:
a. menyebutkan penerimaan uang;
b. menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang
dalam rekening di bank;
Pembaruan Hukum Pajak
60
62
a. surat penyimpanan uang;
b. konosemen;
c. surat angkutan penumpang dan barang;
d. keterangan pemindahan yang dituliskan di atas dokumen
sebagaimana dimaksud dalam huruf a, hurufb, dan huruf
c,
e. bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang;
f. surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan
pengirim;
g. surat-surat lainnya yang dapat disamakan dengan surat-
surat sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai
huruf f.
2. segala bentuk ijazah; termasuk dalam pengertian segala bentuk
ijazah ini ialah surat tanda tamat belajar, tanda lulus, surat
keterangan telah mengikuti sesuatu pendidikan, latihan,
kursus, dan penataran;
3. tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan, dan
pembayaran lainnya yang ada kaitannya dengan hubungan
kerja serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan
pembayaran itu;
4. tanda bukti penerimaan uang negara dari kas negara, kas
pemerintah daerah, dan bank;
5. kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan
lainnya yang dapat disamakan dengan itu dari kas negara, kas
pemerintah daerah, dan bank. Bank yang dimaksud dalam
angka 5 ini adalah bank yang ditunjuk oleh pemerintah untuk
menerima setoran pajak, bea dan cukai;
6. tanda penerima uang yang dibuat untuk keperluan intern
organisasi;
Pembaruan Hukum Pajak
c. berisi pemberitahuan saldo rekening di bank;
d. berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau
sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan;
5. surat berharga seperti wesel, promes, aksep, dan cek;
6. efek dengan nama dan dalam bentuk apa pun.
Juga dikenakan Bea Meterai at as dokumen yang digunakan
sebagai alat pembuktian di muka pengadilan sebagaimana
dimaksud dalam Pasa12 ayat (3) UU BM, yaitu:
1. surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan;
2. surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasar-
kan tujuannya jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan
oleh orang lain dari maksud semula.
Dalam kaitan pengenaan Bea Meterai terhadap dokumen
tersebut di atas, menurut Marihot P. Siahaan (2004;69) bahwa
besarnya Bea Meterai yang terutang terkait dengan dokumen yang
digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan adalah
sebesar Rp6.000,00, sementara apabila dokumen yang dimaksud
berkaitan dengan penyerahan uang, besarnya Bea Meterai yang
terutang didasarkan pada besarnya nominal penyerahan uang
dimaksud. Apabila nominal penyerahan uang kurang dari
Rp250.000,00, tidak terutang Bea Meterai . Sementara itu, apabila
nominal penyerahan uang sama dengan atau lebih dari
Rp250.000,00, besarnya Bea Meterai terutang adalah Rp3.000,00
dan apabila nominal penyerahan uang sama dengan atau lebih dari
Rp1.000.000,00, besarnya Bea Meterai terutang adalah Rp6 .000,00.
Walaupun dokumen merupakan objek Bea Meterai, berdasar-
kan Pasal 4 UU BM ternyata ada dokumen yang tidak dikenakan
Bea Meterai atas:
1. dokumen yang berupa:
BAB 3: Objek Pajak
63
H. Objek Pajak Daerah
Pajak daerah yang meliputi pajak daerah provinsi dan pajak
daerah kabupaten/kota merupakan kajian hukum pajak. Pajak
Daerah memiliki objek yang dapat dikenakan pajak dan tidak
dikenakan pajak, bergantung pada pengaturan dalam peraturan
daerah yang bersangkutan. Karena UU PDRD secara tegas tidak
mengatur mengenai objek pajak daerah, tidak berarti bahwa pajak
daerah tidak memiliki objek pajak mengingat objek pajak daerah
merupakan salah satu substansi dalam hukum pajak materil yang
diberlakukan di daerah.
Penentuan objek pajak daerah merupakan kewenangan daerah
untuk menetapkannya dan merupakan bagian terpenting dalam
peraturan daerah yang mengatur ten tang pajak daerah. Kewenangan
7. dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran uang
tabungan kepada penabung oleh bank, koperasi, dan badan-
badan lainnya yang bergerak di bidang tersebut;
8. surat gadai yang diberikan oleh perusahaan jawatan pegadaian;
9. tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek, dengan
nama dan dalam bentuk apa pun.
Walaupun dokumen tersebut di atas telah ditetapkan tidak
dikenakan Bea Meterai, dalam praktik, kalau dokumen itu
digunakan dalam suatu sengketa atau perkara di muka pengadilan
yang terkait dengan dokumen itu, dikenakan Bea Meterai dengan
cara pemeterain kemudian. Pemeteraian kemudian dilakukan
terhadap foto kopi atas dokumen yang digunakan dalam sengketa
atau berperkara di muka pengadilan. Dengan demikian, pengenaan
Bea Meterai terhadap suatu dokumen dapat dilakukan dengan cara
menggunakan benda meterai berupa kertas meterai dan
pemeteraian kembali.
65
BAB 3: Objek Pajak
c1 aerah menetapkan objek pajak daerah merupakan suatu bentuk
delegasi kewenangan dari UU PDRD kepada pembuat peraturan
daerah. Sekalipun merupakan delegasi kewenangan, peraturan
daerah yang mernuat tentang objek pajak tidak boleh mengambil-
alih objek pajak negara agar tidak terjadi pajak ganda nasional.
Objek pajak daerah pada dasarnya meliputi objek kena pajak
dan objek tidak kena pajak. Pengaturan semacam ini bertujuan
untuk memberi keadilan, kemanfaatan, atau kepastian hukum
terhadap suatu objek yang dikelompokkan ke dalam objek kena
pajak atau dikelompokkan ke dalam objek tidak kena pajak. Dengan
demikian, terdapat suatu perlindungan hukum terhadap objek kena
pajak maupun objek tidak kena pajak.
Pembaruan Hukum Pajak
64
67
.. Wajib Pajak
A. Pengertian
Hukum pajak tidak berbeda dengan hukum lainnya yang
rnerniliki subjek hukum selaku pendukung kewajiban dan hak.
Dalam hukum pajak, bukan subjek pajak sebagai pendukung
kewajiban dan hak melainkan adalah wajib pajak. Secara hukum,
subjek pajak dengan wajib pajak memiliki perbedaan karena subjek
pajak bukan subjek hukum, melainkan hanya wajib pajak sebagai
subjek hukum mengingat subjek pajak tidak memenuhi syarat-
syarat, baik syarat subjektif atau syarat objektif untuk dikenakan
pajak sehingga bukan subjek hukum. Sebaliknya, wajib pajak pada
awalnya berasal dari subjek pajak yang dikenakan pajak karena
me menuhi syarat-syarat subjektif dan objektif yang telah
ditent ukan. Dengan demikian, ada keterkaitan antara subjek pajak
dengan wajib pajak, walaupun keduanya dapat dibedakan secara
hukum karena keberadaan wajib pajak bermula dari subjek pajak.
Menurut ketentuan Pasall angka 1 UU KUp, wajib pajak adalah
orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan
kewajiban perpajakan, termasuk pemungutan atau pemotongan
pajak tertentu. Kemudian, pengertian badan adalah sekumpulan
orang dan atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang
melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang
meliputi perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau daerah
dengan nama dan dalam bentuk apa pun , firma, kongsi, koperasi,
dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi
massa, organisasi politik, atau organisasi yang sejenis, lembaga,
bentuk usaha tetap dan bentuk badan lainnya (Pasall angka 2 UU
KUP). Sementara itu, pada Pasal 1 ayat (1) UU PPh, bahwa yang
menjadi subjek pajak untuk Pajak Penghasilan adalah:
1. a. orang pribadi ;
b. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan
menggantikan yang Berhak;
2. badan;
3. bentuk usaha tetap.
Kalau pengertian wajib pajak dikaji secara mendalam
sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 1 angka 1 UU KUp,
ternyata wajib pajak hanya untuk melaksanakan kewajiban
perpajakan dengan tidak memiliki hak perpajakan. Wajib pajak
sebagai subjek hukum tidak hanya untuk memiliki kewajiban
perpajakan, tetapi memiliki pula hak di bidang perpajakan,
digunakan atau tidak hak tersebut bergantung pada wajib pajak
yang bersangkutan. Selain itu, pemotong atau pemungut pajak
termasuk pula dalam pengertian wajib pajak. Pada hakikatnya,
pemotong atau pemungut pajak yang berada pada orang pribadi
atau badan yang melakukan pemotongan atau pemungutan pajak
dari wajib pajak bukan dalam kategori sebagai wajib pajak. Orang
pribadi atau badan tersebut tidak memenuhi syarat-syarat objektif
karena pajak yang dipotong atau dipungut tidak boleh dikategorikan
sebagai objek pajak, melainkan adalah pajak dari wajib pajak yang
dikenakan pemotongan atau pemungutan pajak. Pemotong atau
B. Wajib Pajak Penghasilan
pcrnungut pajak adalah tepat kalau dimasukkan dalam kategori
scbagai petugas pajak bukan merupakan wajib pajak.
Pengertian wajib pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1
angka 1 UU KUPharus diubah dengan menampakkan pencerminan
scbagai pendukung kewajiban dan hak di bidang perpajakan karena
telah memenuhi syarat-syarat objektif dan subjektif sebagaimana
dikenal dalam hukum pajak. Wajib pajak tidak boleh diabaikan atau
dikesampingkan haknya sebagai salah satu unsur untuk
memperoleh perlindungan hukum. Hak yang dimiliki oleh wajib
pajak merupakan sarana hukum untuk mendapatkan perlindungan
hukum dari kesewenang-wenangan pejabat pajak dalam upaya
unt uk menegakkan hukum pajak.
69
BAB 4: Wajib Pajak
Wajib pajak dalam UU PPh terdiri dari wajib pajak dalam negeri
dan wajib pajak luar negeri. Dikatakan oleh Rochmat Soemitro
(1986;92) bahwa wajib pajak dalam negeri adalah subjek pajak
dalam negeri yang memenuhi syarat-syarat objektif, artinya
memenuhi syarat-syarat seperti yang ditentukan dalam UU PPh.
Wajib pajak dalam negeri adalah subjek pajak yang bertempat
tinggal atau menetap di Indonesia. Wajib pajak dalam negeri
dikenakan pajak di tempat ia bertempat tinggal atau berkedudukan
(jika mengenai badan) . Kemudian, wajib pajak dalam negeri
dikenakan pajak atas semua penghasilan yang diterima atau
diperolehnya, baik yang diterima di dalam negeri maupun yang
diterima di luar negeri. jadi dikenakan atas apa yang disebut world
wide income. Orang asing yang berada di Indonesia untuk jangka
wakt u secara berturut-turut yang lebih dari 183 hari dianggap
sebagai wajib pajak dalam negeri dan wajib memenuhi kewajiban
dan haknya selaku wajib pajak dalam negeri .
Pembaruan Hukum Pajak 68
Lebih lanjut, dikatakan oleh Rochmat Soemitro (1986;92-93)
bahwa wajib pajak yang meninggalkan Indonesia untuk jangka
waktu yang tidak lebih dari satu tahun masih merupakan wajib
pajak dalam negeri dan masih dikenakan pajak di Indonesia. Pejabat
diplomatik dan pegawai kedutaan Republik Indonesia, yang karena
jabatannya berada di luar Indonesia (asal bukan staflokal), masih
merupakan wajib pajak dalam negeri sebab berdasarkan "asas
eksteri toriali tas", mereka dianggap bertempat tinggal di wilayah
Republik Indonesia dan wajib puIa membayar pajak penghasilan
apabila penghasilannya melebihi penghasilan tidak kena pajak.
Sebaliknya, wakil-wakil diplomatik atau konsuler asing yang
bertempat tinggal di Indonesia, bukan merupakan wajib pajak
dalam negeri, berdasarkan "asas eksteritorialitas" tersebut. ]ika
orang luar negeri melakukan usaha sendiri di Indonesia melalui
wakilnya, seperti seorang akuntan yang mempunyai kantor akuntan
di Indonesia (milik pribadi, profesi), ia akan dikenakan pajak
sebagai wajib pajak dalam negeri, atau setidak-tidaknya badan usaha
itu dikenakan pajak sebagai "bentuk usaha tetap" yang juga
merupakan wajib pajak dalam negeri.
Wajib pajak luar negeri menurut Rochmat Soemitro (1986 :93-
94) adalah subjek pajak luar negeri yang memperoleh atau
menerima penghasilan yang berasal dari wilayah Republik
Indonesia atau yang mempunyai kekayaan yang terletak di wilayah
Republik Indonesia. Wajib pajak luar negeri hanya dikenakan pajak
dari penghasilan yang diterima atau diperoleh atau berasal dari
(surnber-sumber yang ada di) wilayah Republik Indonesia. Wajib
pajak luar negeri tidak wajib memasukkan surat pemberitahuan
dan baginya tidak berlaku penghasilan tidak kena pajak, dan pula
baginya susunan dan besarnya keluarga tidak mempunyai pengaruh
atas besarnya jumlah pajak. Pembayaran-pembayaran berupa bunga,
dividen, royalti, sewa-sewa, dan sebagainya yang dibayarkan oleh
badan yang berkedudukan di Indonesia, langsung dipotong Pajak
c. Wajib Pajak Pertambahan Nilai
Wajib pajak yang terkait dengan pelaksanaan Pajak
Pertambahan Nilai Barang dan]asa disebut "pengusaha kena pajak",
Pengusaha kena pajak adalah pengusaha sebagaimana dimaksud
pada angka 3 yang melakukan penyerahan barang kena pajak dan
atau penyerahan jasa kena pajak yang dikenakan pajak berdasarkan
UU PPN dan perubahannya, tidak termasuk pengusaha kecil yang
bat asannya ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan,
kecuali pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan menjadi
pengusaha kena pajak (Pasal 1 angka 4 UU KUP). Selanjutnya,
Pasal 1 angka 3 UU KUP menegaskan pengusaha adalah pengusaha
berupa orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam
ke giat an usaha atau pekerjaannya menghas ilkan bar ang,
71
BAB 4: Wajib Pajak
Penghasilan berdasarkan Pasal 26 PPh ada sumbernya oleh badan
yang membayar jumlah tersebut. Dan pemotongan Pajak
Penghasilan sebesar 20% ini merupakan pungutan final yang tidak
dapat dikreditkan.
Wajib pajak, baik dalam negeri maupun luar negeri tidak
memiliki kedudukan hukum yang sama dalam UU PPh. Wajib pajak
dalam negeri dikenakan Pajak Penghasilan terhadap seluruh
penghasilan yang diterima atau diperoleh, baik di Indonesia
maupun di luar Indonesia dan kepadanya diwajibkan mengisi dan
menyampaikan surat pemberitahuan. Sementara itu, wajib pajak
luar negeri dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final hanya
terhadap penghasilan yang diterima atau diperoleh di Indonesia
ser t a tidak diwajibkan mengisi dan menyampaikan surat
pemberitahuan. Sekalipun tidak dalam kedudukan hukum yang
sama, antara wajib pajak dalam negeri dengan wajib pajak luar
negeri tetap berkewajiban mematuhi ketentuan dalam UU PPh,
khususnya mengenai pelunasan pajak.
Pembaruan Hukum Pajak
70
mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha
perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar
daerah pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa
dari luar daerah pabean.
Kernudian, pengusaha kena pajak menurut Pasal 1 angka 15
UU PPN, adaIah pengusaha sebagaimana dimaksud daIam angka
14 yang meIakukan penyerahan barang kena pajak da n atau
penyerahan jasa kena pajak yang dikenakan pajak berdasarkan
undang-undang ini, tidak termasuk pengusaha keci I yang
batasannya ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan,
kecuaIi pengusaha keciI yang memiIih untuk dikukuhkan sebagai
pengusaha keciI. Selanjutnya, PasaI 1 angka 14 UU PPN rnenegas-
kan pengusaha adaIah orang pribadi atau badan sebagaimana
dimaksud daIam an gka 13 yang daIam kegiatan usaha atau
pekerj aannya menghasiIkan barang, mengimpor barang,
mengekspor barang, meIakukan usaha perdagangan, memanfaat-
kan barang tidak berwujud dari Iuar daerah pabean, meIakukan
usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari Iuar daerah pabean.
Secar a hukum, terdapat sinkronisasi pengert ian antara
pengusaha kena pajak yang terdapat dalam UU KUP dengan UU
PPN. Sebenarnya tidak ada pertentangan antara UU KUP dengan
UU PPN tentang pengertian pengusaha kena pajak. Maka, wajib
pajak yang terikat pada Pajak Pertambahan NiIai adaIah Pengusaha
Kena Pajak yang meIakukan:
1. penyerahan barang kena pajak di daIam daerah pabean;
2. impor barang kena pajak;
3. penyerahan jasa kena pajak di daIam daerah pabean;
4. pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud dari luar daerah
pabean di dalam daerah pabean;
5. pernanfaatan jasa kena pajak tidak berwujud dari luar daerah
pabean di dalam daer ah pabean: atau
6. ekspor barang kena pajak.
Dalam kaitan pen gu saha kena pajak, Untung Sukardji
(2002;123) mengatakan bahwa pengertian pengusaha kena pajak
ini ternyata kemudian diperluas dal am Pasal 2 ayat (1) Peraturan
Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 yang menetapkan bahwa
termasuk dalam pengertian pengusaha yang melakukan penyerahan
barang kena pajak dan/atau jasa kena pajak adalah pen gusaha yang
sejak semula bermaksud melakukan penyerahan barang kena pajak
dan/ atau penyerahan jasa kena pajak. Ketentuan ini mengisyaratkan
bahwa pengusaha yang belum memulai kegiatan penyerahan, tetapi
dari kegiatan persiapan seperti pembeIi an barang modal, pembelian
bahan baku, dan lain-l ainnya sudah dapa t diketahui bahwa
pengusaha ini berniat akan melakukan kegiatan penyerahan barang
kena pajak atau penyerahan jasa kena pajak. Ol eh karena itu,
ter hadap mereka dimungkinkan untuk melaksanakan kewajiban
di bidang Pajak Pertambahan Nil ai antara lain kewajiban
melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai pengusaha kena
pajak.
Pada hakikatnya bahwa Pasal2 ayat (1) Peraturan Pemerintah
Nomor 143 Tahun 2000 tidak memperluas pengertian pengusaha
kena pajak, ba hkan tidak memiliki kekuatan hukum untuk
di berlakukan kepada pengusaha kena pajak karena Peraturan
Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 adalah peraturan pelaksanaan
yang tidak boleh menyimpang dari substansi hukum dalam UU
PPN. Kalau terjadi perluasan pengertian pengusaha kena pajak,
peraturan tersebut tidak boleh diberlakukan karena melanggar asas
hukum "lex superior derogat legi inferiori". Dengan de mikian,
pengertian pengusaha kena pajak yang terdapat pada Pasall angka
72
PembaruanHukumPajak
BAB 4: Wajib Pajak
73
D. Wajib Pajak Penjualan atas Barang Mewah
Wajib Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah orang atau
badan yang biasanya disebut sebagai pengusaha. Pengusaha ini
memiliki ciri khas karena melakukan penyerahan barang kena pajak
yang tergolong barang mewah. Scbagaimana yang diatur pada Pasal
5 ayat (1) UU PPN bahwa di samping pengenaan pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal4, dikenakan juga pajak penjualan atas barang
I', UU PPN tetap diberlakukan dan bukan yang terdapat pada Pasal
nyat (1) Peraturan Perner intah Nomor 143 Tahun 2000.
Pengusaha kecil adalah pengusaha tidak kena pajak sepanjang
memenuhi batasan yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan,
keeuali bila dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak. Pengusaha
kecil menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 552/KMK.04/
2000 adalah pengusaha yang dalam satu tahun buku melakukan
penyerahan:
1. barang kena pajak dengan jumlah peredaran bru to tidak lebih
dari Rp360.000 .000,OO; atau
2. jasa kena pajak dengan jumlah peredaran bru to tidak lebih
dari Rp180.000.000,OO.
Pengusaha keeil yang tidak dikukuhkan sebagai pengusaha
kena pajak bukan wajib Pajak Pertambahan Nilai sehingga tidak
merniliki kewajiban dan hak dalam pelaksanaan UU PPN. Bahkan
sebaliknya, pengusaha keeil tersebut dilarang unt uk me lakukan
perbuatan hukum di bidang Pajak Pertambahan Nilai, misalnya
memungut pajak dan atau membuat faktur pajak. Tatkala larangan
tersebut dilanggar, pengusaha keeil tersebut wajib dikenakan sanksi
administrasi sebagaimana ditentukan dalam UU PPN. Hal ini
dimaks udkan agar pengusaha keeil tidak melakukan perbuatan
hukum selama belum dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak.
mewah terhadap: a) penye raha n barang kena pajak yang tergolong
mewah yang dilakukan oleh pengusaha yang menghasilkan barang
kena pajak yang tergolong mewah tersebut di dalam daerah pabean
dalam kegiatan usaha atau peke rjaannya; dan b) impor barang kena
pajak yang tergolong mewah.
Seeara hukum, dikatakan bahwa wajib Pajak Penjualan atas
Barang Mewah adalah pengusaha yang mclaku kan penyerahan
barang kena pajak yang tergolong barang mewah dan/atau impor
barang kena pajak yang tergolong barang mewah. Dalam arti bahwa
barang kena pajak yang diserahkan dan/ atau yang diimpor tergolong
barang mewah mengingat kemewahan yang me lekat pada barang
kena pajak termaksud yang menjadi kri teri a untuk dikenakan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah.
75
SAS 4: Wajib Pajak
E. Wajib Pajak Bumi clan Bangunan
Untuk memahami siapa yang merupakan waji b Pajak Bumi
dan Bangunan, maka terlebih dahulu harus dikaji seeara hukum
mengenai ketentuan Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2) UU PBB.
Ketentuan Pasal 4 ayat (1) UU PBB menegaskan bahwa yang
menjadi subjek pajak adalah orang atau badan yang seeara nyata
mempunyai suatu hak at as bumi, dan/atau memperoleh manfaat
atas bumi, dan/atau merniliki, menguasai, dan/atau memperoleh
manfaat bangunan. Kemudian, ketentuan Pasal4 ayat (2) UU PBB
mengatur bahwa subjek pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (l)
yang dikenakan kewajiban membayar pajak menjadi wajib pajak.
Wajib Pajak Bumi dan Bangunan berdasarkan Pasal4 ayat (1)
dan ayat (2) UU PBB adalah orang atau badan yang dikenakan
Pajak Bumi dan Bangunan karena seeara nyata:
1. mempunyai hak atas bumi (tanah): dan/atau
2. memperoleh manfaat at as bumi (tanah): dan/atau
PembaruanHukum Pajak
"1
3. memiliki bangunan; dan/atau
4. menguasai bangunan; dan/atau
5. memperoleh manfaat bangunan.
Apabila adaobjek pajak yang belum diketahui siapa subjek
pajak atas objek pajak tersebut, pejabat pajak berwenang
menetapkan subjek pajak sebagai wajib pajak. Kewenangan pejabat
pajak untuk menetapkan subjek pajak sebagai wajib pajak benujuan
agar objek pajak itu dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan. Akan
tetapi, subjek pajak tersebut dapat memberikan keterangan kepada
pejabat pajak bahwa ia bukan wajib pajak terhadap objek pajak
dimaksud, sebagai contoh adalah:
1. Subjek pajak bernama Ali Baba yang memperoleh manfaat atau
menggunakan bumi dan/atau bangunan milik Rudy, bukan
karena sesuatu hak berdasarkan undang-undang atau bukan
karena perjanjian. Maka Ali Baba dapat ditetapkan sebagai
wajib pajak berdasarkan alasan bahwa Ali Baba memperoleh
manfaat atau menggunakan bumi/bangunan milik Rudy.
2. Terhadap suatu objek pajak yang masih dalam sengketa di
pengadilan tentang siapa pemiliknya, orang atau badan yang
memanfaatkan atau menggunakan objek tersebut dapat
ditetapkan sebagai wajib pajak.
3. Subjek pajak yang dalam jangka waktu lama berada di luar
wilayah letak objek pajak, sedangkan pengurusan objek pajak
itu dikuasakan secara sah kepada orang atau badan, orang atau
badan yang diberi kuasa dapat ditetapkan sebagai wajib pajak.
Tatkala keterangan yang diajukan oleh wajib pajak memperoleh
persetujuan, pejabat pajak berkewajiban membatalkan penetapan
sebagai wajib pajak dalam jangka waktu satu bulan sejak diterima
surat keterangan termaksud. Apabila setelah jangka waktu satu
bulan sejak tanggal diterima keterangan dari wajib pajak, pejabat
pajak tidak memberikan keputusan, keterangan yang diajukan itu
dianggap disetujui . Sebaliknya, bila keterangan yang diajukan oleh
wajib pajak tidak memperoleh persetujuan, pejabat pajak
mene rbit kan keputus an penolakan dengan disertai alasan-
alasannya.
F. Wajib Bea Perolehan Hakatas Tanah dan
Bangunan
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dapat pul a
disebut dengan Pajak Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
Sea Perolehan Hak atas Tanah dan Sangunan tidak berbeda dengan
pajak lainnya karena memili ki pula wajib pajak sebagaimana yang
telah ditentukan dalam Pasal 4 ayat (2) UU SPHTS, yaitu wajib
Sea Perolehan Hak at as Tanah dan Sangunan adalah subjek pajak
sebagaimanadimaksud pada ayat (1) yang dikenakan kewajiban membayar
beaperolehan hak atas tanah dan bangunan menurut undang-undang ini.
Pengen ian subjek Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Sangunan
menur ut Pasal4 ayat (1) UU SPHTS adalah orangpribadi atau badan
yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan. Perolehan hak atas
tanah dan bangunan dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Sangunan sebanyak lima belas jenis berdasarkan UU SPHTS.
Dalam ani, terdapat lima bel as kriteria sehingga wajib Sea Pero-
lehan Hak atas Tanah dan Bangunan dikat egorikan selaku wajib
pajak. Dengan demikian, berkewajiban membayar Sea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang karena:
1. perolehan hak atas tanah dan bangunan yang disebabkan jual
beli dalam status selaku pembeli;
2. perolehan hak atas tanah dan bangunan yang disebabkan tukar-
menukar;
3. perolehan hak atas tanah dan bangunan karena hibah;
77
BAB 4: Wajib Pajak
Pembaruan Hukum Pajak
76
14. perolehan hak atas tanah dan bangunan disebabkan hadiah;
15. perolehan hak atas tanah dan bangunan karena penunjukan
pembeli dalam lelang.
Kewajiban wajib pajak pada saat perolehan hak atas tanah dan
bangunan adalah melakukan pelunasan Bea Perolehan Hak at as
Tanah dan Bangunan karena telah terutang Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan. Saat Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan yang terutang belum terbayar lunas, perolehan hak atas
tanah dan bangunan dapat tertunda karena pejabat yang berwenang
4. perolehan hak atas tanah dan bangunan karena hibah wasia t;
5. perolehan hak atas tanah dan bangunan karena waris;
6. perolehan hak atas tanah dan bangunan karena pemasukan
dalam perseroan atau badan hukum lainnya;
7. perolehan hak atas tanah dan bangunan karena pemisahan
hak yang mengakibatkan peralihan;
8. perolehan hak atas tanah dan bangunan disebabkan peralihan
hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai
kekuatan hukum tetap;
9. perolehan hak atas tanah dan bangunan karena pemberian hak
baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak;
10. perolehan hak atas tanah dan bangunan karena pemberian hak
baru atas tanah di luar pelepasan hak;
11. perolehan hak atas tanah dan bangunan disebabkan
penggabungan usaha;
12. perolehan hak atas tanah dan bangunan karena peleburan
usaha;
13. perolehan hak atas tanah dan bangunan karena pemekaran
usaha;
G. Wajib Bea Materai
79 BAB 4: Wajib Pajak
tidak memberi pengesahan perolehan hak tersebut. Sebenarnya
pelunasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang
terutang menentukan proses perolehan hak atas tanah dan
bangunan bagi wajib pajak yang memperoleh hak atas tanah dan
bangunan. Setelah terjadi pelunasaan Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan, berarti tidak ada hambatan atau kendala hukum
yang memengaruhi proses peralihan hak.
Dalam UU BMtidak secara tegas ditentukan bahwa siapa yang
merupakan wajib pajak untuk Bea Meterai yang berkewajiban
membayar lunas Bea Meterai yang terutang. Wajib Bea Meterai
hanya tersirat dalam Pasal2 UU BM, yang menyatakan bahwa orang
pribadi atau badan yang memanfaatkan dokumen yang terutang
Bea Meterai adalah wajib pajak yang berkewajiban membayar Bea
Meterai yang terutang. Wajib Bea Meterai adalah subjek pajak yang
memanfaatkan dokumen yang terutang Bea Meterai. Wajib Bea
Meterai boleh terjadi karena hanya satu pihak atau lebih dari satu
pihak, bergantung pada keadaan pada saat dokumen yang terutang
Bea Meterai dimanfaatkan yang bersangkutan.
Terkait dengan wajib Bea Meterai boleh ditetapkan perumpa-
maan sebagai berikut.
1. Bila dokumen dibuat oleh satu pihak, misalnya kuitansi, Bea
Meterai terutang oleh penerima kuitansi.
2. Kalau dokumen dibuat oleh dua pihak atau lebih, misalnya
surat perjanjian di bawah tangan, masing-masing pihak
terutang Bea Meterai at as dokumen yang diterimanya.
3. Jika pihak atau pihak-pihak yang bersangkutan menentukan
lain, Bea Meterai terutang oleh pihak atau pihak-pihak yang
ditentukan oleh mereka.
Pembaruan Hukum Pajak 78
80 Pembaruan Hukum Pajak BAB 4: Wajib Pajak
81
H. Wajib Pajak Daerah
Dalam UU PDRD tidak secara tegas diatur mengenai siapa
yang termasuk subjek pajak sehingga tidak diketahui secara pasti
yang menjadi wajib pajak daerah. Pajak daerah meliputi pajak
daerah provinsi dan paj ak daerah kabupaten/kota. Maka, wajib
pajak dari tiap pajak daerah juga berbeda pula, bergantung pada
objek yang dikenakan pajak daerah. Wajib pajak daerah provinsi
adalah subjek pajak yang menggunakan objek pajak daerah provinsi
yang dikenakan pajak. Akan tetapi, tidak selalu subjek pajak daerah
provinsi merupakan wajib pajak, hanya yang diwajibkan membayar
pajak karena telah memenuhi syarat-syarat subjektif dan syarat-
syarat objektif karena wajib pajak daerah provinsi memiliki ,
menguasai, atau memanfaatkan objek yang dikenakan pajak.
Demikian pula halnya, terhadap pajak daerah kabupaten/kota
yang tidak jelas mengenai siapa yang menjadi subjek pajak,
khususnya siapa yang menjadi wajib pajak yang berkewajiban
membayar pajak daerah yang terutang. Wajib Pajak Daerah
Kabupaten/Kota adalah subjek pajak yang dibebankan kewajiban
untuk membayar pajak karena memiliki, menguasai, atau meman-
faatkan objek yang dikenakan pajak.
Penentuan wajib pajak daerah, baik di tingkat provinsi maupun
di tingkat kabupaten/kota merupakan kewenangan daerah untuk
menetapkan dan merupakan bagian terpenting dalam peraturan
daerah yang mengatur tentang pajak daerah. Kewenangan daerah
menetapkan wajib pajak merupakan suatu bentuk delegasi
kewenangan dari UU PDRD kepadapernbuat peraturan daerah
(Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bersama dengan kepala daerah).
Sekalipun merupakan delegasi kewenangan, tetapi peraturan daerah
tentang pajak daerah tidak boleh menyimpang dari UU PDRD
dalam menentukan subjek pajak yang pada akhirnya sebagai wajib
pajak.
I. Kewajiban Wajib Pajak
Telah ditegaskan bahwa wajib pajak merupakan subjek hukum
dalam konteks hukum pajak karena telah memenuhi syarat-syarat
subjektif dan syarat -syarat objektif untuk dikenakan pajak. Sebagai
subjek hukum, wajib pajak diwajibkan untuk memenuhi kewajiban
yang tersebar dalam Undang-undang Pajak yang memuat
ketentuan-ketentuan yang bersifat formal. Apabila kewajiban yang
dibebankan kepada wajib pajak tidak dilaksanakan, dapat dikenakan
sanksi hukum, yang meliputi sanksi administrasi berupa bunga,
denda, atau kenaikan serta sanksi pidana yang terdapat dalam
Undang-undang Pajak.
Kewajiban wajib pajak yang harus dilaksanakan sebagaimana
yang ditentukan, antara lain sebagai berikut.
1. Wajib pajak wajib mendaftarkan diri pada Kantor Direktorat
Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal
atau tempat kedudukan wajib pajak dan kepadanya diberikan
nomor pokok wajib pajak. Fungsi nomor pokok wajib pajak
merupakan suatu sarana dalam administrasi perpajakan yang
dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib
pajak. Oleh karena itu, kepada setiap wajib pajak hanya
diberikan satu nomor pokok wajib pajak. Selain itu, nomor
pokok wajib pajak juga dipergunakan untuk menjaga ketertiban
dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan administrasi
perpajakan. Dalam hal berhubungan dengan dokumen
perpajakan, wajib pajak diwajibkan mencantumkan nomor
pokok wajib pajak yang dimilikinya. Terhadap wajib pajak yang
tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan nomor pokok
wajib pajak dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-
undangan perpajakan.
2. Wajib pajak wajib melaporkan usahanya pada Kantor
Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi
tcrn pat tinggal atau ternpat kedudukan pengusaha, dan
kegiat an usaha dilakukan untuk dikukuhkan sebagai
pengusaha kena pajak, dan kepadanya diberikan keputusan
pengukuhan pengusaha kena pajak. Fungsi pengukuhan
pengusaha kena pajak, selain digunakan untuk identitas
pengusaha kena pajak yang sebenarnya, juga berguna untuk
melaksanakan kewajiban dan hak di bidang Pajak Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan at as Barang Mewah serta untuk
pengawasan administrasi perpajakan. Terhadap pengusaha
yang telah memenuhi syarat sebagai pengusaha kena pajak,
tetapi tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai
pengusaha kena pajak dikenakan sanksi sesuai peraturan
perundang-undangan perpajakan.
3. Wajib pajak wajib mengambil sendiri surat pemberitahuan di
tempat-ternpat yang ditetapkan oleh pejabat pajak yang mudah
dijangkau oleh wajib pajak. Hal ini dimaksudkan agar wajib
pajak tidak memperoleh kesulitan untuk mendapatkan surat
pemberitahuan dalam menunaikan kewajibannya.
4. Wajib pajak wajib mengisi dengan jelas, benar, dan lengkap
serta ditandatangani sendiri surat pemberitahuan, kemudian
mengembalikan ke Kantor Direktorat Jenderal Pajak,
dilengkapi dengan lampiran-lampiran. Misalnya, laporan
keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi serta keterangan-
keterangan lain yang diperlukan untuk menghitung besarnya
penghasilan kena pajak. Pada prinsipnya, setiap wajib pajak
untuk Pajak Penghasilan diwajibkan menyampaikan surat
pemberitahuan. Dengan pertimbangan efisiensi atau
pertimbangan lainnya, Menteri Keuangan dapat menetapkan
wajib pajak untuk Pajak Penghasilan yang dikecualikan dari
kewajiban menyampaikan surat pernberitahuan, misalnya
wajib pajak orang pribadi yang menerima atau memperoleh
penghasilan di bawah penghasilan tidak kena pajak karena
kepentingan tertentu diwajibkan memiliki nomor pokok wajib
pajak.
5. Membuat faktur pajak merupakan kewajiban pengusaha kena
pajak. Faktur pajak merupakan bukti pungutan pajak yang
dibuat oleh pengusaha kena pajak yang melakukan penyerahan
barang kena pajak atau penyerahan jasa kena pajak, atau bukti
pungutan pajak karena impor barang kena pajakyang
digunakan oleh Direktorat jenderal Bea dan Cukai. Larangan
membuat faktur pajak oleh bukan pengusaha kena pajak
dimaksudkan untuk melindungi pembeli dari pemungutan
pajak yang tidak semestinya. Oleh karena itu, terhadapnya
dikenakan sanksi berupa denda administrasi. Demikian pula
terhadap pengusaha kena pajak yang wajib membuat faktur
pajak, tetapi tidak dilaksanakan, tidak selengkapnya mengisi
faktur pajak, atau membuat faktur pajak, tetapi tidak tepat
waktunya, dikenakan pula sanksi berupa denda administrasi.
6. Wajib pajak diwajibkan untuk membayar atau menyetor pajak
di tempat yang telah ditentukan oleh undang-undang. Utang
pajak mutlak harus dibayar atau disetor pada kas negara
melalui kantor pos dan atau bank badan usaha milik negara
dan atau bank badan usaha milik daerah atau tempat
pembayaran lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
7. Pajak yang terutang wajib dibayar lunas oleh wajib pajak
dengan tidak menggantungkan pada adanya surat ketetapan
pajak. Hal ini dimaksudkan agar wajib pajak menghitung dan
menetapkan sendiri pajak yang terutang tanpa diterbitkan surat
ketetapan pajak sebagai perwujudan selfassessment sistem yang
dianut dalam Undang-undang Pajak (UU PPh, UU PPN, dan
UU BPHTB).
H'
Pembaruan Hukum Pajak BAB 4: Wajib Pajak 83
8. Wajib pajak berkewajiban untuk menyelenggarakan dan/atau
memperlihatkan pembukuan atau pencatatan-pencatatan
maupun data yang diperlukan oleh pemeriksa pajak.
Pembukuan merupakan suatu proses pencatatan yang
dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan
informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal,
penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan
penyerahan barang atau jasa yang ditutup dengan menyusun
laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi pada
setiap tahun pajak berakhir.
9. Wajib pajak wajib memberi kesempatan kepada pemeriksa
pajak untuk melakukan pemeriksaan untuk memasuki tempat
atau ruangan yang dianggap perlu.
10. Wajib paj ak berkewajiban untuk menunjuk wakil bagi wajib
pajak badan yang bertanggung jawab tentang pelaksanaan
kewajiban perpajakan. Penunjukan ini tidak memerlukan surat
kuasa khusus karena secara tegas telah ditentukan dalam UU
KUP.
11. Wajib pajak wajib menunjuk kuasa hukum untuk mewakili
wajib pajak di luar maupun di dalam lembaga peradil an paj ak,
baik lembaga keberatan, pengadilan pajak, dan Mahkamah
Agung. Penunjukan kuasa hukum wajib dilengkapi dengan
surat kuasa khusus kar ena tanpa surat kuasa khusus tersebut,
di anggap tidak sah secara hukum.
Kewajiban wajib pajak sebagaimana dimaksud di atas tidak
bersifat final yang ber arti setiap saat dan waktu dapat berubah.
Hal ini dimaksudkan agar kewajiban wajib pajak dapat mengalami
perubahan yang signifikan dalam upaya penegakan hukum pajak.
J. HakWajib Pajak
Rochmat Soemitro (1986;91) merigatakan bahwa ber-
dampingan dengan kewajiban adalah hak. Wajib pajak mempunyai
hak yang wajib diindahkan oleh pihak administrasi pajak. Hak-
hak wajib pajak dapat digunakan atau dimanfaatkan pada saat-saat
tertent u. Jika hak-haknya dilanggar oleh pihak administrasi pajak,
wajib pajak dapat mengajukan masalah ini ke hadapan pejabat
at asan orang yang melanggar haknya, atau bila perlu, mengajukan-
nya ke hadapan peradilan administrasi (sekarang lembaga peradilan
pajak) .
Hak wajib pajak tidak berbeda dengan kewajibannya karena
hak wajib pajak diatur bukan hanya dalam satu Undang-undang
Pajak, melainkan tersebar dalam berbagai Undang-undang Pajak.
Undang-undang Pajak yang mengatur tentang hak wajib pajak
merupakan Undang-undang Pajak dalam kategori sebagai bagian
dari hukum pajak formal. Adapun hak wajib pajak sebagaimana
yang tersebar dalam Undang-undang Pajak, antara lain sebagai
berikut.
1. Memperoleh nomor pokok wajib pajak atau keputusan
pengukuhan pengusaha kena pajak pada saat setelah rnelapor-
kan diri ke kantor Direktorat Jenderal Pajak.
2. Mengajukan permohonan penundaan penyampaian surat
pemberitahuan kepada pejabat pajak.
Jika permohonan itu dikabulkan, wajib pajak diberi kesempatan
untuk memperpanjang jangka waktu penyampaian surat
pemberitahuan.
3. Menerima tanda bukti pemasukan surat pemberitahuan.
Surat pemberitahuan yang dimasukkan oleh wajib pajak dan
dianggap telah lengkap, wajib pajak diberi tanda bukti
penerimaan dari pejabat yang ditunjuk.
84
Pembaruan HukumPajak BAB 4: Wajib Pajak 85
86
Pembaruan Hukum Pajak SAS 4: Wajib Pajak
87
4. Melakukan pernbetulan sendiri surat pemberitahuan yang telah
dimasukkan.
[angka waktu untuk melakukan pembetulan surat pem-
beritahuan adalah dua tahun sesudah berakhirnya masa pajak,
bagian tahun pajak atau tahun pajak, dengan syarat bahwa
pejabat pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan.
5. Mengajukan permohonan angsuran atau penundaan pem-
bayaran pajak sesuai dengan kemampuannya.
Iika permohonan itu dikabulkan, wajib pajak diberi kesempatan
untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak termasuk
kekurangan pembayaran, paling lama dua belas bulan yang
pelaksanaannya ditetapkan dengan keputusan pejabat pajak.
6. Menerima tanda bukti setoran pajak sebagai bukti bahwa wajib
pajak telah mernbayar lunas pajak yang terutang.
7. Mengajukan permohonan perhitungan atau pengembalian
kelebihan pembayaran pajak serta memperoleh kepastian
ditetapkannya surat keputusan pengembalian kelebihan pajak.
8. Mengajukan permohonan pembetulan salah tulis atau salah
hitung yang terdapat dalam surat ketetapan pajak dalam
penerapan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Atas permohonan tersebut, pejabat pajak dalam jangka waktu
dua belas bulan sejak tanggal permohonan diterima harus
memberi keputusan atas permohonan pembetulan. Jika batas
waktu tersebut terlampaui, pejabat pajak tidak menerbitkan
suatu keputusan, permohonan pembetulan yang diajukan
dianggap diterima;
9. Mengajukan permohonan pengurangan atau penghapusan
sanksi administrasi berupa bunga, denda, atau kenaikan.
10. Menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk
memenuhi kewajiban dan menjalankan haknya menurut
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
11. Mengajukan surat keberatan dan mohon kepastian terbitnya
surat keputusan atas surat keberatannya.
Keberatan wajib pajak mutlak ada surat keputusan keberatan
yang diterbitkan oleh pejabat pajak untuk memberi kepastian
hukum berupa diterima atau ditolak keberatan tersebut.
12. Mengajukan permohonan banding atas surat keputusan
keberatan pada Pengadilan Pajak.
Jika surat keputusan keberatan itu memuat materi yang
merugikan wajib pajak, surat keputusan keberatan itu dapat
diajukan banding pada Pengadilan Pajak untuk memohon
keadilan mengenai sengketanya.
13. Mengajukan gugatan terhadap tindakan pejabat pajak seperti
menerbitkan surat tagihan pajak, dan lain-lain pada Pengadilan
Pajak untuk memohon keadilan atas kesewenang-wenangan
dalam menjalankan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
14. Menunjuk kuasa hukum untuk mewakili dalam persidangan,
baik di Lembaga Keberatan, Pengadilan Pajak, maupun
Mahkamah Agung.
Hak-hak wajib pajak sebagaimana tersebut di atas tidak secara
limitatif diatur dalam satu ketentuan tertentu, melainkan tersebar
dalam Undang-undang Pajak yang memuat ketentuan yang bersifat
formal. Hak-hak wajib pajak tidak boleh diabaikan atau
dikesampingkan untuk tidak dikabulkan pejabat pajak yang telah
melakukan perbuatan melanggar hukum atas tidak dipenuhinya
hak-hak waj ib pajak, boleh dipersoalkan di hadapan hukum.
K. Penanggung Pajak
Dalam hukum pajak dikenal istilah penanggung pajak, selain
wajib pajak maupun pemotong atau pemungut pajak. Penanggung
pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas
pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hakdan memenuhi
kewajiban wajib pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan. Sebenarnya penanggung pajak bukan merupakan wajib
pajak, melainkan hanya menggantikan kedudukan wajib pajak
untuk membayar lunas pajak yang terutang dari wajib pajak.
Sekalipun terjadi pergantian kedudukan dar i wajibpajak kepada
penanggung pajak, secara materiil tanggung jawab pe1unasan
jum1ah pajak yang terutang tetap berada da1am tanggung jawab
wajib pajak yang bersangkutan.
Wajib pajak sebagai subjek hukum memiliki kewajiban dan
hak untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan da1amhukum pajak.
Kadangka1awajibpajak tidak mampu me1aksanakan kewajiban dan
haknya sehingga dapat diwakilkan kepada pihak lain sebagai
penanggung pajak tanpa memerlukan surat kuasa khusus untuk
me1akukan perbuatan hukum. Wajib pajak yang boleh diwakili oleh
penanggung pajak ada1ah wajib pajak berada da1am kedudukan
sebagai :
1. anak yang be1um dewasa dan be1um nikah diwaki1i 01eh
wa1inya;
2. orang tidak sehat (gila atau pemabuk) berada da1am
pengampuan diwaki1i 01eh pengampunya;
3. orang berada da1am kurate1e diwakili 01eh kuratornya;
4. badan diwakili oleh direksi atau pengurusnya, termasuk da1am
pengertian pengurus ada1ahorang yang secara nyata memiliki
wewenang ikut menentukan kebijaksanaan dan atau meng-
ambil keputusan da1ammenjalankan perusahaan.
5. badan yang dinyatakan pailit, badan dalam pembubaran atau
likuidasi, 01eh kurator atau likuidator, atau orang atau badan
yang dibebani untuk melakukan pemberesan;
6. suatu warisan yang belum terbagi oleh sa1ah seorang ahli
warisnya, pe1aksa na wasiatnya atau yang mengurus harta
peningga1annya.
Pada hakikatnya, penanggung pajak bukan merupakan wajib
pajak, berarti yang memiliki utang pajak ada1ahwajib pajak bukan
penanggung pajak. Keterlibatan penanggung pajak untuk membayar
lunas utang pajak yang dimiliki oleh wajib pajak hanya sekadar
tanggung jawab. Akan tetapi, ketentuan-ketentuan dalam UU
PPDSP yang menjadi sasaran penagihan secara paksa hanya
penanggung pajak, sedangkan wajib pajak terlepas dari jangkaun
hukum. Seyogianya ketentuan-ketentuan da1am UU PPDSP agar
mencantumkan kata "wajib pajak atau penanggung pajak" da1am
ti ap ketentuannya. Bagaimana ha1nya ka1au wajib pajak tidak
memiliki penanggung pajak, sedangkan ketentuan da1am UU
PPDSP hanya menggunakan kata "penanggung pajak". Berarti
ketentuan tersebut merupakan ketentuan yang hanya di atas kertas
dan tidak dapat diterapkan.
89
BAB 4: Wajib Pajak
Pembaruan Hukum Pajak
88
91
Pejabat Pajak
A. Pendahuluan
Sebelum dilakukan pembaruan pajak tax reform pada tahun
1983, selalu terdengar ucapan atau sebutan tentang fiskus (fiscus)
dalam hubungan dengan perpajakan. Setelah dilakukan pembaruan
pajak, sebutan fiskus masih perlu dipertahankan atau dilakukan
pula pergantian yang tepat penggunaannya. Istilah fiskus menurut
Chidir Ali (1993;3 I) berasal dari bahasa latin, yang berarti keranjang
yang berisi uang atau kantong uang. Dengan kata lain, fiskus adalah
suatu keranjang uang, yang bertalian dengan perbendaharaan atau
pendapatan. Oleh karena itu, jika diteruskan ialah yang ber-
hubungan dengan uang atau urusan-urusan keuangan pada
umumnya.
Selanjutnya, dikatakan oleh Chidir Ali (1993;31-32) bahwa
dahulu kala, pada zaman raja-raja Romawi berkuasa, kata fiskus
tersebut dimaksudkan dengan kantong raja, kemudian kata fiskus
ini diartikan dan diidentifikasi dengan kas negara sebab pada abad-
abad pertengahan tidak ada perbedaan pengertian antara kas raja
dengan kas negara sehingga mempuyai arti keranjang uang negara,
bukan dalam arti pengertian negara tingkat sekarang ini, melainkan
dalam pengertian negara masih bertipe monarkhi di mana persoalan
92
93 Pembaruan Hukum Pajak
keuangan sepenuhnya ada di tangan raja . Raja ini memiliki suatu
tempat atau wadah, yaitu keranjang untuk uang . Di samping itu,
raja juga memungut pajak in natura yang berupa hasil-hasil bumi .
Iadi, persoalan pemasukan dan pengeluaran uang untuk per-
belanjaan negara it u menjadi persoalan raja sendiri .
Lebih lanjut, Chidir Ali (1993;32) mengatakan bahwa dengan
timbulnya kebiasaan, maka fiskus diidentikkan dengan kas negara,
yang bahkan akhir-akhir ini karena kas negara hanya dapat diisi
dengan uang rakyat, fiskus itu pun diidentikkan dalam pengertian
alat-alat negara yang diberi tugas memasukkan uang rakyat itu. Iadi,
pengertian tentang fiskus ini telah dipribadikan, serta dianggap sebagai
pendukung kewajiban dan hak. Anggapan yang seperti ini lain tidak
merupakan anggapan teori organ seperti yang dikemukakan oleh
Cicero, yang menyatakan negara dengan individu dan menganggap
negara sebagai semangat yang menjiwai tubuh manusia. Pendeknya
pada pengertian dewasa ini, seluruh aparaturperpajakan sebagai wakil
negara yang disebut fiskus.
Jelaslah bahwa penggunaan kata fiskus tertuju pada pejabat
pajak yang memiliki wewenang, kewajiban, dan larangan dalam
rangka pelaksanaan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Akan tetapi, Undang-undang Pajak yang memuat ketentuan formal,
baik UU KUp, UU PBB, UU BPHTB, UU PDRD, UU PPDSp, dan
UU PENJAK tidak mengatur secara tegas siapa sebenarnya yang
dimaksud dengan pejabat pajak. Sekalipun pejabat pajak tidak diatur
secara tegas Undang-undang Pajak, dalam UU PENJAKditemukan
suatu ket entuan yang mengatur tentang "pejabat yang berwenang".
Ketentuan itu terdapat pada Pasal 1 angka 1 UU PENJAK, bahwa
pejabat yang berwenang adalah DirekturJenderal Pajak, DirekturJenderal
Bea dan Cukai, gubernur, bupati/walikota, atau pejabat yang ditunjuk
untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Berdasarkan ketentuan ini, pejabat yang berwenang adalah:
BAB 5: Pejabat Pajak
1. Direktur Jenderal Pajak;
2. Direktur Ienderal Bea dan Cukai ;
3. gubernur dan bupati/walikota; atau
4. pejabat yang ditunjuk untuk melaksanakan peraturan
perundang-undangan perpajakan.
Direktur Jenderal Pajak sebagai pejabat yang berwenang karena
dit ugasi mengelola pajak negara sehingga memiliki wewenang,
kewajiban, dan larangan dalam melakukan pengelolaan pajak
negara. Terhadap Direktur jenderal Bea dan Cukai sebagai pejabat
yang berwenang karena ditugasi mengelola Bea dan Cukai, memiliki
wewenang, kewajiban, dan larangan dalam melakukan pengelolaan
Bea dan Cukai. Gubernur dan bupati/walikota sebagai pejabat yang
berwenang karena ditugasi mengelola pajak daerah provinsi dan
bupati/walikota karena ditugasi mengelola pajak daerah kabupaten/
kota yang memiliki wewenang, kewajiban, dan larangan dalam
melakukan pengelolaan pajak daerah tersebut. Kernudian, pejabat
yang ditunjuk untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan
perpajakan sebagai pejabat yang berwenang hanya sekadar untuk
membant u pelaksanaan tugas yang dibebankan oleh Direktur
[e nderal Pajak, Direktur Bea dan Cukai , serta gubemur dan bupati/
walikota, baik dalam bentuk delegasi maupun mandat.
Penyebutan sebagai pejabat yang berwenang terhadap Direktur
Jenderal Pajak, Direktur jenderal Bea dan Cukai , gubernur, dan
bupati/walikota, atau pejabat yang ditunjuk untuk melaksanakan
perat uran perundang-undangan perpajakan tidak tepat karena yang
dikelola adalah pajak negara dan pajak daerah. Kalau demikian
halnya, sebutan yang tepat digunakan adalah "pejabat pajak" yang
memiliki wewenang, kewajiban, dan larangan yang bersumber dari
hukum pajak. Selain itu, pejabat pajak digunakan untuk mernbeda-
kan dengan pejabat tata usaha negara sebagai pihak yang memiliki
wewenang, kewajiban, dan larangan yang terkait dengan ketetapan
B. Wewenang Pejabat Pajak
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa Direktur Ienderal
Pajak sebagai pejabat pajak yang berwenang mengelola pajak negara
memiliki wewenang, kewajiban, dan larangan yang berbeda dengan
pejabat pajak yang mengelola pajak daerah. Hal ini disebabkan
karena wewenang, kewajiban, dan larangan pejabat pajak yang
mengelola pajak negara banyak tersebar dalam Undang-undang
Pajak, seperti UU KUp, UU PBB, dan UU BPHTB. Sementara itu,
wewenang, kewajiban, dan larangan pejabat pajak yang mengelola
pajak daerah, baik pajak daerah provinsi maupun pajak daerah
kabupat en/kot a hanya terdapat dalam UU PDRD.
pajak sebagaimana yang digunakan dalam hukum administrasi.
Walaupun keduanya sebagai administrasi negara, pejabat pajak
dengan pejabat rat a usaha negara memiliki perbedaan mengenai
wewenang, kewajiban, dan larangan. Perbedaan itu disebabkan
karena peraturan perundang-undangan yang dilaksanakan berbeda
pula .
Pejabat yang ditunjuk oleh pejabat pajak untuk melaksanakan
peraturan perundang-undangan perpajakan adalah Kepala Kantor
Pelayanan Pajak (meliputi Pajak Penghasilan. Pajak Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah), Kepala Kantor
Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (terrnasuk Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan), Kepala Kantor Bea dan Cukai, serta
Kepala Dinas Pendapatan Daerah yang meliputi provinsi dan
kabupaten/kota. Pejabat yang ditunjuk oleh pejabat pajak hanya
berwenang, berkewajiban, dan menaati larangan dalam melaksana-
kan peraturan perundang-undangan perpajakan berdasarkan
pelimpahan wewenang, baik bersifat delegasi maupun mandat.
Dengan demikian, penunjukan pejabat untuk melaksanakan
peraturan perundang-undangan perpajakan merupakan per-
panjangan tangan dari pejabat pajak agar sasaran dapat tercapai.
95
SAS 5: Pejabat Pajak
1. Menerbitkan Surat Ketetapan Pajak
Pejabat pajak berwenang menerbitkan surat ketetapan pajak
dalam kait annya den gan penyetoran dan penagi han pajak, baik
pajak negara (kecuali Bea Met er ai, Bea Masuk dan Cukai) maupun
pajak daerah. Surat ket et apan pajak adalah surat ket etapan yang
meliputi surat ketetapan pajak kurang bayar, surat ket etapan pajak
kurang bayar tarnbahan, surat ketet apan pajak lebih bayar, atau
surat ketetapan pajak nihi l. Surat ketetapan pajak yang dit erbitkan
oleh pejabat pajak karena kewenangannya sebagai pengelol a pajak
negara tersebut terdiri dari :
a. surat ketetapan pajak kurang bayar;
b. surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan;
c. surat ketetapan pajak lebih bayar;
d. surat ketetapan pajak nihil.
Keempat jenis surat ketetapan pajak tersebut di ata s, diper-
untukkan untuk pemungutan dan penagihan pajak yang terkait
dengan Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nila i dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah, sebagaimana diatur dalam UU
KUP. Khusus terhadap pemungutan dan penagihan Pajak Bumi .
dan Bangunan, pejabat pajak yang ditugasi mengelol a pajak
negara tersebut, berwenang menerbitkan:
a. surat pemberitahuan pajak terutang;
b. surat ketetapan pajak.
Pemungutan dan penagihan Pajak Bumi dan Bangunan tidak
men genal adanya surat ketetap an paj ak kurang bayar, sur at
ketetapan pajak kurang bayar tambahan, surat ket et apan pajak lebih
bayar, dan surat ketetapan pajak nihil. Dalam arti bahwa pejabat
pajak yang ditugasi mengelola Pajak Bumi dan Bangunan tidak
menerbitkan jenis-jenis surat ket et apan pajak ters ebut di atas .
Pembaruan Hukum Pajak
94
Karena UU PBB tidak memperinci ten tang surat ketetapan pajak
sebagaimana yang terdapat dalam UU KUP dan UU BPHTB. Pada
hakikatnya Pajak Bumi dan Bangunan tidak berbeda dengan Pajak
Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
sebagai pajak negara. Perbedaannya hanya terletak pada sistem
yang dianut seperti halnya Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, serta Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan yang menganut sistemselfassessment,
sedangkan Pajak Bumi dan Bangunan hanya menganut sistem
official assessment.
Terhadap pemungutan dan penagihan Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan, pejabat pajak yang ditugasi mengelola pajak
negara tersebut berwenang menerbitkan surat ketetapan pajak yang
terkait dengan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sama
dengan yang diberlakukan pada Pajak Penghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Surat
ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang
diterbitkan oleh pejabat pajak dalam kaitan dengan pemungutan
dan penagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah:
a. surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
Kurang Bayar;
b. surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
Kurang Bayar Tambahan;
c. surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
Lebih Bayar;
d. surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
Nihil.
Sementara itu, pejabat pajak yang ditugasi mengelola pajak
daerah berwenang menerbitkan surat ketetapan pajak yang terkait
2. Menerbitkan Surat Tagihan Pajak
Surat tagihan pajak yang diterbitkan oleh pejabat pajak, baik
yang berwenang mengelola pajak negara maupun pajak daerah
bukan merupakan bagian dari surat ketetapan pajak. Surat tagihan
pajak adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan atau sanksi
administrasi berupa bunga dan atau denda. Surat tagihan pajak
dengan surat ketetapan pajak memiliki persamaan dan perbedaan
dalam penerapannya. Persamaannya adalah surat tagihan pajak
dengan pemungutan dan penagihan pajak daerah, baik pajak daerah
provinsi maupun pajak daerah kabupaten/kota sebagaimana yang
diatur dalam UU PDRD. Adapun jenis surat ketetapan pajak yang
terkait dengan pemungutan dan penagihan pajak daerah tersebut
adalah;
a. surat ketetapan pajak daerah;
b. surat ketetapan pajak daerah kurang bayar;
c. surat ketetapan pajak daerah kurang bayar tambahan;
d. surat ketetapan pajak daerah lebih bayar;
e. surat ketetapan pajak daerah nihil.
Berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut di atas, ternyata
pajak daerah memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan
Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, serta Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan. Ciri khas tersebut berupa adanya
surat ketetapan pajak daerah sehingga jumlah jenis surat ketetapan
pajak yang dapat diterbitkan oleh pejabat pajak yang ditugasi
mengelola pajak daerah sebanyak lima. Sekaliptrn terdapat per-
bedaan yang mencolok mengenai jenis surat ketetapan pajak yang
digunakan untuk melakukan pemungutan dan penagihan pajak,
tidak berarti pajak daerah tidak menganut sistem selfassessment.
97
BAB 5: Pejabat Pajak
Pembaruan Hukum Pajak
96
3. Menerbitkan Keputusan
Pejabat pajak tidak hanya berwenang menerbitkan surat
ketetapan pajak dan surat tagihan pajak, tetapi berwenang pula
menerbitkan keputusan dalam rangka pelaksanaan Undang-undang
Pajak. Keputusan dapat diterbitkan karena atas permohonan wajib
pajak maupun secara jabatan karena perintah Undang-undang
Pajak. Hal ini berlaku bagi pejabat pajak yang berwenang mengelola
pajak negara dan pajak daerah. Adapun keputusan yang dapat
diterbitkan oIeh pejabat pajak yang berwenang mengelola pajak
negara, khususnya pada Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah:
a. keputusan pengukuhan pengusaha kena pajak;
b. keputusan pengurangan ketetapan pajak;
mcrniliki kedudukan yang sama dengan surat ketetapan pajak,
bcrarti utang pajak yang tercantum dalam surat tagihan pajak
maupun dalam surat ketetapan pajak boleh ditagih dengan surat
paksa. Perbedaannya adalah surat tagihan pajak tidak boleh diajukan
keberatan, sedangkan surat ketetapan pajak dapat diajukan
keberatan.
Kewenangan pejabat pajak menerbitkan surat tagihan pajak
berlaku untuk semua jenis pajak, baik pajak negara (kecuali Bea
Meterai, Bea Masuk dan Cukai) maupun pajak daerah. Dalam arti,
surat tagihan pajak merupakan dasar penagihan Pajak Penghasilan,
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan at as Barang Mewah,
Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak at as Tanah dan
Bangunan, serta pajak daerah. Akan tetapi, dalam UU BPHTB
digunakan istilah Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan, sedangkan untuk UU PDRD digunakan istiIah Surat
Tagihan Pajak Daerah. Walaupun terdapat perbedaan dari aspek
penamaan, fungsi yang dimiliki tidak berbeda secara hukum.
99
a. keputusan penyitaan;
b. keputusan lelang;
BAB 5: Pejabat Pajak
c. keputusan pernbatalan ketetapan pajak;
d. keputusan angsuran pembayaran pajak;
e. keputusan penundaan pembayaran pajak;
f. keputusan pengurangan sanksi administrasi:
g. keputusan penghapusan sanksi administrasi;
h. keputusan pengembalian pendahuluan keIebihan pajak;
i. keputusan pemberian imbaIan bunga; atau
j. keputusan penagihan seketika dan sekaligus.
Sementara itu, untuk Pajak Bumi dan Bangunan hanya dikenaI
keputusan penunjukan subjek pajak sebagai wajib pajak terhadap
objek pajak yang tidak jeIas siapa pemiliknya. Wewenang untuk
menerbitkan keputusan itu, dalam keterkaitan pengenaan Pajak
Bumi dan Bangunan atas objek pajak yang bersangkutan, sedangkan
keputusan yang diterbitkan dalam melaksanakan UU BPHTB adalah
"Keputusan Pengembalian KeIebihan Pembayaran Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan." Hal yang sama terdapat puIa daIam
UU PDRD. Dengan demikian, UU PBB dan UU BPHTB, dan UU
PDRD sama sekali tidak mengenal keputusan sebagaimana yang
terdapat daIam UU KUP.
Selain Keputusan tersebut di atas, pejabat pajak masih ber-
wenang menerbitkan keputusan daIam kaitan penagihan pajak
dengan surat paksa. Kewenangan itu tidak termasuk daIam ruang
lingkup UU KUP, UU PBB, UU BPHTB, dan UU PDRD, meIainkan
berada dalam ruang lingkup pelaksanaan UU PPDSP. Pejabat pajak
dalam melakukan penagihan pajak dengan menggunakan surat
paksa terhadap wajib pajak atau penanggung pajak berwenang
menerbitkan berupa:
Pembaruan Hukum Pajak 8
100
Pembaruan Hukum Pajak BAB 5: Pejabat Pajak
101
c. keputusan pencegahan;
d. keputusan penyanderaan.
Keputusan pejabat pajak mengenai penagihan pajak dengan
menggunakan surat paksa diberlakukan untuk semua jenis pajak,
baik pajak negara (kecuali Bea Meterai) maupun pajak daerah.
Bila wajib pajak atau penanggung pajak membayar lunas jumlah
pajak yang terutang, termasuk sanksi administrasi dan ditambah
biaya penagihan pajak sebelum diterbitkan keputusan lelang.
Sebenarnya keputusan yang terdapat dalam UU PPDSP tidak
mutlak diterbitkan oleh pejabat pajak karena saat wajib pajak atau
penanggung pajak telah menyelesaikan kewajibannya berupa
membayar lunas jumlah pajak yang terutang termasuk sanksi
administrasi dan ditambah biaya penagihan pajak.
4. Melakukan Pemeriksaan
Pemeriksaan menurut Pasal 1 angka 24 UU KUP adalah
serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, mengolah
data dan atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam
rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan. Pemeriksaan sebagai wewenang pejabat pajak untuk
memeriksa dalam rangka mengawasi pemenuhan kewajiban
,
perpajakan yang dilaksanakan oleh wajib pajak, untuk:
a. menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan wajib
pajak;
b. tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan;
Pemeriksaan dapat dilakukan di kantor (pemeriksaan kantor)
atau di tempat wajib pajak (pemeriksaan lapangan) yang ruang
lingkup pemeriksaannya dapat meliputi tahun-tahun yang lalu
maupun tahun berjalan. Pemeriksaan dapat dilakukan terhadap
wajib pajak, termasuk terhadap instansi pemerintah dan badan lain
sebagai pemungut pajak atau pemotong pajak. Pelaksanaan
pemeriksaan dalam rangka menguji pemenuhan kewajiban
perpajakan wajib pajak dilakukan dengan menelusuri kebenaran
surat pemberitahuan, pembukuan atau pencatatan, dan pemenuhan
kewajihan perpajakan lainnya, dibandingkan dengan keadaan atau
kegiatan usaha sebenarnya dari wajib pajak.
Pejabat pajak melakukan pemeriksaan hanya tertuju pada wajib
pajak yang terikat pada Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai
dan Pajak Penjualan at as Barang Mewah serta pajak daerah.
Sebenarnya pemeriksaan pajak yang terkait dengan pembukuan
atau pencatatan tidak berlaku bagi wajib pajak yang terikat pada
Pajak Bumi dan Bangunan, serta Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan. Hal disebabkan karena wajib pajak yang terikat pada
Pajak Bumi dan Bangunan serta Bea Perolehan Hak at as Tanah dan
Bangunan tidak diwajibkan membuat atau melakukan pembukuan
atau pencatatan
Tata cara pemeriksaan diatur dengan arau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan. Salah satu bagian dari tata cara
pemeriksaan adalah mengatur tentang kewajiban menyampaikan
surat pemberitahuan hasil pemeriksaan kepada wajib pajak. Di
samping itu, memberikan kesempatan kepada wajib pajak untuk
hadir dalam pembahasan akhir temuan hasil pemeriksaan dalam
batas waktu yang ditentukan. Apabila dalam pemeriksaan ternyata
wajib pajak tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud
dalam Pasal29 ayat (3) UU KUp, penghitungan pajak penghasilan
kena pajak dilakukan secara jabatan. Dalam hal ini, pejabat pajak
tidak wajib menyampaikan surat pemberitahuan hasil pemeriksaan
kepada wajib pajak dan pemberian kesempatan kepada wajib pajak
untuk hadir dalam pembahasan akhir temuan hasil pemeriksaan
dalam batas waktu yang ditentukan.
5. Melakukan Penyegelan
Wajib pajak yang diperiksa oleh petugas pajak wajib memberi-
kan kesempatan untuk memasuki ternpat atau ruang yang
dipandang perlu dan memberi bantuan gun a kelancaran pemeriksa-
an.Iika petugas pajak beranggapan bahwa wajib pajak menghalang-
halangi kelancaran pemeriksaan, pejabat pajak berwenang
melakukan penyegelan. Penyegelan ditujukan pada ternpat atau
ruangan tertentu, barang bergerak atau barang tidak bergerak yang
digunakan atau patut diduga digunakan sebagai tempat atau alat
untuk menyimpan buku-buku, catatan-catatan, atau dokumen-
dokumen, termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang
dikelola secara elektronik atau secara program aplikasi on-line.
Penyegelan dilakukan oleh petugas pajak untuk mengamankan
atau mencegah hilangnya buku-buku, catatan-catatan, dan
dokumen-dokumen tersebut. Oleh karena itu, wajib pajak dilarang
melakukan pengrusakan penyegelan yang telah dilakukan oleh
pemeriksa pajak, termasuk memindahtangankan barang-barang
yang telah disegel. Terkecuali pada saat itu terjadi keadaan yang
sifatnya memaksa (force majeur) sehingga memerlukan ternpat yang
dipandang aman dari gangguan, misalnya terjadi kebakaran atau
terjadi banjir yang dapat merusak barang-barang yang telah disegel.
Wewenang untuk melakukan penyegelan hanya ditujukan
kepada wajib pajak yang terikat pada Pajak Penghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Sebenarnya penyegelan yang dilakukan oleh pejabat pajak karena
wajib pajak tersebut tidak mematuhi ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, terhadap wajib pajak yang terikat pada Pajak Bumi
dan Bangunan serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
tidak dilakukan penyegelan karena tidak diatur dalam UU PBBdan
UU BPHTB. Demikian pula halnya dalam UU PDRD yang tidak
mengatur tentang penyegelan sehingga wajib pajak yang terikat
103
102 Pembaruan Hukum Pajak BAB 5: Pejabat Pajak
pada pajak daerah tidak akan dilakukan penyegelan oleh pejabat
pajak. I
6. Mengangkat Pejabat untuk Melaksanakan
Peraturan Perundang-undangan Perpajakan
Pejabat pajak tidak hanya berwenang menerbitkan surat
ketetapan pajak, surat tagihan pajak, keputusan, dan termasuk
pembetulannya, tetapi berwenang pula mengangkat pejabat untuk
melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Pengangkatan pejabat dimaksudkan agar terdapat efisiensi kerja
untuk lebih memantapkan pelaksanaan peraturan perundang-
undangan perpajakan sebagai tanggung jawabnya. Pejabat yang
diangkat untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan
perpajakan merupakan pembantu bagi pejabat pajak yang meng-
angkatnya.
DirekturJenderal Pajak, sebagai pejabat pajak yang mengelola
pajak negara, berwenang mengangkat pejabat untuk melaksanakan
peraturan perundang-undangan perpajakan di bidang pajak negara.
Sebagai contoh, peraturan perundang-undangan di bidang Pajak
Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, serta Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan yang memberi peluang bagi pejabat
pajak untuk mengangkat pejabat yang dimaksud. Pejabat yang boleh
diangkat adalah mereka yang berstatus pegawai negeri sipil dalam
lingkungan Direktorat [enderal Pajak, seperti Kepala Kantor
Pelayanan Pajak yang meliputi Pajak Penghasilan, Pajak Per-
tambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, serta
Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan termasuk Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Kernudian, Direktur
Jenderal Bea dan Cukai sebagai Pejabat Pajak yang mengelola Bea
Masuk dan Cukai, berwenang pula mengangkat pejabat untuk
melaksanakan peraturan perundang-undangan di bidang pabean
dan cukai . Pejabat yang diangkat adalah mereka yang berstatus
sebagai pegawai negeri sipil dalam lingkungan Direktorat Bea dan
Cukai, seperti Kepala Kantor Bea dan Cukai , dan lain-lain. Begitu
pula, gubernur, bupati/walikota sebagai pejabat pajak yang
mengelola pajak daerah, berwenang pula mengangkat pejabat
untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan di bidang
pajak daerah. Pejabat yang diangkat adalah mereka yang berstatus
pegawai negeri sipil dalam lingkungan Departemen Dalam Negeri,
seperti Kepala Dinas Pendapatan Daerah, dan lain-lain.
Pejabat yang diangkat untuk melaksanakan peraturan per-
undang-undangan perpajakan berwenang melaksanakan tugas
sebagaimana yang ditugaskan dalam surat pengangkatannya.
Pejabat yang diangkat harus bertanggung jawab kepada pejabat
pajak yang mengangkatnya karena kewenangan yang dimiliki hanya
berdasarkari mandat yang setiap saat wajib dipertanggungjawabkan
kepada si pemberi mandat. Wewenang yang harus dilaksanakan
adalah wewenang yang dimandatkan dalam surat pengangkatannya
sebagai pejabat yang melaksanakan peraturan perundang-undangan
perpajakan. Sekalipun wajib bertanggung jawab kepada si pemberi
mandat, pejabat yang diangkat tidak boleh tidak wajib rnelaksana-
kan wewenang yang dipercayakan kepadanya untuk melaksanakan
peraturan perundang-undangan perpajakan.
Wewenang pejabat pajak mengangkat pejabat untuk melak-
sanakan peraturan perundang-undangan perpajakan tidak hanya
dikenal dalam UU KUp, melainkan terdapat dalam UU PBB, UU
BPHTB, UU PDRD, dan UU PPDSP. Pejabat pajak yang mengelola
Pajak Daerah berwenang mengangkat pejabat yang ada di daerah,
seperti Kepala Dinas Pendapatan Daerah sebagai pejabat untuk
melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan di bidang
pajak daerah.
105
104
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 5: Pejabat Pajak
7. Mengangkat Petugas Pajak
Selain pejabat yang diangkat untuk melaksanakan peraturan
perundang-undangan perpajakan, pejabat pajak (Direktur Jenderal
Pajak) berwenang pula mengangkat petugas pajak. Petugas pajak
tidak selalu harus dari lingkungan Direktorat Jenderal Pajak,
melainkan diperbolehkan berasal dari luar lingkungan Direktorat
jenderal Pajak. Oleh karena itu, petugas pajak boleh berstatus
sebagai pegawai negeri sipil dalam lingkungan Departernen
Keuangan atau Departemen Dalam Negeri . Selain itu , boleh pula
tidak berstatus sebagai pegawai negeri sipil, misalnya konsultan
pajak, akuntan publik, dan sebagainya. Pengangkatan petugas pajak
dilakukan oleh pejabat pajak untuk memperlancar pelaksanaan
peraturan perundang-undangan perpajakan.
Petugas pajak yang berasal dari Direktorat Jenderal Pajak
melaksanakan tugas tertentu untuk memberi pelayanan secara
maksimal kepada wajib pajak agar tidak mengalami kesulitan atau
hambatan untuk melaksanakan hak dan memenuhi kewajibannya.
Dalam pelaksanaan tugasnya, petugas pajak tidakboleh melanggar
hak-hak wajib pajak. Adapun tugas yang wajib dilaksanakan oleh
petugas pajak yang berasal dari lingkup Direktorat jenderal Pajak
adalah:
a. menghitung dan menetapkan pajak yang terutang;
b. memberi surat setoran pajak;
c. melakukan pemeriksaan.
Sebagai contoh, pelaksanaan tugas oleh petugas pajak yang
berasal dari lingkungan Direktorat Jenderal Pajak adalah sebagai
berikut.
a. Apabila petugas pajak dalam menghitung atau menetapkan
pajak tidak sesuai dengan Undang-undang Pajak yang berlaku
sehingga merugikan negara, petugas pajak yang bersangkutan
8. Mengangkat Juru Sita Pajak
Bukan hanya petugas pajak yang boleh diangkat oleh pejabat
pajak, tetapi termasuk pula juru sita pajak untuk melaksanakan
peraturan perundang-undangan per pajakan, khu susnya peraturan
perundang-undangan di bidang penagihan pajak dengan sur at
paksa. juru sita pajak men uru t Pasal 1 angka 6 UU PPDSP adalah
pelaksana tind akan penagiha n pajak yang meIiputi penagihan
seketika dan sekaligus, pemberi tahuan surat paksa, penyitaan, dan
penyand eraan. Dengan dernikian, t ugas yang melekat pada juru
dapat dikenakan sanksi ses uai dengan ketentuan peraturan
peru ndang-undangan yang berlaku.
b. Petugas paj ak yang den gan sengaja menyalahgunakan
wewenang dan atau melanggar hak-hak wajib pajak yang diatur
dalam peraturan perundang-undangan perpajakan, dapat
diadukan ke unit Internal Depart emen Keuangan.
Berdasarkan contoh ters ebut di at as, petugas pajak perlu
meningkatkan diri dalam rangka membe rikan pelayanan kepada
wajib paj ak, khususnya mengenai cara menghitung dan atau
menetapkan jumlah pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak. Jika
dalam pelaksanaan tugas, terdapat kerugia n pada keuangan negara,
petugas pajak dapat dikenakan sanksi hukum sesuai undang-
undang yang berlaku. Misalnya, mengganti kerugian yang dialami
oleh negara dan/atau sanksi yang berhubungan dengan tindak
pidana korupsi ,
Petugas pajak yang tidak ber status pegawai negeri sipil berarti
bukan ber asal dari Iingkungan Direktorat [enderal Pajak hanya
diangkat oleh peja bat pajak (Direktur [enderal Pajak) untuk
membantu pelaks anaan perat uran perundang-undangan perpaja-
kan. Mereka yang diangkat sebagai petugas pajak adaIah ahIi bahasa,
akuntan, konsu ltan pajak, pengacara, dan lain-lain.
106
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 5: Pejabat Pajak 107
sita pajak bersumber dar i UU PPDSP untuk melakukan penagihan
seketika dan sekaligus, menyamp aikan sura t paksa, penyitaan, dan
penyanderaan.
Dalam hukum pajak, juru sita pajak meliputi juru sita pajak
bagi pajak negara dan jur u sit a pajak bagi pajak daerah. juru sita
pajak bagi pajak negara diangkat dan diberhentikan oleh pejabat
pajak yang ditugasi mengelal a pajak negara dan juru sita pajak
bagi pajak daerah diangkat dan diberhentikan oleh pejabat pajak
yang ditugasi mengelola pajak dae rah. Keberadaannya merupakan
kon sekuensi dari pembagian paj ak berdasarkan kewenangan
penagihannya yang meIiputi pajak negara dan pajak daerah.
Pelaksanaan tugas juru sita pajak bagi pajak negara dan juru sita
pajak bagi pajak daerah tidak terjadi tumpah tindih karena jenis
pajak yang ditagih dengan surat paksa berbeda sama sekali sehingga
boleh berbarengan melakukan penagihan pajak secara paksa kepada
wajib pajak atau penanggung pajak agar memenuhi kewajibannya
sebagaimana yang telah dit entukan.
Sebelumjuru sita pajak memangku jabatannya, terlebih dahulu
mengucapkan sumpah at au janji menurut agama atau kepercayaan
di hadapan pejabat pajak yang mengangkatnya. Pengucapan sumpah
at au janji yang didasarkan at as agama atau kepercayaan juru sita
pajak tid ak hanya sekadar diucapkan melainkan mengikat secara
hukum dalam pelaksanaan tugas. Melanggar sumpah atau janji
berarti melakukan suatu pelanggaran hukum yang berakhir pada
pengenaan hukuman, baik hukuman disipIin maupun hukuman
badan.
Sumpah at au janji yang diucapkan oleh juru sita pajak
merupakan suatu manifestasi kerja untuk melakukan perbuatan
hukum dengan tidak melanggar hukum. Sumpah atau janji juru
sita pajak sebagaimana diatur pada Pasal 4 UU PPDSP adalah
sebagai berikut:
juru sita pajak melaksanakan tugas di wilayah kerja pejabat
pajak yang mengangkatnya, kecuali ditetapkan lain oleh Menteri
Keuangan. Hal ini berarti bahwa pelaksanaan tugas juru sita pajak
tidak selalu berdasarkan wilayah kerja pejabat pajak yang meng-
angkatnya karena boleh saja di wilayah kerja lain yang ditentukan
oleh Menteri Keuangan. Dengan demikian, penempatan juru sita
pajak merupakan wewenang Menteri Keuangan, sedangkan
penempatan juru sita pajak bagi pajak daerah dilakukan oleh
gubernur atau bupati/walikota.
Setelah juru sita pajak diambil sumpah atau janji oleh pejabat
pajak yang mengangkatnya, juru sita pajak harus melaksanakan
tugas, antara lain:
a. melaksanakan surat perintah penagihan seketika dan sekaligus;
b. menyampaikan dan memberitahukan surat paksa;
c. melaksanakan penyitaan atas barang-barang wajib pajak
maupun penanggung pajak berdasarkan surat perintah
penyitaan;
d. melakukan penyanderaan atas diri wajib pajak atau penang-
gung pajak berdasarkan surat perintah penyanderaan.
Untuk memperlancar pelaksanaan tugas juru sita pajak,
terleb ih dahulu harus dilengkapi dengan kartu tanda pengenal
sebagai juru sita pajak dan harus diperlihatkan kepada wajib pajak
maupun penanggung pajak. Fungsi kartu tanda pengenal juru sita
pajak sebagai kartu identitas untuk memudahkan pelaksanaan tugas
yang diembannya, agar wajib pajak maupun penanggung pajak tidak
ragu-ragu terhadap juru sita pajak yang bersangkutan. Sebaliknya,
kartu tanda pengenal tersebut sebagai upaya untuk mencegah agar
juru sita pajak tidak melakukan perbuatan melanggar hukum
terhadap wajib pajak maupun penanggung pajak. Misalnya,
melakukan kompromi pajak dan bahkan melakukan tindak pidana
korupsi di bidang perpajakan karena menyalahgunakan jabatannya
sebagai juru sita pajak.
Dalam melaksanakan tugasnya, juru sita pajak berwenang
memasuki dan memeriksa semua ruangan termasuk membuka
lemari, laci, dan tempat lain untuk menemukan objek sita di tempat
usaha dan melakukan penyitaan di tempat kedudukan, atau di
tempat tinggal wajib pajak maupun penanggung pajak, atau di
tempat lain yang dapat diduga sebagai tempat penyimpanan objek
sita. Selain itu, dalam pelaksanaan tugasnya, juru sita pajak dapat
meminta bantuan kepada kepolisian, kejaksaan, Departemen
Hukum dan Hak Asasi Manusia, pemerintah daerah seternpat,
Badan Pertanahan Nasional, Direktorat Ienderal Perhubungan Laut,
Pengadilan Negeri, bank atau pihak lain. Tujuannya adalah untuk
mendapatkan kemudahan dalam melaksanakan tugas dalam upaya
menegakkan hukum pajak bagi wajib pajak maupun penanggung
pajak yang tidak menaati ketentuan pelaksanaan surat paksa.
108
Pembaruan Hukum Pajak
"Saya bersumpah/berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa saya, untuk
memangku jabatan saya ini, langsung atau tidak langsung, dengan
menggunakan nama atau cara apa pun juga, tidak memberikan atau
menjanjikan barang sesuatu kepada siapa pun juga. Saya bersumpah/
berjanji bahwa saya, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu
dalam jabatan saya ini, tidak sekali-kali akan menerima langsung atau
tidak langsung dari siapa pun juga sesuatu janji atau pemberian. Saya
bersumpah/berjanji bahwa saya akan setia kepada dan akan memper-
tahankan serta mengamalkan Pancasila sebagai Dasar Negara, Undang-
Undang Dasar 1945, dan segala undang-undang dan serta yang berlaku
bagi negara Republik Indonesia. Saya bersumpah/berjanji bahwa saya
senantiasa akan menjalankan jabatan saya ini dengan jujur, saksama
dan dengan tidak membeda-bedakan orang dalam melaksanakan
kewajiban saya dan akan berlaku sebaik-baiknya dan seadil-adilnya
seperti layaknya bagi seorang juru sita pajak yang berbudi baik dan
jujur, menegakkan hukum dan keadilan".
BAB 5: Pejabat Pajak
109
c. Kewajiban Pejabat Pajak
Pejabat pajak tidak hanya memiliki wewenang, tetapi juga
memiliki kewajiban dalam rangka pelaksanaan peraturan per-
undang-undangan perpajakan. Kewajiban pejabat pajak merupakan
bagian dari penegakan hukum pajak dan tersirat di dalamnya berupa
perlindungan hukum wajib pajak. Jika kewajiban tersebut tidak
dilaksanakan tepat pada waktu yang ditentukan, diberikan imbalan
bunga sebagai kompensasi kerugian yang dialami oleh wajib pajak.
Kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pejabat pajak adalah
menerbitkan surat keputusan, baik karena jabatan maupun karena
permohonan wajib pajak, seperti berikut ini.
1. Memberi Keterangan Tertulis
Wajib pajak kadangkala mengalami kesulitan untuk mengaju-
kan keberatan karena tidak didukung oleh keterangan yang boleh
membenarkan mengenai keberatannya. Apabila, timbul keraguan
ketidaksempurnaan surat keberatannya, wajib pajak berhak
mengajukan permohonan kepada pejabat pajak untuk meminta
keterangan tertulis hal-hal yang menjadi dasar pengenaan pajak,
penghitungan rugi, pemotongan atau pemungutan pajak. Hal ini
didasarkan pada Pasa125 ayat (6) UU KUPyang menegaskan apabila
diminta oleh wajib pajak untuk keperluan pengajuan keberatan,
Direktur jenderal Pajak wajib memberikan keterangan secara
tertulis hal-hal yang menjadi dasar pengenaan pajak, penghitungan
rugi, pemotongan, atau pemungutan pajak.
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasa125 ayat (6) UU
KUP terdapat pula pada Pasal 15 ayat (5) UU PBB dan Pasal 16
ayat (6) UU BPHTB. Hal ini berarti bahwa hukum pajak tetap
menjamin perlindungan hukum wajib pajak. jiwa wajib pajak
merasa kekurangan keterangan, wajib pajak berhak mengajukan
permohonan untuk meminta keterangan-keterangan yang dianggap
111
BAB 5: Pej abat Pajak
perlu untuk melengkapi surat keberatannya. Pejabat pajak yang
mengelola pajak negara berkewajiban memberi keterangan-
keterangan yang diperlukan. Lain halnya bagi pejabat pajak yang
mengelola pajak daerah tidak berkewajiban memberi keterangan-
keterangan yang terkait pengajuan keberatan yang dilakukan oleh
wajib pajak karena tidak diatur dalam UU PDRD.
Demikian pula halnya terhadap kesulitan yang dialami wajib
pajak untuk mengajukan permohonan banding, wajib pajak berhak
mengajukan permohonan tertulis untuk meminta keterangan
tertulis hal-hal yang menjadi dasar terbitnya keputusan keberatan.
Hal ini didasarkan bahwa apabila diminta oleh wajib pajak untuk
keperluan pengajuan permohonan banding, Direktur jenderal Pajak
wajib memberikan keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi
dasar diterbitkannya keputusan keberatan.
Bilawajib pajak merasa tidak puas atas keputusan pembetulan
yang diterbitkan oleh pejabat pajak wajib pajak berhak mengajukan
permohonan untuk meminta hal-hal yang menjadi dasar menolak
atau menerima sebagian permohonan wajib pajak. Hal ini didasar-
kan bahwa apabila diminta oleh wajib pajak, pejabat pajak wajib
memberikan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar menolak
atau menerima sebagian permohonan wajib pajak. Keputusan
pembetulan yang diterbitkan oleh pejabat pajak yang ditugasi
mengelola pajak negara hanya mengenai:
a. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa
bunga, denda, dan kenaikan yang terutang menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan dalam hal sanksi
tersebut dikenakan karena kekhilafan wajib pajak atau bukan
karena kesalahannya;
b. mengurangkan atau membatalkan surat ketetapan pajak yang
tidak benar;
PembaruanHukumPajak
110
c. mengurangkan atau mernbatakan surat tagihan pajak yang
tidak benar;
d. membatalkan hasil pemeriksaan pajak atau surat ketetapan
. pajak dari hasil pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa:
1) penyampaian surat pemberitahuan hasil pemeriksaan;
2) pembahasan akhir dengan wajib pajak.
Hakikat yang terkandung di dalamnya bertujuan agar wajib
pajak dapat mengetahui unsur keadilan keputusan pembetulan yang
diterbitkan oleh pejabat pajak yang didasarkan atas permohonan
wajib pajak. Di samping itu, terdapat pula suatu bentuk per-
lindungan hukum wajib pajak kalau terdapat kesewenang-
wenangan yang dilakukan oleh pejabat pajak yang mengelola pajak
negara dalam melakukan pembetulan, baik karena berdasarkan
jabatannya maupun karena atas permohonan wajib pajak.
2. Menerbitkan Keputusan Pembetulan
Dalam praktik, kadangkala pejabat pajak menerbitkan surat
ketetapan pajak, surat tagihan pajak, atau keputusan yang tidak
benar karena ketidaktelitian sehingga membebani kewajiban bagi
wajib pajak yang tidak bersalah. Atau, wajib pajak sendiri melaku-
kan kesalahan dalam pemenuhan kewajiban berupa memasukkan
surat pemberitahuan kepada pejabat pajak. Oleh karena itu, hukum
pajak menyediakan sarana hukum bagi pejabat pajak untuk
membetulkan surat ketetapan pajak, surat tagihan pajak, atau
keputusan yang telah diterbitkan, baik karena secara jabatannya
maupun karena permohonan wajib pajak. Kalau pejabat pajak
membetulkan surat ketetapan pajak, surat tagihan pajak, atau
keputusan berdasarkan jabatannya, keputusannya tidak terikat pada
jangka waktu kapan hendak ditetapkannya. Berbeda halnya kalau
dengan permohonan wajib pajak, pejabat pajak terikat pada jangka
waktu yang ditentukan untuk membetulkan surat ketetapan pajak,
surat tagihan pajak, atau keputusan yang telah diterbitkan.
Pejabat pajak yang ditugasi mengelola pajak negara, khususnya
Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah berwenang melakukan pembetulan atas
permohonan wajib pajak tatkala dalam penerbitannya terdapat
kesalahan tulis dan atau kesalahan hitung. Yang boleh dibetulkan
karena kesalahan atau kekeliruan, adalah:
a. surat ketetapan pajak yang meliputi surat ketetapan pajak
kurang bayar, surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan,
surat ketetapan pajak lebih bayar, dan surat ketetapan pajak
nihil;
b. surat tagihan pajak;
c. keputusan pengurangan ketetapan pajak;
d. keputusan pembatalan ketetapan pajak;
e. keputusan pengurangan sanksi administrasi; _
f. keputusan penghapusan sanksi administrasi;
g. keputusan keberatan;
h. keputusan pemberian imbalan bunga; atau
i. keputusan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak.
Ruang lingkup pembetulan yang dilakukan oleh pejabat pajak
hanya terbatas pada kesalahan atau kekeliruan sebagai akibat dari :
a. kesalahan tulis, yaitu antara lain kesalahan yang dapat berupa
nama, alamat, nomor pokok wajib pajak, nomor surat
ketetapan pajak, jenis pajak, masa pajak atau tahun pajak, dan
tanggal jatuh tempo; atau
b. kesalahan hitung, yaitu kesalahan yang berasal dari pen-
jumlahan dan atau pengurangan dan atau perkalian dan atau
pembagian suatu bilangan.
113
BAB5: Pejabat Pajak Pembaruan Hukum Pajak
112
Pengertian membetulkan dapat berarti menambah, mengu -
rangkan, atau menghapuskan, tergantung pada sifat kesalahan atau
kekeliruannya. Apabila masih terdapat kesalahan tulis, kesalahan
hitung, wajibpajak boleh mengajukan lagi permohonan pembetulan
kepada pejabat pajak atau dapat melakukan sendiri pembetulan
itu karena jabatannya.]angka waktu pembetulan hanya enam bulan
sejak tanggal permohonan wajib pajak diterima oleh pejabat pajak
harus menerbitkan keputusan pembetulan termaksud. Hal ini
dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum kepada wajib
pajak yang mengajukan permohonan perribetulan tersebut.
Pembetulan keputusan juga dikenal dalam UU PDRD, yang
dilakukan oleh pejabat pajak yang mengelola pajak daerah, baik
atas permohonan wajib pajak maupun karena jabatannya. Yang
dapat dibetulkan oleh pejabat pajak yang mengelola pajak daerah
adalah:
a. surat ketetapan pajak daerah;
b. surat ketetapan pajak daerah kurang bayar;
c. surat ketetapan pajak daerah kurang bayar tambahan; atau
d. surat tagihan pajak daerah.
Di samping itu, pejabat pajaktersebut berwenang pula melaku-
kan tindakan hukum berupa:
a. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa
bunga, denda, dan kenaikan pajak yang terutang menurut
peratur an perundang-undangan perpajakan daerah, dalam hal
sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan wajib pajak atau
bukan karena kesalahannya; atau
b. mengurangkan atau membatalkan ketetapan pajak yang tidak
benar.
Tindakan hukum yang dilakukan oleh pejabat pajak yang
mengelol a pajak daerah bertujuan untuk memberikan per-
lindungan hukum kepada wajib pajak sebelum terjadi sengketa
pajak. Sebenarnya tindakan hukum yang dilakukan oleh pejabat
pajak yang mengelola pajak daerah harus didasarkan atas per-
mohonan wajib pajak yang mengalami kerugian dalam pemenuhan
hak dan kewajibannya.
3. Menerbitkan Keputusan Keberatan
Tatkala terjadi sengketa pajak di tingkat lembaga keberatan,
pejabat pajak berwenang memeriksa dan rnernutus, jika surat
keberatan telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Dalam
arti, kewajiban bagi pejabat pajak untuk menerbitkan surat
keputusan keberatan atas keberatan wajibpajak maupun pemotong
atau pemungut pajak terhadap suatu surat ketetapan pajak yang
diterbitkan oleh pejabat pajak. Kewajibanuntuk menerbitkan surat
keputusan keberatan diatur pada Pasal 26 ayat (1) UU KUPyang
menyatakan bahwa Direktur ]enderal Pajak dalam jangka waktu
paling lama dua belas bulan sejak tanggal surat keberatan diterima,
harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan. Ketentuan
yang sama ditemukan pula pada Pasal 16 ayat (1) UU PBB, Pasal
17 ayat (1) UU BPHTB, dan Pasal 14 ayat (1) UU PDRD. Hal ini
menunjukkan bahwa ada sinkronisasi antara UU KUPdengan UU
PBB, UU BPHTB, dan UU PDRD mengenai jangka waktu
pemberian sura t keputusan keberatan terhadap surat keberatan
yang diajukan oleh wajib pajak maupun pemotong atau pemungut
pajak.
Kewaji ban menerbitkan surat keput usan keberatan merupakan
tanggung jawab pejabat pajak yang berwenang memeriksa dan
memutus surat keberatan dari wajib pajak maupun dari pemotong
atau pemungut pajak. Surat keputus an keberatan tidak boleh
melampaui jangka waktu yang telah dite nt ukan karena dapat
berakibat bila jangka waktu yang ditentukan telah kedaluwarsa,
115
BAB 5: Pejabat Pajak
Pembaruan Hukum Pajak 114
keberatan wajib pajak maupun pemotong atau pemungut pajak
sebagaimana yang tercantum dalam surat keberatan dianggap
diterima secara hukum. Surat keputusan keberatan merupakan
surat keputusan atas keberatan terhadap surat ketetapan pajak atau
terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pemotong atau
pemungut pajak yang diajukan oleh wajib pajak.
Menerbitkan surat keputusan keberatan tidak hanya merupa-
kan kewajiban pejabat pajak yang ditugasi mengelola pajak negara,
tetapi merupakan pula kewajiban pejabat pajak yang ditugasi
mengelola pajak daerah. Sebenarnya surat keputusan keberatan
merupakan jawaban terhadap keberatan yang dituangkan dalam
surat keberatan. Surat keputusan keberatan tidak mutlak harus
diterima dan bahkan boleh ditolak karena tidak memenuhi syarat-
syarat yang ditentukan untuk pengajuan suatu surat keberatan.
D. Larangan Pejabat Pajak
Pejabat pajak, termasuk yang diangkat untuk melaksanakan
peraturan perundang-undangan perpajakan, memegang peranan
penting dalam rangka penegakan hukum pajak. Dalam pelaksanaan
wewenangnya, pejabat pajak telah banyak mengetahui rahasia
perpajakan wajib pajak, baik karena wajib pajak memberitahukan
atau melaporkan melalui surat pemberitahuan. Bahkan karena
petugas pajak melaksanakan tugas pemeriksaan di tempat tinggal
atau di tempat kedudukan wajib pajak. Ataukah juru sita pajak
melaksanakan tugas menyampaikan surat paksa maupun tindakan
pelaksanaan surat paksa kepada wajib pajak maupun penanggung
pajak.
Kerahasiaan wajib pajak maupun penanggung pajak tetap
terjamin untuk tidak dibocorkan atau tidak diketahui oleh pihak
ketiga. Oleh karena itu, hukum pajak berkewajiban memberi
perlindungan dengan menyiapkan perangkat hukum untuk itu.
Perangkat hukum yang dimaksudkan telah ditentukan sebagai
berikut.
1. Setiap pejabat dilarang memberitahukan kepada pihak lain
segala sesuatu yang diketahui atau diberitahukan kepadanya
oleh wajib pajak dalam rangka jabatan atau pekerjaannya untuk
menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
2. Larangan tersebut di atas berlaku pula terhadap tenaga ahli
yang ditunjuk oleh pejabat pajak untuk membantu dalam
pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
3. Dikecualikan dari larangan tersebut di atas adalah: a) pejabat
dan tenaga ahli yang bertindak sebagai saksi atau saksi ahli
dalam sidang pengadilan; dan b) pejabat dan tenaga ahli yang
memberikan keterangan kepada pihak lain yang ditetapkan
oleh Menteri Keuangan.
4. Untuk kepentingan negara, Menteri Keuangan berwenang
memberi izin tertulis kepada pejabat dan tenaga-tenaga ahli
yang bersangkutan agar memberikan keterangan, memper-
lihatkan bukti tertulis dari atau tentang wajib pajak kepada
pihak yang ditunjuknya.
5. Untuk kepentingan pemeriksaan di pengadilan dalam perkara
pidana atau perkara perdata atas permintaan hakim sesuai
dengan hukum acara pidana dan hukum acara perdata, Menteri
Keuangan dapat memberi izin tertulis untuk meminta kepada
pejabat dan tenaga ahli yang bersangkutan, bukti tertulis dan
keterangan wajib pajak yang ada padanya.
6. Permintaan hakim tersebut di atas, wajib menyebut nama
tersangka atau nama tergugat, keterangan-keterangan yang
117 SAS 5: Pejabat Pajak
Pembaruan Hukum Pajak 116
118
diperlihatka n kepada pihak ter tent u yang ditunj uk oleh Menteri
Keilangan. Dalam surat izin yang diterbitkan oleh Menteri
Keuangan harus dicantumkan nama wajib pajak, nama pihak yang
ditunjuk dan nama pejabat pajak, pejabat yang diangkat, atau
petugas pajak yang diizinkan untuk memberikan keterangan atau
memperlihatkan bukti tertulis dari atau tentang wajib pajak.
Pemberian izin tersebut dilakukan secara terbatas dalam hal-hal
yang dipandang perlu oleh Menteri Keuangan. Berarti untuk kepen-
tingan negara, Menteri Keuangan harus berinisiatif menerbitkan
izin.
]ika terjadi pemeriksaan di pengadilan, baik dalarn perkara
pidana maupun perkara perdata yang berkaitan dengan perpajakan,
Menteri Keuangan menerbitkan izin pembebasan atau kewajiban
kerahasiaan kepada pejabat pajak, pejabat yang diangkat, atau
petugas pajak maupun juru sita pajak atas berdasarkan permintaan
hakim ketua sidang. Izin tersebut bertujuan untuk membantu
mengungkapkan perkara pidana atau perkara perdata yang memiliki
keterkaitan dengan perpajakan yang sementara dalam proses
peradilan. Sebenarnya hakim ketua sidang wajib berinisiatif
meminta izin dari Menteri Keuangan agar dibolehkan mengungkap-
kan kerahasiaan perpajakan yang diketahui oleh pejabat pajak,
pejabat yang diangkat , atau petugas pajak maupun juru sita pajak
termaksud. Permintaan hakim ketua sidang kepada Menteri
Keuangan harus secara tegas menyebut nama tersangka atau nama
tergugat, termasuk keterangan-keterangan yang dirninta terkait
dengan perbuatan hukum yang menyangkut bidang perpajakan.
11 9 BAB 5: Pejabat Pajak
PembaruanHukumPajak
diminta serta kaitan perkara pidana atau perkara perdata yang
bersangkutan dengan keterangan yang dimi nta tersebut.
Pejabat pajak, termasuk petugas pajak dan juru sita pajak yang
diangkat dilarang mengungkapkan kerahasiaan perpajakan wajib
pajak termasuk pula pemotong atau pemungut pajak. Kerahasiaan
perpajakan yang dilarang untuk diungkapkan atau diberitahukan
kepada pihak lain, antara lain:
1. surat pernberitahuan, laporan keuangan, dan lain-lain yang
dilaporkan oleh wajib pajak;
2. data yang diperoleh dalam rangka pelaksanaan pemeriksaan;
3. dokumen dan atau data yang dipero leh dari pihak ketiga yang
bersifat rahasia; dan
4. dokumen dan atau rahasia wajib pajak sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Larangan untuk tidak mengungkapkan kerahasiaan wajib pajak
untuk pihak lain dikecualikan tatkala pejabat pajak, pejabat yang
diangkat, dan petugas pajak bertindak sebagai saksi atau saksi ahli
dalam pengadilan. Larangan ini hanya bersifat sernentara, yakni
pada saat persidangan pengadilan dan tidak termasuk di luar
persidangan pengadilan. Demikian pula halnya terhadap keterangan
yang diberitahukan kepada pihak lain yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan hanya tertuju pada identitas wajib pajak dan informasi
yang bersifat umum tentang perpajakan kepada antara lain lembaga
negara atau Instansi Pemerintah yang berwenang melakukan
pemeriksaan di bidang keuangan negara. PengecuaIian larangan
tersebut tidak memerlukan izin dari Menteri Keuangan.
Lain halnya kalau untuk kepentingan negara, misalnya daIam
rangka penyidikan, penuntutan atau dalam rangka mengadakan
kerja sama dengan instansi pemerintah lainnya, keterangan atau
bukti tertulis dari atau tentang wajib pajak dapat diberikan atau
121
.. Surat Pemberitahuan
A. Pendahuluan
Dalam hukum pajak terdapat suatu sarana hukum yang meng-
hubungkan antara wajib pajak dengan pejabat pajak dalam rangka
penegakan hukum pajak. Sarana hukum tersebut adalah surat
pemberitahuan yang disediakan oleh pejabat pajak untuk digunakan
bagi wajib pajak melaporkan jumlah pajak yang terutang. Sebagai-
mana dikatakan oleh Rochmat Soemitro (1986;66) bahwa surat
p.emberitahuan merupakan bentuk kerja sama antara wajib pajak
dengan Direktorat ]enderal Pajak untuk menentukan besarnya pajak
yang terutang.
Surat pemberitahuan adalah surat yang oleh wajib pajak
digunakan untuk melaporkan penghitungan dan atau pemba-
yaran pajak, objek pajak, dan atau bukan objek pajak, dan atau
harta dan kewajiban menurut ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan. Tidak semua jenis pajak yang berlaku
boleh menggunakan surat pemberitahuan. Hal ini tergantung
dari jenis pajak itu sendiri. Surat pemberitahuan laz imnya
d i g u n a ~ a n hanya pajak langsung seperti Pajak Penghasilan dan
Pajak Bumi dan Bangunan, sedangkan pada pajak tidak lang-
sung pada umumnya tidak menggunakan surat pemberitahuan.
122 Pembaruan Hukum Pajak BAB 6: Sural Pemberilahuan
123
Dikatakan "pada umumnya" karena ada pula pajak tidak langsung
yang menggunakan surat pemberitahuan, seperti Pajak Per-
tambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Pajak tidak
langsung yang tidak menggunakan surat pemberitahuan adalah Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan serta Bea Meterai .
Penggunaan surat pemberitahuan merupakan bagian dari self
assessment system yang memberikan kepercayaan kepada wajib pajak
untuk menghitung dan melaporkan jumlah pajak yang terutang
kepada pejabat pajak yang menerbitkan surat pemberitahuan itu.
Selfassessment system merupakan pengganti official assessment system
sebagaimana yang diterapkan terhadap pajak langsung pada masa
sebelum terjadi perubahan Undang-undang Pajakpada tahun 1983.
Sekalipun terjadi perubahan official assessment system menjadi self
assessment system, jika kesadaran hukum wajib pajak maupun pejabat
pajak tidak mengalami perubahan ke arah positif, perubahan itu
tidak memiliki makna yang signifikan terhadap penegakan hukum
pajak, baik pada masa kini maupun ke depan.
Setiap wajib pajak harus mengambil sendiri surat pernberi-
tahuan di tempat yang telah ditentukan oleh pejabat pajak atau
mengambil dengan cara lain, misalnya dengan mengakses situs
Direktorat Jenderal Pajak untuk memperoleh formulir surat
pemberitahuan. Namun, untuk memberikan pelayanan yang lebih
baik, pejabat pajak boleh mengirimkan surat pemberitahuan kepada
wajib pajak. Wajib pajak yang telah menerima surat pemberitahuan
wajib mengisi dengan benar, lengkap, dan jelas dalam bahasa
Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan
mata uang rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya
ke Direktorat Jenderal Pajak tempat wajib pajak terdaftar atau
dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh pejabat pajak.
Wajib pajak yang telah mendapat izin Menteri Keuangan untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa asing
dan rnata uang selain rupiah, wajib menyampaikan surat pem-
beritahuan dalam bahasa Indonesia dan mata uang selain rupiah
yang diizinkan, dan pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan
peraturan Menteri Keuangan. Dikecualikan dari kewajiban
menyampaikan surat pemberitahuan kepada pejabat pajak adalah
wajib Pajak Penghasilan tertentu, yakni:
1. wajib pajak orang pribadi yang menerima atau memperoleh
penghasilan di bawah penghasilan tidak kena pajak;
2. wajib pajak luar negeri yang menerima atau memperoleh
penghasilan di Indonesia dikenakan Pajak Penghasilan secara
final.
Akan tetapi, karena kepentingan tertentu, wajib Pajak Peng-
hasilan tersebut di atas, diwajibkan memiliki nomor pokok wajib
pajak. Sebenarnya nomor pokok wajib pajak merupakan identitas
wajib pajak yang setiap saat dapat digunakan untuk kepentingan
pengurusan surat-surat yang terkait dengan kegiatannya, baik yang
berkaitan maupun yang tidak terkait dengan perpajakan.
Hal yang dimaksud dengan mengisi surat pemberitahuan
adalah mengisi formulir surat pemberitahuan, dalam bentuk kertas
dan atau dalam bentuk elektronik, dengan benar, lengkap, dan jelas
sesuai dengan petunjuk pengisian yang diberikan berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Sementara
itu, yang dimaksud dengan benar, lengkap dan jelas dalam mengisi
surat pemberitahuan adalah sebagai berikut.
1. Benar adalah benar dalam perhitungannya, termasuk benar
dalam penerapan peraturan perundang-undangan perpajakan,
dalam penulisannya, dan sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya.
2. Lengkap adalah memuat semua unsur yang berkaitan dengan
objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam
surat pemberitahuan.
3.
124
Penyampaian surat pemberitahuan merupakan perbuatan
hukum yang dilakukan oleh wajib pajak sehingga persyaratan yang
telah ditentukan wajib dilaksanakan sebagaimana mestinya. ]ika
surat pemberitahuan tidak disampaikan berdasarkan jangka waktu
yang ditentukan atau jangka waktu perpanjangan penyampaian
surat pemberitahuan, wajib pajak tersebut diberikan surat teguran.
Wajib pajak yang tidak menyampaikan surat pemberitahuan atau
menyampaikan surat pemberitahuan, tetapi tidak benar, terhadap
wajib pajak tersebut dikenakan sanksi administrasi berupa denda.
Bahkan selain sanksi administrasi berupa denda dapat pula dikena-
kan sanksi pidana karena menimbulkan kerugian pada pendapatan
negara.
Bentuk dan isi suatu surat pemberitahuan serta keterangan
dan atau dokumen yang wajib dilampirkan, dan cara yang digunakan
untuk menyampaikan surat pemberitahuan diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Hal ini dimaksudkan
agar terdapat keseragaman dan mempermudah pengisian serta
pengadministrasiannya, bentuk dan isi suatu surat pemberitahuan,
keterangan, dokurnen yang harus dilampirkan dan cara yang
digunakan untuk menyampaikan surat pemberitahuan. Bagi wajib
pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan, wajib dilengkapi
dengan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi serta
keterangan-keterangan lain yang diperlukan untuk menghitung
besarnya penghasilan kena pajak.
Wajib pajak wajib menaati ketentuan-ketentuan mengenai
tata cara pengisian maupun jangka waktu penyampaian surat
pemberitahuan. Sebenarnya surat pemberitahuan dianggap tidak
disampaikan oleh wajib pajak apabila:
1. tidak ditandatangani oleh wajib pajak atau kuasa hukumnya;
2. tidak sepenuhnya dilampiri keterangan dan atau dakumen;
125 BAB 6: Sural Pemberilahuan
Pembaruan Hukum Pajak
]elas adalah melaporkan asal-usul ata u sumber objek pajak
dan unsurt-unsur lain yang harus dilaporkan dalam surat
pemberitahuan.
Surat pemberitahuan yang telah diisi dengan benar, lengkap,
dan jelas tersebut wajib disampaikan kepada pejabat pajak tempat
wajib pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang
ditetapkan oleh pejabat pajak. Oleh karena itu, pejabat pajak dapat
menetapkan tempat pendaftaran dan atau ternpat pelaporan usaha
selain tempat tinggal atau tempat kedudukan wajib pajak atau
temp at pendaftaran pada kantor pejabat pajak yang wilayah kerjanya
meliputi tempat tinggal dan kantor pejabat pajak yang wilayah
kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan, bagi wajib pajak
arang pribadi atau pengusaha tertentu.
Penandatanganan surat pemberitahuan boleh dilakukan secara
biasa atau dengan tanda tangan stempel atau tanda tangan
elektronik atau digital, yang semuanya mempunyai kekuatan
hukum yang sama, yang tata cara pelaksanaannya diatur dengan
Peraturan Direktur ]enderal Pajak. Dalam hal wajib pajak merupa-
kan badan maka surat pemberitahuan ditandatangani oleh pengurus
atau direksi.]ika surat pemberitahuan diisi dan ditandatangani oleh
arang lain bukan wajib pajak, wajib dilampirkan surat kuasa khusus.
Surat pemberitahuan yang disampaikan secara langsung oleh wajib
pajak kepada pejabat pajak wajib diberi tanggal dan bukti
penerimaan oleh pejabat yang ditunjuk untuk itu. Lain halnya kalau
surat pemberitahuan dikirim melalui kantor pas secara tercatat
atau dengan cara lain akan diatur dengan Keputusan Direktur
]enderal Pajak. Tanda bukti dan tanggal penerimaan untuk
penyampaian surat pemberitahuan sepanjang surat pemberitahuan
tersebut lengkap dianggap sebagai tanda bukti dan tanggal
penerimaan.
126 Pembaruan Hukum Pajak
BAB 6: Sural Pemberitahuan 127
3. menyatakan lebih bayar disampaikan setelah dua tahun
sesudah berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak atau
tahun pajak, dan wajib pajak telah ditegur secara tertulis; atau
4. disampaikan setelah pejabat pajak menerbitkan surat ketetapan
pajak.
Surat pemberitahuan yang disampaikan langsung oleh wajib
pajak kepada pejabat pajak harus diberi tanggal penerimaan oleh
pejabat yang ditunjuk dan kepada wajib pajak diberikan bukti
penerimaan. Sebenarnya pemberian tanggal penerimaan surat
pemberitahuan bertujuan untuk memberikan kepastian hukum
bahwa surat pemberitahuan yang disampaikan sebelum atau
sesudah jangka waktu yang ditentukan. Penyampaian surat
pemberitahuan tidak hanya boleh dilakukan secara langsung, tetapi
boleh pula dikirim melaluikantor pos dengan tanda bukti pengiri-
man surat atau dengan cara lain sepanjang tidak bertentangan
peraturan Direktur Jenderal Pajak. Tanda bukti dan tanggal
pengiriman surat untuk penyampaian surat pemberitahuan
dianggap sebagai tanda bukti dan tanggal penerimaan sepanjang
telah lengkap surat pemberitahuan tersebut
Kadangkala surat pemberitahuan yang telah disampaikan
ternyata mengandung ketidakbenaran, misalnya terdapat kesalahan
hitung atau kesalahan tulis. Maka, dengan kemauan sendiri wajib
pajak berhak membetulkan surat pemberitahuan tersebut dengan
menyampaikan pernyataan tertulis, dengan persyaratan bahwa
pejabat pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan. Dalam hal
pembetulan surat pemberitahuan menyatakan rugi atau lebih bayar,
pembetulan surat pemberitahuan harus disampaikan paling lama
dua tahun sebelum kadaluarsa penetapan. Oleh karena itu, wajib
pajak dengan kesadaran sendiri dapat mengungkapkan dalam
laporan tersendiri tentang ketidakbenaran pengisian surat pem-
beritahuan yang telah disampaikan, yang mengakibatkan:
1. pajak-pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar:
2. rugi berdasarkan ketentuan perpajakan menjadi lebih kecil;
atau
3. jumlah harta menjadi lebih besar, tetapi jurnlah rugi berdasar-
kan ketentuan perpajakan tidak menjadi lebih besar.
Kejujuran wajib pajak sangat menentukan dalam pengisian
surat pemberitahuan kar ena surat pemberitahuan yang telah
disampaikan kepada pejabat pajak merupakan tanggungjawab wajib
pajak. Akibat hukum yang timbul dari surat pemberitahuan yang
telah disampaikan itu adalah perbuatan hukum yang menimbulkan
sanksi hukum kalau di dalamnya terjadi kesalahan. Misalnya, surat
pemberitahuan yang telah disampaikan itu batalnya demi hukum
atau dapat dibatalkannya, bergantung pada substansi hukum pajak
yang terlanggar.
B. Fungsi Surat Pemberitahuan
Surat pemberitahuan merupakan sarana hukum dalam hukum
pajak yang digunakan oleh wajib pajak untuk menghitung dan
melaporkan pajak yang terutang, baik mengenai Pajak Penghasilan,
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Oleh karena itu, surat pemberitahuan memiliki fungsi yang
berbeda-beda, tergantung dar i jenis pajak yang dilaporkannya oleh
wajib pajak. Lain perkataan bahwa fungsi surat pemberitahuan
hanya bergantung pada jenis pajak yang terlapor dalam surat
pemberitahuan itu sendiri.
Fungsi surat pemberitahuan bagi wajib Pajak Penghasilan
adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggung-
jawabkan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang
dan untuk melaporkan tentang:
1. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan
sendiri dan atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak
lain dalam satu tahun pajak atau bagian tahun pajak;
2. penghasilan yang merupakan objek pajak dan atau bukan objek
pajak;
3. biaya hidup untuk wajib pajak orang pribadi;
4. harta dan kewajiban;
5. pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotong-
an atau pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain dalam
satu masa pajak, yang ditentukan peraturan perundang-
undangan perpajakan yang berlaku.
Fungsi surat pemberitahuan bagi pemotong atau pemungut
pajak adalah sebagai sarana melaporkan dan mempertanggung-
jawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkannya.
Kernudian, fungsi surat pemberitahuan terhadap pengusaha kena
pajak adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan memper-
tanggungjawabkan penghitungan jumlah PajakPertambahan Nilai
dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang sebenarnya terutang
dan untuk melaporkan tentang:
1. pengkreditan pajak masukan terhadap pajak keluaran;
2. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan
sendiri oleh pengusaha kena pajak dan atau melalui pihak lain
dalam satu masa pajak, yang ditentukan oleh ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
Karena surat pemberitahuan memiliki fungsi sebagai sarana
untuk melaporkan jumlah pajak yang terutang, surat pem-
beritahuan boleh dijadikan sebagai alat bukti surat kalau terjadi
sengketa pajak antara wajib pajak dengan pejabat pajak dalam
bentuk sengketa pajak. Penggunaan surat pemberitahuan sebagai
alat bukti surat boleh pada tingkat keberatan, banding, atau gugatan
c. Surat Pemberitahuan Masa
melalui lembaga keberatan dan Pengadilan Pajak yang berwenang
memeriksa dan mernutus sengketa pajak.
129 BAB 6: Sural Pemberilahuan
Pada hakikatnya surat pemberitahuan masa merupakan bagian
dari surat pemberitahuan. Surat pemberitahuan masa adalah surat
pemberitahuan suatu masa pajak . Kernudian, yang dimaksud
dengan masa pajak adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan
satu bulan takwin atau jangka waktu lain yang ditetapkan dengan
keputusan Menteri Keuangan paling lama tiga bulan takwim. Surat
pemberitahuan masa digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan
jumlah pajak yang terutang kepada pejabat pajak mengenai Pajak
Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah untuk satu masa pajak. Sebenarnya surat pem-
beritahuan masa merupakan sarana hukum bagi wajib pajak untuk
melaporkan pajak yang terutang untuk suatu masa pajak, baik
mengenai Pajak Penghasilan maupun Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Rochmat Soemitro (1986;68) mengatakan bahwa kalau wajib
pajak tidak satu tahun menjadi wajib pajak karena baru datang di
Indonesia setelah tahun pajak mulai, atau meninggalkan Indonesia
atau meningal dunia, pajaknya dihitung dari masa pajakyangkurang
dari satu tahun. Untuk itu, wajib pajak wajib memasukkan surat
pemberitahuan masa. Penghasilan yang diterima atau diperoleh
dalam masa pajak itu harus diberit ahu kan dalam sura t pem-
beritahuan rnasa, dan selanjutnya dihitung penghasilan setah un
dengan mengalihkan penghasilan dalam masa pajak itu dengan
suatu pecahan yang pembilangnya dua belas dan penyebutnya sama
dengan jumlah bulan dari masa pajak itu.
Surat pemberitahuan masa Pajak Pertambahan Nilai sekurang-
kurangnya memuat juml ah dasar pengenaan pajak, jumlah pajak
PembaruanHukumPajak 128
keluaran, jumlah pajak masukan yang dapat dikredit kan, dan jumlah
kekurangan atau kelebihan pajak. Apabi la surat pemberitahuan
masa Pajak Pertambahan Nilai tidak atau kurang memuat syarat-
syarat yang ditent ukan, berarti surat pemberitahuan masa Pajak
Pertambahan Nilai tidak dapat dikategorikan secara lengkap.
Dengan demikian, surat pemberitahuan masa Pajak Pertambahan
Nilai tidak sah menurut hukum pajak dengan konsekuensi peng-
usaha kena pajak berkewajiban menyampaikan kembali surat
pemberitahuan masa Pajak Pertambahan Nilai kepada pejabat pajak
di tempat tinggal atau tempat kedudukannya.
]angka waktu penyampaian surat pemberitahuan masa, baik
surat pemberitahuan masa Pajak Penghasilan maupun surat
pemberitahuan Pajak Pertambahan Nilai adalah paling lama dua
puluh hari seteIah akhir masa pajak. Apabila surat pemberitahuan
masa tersebut tidak disampaikan sesuai jangka waktu yang
ditentukan, wajib pajak dikenakan sanksi administrasi. Terhadap
surat pemberitahuan masa Pajak Pertambahan Nilai dikenakan
sanksi administrasi berupa denda sebesar RpSOO.OOO,OO. Untuk
surat pemberitahuan masa lainnya (terrnasuk surat pemberitahuan
masa Pajak Penghasilan) dikenakan sanksi administrasi berupa
denda sebesar RpIOO.OOO,OO. Pengenaan sanksi administrasi
berupa denda tidak dilakukan terhadap wajib pajak dengan kriteria
tertentu, misalnya:
1. wajib pajak usaha kecil;
2. wajib pajak orang pribadi yang memiIiki penghasilan neto
kurang dari penghasilan tidak kena pajak;
3. wajib pajak luar negeri yang memperoleh penghasilan di
Indonesia telah dikenakan pajak yang bersifat fina l.
Kadangkala pada surat pemberitahuan masa yang telah
disampaikan ternyata terdapat kesalahan tulis atau kesalahan
hitung. Maka, dengan kemauan sendiri , wajib pajak berhak rnern-
D. Surat Pemberitahuan Tahunan
betulkan surat pemberitahuan yang telah di sampaikan dengan
me nyampaikan pernyataan tert ulis, dengan per syaratan bahwa
pejabat pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan. Akan tetapi,
bila pembetulan surat pemberitahuan masa menyatakan rugi atau
lebih bayar. Pembetulan surat pemberitahuan masa harus disampai-
kan paling lama dua tahun sebelum kadaluarsa penetapan.
131 BAB6: Sural Pemberilahuan
Selain surat pemberitahuan masa dikenal pula surat pemberi-
tahuan tahunan sebagaimana yang diatur dalam VU KUP. Surat
pemberitahuan tahunan adalah surat pemberitahuan untuk suatu
tahun pajak atau bagian tahun pajak. Kemudian, pengertian tahun
pajak adalah jangka waktu satu tahun kalender, kecuali bila wajib
pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun
takwim. Sementara itu, pengertian bagian tahun pajak merupakan
bagian dari jangka waktu satu tahun pajak.
Surat pemberitahuan tahunan hanya dikenal dalam Pajak
Penghasilan, yang terdiri dari surat pemberitahuan tahunan wajib
pajak orang pribadi dan surat pemberitahuan tahunan wajib pajak
badan. ]angka waktu penyampaian surat pemberitahuan tahunan
Pajak Penghasilan wajib pajak orang pribadi adalah paling lama
tiga bulan setelah berakhir tahun pajak. Kemudian, jangka waktu
penyampaian surat pemberitahuan tahunan Pajak PenghasiIan wajib
pajak badan adalah paling lama ernpat bulan seteIah berakhir tahun
pajak.]ika selama jangka waktu itu wajib pajak penghasiIan tersebut
tidak memenuhinya karena berada dalam keadaan memaksa (force
majeur), maka wajib pajak berhak memohon perpanjangan jangka
waktu penyampaian surat pemberitahuan tahunan Pajak
Penghasilan untuk paling lama dua bulan dengan cara tertulis atau
dengan cara lain (elektronik) . Penyampaian pemberitahuan itu
harus di tujukan kepada pejabat pajak dengan tetap berdasarkan
Pembaruan Hukum Pajak 130
pada ketentuan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak. Apabila
..
wajib pajak tidak memenuhi jangka waktu penyampaian surat
pemberitahuan tahunan Pajak Penghasilan, walaupun telah
dilakukan perpanjangan jangka waktu masih tetap tidak dapat
dipenuhi, wajib pajak yang bersangkutan diberikan surat teguran.
Surat pemberitahuan tahunan Pajak Penghasilan sekurang-
kurangnya memuat jumlah peredaran, jumlah penghasilan, jumlah
penghasilan kena pajak, jumlah pajak yang terutang, jumlah kredit
pajak, jumlah kekurangan atau kelebihan pajak, serta hak dan
kewajiban di luar kegiatan usaha atau pekerjaan bebas bagi wajib
pajak orang pribadi. Untuk wajib pajak yang wajib menyelenggara-
kan pembukuan wajib melengkapi laporan keuangan berupa neraca
dan laporan laba rugi serta keterangan-keterangan lain yang
diperlukan untuk menghitung besarnya penghasilan kena pajak.
Wajib pajak yang tidak menyampaikan surat pemberitahuan
tahunan Pajak Penghasilan dalam jangka waktu yang ditentukan,
atau jangka waktu perpanjangan telah berakhir tidak pula
menyampaikan surat pemberitahuan tersebut dikenakan sanksi
administrasi. Pengenaan sanksi administrasi berupa denda sebesar
Rp1.000.000,OO untuk surat pemberitahuan tahunan Pajak Peng-
hasilan badan. Kemudian, sebesar Rp250.000,OO untuk surat
pemberitahuan tahunan Pajak Penghasilan orang pribadi.
Jika wajib pajak membetulkan sendiri surat pemberitahuan
tahunan yang mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar,
dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan
atas jumlah pajak yang kurang dibayar, dihitung sejak saat penyam-
paian surat pemberitahuan berakhir sampai dengan tanggal
pernbayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh satu bulan.
Yang dimaksud dengan sebulan adalah jumlah hari dalam bulan
takwim yang bersangkutan, misalnya mulai dari tanggal 22 juni
sampai dengan 21 juli pada tahun yang sarna, sedangkan yang
dimaksud bagian dari bulan misalnya 22 [uni sampai 5 juli pada
tahun yang sama.
Wajib pajak boleh membetulkan surat pemberitahuan tahunan
yang telah disampaikan, dalam hal wajib pajak menerima surat
ketetapan pajak, surat keputusan keberatan, surat keputusan
pembetulan, atau putusan banding tahun pajak sebelumnya atau
beberapa tahun pajak sebelumnya. Pembetulan itu menyatakan rugi
fiskal berbeda dengan rugi fiskal yang telah dikompensasikan dalam
surat pemberitahuan tahunan yang akan dibetulkan terse but, dalam
jangka waktu tiga bulan setelah menerima surat-surat tersebut di
atas, dengan syarat bahwa pejabat pajak belum melakukan tindakan
pemeriksaan.
Dalam kaitan Pajak Penghasilan, yang diwajibkan menyampai-
kan surat pemberitahuan tahunan hanya wajib pajak dalam negeri,
baik wajib pajak orang pribadi maupun wajib pajak badan karena
semua penghasilan yang diterima merupakan objek Pajak Peng-
hasilan. Oleh karena itu, wajib pajak luar negeri tidak wajib
menyampaikan surat pemberitahuan tahunan karena penghasilan
yang diterima atau diperoleh di Indonesia telah dikenakan Pajak
Penghasilan secara final. Sekalipun tidak diwajibkan menyampaikan
surat pemberitahuan tahunan, wajib pajak tersebut tetap harus
menaati ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Juga terhadap wajib pajak dalam negeri yang menerima atau
memperoleh penghasilan selama satu tahun pajak tidak melebihi
batas penghasilan tidak kena pajak, wajib pajak yang bersangkutan
tidak diwajibkan memasukkan surat pemberitahuan tahunan.
Demikian pula wajib pajak dalam negeri yang tidak menerima atau
memperoleh penghasilan lain di luar penghasilan sehubungan
dengan pekerjaan dari satu majikan.
132
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 6: Sural Pemberilahuan
133
134 Pembaruan Hukum Pajak
SAS 6: Sural Pemberilahuan
135
E. Surat Pemberitahuan Objek Pajak
Terjadinya hubungan hukum antara wajib Pajak Bumi dan
Bangunan dengan pejabat pajak yang mengelola pajak negara
disebabkan karena surat pemberitahuan objek pajak. Surat
pemberitahuan objek pajak adalah surat yang digunakan oleh
wajib pajak untuk melaporkan data objek pajak menurut ketentuan
UU PBB. Surat pemberitahuan objek pajak harus diisi secara
lengkap, jelas, dan benar serta ditandatangani oleh wajib pajak
dan disampaikan kepada pejabat pajak yang mengelola Pajak
Bumi dan Bangunan di tempat tinggal atau tempat kedudukannya.
Penyampaian surat pemberitahuan objek pajak adalah selambat-
lambatnya tiga puluh hari setelah tanggal diterima surat pembe-
ritahuan objek pajak oleh wajib pajak.
Wajib pajak yang pernah dikenakan Ipeda tidak wajib men-
daftarkan objek pajaknya, kecuali bila memperoleh surat pem-
beritahuan objek pajak, wajib diisi dengan jelas, benar, dan lengkap
serta ditandatangani dan disampaikan kepada pejabat pajak yang
menerbitkannya. Surat pemberitahuan objek pajak berbeda dengan
surat pemberitahuan masa maupun surat pemberitahuan tahunan
karena surat pemberitahuan objek pajak tidak memuat jumlah pajak
yang terutang yang wajib dibayar lunas dalam jangka waktu yang
ditentukan. Itulah sebabnya Rochmat Soemitro (1986;32) mengata-
kan bahwa memasukkan surat pemberitahuan objek pajak bukan
merupakan perbuatan hukum karena dengan dimasukkan surat
pemberitahuan objek pajak itu tidak dengan sendirinya menimbul-
kan utang pajak, seperti dalam Pajak Penghasilan dengan sistem
selfassessment.
UU PBBtidak menganut sistemselfassessment, melainkan hanya
menganut sistem official assessment. Kelihatannya sistem official
assessment sangat tepat terhadap objek Pajak Bumi dan Bangunan
yang tidak diketahui siapa wajib pajaknya sehingga pejabat pajak
dapat rnenetapkan subjek pajak tersebut sebagai wajib pajak. Wajib
pajak yang telah ditetapkan berkewajiban membayar lunas atas
Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang pejabat pajak masih
terlibat dalam penentuan jumlah Pajak Bumi dan Bangunan yang
harus dibayar oleh wajib pajak.
Jika surat pemberitahuan objek pajak yang disampaikan oleh
wajib pajak telah kadaluarsa atau setelah ditegur tidak dikernbalikan
dalam jangka waktu yang ditentukan dalam surat teguran, pejabat
pajak berwenang menerbitkan surat ketetapan pajak secara jabatan.
Dalam surat ketetapan pajak tersebut memuat sanksi administrasi
berupa denda sebesar 25% dihitung dari pokok pajak. Wajib pajak
yang tidak mengembalikan surat pemberitahuan objek pajak
ternyata menimbulkan kerugian kepada negara dipidana dengan
pidana penjara paling lama dua tahun atau ditambah denda paling
tinggi lima kali pajak yang terutang.
F. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah
Pajak daerah mengenal pula surat pemberitahuan, tetapi
berbeda dengan surat pemberitahuan objek pajak yang dikenal pada
Pajak Bumi dan Bangunan. Surat pemberitahuan pajak daerah
memiliki persamaan dengan surat pemberitahuan masa maupun
surat pemberitahuan tahunan. Hal ini diketahui dari pengertian
surat pemberitahuan Pajak Daerah, yaitu surat yang oleh wajib
pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau
pembayaran pajak, objek pajak, dan/atau bukan objek pajak,
dan/atau harta dan kewajiban menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan daerah. Surat pemberitahuan
pajak daerah pada hakikatnya adalah sarana hukum yang digu-
nakan oleh wajib pajak untuk menjalin hubungan hukum dengan
pejabat pajak yang mengelola pajak daerah.
Wajib pajak memenuhi kewajiban berupa membayar lunas
pajak daerah yang terutang dengan menggunakan surat pem-
beritahuan pajak daerah. Akan tetapi, pelunasan pajak daerah yang
terutang tidak selalu ditempuh hanya menggunakan surat pem-
beritahuan pajak daerah. Kadangkala pajak daerah yang terutang
dapat ditagih dengan menggunakan surat ketetapan pajak daerah
kurang bayar, dan atau surat ketetapan pajak daerah kurang bayar
tambahan. Dengan demikian, penerapan surat pemberitahuan pajak
daerah pada hakikatnya bahwa pajak daerah menganut pula sistem
selfassessment. Hal ini dimaksudkan agar tidak melibatkan pejabat
pajak yang mengelola pajak daerah dalam penentuan jumlah pajak
daerah yang terutang sehingga wajib pajak melakukan perhitungan
dan pelaporannya tepat sasaran.
Pengisian dan penyampaian surat pemberitahuan objek pajak
wajib berpedoman pada tata cara pengisian dan pelaporan yang
ditetapkan oleh pejabat pajak yang mengelola pajak daerah. ]ika
terjadi penyimpangan pengisian maupun pelaporan surat pem-
beritahuan objek pajak, surat pemberitahuan objek pajak dikategori-
kan sebagai batal demi hukum atau dapat dibatalkan. Hal ini sebagai
konsekuensi terhadap surat pemberitahuan objek pajak sebagai
sarana hukum yang digunakan oleh wajib pajak untuk menyampai-
kan dan melaporkan jumlah pajak daerah yang terutang kepada
pejabat pajak yang mengelola pajak daerah.
137
A. Dasar Hukum
Pemungutan Pajak
Pemungutan pajak yang hendak dilakukan agar tidak
menimbulkan polemik hukum di kalangan wajib pajak dengan
pejabat pajak, terlebih dahulu diketahui dan dipahami mengenai
dasar hukum mengapa negara berkehendak memungut pajak
kepada warganya. Pemungutan pajak oleh negara tanpa memiliki
dasar hukum yang sah, berarti negara melalui pejabat pajak
melakukan perampasan dan bahkan merupakan perampokan bagi
kekayaan warganya sebagai wajib pajak. Sebenarnya pemungutan
pajak tidak boleh dilakukan oleh negara sebelum ada hukum yang
mengaturnya karena negara Indonesia adalah negara hukum.
Awalnya, pengaturan pajak diatur dalam Pasal23 ayat (2) UUD
1945 yang menyatakan bahwa segala pajak untuk keperluan negara
hams berdasarkan undang-undang. Ketentuan ini mengandung
konsekuensi secara mendalam terhadap negara tatkala memerlukan
pajak untuk membiayai tujuannya sebagaimana tercantum dalam
alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Pajak yang diperlukan itu
harus berdasarkan undang-undang, berarti pemungutan pajak yang
tidak didasarkan pada undang-undang tidak boleh dilakukan.
Sebenarnya Pasal23 ayat (2) UUD 1945 tersirat asas legalitas yang
Pembaruan HukumPajak 136
tidak membenarkan pemungutan pajak kalau belum ada undang-
undang yang mengaturnya.
Setelah UUD 1945 diamendemen, Pasal23 ayat (2) UUD 1945
diganti dengan Pasal23A UUD 1945 yang menegaskan bahwa pajak
dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara
diatur dengan undang-undang. Ketentuan ini secara tegas
memisahkan antara pajak dengan pungutan lain yang bersifat
memaksa. Termasuk dalam pengertian pungutan lain yang bersifat
memaksa adalah retribusi, iuran, dan lain sebagainya. Di samping
itu, asas legalitas tetap ada bahkan dipertegas keberadaannya
sehingga negara dalam melakukan pemungutan pajak tidak
bertentangan dengan dasar hukum yang menjiwainya.
Pada hakikatnya Pasal 23A UUD 1945 merupakan dasar
konstitusional bagi negara untuk memungut pajak dan pungutan
lain yang bersifat memaksa kepada warganya termasuk warga
negara asing yang bertempat tinggal atau berkedudukan di
Indonesia yang menerima atau memperoleh penghasilan atau
memiliki hak at as bumi dan atau memperoleh manfaat atas bumi,
serta memiliki, menguasai, dan atau memperoleh manfaat terhadap
bangunan, serta memperoleh peralihan hak atas tanah dan
bangunan. Ketentuan ini mengandung alasan pembenaran
pemungutan pajak oleh negara sehingga tidak dianggap melakukan
perampasan atau perampokan kekayaan wajib pajak.
Undang-undang Pajak sebagai penjabaran ketentuan Pasal23
ayat (2) UUD 1945 yang telah diubah dan diganti oleh Pasal23A
UUD 1945 merupakan dasar hukum yang bersifat operasional
pemungutan pajak, kecuali Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002
ten tang Pengadilan Pajak. Pengadilan Pajak tidak terkait dengan
pemungutan pajak, melainkan pengadilan pajak merupakan suatu
Lembaga Peradilan Pajak yang menyelesaikan sengketa pajak antara
wajib pajak dengan pejabat pajak atau antara sesama wajib pajak.
Pemungutan pajak dilakukan oleh petugas pajak dalam
Iingkungan Direktorat Jenderal Pajak, kecuali bila ditentukan lain
dalam Undang-undang Pajak. Hal ini bukan merupakan suatu
penyimpangan, melainkan suatu pembenaran yang dapat diper-
tanggungjawabkan secara hukum karena pemungutan pajak tidak
selalu dilakukan oleh petugas pajak, sepanjang Undang-undang
Pajak memberikan kekhususan kepada orang pribadi atau badan
untuk memungut pajak seperti halnya yang terjadi pada pernungut-
an Pajak Bumi dan Bangunan serta Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan yang dilakukan oleh aparat pemerintah daerah di
Iingkungan Departemen Dalam Negeri. Demikian pula pada Pajak
Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah yang dilakukan oleh pemotong atau pemungut pajak
karena UU KUP memberikan legitimasi untuk melakukan
pemotongan atau pemungutan pajak. Sebenarnya yang paling
Dengan dernikian, tidak semua Undang-undang Pajak yang berlaku
merupakan dasar hukum yang bersifat operasional pemungutan
pajak, tergantung dari substansi hukum yang dikandungnya.
Dalam pemungutan pajak terdapat asas bahwa yang berwenang
melakukan pemungutan pajak adalah negara yang tidak boleh
dilimpahkan kepada pihak swasta. Hanya pemerintah termasuk
aparatnya selaku wakil negara yang berwenang melakukan
pemungutan pajak, sedangkan pihak swasta tidak diperkenankan
atau dilarang melakukan pemungutan pajak karena masalah pajak
melibatkan rakyat sebagai wajib pajak pada umumnya untuk
menyerahkan sebagian kekayaannya kepada negara sehingga tidak
ada ketentuan hukum yang berlaku, yang membolehkan pihak
swasta melakukan pemungutan pajak. Kecuali bila di masa men-
datang terdapat pemikiran untuk melibatkan pihak swasta sebagai
pemungut pajak. Maka, hal itu wajib ditetapkan terlebih dahulu
dalam Undang-undang Pajak dengan berbagai persyaratan untuk
itu,
139
BAB 7: Pemungutan Pajak
Pembaruan Hukum Pajak
138
1. BerdasarkanAsas Sumber
B. Yurisdiksi Pemungutan Pajak
mendasar adalah dasar hukum yang memberi wewenang untuk
melakukan pemungutan pajak sehingga bukan merupakan pelang-
garan hukum bagi yang melakukan pemotongan atau pemungut an
pajak.
141 SAS 7: Pemungutan Pajak
Bangunan terjadi di Indonesia sehingga Indonesia berhak
memungut Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. j enis pajak
ini bertujuan untuk mengatur perolehan hak atas tanah dan
bangunan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan , baik
sebagai warga negara Indonesia maupun warga negara asing yang
bertempat tinggal atau berkedudukan di Indonesia. Dengan
demikian, penerapan asas sumber dalam pemungutan pajak sangat
memegang peranan penting dalam pengembangan hukum pajak
di masa mendatang.
2. BerdasarkanAsas Kewarganegaraan
Literatur yang berkaitan dengan hukum pajak menggunakan
istilah yang berbeda-beda, tergantung dari konteks yang lebih baik
dalam penggunaannya. Yurisdiksi pemungutan pajak berdasarkan
asas kewarganegaraan dapat pula menggunakan istilah yurisdiksi
pemungutan pajak berdasarkan asas kebangsaan. Akan tetapi ,
dalam pembahasan ini digunakan istilah asas kewarganegaraan
untuk menunjukkan betapa pentingnya asas kewarganegaraan
daripada asas kebangsaan dalam pemungutan pajak.
Berdasarkan asas kewarganegaraan, yurisdiksi pemungutan
pajak dikenakan pajak bukan objek pajak, melainkan status atau
kedudukan warga negara dari setiap orang pribadi yang berasal
dari negara yang mengenakan pajak. Walaupun orang pribadi yang
bersangkutan tidak bertempat tinggal atau berkedudukan pada
negara yang hendak melakukan pemungutan pajak, terhadap orang
pribadi itu yang merupakan war ga negaranya, dilakukan pemungu-
tan pajak terhadap yang bersangkutan. Misalnya, untuk Indonesia
yang menganut asas kewarganegaraan, pemungutan pajak yang
dilakukan bukan hanya warga negara yang bertempat tinggal atau
berkedudukan di Indonesia, tetapi termasuk pula yang bertempat
tinggal atau berkedudukan di luar Indonesia.
Pembaruan Hukum Pajak
r
Menurut yurisdiksi pemungutan pajak berdasarkan as as
sumber bahwa pemungutan pajak tidak dapat dilepaskan dengan
sumber atau tempat objek pajak itu berada. ]ika objek pajak itu
berada di negara Indonesis, negara Indonesia berwenang memungut
pajak kepada orang pribadi atau badan yang memiliki objek pajak
termaksud. Misalnya, terhadap objek Pajak Bumi dan Bangunan
yang berada di Indonesia, negara Indonesia memiliki kewenangan
untuk mengenakan dan memungut Pajak Bumi dan Bangunan bagi
wajib pajak yang memiliki, menguasai, atau memperoleh manfaat
atas objek pajak yang dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan.
Hal yang sama dapat pula terjadi pada Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bang unan karena Perolehan Hak atas Tanah dan
Negara dalam melakukan pemungutan pajak terikat pada
yurisdiksi dari negara yang bersangkutan. Yurisdiksi adalah ruang
lingkup penggunaan wewenang untuk memungut pajak pada
warganya maupun warga negara asing yang bertempat tingal atau
berkedudukan di negara tersebut sehingga tidak menimbulkan
pembebanan berat bagi yang kena pajak. Secara tegas maupun
secara tersirat dalam hukum pajak diatur mengenai pengelompokan
yurisdiksi pemungutan pajak. Pengelompokan yurisdiksi pemungu-
tan pajak tersebut bertujuan untuk menghindari pengenaan pajak
yang bersifat ganda, baik nasional maupun internasional.
140
3. BerdasarkanAsas Tempat Tinggal
Kebalikan dari yurisdiksi pemungutan pajak berdasarkan asas
kewarganegaraan adalah yurisdiksi pemungutan pajak berdasarkan
asas tempat tinggal. Menurut yurisdiksi ini, pemungutan pajak
dilakukan oleh negara berdasarkan tempat tinggal atau kedudukan
wajib pajak. Kewenangan negara memungut pajak pada wajib pajak
yang bertempat tinggal atau berkedudukan pada negara yang
bersangkutan. Konsekuensinya adalah segala objek pajak yang
dimiliki, dikuasai, atau dimanfaatkan oleh wajib pajak yang ber-
tempat tinggal atau berkedudukan pada negara yang bersangkutan
dikenakan pajak.
Sebagai contoh, warga negara Malaysia yang bertempat tinggal
atau berkedudukan di Indonesia dengan memiliki, menguasai, atau
Asas kewarganegaraan ini diterapkan dalam UU PPh, yaitu
pemungutan Pajak Penghasilan dilakukan kepada warga negara
Indonesia, baik yang bertempat tinggal atau berkedudukan di
Indonesia maupun yang berternpat tinggal atau berkedudukan di
luar Indonesia. Ini berarti, hukum pajak mengikuti warga negaranya
di mana pun berada untuk dapat dikenakan Pajak Penghasilan.
Sebagai bukti dalam UU PPh, bahwa wajib pajak orang pribadi
yang bertempat tinggal atau berkedudukan pada Kantor Kedutaan
Indonesia di Malaysia dikenakan Pajak Penghasilan karena Kantor
Kedutaan Indonesia di Malaysia merupakan wilayah teritorial
Indonesia sebagai tempat atau kedudukan wajib pajak orang pribadi
menerima atau memperoleh penghasilan yang dapat dikenakan
Pajak Penghasilan. Terhadap wajib pajak orang pribadi tersebut
berkewajiban mengisi secara benar, jelas, lengkap, dan ditanda-
tangani serta menyampaikan surat pemberitahuan, baik surat
pemberitahuan masa maupun surat pemberitahuan tahunan kepada
pejabat pajak yang telah ditentukan.
c. Sistem Pemungutan Pajak
Bukan hanya yurisdiksi pemungutan pajak, tetapi Juga
mengenai sistem pemungutan pajak diatur dalam hukum pajak.
Sistem pemungutan pajak tidak mengikat negara untuk diterapkan,
melainkan negara yang menentukan sistem pemungutan pajak yang
digunakan atau diterapkan dalam melakukan pemungutan pajak.
Hal ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi negara dengan tidak
mengabaikan kewajiban dan hak wajib pajak dalam berperan serta
di bidang pembiayaan negara dalam melakukan tugas yang
diembannya.
143 BAB 7: Pemungutan Pajak
memanfaatkan objek Pajak Bumi dan Bangunan, dikenakan Pajak
Bumi dan Bangunan. Demikian pula halnya terhadap warga negara
Singapura yang bertempat tinggal atau berkedudukan di Indonesia
yang memperoleh atau mendapat penghasilan di Indonesia. Maka,
atas penghasilan tersebut dikenakan Pajak Penghasilan. Atau warga
negara Ameriksa Serikat yang bertempat tinggal atau berkedudukan
di Indonesia yang memiliki, menguasai, atau memanfaatkan hotel
di Indonesia. Maka, warga negara Amerika Serikat tersebut
dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan. Pengenaan Pajak Bumi dan
Bangunan karena hotel maupun tanah tempat berdirinya hotel
tersebut merupakan objek Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana
dimaksud dalam UU PBB.
Ketiga jenis asas pemungutan pajak tersebut di atas ternyata
diadopsi dalam rangka pemungutan pajak selama ini, baik terhadap
pajak langsung maupun pajak tidak langsung. Sebenarnya
pemungutan pajak terhadap pajak langsung maupun pajak tidak
langsung menggunakan kombinasi dari ketiga asas pemungutan
pajak tersebut di atas, walaupun tidak secara tegas dinyatakan
dalam Undang-undang Pajak yang bersangkutan. Sebagai contoh,
pada UU PPh yang melakukan pemungutan pajak dengan
menggunakan asas sumber dengan asas kewarganegaraan.
Pembaruan Hukum Pajak 142
1. Sistem Self Assessment
Sebenarnya sistern pemungutan pajak merupakan bagian dari
rata cara pemungutan pajak yang selama ini diatur dalam tiap-tiap
Undang-undang Pajak. Walaupun banyak jenis pajak yang dipungut
oleh negara, yang menentukan adalah tata cara bagaimana yang
digunakan oleh negara untuk melakukan pemungutan pajak. Tata
cara pemungutan pajak dapat beraneka ragam, tergantung dari
sistem pemungutan pajak yang digunakan. Sebenarnya, sistem
pemungutan pajak hanya bergantung pada kehendak negara untuk
menerapkannya dalam tiap-tiap Undang-undang Pajak, sepanjang
hal itu masih dimungkinkan berdasarkan substansi hukum yang
bersifat responsif.
Sistem pemungutan pajak yang selama ini dikenal dan diterap-
kan dalam pemungutan pajak sebagaimana tercermin dalam
Undang-undang Pajak, sebagai berikut.
Dalam sistem self assessment, wajib pajak memiliki hak yang
tidak boleh diintervensi oleh pejabat pajak, kecuali hanya memberi-
kan pelayanan dengan cara bagaimana wajib pajak menggunakan
hak tersebut. Sistem self assessment mengandung konsekuensi
terhadap pejabat pajak dan wajib pajak dalam kaitan penerapannya.
Pejabat pajak hanya bersifat pasif dan wajib pajak bersifat aktif.
Keaktifan wajib pajak adalah untuk menghitung, memperhitung-
kan, melaporkan, dan menyetor jumlah pajak yang terutang.
Keaktifan wajib pajak sangat dibutuhkan untuk memenuhi
kewajiban berupa mengisi secara benar, jelas, lengkap, dan
menandatangani surat pemberitahuan, baik surat pemberitahuan
masa maupun surat pemberitahuan tahunan sebagai sarana hukum
untuk menghitung, memperhitungkan, melaporkan, dan menyetor
pajak yang terutang. Sebaliknya, pejabat pajak hanya sekadar
memberikan bimbingan agar wajib pajak memenuhi kewajiban dan
145
SAS 7: Pemungutan Pajak
2. Sistem Official Assessment
Menurut sistem official assessment, pejabat pajak memiliki
wewenang dalam menentukan jumlah pajak yang wajib dibayar
lunas oleh wajib pajak. Campur tangan pejabat pajak dalam
penentuan pajak yang terutang bagi wajib pajak tidak dapat
terhindarkan karena sistem ini menitikberatkan pada keterlibatan
pejabat pajak dalam upaya menerbitkan ketetapan pajak yang
berisikan utang pajak dan bahkan kalau perlu memuat sanksi
hukum. Pajak yang terutang dalam ketetapan pajak merupakan
inisiatif dari pejabat pajak berdasarkan objek pajak yang diterima,
dimiliki, dikuasai, atau dimanfaatkan oleh wajib pajak.
Penerapan sistem official assessment dalam Undang-undang
Pajak dapat dilihat pada UU PBByang memberi kepercayaan kepada
pejabat pajak untuk menentukan pajak yang wajib dibayar lunas
oleh wajib pajak terhadap objek pajak yang dimiliki, dikuasai, atau
menjalankan hak berdasarkan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
Sekalipun pejabat pajak hanya memberi bimbingan kepada
wajib pajak untuk memenuhi kewajiban dan menjalankan haknya,
kalau terjadi pelanggaran dalam pemenuhan kewajiban dan
menjalankan hak, pejabat pajak berwenang mengenakan sanksi
hukum berdasarkan tingkat pelanggaran hukum yang dilakukan
oleh wajib pajak. Pejabat pajak tidak terlibat dalam penentuan
jumlah pajak yang terutang sebagai beban yang dipikul oleh wajib
pajak, melainkan hanya mengarahkan cara bagaimana wajib pajak
memenuhi kewajiban dan menjalankan hak agar tidak terjadi
pelanggaran hukum. Penerapan sistemselfassessment dapat diternu-
kan dalam Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak
Penjualan at as Barang Mewah, Bea Perolehan Hak at as Tanah dan
Bangunan, dan pajak daerah.
Pembaruan Hukum Pajak 144
3. Sistem Semi Self Assessment
dimanfaatkannya. Dalam kaitan ini, Rochmat Soemitro (1986;5)
mengatakan bahwa pemerintah berpendapat, untuk sementara
waktu sistem self assessment belum dapat diterapkan secara penuh,
mengingat tingkat pendidikan sebagian besar rakyat belum dapat
menerimanya. Akan tetapi, oleh DPR diusulkan supaya lambat laun
sistem ini diterapkan juga pada Pajak Bumi dan Bangunan.
Berdasarkan sistern semi selfassessment, ada kerja sama antara
wajib pajak dengan pejabat pajak untuk menentukan jumlah pajak
yang wajib dibayar lunas 01eh wajib pajak kepada negara. Wajib
pajak pada awal tahun pajak menentukan sendiri jumlah pajak yang
terutang untuk tahun berjalan sebagai angsuran yang disetor
sendiri. Pada akhir tahun pajak ditentukan kembali 01eh pejabat
pajak yang sebenarnya berdasarkan data yang disampaikan oleh
wajib pajak. Pejabat pajak dalam hal ini, bertindak sebagai pengawas
terhadap wajib pajak untuk menilai sejauhmana kejujuran wajib
pajak untuk melaporkan jumlah pajak yang terutang.
Sistem semiself assessment sebagai salah satu sistem pemungu-
tan pajak yang dikenal dalam hukum pajak, tetapi kenyataannya
tidak diterapkan dalam Undang-undang Pajak. Sistem semi self
assessment memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dan bahkan dapat
menimbulkan kompromi pajak antara wajib pajak dengan pejabat
pajak pada akhir tahun pajak. Kalau terjadi kompromi pajak, fungsi
pajak untuk mengisi kas negara mengalami hambatan atau kendala
sehingga hambatan perlu ditiadakan. Kegagalan fungsi pajak untuk
mengisi kas negara berarti kegagalan untuk membiayai pelaksanaan
tugas negara untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur
serta makmur dalam. keadil an.
147 BAB 7: Pemungutan Pajak
4. Sistem With Holding
Selain sistern selfassessment, sistem official assessment, dan sistem
semi selfassessment di kenal pula sistem withholding dalam pemungu-
tan pajak. Sistem with holding memberi kepercayaan kepada pihak
ketiga untuk melakukan pemungutan pajak at as objek pajak yang
diterima atau diperoleh wajib pajak dalam kegiatan usaha atau
pekerjaannya. Dengan kata lain, pihak ketiga ditempatkan sebagai
pihak yang berwenang untuk memotong atau memungut pajak
tertentu dan menyetor serta melaporkan kepada pejabat pajak.
Sebenarnya wajib pajak dan pejabat pajak tidak boleh melakukan
intervensi mengenai jumlah pajak yang dipotong atau dipungut
oleh pihak ketiga karena Undang-undang Pajak memberikan
kepercayaan untuk melakukan pemotongan atau pemungutan
pajak. Pejabat pajak hanya berwenang melakukan kontrol atau
pengawasan terhadap pelaksanaan pemotongan atau pemungutan
pajak sampai kepada pelaporan pajak yang telah ditentukan.
Penerapan sistem with holding dalam Undang-undang Pajak
dapat dilihat pada Pajak Penghasilan Pasal 21. Juga dalam Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas barang mewah dan
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, Bea Met erai, serta
Bea Masuk dan Cukai . Pemotongan atau pemungutan pajak yang
dilakukan oleh pihak ketiga pada Pajak Penghasilan Pasal21, Pajak
Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan Bea
Perolehan Hak at as Tanah dan Bangunan, Bea Meterai, serta Bea
Masuk dan Cukai tidak melibatkan pejabat pajak, melainkan atas
inisiatif pemotong atau pemungut pajak berdasarkan ketentuan
yang diatur dalam Undang-undang Pajak. Pemotong at au pemungut
Pajak tidak boleh melakukan pelanggaran hukum dalam melakukan
pemotongan atau pemungutan pajak, termasuk dalam melakukan
pelaporan pajak yang dipotong atau dipungut kepada pejabat pajak.
Pembaruan Hukum Pajak 146
D. Pelimpahan Wewenang Pemungutan Pajak
Pemungutan pajak negara tidak selalu dilakukan oleh petugas
pajak yang diangkat oleh pejabat pajak dalam lingkungan Ditektorat
Ienderal Pajak, tetapi kadangkala dilakukan oleh pihak-pihak yang
khusus diangkat berdasarkan ketentuan hukum pajak yang ber-
laku. Pajak Bumi dan Bangunan sebagai pajak negara, yang
pemungutannya seyogianya dilakukan oleh petugas pajak dalam
lingkungan DirektoratJenderal Pajak, dilimpahkan kepada gubernur
kepala daerah dan/atau bupati/walikota. Pelimpahan wewenang
untuk memungut Pajak Bumi dan Bangunan didasarkan pada Pasal
14 UU PBB yang menyatakan bahwa "Menteri Keuangan dapat
melimpahkan kewenangan penagihan pajak kepada gubernur kepala
daerah tingkat I dan/atau bupatilwalikotamadya kepala daerah
tingkat Il." Kernudian, dalam penjelasannya dikatakan bahwa
"pelimpahan wewenang penagihan pajak kepada gubernur kepala
daerah tingkat I dan/atau bupati/walikotamadya kepala daerah
tingkat II, bukan penagihan, tetapi hanya sebagai pemungut pajak,
sedangkan pendataan objek pajak dan penetapan pajak yang
terutang tetap menjadi kewenangan Menteri Keuangan. Dalam hal
jumlah pajak yang terutang sebagaimana yang tercantum dalam
surat pemberitahuan pajak terutang tidak sesuai dengan objek pajak
di lapangan, pemungut pajak tidak dibenarkan mengubah jumlah
pajak yang terutang, tetapi harus melaporkan hal tersebut kepada
Menteri Keuangan, yang dalam hal ini Direktur Jenderal Pajak."
Berdasarkan ketentuan Pasal 14 UU PBBdan Penjelasannya,
ternyata wewenang untuk memungut Pajak Bumi dan Bangunan
telah dilimpahkan kepada gubernur kepala daerah dan/atau bupati/
walikota. Pelimpahan wewenang itu tidak mencakup penagihan
Pajak Bumi dan Bangunan karena penagihan dengan pemungutan
pajak memiliki substansi hukum yang berbeda. Penagihan pajak
tertuju pada wewenang untuk menerbitkan surat pemberitahuan
E. Pembagian Hasil Pajak
149
BAB 7: Pemungutan Pajak
Hasil pajak negara yang telah dipungut maupun ditagih dibagi
antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah mengingat
objek pajak dan wajib pajak selaku pihak yang membayar pajak
bertempat tinggal atau berkedudukan di daerah. Pembagian hasil
pajak terutang, surat ketetapan pajak, dan surat tagihan pajak
terhadap Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang dan wewenang
ini berada pada pejabat pajak. Kernudian, pemungutan Pajak Bumi
dan Bangunan hanya tertuju pada kegiatan memungut pajak yang
dilakukan oleh petugas pajak. Dengan kata lain, tidak ada
pemungutan pajak tanpa didasarkan pada penagihan pajak dari
pejabat pajak karena pejabat pajak yang menerbitkan dasar
penagihan pajak, seperti surat pemberitahuan pajak terutang, surat
ketetapan pajak, atau surat tagihan pajak.
Pertimbangan dilimpahkannya wewenang pemungutan Pajak
Bumi dan Bangunan kepada gubernur kepala daerah atau bupati/
walikota kepala daerah adalah karena memiliki aparat atau petugas
di tingkat kelurahan maupun desa. Aparat atau petugas tersebut
memiliki data yang lengkap tentang objek PajakBumi dan Bangunan
serta wajib Pajak Bumi dan Bangunan yang bertempat tinggal di
kelurahan atau desa tersebut.
Secara hukum, istilah "daerah tingkat I" dan "daerah tingkat
II" tidak ada lagi berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 ten tang Pemerintahan Daerah. Pasal 14 UU PBB beserta
Penjelasannya harus ditinjau kembali untuk disesuaikan berdasar-
kan perkembangan hukum yang berlaku. Begitu pula istilah
walikotamadya telah diganti dengan istilah walikota sebagai simbol
kepala pemerintahan wilayah administrati Hal ini dimaksudkan
agar UU PBBtetap dapat menyesuaikan perkembangannya dalam
menunjang pembangunan di daerah.
Pembaruan Hukum Pajak 148
pajak negara telah memperoleh persetujuan dari Dewan Perwakilan
Rakyat dengan Presiden yang ditetapkan dalam berbagai Undang-
undang Pajak. Hal ini berarti hasil dari Pajak Negara telah dinikmati
oleh rakyat di daerah dalam bentuk pembiayaan pemerintahan dan
pembangunan di daerahnya masing-masing. Hasil pajak negara
yang diserahkan kepada daerah melalui Dana Alokasi Umum
(DAU) wajib dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah. Sebenarnya pencantuman tersebut bertujtian agar rakyat,
baik selaku wajib pajak maupun bukan wajib pajak dapat menge-
tahui adanya penyerahan hasil pajak negara kepada daerahnya.
Hasil pajak negara yang dapat dibagi adalah hasil dari Pajak
Penghasilan, Pajak Bumi dan Bangunan, serta Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan. Sementara itu, yang belum dapat dibagi
adalah hasil Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, tanpa pertimbangan yang jelas berdasarkan hukum.
Seyogianya, hasil dari Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah dapat pul a dibagi karena objek pajak yang boleh
dikenakan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah terdapat pula di daerah. Sebagai contoh, pengusaha kena
pajak yan g bertempat ti nggal atau bertempat kedudukan di
Makassar melakukan penyerahan barang kena pajak yang tergolong
barang mewah di Makassar sebagai daerah pabean. Maka, peng-
usah a kena pajak tersebut dikenakan pajak, baik Pajak Pertambahan
Nilai maupun Pajak Penjualan atas Barang Mewah di Makassar.
Atau seseorang di Makassar melakukan impor barang kena pajak
yang tergolong barang mewah dari Amerika Serikat. Maka, yang
bersangkutan sel ain dikenakan Pajak Pertambahan Nilai , juga
diken akan Pajak Penjualan atas Barang Mewah di Makassar.
Pembagian hasil Pajak Penghasilan antara pemerintah pusat
dengan pemerintah daerah hanya yang terkait dengan Pajak
Penghasilan Pasal 21 yang dipotong atau dipungut oleh pemberi
kerja. Tata cara pembagian adalah 80% unt uk pemerintah pusat
dan 20% untuk pemerintah daerah. Kemudian pembagian antara
pemerintah daerah provinsi dengan pemerintah daerah kabupaten/
kota masih memerlukan pengaturan lebih lanjut dalam bentuk
peraturan pemerintah. Dalam hal ini masih terdapat campur tangan
pemerintah pusat untuk mengatur pembagian hasil dari Pajak
Penghasilan Pasal 21 yang diperoleh pemerintah daerah, baik
pemerintah daerah provinsi maupun pemerintah daerah kabupa-
ten/kota.
Sementara itu, pembagian hasil Pajak Bumi dan Bangunan
antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, didasarkan
atas perimbangan sebesar 10% untuk pemerintah pusat dan sebesar
90% untuk pemerintah daerah setelah dikurangi sebesar 10%
sebagai biaya pemungutan. Selanjutnya, dilakukan lagi pembagian
sebesar 20% untuk pemerintah daerah provinsi dan 80% untuk
pemerintah daerah kabupaten/kota. Hasil pembagian itu sebagai
pendapatan daerah yang setiap tahunnya ditetapkan dalam
anggaran pendapatan dan belanja daer ah yang bersangkutan.
Kemudian, pembagian hasil Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah
dengan perimbangan sebesar 20% untuk pemerintah pusat dan
sebesar 80% untuk pemerintah daerah. latah sebesar 80% untuk
pemerintah daerah dibagi antara pemerintah daerah provinsi
dengan pemerintah daerah kabupaten/kota. pemerintah daerah
provinsi memperoleh bagian sebesar 16% dari 80%, untuk
pemerintah daerah kabupaten/kota memperoleh bagian sebesar
64% dari 80%.
Pembagian hasil pajak negara merupakan komitmen pemerin-
tah pusat untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah. Apalagi
dengan otonomi daerah sebagai kehendak rakyat yang wajib
diupayakan agar terlaksana sebagaimana mestinya men gingat kalau
150 PembaruanHukum Pajak
BAB 7: PemungutanPajak 151
152 PembaruanHukumPajak
153
dari hasil pajak daerah yang diharapkan, pernerintah daerah tidak
rnarnpu rnelaksanakan otonorni daerah, kecuali daerah tertentu
saja yang rnerniliki surnber daya rnanusia dan surnber daya alarn
yang sangat potensial dapat diolah secara rnaksirnal untuk
rnenutupi kekurangan pernbiayaan yang dihadapi oleh daerah yang
bersangkutan.
Utang Pajak
A. Pendahuluan
Pada hakikatnya, istilah utang pajak tidak berbeda dengan pajak
yang terutang sebagai suatu kewajiban yang wajib dibayar lunas
oleh wajib pajak dalarn jangka waktu yang ditentukan. Kedua istilah
tersebut dapat dilihat dalarn berbagai literatur yang terkait dengan
hukum pajak. Di samping itu, ditemukan pula pada penggunaannya
yang berbeda dalam Undang-undang Pajak, khususnya pada UU
KUP dan UU PPDSP.
Istilah utang pajak digunakan dalam UU PPDSP dengan
pengerti an bahwa utang pajak adalah pajak yang masih harus
dibayar termasuk sanksi administrasi berupa bunga, denda, atau
kenaikan yang tercantum dalam surat ketetapan pajak atau surat
sejenisnya berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Sementara itu, istilah pajak yang terutang digunakan dalam UU
KUP dengan pengertian bahwa pajak yang terutang adalah pajak
yang harus di bayar pad a suatu saat, dalam masa pajak, dalam
tahun pajak atau dalam bagian tahun pajak sesuai dengan keten-
tuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Kedua pengertian mengenai utang pajak tersebut memiliki
perbedaan secara prinsipil. Akan tetapi, perbedaannya tidak
merupakan suatu perluasan pengertian utang pajak, melainkan
hanya ketidaksesuaian antara UU KUP dengan UU PPDSP. Kalau
terjadi semacam ini, dalam penerapannya digunakan asas hukum
yang mengatakan bahwa aturan khusus mengesampingkan aturan
yang umum (lex specialis derogat legi generali) .
Penggunaan asas hukum tersebut wajib dimaklumi bahwa UU
KUPmerupakan suatu "ketentuan-ketentuan umum" yang menjadi
dasar bagi Undang-undang Pajak lainnya, termasuk UU PPDSP
sebagai "ketentuan-ketentuan khusus" mengenai penagihan pajak
dengan menggunakan surat paksa. Asas hukum ini perlu dikem-
bangkan untuk memberi pemahaman bagi wajib pajak maupun
pejabat pajak melaksanakan ketentuan-ketentuan yang terkait
dengan penagihan pajak sebagai bagian dari penegakan hukum
pajak. Hakikat yang terkandung dalam UU KUPmemuat ketentuan-
ketentuan yang bersifat umum tentang penagihan pajak, sedangkan
UU PPDSP memuat ketentuan-ketentuan khusus tentang penagi-
han pajak yang terkait dengan surat paksa.
Untuk menghindari kesalahpahaman mengenai pengertian
utang pajak dengan pajak yang terutang, disarankan yang paling
tepat digunakan adalah pengertian utang pajak yang terdapat pada
Pasal 1 angka 8 UU PPDSP. Pertimbangannya adalah lebih luas
cakupannya dibandingkan dengan pengertian utang pajak sebagai-
mana dimaksud dalam UU KUP karena memasukkan sanksi
. administrasi berupa bunga, denda, atau kenaikan sebagai bagian
dari utang pajak, berarti tidak hanya pajak yang kurang terbayar
melainkan termasuk pula sanksi administrasi itu sendiri. Utang
pajak dengan pajak yang terutang dapat disinkronisasikan men-
jadi satu kesatuan dalam suatu pengertian yang mengandung
substansi hukum yang sangat luas jangkauannya agar tidak
membingungkan wajib pajak dalam pelaksanaannya.
Dalam keterkaitan ini, menurut R. Santoso Brotodihardjo
(1995; 109), sifat utang pajak pelunasannya dapat dipaksakan secara
langsung dengan cara-cara yang dilindungi oleh hukum pajak.
Misalnya, penyitaan yang disusul dengan penjualan barang-barang
itu di muka urnum, bahkan paksaan badan yang dinamakan
penyanderaan (gijzeling) memang sangat diperlukan, yaitu merata-
kan beban sehingga dapat dirasakan keadilannya oleh masyarakat.
]adi, dengan cara memaksa negara memikulkan kewajiban kepada
wajib pajak untuk menyerahkan sebagian kekayaannya. Dengan
demikian, timbullah suatu kewajiban yang konkret untuk melaku-
kan suatu prestasi kepada negara. Lain perkataan, kini timbullah
suatu perikatan yang berdasarkan undang-undang.
B. Timbulnya Utang Pajak
Mengenai timbulnya utang pajak terdapat perbedaan pendapat
atau persepsi di kalangan ahli hukum pajak karena sudut pandang
yang dijadikan sebagai pokok bahasan yang berbeda pula. Perbedaan
itu sebagai wacana terbaik dalam perkembangan hukum pajak di
masa kini maupun di masa mendatang. Perbedaan pendapat atau
persepsi mengenai timbulnya utang pajak dikategorikan sebagai
salah satu sumber hukum pajak yang berada pada tataran doktrin
di kalangan ahli hukum pajak sepanjang pendapat tersebut diterima
sebagai suatu perkembangan positif di bidang perpajakan.
Lebih lanjut, dikatakan oleh R. Santoso Brotodihardjo
(1995; 113) bahwa timbulnya utang pajak tidaklah selalu dinyatakan
dengan jelas di dalam undang-undangnya, pada saat manakah
terjadi suatu utang pajak, melainkan dicurahkannyalah semua
perhatian kepada timbulnya keharusan untuk membayarnya.
Demikian itu adalah karena dalam praktik sehari-hari, saat yang
disebut ini jauh lebih penting. Begitu pula yang dikatakan oleh
RochmatSoemitro (1988;1-2) bahwa utangpajakadalah utangyang
155 BAB 8: Utang Pajak
Pembaruan Hukum Pajak
1')\
156
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 8: Utang Pajak 157
timbulnya secara khusus, karena negara (kreditor) terikat dan tidak
dapat memilih secara bebas, siapa yang akan dijadikan debiturnya.
Hal ini terjadi karena utang pajak timbul karena undang-undang.
Kapan timbulnya utang pajak merupakan kajian dari hukum
pajak untuk menentukannya, tetapi dalam hal ini terdapat dua teori
yang membicarakannya, yakni teori materil dan teori formi!. Kedua
teori ini sangat memperoleh perhatian di kalangan ahli hukum pajak
untuk dikaji berdasarkan hukum pajak sehingga boleh menunjang
pengembangan hukum pajak di masa kini dan mendatang. Teori
materil dan teori formil mempersoalkan bagaimana cara timbulnya
utang pajak, apakah karena bunyi Undang-undang Pajakatau karena
tindakan pejabat pajak.
1. Teori Materil
Prof. P.]. Adriani (dalam R. Santoso Brotodihardjo, 1995;114)
sebagai pelopor dari teori materil mengatakan bahwa utang pajak
timbul karena telah memenuhi syarat tatbestand yang terdiri dari
keadaan-keadaan, peristiwa-peristiwa, atau perbuatan-perbuatan tertentu
sehingga tidak memerlukan campur tangan pejabat pajak untuk
menerbitkan surat ketetapan pajak. Keberadaan surat ketetapan
pajak hanya sekadar untuk melakukan penagihan pajak dan tidak
menimbulkan utang pajak.
Surat ketetapan pajak yang diterbitkan oleh pejabat pajak
bukan yang menimbulkan utang pajak, melainkan hanya karena
memenuhi syarat tatbestand yang terdapat dalam Undang-undang
Pajak. Sekalipun utang pajak timbul bukan karena surat ketetapan
pajak, surat ketetapan pajak tetap memiliki fungsi menurut teori
ini. Berdas arkan teori ma teril, surat ketetapan pajak memiliki
fungsi, yaitu:
a. dasar penagihan pajak; dan
b. rnenentukan jumlah utang pajak.
Dalam kaitan ini, Rochmat Soemitro (1988;3) mengemukakan
bahwa kalau kita menganalisis lebih lanjut, teori materil itu
mengelompokkan bahwa utang pajak timbul karena Undang-
undang Pajak sendiri. Utang pajak menurut dasar itu timbul dengan
sendirinya karena pada saat yang ditentukan oleh Undang-undang
Pajak (Pajak Penghasilan pada akhir tahun), sekalipun dipenuhi
syarat-syarat subjektif dan syarat-syarat objektif. Arti "dengan
sendirinya" yaitu untuk timbulnya utang pajak itu tidak diperlukan
campur tangan atau perbuatan hukum dari pejabat pajak, asal
syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Undang-undang Pajaktelah
terpenuhi. Utang pajak terhadap pajak langsung lazimnya timbul
secara periodik pada saat yang berlainan. Kelemahan teori materil
ini adalah pada saat utang pajak itu timbul, tidak diketahui dengan
pasti, atau belum diketahui dengan pasti berapa besarnya utang
pajak karena kebanyakan wajib pajak tidak memahami dan
menguasai ketentuan Undang-undang Pajak sehingga kurang
mampu menerapkannya.
Kalau dikaji teori materil secara mendalam pendapat ke dalam
Undang-undang Pajak, terkait dengan Pasal 12 ayat (1) UU KUP.
Menurut ketentuan ini, setiap wajib pajak wajib membayar pajak
yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan dengan tidak menggantungkan pada adanya
surat ketetapan pajak. Kernudian, dalam penjelasannya dikatakan
bahwa pada prinsipnya pajak yang terutang pada saat timbulnya
objek pajak yang dapat dikenakan pajak, namun untuk kepentingan
administrasi perpajakan saat terutangnya pajak tersebut adalah:
a. pada suatu saat, untuk Pajak Penghasilan yang dipotong oleh
pihak ketiga;
b. pada akhir masa, untuk Pajak Penghasilan karyawan yang
dipotong oleh pemberi kerja atau yang dipungut oleh pihak
lain atau kegiatan usaha, atau oleh pengusaha kena pajak atau
pemungutan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah;
c. pada akhir tahun pajak, untuk Pajak Penghasilan.
[umlah pajak terutang yang telah dipotong, ataupun yang harus
dibayar sendiri oleh wajib pajak setelah tiba saat atau masa
pelunasan pernbayaran, oleh wajib pajak wajib disetor ke kas negara
melalui kantor pos dan atau Bank Badan Usaha Milik Negara atau
Bank Badan Usaha Milik Daerah atau tempat pembayaran lain yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Sebenarnya pejabat pajak tidak
berkewajiban menerbitkan surat ketetapan pajak atau semua surat
pemberitahuan yang disampaikan oleh wajib pajak. Terbitnya suatu
surat ketetapan pajak hanya terbatas pada wajib pajak tertentu yang
disebabkan oleh ketidakberesan dalam pengisian surat pernberi-
tahuan atau karena ditemukannya data fiskal yang tidak dilaporkan
oleh wajib pajak.
Saat timbulnya utang Pajak Penghasilan, yakni pada saat
penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak dikenakan
pajak. Untuk kepentingan administrasi perpajakan, saat terutang-
nya pajak penghasilan adalah: 1) pada suatu saat; 2) pada akhir
masa; dan 3) pada akhir tahun. Wajib pajak yang bersangkutan
wajib membayar lunas utang pajaknya sebelum pejabat pajak
melakukan penagihan pajak. Kernudian, saat timbulnya utang Pajak
Pertambahan Nilai, yakni pada saat pengusaha kena pajak
melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan yang dapat dikenakan
pajak, seperti:
a. penyerahan barang kena pajak di dalam daerah pabean;
b. impor barang kena pajak;
c. penyerahan jasa kena pajak di dalam daerah pabean;
d. pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud dari luar daerah
pabean di dalam daerah pabean;
e. pemanfaatan jasa kena pajak dari luar daerah pabean di dalam
daerah pabean;
f. ekspor barang kena pajak.
Mengenai saat timbulnya utang Pajak Penjualan atas Barang
Mewah, yakni pada saat penyerahan barang kena pajak yang
tergolong barang mewah yang dilakukan oleh pengusaha kena pajak
yang menghasilkan barang kena pajak yang tergolong barang mewah
di dalam daerah pabean dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya.
Atau siapa pun yang melakukan impor barang kena pajak yang
tergolong barang mewah, baik dilakukan secara terus-menerus
maupun hanya sekali saja.
Juga teori materil dianut pula pada Bea Perolehan Hak at as
Tanah dan Bangunan sebagaimana diatur pada Pasal 10 ayat (1)
UU BPHTB bahwa "wajib pajak wajib membayar pajak yang
terutang dengan tidak mendasarkan pada adanya surat ketetapan
pajak." Oleh karena itu, saat timbulnya utang Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan untuk:
a. jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatangani akta;
b. tukar-menukar adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatangani-
nya akta:
c. hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;
d. waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan
peralihan haknya ke kantor pertanahan;
e. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah
sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;
f. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak
tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta:
g. lelang adalah sejak tanggal penunjukan lelang;
h. putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pengadilan yang
mempunyai kekuatan hukum yang tetap;
158 Pembaruan Hukum Pajak BAB 8: Utang Pajak
159
1. hibah wasiat adalah sejak tanggal yang bersangkutan men-
daftarkan peralihan haknya ke kantor pertanahan;
j. pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari
pelepasan hak adalah sejak tanggal ditandatanganinya dan
diterbitkannya surat keputusan pemberian hak;
k. pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah tanggal
ditandatanganinya dan diterbitkannya surat keputusan
pemberian hak;
1. penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditanda-
tanganinya akta:
m. peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditanda-
tanganinya akta:
n. pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditanda-
tanganinya akta:
o. hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta.
Demikian pula halnya terhadap pajak daerah yang menganut
teori materil sebagaimana yang tersirat dalam ketentuan Pasal 7
ayat (1) UU PDRD bahwa pajak dibayar
sendiri oleh wajib pajak. Ketentuan pada Pasal 7 ayat (1) UU PDRD
menunjukkan bahwa pajak yang terutang tidak melibatkan pejabat
pajak untuk menentukannya. Sebenarnya timbulnya utang pajak
daer ah karena UU PDRD yang menentukannya, bukan perbuatan
hukum dari pejabat paj ak.
Secara t egas dikata kan bahwa Pajak Pen ghasilan, Paj ak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, serta pajak da erah
menganut teori materil tentang timbulnya utang pajak. Berarti
dalam hukum pajak, telah dikurangi keterlibatan pejabat pajak
untuk menentukan utang pajak, baik Pajak Penghasilan, Pajak
Pertambahan Nil ai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak
2. Teori Formil
Teori formil tentang timbulnya utang pajak merupakan kebali-
kan dari teori materil. Teori formil dipelopori oleh Mr. Steinmetz
(dalam R. Santoso Brotodirdjo, 1995; 114) yang mengatakan bahwa
timbulnya utang pajak bukan karena Undang-undang Pajak.
Walaupun telah dipenuhi tatbestand, karena pejabat pajak belum
161 BAB 8: Utang Pajak
Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan,
serta pajak daerah. Sekalipun telah berkurang keterlibatannya, tidak
berarti bahwa pejabat pajak tidak berperan dalam penegakan hukum
pajak dan memberiperlindungan hukum kepada wajib pajak.
Bagaimana halnya terhadap Undang-undang Pajak yang tidak
secara tegas mengatur ketentuan yang sama halnya dengan
ketentuan yang terdapat dalam Pasal12 ayat (1) UU KUp, Pasa110
ayat (1) UU BPHTB, dan Pasa17 ayat (1) UU PDRD dapat dikelom-
pokkan sebagai yang menganut teori materil, misalnya UU BM,
UU KPB, dan UU CK. Berdasarkan kajian hukum pajak, UU BM.
UU KPB, dan UU CK menganut pula teori materil tentang
timbulnya utang pajak. Artinya, teori materil tentang timbulnya
utang pajak dianut pula oleh Bea Materai, Bea Masuk, dan Cukai.
Sebenarnya teori materil tentang timbulnya utang pajak
memberi keringanan tugas pejabat pajak dalam melakukan
pengawasan terhadap wajib pajak untuk memenuhi kewajiban dan
menjalankan hak-haknya sebagaimana yang ditentukan dalam
peraturan perundang-undangan perpajakan. Pejabat pajak,
berdasarkan teori materil tentang timbulnya utang pajak, hanya
bertugas melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan wajib
pajak. Tatkala dalam melakukan pemeriksaan ternyata ditemukan
ketidakpatuhan wajib pajak, pejabat pajak berwenang menjatuhkan
sanksi administrasi berupa bunga, denda, atau kenaikan atas jumlah
pajak yang terutang.
Pembaruan Hukum Pajak
160
menerbitkan surat ketetapan pajak, belum timbul utang pajak.
Sebenarnya menurut teori formil, utang pajak timbul karena
perbuatan hukum dari pejabat pajak yang menerbitkan surat
ketetapan pajak terhadap wajib pajak. Berdasarkan teori formil
tentang timbulnya utang pajak, surat ketetapan pajak memiliki
fungsi yang di antaranya:
a. menimbulkan utang pajak;
b. dasar penagihan pajak;
c. menentukan jumlah pajak yang terutang.
Terkait dengan teori formil, menurut Rochmat Soemitro
(1988;3) , utang pajak timbul karena Undang-undang Pajak pada
saat pejabat pajak menerbitkan surat ketetapan pajak. ]adi, selama
belum ada surat ket etapan pajak, belum ada utang pajak, walaupun
syarat-syarat subjektif dan syarat-syarat objektif serta waktu telah
terpenuhi . Keuntungan teori formil adalah pada saat utang pajak
timbul karena yang menentukan besarnya pajak itu adalah pejabat
pajak yang menguasai ketentuan-ketentuan Undang-undang Pajak.
Kelemahan teori formil ini ialah bahwa besar sekali kemungkinan-
nya utang pajak ditetapkan tidak sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya dan bahwa teori formil ini tidak dapat diterapkan
terhadap paj ak tidak langsung karena pajak tidak langsung tidak
menggunakan surat ketetapan pajak.
Teori formil tentang timbulnya utang pajak hanya diterapkan
dalam Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 ayat (1) dan ayat (2) UU PBB, bahwa "tahun pajak yang
digunakan adalah jangka waktu satu tahun takwim", sedangkan
"saat yang menentukan utang pajak adalah menurut keadaan objek
pajak pada tanggal 1 ]anuari " . Kemudian, dalam penjelasan
ketentuan Pasal8 ayat (1) dan ayat (2) UU PBB, ditentukan bahwa
"jangka waktu 1 (satu) tahun takwim adalah dari 1]anuari sampai
dengan 31 Desernber" dan "karena tahun pajak dimulai pada
C. Berakhirnya Utang Pajak
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa timbulnya utang pajak
bukan hanya telah dipenuhinya tatbestand, tetapi juga karena
perbuatan hukum pejabat pajak. Perbu atan hukum yang dilakukan
163
BAB 8: Utang Pajak
tanggal 1 ]anuari, keadaan objek pajak pad a tanggal tersebut
merupakan yang menentukan pajak yang terutang". Sebagai contoh,
adalah:
a. objek pajak pada tanggal 1 ]anuari 2005 berupa tanah dan
bangunan, pada tanggall 0]anuari 2005 bangunannya terbakar
maka pajak yang terutang tetap berdasarkan keadaan objek
pajak pada tanggal 1 ]anuari 2005, yaitu keadaan sebelum
bangunan tersebut terbakar;
b. objek pajak pada tanggall ]anuari 2005 berupa sebidang tanah
tanpa bangunan di atasnya. Pada tanggal 10 ]anuari 2005
dilakukan pendataan, ternyata di atas tanah tersebut telah
berdiri suatu bangunan, pajak yang terutang untuk tahun 2005
tetap dikenakan pajak berdasarkam keadaan pada tanggal 1
]anuari 2005. Sementara itu, bangunannya baru dikenakan
pajak pada tahun 2006.
Kemudian, pada ketentuan Pasalll ayat (1) UU PBBditegas-
kan "pajak yang terutang berdasarkan surat pemberitahuan pajak
terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) wajib
dibayar lunas selambat-lambatnya enam bulan sejak tanggal
diterimanya surat pemberitahuan pajak terutang oleh wajib pajak. "
Keterlibatan pejabat pajak dalam menentukan utang Pajak Bumi
dan Bangunan, menunjukkan suatu kepastian hukum bahwa Pajak
Bumi dan Bangunan menganut teori formil. Sementara itu,
substansi hukum yang terkandung dalam Pasal8 ayat (1) dan ayat
(2) UU PBB hanya sekadar untuk menentukan tahun pajak dan
saat timbulnya utang Pajak Bumi dan Bangunan.
Pembaruan Hukum Pajak 162
164
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 8: Utang Pajak 165
oleh pejabat pajak ters ebut adalah menerbitkan surat ketetapan
pajak atau surat tagihan pajak sebagaimana ditentukan dalam
Undang-undang Pajak. Demikian pula halnya bagi berakhirnya
utang pajak karena berbagai sarana hukum yang tersedia dalam
Undang-undang Pajak. UU KUP maupun Undang-undang Pajak
lainnya menetapkan berbagai cara yang dilakukan untuk mengakhiri
utang pajak, misalnya pembayaran, pembayaran dengan cara lain,
kompensasi, peniadaan, pembebasan, dan kedaluwarsa.
1. Pembayaran
Pembayaran secara lunas dalam bentuk sejumlah uang yang
dilakukan oleh wajib pajak, penanggung pajak, atau kuasa
hukumnya merupakan faktor yang menyebabkan berakhirnya utang
pajak. Sebagaimana ditegaskan oleh Rochmat Soemitro (1988;45),
yang diwajibkan membayar utang pajak adalah wajib pajak, yakni
subjek pajak yang memiliki kewajiban untuk membayar pajak. Akan
tetapi, pembayaran pajak dapat pula dilakukan oleh pihak ketiga
yang tidak berkepentingan dengan ketentuan bahwa pihak ketiga
tersebut bertindak atas nama wajib pajak (bahkan tidak perlu ada
persetujuan atau surat kuasa khusus dari wajib pajak, karena
menguntungkan wajib pajak/tidak merugikan wajib pajak) dengan
maksud untuk membebaskan wajib pajak dari perikatan pajak.
Pembayaran adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh
wajib pajak, penanggung pajak, atau kuasa hukumnya untuk
mengakhiri utang pajaknya dengan cara membayar dalam bentuk
sejumlah uang ke kas negara. Dalam hubungan ini Santoso
Brotodihardjo (1995;125) mengemukakan bahwa dalam hubungan
dengan hukum pajak yang dimaksud ialah pembayaran dengan mata
uang, bahkan lebih tegas lagi, dengan mata uang dari negara yang
memungut pajak ini, jadi untuk negara kita dengan rupiah karena
jumlah uang pajak ditentukan dalam mata uang rupiah pula. ]adi,
jika ada utang pajak dibayar dengan uang asing (seperti halnya di
Nederland dibayar kepada pejabat pajak Indonesia dengan uang
gulden), ini harus ditafsirkan bahwa pejabat pajak telah berkenan
mengizinkan demikian. Perlu ditekankan bahwa pembayaran untuk
melunasi utang pajak ini harus dilakukan di kas negara dan tidak
boleh pada pejabat pajak, termasuk petugas pajak lainnya.
UU KUP secara tegas mengatur bahwa pajak dapat dibayar
lunas melalui pos wesel dan jika hal ini dilakukan, menurut
Rochmat Soemitro (1988;44-45), wajib diperhatikan hal-hal sebagai
berikut. Pos wesel wajib dialamatkan kepada Kepala Kantor Kas
Negara, dan dalam pos wesel wajib dengan jelas disebut nama,
alamat, dan nomor pokok wajib pajak, jenis dan tahun pajak,
besarnya pembayaran pajak. Pembayaran pajak melalui pos wesel
yang dialamatkan kepada pejabat pajak adalah tidak benar karena
pejabat pajak dilarang dan tidak berhak menerima pembayaran
pajak dalam bentuk apa pun. Lebih lanjut dikatakan oleh Rochmat
Soemitro (1988;45-46) bahwa pembayaran lazimnya dilakukan oleh
debitur (wajib pajak yang bersangkutan) . Dalam pajak langsung,
dilakukan oleh wajib pajak yang namanya tercantum pada surat
ket et apan pajak. Utang pajak tidak langsung, seperti Pajak
Pert ambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Bea
Meterai, Bea Masuk dan Cukai pembayarannya wajib dilakukan
oleh wajib pajak yang ditentukan oleh Undang-undang Pajak (tanpa
diket ahui siapa namanya) seperti pengguna dokumen dan
pengusaha kena pajak yang melakukan penyerahan barang kena
pajak atau pemberi jasa kena pajak, yang selanjutnya diberi hak
oleh Undang-undang Pajak untuk melimpahkan pajak (yang telah
dibayar itu) kepada pihak ketiga (pembeli atau konsumen) . ]adi,
dalam pajak tidak langsung, pembayaran pajak harus diartikan lebih
lanjut, yaitu siapa yang bertanggung jawab atas pembayarannya
(arti nya dikenakan denda apabila pajak tidak dibayar) dan siapa
yang akhirnya harus memikul beban pajak. ]adi, dalam pajak tidak
langsung, orang yang membayar pajak/yang menanggung pem-
bayarannya, dan orang yang memikul pajaknya, terdapat pada dua
orang yang berlainan. Sementara itu, dalam pajak langsung, baik
yang membayar/menanggung pajak dan orang yang memikul
beban, ada pada satu orang yang sama.
2. Pembayaran dengan Cara Lain
Pelunasan pajak tidak selalu dilakukan dengan cara membayar
dalam bentuk uang, tetapi Undang-undang Pajakmemperkenankan
pembayaran dengan cara lain. Dalam ani, pembayaran yang
digunakan oleh wajib pajak bukan dalam bentuk uang melainkan
dengan cara suatu perbuatan hukum yang diperkenankan dalam
hukum pajak. Dengan demikian, pembayaran dengan cara lain
(tidak menggunakan uang sebagai alat bayar) tidak merupakan
suatu pelanggaran hukum karena diperkenankan oleh Undang-
undang Pajak.
Sebagaimana dikatakan oleh Rochmat Soemitro (1988;58),
pembayaran pajak dalam bentuknatura pada masa kini tidak lazim
lagi. Pembayaran pajak tidak selalu dilakukan dengan membayar
sejumlah uang ke kas negara. Ada cara pembayaran lain, seperti
terdapat pada UU BM. Dalam UU BM, pajak tidak dibayar dengan
sejumlah uang, mel ainkan dengan menggunakan kertas meterai
atau meterai tempel sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam
UU BM. Ketentuan dalam UU BMmen entukan bagaimana caranya
menggunakan kertas meterai atau meterai tempel itu sehingga
kertas meterai atau meterai tempel itu setelah dipakai tidak lagi
dapat dipakai untuk kedua kalinya.
Kemudian, dikatakan lagi oleh Rochmat Soemitro (1988;59)
bahwa cara lain lagi ialah "nazegeling" atau "perneteraian kembali",
untuk dokumen/tanda yang ternyata besarnya tidak atau kurang
dibayar dengan menunjukkan dokumen itu kepada pegawai kantor
pos untuk dibubuhi meterai, yang kemudian dicap dengan stempel
kantor pas . Pada pemeteraian kembali itu , denda yang terutang
untuk pelanggaran itu harus sekalian dibayar, kalau tidak pegawai
kantor pos tidak akan melakukan "nazegeling" tersebut.
167 SAS 8: Utang Pajak
3. Kompensasi
Hukum pajak mengenal pula cara lain untuk berakhirnya utang
pajak dalam bentuk kompensasi, yang dilakukan oleh wajib pajak
dengan pejabat pajak selaku penagih pajak. Kelebihan pembayaran
pajak dapat terjadi karena berbagai hal, seperti perubahan Undang-
undang Pajak, kekeliruan pembayaran, adanya pemberian
pengurangan, dan sebagainya. Oleh karena itu, kelebihan pem-
bayaran pajak merupakan hak wajib pajak dan dapat dikreditkan.
Setelah wajib pajak memperhitungkan kredit pajak dengan utang
pajak yang timbul, ternyata terdapat kelebihan pembayaran pajak
yang dapat dikompensasi dengan utang pajak yang timbul di masa
mendatang.
Kredit pajak dalam UU PPh terjadi karena kelebihan pem-
bayaran Pajak Penghasilan yang dilakukan oleh wajib pajak. Kredit
Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh wajib pajak
ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam surat tagihan
pajak karena Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau
kurang dibayar ditambah dengan pajak yang dipotong atau
dipungut, ditambah dengan pajak atas penghasilan yang dibayar
atau terutang di luar negeri, dikurangi dengan pengembalian
pendahuluan kelebihan pajak, dikurangkan dari pajak yang terutang.
Kredit pajak yang terjadi pada Pajak Penghasilan yang dapat
dikompensasi dengan utang pajak yang timbul dari Pajak Peng-
hasilan adalah:
a. pemotongan pajak at as penghasilan dari pekerjaan;
b. pemungutan pajak atas penghasilan dari usaha;
Pembaruan Hukum Pajak
166
168 Pembaruan Hukum Pajak BAB 8: Utang Pajak
169
c. pemotongan pajak atas penghasilan berupa bunga, dividen,
royalti, sewa, dan imbalan lainnya;
d. pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri;
e. pemotongan pajak atas penghasilan yang bersumber di
Indonesia yang diterima atau diperoleh wajib pajak Iuar negeri
selain bentuk usaha tetap.
Kemudian, kredit pajak yang terkait dengan Pajak Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah pajak masukan
yang dapat dikreditkan setelah dikurangi dengan pengembalian
pendahuluan kelebihan pajak atau setelah dikurangi dengan pajak
yang telah dikompensasikan, yang dikurangkan dari pajak yang
terutang. Kredit pajak yang terjadi pada Pajak Pertambahan Nilai
dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dapat dikompensasi
dengan utang pajak, apabila pajak masukan Iebih besar daripada
pajak keluaran dalam suatu masa. Pajak masukan adalah Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang
sudah dibayar oIeh pengusaha kena pajak karena perolehan barang
kena pajak dan atau penerima jasa kena pajak dan atau pemanfaatan
barang kena pajak tidak bewujud dari Iuar daerah pabean dan atau
pemanfaatan jasa kena pajak dari Iuar daerah pabean dan atau impor
barang kena pajak.
Kompensasi sebagai upaya untuk mengakhiri utang pajak wajib
diajukan oIeh wajib pajak kepada pejabat pajak mengingat
kompensasi hanya dapat dilakukan kalau terdapat kelebihan
pembayaran pajak dengan utang pajak yang timbul pada tahun pajak
yang berjalan atau pada tahun pajak di masa depan. Utang pajak
tidak boleh dikompensasikan dengan utang biasa karena utang
pajak berada dalam konteks hukum publik, sedangkan utang biasa
berada dalam konteks hukum privat. Sebagai contoh, wajib pajak
"Ali Baba" memiliki utang Pajak Penghasilan pada tahun 2005
sebanyak Rp750.000.000,00, tetapi sebaliknya memiliki tagihan
kepada negara sebanyak Rp750.000.000,00 karena telah menyerah-
kan barang-barang kepada negara. Dalam haI ini kompensasi tidak
dilarang karena negara berutang dalam kapasitasnya tunduk pada
hukum privat, sedangkan wajib pajak berutang pada negara tunduk
pada hukum pajak sebagai bagian hukum publik.
4. Peniadaan
Peniadaan juga merupakan cara untuk mengakhiri utang pajak,
sebagaimana dikatakan oIeh Rochmat Soemitro (1988;49-50)
bahwa peniadaan sebagai upaya untuk mengakhiri utang pajak
dikenaI dalam hukum pajak. Pajak yang terutang hanya dapat
ditiadakan karena alasan tertentu, umpamanya karena sawah kena
musibah bencana alam (banjir, serangan hama, dan sebagainya)
atau karena dasar penetapannya tidak benar. Dengan peniadaan
utang ini, perikatan pajak menjadi berakhir sehingga wajib pajak
tidak Iagi mempunyai kewajiban membayar pajak yang terutang.
Dalam konteks ini, wajib pajak sangat diharapkan berperan
serta untuk memohon kepada pejabat pajak agar utang pajak yang
dimiliki boleh ditiadakan dengan pertimbangan-pertimbangan yang
dapat diterima oIeh pejabat pajak. Tatkala permohonan dikabulkan,
wajib pajak tidak Iagi memiliki utang pajak atau hanya sebagian
yang harus dibayar karena pengurangan tidak secara keseluruhan.
Peniadaan utang pajak hanya dapat terjadi karena berdasarkan
permohonan wajib pajak yang dikabulkan oIeh pejabat pajak dapat
berupa sebagai berikut.
a. Peniadaan sebagian utang pajak adalah perbuatan hukum oIeh
pejabat pajak untuk melakukan pengurangan at as sejumlah
utang pajak yang seyogianya dibayar.
b. Peniadaan secara keseluruhan utang pajak adalah perbuatan
hukum oIeh pejabat pajak untuk meniadakan seluruh utang
pajak yang seharusnya dibayar.
Tata cara peniadaan utang dan penetapan besarnya peniadaan
utang pajak akan diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Walaupun pejabat pajak berwenang meniadakan utang pajak, tetap
berpedoman pada tata cara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.
Hal ini berarti bahwa pejabat pajak tidak boleh melakukan atau
mengambil kebijakan lain, selain yang telah ditentukan oleh Menteri
Keuangan. Peniadaan utang pajak yang dilakukan oleh pejabat pajak,
seyogianya berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang
telah ditentukan dalam Undang-undang Pajak.
Pertimbangan-pertirnbangan yang digunakan oleh pejabat
pajak untuk meniadakan utang Pajak Penghasilan sebagaimana
ditentukan dalam UU PPh adalah sebagai berikut.
a. Wajib pajak meninggal dunia dengan tidak meninggalkan harta
warisan dan tidak mempunyai ahli waris.
b. Wajib pajak menghilang sehingga tidak dapat ditemukan.
c. Wajib pajak tidak memiliki harta kekayaan lagi (pailit) .
Kemudian, pertimbangan-pertirnbangan yang digunakan oleh
pejabat pajak untuk meniadakan utang Pajak Bumi dan Bangunan
sebagaimana ditentukan dalam UU PBBadalah:
a. karena kondisi tertentu objek pajak yang ada hubungannya
dengan wajib pajak dan/atau karena sebab-sebab tertentu
lainnya. Kondisi tertentu objek pajak yang ada hubungannya
dengan wajib pajak, yang dapat berupa;
1) lahan pertanian yang sangat terbatas;
2) lahan yang nilai jualnya meningkat sebagai konsekuensi
perubahan lingkungan dan dampak positif pembangunan
serta yang pemanfaatannya belum sesuai dengan peruntuk-
kannya, dan;
3) bangunan yang ditempati sendiri yang dikuasai atau
dimiliki oleh wajib pajak;
b. dalam hal objek pajak terkena bencana alam atau sebab lain
yang luar biasa, seperti;
1) gempa bumi, banjir, tanah longsor, atau:
2) sebab lain yang luar biasa, misalnya kebakaran, kekeringan,
wabah penyakit tanaman, dan hama tanaman lainnya.
Demikian pula mengenai pertimbangan-pertimbangan yang
digunakan oleh pejabat pajak untuk meniadakan utang Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan berdasarkan Pasal20 ayat
(1) UU BPHTBdan Penjelasannya, adalah sebagai berikut.
a. Kondisi tertentu wajib pajak yang ada hubungannya dengan
objek pajak
Contoh:
1) wajib pajak tidak mampu secara ekonomis memperoleh
hak baru melalui program pemerintah di bidang perta-
nahan;
2) wajib pajak orang pribadi menerima hibah dari orang
pribadi yang mempunyai hubungan keluarga sedarah dalam
garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat
ke bawah.
b. Kondisi wajib pajak yang ada hubungannya dengan sebab-
sebab tertentu
Contoh:
1) Wajib pajak yang memperoleh hak atas tanah melalui
pembelian dari hasil ganti rugi pemerintah yang nilai ganti
ruginya di bawah nilai jual objek pajak;
2) Wajib pajak yang memperoleh hak atas tanah sebagai
penggantian at as tanah yang dibebaskan oleh pemerintah
untuk kepentingan umum yang memerlukan persyaratan
khusus;
170 Pembaruan Hukum Pajak
BAB 8: Utang Pajak
171
172
Ketentuan yang mengatur ten tang pembebasan yang terkait
dengan utang pajak terdapat dalam ketentuan UU PPN. Ketentuan
pada Pasal 8 ayat (2) UU PPN menegaskan "atas ekspor barang
kena pajak yang tergolong barang mewah dikenakan pajak dengan
tarif 0% (nol persen)." Sebenarnya berdasarkan ketentuan tersebut
di atas, berarti pengusaha kena pajak yang melakukan ekspor barang
kena pajak yang tergolong barang mewah diberikan pembebasan
dari pengenaan Pajak Penjualan at as Barang Mewah. Tujuan
pembebasan dimaksud agar pengusaha kena pajak dapat
meningkatkan kegiatan ekspornya ke negara lain sehingga hanya
dikenakan pajak dengan tarif 0% (nol persen).
Pembebasan utang pajak yang terkait dengan Pajak Pertamba-
han Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak melibatkan
campur tangan pejabat pajak. Hal ini disebabkan karena UU PPN
secara tegas mencantumkan dalam ketentuannya mengenai
pembebasan dengan menggunakan istilah pengenaan tarif 0% (nol
persen). Berdasarkan tarif Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah tersebut, berarti barang kena pajak
yang diekspor dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai
dan PajakPenjualan atas Barang Mewah.
Pembaruan Hukum Pajak
3) Wajib pajak yang terkena dampak kritis ekonomi dan
moneter yang berdampak luas pada kehidupan perekonomi-
an nasional sehingga wajib pajak harus melakukan
restrukturisasi usaha dan atau utang usaha sesuai dengan
kebijaksanaan pemerintah.
c. Tanah dan atau bangunan digunakan untuk kepentingan
sosial atau pendidikan yang semata-rnara tidak untuk mencari
keuntungan. Sebagai contoh, tanah dan atau bangunan yang
digunakan antara lain, untuk panti asuhan, panti jompo, rumah
yatim piatu, pesantren, sekolah yang tidak ditujukan mencari
keuntungan, rumah sakit swasta, dan institusi pelayanan sosial
masyarakat;
Dalam hubungan ini, Rochmat Soemitro (1988;50) mengemu-
kakan bahwa peniadaan utang pajak tidak berlaku dengan
sendirinya atau dianggap berlaku dengan sendirinya, melainkan
harus ada perbuatan hukum dari pihak negara (pejabat pajak) dan
ini pun sering harus didasarkan pada permintaan yang didasarkan
pada permohonan wajib pajak.
5. Pembebasan
BAB 8: Utang Pajak
173
Utang pajak dapat pula berakhir karena pembebasan sebab
pembebasan merupakan sarana hukum pajak untuk melepaskan
tanggung jawab wajib pajak berupa membayar pajak. Pembebasan
hanya diperuntukkan terhadap wajib pajak yang secara nyata
dikenakan pajak, tetapi tidak memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan dalam Undang undang Pajak untuk diberikan pembeba-
san. Sekalipun dernikian, wajib pajak tetap wajib menaati Undang-
undang Pajak yang memberikan pembebasan sehingga tidak terjadi
pelanggaran hukum yang berakibat dapat dikenakan sanksi hukum
pajak.
6. Kedaluwarsa
, "Wewenang u ~ 1 t u k melakukan penagihan pajak berada pada
negara yang diwakili oleh pejabat pajak yang mengelola pajak
negara maupun yang mengelola pajak daerah. Wewenang untuk
menagih pajak mempunyai jangka waktu tertentu sebagai bentuk
kepastian hukum yang tidak boleh diabaikan atau dikesampingkan.
Apabila wewenang penagihan pajak telah terlampaui jangka waktu
yang ditentukan, pejabat pajak tersebut tidak lagi berwenang
melakukan penagihan pajak karena telah kedaluwarsa. Rochmat
Soemitro (1988;53) mengatakan kedaluwarsa adalah berakhirnya
174 Pembaruan Hukum Pajak BAB 8: Utang Pajak
175
perikatan, baik untuk menagih utang, atau kewajiban untuk mern-
bayar utang karena lampaunya jangka waktu tertentu, sesuai dengan
apa yang ditetapkan dan cara-cara yang ditentukan dalam Undang-
undang Pajak.
Oleh karena itu, kedaluwarsa juga merupakan salah satu cara
untuk berakhirnya utang pajak yang dimiliki oleh wajib pajak. Utang
pajak dikategorikan sebagai kedaluwarsa jika telah lewat jangka
waktu penagihannya sebagaimana yang ditentukan dalam Undang-
undang Pajak yang bersangkutan, baik dalam UU KUp, UU PBB,
UU BPHTB, dan UU PDRD. Dalam arti, kedaluwarsa suatu utang
pajak boleh berbeda-beda dan boleh pula sama waktunya, ter-
gantung dari undang-undang pajaknya. Kalau terdapat perbedaan
jangka waktu kedaluwarsa suatu penagihan pajak, tidak berarti
sebagai suatu penyimpangan, melainkan hanya sebagai ketentuan
khusus terhadap ketentuan umum yang berlaku.
Kedaluwarsaan penagihan Pajak Penghasilan, Pajak Pertarnba-
han Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah terikat pada
jangka waktu yang ditentukan dalam UU KUP. Kedaluwarsaan
penagihan Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah adalah sepuluh tahun. Akan tetapi,
berdasarkan kepentingan negara, jangka waktu tersebut di at as
boleh berubah menjadi lima tahun. Perubahan jangka waktu dari
sepuluh tahun kepada lima tahun, wajib ditetapkan dalam UU KUP.
Hal ini dimaksudkan agar terjadi sinkronisasi antara jangka waktu
kedaluwarsa Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan Pajak Bumi dan
Bangunan, BeaPerolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, serta Pajak
Daerah. Namun, dengan perkembangan yang ada, kedaluwarsaan-
nya adalah lima tahun. Dasar pertimbangan perubahan kedaluwar-
saan jangka waktu tersebut adalah sebagai berikut.
"Hak untuk melakukan penagihan pajak, termasuk bunga,
denda, kenaikan, dan biaya penagihan pajak, kedaluwarsa
setelah lampau waktu lima tahun terhitung sejak penerbitan
surat tagihan pajak, surat ketetapan pajak kurang bayar, surat
ketetapan pajak kurang bayar tambahan, dan surat keputusan
pembetulan, surat keputusan keberatan, dan putusan
banding."
Ketentuan ini mencerminkan kepastian hukum bahwa jangka
waktu kedaluwarsaan utang pajak setelah lampau waktu lima tahun.
Akan tetapi, terbuka kemungkinan kedaluwarsa penagihan pajak
dapat melampaui lima tahun, apabila;
a. Wajib pajak atau penanggung pajak diterbitkan dan diberitahu-
kan surat paksa karena tidak melakukan pembayaran utang
pajak sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran.
Kedaluwarsa penagihan pajak tersebut dihitung sejak tanggal
diberitahukan surat paksa tersebut.
b. Wajib pajak menyatakan pengakuan utang pajak dengan cara
berikut.
1) Mengajukan permohonan angsuran atau penundaan pem-
bayaran utang pajak sebelum tanggal jatuh tempo pem-
bayaran. Dalam hal seperti itu kedaluwarsa penagihan
dihitung sejak tanggal surat permohonan angsuran atau
penundaan pembayaran utang pajak diterima oleh pejabat
pajak yang ditugasi mengelola Pajak Penghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai dan PajakPenjualan atas BarangMewah.
2) Mengajukan permohonan pengajuan keberatan. Kedaluwar-
sa penagihan pajak dihitung sejak tanggal surat permohon-
an wajib pajak diterima oleh pejabat pajak yang ditugasi
mengelola Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan at as Barang Mewah.
176
adalah setelah melampaui jangka waktu lima tahun terhitung sejak
saat terutangnya pajak, kecuali apabila wajib pajak melakukan
tindak pidana di bidang perpajakan daerah. Kedaluwarsaan
penagihan pajak tersebut tertangguh menurut Pasal 31 ayat (2)
UU PDRD apabila:
a. diterbitkan surat teguran dan surat paksa; atau
b. ada pengakuan utang pajak dari wajib pajak baik langsung
maupun tidak langsung.
Secara tegas dikatakan bahwa kedaluwarsaan penagihan pajak,
baik pajak negara maupun pajak daerah adalah lima tahun, kecuali
bila ada perbuatan hukum yang dilakukan aleh wajib pajak maupun
pejabat pajak sehingga baleh melampaui lima tahun. Hal ini, berarti
bahwa kepastian hukum mengenai kedaluwarsaan penagihan pajak
adalah kepastian hukum yang bersifat semu. Dalam arti, bahwa
jangka waktu lima tahun tersebut baleh dipermainkan aleh pejabat
pajak sehingga pajak yang terutang baleh melampaui jangka waktu
lima tahun.
Pembaruan Hukum Pajak
3) Melaksanakan pembayaran sebagian utang pajaknya. Dalam
hal seperti itu kedaluwarsa penagihan dihitung sejak
tanggal pembayaran sebagian utang pajak tersebut.
c. Diterbitkan surat ketetapan pajak kurang bayar atau surat
ketetapan pajak kurang bayar tambahan terhadap wajib pajak
karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dan
tindak pidana lain yang dapat merugikan pendapatan negara
berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap. Dalam hal seperti itu kedaluwarsa
penagihan dihitung sejak tanggal penerbitan surat ketetapan
pajak tersebut.
d. Dalam hal wajib pajak dilakukan penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan, kedaluwarsa penagihan dihitung sejak
tanggal penerbitan surat perintah penyidikan tindak pidana
di bidang perpajakan.
Kedaluwarsaan penagihan Pajak Bumi dan Bangunan serta Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang tidak secara
tegas ditentukan dalam UU PBB maupun UU BPHTB. Hal ini berarti
utang pajak yang terkait dengan Pajak Bumi dan Bangunan serta
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dikategarikan sebagai
kedaluwarsa adalah lima tahun. Penentuan jangka waktu kedalu-
wars a tersebut berpatokan pada UU KUPyang mernuat ketentuan-
ketentuan umum perpajakan yang wajib diikuti aleh undang-
undang pajak lainnya. Sebenarnya UU KUPsebagai Kaderwet wajib
diterapkan dalam UU PBBdan UU BPHTB tatkala ketentuan itu
tidak diatur dalam UU PBBdan UU BPHTB. Dengan dernikian,
kedaluwarsaan penagihan Pajak Bumi dan Bangunan serta Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang adalah lima
tahun dan bahkan baleh melampaui lima tahun.
Berbeda halnya dengan kedaluwarsaan pajak daerah yang
terutang secara tegas ditentukan dalam Pasal31 ayat (1) UU PDRD
BAB 8: Utang Pajak 177
179
.. Pengembalian Kelebihan
Pembayaran Pajak
A. Pendahuluan
Tidak selamanya kelebihan pembayaran pajak dapat
dikompensasikan dengan pajak yang terutang pada tahun pajak
yang bersangkutan. Kadangkala kelebihan pembayaran pajak
dimohon pengembaliannya karena wajib pajak tidak memiliki utang
pajak. Pengembalian kelebihan pembayaran pajak atau restitusi
merupakan sarana hukum yang dapat digunakan oleh wajib pajak
untuk memohon pengembalian kelebihan pembayaran pajak.
Agar pengembalian kelebihan pembayaran pajak tidak ber-
tentangan dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan
perpajakan, wajib pajak wajib mengikuti tata cara pengajuan
permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak. Per-
mohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak wajib dibuat
dalam bentuk tertulis dan diajukan kepada pejabat pajak di tempat
tinggal atau tempat kedudukan wajib pajak. Permohonan tersebut
wajib memuat alasan-alasan yang benar dengan melampirkan surat
pemberitahuan atau surat setoran pajak yang membuktikan adanya
kelebihan pembayaran pajak.]ika tata cara pengajuan permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak tidak dilanggar oleh
wajib pajak, pejabat pajak berkewajiban menerbitkan Surat
Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran
Pajak.
B. Surat Ketetapan Pajak Nihil
Sebaliknya, wajib pajak yang tidak memiliki pajak yang
terutang maupun kelebihan pembayaran pajak, pejabat pajak
berwenang menerbitkan surat keretapan pajak nihil. Surat
keputusan kelebihan pembayaran pajak tidak boleh diberikan
kepada wajib pajak yang tidak memiliki kelebihan pembayaran
pajak, agar tidak terjadi pelanggaran hukum yang dapat menimbul-
kan kerugian pendapatan negara.
Walaupun telah diajukan permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak kepada pejabat pajak di tempat tinggal atau
tempat kedudukan wajib pajak, pejabat pajak tidak secara langsung
mengabulkan permohonan tersebut. Perbuatan hukum yang
dilakukan oleh pejabat pajak adalah melakukan pemeriksaan untuk
membuktikan adanya kelebihan pembayaran pajak sebagaimana
yang dimohonkan. Pemeriksaan itu meliputi penghitungan jumlah
pajak yang sebenarnya terutang dengan pembayaran pajak yang
telah dilakukan oleh wajib pajak. Jika dari hasil pemeriksaan
ditemukan bahwa jumlah pajak yang terutang sama dengan jumlah
pajak yang dibayar, berarti tidak ada kelebihan pembayaran pajak.
Dalam hal ini, pejabat pajak menerbitkan surat ketetapan pajak
nihil sebagai tanggapan atas permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak dari wajib pajak.
Surat ketetapan pajak nihil adalah surat ketetapan pajak yang
menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah
kredit pajak atau pajak yang tidak terutang dan tidak ada kredit
pajak. Surat keretapan pajak nihil bukan merupakan dasar
penagihan pajak, melainkan hanya menunjukkan bahwa wajib pajak
tidak memiliki utang pajak maupun kredit pajak. Surat ketetapan
pajak nihil tidak boleh memuat hal-hal yang merugikan wajib pajak
karena dapat diajukan keberatan pada lembaga keberatan.
181 BAB 9: Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak
Pada hakikatnya, surat ketetapan pajak nihi l tidak mengubah
keadaan yang telah ada sebelumnya mengingat keadaan yang telah
ada hanya dipertegas kembali melalui surat ketetapan pajak nihil.
Dalam arti, surat ketetapan pajak nihil tidak memuat mengenai
utang pajak yang wajib dibayar lunas maupun sanksi administrasi
berupa bunga, denda, atau kenaikan. Itulah sebabnya tidak dikate-
gorikan sebagai dasar penagihan pajak, baik Pajak Penghasilan,
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah,
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, serta pajak daerah.
Selain surat ketetapan pajak nihil dikenal pula surat ketetapan
pajak lebih bayar dalam perhubungan hukum antara wajib pajak
dengan pejabat pajak. Surat ketetapan pajak lebih bayar adalah surat
ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran
pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang
terutang atau seharusnya tidak terutang. Perhubungan hukum itu
timbul karena adanya permohonan tertulis dari wajib pajak yang
ditujukan kepada pejabat pajak di tempat tinggal atau tempat
kedudukan wajib pajak tersebut. Permohonan itu bertujuan agar
kelebihan pembayaran pajak dapat dikembalikan berdasarkan
peraturan perundang-undangan perpajakan.
Setelah permohonan pengembalian kelebihan pembayaran
pajak diterima oleh pejabat pajak, dilakukan pemeriksaan dan
bahkan melakukan penelitian kebenaran pembayaran pajak yang
dilakukan oleh wajib pajak. Sasaran pemeriksaan maupun penelitian
tertuju pada surat pemberitahuan yang menyat akan lebih bayar
yang tidak disertai dengan permohonan pengembal ian kelebihan
pembayaran pajak. Jika terdapat kebenaran yan g seben arnya
berdasarkan hasil pemeriksaan maupun pen elitian atas surat
pemberitahuan tersebut, pejabat pajak menerbitkan sura t ketet apan
pajak lebih bayar, apabila untuk:
C. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar
Pembaruan Hukum Pajak
180
1. Pajak Penghasilan, jumlah kredit pajak lebih besar dari jumlah
pajak yang terutang;
2. Pajak Pertambahan Nilai, jumlah kredit pajak lebih besar dari
jumlah pajak yang terutang. Apabila terdapat pajak yang
dipungut oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai, yang
dimaksud dengan jumlah pajak yang terutang adalah jumlah
pajak keluaran setelah dikurangi pajak yang dipungut oleh
Pemungut Pajak Pertambahan Nilai tersebut;
3. Pajak Penjualan atas Barang Mewah, jumlah pajak yang dibayar
lebih besar dari jumlah pajak yang terutang.
Jika wajib pajak setelah menerima surat ketetapan pajak lebih
bayar dan menghendaki pengembalian kelebihan pembayaran pajak,
wajib mengajukan permohonan tertulis secara benar, jelas, dan
lengkap sehingga tidak mengalami hambatan atau kendala. Surat
ketetapan pajak lebih bayar masih dapat diterbitkan lagi jika
berdasarkan hasil pemeriksaan ternyata pajak yang lebih dibayar
jumlahnya lebih besar dari kelebihan pembayaran pajak yang telah
ditetapkan.
Surat ketetapan pajak lebih bayar bukan merupakan dasar
penagihan pajak, melainkan hanya menunjukkan bahwa wajib pajak
memiliki kelebihan pembayaran pajak, baik PajakPenghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, serta pajak daerah. Surat
ketetapan pajak lebih bayar tidak boleh memuat hal-hal yang dapat
merugikan wajib pajak karena dapat diajukan keberatan pada
Lembaga Keberatan. Hal-hal yang dapat merugikan wajib pajak
adalah tidak diperkenankannya kelebihan pembayaran pajak untuk
diminta kembali atau dilarang dikompensasi dengan pajak terutang
untuk tahun pajak di masa mendatang.
Setelah dilakukan pemeriksaan atas permohonan pengembali-
an kelebihan pembayaran dari wajib pajak, pejabat pajak wajib
menerbitkan surat ketetapan pajak paling lambat dua belas bulan
sejak surat permohonan diterima secara lengkap. Maksud surat
permohonan telah diterima secara lengkap adalah dalam arti bahwa
surat pemberitahuan telah diisi secara benar dan jelas, dalam bahasa
Indonesia dengan menggunakan huruf latin, angka Arab, satuan
mata uang rupiah dan ditandatangani oleh wajib pajak atau kuasa
hukumnya. Kemudian, surat ketetapan pajak yang diterbitkan
berdasarkan hasil pemeriksaan atas pengembalian kelebihan
pembayaran pajak dapat berupa;
1. surat ketetapan pajak kurang bayar; atau
2. surat ketetapan pajak lebih bayar; atau
3. surat ketetapan pajak nihil.
[angka waktu paling lambat dua belas bulan tersebut dimak-
sudkan untuk memberikan kepastian hukum terhadap permohonan
wajib pajak atau pengusaha kena pajak tersebut. Jika batas waktu
terlampaui dan pejabat pajak tidak memberikan suatu keputusan,
permohonan itu dianggap dikabulkan dan surat ketetapan pajak
lebih bayar wajib diterbitkan dalam waktu paling lama satu bulan
setelah jangka waktu tersebut berakhir. Apabila surat ketetapan
pajak lebih bayar terlambat diterbitkan dalam jangka waktu satu
bulan, wajib pajak diberikan imbalan bunga sebesar dua persen
sebelum dihitung sejak berakhirnya jangka waktu tersebut sampai
saat diterbitkan surat ketetapan pajak lebih bayar.
Terhadap wajib pajak yang sementara dalam proses penyi-
dikan karena terdapat dugaan melakukan tindak pidana di bidang
perpajakan, permohonan pengembalian kelebihan pembayaran
pajak tidak dilakukan pemeriksaan. Permohonan yang tidak
diperiksa berarti berakibat tidak diterbitkan surat ketetapan pajak
yang dapat berupa surat ketetapan pajak kurang bayar, surat
ketetapan pajak lebih bayar, atau surat ketetapan pajak nihil. Hal
ini dimaksudkan untuk menjaga kemungkinan bahwa wajib pajak
182 Pembaruan Hukum Pajak BAB 9: Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak 183
D. Pengembalian Pendahuluan Kelebihan
Pembayaran Pajak
Berdasarkan hasil pemeriksaan pejabat pajak terhadap surat
permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dari wajib
pajak yang memenuhi persyaratan yang diatur dengan atau ber-
dasarkan Peraturan Menteri Keuangan, dapat diterbitkan surat
keputusan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak. Surat
keputusan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak adalah surat
tersebut terbukti melakukan tindak pidana di bidang perpajakan
berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum te tap. Berdasarkan putusan pengadilan tersebut dapat
terungkap bahwa wajib pajak memi liki jumlah pajak yang terutang
yang melebihi dari jumlah pajak yang telah dibayar (tidak ada
kelebihan pembayaran pajak) .
Berbeda halnya bila pemeriksaan bukti permulaan tindak
pidana perpajakan tidak dilanjutkan ke tahap penyidikan, atau
dilanjutkan dengan penyidikan, tetapi tidak diteruskan ke tahap
penuntutan. Ataukah dilanjutkan dengan penyi dikan dan penuntu-
tan, tetapi diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum
berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap, wajib pajak tersebut diterbitkan surat ketetapan pajak
lebih bayar. Di samping itu, wajib pajak diberikan imbalan bunga
sebesar dua persen sebulan untuk paling lama dua puluh empat
bulan, dihitung sejak berakhirnya jangka waktu 24 sampai
dengan saat diterbitkan surat ketetapan pajak lebih bayar, dan
bagian dari bulan dihitung penuh satu bulan. Pemberian imbalan
bunga sebesar dua persen sebulan kepada wajib pajak merupakan
kompensasi atas kerugian yang dialami oleh wajib pajak selama
dalam proses penyidikan sampai pada tahap putusan pengadilan
tersebut.
184
Pembaruan HukumPajak
SAS 9: Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak 185
keput usan yang menentukan jumlah pengembalian pendah uluan
kelebi han pajak untuk wajib pajak tertentu. Wajib pajak yang dapat
diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak
adalah:
1. wajib pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau
pekerjaan bebas;
2. wajib pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau
pekerjaan bebas dengan peredaran usaha dan jumlah lebih
bayar sampai dengan jumlah tertentu;
3. wajib pajak badan dengan peredaran usaha atau jumlah lebih
bayar sampai dengan jumlah tertentu; atau
4. pengusaha kena pajak yang menyampaikan surat pem-
beritahuan yang berisikan lebih bayar Pajak Pertambahan Nilai
dengan jumlah penyerahan dan jumlah lebih bayar sampai
dengan jumlah tertentu.
Untuk mengurangi penyalahgunaan pemberian fasilitas per-
cepatan pengembalian kelebihan pembayaran pajak, pejabat pajak
dapat melakukan pemeriksaan terhadap permohonan wajib pajak
dan menerbitkan surat ketetapan pajak setelah melakukan pengem-
balian pendahuluan kelebihan pajak. Surat ketetapan pajak yang
dapat diterbitkan adalah surat kete tapan pajak kurang bayar, surat
ketetapan pajak lebih bayar, atau surat ketetapan pajak nihil.
187
A. Hak Mendahulu
Dalam hukum pajak terdapat ketentuan yang menempatkan
negara dalam kecludukan istimewa yang terkait dengan penagihan
pajak. Kedudukan istimewa yang dimiliki oleh negara adalah hak
mendahulu (prejerensi) terhadap penagihan utang pajak dibanding-
kan dengan utang biasa (utang perdata) karena proses timbulnya
utang pajak berbeda dengan utang biasa. Utang pajak timbul karena
proses yang terkait dengan hukum publik, sebaliknya utang biasa
timbul karena berada dalam proses hukum privat. Rochmat
Soemitro (1988;95) mengatakan hak mendahulu itu timbul karena
bersamaan adanya tagihan antara utang pajak dengan utang biasa
dan debitur tidak cukup atau tidak mampu membayar utang-
utangnya. Kalau terjadi demikian, utang pajak diberi kedudukan
yang lebih utama daripada utang biasa selain utang pajak mengingat
pajak-pajak hasilnya digunakan untuk kepentingan umum, untuk
melangsungkan kehidupan negara dan bangsa Indonesia clan
seterusnya untuk mencapai masyarakat yang sejahtera adil clan
makmur bagi seluruh rakyat Indonesia. Berdasarkan pemikiran ini
sudah jelas bahwa kepentingan umum harus dimenangkan daripada
kepentingan pribadi/individu masing-masing.
Penagihan Pajak
Ruang lingkup hak mendahulu meliputi pokok pajak, sanksi
administrasi berupa bunga, denda, atau kenaikan serta biaya
penagihan pajak. Hak mendahulu yang dimiliki oleh negara
ditujukan hanya terhadap tagihan pajak atas barang-barang, baik
barang-barang bergerak maupun barang-barang tidak bergerak
milik wajib pajak atau penanggung pajak. Pelunasan utang pajak
harus diawali dari barang-barang milik wajib pajak kemudian
berpindah kepada barang-barang milik penanggung pajak kalau
wajib pajak didampingi oleh penanggung pajak. Berbeda halnya
bila wajib pajak telah dinyatakan pailit, barang-barang milik
penanggung pajak yang menjadi sasaran penagihan pajak sebagai
jaminan pelunasan ut ang pajak. Hak mendahulu tidak boleh
dikesampingkan hanya karena untuk memberikan prioritas
penyelesaian utang biasa yang tidak termasuk sebagai utang pajak.
Dalam kaitan ini, Rochmat Soemitro (1988;96) mengemuka-
kan bahwa badan-badan diwakili oleh para pengurusnya dan badan
yang sedang dalam proses pembubaran diwakili oleh orang atau
badan yang dibebani dengan pemberesan likuidasi . Warisan yang
belum terbagi diwakili oleh salah seorang ahli warisnya atau oleh
pelaksana surat wasiatnya atau oleh orang yang mengurus harta
peninggalannya. Anak yang masih bel um dewasa atau orang-orang
yang berada di bawah pengampuan diwakili oleh walinya. Sudah
barang tentu, harta wajib pajak atau badan itu yang dijadikan
tanggungan pembayaran pajak. Akan tetapi, kalau barang-barang
wajib pajak atau badan yang menjadi wajib pajak, tidak mencukupi
untuk membayar pajak-pajaknya, sejauhmana harta kekayaan
orang-orang yang menjadi wakil (penanggung pajak) wajib pajak
dapat ikut disita untuk memenuhi utang pajak wajib pajak yang
kurang dibayar. penanggung pajak sebagai wakil wajib pajak ber-
tanggung jawab secara pribadi dan/atau secara renteng (hoofdeijik
aansprakelji) at as pembayaran pajak wajib pajak yang terutang,
kecuali apabila dapat membuktikan dan meyakinkan pejabat pajak
Dalam hal wajib pajak dinyatakan pailit, bubar atau likuidasi,
kurator, likuidator, atau orang atau badan yang dibebani untuk
melakukan pemberesan dilarang membagikan harta perusahaan
dalam pailit, pembubaran atau likuidasi kepada pemegang saham
atau kreditor lainnya sebelum menggunakan harta tersebut untuk
membayar utang pajak perusahaan itu.
bahwa mereka dalam kedudukannya yang benar-benar tidak
mungkin untuk dibebani tanggung jawab atas pajak yang terutang
tersebut. Hal ini harus mendapatkan perhatian yang khusus dan
pejabat pajak dalam hal ini harus berhati-hati, dalam melaksanakan
hak mendahulu terhadap barang-barang milik wakil (penanggung
pajak) wajib pajak, supaya kesulitan menegakkan hukum pajak
dapat dihindarkan.
Sebenarnya pendapat tersebut di atas bertujuan agar pejabat
pajak dalam menggunakan hak mendahulu terhadap barang-barang
milik wajib pajak atau penanggung pajak tidak mengalami kesulitan
dalam pelaksanaannya. Sebelum hak mendahulu dilaksanakan,
pejabat pajak berkewajiban mengetahui secara pasti bagaimana
kedudukan barang-barang milik wajib pajak atau penanggung pajak
dalam kaitannya selaku wakil wajib pajak, apakah termasuk sebagai
barang-barang tanggungan atau bukan termasuk barang-barang
tanggungan terhadap utang pajak wajib pajak yang bersangkutan.
Hak mendahulu negara untuk tagihan pajak melebihi segala hak
mendahulu lainnya, kecuali terhadap tagihan-tagihan, berupa:
1. biaya perkara yang hanya disebabkan suatu penghukuman
untuk melelang suatu barang bergerak dan atau barang tidak
bergerak;
2. biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang-
barang dan/atau;
3. biaya perkara yang hanya disebabkan pelelangan dan penye-
suaian suatu warisan.
189 BAB 10: Penagihan Pajak Pembaruan Hukum Pajak
188
190 Pembaruan Hukum Pajak SAS 10: Penagihan Pajak 191
Sebelumnya, hak untuk menagih pajak, termasuk bunga,
denda, kenaikan dan biaya penagihan pajak, kedaluwarsa setelah
sepuluh tahun terhitung sejak diterbitkan surat tagihan pajak, surat
ketetapan pajak kurang bayar, surat ketetapan pajak kurang bayar
tambahan, dan surat keputusan pembetulan, surat keputusan
keberatan, dan putusan banding yang memuat penambahan jumlah
utang pajak yang harus dibayar. Seyogianya, jangka waktu keda-
luwarsaan tersebut di atas, dapat dipersingkat hanya setelah lima
tahun terhitung sejak diterbitkan surat tagihan pajak atau surat
ketetapan pajak. Perubahan jangka waktu dari sepuluh tahun kepada
lima tahun, wajib ditetapkan dalam UU KUP. Hal ini dimaksudkan
agar terjadi sinkronisasi antara jangka waktu kedaluwarsaan hak
mendahulu negara terhadap utang pajak, baik terhadap Pajak
Penghasilan, Pajak Peretambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan, serta Pajak Daerah.
Selain itu, perlu diperhatikan bahwa Pengadilan Pajak tidak
hanya menerbitkan putusan banding, tetapi menerbitkan pula
putusan gugatan sebagai jawaban atas gugatan yang diajukan oleh
wajib pajak. Kadangkala suatu putusan gugatan menambah jumlah
pajak yang seharusnya dibayar oleh wajib pajak karena yang digugat
adalah jumlah pajak yang tercantum dalam surat paksa tersebut.
Dengan demikian, perlu pula dicantumkan putusan gugatan yang
menyebabkan menambah jumlah pajak yang terutang merupakan
dasar penagihan pajak. Termasuk pula putusan peninjauan kembali
yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang harus dibayar
dari Mahkamah Agung sebagai jawaban atas peninjauan kembali
yang dilakukan oleh pihak-pihak yang bersengketa.
Kedaluwarsa penagihan pajak, termasuk bunga, denda,
kenaikan, dan biaya penagihan pajak tertangguh, apabila:
1. diterbitkan surat paksa; pejabat pajak menerbitkan surat paksa
dan memberitahukan surat paksa kepada wajib pajak atau
penanggung pajak yang tidak melakukan pembayaran utang
pajak sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran.
Kedaluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal
diberitahukan surat paksa tersebut;
2. ada pengakuan utang pajak dari wajib pajak baik langsung
maupun tidak langsung; kedaluwarsa penagihan pajak boleh
melampaui lima tahun, apabila:
a) mengajukan permohonan angsuran atau penundaan pem-
bayaran utang pajak sebelum tanggal jatuh tempo pembaya-
ran. Dalam hal seperti itu kedaluwarsa penagihan dihitung
sejak tanggal surat permohonan angsuran atau penundaan
pembayaran utang pajak diterima oleh pejabat pajak;
b) mengajukan permohonan pengajukan keberatan. Dalam hal
seperti itu kedaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal
surat permohonan wajib pajak diterima oleh pejabat pajak;
c) melaksanakan pembayaran sebagian utang pajaknya. Dalam
hal seperti itu kedaluwarsa penagihan dihitung sejak
tanggal pembayaran sebagian utang pajak tersebut.
3. diterbitkan surat ketetapan pajak kurang bayar atau surat
ketetapan pajak kurang bayar tambahan; terdapat surat
ketetapan pajak kurang bayar atau surat ketetapan pajak kurang
bayar tambahan yang diterbitkan terhadap wajib pajak karena
melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dan tindak
pidana lain yang dapat merugikan pendapatan negara berdasar-
kan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap. Dalam hal seperti itu kedaluwarsa penagihan
dihitung sejak tanggal penerbitan ketetapan pajak tersebut;
4. dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan;
dalam hal wajib pajak dilakukan penyidikan tindak pidana di
192
UU PPh dan UU PPN tidak mengatur mengenai dasar penagi-
han Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah karena kedua tersebut hanya memuat ketent uan
materil dan tidak me ngatur ket entuan formal tentang penagihan
pajak. Adapun mengenai das ar penagihan Pajak Penghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah terdapat
dalam UU KUP terdiri dari:
1. surat tagihan pajak;
2. surat ketetapan paj ak kuran g bayar;
3. surat ketetapan pajak kur ang bayar tambahan;
4. surat keputusan pembetulan, surat keputusan keberatan, dan
putusan banding serta putusan peninjauan kembali yang
menyebabkan bertambahnya jumlah pajak yang harus dibayar.
Dasar penagihan pajak yang terdapat dalam UU KUp, seyogia-
nya mengalami penambahan berdasarkan pembaruan hukum pajak.
Penambahan das ar penagihan pajak meliputi putusan gugatan dan
putusan peninjauan kembali yang menyebabkan bertambahnya
jumlah pajak yang masih harus dibayar. Hal ini berlaku bukan hanya
untuk Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah, tetapi termasuk pula Pajak Bumi
dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, Bea
Masuk, Cukai, dan pajak daerah. Dengan demikian, dasar penagi-
han paj ak yang terdapat dalam UU KUP adalah:
1. surat tagihan pajak;
2. surat ketetapan pajak kur ang bayar;
3. surat ketetapan paj ak kurang bayar tambahan; dan
4. surat kep ut usan pernbetul an, surat keput usan keberatan,
putusan banding, putusan gugatan dan putusan peninjauan
kembali yang menyebabkan bertambahnya jumlah pajak yang
masih harus dibayar.
Pembaruan Hukum Pajak
bidang perpajakan, keda luwarsa penagihan dihitung sejak
tan ggal penerbi tan surat perintah penyidikan tindak pidana
di bidang perpajakan.
Ketentuan mengenai kedaluwarsaan hak negara untuk rnelaku-
kan penagihan pajak, bunga, denda, kenaikan, dan biaya penagihan
pajak bersifat final. Dalam arti, penagihan pajak yang dilakukan
oleh pejabat pajak tidak boleh dikompromikan dengan cara lain
kepada wajib pajak atau penanggung pajak, kecuali ada ketentuan
yang membenarkan sebagaimana yang terdapat dalam peraturan
perundang-undangan perpaj akan. Sekalipun ada pengecualian
dalam rangka penagihan pajak, bukan merupakan kompromi pajak
yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara.
Kompromi pajak merupakan bagian dari penghindaran pajak yang
bertentangan dengan hukum pajak sehingga yang melakukan dapat
dikenakan sanksi hukum yang terdapat dalam peraturan perun-
dangan-undangan yang berlaku.
B. Dasar Penagihan Pajak
Penagihan pajak yang dilakukan oleh pejabat pajak wajib
didasarkan pada suatu ketentuan pembenaran bahwa penagihan
pajak merupakan perbuatan hukum yang tidak bertentangan dengan
hukum pajak.]ika perbuatan hukum yang dilakukan tidak memiliki
dasar yang sah, berarti telah terjadi perbuatan yang bertentangan
dengan hukum pajak. Oleh karena itu, Undang-undang Pajak
senantiasa memuat ketentuan yang memberikan pembenaran
perbuatan hukum yang dilakukan oleh pejabat pajak kepada wajib
pajak. Pembenaran terhadap perbuatan hukum yang dilakukan oleh
pejabat pajak dalam rangka melakukan penagihan pajak tidak boleh .
menyimpang atau bertentangan dari ketentuan tentang "dasar
penagihan pajak. "
BAB10: Penagihan Pajak 193
Dasar penagihan Pajak Bumi dan Bangunan berbeda den gan
dasar pen agihan Pajak Penghasi lan, Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penju alan atas Barang Mewah. Dasar penagihan Pajak Bumi
dan Bangunan diatur pada Pasal 12 UU PBB bahwa surat pern-
beritahuan pajak terutang, surat ketetapan pajak, dan surat tagihan
pajak merupakan dasar penagihan pajak. Berdasarkan ketentuan
tersebut, dasar penagihan Pajak Bumi dan Bangunan, meliputi :
1. surat pemberitahuan pajak terutang;
2. surat ketetapan pajak;
3. surat tagihan pajak.
Surat keputusan pembetulan, surat keputusan keberatan, dan
putusan banding, yang menyebabkan bertambahnya jumlah pajak
yang harus dibayar tidak termasuk das ar penagihan Pajak Bumi
dan Bangunan. Dasar penagihan Pajak Bumi dan Bangunan tersebut
perlu ditinjau kembali dan memasukkan surat keputusan
pembetulan, surat keputusan keberatan, putusan banding, putusan
gugatan, dan putusan peninj auan kembali yang menyebabkan
bertambahnya jumlah Pajak Bumi dan Bangunan yang harus dibayar
dijadikan pula dasar penagihan Pajak Bumi dan Bangunan karena
keti ga dasar penagihan Pajak Bumi dan Bangunan tidak dapat
mengikuti perkembangan dan kemajuan wajib Pajak Bumi dan
Bangunan dan bahkan tidak menjangkau masalah hukum yang
terkait den gan penagihan Pajak Bumi dan Bangunan. Misalnya,
wajib Pajak Bumi dan Bangunan menerima surat keputusan
keberatan yang menyebabkan bertambahnya jumlah Pajak Bumi
dan Bangunan yang harus dibayar, tetapi karena hal ini tidak
termasuk sebagai dasar penagihan Pajak Bumi dan Bangunan. Wajib
Pajak Bumi dan Bangunan tidak memil iki kewajiban untuk
membayar tambahan Pajak Bumi dan Bangu nan yang terutang
berdasarkan surat keputusan keberatan termaksud.
Tidak dimasukkannya surat kepu tusan pembetulan, surat
keputusan keberatan, putusan ban di ng, putusan gugatan, dan
putusan peninja uan kembali yang menyebabkan bertambahnya
jumlah Pajak Bumi dan Bangunan yang harus dibayar, berarti
pejabat pajak membatasai diri untuk melakukan penagihan Pajak
Bumi dan Bangunan yang terutang. Dalam arti, UU PBBrnernerlu-
kan perubahan sangat mendasar untuk mengikuti perkembangan
dan mengantipasi ke depan masalah Pajak Bumi dan Bangunan
yang setiap saat boleh saja muncul ke permukaan karena terdapat
indikasi bahwa Wajib Pajak Bumi dan Bangunan lebih rnengingi n-
kan pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang setelah
melalui Lembaga Peradilan Pajak.
Dasar penagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) UU BPHTBadalah
surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
Kurang Bayar, surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan Kurang Bayar Tambahan, surat tagih an Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan, dan surat keputusan pembetulan,
surat keputusan keberatan, putusan banding yang menyebabkan
bertambahnya jumlah pajak yang harus dibayar. Berdasarkan
ketentuan tersebut, dasar penagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan meliputi:
1. surat ketetapan Bea Perol ehan Hak atas Tanah dan Bangunan
kurang bayar;
2. surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
kurang bayar tambahan;
3. surat tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan;
atau
4. surat keputusan pembetulan, surat keputusan keberatan,
putusan banding yang menyebabkan bertambahnya jumlah Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangun an.
194 Pembaruan Hukum Pajak BAB 10: PenagihanPajak 195
Putusan PengadiIan Pajak yang terkait dengan penyelesaian
sengketa pajak dalam bentuk "gugatan" yang menambah jumlah
pajak yang terutang bukan merupakan dasar penagihan Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Begitu pula putusan
peninjauan kembali yang menyebabkan bertambahnya jumlah Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan bukan pula merupakan
dasar penagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Hal
ini perlu dimasukkan sebagai dasar penagihan Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan karena terbuka peluang bagi Wajib Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan untuk mengajukan
peninjauan kembali terhadap Putusan PengadiIan Pajak pada
Mahkamah Agung, apakah itu putusan banding atau putusan
terhadap suatu gugatan yang menambah jurnlah pajak yang
terutang.
Lain halnya terhadap UU PDRD karena tidak ada satu
ketentuan yang mengatur secara tegas mengenai dasar penagihan
pajak daerah. Akan tetapi, bila berpatokan pada Pasal 11 ayat (2)
UU PDRD bahwa surat ketetapan pajak daerah, surat ketetapan
pajak daerah kurang bayar, surat ketetapan pajak daerah kurang
bayar tambahan, surat tagihan pajak daerah , dan surat keputusan
pernbetulan, surat keputusan keberatan, putusan banding yang
menyebabkan bertambahnya jumIah pajakyangharus dibayar, wajib
dibayar lunas dalarn jangka waktu satu bulan sejak tanggal
diterbitkannya. Berdasarkan ketentuan tersebut, dasar penagihan
pajak daerah meliputi:
1. surat ketetapan pajak daerah;
2. surat ketetapan pajak daerah kurang bayar;
3. surat ketetapan pajak daerah kurang bayar tambah an;
4. surat tagihan pajak daerah; dan
5. Surat keputusan pernbetulan, surat keputusan keberatan,
putusan banding yang menyebabkan bertambahnya jumlah
pajak daerah yang harus dibayar.
]ika mencermati dasar penagihan pajakdaerah tersebut di atas,
ternyata putusan Pengadilan Pajak yang terkait dengan gugatan
dan putusan peninjauan kembali yang menyebabkan bertambahnya
jumIah pajak daerah yang harus dibayar bukan merupakan dasar
penagihan pajak daerah. Agar terdapat keseragaman sebagai satu
kesatuan yang tak terpisahkan, perlu dilakukanperubahan terhadap
dasar penagihan pajak daerah yang terdapat pada Pasal11 ayat (2)
UU PDRD. Perubahan tersebut memasukkan putusan gugatan dan
putusan peninjauan kembali yang menyebabkan bertambahnya
jurnlah pajak yang harus dibayar adalah dasar penagihan pajak
daerah ke depan.
Penagihan pajak dengan menentukan jangka waktu satu bulan
sejak tanggal diterbitkan yangdiberlakukan pada PajakPenghasilan,
Pajak Perta!!1bahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah,
dan pajak daerah, tidak mencerminkan perlindungan hukum
kepada wajib pajak. Pelunasan bagi Pajak Penghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan
pajak daerah yang terutang terhitung pada saat diterbitkan bukan
pada saat sejak diterima dasar penagihan pajak oleh wajib pajak
karena boleh saja terjadi dasar penagihan PajakPenghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan
pajak daerah diterbitkan pada tanggal 01 Maret 2006, tetapi petugas
pajak menyampaikan kepada wajib pajak pada tanggal 30 Maret
2006. Hal ini menunjukkan bahwa ada kelalaian atau kesengajaan
dari petugas pajak agar wajib pajak tidak melunasi utang pajaknya
dalam jangka waktu yang ditentukan berdasarkan dasar penagihan
pajak tersebut sebabjangkawaktu yang telah ditentukan telah habis
atau setidak-tidaknya sisa satu hari lagi sehingga tidak ada
persiapan bagi wajib pajak membayar lunas jumlah pajak yang
terutang tersebut.
196
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 10: Penagihan Pajak
197
1. Surat Pemberitahuan PajakTerutang
Tidak semua jenis pajak boleh ditagih dengan menggunakan
surat pemberitahuan pajak terutang. Surat pemberitahuan menurut
Pasal 1 angka 5 UU PBB adalah surat yang digunakan oleh
Direktorat [enderal, Pajak untuk memberitahukan besarnya pajak
terutang kepada wajib pajak. ]enis pajak yang ditagih dengan
menggunakan surat pemberitahuan pajak terutang adalah Pajak
Bumi dan Bangunan. Lain perkataan bahwa Pajak Penghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Bea
bentuk pengawasan ter hadap pejabat pajak dalam rangka pelaksana-
an penagihan pajak.
Tata cara penagihan secara biasa kepada wajib pajak oleh
pejabat pajak wajib berpedoman pada ketentuan yang tersedia
dalam hukum pajak. Dalam arti, hukum pajak telah menentukan
cara bagaimana pejabat pajak untuk bertindak agar wajib pajak
membayar lunas utang pajaknya tanpa ada un sur paksaan atau
tekanan yang dialami oleh wajib pajak mengingat penagihan secara
biasa bertujuan agar w ~ j i b pajak memiliki kehendak atau kemauan
untuk membayar lunas pajaknya yang terutang sebelum dilakukan
penagihan dengan surat paksa.
Penagihan secara biasa dilakukan oleh pejabat pajak dengan
menggunakan instrumen hukum pajak sebagaimana yang terdapat
dalam Undang-undang Pajak. Sarana hukum pajak yang terkait
dengan penagihan pajak secara biasa dapat berupa surat pemberi-
tahuan pajak terutang, surat tagihan pajak, surat ketetapan pajak,
surat ketetapan pajak kurang bayar, surat ketetapan pajak kurang
bayar tambahan. Dan surat keputusan pembetulan, surat keputusan
keberatan, putusan banding, putusan gugatan, atau putusan
peninjauan kembali yang menambah jumlah pajak terutang yang
harus dibayar.
198 Pembaruan Hukum Pajak
Sebaliknya, penagihan pajak dengan menentukan jangka waktu
satu bulan sejak diterima oleh wajib pajak sangat memerhatikan
perlindungan hukum kepada wajib pajak karena yang diperhitung-
kan adalah pada saat wajib pajak menerima dasar penagihan pajak
bukan pada saat atau tanggal diterbitkannya. Misalnya, surat
tagihan Pajak Bumi dan Bangunan diterbitkan oleh pejabat pajak
pada tanggal 01 Maret 2006, tetapi petugas pajak menyampaikan
kepada wajib pajak pada tanggal30 Maret 2006, maka yang menjadi
dasar perhitungan adalah pada tanggal 30 Maret 2006, kemudian
diperhitungkan dengan jangka waktu satu bulan termaksud.
Perlindungan hukum kepada wajib pajak yang terkait dengan dasar
penagihan pajak adalah dasar penagihan Pajak Bumi dan Bangunan
serta Bea Perolehan Hak at as Tanah dan Bangunan.
c. Penagihan secara Biasa
Penagihan secara biasa adalah tindakan pejabat pajak kepada
wajib pajak karena tidak membayar lunas pajaknya yang terutang
tanpa paksaan secara nyata. Dalam arti pejabat pajak melakukan
penagihan secara biasa kepada wajib pajak saat telah memiliki
jumlah pajak yang terutang dan tidak terbayar lunas. Pelaksanaan
penagihan tersebut wajib berpedoman pada ketentuan yang menjadi
dasar penagihan pajak sebagaimana ditentukan dalam Undang-
undang Pajak. ]ika dalam pelaksanaannya terdapat pelanggaran
hukum pajak yang dilakukan oleh pejabat pajak karena kekeliruan
atau kesengajaan yang terdapat dalam surat ketetapan pajak kurang
bayar atau surat tagihan pajak boleh dipersengketakan melalui
Lembaga Peradilan Pajak. Surat ketetapan pajak kurang bayar boleh
dipersengketakan keabsahannya pada Lembaga Keberatan dalam
bentuk keberatan, sedangkan surat tagihan pajak dapat diper-
sengketakan keabsahannya pada Pengadilan Pajak dalam bentuk
gugatan . Pengajuan keberatan atau gugatan merupakan suatu
BAB 10: Penagihan Pajak 199
200 Pembaruan Hukum Pajak
SAS 10: Penagihan Pajak 201
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, serta pajak daerah tidak
rnengenal surat pernberitahuan pajak terutang sebagai dasar
penagihannya. Pajak Burni dan Bangunan yang terutang sebagai-
rnana yang tercanturn dalam surat pernberitahuan pajak terutang
dar i pejabat pajak yang berdasarkan data yang diperoleh dari surat
pernberitahuan objek pajak yang dirnasukkan oleh wajib pajak
sehubungan rnas ih ada carnpur tangan pejabat pajak dalam
penentuan jurnlah Pajak Burni dan Bangunan yang terutang dan
wajib dibayar lu na s da lam jangka waktu enarn bulan sejak
diterirnanya surat pernberitahuan pajak terutang oleh wajib pajak.
Carnpur tangan pejabat pajak untuk rnenentukan Pajak Burni dan
Bangunan yang terutang karena UU PBB belurn rnenerapkan sistem
selfassessment.
Jika wajib pajak tel ah rnenerirna surat pernberitahuan pajak
terutang dari petugas pajak, kewajibannya adalah rnernbayar lunas
Pajak Burni dan Bangunan yang terutang, baik secara rnenyicil
rnaupun secara sekaligus sepanjang masih dalarn jangka waktu yang
ditentukan. Akan tetapi, bila jangka waktu telah terlarnpaui dan
wajib pajak belum pula rnernbayar lunas Pajak Burni dan Bangunan
yang terutang, dikenakan sanksi adrninistrasi. Sebaliknya, wajib
pajak yang beranggapan bahwa jurnlah Pajak Burni dan Bangunan
yang terutang atau sanksi adrninistrasi tidak benar, wajib pajak
berhak rnengajukan keberatan terhadap surat pernberitahuan pajak
terutang. Keberatan dari wajib pajak wajib diajukan kepada pejabat
pajak dengan harus rnernerhatikan dan rnenaati syarat-syarat
pengajuan keberatan tersebut.
2. Surat Tagihan Pajak
Pejabat pajak berwenang rnenerbitkan surat tagihan pajak
dalarn rangka penagihan pajak. Surat tagihan pajak adalah surat
untuk rnelakukan tagihan pajak dan atau sanksi adrninistrasi berupa
bunga dan atau denda. Surat tagihan pajak diterbitkan untuk
rnenagih pajak yang terutang dalarn kaitannya dengan Pajak
Penghasilan, Pajak Pertarnbahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, dan Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang.
Dernikian pula terhadap Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan yang terutang ditagih dengan rnenggunakan Surat
Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Kernudian,
terhadap pajak daerah, baik pajak daerah provinsi rnaupun pajak
daerah kabupaten/kota yang terutang ditagih dengan rnengguna-
kan surat tagihan pajak daerah.
Mengenai kapan saatnya pejabat pajak rnenerbitkan surat
tagihan pajak yang terkait dengan Pajak Penghasilan, Pajak
Pertarnbahan Nilai dan Pajak Penjualan at as Barang Mewah, Surat
Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, atau surat
tagihan pajak daerah, tergantung dari Undang-undang Pajak yang
bersangkutan karena tiap Undang-undang Pajak secara tegas
mengatur tentang kapan saat diterbitkannya sehingga diketahui
dan dipahami kalau ada perbedaan yang ditirnbulkannya. Hal ini
perlu dikaji rnelalui hukurn pajak, agar perbedaan yang ditirnbulkan
dapat ditiadakan sehingga pada akhirnya rnerupakan satu kesatuan
yang rnenciptakan keadilan bagi wajib pajak atau penanggung pajak.
Surat tagihan pajak diterbitkan oleh pejabat pajak untuk
rnenagih Pajak Penghasilan, Pajak Pertarnbahan Nilai dan Pajak
Penjualan at as Barang Mewah yang terutang apabila:
a. Pajak Penghasilan dalarn tahun berjalan tidak atau kurang
dibayar;
b. dari hasil penelitian terdapat kekurangan pernbayaran pajak
sebagai akibat salah tulis dan atau salah hitung;
c. wajib pajak dikenakan sanksi adrninistrsai berupa bunga dan
atau denda;
202 Pembaruan Hukum Pajak
d. pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai pengusaha kena
pajak, tetapi membuat faktur pajak;
e. pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai pengusaha kena
pajak, tetapi tidak membuat faktur pajak atau membuat faktur
pajak tetapi tidak tepat waktu;
f. pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai pengusaha kena
pajak yang tidak membuat faktur pajak secara lengkap
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) UU PPN,
selain;
1) identitas pembeli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13
ayat (5) huruf b UU PPN; atau
2) identitas pembeli serta nama dan tanda tangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal13 ayat (5) hurufb dan huruf g UU
PPN, dalam hal penyerahan dilakukan oleh pengusaha kena
pajak eceran;
g. Pengusaha kena pajak melaporkan faktur pajak tidak sesuai
dengan masa penerbitan faktur pajak;
h. Pengusaha kena pajak yang gagal berproduksi dan telah diberi-
kan pengembalian pajak masukan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (6a) UU PPN.
Surat tagihan pajak yang telah diterima oleh wajib pajak terkait
dengan Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah wajib dibayar lunas dalam jangka
waktu satu bulan sejak tanggal diterbitkan oleh pejabat pajak yang
bersangkutan. Bila jangka waktu itu telah terlampaui tetapi belum
juga dibayar lunas, Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, '
dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang ditambah
sanksi administrasi tersebut dapat ditagih dengan surat paksa.
Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang ditambah dengan
sanksi administrasi berupa denda ditagih dengan menggunakan
BAB 10: Penagihan Pajak 203
surat tagihan pajak oleh pejabat pajak yang wajib dibayar lunas
selarnbat-lambatnya satu bulan sejak tanggal diterimanya surat
tagihan pajak oleh wajib Pajak Bumi dan Bangunan. Lain perkataan
bahwa surat tagihan pajak yang ada dalam UU PBB diterbitkan
oleh pejabat pajak apabila:
1. Pajak Bumi dan Bangunan tidak atau kurang dibayar; dan
,
2. Wajib Pajak Bumi dan Bangunan dikenakan sanksi adrninistrasi
berupa denda.
jumlah Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang dalam surat
tagihan pajak wajib dibayar lunas selambat-lambatnya satu bulan
sejak tanggal diterimanya surat tagihan pajak oleh Wajib Pajak Bumi
dan Bangunan. Apabila jangka waktu tersebut telah terlampaui
tetapi belum juga terlunasi , Pajak Bumi dan Bangunan yang
\
terutang dapat ditagih dengan surat paksa.
UU BPHTB tidak menggunakan istilah surat tagihan pajak
melainkan yang digunakan adalah surat tagihan Bea Perolehan Hak
at as Tanah dan Bangunan. Pasal 1 angka 4 UU BPHTB menegaskan
bahwa surat tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan atau sariksi
administrasi berupa bunga dan atau denda. Surat tagihan Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang diterbitkan oleh
pejabat pajak tersebut sebagaimana dimaksud dalam Pasal13 ayat
(1) UU BPHTB apabila:
a. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang
tidak atau kurang dibayar;
b. Darihasil pemeriksaan surat setoran Bea Perolehan Hak at as
Tanah dan Bangunan terdapat kekurangan pembayaran pajak
sebagai akibat salah tulis dan atau salah hitung;
c. Wajib Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dikenakan
sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda.
204
Pembaruan Hukum Pajak BAB 10: Penagihan Pajak 205
Surat tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
yang diterbitkan oleh pejabat pajak untuk menagih Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang wajib dibayar lunas
dalam jangka waktu paling lama satu bulan sejak diterima oleh
wajib Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. ]ika jangka
waktu tersebut terlampaui ternyata belum juga terbayar lunas, Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dapat
ditagih dengan surat paksa.
Dalam UU PDRD digunakan istilah surat tagihan pajak daerah
bukan surat tagihan pajak atau surat tagihan Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan sebagaimana lazimnya yang digunakan
untuk Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, serta
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Akan tetapi, bila
dikaji melalui hukum pajak maka pada hakikatnya memiliki tujuan
yang sarna, yakni untuk menagih pajak dan atau sanksi administrasi
berupa bunga dan atau denda sebagaimana yang diatur dalam Pasal
1 angka 21 UU PDRD.
Pejabat pajak menerbitkan surat tagihan paj ak daerah sebagai-
mana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) UU PDRD, apabila:
a. pajak daerah dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar;
b. dari hasil penelitian surat pemberitahuan pajak daerah ter-
dapat kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis
dan atau salah hitung;
c. wajib pajak daerah dikenakan sanksi administrasi berupa
bunga dan atau denda.
]umlah pajak daerah yang terutang sebagaimana tercantum
dalam surat tagihan pajak daerah harus dilunasi daIamjangka waktu
paling lama satu bulan sejak tanggal diterbitkannya. ]ika jangka
waktu tersebut terlampaui, tetapi jumlah utang pajak daerah belum
juga terbayar lunas, dapat ditagih dengan surat paksa. Surat tagihan
pajak, surat tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan,
dan surat tagihan pajak daerah, jika dikaji melalui hukum pajak,
ternyata memiliki fungsi yang sama sebagai dasar penagihan pajak.
Adapun fungsinya adalah untuk menagih jumlah pajak yang ter-
utang dengan tambahan sanksi administrasi berupa bunga dan atau
denda.
3. Surat Ketetapan Pajak
Penagihan pajak yang terutang dengan menggunakan surat
ketetapan pajak hanya diperuntukkan bagi Pajak Bumi dan
Bangunan maupun pajak daerah. Surat ketetapan pajak ditujukan
pada Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang diterbitkan oleh
pejabat pajak, sedangkan untuk pajak daerah yang terutang diguna-
kan surat ketetapan pajak daerah yang diterbitkan oleh pejabat pajak
sebagai salah satu dasar penagihannya. Sementara itu, terhadap
Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah, serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan tidak mengenal surat ketetapan pajak sebagai dasar
penagihannya.
Pejabat pajak menerbitkan surat ketetapan pajak yang terkait
dengan Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 ayat (2) UU PBB, dalam hal-hal sebagai berikut.
a. Apabila surat pemberitahuan objek pajak tidak disampaikan
selambat-lambatnya tiga puluh hari setelah tanggal diterima-
nya surat pemberitahuan objek pajak oleh subjek pajak dan
setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan sebagaimana
ditentukan dalam surat teguran.
b. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain
ternyata jumlah pajak yang terutang lebih besar dari jumlah
pajak yang dihitung berdasarkan surat pemberitahunan objek
pajak yang disampaikan oleh wajib pajak.
206
Pembaruan Hukum Pajak
SAS 10: Penagihan Pajak 207
Pajak yang terutang dalam surat ketetapan pajak wajib dibayar
lunas selambat-larnbatnya satu bulan sejak tanggal diterimanya
surat ket etapan pajak oleh wajib pajak dan tidak dapat ditagih
dengan surat paksa karena menurut Pasal13 UU PBBhanya jumlah
pajak yang terutang dalam surat tagihan pajak yang tidak dibayar
pada waktunya dapat ditagih dengan surat paksa. Seyogianya jumlah
Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang dalam surat ketetapan
pajak boleh ditagih dengan surat paksa untuk mencegah agar wajib
Pajak Bumi dan Bangunan tidak melakukan penghindaran pajak,
baik untuk sementara waktu maupun untuk jangka waktu yang
lama.
Terhadap pajak daerah terdapat ketentuan bahwa pajak daerah
dipungut berdasarkan penetapan pejabat pajak atau dibayar sendiri
oleh wajib pajak. Kemudian, wajib pajak memenuhi kewajiban pajak
yang dipungut dengan menggunakan surat ketetapan pajak daerah
atau dokumen lainnya yang dipersamakan. Tata cara penerbitan
surat ketetapan pajak daerah diatur dengan keputusan Kepala ,
Daerah selaku pejabat pajak. Surat ketetapan pajak Daerah yang
menyebabkan jumlah Pajak Daerah yang harus dibayar bertambah
wajib dibayar lunas dalam jangka waktu paling lama satu bulan
sejak tanggal diterbitkannya. Pajak daerah yang terutang dan
tercantum dalam surat ketetapan pajak daerah yang tidak dibayar
lunas dalam jangka waktu yang ditentukan, dapat ditagih dengan
surat paksa.
Surat ketetapan pajak sebagai salah satu dasar penagihan pajak,
baik dalam Pajak Bumi dan Bangunan maupun pajak daerah
memiliki perbedaan secara prinsipil. Perbedaannya adalah surat
ketetapan pajak untuk Pajak Bumi dan Bangunan tidak dapat ditagih
dengan surat paksa, sedangkan surat ketetapan pajak daerah boleh
ditagih dengan surat paksa. Dengan demikian, tidak selamanya
surat ketetapan pajak sebagai dasar penagihan pajak dapat ditagih
dengan surat paksa karena Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang
dan tercantum dalam surat ketetapan pajak tidak ditagih dengan
surat paksa.
4. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Pen-
jualan atas Barang Mewah, Bea Perolehan Hak at as Tanah dan
Bangunan, serta pajak daerah yang terutang ditagih dengan
menggunakan surat ketetapan pajak kurang bayar, kecuali terhadap
Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang. Surat ketetapan pajak
kurang bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan
besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah
kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi,
dan jumlah yang masih harus dibayar. Pejabat pajak berwenang
menerbitkan surat ketetapan pajak kurang bayar dalam jangka
waktu lima tahun sesudah saat terutangnya pajak, atau berakhirnya
masa pajak, bagian tahun pajak atau tahun pajak, dalam hal-hal
apabila:
a. berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang
terutang tidak atau kurang dibayar:
b. surat pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) dan setelah
ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya
sebagaimana ditentukan dalam surat teguran;
c. berdasarkan hasil pemeriksaan mengenai Pajak Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah ternyata tidak
seharusnya dikompesasikan selisih lebih pajak atau tidak
seharusnya dikenakan tarif nol persen;
d. kewajiban untuk mengadakan pembukuan atau pencatatan
tidak dipenuhi sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak
yang terutang;
208
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 10: Penagihan Pajak
209
e. kepada wajib pajak diterbitkan nomor pokok wajib pajak dan
atau dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak secara jabatan.
]ika jangka waktu lima tahun telah lewat tidak berarti bahwa
pejabat pajak tidak berwenang lagi menerbitkan surat ketetapan
pajak kurang bayar. Kewenangan menerbitkan surat ketetapan pajak
kurang bayar masih dibolehkan dalam hal wajib pajak seteIah jangka
waktu tersebut dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang
perpajakan atau tindak pidana lainnya. Tindak pidana yang dilaku-
kan oleh wajib pajak tersebut menimbulkan kerugian pada pen-
dapatan negara berdasarkan putusan pengadiIan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap. Tata cara penerbitan surat
ketetapan pajak kurang bayar menurut Pasal 13 ayat (6) UU KUP
diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Hal
ini berarti bahwa Menteri Keuangan memperoleh wewenang
berdasarkan pendelegasian dari UU KUP untuk mengatur tata cara
penerbitan surat ketetapan pajak kurang bayar. Oleh karena itu,
pejabat pajak tidak boleh melanggar atau menyimpang dari tata
cara penerbitan surat ketetapan pajak kurang bayar tersebut.
Pajak PenghasiIan, Pajak Pertambahan Nil ai, dan Pajak Pen-
jualan atas Barang Mewah yang terutang sebagaimana tercantum
dalam surat ketetapan pajak kurang bayar wajib dibayar lunas dalam
jangka waktu satu bulan sejak tanggal diterbitkannya. ApabiIa
jangka waktu tersebut telah terIampaui ternyata Pajak PenghasiIan,
Pajak Pertambahan NiIai dan Pajak Penjualan at as Barang Mewah
yang terutang, tetapi ternyata belum terbayar lunas maka penagi-
hannya dilakukan dengan surat paksa.
UU BPHTBmenggunakan surat ketetapan Bea Perolehan Hak '
at as Tanah dan Bangunan kurang bayar, bukan suratketetapan pajak
kurang bayar. Pada hakikatnya, surat ketetapan Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan kurang bayar dengan surat ketetapan
pajak kurang bayar adalah sama dari aspek hukum pajak. Pengertian
surat ketetapan BeaPerolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kurang
bayar menurut Pasal1 angka 5 UU BPHTB, adalah surat keputusan
yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang, jumlah
kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi,
dan jumlah yang masih harus dibayar. Kalau dikaji melalui hukum
pajak, ternyata bahwa surat ketetapan pajak kurang bayar dengan
surat ketetapan BeaPerolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kurang
bayar memiIiki fungsi yang sama, yakni untuk menagih utang pajak
yang tidak atau kurang dibayar oleh wajib pajak.
Kapan suatu surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan kurang bayar diterbitkan oleh pejabat pajak. Menurut
ketentuan pada Pasal 11 ayat (1) UU BPHTB, dalam jangka waktu
lima tahun sesudah saat terutangnya pajak, Direktur]enderal Pajak
dapat menerbitkan surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan kurang bayar apabila berdasarkan hasiI pemeriksaan
atau keterangan lain ternyata jumlah pajak yang terutang kurang
dibayar. Berdasarkan Pasal 11 ayat (1) UU BPHTB, pejabat pajak
menerbitkan surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan kurang bayar dalam jangka waktu lima tahun sesudah
saat terutangnya Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan,
apabiIa berdasarkan:
a. hasiI pemeriksaan ternyata jumlah Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan yang terutang kurang dibayar; atau
b. keterangan lain ternyata jumlah Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan yang terutang kurang dibayar.
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang
sebagaimana yang tercantum dalam surat ketetapan Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan wajib dibayar lunas dalam jangka
waktu paling lama satu bulan sejak diterima oleh Wajib Bea Perole-
han Hak atas Tanah dan Bangunan.]ika jangka waktu tersebut telah
terIampaui, tetapi ternyata belum terbayar lunas, Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dapat ditagih dengan
surat paksa.
Pejabat pajak berwenang menerbitkan surat ketetapan pajak
daerah kurang bayar untuk menagih pajak daerah yang terutang.
Surat ketetapan pajak daerah kurang bayar menurut Pasal 1 angka
17 UU PDRD adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besar-
nya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan
pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah
yang masih harus dibayar. Kapan surat ketetapan pajak daerah
kurang bayar diterbitkan oleh pejabat pajak menurut Pasal 9 ayat
(1) huruf a UU PDRD, dalam jangka waktu lima tahun sesudah
saat terutangnya pajak, kepala daerah dapat menerbitkan surat
ketetapan pajak daerah kurang bayar apabila:
a. berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain, pajak yang
terutang tidak atau kurang dibayar;
b. surat pemberitahuan pajak daerah telah disampaikan kepada
kepala daerah dalam jangka waktu tertentu dan setelah ditegur
secara tertulis;
c. kewajiban mengisi surat pemberitahuan pajak daerah tidak
dipenuhi, pajak yang terutang dihitung secara jabatan.
Pajak daerah yang terutang sebagaimana tercantum dalam
surat ketetapan pajak daerah kurang bayar, wajib dibayar lunas
dalam jangka waktu paling lama satu bulan sejak tanggal diterbit-
kannya. Apabila jangka waktu tersebut telah terlampaui, tetapi
ternyata belum terbayar lunas, pajak daerah yang terutang dapat
ditagih dengan surat paksa.
Pajak Bumi dan Bangunan tidak menggunakan surat ketetapan
pajak kurang bayar sebagai dasar penagihannya. Agar tidak terjadi
kekosongan hukum atau kevakuman hukum terhadap penagihan
Pajak Bumi dan Bangunan, seyogianya Pajak Bumi dan Bangunan
211
210
Pembaruan Hukum Pajak BAB 10: Penagihan Pajak
menggunakan surat ketetapan pajak kurang bayar sebagai dasar
penagihan Pajak Bumi dan Bangunan. Hal ini, bertujuan untuk
menselaraskan Pajak Bumi dan Bangunan dengan Pajak Peng-
hasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, serta pajak
daerah.
5. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan
Pejabat pajak berwenang menerbitkan surat ketetapan pajak
kurang bayar tambahan jika telah dilakukan penagihan pajak
berdasarkan surat ketetapan pajak kurang bayar. Sebenarnya tidak
ada penagihan pajak melalui surat ketetapan pajak kurang bayar
tambahan tanpa didahului penagihan pajak dengan surat ketetapan
pajak kurang bayar. Surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan
adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas
jumlah pajak yang telah ditetapkan. Surat ketetapan pajak kurang
bayar tambahan diterbitkan tatkala terdapat tambahan Pajak
Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah yang terutang, sebelumnya tidak tercantum dalam
surat ketetapan pajak kurang bayar.
Surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan diterbitkan oleh
pejabat pajak dalam jangka waktu lima tahun sesudah saat pajak
terutang, berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak atau tahun
pajak, bila ditemukan data baru dan atau data yang semula belum
terungkap yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang
terutang. Lain perkataan bahwa walaupun ditemukan data baru
dan atau data yang semula belum terungkap dalam pemeriksaan,
tetapi data tersebut tidak mengakibatkan penambahan jumlah pajak
yang terutang, berarti pejabat pajak yang tidak berwenang menerbit-
kan surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan sebab yang
menjadi persyaratan untuk diterbitkan surat ketetapan pajak kurang
bayar tambahan adalah bukan hanya ditemukan data baru dan atau
data yang belum terungkap, tetapi terjadi pula penambahan utang
pajak. Berarti harus ada hubungan kausal antara sebab dan akibat
dari data baru yang ditemukan dan atau data yang belum terungkap
dengan penambahan jumlah pajak yang terutang.
Apabila jangka waktu lima tahun sesudah saat pajak terutang,
berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak atau tahun pajak, bila
ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap
yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang terutang telah
lewat, pejabat pajak masih berwenang menerbitkan surat ketetapan
pajak kurang bayar tambahan bila memenuhi persyaratan yang
ditentukan. Adapun persyaratan yang dimaksud adalah dalam hal
wajib pajak setelah jangka waktu lima tahun tersebut dipidana
karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak
pidana lainnya. Tindak pidana yang dilakukan oleh wajib pajak
menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Tata cara penerbitan surat ketetapan pajak kurang bayar tarn-
bahan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
Hal ini berarti bahwa Menteri Keuangan memperoleh wewenang
berdasarkan pendelegasian dari UU KUP untuk mengatur rata cara
penerbitan surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan. Oleh
karena itu, pejabat pajak tidak boleh melanggar atau menyimpang
dari tata cara penerbitan surat ketetapan pajak kurang bayar
tambahan tersebut.
Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Pen-
jualan atas Barang Mewah yang terutang sebagaimana yang ,
tercantum dalam surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan
wajib dibayar lunas dalam jangka waktu satu bulan sejak tanggal
diterbitkan. Apabila jangka waktu tersebut telah terlampaui, tetapi
ternyata Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah yang terutang tidak terlunasi maka
penagihannya dapat dilakukan dengan surat paksa.
UU BPHTB tidak menggunakan surat ketetapan pajak kurang
bayar tambahan, melainkan yang digunakan adalah surat ketetapan
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kurang bayar
tambahan. Menurut ketentuan Pasal 1 angka 6 UU BPHTB, surat
ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kurang
bayar tambahan adalah surat keputusan yang menentukan
tambahan atas jumlah pajak telah ditetapkan. Kalau dikaji
berdasarkan hukum pajak, ternyata antara surat ketetapan pajak
kurang bayar tambahan dengan surat ketetapan Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan kurang bayar tambahan mempunyai
fungsi yang sarna, yakni sebagai dasar untuk menagih tambahan
pajak yang terutang.
Kapan saatnya surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan kurang bayar tambahan diterbitkan oleh pejabat
pajak. Menurut ketentuan pada Pasal12 ayat (1) UU BPHTB, dalam
jangka waktu lima tahun sesudah saat terutangnya pajak Direktur
[enderal Pajak dapat menerbitkan surat ketetapan Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan kurang bayar tambahan apabila
ditemukan data baru dan atau data yang semula bel urn terungkap
yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang setelah
diterbitkan surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan kurang bayar. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan yang terutang sebagaimana tercantum dalam surat
ketetapan Bea Perolehan Hak at as Tanah dan Bangunan kurang
bayar tambahan wajib dibayar lunas dalam jangka waktu paling
lama satu bulan sejak diterima oleh Wajib Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan. Apabila jangka waktu tersebut telah
terlampaui, tetapi ternyata Bea Perolehan Hak at as Tanah dan
Bangunan yang terutang tidak terlunasi, penagihannya dapat
dilakukan dengan surat paksa.
212
Pembaruan HukumPajak SAS 10: Penagihan Pajak
213
214 PembaruanHukum Pajak
SAS 10: PenagihanPajak
215
Dalam UU PDRD digunakan isti lah yang hampir sama dengan
istilah yang digunakan dalam UU KUp, yakni surat ketetapan pajak
daerah kurang bayar tambahan. Surat ketetapan pajak daerah
kurang bayar tambahan menurut Pasal 1 angka 18 UU PDRD adalah
surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak
yang telah ditetapkan. Surat kete tapan pajak daerah kurang bayar
tambahan diterbitkan oleh pejabat pajak untuk menagih pajak
daerah yang terutang, baik pajak daerah provi nsi maupun pajak
daerah kabupaten/kota.
Kapan saatnya pejabat pajak menerbi tkan surat ketetapan pajak
daerah kurang bayar tambahan? Menurut ketentuan pada Pasal 9
ayat (1) hurufb UU PDRD, dalam jangka waktu lima tahun sesudah
saat terutangnya pajak, kepala daerah dapat menerbitkan surat
ketetapan pajak daerah kurang bayar tambahan apabila ditemukan
data baru dan atau data yang belum terungkap yang menyebabkan
penambahan jumlah pajak yang terutang. Pajak daerah yang
terutang sebagaimana yang tercantum dalam surat ketetapan pajak J
daerah kurang bayar tambahan wajib dibayar lunas dalam jangka
waktu paling lama satu bulan sejak tanggal diterbitkannya. Apabila
jangka waktu tersebut telah terlampaui, tetapi ternyata pajak
daerah yang terutang tidak terlunasi, penagihannya dapat dilaku-
kan dengan surat paksa.
Pajak Bumi dan Bangunan tidak menggunakan surat ketetapan
pajak kurang bayar tambahan sebagai dasar penagihannya. Agar
tidak terjadi kekosongan hukum atau kevakuman hukum terhadap
penagihan Pajak Bumi dan Bangunan, seyogianya Pajak Bumi dan
Bangunan menggunakan surat ketetapan pajak kurang bayar
tambahan sebagai dasar penagihan Pajak Bumi dan Bangunan. Hal
ini bertujuan untuk menyelaraskan Pajak Bumi dan Bangunan
dengan Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah, Bea Perolehan Hak at as Tanah dan
Bangunan, serta pajak daerah.
6. Surat Keputusan Pembetulan
Dalam hukum pajak, surat keputusan pembetulan terdiri atas
surat keputusan pembetul an yang tidak menyebabkan bertambah-
nya jumlah pajak yang wajib dibayar dan surat keputusan pem-
betulan yang menyebabkan bertambahnya jumlah pajak yang wajib
dibayar. Surat keputusan pembetulan yang tidak menyebabkan
bertambahnya jumlah pajak yang wajib dibayar bukan merupakan
dasar penagihan pajak. Surat keputusan pembetulan yang menye-
babkan bertambahnya jumlah pajak yang wajib dibayar merupakan
dasar penagihan pajak. Termasuk dalam hal ini, adalah Pajak
Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, Bea Perolehan Hak at as Tanah dan Bangunan, serta
pajak daerah. Khusus bagi Pajak Bumi dan Bangunan tidak
mengenal surat keputusan pembetulan yang menyebabkan ber-
tambahnya jumlah pajak yang wajib dibayar sebagai dasar
penagi hannya.
Surat keputusan pembetulan adalah surat yang membetulkan
kesalahan tulis dan atau kesalahan hitung, yang terdapat dalam
surat ketetapan pajak, surat tagihan pajak, surat keputusan kebera-
tan, Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi, Surat
Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan
Pengurangan ketetapan pajak, Surat Keputusan Pembatalan
ketetapan pajak, Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan
Kelebihan Pajak, atau Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga.
Sementara itu, pengertian surat keputusan pembetulan menurut
Pasal 1 angka 10 UU BPHTB, adalah surat keputusan untuk
membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung dan atau kekeliruan
dalam penerapan peraturan perundang-undangan perpajakan yang
terdapat dalam surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan kurang bayar, surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan kurang bayar tambahan, surat ketetapan Bea
BAB 10: Penagihan Pajak
217
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan lebih bayar, atau surat
ketetapan Bea Perolehan Hak at as Tanah dan Bangunan nihil yang
diajukan oleh wajib pajak. Kemudian, terhadap surat keputusan
pembetulan, menurut Pasal 1 angka 22 UU PDRD, adalah surat
keputusan yang membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung
dan atau kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam
peraturan perundang-undangan perpajakan daerah yang terdapat
dalam surat ketetapan pajak daerah, surat ketetapan pajak daerah
kurang bayar, surat ketetapan pajak daerah kurang bayar tambahan,
surat ketetapan pajak daerah lebih bayar, surat ketetapan pajak
daerah nihil, atau surat tagihan pajak daerah.
Ketentuan tersebut di atas memiliki perbedaan secara prinsipil
mengenai pengertian surat keputusan pembetulan. Sekalipun
terdapat perbedaan secara prinsipil, tetap merupakan dasar
penagihan pajak, baik Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai
dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan, serta Pajak Daerah. Surat keputusan pem-
betulan yang menyebabkan bertambahnya jumlah Pajak Penghasi-
lan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah yang wajib dibayar lunas dalam jangka waktu satu bulan
sejak tanggal diterbitkan. Apabila jangka waktu tersebut telah
terlampaui, tetapi ternyata tidak terbayar lunas, penagihannya dapat
dilakukan dengan surat paksa. Sementara itu, bagi surat keputusan
pembetulan yang menyebabkan bertambahnya jumlah Bea
Perolehan Hak at as Tanah dan Bangunan yang wajib dibayar lunas
dalam jangka waktu paling lama satu bulan sejak diterima oleh
Wajib Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. ]ika jangka
waktu itu telah terlampaui, tetapi ternyata tidak terbayar lunas,
dapat ditagih dengan surat paksa. Surat keputusan pembetulan
yang menyebabkan bertambahnya jumlah pajak daerah yang wajib
dibayar maka pelunasannya dalam jangka waktu paling lama satu
bulan sejak tanggal diterbitkannya. Apabila jangka waktu tersebut
216
Pembaruan HukumPajak telah terlampaui, tet api ternyata tidak terbayar lunas, penagih annya
dapat dilakukan dengan surat paksa.
Pajak Bumi dan Bangunan tidak mengenal surat keputusan
pembetulan yang menyebabkan bertambahnya jumlah pajak yang
harus dibayar, sebagai dasar penagihannya. Agar tidak terjadi
kekosongan hukum atau kevakuman hukum terhadap penagihan
Pajak Bumi dan Bangunan, seyogianya Pajak Bumi dan Bangunan
mengenal surat keputusan pembetulan yang menyebabk.an
bertambahnya jumlah pajak yang harus dibayar sebagai dasar
Penagihan Pajak Bumi dan Bangunan. Hal ini, bertujuan untuk
menyelaraskan Pajak Bumi dan Bangunan dengan Pajak Peng-
hasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, serta pajak
daerah.
7. Surat Keputusan Keberatan
Lembaga Keberatan yang menyelesaikan sengketa pajak
berwenang menerbitkan surat keputusan keberatan. Surat keputu-
san keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap surat
ketetapan pajak atau terhadap pemotongan atau pemungutan pajak
oleh pihak ketiga yang diajukan oleh wajib pajak. Pengertian surat
ketetapan pajak tersebut di atas meliputi surat ketetapan pajak
kurang bayar, surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan, surat
ketetapan pajak lebih bayar, dan surat ketetapan pajak nihil. Surat
ketetapan pajak tersebut diperuntukkan bagi Pajak Penghasilan,
Pajak Pertambahan Nilai , dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Sementara itu, surat keputusan keberatan menurut Pasal 1
angka 11 UU BPHTB adalah surat keputusan atas keberatan ter-
hadap surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
kurang bayar, surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan kurang bayar tambahan, surat ketetapan Bea Perolehan
218
Pembaruan Hukum Pajak BAB 10: Penagihan Pajak
219
Hak atas Tanah dan Bangunan lebih bayar, atau surat ketetapan
Bea Perolehan Hak at as Tanah dan Bangunan nihil yang diajukan
oleh wajib pajak. Kemudian surat keputusan keberatan menurut
Pasal 1 angka 23 UU PDRD adalah surat keputusan at as keberatan
terhadap surat ketetapan pajak daerah, surat ketetapan pajak daerah
kurang bayar, surat ketetapan pajak daerah kurang bayar tambahan,
surat ketetapan pajak daerah lebih bayar, surat ketetapan pajak
daerah nihil, atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh
pihak ketiga yang diajukan oleh wajib pajak.
Ketentuan tersebut di atas memiIiki persamaan substansi
mengenai surat keputusan keberatan, kecuaIi pemotongan atau
pemungutan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan oleh
pihak ketiga tidak terdapat dalam pengertian surat keputusan
keberatan berdasarkan Pasal 1 angka 11 UU BPHTB. Walaupun
demikian, substansi pengertian surat keputusan keberatan tidak
menyimpang dari hakikat suatu keputusan Lembaga Peradilan
Pajak, khususnya Lembaga Keberatan yang memeriksa dan
memutus sengketa pajak tersebut.
[enis surat keputusan keberatan yang diterbitkan oleh Lembaga
Keberatan sebagai konsekuensi memeriksa dan memutus sengketa
pajak, dapat berupa:
a. menerima sebagian atau seluruhnya;
b. menolak; atau
c. menambah jumlah pajak yang terutang.
Dari ketiga jenis keputusan Lembaga Keberatan tersebut di
atas, sebagai dasar penagihan pajak adalah surat keputusan
keberatan yang memiIiki diktum berupa menambah jumlah pajak
yang terutang. Sebaliknya, terhadap surat keputusan keberatan yang
memiIiki diktum berupa menerima sebagian atau seluruhnya, atau
menolak keberatan bukan merupakan dasar penagihan pajak. Dari
ketiga jenis surat keputusan keberatan yang boleh diterbitkan oleh
Lembaga Keberatan, ternyata bahwa surat keputusan keberatan
yang menambah jumlah utang pajak memiliki kekhususan
tersendiri karena adanya penambahan jumlah pajak yang tercantum
dalam surat keputusan keberatan yang wajib dibayar lunas.
Penambahan jumlah utang pajak wajib dibayar luhas dalam jangka
waktu paling lama satu bulan sejak tanggal diterbitkan atau diterima
oleh wajib pajak. Apabila jangka waktu tersebut telah terlampaui,
tetapi ternyata tidak terbayar lunas, penagihannya dapat dilakukan
dengan surat paksa.
Pajak Bumi dan Bangunan tidak mengenal surat keputusan
keberatan yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang wajib
dibayar, sebagai dasar penagihannya. Agar tidak terjadi kekosongan
hukum atau kevakuman hukum terhadap penagihan Pajak Bumi
dan Bangunan, seyogianya Pajak Bumi dan Bangunan mengenal
surat keputusan keberatan yang menyebabkan penambahan jumlah
pajak yang wajib dibayar, sebagai dasar penagihan Pajak Bumi dan
Bangunan. Hal ini bertujuan untuk menyelaraskan Pajak Bumi dan
Bangunan dengan Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan, serta pajak daerah.
8. Putusan Banding
Bukan hanya surat keputusan keberatan yang menyebabkan
bertambahnya jumlah pajak yang wajib dibayar sebagai dasar
penagihan pajak, tetapi putusan banding merupakan pula dasar
penagihan pajak saat putusan itu memuat penambahan jumlah
pajak yang wajib dibayar oleh wajib pajak. Maksud putusan banding
adalah putusan Lembaga Peradilan Pajak atas banding terhadap
surat keputusan keberatan yang diajukan oleh wajib pajak.
Sementara itu, menurut Pasal 1 angka 12 UU BPHTB, putusan
banding adalah putusan Badan Penyelesaian Sengketa Pajak atas
banding terhadap surat keputusan keberatan yang diajukan oleh
wajib pajak. Kemudian, Pasal1 angka 24 UU PDRD adalah putusan
badan peradilan pajak atas banding terhadap surat keputusan
keberatan yang diajukan oleh wajib pajak.
Ketentuan tersebut di atas memiliki substansi hukum yang
sama tentang pengertian putusan banding yang ditetapkan oleh
lembaga peradilan pajak, kecuali UU BPHTBmasih menggunakan
Badan Penyelesaian Sengketa Pajak sebagai Badan Peradilan Pajak.
Badan Penyelesaian Sengketa Pajak yang ditetapkan dengan
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1997 telah dicabut dan diganti-
kan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang
Pengadilan Pajak (UU PENJAK). Dengan demikian, Badan
Penyelesaian Sengketa Pajak yang tercakup dalam pengertian
putusan banding sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 angka 12
UU BPHTBseyogianya diganti dengan Badan Peradilan Pajak atau
lebih terfokus lagi digunakan Pengadilan Pajak.
Putusan banding sebagai salah satu putusan Pengadilan Pajak
merupakan jawaban atas surat keberatan yang diajukan oleh wajib
pajak kepada Pengadilan Pajak. Dikatakan demikian karena masih
ada putusan Pengadilan Pajak berupa putusan gugatan terhadap
surat gugatan yang diajukan oleh wajib pajak. Dengan demikian,
Putusan Pengadilan Pajak sebagai Lembaga Peradilan Pajak terdiri
atas putusan banding sebagai jawaban surat keberatan dan putusan
gugatan sebagai jawaban surat gugatan yang diajukan oleh wajib
pajak.
Jenis putusan Pengadilan Pajak sebagai Lembaga Peradilan
Pajak menurut Pasal 80 ayat (1) UU PENJAK, dapat berupa:
a. menolak;
b. mengabulkan sebagian atau seluruhnya;
c. menambah pajak yang harus dibayar;
d. tidak dapat diterima;
e. membetulkan kesalahan tulis dan atau kesalahan hitung; dan
atau
f. membatalkan.
Dari keenam jenis putusan Pengadilan Pajak tersebut di atas,
terkait dengan putusan banding, putusan banding yang menambah
pajak yang wajib dibayar adalah dasar penagihan pajak. Pajak yang
dimaksud adalah Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan, pajak daerah, serta bea masuk dan cukai . Hal ini
perlu dicermati bahwa putusan banding maupun putusan gugatan,
kedua-duanya merupakan putusan yang diterbitkan oleh Pengadilan .
Pajak untuk menyelesaikan sengketa pajak sekalipun harus dilaku-
kan perubahan secara mendasar terhadap dasar penagihan pajak
yang diberlakukan pada masa mendatang.
Pajak Bumi dan Bangunan tidak mengenal putusan banding
yang menambah jumlah pajak yang harus dibayar sebagai dasar
penagihannya. Agar tidak terjadi kekosongan hukum atau kevaku-
man hukum terhadap penagihan Pajak Bumi dan Bangunan,
seyogianya Pajak Bumi dan Bangunan mengenal pula putusan
banding yang menambah jumlah pajak yang wajib dibayar sebagai
dasar penagihan Pajak Bumi dan Bangunan. Hal ini bertujuan untuk
menyelaraskan Pajak Bumi dan Bangunan dengan Pajak Peng-
hasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, pajak daerah,
serta bea masuk dan cukai.
Penambahan utang pajak bagi Pajak Penghasilan, Pajak Per-
tambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagai-
mana tercantum dalam putusan banding wajib dibayar lunas dalam
221 BAB 10: Penagihan Pajak PembaruanHukum Pajak 220
222 Pembaruan HukumPajak BAB 10: Penagihan Pajak 223
jangka waktu satu bulan sejak tanggal diterbitkan. Terhadap
penambahan utang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
sebagaimana tercantum dalarn putusan banding wajib dibayar lunas
dalam jangka waktu paling lama satu bulan sejak diterima oleh
wajib pajak. Apabila jangka waktu tersebut telah terlampaui, tetapi
belurn terbayar lunas, penagihannya dapat dilakukan dengan surat
paksa.
9. Putusan Gugatan
Pengadilan Pajak tidak hanya menerbitkan putusan banding,
tetapi menerbitkan pula putusan gugatan sebagai jawaban atas surat
gugatan yang diajukan oleh wajib pajak atas gugatan terhadap surat
tagihan pajak atau surat paksa dan tindakan pelaksanaan surat paksa
itu sendiri. Putusan gugatan terdiri dari putusan yang menyebabkan
bertarnbahnya jurnlah pajak yang harus dibayar dan merupakan
dasar penagihan pajak. Sementara itu, terhadap putusan gugatan
yang tidak rnenyebabkan bertambahnya jumlah pajak yang harus
dibayar bukan rnerupakan dasar penagihan pajak. Pajak yang )
dimaksud adalah Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan at as Barang Mewah, Pajak Burni dan Bangunan,
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, bea masuk dan cukai,
serta pajak daerah.
Putusan gugatan yang menyebabkan bertambahnya jumlah
pajak yang harus dibayar seyogianya dicantumkan dalarn UU KUP
sehingga dapat mernayungi jenis pajak yang berlaku. Sebenarnya
putusan gugatan yang rnenyebabkan bertarnbahnya jumlah pajak
yang harus dibayar rnerupakan koreksi terhadap jurnlah pajak yang
tercantum dalarn surat tagihan pajak rnaupun dalam surat paksa. ,
Penarnbahan jurnlah pajak yang harus dibayar bukan ditetapkan .
oleh pejabat pajak, melainkan ditetapkan oleh Hakim Pengadilan
Pajak.
Putusan gugatan yang menyebabkan bertambahnya jumlah
pajak yang harus dibayar, wajib dibayar lunas dalam jangka waktu
satu bulan sejak diterima oleh yang dibebani kewajiban untuk itu .
Hal ini bertujuan, di sarnping untuk memberikan kepastian hukum
bahwa kapan kedaluwarsa pelunasannya, juga untuk mernberikan
kesempatan kepada yang dibebani kewajiban agar dapat membayar
secara menyicil dalarn jangka waktu tersebut. Sekalipun demikian,
pihak yang dibebani kewajiban untuk membayar lunas jurnlah pajak
yang terutang wajib mernatuhi jangka waktu yang telah ditentukan.
10. Putusan Peninjauan Kembali
Mahkamah Agung sebagai Lernbaga Peradilan yang melakukan
pengawasan terhadap Pengadilan Pajak, berwenang memeriksa dan
rnernutus sengketa pajak yang diajukan peninjauan kembali oleh
pihak-pihak yang tidak puas atas Putusan Pengadilan Pajak, baik
putusan banding rnaupun putusan gugatan. Putusan Mahkamah
Agung atas peninjauan kembali menurut Pasa174 Undang-Undang
Nomor 5Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung (UUMA) terhadap
putusan Pengadilan Pajak dapat berupa menolak atau mengabulkan
permohonan peninjauan kernbali. Dalam hal ini, Mahkamah Agung
menerbitkan putusan peninjauan kembali sebagai jawaban atas
permohonan peninjauan kembali terrnaksud.
Putusan peninjauan kernbali adalah putusan Mahkarnah Agung
atas perrnohonan peninjauan kernbali yang diajukan oleh wajib
pajak atau oleh pejabat pajak terhadap putusan banding atau
putusan gugatan dari Pengadilan Pajak. Putusan peninjauan kernbali
yang rnenarnbah jurnlah pajak yang terutang rnerupakan dasar
penagihan pajak. Pajak yang dirnaksud adalah Pajak Penghasilan,
Pajak Pertarnbahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah,
Pajak Burni dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan, bea rnasuk dan cukai , serta pajak daerah. Putusan
224 Pembaruan Hukum Pajak
keadaan yang "rnendesak" dan untuk menjaga kemungkinan terjadi-
nya sesuatu yang akan mengakibat pajak yang terutang tidak dapat
ditagih, pejabat pajak diberi wewenang untuk menerbitkan surat
perintah penagihan seketika dan sekaligus. Sebagaimana di-
maklumi, bahwa salah satu tugas juru sita pajak adalah melaksana-
kan penagihan seketika dan sekaligus sampai tuntas.
Penagihan pajak yang dilakukan dengan cara penagihan
seketika dan sekaligus merupakan tindakan penagihan pajak yang
dilakukan oleh juru sita pajak kepada wajib pajak atau penanggung
pajak tanpa menunggu jatuh tempo pembayaran yang meliputi
seluruh utang pajak dari semua jenis pajak, masa pajak, atau tahun
pajak. Sebelum dilakukan penagihan seketika dan sekaligus, terlebih
dahulu juru sita pajak wajib dilengkapi surat perintah penagihan
seketika dan sekaligus dan diperlihatkan kepada wajib pajak atau
penanggung pajak yang dikenakan penagihan seketika dan sekaligus
tersebut. Tujuannya adalah agar penagihan seketika dan sekaligus
tidak diragukan keabsahannya dari aspek penerapan hukum pajak
karena setiap saat penagihan seketika dan sekaligus dapat dinyata-
kan batal demi hukum atau dapat dibatalkan karena tidak sesuai
ketentuan hukum pajak.
Pada hakikatnya, penagihan seketika dan sekaligus merupakan
pengecualian dari penagihan pajak secara biasa. Penagihan seketika
dan sekaligus boleh terjadi tanpa ada sarana hukum berupa penagi-
han pajak secara biasa. Atau sementara pejabat pajak menggunakan
sarana hukum berupa penagihan pajak secara biasa, kemudian
secara mendesak wajib pajak atau penanggung pajak dikenakan
penagihan seketika dan sekaligus sehingga tidak lagi menunggu
jatuh tempo pembayaran pajak. Hal ini tidak bertentangan atau
menyimpang dari ketentuan hukum pajak yang memberikan
peluang bagi pejabat pajak untuk rnelakukannya.
Dasar pertimbangan sehingga dilakukan penagihan seketika
dan sekaligus tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran
peninjauan kembali yang menyebabkan bertanbahnya jumlah pajak
yang harus dibayar, wajib dibayar lunas dalam jangka waktu satu
bulan sejak tanggal diterima oleh yang dibebani kewajiban untuk
itu. ]angka waktu tersebut kiranya dapat digunakan untuk rnern-
bayar secara menyicil jumlah pajak yang terutang, tatkala tidak
mampu membayar lunas.
Untuk Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan, serta pajak daerah tidak termasuk sebagai
dasar penagihannya. Agar tidak terjadi kekosongan hukum atau
kevakuman hukum terhadap penagihan Pajak Bumi dan Bangunan,
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, serta pajak daerah,
maka seyogianya Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan, serta pajak daerah mengenal putusan
peninjauan kembali yang menambah jumlah pajak yang harus
dibayar sebagai dasar penagihannya. Hal ini, bertujuan untuk
menselaraskan Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan, serta pajak daerah dengan Pajak Penghasilan,
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
D. Penagihan Seketika clan Sekaligus
Pajak yang terutang, selain ditagih secara bias a, dapat pula
ditagih dengan cara penagihan seketika dan sekaligus sebagai sarana
hukum pajak yang boleh digunakan untuk melakukan penagihan
pajak dalam rangka pengamanan keuangan negara dari sektor pajak
yang dilakukan oleh pejabat pajak dan dilaksanakan oleh juru sita
pajak. Penagihan pajak secara seketika dan sekaligus merupakan
tindakan penagihan pajak yang dilaksanakan oleh juru sita pajak
kepada wajib pajak atau penanggung pajak tanpa menunggu tanggal
jatuh tempo pembayaran yang meliputi seluruh utang pajak dan
semua jenis pajak, masa pajak, dan tahun pajak. Moeljo Hadi
(2001 ;4) mengatakan bahwa jika terjadi suatu peristiwa atau
SAS 10: Penagihan Pajak 225
226 Pembaruan HukumPajak BAB 10: Penagihan Pajak
227
pajak yang dilakukan oleh pejabat pajak terhadap wajib pajak atau
penanggung pajak karena:
a. wajib pajak atau penanggung pajak akan meninggalkan
Indonesia untuk selama-lamanya atau berniat untuk itu;
b. wajib pajak atau penanggung pajak memindahtangankan
barang yang dimiliki atau yang dikuasai dalam rangka
menghentikan atau mengecilkan kegiatan perusahaan, atau
pekerjaan yang dilakukannya di Indonesia;
c. terdapat tanda-tanda bahwa wajib pajak atau penanggung pajak
akan membubarkan badan usahanya, atau menggabungkan
usahanya, atau memekarkan usahanya, atau memindah-
tangankan perusahaan yang dimiliki atau yang dikuasainya,
atau melakukan perubahan bentuk lainnya;
d. badan usaha akan dibubarkan oleh negara; atau
e. terjadi penyitaan atas barang wajib pajak atau penanggung J
pajak oleh pihak ketiga atau terdapat tanda-tanda kepailitan.
Dalam kaitan ini, Moeljo Hadi (2001;42) mengemukakan
bahwa surat perintah dari penagihan seketika dan sekaligus diterbit-
kan sebelum penerbitan surat paksa. Logika hukum penagihan
seketika dan sekaligus tanpa menunggu tanggal jatuh tempo
pembayaran dimaksudkan ialah dalam rangka pengamanan
penerimaan negara di sektor pajak.
E. Penagihan secara Paksa
Wajib pajak atau penanggung pajak yang tidak membayar lunas
utang pajaknya (utang pajak meliputi pula sanksi administrasi
berupa bunga, denda, atau kenaikan dan ditambah biaya penagihan
pajak) walaupun telah diberikan surat teguran dan bahkantelah
dilakukan penagihan seketika dan sekaligus dapat dilakukan
penagihan secara paksa. Lain perkataan bahwa penagihan secara
paksa tidak dapat dilakukan terhadap wajib pajak atau penanggung
pajak kalau belumdiberikan surat teguran atau dilaku kan penagihan
seketika dan sekaligus. Salah satu dari kedua hal tersebut merupa-
kan syarat yang harus diperhatikan dan ditaati oleh pejabat pajak
dalam upaya melakukan penagihan secara paksa kepada wajib pajak
atau penanggung pajak. Dengan demikian, sahnya penagihan secara
paksa wajib didahului dengan surat teguran atau telah dilakukan
penagihan seketika dan sekaligus t erhadap wajib pajak atau
penanggung pajak.
Penagihan secara paksa terdapat unsur yang bersifat memaksa
bagi wajib pajak atau penanggung pajak untuk membayar lunas
utang pajaknya. Unsur paksaan itu dimiliki oleh pejabat pajak dan
digunakan untuk memaksa wajib pajak atau penanggung pajak.
Unsur paksaan yang digunakan oleh pejabat pajak bukan rnerupa-
kan suatu pelanggaran hukum, melainkan dibenarkan oleh hukum
pajak karena didasarkan at as perintah Undang-undang Pajak, yakni
UU PPDSP. Unsur paksaan yang dimaksud adalah paksaan yang
tercantum dalam surat paksa maupun paksaan pada saat pelaksana-
an tindakan yang terkait dengan surat paksa dan dilaksanakan oleh
juru sita pajak dengan berpatokan pada UU PPDSP.
1. Surat Paksa
Pejabat pajak dapat memaksakan kehendaknya tanpa menyim-
pang atau melanggar dari ketentuan-ketentuan penagihan pajak
dengan surat paksa agar wajibpajak atau penanggung pajak
membayar lunas utang pajaknya. Unsur paksaan yang dapat
digunakan oleh pejabat pajak adalah menerbitkan surat paksa
terhadap wajib pajak atau penanggung pajak yang tidak menaati
ketentuan-ketentuan dalam UU PPDSP. Surat paksa adalah surat
perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak.
Pengertian surat paksa tersebut tidak berbeda dengan pengertian
surat paksa sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1 angka 12 UU
PPDSP bahwa surat paksa adalah ketetapan pajak yang ditetapkan
oleh pejabat pajak yang berisikan perintah kepada wajib pajak
atau penanggung pajak untuk membayar lunas utang pajaknya
dan biaya penagihan pajak dalam jangka waktu tertentu.
Terkait dengan ini, Rochmat Soemitro (1988;80-81) mengata-
kan bahwa surat paksa dalam hukum pajak adalah suatu ketetapan
pajak tertulis dari pejabat pajak yang mempunyai titel executorial
(art inya berkepala "Derni keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang
Maha Esa") sehingga mempunyai kekua tan hukum yang sama
seperti putusan hakim yang memiliki kekuatan hukum yang pasti
(Bahasa Belanda =inkract van gewijsde, artinya tidak dapat ditentang
atau dilawan lagi dengan cara hukum apa pun, tidak dapat diajukan
banding atau kasasih), yang mengandung perintah kepada wajib
pajak atau penanggung pajak yang namanya tertulis dalam surat
paksa itu untuk membayar lunas pajak-pajak yang disebut dalam
surat paksa itu dalam jangka waktu yang ditentukan dalam surat
paksa itu, dengan ancaman sita apabila pembayaran ini tidak
dilakukan. Dalam kaitan ini , Bohari (1995 ;92) mengemukakan
bahwa sur at paksa adalah surat perintah (ketetapan) yang dikeluar-
kan oleh instansi yang berwenang "atas nama keadilan" untuk
membayar suatu jumlah pajak yang disebutkan dalam surat paksa
itu dalam jangka waktu tertentu.
Sahnya secara hukum suatu surat paksa tatkala yang menerbit-
kan adalah pejabat pajak dengan berisikan hal-hal di antaranya:
a. nama wajib pajak atau penanggung pajak;
b. nomor pokok wajib pajak atau penanggung pajak;
c. alamat wajib pajak atau penanggung pajak;
d. jenis pajak yang terutang;
e. tahun pajak;
f. jumlah pajak yang terutang ditambah dengan biaya penagihan
pajak;
g. keterangan yang menjadi dasar penagihan pajak dan perintah
membayar; dan
h. ditandatangani dan diterbitkan oleh pejabat pajak.
Surat paksa diberitahukan oleh juru sita pajak dengan pernyata-
,
an dan penyerahan salinan surat paksa kepada wajib pajak atau'
penanggung pajak. Pemberitahuan surat paksa dituangkan dalam
berita acara yang sekurang-kurangnya memuat hari dan tanggal
pemberitahuan surat paksa, nama juru sita pajak, nama yang
menerima, dan ternpat pemberitahuan surat paksa. Pemberitahuan
surat paks a kepada orang pribadi oleh juru sita pajak kepada:
a. wajib pajak atau penanggung pajak di tempat tinggal, tempat
usaha, atau di tempat lain yang memungkinkan;
b. orang dewasa yang bertempat tinggal bersama ataupun yang
bekerja di tempat usaha wajib pajak atau penanggung pajak
apabila wajib pajak atau penanggung pajak yang bersangkutan
tidak dapat dijumpai;
c. salah seorang ahli waris atau pelaksana wasiat atau yang meng-
urus harta peninggalannya apabila wajib pajak telah meninggal
dunia dan harta warisan belum dibagi; atau
d. para ahli waris, apabila wajib pajak meninggal dunia dan harta
warisan telah terbagi .
]ika wajib pajak berstatus sebagai badan, surat paksa diberi -
tahukan oleh juru sita pajak kepada:
a. pengurus, kepala perwakilan, kepala cabang, penanggung
jawab, pemilik modal, baik di tempat kedudukan badan yang
bersangkutan, di tempat tinggal mereka maupun di tempat
lain yang bersangkutan; atau
229 BAB 10: Penagihan Paj ak
Pembaruan Hukum Pajak 228
230 Pembaruan Hukum Pajak BAB 10: Penagihan Pajak 231
b. pegawai tetap di tempat kedudukan atau tempat usaha badan
yang bersangkutan apabila juru sita pajak tidak dapat
menjumpai salah seorang sebagaimana dimaksud dalam angka
1 di atas .
Wajib pajak atau penanggung pajak yang telah diberikan surat
paksa secara sah menurut hukum pajak wajib membayar lunas
utang pajaknya sebagaimana yang tercantum dalam surat paksa
itu. Pelunasan utang pajak tersebut ditambah dengan biaya
penagihan pajak wajib dibayar lunas dalam jangka waktu dua kali
dua puluh empat jam. Terhadap wajib pajak atau penanggung pajak
yang tidak ada kehendak untuk membayar lunas utang pajaknya
dalam jangka waktu tersebut, pejabat pajak berwenang menerbitkan
surat perintah penyitaan atas barang-barang milik wajib pajak atau
penanggung pajak.
2. Penyitaan
Upaya yang bersifat memaksa dalam tindakan pelaksanaan
' surat paksa menurut hukum pajak adalah penyitaan. Penyitaan
menurut Pasal 1 angka 14 UU PPDSP adalah tindakan juru sita
pajak untuk menguasai barang penanggung pajak, guna dijadikan
jaminan untuk melunasi utang pajak menurut peraturan perun-
dang-undangan. Seyogianya pengertian penyitaan tidak hanya
mencantumkan penanggung pajak, tetapi juga wajib pajak sebagai
satu kesatuan yang bertanggung jawab atas pelunasan pajak yang
terutang. Penyitaan adalah tindakan juru sita pajak berdasarkan
tugas dari pejabat pajak untuk menguasai barang-barang milik wajib
pajak atau penanggung pajak, guna dijadikan jaminan terhadap
utang pajak yang belum terbayar.
Penyitaan yang dilakukan oleh juru sita pajak wajib didasarkan
atas surat keputusan penyitaan yang diterbitkan oleh pejabat pajak
yang berwenang untuk itu karena tanpa surat keputusan penyitaan
, berarti penyitaan yang dilakukan oleh juru sita pajak merupakan
suatu pelanggaran hukum pajak. Konsekuensinya bahwa penyitaan
yang dilakukan oleh juru sita pajak beradadalam konteks batal
demi hukurn, berarti dari semula. perbuatan itu dianggap tidak
pernah ada secara hukum. Akhirnya, pejabat pajak maupun juru
sita pajak wajib mempertanggungjawabkan, baik kepada atasan
yang lebih tinggi dan bahkan di hadapan lembaga peradilan yang
berwenang menyelesaikannya tatkala wajib pajak at au penanggung
pajak mengajukan masalahnya kepada lembaga peradilan tersebut.
Penyitaan dilaksanakan oleh juru sita pajak dengan disaksikan
oleh sekurang-kurangnya dua orang yang telah dewasa, penduduk
Indonesia, dikenal oleh juru sita pajak dan dapat dipercaya. Setiap
penyitaan, juru sita pajak wajib membuat berita acara pelaksanaan
sita yang ditandatangani oleh juru sita pajak yang bersangkutan,
wajib pajak atau penanggung pajak, dan saksi-saksi . Dalam hal wajib
pajak atau penanggung pajak merupakan badan, berita acara
pelaksanaan sita ditandatangani oleh pengurus, kepala perwakilan,
kepala cabang, penanggung jawab, pemilik modal atau pegawai
tetap perusahaan tersebut.
Walaupun dalam penyitaan ternyata wajib pajak at au penang-
gung pajak tidak hadir, penyitaan tetap dapat dilaksanakan dengan
syarat bahwa seorang saksi berasal dari pemerintah daerah setern-
pat. Dalam hal penyitaan dilaksanakan tidak dihadiri oleh wajib
pajak atau penanggung pajak, berita acara pelaksanaan sita dit anda-
tangani oleh juru sita pajak dan saksi-saksi. Berit a acara pelaksanaan
sita tetap mempunyai kekuatan hukum rnengikat, walaupun tidak
ditandatangani berita acara pelaksanaan sita oleh wajib pajak atau
penanggung pajak yang mengalami penyitaan. Salinan berita acara
pelaksanaan sita dapat ditempelkan pada barang-barang bergerak
atau barang-barang tidak bergerak yang disita, atau di tempat
barang-barang bergerak maupun barang-barang tidak bergerak yang
disita dan atau di ternpat-tempat umum. Atas barang-barang yang
232 Pembaruan HukumPajak
BAB 10: Penagihan Pajak 233
dis ita boleh pula ditempel atau diberi segel sita oleh juru sita pajak
yang melaksanakan penyitaan.
Penyitaan dapat dilaksanakan terhadap milik wajib pajak atau
penanggung pajak yang berada di tempat tinggal, tempat usaha,
tempat kedudukan, atau di tempat lain, termasuk yang penguasaan-
nya berada di tangan pihak lain atau yang dibebani dengan hak
tanggungan sebagai jaminan pelunasan utang tertentu berupa:
a. barang bergerak termasuk mobil, perhiasaan, uang tunai, dan
deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro, atau
bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu, obligasi, saham,
atau surat berharga lainnya, dan piutang, penyertaan modal
pada perusahaan lain dan atau:
b. barang tidak bergerak termasuk tanah, bangunan, dan kapal
dengan isi kotor tertentu.
Penyitaan dilaksanakan sampai dengan nilai barang-barang
yang di sita diperkirakan cukup untuk membayar lunas utang pajak J
yang mengalami tunggakan sehingga tidak terbayar lunas. Dalam
hal ini, juru sita pajak sangat berperan untuk menafsirkan nilai
harga dari barang-barang milik wajib pajak atau penanggung pajak
yang telah disita. Tatkala hasil penyitaan tidak cukup untuk mem-
bayar lunas jumlah pajak yang terutang, tetap diperbolehkan untuk
melakukan penyitaan tambahan tanpa surat perintah penyitaan dari
pejabat pajak yang bersangkutan. Sekalipun juru sita pajak
diperbolehkan melakukan penyitaan tambahan, tetapi tidak boleh
melakukan pelanggaran hukum dalam melaksanakan penyitaan
tambahan tersebut. Penyitaan tambahan dapat dilaksanakan oleh
juru sita pajak, apabila:
a. nilai barang yang disita tidak cukup untuk melunasi utang
pajak dan biaya penagihah pajak; atau
b. hasillelang barang-barang yang telah disita tidak cukup untuk
melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak.
Barang-barang yang telah disi ta dapat dititipkan kepada wajib
pajak atau penanggung pajak, kecuali kalau juru sita pajak ber-
pendapat lain bahwa barang-barang yang disi ta perlu disimpan di
kantor pejabat pajak, atau di tempat lain . jika barang-barang yang
disita dititipkan kepada wajib pajak atau penanggung pajak, wajib
pajak atau penanggung pajak tersebut dilarang:
a. memindahkan hak, memindahtangankan, rnenyewakan,
meminjamkan, atau merusak barang-barang yang telah disita;
b. membebani barang-barang yang telah disita dengan hak
jaminan untuk pelunasan utang tertentu:
c. membebani barang-barang bergerak yang telah disita dengan
fidusia atau diagunkan untuk pelunasan utang tertentu; dan
atau
d. merusak, mencabut, atau menghilangkan salinan berita acara
pelaksanaan sita atau segel sita yang telah ditempel pada
barang-barang sitaan.
Sebaliknya, ada pula barang-barang bergerak milik wajib pajak
atau penanggung pajak yang tidak boleh disita karena dikecualikan
oleh UU PPDSP.Jika dilakukan penyitaan, maka penyitaan tersebut
dapat dibatalkan karena telah melanggar ketentuan-ketentuan yang
mengecualikan itu. Barang-barang bergerak milik wajib pajak atau
penanggung pajak yang dikecualikan dari penyitaan adalah:
1. pakaian dan tempat tidur beserta perlengkapannya yang
digunakan oleh wajib pajak, penanggung pajak, dan keluarga
yang menjadi tanggungan;
2. persediaan makanan dan minuman untuk keperluan satu bulan
beserta peralatan memasak yang berada di rumah;
3. perlengkapan waji b pajak atau penanggung pajak yang bersifat
dinas yang diperoleh dari negara;
3. Pencegahan
Pencegahan merupakan pula upaya paksa dalam tindakan
pelaksanaan surat paksa. Pence gahan me nur ut Pasal 1 angka 17
UU PPDSP ada lah larangan yang bersi fat sementara terhadap
penanggung pajak tertentu unt uk keluar dari wilayah negara
Republik Indonesia berdasarkan alasan tertentu sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yan g berIaku. Ketentuan ini
mengandung kekurangan karena tidak mencantumkan wajib pajak
sebagai salah satu yang dapat dicegah untuk tidak keluar wilayah
4. buku-buku yang bertalian dengan jabatan atau pekerjaan wajib
pajak atau penanggung pajak dan alar-alar yang digunakan
untu k pendidikan, kebudayaan, dan keilmuan;
5. peralatan dalam keadaan jalan yang masih digunakan untuk
melaksanakan pekerjaan dan usaha-usaha sehari-hari dengan
jumlah seluruhnya tidak lebih dari Rp20.000 .000,00; atau
6. peralatan penyandang cacat yang digunakan oleh wajib pajak
atau penanggung pajak dan keluarga yang menjadi tanggungan-
nya.
Di samping barang-barang ber gerak milik wajib pajak atau
penanggung pajak dikecualikan dari penyitaan, ada pula barang-
barang yang tidak boleh disita karena telah disita oleh Pengadilan
Negeri atau instansi lain yang berwenang. Tindakan juru sita pajak
terhadap barang-barang yang telah disita tersebut adalah menyam-
paikan surat paksa kepada Pengadilan Negeri atau instansi lain
yang berwenang tersebut. Pengadilan Negeri atau instansi lain yang
berwenang dapat menyatakan bahwa barang-barang yang telah
disita adalah sebagai jaminan pelunasan utang pajak dan biaya
penagihan pajak sehingga pada akhirnya, ditentukan pembagian
hasil penj ualan barang-baran g yan g dimaksud berdasarkan
ketentuan hak mendahulu negar a untuk tagihan pajak.
negara Repu blik Indonesia. Secara hu kum, wajib pajak adalah
penanggung pajak, tetapi penanggung pajak bukan mer upakan
wajib pajak. Oleh karena it u, pengertian pencegahan adalah
larangan yang bersifat sementara terhadap wajib pajak atau penang-
gung pajak untuk keluar dari wilayah negara Republik Indonesia
berdasarkan alasan tertentu sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Pencegahan hanya boleh dilakukan terhadap wajib pajak atau
penanggung pajak yang memiliki jumlah utang pajak sekurang-
kurangnya Rp100.000.000,00 dan diragukan ikti kad baiknya dalam
membayar lunas utang pajak sebagaimana diatur dalam Pasal 29
UU PPDSP. Kalau dikaji secara hukum, ternyata ada dua persyaratan
yang harus dipenuhi agar pencegahan dapat dilakukan. Apabila
hanya salah satu syarat yang terpenuhi, berarti pencegahan tidak
dapat dilakukan karena termasuk dalam pengertian perbuatan
melanggar hukum. Adapun kedua persyaratan untuk sahnya
pencegahan adalah:
a. memiliki jumlah utang pajak sekurang-kurangnya
Rp100.000.000,00; dan
b. diragukan iktikad baiknya da lam membayar lunas utang
pajaknya.
[ika hanya salah satu unsur terpenuhi, pencegahan tidak boleh
dilakukan terhadap wajib pajak atau penanggung pajak karena Pasal
29 UU PPDSP mensyaratkan bahwa kedua persyaratan tersebut
wajib terpenuhi kemudian dapat dilakukan pencegahan terhadap
wajib paj ak atau penanggung pajak yang bersangkutan.
Di samping itu, pencegahan boleh dilakukan bila telah ada
keputusan pencegahan yang diterbitkan oleh Menteri at as
perrriintaan pejabat pajak atau atasan pejabat pajak tersebut.
Menteri yang dimaksud dalam hal ini adalah Menteri Keuangan
yang berwenang menerbitkan keputusan pencegahan atas wajib
234 Pembaruan HukumPajak
SAS 10: Penagihan Pajak
235
236
Pembaruan Hukum Pajak
SAS 10: Penagihan Pajak
237
pajak atau penanggung pajak. Untuk sahnya keputusan pencegahan
terhadap wajib pajak atau penanggung pajak, keputusan yang
diterbitkan oleh Menteri Keuangan memuat sekurang-kurangnya:
a. identitas wajib pajak atau penanggung pajak yang dikenakan
pencegahan;
b. alasan untuk melakukan pencegahan; dan
c. jangka waktu pencegahan.
]angka waktu pencegahan adalah paling lama enam bulan dan
dapat diperpanjang untuk selama-lamanya enam bulan. Per-
panjangan jangka waktu tersebut bertujuan agar wajib pajak atau
penanggungpajak, secepatnya melunasi utang pajaknya agar
pencegahan yang sementara dijalani tidak diperpanjang lagi .
Keputusan pencegahan disampaikan kepada wajib pajak atau
penanggung pajak yang dikenakan pencegahan, Menteri
Kehakiman, pejabat yang memohon pencegahan, atasan pejabat
yang bersangkutan, dan kepala daerah setempat. Ketentuan ini tidak
sesuai dengan perkembangan yang ada karena Menteri Kehakiman
telah berubah menjadi Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Di samping itu, bukan hanya penanggung pajak, tetapi wajib pajak
harus pula dicantumkan dalam ketentuan tersebut.
Pencegahan terhadap wajib pajak atau penanggung pajak tidak
mengakibatkan hapusnya utang pajak dan terhentinya pelaksanaan
penagihan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasa131 UU PPDSP.
Ketentuan ini sangat tepat keberadaannya pada masa kini dan
mendatang karena bertujuan agar wajib pajak atau penanggung
pajak tidak beranggapan kalau telah dilakukan pencegahan berarti
utang pajak tidak ada lagi. Lain perkataan bahwa pencegahan tidak
menghapus utang pajak, melainkan sebagai paksaan agar wajib
pajak atau penanggung pajak membayar lunas utang pajaknya
sebelum dilakukan penyanderaan atau sementara menjalani
pencegahan.
4. Penyanderaan
Hukum pajak tidak hanya mengenal adanya hukuman badan
karena terbukti melakukan tindak pidana pajak, tetapi mengenal
pula penahanan atas diri wajib pajak atau penanggung pajak sebagai
konsekuensi dari tindakan pelaksanaan surat paksa. Penahanan atas
diri wajib pajak atau penanggung pajak disebut sebagai "penyande-
raan". Penyanderaan menurut Pasal1 angka 21 UU PPDSP adalah
pengekangan sementara waktu kebebasan penanggung pajak
dengan menempatkannya di tempat tertentu. Ketentuan ini
seharusnya mencantumkan wajib pajak dan tidak hanya penang-
gung pajak agar tidak terjadi ketimpangan dalam pelaksanaan di
masa kini dan mendatang."
Tujuan penyanderaan adalah agar wajib pajak atau penanggung
pajak atau keluarganya membayar lunas utang pajak yang selama
ini terutang. Penyanderaan mengandung konsekuensi tidak
bebasnya wajib pajak atau penanggung pajak untuk berhubungan
dengan keluarganya. Penyanderaan sebagai upaya paksa dalam
hukum pajak tidak termasuk dalam kategori pelanggaran hak asasi
wajib pajak atau penanggung pajak, karena penyanderaan dilakukan
atas ketidakpatuhan wajib pajak atau penanggung pajak untuk
melunasi utang pajaknya.
Penyanderaan hanya dapat dilakukan terhadap wajib pajak atau
penanggung pajak yang memiliki utang pajak sekurang-kurangnya
Rp100.000.000,00 dan diragukan iktikad baiknya dalam membayar
lunas utang pajak. Sahnya penyanderaan menurut hukum jika
kedua persyaratan untuk melaksanakan penyanderaan telah
terpenuhi berdasarkan UU PPDSP. Dalam arti, bila hanya satu
persyaratan yang terpenuhi berarti penyanderaan tidak sah sehingga
perbuatan berupa penyanderaan yang dilakukan oleh juru sita pajak
batal demi hukum atau dapat dibatalkan. Oleh karena itu, perbuatan
berupa melaksanakan penyanderaan at as diri wajib pajak atau
penanggung pajak merupakan perbuatan melanggar hu kum.
Penyanderaanwajib berdasarkan surat perintah penyanderaan yang
diterbitkan oleh pejabat pajak setelah mendapat izin tertulis dari
Menteri atau jika memuat sekurang-kurangnya:
a. identitas wajib pajak atau penanggung pajak yang disandera;
b. alasan-alasan penyanderaan;
c. izin penyanderaan;
d. lamanya penyanderaan; dan
e. tempat penyanderaan.
Meskipun juru sita pajak sebagai pelaksana surat perintah
penyanderaan yang diterbitkan oleh pejabat pajak, dalam melaksa-
nakan penyanderaan harus menaati keterituan-ketentuan yang
terkait dengan penyanderaan. Hal ini dimaksudkan agar penyan-
deraan yang dilakukan tidak melanggar hukum sebagaimana yang
ditentukan dalam hukum pajak sehingga tidak ada sanggahan dari
pihak yang merasakan dirugikan, seperti wajib pajak, penanggung
pajak, atau pihak ketigakarena penyanderaan tidak boleh dilaksana-
kan dalam hal wajib pajak atau penanggung pajak sernentara
beribadah, sementara mengikuti sidang resmi, atau sedang meng-
ikuti pemilihan umum.
Jangka waktu penyanderaan paling lama enam bulan dan dapat
diperpanjang untuk selama-lamanya enam bulan. Perpanjangan
jangka waktu tersebut tidak selalu dilaksanakan kalau wajib pajak
atau penanggung pajak pada saat disandera dapat melunasi utang
pajak dan biaya penagihan pajak. Kecuali pada penyanderaan tahap
pertama belum melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak,
perpanjangan penyanderaan untuk jangka waktu enam bulan
kemudian dilakukan oleh pejabat pajak berdasarkan surat
keputusan perpanjangan penyanderaan. Dalam hal ini, wajib pajak
atau penanggung pajak wajib tetap berada dalam tempat
penyanderaan semula.
F. Perlawanan terhadap Surat Paksa
Surat paksa yang telah diterbi tkan oleh pejabat pajak dan
dilaksanakan oleh juru sita pajak boleh dilakukan perlawanan oleh
239 BAB 10: Penagihan Pajak
Kadangkala penyanderaan terhadap wajib pajak atau penang-
gung pajak tidak menghabiskan jangka waktu enam bulan atau
tidak diperpanjang untu k kedua kalinya karena ada faktor-faktor
yang menyebabkan berakhirnya penyanderaan tersebut. Faktor-
faktor yang menyebabkan wajib pajak atau penanggung pajak yang
disandera dapat dilepaskan adalah:
a. apabila utang pajak dan biaya penagihan pajak telah dibayar
lunas;
b. apabila jangka waktu yang ditetapkan dalam surat perintah
penyanderaan telah berakhir;
c. berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap; dan
d. berdasarkan pertimbangan tertentu dari Menteri Keuangan
atau gubernur kepala daerah.
Penyanderaan terhadap wajib pajak atau penanggung pajak
tidak mengakibatkan hapusnya utang pajak dan terhentinya
pelaksanaan penagihan pajak. Hal ini didasarkan atas anggapan
bahwa pajak yang terutang hanya pada negara bukan pada orang
perorangan sebagai utang biasa (utang perdata) . Demikian pula
mengenai penagihan pajak tidak boleh dihentikan karena rnerupa-
kan wewenang pejabat pajak yang bersumber dari UU PPDSP
sebagaimana telah disepakati oleh rakyat melalui wakilnya di
Dewan Perwakilan Rakyat dengan Presiden. Kesepakatan tersebut
menciptakan suatu kaidah hukum yang wajib untuk ditaati dalam
pelaksanaannya, baik terhadap wajib pajak atau penanggung pajak
di pihak lain, dan di lain pihak pejabat pajak dengan juru sita pajak.
Pembaruan Hukum Pajak 238
pihak-pihak yang beranggapan dirugikan karena tidak sesuai dengan
ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. Perlawanan itu ber-
tujuan untuk memulihkan keadaan yang sebenarnya dikategorikan
telah menimbulkan kerugian karena adanya pelanggaran hukum
yang dilakukan, baik oleh pejabat pajak atau juru sita pajak.
Perlawanan itu dapat berupa: a) perlawanan secara material; dan
b) perlawanan secara formal.
Moeljo Hadi (2001;34) mengatakan bahwa pada prinsipnya
surat paksa yang diberitahukan secara resmi pada wajib pajak atau
penanggung pajak tidak dapat ditentang (dilawan), dilihat dari segi
materialnya, baik dengan cara atau sarana hukum apa pun.
Demikian pula Rochmat Soemitro (1986;76) mengatakan bahwa
surat paksa itu sama dengan keputusan hakim dan mempunyai
kekuatan hukum yang tetap, dan segera dapat dilaksanakan (in
kracht van gewijsde gegane vonnis). Artinya, tidak ada upaya hukum
lainnya yang dapat digunakan untuk melawan surat paksa itu.Iadi,
surat paksa secara material tidak dapat ditentang, tetapi jika
terdapat kekurangan-kekurangan formal, surat paksa masih dapat
ditentang.
Surat paksa tidak dapat dilawan oleh wajib pajak atau
penanggung pajak dari segi materialnya karena dipandang sebagai
suatu keputusan hakim yang memiliki kekuatan hukum yang tetap.
Hal ini didasarkan karena surat paksa itu berkepala "Demi Keadilan
Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa" dengan fungsi eksekutorial
yang dimilikinya.
juru sita pajak sebagai pelaksana surat paksa yang diikuti
dengan tindakan pelaksanaan surat paksa berupa penyitaan, lelang,
pencegahan, dan penyanderaan dapat dilakukan perlawanan secara
hukum, berarti tidak boleh dilawan dengan cara kekerasan dengan
menggunakan kekuatan fisik karena tindakan-tindakan yang
dilakukan oleh juru sita pajak dalam kaitan surat paksa dan tindakan
241
240 Pembaruan Hukum Pajak
BAB 10: Penagihan Pajak
pelaksanaannya juga berpatokan pada hukum pajak, hukum pajak
yang merupakan barometer untuk menentukan apakah tindakan-
tindakan tersebut tetap berada dalam koridor hukum atau tidak.
Hukum pajak sangat berperan dalam menentukan keabsahan
tindakan yang dilaksanakan oleh juru sita pajak maupun perlawanan
terhadap tindakan tersebut.
Perlawanan terhadap tindakan-tindakan juru sita pajak yang
terkait dengan surat paksa dapat dilakukan oleh wajib pajak,
penanggung pajak, atau pihak ketiga mengingat perlawanan
tersebut merupakan suatu hak yang terdapat dalam UU PPDSp,
bukan hanya sekadar retorika bel aka untuk memberikan pem-
benaran yang dilakukan oleh wajib pajak, penanggung pajak, atau
pihak ketiga. Sekalipun wajib pajak, penanggung pajak, atau pihak
ketiga melakukan perlawanan terhadap surat paksa dan tindakan
pelaksanaan surat paksa tersebut, tetap wajib pajak atau penang-
gung pajak berkewajiban membayar lunas utang pajak dan biaya
penagihan pajak, berarti kewajiban itu tetap melekat dan tidak
hapus karena akibat dari perlawanan.
1. Perlawanan Wajib Pajak atau Penanggung Pajak
Telah dikemukakan bahwa perlawanan yang dilakukan oleh
wajib pajak atau penanggung pajak terhadap surat paksa dan
tindakan pelaksanaan surat paksa merupakan suatu hak, bukan
kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) UU
PPDSP dan Pasal 40 ayat (1) UU PENJAK. Perlawanan itu harus
ditujukan kepada Pengadilan Pajak, bukan pada Pengadilan Tata
Usaha Negara, atau Pengadilan Negeri . Muatan perlawanan adalah
penyampaian surat paksa atau tindakan pelaksanaan surat paksa
seperti rata cara penyampaian surat paksa, jumlah utang pajak yang
tercantum dalam surat paksa, surat keputusan perintah penyitaan,
dan surat keputusan pengumuman lelang ketika:
242
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 10: Penagihan Pajak
243
a. surat paksa tidak disampaikan kepada wajib pajak atau
penanggung pajak, atau pihak-pihak yang diperkenankan
menerima surat paksa tersebut;
b. surat paksa memuat jumlah utang pajak dan biaya penagihan
pajak tidak sebagaimana mestinya;
c. surat paksa dikirim melalui pos wesel, walaupun tercatat:
d. surat paksa tidak ditandatangani oleh pejabat pajak yang
menerbitkan;
e. penyitaan dilakukan terhadap barang-barang yang dikecualikan
dari penyitaan;
f. penyitaan dilakukan terhadap barang-barang yang dilarang
disita;
g. pengumuman lelang dan pelaksanaannya tidak sesuai yang
ditentukan.
Bentuk perlawanan yang boleh dilakukan oleh wajib pajak atau \
penanggung pajak adalah mengajukan "gugatan" pada Pengadilan
Pajak. Gugatan merupakan salah saru upaya hukum yang bersifat
biasa untuk digunakan oleh wajib pajak atau penanggung pajak
dalam rangka melawan surat paksa dan tindakan pelaksanaan surat
paksa (tidak termasuk mengenai penyanderaan) . Sekalipun telah
tersedia upaya hukum biasa (gugatan), wajib pajak atau
penanggung pajak yang menggunakan haknya wajib memenuhi
syarat-syarat sahnya suatu gugatan sebagaimana yang telah
ditentukan. ]ika salah satu syarat -syarat sahnya suatu gugatan tidak
terpenuhi, berarti gugatan wajib pajak atau penanggung pajak
ditolak oleh hakim yang berwenang mengadilinya.
Selain perlawanan terhadap tata cara penyampaian surat
paksa dan muatan yang tercantum di dalarnnya, wajib pajak atau
penanggung pajak berhak pula mengadakan perlawanan mengenai
surat keputusan perintah penyitaan. ]ika juru sita pajak melaku-
kan pelanggaran hukum karenamenyita barang-barang wajib pajak
atau penanggung pajak yang dikecualikan atau dilarang untuk disita.
Sementara itu, perlawanan ditujukan kepada surat keputusan
pengumuman lelang, jika pengumuman lelang tersebut tidak sesuai
dengan rata cara mengumumkan lelang.
Perlawanan wajib pajak atau penanggungpajak terhadap surat
keputusan perintah penyanderaan berbeda dengan perlawanan
terhadap surat keputusan penyitaan dan surat keputusan pengurriu-
man lelang. Perlawanan terhadap surat keputusan penyanderaan
ditujukan pada Pengadilan Negeri dan bukan pada Pengadilan Pajak,
walaupun pada awalnya adalah sengketa pajak mengenai utang
pajak dan biaya penagihan pajak. Kernudian, perlawanan boleh
dilakukan pada saat wajib pajak atau penanggung pajak berada
dalam kedudukan sebagai sandera. Bentuk perlawanan adalah
mengajukan pula "gugatan" pada Pengadilan Negeri dalam wilayah
hukum di mana penyanderaan itu dilaksanakan. Lain perkataan
bahwa pengajuan gugatan terhadap pelaksanaan penyanderaan,
yakni pada saat wajib pajak atau penanggung pajak disandera
sampai berakhir penyanderaan sebab, wajib pajak atau penanggung
pajak tidak berhak lagi mengajukan gugatan terhadap pelaksanaan
penyanderaan setelah berakhir masa penyanderaan.
]ika perlawanan terhadap pelaksanaan penyanderaan diajukan
berdasarkan syarat-syarat yang telah ditentukan dan dapat dibukti-
kan dalam persidangan pengadilan sehingga dikabulkan dan telah
memiliki kekuatan hukum tetap, wajib pajak atau penanggung pajak
berhak memohon pemulihan nama baik dan bahkan berhak
menuntut ganti kerugian atas tindakan yang dilakukan oleh pejabat
pajak beserta juru sita pajak yang besangkutan. Akan tetapi, bila
gugatan tidak memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan,
misalnya gugatan diajukan setelah berakhir masa penyanderaan,
perlawanan wajib pajak atau penanggung pajak dinyatakan ditolak
karena jangka waktu pengajuan gugatan mengenai pelaksanaan
penyanderaan telah kedaluwarsa menurut hukum.
2. Perlawanan Pihak Ketiga
Pihak ketiga dalam hal ini adalah bukan wajib pajak atau
penanggung pajak termasuk ahli warisnya. Begitu pula bukan pihak
ketiga sebagai pemotong atau pemungut pajak menurut peraturan
perundang-undangan perpajakan, melainkan pihak ketiga yang
dirugikan atas peIaksanaan penyitaan yang dilakukan oIeh juru sita
pajak. Sebagai contoh, juru sita pajak meIakukan penyitaan terhadap
barang-barang miIik pihak ketiga karena barang-barang itu
dititipkan pada wajib pajak atau penanggung pajak sebeIum
penyitaan dilaksanakan. Berarti ada kesalahan objek penyitaan yang
seharusnya tidak boIeh disita karena bukan milik wajib pajak atau
penanggung pajak.
PerIawanan pihak ketiga diIakukan daIam bentuk "gugatan"
pula yang disampaikan kepada Pengadilan Negeri daIam wilayah
hukum di mana barang-barang tersebut disita. Gugatan itu harus
berintikan mengenai "kepernilikan barang-barang yang disita"
sebagai bukan milik wajib pajak atau penanggung pajak. PengadiIan
Negeri yang menerima gugatan pihak ketiga wajib memberitahukan
secara tertulis kepada pejabat pajak atau juru sita pajak tentang
gugatan itu. ]ika gugatan telah diterirna, pejabat pajak wajib
menangguhkan peIaksanaan sita hanya terhadap barang-barang
yang digugat kepemiIikannya. Pengajuan gugatan kepemilikan
barang-barang yang disita dilakukan sebeIum peIaksanaan leIang.
Ketika Petugas LeIang teIah menunjuk seorang pembeIi sebagai
pemenang leIang daIam proses IeIang yang sementara berlangsung,
gugatan tidak boIeh diajukan Iagi terhadap kepemiIikan barang-
barang yang teIah dijuaI. HaI ini dimaksudkan untuk memberi
kepastian hukum dan meIindungi kepentingan pembeIi IeIang
karena pihak ketiga tidak menggunakan haknya untuk mengajukan
gugatan pada PengadiIan Negeri tersebut sebelum IeIang dilaksana-
kan.
245 SAS 10: PenagihanPajak
Untuk mencegah kesaIahan penyitaan barang-barang yang
disita, wajib bagi juru sita pajak mempertanyakan kepemilikan
barang-barang yang akan disita agar tidak terjadi perbuatan
meIanggar hukum yang berakhir pada gugatan pihak ketiga sebagai
pemiIik barang-barang yang disita. DaIam arti, penyitaan yang
dilaksanakan oIeh juru sita pajak terdapat kesaIahan objek penyitaan
karena yang disita bukan milik wajib pajak atau penanggung pajak,
meIainkan milik pihak ketiga yang tidak terIibat atau tersangkut
mengenai penagihan pajak. OIeh karena itu, pihak ketiga wajib
memperoIeh perIindungan hukum at as perbuatan meIanggar
hukum yang dilakukan oIeh pejabat pajak atau juru sita pajak daIam
melaksanakan penyitaan. Dengan demikian, penyitaan terhadap
barang-barang yang diIakukan oIeh juru sita pajak harus dicermati
secara saksama sehingga tidak terjadi kesaIahan daIam meIakukan
penyitaan.
Pernbaruan Hukum Pajak 244
247
I[JCIpP Pembukuan
A. Kewajiban Menyelenggarakan Pembukuan
Ketentuan dalam Pasal 28 ayat (1) UU KUP mewajibkan
kepada wajib pajak untuk menyelenggarakan pembukuan. Pern-
bukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara
teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang
meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta
jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang
ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan
laporan laba rugi pada setiap tahun pajak berakhir. Kewajiban
menyelenggarakan pembukuan hanya ditujukan kepada wajib pajak
yang terkait dengan UU PPh dan UU PPN. Sebaliknya, wajib pajak
yang terkait dengan UU PBB dan UU BPHTB tidak diwajibkan
menyelenggarakan pembukuan karena kedua Undang-undang Pajak
tersebut tidak mewajibkannya.
Terkait dengan Pasal 28 ayat (1) UU KUp, wajib pajak yang
diwajibkan menyelenggarakan pembukuan adalah wajib pajak orang
pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan
wajib pajak badan di Indonesia. Kewajiban menyelenggarakan
pembukuan tidak berlaku mutlak bagi wajib pajak karena berdasar-
kan Pasal 28 ayat (2) UU KUP terdapat dua golongan wajib pajak
B. Syarat-syarat Penyelenggaraan Pembukuan
Wajib pajak yang diwajibkan menyelenggarakan pembukuan
atau melakukan pencatatan, terlebih dahulu harus menaati syarat-
syarat yang ditentukan. Hal ini dimaksudkan agar pembukuan atau
pencatatan yang dibuatnya tidak bertentangan dengan syarat -syarat
tersebut. Adapun syarat-syarat penyelenggaraan pembukuan atau
pencatatan adalah:
yang diperkenankan melakukan pencatatan (bukan pembukuan)
seluruh kegiatannya. Adapun kedua golongan wajib pajak adalah:
1. wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas yang menurut ketentuan peraturan per-
undang-undangan perpajakan diperbolehkan menghitung
penghasilan neto dengan menggunakan norma penghitungan
penghasilan neto;
2. wajib pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha
atau pekerjaan bebas.
Kemudian, wajib pajak yang tidak diwajibkan menyelenggara-
kan pembukuan maupun melakukan pencatatan adalah:
1. wajib pajak orang pribadi yang tidak wajib menyampaikan
Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan;
2. wajib pajak untuk Pajak Bumi dan Bangunan; dan
3. wajib pajak untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan.
Sebenarnya pembukuan maupun pencatatan merupakan
petunjuk bagi wajib pajak untuk menentukan jumlah pajak yang
terutang atau dijadikan dasar pengenaan pajak yang terutang.
Kemudian dapat pula dijadikan sebagai alat bukti surat jika terjadi
sengketa pajak, baik di luar maupun di dalam Lembaga Peradilan
Pajak. Misalnya, pada Lembaga Keberatan atau Pengadilan Pajak.
1. diselenggarakan dengan memerhatikan ikti kad baik dan
mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya;
2. diselenggarakan di Indonesia;
3. menggunakan huruf latin, angka arab, dan satuan mata uang
rupiah; dan
4. disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing yang
diizinkan oleh Menteri Keuangan.
Terhadap bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan
hanya tertuju pada bahasa Inggris. Dalam arti, bahwa bahasa asing
selain bahasa Inggris dilarang digunakan dalam penyelenggaraan
pembukuan atau pencatatan. Wajib pajak yang menggunakan
bahasa Inggris dalam pembukuan atau pencatatannya wajib
menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ke Kantor Pelayanan
Pajak tempat wajib pajak terdaftar, paling lama tiga bulan setelah
dimulainya tahun buku yang diselenggarakan dalam bahasa Inggris
tersebut. ]ika suatu pembukuan atau pencatatan menggunakan
bahasa asing, selain bahasa Inggris berarti pembukuan atau
pencatatan tersebut batal demi hukum atau setidak-tidaknya dapat
dibatalkan karena melanggar syarat-syarat yang telah ditentukan.
Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri dari catatan mengenai
harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta penjualan
dan pembelian sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang
terutang. Berdasarkan pembukuan yang diselenggarakan maka
dapat dihitung besarnya Pajak Penghasilan serta Pajak Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah . Agar Pajak Per-
tambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dapat
dihitung dengan benar, pembukuan harus mencatat mengenai:
1. jumlah harga perolehan atau nilai impor;
2. jumlah harga jual atau nilai ekspor;
3. jumlah harga jual dan barang yang dikenakan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah;
249
BAB 11: Pembukuan
PembaruanHukumPajak
248
250 Pembaruan Hukum Pajak BAB 11 : Pembukuan
251
4. jumlah pembayaran atas pernanfaatan barang kena pajak tidak
berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean dan
atau pemanfaatan jasa kena pajak dari luar daerah pabean di
dalam daerah pabean; dan
5. jumlah pajak masukan yang dapat dikreditkan dan yang tidak
dapat dikreditkan.
Pembukuan wajib diselenggarakan dengan cara atau sistem
yang lazim digunakan di Indonesia, misalnya berdasarkan Standar
Akuntansi Keuangan, kecuali ditentukan lain oleh peraturan per-
undang-undangan perpajakan. Berbeda haInya dengan pencatatan
yang tidak terikat pada Standar Akuntansi Keuangan karena hanya
memuat data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran
atau penerimaan bruto dan atau penghasilan bruto sebagai dasar
untuk menghitung jumlah pajak yang terutang, termasuk peng-
hasilan yang bukan objek pajak dan atau yang dikenakan pajak yang
bersifat final. Pencatatan oIeh wajib pajak orang pribadi yang
melakukan kegiatan usaha dan pekerjaan bebas meliputi peredaran
atau penerimaan bruto dan penerimaan penghasilan lainnya.
Sementara itu, bagi wajib pajak orang pribadi yang hanya menerima
penghasilan dari luar usaha dan pekerjaan bebas, pencatatannya
hanya mengenai penghasilan bruto, pengurangan, dan penghasilan
neto yang merupakan objek Pajak Penghasilan. Dengan demikian,
pencatatan meliputi puIa penghasilan yang bukan objek pajak dan
atau yang dikenakan pajak yang bersifat final.
.C. Prinsip Pembukuan
Pembukuan diseIenggarakan dengan prinsip taat asas (konsis-
ten) dan dengan stelsel akrual atau stelsel kas. Dalam arti, prinsip
taat asas dan dengan stelsel akrual atau stelsel kas tidak berlaku
bagi pencatatan yang dilakukan oleh wajib pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) UU KUP. Prinsip taat asas
merupakan prinsip yang sama digunakan dalam metode pem-
bukuan dengan tahun-tahun sebelumnya, untuk mencegah laba
atau rugi. Prinsip taat asas dalam metode pembukuan misalnya
dalam penerapan:
1. stelsel pengakuan penghasilan;
2. tahun buku;
3. metode penilaian persedian; dan
4. metode penyusutan dan amortisasi.
Stelsel akrual adalah suatu rnetode penghitungan penghasilan
dan biaya dalam arti penghasilan diakui pada waktu diperoleh dan
biaya diakui pada waktu terutang. ]adi tidak tergantung kapan
penghasilan itu diterima dan kapan biaya itu dibayar tunai.
Termasuk dalam pengertian stelsel akrual adalah pengakuan
penghasilan berdasarkan metode persentase tingkat penyelesaian
pekerjaan yang umumnya digunakan di bidang konstruksi dan
metode lainnya yang digunakan di bidang usaha tertentu, seperti
Build Operate andTransfer (BOT), Real Estate, dan lain-lain.
Stelsel kas (stelsel campuran) adalah suatu metode yang peng-
hitungannya didasarkan atas penghasilan yang diterima dan biaya
yang dibayar secara tunai, Menurut stelsel ini, penghasilan dapat
dianggap sebagai penghasilan, tatkala benar-benar telah diterima
secara tunai daIam suatu periode tertentu, serta biaya dapat
dianggap sebagai biaya, bila benar-benar telah dibayar secara tunai
.dalam suatu periode tertentu. Stelsel kas biasanya digunakan oleh
perusahaan kecil orang pribadi atau perusahaan jasa, misalnya
transportasi, hiburan, restoran yang tenggang waktu antara
penyerahan jasa dan penerimaan pembayarannya tidak berlangsung
lama. Dalam stelsel kas murni, penghasilan dari penyerahan barang
atau jasa ditetapkan pada saat diterimanya pembayaran dari
langganan, dan biaya-biaya ditetapkan pada saat dibayarnya barang,
jasa, dan biaya kegiatan lainnya.
Berdasarkan cara ini, penggunaan stelsel kas dapat mengakibat-
kan penghi tungan yang mengaburkan terhadap penghasilan, yaitu
besarnya penghasilan dari tahun ke tahun dapat disesuaikan dengan
mengatur penerimaan kas dan pengeluaran kas. Oleh karena itu,
untuk penghitungan Pajak Penghasilan dalam penggunaan stelsel
kas harus memerhatikan hal-hal antara lain:
1. penghitungan jumlah penjualan dalam suatu periode harus
meliputi seluruh penjualan, baik yang tunai maupun yang
bukan tunai. Dalam menghitung harga pokok penjualan harus
diperhitungkan seluruh pembelian dan persediaan;
2. dalam memperoleh data yang dapat disusutkan dan hak-hak
yang dapat diamortisasi, biaya-biaya yang dikurangkan dari
penghasilan hanya dapat dilakukan melalui penyusutan dan
amortisasi;
3. penggunaan stelsel kas harus dilakukan secara taat asas .
Pada dasarnya metode-metode pembukuan yang dianut harus
taat asas, yaitu harus sama dengan tahun-tahun sebelumnya,
misalnya dalam hal penggunaan metode pengakuan penghasilan
dan biaya (metode kas atau akrual) , metode penyusunan aktiva
tetap, metode penilaian persediaan, dan sebagainya. Namun
demikian, perubahan metode pembukuan masih dimungkinkan
dengan persyaratan telah mendapat persetujuan dari pejabat pajak.
Perubahan metode pembukuan harus diajukan kepada pejabat pajak
sebelum dimulainya tahun buku yang bersangkutan dengan
menyampaikan alasan-alasan yang logis dan dapat diterima serta
akibat-akibat yang mungkin timbul dari perubahan tersebut.
Perubahan metode pembukuan mengakibatkan perubahan
dalam prinsip taat asas yang dapat meliputi perubahan metode
dari kas kepada akrual atau sebaliknya atau perubahan penggunaan
metode pengakuan penghasilan atau pengakuan biaya itu sendiri.
Misalnya, dalam metode pengakuan biaya yang berkenaan dengan
D. Penyimpanan Dokumen
253
BAB 11 : Pembukuan
penyusutan aktiva tetap dengan menggunakan metode penyusutan
tertentu. Contoh, wajib pajak dalam tahun 2005 menggunakan
metode penyusutan garis lurus (straight line method). Kemudian,
pada tahun 2006, wajib pajak bermaksud mengubah metode
penyusutan aktiva dengan menggunakan metode penyusutan saldo
menurut (declining balance method) . Untuk keperluan tersebut, wajib
pajak wajib meminta persetujuan terlebih dahulu kepada pejabat
pajak yang diajukan sebelum dimulainya tahun buku 2006 dengan
menyebutkan alasan-alasan dilakukannya perubahan metode
penyusutan dan akibat dari perubahan tersebut. Perubahan periode
tahun buku juga berakibat berubahnya jumlah penghasilan atau
kerugian wajib pajak. Oleh karena itu, perubahan wajib pula
memperoleh persetujuan dari pejabat pajak.
Tahun pajak sama dengan tahun takwim (tahun kalender) ,
kecuali wajib pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama
dengan tahun takwim. Tatkala wajib pajak menggunakan tahun
buku yang berbeda dengan tahun takwim, maka penyebutan tahun
pajak yang bersangkutan menggunakan tahun yang di dalamnya
termasuk enam bulan pertama atau lebih . Contoh, a) pembukuan
diselenggarakan pada tanggal 1 ]uli 2005 sampai dengan tanggal
30 ]uni 2006, tahun pajaknya adalah tahun 2005, atau b)
pembukuan diselenggarakan pada tanggal 1 Oktober 2005 sampai
dengan tanggal 30 September 2006,tahun pajaknya adalah tahun
2006 .
Pembukuan atau pencatatan yang bersumber dari data yang
terdapat pada buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen
yang menjadi dasarnya serta dokumen lainnya termasuk hasil
pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik
atau secara program aplikasi on-line, wajib disimpan selama sepuluh
Pembaruan HukumPajak
252
254
Pembaruan Hukum Pajak
255
tahun di Indonesia. Penyimpanannya di ternpar kegiatan atau
ternpar tinggal wajib pajak orang pribadi, atau di temp at kedudukan
wajib pajak badan. Hal ini dimaksudkan, tatkala pejabat pajak akan
menerbitkan surat ketetapan pajak, bahan pembukuan atau
pencatatan yang diperlukan masih tetap ada dan dapat segera
disediakan.
Kurun waktu sepuluh tahun penyimpanan buku-buku, catatan-
catatan, dan dokumen-dokumen yang menjadi dasar pembukuan
atau pencatatan sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai
batas kedaluwarsa penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan.
Penyimpanan buku-buku; catat an-catatan, dan dokumen-dokumen
yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain
termasuk yang diselenggarakan secara program aplikasi on-linewajib
dilakukan dengan memerhatikan faktor keamanan, kelayakan, dan
kewajaran penyimpanannya.
m" Pemeriksaan
A. Pengertian
Jika ada dugaan bahwa wajib pajak berupaya untuk melakukan
penghindaran pajak secara illegal, pejabat pajak wajib melakukan
tindakan hukum yang dibenarkan oleh hukum pajak. Salah satu
bentuk tindakan hukum yang dibenarkan adalah pemeriksaan.
Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengum-
pulkan, mengolah data dan atau keterangan lainnya. Pemeriksaan
tidak boleh menyimpang dari ketentuan yang menjadi dasarnya,
agar tidak menimbulkan kerugian bagi wajib pajak yang diperiksa.
Sebaliknya, wajib pajak berkewajiban memberi ket erangan Iisan
maupun ket erangan tertuIis yang terkait dengan kewajiban yang
telah ditentukan, misalnya memperIihatkan pembukuan atau
pencatatan yang diselenggarakan selama ini.
Pelaksanaan pemeriksaan diupayakan agar pejabat pajak yang
melakukan pemeriksaan maupun wajib pajak yang diperiksa tetap
berpegang pada keterbukaan dan kejujuran. Hal ini dimaksudkan
agar terhindar dari kompromi pajak yang dapat menimbulkan
kerugian bagi negara. Dengan demikian, terIaksan anya pemeriksaan
secara benar berarti terjalin kerja sama yang baik untuk mene gakkan
hukum pajak tanpa melalui proses peradilan.
B. Tujuan Pemeriksaan
1. menerapkan teknik-teknik pemeriksaan yang lazim di gunakan
dalam pemeriksaan pada umumnya, yang dinamakan pemerik-
saan lengkap;
2. menerapkan teknik-teknik pemeriksaan dengan bobot dan
Pemeriksaan yang dilakukan oleh pej abat pajak terhadap wajib
pajak yang diperiksa pada hakikatnya memiliki tujuan yang hendak
dicapai . Pejabat pajak dalam rangka pengawasan kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan, berwenang melakukan pemerik-
saan untuk:
1. menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban wajib pajak;
2. tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.
Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
wajib pajak dapat dilakukan dalam hal:
1. surat pemberitahuan menunjukkan kelebihan pembayaran
pajak dan atau rugi;
2. surat pemberitahuan tidak disampaikan atau disampaikan
tidak pada waktu yang telah ditetapkan;
3. data dan atau keterangan dalam surat pemberitahuan menyim-
pang dari kewajaran dan kelaziman;
4. ada indikasi kewajiban perpajakan selain kewajiban tersebut
huruf b tidak dipenuhi.
Pelaksanaan pemeriksaan dalam rangka menguji pemenuhan
kewajiban perpajakan wajib paj ak dil akukan dengan menelusuri
kebenaran surat pernberitahuan, pembukuan atau pencatatan, dan
pemenuhan kewajiban perpaj akan lainnya, yang dilakukan dengan
cara:
257
BAB 12: Pemeriksaan
kedalaman yang sederhana sesuai dengan ruang lingkup
pemeriksaan baik dilakukan di kantor maupun di lapangan,
yang dinamakan pemeriksaan sederhana.
Sementara itu, tujuan lain pemeriksaan yang dilakukan oleh
pejabat pajak dapat berupa, antara lain:
1. pemberian nomor pokok wajib pajak secara jabatan:
2. penghapusan nomor pokok wajib pajak;
3. pengukuhan atau pencabutan pengukuhan pengusaha kena
pajak;
4. wajib pajak mengajukan keberatan;
5. pengumpulan bahan guna penyusunan norma penghitungan
penghasilan ne to;
6. pencocokan data dan atau alat keterangan;
7. penentuan wajib pajak berlokasi di daerah terpencil;
8. penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan
Nilai;
9. pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak;
10. pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan per-
pajakan untuk tujuan lain selain tersebut di atas.
Tujuan lain pemeriksaan tersebut di atas, hanya sekadar untuk
memberikan pelayanan yang terbaik kepada wajib pajak. Sementara
itu, yang mewujudkan pelayanan yang terbaik adalah kewajiban
pejabat pajak sebagaimana yang ditentukan dalam peraturan
perundang-undangan perpajakan. Sekalipun pelayanan yang terbaik
diperuntukkan kepada wajib pajak, tidak berarti bahwa kehendak
atau kemauan wajib pajak wajib dilaksanakan oleh pejabat pajak
karena kadangkala wajib pajak hanya untuk mempersulit atau
menghambat pelayanan yang diberikan oleh pejabat paj ak tersebut.
Pembaruan Hukum Pajak 256
258 Pembaruan Hukum Pajak SAS 12: Pemeriksaan 259
C. Ruang Lingkup Pemeriksaan
, Pemeriksaan yang dilakukan oleh pejabat pajak dapat dilakukan
di kantor (pemeriksaan kantor) atau di tempat wajib pajak
(pemeriksaan lapangan) yang ruang Iingkup pemeriksaannya dapat
meIiputi tahun-tahun yang lalu maupun tahun berjalan. Pernerik-
saan dilakukan terhadap wajib pajak, termasuk terhadap instansi
pemerintah dan badan lain sebagai pemotong atau pemungut pajak.
Sebenarnya pemeriksaan yang dilakukan oleh pejabat pajak
terhadap wajib pajak, baik pemeriksaan kantor maupun perneriksa-
an lapangan pada hakikatnya dikehendaki agar ketaatan wajib pajak
tidak mengalami kemunduran dalam memenuhi kewajibannya.
Dengan demikian, wajib pajak yang diperiksa tidak perlu berangga-
pan bahwa pemeriksaan tersebut adalah untuk mengungkapkan
ketidakbenaran yang pada dasarnya tidak demikian halnya.
Ruang Iingkup pemeriksaan yang dilakukan oleh pejabat pajak
terhadap wajib pajak, terdiri dari sebagai berikut.
1. Pemeriksaan kantor yang meliputi suatu jenis pajak tertentu,
baik tahun berjalan dan tahun-tahun sebelumnya yang
dilakukan di Kantor Direktorat Ienderal Pajak. Pemeriksaan
kantor hanya dapat dilaksanakan dengan pemeriksaan
sederhana. Pemeriksaan ini dilaksanakan dalam jangka waktu
ernpat minggu dan dapat diperpanjang menjadi paling lama
enam minggu.
2. Pemeriksaan lapangan yang meliputi suatu jenis pajak tertentu
atau seluruh jenis pajak dan atau tujuan lain baik tahun
berjalan dan atau tahun-tahun sebelumnya yang dilakukan di
ternpat wajib pajak. Pemeriksaan lapangan dapat dilaksanakan
dengan pemeriksaan lengkap (pemeriksaan lapangan lengkap)
atau pemeriksaan sederhana (pemeriksaan lapangan seder-
hana). Pemeriksaan lapangan lengkap dilaksanakan dalam
jangka waktu dua bulan dan dapat diperpanjang menjadi paling
lama delapan bulan sedangkan pemeriksaan lapangan seder-
hana dilaksanakan dalam jangka waktu satu bulan dan dapat
diperpanjang menjadi dua bulan.
Ruang lingkup pemeriksaan tidak hanya sekadar pembatasan
dalam melaksanakan perneriksaan, tetapi pembatasan tersebut
tidak boleh dilanggar oleh pemeriksa. Hal ini untuk menghindari
agar tidak ada pengaduan maupun gugatan dari wajib pajak yang
terlanggar haknya dalam pemeriksaan tersebut. Pengaduan maupun
gugatan merupakan salah satu bentuk ketidakpuasan wajib pajak
terhadap pejabat pajak yang melakukan pemeriksaan.
Pejabat pajak dapat menunjuk seseorang atau lebih sebagai
petugas pajak sebagai pemeriksa (pemeriksa pajak) yang melakukan
pemeriksaan. Pemeriksa pajak yang ditunjuk oleh pejabat pajak
harus berasal dari pegawai negeri sipil di lingkungan Direktorat
jenderal Pajak atau tenaga ahli yang ditunjuk oleh pejabat pajak
yang diberi tugas, wewenang dan tanggungjawab untuk rnelaksana-
kan pemeriksaan pajak. Selain itu, pemeriksa pajak untuk melaku-
kan perneriksaan, berkewajiban memiliki pendidikan teknis yang
cukup dan keterampilan sebagai pemeriksa pajak. Pemeriksa pajak
yang ditunjuk oleh pejabat pajak untuk melakukan pemeriksaan
terhadap wajib pajak, sebelum melakukan pemeriksaan terlebih
dahulu wajib memiliki tanda pengenal pemeriksa dan dilengkapi
dengan surat perintah pemeriksaan. Hal ini dimaksudkan agar wajib
pajak yang diperiksa tidak memiliki keraguan akan tujuan dari
pemeriksaan tersebut. Oleh karena itu, pemeriksa pajak berkewaji-
ban menjelaskan tujuan dilakukannya pemeriksaan kepada wajib
pajak.
D. Kewajiban yang Diperiksa
Setelah pemeriksa pajak sebagai pemeriksa memenuhi
kewajibannya, wajib pajak yang diperiksa, wajib pula memenuhi
260 Pembaruan Hukum Pajak
BAB12: Pemeriksaan 261
kewajiban hukumnya. Adapun kewajiban wajib pajak yang diperiksa
adalah:
1. memperlihatkan dan atau meminj amkan buku atau catatan,
dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang
berhubungan dengan penghas ilan yang diperoleh, kegiatan
usaha, pekerj aan bebas waj ib pajak, atau objek yang terutang
pajak;
2. memberikan kes empatan untuk memasuki t empat at au
ruangan yang diduga merupakan tempat menyimpan buku-
buku, catatan-cat atan, dokumen-dokumen, barang bergerak
dan barang tid ak bergerak yang dapat memberi petunjuk
tentang keadaan usaha wajib pajak dan atau tempat-ternpat
lain yang dianggap penting serta melakukan pemeriksaan di
ternpat-ternpat tersebut;
3. menyerahkan sekurang-kurangnya data yang berkaitan dengan
peredaran usaha, aliran uang, aliran barang, laporan bulanan
rekening koran bank, saham dan harta yang dimiliki baik di
dalam negeri maupun di luar negeri;
4. memberikan ket erangan lain yang dipe rlukan, mis alnya data
pihak keti ga yang mempunyai hubungan dengan wajib pajak
yang diperiksa.
)ika pemeriksa pajak telah mel akukan pemeriksaan terhadap
wajib pajak yang diperiksa, diwajibkan membuat laporan pemerik-
saan. Lapor an pemeriksaan yang dibuat, wajib berpedoman pada
pedoman laporan pemeriksaan pajak yang telah dit et apkan oleh
Menteri Keuangan. Adapun pedoman laporan pemeriks aan pajak
sebagai berikut.
1. Laporan pemeriksaan pajak disus un secara ringkas dan jelas ,
memuat ruang lingkup sesuai dengan tujuan perneriksaan,
mernuat kesimpulan pemeriksa pajak yang didukung temuan
yang kua t tentang ada atau ti dak adanya penyimpangan
terhadap peraturan perundang-undangan perpajakan, dan
memuat pula pen gungkapan informasi lain yang terkait.
2. Laporan pemeriksaan pajak yang berkaitan dengan pengungka-
pan penyimpangan surat pemberitahuan harus memerhatikan
kertas kerja perneriksaan, antara lain mengenai .
a. berbagai faktor perbandingan; .
b. nilai absolut dari penyimpangan;
c. sifat penyimpangan;
d. petunjuk atau temuan adanya penyimpangan;
e. pengaruh penyimpangan; dan
f. hubungan dengan permasalahan lainnya.
3. Laporan pemeriksaan pajak harus didukung oleh daftar yang
lengkap dan rinei sesuai dengan tuju an pemeriksaan.
Sebenarnya kewajiban yang dipe riksa dan pemeriksa tersebut
merupakan bagian dari sistem selfassessment yang selama ini dianut
oleh UU KUP karena sistem self assessment hanya memberi
kepercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung dan melaporkan
jumlah pajak yang terutang kepada Direktorat )enderal Pajak.
Sekalipun demikian, pemeriksa pajak yang melakukan pemeriksaan
berkewajiban bekerja secara jujur, bert anggung jawab, dan tidak
melakukan perbuatan yang tercela dalam menegakkan sistem self
assessment tersebut.
E. Penyegelan
Sebagaimana diketahui bahwa wajib pajak yang diperiksa
berkewaj iban memberi kemudahan bagi pemeriksa untuk rnelaku-
kan pemeriksaan ter hadap wajib pajak atau kuasanya yang pada
saat dilakukan pemeriksaan tidak bers edia memberi kesempatan
262
Pembaruan Hukum Pajak
SAS 12: Pemeriksaan 263
kepada pemeriksa pajak untuk memasuki tempat-ternpat atau
ruangan-ruangan tertentu atau terhadap barang bergerak atau tidak
bergerak, yang diduga disimpan di dalamnya buku-buku, catatan-
catatan, maupun dokumen-dokumen. Termasuk yang diselenggara-
kan secara program on-line, sehingga buku-buku, catatan-catatan
dokurnen-dokumen yang diperlukan tidak dapat diperoleh, wajib
pajak atau kuasanya itu dianggap menghalang-halangi pelaksanaan
pemeriksaan.
]ika terjadi keadaan demikian itu, pejabat pajak dapat melaku-
kan penyegelan karena hal-hal berikut.
1. Wajib pajak atau kuasanya tidak memberi kesempatan kepada
pemeriksa pajak untuk membuka atau memasuki tempat atau
ruangan yang diduga digunakan untuk menyimpan buku-buku,
catatan-catatan, dokumen-dokurnen, barang bergerak dan
barang tidak bergerak yang dapat memberi petunjuk tentang
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas wajib pajak.
2. Wajib pajak atau kuasanya menolak memberi bantuan guna
kelancaran pemeriksaan.
3. Wajib pajak atau kuasanya tidak berada di tempat pada saat
dilakukan pemeriksaan.
4. Pegawai wajib pajak menolak memberi bantuan guna kelanca-
ran pemeriksaan.
5. Petugas pajak sebagai pemeriksa memerlukan upaya pengama-
nan sebelum pemeriksaan selesai.
Penyegelan adalah tindakan menempelkan kertas segel pada
ternpat atau ruangan yang diduga digunakan untuk menyimpan .
buku-buku, catatan-catatan, dokumen-dokumen, barang bergerak
dan barang tidak bergerak yang dapat memberi petunjuk tentang
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas wajib pajak yang diperiksa.
Tujuan penyegelan agar tempat atau ruangan tersebut tidak berubah
sehingga buku-buku, catatan-catatan, dokumen-dokumen, barang
bergerak dan barang tidak bergerak tidak dipindahtangankan,
dihilangkan, dimusnahkan, diubah, dirusak, ditukar, atau dipalsu-
kan. Penyegelan.dilakukan dengan cara menempelkan kertas segel
dengan berbagai cara, sehingga buku-buku, ' catatan-catatan,
dokurnen-dokumen, barang bergerak dan barang tidak bergerak
yang dapat memberi petunjuk tentang kegiatan usaha atau
pekerjaan wajib pajak yang diperkirakan berada di t ~ m p a t atau
ruangan yang disegel tidak dapat dipindahkan, dilepas, dimasuki,
atau dibuka tanpa merusak kertas segel. Kertas segel yang ditempel,
wajib dibubuhi tanda tangan dari pemeriksa pajak dan diberi
stempel instansi yang melakukan penyegelan. Selain itu, penyegelan
yang dilakukan, wajib disaksikan oleh dua orang saksi, salah satu
di antara saksi tersebut adalah wajib pajak yang diperiksa atau
kuasanya, atau pegawainya tatkala wajib pajak yang diperiksa atau
kuasanya tidak berada di ternpat.
Pelaksanaan penyegelan yang dilakukan oleh pemeriksa pajak,
wajib dibuatkan berita acara penyegelan. Berita acara penyegelan
dibuat dan ditandatangani oleh pemeriksa pajak dan dua orang
saksi. Ketika ada saksi menolak menandatangani berita acara
penyegelan, pemeriksa pajak berkewajiban mencatat penolakan
tersebut dalam berita acara penyegelan dengan menyebutkan
alasannya. Berita acara penyegelan dibuat paling sedikit dua rangkap
dan lembar kedua diserahkan kepada wajib pajak atau kuasanya
atau pegawai wajib pajak yang diperiksa. Penyegelan tempat atau
ruangan dapat dibuka oleh pemeriksa dalam bentuk:
1. setelah ada izin dari wajib pajak atau kuasanya atau pegawai
wajib pajak yang diperiksa;
2. dilakukan dengan secara paksa.
Penyegelan dibuka dengan cara membuka kertas segel dan
dilakukan secepatnya pada jam kerja, tatkala wajib pajak atau
264 Pembaruan Hukum Pajak
265
kuasanya atau pegawai wajib pajak yang diperiksa telah memberi
izin kepada pemeriksa pajak untuk membuka atau memasuki
tempat atau ruangan yang disegel. Setelah penyegelan dibuka,
pemeriksa pajak berkewajiban membuat berita acara pembukaan
kertas segel. Berita acara tersebut dibuat dan ditandatangani oleh
pemeriksa pajak dan dua orang saksi. Apabila ada saksi yang
menolak untuk menandatangani berita acara pembukaan kertas
segel, pemeriksa pajak mencatat penolakan tersebut dalam berita
acara pembukaan kertas segel dengan menyebutkan alasannya.
Berita acara pembukaan kertas segel dibuat paling sedikit dua
rangkap dan lembar kedua diserahklan kepada wajib pajak yang
diperiksa atau kuasanya atau pegawai wajib pajak.
Tenggang waktu penyegelan adalah enam hari terhitung pada
hari penempelan kertas segel tersebut. Setelah tenggang waktu
enam hari, ternyata wajib pajak atau kuasanya atau pegawai wajib
pajak yang diperiksa tetap tidak memberi izin kepada pemeriksa
pajak untuk membuka atau memasuki ruangan yang disegel guna
melakukan pemeriksaan pajak, perneriksa pajak berwenang
membuka secara paksa dan memasuki tempat atau ruangan yang
disegel serta melakukan pemeriksaan.
Bila kertas segel yang ditempelkan di tempat atau ruangan
yang disegel tersebut rusak, pemeriksa pajak berkewajiban
membuat berita acara kerusakan tersebut dan melaporkan kepada
Kepolisian Negara dan atau pemerintah daerah setempat. Sebenar-
nya pemeriksa pajak dalam menjalankan tugasnya berwenang
meminta bantuan dari Kepolisian Negara dan atau pemerintah
daerah setempat. Hal ini dimaksudkan agar tugas yang dibebankan
untuk memeriksa wajib pajak tidak mengalami rintangan atau
kendala yang dikehendaki oleh wajib pajak yang bersangkutan.
Sanksi Administrasi
A. Pengertian
Hukum pajak memuat instrumen hukum berupa sanksi
administrasi yang dapat digunakan oleh pejabat pajak terhadap
wajib pajak yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana yang
ditentukan dalam Undang-undang Pajak. Sanksi administrasi
sebagai upaya untuk memaksa wajib pajak agar menaati ketentuan-
ketentuan yang terkait dengan pelaksanaan kewajiban di bidang
perpajakan. Sekalipun sanksi administrasi sebagai upaya untuk
memaksa wajib pajak, pejabat pajak tidak boleh sewenang-wenang
menerapkannya agar tidak terjadi perbuatan melanggar hukum
pajak yang dilakukan oleh pejabat pajak tersebut.
Sanksi administrasi diperuntukkan bagi wajib pajak yang
melakukan pelanggaran hukum pajak yang bersifat administratif.
Sanksi administrasi tidak tertuju kepada fisik wajib pajak, melain-
kan hanya berupa penambahan jumlah pajak yang terutang karena
ada sanksi administrasi yang harus dibayar oleh wajib pajak. Sanksi
administrasi terhitung pada saat dikenakan kepada wajib pajak
dengan jangka waktu tertentu sebagaimana yang ditentukan dalam
Undang-undang Pajak. ]angka waktu yang ditentukan itu sebagai
suatu kepastian hukum yang tidak boleh dilanggar, baik oleh pejabat
pajak maupun wajib pajak yang terkena sanksi administrasi.
B. Sanksi Administrasi Berupa Bunga
Sanksiadministrasi berupa bunga merupakan salah satu jenis
sanksi administrasi yang dapat dikenakan kepada wajib pajak saat
melakukan pe langgaran hukum pajak yang terkait dengan
Tidak semua Undang-undang Pajak yang memuat ketentuan
formal, mengatur tentang sanksi administrasi. Sanksi administrasi
hanya dapat temukan dalam UU KUp, UU PBB, UU BPHTB, dan
UU PDRD. Sebaliknya Undang-undang Pajak yang memuat
ketentuan formal, tetapi tidak mengatur mengenai sanksi adrninis-
trasi adalah UU PPDSP.
Sanksi administrasi bukan merupakan bagian dari utang pajak
sebagai mana dimaksud dalam Pasal 1 angka 10 UU KUP bahwa
pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibaya r pada sua tu
saat, dalam masa pajak, dalam tahun pajak atau dalam bagian tahun
pajak menurut kete ntuan peraturan perundang-undangan perpaja-
kan. Akan tetapi, menurut Pasal 1 angka 8 UU PPDSP bahwa utang
pajak adalah pajak yang masi h harus dibayar termasuk sanksi
administrasi berupa bunga, denda, atau kenaikan yang tercantum
dalam surat ketetapan pajak atau surat sejenis nya berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Berdasarkan ketentuan pada Pasal 1 angka 8 UU PPDSP ter-
nyata sanksi administrasi merupakan bagian tak terpisahkan dengan
utang pajak. Pada hakikatnya, Pasal 1 angka 8 UU PPDSP merupa-
kan ketentuan khusus terhadap ketentuan umum yang terdapat
dalam ketentuan UU KUP. Dengan demikian, utang pajak tidak
hanya jumlah pajak yang tidak dibayar ata u kurang dibayar
termasuk pula sanks i administrasi. Hal ini dimaksudkan agar
wajib pajak dalam memenuhi kewajibannya tidak melampaui
jangka waktu yang ditentukan sehingga terhindar dari penge-
naan sanksi administrasi.
267
BAB 13: Sanksi Administrasi
pelaksanaan kewajiban. Kewajiban wajib pajak yang terkait dengan
sanksi administrasi berupa bunga adalah pembayaran secara lunas
pajak dalam jangka waktu yang di tent ukan sebagaimana yang
tercantum dalam dasar penagihan pajak. Lain perkataan ketika pajak
yang tidak atau kurang dibayar setelah jatuh tempo pembayaran,
pada saat it u pejabat pajak berwenang melakukan penagihan pajak
disertai pengenaan sanksi administrasi beru pa bunga.
Sanksi administrasi berupa bunga sebagaimana diatur dalam
Pasal 13 ayat (2) UU KUP dikenakan terhadap jumlah kekurangan
Pajak PenghasiIan, Pajak Pertambahan NiIai dan Pajak Penjualann
atas Barang Mewah yang terutang dalam surat ketetapan pajak
kurang bayar, karena berdasarkan hasiI pemeriksaan atau kete-
rangan lain pajak yang terutang kurang dibayar. Sanksi administrasi
berupa bunga sebesar dua persen sebulan, untuk selama-Iamanya
24 bulan, dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya
masa pajak, bagian tahun pajak, atau tahun pajak sampai dengan
diterbitkannya surat ketetapan pajak kurang bayar. Ketentuan yang
sama terdapat pula pada Pasal 11 ayat (2) UU BPHTB, tetapi hanya
diberIakukan untuk jumlah kekurangan Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Banguan yang terutang dalam surat ketetapan Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Apabila berdasarkan hasil
pemeriksaan atau keterangan lain ternyata jumlah Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang kurang dibayar,
dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar dua persen
sebulan. Sanksi administrasi berupa bunga tersebut untuk jangka
waktu paling lama 24 bulan, dihitung mulai saat terutangnya Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sampai dengan diterbitkan
surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
Hal y.ang sama tersebut di atas, terdapat dalam Pasal 9 ayat
(2) UU PDRD yang berarti pengenaan sanksi administrasi berupa
bunga sebesar dua persen sebulan dihitung dari pajak daerah yang
kurang atau terIambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24
Pembaruan Hukum Pajak
266
268 Pembaruan Hukum Pajak BAB 13: Sanksi Administrasi 269
bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak daerah. Pengenaan
sanksi administrasi berupa bunga sebesar dua persen sebulan
tercantum dalam surat ketetapan pajak daerah kurang bayar yang
diterbitkan oleh pejabat pajak. Sanksi administrasi berupa bunga
tersebut bersama dengan jumlah kekurangan pajak daerah yang
terutang harus dibayar lunas dalam jangka waktu yang ditentukan.
Kemudian, ketentuan pada Pasal13 ayat (5) UU KUPberisikan
pengenaan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% dari
jumlah Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan at as Barang Mewah yang tidak atau kurang dibayar. Saat
wajib pajak setelah jangka waktu lima tahun tersebut dipidana
karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak
pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan
negara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap. Sanksi administrasi berupa bunga sebesar
48% sebulan tercantum dalam surat ketetapan pajak kurang bayar
bersama dengan jumlah Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai
dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang tidak atau kurang
dibayar.
Sanksi administrasi berupa bunga sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 14 ayat (3) UU KUP diperuntukkan bagi jumlah
kekurangan pajak yang terutang dikenakan sanksi administrasi
berupa bunga sebesar dua persen sebulan. Sanksi administrasi
berupa bunga tersebut untuk jangka waktu paling lama 24 bulan,
terhitung sejak saat terutang pajak atau bagian tahun pajak atau
tahun pajak sampai dengan diterbitkan surat tagihan pajak. Surat
tagihan pajak yang diterbitkan, memuat jumlah kekurangan pajak
yang terutang ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga
sebesar dua persen sebulan dan wajib dibayar lunas dalam jangka
waktu yang ditentukan.
Substansi hukum mengenai pengenaan sanksi administrasi
berupa bunga yang terdapat pada Pasal 14 ayat (3) UU KUP juga
ditemukan pada Pasal 13 ayat (2) UU BPHTB, bahwa jumlah Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang tidak atau
kurang dibayar dalam surat tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar
dua persen sebulan. Sanksi administrasi berupa bunga tersebut
untuk jarigka waktu paling lama 24 bulan sejak saat terutangnya
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Pengenaan sanksi
administrasi berupa bunga sebesar dua persen sebulan, merupakan
penambahan jumlah utang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan yang wajib dibayar lunas dalam jangka waktu yang
ditentukan dalam surat tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan.
Demikian pula halnya dalam Pasal 10 ayat (2) UU PDRD
bahwa jumlah kekurangan pajak daerah yang terutang dalam surat
tagihan pajak daerah dikenakan sanksi administrasi berupa bunga
sebesar dua persen setiap bulan untuk paling lama lima belas bulan
sejak saat terutangnya pajak daerah. ]umlah kekurangan pajak
daerah yang terutang dalam surat tagihan pajak daerah apabila
pajak daerah dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar, atau
dari hasil penelitian surat pemberitahuan pajak daerah terdapat
kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan atau salah
hitung. Sanksi administrasi berupa bunga sebesar dua persen
tersebut, wajib dibayar lunas bersama dengan jumlah kekurangan
pajak daerah yang terutang dalam jangka waktu yang ditentukan
dalam surat tagihan pajak daerah termaksud.
Pajak daerah yang tercantum dalam surat ketetapan pajak
daerah yang tidak atau kurang dibayar setelah jatuh tempo
pembayaran dikenakan sanksi administrasi berupa sebesar dua
persen sebulan, dan penagihan melalui surat tagihan pajak daerah
270
PembaruanHukumPajak BAB 13: Sanksi Administrasi
271
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 aya t (3) UU PDRD.
Sekalipun dalam surat ketetapan pajak daerah memuat pajak
daerah yang wajib dibayar, tetapi sampai pada saat jatuh tempo
pembayaran ternyata wajib pajak tidak membayar lunas, akibat dari
kesengajaan atau kelalaiannya sehingga dikenakan sanksi
administrasi berupa bunga sebesar dua persen sebulan. Pajak
daerah yang tidak atau kurang dibayar bersama dengan sanksi
administrasi berupa bunga sebesar dua persen sebulan wajib
dibayar lunas dalam jangka waktu yang ditentukan dan penagihan-
nya berdasarkan surat tagihan pajak daerah.
Terhadap pengusaha kena pajak yang gagal berproduksi dan
telah diberikan pengembalian pajak masukan dikenakan sanksi
administrasi berupa bunga sebesar dua persen per bulan dari jumlah
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Sanksi administrasi berupa bunga sebesar dua persen per bulan,
dihitung dari tanggal penerbitan Surat Keputusan Pengembalian
Kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah sampai dengan terbitnya surat
tagihan pajak, dan bagian dari bulan dihitung penuh satu bulan.
Pengenaan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% dari
jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar berdasarkan PasallS
ayat (4) UU KUp, dikenakan kepada wajib pajak setelah jangka
waktu lima tahun telah lewat. Dalam hal, wajib pajak setelah jangka
waktu lima tahun tersebut dipidana, karena melakukan tindak
pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat
menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% tercantum dalam
surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan yang peruntukan
kepada wajib pajak penghasilan atau pengusaha kena pajak sebagai
wajib Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah.
Dikenakan sanksi admi nis trasi beru pa bunga sebesar dua
persen sebulan untuk seluruh masa, yang dihitung dari tanggal
jat uh te mpo sampai dengan tanggal pembayaran atau tanggal
di terbitkannya sur at tagihan pajak, dan bagian dari bulan dihitung
penuh sat u bulan berdas arkan Pasal19 ayat (1) UU KUP. Pengenaan
sanksi administrasi beru pa bunga dua persen ini, apabila Pajak
Penghasilan dan atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah yang masih harus dibayar menurut surat keteta-
pan pajak kurang bayar, surat ketetapan pajak kurang bayar
tambahan pada saat jatuh tempo pembayaran tidak atau kurang
dibayar. Begitu pula tambahan jumlah Pajak Penghasilan atau Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang
masih harus dibayar berdasarkan surat keputusan pembetulan,
surat keput usan keberatan, putusan banding atau putusan
peninjauan kembali pada saat jatuh tempo pembayaran tidak atau
kurang dibayar.
Kemampuan wajib Pajak Penghasilan atau pengusaha kena
pajak kadangkala terbatas untuk melunasi jumlah pajak yang
terutang pada waktu yang telah ditentukan, apalagi kalau wajib
Pajak Penghasilan atau pengusaha kena pajak berada dalam keadaan
yang memaksa (overmacht) sehingga kewajiban itu tidak dapat
dipenuhinya. Oleh karena itu, Undang-undang Pajak memberikan
pengecualian berupa diperbolehkan mengangsur atau menunda
pembayaran Pajak Penghasilan atau Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah dalam jangka waktu yang
disepakati antara wajib pajak dengan pejabat pajak. Terkait dengan
itu , menurut Pasal 19 ayat (2) UU KUp, wajib Pajak Penghasilan
atau pengusaha kena pajak yang diperbolehkan mengangsur atau
penunda pembayaran Pajak Penghasilan atau Pajak Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dikenakan sanksi
administrasi berupa bunga dua persen sebulan, dan bagian dari
bulan dihitung penuh satu bulan.
Ketentuan yang sama dengan di atas terdapat pula dalam UU
PDRD, yang berarti diperuntukkan untuk pajak daerah. Pasal 11
ayat (3) UU PDRD menegaskan, kepala daerah atas per mohonan
wajib pajak setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dapat
memberikan persetujuan kepada wajib pajak untuk mengangsur
atau menunda pembayaran pajak, dengan dikenakan bunga sebesar
dua persen sebulan. Ketentuan ini tidak mengatur mengenai kapan
berakhir jangka waktu pengenaan bunga sebesar dua persen sebulan
terhadap waji b pajak daerah yang diperbolehkan mengangsur atau
menunda pembayaran pajak daerah yang terutang karena tidak
ada batasan jangka waktu pengenaan bunga tersebut, berart i
berakhirnya pengenaan bunga sebesar dua persen sebulan pada
saat tidak lagi mengangsur atau menunda pembayaran pajak daerah
yang terutang. Selain itu, persyaratan yang harus dipenuhi wajib
pajak agar boleh mengangsur atau menunda pembayaran pajak
daerah harus berdasarkan keputusan kepala daerah.
Bukan hanya pelunasan pajak yang terutang boleh dilakukan
penundaan, tetapi termasuk kewajiban wajib pajak untuk menyam-
paikan surat pemberitahuan kepada Direktorat ]enderal Pajak di
tempat tinggal atau tempat kedudukannya. Dalam hal ini, wajib
pajak tersebut wajib mengaj ukan permohonan tertulis untuk
menunda penyampaian surat pemberitahuan. Permohona n itu
harus dilengkapi dengan pernyataan mengenai penghitungan
sementara pajak yang teru tang dalam jangka waktu satu tahun pajak
dan bukti pelunasan kekurangan pembayaran Pajak Penghasilan
atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan at as Barang
Mewah yang terutang.
]ika permohonan dikabu lkan berarti wajib Pajak Penghas ilan
atau pengusaha kena pajak diperbolehkan men unda penyampaian
surat pemberitahuan dan penghitungan sementara Pajak Peng-
hasilan atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
c. Sanksi Administrasi Berupa Denda
Selain sanksi administrasi berupa bunga, dikenal pula sanksi
administrasi berupa denda yang dapat dikenakan kepada wajib pajak
yang tidak menaati ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan. Pengenaan sanksi ini dilakukan oleh pejabat pajak
dalam rangka menegakkan hukum pajak. Sanksi administrasi
berupa denda tidak diterapkan untuk semua jenis pajak, hanya Pajak
Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, serta Pajak Bumi dan Bangunan. Sementara itu,
pajak yang tidak mengenal sanksi administrasi berupa denda adalah
273 BAB 13: Sanksi Administrasi
Barang Mewah yang terutang kurang dari jumlah Pajak Penghasilan
atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah yang sebenarnya terutang. Dalam hal ini, berdasarkan Pasal
19 ayat (3) UU KUPatas kekurangan pembayaran Pajak Penghasilan
atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah yang terutang dikenakan sanksi administrasi. Sanksi
administrasi yang dimaksud adalah berupa bunga sebesar dua
persen sebulan yang dihitung dari saat berakhirnya kewajiban
menyampaikan surat pemberitahuan sampai dengan tanggal
dibayarnya kekurangan tersebut, dan bagian dari bulan dihitung
penuh satu bulan. Saat berakhirnya penyampaian surat pem-
beritahuan adalah tergantung dari kebijakan pejabat pajak
dengan tidak bertentangan hukum pajak.
UU PBBtidak mengatur mengenai sanksi administrasi berupa
bunga yang boleh dikenakan kepada wajib Pajak Bumi dan
Bangunan. Dalam arti, sanksi administrasi berupa bunga tidak
dikenal dalam pelaksanaan Pajak Bumi dan Bangunan. Dengan
dernikian, wajib Pajak Bumi dan Bangunan tidak akan dikenakan
sanksi administrasi berupa bunga, sebagaimana halnya dengan
wajib pajak yang tunduk pada UU KUp, UU BPHTB, dan UU PDRD.
Pembaruan Hukum Pajak 272
274
Pembaruan HukumPajak BAB 13: Sanksi Administrasi
275
Bea Perolehan Hak at as Tanah dan Bangunan serta pajak daerah.
Lain perkataan bahwa UU BPHTB dan UU PDRD tidak mengatur
sanksi administrasi berupa denda dan karena itu wajib pajak yang
melakukan pelanggaran hukum terhadap pelaksanaan Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan serta pajak daerah tidak
dikenakan sanksi administrasi berupa denda, melainkan sanksi
administrasi berupa bunga atau kenaikan.
Pengenaan sanksi administrasi berupa denda terhadap wajib
pajak atau pengusaha kena pajak yang terikat pada Pajak
Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah diatur dalam Pasal 7 ayat (1) UU KUP. Sanksi
administrasi berupa denda dikenakan karena tidak menyampaikan
surat pemberitahuan dalam jangka waktu yang ditentukan,
termasuk jangka waktu perpanjangan penyampaian surat pem-
beritahuan, untuk:
1. surat pemberitahuan masa Pajak Pertambahan Nilai sebesar
Rp500.000,OO;
2. surat pemberitahuan masa lainnya sebesar RplOO.OOO,OO;
3. surat pemberitahuan tahunan Pajak Penghasilan wajib pajak
badan, sebesar RplOOO.OOO,OO;
4. surat pemberitahuan tahunan Pajak Penghasilan wajib pajak
orang pribadi, sebesar RplOO.OOO,OO.
Sanksi administrasi berupa denda karena tidak menyampaikan
surat pemberitahuan dalam jangka waktu yang ditentukan, tidak
selalu harus dikenakan kepada wajib pajak, baik wajib pajak dari
Pajak Penghasilan, Pajak Pert ambahan Nilai Barang dan ]asa,
serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Hal ini merupakan
pengecualian dari ~ u a t u keadaan yang tidak dapat dihindarkan
dan hukum pajak harus menganti sipasi keadaan tersebut. Adapun
keadaan yang harus diantisipasi adalah sebagai berikut.
1. Wajib pajak orang pribadi telah meninggal dunia.
2. Wajib pajak orang pribadi sudah tidak melakukan kegiatan
usaha atau pekerjaan bebas.
3. Wajib pajak orang pribadi bukan warga negar. Indonesia yang
tidak tinggal lagi di Indonesia.
4. Bentuk usaha tetap tidak melakukan kegiatan lagi di Indonesia
karena pailit atau telah dibubarkan.
5. Wajib pajak tidak melakukan kegiatan usaha lagi, walaupun
belum dinyatakan bubar sesuai dengan ketentuan yang ber-
laku.
6. Bendahara tidak melakukan pembayaran lagi karena telah
diberhentikan dari jabatan itu.
7. Wajib pajak terkena bencana, yang pengaturannya merupa-
kan kewenangan Menteri Keuangan.
8. Wajib pajak lain yang menurut Menteri Keuangan akan diatur
dengan atau berdasarkan peraturannya.
Pengecualian untuk tidak dikenakan sanksi administrasi
berupa denda tersebut di atas, pada hakikatnya merupakan
perwujudan dari "keadilan" sebagai salah satu fungsi hukum pajak.
Pencerminan keadilan dalam hukum pajak menunjukkan responsif
terhadap perkembangan di masa kini dan mendatang. Dengan
dernikian, keberadaan pengecualian tersebut membuktikan
bahwa hukum pajak mengalami pembaruan untuk mengantisipasi
perkembangan ke depan agar tetap fleksibel sifatnya.
Kemudian sanksi administrasi berupa denda yang terdapat
dalam PasallO ayat (3) dan ayat (4) UU PBBhanya dperuntukkan
bagi wajib pajak yang terikat pada Pajak Bumi dan Bangunan. Sanksi
administrasi berupa denda tercantum dalam surat ket et apan paj ak
yang diterbit kan oleh pejabat pajak. Adapun sanksi admini st rasi
ber upa denda sebagaimana dimaksud pada Pasal 10 ayat (3) UU
PBB, sebesar 25% dihitung dari pokok pajak (jumlah Pajak Bumi
dan Bangunan yang ter utang dalam surat ketetapan pajak) bila surat
pemberitahuan objek pajak tidak disampaikan dan setelah di tegur
secara tertulis tidak disampaikan sebagaimana ditentukan dalam
surat teguran tersebut. Kernudiansanksi administrasi berupa denda
sebagaimana dimaksud pada Pasal 10 ayat (4) UU PBB, sebesar
25% dari selisih Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang berdasar-
kan hasil pemeriksaan atau keterangan lain ternyata jumlah Pajak
Bumi dan Bangunan yang terutang lebih besar dari jumlah Pajak
Bumi dan Bangunan yang dihitung berdasarkan surat pern-
beritahuan objek pajak yang disampaikan oleh wajib pajak.
Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang berdasarkan surat
pemberitahuan pajak terutang harus dilunasi selambat-lambatnya
enam bulan sejak tanggal diterima surat pemberitahuan pajak
terutang oleh wajib pajak, sedangkan Pajak Bumi dan Bangunan
yang terutang berdasarkan surat ketetapan pajak harus dibayar
lunas selambat-lambatnya satu bulan sejak tanggal diterima surat
ketetapan pajak oleh wajib pajak. Ketika jangka waktu tersebut
tidak dipenuhi oleh wajib pajak, berdasarkan Pasalll ayat (3) UU
PBB dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar dua
persen sebulan, dihitung dari saat jatuh tempa sampai dengan hari
pembayaran untuk jangka waktu paling lama 24 bulan. Sanksi
administrasi ini dicantumkan dalam surat tagihan pajak yang
diterbitkan oleh pejabat pajak.
Sanksi administrasi berupa denda tidak dikenal dalam UU
BPHTB, berarti bahwa Wajib Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan tidak akan dikenakan sanksi admi ni st rasi berupa denda
oleh pejabat pajak. Demikian pula halnya terhadap wajib pajak
daerah karena UU PDRD tidak mengatur mengenai sa nksi
administrasi berupa denda. Berbeda halnya terhadap wajib Pajak
D. Sanksi Administrasi Berupa Kenaikan
Penghasi lan dan pengusaha kena pajak dapat dikeriakan sanksi
administrasi berupa denda.
277
SAS 13: Sanksi Administrasi
Selain sanksi administras i beru pa bunga dan denda, juga
dikenalsanksi administrasi berupa kenaikan yang dapat dikenakan
kepada wajib pajak oleh pejabat pajak dalam rangka menegakkan
hukum pajak. Pengenaan sanksi admini st rasi berupa kenaikan
hanya tertuju kepada wajib pajak yang tidak membayar lunas jumlah
pajak yang terutang. Pada hakikatnya, sanksi administrasi berupa
kenaikan bertujuan agar wajib pajak t idak beru paya untuk
melakukan penghindaran pembayaran paj ak kar en a dapat
menimbulkan kerugian pada pendapat an negara.
Pasal 13 ayat 3 UU KUP memuat sanksi administrasi berupa
kenaikan yang dikenakan kepada wajib pajak yang tidak membayar
lunas jumlah Pajak Penghasilan atau Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan at as Barang Mewah yang terutang dalam surat
ketetapan pajak kurang bayar, sebesar:
a. lima puluh persen dari pajak penghasil an yang tidak atau
kurang dibayar dalam satu tahun pajak;
b. seratus persen dari pajak penghasilan yang tidak atau kurang
dipotong, tidak atau kurang dipungut, ti dak atau kurang
disetor, dan dipotong atau dipungut , tetapi tidak atau kurang
disetorkan:
c. seratus persen dari Paj ak Pertambahan Nilai da n Pajak
Penjual an atas Barang Mewah yang tidak ata u kurang dibayar.
.
Bes arnya sanksi administrasi berupa kenaikan men urut
Penjelasan ketentuan Pasal 13 ayat (3) UU KUp, berbeda-beda'
menurut jenis pajaknya. Untuk jenis Pajak Penghasilan yang dibayar
sendiri wajib pajak, sanksi kenaikan sebesar lima puluh per sen,
PembaruanHukumPajak 276
278
Pembaruan HukumPajak
SAS 13: Sanksi Administrasi
279
untuk jenis Pajak Penghasi lan yang dipotong oleh orang atau
badan lain sanksi kenaikan sebesar seratus persen. Sementara itu,
untuk jenis Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah sanksi kenaikan sebesar seratus persen. Ketentuan
ini memberikan klasifikasi terhadap jenis pajak yang dikenakan
sanksi administrasi berupa kenaikan. Hal ini dimaksudkan agar
ada kepastian hukurn, baik terhadap wajib pajak maupun pejabat
pajak yang menjatuhkan sanksi tersebut.
Sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar seratus persen
dikenakan terhadap jumlah pajak yang terutang, baik Pajak
Penghasilan maupun Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan
at as Barang Mewah dalam surat ketetapan pajak kurang bayar
tambahan berdasarkan Pasal 15 ayat (2) UU KUP. Apabila
ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap
yang mengakibatkan penambahan utang pajak yang terutang.
Ketentuan yang sama terdapat pula dalam Pasal 12 ayat (2) UU
BPHTB. Sanksi administrasi berupa kenaikan dicantumkan dalam
surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
kurang bayar tambahan karena ditemukan data baru dan atau data
yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan
jumlah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan setelah
diterbitkan surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan. Kenaikan sebagai sanksi administrasi sebesar seratus
persen dari jumlah kekurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan yang terutang dikenakan kepada wajib Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan. Akan tetapi, bila wajib Bea Perolehan
Hak at as Tanah dan Bangunan melaporkan sendiri mengenai
data baru dan atau data yang semula belum terungkap yang
menyebabkan penambahan jumlah Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan yang terutang, sebelum dilakukan tindakan
perneriksaan, tidak dikenakan sanksi administrasi berupa kenai -
kan.
Sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar seratus persen
dari jumlah kekurangan pajak daerah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 9 ayat (3) UU PDRD, tatkala jumlah kekurangan pajak daerah
yang terutang dalam surat ketetapan pajak daerah kurang bayar
tarnbahan. Pelunasan kekurangan pajak daerah yang terutang
bersama dengan sanksi administrasi sebesar seratus persen harus
dalam jangka waktu yang ditentukan.
Selain itu, pengenaan secara bersama sanksi administrasi
berupa kenaikan dengan sanksi administrasi berupa bunga terdapat
dalam Pasal9 ayat (5) UU PDRD.Jumlah kekurangan pajakdaerah
yang terutang dalam surat ketetapan pajak daerah kurang bayar
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a angka 3, dikenakan
sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 25% dari pokok pajak
daerah ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar dua
persen sebulan. Pengenaan kedua sanksi administrasi tersebut
dihitung dari pajak daerah yang kurang atau terlambat dibayar
untuk jangka waktu paling lama 24 bulan dihitung sejak saat
terutangnya pajak daerah.
Sanksi administrasi berupa kenaikan tidak dikenal dalam UU
PBB, berarti wajib Pajak Bumi dan Bangunan tidak dikenakan sanksi
administrasi berupa kenaikan. Oleh karena itu, pejabat pajak tidak
berwenang mengenakan sanksi administrasi berupa kenaikan
kepada wajib Pajak Bumi dan Bangunan. Dengan dernikian, wajib
Pajak Bumi dan Bangunan terhindar dari pengenaan sanksi
administrasi berupa kenaikan.
281
Pajak Ganda
A. Pengertian
Pajak ganda merupakan puIa objek kajian yang tidak berbeda
dengan objek kajian Iainnya daIam hukum pajak. Pajak ganda seIaIu
dipersoaIkan bagi negara-negara yang Iebih mengutamakan fungsi
pemungutan pajaknya bersifat budgetair karena hanya semata-rnata
untuk mengisi kas negara. Anggapan yang mengutamakan fungsi
budegtair tidak salah, meIainkan perIu dipertimbangkan bahwa
fungsi mengatur (regulerent) yang boIeh didahuIukan agar kesejah-
teraan dapat terwujud daripada memiskinkan rakyat. Bila haI ini
dilakukan oleh tiap negara, kemungkinannya tidak ada pajak ganda.
Pajak ganda adalah pajak yang dipungut Iebih dari satu kaIi
atas objek pajak yang sama dengan wajib pajak yang sama pula.
Rochmat Soemitro (1988;74) mengemukakan sering terjadi bahwa
untuk objek yang sama terjadi pungutan ganda, artinya untuk satu
objek pajak yang sama dikenakan pajak yang sama atau yang
jenisnya sama dua kaIi atau Iebih pada wajib pajak yang sama.
Pemungutan pajak boIeh diIakukan oleh dua daerah atau lebih
dalam suatu negara, begitu puIa pajak yang dipungut oIeh satu
negara atau lebih dari satu negara berdasarkan pengaturan negara
yang bersangkutan. Pajak ganda pada prinsipnya boleh terjadi
dalam bentuk Pajak Ganda Nasional dan Pajak Ganda InternasionaI.
282 Pembaruan Hukum Pajak SAS 14: Pajak Ganda
283
B. Pajak Ganda Nasional
Kedaulatan yang ada pada negara dapat diwujudkan dalam
suatu bentuk yang mengikat pada rakyat maupun penduduk dalam
negara yang bersangkutan. Sebagai contoh, Indonesia adalah negara
yang berdaulat berdasarkan UUD 1945, berarti kedaulatan yang
dimiliki Indonesia harus berdasarkan UUD1945 karena kalau tidak
demikian, berarti suatu penyimpangan terhadap pelaksanaan
kedaulatan itu sendiri. Pasal 23A UUD 1945 menegaskan bahwa
pajak dan pungutan yang bersifat memaksa untuk keperluan negara
diatur dengan undang-undang. Dalam arti, Indonesia memiliki
kedaulatan untuk mengatur pajak dan pungutan yang bersifat
memaksa dalam bentuk undang-undang. Pembentukan undang-
undang sebagaimana dimaksud pada Pasal23A UUD 1945 diharap-
kan pengenaan pajak yang bersifat ganda dapat dihindari, karena
secara tegas melanggar hak asasi wajib pajak dalam berperanserta
membiayai pelaksanaan pemerintahan negara.
Pajak Ganda Nasional terjadi karena tidak ada ketidaktelitian
bagi pembuat undang-undang, pada saat pembahasan terhadap
rancangan undang-undang di bidang perpajakan sehingga
menjadi undang-undang yang mengikat wajib pajak maupun pejabat
pajak. Pajak Ganda Nasional adalah pajak yang dikenakan oleh
negara atas objek pajak yang sama dengan wajib pajak yang sama
pula. Pemungutan pajak yang dilakukan negara (pajak negara)
dengan daerah dalam negara (pajak daerah) atas objek pajak yang
sama dengan wajib pajak yang sama merupakan pula Pajak Ganda
Nasional. Pengenaan Pajak Ganda Nasional sangat memberatkan
wajib pajak, sekalipun telah ditegaskan bahwa wajib pajak memiliki
kewajiban kenegaraan dan peran sertanya da lam membiayai
pelaksanaan pemerintahan negara. Hal ini perlu dipertimbangkan
untuk mencegah agar tidak ada pengenaan Pajak Ganda Nasional
ketika negara hanya menggantungkan surnber pembiayaannya
berasal dari sektor perpajakan.
Bagi negara yang mengenakan pajak kepada warganya maupun
penduduk dalam negara dengan pajak negara, berkewajiban
meniadakan pengenaan pajak daerah yang objek pajak sama dengan
wajib pajak yang sama pula. Itulah sebabnya dalam hukum pajak
diatur mengenai lapangan pajak negara dengan lapangan pajak
daerah, baik pajak daerah provinsi maupun pajak daerah
kabupaten/kota. Hakikatnya adalah agar Pajak Ganda Nasional
tidak terjadi dalam pengaturan dan pengenaannya dalam undang-
undang, berarti kalau ada Pajak Ganda Nasional, penyebabnya
adalah pengaturan dan pengenaannya yang ditetapkan dengan
undang-undang.
c. Pencegahan Pajak Ganda Nasional
Pajak Ganda Nasional sangat memengaruhi wajib pajak untuk
tidak taat karena dibebani kewajiban yang bersifat ganda pula, hal
ini wajib dicegah sebelum memperoleh prates atau sanggahan dari
wajib pajak yang dirugikan. Pencegahan Pajak Ganda Nasional,
tergantung dari kemauan politik pembuat undang-undang untuk
melakukan perubahan dan bahkan kalau perlu mengganti Undang-
undang Pajak yang melahirkan Pajak Ganda Nasional. Misalnya,
pengenaan pajak terhadap objek pajak dan wajib pajak harus
ditetapkan secara tegas dan jelas sehingga tidak ada penafsiran lain
yang boleh digunakan selain penafsiran autentik.
Hakikat yang terkandung pada pencegahan Pajak Ganda
Nasional adalah untuk memberikan keadilan, kemanfaatan, dan
kepastian hukum bagi pihak-pihak yang terkait dalam upaya untuk
menghindari Pajak Ganda Nasional. Sebenarnya Pajak Ganda
Nasional dapat dicegah kalau ada pemahaman mengenai kewajiban,
hak, dan wewenang di pihak lain, serta di lain pihak keadilan,
kemanfaatan, dan kepastian hukum bukan hanya "kalirnat yang
dapat dibaca" tetapi harus diterapkan dalam pemungutan pajak.
284
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 14: Pajak Ganda 285
Dengan demikian, Pajak Ganda Nasional tidak akan ada selama
Undang-undang Pajak yang dibuat berdasarkan kemauan politik
pembuat undang-undang untuk mensejahterakan rakyat pada
umurnnya, dan khususnya terhadap wajib pajak.
D. Pajak Ganda Internasional
Pajak Ganda 1nternasional merupakan bagian tak terpisahkan
dengan Pajak Ganda Nasional karena kedua-duanya sebagai satu
kesatuan tak terpisahkan dalam kajian hukum pajak. Pajak Ganda
Internasional menurut Rochmat Soemitro (1988;75) terjadi kalau
dua negara, masing-masing mengenakan pajak yang sama, atau
yang sejenisnya sarna, pada saat yang sama atas objek yang sama
pada wajib pajak yang sama, atau yang dipikul oleh wajib pajak
yang sama. Begitu pula halnya pendapat Wirawan B. Ilyas (2001;85)
bahwa Pajak Ganda Internasional umumnya terjadi karena pada
. dasarnya tidak ada Hukum 1nternasional yang mengatur hal
tersebut sehingga terjadi bentrokan hukum antar dua negara atau
lebih. Oleh karena itu, Erly Suandy (2000; 153) mengatakan Pajak
Ganda Internasional adalah pajak yang dikenakan lebih dari satu
kali terhadap objek yang sama oleh lebih dari satu negara, dengan
kata lain Pajak Ganda Internasional timbul karena; a) ada lebih
dari satu negara yang memungut pajak, dan b) dikenakan terhadap
objek pajak yang sama.
Berdasarkan pengertian Pajak Ganda Internasional, ]aja Zakaria
(2005;8) mengatakan dari urai an-uraian di atas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa dalam pengerti an Pajak Ganda Internasional
terdapat unsur-unsur, di antaranya;
1. terdapat dua negara (atau lebih) yang mengenakan pajak;
2. pajak tersebut dikenakan terhadap subjek pajak yang sama;
3. objek pajak yang dikenakan adalah sama;
4. adanya kesamaan mengenai jenis pajak yang dikenakan;
5. pajak tersebut dikenakan dalam periode (masa) yang identik.
Sementara itu, Rochmat Soemitro (1988;76) mengatakan Pajak
Ganda Int ernasional merupakan masalah yang menjadi perhatian
banyak negara di dunia karena perd agangan internasi onal dan
peralihan teknologi makin maju sehingga wajib pajak di satu negara
memperoleh juga penghasilan di negara lain. Bila terj adi Pajak
Ganda, maka pada lazimnya negara tempat sumber penghasilan
mempunyai hak utama untuk mengenakan hasil yang keluar dari
sumber negaranya (source principle). Maka, negara tempat tinggal
harus memberi prioritas kepada negara sumber dan pajak di tempat
tinggalnya pada waktu penetapan, harus dikurangi dengan kredit
dari pajak yang dikenakan di negara domisili harus menjadi
perhatian dari bagian penagihan dan harus diminta tanda-tanda
pembayaran pajak di negara sumber tersebut.
Terjadinya Pajak Ganda Internasional karena tidak ada suatu
hukum yang berlaku secara umum bagi negara untuk digunakan
sebagai dasar pemungutan pajak. Hal ini disebabkan bahwa tiap
negara memiliki kedaulatan tersendiri untuk mengatur dan
memungut pajak kepada wajib pajak, walaupun berada di luar
negaranya. Agar tidak terjadi Pajak Ganda Internasional merupakan
kewajiban hukum bagi negara-negara untuk melakukan upaya
pencegahan Pajak Ganda Internasional. Oleh karena itu, kewajiban
negara-n egara untuk meniadakan PajakGanda Internasional dengan
menggunakan saluran hukum yang tersedia.
E. Pengenaan Pajak Ganda Internasional
Rachmanto Surahmat (2000;21) mengatakan pengenaan Pajak
Ganda secara Internasional pada dasarnya merupakan akibat dari
perbedaan prinsip-prinsip perpajakan Internasional yang dianut
oleh setiap negara. Perbedaan prinsip tersebut mengakibatkan
2. Konflik karena Perbedaan Definisi Penduduk
1. Konflik antar Asas Domisili dengan Asas
Sumber
Penyebab terjadinya pengenaan pajak berganda biasanya ber-
temunya asas domisili dengan asas sumber. Negara domisili menge-
nakan pajak at as seluruh penghasilan yang diperoleh penduduknya,
sedangkan negara sumber mengenakan pajak atas penghasilan yang
berasal dari negara tersebut. Dalam hal ini terjadi konflik antara
world-wide income principle dan konsep kewenangan at as wilayah.
287
SAS 14: Pajak Ganda
Sebagai contoh, seorang warga negara Amerika Serikat bekerja di
perusahaan minyak yang melakukan kegiatan eksplorasi di
Indonesia, Untuk itu harus tinggal di Indonesia. Berdasarkan
definisi "subjek pajak dalam negeri" orang Amerika Serikat
terisebut dianggap sebagai "penduduk" Indonesia, Oleh karena
itu, ia dikenakan pajak atas seluruh penghasilannya dari Indonesia
maupun dari luar negeri.
Dari sudut pandang Undang-undang Pajak di Amerika Serikat,
orang tersebut tetap dianggap sebagai penduduk Amerika Serikat,
walaupun tidak tinggal di Amerika Serikat. Amerika Serikat
mengenakan pajak atas seluruh penghasilannya. ]adi, jelas bahwa
telah terjadi pengenaan pajak berganda karena orang yang sama
dianggap sebagai penduduk di dua negara. Konflik mengenai
penduduk ganda ini (dual residence) biasanya terjadi at as orang
pribadi. Tidak demikian halnya dengan badan hukum, karena
biasanya pengurus suatu badan (hukum) berada di negara di mana
badan tersebut didirikan.
3. Perbedaan Definisi tentang Sumber Penghasilan
Sebab ketiga yang dapat menyebabkan pengenaan pajak
berganda adalah bila dua negara atau lebih memberlakukan suatu
jenis penghasilan sebagai penghasilan yang bersumber dari
wilayahnya. Hal ini berakibat penghasilan yang sama dikenakan
pajak di dua negara. Misalnya, suatu badan yang merupakan
"penduduk" negara A, mempunyai badan usaha tetap (BUT) di
negara B, dan mengembangkan suatu teknologi yang kemudian
diberikan kepada BUT lainnya yang berada di negara C. Negara C
menganggap bahwa ia berhak mengenakan pajak at as imbalan
untuk teknologi tersebut sebab sumbernya adalah di mana
teknologi tersebut dimanfaatkan. Sebaliknya, negara B akan
mengenakan imbalan tersebut sebagai laba usaha.
Pembaruan Hukum Pajak
Seseorang pribadi atau badan pada saat yang bersamaan dapat
dianggap sebagai penduduk dari dua negara. Hal ini boleh terjadi
karena definisi "penduduk" kedua negara tersebut berbeda.
Keadaan ini memperburuk pengenaan Pajak Berganda sebab pajak
"penduduk" tersebut ditetapkan dua kali.
Konflik ini tampak lebih nyata bila salah satu negara menganut
asas kewarganegaraan sebagai kriteria kedua dalam menentukan
apakah seseorang merupakan penduduk negara tersebut. Kebanya-
kan negara, kecuali Amerika Serikat, tidak menganut asas kewarga-
negaraan karena hal itu menimbulkan pengenaan pajak berganda.
konflik yurisdiksi antara satu negara dan negara lainnya. Walaupun
setiap negara mempunyai metode pencegahan pajak ganda secara
unilateral, hal ini tidak sepenuhnya menjamin tidak terjadinya
pengcnaan Pajak Berganda.
Konflikyurisdiksi ini menurut Rachmanto Surahmat (2000;23)
berasal dari kenyataan bahwa setiap negara bebas menentukan
sendiri yurisdiksi pajaknya di luar wilayahnya. Biasanya pengenaan
pajak berganda disebabkan oleh tiga jenis konflik yurisdiksi, yaitu
sebagai berikut.
286
288
Pembaruan HukumPaj ak
SAS 14: Pajak Ganda 289
Contoh lainnya, pada Pasal 26 ayat (1) UU PPh yang mengatur
bahwa apabila wajib pajak dalam negeri membayar imbalan kepada
"pe nduduk luar negeri" seh ubungan dengan jasa yang dilakukan-
nya, imbal an tersebut harus dipotong PPh sebesar dua puluh
persen. Cakupan ketentuan tersebut sangat luas karena walaupun
dil akukan di luar negeri, jasa tersebut tetap dia nggap se bagai
penghasilan yang sumbernya ada di Indonesia berdasarkan UU PPh.
Sebaliknya, menurut negara di mana "penduduk luar nege ri" yang
memberikan jasa tersebut berada, sumber penghas ilan it u berada
di negaranya. Dalam hal ini, imbalan atas jasa tersebut dikenakan
pajak di dua negara.
F. Pencegahan Pajak Ganda Internasional
Telah dikemukakan bahwa Pajak Ganda Internasional dapat
dicegah dengan menggunakan saluran hukum yang telah dit entu-
kan. Pencegahan Pajak Ganda Internasional tidak boleh menge-
sampingkan asas -asas hukum pengenaan pajak, karena mengan-
dung prinsip yang sangat mendal am dalam pengenaan pajak yang
dilakukan tiap negara.
Pencegahan Pajak Ganda Internasional menurut Rochmat
Soemitro (1988; 75-7 6) dapat dilaku kan dengan menggunakan dua
cara, yakni "unilateral" dan "bilateral". Cara unilateral ialah cara
yang dil akukan sendiri oleh negara yang bersangku tan dengan
memasukkan cara pencegahan pajak ganda itu dalam Undang-
undang Pajak nasionalnya sendiri , berdasarkan prinsip-prinsip
pencegahan Pajak Ganda Internasional , tanpa bantuan negara lain
yang bersangkutan. Cara bilateral ialah mencegah Pajak Ganda
Internasional dengan mengadakan "Tax treaty for the avoidance of
double taxation". Untuk keperluan ini dua negara yang berkepen-
tingan merencanakan draft pencegahan pajak ganda, yang jika
disetujui ol eh kedua belah pihak di paraf draftnya oleh ketua
delegasi, yang kemudian olch masing-masing delegasi dikirim ke
negaranya unt uk diratifikasi dan dipertukarkan dcngan negara pihak
lain sehingga perjanjian it u me ngikat seluruh rakyat negara itu.
Jika antara dua negara sudah ada perjanjian internasional tcntang
pencegahan pajak ganda, maka peraturan yang telah di setujui oleh
kedua negara yang bers angkut an, dit erapkan (bilateral) , sedangkan
ketentuan unilateral yang terd apat dal an Und ang-undang Pajak
masing-masing (bila ada) tidak diterapkan.
Pencegahan Pajak Ganda Internasional boleh diupayakan secara
sepihak boleh pula diupayakan dengan dua pihak atau lebih. Upaya
secara sepihak tidak melibatkan pihak lain dilakukan oleh negara
yang bersangkutan dengan memuat ketentuan-ketentuan yang
mencegah pajak ganda tersebut. Karena hal ini merupakan per-
wujudan kedaulatan negara terhadap ketentuan-ketentuan hukum
yang diberlakukan terhadap wajib pajak dalam negaranya sendiri.
Upaya dengan dua pihak atau lebih ditetapkan dalam suatu bentuk
perjanjian yang diadakan untuk mencegah pengenaan Pajak Ganda
Internasional. Perjanjian itu dapat bersifat bilateral maupun bersifat
multilateral, tergantung kepentingan negara-negara yang meng-
hendaki pencegahan pengenaan Pajak Ganda Internasional itu.
Perjanjinan yang bersifat bilateral adalah perjanjian yang diadakan
hanya dua negara yang membicarakan upaya-upaya pencegahan
Pajak Ganda Internasional yang melibatkan warganya rnasing-
masing. Perjanjian yang bersifat multilateral adalah perjanjian yang
diadakan lebih dari dua negara yang membicarakan upaya-upaya
pencegahan Pajak Ganda Internasional yang melibatkan kepen-
tingan warganya terhadap negara lain sebagai peserta perjanjian
termaksud.
Upaya-upaya pencegahan pengenaan Pajak Ganda Inter-
nasional secara unilateral dalam Undang-undang Pajak Nasional,
tidak hanya ada dalam ket entuan UU PPh, tetapi juga terdapat
dalam ketentuan UU PPN. Ketentuan UU PPh yang memuat
290 Pembaruan Hukum Pajak 291
keterituan pencegahan Pajak Ganda Imernasional terdapat pada
Pasal24 UU PPh. Sementara itu, ketentuan UU PPN yang memuat
k e t ~ n t u a n pencegahan Pajak Ganda Internasional terdapat pada
Pasal9 UU PPN. Kedua ketentuan tersebut sangat terkait dengan
kredit pajak yang boleh dikompensasikan dengan utang pajak yang
dimiliki oleh wajib pajak sebagai akibat dari penghasilan yang
diterima atau melakukan kegiatan berupa Penyerahan Barang Kena
Pajak atau Penyerahan ]asa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean
dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya.
Meskipun dernikian, cara unilateral masih memiliki kebaikan
yang banyak dibandingkan kelemahan yang dikandungnya. Hal ini
ditegaskan oleh ]aja Zakaria (2005;10) bahwa kebaikan
(keuntungan) dari cara penghindaran pajak ganda secara unilateral
adalah pembuatan ketentuannya yang relatif lebih mudah karena
tidak perlu melibatkan atau tergantung kepada negara lain. Di
samping itu, penerapannya pun mudah karena sepenuhnya ber-
dasarkan ketentuan-ketentuan Undang-undang Nasional. Kerugian-
nya adalah terdapat aspek-aspek Pajak Ganda Internasional yang
tidak dapat dipecahkan secara sepihak (unilateral). Misalnya, pajak
ganda yang timbul sebagai akibat adanya kependudukan yang
rangkap (dual residence) tidak dapat dipecahkan secara unilateral
karena menyangkut kepentingan dan sistem serta hukum pajak
negara lain. Di samping itu, ketentuan penghindaran pajak ganda
unilateral umnumnya hanya mengatur penghindaran pajak untuk
wajib pajak dalam negeri (resident taxpayer) tidak mengatur
penghindaran pajak untuk wajib pajak luar negeri (non-resident
taxpayer).
Pengampunan Pajak
A. Pendahuluan
Dalam negara Indonesia yang berdasarkan UUD 1945,
Presiden merupakan satu-satunya yang berwenang memberikan
pengampunan atas hukuman yang dikenakan atau dijatuhkan oleh
badan peradilan kepada seseorang atau lebih karena melakukan
perbuatan melanggar hukum. Pemberian pengampunan oleh
Presiden disebut "grasi" sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat
(1) UUD 1945 yang melibatkan Mahkamah Agung.
Hal yang sama juga djumpai dalam hukum pajak, adanya
pengampunan pajak yang boleh dil aku kan sepanjang tidak
bertentangan dengan hakikat yang dikandung Pasal23A UUD 1945.
Pengampunan pajak boleh saja dilakukan, tetapi dengan syarat-
syarat bahwa harus diatur dengan undang-undang, yang berarti
melibatkan dua pihak antara rakyat yang diwakili Dewan Perwakilan
Rakyat dengan Presiden. Sebaliknya, yang selama ini pernah terjadi
adalah hanya dilakukan oleh satu pihak, yakni Presiden tanpa
melibatkan Dewan Perwakilan Rakyat sebagai wakil rakyat,
sehingga tidak ditetapkan dalam bentuk undang-undang.
Pada tahun 1984 Presiden memberi pengampunan pajak
terhadap wajib pajak yang memiliki utang pajak. Pengampunan
292 Pembaruan Hukum Pajak
BAB 15: Pengampunan Pajak 293
pajak tersebut ditetapkan dalam bentuk "Keputusan Presiden
Nomor 26 Tahun 1984 tentang Pengampunan Pajak". Akan tetapi,
tidak lama kemudian dilakukan perubahan terhadap Keputusan
Presiden tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 72
Tahun 1984 tentang Perubahan Keputusan Presiden Nomor 26
Tahun 1984 tentang Pengampunan Pajak (KEPRES). Perubahan
ditujukan pada jangka waktu pengampunan pajak dari selambat-
lambatnya 31 Desember 1984 menjadi selambat-lambatnya 30]uni
1985.
Setiap orang pribadi atau badan dengan nama dan dalam
bentuk apa pun, baik yang telah menjadi wajib pajak maupun belum
terdaftar menjadi wajib pajak boleh memperoleh pengampunan
pajak. Pengampunan pajak ditujukan terhadap pajak yang belum
pernah atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut
berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan.]enis pajak
yang memperoleh pengampunan pajak sebagaimana ditetapkan
secara limitatif dalam Pasal 1 ayat (2) Kepres tersebut, yaitu:
1. pajak pendapatan atas pendapatan yang diperoleh dalam tahun
pajak 1983 dan sebelumnya;
2. pajak kekayaan at as kekayaan yang dimiliki pada tanggal 1
]anuari 1984 dan sebelumnya;
3. pajak perseroan atas laba yang diperoleh dalam tahun pajak
1983 dan sebelumnya;
4. pajak atas bunga, dividen dan royalti yang terutang atas bunga,
dividen dan royalty yang dibayarkan atau disediakan untuk
dibayarkan sampai dengan tanggal 31 Desember 1983;
5. MPO wapu yang terutang dalamn tahun 1983 dan sebelum-
nya;
6. pajak pendapatan buruh (PPd, 17 a) yang terutang dalam
tahun pajak 1983 dan sebelumnya;
7. pajak penjualan yang terutang dalam tahun 1983 dan sebe-
lumnya.
Pengampunan pajak yang diadakan pada tahun 1984 agar wajib
pajak dengan mudah untuk melaporkan diri pada pejabat pajak
untuk didata ulang dalam rangka memberlakukan Undang-undang
Pajak yang baru pada saat itu. Termasuk dalam arti Undang-undang
Pajak yang baru adalah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, dan
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan
Nilai Barang dan ]asa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Ketiga Undang-undang Pajak ini diberlakukan pad a tanggal 1
]anuari 1984.
B. Syarat-syarat Pengampunan Pajak
Untuk memperoleh pengampunan pajak, setiap wajib pajak
harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. ]ika syarat-
syarat tidak terpenuhi, pengampunan pajak dengan sendirinya
gugur. Mengenai syarat-syarat pengampunan pajak sebagaimana
diatur dalam Pasa12 ayat 0) Kepres, adalah :
1. mendaftarkan diri pada Kantor Inspeksi Pajak dalam wilayah
wajib pajak bertempat tinggal atau berkedudukan, bagi yang
belum mempunyai nomor pokok wajib pajak;
2. menyampaikan pernyataan tertulis mengenai jenis pajak clan
tahun pajak yang dimintakan pengampunan;
3. menyampaikan daftar kekayaan per I ]anuari 1984 yang bagi
wajib pajak orang pribadi yag tidak menyelenggarakan
pembukuan;
4. menyampaikan neraca per I ]anuari 1984 yang benar bagi wajib
pajak orang pribadi yang menyelenggarakan pembukuan dan
wajib pajak badan;
294 Pembaruan Hukum Pajak
BAB 15: Pengampunan Pajak 295
5. mengisi surat pemberitahuan dengan sebenarnya mengenai
penghasilan tahun 1984 bagi wajib pajak Pajak Penghasi lan,
kekayaan per 1]anuari 1984 dan pemungutan pajak penjualan
serta Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan at as Barang
Mewah yang terutang dalam tahun 1984;
6. mengisi dengan benar surat pemberitahuan mengenai segala
jenis pajak untuk dan pada tahun-tahun 1985, 1986, dan tahun
1987.
Pernyataan dalam rangka pengampunan pajak tersebut harus
disampaikan ke Kantor Inspeksi Pajak dalam wilayah wajib pajak
bertempat tinggal atau berkedudukan.]angka waktu penyampaian-
nya selambat-Iarnbatnya pada tanggal 30 ]uni 1985. Apabila
pernyataan itu disampaikan langsung oleh wajib pajak ke Kantor
Inspeksi Pajak harus diberi tanda bukti penerimaan. Bagi wajib
pajak yang mengirim pernyataannya dengan pos tercatat, resi
pengiriman pernyataan tersebut dianggap sebagai tanda bukti
penerimaan. Penyampaian daftar kekayaan harus disertai tanda
bukti setoran uang tembusan. ]angka waktu penyampaiannya ke
Kantor Inspeksi Pajak dalam wilayah wajib pajak bertempat tinggal
atau berkedudukan, juga selambat-Iambatnya pada tanggal30 ]uni
1985.
Mengenai tanda bukti uang setoran sebagai suatu kewajiban
bagi wajib pajak, adalah sebagai berikut.
1. Wajib pajak yang pada tanggal ditetapkannya keputusan ini
telah menyampaikan surat pemberitahuan pajak pendapatan/
pajak perseroan tahun 1983 dan pajak kekayaan tahun 1984,
dikenakan uang tembusan dengan tarif satu persen dari jumlah
kekayaannya yang dijadikan dasar untuk menghitung jumlah
pajak yang dimohonkan pengampunan.
2. Wajib pajak yang pada tanggal ditetapkannya keputusan ini
belum menyampaikan surat pemberitahuan pajak pendapatanl
I
pajak perseroan tahun 1983 dan pajak kekayaan tahun 1984,
dikenakan uang tembusan dengan tarif sepuluh persen dari
jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung
jumlah pajak yang dimohonkan pengampunan.
]umlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung
jumlah pajak yang dimohonkan pengampunan adalah kekayaan
bersih yang tercantum dalam daftar kekayaan/neraca per 1]anuari
1984 yang benar, dengan jumlah kekayaan bersih yang terdapat
dalam surat pemberitahuan pajak pendapatan/pajak perseroan
tahun 1983 dan pajak kekayaan 1984. Terhadap jumlah kekayaan
tersebut dimasukkan dalam modal perusahaan. Peningkatan modal
saham sebagai akibat pertambahan modal perusahaan dibebaskan
dari Bea Meterai modal. Penambahan nilai saham dan/atau
pemberian saham baru kepada pemegang saham sebagai akibat
pertambahan modal perusahaan dibebaskan dari pengenaan Pajak
Penghasilan.
c. Tujuan Pengampunan Pajak
Tiap peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh
pihak yang berwenang, pada dasarnya memiliki tujuan tertentu
yang hendak dicapai. Demikian pula halnya mengenai pengampu-
nan pajak yang ditetapkan dalam bentuk Kepres Nomor 26 Tahun
1984 sebagaimana telah diubah dengan Kepres Nomor 72 Tahun
1984. Kepres ini ditindaklanjuti oleh Menteri Keuangan dengan
menerbitkan suatu Keputusan Menteri Keuangan Nomor 3451
KMK.04/1984 tanggal 27 bulan April tahun 1984 yang memuat
tata cara untuk mengajukan pengampunan pajak.
Terkait dengan pengampunan pajak maka Rochmat Soemitro
(1988;90) mengatakan dalam rangka untuk melaksanakan suatu
sistem perpajakan baru yang lebih mantap yang berlandaskan
dukungan sepenuhnya dari masyarakat, dipandang perlu untuk
296 Pembaruan Hukum Pajak
BAB 15: Pengampunan Pajak
297
memberikan kesempatan kepada seluruh anggota masyarakat, baik
yang telah terdaftar maupun yang selama ini belum memunculkan
diri sebagai wajib pajak. Untuk mendapatkan pengampunan atas
pajak-pajak yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan
atau dipungut dalam tahun pajak 1983 dan tahun-tahun sebelum-
nya.
Wajib pajak yang menyampaikan pernyataan ke Kantor
Inspeksi Pajak dalam wilayah wajib pajak bertempat tinggal atau
berkedudukan untuk memperoleh pengampunan pajak terhadap
pajaknya, dibebaskan dari pengusutan fiska!. Hakikatnya adalah
memberi perlindungan hukum atau jaminan hukum kepada wajib
pajak untuk tidak dilakukan pengusutan fiskal terhadap harta
kekayaannya, bila menyampaikan pernyataan pengampunan pajak
atas pajaknya untuk tahun 1983 dan tahun-tahun sebelumnya,
dengan cara mengisi surat pemberitahuan untuk segala jenis pajak
yang dimohonkan pengampunan.
Wajib pajak yang menyampaikan pernyataan ke Kantor
Inspeksi Pajak dalam wilayah wajib pajak bertempat tinggal atau
berkedudukan, mengenai kekayaannya dalam rangka pengampunan
pajak tidak dijadikan dasar penyidikan dan penuntutan pidana
dalam bentuk apa pun terhadap wajib pajak. Hakikatnya adalah
memberi perlindungan hukum atau jaminan hukum bahwa
kekayaan wajib pajak tidak dilakukan penyidikan dan bahkan
penuntutan pidana dalam bentuk apa pun sepanjang wajib pajak
melaporkan ke Kantor Inspeksi Pajak dalam wilayah bertempat
tinggal atau berkedudukan untuk dimohonkan pengampunan pajak.
Wajib pajak yang sedang atau sementara dalam proses
pemeriksaan untuk keperluan perpajakan, atau wajib pajak yang
dalam proses penyidikan telah diketahui jumlah utang pajak yang
sebenarnya, terhadap jumlah utang pajak yang telah diketahui itu
tidak dapat diberikan pengampunan. Hal ini bertujuan untuk
mcngetahui tingkat kejujuran sebagai bagian dari kesadaran hukum
wajib pajak yang memohon pengampunan pajak. Hakikat peng-
ampunan pajak adalah untuk menjaring sebanyak-banyaknya wajib
pajak sebagai faktor penunjang pelaksanaan Undang-undang Pajak
yang baru pada saat itu. ~
299
D" Lembaga Keberatan
A. Pendahuluan
Pejabat pajak dalam melaksanakan wewenangnya berupa
menerbitkan surat ketetapan pajak dalam kaitan penagihan pajak
secara biasa, kadangkala menimbulkan kerugian bagi wajib pajak.
Begitu pula halnya, terhadap pemotongan atau pemungutan
pajak yang dilakukan oleh pemotong atau pemungut pajak yang
bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Pemungut pajak
tertentu tidak memberi bukti pemotongan atau pemungutan
pajak kepada wajib pajak.
Keberatan merupakan upaya hukum biasa dalam hukum pajak
yang dapat digunakan oleh wajib pajak untuk memohon keadilan
atas kerugian, baik yang dilakukan oleh pejabat pajak maupun oleh
pemotong atau pemungut pajak yang melakukan pemotongan atau
pemungutan pajak. Demikian pula, pemotong atau pemungut pajak
tertentu berhak mengajukan keberatan tatkala mengalami kerugian
atas tindakan hukum yang dilakukan oleh pejabat pajak dalam
bentuk keberatan. Keberatan bukan merupakan kewajiban
melainkan hak yang diberikan oleh hukum pajak kepada wajib pajak,
termasuk pemotong atau pemungut pajak sebagai upaya untuk
mendapatkan atau memperoleh perlindungan hukum melalui
300 Pembaruan Hukum Pajak BAB 16: Lembaga Keberatan
301
Lembaga Keberatan . Sebagai suatu hak, maka penggunaan
keberatan bergantung pada kehendak atau kemauan wajib pajak
untuk menggunakan at au tidak karena tidak ada sanksi hukum
yang boleh dikenakan bila keberatan itu tidak digunakan.
Sebenarnya keberatan tidak dapat digunakan oleh wajib pajak
(terrnasuk pemotong atau pemungut pajak tertentu) untuk
memperoleh perlindungan hukum di luar Lembaga Keberatan
mengingat Lembaga Keberatan merupakan bagian dari Lembaga
Peradilan Pajak yang berwenang memeriksa dan memutus sengketa
pajak yang diajukan dengan tata cara keberatan. Keberatan tidak
boleh disalahgunakan oleh wajib pajak dalam kaitannya untuk
memperoleh perlindungan hukum melalui Lembaga Keberatan.
Dalam arti, wajib pajak harus menaati syarat-syarat pengajuan
keberatan sebagaimana yang telah ditentukan. Hal ini dimaksudkan
agar penggunaan keberatan oleh wajib pajak tepat pada sasaran
berupa memperoleh perlindungan hukum dalam penyelesaian
sengketa pajak terhadap perlakuan pejabat pajak maupun pemotong
atau pemungut pajak.
B. Kedudukan Lembaga Keberatan
Hukum pajak tidak hanya sekadar menyediakan sarana hukum
yang digunakan oleh pejabat pajak untuk menegakan hukum pajak
di luar Lembaga Peradilan Pajak, tetapi tersedia pula melalui
Lembaga Peradilan Pajak yang berwenang memeriksa dan memutus
sengketa pajak. Lembaga Peradilan Pajak terdiri dari Lembaga
Keberatan dan Pengadilan Pajak yang berpuncak kepada Mahkamah
Agung sebagai Lembaga Peradilan yang melakukan pengawasan
terhadap lembaga-lembaga peradilan bawahan. Lembaga Keberatan
dan Pengadilan Pajak tidak berada dalam satu kesatuan secara utuh
dalam satu Undang-undang Pajak, melainkan diatur secara
tersendiri pada Undang-undang Pajak yang berbeda. Pengaturan
Lembaga Keberatan terdapat dalam ketentuan UU KUp, UU
PBB, UU BPHTB, UU PORO, UU KPB, dan UU CK sedangkan
Pengadilan Pajak diatur dalam UU PENJAK.
Lembaga Keberatan sebagai bagian dari lembaga peradilan
pajak diatur secara tersirat dalam ketentuan Pasal 25 ayat (1) UU
KUp, Pasal 15 ayat (1) UU PBB, Pasal 16 ayat (1) UU BPHTB,
Pasal 13 ayat (1) UU PORO, Pasal 93 ayat (1) UU KPB, dan Pasal
41 ayat (1) UU CK. Mengingat, bahwa Lembaga Keberatan tidak
dapat dipisahkan dengan Pengadilan Pajak sebagai pilar untuk
menyelesaikan sengketa pajak yang berawal dari penagihan pajak
secara biasa sebagai bagian dari penegakan hukum pajak. Lembaga
Keberatan yang terdapat dalam hukum pajak sebagai sarana hukum
pajak, pada mulanya hanya terdiri dari:
1. Lembaga Keberatan yang merneriksa dan memutus sengketa
pajak negara, yang meliputi sengketa Pajak Penghasilan,
sengketa Pajak Pertarnbahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, sengketa Pajak Bumi dan Bangunan, sengketa
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, sengketa Bea
Masuk, dan sengketa Cukai;
2. Lembaga Keberatan yang memeriksa dan memutus sengketa
pajak daerah provinsi; dan
3. Lembaga Keberatan yang memeriksa dan memutus sengketa
pajak daerah kabupaten/kota.
Lembaga Keberatan berada pada pejabat pajak yang telah
dilimpahkan kepada pejabat yang ditunjuk untuk melaksanakan
peraturan perundang-undangan perpajakan, Misalnya Kepala
Kantor Wilayah maupun Kepala Kantor Pelayanan Pajak dan
Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan. Kepala
Kantor Pelayanan Pajak berwenang mengelola Pajak Penghasilan,
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
302
Pembaruan Hukum Pajak BAB 16: Lembaga Keberatan 303
Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan berwenang
mengelola Pajak Bumi dan Bangunan serta Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan.
Berdasarkan pelimpahan wewenang tersebut maka Kepala
Kantor Wilayah, Kepala Kantor Pelayanan Pajak dan Kepala Kantor
Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan, berwenang memeriksa dan
memutus sengketa pajak negara, sedangkan sengketa pajak daerah
tetap berada pada kewenangan kepala daerah. Dengan demikian,
Lembaga Keberatan yang menyelesaikan sengketa pajak, terdiri dari;
1. Lembaga Keberatan yang memeriksa dan memutus sengketa
Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah;
2. Lembaga Keberatan yang memeriksa dan memutus sengketa
Pajak Bumi dan Bangunan, serta Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan;
3. Lembaga Keberatan yang memeriksa dan memutus sengketa
pajak daerah provinsi; dan
4. Lembaga Keberatan yang memeriksa dan memutus sengketa
pajak daerah kabupaten/kota.
Di samping itu, dikenal pula Lembaga Keberatan yang ber-
wenang memeriksa dan memutus sengketa yang berhubungan
dengan Bea Masuk dan Cukai. Adapun Lembaga Keberatan yang
dimaksud adalah:
1. Lembaga Keberatan yang memeriksa dan memutus sengketa
Bea Masuk;
2. Lembaga Keberatan yang memeriksa dan memutus sengketa
Cukai.
Lembaga Keberatan tersebut di at as berada dalam struktur
pemerintahan negara di bidang eksekutif dan bukan berada di
bidang yudikatif. Lembaga Keberatan yang berwenang memeriksa
dan memutus sengketa pajak yang berkaitan dengan pajak negara
berada dalam lingkungan Direktorat [enderal Pajak Departemen
Keuangan. Kemudian, Lembaga Keberatan yang berwenang
memeriksa dan memutus sengketa pajak yang berkaitan dengan
pajak daerah berada dalam lingkungan Departemen Dalam Negeri.
Walaupun kedua Lembaga Keberatan berada dalam kekuasaan
eksekutif, tetapi sangat penting kedudukannya dalam penegakan
hukum pajak. Lembaga Keberatan merupakan filter untuk
menjaring sejauhmana kebenaran tindakan pejabat pajak maupun
pemotong atau pemungut pajak dalam menegakkan hukum pajak
di luar Lembaga Peradilan Pajak.
C. Kompetensi Lembaga Keberatan
Sebagaimana dimaklumi bahwa Undang-undang Pajak (UU
KUp, UU PBB, UU BPHTB, UU PDRD, UU KPB, dan UU CK)
tidak mengatur secara tegas mengenai kedudukan Lembaga
Keberatan, tak terkecuali mengenai kompetensinya. Lembaga
Keberatan sebagai bagian tak terpisahkan dengan Lembaga
Peradilan Pajak berkewajiban untuk penegakan hukum pajak dan
memberi perlindungan hukum kepada wajib pajak. Untuk menegak-
kan hukum pajak dan memberi perlindungan hukum kepada wajib
pajak, Lembaga Keberatan harus memiliki kompetensi, sebagai
landasan untuk melaksanakan wewenang yang ditentukan dalam
Undang-undang Pajak tersebut.
Pada hakikatnya, kompetensi Lembaga Peradilan Pajak terdiri
atas kompetensi relatif dan kompetensi absolut. Kompetensi relatif
berhubungan dengan kewenangan untuk mengadili suatu sengketa
pajak sesuai dengan wilayah hukumnya. Kemudian kompetensi
absolut adalah kewenangan mengadili suatu sengketa pajak
menurut objek atau materi sengketa pajak termaksud Lembaga
Keberatan merupakan bagian dari Lembaga Peradi lan Pajak,
Lembaga Keberatan me mi liki pula kompetensi relatif dan
kompetensi absolut.
1. Kompetensi Relatif Lembaga Keberatan
Kompetensi relatifLembaga Keberatan ditentukan oleh batas
wilayah hukum berlakunya pajak yang menjadi kewenangannya.
Lembaga Keberatan dinyatakan berwenang untuk memeriksa dan
memutus sengketa pajak tatkala pajak yang disengketakan berlaku
dalam wilayah hukumnya. Dengan demikian, kompetensi relatif
Lembaga Keberatan tidak selalu sama tergantung dari wilayah
hukum berlakunya pajak yang menjadi objek persengketaan oleh
para pihak yang bersengketa.
Kompetensi relatif Lembaga Keberatan sebagaimana tersirat
dalam Pasa125 ayat (1) UU KUp, Pasa115 ayat (1) UU PBB, Pasal
16 ayat (1) UU BPHTB, Pasal 93 ayat (1) UU KPB, dan Pasal 41
ayat (1) UU CK meliputi seluruh wilayah hukum Indonesia. Oleh
karena, pajak yang disengketakan adalah pajak negara yang berlaku
untuk seluruh wilayah hukum Indonesia, seperti Pajak Penghasilan,
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah,
Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan, Bea Masuk, dan Cukai . Akan tetapi, kompetensi relatif
Lembaga Keberatan di ata s mengalami perubahan sebagai akibat
adanya pelimpahan wewenang kepada Kepala Kantor Wilayah,
Kepala Kantor Pelayanan Pajak dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak
Bumi dan Bangunan. Konsekuensinya adalah kompetensi relatif
Lembaga Keberatan hanya terbatas pada wilayah -hukum Kantor
Wilayah, Kantor Pelayanan Pajak dan Kantor Pelayanan Pajak Bumi
dan Bangunan.
Kompetensi relatif Lembaga Keberatan sebagaimana tersirat
dalam Pasal13 ayat (1) UU PDRD tidak meliputi seluruh wilayah
305
304
Pembaruan Hukum Pajak
BAB16: Lembaga Keberatan
hukum Indonesia, karena pajak daerah hanya berl aku untuk daerah
provinsi atau daerah kabupaten/kota berdasarkan peraturan daerah
yang bersangkutan. Kompetensi relatif Lembaga Keberatan untuk
pajak daerah provinsi hanya meliputi wilayah hukum berlakunya
pajak daerah provinsi, misalnya pajak daerah provinsi Sulawesi
Selatan, kompetensi relatif Lembaga Keberatan hanya dalam
wilayah hukum Sulawesi Selatan. Sedang kompetensi relatif
Lembaga Keberatan untuk pajak daerah kabupaten/kota, wilayah
hukumnya lebih sempit daripada wilayah hukum Lembaga
Keberatan untuk pajak daerah provinsi, misalnya pajak daerah
Kota Makassar, wilayah hukumnya hanya wilayah hukum Kota
Makassar sebagai bagian wilayah hukum Sulawesi Selatan.
2. Kompetensi Absolut Lembaga Keberatan
Kompetensi absolut Lembaga Keberatan berkaitan dengan
kewenangan untuk memeriksa dan memutus sengketa pajak
menurut objek atau materi sengketa pajak yang diajukan kepadanya.
Adapun objek atau materi sengketa pajak yang diajukan adalah
perbuatan hukum pejabat pajak maupun pemotong atau pemungut
pajak. Kompetensi absolut Lembaga Keberatan adalah keberatan
yang timbul dalam bidang perpajakan antara pejabat pajak dengan
wajib pajak termasuk pemotong atau pemungut pajak, atau sesama
wajib pajak (wajib pajak dengan pemotong atau pemungut pajak,
baik di bidang pajak negara maupun di bidang pajak daerah.
Timbulnya sengketa pajak dalam bentuk keberatan adalah sebagai
akibat diterbitkannya surat pemberitahuan pajak te rutang, surat
ketetapan pajak, surat ketetapan pajak kurang bayar, surat ketetapan
pajak kurang bayar tambahan, surat ketetapan pajak lebih bayar,
atau surat ketetapan nihil oleh pejabat pajak atau akibat pemotong-
an atau pemungutan pajak yang dilakukan oleh pemotong atau
pemungut pajak.
306 Pembaruan Hukum Pajak BAB16: Lembaga Keberatan 307
Kompetensi absolut lembaga keberatan yang berkaitan dengan
sengketa Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah yang dapat diajukan keberatan adalah
atas suatu:
a. surat ketetapan pajak kurang bayar;
b. surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan;
c. surat ketetapan pajak lebih bayar;
d. surat ketetapan pajak nihil; atau
e. pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Perkataan "suatu" tersebut di atas dimaksudkan bahwa satu
keberatan harus diajukan terhadap satu jenis pajak dan satu tahun
pajak. Misalnya Pajak Penghasilan tahun pajak 2004 dan tahun pajak
2005 keberatannya harus diajukan masing-masing dalam satu surat
keberatan tersendiri. Untuk dua tahun pajak tersebut harus diaju-
kan dua buah surat keberatan. Hal ini, bertujuan untuk rnernudah-
kan bagi wajib pajak dalam menyusun secara benar dan jelas surat
keberatan yang akan diajukannya. Demikian pula halnya, di per-
sidangan memudahkan bagi pejabat pajak untuk memeriksa dan
memutuskan sengketa pajak secara berkeadilan, berrnanfaat, dan
mewujudkan kepastian hukum terhadap yang dipersengketakan.
Kompetensi absolut Lembaga Keberatan yang berkaitan
dengan sengketa Pajak Bumi dan Bangunan, serta Bea Perolehan
Hak at as Tanah dan Bangunan yang dapat diajukan keberatan adalah
tidak sama. Dalam arti, bahwa objek atau materi sengketa Pajak
Bumi dan Bangunan berbeda dengan sengketa Bea Perolehan Hak
atas Tanah d a ~ Bangunan. Objek atau materi sengketa Pajak Bumi
dan Bangunan yang dapat diajukan keberatan, atas:
a. surat pemberitahuan pajak terutang;
b. surat ketetapan pajak.
Sementara itu, sengketa Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan yang dapat diajukan keberatan adalah atas suatu:
a. surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
kurang bayar;
b. surat ketetapan Bea Perolehan Hak at as Tanah dan Bangunan
kurang bayar tambahan;
c. surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
lebih bayar;
d. surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah Bangunan nihil.
Kernudian, kompetensi absolut Lembaga Keberatan yang
berkaitan dengan pajak daerah, baik pajak daerah provinsi maupun
pajak daerah kabupaten/kota yang dapat diajukan keberatan adalah
atas suatu:
a. surat ketetapan pajak daerah;
b. surat ketetapan pajak daerah kurang bayar;
c. surat ketetapan pajak daerah kurang bayar tambahan;
d. surat ketetapan pajak daerah lebih bayar;
e. surat ketetapan pajak daerah nihil;
f. pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga berdasarkan
peraturan perundang-undangan perpajakan daerah yang
berlaku.
Kompetensi absolut Lembaga Keberatan yang berwenang
memeriksa dan memutus sengketa pajak daerah provinsi berada
pada gubernur kepala daerah, sedangkan yang berwenang
memeriksa dan memutus sengketa pajak daerah kabupaten/kota
berada pada kepala daerah. Akan tetapi, wewenang tersebut dapat
dilimpahkan kepada Kepala Dinas Pendapatan Daerah berdasarkan
pelimpahan wewenang secara mandat. Dalam arti, Kepala Dinas
Pendapatan Daerah memperoleh wewenang dan wajib diper-
tanggungjawabkan kepada kepala daerah yang bersangkutan.
308 Pembaruan HukumPajak
BAB 16: Lembaga Keberatan 309
D. Pemasukan Surat Keberatan
Sehubungan adanya pelimpahan wewenang dari pejabat pajak
. kepada pejabat yang ditunjuk untuk melaksanakan peraturan
perundang-undangan perpajakan (Kepala Kantor Wilayah, Kepala
Kantor Pelayanan Pajak dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi
dan Bangunan), pemasukan surat keberatan harus berpatokan pada
jenis pajak yang dipersengketakan. Kalau jenis pajak yang diseng-
ketakan adalah Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah maka surat keberatan harus
ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah atau Kepala Kantor
Pelayanan Pajak. Tatkalajenis pajak yang disengketakan adalah Pajak
Bumi dan Bangunan serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan maka surat keberatan harus ditujukan kepada Kepala
Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan.
Keberatan wajib pajak harus diajukan secara tertulis dalam
bahasa Indonesia dan bukan bahasa Inggris, jerman, Belanda, dan
lain-lain. Dalam surat keberatan dikemukakan mengenai jumlah
pajak yang terutang, atau jumlah pajak yang dipotong atau
dipungut, atau jumlah rugi menurut penghitungan wajib pajak
dengan disertai alasan-alasan yang menjadi dasar penghitungan
dimaksud. Batas waktu pemasukan surat keberatan ditentukan
dalam jangka waktu tiga bulan sejak tanggal surat ketetapan pajak
(surat ketetapan pajak kurang bayar, surat ketetapan pajak kurang
bayar tambahan, surat ketetapan pajak lebih bayar, atau surat
ketetapan pajak nihil), pemotongan atau pemungutan pajak oleh
pihak ketiga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) UU
KUp, dengan maksud agar wajib pajak memiliki waktu yang cukup
memadai untuk mempersiapkan surat keberatan beserta alasannya.
Apabila ternyata jangka waktu tiga bulan tersebut tidak dapat
dipenuhi oleh wajib pajak karena keadaan di luar kekuasaan wajib
pajak (force majeur), tenggang jangka waktu selama tiga bulan
tersebut masih dapat dipertimbangkan untuk diperpanjang.
Keberatan yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas, bukan
merupakan surat keberatan sehingga tidak dipertimbangkan dan
tidak diterbitkan surat keputusan keberatan.
Penyusunan surat keberatan memerlukan bukti-bukti konkret
agar dapat diterima secara keseluruhan keberatan wajib pajak. Oleh
karena itu, Pasal 25 ayat (6) UU KUP meletakkan hak bagi wajib
pajak untukmerninta dasar pengenaan pajak, penghitungan rugi,
atau pemotongan atau pemungutan pajak yang telah ditetapkan
dan sebaliknya meletakkan kewajiban kepada pejabat pajak untuk
memenuhi permintaan wajib pajak. Bilamana hak wajib pajak
tersebut tidak dikabulkan oleh pejabat pajak, ternyata Undang-
undang Pajak tidak memberi penjelasan lebih lanjut, apakah dapat
atau tidak dipersengketakan pada Lembaga Keberatan atau di
Pengadilan Pajak karena merupakan kewajiban bagi pejabat pajak
untuk memberikan atau memenuhi permohonan wajib pajak, untuk
sementara waktu dapat digugat melalui peradilan tata usaha negara,
bahkan dapat diajukan sebagai tersangka dalam peradilan umum.
Tanda penerimaan surat keberatan yang diberikan oleh pegawai
Direktorat Ienderal Pajak yang ditunjuk untuk itu, atau tanda
pengiriman surat keberatan melalui pos dengan bukti pengiriman
surat atau melalui cara lain yang telah ditentukan, adalah sebagai
bukti surat tentang penerimaan surat keberatan. Jangka waktu
penyelesaian keberatan dihitung sejak tanggal penerimaan surat
dimaksud. Jika surat keberatan dari wajib pajak tidak memenuhi
syarat-syarat yang telah ditentukan, sebelum berakhir batas waktu
pemasukan surat keberatan, wajib pajak masih berhak memperbaiki
surat keberatannya. Iangka waktu penyelesaian keberatan dihitung
sejak tanggal diterimanya surat keberatan yang telah diperbaiki
dan memenuhi syarat-syarat sebagai surat keberatan.
Bukti surat penerimaan surat keberatan dapat digunakan oleh
III III
310 Pembaruan Hukum Pajak SAS 16: Lembaga Keberatan 311
wajib pajak sebagai bentuk pengawasan untuk mengetahui kapan
berakhir jangka waktu dua belas bulan. Berhubung karena, dalam
jangka waktu dua belas bulan sejak tanggal surat keberatan
diterirna, Lembaga Keberatan wajib menerbitkan Surat Keputusan
Keberatan. Hal ini merupakan salah satu bentuk peran serta wajib
pajak dalam melakukan pengawasan terhadap penegakan hukum
pajak.
Terhadap wajib pajak yang mengajukan surat keberatan
kepada Lembaga keberatan dalam jangka waktu pelunasan pajak
yang terutang, atas jumlah pajak yang belum terbayar tersebut,
tertangguh sampai dengan satu bulan sejak tanggal penerbitan
surat keputusan keberatan. Hal ini menunjukkan "kernanfaatan"
fungsi hukum pajak yang tidak berpatokan pada saat keputusan
keberatan dibacakan oleh pejabat pajak yang memutus dan
memeriksa sengketa pajak itu. Dalam arti, pelunasan pajak yang
terutang terhitung pada saat tanggal penerbitan surat keputusan
keberatan. Kemudian, jumlah pajak yang belum dibayar pada
saat pengajuan surat keberatan tersebut tidak boleh digolongkan
sebagai utang pajak.
Akan tetapi, bila surat keberatan wajib pajak ditolak atau
hanya dikabulkan sebagian (bukan seluruhnya) , berarti wajib
pajak dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 50%.
Sanksi administrasi berupa denda tersebut dihitung dari jumlah
pajak berdasarkan keputusan keberatan yang dikurangi dengan
pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. Walau-
pun dernikian, bila wajib pajak mengajukan surat banding kepada
Pengadilan Pajak, sanksi administrasi tersebut tidak dikenakan.
Sebenarnya pengenaan sanksi atau tidak dikenakan sanksi kepada
wajib pajak merupakan pencerminan fungsi hukum pajak berupa
"kepastian hukurn" bagi wajib pajak maupun pejabat pajak sebagai
pihak yang terkait dalam penegakan hukum pajak.
Pengajuan surat keberatan di at as berlaku untuk semua jenis
pajak, yang meliputi Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai
dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan,
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, Bea Masuk, Cukai,
pajak daerah provinsi dan pajak daerah kabupaten/kota. Walau-
pun UU PBB, UU BPHTB, dan UU PDRD mengatur mengenai hal
yang sama dengan UU KUP berdasarkan asas hukum (lex superior
derogate legi inferiori) aturan yang lebih tinggi mengesampingkan
aturan yang lebih rendah.
E. Pihak-pihak yang Bersengketa
Berhubung karena Lembaga Keberatan merupakan bagian dari
Lembaga Peradilan Pajak, perlu diketahui bahwa Lembaga
Keberatan menyelenggarakan peradilan pajak secara murni atau
tidak. Dalam hal ini, harus ditetapkan tolok ukur untuk menentu-
kan Lembaga Keberatan sebagai penyelenggara peradilan pajak
secara murni atau tidak. Tolok ukur yang digunakan adalah unsur-
unsur peradilan pajak secara murni, terdiri dari:
1. pajak sebagai suatu perselisihan hukum yang konkret;
2. perselisihan hukum yang konkret itu diterapkan hukum pajak
yang bersifat abstrak dan mengikat secara umum;
3. sekurang-kurang dua pihak yang bersengketa atau berperkara;
4. adanya pihak yang berwenang memeriksa dan memutus dan
tidak terlibat sebagai pihak yang bersengketa (berperkara) yang
berasal dari aparatur peradilan pajak.
Apabila ada unsur-unsur peradilan pajak tersebut di atas
yang tidak sesuai yang diterapkan dalam Lembaga Keberatan,
peradilan pajak yang diselenggarakan oleh Lembaga Keberatan
adalah menyelenggarakan peradilan pajak tidak murni . Sebaliknya,
jika Lembaga Keberatan menyelesaikan sengketa pajak dengan
312 Pembaruan Hukum Pajak
BAB 16: Lembaga Keberatan 313
memenuhi tolok ukur tersebut di atas, Lembaga Keberatan menye-
lenggarakan peradilan pajak secara murni. Dalam kaitan ini,
Rochmat Soemitro (1976;56) menggunakan istilah sebagai
peradilan doleansi yang menyelesaikan sengketa pajak oleh hakim
doleansi pada Kantor Inspeksi Pajak, yang memutuskan surat
keberatan.
Setelah diketahui unsur-unsur peradilan pajak secara murni
maka pihak-pihak yang bersengketa pada Lembaga Keberatan dapat
pula ditentukan berdasarkan objek atau materi yang
dipersengketakan berdasarkan Pasal25 ayat (1) UU KUp, Pasal15
ayat (1) UU PBB, Pasal 16 ayat (1) UU BPHTB, Pasal 13 ayat (1)
UU PDRD, Pasal 93 ayat (1) UU KPB, dan Pasal41 ayat (1) UU
CK, yakni;
1. Pejabat Pajak dengan Wajib Pajak
Perselisihan antara pejabat pajak dengan wajib pajak dalam
Lembaga Keberatan adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri
karena wajib pajak menerima surat ketetapan pajak (misalnya surat
ketetapan pajak kurang bayar) yang diterbitkan oleh pejabat pajak.
Surat ketetapan pajak kurang bayar yang diterima oleh wajib pajak
menimbulkan kerugian karena tidak sesuai dengan jumlah pajak
yang kurang dibayar. Atas kerugian tersebut wajib pajak mengajukan
surat keberatan terhadap surat ketetapan pajak kurang bayar yang
telah diterbitkan oleh pejabat pajak termaksud. Dalam hal ini,
pejabat pajak merupakan salah satu pihak yang bersengketa ber-
lawanan dengan wajib pajak. Selain itu, pejabat pajak tersebut
merupakan pula pemutus terhadap penyelesaian keberatan yang
diajukan oleh wajib pajak. Penyelesaian dengan cara ini terkait
dengan Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, serta pajak daerah.
jika dicermati penyelesaian keberatan tersebut di atas, maka
pejabat pajak memiliki dua kapasitas, baik sebagai salah satu pihak
yang terlibat dalam sengketa maupun sebagai pihak yang ber-
wenang memeriksa dan memutus sengketa pajak tersebut. Bahkan
karena kapasitasnya sebagai pihak yang memeriksa dan memutus
sengketa pajak itu maka berwenang pula menerbitkan surat
keputusan keberatan. Keterlibatan pejabat pajak sebagai salah satu
pihak yang bcrsengketa maupun sebagai pihak yang berwenang
memeriksa dan memutus sengketa tersebut adalah perwujudan
dari peradilan pajak tidak murni. Hal ini, disebabkan karena tidak
terpenuhi unsur keempat dari peradilan pajak secara murni, yakni
pihak pemutus merupakan pula pihak yang bersengketa.
2. Pejabat Pajak dengan Pemotong atau Pemungut
Pajak
Pada hakikatnya, pemotong atau pemungut pajak merupakan
pula wajib pajak, retapi kapasitasnya bukan merupakan pembayar
pajak yang memiliki objek pajak yang dikenakan pajak, melainkan
sebagai penyetor pajak yang telah dipotong atau dipungut dari wajib
pajak tersebut. Pemotongan atau pemungutan pajak yang telah
dilakukan wajib disetor ke kas negara atau kas daerah. Sebenarnya,
pemotong atau pemungut pajak tidak dapat dikategorikan sebagai
wajib pajak karena tidak memenuhi persyaratan untuk dikenakan
pajak. Pemotong atau pemungut pajak sebagai wajib pajak hanya
dikenal dalam Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah, serta pajak daerah, baik pajak
daerah provinsi maupun pajak daerah kabupaten/kota. Dengan
demikian, Pajak.Bumi dan Bangunan, serta Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan tidak dikenal perselisihan antara pejabat pajak
dengan pemotong atau pemungut pajak karena tidak diatur dalam
UU PBB dan UU BPHTB.
314 Pembaruan Hukum Pajak
BAB 16: Lembaga Keberatan
315
Perselisihan antara pejabat pajak pemotong atau pemungut
pajak karena tindakan pejabat pajak menerbitkan surat ketetapan
pajak (misalnya surat ketetapan pajak nihil). Di dalam surat
ketetapan pajak nihil ditegaskan bahwa pemotong atau pemungut
pajak telah menyetor pajak berdasarkan jumlah pajak yang dipotong
atau dipungut sehingga tidak ada pajak yang terutang maupun
kelebihan pembayaran pajak. Kenyataannya, bahwa pemotong atau
pemungut pajak telah menyetor pajak yang melebihi dari jumlah
pajak yang dipotong atau dipungut ke kas negara atau kas daerah.
Sebenarnya yang harus diterbitkan oleh pejabat pajak adalah
surat ketetapan pajak lebih bayar yang menunjukkan bahwa ada
kelebihan setoran pajak yang dilakukan oleh pemotong atau
pemungut pajak. Karena kesalahan menerbitkan surat ketetapan
pajak, pemotong atau pemungut pajak mengajukan keberatan
kepada Lembaga Keberatan agar memperoleh keadilan atas tindakan
yang dilakukan oleh pejabat pajak. Kesalahan yang dilakukan oleh
pejabat pajak menimbulkan kerugian pada pemotong atau
pemungut pajak yang seyogianya kelebihan penyetoran pajak
boleh diminta kembali. Ataukah dikompensasikan dengan pajak
yang terutang pada tahun pajak di masa mendatang.
Dalam kaitan ini pejabat pajak memiliki pula dua kapasitas
yang berbeda satu dengan lainnya. Kapasitas pertama, pejabat pajak
sebagai salah satu pihak yang bersengketa berhadapan dengan
pemotong atau pemungut pajak. Kapasitas kedua, pejabat pajak
sebagai pihak yang berwenang menyelesaikan keberatan dengan
menerbitkan surat keputusan keberatan terhadap surat keberatan
yang diajukan oleh pemotong atau pemungut pajak yang bersang-
kutan. Kalau demikian halnya, penyelesaian keberatan yang
dilakukan pada Lembaga Keberatan merupakan pula peradilan pajak
tidak murni. Dikatakan sebagai peradilan pajak tidak murni, karena
pejabat pajak selain sebagai salah satu pihak yang bersengketa juga
sebagai pemutus terhadap surat keberatan yang diajukan kepada-
nya. Hal ini, disebabkan karena tidak terpenuhi unsur keempat
peradi lan pajak secara murni, yakni pihak pemutus merupakan pula
pihak yang bersengketa.
3. Wajib Pajakdengan Pemotong atau Pemungut
Pajak
Surat keberatan yang diajukan oleh wajib pajak terhadap
pemotong atau pemungut pajak karena pemotong atau pemungut
pajak dalam melaksanakan kewajibannya melanggar ketentuan
dalam peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
Sebagai contoh, pemotong atau pemungut pajak melakukan
pemotongan atau pemungutan pajak kepada wajib pajak melebihi
yang seharusnya dipotong atau dipungut. Atau pemotong atau
pemungut pajak melakukan pemotongan atau pemungutan pajak
dengan tidak memberikan bukti pemotongan atau pemungutan
pajak kepada wajib pajak yang dipotong atau dipungut pajaknya.
Kalau terjadi demikian, maka wajib pajak yang telah dikenakan
pemotongan atau pemungutan pajak berhak mengajukan surat
keberatan terhadap perbuatan hukum yang dilakukan oleh
pernotong atau pemungut pajak kepada Lembaga Keberatan
pejabat. Pihak-pihak yang bersengketa dalam hal ini adalah wajib
pajak yang dikenakan pemotongan atau pemungutan pajak dengan
pemotong atau pemungut pajak. Sementara itu, pejabat pajak
berada dalam kapasitas sebagai pihak pemutus yang berwenang
menerbitkan surat keputusan keberatan. Sebenarnya pejabat pajak
bukan merupakan salah satu pihak yang bersengketa melainkan
sebagai pihak yang memeriksa dan memutus surat keberatan yang
diajukan oleh wajib pajak. Tatkala dicermati penyelesaian keberatan
antara wajib pajak dengan pemotong atau pemungut pajak, ternyata
bahwa Lembaga Keberatan menyelenggarakan peradilan pajak
316
Pembaruan Hukum Pajak
BAB 16: Lembaga Keberatan
317
secara murni karena terdapat pemisahan secara tegas antara pihak-
pihak yang bersengketa dengan pihak pemutus yang berwenang
memeriksa dan memutus sampai pada menerbitkan surat keputu-
san keberatan sehingga tidak benar kalau dikatakan bahwa Lembaga
Keberatan sebagai salah satu Lembaga Peradilan Pajak hanya
sekadar melaksanakan peradilan pajak tidak murni.
Lembaga Keberatan sebagai penyelenggara peradilan pajak
secara murni hanya terhadap keberatan yang terkait dengan Pajak
Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, serta pajak daerah, baik pajak daerah provinsi
maupun pajak daerah kabupaten/kota. Terhadap Pajak Bumi dan
Bangunan serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan tidak
akan terjadi karena tidak dikenal adanya pemotong atau pemungut
pajak dalam UU PBB, UU BPHTB, UU KPB, dan UU CK.
F. Surat Keputusan Keberatan
Bila surat keberatan telah memenuhi syarat-syar at yang
ditentukan, pejabat pajak melakukan pemeriksaan dan memutusnya
dengan berpatokan pada hukum pajak. Dalam perneriksaan, wajib
pajak diperbolehkan menyampaikan alasan tambahan atau
penjelasan tertulis tatkala beranggapan bahwa surat keberatan yang
diajukan itu, masih memiliki kekurangan atau tidak sempurna.
Bahkan dapat menghadiri persidangan untuk memberikan kete-
rangan atau penjelasan mengenai keberatan yang dimohonkannya.
Hal ini, dimaksudkan untuk memudahkan bagi pejabat pajak dalam
menentukan keputusan terhadap keberatan yang diajukan oleh
wajib pajak maupun pemotong atau pemungut pajak.
Selain itu, wajib pajak harus pula membuktikan ketidak-
benaran surat ketetapan pajak (misalnya surat ketetapan pajak
kurang bayar atau surat ketetapan pajak nihil) yang dijadikan dasar
keberatannya. Surat ketetapan pajak kurang bayar ters ebut terkait
dengan kewajiban wajib pajak mengenai hal-hal:
1. surat pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu
yang ditentukan dan setelah ditegur secara tertulis tidak
disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam
surat teguran;
2. tidak men yelenggarakan pembukuan atau pencatatan: atau
3. menghalangi pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas
pemeriksa.
Set elah pemeriksaan di lakukan, pejabat pajak berwenang
menerbitkan surat keputusan keberatan sebagai jawaban akhir dari
sengketa paj ak di tingkat Lembaga Keberatan. Pejabat pajak
menerbitkan surat keputusan keberatan dengan tetap berdasarkan
pada surat keberatan, fakta-fakta hukurn, dan alat bukti yang
terungkap dalam persidangan agar surat keputusannya rnencermin-
kan keadilan, kernanfaatan, dan kepastian hukum yang didambah-
kan oleh pihak-pihak yang bersengketa. Hal ini dimaksudkan agar
pihak-pihak yang bersengketa dapat berkesimpulan bahwa Lembaga
Keberatan sebagai bagian dari Lembaga Peradilan Pajak dapat
memberikan perlindungan hukum.
]angka waktubagi pejabat pajak menerbitkan surat keputusan
keberatan adalah dua belas bulan sejak tanggal diterimanya surat
keberatan tersebut. Dalam arti , surat keputusan keberatan harus
diterbitkan sebelum berakhir jangka waktu dua belas bulan. Apabila
telah lewat jangka waktu dua belas bulan sejak tanggal diterimanya
surat keberatan, tetapi pejabat pajak tidak menerbitkan surat
keputusan keberatan, surat keberatan yang diajukan oleh wajib
pajak, baik kepada pejabat pajak yang menerbitkan surat ketetapan
pajak maupun pemotong atau pemungut pajak tersebut dit erima
demi hukum. Berarti , pejabat pajak tidak boleh lagi melakukan
318 Pembaruan Hukum Pajak
BAB16: Lembaga Keberatan
319
pemeriksaan mengenai keabsahan materi atau objek yang
dipersengketakan sebagaimana yang tercantum dalam surat
keberatan dimaksud.
Kalau pemeriksaan surat keberatan telah selesai, berarti pejabat
pajak wajib menerbitkan surat keputusan keberatan terhadap wajib
pajak yang mengajukan keberatan. Surat keputusan keberatan yang
diterbitkan oleh pejabat pajak dapat berisikan diktum, yaitu:
1. menerima seluruhnya, dalam hal ini wajib pajak telah menge-
mukakan alasan-alasan yang didukung dengan bukti-bukti
yang meyakinkan secara keseluruhan yang dipersengketakan
dalam surat keberatannya sehingga pejabat pajak menerima
keseluruhan tuntutan wajib pajak yang tercantum dalam surat
keberatannya;
2. menerima sebagian, apabila dari keseluruhan alasan-alasan
yang dikemukakan oleh wajib pajak dalam surat keberatannya,
ternyata hanya sebagian dari alasan-alasan tersebut diterima
dan sebagian pula ditolak oleh pejabat pajak;
3. tidak dapat diterima, jika alasan yang dikemukakan dalam
persidangan tidak diterima oleh pejabat pajak selaku pernutus:
4. menolak keberatan, jika surat keberatan tersebut diajukan
bukan kepada pejabat pajak yang menerbitkan surat ketetapan
pajak tersebut (kompetensi absolut):
5. menambah besarnya jumlah pajak yang terutang. Hal ini dapat
terjadi karena alasan-alasan yang dikemukakan oleh wajib pajak
maupun alat bukti, menimbulkan keyakinan bagi pejabat pajak
bahwa utang pajak yang dipersengketakan lebih besar daripada
yang tercantum dalam surat keberatan.
Dari kelima jenis surat keputusan keberatan tersebut di atas,
surat keputusan keberatan yang memiliki diktum berupa menam-
bah besarnya jumlah utang pajak merupakan dasar penagihan
pajak. Wajib pajak yang tidak menerima surat keputusan keberat an
karena pertimbangan tidak mencerminkan keadilan, kemanfaatan,
atau kepast ian hukum, ber hak mengaj uka n bandi ng pada
Pengadilan Pajak yang berkedudukan di Ibukota Negara Indonesia
(Iakarta). .
321
Daftar Pustaka
Ali, Chidir. 1993. Hukum Pajak Elementer. Bandung: PT Eresco.
Bohari. 2004. Pengantar Hukum Pajak. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Brotodihardjo, Santoso, 1995. Pengantar Ilmu Hukum Pajak. Bandung:
PT Eresco. .
Hadi, Moeljo. 2001 . Dasar-dasar Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
Oleh [urusita Pajak Pusat dan Daerah. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Harahap, Abdul Asri. 2004. Paradigma Baru Perpajakan Indonesia
Perspektif Ekonomi-Politik. Jakarta: Integritas Dinamika Press.
Hutagaol, John. 2000. Pemahaman Praktis Perjanjian Penghindaran
Pajak Berganda Indonesia Dengan Negara-Negara di Kawasan Eropa.
Jakarta.
Ilyas, Wirawan B. 2001. Hukum Pajak. Jakarta: Salemba Empat.
Inayah, Gazi. 2003 . Teori Komprehensif Tentang Zakat dan Pajak .
Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya.
Munawir. 1985. Pokok-pokok Perpajakan. Yogyakarta: Liberty.
Pudyatmoko, Y. Sri. 2002. Pengantar Hukum Pajak. Yogyakarta: Andi.
Rusjdi, Muhammad. 2003 . KUP Ketentuan Umum dan Tatacara
Perpajakan. Jakarta: PT lndeks .
Saidi , Muhammad Djafar. 1987. Pengantar Hukum Pajak Indonesia.
Ujung Pandang: Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin.
--. 2006. Perlindungan Hukum Wajib Pajak dalam Penyelesaian
sengketa Pajak. Makassar: Disertasi, Pascasarjana Universitas
Hasanuddin.
Siahaan, Marihot P. 2004. Utang Pajak, Pemenuhan Kewajiban Dan
Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
-----. 2005. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan
Teori dan Praktik. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
----.2006. Bea Meterai di Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Soemitro, Rochmat. 1976. Peradilan Administrasi dalam Hukum Pajak
di Indonesia. Bandung: PT Eresco.
----. 1979. Dasar-dasar Hukum dan Pajak Pendapatan 1944.
Bandung: PT Eresco.
----- 1986. Asas dan Dasar Perpajakan I. Bandung: PT
Eresco.
Suherman, Ade Maman . 2004. Pengantar Perbandingan Sistem
Hukum, Civil Law, Common Law, Hukum Islam. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Surahmat, Rachmanto. 2000. Persetujuan Penghindaran Pajak Ber-
ganda SebuahPengantar. Jakart a: PT RajaGrafindo Persada.
Zakaria, jaja. 2005. Perjanjian Penghindaran P c ~ j a k Berganda Serta
Penerapannya di Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
----.2005. Perlakuan PerpajakanTerhadap Bentuk Usaha Tetap
(BUT). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
322 Pembaruan Hukum Pajak
Daftar Pustaka
323
----- 1987. Pajak Pertambahan Nilai 1984. Bandung: PT
Eresco.
--- -.1988. Asasdan Dasar Perpajakan 2. Bandung: PT Eresco.
----- 1991 . Pajak Ditinjau dari Segi Hukum. Bandung: PT
Eresco.
1992. Pengantar Singkat Hukum Pajak. Bandung: PT
Eresco.
Suandy, Erly. 2000. Hukum Pajak. Jakarta: Salemba Empat.
325
Biodata Penulis
--r-
t ~
. L ~ ~ ! .
Buku ini ditulis oleh Muhamrnad Djafar Saidi,
lahir di Pare-pare, tanggal 11 November 1952.
Pendidikan mulai dari Sekolah Dasar, Sekol ah
Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas
ditempuh di tempat kelahiran. Hijrah ke Makassar
pada tahun 1973 untuk melanjutkan pendidikan pada Fakultas
Hukum Universitas Hasanuddin dan selesai tahun 1980. Kemudian
pendidikan Magister di bidang Ilmu Hukum Pajak pada Pascasarjana
Universitas Hasanuddin pada tahun 1997 dan selesai tahun 2000 ,
dan di tingkat Doktoral dalam bidang Ilmu Hukum Pajak pada
tahun 2000 dan selesai tahun 2006. Selama ini mengabdi pada
Almamater dari tahun 1980 sampai kini dan Program Pascasar-
jana Universitas Hasanuddin pada tahun 2000 sampai sekarang.
Pembaruan Hukum Pajak merupakan salah satu karya ilmiah
yang dihasilkan, karena sebelumnya telah dihasilkan karya
berupa: 1) Pengantar Hukum Pajak Indonesia, pada tahun 1987; dan
2) Hukum Lingkungan, pada tahun 1989 . Keduanya diterbitkan
oleh lembaga penerbitan (Lephas) Univer sitas Hasanuddin.
326 Pembaruan Hukum Pajak
Substansi yang termuat dalam Pembaruan Hukum Pajak adalah
hukum pajak materiel yang mengalami pembaruan berdasarkan
perkembangan Undang-undang Pajak, kecuali mengenai Lern-
baga Keberatan. Dengan demikian, untuk memahami mengenai
hukum pajak materiel maka Pejabat Pajak, Wajib Pajak, dan Maha-
siswa perlu mencermati buku ini.
/
(

Anda mungkin juga menyukai