Anda di halaman 1dari 125

::;; :;, c.

; I 4" """
W,C(
I ' ,,' I L
r+ tUt-.I Of .-'\ ...,
C. I
LISENSI ATAU
WARALABA
Suatu Panduan Praktis
GUNAWAN WIDJAJA
-'._- --
MILT: o< PERPUST,\ FA HUKUM
U
" IIVr;J)Si ... -, .'" 't .. . I, ..1 ,.,
1., '_-n \. s S ,L'l :::: iJ / 4 tJ\_" )', f,"; ':: ,t tJ/\
y 0 G v ., K A
\D
Divisi Buku Perguruan Tinggi
PT RajaGrafindo Persada
JAKARTA
Perpustakaan Nasional: katalog dalam terbitan (KDD
WUAYA, Gunawan
Lisensi atauwaralaba: suatupanduan praktislGunawan Widjaja.-
Ed. 1., Cet,2.-Jakarta: PTRajaGrafindo Persada, 2004.
viii, 280him., 21cm.
Bibliografi: him. 113
ISBN 979-421-885-5
1. Perjanjian lisensi-i-Aspekhukum
I. Judul Il, Seri
343.07
Hakcipta2002, padaPenulis
Dilarang mengutip sebagian atauseluruh isi
bukuini dengan earnapapun, termasuk dengan earn
penggunaan mesin fotokopi , tanpaizinsahdaripenerbit
Cetakan pertama,Februari 2002
Cetakan kedua, April 2004
2002.0685 RAJ
Gunawan Widjaja
USENSI ATAUWARALABA: Suatu Panduan Praktis
Hakpenerbitan padaPTRajaGrafindo Persada, Jakarta
Disain Cover olehRahmatika
Dicetak di FajarInterpratama Offset
PTRajaGrafindo Persada
JI. Pelepah Hijau IVTN.I. No. 14-15
Kelapa Gading Permai
Jakarta 14240
TellFax : 4520951-4529409
E-mail : rajaperstsindo.net.id
Http ://www.rajawaiipers.com
v
KATAPENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas selesainya Buku Lisensi atau Waralaba: Suatu Panduan
Praktis. Ucapan terima kasih juga tidak lupa penulis ucapkan
kepada PT RajaGrafindo Persada, yang kembali bersedia untuk
menerbitkan buku ini sebagai pelengkap atau supplemen dari dua
buku kami terdahulu,yaitu buku Seri Hukum Bisnis:Lisensi, dan Seri
Hukum Bisnis: Waralaba.
Dalam buku Seri Hukum Bisnis: Lisensi, dan buku Seri Hukum
Bisnis: Waralaba para pembaca disodorkan konsep dan konsepsi
dasar Iisensi dan waralaba, secara terpisah, sebagai bentuk-bentuk
pengembangan usaha (secara internasional) yang lebih moderat dan
menguntungkan dibanding sekadar hanya melakukan kegiatan
ekspor impor dan imbal beli secara tradisional. Melalui kedua
bentuk pengembangan usaha tersebut, yaitu Iisensi dan waralaba,
pengusaha memastikan dirinya memperoleh imbalan usaha yang
jauh lebih baik dan lebih besar, dengan tanpa melibatkan "investasi"
yang lebih besar lagi. Sebagai pelengkap dan untuk memperoleh
pemahaman yang lebih menyeluruh, khususnya dalam bentuk
implementasi dari konsep dan konsepsi Iisensi dan waralaba yang telah
VI Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
dijelaskan dalam kedua buku tersebut, dihadirkanlah buku ini yang
memberikan petunjukpraktis pembentukandan penyusunan perjanjian
pemberian lisensi dan perjanjian pemberian waralaba menurut
ketentuan hukum negara Republik Indonesia. Meskipun tidak spesifik
Indonesia, contohperjanjianpemberianlisensi dan perjanjianpemberian
waralaba yang diperoleh dari situs aslinya (Microsoft, W@P, dan Cityof
Pittsburgh) diharapkan dapat memberikan contoh konkret perjanjian
pemberian lisensi dan perjanjian pemberian waralaba.
Memiliki kedua buku Seri Hukum Bisnis, tentang Lisensi dan
Waralaba tanpa merriiliki buku ini rasanya kurang klop; dan seba-
liknya, sebagai kelanjutan, pelengkap atau supplemen dari kedua
buku Seri Hukum Bisnis tersebut, pemahaman akan buku ini akan
terasa sangat hambar tanpa didahului pengetahuan akan konsep dan
konsepsi dasar dari lisensi dan waralaba itu sendiri. Dengan memiliki
buku ini bersama-samadengan bukuSeri HukumBisnis, tentangLisensi
dan Waralaba, para pembaca sekalian akan mempunyai pengetahuan
yang komprehensif dan wawasan yang jernih tentang lisensi dan
waralaba. Bagi para pengusaha, pemahaman yang menyeluruh
tersebut akan sangat bermanfaat dalam melakukan pengembangan
usaha melalui lisensi dan atau waralaba diIndonesia, secara optimum.
Akhir kata penulis berharap, agar buku ini dapat memberikan
manfaat yang optimum bagi kalangan usahawan Indonesia yang ter-
libat secara langsung dalam dunia bisnis lisensi dan atau waralaba,
para akademisi, dan mereka yang tertarik dengan kegiatan usaha da-
lam bentuk lisensi dan atau waralaba. Sumbang saran dan kritik pem-
baca sekalian sangatlah diharapkan untuk menyempurnakan buku
ini lebih lanjut.
Jakarta, medio November 2001
Gunawan Widjaja
DAFTARISI
VII
KATA PENGANTAR
V
BABI PENDAHUlUAN
i
BABII KONSEPSI USENSI DAN WARALABA 9
A. Pengertian Iisensi 9
B. Makna dan Pengertian Franchise (Waralaba)
14
BAB III PENGATURAN USENSI DALAM HUKUM
POSITIF DI INDONESIA
21
A. Pengaturan Lisensi dalam Undang-Undang Rahasia
Dagang, Desain Industri dan Desain Tata Letak
Sirkuit Terpadu 23
B. Pengaturan Iisensi dalam Undang-Undang Merek 30
C. Pengaturan Iisensi dalam Undang-Undang Paten 35
D. Pengaturan Iisensi dalam Hak Cipta
42
BABN PENGATURAN WARALABA DALAM HUKUM POSITIF
DI INDONESIA 43
A. Pengantar 43
VIII Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
B. Waralaba Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 16
Tahun 1997 tanggal18]uni 1997 tentang Waralaba 48
C. Waralaba Menurut Keputusan Menteri Perindustrian
dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor:
259/MPPlKepl7/1997 tanggal30]uli 1997 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pendaftaran
Usaha Waralaba 55
BAB V USENSI ATAU WARALABA - BERBAGAI PERTIMBANGAN 61
A. Menyusun dan Membuat Perjaniian Ilsensi atau
Waralaba 61
B. Pembuatan dan Penyusunan Perjanjian Waralaba 80
C. Iisensi atau Waralaba 101
BAB VI PENUTUP 107
A. Kesimpulan 107
B. Saran 111
DAFfAR PUSTAKA
IAMPIRAN 1
Microsoft licensing Product Use Rights
IAMPIRAN2
license Agreement W@P
IAMPIRAN3
Franchise Agreement between the City ofPittsburgh
&AT&T Cable Services
113
123
186
196
1
1
PENDAHULUAN
Warren J. Keegen dalam bukunya Global Marketing Manage-
ment (Keegen, 1989: 294) mengatakan bahwa pengembangan usaha
seeara internasional dapat dilakukan dengan sekurangnya lima ma-
cam eara:
1. dengan eara ekspor,
2. melalui pemberian lisensi;
3. dalam bentukfranchising (waralaba);
4. pembentukan perusahaan patungan (joint ventures);
5. total ownership atau pemilikan menyeluruh, yang dapat di-
lakukan melalui direct ownership (kepemilikan langsung)
ataupun akuisisi.
Ekspor merupakan salah satu bentuk internasionalisasi produk
atau jasa yang paling sederhana tanpa melibatkan diri seeara lang-
sung dan mendalam dengan faktor-faktor ekonomi, sosial, dan politik
dari negara tujuan ekspor. Seperti dijelaskan dalam buku Seri Hukum
Bisnis: Transaksi Bisnis Internasional-Eksporlmpor danImbal Beli
(Widjaja dan Yani, 2000) kegiatan ekspor pada dasarnya merupakan
kegiatan jual beli yang dilakukan seeara internasional. Agak berbeda
2 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
dengan kegiatan jual beli pada umumnya, jual beli secara Interna-
sional ini melibatkan berbagai macam instrumen, sarana, dan lembaga
lainnya. Semua ini diperlukan agar, baik penjual (eksportir) maupun
pembeli (importir) mendapatkan hak-hak mereka secara layak seba-
gaimana mestinya.
Bagi pemilik usahalpengusaha, adakalanya kegiatan ekspor ini
tidak mendatangkan keuntungan yang optimum. Hal ini dapat terjadi
baik karena faktor-faktor teritorial yang berdampak ekonomis
maupun faktor-faktor yang bersifat politis. ]auhnya jarak yangharus
ditempuh oleh suatu produk dari negara asal menuju pada negara
tujuan adakalanya meningkatkan baik faktor biaya maupun faktor
risiko tidak sampainya produk yang diekspor ke negara tujuan. Faktor
biaya pengiriman yang cukup mahal dari negara asal menuju negara
tujuan ekspor kadangkala mernbuat produk yang diekspor kurang
dapat bersaing dengan produk sejenis yang dihasilkan oleh produ-
sen-produsen yang berasal dari, baik negara tujuan itu sendiri rnau-
pun negara sekitarnya. Faktor risiko yang disebutkan belakangan,
dari sudut pemasaran, merupakan hal yang boleh dikatakan sangat
buruk. Meskipun secara finansial, eksportir tidak dirugikan, namun
dalam distribusi produk ia sudah mengalami kemunduran. Hilangnya
barang atau produk eksportir dalam pasar (luar negeri) tentunya akan
segera diisi oleh produk lainnya yang sejenis, dan ini berarti hilang-
nya kesempatan bagi eksportir untuk mengembangkan usahanya
(Widjaja, 2001: 2).
Pembentukan perusahaan patungan untuk memproduksi ba-
rang atau jasa yang dihasilkan melahirkan risiko yang cukup besar
bagi seorang pengusaha, khususnya yang berhubungan dengan
masalah sosial politik dari negara di mana investasi akan dilakukan.
Demikian juga halnya investasi langsung (direct invesment) dan
akuisisi bisnis hanya mungkin dan akan dilakukan jika secara ekonomis,
Pendahuluan 3
sosial, dan politis dimungkinkan. Nasionalisasi, mungkin kata inilah,
yang senantiasa menghantui pengembangan usaha dalam bentuk
pendirian perusahaan, baik dalam bentuk usaha patungan atau kerja
sama maupun perusahaan yang dikuasai seluruhnya. Selain nasionali-
sasi, adakalanya struktur budaya dan aturan hukum yang berlaku
(cultural andlegal constraint) juga dapat menyulitkan dilakukannya
investasi Iangsung dan akuisisi bisnis oleh seorang pengusaha (Widjaja,
2001: 2-3).
Sebagai alternatif upaya untuk Iebih mendekatkan diri pada kon-
sumen di negara tujuan, serta untuk mengurangi dampak biaya trans-
portasi ekspor yang tinggi, serta risiko hiIangnya produk dari pasaran
sebagai akibat risiko transportasi dan embargo yang mungkin dilaku-
kan secara politis, maka mulailah diupayakan untuk mengembangkan
suatu bentuk usaha baru yang dikenal dengan nama lisensi (Widjaja,
2001: 3). Secara umum dalam Black's Law Dictionary, lisensi ini
diartikan sebagai "Apersona! priVilege to do some particular act or
. if "
senes 0 acts... .
atau
The permission bycompetent authority to do an act which, without
such permission would be illegal, a trespass, a tort, or otherwise
would notallowable.
Artinya, lisensi adaIah suatu bentuk hak untuk melakukan satu
atau serangkaian tindakan atau perbuatan yang diberikan oleh me-
reka yang berwenang daIam bentuk izin. Tanpa adanya izin tersebut,
maka tindakan atau perbuatan tersebut merupakan suatu tindakan
yang terlarang, yang tidak sah, yang merupakan perbuatan melawan
hukum (Widjaja, 2001: 3).
MelaIui lisensi, pengusaha memberikan izin kepada suatu pihak
untuk membuat produk yang akan dijual tersebut. Izin untuk mem-
4 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
buat produk tersebut bukan diberikan dengan curna-curna. Sebagai
imbalan dari pembuatan produk dan atau biasanya juga meliputi hak
untuk menjual produk yang dihasilkan tersebut, pengusaha yang
memberi izin memperoleh pembayaran yang disebut dengan nama
royalty. Besarnya royalti ini selalu dikaitkan dengan banyaknya atau
besarnya jumlah produk yang dihasilkan dan atau dijual dalam suatu
kurun waktu tertentu (Widjaja, 2001: 3).
Warren]. Keegen (Keegen, 1989: 296) menyatakan bahwa biaya
pemberian lisensi ini tidak besar, dan karenanya dapat meningkatkan
penjualan dan keuntungan perusahaan seeara lebih optimal. Meski-
pun demikian, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah bagi seorang
pengusaha yang ingin melebarkan dan mengembangkan sayap usaha-
nya melalui pemberian lisensi ini. Pemberian lisensi harus dilakukan
seeara selektif agar dapat tereipta suatu sinergi yang optimum (Wi-
djaja, 2001: 4).
Memang tidak dapat disangkal dengan kemampuan teknologi
dan pengetahuan (know bow) yang unik, dan biasanya sedikit lebih
maju atau inovatif, pengusaha dapat dengan mudah menawarkan
kelebihan kemampuannya tersebut kepada pihak lain untuk menjalan-
kan usahanya. Namun bukan hal itu yang menjadi sorotan, menurut
Keegen potensi mitra usaha yang diberikan lisensi merupakan kunci
utama keberhasilan suatu bentuk lisensi. Pemberian izin penggunaan
teknologi dan atau pengetahuan saja dalam banyak hal masih dirasa-
kan kurang eukup oleh kalangan usahawan, khususnya bagi mereka
yang berorientasi internasional. Bagi mereka konsumen di manapun
berada harus dapat mengenali keberadaan mereka. Oleh karena itu,
suatu kesamaan dalam segala wujud dan segi mulai dipikirkan. Me-
reka tidak hanya bieara soal teknologi atau pengetahuan yang sama
yang dipergunakan untuk membuat produk yang dihasilkan, me-
lainkan juga suatu eitra (image), pesona, eara-eara menghadapi
Pendahuluan 5
konsumen hingga pada penampilan yang serupa dan harga yang
hampir seragam. Pemberian lisensi kemudian berkembang dari
hanya bentuk lisensi teknologi menjadi lisensi dalam berbagai maeam
bentuk Hak atas Kekayaan Intelektual lainnya, termasuk-di dalamnya
lisensi atas merek dagang, hak cipta, desain industri, bahkan juga
rahasia dagang (Widjaja, 2001: 4).
Lisensi merupakan suatu bentuk pemberian hak, yang semen-
tara dapat bersifat eksklusif maupun bersifat noneksklusif. Pembe-
rian hak ini kemudian dirasakan tidak eukup, jika Pemberi Lisensi
bermaksud untuk melakukan "penyeragaman total", yang tidak
hanya dalam bentuk hak, tetapi juga kewajiban-kewajiban untuk
mematuhi dan menjalankan segala dan setiap perintah yang dikeluar-
kan, termasuk sistem pelaksanaan operasional kegiatan yang
diberikan Iisensi tersebut. Untuk itu maka mulai dikembangkanlah
Franchise (waralaba) sebagai altematifpengembanganusaha,khususnya
yang dilakukan seeara intemasional dan world wide. Sebagaimana
halnya pemberian Iisensi, waralaba ini pun sesungguhnya meng-
andalkan pada kemampuan mitra usaha dalam mengembangkan dan
menjalankan kegiatan usaha waralabanya melalui tata eara, proses
serta suatu code of conduct dan sistem yang .telah ditentukan oleh
pengusaha Franchisor. Dalam waralaba ini dapat dikatakan bahwa
sebagai bagian dari kepatuhan mitra usaha terhadap aturan main
yang diberikan oleh pengusaha Franchisor, maka mitra usaha
diberikan hak untuk memanfaatkan Hak atas Kekayaan Intelektual
dari pengusaha Franchisor, baik dalam bentuk penggunaan merek
dagang, merek jasa, hak eipta atas logo, desain industri, paten
berupa teknologi, maupun rahasia dagang. Pengusaha Franchisor
selanjutnya memperoleh imbalan royalti atas penggunaan Hak
atas Kekayaan Intelektual mereka oleh Penerima Waralaba (Widjaja,
2001: 4-5).
6 Lisensi atau\Varalaba:Suatu Pengantar Praktis
Demikianlah dapat kita lihat bahwa ternyata lisensi dan wara-
laba dapat dipergunakan oleh pengusaha untuk mengembangkan
usahanya secara tanpa batas (borderless) kemana pun juga ke seluruh
bagian dunia. Namun demikian, ada satu hal yang oleh Keegen
dikatakan perlu mendapat perhatian yang lebih saksama dari
seorang pengusaha yang akan memberikan lisensi dan atau waralaba,
yaitu masalah ketentuan hukum yang berlaku di negara di mana
lisensi atau waralaba akan diberikan atau dikembangkan. Menurut
Keegen adakalanya Penerima Iisensi atau Franchise dapat beralih
"wujud" dari mitra usaha menjadi kompetitor. Hal ini merupakan
suatu ancaman yang tidak pelak sangat merugikan kepentingan
pengusaha yang akan mengembangkan usahanya dalam bentuk lisensi
atau waralaba (Widjaja, 2001: 5).
Pada sisi lain, seorang atau suatu pihak Penerima Iisensi atau
waralaba yang menjalankan kegiatan usaha sebagai mitra usaha Pern-
beri Iisensi atau waralaba menurut ketentuan dan tata cara yang
dlberikan, juga kepastian bahwa kegiata_n usaha yang
sedang dijalankan olehnya tersebut memang sudah benar-benar
teruji dan memang merupakan suatu produk yang disukai oleh
_dapat mernberikan suatu manfaat (finansial)
baginya. Ini berarti lisensi dan waralaba sesungguhnya hanya
memiliki satu aspek yang didambakan baik oleh pengusaha Pemberi
Iisensi atau waralaba maupun mitra usaha Penerima Iisensi dan
Franchise, yaitu masalah kepastian dan perlindungan hukum (Widjaja,
2001: 5)..: .. ._ .
p_e!1gan demikian maka sesungguhnya seorang pengusaha diha-
investasi tidak.langsung,..yaitu lisensi atau
waralaba. Mana yang akan dipilih dan dipergunakan sebagai metode
pengembangan usaha sangat bergantungpada iklim hukum yang
berlaku di suatu negara. Ini berarti seorang pengusaha yang akan
Pendabuluan 7
mengembangkan usahanya di Indonesia, melalui lisensi atau wara-
laba, harus memperhatikan dengan cermat dan saksama, bagaimana
ketentuan hukum yang ada di negara Republik Indonesia, yang
mengatur mengenai lisensi dan waralaba. Pengaturan hukum yang
berbeda akan membawa kepada konsekuensi ekonomis yang juga
mungkin akan berbeda. Atas dasar pemikiran tersebut maka rasanya
perlu bagi para pengusaha tersebut untuk mengetahui secara jelas
bagaimana sesungguhnya pengaturan mengenai lisensi dan waralaba
di Indonesia.
Buku ini, yang terdiri dari enam bab diharapkan dapat menja-
wab pertanyaan tersebut dan memberikan pedoman praktis bagi
kalangan usahawan dalam memilih dan menentukan bentuk pengem-
bangan usaha di Indonesia yang hendak ditempuh "Iisensi atau
Waralaba". Bab perrama merupakan bab pendahuluan memberikan
gambaran umum mengenai bentuk-bentuk, pengembangan usaha
(secara intemasional) yang dapat ditempuh oleh setiap pengusaha
yang bermaksud untuk melakukan pengembangan usahanya, dari
bentuk yang paling.konvensional hingga penyertaan langsung. Bab
kedua menjelaskan mengenai konsepsi lisensi dan waralaba, sebagai
suatu bentuk pengembangan usaha. Bab ketiga menguraikan ke-
tentuan yang mengatur mengenai lisensi di Indonesia. Bab keempat
menjelaskan mengenai pengaturan waralaba di Indonesia. Bab
kelima yang merupakan tema sentral tulisan ini menjabarkan proses
pembuatan dan penyusunan suatu perjanjian lisensi dan perjanjian
waralaba menurut ketentuan hukum negara Republik Indonesia.
Selanjutnya dalam bab kelima ini juga akan dijelaskan perbedaan
dalam pembuatan dan penyusunan perjanjian lisensi dan perjanjian
waralaba yang harus diperhatikan oleh para pengusaha yang ber-
maksud mengembangkan usahanya di Indonesia. Perbedaan-
perbedaan menurut hukum tersebut, dengan segala konsekuensinya
8 lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praetis
diharapkan dapat menjadi dan merupakan pertimbangan pokok
dalam memilih bentuk ''Lisensi atauWaralaba" agar nantinya tidak
terjebak dalam sistem hukum yang berlaku. Bab keenam yang meru-
pakan bab penutup akan memberikan kesimpulan dan saran yang
diharapkan dapat bermanfaat bagi praktik dunia usaha.
9
2
KONSEPSI LISENSI DAN
WARALABA
A. PENGERTIAN LISENSI
Seperti telah disebutkan dalam Bab I Buku ini, dalam Black's
law Dictionary lisensi ini diartikan sebagai <lApersonal privilege to
do some particular act orseries ofacts ..."
atau
The permission bycompetent authority to do an act which, without
suchpermission wouldbeillegal, a trespass, atort, orotherwise would
notallowable.
Ini berarti lisensi selalu dikaitkan dengan kewenangan dalam
bentuk privilege untuk melakukan sesuatu oleh seseorang atau
suatu pihak tertentu. Pengertian yang umum, dalam Black's law
Dictionary, penggunaan istilah lisensi senantiasa dikaitkan dengan
penggunaan atau pemanfaatan tanah berdasarkan pada izin yang
diberikan oleh otoritas atau pihak yang berwenang, dalam hal ini
adalah pejabat atau instansi pemerintah terkait. Selanjutnya, jika kita
coba telusuri lebih jauh makna lisensi yang diberikan dalam Black's
law Dictionary, di mana dikatakan bahwa Licensing adalah "The
sale of a license permitting the use of patents, trademarks, or the
10 lisensiatauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
technology toanotherfirm ': dapat kita tarik suam kesimpulan bahwa
makna lisensi secara tidak langsung sudah bergeser ke arah "penjual-
an'; izin (privilege) untuk mempergunakan paten, hak atas merek
(khususnya merek dagang) atau teknologi (di luar perlindungan
paten =rahasia dagang) kepada pihak lain (Widjaja, 2001: 7-8). Sampai
sejauh ini pun sesungguhnya lisensi masih dikaitkan dengan kewe-
nangan dalam bentuk privilege tersebut yang diberikan oleh negara
untuk menggunakan dan memanfaatkan paten, rahasia dagang
maupun teknologi tertentu. Dengan rumusan tersebut pun dapat
kita tarik suatu kesimpulan bahwa lisensi merupakan hak privilege
yang bersifat komersial, dalam ani kata memberikan hak dan
kewenangan untuk memanfaatkan paten maupun merek dagang atau
teknologi yang dilindungi secara ekonomis.
Pihak yang "rnenjual" atau memberikan lisensi tersebut dise-
but dengan nama Licensor (atau Pemberi Lisensi), dan pihak yang
menerima lisensi disebut dengan nama Licensee (atau Penerima
Lisensi). Dalam Black's LawDictionaryLicensoradalah "Theperson
who gives orgrants a license': dan Licensee adalah "Person towhom
a license hasbeengranted".
Jika kita coba lihat pengertian lain tentang Lisensi, seperti
misalnya yang dirumuskan dalam Law Dictionary karya PH Collin,
di mana Lisensi didefinisikan sebagai:
Official document which allows someone to do something orto use
something;
Permission given by someone to do something which would other-
wise be illegal.
Tampak bahwa ternyata rumusan yang diberikan tidak jauh berbeda
dari yang diberikan dalam Black's Law Dictionary sebagaimana
telah kita bahas di atas, Rumusan tersebut pun lebih menekankan
Konsepsi Lisensi dan IVaralaba 11
pada pemberian izin dalam bentuk dokumen (tertulis) untuk me-
lakukan sesuatu atau untuk memanfaatkan sesuatu, yang tanpa izin
tersebut merupakan suatu perbuatan yang tidak sah atau tidak diper-
kenankan oleh hukum.
Selanjutnya dalam Law Dictionary karya PH Collin tersebut
dapat kita temukan lagi suatu pengertian yang berhubungan dengan
Iisensi, yaitu Licensing Agreement, yang diartikan sebagai "Agreement
where aperson isgranted a license to manufacture something orto
use something, but not anoutright sale".
Dari pengertian yang diberikan tersebut dapat kita lihat bahwa
ternyata pengertian Iisensi pun mengalami perluasan ke dalam ben-
tuk izin untuk memproduksi atau untuk memanfaatkan sesuatu, yang
tidak atau bukan merupakan suatu bentuk penjualan lepas.
]ika kita lihat pengertian Licensing yang diberikan oleh Betsy-
Ann Toffler dan]ane Imber dalam Dictionary of Marketing Terms,
di mana Licensing diartikan sebagai: .
Contractual agreement between two business entities in which li-
censor permits the licensee to use a brand name, patent, or other
proprietary right, inexchangeforafee orroyalty.
Licensing enables the licensor to profit from the skills, expansion
capital, orother capacity ofthe licensee.
Licensing is often used by manufacturers to enter foreign markets
inwhich they have noexpertise.
The licensee benefitsfrom the name recognition andcreativity ofthe
licensor.
kita dapat mengatakan bahwa Iisensi, dalam pengertian yang lebih
lanjut senantiasa melibatkan suatu bentuk perjanjian (kontrak tertu-
lis) dari Pemberi Lisensi dan Penerima Usensi. Perjanjian ini sekaligus
12 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
berfungsi sebagai dan merupakan bukti pemberian izin dari Pemberi
Lisensi kepada Penerima Lisensi untuk menggunakan nama dagang,
paten atau hak milik lainnya (Hak atas Kekayaan Intelektual). Pem-
berian hak untuk memanfaatkan Hak atas Kekayaan Intelektual ini
dlsertai dengan imbalan dalam bentuk pembayaran royalti oleh
Penerima Lisensi kepada Pemberi Lisensi.
Rumusan tersebut melihat dua sisi keuntungan yang diperoleh,
baik dari sisi Pemberi Lisensi maupun Penerima Lisensi. Bagi Pemberi
Lisensi, dikatakan bahwa lisensi memungkinkan Pemberi Lisensi un-
tuk memperoleh manfaat dari keahIian, modal, dan kemampuan
Penerima Lisensi, sebagai mitra usaha yang mengembangkan usaha
yang dimiIiki oleh Pemberi Lisensi. Selanjutnya Penerima Lisensi
dapat memanfaatkan nama besar dari Pemberi Iisensi serta Hak atas
Kekayaan Intelektual dan kretivitas Pemberi Lisensi, tanpa Penerima
Lisensi sendiri harus mengembangkannya dari awal. ]adi dari sini
diharapkan dapat tercipta sinergi keduanya.
Wilbur Cross dalam Dictionary of Business Terms tidak
memberikan rurnusan dari Lisensi, namun dikatakan bahwa Licensing
Agreement adalah:
Acontract permitting one party to ensure one or more operations
of another party, such as manufacturing, selling, or servicing, in
consideration for monetary remuneration or other benefit, as
specified.
Pengertian ini boleh dikatakan sejalan dengan pengertian yang
diberikan oleh Betsy-Ann Toffler dan ]ane Imber dalam Dictionary
of Marketing Terms, hanya saja pengertian yang diberikan Wilbur
Cross tidak memasukkan unsur Hak atas Kekayaan Intelektual,
melainkan dalam bentuk yang lebih umum, yaitu dalam bentuk
produksi, penjualan maupun pemberian jasa.
Konsepsi lisensi danWaralaba 13
Pengertian lisensi, yang telah berkembang (dari sekadar privi-
lege yang diberikan oleh negara atas pemanfaatan tanah) , telah pula
diambil alih dalam peraturan perundang-undangan Republik
Indonesia sebagaimana dapat dilihat dalam, Undang-Undang No. 30
Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang, Undang-Undang No. 31 Tahun
2001 tentang Desain Industri, Undang-Undang No. 32 Tahun 2000
tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, Undang-Undang No. 14
Tahun 2001 tentang Paten, dan Undang-Undang No. 15 Tahun 2001
tentang Merek; yang semuanya mengatur mengenai Hak atas
Kekayaan Intelektual (Widjaja, 2001: 43-44). Adapun rumusan atau
pengertian lisensi yang diberikan dalam kelima undang-undang
tersebut adalah, secara berturut-turut sebagai berikut:
Lisensi adalab izin yang diberikan oleb pemegang Hak Rabasia
Dagang kepada pibak lain melalui suatu perjanjian berdasarkari
pada pemberian bak (bukan pengaliban bak) untuk menikmati
manfaat ekonomi dari suatuRabasia Dagang yangdiberi perlin-
dungan dalamjangkawaktu tertentu dansyarat tertentu (Undang-
Undang No. 30Tabun 2000).
Lisensi adalab izinyangdiberikan oleb pemegang Hak Desain In-
dustri kepada pibak lain melalui suatu perjanjian berdasarkan
pada pemberian bak (bukan pengaliban bak) untuk menikmati
manfaat ekonomi dari suatu Desain Industri yang diberi perlin-
dungan dalamjangkawaktu tertentu dansyarat tertentu (Undang-
Undang No. 31 Tabun 2000).
Lisensi adalab izin yang diberikan oleb PemegangJ!q!L!!epada
pibaklain melalui suatu perjanjian berdasarkan padapemberian
bak (bukan pengaliban bak) untuk menikmati manfaat ekonomi
dari suatu De'sain Tata Letak Sirkuit Terpadu yang diberi perlin-
.dungan dalamjangkawaktu tertentu dan syarat tertentu (Undang-
Undang No. 32 Tabun 2000).
14 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Paten kepada
pihak lain berdasarkan perjanjian pemberian hak untuk menik-
mati manfaat ekonomi dari suatu patenyangdiberi perlindungan
dalamjangka waktu dansyarat tertentu (Pasal1 angka 13 Undang-
Undang No. 14Tahun 2001).
Lisensi adalab izin yang diberikan Pemilik Merek terdaftar ke-
padapibaklain melalui suatu perjanjian berdasarkan padapem-
berian hak (bukan pengalihan hak) untuk menggunakan Merek
tersebut, baik untuk seluruh atau sebagian jenis barang danlatau
jasa yang didaftarkan dalam jangka waktu tertentu dan syarat
tertentu (pasal1 angka 13 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001).
Demikianlah dapat kita lihat bahwa lisensi adalah suatu bentuk
pemberian izin pemanfaatan atau penggunaan Hak atas Kekayaan
Intelektual, yang bukan pengalihan hak, yang dimiliki oleh pemilik
lisensi kepada Penerima Lisensi, dengan imbalan berupa royalti.
Dalam pengertian ini tersirat bahwa seorang Penerima Lisensi adalah
independen terhadap Pemberi Lisensi, dalam pengertian bahwa
Penerima Lisensi menjalankan sendiri usahanya, meskipun dalam
menjalankan kegiatan usahanya tersebut ia mempergunakan atau
memanfaatkan hak atas kekayaan intelektual milik Pemberi Lisensi,
yang untuk hal ini Penerima Lisensi membayar royalti kepada
Pemberi Lisensi (Widjaja, 2001: 44).
B. MAKNADANPENGERTIANFRANCHISE(WARALABA)
PH Collin, dalam Law Dictionary mendefinisikan Franchise
sebagai "License to trade using a brand name andpaying'a royalty
for it': dan franchising sebagai ''Act ofselling a license totrade asa
Francbisee" . Definisi tersebut menekankan pada pentingnya
peran nama dagang dalam pemberian waralaba dengan imbalan
royalti,
Konsepsi Lisensi dan Waralaba 15
Sejalan namun agak berbeda, Francbise atau Waralaba dalam
Black's Law Dictionary diartikan sebagai:
Aspecial privilege granted orsold, such astouse a name or tosell
products orservices.
In its simple terms, a Franchise isa license from owner of a trade-
mark ortrade name permitting another tosell aproduct orservice
under that name ormark.
More broadly stated, a Franchise has evolved into an elaborate
agreement under which the Franchisee undertakes to conduct a
business orsell aproduct orservice inaccordance with methods and
procedures prescribed by the Franchisor, andthe Franchisor under-
takes to assist the Franchisee thorugh advertising, promotion and
other advisory services.
Rumusan di atas menunjukkan pada kita semua bahwa wara-
laba ternyata juga mengandung unsur-unsur sebagaimana yang
diberikan pada Iisensi, hanya saja dalam pengertian waralaba seperti
diberikan dalam Black's Law Dictionary, lebih menekankan pada
pemberian hak untuk menjual produk berupa barang atau jasa
denganmemanfaatkanmerekdagangFrancbisor (PemberiWaralaba) ,
dengan kewajiban pada pihak Francbisee (Penerima Waralaba)
untuk mengikuti metode dan tata cara atau prosedur yang telah
ditetapkan oleh Pemberi Waralaba. Dalam kaitannya dengan pern-
berian izin dan kewajiban pemenuhan standar dari Pemberi Waralaba,
Pemberi Waralaba akan memberikan bantuan pemasaran, promosi
maupun bantuan teknis lainnya agar Penerima Waralaba dapat
menjalankan usahanya dengan baik.
Pemberian waralaba ini didasarkan pada suatu Franchise Agree-
ment, yang menurut Black's Law Dictionary adalah:
16 Iisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
Generally, anagreement between asupplierofaproduct orservice or
an owner of a desired trademark or copyright (Franchisor), anda
reseller (Franchisee) under which the Franchisee agrees to sell the
Franchisor product orservice ortobusiness under the Franchisor's
name.
Dalam pengertian yang demikian dapat kita tarik suatu kesim-
pulan bahwa seorang Penerima Waralaba juga menjalankan usahanya
sendiri tetapi dengan mempergunakan merek dagang atau merek
jasa serta dengan memanfaatkan metode dan tata cara atau prosedur
yang telah ditetapkan oleh Pemberi Waralaba. Kewajiban untuk
mempergunakan metode dan tata cara atau prosedur yang telah
ditetapkan oleh Pemberi Waralaba oleh Penerima Waralaba mem-
bawa akibat lebih lanjut bahwa suatu usaha waralaba adalah usaha
yang mandiri, yang tidak mungkin digabungkan dengan kegiatan
usaha lainnya (milik Penerima Waralaba). Ini berarti pemberian
waralaba menuntut eksklusivitas, dan bahkan dalam banyak hal
mewajibkan terjadinya noncompetition clause bagi Penerima
Waralaba, bahkan setelah perjanjian pemberian waralabanya berakhir
(Widjaja, 2001: 8-9) .
Pengertian mengenai eksklusivitas di atas dapat kita telusuri
lebih jauh dari pengertian Franchised Dealer dalam Black's Law
Dictionary, di mana dikatakan bahwa Franchise Dealer adalah:
Aretailer who sells the product orservice ofa manufacturer orsup-
plier under a Franchise agreement which generally protects the
territory for the retailer and provides advertising and promotion
support tohim.
Pengertian Franchise Dealer tersebut menunjukkan pada kita
semua bahwa eksklusivitas yang diberikan oleh Penerima Waralaba
juga ternyata (adakalanya) diimbangi oleh pemberian eksklusivitas
oleh Pemberi Waralaba kepada Penerima Waralaba atas suatu
wilayah kegiatan tertent
ll
.
Konsepsi Lisensi dan Waralaba 17
Makna eksklusivitas yang diberikan dalam Black's Law Dictio-
nary, juga diakui dalam Kamus Istilah Keuangan dan Investasi
karya John Downes dan Jordan Elliot Goodman, yang memberikan
arti bagi Franchise (Hak Kelola) sebagai:
Suatu bak kbusus yang diberikan kepada dealer oleb suatu usaba
manufaktur atau organisasi jasa ioaralaba, untuk menjual pro-
duk ataujasapemilik waralaba di suatu uiilayab tertentu, dengan
atautanpa eksklusivitas.
Pengaturan seperti itukadangkala diresmikan dalam suatu Fran-
cbise agreement (perjanjian bakkelola), yang merupakan kontrak
antarapemilik bakkelola danpemegang bakkelola.
Kontrak menggariskan babwa yang disebutkan pertama dapat
menawarkan konsultasi, bantuan promosional, pembiayaan, dan'
manfaat lain dalam pertukaran dengan suatu persentase dari
penjualan ataulaba.
Bisnis dimiliki pemegang bak kelola yang biasanya barus meme-
nubisuatu persyaratan investasi tunaiawal.
Daripengertian tersebut dapat kita lihat bahwa pengertian Fran-
chise yang diberikan dalam Kamus Istilah Keuangan dan Investasi
tersebut lebih menekankan pada pemberiari konsultasi, bantuan
promosional, dan pembiayaan serta manfaat lain yang diberikan oleh
Pemberi Waralaba kepada Penerima Waralaba dengan pertukaran
dengan suatu persentase dari penjualan atau laba (royalti) dari Pene-
rima Waralaba kepada Pemberi Waralaba.
Satu pengertian lain yang mendapat penekanan dari penger-
tian waralaba menurutJohn Downes dan Jordan Elliot Goodman da-
lam Kamus Istilah Keuangan dan Investasi tersebut adalah
bahwa waralaba biasanya juga memenuhi persyaratan investasi awal
tunai yang harus disediakan oleh Penerima Waralaba.
18 Lisensi atau Waralaba: Suatu Pengantar Prahtis
Dalam Dictionary of Marketing Terms oleh Betsy-Ann
Tamer dan laneImber, Franchise diartikan sebagai:
License granted bya company (the Franchisor) toan individual or
firm (the Franchisee) tooperate a retail, food, or drug outlet where
the Franchisee agrees to use the Franchisor's name; products; servi-
ces; promotions; selling, distribution, and display methods; and
other company support.
Right tomarket a company's goods orservices ina specific territory,
which right has been granted by the company to an individual,
group ofindividuals, marketinggroup, retailer, orwholesaler.
Specific territory oroutlet involved insuch a right.
Pengertian tersebut dibedakan dari makna BrandFranchise yang
dirumuskan sebagai:
Arrangement between a brand name manufacturer and a who-
lesaler or retailer that gives the wholesaler or retailer the exclusive -
right tosell the brand manufacturer'sproduct inaspecific territory.
This arrangement is usually done bycontractual agreement over a
period oftime.
Abrand Franchise allows the wholesaler or retailer tosell the pro-
duct in a noncompetitive market and therefore to set price limita-
tions asthe traffic will bear.
]adi dalam hal ini jelas bahwa waralaba melibatkan suatu kewa-
jiban untuk menggunakan suatu sistern dan metode yang ditetapkan
oleh Pemberi Waralaba termasuk di dalamnya hak untuk memper-
gunakan merek dagang. Pengertian waralaba (yang umum) ini
dibedakan dari waralaba nama dagang yang memang rnengkhusus-
kan diri pada perizinan penggunaan nama dagang dalam rangka
pemberian izin untuk melakukan penjualan produk Pemberi
Konsepsi Lisensi dan Waralaba 19
i('aralaba dalam suatu batas wilayah tertentu, dalam suatu pasar
yang bersifat non-kompetitif. Makna yang terakhir ini menyatakan
bahwa pemberian waralaba nama dagang seringkali terikat dengan
tewajiban untuk memenuhi persyaiatan penentuan harga yang
telah ditetapkan dan digariskan oleh Pemberi Waralaba. Eksklusivitas
dan penentuan harga yang relatif seragam ini perlu mendapat
perhatian khusus pada negara-negara yang sudah memberikan
pengaturanmengenai anti-trust.
Pengertian yang lain dari kegiatan atau aktivitas waralaba di-
berikan oleh Wilbur Cross dalam Dictionary of Business Terms,
yangmerumuskan Franchise sebagai:
A business enterprise that is established under the authority and
jurisdiction ofaparent company, known asaFranchiser, andsubject.
tothe latter's operational policies, procedures, andstipulations. The
concept ofjranchising dates back to mediaeval times when Lords of
the land granted the right toone of their knights togovern part of
their domain. Markets andfairs were also conducted under Fran-
chise, as were certain other commercial activities. Today the terms
of a Franchise contract may include such items as rates and ser-
vices to be provided by the grantee, payments to the grantor, and
provisions for termination of the Franchise. Municipalities grant
Franchises to public utility companies giving them monopolies in
electrical, gas, or telephone services but reserving the right to re-
gulate them. Common forms of business in which Franchises thrive
are retail operations, hotels and motels, fast food chains, printing,
photocopying, mailing services, automobile dealersbips, and gre-
eting card shops. The Franchiser furnishes the Franchisee with its
name and trademark, architectural design, and operating proce-
dures. Approximately one outofevery three dollars inthe retail field
goes to aFranchise operation.
dan yang dimaksud dengan Penerima Waralaba adalah:
20 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
The individual(s) or firm that consents to operate a Franchise
from a parent company, under a license with exclusive rights tosell
products or perform services within a designated geographical
territory.
Dari pengertian, definisi maupun rumusan yang telah diberikan
di atas, dapat kita katakan bahwa pada dasarnya waralaba merupa-
kan salah satu bentuk pemberian lisensi, hanya saja agak berbeda
dengan pengertian lisensi pada umumnya, waralaba menekankan
pada kewajiban untuk mempergunakan sistern, metode, tata cara,
prosedur, metode pemasaran dan penjualan maupun hal-hal lain yang
telah ditentukan oleh Pemberi Waralaba secara eksklusif, serta tidak
boleh dilanggar maupun diabaikan oleh Penerima Lisensi. Hal ini
mengakibatkan bahwa waralaba cenderung bersifat eksklusif. Seorang
atau suatu pihak yang menerima waralaba tidaklah dimungkinkan
untuk melakukan kegiatan lain yang sejenis atau yang berada dalam
suatu lingkungan yang mungkin menimbulkan persaingan dengan
.kegiatan usaha waralaba yang diperoleh olehnya dari Pemberi
Waralaba. Noncompetition merupakan suatu isu yang sangat penting
dalam waralaba (Widjaja, 2001: 12).
Demikianlah dalam Peraturan Pemerintah RI No.16 Tahun 1997
tanggal18[uni 1997 tentang Waralaba dikatakan bahwa:
''Waralaba adalab perikatan di mana salab satu pibak diberikan
hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas ke-
kayaan intelektual atau penemuan atau ciri kbas usaba yang di-
miliki pibak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan
danataupenjualan barang danataujasa" (pasal1 angka 1).
21
3
PENGATURAN LISENSI DALAM
HUKUMPOSITIF DIINDONESIA
Seperti telah disebutkan terdahulu dalam Bab II pengertian H
sensi, yang telah berkembang (dari sekadar privilege yang dlberikan
oleh negara atas pemanfaatan tanah), telah pula diambil alih dalam
peraturan perundang-undangan Republik Indonesia sebagaimana
dapat dilihat dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 tentang
Rahasia Dagang, Undang-Undang No. 31 Tahun 2000 tentang Desain
Industri, Undang-Undang No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata
Letak Sirkuit Terpadu, Undang-Undang No. 14 Tahun 2001 tentang
Paten, dan Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek; yang
semuanya mengatur mengenai Hak atas Kekayaan Intelektual. Adapun
rumusan atau pengertian lisensi yang diberikan dalam kelima
undang-undang tersebut adalah, secara berturut-turut sebagai
berikut:
Lisensi ada/ab izin yang diberikan o/eb pemegang Hak Rabasia
Dagang kepada pibak lain me/a/ui suatu perjanjian berdasarkan
pada pemberian bak (bukan pengaliban bak) untuk menikmati
manfaat ekonomi dari suatu Rabasia Dagang yang diberi perlin-
dungan da/amjangka waktu tertentu dansyarat tertentu (Undang-
Undang No. 30Tabun 2000).
22 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
lisensi adalah izin yangdiberikan oleh pemegang Hak Desain In-
dustri kepada pibak lain melalui suatu perjanjian berdasarkan
pada pemberian hak (bukan pengaliban hak) untuk menihmati
manfaat ekonomi dari suatu Desain Industri yang diberi perlin-
dungan dalamjangka waktu tertentu dansyarat tertentu (Undang-
Undang No. 31 Tahun 2000).
Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Hak eepada
pihaklainmelalui suatu perjanjian berdasarkan pada pemberian
hak (bukan pengaliban hak) untuk menikmati manjaat ekonomi
dari suatu Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu yang diberi perlin-
dungan dalamjangka waktu tertentu dan syarat tertentu (Undang-
Undang No. 32 Tahun 2000).
Lisensi adalah izin yangdiberikan oleh Pemegang Paten kepada
pihak lain berdasarkan perjanjian pemberian hak untuk menik-
mati manjaat ekonomi darisuatu Paten yangdiberi perlindungan
dalamjangka waktu dansyarat tertentu (Pasal I angka 13 Undang-
Undang No. 14Tahun 2(01).
Lisensi adalah izinyangdiberikan Pemilik Merek terdaftar kepada
pibaklainmelalui suatu perjanjian berdasarkan pada pemberian
hak (bukan pengaliban hak) untuk menggunakan Merek tersebut,
baikuntukseluruh atausebagianjenisbarang danlatau jasayang
didaftarkan dalam jangka waktu tertentu dan syarat tertentu
(Pasal I angka 13 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001).
Ini berarti lisensi adalah suatu bentuk pemberian izin peman-
faatan atau penggunaan Hak atas Kekayaan Intelektual, yang bukan
pengalihan hak, yang dimiliki oleh pemilik lisensi kepada Penerima
Lisensi, dalam jangka waktu dan syarat tertentu, yang pada umumnya
disertai dengan imbalan berupa royalti. Penerima Lisensi adalah
independen terhadap Pemberi Lisensi, dalam pengertian bahwa
Penerima Lisensi menjalankan sendiri usahanya, meskipun dalam
menjalankan kegiatan usahanya tersebut ia mempergunakan atau
Pengaturan Lisensi Dalam Hukum Positijdi Indonesia 23
memanfaatkan Hak atas Kekayaan Intelektual milik Pemberi Lisensi,
yang untuk hal ini Penerima Lisensi membayar royalti kepada
Pemberi Lisensi (Widjaja, 2001: 44).
A. PENGATURAN LISENSI DALAM UNDANG-UNDANG
RAHASIA DAGANG, DESAIN INDUSTRI DAN DESAIN
TATA LETAK SIRKUIT TERPADU
Definisi mengenai lisensi yang diberikan dalam Undang-Undang
No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang, Undang-Undang No. 31
Tahun 2001 tentang Desain Industri, dan Undang-Undang No. 32
Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dapat kita
pilah-pilah ke dalam beberapa unsur, yang meliputi:
1. adanya izin yang diberikan oleh Pemegang Hak Rahasia Dagang,
Hak atas Desain Industri, maupun Hak atas Desain Tata Letak
Sirkuit Terpadu;
2. izin tersebut diberikan dalam bentuk perjanjian:
3. izin tersebut merupakan pemberian hak untuk menikrnati
manfaat ekonomi (yang bukan bersifat pengalihan hak);
4. izin tersebut diberikan untuk Rahasia Dagang, Desain Industri
maupun Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu yang diberi perlin-
dungan;
5. izin tersebut dikaitkan dengan waktu tertentu, dan syarat tertentu.
Pemberian lzin aleh Pemegang Hak
Adanya izin merupakan syarat mutlak adanya lisensi. Ketiga
undang-undang tersebut mensyaratkan bahwa izin tersebut harus
diberikan oleh Pemegang Hak yang berhak (dan atau Pemilik Hak
menurut Undang-Undang No. 30 Tahun 2000). Tidak hanya pengung-
kapan Rahasia Dagang yang dapat dikenakan sanksi pidana, penggu-
24 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
naan dan pemakaian Rahasia Dagang secara tidak berhak, perolehan
Rahasia Dagang secara tidak sah atau bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku dapat dikenakan sanksi pidana.
Demikian juga mereka yang tanpa persetujuannya membuat, me-
makai, menjual, mengimpor, mengekspor, dan/atau mengedarkan
barangyangdiberi Hak Desain Industri (Pasal9ayat (1) Undang-Undang
No. 31 Tahun 2000), dan tanpa hak memakai, menjual, mengimpor,
mengekspor dan/atau mengedarkan barang yang di dalamnya
terdapat seluruh atau sebagian Desain yang telah diberi Hak Desain
Tata Letak Sirkuit Terpadu (Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang No. 32
Tahun 2000) juga dikenakan sanksi pidanaberdasarkan Pasal54 ayat (1)
Undang-Undang No. 31 Tahun 2000 dan Pasal 42 ayat (1) Undang-
Undang No. 32 Tahun 2000. ]adi jelas bahwa izin dari pihak yang
berhak dan berwenang untuk memberikan Iisensi merupakan suatu
hal yang mutlak harus dipenuhi agar terhindar dari sanksi pidana.
.IzinyangDiberikan Hams Dituangkan Dalam Bentuk Perjanjian
Ketentuan ini membawa konsekuensi bahwa Iisensi harus di-
buat secara tertulis antara pihak Pemberi Lisensi (yaitu Pemegang
Hak yang sah termasuk Pemilik Hak Rahasia Dagang) dengan pihak
Penerima Lisensi. Ini berarti juga perjanjian pemberian Iisensi ini
merupakan perjanjian formal, yang harus memenuhi bentuk yang
tertulis.
Sebagai suatu perjanjian, ketentuan-ketentuan yang diatur da-
lam Pasal9 ayat (1) Undang-Undang No. 30 Tahun 2000, Pasal36 ayat
(1) Undang-Undang No. 31 Tahun 2001 dan Pasal28 ayat (1) Undang-
Undang No. 32 Tahun 2001 merupakan batasan syarat objektif
bagi sahnya perjanjian Iisensi di negara Republik Indonesia. Adapun
rumusan Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang No. 30 Tahun 2000, Pasal
36 ayat (1) Undang-Undang No. 31 Tahun 2001 dan Pasal 28 ayat (1)
Pengaturan Lisensi Dalam Hukum Positl]di Indonesia 25
.... ndang-UndangNo. 32 Tahun 2001 adalah sebagai berikut:
Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat
menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia
atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaba
tidak sebat sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Dalam hal terdapat suatu perjanjian lisensi yang memuat keten-
man yang dapat menimbulkan akibat yang merugikan perekono-
mian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan per-
saingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan yang berlaku, maka Direktorat ]enderal yang
membawahi pencatatan perjanjian lisensi tersebut wajib menolak
pencatatan perjanjian lisensi yang memuat ketentuan tersebut.
Pemberian Hak untuk Menikmati Manfaat Ekonomi yang Bukan
Bersifat Pengaliban Hak
Tidak ada suatu pengertian yang jelas maupun pasti dari
rumusan yang diberikan tersebut, hanya saja dalam Penjelasan Pasal 6
Undang-Undang No. 30 Tahun 2000, yang lengkapnya berbunyi:
Berbeda dengan perjanjian yang menjadi dasar pengaliban Ra-
basia Dagang, Lisensi banya memberikan bak secara terbatas
dan dengan waktu yang terbatas pula. Dengan demikian, Lisensi
banya diberikan untuk pemakaian atau penggunaan Rabasia
Dagang dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan pertimbangan
babwa si/at Rabasia Dagang yang tertutup bagi pibak lain, pelak-
sanaan Lisensi dilakukan dengan mengirimkan atau mem-
perbantukan secara langsung tenaga abli yang dapat menjaga
Rabasia Dagang itu.
Hal itu berbeda, misalnya, dari pemberian bantuan teknis yang
biasanya dilakukan dalam rangka pelaksanaan proyek, peng-
26 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
operasian mesin baru atau kegiatan lain yang khusus dirancang
dalam rangka bantuan teknik.
dapat kita tarik suatu kesimpulan sederhana bahwa dalam Lisensi
dikenal adanya batas waktu, yang secara esensil (menurut Undang-
Undang No. 30 Tahun 2000 ini) berbeda dari pengalihan Hak
Rahasia Dagang. Analogi yang serupa dapat juga kita terapkan terhadap
lisensi Desain Industri dan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, mes-
kipun Penjelasan tersebut tidak dapat kita temui dalam Penjelasan
Pasal33 Undang-Undang No. 31 Tahun 2000 dan Penjelasan Pasal25
Undang-Undang No. 32 Tahun 2000.
Selanjutnya dari rumusan penjelasan tersebut dapat pula kita
ketahui bahwa Lisensi ini secara prinsip juga berbeda dengan perjan-
jian pemberian bantuan teknis (technical assistant) yang berkaitan
dengan pelaksanaan proyek, pembelian mesin baru atau hal-hallain
yang berkaitan dengan masalah teknik. Rumusan ini sebenarnya
.. rnempertegas kembali makna dari Rahasia Dagang, sebagai suatu
.inforrnasi yang bersifat rahasia dan hanya diketahui oleh kalangan
terbatas, dalam arti bukan sesuatu yang telah diketahui secara luas
oleh umum.
Hanya Diberikan untuk Hak yang Diberi Perlindungan
Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 tidak secara langsung me-
ngatur mengenai perlindungan Rahasia Dagang. [ika kita lihat dari
pengertian yang diberikan dalam rumusan Pasal 1 angka 1 Undang-
Undang Rahasia Dagang tentang definisi Rahasia Dagang, dan rumus-
an Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Rahasia Dagang, dapat kita lihat
bahwa Undang-Undang Rahasia Dagang hanya mengatur masalah
hak-hak yang diberikan kepada Pemegang Hak Rahasia Dagang (baik
Pemilik Rahasia Dagang maupun Pemegang Rahasia Dagang) untuk
secara eksklusif mempergunakan sendiri atau memberikan lisensi
Pengaturan Lisensi Dalam Hukum Positifdi Indonesia 27
kepada pihak ketiga unruk menggunakan atau memanfaatkan Rahasia
Dagang tersebut secara ekonomis. Selanjutnya, jika kita baca keten-
tuan Pasal 13 dan Pasal 14 Undang-Undang Rahasia Dagang, yang
masing-masing secara lengkapnya berbunyi:
Pasal B
Pelanggaran Rahasia Dagang juga terjadi apabila seseorang de-
ngan sengaja mengungkapkan Rahasia Dagang, mengingkari
kesepakatan atau mengingkari kewajiban tertulis atau tidak
tertulis untukmenjaga Rahasia Dagangyangbersangkutan.
dan
Pasal14
Seseorang dianggap melanggar Rahasia Dagang pibak lainapabila
ia memperoleh atau menguasai Rahasia Dagang tersebut dengan .
cara yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
yang dikaitkan dengan ketenruan Pasal 17 Undang-Undang Rahasia
Dagang, yang berbunyi:
Pasal17
(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan
Rahasia Dagang pihak lain atau melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 atau Pasal 14 dipi-
danadengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun danl
atau denda paling banyak Rp 300.000.000,00 tiga ratus juta
rupiab.
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) me-
rupakan delik aduan.
dapat kita katakan secara a'contrario bahwa yang dimaksud dengan
Rahasia Dagang yang dilindungi adalah Rahasia Dagang yang Pe-
megang Hak Rahasia Dagangnya bukanlah mereka yang melanggar
ketentuan Undang-Undang Rahasia Dagang ini.
28 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
Berbeda dengan Rahasia Dagang, perlindungan Hak atas De-
sain Industri dirumuskan secara tegas dalam Undang-Undang No. 31
Tahun 2000 dalam rumusan Pasal1 angka 5yang menyatakan bahwa:
"Hak Desain Industri adalah hak eksklusif yang diberikan oleh
negara Republik Indonesia hepada pendesain atas hasil kreasinya
untukselama waktu tertentu melaksanakan sendiri, atau membe-
rikan persetujuannya kepada pibak lain untuk melaksanakan
haktersebut".
Serupa dengan .Hak Desain Industri, perlindungan Hak atas
Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu juga dirumuskan secara tegas
dalam Pasal 1 angka 6 Undang-Undang No. 32 Tahun 2000 yang
mendefinisikan Hak Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu sebagai:
"hak eksklusif yangdiberikan oleh Negara ,Republik Indonesia
kepada pendesainan atas hasil kreasinya, untuk selama waktu
tertentu, melaksanakan sendiri, ataumemberikan persetujuannya
kepada pihak lain untuk melaksanakan hakterseinu".
Untuk dapat dipenuhinya pemberian hak eksklusif oleh negara
dalam kedua undang-undang tersebut dipersyaratkan adanya ke-
wajiban pendaftaran, yang akan diikuti dengan proses pemeriksaan
administratif, pengumuman, dan pemeriksaan substantif untuk me-
nentukan terpenuhi tidaknya syarat pemberian perlindungan yang
ditetapkan dalam masing-masing undang-undang tersebut. Hanya
mereka yang telah memperoleh perlindungan yang diberikan oleh
negara sajalah yang berhak untuk memberikan lisensi Hak Desain
Industri dan atau Hak Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.
Persyaratan Khusus
Adanya klausul dengan waktu tertentu dan syarat tertentu ini
tampaknya merupakan esensi pembeda antara perianjian pengalihan
Hak Rahasia Dagang dengan lisensi, oleh karena pernyataan "waktu
Pengaturan Lisensi Dalam Hukum Positifdi Indonesia 29
tertentu" ini beberapa kali diulang dalam beberapa rumusan untuk
membedakannya dengan perjanjian pengalihan.
Jika kita baca Penjelasan Pasal 7 Undang-Undang No. 30 Tahun
2000, yang berbunyi:
Ketentuan ini dimaksudkan untuk menegaskan prinsip babwa

Artinya, lisensi tetap memberikan kemungkinan kepada pemilie
Rabasia Dagang untuk memberikan lisensi kepada pibak ketiga
lainnya. Apabila akandibuat sebaliknya, bal ini barus dinyatakan
secara tegas dalamperjanjian lisensi tersebut
dapat kita tarik suatu kesimpulan bahwa sebenamya selain syarat
jangka waktu, Undang-Undang No. 30 Tahun juga memberikan
syarat noneksklusif bagi lisensi. Namun ketentuan ini tidaklah ber-.
sifat memaksa, yang berarti dapat disimpangi atas persetujuan dari
para pihak, dalam hal ini yang terpenting adalah Pemilik Rahasia
Dagang.
Berdasarkan pada analogi serupa yang kita terapkan untuk
rumusan Penjelasan Pasal33 Undang-Undang No. 31 Tahun 2000 dan
Penjelasan Pasal 25 Undang-Undang No. 32 Tahun 2000, maka hal
serupa juga dapat kita terapkan pada ketentuan Penjelasan Pasal 34
Undang-Undang No. 31 Tahun 2000 dan Penjelasan Pasal 26 Undang-
Undang No. 32 Tahun 2000. Artinya, bahwa pemberian Iisensi
senantiasa dikaitkan dengan pemberian hak penggunaan Hak atas
Kekayaan Intelektual berupa Desain Industri maupun Desain Tata
Letak Sirkuit Terpadu dalam suatu batas jangka waktu tertentu.
Dari penjelasan yang kita peroleh dari ketentuan Undang-
Undang No. 30 Tahun 2000, Undang-Undang No. 31 Tahun 2000 dan
Undang-Undang No. 32 Tahun 2000, dapat kita ketahui bahwa
Iisensi, adalah suatu bentuk pemberian izin pemanfaatan atau
penggunaan Hak atas Kekayaan Intelektual, yang bukan pengalihan
30 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
hak, yang dimiliki oleh pemilik lisensi kepada Penerima Lisensi,
dengan imbalan berupa royalti. Dalam pengertian ini tersirat bahwa
searang Penerima Lisensi adalah independen terhadap Pemberi
Lisensi, dalam pengertian bahwa Penerima Lisensi menjalankan
sendiri usahanya, meskipun dalam menjalankan kegiatan usahanya
tersebut ia mempergunakan atau memanfaatkan Hak atas Kekayaan
Intelektual milik Pemberi Lisensi, yang untuk hal ini Penerima Lisensi
membayar royalti kepada Pemberi Lisensi.
B. PENGATURAN LISENSI DALAM UNDANG-UNDANG
MEREK
Pengaturan lisensi dalam Undang-Undang Merek dapat kita
temukan dalam Pasal 43 hingga Pasal 49 Bagian Kedua BAB Vjo, Pasal
1angka 13. Definisi lisensi yang diberikan dalam Pasall angka 13 Un-
dang-Undang No, 15 Tahun 2001, dapat kita pilah-pilah ke dalam
beberapa unsur, yang meliputi:
"1. adanya izin yang diberikan oleh Pemegang Merek;
2. izin tersebut diberikan dalam bentuk perjanjian;
3. izin tersebut merupakan pemberian hak untuk menggunakan
Merek tersebut (yang bukan bersifat pengalihan hak);
4. izin tersebut diberikan baik untuk seluruh atau sebagian jenis
barang dan/atau jasa yang didaftarkan;
5. izin tersebut dikaitkan dengan waktu tertentu dan syarat tertentu.
Pemberian Izin aleh PemegangMerek
Sama seperti halnya penjelasan di atas mengenai lisensi Ra-
hasia Dagang, lisensi Desain Industri dan lisensi Desain Tata Letak
Sirkuit Terpadu, keharusan adanya pemberian izin oleh Pemegang
Merek merupakan suatu hal yang mutlak, jika Penerima Lisensi
Pengaturan lisensiDalam Hukum Positifdi Indonesia 31
Merek tidak mau digugat dengan alasan telah melanggar Hak atas
Merek (Pasal 76 Undang-Undang Merek). Di samping itu pelang-
garan merek dapat dikenakan sanksi berdasarkan ketentuan Pasal
90, Pasal91 dan Pasal94 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001.
Pemberian izin untuk menggunakan merek ini oleh ketentuan
Pasal 77 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 juga ternyata mem-
bawa hak lebih lanjut kepada Penerima Lisensi untuk mengajukan
gugatan atas pelanggaran merek. Yang dimaksud dengan pelanggaran
merek adalah perbuatan yang seeara tanpa hak menggunakan
merek yang terdaftar, yang mernpunyai. persamaan pada pokoknya
atau keseluruhannya untuk barang atau jasa yang sejenis. Gugatan
yang diajukan dapat berupa:
1. gugatan ganti rugi, dan/atau
2. penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggu-
naan merek tersebut.
Ketentuan tersebut menunjukkan pada kita semua bahwa, berbeda
dari -tiga U0.c;Ig,l)g-Undang....tentang- Hak.atasKekayaan Intelektual
yang d i b a h a ~ terdahulu, yaitu tentang Rahasia Dagang, Desain
Industri dan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu,Undang-Undang No. IS
Tahun 2001 seeara tegas mengakui jenis kompensasi dalam bentuk
Indirect midNonmonetary Compensation.
Izin yang Diberikan Hams Dituangkan Dalam Bentuk Perjanjian
Sama seperti penjelasan yang disampaikan terdahulu, keten-
tuan ini membawa akibat hukum bahwa lisensi harus dibuat seeara
tertulis antara pihak Pemberi Lisensi (yaitu Pemegang Hak yang sah
termasuk Pemilik Hak Rahasia Dagang) dengan pihak Penerima Li-
sensi. Ini berarti juga perjanjian pemberian lisensi ini merupakan
perjanjian formal , yang harus memenuhi bentuk yang tertulis.
32 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
Kewajiban agar perjanjian Iisensi ini dibuat secara tertulis juga
diperkuat dengan kewajiban pendaftaran Iisensi sebagaimana dise-
butkan dalam Pasal43 ayat (3) jo. Pasal43 ayat (4) jo. Pasal49 Undang-
Undang No. 15 Tahun 2001.
Perjanjian Iisensi yang didaftarkan ini berlaku di seluruh
wilayah Negara Republik Indonesia, kecuali jika diperjanjikan lain.
Dalam pengertian ini wilayah Negara Republik Indonesia dianggap
sebagai batasan teritorial yang paling memungkinkan untuk pelaksa-
naan hak dari merek yang terdaftar. Ketentuan ini diperkuat oleh
ketentuan Pasal 46 yang menyatakan bahwa penggunaan merek
terdaftar di Indonesia oleh Penerima Lisensi dianggap sama dengan
penggunaan merek tersebut di Indonesia oleh Pemilik Merek. Ini
berarti meskipun dimungkinkan terjadinya penyempitan wilayah
teritorial penggunaan merek ataupun diperluasnya pemberian lisensi
hingga meliputi luar wilayah teritorial Negara Republik Indonesia,
ketentuan ini tidak mengatur mengenai pemberian Iisensi yang
semata-mata pelaksanaannya berada di luar wilayah Indonesia, meski-
pun (ingin) dicatatkan diIndonesia.
Ketentuan yang memuat syarat objektif suatu-perjanjian seperti
yang diatur dalam Pasal9 ayat (1) Undang-Undang No. 30 Tahun 2000,
Pasal36 ayat (1) Undang-Undang No. 31 Tahun 2001 dan Pasal28 ayat
(1) Undang-Undang No. 32 Tahun 2001, juga dapat kita temukan
dalam ketentuan Pasal47 ayat (1) Undang-Undang No. 15 Tahun 2001,
yang menyatakan bahwa:
Perjanjian lisensi dilarang memuat ketentuan baik yang langsung
maupun tidak langsung dapat menimbulkan akibat yang me-
rugikan perekonomian Indonesia atau memuat pembatasan yang
menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai
danmengembangkan teknologi pada umumnya.
Ini berarti perjanjian lisensi yang memuat ketentuan yang secara
Pengaturan Lisensi Dalam Hukum Positifdi Indonesia 33
langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan akibat yang
merugikan perekonomian Indonesia atau memuat pembatasan yang
menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan
mengembangkan teknologi pada umumnya tidak akan dapat di-
berlakukan di Indonesia. Sebagai konsekuensinya maka Direktorat
[enderal yang membawahi permohonan pencatatan perjanjian
lisensi merek wajib menolak untuk melakukan pencatatan perjanjian
lisensi yang memuat hal tersebut, dengan memberitahukan alasan-
nya kepada Pemilik Merek dan/atau Kuasanya.
Pemberian Hak untuk Menggunakan Merek yang Bukan Bersja:
Pengaliban Hak
Prinsip penggunaan merek dagang ini oleh Undang-Undang
No. 15 Tahun 2001 telah diperluas hingga tidak hanya meliputi
penggunaan secara fisik dalam teritorial wilayah Negara Republik
Indonesia, tetapi juga meliputi:
1. hak untuk mengajukan gugatan terhadap pelaku pelanggaran
merek yang terdaftar (Pasal44) ;
2. dimungkinkannya pemberian sublisensi penggunaan merek
(Pasal45).
Selanjutnya oleh karena lisensi merek ini berhubungan dengan
suatu merek terdaftar yang diberi perlindungan eksklusif oleh negara,
Undang-Undang Merek mensyaratkan bahwa jangka waktu pembe-
rian lisensi ini tidak boleh lebih lama dari pemberian perlindungan
atas merek yang terdaftar tersebut. Mengenai makna "yang bukan
bersifat pengalihan hak", meskipun tidak ada penjelasan lebih lanjut
dalam Undang-Undang No. 15 Tahun 2001, pada prinsipnya keterang-
an mengenai hal yang sama seperti dalam penjelasan kami pada
uraian Pengaruran Lisensi dalam Undang-Undang Rahasia Dagang,
34 Lisensi atau Waralaba: Suatu PengantarPraktis
Desain Industri dan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dapat diber-
lakukan disini.
Hanya Diberikan untuk Merek yang Terdaftar
Ada satu ketentuan yang menarik yang kita temukan dalam
2001 yang mengatur mengenai
merek terdaftar, yaitu yang diatur dalam Pasal 48 yang
menyatakan bahwa:
-- 1. Penerima Lisensi yang beriktikad baik, tetapi kemudian
Merek itu dibatalkan atas dasar adanya persamaan pada
pokoknya atau keselurubannya dengan merek lain yang
terdaftar, tetap berbak melaksanakan perjanjian lisensi
tersebut sampai dengan berakbimyajangkawaktu perjanjian
lisensi.
2. Perjanjian lisensi sebagai dimaksud dalam ayat (1) tidak
lagi wajib meneruskan pembayaran royalti kepada Pemberi
Lisensi yang dibatalkan, melainkan wajib melaksanakan
pembayaran royalti kepada pemilik merek yang tidak
dibatalkan.
3. Dalam bal Pemberi Lisensi sudab terlebib dabulu menerima
royalti secara sekaligus dari Penerima Lisensi, Pemberi Lisensi
tersebut wajib menyerabkan bagian dari royalti yang diteri-
manya kepada pemilih merek yang tidak dibatalkan, yang
besamya sebanding dengan sisa jangka waktu perjanjian
lisensi.
Jika kita simak rumusan tersebut dalam Pasal 48 Undang-Un-
dang No. 15 Tahun 2001, ketentuan tersebut secara tidak langsung
mengakui pemberian lisensi paksa atau lisensi wajib, meskipun lisensi
wajib atau lisensi paksa tersebut digantungkan pada suatu peristiwa
pembatalan merek yang terdaftar.
Pengaturan Lisensi Dalam Hukum Positifdi Indonesia 35
C. PENGATURAN LISENSI DALAM UNDANG-UNDANG
PATEN
[ika kita baca rumusan lisensi yang diberikan dalam ketentuan
Pasal 1 angka 13 Undang-Undang No. 14 Tahun 2001, yang serupa
dengan rumusan yang dimuat dalam Undang-Undang No. 30 Tahun
2000, Undang-Undang No. 31 Tahun 2000, dan Undang-Undang
No.32 Tahun 2000 dapat kita katakan bahwa pengertian lisensi yang
diberikan dalam Undang-Undang Paten ini juga tidak berbeda dari
pengertianyang diberikan dalam tiga undang-undang tersebut.
Pengaturan Lisensi dalam Undang-Undang Paten diatur daIam
Pasal 69 hingga Pasal 73 Bagian Kedua Bab Vtentang Lisensi dan Pasal
74sampai Pasal87Bagian Ketiga Bab Vtentang Lisensi Wajib.
Rumusan yang diberikan dalam Pasal 69 Undang-Undang Paten,
yang menyatakan bahwa:
1. Pemegang Paten berhak memberi lisensi kepada orang lain
berdasarkan surat perjanjian lisensi untuk melaksanakan
perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal16.
2. Kecuali jika diperjanjikan lain, maka lingkup lisensi seba-
gaimana dimaksud dalam ayat 1 meliputi semua perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasall6, berlangsung selama
jangka waktu lisensi diberikan dan:berlaku untuk seluruh
wilayah Negara Republik Indonesia.
Ini berarti Lisensi Paten memberikan hak kepada pemegang
lisensi untuk:
a. dalam halpaten produk: membuat, menggunakan, menjual,
mengimpor, menyewakan, menyerahkan, atau menyediakan
untuk dijual atau disewakan ataudiserahkan hasil produksz-
yang diberi paten; - .",
b. dalam hal paten proses: menggunakan proses produksi yang
diberi paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya
sebagaimana dimaksud dalam hurufa;
36 Lisensi atauWara/aba: Suatu Pengantar Praktis
c. dalam bal paten proses: melarang pibak lain yang tanpa
persetujuannya melakukan impor produk yang semata-
mata dibasilkan dari penggunaan paten-proses.
Pemberian lisensi oleh Pemberi Lisensi kepada Penerima Lisensi,
tidak secara hukum melarang Pemberi Lisensi, sebagai Pemegang
Paten untuk tetap melaksanakan sendiri paten yang dimiliki olehnya,
termasuk juga untuk memberikan lisensi lebih lanjut kepada pihak
ketiga lainnya untuk melaksanakan Hak Paten sebagaimana disebut
kan dalam Pasal16 diatas, yaitu untuk:
a. membuat, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerabkan,
memakai, menyediakan untuk dijual atau disewakan atau
diserabkan basil produksi yang diberi paten;
b. menggunakan proses produksi yang diberi paten untukmem-
buat barang clan tindakan lainnya sebagaimana dimaksud
dalam burufa;
c. mengimpor dan melarang pibak lain untuk mengimpor
produk yang semata-mata dibasilkan dart penggunaan
paten-proses.
Pasal 70 Undang-Undang Paten menentukan bahwa Penerima
Lisensi berhak dalam perjanjian pemberian paten melarang
Pemegang Paten untuk selanjutnya melaksanakan sendiri atau
memberi lisensi kepada pihak ketiga lainnya untuk melaksanakan
Hak Paten tersebut dalam Pasal16 Undang-Undang Paten.
Pasal 72 ayat (1) Undang-Undang Paten mewajibkan perjanjian
lisensi untuk dicatatkan pada Kantor Paten dan dimuat dalam Daftar
Umum Paten. Atas pencatatan tersebut, maka mereka yang rnenca-
tatkan paten dikenakan biaya pencatatan. Dalam hal perjanjian lisensi
tidak dicatatkan di Kantor Paten, maka perianiian lisensi tersebut tidak
mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga. Rumusan Pasal 73
Undang-Undang Paten menyatakan bahwa ketentuan lebih lanjut
Pengaturan lisensi Dalam Hukum Positijdi Indonesia 37
mengenai perjaniian lisensi diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Oleh karena itu, maka segala ketentuan mengenai perjanjian lisensi
dibuat dan tunduk pada ketentuan umum sebagaimana diatur dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan kesepakatan para pihak
selama tidak bertentangan dengan aturan-aturan hukum lainnya
yang berlaku, termasuk rumusan Pasal 71 Undang-Undang Paten yang
melarang dieantumkannya ketentuan dalam perjanjian lisensi
yang memuat ketentuan yang seeara langsung atau tidak langsung
dapat menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia
atau membuat pembatasan yang menghambat kemampuan bangsa
Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan teknologi pada
umumnya dan yang berkaitan dengan penemuan yang diberi
paten tersebut. Dalam hal yang demikian maka Kantor Paten
memiliki hak untuk menolak pencatatan lisensi paten atas perjaniian
lisensi yang memuat k e t e n t ~ a n tersebut. Ini berarti perjanjian
lisensi yang memuat ketentuan yang demikian tidak akan dilindungi
oleh hukum yang berlaku.
Lisensi Wajib dalam Undang-Undang Paten
Perkataan Lisensi WajiblLisensi Paksa merupakan teriemahan
dari "Compulsory License", yang diartikan sebagai:
"An authorization given bya national authority toaperson, without
or against the consent of the title-holder, for the exploitation of a
subject matter protected by a patent or other intellectual property
rights.n (Carlos M. Correa, 1999: 5)
Ketentuan mengenai Lisensi Wajib dalam Undang-Undang Paten
diatur dalam Pasal 74 hingga Pasal 87. Menurut ketentuan Pasal 74,
Lisensi Wajib diartikan sebagai lisensi untuk melaksanakan suatu paten
yang diberikan berdasarkan keputusan Direktorat ]enderal Hak atas
Kekayaan Intelektual. Ini berarti Lisensi Wajib diberikan atas permo-
honan suatu pihak kepada Direktorat ]enderal Hak atas Kekayaan
38 Lisensi atau\Varalaba:Suatu Pengantar Praktis
Intelektual. Permohonan tersebut dapat diajukan oleh setiap orang
setelah lewatnya jangka waktu 36 bulan terhitung sejak tanggal
pemberian paten. Permohonan harus diajukan kepada Direktorat
jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual untuk melaksanakan paten
yang bersangkutan, dan wajib diberikan dalam jangka waktu 90 hari
terhitung sejak permohonan diajukan.
Permohonan lisensi wajib hanya dapat dilakukan jika paten
yang diberikan perlindungan tersebut tidak dilaksanakan atau dilak-
sanakan tidak sepenuhnya di Indonesia oleh Pemegang Paten atau
dilaksanakan dalam bentuk dan dengan cara yang merugikan kepen-
tingan masyarakat. Ini berarti permohonan lisensi wajib juga dapat
diajukan meskipun paten telah dilaksanakan di Indonesia oleh Peme-
gang Paten atau Pemegang Lisensi Paten tersebut, selama hal yang
tersebut terdahulu dipenuhi (yaitu paten tidak dilaksanakan atau
dilaksanakan dalam bentuk dan dengan cara yang merugikan kepen-
tingan masyarakat) . Jika Direktorat Ienderal Hak atas Kekayaan
Intelektual berpendapat bahwa jangka waktu 36 bulan yang disyarat-
kan belum cukup bagi Pemegang Paten untuk melaksanakannya
secara komersial di Indonesia atau wilayah yang lebih luas secara
geografis, maka Direktorat jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual
dapat menunda keputusan pemberian lisensi wajib tersebut atau
menolak permohonan lisensi wajib tersebut untuk sementara waktu.
Pasal 76 ayat (1) Undang-Undang Paten menyatakan lebih lanjut
bahwa Lisensi Wajib hanya dapat diberikan apabila:
a. Orang yang mengajukan permintaan tersebut dapat menunjuk-
kan bukti yang meyakinkan bahwa la:
Mempunyai kemampuan untuk melaksanakan sendiri
paten yang bersangkutan secara penuh;
Mempunyai sendiri fasilitas untuk melaksanakan paten
yang bersangkutan dengan secepatnya,
Pengaturan lisensi Dalam Hukum Positifdi Indonesia 39
Telah berusaha mengambil langkah-Iangkah dalam jangka
waktu yang cukup untuk mendapatkan lisensi dari Peme-
gang Paten atas dasar persyaratan dan kondisi yang wajar,
tetapi tidak memperoleh hasil.
b. Direktorat [enderal Hak atas Kekayaan Intelektual berpendapat
bahwa paten tersebut dapat dilaksanakan di Indonesia dalam
skala ekonomi yang layak dan dapat memberi kemanfaatan ke-
pada sebagian besar masyarakat.
Pasal 76 ayat (2) Undang-Undang Paten selanjutnya menentu-
kan bahwa pemeriksaan atas permintaan lisensi wajib dilakukan
oleh Direktorat [enderal Hak atas Kekayaan Intelektual dengan
mendengarkan pula pendapat instansi dan pihak-pihak terkait, dan
pemegang paten yang bersangkutan. Lamanya jangka waktu Lisensi
Wajib yang diberikan oleh Direktorat [enderal Hak atas Kekayaan
Intelektual tidak boleh lebih dari jangka waktu pemberian perIin-
dungan Paten itu sendiri. Dalam putusan Direktorat [enderal Hak
atas Kekayaan Intelektual mengenai pemberian Lisensi Wajib dicantum-
kan hal-hal sebagai berikut:
a. Lisensi Wajib bersifat noneksklusif;
b. Alasan pemberian Lisensi Wajib;
c. Bukti termasuk keterangan atau penjelasan yang diyakini untuk
dijadikan dasar pemberian Lisensi Wajib;
d. [angka waktu Lisensi Wajib;
e. Besamya royaIti yang harus dibayarkan Pemegang Lisensi Wajib
kepada Pemegang Paten dan cara pembayarannya;
f. Syarat berakhimya Lisensi Wajib dan hal yang dapat memba-
talkannya,
g. Lisensi Wajib semata-mata digunakan untuk mernenuhi kebu-
tuhan pasar di dalam negeri;
h. Lain-lain yang diperlukan untuk menjaga kepentingan para
pihak yang bersangkutan secara adil (PasaI79).
40 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
Pasal 80 Undang-Undang Paten mewajibkan pemberian Lisensi
Wajib untuk dicatat dan diumumkan dalam Daftar Umum Paten.
Lisensi Wajib yang telah didaftarkan secepatnya diumumkan oleh
Kantor Paten dalam Berita Resmi Paten. Lisensi Wajib baru dapat dilak-
sanakan setelah didaftarkan dan dibayamya biaya-biaya pencatatan,
pengumuman, dan pendaftaran paten tersebut. Pelaksanaan Lisensi
Wajib dianggap sebagai pelaksanaan paten.
Pasal 78 Undang-Undang Paten menegaskan kernbali bahwa
lisensi wajib tidaklah diberikan dengan suka rela. Pelaksanaan Lisensi
Wajib disertai dengan pembayaran royalti oleh Pemegang Lisensi
W a ~ b kepada Pemegang Paten. Besamya royalti yang harus diba-
yarkan dan cara pembayarannya, ditetapkan Pengadilan yang mem-
berikan Lisensi Wajib. Penetapan besarnya royalti dilakukan dengan
memperhatikan tata eara yang lazim digunakan dalam perjanjian H-
sensi paten atau yang lainnya yang sejenis.
Lisensi Wajib dapat pula sewaktu-waktu dimintakan oleh Pe-
rnegang Paten atas dasar alasan bahwa pelaksanaan patennya tidak
mungkin dapat dilakukan tanpa melanggar paten lainnya yang telah
ada. Permintaan Lisensi Wajib tersebut hanya dapat dipertimbangkan
apabila paten yang akan dilaksanakan benar-benar mengandung
unsur pembaharuan teknologi yang nyata-nyata lebih maju daripada
paten yang telah ada tersebut. Dalam hal yang demikian, maka:
a. Pemegang Paten berhak untuk saling memberikan lisensi un-
tuk menggunakan paten pihak lainnya berdasarkan persyaratan
yangwajar;
b. Penggunaan paten oleh Pemegang Lisensi tidak dapat dialihkan
kecuali bila dialihkan bersama-sama dengan paten lainnya.
Pengaliban Lisensi Wajib
Lisensi Wajib tidak dapat dialihkan kecuali jika dilakukan bersa-
Pengaturan lisensi Da/am Hukum Positifdi Indonesia 41
rnaan dengan pengalihan kegiatan atau bagian kegiatan usaha yang
menggunakan paten yang bersangkutan atau karena pewarisan. Li-
ensi Wajib yang beralih karena pewarisan tetap terikat oleh syarat
pemberiannya dan ketentuan lainnya terutarna mengenai jangka
waktu dan harus dilaporkan kepada Kantor Paten untuk dicatat dan
dimuat dalam Daftar Umum Paten.
Berakbirnya Lisensi Wajib
Lisensi Wajib berakhir dengan selesainya jangka waktu yang
ditetapkan dalam pemberiannya, dibatalkan atau dalam hal Peme-
gang Lisensi Wajib menyerahkan kembali Iisensi yang diperolehnya
kepada Kantor Paten sebelum jangka waktu tersebut berakhir. Kantor
Paten mencatat Lisensi Wajib yang telah berakhir jangka waktunya
dalam buku Daftar Umum Paten, mengumumkan dalam Berita Res-
mi Paten dan memberitahukannya secara tertulis kepada Pemegang
Paten serta Pengadilan yang memutuskan pemberiannya. Batal atau
berakhirnya Lisensi Wajib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83
dan Pasal 84 berakibat pulihnya hak Pemegang Paten atas paten
yang bersangkutan terhitung sejak tanggal pencatatannya dalam Daf-
tarUmum Paten.
Pembatalan Lisensi Wajib
Atas permintaan Pemegang Paten, Direktorat ]enderal Hak atas
Kekayaan Intelektual dapat membatalkan Lisensi Wajib yang semula
diberikannya apabila:
a. alasan yang dijadikan dasar bagi pemberian Lisensi Wajib tidak
ada lagi:
b. Penerima Lisensi Wajib ternyata tidak melaksanakan Lisensi
Wajib tersebut atau tidak melakukan usaha persiapan yang se-
pantasnya untuk segera melaksanakannya;
42 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
c. Penerima Lisensi Wajib tidak lagi menaati syarat dan keten-
tuan lainnya termasuk kewajiban pembayaran royalti yang di-
tetapkan dalam pemberian Lisensi Wajib.
Pernbatalan tersebut dicatat dalam Daftar Umum Paten dan di-
umumkan dalam Berita Resmi Paten.
Ketentuan yang serupa dengan ketentuan Pasal 48 Undang-
Undang No. 15 Tahun 2001 juga dapat kita temukan dalam Pasal 97
Undang-Undang Paten, namun hanya berlaku sebatas paten yang
dibatalkan sebagai akibat adanya persamaan dengan paten lain untuk
lisensi yang sama. lad! selain karena alasan kebatalan karena adanya
persamaan dengan paten lain yang terdaftar, maka pembatalan paten
membawa akibat hukum hapusnya perjanjian lisensi paten.
D. PENGATURAN LISENSI DALAM HAK CIPTA
Undang-Undang Hak Cipta yang diatur dalam Undang-Undang
No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana telahdiubah de-
ngan Undang-Undang No. 7 Tahun 1987 tentang Perubahan atas
Undang-Undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, dan terakhir
diubah dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 1997 tentang Peru-
bahan atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 7Tahun 1987,
tidak mengatur mengenai Lisensi Hak Cipta, walau demikian dengan
mengacu pada ketentuan umum dan analogi pada ketentuan pem-
berian lisensi yang diatur dalam undang-undang yang mengatur
mengenai perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual sebagaimana
telah dibahas terdahulu, lisensi Hak Cipta pada dasarnya tetap di-
perbolehkan, selama dan sepanjang syarat-syarat lahirnya lisensi se-
bagai suatu perjanjian terpenuhi secara sah.
43
4
PENGATURAN WARALABA
DALAMHUKUMPOSITIF
DI INDONESIA
A. PENGANTAR
Dalam bentuknya sebagai bisnis, waralaba memiliki dua jenis
kegiatan:
1. waralaba produk dan merek dagang;
2. waralaba format bisnis (Fox, 1993 : 217).
Waralaba produk dan merek dagang adalah bentuk waralaba
yang paling sederhana. Dalam waralaba produk dan merek dagang,
Pemberi Waralaba mernberikan hak kepada Penerima Waralaba untuk
menjual produk yang dikembangkan oleh Pemberi Waralaba yang di-
sertai dengan pemberian izin untuk menggunakan merek dagang
milik Pemberi Waralaba (Fox, 1993 : 233). Pemberian izin penggunaan
merek dagang tersebut diberikan dalam rangka penjualan produk
yang diwaralabakan tersebut. Atas pemberian izin penggunaan merek
dagang tersebut biasanya Pemberi Waralaba memperoleh suatu ben-
tuk pembayaran royalti di muka, dan selanjutnya Pemberi Waralaba
memperoleh keuntungan (yang.sering juga disebut dengan royalti
berjalan) melalui penjualan produk yang diwaralabakan kepada Pene-
rima Waralaba. Dalam bentuknya yang sangat sederhana ini, waralaba
44 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
produk dan merek dagang seringkali mengambil bentuk keagenan,
distributor atau lisensi penjualan.
Agak berbeda dengan waralaba produk dan merek dagang, wa-
ralaba format bisnis, menurut pengertian yang diberikan oleh Martin
Mandelsohn dalam Franchising: Petunjuk Praktis bagi Fran-
chisor dan Franchisee, adalah:
"pemberian sebuab lisensi oleb seseorang (Pemberi Waralaba)
kepada pibak lain (penerima Waralaba), lisensi tersebut memberi
bak kepada Penerima Waralaba untuk berusaba dengan
menggunakan merek daganglnama dagang Pemberi Waralaba,
dan untuk menggunakan keseluruban paket, yang terdiri dari
selurub elemen yang diperlukan untuk membuat seorang yang
sebelumnya belum terlatib dalam bisnis, dan untuk menjalan-
kannya dengan bantuan yang terus-menerus atas dasar-dasar
yang telab ditentukan sebelumnya". (Mandelsohn, 1997: 4)
Selaniutnya, Martin Mandelsohn menyatakan bahwa waralaba
format bisnis ini terdiri atas:
konsep bisnis yang menyeluruh dari Pemberi Waralaba;
adanya proses permulaan dan pelatihan atas seluruh aspek
pengelolaan bisnis, sesuai dengan konsep Pemberi Waralaba;
proses bantuan dan bimbingan yang terus-menerus dari pihak
Pemberi Waralaba. (Mandelsohn, 1997 : 4)
Konsep BisnisyangMenyelurnb.
Konsep ini berhubungan dengan pengembangan cara untuk
menjalankan bisnis secara sukses yang seluruh aspeknya berasal dari
Pemberi Waralaba. Pemberi Waralaba ini akan mengembangkan apa
yang disebut dengan "cetak biru" sebagai dasar pengelolaan waralaba
format bisnis tersebut. Cetak biru yang baik hendaknya dapat:
Pengaturan Waralaba Dalam Hukum Positifdi Indonesia 45
1. melenyapkan sejauh mungkin, risiko yang biasanya melekat
pada bisnis yang baru dibuka;
2. memungkinkan seseorang yang belum pernah memiliki pe-
ngalaman atau mengelola bisnis seeara langsung, mampu untuk
membuka bisnis dengan usahanya sendiri, tidak hanya dengan
format yang telah ada sebelumnya, tetapi juga dengan dukungan
sebuah organisasi dan jaringan milik Pemberi Waralaba;
3. menunjukkan dengan jelas dan rinci bagaimana bisnis yang
diwaralabakan tersebut harus dijalankan. (Mandelsohn, 1997 :
4-5)
Proses Awa/ dan Pe/atiban
Penerima Waralaba akan diberikan pelatihan mengenai metode
bisnis yang diperlukan untuk mengelola bisnis sesuai dengan cetak
biru yang telah dibuat oleh Pemberi Waralaba. Pelatihan ini biasanya
menyangkut pelatihan penggunaan peralatan khusus, metode
pemasaran, penyiapan produk, dan penerapan proses. (Mandelsohn,
1997 : 5)
Proses Pemberian Bantuan dan Bimbinganyang Terusbienerus
Pemberi Waralaba akan seeara terus-menerus memberikan
berbagai jenis pelayanan, yang berbeda-beda menurut tipe format
bisnis yang diwaralabakan. Seeara umum dapat dikatakan bahwa
proses bantuan dan bimbingan yang diberikan seeara terus-menerus
tersebut meliputi antara lain (Mandelsohn, 1997 : 5):
Kunjungan berkala dari, dan akses ke staf pendukung lapangan
Pemberi Waralaba guna membantu memperbaiki atau meneegah
penyimpangan-penyimpangan terhadap pelaksanaan cetak biru
yang diperkirakan dapat menyebabkan kesulitan dagang bagi
Penerima Waralaba.
46 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
Menghubungkan antara Pemberi Waralaba dan seluruh Pene-
rima Waralaba secara bersama-sama untuk saling bertukar
pikiran dan pengalaman.
Inovasi produk atau konsep, termasuk penelitian mengenai
kemungkinan-kemungkinan pasar serta kesesuaiannya dengan
bisnis yang ada.
Pelatihan dan fasilitas-fasilitas pelatihan kembali untuk Pe-
-nerirnaWaralaba dan mereka yang menjadi stafnya.
Riset pasar.
Iklan dap promosi pada tingkat lokal dan nasional.
Pada dasarnya bagi Penerima Waralaba memperoleh waralaba
sebenarnya sama dengan membeli sebuah bisnis pada umumnya,
tetapi berbeda dari jual beli bisnis biasa, Pemberi Waralaba tidak
kehilangan dan sebaliknya Penerima Waralaba tidak mengambil alih
bisnis yang diwaralabakan. Selanjutnya Penerima Waralaba juga tidak
akan dapat menjalankan bisnis yang diperolehnya melalui waralaba
'sesuai dengan keinginannya sendiri. Dalam bisnis waralaba terdapat
sejumlah faktor penting yang harus dipertimbangkan, Pemberi Wa-
ralaba dan Penerima Waralaba akan memasuki sebuah hubungan
jangka panjang untuk mencapai tingkat kesuksesan bisnis secara
luas. Ada empat faktor utama di dalam bisnis waralaba yang tidak
akan dijumpai dalam melakukan kegiatan usaha atau bisnis secara
independen di luar sistem waralaba. Faktor-faktor tersebut adalah
(Mandelsohn, 1997: 5):
1. keberadaan Pemberi Waralaba dan Penerima Waralaba dalam
suatu hubungan yang terus-menerus;
2. kewajiban untuk menggunakan nama dan sistem Pemberi
Waralaba, dan patuh pada pengendaliannya;
3. risiko terhadap kejadian yang dapat merusak bisnis waralaba
yang berada di luar kemampuan dan kesiapan anda untuk
Pengaturan Wamlaba DalamHukumPositifdi Indonesia 47
menghadapinya (misalnya kegagalan bisnis Pemberi Waralaba
Anda, atau tindakan Penerima Waralaba lain yang membuat
reputasinya menjadi buruk), dan
4. kemampuan Pemberi Waralaba untuk tetap memberikan
jasa sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, yang diang-
gap bernilai dan wajar, yang bisa membuat bisnis waralaba
tersebut berhasil.
Seperti telah disinggung dalam uraian terdahulu, pada dasarnya
suatu waralaba, sebagaimana halnya lisensi, adalah suatu bentuk
perjanjian, yang isinya memberikan hak dan kewenangan khusus
kepada pihak Penerima Waralaba, yang dapat terwujud dalam
bentuk.
1. hak untuk melakukan penjualan alas produk berupa barang
dan atau jasa dengan mempergunakan nama dagang atau
merek dagang tertentu;
2. hak untuk melaksanakan kegiatan usaha dengan atau berda-
sarkan pada suatu format bisnis yang telah ditentukan oleh
Pemberi Waralaba.
Dengan ini berarti, sebagai suatu perjanjian, waralaba tunduk
pada ketentuan umum yang berlaku bagi sahnya suatu perjanjian
sebagaimana diatur dalam Buku III Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata. Selain itu secara khusus pengaturan mengenai waralaba
di Indonesia dapat kita temukan dalam Peraturan Pemerintah RI
No.16 Tahun 1997 tanggal 18 ]uni 1997 tentang Waralaba, dan Kepu-
tusan Menteri Perindustrian Dan Perdagangan Republik Indonesia
Nomor: 259/MPP!Kepl7/1997 tanggal30 ]uli 1997 tentang Ketentuan
dan Tata Cara Pelaksanaan Pendaftaran Usaha. Dalam tulisan ini
tidak akan dibahas ketentuan yang diatur dalam Buku III Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata sebagai aturan umum, melain-
kan hanya Peraturan Pemerintah RI No.16 Tahun 1997 tanggal18]uni
48 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
1997 tentang Waralaba, dan Keputusan Menteri Perindustrian dan
Perdagangan Republik Indonesia Nomor: 259/MPP/Kep/?/1997
tanggal 30 ]uli 1997 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan
Pendaftaran Usaha Waralaba sebagai aturan khusus.
B. WARALABA MENURUT PERATURAN PEMERINTAH
RI NO. 16 TAHUN 1997 TANGGAL 18 IUNI 1997
TENTANG WARALABA
Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1997 mendefinisikan
waralaba sebagai:
"perikatan di manasalab satu pibak diberikan bak untuk meman-
faatkan dan atau menggunakan bak atas kekayaan intelektual
ataupenemuan atau ciri kbas usaba yang dimiliki pibak lain de-
ngan suatu imbalan berdasarkan persyaratan danataupenjualan
barang dan ataujasa"
Badan usaha atau perorangan yang memberikan hak kepada pihak
lain untuk memanfaatkan dan atau menggunakan Hak atas Kekayaan
Intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki disebut
dengan Pemberi Waralaba; sedangkan badan usaha atau perorangan
yang diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan
Hak atas Kekayaan Intelektual atau penemuan atau ciri khas yang
dimiliki Pemberi Waralaba disebut dengan Penerima Waralaba.
Dari rumusan yang diberikan tersebut dapat kita uraikan hal-hal
sebagai berikut (Widjaja, 2001: 107-110):
1. waralaba merupakan suatu perikatan.
rumusan tersebut menyatakan bahwa sebagai suatu perikatan,
waralaba tunduk pada ketentuan umum mengenai perikatan
yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata seba-
gaimana telah disebutkan di atas.
waralaba melibatkan hak untuk memanfaatkan dan atau meng-
gunakan Hak atas Kekayaan Intelektual atau penemuan atau ciri
khas usaha.
Yang dimaksud dengan Hak atas Kekayaan Intelektual meliputi
antara lain merek, nama dagang, logo, desain, hak cipta, rahasia
dagang dan paten. Dan yang dimaksud dengan penemuan
atau ciri khas usaha misalnya sistem manajemen, cara penjuaian
atau penataan atau cara distribusi yang merupakan karakteris-
tikkhusus dari pemiliknya.
Ketentuan ini membawa akibat bahwa sampai pada derajat
tertentu, waralaba tidak berbeda dengan lisensi (Hak atas
Kekayaan Intelektual), khususnya yang berhubungan dengan
waralaba nama dagang atau merek dagang baik untuk produk
berupa barang dan atau jasa tertentu. Ini berarti secara tidak
langsung Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1997 juga
mengakui adanya dua bentuk waralaba yaitu:
a. Waralaba dalam bentuk lisensi merek dagang atau produk;
b. Waralaba sebagai suatu format bisnis.
waralaba diberikan dengan suatu imbaian berdasarkan persya-
ratan dan atau penjuaian barang dan atau jasa.
Ketentuan ini pada dasarnya menekankan kembali bahwa
waralaba tidaklah diberikan dengan cuma-cuma, Pemberian
waralaba senantiasa dikaitkan dengan suatu bentuk imbalan
tertentu, Secara umum dikenal adanya dua macam atau dua
jenis kompensasi yang dapat diminta oleh Pemberi Waralaba
dari Penerima Waralaba. Yang pertama adalah kompensasi
langsung dalam bentuk nilai moneter (direct monetary
compensation), dan yang kedua adalah kompensasi tidak
langsung yang dalam bentuk nilai moneter atau kompensasi
yang diberikan dalam bentuk nilai moneter (indirect and non-
monetary compensation).
Pengaturan Waralaba Dalam Hukum Positfdi Indonesia 49
. ~
.,
,
50 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
Termasuk dalam Direct Monetary Compensation adalah:
a. lump-sumpayment, suatu jumlah uang yang telah dihitung
terlebih dahulu (pre-calculated amount) yang wajib
dibayarkan oleh Penerima Lisensi dan atau Waralaba pada
saat persetujuan pemberian lisensi dan atau waralaba
disepakati untuk diberikan oleh Penerima Lisensi dan atau
Waralaba. Pembayaran ini dapat dilakukan sekaligus rnau-
pun dalam beberapa kali pembayaran cicilan;
b. royalti, yang besar atau jumlah pembayarannya dikaitkan
dengan suatu persentase tertentu yang dihitung dari jumlah
produksi, dan/ dari barang dan atau jasa
yang mengandung Hak atas Kekayaan Intelektual yang
dilisensi atau waralabakan, atau jumlah keuntungan ter-
tentu dari hasil pemanfaatan Hak atas Kekayaan Intelektual
yang dilisensi atau diwaralabakan, baik yang disertai
dengan ikatan suatu jumlah minimum atau maksimum
jumlah royalti tertentu atau tidak. Besarnya royalti yang
dengan. jumlah produksi , penjualan atau yang
- disertai. dengan
- penuruwn besarnya persentase royalti yang haius dibayar-
kan, merkipun secara absolut besarnya royalti yang
dibayarkan tetap akan menunjukkan kenaikan seiring
dengan peningkatan jumlah produksi , penjualan atau
keuntungan Penerima Lisensi atau Waralaba.
Bagi pemberian lisensi atau waralaba lintasnegara (cross border),
masalah perpajakan menjadi pertimbangan utama dalam
proses dan cara pembayaran royalti. Pada umumnya, Pemberi
Lisensi atau Waralaba menginginkan royalti yang diterimaoleh-
nya bebas dari segala macam beban pajak dan biaya-biayarnau-
pun ongkos-ongkos, sehingga dengan demikian Pemben
Lisensi atau Waralaba dapat melakukan perhitungan secara pasti
akan "return" yang diharapkan dari lisensi atau waralaba yang
Pengaturan Waralaba Dalam Hukum Positifdi Indonesia 51
diberikan jika dihadapkan dengan ongkos dan biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh Hak atas Kekayaan Intelektual
yang dilisensikan tersebut.
Selanjutnya yang termasuk kedalam Indirect andNonmonetary
Compensation, meliputi antara lain:
a. keuntungan sebagai akibat dari penjualan barang modal
atau bahan mentah, bahan setengah jadi termasuk barang
jadi, yang merupakan satu paket dengan pemberian lisensi
atau waralaba (yang seringkali dibuat dalam bentuk exclu-
sivepurchase arrangement);
b. pembayaran dalam bentuk dividen ataupun bunga pinjam-
an dalam hal Pemberi Lisensi atau Waralaba juga turut
memberikan bantuan finansial baik dalam bentuk ekuitas
(equity participation) atau dalam wujud pinjaman (loan).
jangka pendek maupun jangka panjang;
c. cost shifting atau pengalihan atas sebagian biaya yang harus
dikeluarkan oleh Pemberi Lisensi atau Waralaba. Pengalihan
ini biasanya dilakukan dalam bentuk kewajiban bagi Pene-
rima Lisensi atau Waralaba untuk mengeluarkan segala
biaya yang diperlukan untuk mencegah terjadinya pelang-
garan maupun untuk mempertahankan perlindungan Hak
atas Kekayaan Intelektual yang dilisensi atau waralabakan
kepadanya;
. d. adanya kemungkinan bahwa Pemberi Lisensi akan mem-
peroleh feedback atas modifikasi, perkembangan (deve-
lopment), atau penyempurnaan (improvement) yang
dilakukan oleh Penerima Lisensi atau Waralaba dalam ber-
bagai segi dari Hak atas Kekayaan Intelektual yang dilisensi
atau diwaralabakan tersebut;
e. perolehan data pasar dari kegiatan usaha yang dilakukan
oleh Penerima Lisensi atau Waralaba. Dengan ini berarti
Pemberi Lisensi atau Waralaba memiliki akses yang lebih
52 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
f.

luas untuk mengembangkan lebih lanjut Hak atas Kekaya-


anInteiektual yang dilisensi dan atau waralabakan tersebut,
dimungkinkannya terjadinya penghematan biaya oleh Pern-
beri Lisensi atau Waralaba dalam banyak ha!. Ini dimung-
kinkan oleh karena pada prinsipnya kegiatan operasional
pelaksanaan Hak atas Kekayaan Intelektual yang dilisen-
sikan berada dalam pundak Penerima Lisensi atau Waralaba.
Ini berarti Pemberi Lisensi atau Waralaba hanya cukup
melakukan pengawasan saja atas jalannya pemberian Iisensi
atau waralaba tersebut.
Dengan pernyataan "berdasarkan persyaratan dan atau pen-
jualan barang dan atau jasa", tampaknya kompensasi yang
diizinkan dalam pemberian waralaba menurut Peraturan
Pemerintah No. 16 Tahun 1997 ini hanyalah imbalan dalam
bentuk Direct Monetary Compensation.
Ketentuan Pasal 2 pp No. 16 Tahun 1997 menegaskan bahwa
Waralaba diselenggarakan berdasarkan perjanjian tertulis antara
Pemberi Waralaba dan Penerima Waralaba, dengan ketentuan bahwa
perjanjian waralaba dibuat dalam bahasa Indonesia dan terhadapnya
berlaku hukum Indonesia.
Pasal3 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1997 selanjut-
nya menentukan bahwa sebelum membuat perjanjian, Pemberi
Waralaba wajib menyampaikan keterangan kepada Penerima Waralaba
secara tertulis dan benar sekurang-kurangnya mengenai:
a. Nama pihak Pemberi Waralaba, berikut keterangan mengenai
kegiatan usahanya;
Keterangan mengenai Pemberi Waralaba menyangkut iden-
titasnya, antara lain nama dan atau alamat tempat usaha, nama
dan alamat Pemberi Waralaba, pengalaman mengenai keber-
hasilan atau kegagalan selama menjalankan waralaba, kete-
Pengaturan Waralaba Dalam Hukum Positifdi Indonesia 53
rangan mengenai Penerima Waralaba yang pernah dan masih
melakukan perikatan, dan kondisi keuangan.
Hak atas Kekayaan Intelektual atau penemuan atau ciri khas
usaha yang menjadi objek waralaba:
Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi Waralaba;
Persyaratan yang harus dipenuhi Penerima Waralaba antara
lain mengenai cara pembayaran, ganti rugi, wilayah pemasaran,
dan pengawasan mutu.
Bantuan atau fasilitas yang ditawarkan Pemberi Waralaba ke-
pada Penerima
Keterangan mengenai prospek kegiatan waralaba, meliputi juga
dasar yang dipergunakan dalam pemberian keterangan tentang
prospek dimaksud.
e. Hak dan Kewajiban Pemberi dan Penerima Waralabaj
Bantuan atau fasilitas yang diberikan antara lain berupa pe-
latihan, bantuan keuangan, bantuan pemasaran, bantuan pem-
bukuan dan pedoman kerja.
Pengakhiran, pernbatalan, dan perpanjangan perjanjian wa-
ralaba serta hal-hallain yang perlu diketahui Penerima Waralaba
dalam rangka pelaksanaan perjanjian waralaba.
Selanjutnya Pemberi Waralaba oleh Peraturan Pemerintah ini diwa-
jibkan memberikan waktu yang cukup kepada Penerima Waralaba
untuk. meneliti dan mempelajari informasi-informasi yang disampai-
kan tersebut secara lebih lanjut.
Pasal 7Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1997 ini merumuskan
lebih lanjut bahwa perjanjian waralaba beserta keterangan tertulis
sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 3 ayat (1) tersebut di atas
wajib didaftarkan di Departernen Perindustrian dan Perdagangan oleh
Penerima Waralaba paling lambat 30 hari terhitung sejak berlaku-
nya perjanjian waralaba. Pendaftaran dilaksanakan dalam rangka dan
54 Lisensi atau\Varalaba: Suatu Pengantar Prahtis
untuk kepentingan pembinaanusaha dengan cara waralaba. Pasal8 pp
No. 16 Tahun 1997 memberikan sanksi bagi Penerima Waralaba yang
tidak memenuhi persyaratan pendaftaran dan tetap melaksanakan
kegiatan usahanya. Dalam hal yang demikian maka Departemen
Perindustrian dan Perdagangan akan memberikan peringatan (tertulis)
sebanyak-banyaknya tiga kali, sebelum pada akhirnya rnencabut
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atau izin lain yang sejenis untuk
melaksanakan kegiatan waralaba dalam hal teguran tertulis ketiga
yang disampaikan tidak juga ditanggapi oleh Penerima Waralaba.
Dalam hal ini dapat kita lihat bahwa Departemen Perindustrian dan
Perdagangan ternyata membebankan risiko pendaftaran pada Pene-
rima Waralaba dan bukan pada Pemberi Waralaba. Hal ini dari segi
praktis dapat diterima mengingat bahwa pelaksana yaitu Penerima
Waralaba adalah badan usaha yang didirikan dan beroperasi di
Indonesia, dan Pemberi Waralaba tidak harus berdiri, berkedudukan
atau beroprasi di Indonesia. Dalam hal Penerima Waralaba diberikan
"hak untuk menunjuk lebih lanjut Penerima Waralaba lain, Penerima
Waralaba yang bersangkutan wajib mempunyai dan melaksanakan
sendiri sekurang-kurangnya satu tempat usaha untuk melakukan
kegiatan usaha waralaba.
Ketentuan Pasal 6ayat (1) yang berbunyi:
Usaba waralaba dapat diselenggarakan untuk dan di selurub
wilayab Indonesia, dan pelaksanaannya dilakukan seeara ber-
tabap dengan memperhatiean perkembangan sosial dan ekonomi
dandalam rangka pengembangan usaba keeil danmenengab.
dan rumusan Pasal 4ayat (1) yang menyatakan bahwa:
Pemberi Waralaba dan Penerima Waralaba mengutamakan
penggunaan barang dan atau baban basil produksi dalam negeri
sebanyak-banyaknya sepanjang memenubi standar mutu barang
danjasayang disediakan danatau dijual berdasarkan perjanjian
waralaba.
- -
Pengaturan Waralaba Dalam Hukum Positifdi Indonesia 5;
menunjukkan ~ p a d a kita semuaakan peran pemerintah daIam
meningkatkan pengernbangan -usaha keciI dan menengah dengan
"mewajibkan" kegiatan waraIaba hingga pada derajat tertentu
untuk mempergunakan barang-barang hasiI produksi daIam negeri
(khususnya pengusaha keciI dan menengah) maupun untuk
meIaksanakan kegiatan yang tidak akan merugikan kepentingan
dari pengusaha keeiI dan menengah tersebut. DaIam Penjelasan
dari PasaI 6ayat (1) dikatakan bahwa penyeIenggaraan waraIaba pada
dasarnya diIakukan seeara benahap terutama di ibukota propinsi.
Pengembangan waraIaba di Iuar ibukota propinsi, seperti di ibukota
Kabupaten/kotamadya Dati II dan ternpat-tempat tertentu Iainnya
yang memerIukan kehadiran jasa waraIaba diIakukan seeara
bertahap dan dengan memperhatikan keseimbangan antara
kebutuhan usaha dan tingkat pertumbuhan sosiaI dan ekonorni
terutama daIam rangka pengembangan usaha keeiI dan menengah di
wiIayah yang bersangkutan.
Ketentuan seIanjutnya daIam PasaI 4ayat (2) pp No. 16 Tahun 1997
merupakan penegasan akan kewajiban Pemberi WaraIaba untuk
memberikan pembinaan, bimbingan, dan peIatihan kepada Penerima
WaraIaba.
C. WARALABA MENURUT KEPUTUSAN MENTERI
PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLlK
INDONESIA NOMOR: 2591MPPIKEP1711997 TANGGAL
30 JULI 1997 TENTANG KETENTUAN DAN TATA
CARA PELAKSANAAN PENDAFTARAN USAHA
WARALABA
Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 259
tahun 1997 ini merupakan peIaksanaan dari Peraturan Pemerintah
No. 16 Tahun 1997. DaIam Keputusan Menteri Perindustrian dan
56 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
Perdagangan ini yang diberikan pengertian secara umum dari
berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan usaha waralaba.
Dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan ini
diberikan pengertian sebagai berikut:
1. Waralaba adalab perikatan di mana salab satu pibak
dibertkan bak untuk memanfaatkan dan atau meng-
gunakan bakatas kekayaan intelektual atau penemuan
atau ciri kbas usaba yangdimiliki pibak lain dengan
suatu imbalan berdasarkanpersyaratan yang ditetapkan
pibak lain tersebut, dalam rangka penyediaan danatau
penjualan barangdanataujasa.
2. Pemberi Waralaba adalab badan usaba atau perorang-
an yang memberikan bak kepada pibak lain untuk me-
manfaatkan danatau menggunakan bakatas kekayaan
intelektual atau penemuan atau ciri kbas usaba yang
dimilie! Pemberi Waralaba.
3. Penerima Waralaba adalab badan usaba atau perorang-
an yang diberikan bak untuk memanfaatkan dan atau
menggunakan bak atas kekayaan intelektual ataupe-
nemuan atau ciri kbas usaba yang dimiliki Pemberi
Waralaba.
4. Penerima Waralaba Utama adalab Penerima Waralaba
yang melaksanakan bak membuat Perjanjian Waralaba
Lanjutan yang diperoleb dari Pemberi Waralaba.
5. Penerima Waralaba Lanjutan adalab badan usaba atau
perorangan yang menerima bak untuk memanfaatkan
dan atau menggunakan bak atas kekayaan iruelekiual
atau penemuan atau citi kbas usaba yang dimiliki Pem-
beri Waralaba melalui Penerima Waralaba Utama.
6. Perjanjian Waralaba adalab perjanjian secara tertulis
antara Pemberi Waralaba dengan Penerima Waralaba.
Pengaturan \Varalaba Dalam Hukum Positifdi Indonesia 57
7. Perjanjian \Varalaba Lanjutan adalah perjanjian secara
tertulis antara Penerima \Varalaba Utama dengan Pene-
rima \Varalaba Lanjutan.
Rumusan sebagaimana diberikan dalam angka 1, 2, dan 3 dalam
Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan tersebut pada
pokoknya hanya merupakan pengulangan dari rumusan yang diberi-
kan dalam Peraturan Pernerintah No. 16 Tahun 1997. ,
Pengertian yang diberikan dalam angka 4 dan 5 menegaskan
kembali bahwa pemberian waralaba dapat dilakukan dengan pembe-
rian hak lebih lanjut kepada Penerima Waralaba utama untuk
mewaralabakannya kembali kepada Penerima Waralaba lanjutan. Da-
lam praktik biasanya disebut dengan istilah Master Franchise] yang
kesepakatan pemberian waralabanya dibuat dalam suatu Master,
Franchise Agreement. Dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan
Perdagangan ini tidak dirumuskan pengertian dari Master Franchise
Agreement, melainkan hanya diberikan pengertian dari Perjaniian
Waralaba, yang dibedakan dari Perjanjian Waralaba Lanjutan. Dalam
pengertian yang demikian berarti ada tidaknya hak untuk memberi-
kan waralaba Ianjutan dalam suatu perjanjian pernberian waralaba
kepada Penerima Waralaba Utarna dapat kita temukan dalam
Perjanjian Waralaba. K ~ t e n t u a n tersebut dipertegas dengan rumusan
Pasal 3 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan, yang
menyatakan bahwa:
1. Perjanjian Waralaba antara Pemberi Waralaba dengan Pe-
nerima Waralaba dapat disertai atau tidak disertai dengan
pemberian hakuntukmembuat Perjanjian Waralaba Lanjutan.
2. Semua ketentuan mengenai Pemberi Waralaba sebagaimana
yang diatur dalam Keputusan ini berlakujuga bagi Penerima
Waralaba Utama yangmelaksanakan hak membuat Perjanji-
anWaralaba Lanjutan dengan Penerima Waralaba Lanjutan.
58 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
Ketcnruan Pasal 4 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perda-
gangan mengulang dan menekankan kembali rumusan yang telah
diberikan dalam Pasal 5 Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1997.
Dalam ketentuan tersebut disyaratkan bahwa dalam hal Penerima
Waralaba diberikan hak untuk menunjuk lebih lanjut Penerima
Waralaba Lanjutan, maka Penerima Waralaba Utama tersebut wajib
mempunyai dan melaksanakan sendiri sekurang-kurangnya 1 tempat
usaha untuk melakukan kegiatan usaha waralaba. Pada dasarnya
ketentuan ini dibuat untuk menghindari terjadinya "makelar
. waralaba", yang menerima suatu pemberian waralaba utama tanpa
kewajiban pelaksanaan hak, untuk kemudian mewaralabakan
kembali kepada pihak lain.
Menurut ketentuan Pasal 2 dikatakan bahwa waralaba diseleng-
garakan berdasarkan perjanjian tertulis antara Pemberi Waralaba dan
Penerima Waralaba, yang dibuat dalam bahasa Indonesia dan
terhadapnya berlaku hukum Indonesia. Ketentuan tersebut
. membawa akibat bahwa para pihak dalam suatu perjanjian waralaba
tidak dimungkinkan untuk melakukan pilihan hukum. Rumusan ini
merupakan suatu ketentuan yang bersifat memaksa dan harus ditaati
oleh baik pihak Pemberi Waralaba maupun pihak Penerima Waralaba.
Sebagai pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun
1997, dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan ini
juga disyaratkan bahwa sebelum membuat perjanjian, Pemberi
Waralaba wajib menyampaikan keterangan tertulis dan benar kepada
Penerima Waralaba yang sekurang-kurangnya mengenai:
a. Identitas Pemberi Waralaba, berikut keterangan mengenai
kegiatan usahanya termasuk neraca dan daftar rugi laba selama
2tahun terakhir;
b. Hak atas Kekayaan Intelektual atau penemuan atau ciri khas
usaha yangmenjadi objek waralaba;
PengaturanWaralaba Dalam Hukum Positifdi Indonesia 59
c. Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi Penerima Waralaba;
d. Bantuan atau fasilitas yang ditawarkan Pemberi Waralaba ke-
pada Penerima Waralaba;
e. Hak dan kewajiban Pemberi Waralaba dan Penerima Waralaba;
f. Cara-cara dan syarat pengakhiran, pemutusan dan perpanjang-
anPerjanjian Waralaba;
g. Hal-hal lain yang perlu diketahui Penerima Waralaba dalam
rangka pelaksanaan Perjanjian Waralaba.
Demikian juga pemberian waralaba lanjutan, dalam Keputusan
Menteri Perindustrian dan Perdagangan ini juga disyaratkan bahwa
sebelum membuat Perjanjian Waralaba Lanjutan, Penerima Waralaba
Utarna wajib memberitahukan secara tertulis dengan dokumen
otentik kepada Penerima Waralaba Lanjutan bahwa Penerima Waralaba'
Utama memiliki hak atau izin membuat Perjanjian Waralaba Lanjutan
dari Pemberi Waralaba. Setiap pembuatan Perjanjian Waralaba
Lanjutan yang dibuat antara Penerima Waralaba Utama dengan
Penerima Waralaba Lanjutan wajib dibuat dengan sepengetahuan
Pemberi Waralaba.
61
5
LISENSI ATAU WARALABA
BERBAGAI PERTIMBANGAN
A. MENYUSUN DAN MEMBUAT PERJANJIAN LISENSI
ATAUWARALABA
Sebagai suatu transaksi yang melahirkan perjanjian, lisensi atau
waralaba selalu melibatkan dua pihak. Kedua belah pihak tersebut
memiliki kepentingan yang berdiri sendiri dan kadangkala bertolak
belakang, meskipun secara konseptual kita dapat mengatakan
bahwa kedua belah pihak tersebut, yaitu Pemberi Lisensi dan Pemberi
Waralaba maupun Penerima Lisensi dan Penerima Waralaba, pasti
akan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Maksud untuk
mencari keuntungan sebesar-besamya ini jugalah yang pada pokok-
nya menjadi sumber perbedaan kepentingan dan perselisihan yang
dapat terjadi di antara kedua belah pihak tersebut. Keuntungan
yang besar ini hanya dapat dicapai oleh kedua belah pihak jika
antara kedua belah pihak dapat menjalin sinergisme yang saling
menguntungkan. Berikut di bawah ini akan kita bahas hal-hal yang
secara umum diatur dalam suatu pemberian lisensi, termasuk di
dalamnya hal-hal yang berhubungan dengan hak-hak dan kewajiban-
kewajiban yang ada pada Pemberi Lisensi maupun Penerima Lisensi
agar lisensi yang diberikan dan diterima tersebut dapat memberikan
manfaat bagi kedua belah pihak.
62 Lisensi atau \Varalaba: Suatu PengantarPraktis
1. ldentifikasi dari.pibak Pemberi Lisensi dan pihak Penerima
Lisensi.
Dalam hal ini perlu untuk diperhatikan kewenangan bertindak
dariPihak Pemberi Lisensi maupun Pihak Penerima Lisensi. Untuk
ini maka perlu diperhatikan ketentuan Anggaran Dasar dari Pi-
hak Pemberi Lisensi dan Pihak Penerima Lisensi. Mengirtgat
bahwa perjanjian Pemberi Lisensi seringkali merupakan perjanji-
an yang bersifat ekstrateritorial, yang bersifat lintasbatas kene-
. garaan, maka untuk menjamin kepastian pemberian lisensi
maupun penerimaan oleh pihak yang benar, ada baiknya dt-
peroleh suatu pernyataan dari pihak yang berwenang dari negara
di mana Pemberi Lisensi atau Penerima Lisensi berasal.
2. ldentifikasi atas jenis Hak atas Kekayaan lntelektual yang
dilisensikan.
Pemberi Lisensi dan Penerima Lisensi harus mengetahui dengan
,pasti jenis Hak atas Kekayaan Intelektual yang dilisensikan. Ma-
sing-masing Hak atas Kekayaan Intelektual memiliki ciri-ciri
khas yang unik, yang satu dengan yang lainnya. Lisensi paten
berbeda dari lisensi merek dagang dan merek jasa, lisensi raha-
sia dagang, demikian juga dengan lisensi hak cipta.
3. Luasnya ruang lingkup Hak atas Kekayaan lntelektual yang
dilisensikan.
Lisensi merupakan pemberian hak oleh Pemegang Lisensi
kepada Penerima Lisensi untuk mempergunakan atau melaksa-
nakan Hak atas Kekayaan Intelektual yang diberi perlindungan
oleh negara (perlu diperhatikan juga meskipun Rahasia
Dagang merupakan Hak atas Kekayaan Intelektual yang tidak
diungkapkan, namun Rahasia Dagang juga diberikan perlindung-
an oleh negara atas kerahasiaannya tersebut, dan bukan atas
Hak atas Kekayaan Intelektual yang diumumkan oleh pemegang
atau pemilik haknya). Dalam hal pemberian lisensi kadangkala
I
lisensi atau\Varalaba:Berbagai Pertimbangan 63
perlu juga untuk diperhatikan luasnya cakupan Hak atas Keka-
yaan Intelektual yang dilisensikan, apakah juga termasuk di
dalamnya pengembangan lebih lanjut dari Hak atas Kekayaan
Intelektual asaI (basic Intellectual Property Rights) yang
semuIa diIisensikan.
HaI tersebut penting menjadi perhatian karena, seIain
Rahasia Dagang, pemberian perlindungan Hak atas Kekayaan
InteIektual senantiasa dikaitkan dengan batasan waktu, yang
dengan berakhirnya jangka waktu tersebut, dan tidak dimung-
kinkanuntuk diperpanjang atau diperbaharui, maka perlin-
dungan yang diberikan atas Hak atas Kekayaan Intelektual
tersebut hapus demi hukum. Ini berarti sernua/segala
informasi, data maupun keterangan yang teIah disediakan
untuk umum daIam daftar pengumuman yang ada di kantor
Hak atas Kekayaan InteIektuaI dapat dimanfaatkan dan
dipergunakan oIeh siapa saja untuk kepentingannya tanpa
adanya kewajiban untuk memberikan imbaIan. Ini berarti
lisensi yang diberikan atas Hak atas Kekayaan InteIektuaI yang
telah hapus perlindungan hukumnya juga hapus demi hukum.
HaI kedua yang juga menjadi perhatian dari Pemberi Lisensi
adaIah mengenai kemungkinan terjadinya pembataIan atau
penoIakan atas perlindungan Hak atas Kekayaan InteIektuaI
yang diajukan (kecuali untuk Rahasia Dagang). Risiko ekono-
mis yang Iahir dari kedua keadaan tersebut dapat diminimalisir
Pemberi Lisensi dengan cara menghubungkan pemberian
Iisensi atas suatu Hak atas Kekayaan IntelektuaI dengan pemberian
Iisensi atas bentuk-bentuk Hak atas Kekayaan IntelektuaI lain-
nya yang sinergis, hingga tidak memungkinkan bagi Penerima
Lisensi untuk dapat dengan bebas mempergunakan salah
satu Hak atas Kekayaan InteIektuaI yang diIisensikan yang
teIah habis masa perlindungannya, tanpa adanya kewajiban
pembayaran royaIti dan atau kewajiban-kewajiban Iainnya atau
64 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
pelanggaran terhadap Hak atas Kekayaan Intelektual lainnya
yang dilisensikan secara bersama-sama tersebut.
Satu hal yang juga musti dicatat di sini adalah bahwa pemberian
lisensi tidak menghapuskan hak Pemberi Lisensi untuk me-
manfaatkan, menggunakan atau melaksanakan sendiri Hak
atas Kekayaan Intelektual yang telah dilisensikan tersebut. Da-
lam hal yang demikian, maka kecuali ditentukan sebaliknya,
hak tersebut tetap melekat secara eksklusif pada pihak pemi-
lik atau pemegang Hak atas Kekayaan Intelektual selaku Pem-
beri Lisensi.
Masalah lain yang jugaperiu mendapat perhatian sehubungan
dengan luasnya ruang lingkup pemberian lisensi ini adalah
mengenai modifikasi, pengembangan (development) atau
penyempurnaan (improvement) Hak atas Kekayaan Intelektual
yang dilisensikan, yang dilakukan oleh Penerima Lisensi. Sampai
seberapa jauh Penerima Lisensi diberikan hak untuk melaku-
kan modifikasi, pengembangan atau penyempurnaan tersebut,dan
bagaimana status dari Hak atas Kekayaan Intelektual yang me-
rupakan modifikasi, pengembangan atau penyempurnaan Hak
atas Kekayaan InteIektual yang dilisensikan tersebut. Dalam hal
Pemberi Lisensi mengakui hak Penerima Lisensi atas modifikasi,
pengembangan ataupun penyempurnaan tersebut, sampai
seberapa jauh ketentuan eksklusifitas mengenai feedback atau
grandbacks mengikat Penerima Lisensi Hak atas Kekayaan
Intelektual asal. Ketentuan mengenai feedback atau grand-
back yang eksklusif mengakibatkan tidak dapat atau tidak me-
mungkinkannya Penerima Lisensi sebagai pemegang Hak atas
Kekayaan Intelektual hasil modifikasi, pengembangan atau pe-
nyempurnaan, untuk melisensikan lebih lanjut Hak atas Keka-
yaan Intelektual hasil modifikasi, pengembangan atau penyem-
purnaan tersebut secara terbuka kepada umum, selain hanya
kepada Pemberi Lisensi.
Lisensi atauWaralaba: Berbagai Pertimbangan 65
4. Tujuan pemberian lisensi Hak atas Kekayaan lntelektual.
Secara ekonomis dapat dikatakan bahwa pemberian Iisensi
Hak atas Kekayaan Intelektual oleh Pemberi Lisensi adalah
dalam rangka pengembangan usaha. Dalam bentuk yang de-
mikian Pemberi Lisensi dapat mengernbangkan kegiatan usa-
hanya berdasarkan atas Hak atas Kekayaan Intelektual yang
dimiliki olehnya secara lebih leluasa (bahkan ada yang menga-
takan secara tak berbatas - borderless) dengan sumber daya
yang lebih kecil. Atas pemberian Iisensi tersebut, Pemberi
Lisensi memperoleh imbalan dalam bentuk royalti yang diba-
yarkan oleh Penerima Lisensi, yang besarnya bergantung
pada negosiasi para pihak. Untuk hal yang terakhir ini harus
juga diperhatikan ada tidaknya keterikatan antara besarnya
royaIti yang dibayar dengan penetapan harga yang hams,
dilaksanakan oleh Penerima Lisensi atas barang atau jasa yang
dihasilkan atau yang diperdagangkan dengan mempergunakan
Hak atas Kekayaan Intelektual yang dilisensikan.
5. Eksklusifitas pemberian lisensi.
Pemberian Iisensi merupakan suatu hak khusus yang hanya
dapat diberikan oleh Pemberi Lisensi, atas kehendaknya
Pemberi Lisensi semata-mata kepada satu atau lebih Penerima
Lisensi yang menurut pertimbangan Pemberi Lisensi dapat
menyelenggarakan, mengelola atau melaksanakan Hak atas
Kekayaan Intelektual yang dimiliki oleh Pemberi Lisensi.
Sampai seberapa jauh suatu kewenangan yang diberikan untuk
melaksanakan, memanfaatkan atau mempergunakan Hak atas
Kekayaan Intelektual yang dilisensikan dalam suatu pemberian
Iisensi merupakan bagian dari eksklusifitas pemberian Iisensi.
Suatu Iisensi dikatakan bersifat eksklusif, jika Iisensi tersebut
diberikan dengan kewenangan penuh untuk melaksanakan,
memanfaatkan atau mempergunakan Hak atas Kekayaan Inte-
lektual yang diberikan perlindungan oleh negara. Eksklusifitas
66 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
itu sendiri tidaklah bersifat absolut atau mutlak, melainkan
juga dibatasi oleh berbagai hal, misalnya hanya diberikan
untuk suatu jangka waktu tertentu, wilayah tertentu, atau produk
tertentu dengan proses tertentu, Selanjutnya pemberian lisensi
yang tidak memberikan kewenangan penuh disebut dengan
nonexclusive.
Dalam praktiknya jarang sekali kita temui pemberian lisensi
yang eksklusif, dan jikalau pemberian lisensi tersebut bersifat
eksklusif biasanya pemberian lisensi masih dikaitkan dengan
time exclusivity, territorial exclusivity, atau product exclusivity.
Eksklusifitas lisensi tidak berkaitan dengan hak untuk meli-
sensikan ulang (sublicense). Ada tidaknya kewenangan untuk
memberikan sublisensi harus dituangkan secara terpisah dan
tersendiri dalam suatu klausula yang tegas. Pada umumnya
pemberian lisensi jarang disertai dengan hak untuk melisensi-
kan ulang.
6. Spesifikasi khusus yang berhubungan dengan ioilayab pem-
I . berian lisensi, baik dalam bentuk kewenangan untuk mela-
kukan produksi danlatau untuk melaksanakan penjualan
dari barang dan ataujasayang mengandung Hak atas Ke-
kayaan Intelektual yang dilisensikan.
Ketentuan ini dapat dikatakan merupakan pengembangan
lebih lanjut dari sifat eksklusifitas pemberian lisensi. Pemberian
lisensi, baik yang eksklusif maupun noneksklusif biasanya di-
sertai dengan spesifikasi khusus terhadap wilayah tertentu,
waktu tertentu maupun produk berupa barang atau jasa ter-
, tentu. Untuk dapat mengerti hal ini, maka pemberian lisensi
harus senantiasa dilihat dalam bentuknya sebagai suatu alter-
natif pengembangan usaha bagi Pemberi Lisensi. Yang jelas dan
pasti Pemberi Lisensi tidak mungkin akan ''put all eggs in one
basket". ]adi ini sesungguhnya merupakan bagian dari diver-
sifikasi risiko Pemberi Lisensi.
Lisensi atau \f!ara/aba: Berbagai Pertimbangan 67
Ada satu aspek lain yang harus diperhatikan di sini, yaitu yang
berhubungan dengan ketentuan mengenai larangan praktik
monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
7. Hak Pemberi Lisensi atas laporan-laporan berkala dan untuk
melaksanakan inspeksi-inspeksi atas pelaksanaan jalannya
pemberian lisensi dan kewajiban Penerima Lisensi untuk
memenuhinya.
Pemberian lisensi sebagai suatu perjanjian jelas akan melahir-
kan hak dan kewajiban (secara timbal balik) bagi para pihak
yang terlibat dalam perjanjian pemberian lisensi tersebut. Salah
satu kewajiban yang senantiasa diminta oleh Pemberi Lisensi
dari Penerima Lisensi adalah bahwa Pemberi Lisensi berke-
wajiban untuk menyerahkan kepada Pemberi Lisensi laporan-
laporan berkala mengenai penggunaanmaupun pemanfaatan
Hak atas Kekayaan Intelektual yang dilisensikan tersebut.
Selain hal itu, bagi keperluanikepentingan pengujian oleh
Pemberi Iisensi atas kebenaran laporan yang disampaikan oleh
Penerima Lisensi, ataupun untuk hal-hal tertentu lainnya Pemberi
Lisensi pada pokoknya juga menginginkan agar Pemberi Lisensi
dimungkinkan untuk melakukan inspeksi atau pemeriksaan, baik
secara berkala atau insidentil, kedaerah kerja Penerima Lisensi.
8. Ada tidaknya kewajiban bagi Penerima Lisensi untuk mem-
beli barang modal tertentu ataupun barang-barang tertentu
lainnya dalam rangkapelaksanaan lisensi dari Pemberi Lisensi.
Pemberian lisensi tidaklah diberikan dengan cuma-cuma. Hak
atas Kekayaan Intelektual pada umumnya diperoleh dengan
suatu pengorbanan, baik materiil maupun imateriil. Pengor-
banan ini adakalanya dapat dengan mudah dikuantifikasi,
namun tidak jarang juga yang sulit untuk dinominalkan, terlebih
lagi untuk Hak atas Kekayaan Intelektual yang melibatkan
berbagai macam aspek yang saling bergantungan satu dengan
yang lainnya. Untuk keperluan tersebut maka adakalanya pihak
68 Lisensi atau\Varalaba:Suatu PengantarPraktis
Pemberi Lisensi mewajibkan Penerima Lisensi untuk membeli
barang modal (capital goods) tertentu dari Pemberi Lisensi
sebagai bagian dari "paket" lisensi yang "dijual", Tidak hanya
sampai di situ, dalam banyak hal, khususnya yang berhubungan
. dengan lisensi merek dagang, barang-barang dagangan, baik
yang masih berupa bahan mentah (raw material) yang masih
harus diolah, barang setengah jadi (intermediaries), bahan-
bahan tambahan/peramu, hingga barang jadi (finished goods)
tertentu juga wajib dibeli oleh Penerima Lisensi dari Pemberi
Lisensi.
9. Pengawasan oleh Pemberi Lisensi.
Hal ketiga yang menjadi perhatian pokok Pemberi Lisensi ada-
lah mengenai pengawasan (control, superoisioni Pemberi Lisensi
atas jalannya kegiatan usaha yang mernpergunakan Hak atas
Kekayaan Intelektual yang dilisensikan oleh Pemberi Lisensi.
Pengawasan ini menjadi krusial bagi Pemberi Lisensi, dalam hal
Iisensi yang diberikan tersebut menyangkut pengolahan atau
pemanfaatan yang memerlukan keahlian khusus, dan yang
dalam rangka pelaksanaan Iisensi tersebut harus dikerjakan
sendiri oleh pihak Penerima Lisensi. Pemberi Lisensi dengan
berkepentingan atas kebakuan dari produk, baik barang mau-
pun jasa, yang dihasilkan oleh (para) Penerima Lisensi. Produk
tersebut harus memenuhi minimumstandar yang telah ditetapkan
dan untuk itulah maka harus dijaga keseragamannya, agar tidak
merugikan kepentingan Pemberi Lisensi.
10. Kerahasiaan atas Hak atas Kekayaan Intelektual yang di-
lisensikan (Confidentiality) .
Hal selanjutnya yang merupakan concern dari Pemberi Lisensi
adalah masalah kerahasiaan (confidentiality, secrecy) atas se-
luruh data, informasi maupun keterangan yang diperoleh
Penerima Lisensi dari Pemberi Lisensi. ]ika kita kembali ingat
pada penjelasan yang diberikan dalam angka 2 di atas, bahwa
LisensiatauWaralaba:BerbagaiPertimbangan 69
lisensi biasanya tidak hanya melibatkan satu macam Hak atas
Kekayaan Intelektual semata-mata, melainkan suatu rangkaian
yang saling independen dan sulit dipisahkan, maka guna
melindungi rangkaian Hak atas Kekayaan Intelektual yang
interdependen tersebut, biasanya Pemberi Lisensi mewajibkan
Penerima Lisensi untuk merahasiakan segala macam informasi
yang telah diperolehnya dari Pemberi Lisensi.
11. Ketentuan nonkompetisi (noncompetition clause) .
Ketentuan ini pada dasarnya merupakan langkah lebih jauh dari
ketentuan mengenai kerahasiaan sebagaimana dijelaskan dalam
angka 10 di atas, yang ditujukan untuk melindungi "bisnis" pem-
beri rahasia dari "pencurian bisnis" oleh Penerima Lisensi atas
data-data, informasi maupun keterangan yang disampaikan oleh
Pemberi Lisensi kepada Penerima Lisensi dalam rangka pelaksa-
naan pemberian lisensi. [ika dalam ketentuan mengenai kera-
hasiaan, Penerima Lisensi hanya diwajibkan untuk merahasiakan
yang diketahui olehnya, dalam ketentuan nonkompetisi ini,
Penerima Lisensi tidak diperkenankan untuk melaksanakan ke-
giatan yang sama, serupa, mirip ataupun yang secara langsung
atau tidak langsung akan berkompetisi dengan kegiatan yang
dilakukan oleh Penerima Lisensi dalam kaitan dengan pembe-
rian lisensi tersebut, baik dengan rnempergunakan atau tidak
mempergunakan satu atau lebih data, informasi maupun ke-
terangan yang diperoleh dari Pemberi Lisensi.
Pembatasan nonkompetisi ini dalam banyak hal ditindaklan-
juti dengan larangan setelah pengakhiran perjanjian pemberian
lisensi terjadi.
12. Kewajiban memberikan perlindungan atas Hak atas Keka-
yaan Intelektual yang dilisensikan.
Kewajiban keenam yang ditekankan oleh Pemberi Lisensi ada-
lah masalah kewajiban perlindungan atas Hak atas Kekayaan In-
telektual Pemberi Lisensi. Sebagai suatu bentuk pengembangan
70 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
usaha yang bersifat cross border, Pemberi Lisensi senantiasa
dihadapkan pada berbagai macam aturan Hak atas Kekayaan
Intelektual yang tidak seragam, dan pelanggarannya seringkali
sukar terdeteksi oleh Pemberi Lisensi dari jarak jauh. Untuk
keperluan perlindungan atas Hak atas Kekayaan Intelektualnya
itulah, maka Pemberi Lisensi merasa berhak untuk mewajibkan
Penerima Lisensi untuk turut membantu menjaga perlindungan
Hak atas Kekayaan Intelektual yang dilisensikan kepada
Penerima Lisensi. Penerima Lisensi berkewajiban untuk segera
melaporkan kepada Pemberi Lisensi, jika Penerima Lisensi
menemukan tanda-tanda adanya pelangggaran Hak atas Kekayaan
Intelektual Pemberi Lisensi. Penerima Lisensi tidaklah berhak
untuk bertindak atas inisiatifnya sendiri, kecuali atas perintah dan
kuasa tertulis dari .Pernberi Lisensi.
Selain hal tersebut, sebagai bentuk pemberian hak khusus yang
bukan pengalihan hak, lisensi tidak memberikan kewenangan
mutlak bagi Penerima Lisensi untuk memanfaatkan Hak atas
Kekayaan Intelektual milik Pemberi Lisensi, termasuk di dalam-
nya untuk mengakui Hak atas Kekayaan Intelektual tersebut
sebagai miliknya. Ketentuan ini biasanya sangat tegas dan jelas
diatur dalam setiap pemberian lisensi oleh Pemberi Lisensi.
\
13. Kewajiban Pendaftaran Lisensi.
Kewajiban pendaftaran lisensi ini merupakan pengejawantah-
an lebih lanjut dari penjelasan yang diberikan dalam paragraf
terakhir angka 11. Pemberian lisensi perlu didaftarkan dan di-
umumkan agar semua pihak mengetahui bahwa penggunaan
dan pemanfaatan Hak atas Kekayaan Intelektual oleh Penerima
Lisensi adalah hanya sebatas pemberian lisensi dan bukan pe-
ngalihan hak. Ini berarti suatu perlindungan bagi Pemberi Lisensi.
Bagaimana proses dan teknis pendaftaran diatur secara khusus
dalam tiap-tiap negara secara berbeda-beda.
lisensi atauWaralaba: Berbagai Pertimbangan 71
14. Kompensasi dalam bentuk royalti dan pembayarannya.
Hal yang tidak kalah menariknya dan mungkin yang paling
diharapkan oleh Pemberi Lisensi adalah agar "modal" yang
dikeluarkan olehnya untuk memperoleh suatu Hak atas Ke-
kayaan Intelektual yang diberikan perlindungan hukum dapat
memberikan hasil yang baik. Hasil ini pada umumnya berhu-
bungan dengan royalti yang harus dibayar oleh Penerima
Lisensi. Royalti ini berbeda-beda menurut jenis, besar dan cara
pembayarannya dan bergantung pada jenis dan ruang lingkup
Hak atas Kekayaan Intelektual yang dilisensikan.
Dalam Licensing Guide for Developing Countries yang diter-
bitkan oleh WIPO disebutkan berbagai macam istilah yang
dipergunakan untuk menjelaskan bermacam-macam jenis
pembayaran yang dapat diminta oleh Pemberi Lisensi dari Pe-.
nerima Lisensi, yang meliputi antara lain: harga (price), remu-
nerasi (remuneration) , royalti, pembayaran jasa (fee), return,
komisi (commissions), atau biaya (costs). Dari sekian banyak
istilah yang dapat dipergunakan, secara umum dikenal adanya
dua macam atau dua jenis kompensasi yang dapat diminta oleh
Pemberi Lisensi dari Penerima Lisensi. Yang pertama adalah
kompensasi langsung dalam bentuk nilai moneter (direct mo-
netary compensation) , dan yang kedua adalah kompensasi
tidak langsung yang dalam bentuk nilai moneter atau kompen-
sasi yang diberikan dalam bentuk nilai moneter (indirect and
nonmonetary compensation). Uraian mengenai direct dan
indirectlnonmonetary compensation dapat dilihat dalam hIm.
50-51.
15. Pilihan Hukum
Pada umumnya piIihan hukum ditentukan oleh para pihak da-
lam perjanjian awal yang menjadi dasar terbitnya perbedaan
pendapat, perselisihan maupun sengketa, walau demikian
sebagaimana halnya perjanjian arbitrase yang dimungkinkan
72 lisensiatauWaralaba: Suatu PengantarPraktis
untuk dibuat setelah perbedaan pendapat, perselisihan atau
sengketa terbit, Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 juga
memungkinkan atau secara lugas kita katakan, memberikan
hak kepada para pihak untuk menentukan sendiri pilihan
hukum yang dipilih untuk menyelesaikan perbedaan pendapat,
perselisihan atau sengketa yang telah ada tersebut. Dalam hal
para pihak tidak menentukan hukum mana yang akan berlaku,
penjelasan pasal 56 ayat (2) Undang-Undang No. 30 Tahun 1999
menyatakan bahwa yang harus diberlakukan adalah ketentuan
hukum dari tempat di mana arbitrase tersebut diselenggarakan.
Hukum yang dipilih harus dikenal oleh para pihak
Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa tidak ada ketentuan
hukum materiil yang sama untuk semua negara, oleh karena
itu maka umumnya, pihak-pihak tertentu dalam setiap
perjanjian (internasional), terutama pihak yang lebih kuat
dalam bargaining] cenderung lebih menyukai untuk
memilih untuk mempergunakan ketentuan hukum yang
lebih dikenal olehnya. Pilihan hukum ini, adakalanya, bagi
pihak counter party akan menerbitkan kesulitan-kesulitan
tertentu, dan karenanya untuk meminimalkan resiko tersebut,
sangat diperlukan peran dari (nonlitigation) lawyer, untuk
memberikan pendapat dan saran hukum (legal advise and
opinion) mengenai segala akibat hukumyang mungkin dapat
ditemui.
Pilihan hukum harus dilakukan secara tegas
Pilihan hukum dengan hanya merumuskan bahwa perjanjian
ini akan diatur oleh dan ditafsirkan menurut ketentuan
hukum dari Negara X- saja tidaklah cukup. Banyak negara di
dunia ini yang mengenal berlakunya lebih dari satu aturan
hukum di dalam negaranya tersebut, terutama pada negara-
negara yang merupakan perserikatan (union Iunited) dari
lisensi atau Waralaba: Berbagai Pertimbangan 73
beberapa negara bagian, dfmana masing-masing negara bagian
mempunyai aturan-aturan hukum yang berbeda satu dengan
yang lainnya. Indonesia sendiri sampai saat ini masih berlaku
lebih dari satu sistern hukum. Berdasarkan pada kenyataan
tersebut, maka untuk menghindari ambiguitas lebih jauh,
adalah tugas seoranglawyer untuk meneari rumusan hukum
yang tegas dan pasti untuk klausul pilihan hukum ini.
Hukum yang dipilih adalah yang berlaku
Sudah lama para pakar dan praktisi hukum dari berbagai
negara mempertanyakan kewenangan dari para pihak untuk
melakukan pilihan hukum, serta sampai seberapa jauh
pilihan hukum yang telah dilakukan oleh para pihak dapat
diterapkan oleh badan peradilan yang akan menyelesaikan
perselisihan mereka. Pertanyaan demi pertanyaan mengenai
hal tersebut, pada akhimya melahirkan suatu kesepakatan,
bahwa sampai dengan batas-batas tertentu, pilihan hukum
yang dilakukan oleh para pihak dalam tiap perjanjian harus
diakui dan dihormati oleh semua badan peradilan, dan
karenanya harus diterapkan dalam menyelesaikan persoalan
mereka (pacta sunt seruanda).
Asas pacta sunt seruanda, yang juga.telah diintrodusir oleh
pasal 1338 ayat 1 Kitab Undang-Undang HukumPerdata
kita, yang dikenal seeara universal oleh seluruh negara didunia
ini, menjadi dasar dari diakuinya ketentuan pilihan hukum
oleh dunia internasional. Seeara logis, jika seseorang
diperkenankan untuk menentukan seeara bebas isi dari tiap
perjanjian yang hendak dibuatnya, mengapa ia tidak boleh
melakukan pilihan hukum seeara bebas, yang ia kenal dan
anggap baik, untuk mengatur perjanjian yang dibuat olehnya
tersebut? Bukankah ketentuan mengenai pilihan hukum itu
sendiri merupakan bagian dari isi perjanjan?
/
74 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
Pembarasan kebebasan dalammelakukan pilihan hukum
Seperti telah disebutkan diatas, bahwa meskipun telah diakui
adanya kebebasan para pihak dalam melakukan pilihan
hukum, sebagai referensi bagi penafsiran perjanjian yang
mereka buat, ternyata masih belum terdapat satu keseragaman
pendapat mengenai: sampai seberapa jauh pilihan hukum
yang telah diIakukan dapat dipergunakan oleh badan
peradilan dalammenafsirkan dan menye!esaikan perselisihan
yang terbit dari atau dalam hubungannya dengan perjanjian
yang rnemuat pilihan hukum tersebut,
Satu hal perlu digarisbawahi disini bahwa pembarasan kebe-
basan untuk melakukan pilihan hukum ini hanya dinilai
secara relatif menurut ketentuan hukum dan pandangan
hakim di negara dimanaketentuan mengenai pilihan hukum
tersebut hendak diterapkan. Ha! ini memungkinkan suatu
pilihan hukum tidak dapat diIaksanakan di Negara X,
tetapi diakui di Negara 1. Walau demikian relatif, ternyata
masih rerap dapat kita ternui adanya kesamaan pola dalam
menilai dapat tidaknya diterapkan ketentuan mengenai
pilihan hukum ini. Di Negara Indonesia, meskipun tidak
dirumuskan secara eksplisit, pernbatasan-pembatasan
. tersebut, secara umum dapat kita temukan da!am rumusan
ketentuan Pasal1337Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
yang membaralkan demi hukum setiap perjanjian yang
dibuat bertentangan dengan undang-undang (yang
bersifat memaksa) , kesusilaan dan ketertiban umum; dan
secara khusus dalam beberapa peraturan perundang-
undangan tertentu yang melarang setiap dilaksanakannya
suatu perbuatan hukum,atau peristiwa hukum, dalambentuk
dan dengan cara apa pun, yang akan menyebabkan rerjadinya
suatu penyelundupan hukum.
Lisensi atau IVaralaba: Berbagai Pertimbangan 75
Pilihan hukum harus patut
Kebebasan untuk melakukan pilihan hukum tidak begitu
saja memberikan kewenangan yang mutlak bagi para
pihak untuk melakukan pilihan atas ketentuan hukum dari
setiap negara, jika hukum yang dipilih tersebut tidak
memiliki hubungan, baik secara langsung maupun tidak
langsung dengan perjanjian yang dibuat. Dalam hal yang
demikian, hakim bebas untuk menilai apakah suatu pilihan
hukum telah dilakukan secara patut atau tidak.
Undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum
Tidak semua pilihan hukum yang bertentangan dengan
ketentuan undang-undang adalah batal demi hukum. Hanya
ketentuan yang benar-benar bertentangan dengan undang-
undang yang bersifat memaksa sajalah yang tidak dapat
dilaksanakan.
Tergantung pada banyak faktor, kesusilaan mempunyai
nilai yang berubah-ubah. Tidak ada suatu rumusan yang
pasti mengenai definisi kesusilaan yang diperkenankan atau
dilarang. Untuk ini kepatutan dalam hukum jugalah yang
pada akhirnya akan menentukan dapat dipergunakan atau
tidaknya pilihan hukumyangtelah dilakukan 01ehpara pihak.
Ketertiban hukum, umumnya berhubungan langsung
dengan persoalan falsafah, pandangan hidup dan stabilitas
nasional dari suatu negara. Suatu pilihan hukum (negara
asing), yang pada pelaksanaannya akan dapat menggon-
cangkan nilai-nilai luhur dalam suatu bangsa atau yang
akan merusak stabilitas politik dalam suatu negara jelas
tidak mungkin diakui keabsahannya oleh dan karenanya
dapat dilaksanakan dalam bangsa maupun negara
berkenaan.
76 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
Pilihan hukum tidak boleh menyebabkan terjadinya
penyelundupan hukum
Seperti telah disebutkan di atas bahwa untuk dapat diakui
suatu pilihan hukum haruslah dilakukan secara patut, dan
tidak boleh bertentangan dengan ketentuan undang-
undang (yang bersifat memaksa), kesusilaan dan ketertiban
umum yang berlaku pada suatu negara. Kedua hal tersebut
merupakan syarat yang mutlak dipenuhi, untuk menghin-
dari terjadinya penyelundupan hukum oleh para pihak
dalam negara tersebut. Dalam hal telah terjadi suatu
pilihan hukum yang menyebabkan terjadinya penyelun-
dupan hukum, maka pilihan hukum tersebut akan batal
demi hukurn, dan hakim berhak, dengan mempergunakan
kaidah-kaidah hukum perdata (iniemaiionaly; menentukan
sendiri hukum yang berlaku (proper law ofcontract) untuk
perjanjian tersebut.
16. Penyelesaian Perselisihan.
Penyelesaian perselisihan merupakan hal yang krusial bagi
pemberian lisensi, mengingat slfat kerahasiaan dari pemberian
lisensi itu sendiri. Gembar-gembor yang dimassmediakan jelas
akan merugikan kepentingan Pemberi Lisensi.
17. Pengakhiran Pemberian Lisensi.
Tidak ada ha! yang kekal, termasuk perjanjian, khususnya per-
janjian pemberian lisensi. Praktik yang terjadi menunjukkan
bahwa pemberian lisensi senantiasa dibatasi dengan suatu jang-
ka waktu tertentu, dan yang akan berakhir dengan sendirinya
dengan habisnya jangka waktu pemberian lisensi yang diatur da-
"-
lam perjanjian pemberian lisensi, kecuali jika diperpanjang atau
diperbaharui oleh para pihak (time constraint). Pengakhiran
pemberian lisensi sebelum jangka waktu berakhir, selain yang
berbuntut perselisihan juga tidak banyak artinya untuk dibahas.
Lisensi atauWaralaba:Berbagai Pertimbangan 77
Hal lain yang juga perlu untuk mendapat perhatian adalah
masalah pengakhiran lebih awal. Dalam hal ini perlu diatur
secara pasti dan jelas apa-apasaja merupakan dan menjadi dasar
-, pembenaran pengakhiran lebih awal. Di Indonesia perlu
diperhatikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 1266 Kitab
Undang-UndangHukum Perdata,yanghingga saat inimasih belum
jelas statusnya. Apakah ketentuan Pasal 1266 Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata tersebut dapat disimpangi atau tidak
oleh para pihak, serta seberapa jauh mengikatnya bagi para
pihak. Menurut ketentuan Pasal 1266 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata, suatu perjanjian hanya dapat dibatalkan atau
diakhiri sebelum jangka waktunya jika keputusan mengenai
pembatalanatau pengakhiran tersebut telahdijatuhkan oleh hakim
pengadilan (negeri).
Dari uraian yang telah diberikan di atas dapat kita simpulkan
bahwa hak-hak maupun kewajiban-kewajiban Pemberi Lisensi dan
Penerima Lisensi meliputi antara lain:
KewajibanPemberi Lisensi
Pemberi Lisensi berkewajiban untuk:
1. memberikan segala macam lnformasi yang berhubungan dengan
Hak atas Kekayaan Intelektual yang dilisensikan, yang diper-
lukan oleh Penerima Lisensi untuk melaksanakan lisensi yang
diberikan tersebut;
2. memberikan bantuan pada Penerima Lisensi mengenai cara
pemanfaatan dan atau penggunaan Hak atas Kekayaan Intelek-
tual yangdilisensikan tersebut.
Hak Pemberi Lisensi
Pemberi Lisensi memiliki hak untuk:
1. melakukan pengawasan jalannya pelaksanaan dan penggunaan
78 lisensiatau\Varalaba:Suatu Pengantar Praktis
atau pemanfaatan lisensi oleh Penerima Lisensi;
2. memperoleh laporan-laporan secara berkala atas jalannya
kegiatan usaha Penerima Lisensi yang mempergunakan Hak
atas Kekayaan Intelektual yang dilisensikan tersebut;
3. melaksanakan inspeksi pada daerah kerja Penerima Lisensi
guna memastikan bahwa Hak atas Kekayaan Intelektual yang
dilisensikan telah dilaksanakan sebagaimana mestinya;
4. mewajibkan Penerima Lisensi, dalam hal-hal tertentu, untuk
membeli barang modal dan atau barang-barang lainnya dari
Pemberi Lisensi; .
5. mewajibkan Penerima Lisensi untuk menjaga kerahasiaan Hak
atas Kekayaan Intelektual yang dilisensikan;
6. mewajibkan agar Penerima Lisensi tidak melakukan kegiatan
yang sejenis, serupa, ataupun yang secara langsung maupun
tidak langsung dapat menimbulkan persaingan dengan
kegiatan usaha yang mempergunakan Hak atas Kekayaan
Intelektual yang dilisensikan;
7. menerima pembayaran royalti dalam bentuk, jenis, dan jumlah
yang dianggap layak olehnya;
8. melakukan pendaftaran atas Lisensi yang diberikan kepada
Penerima Lisensi;
9. atas pengakhiran lisensi, meminta kepada Penerima Lisensi untuk
mengembalikan seluruh data, informasi maupun keterangan
yang diperoleh Penerima Lisensi selama masa pelaksanaan lisensi;
10. atas pengakhiran lisensi, melarang Penerima Lisensi untuk
memanfaatkan lebih lanjut seluruh data, informasi maupun
keterangan yang diperoleh oleh Penerima Lisensi selama masa
pelaksanaan lisensi;
11. atas pengakhiran Iisensi, melarang Penerima Lisensi untuk tetap
melakukan kegiatan yang sejenis, serupa, ataupun yang
secara langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan
lisensi atau\Varalaba: Berbagai Penimbangan 79
persaingan'dengan mempergunakan Hak atas Kekayaan Intelek-
tual yang dilisensikan;
12. pemberian lisensi tidak menghapuskan hak Pemberi Lisensi
untuk tetap memanfaatkan, menggunakan atau melaksanakan
sendiri Hak atas Kekayaan Intelektual yang dilisensikan tersebut.
Kewajiban Penerima Lisensi
Kewajiban Penerima Lisensi adalah:
1. melaksanakan seluruh instruksi yang diberikan oleh Pemberi
Lisensi kepadanya guna melaksanakan Hak 'atas Kekayaan In-
telektual yang dilisensikan tersebut;
2. memberikan keleluasaan bagi Pemberi Lisensi untuk melaku-
kiln pengawasan maupun inspeksi berkala maupun secara tiba-
tiba, guna memastikan bahwa Penerima Lisensi telah melaksana-
kan Hak atas Kekayaan Intelektual yang dilisensikan dengan baik;
3. memberikan laporan-laporan baik secara berkala maupun atas
permintaan khusus dari Pemberi Lisensi;
4: membeli barang modal tertentu ataupun barang-barang tertentu
lainnya dalam rangka pelaksanaan lisensi dari Pemberi Lisensi;
5. menjaga kerahasiaan atas Hak atas Kekayaan Intelektual yang
dilisensikan, baik selama maupun setelah berakhirnya masa
pemberian lisensi;
6. melaporkan segala pelanggaran Hak atas Kekayaan Intelektual
yang ditemukan dalam praktik;
7. tidak memanfaatkan Hak atas Kekayaan Intelektual yang dili-
sensikan selain dengan tujuan untuk melaksanakan lisensi yang
diberikan;
8. melakukan Pendaftaran Lisensi bagi kepentingan Pemberi Use
dan jalannya pemberian lisensi tersebut;
9. tidak melakukan kegiatan yang sejenis, serupa, ataupun yang , ~ -
80 Lisensi atau \Varalaba:Suatu PengantarPraktis
cara langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan per-
saingan dengan kegiatan usaha yang mempergunakan Hak atas
Kekayaan IntelektuaI yang dilisensikan;
10. melakukan pembayaran royalti dalam bentuk, jenis dan jumlah
yangtelah disepakati secara bersama;
11. atas pengakhiran lisensi, mengembalikan seluruh data, infor-
masi maupun keterangan yang diperolehnya;
12. atas pengakhiran lisensi, tidak memanfaatkan lebih lanjut selu-
ruh data, informasi maupun keterangan yang diperoleh oleh Pe-
nerirna Lisensi selama masa pelaksanaan lisensi;
13. atas pengakhiran lisensi, tidak lagi melakukan kegiatan yang se-
jenis, serupa, ataupun yang secara langsung maupun tidak
langsung dapat menimbulkan persaingan dengan mempergu-
nakan Hak atas Kekayaan Intelektual yang dilisensikan.
Hak Penerima Lisensi
Penerima Lisensi berhak untuk:
1. memperoleh segala macam informasi yang berhubungan de-
ngan Hak atas Kekayaan Intelektual yang dilisensikan, yang di-
perlukan olehnya untuk melaksanakan lisensi yang diberikan
tersebut;
2. memperoleh bantuan dari Pemberi Lisensi atas segala macam
cara pemanfaatan dan atau penggunaan Hak atas Kekayaan In-
telektual yang dilisensikan tersebut.
B. PEMBUATAN DAN PENYUSUNAN PERJANJIAN
WARALABA
Ketentuan yang mengatur mengenai hal-hal minimum yang
harus diatur dalam Perjanjian Waralaba dapat kita temukan dalam
rumusan Pasal 7 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
Lisensi atau Waralaba: Berbagai Pertimbangan 81
Nomor: 259/MPP/Kepf7/1997 tanggal30]uli 1997. Dalam ketentuan
Pasal 7 ayat (1) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
Nomor: 259/MPP/Kepf7/1997 tanggal30]uli 1997ini dikatakanbahwa:
Perjanjian \Varalaba antara Pemberi Waralaba dengan Pe-
nerima Waralaba sekurang-kurangnya.memuat klausul
mengenai:
a. Nama, alamat, dan tempat kedudukan perusahaan ma-
sing-masingpihak;
Khusus yang berhubungan dengan identitas Pemberi Wa-
ralaba, ketentuan Pasal 9 Keputusan Menteri Perindus-
trian cian Perdagangan menyatakan bahwa:
1. Pemberi Waralaba dariluar negeri barus mempunyai
bukti legalitas dari instansi berwenang di negara
asalnya dan diketahui aleh Pejabat Perwakilan RI
setempat.
2. Pemberi Waralaba dari dalam negeri wajib memiliki
SlUP dan atau Izin Usaha dari Departemen Teknis
lainnya.
b. Nama danjabatan masing-masing pihakyang benoe-
nang menandatangani perjanjian;
Ketentuan ini pada prinsipnya berhubungan dengan ke-
wenangan bertindak para pihak, yang merupakan persya-
ratan sahnya suaru perjanjian menurut ketentuan umum
yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
c. Nama danjenis Hak atas Kekayaan Intelektual, pene-
muan atau ciri khas usaha misalnya sistem manajemen,
cara penjualan atau penataan atau cara distribusi yang
merupakan karakteristik khusus yang menjadi abjek
waralaba;
Dalam ketentuan ini, para pihak akan memperjelas dan
menegaskan kembali jenis waralaba yang diberikan apakah
82 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
waralaba yang diberikan hanya terbatas pada waralaba nama
dagang atau produk, atau meliputi juga format bisnis.
d. Hak dan kewajiban masing-masing pihak serta ban-
tuan dan!asilitas yang diberikan kepada Penerima
Waralaba;
Secara umum dapat dirumuskan hak-hak dan kewajiban-
kewajiban Pemberi Waralaba maupun Penerima Waralaba
sebagai berikut:
Kewajiban Pemberi Waralaba
Pemberi Watalaba berkewajiban untuk:
1. memberikan segala macam informasi yang berhu-
bungan dengan Hak atas Kekayaan Intelektual, pene-
muan atau ciri khas usaha misalnya sistem manajemen,
cara penjualan atau penataan atau cara distribusi yang
merupakan karakteristik khusus yang menjadi objek
waralaba, dalam rangka pelaksanaan waralaba yang
diberikan tersebut;
2. memberikan bantuan pada Penerima Waralaba pem-
binaan, bimbingan dan pelatihan kepada Penerima
Waralaba.
Hak Pemberi Waralaba
Pemberi Waralaba memiliki hak untuk:
1. melakukan pengawasan jalannya pelaksanaan wara-
laba,
2. memperoleh laporan-Iaporan secara berkala atas ja-
lannya kegiatan usaha Penerima Waralaba;
3. "melaksanakan inspeksi pada daerah kerja Penerima
Waralaba guna memastikan bahwa waralaba yang
diberikan telah dilaksanakan sebagaimana mestinya;
4. sampai batas tertentu mewajibkan Penerima Waralaba,
dalam hal-hal tertentu, untuk membeli barang modal
Lisensi atauWaralaba: Berbagai Pertinzbangan 83
dan atau barang-barang tertentu lainnya dari Pemberi
Waralaba;
5. mewajibkan Penerima Waralaba untuk menjaga ke-
rahasiaan Hak atas Kekayaan Intelektual,penemuan arau
ciri khas usaha misalnya sistem manajemen, cara
penjualan atau penaraan atau cara distribusi yang
merupakan karakteristik khusus yang menjadi objek
waralaba;
/ 6. mewajibkan agar Penerima Waralaba tidak melakukan
kegiatan yang sejenis, serupa, ataupun yang secara
langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan
persaingan dengan.kegiatan usaha yang mempergu-
nakan Hak atas Kekayaan Intelektual, penemuan arau
ciri khas usaha misalnya sistem manajemen, cara pen-
jualan atau penaraan atau cara distribusi yang merupakan
karakteristik khusus yang menjadi objek waralaba;
7. menerima pembayaran royalti dalam bentuk, jenis
dan jumlah yang dianggap layak olehnya,
8. meminta dilakukannya pendaftaran atas waralaba
yang diberikan kepada Penerima Waralaba;
9. atas pengakhiran waralaba, rneminta kepada Pene-
rima Waralaba untuk mengembalikan seluruh data,
informasi maupun keterangan yang diperoleh Pene-
rima Waralaba selama masa pelaksanaan waralaba;
10. atas pengakhiran waralaba, melarang Penerima Wara-
laba untuk memanfaatkan lebih lanjut seluruh data,
informasi maupun keterangan yang diperoleh oleh
Penerima Waralaba selamamasa pelaksanaan waralaba;
11. atas pengakhiran waralaba.melarang Penerima Waralaba
untuk tetap melakukan kegiaran yang sejenis, serupa,
araupun yang secara langsung maupun tidak langsung
dapat menimbulkan persaingan dengan mempergu-
nakan Hak atas Kekayaan Intelektual, penemuan atau
84 Lisensiatau \Varalaha: Suatu PengantarPraktis
ciri khas usaha misalnya sistem manajemen, cara pen-
jualan atau penataan atau cara distribusi yang rnerupa-
kan karakteristik khusus yang menjadi objek waralaba;
12. pemberian waraiaba, kecuali yang bersifat eksklusif, tidak
menghapuskan hak Pemberi Waralaba untuk tetap
memanfaatkan, menggunakan atau melaksanakan sendiri
Hak atas Kekayaan Intelektual, penemuan atau ciri khas
usaha misalnya sistem manajemen, cara penjualan atau
penataan atau cara distribusi yang merupakan karak-
teristik khusus yang menjadi objek waralaba.
Kewajiban Penerima Waralaba
Kewajiban Penerima Waralaba adalah:
1. melaksanakan seluruh instruksi yang diberikan oleh
Pemberi Waralaba kepadanya guna melaksanakan Hak
atas Kekayaan Intelektual, penemuan atau ciri khas
usaha misalnya sistem manajemen, cara penjualan atau
penataan atau cara distribusi yang merupakan ka-
rakteristik khusus yang menjadi objek waralaba;
2. memberikan keleluasaan bagi Pemberi Waralaba untuk
melakukan pengawasan maupun inspeksi berkala
maupun secara tiba-tiba, guna memastikan bahwa Pe-
nerima Waralaba telah melaksanakan waralaba yang
diberikan dengan baik;
/'
3. memberikan laporan-laporan baik secara berkala mau-
punatas permintaan khusus dari Pemberi Waralaba;
4. sampai batas tertentu membeli barang modal tertentu
ataupun barang-barang tertentu lainnya dalam rangka
pelaksanaan waralaba dari Pemberi Waralaba;
5. menjaga kerahasiaan atas Hak atas Kekayaan Intelek-
tual, penemuan atau ciri khas usaha misalnya sistem
manajemen, cara penjualan atau penataan atau cara
distribusi yang merupakan karakteristik khusus yang
./
Lisensi atau\Varalaba: Berbagai Pertimbangan 85
menjadi objek waralaba, baik selama maupun setelah
berakhirnya masapemberian waralaba,
6. melaporkan segala pelanggaran Hak atas Kekayaan
Intelektual, penemuan atau eiri khas usaha misalnya
sistemmanajemen, eara penjualan atau penataan atau
eara distribusi yang merupakan karakteristik khusus
yang menjadi objek waralaba yang ditemukan dalam
praktik; - - -
7. tidak memanfaatkan Hak atas Kekayaan Intelektual,
penemuan atau ciri khas usaha misalnya sistem ma-
najemen, eara penjualan atau penataan atau eara dis-
tribusi yang merupakan karakteristik khusus yang
menjadi objek waralaba selain dengan tujuan untuk
melaksanakan waralabayangdiberikan;
8. melakukan pendaftaran waralaba;
9. tidak melakukan kegiatan yangsejenis, serupa, ataupun
yang seeara langsung maupun tidak langsung dapat
menimbulkan persaingan dengan kegiatan usaha
yang mempergunakan Hak atas Kekayaan Intelektual,
penemuan atau eiri khas usaha misalnya sistem mana-
jemen, eara penjualan atau penataan ataucara distribusi
yang merupakan karakteristik .khusus yang menjadi
objek waralaba; _ _
10. melakukan pembayaran royalti dalam bentuk, jenis
dan jumlah yang telah disepakati seeara bersama;
11. atas pengakhiran waralaba, mengembalikan seluruhdata,
informasi maupun keterangan yangdiperolehnya;
12. atas pengakhiran waralaba, tidak memanfaatkan lebih
lanjut seluruh data, informasi maupun keterangan
yang diperoleh oleh Penerima Waralaba selama masa
pelaksanaan waralaba;
13. atas pengakhiran waralaba, tidak lagi melakukan
kegiatan yang sejenis, serupa, ataupun yang seeara
86 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan
persaingan dengan mempergunakan Hak atas Kekayaan
Intelektual, penemuan atau ciri khas usaha misalnya
sistem manajemen, cara penjualan atau penataan atau
cara distribusi yang merupakan karakteristik khusus
yang menjadi objek waralaba.
Hak Penerima Waralaba
Penerima Waralaba berhak untuk:
1. memperoleh segala macam informasi yang berhubung-
an dengan Hak atas Kekayaan Intelektual, penemuan
atau ciri khas usaha misalnya sistem manajemen, cara
penjualan atau penataan atau cara distribusi yang
merupakan karakteristik khusus yang menjadi objek
waralaba, yang diperlukan olehnya untuk melaksa-
nakan waralaba yang diberikan tersebut;
2. memperoleh bantuan dari Pemberi Waralaba atas
segala macam cara pemanfaatan dan atau penggunaan
Hak atas Kekayaan Intelektual penemuanatau ciri khas
usaha misalnya sistem manajemen, cara penjualan
atau penataan atau cara distribusi yang merupakan
karakteristik khusus yang menjadi objek waralaba.
e. Wilayab Pemasaran;
Penunjukan wilayah pemasaran usaha waralaba dalam
Perjanjian Waralaba dapat mencakup seluruh atau sebagian
wilayah Indonesia, Ini berarti waralaba dapat bersifat terri-
torial eksklusif untuk seluruh wilayah Indonesia, maupun
territorial noneksklusif yang hanya dibatasi untuk wilayah
tertentu dalam Negara Republik Indonesia. Pasal 19 Ke-
putusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan menjelas-
kan lebih lanjut sifat eksklusifitas wilayah, dengan menya-
takan bahwa.
1. Pemberi Waralaba dilarang menunjuk lebib dari 1
Lisensi atau\Vara/aba: Berbagai Pertimbangan 87
(satu) Penerima Waralaba di lokasi tertentu yang
berdekatan, untuk barang dan ataujasa yang sama
dan menggunakan merek yang sama, apabila dike-
tahui atau patut diketahui bahwa penunjuhan lebih
dari satu Penerima Waralaba itu akan mengaki-
batkan ketidaklayakan usaha waralaba di lokasi
tersebut.
2. Penerima \Varalaba Utama dilarang menunjuk lebih
dari 1 (satu) Penerima Waralaba Lanjutan di lokasi
tertentu yang berdekatan, untuk barang dan atau
jasa yang sama dan menggunakan merek yang
sama, apabila diketahui atau patutdiketahui bahwa
penunjukan lebih dari satu Penerima Waralaba itu
akan mengakibatkan ketidaklayakan usaha
waralaba di lokasi tersebut.
3. Apabila di suatu lokasi yang berdekatan sudah ada
usaha waralaba yang dilakukan oleh Penerima
WaralabalPenerima Waralaba Lanjutan, maka di
lokasi tersebut dilarang didirikan usaha yang meru-
paean eabang dari Pemberi Waralaba yang ber-
sangkutan dengan merek yang sama kecuali untuk
barang dan ataujasayang berbeda.
Pemberian waralaba yang bersifat teritorial eksklusif ter-
sebut perlu memperhatikan ketentuan mengenai per-
saingan usaha sebagaimana diatur dalam Undang-Undang
No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Dalam Undang-Undang No. 5Tahun 1999, objek perjanjian
yang dilarang untuk dibuat antara pelaku usaha dengan
pelaku usaha lain adalah sebagai berikut:
1. secara bersama-sama melakukan penguasaan produksi
dan atau pemasaran barang dan jasa yang dapat
88 l isensi atau Waralaba:Suatu PengantarPraktis
mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat (Pasal 4ayat (1));
Tolak ukur yang dijadikan parameter oleh undang-
undang untuk menentukanapakah pelaku usaha patut
diduga atau dianggap secara bersama-sama melakukan
penguasaan produksi dan atau pemasaran barang dan
atau jasa apabila 2 atau 3 pelaku usaha atau kelompok
pelaku usaha menguasai lebih dari 75%pangsa pasar
satu jenis barang atau jasa tertentu.
2. menetapkan harga tertentu atas suatu barang dan atau
jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan
pada pasar bersangkutan yang sama (Pasal 5ayat (1)),
dengan pengecualian:
a. perjanjian yang dibuat dalam suatu usaha patung-
an; atau
b. perjanjian yang didasarkan undang-undang yang
berlaku (Pasal 5ayat (2)).
3. perjaniian yang mengakibatkan pembeli yang satu harus
.rnembayar dengan harga yang berbeda dari harga yang
harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan atau
jasa yangsama (Pasal 6);
4. menetapkan harga di bawah pasar, yang dapat me-
ngakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat
(Pasal7);
5. perjanjian yang memuat persyaratan bahwa penerima
barang dan atau jasa tidak akan menjual atau memasok
kembali barang dan atau jasa yang telah diterimanya
tersebut, dengan harga yang lebih rendah dibanding-
kan harga yang telah diperjanjikan, sehingga dapat
mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat
(PasaI8);
6. perjanjian yang bertujuan untuk membagi wilayah
pemasaran atau alokasi pasar terhadap suatu barang
7.
9.
8.
Lisensi atau \Varalaba:BerbagaiPertimbangan 89
dan atau jasa tertentu, sehingga dapat mengakibat-
kan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan
usaha tidak sehat (PasaI9); Perjanjian ini dapat bersifat
vertikal dan horizontal. Perjanjian ini dilarang karena
pelaku usaha meniadakan atau mengurangi persaing-
an dengan cara membagi wilayah pasar atau alokasi
pasar. Wilayah pemasarah dapat berarti wilayah
Republik Indonesia atau bagian wilayah Negara
Republik Indonesia misalnya kabupaten, provinsi, atau
wilayah regional lainnya. Membagi wilayah pemasaran
atau alokasi pasar berarti membagi wilayah untuk
memperoleh atau memasok barang, jasa, atau barang
dan jasa, menetapkan siapa saja dapat memperoleh atau
memasok barang, jasa atau barang dan jasa.
perjanjian yang dapat menghalangi pelaku usaha lain
untuk melakukan usaha yang sama, baik untuk tujuan
pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri (PasallO
ayat (1));
perjanjian untuk menolak menjual setiap barangdan atau
jasa dari pelaku usaha lain, yang mengakibatkan:
a. kerugian atau dapat diduga menerbitkan keru-
gian bagi pelaku usaha lain; atau
b. pembatasan bagi pelaku usaha lain dalam menjual
atau membeli setiap barang dan atau jasa dari
pasar bersangkutan (PasallO ayat (2));
perjanjian yang bermaksud mempengaruhi harga de-
ngan mengatur produksi dan atau pemasaran suatu
barang dan atau jasa, yang dapat mengakibatkan
terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan
usaha tidak sehat (Pasall l);
10. perjanjian untuk melakukan kerja sama dengan mem-
bentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang
['.A ll 1t:!" . , " -:-:'-:-'
,' I. _IO. f .,p..; :J , ,, :. (, \ :, . .I. !, '..".. ' ,, ' , l"! u\< I
C,1.DJ ,\H . \
y O GY .. K. . r ...
. .. . : "'\
90 Lisensi atau\Varalaba: Suatu Pengantar Praktis
lebih besar, dengan tetap menjaga dan mernperta-
hankan kelangsungan hidup masing-masing peru-
sahaan atau perseroan anggotanya, yang bertujuan
untuk mengontrol produksi dan atau pemasaran atas
barang dan atau jasa, sehingga dapat mengakibatkan
. rerjadinya praktik monopoli dan atau persaingan tidak
sehat (PasaI12);
11. perjanjian yang bertujuan untuk secara bersama-sama
menguasai pembelian atau penerimaan pasokan
barangdan atau jasa tertentu, agar dapat mengendalikan
harga atas barang dan atau jasa tertentu tersebut
dalam pasar yang bersangkuran, yang dapat menga-
kibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat (Pasal13 ayat (1));
Pelaku usaha patut diduga atau dianggap secara ber-
sama-sama menguasai pembelian dan atau peneri-
maan pasokan apabila 2 atau 3 pelaku usaha atau
kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 75%
pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.
12. perjanjian yang bertujuan untuk menguasai sejumlah
produk yang termasuk dalam rangkaian produksi
barang atau jasa tertentu, yang mana setiap rangkaian
produksi merupakan hasil pengolahan atau proses
lanjutan, baik dalam satu rangkaian langsung maupun
tidak langsung, yang dapat mengakibatkan terja-
dinya persaingan usaha tidak sehat dan atau merugi-
kan masyarakat (PasaI14);
Yang dimaksud dengan menguasai produksi sejumlah
produk yang termasuk dalam rangkaian produksi atau
yang lazim disebut dengan integrasi vertikal adalah
penguasaan serangkaian proses produksi atas barang
tertentu mulai dari hulu sampai hilir atau proses yang
Lisensi atau\Varalaba:Berbagai Pertimbangan 91
berlanjut atas suam layanan jasa tertentu oleh pelaku
usaha tertentu, Praktik inregrasi vertikal meskipun
dapat menghasilkan barang atau jasa dengan harga
murah, tetapi dapat menimbulkan persaingan usaha
tidak sehat yang merusak sendi-sendi perekonomian
masyarakat. Praktik seperti ini dilarang sepanjang
menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan atau
merugikan masyarakat.
13. perjanjian yang mernuat persyaratan bahwa pihak
yang menerima barang dan atau jasa hanya akan me-
masok atau tidak memasok kembali barang dan atau
jasa tersebut kepada pihak tertentu dan atau pada
suam tempat tertentu (Pasal15 ayat (1));
Pengertian memasok di sini termasuk menyediakan
pasokan, baik barang maupun jasa, dalam kegiatan jual
beli, sewa menyewa, sewa beli, dan sewa guna usaha
(leasing).
14. perjanjian yang memuat persyaratan bahwa pihak
yang menerima barang dan atau jasa tertentu harus
bersedia untuk membeli barang dan atau jasa lain dari
pelaku usaha pemasok (Pasa115 ayat (2));
15. perjanjian mengenai pemberian harga atau potongan
harga tertentu atas barang dan atau jasa, yang me-
muat persyaratan bahwa pelaku usaha yang menerima
barang danatau jasa dari pelaku usaha pemasok:
a. harus bersedia membeli barang dan atau jasa lain
dari pelaku usaha pemasok; atau
b. tidak akan membeli barang dan atau jasa yang
sama atau sejenis dari pelaku usaha lain yang
menjadi pesaing dari pelaku usaha pemasok
(Pasa115 ayat (3)).
16. perjanjian dengan pihak lain di luar negeri yang me-
rnuat ketentuan yang dapat mengakibatkan terjadinya
92 lisensiatauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak
sehat (PasaI16).
Sedangkan kegiatan yang dilarang dalam Undang-Undang
No. 5Tahun 1999 dapat kita golongkan ke dalam 4kegiatan,
yaitu:
1. Monopoli, yang diatur dalam Pasal 17;
2. Monopsoni, yang diatur dalam Pasa118;
3. Penguasaan pasar, yang diatur dalam Pasal 19 sampai
dengan Pasal 21; dan
4. Persekongkolan, yang diatur dalam Pasal 22 sampai
dengan Pasa124.
Secara lengkapnya kegiatan-kegiatan yang dilarang tersebut
dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. kegiatan yang dilakukan oleh pelaku usaha yang
bertujuan untuk memperoleh penguasaan atas pro-
duksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang
dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli
dan atau persaingan usaha tidak sehat: Parameter
yang dijadikan tolok ukur oleh undang-undang untuk
menyatakan bahwa pelaku usaha diduga atau diang-
gap melakukan penguasaan atas produksi dan atau
pemasaran barang atau jasa yang sama adalah:
a. barang dan atau jasa yang bersangkutan belum
ada substansinya:
b. mengakibatkan pelaku usaha lain (pelaku usaha
yang mempunyai kemampuan bersaing yang
signifikan dalam pasar yang bersangkutan) tidak
dapat masuk ke dalam persaingan usaha barang
dan atau jasa yang sama; atau
c. satu pelaku atau satu kelompok pelaku usaha
menguasai lebih dari 50% pangsa pasar satu jenis
barang atau jasa tertentu,
Lisensi atauWaralaba: Berbagai Pertimbangan 93
2. kegiatan untuk menguasai penerimaan pasokan atau
menjadi pembeli tunggal atas barang dan atau jasa
dalam pasar bersangkutan yang dapat mengakibatkan
teriadinya praktik monopoli dan atau persaingan yang
tidak sehat.Tolok ukurnya adalah apabila satu pelaku
usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih
dari 50% pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu,
3. satu atau lebih kegiatan yang dilakukan, baik oleh satu
pelaku usaha sendiri maupun bersama-sama dengan
pelaku usaha lainnya, yang bertujuan untuk:
a. menolak dan atau menghalangi pelaku usaha ter-
tentu untuk melakukan kegiatan usaha yang sama
pada pasar bersangkutan dengan eara yang tidak
wajar atau dengan alasan nonekonomi, misalnya
karena perbedaan suku, ras, status sosial dan lain-
lain; atau
b. menghalangi konsumen atau pelanggan pelaku
usaha pesaingnya untuk tidak melakukan usaha
dengan pelaku usaha pesaingnya itu; atau
c. membatasi peredaran dan atau penjualan barang
dan atau jasa pada pasar bersangkutan; atau
d. melakukan praktik diskriminasi terhadap pelaku
usaha tertentu,
yang pada akhirnya dapat mengakibatkan terjadi-
nya praktik monopoli dan atau persaingan usaha
tidak sehat,
4. melakukan pemasokan barang dan atau jasa dengan
eara melakukan jual rugi atau rnenetapkan harga yang
sangat rendah dengan maksud untuk menyingkirkan
atau mematikan usaha pesaingnya di pasar bersang-
kutan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya prak-
tik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;
94 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
5. melakukan kecurangan dalam menetapkan biaya pro-
duksi danbiaya lainnya yang menjadi bagian dari kom-
ponen harga barang dan atau jasa untuk memperoleh .
biaya faktor produksi yang lebih rendah dari seharus-
nya yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan
usaha tidak sehat;
6. melakukan persekongkolan dengan pihak lain untuk
mengatur dan atau menentukan pemenang tender
sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan
usaha tidak sehat;
7. melakukan persekongkolan dengan pihak lain untuk
mendapatkan informasi kegiatan usaha pesaingnya
yang diklasifikasikan sebagai rahasia perusahaan se-
hingga mengakibatkan terjadinya persaingan usaha
tidak sehat;
8. melakukan persekongkolan dengan pihak lain untuk
menghambat produksi dan atau pemasaran barang dan
atau jasa pelaku usaha pesaingnya dengan maksud agar
barang dan atau jasa yang ditawarkan atau dipasok di
pasar bersangkutan menjadi berkurang baik dari kua-
litas, maupun ketepatan waktu yang dipersyaratkan.
Perjanjian dankegiatan yang dilarang tersebut bukan dibuat
tanpa pengecualian. Beberapa pengecualian yang dikenal
dalam Undang-Undang No. 5Tahun 1999 adalah:
a. perbuatan dan atau perjanjian yang bertujuan melak-
sanakan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
atau
b. perjanjian yang berkaitan dengan Hak atas Kekayaan
Intelektual seperti lisensi, paten, merek dagang, hak
cipta, desain produk industri, rangkaian elektronik
terpadu, dan rahasia dagang, serta perjanjian yang
berkaitan dengan waralaba; atau
c. perjanjian penetapan standar teknis produk barang dan
Lisensi atau\Varalaba: Berbagai Pertimbangan 95
atau jasa tidak mengekang, Clan atau menghalangi per-
saingan; atau
d. perjanjian dalam rangka keagenan yang isinya tidak
mernuat ketentuan untuk memasok kembali barang
dan atau jasa dengan harga yang lebih rendah dari-
pada harga yang telah diperjanjikan; atau
e. perjanjian kerja sama penelitian untuk peningkatan
atauperbaikanstandar hidup masyarakat luas, atau
f. perjanjian internasional yang telah diratifikasi oleh
Pemerintah Republik Indonesia; atau
g. perjanjian dan atau perbuatan yang bertujuan untuk
ekspor yang tidak mengganggu kebutuhan dan atau
pasokan pasar dalam negeri; atau
h. pelaku usaha yang tergolong dalam Usaha Keeil seba-.
gaimana dimaksud Undang-Undang Nomor 9 Tahun
1995 tentang Usaha Kecil; atau
i. kegiatan usaha koperasi yang seeara khusus bertujuan
untuk melayani anggotanya.
Melayani anggota di sini maksudnya adalah memberi
pelayanan hanya kepada anggotanya dan bukan kepada
masyarakat umum untuk pengadaan kebutuhan po-
kok, kebutuhan sarana produksi termasuk kredit dan
bahan baku, serta pelayanan untuk memasarkan dan
mendistribusikan hasil produksi anggota yang tidak
mengakibatkan terjadinya prakiik monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat.
Selanjutnya ketentuan Pasal 18 Keputusan Menteri Per-
industrian dan Perdagangan ini memberikan pengaturan
lebih lanjut mengenai wilayah-wilayah mana saja yang
dimungkinkan untuk pelaksanaan wara-
laba:
1. Usaha waralaba dapat dilakukan di semua Ibu-
kota Propinsi, dan kotaltempat tertentu lainnya di
96 lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
Daerah Tingkat II yang ditetapkan dari waktu ke
waktu oleh menteri.
2. Usaha waralaba di kotaltempat tertentu lainnya
di Daerah Tingkat II sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) ditetapkan oleh menteri seeara bertabap
dengan memperbatikan kebutuhan masyarakat,
tingkat perkembangan sosial dan ekonomi dan da-
lam rangka pengembangan usaha kecil dan mene-
ngah di wilayahyangbersangkutan.
3. Lokasi usaha waralaba di Ibukota Provinsi seba-
gaimana dimaksud pada ayat (1) yang berada di
Pasar Tradisional dan di luar Pasar Modern (Mall,
Supermarket, Department Store dan Shopping Cen-
ter), hanya diperbolebkan bagi usaha waralaba
yangdiselenggarakan oleh pengusaha kecil.
4. Usaha waralaba di kotaltempat tertentu lainnya di
Daerah Tingkat II sebagaimana dimaksud pada
ayat(1) danayat(2)hanyadipetbolehkan bagi usaha
waralaba yang diselenggarakan olehpengusaha
kecil.
5. Usaha waralaba di kotaltempat tertentu lainnya di
Daerah Tingkat IIsebagaimana dimaksudpadaayat
(1) dan ayat (2) sepanjang berada di Pasar Modern
(Mall, Supermarket, Department Store dan Shopping
Center), dapat diselenggarakan oleh bukanpengu-
saha keeil setelah mendapat persetujuan dari
menteri ataupejabat lainyangditunjuk.
Dengan pengeeualian bahwa kegiatan usaha waralaba yang
memperdagangkan khusus baranglmakanan/minuman dan
jasa tradisional khas Indonesia dapat diselenggarakan di
seluruh wilayah Indonesia oleh usaha keeil dan menengah
dan atau mengikutsertakan usaha keeil dan menengah.
Lisensi atau \Varalaba:BerbagaiPertimbangan 97
f. jangka waktu perjanjian dan tata cam perpanjangan
perjanjian serta syarat-syamt perpanjangan perjanjian;
jangka waktu Perjanjian Waralaba ditentukan berlaku
sekurang-kurangnya 5(lirna) tahun.
g. Campenyelesaian perselisiban,
Pada umumnya penyelesaian sengketa dapat dilakukan
melalui forum pengadilan, namun demikian, dengan me-
ngingat akan sifat dari pemberian waralaba, khususnya
waralaba format bisnis, penyelesaian perselisihan yang
dilakukan melalui forum peradilan dikhawatirkan oleh
pihak pemberi waralaba akan menjadi suatu forum "buka-
bukaan" bagi Penerima Waralaba yang tidak beriktikad baik.
Untuk menghindari hal tersebut maka sebaiknya setiap
sengketa yang berhubungan dengan perjanjian pemberian
waralaba diselesaikan dalam kerangka pranata alternatif
penyelesaian sengketa, termasuk di dalamnya pranata
arbitrase.
Pranata penyelesaian sengketa alternatif, termasuk di
dalamnya pranata arbitrase di Indonesia saat ini telah diatur
dalam suatu peraturan perundang-undangan tersendiri,
yaitu Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase
dan Alternatif Penyelesaian Sengketa..
Menurut ketentuan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang
tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa
tersebut, objek perjanjian arbitrase atau dalam hal ini
adalah sengketa yang akan diselesaikan di luar pengadilan
melalui lembaga arbitrase (dan atau lembaga alternatif
penyelesaian sengketa lainnya) dapat dilakukan hanya
untuk sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak
yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan
dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa. Tidak
ada suatu penjelasan resmi mengenai maksud ketentuan
Pasal5 ayat (1) Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tersebut,
98 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
namun jika kita lihat pada Pasal 66 huruf b Lndang-Undang
No. 30Tahun 1999, yang berhubungan dengan pelaksanaan
putusan arbitrase internasional, di mana pada Penjelasan
Pasal 66 huruf b Undang-Undang No. 30 Tahun 1999
tersebut dikatakan bahwa yang dimaksud dengan ruang
lingkup hukum perdagangan adalah kegiatan-kegiatan
antara lainbidang:
perniagaan;
perbankan;
keuangan;
penanaman modal;
industri;
Hak Kekayaan Intelektual;
maka ini berarti bahwa makna perdagangan sebagaimana
disebutkan dalam Pasal 5ayat (1) , seharusnya juga memiliki
makna yang luas. Hal ini juga sejalan dengan ketentuan
selanjutnya dalam Pasal 5 ayat (2), yang memberikan pe-
rumusan negatif, di mana dikatakan bahwa sengketa-
sengketa yang dianggap tidak dapat diselesaikan melalui
arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perun-
dang-undangan tidak dapat diadakan perdamaian. Dengan
adanya ketentuan sebagaimana dijelaskan dalam Penjelasan
Pasal66 hurufbUndang-Undang No. 30Tahun 1999 tersebut,
maka sengketa yang berhubungan dengan pemberian wa-
ralaba, baik yang berhubungan dengan Hak atas Kekayaan
Intelektual (pada waralaba nama dagang atau produk),
maupun waralaba format bisnis dapat diselesaikan melalui
pranata Alternatif Penyelesaian Sengketa termasuk Arbitrase.
h. Ketentuan-ketentuan pokok yang disepakati yang dapat
mengakibatkan pemutusan perjanjian atau berakbirnya
perjanjian;
Pada dasarnya setiap perikatan, termasuk perjanjian memiliki
jangka waktu berlakunya, dan akan berakhir dengan sen-
Lisensi atauWaralaba:Berbagai Pertimbangan 99
dirinya dengan habisnya jangka waktu pemberian waralaba
yang diatur dalam perjanjian pemberian waralaba, kecuali
jika diperpanjang atau diperbaharui oleh para pihak (time
constraint) .
Hal lain yang juga perlu untuk mendapat perhatian adalah
masalah pengakhiran lebih awal. Dalam hal ini perlu diatur
secara pasti dan jelas apa-apa saja merupakan dan menjadi
dasar pembenaran pengakhiran lebih awal. Di Indonesia
perlu diperhatikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 1266
Kitab Undang-Undang' Hukum Perdata, yang hingga saat ini
masih belum jelas statusnya. Apakah ketentuan Pasal 1266
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tersebut dapat di-
simpangi atau tidak oleh para pihak, serta seberapa jauh
mengikatnya bagi para pihak. Menurut ketentuan Pasal
1266 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, suatu perjanjian
hanya dapat dibatalkan atau diakhiri sebelum jangka wak-
tunya jika keputusan mengenai pembatalan atau pengak-
hiran tersebut telah dijatuhkan oleh hakim pengadilan
(negeri).
i. Ganti rugi dalam halterjadi pemutusanperjanjian;
Ketentuan mengenai ganti rugi secara umum dapat kita
temukan dalam Pasal 1267 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata. Menurut ketentuan tersebut dapat kita ketahui
bahwa pihak terhadap siapa suatu perikatan tidak dipenuhi
dapat menuntut penggantian biaya, kerugian dan bunga.
Dalam hal ini, maka tuntutan ganti rugi yangdiminta sebagai
akibat pembatalan, pemutusan atau pengakhiran perjanjian
secara lebih awal harus ielas dan dapat dikuantifikasikan
dalam suatu nilai nominal mata uang tertentu.
j. rata cara pembayaran imbalan;
Seperti telah disebutkan di atas, bahwa Peraturan Perne-
rintah No. 16 Tahun 1997 tampaknya hanya mengenal
100 Lisensi atau\Varalaba: Suatu Pengantar Praktis
pembayaran kompensasi dalam bentuk Direct Monetary
Compensation. Ini berarti jenis pembayaran yang dapat
dilakukan dapat terwujud dalam bentuk:
a. lump-sum payment, yang dapat dilakukan sekaligus
maupun dalam beberapa kali pembayaran cieilan;
b. royalti, yang besar atau jumlah pembayarannya di-
kaitkan dengan suatu persentase tertentu yang dihitung
dari jumlah produksi, dan/atau penjualan dari barang
dan atau jasa yang dihasilkan berdasarkan pemberian
waralaba, yang pembayarannya dilakukan seeara ber-
kala, biasanya dilakukan seeara eatur wulanan, sernes-
teran atau tahunan.
Bagi waralaba yang diperoleh dari luar negeri, maka perlu
diperhatikan ketentuan yang berhubungan dengan masalah
perpajakan. Biasanya para Pemberi Waralaba dari luar negeri
menginginkan royalti yang diterima olehnya bebas dari
segala maeam beban pajak, biaya-biaya, dan ongkos-ongkos,
Hal ini akan sangat berpengaruh pada penghasilan yang
diterima oleh Penerima Waralaba.
k. Pen unaan barang atau baban basil produksi dalam _.
negeri yang dibasilkan dan dipasok oleb pengusaba kee!l
Ketentuan ini merupakan pelaksanaan dari ketentuan Pasal
4ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1997, yang di-
ulang kembali dalam rumusan Pasal 17 Keputusan Menteri
Perindustrian dan Perdagangan ini, yang menyatakan bahwa:
1. Pemberi Waralaba mengutamakan pengusaha keeil dan
menengah sebagai Penerima WaralabaIPenerima Wara-
laba Lanjutan dan atau pemasok dalam rangka pe-
nyediaan dan atau pengadaan barang dan atau jasa.
2. Dalam hal Penerima Waralaba/Penerima Waralaba
Lanjutan bukan merupakan pengusaha keeil dan
menengah, Pemberi Waralaba dan Penerima Waralabal
lisensi atau Waralaba:Berbagai Pertimbangan 101
Penerima Waralaba Ianjutan wajib mengutamakan kerja
sama dan atau pasokan barang dan atau jasa dari pe-
ngusaha kecil dan menengah.
I. Pembinaan, bimbingan, danpelatihan kepada Penerima
Waralaba.
Hal ini pada pokoknya merupakan bagian dari suatu paket
pemberian waralaba, khususnya waralaba format bisnis.
Tidak mungkin pihak Penerima Waralaba dapat melaksa-
nakan suatu waralaba yang diberikan tanpa adanya bantuan
dalam bentuk pembinaan, bimbingan dan pelatihan kepada
Penerima Waralaba. Ketentuan inipun sebenarnya sudah
diatur dalam Pasal 4 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 16
Tahun 1997.
m. pilihan hukum
Sesuai dengan ketentuan Pasal 2ayat (2) Keputusan Menteri
Perindustrian Dan Perdagangan Nomor: 259/Mpp/Kepl7/
1997 Tanggal 30 ]uli 1997, perjanjian waralaba yang dilak-
sanakan di Indonesia akan berlaku hukum Indonesia. Ini
berarti para pihak dalam perjanjian tidak boleh memilih
ketentuan hukum yang lain selain ketentuan hukum In-
donesia, untuk setiap perjanjian waralaba yang dibuat dan
dilaksanakan diIndonesia.
Selain itu juga perlu diperhatikan dan dipertimbangkan bahwa
perjanjian waralaba harus dibuat dalam bentuk tertulis antara Pemberi
Waralaba dan Penerima Waralaba, dan dalam bahasa Indonesia.
C. LISENSI ATAU WARALABA
Dari uraian yang telah diberikan di atas, dapat kita kemukakan
beberapa perbedaan pokok dalam penyusunan atau pembuatan
perjanjian lisensi dibandingkan dengan perjanjian waralaba. Bebe-
rapa hal tersebut adalah:
102 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
1. Pemberian lisensi tidak diatur secara spesifik tetapi tunduk dan
diatur dalam berbagai macam peraturan perundang-undangan
yang tersebut. Hal ini membawa konsekuensi hukum bahwa
luas cakupan dan ruang lingkup pemberian lisensi harus mem-
perhatikan luasnya perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual
yang dapat diberikan oleh negara kepada Pemberi Lisensi. Dalam
hal ini juga perlu diperhatikan kemungkinan terjadinya pern-
berian lisensi paksa atas permintaan pihak tertentu (yang ber-
kepentingan) atas suatu Hak atas Kekayaan Intelektual yang
telah dimohonkan pendaftarannya, maupun yang te1ah mern-
peroleh perlindungan oleh negara. Hal lain yang perlu juga
dipertimbangkan adalah kemungkinan terjadinya penggunaan
Hak atas Kekayaan Intelektual secara sah oleh pihak lain, atas
penolakan pendaftaran Hak atas Kekayaan Intelektual, yang
tentunya dalam banyak hal akan merugikan kepentingan
Penerima Lisensi, baik langsung maupun tidak langsung.
2. Pemberian waralaba senantiasa diikuti dengan pemberian ban-
tuan manajemen dan fasilitas dalam satu perjanjian dengan pem-
bayaran royalti yang sudah ditentukan besarnya. Dalam pern-
berian lisensi, perjanjian pemberian lisensi dapat dipisahkan dari
perjanjian pemberian bantuan teknis atau manajemen, yang
masing-masing dapat melahirkan suatu hak royalti yang inde-
pendenbagi Pemberi Lisensi.
3. Pembayaran imbalan dalam perjanjian waralaba hanya dapat
dilakukan dalam bentuk direct compensation, yang besarnya
digantungkan pada persyaratan dan atau penjualan barang dan
atau jasa. Ini berarti dalam pemberian waralaba tidak dimung-
kinkannya pemberian imbalan yang tidak didasarkan atau dikait-
kan dengan persyaratan dan atau penjualan barang dan atau jasa.
Dalam pemberian lisensi, pembatasan tersebut tidaklah berlaku.
Artinya Pemberi Lisensi dapat meminta imbalan dalam bentuk
apa pun selama dan sepanjang hal tersebut disepakati oleh Pe-
Lisensi atauWaralaba:Berbagai Pertimbangan 103
nerima Lisensi, selama dan sepanjang tidak memuat ketentuan
yangdapat menimbulkan akibat yang merugikan pereho-
nomian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengaki-
batkan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur
dalam peraturan perundang-undangan yangberlaku, dan
ketentuan, baik langsung maupun tidak langsung, yangdapat
merugikan perekonomian Indonesia atau memuat pembatas-
an yang menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam
menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya
dan yang berkaitan dengan Invensi yang diberi Paten
tersebutpada khususnya.
4. Kewajiban untuk melaksanakan kegiatan waralaba oleh pihak
Penerima Waralaba, sekurang-kurangnya satu tempat usaha.
Pada prinsipnya ketentuan ini tidak jauh berbeda dengan ke-
wajiban pelaksanaan Hak atas Kekayaan Inteletual yang
diberikan perlindungan oleh negara, di Indonesia. Agak sedikit
berbeda dari waralaba, dalam Iisensi, kewajiban tersebut dapat
diserahkan lebih lanjut oleh pihak Penerima Lisensi kepada
pihak lain, tanpa adanya keharusan bagi diri nya sendiri untuk
melaksanakan lisensi yang telah diberikan tersebut. Dalam
rangka inilah dimungkinkan adanya pemberian Iisensi paksa
oleh negarasebagai wujud pelaksanaan pemberian perlindungan
Hak atas Kekayaan Intelektual yangdilindungi oleh negara, tanpa
perlu menghapuskan perjanjian Iisensi itu sendiri.
5. Perjanjian pemberian waralaba harus dibuat untuk jangka waktu
sekurang-kurangnya 5 tahun. Ketentuan ini tidak berlaku bagi
pemberian lisensi. Pihak Pemberi Lisensi dapat dan berhak untuk
menentukan sendiri jangka waktu pemberian lisensi, selama
dan sepanjang hal tersebut disetujui oleh Penerima Lisensi dan
sesuai dengan peruntukan Hak atas Kekayaan IntelektuaI yang
dilisensikan. Dalam hal ini juga perlu diperhatikan adanya
kemungkinan pemberian Iisensi paksa dalam hal lisensi yang
104 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
diberikan tidak optimum bagi pengembangan Hak atas Kekayaan
Intelektual di Indonesia.
6. Waralaba melibatkan keikutsertaan Pemerintah, dalam hal ini
Departemen Perindustrian dan Perdagangan, secara lebih men-
dalam, termasuk di dalamnya penerbitan Surat Tanda Pendaf-
taran Usaha Waralaba (STPUW) bagi pelaksanaan usaha waralaba
di Indonesia oleh Penerima Waralaba. Pemberian Iisensi mes-
kipun wajib didaftarkan, sebagai bagian dari pemberian per-
Iindungan oleh negara, tidak rnelibatkan penerbitan izin usaha
baru bagi Penerima Lisensi.
7. Adanya kewajiban bagi Penerima Waralaba untuk menyampai-
kan laporan perkembangan kegiatan waralaba secara periodik
kepada Departemen Perindustrian dan Perdagangan, sebagai
bagian dari monitoring pelaksanaan waralaba di Indonesia. Da-
lam pemberian Iisensi kewajiban demikian tidak ada.
8. Sebagai bagian dari keterlibatan aktif pemerintah, ketentuan
waralaba juga mengatur mengenai lokasi atau wilayah pelaksa-
naan waralaba. Pada pemberian Iisensi, karena pada umumnya
diberikan secara eksklusif atas Hak atas Kekayaan Intelektual
yang dilindungi oleh negara, pembagian wilayah bukan dan tidak
akan menjadi masalah, meskipun pengaturan pembagian wila-
yah ini tidak dilarang ataupun diatur secara khusus.
9. Perjanjian waralaba wajib untuk dibuat dalam bahasa Indonesia.
Perjanjian lisensi tidak tunduk pada ketentuan ini, dan terhadapnya
dapat dipergunakan bahasa yang dianggap paling menguntungkan
bagi para pihak dalam pemberian Iisensi.
10. Perjanjian waralaba wajib tunduk dan terhadapnya diberlaku-
kan ketentuan hukum Indonesia. Ketentuan ini bersifat
memaksa (compulsory) agar nantinya perjanjian waralaba
tersebut dapat dilindungi di Indonesia. Ketentuan ini tidak
dikenal dalam pemberian lisensi. Dalam perjanjian lisensi,
Lisensi atauWaralaba: Berbagai Pertimbangan 105
Pemberi Lisensi dan Penerima Lisensi bebas untuk menentukan
pilihan hukum, selama dan sepanjang hal tersebut harus patut
dan tidak menyebabkan terjadinya penyelundupan hukum.
11. Clean break secara khusus diatur dalam ketentuan waralaba.
Ketentuan tersebut secara tegas tidak memungkinkan pelaksa-
naan waralaba oleh Penerima Waralaba baru sebelum segala hak
dan kewajiban Pemberi Waralaba dan Penerima Waralaba
berdasarkan Perjanjian Waralaba sebelumnya telah diselesaikan.
Hal ini jelas merupakan perlindungan yang sangat baik bagi
kedua belah pihak, dari iktikad tidak baik yang mungkin saja
ada, di salah satu atau mungkin kedua belah pihak dalam
pemberian waralaba.
107
6
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari seluruh penjelasan dan uraian yang telah diberikan di atas
dapat kita tarik suatu kesimpulan bahwa:
1. Lisensi merupakan suatu bentuk pemberian izin untuk me-
manfaatkan suatu Hak atas Kekayaan Intelektual, yang dapat
diberikan oleh Pemberi Lisensi kepada Penerima Lisensi agar
Penerima Lisensi dapat melakukan suatu bentuk kegiatan usaha,
baik dalam bentuk teknologi atau pengetahuan (knowhow) yang
c dapat dipergunakan untuk memproduksi menghasilkan, men-
jual, atau memasarkan barang (berwujud) tertentu, maupun yang
akan dipergunakan untuk melaksanakan kegiatan jasa tertentu,
dengan mempergunakan Hak atas Kekayaan Intelektual yang
dilisensikan tersebut.
2. Pengaturan lisensi di Indonesia dapat kita temukan dalam ber-
bagai macam peraturan perundang-undangan yang mengatur
mengenai Hak atas Kekayaan Intelektual, yaitu:
a. Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia
Dagang;
b. Undang-UndangNo. 31 Tahun2000tentangDesainlndustri;
108 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
c. Undang-Undang No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata
Letak Sirkuit Terpadu,
d. Undang-Undang No. 14Tahun 2001 tentangPaten;
e. Undang-UndangNo. 15 Tahun 2001 tentangMerek.
Sedangkan Undang-Undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak
Cipta sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 7
Tahun 1987 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 6Tahun
1982 tentang Hak Cipta, dan terakhir diubah dengan Undang-
Undang No. 12 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang-
Undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sama sekali
tidak mengatur mengenai pemberian Lisensi Hak Cipta,
3. Pemberian lisensi dalam bidang Hak atas Kekayaan Intelektual
ini memiliki dan berpengaruh serta dipengaruhi oleh berbagai
macam aspek. Beberapa di antaranya yang cukup dominan ada-
lah masalah alih teknologi, praktik monopoli dan persaingan
usaha tidak sehat dan masalah penyelesaian sengketa dalam
bidang lisensi.
4. Masalah alih teknologi yang senantiasa dikaitkan dengan lisensi
paksa/lisensi wajib dalam rangka pelaksanaan Hak atas Kekayaan
Intelektual tampaknya belum cukup banyak diatur sehingga
diperlukan adanya pengaturan yang lebih komprehensif agar
nantinya Indonesia tidak dituduh melanggar Hak atas Kekaya-
anIntelektual juga tidak dijadikan "bulan-bulanan"proteksi yang
berlebihan atas perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual.
5. Aspek praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat tidak
diatur dalam peraturan perundang-undangan dalam bidang Hak
atas Kekayaan Intelektual, namun demikian kita dapat mem-
pergunakan ketentuan umum yang diatur dalam Undang-
UndangNo. 5Tahun 1999 tentang Larangan PraktikMonopoli
danPersaingan Usaha Tidak Sehat.
6. Penyelesaian sengketa atau perselisihan atau perbedaan pen-
dapat perlu mendapat perhatian, oleh karena aspek Hak atas
Penutup 109
Kekayaan Intelektual merupakan suatu hak yang mendapat so-
ratan dalam pelaksanaan TRIPs sebagaimana digariskan dalam
Undang-Undang No.7 Tahuri 1994 telah mengesahkan
Agreement Establishing the World Trade Organization
(persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia).
Undang-Undang No. 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan
Agreement Establishing the World Trade Organization
(Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia).
Oleh karena itu, maka pengaturan mengenai pelaksanaan
kesepakatan penyelesaian sengketa melalui pranata alternatif
penyelesaian sengketa dan atau putusan arbitrase yang
berhubungan dengan pemberian lisensi harus dapat benar-
benar ditegakkan.
7. Waralaba mempunyai dua macam bentuk, yaitu:
a. waralaba nama dagang atau produk;
b. waralaba format bisnis.
8. Waralaba melibatkan tidak hanya penggunaan Hak atas Keka-
yaan Intelektual, melainkan juga penemuan atau ciri khas usaha
yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan per-
syaratan dan atau penjualan barang dan atau jasa. Dengan kata
lain dapat dikatakan bahwa waralaba melibatkan pernanfaatan
Hak atas Kekayaan Intelektual (dalam arti kata yang luas).
9. Pengaturan waralaba di Indonesia dapat ditemukan dalam Pe-
raturan Pemerintah Republik Indonesia No. 16 Tahun 1997 tanggal
18 ]uni 1997 tentang Waralaba dan Keputusan Menteri Per-
industrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor: 259/
MPP/Kep/7/1997 tanggal 30 ]uli 1997 tentang Ketentuan dan
Tata Cara Pelaksanaan Pendaftaran Usaha Waralaba.
10. Dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
Republik Indonesia Nomor: 259/MPP/Kep/7/1997 tanggal 30
]uli 1997 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan
110 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
Pendaftaran Usaha Waralaba diatur ketentuan yang bersifat
preventif, yaitu yang dilakukan dalam bentuk:
a. kewajiban bagi Pemberi Waralaba untuk menyampaikan
keterangan tertulis dan benar kepada Penerima Waralaba
sebelum perjanjian waralaba ditandatangani oleh kedua
belah pihak, Pemberi Waralaba dan Penerima Waralaba;
b. adanya ketentuan yang mengatur mengenai klausul
minimum yang diatur dalam Perjanjian Waralaba antara
Pemberi Waralaba dengan Penerima Waralaba;
c. kewajiban untuk melakukan pendaftaran perjanjian wara-
laba pada Departemen Perindustrian dan Perdagangan, ter-
t
masuk atas setiap perubahannya;
d. kewajiban untuk melakukan pelaporan berkala atas pe-
laksanaan waralaba.
11. Sebagai suatu berituk perjanjian, maka baik Iisensi maupun wa-
ralaba tunduk pada ketentuan yang diatur secara umum dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dalam hal ini berarti,
sebagai suatu bentuk perjanjian, para pihak dalam perjanjian
waralaba, yaitu Pemberi Waralaba dan Penerima Waralaba bebas
untuk mengaturnya, selama dan sepanjang:
a. memenuhi persyaratan sahnya perjanjian sebagaimana di-
aturdalam Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata:
dan
b. tidak bertentangan dengan ketentuan memaksa yang diatur
dalam:
i. bagi Iisensi:
1. Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia
Dagang;
2. Undang-Undang No. 31 Tahun 2000 tentang Desain
Industri;
3. Undang-Undang No. 32 Tahun 2000 tentang Desain
Tata Letak Sirkuit Terpadu;
Penutup 111
4. Undang-Undang No. 14 Tahun 2001 tentang Paten;
dan
5. Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek.
ii. bagi waralaba: 17r.
1. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1997 tanggal
18]uni 1997 tentang Waralaba; dan
2. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
Republik Indonesia Nomor: 259/MPP/Kepl7/1997
tanggal 30 ]uli 1997 tentang Ketentuan dan Tata
Cara Pelaksanaan Pendaftaran Usaha Waralaba.
12. Meskipun lisensi dan waralaba berangkat dari suatu sistem
pemberian hak untuk melaksanakan Hak atas Kekayaan Inte-
lektual (dalam ani kata luas termasuk penemuan, termasuk sis-
tern usaha, dan ciri khas lainnya), namun pemberian dan pe-
laksanaannya di Indonesia memiliki aspek praktis yang
secara signifikan cukup berbeda antara satu dengan yang
lainnya, khususnya yang berhubungan dengan:
a. keterlibatan pemerintah sebagai otoritas yang mengatur
pelaksanaan pemberian dan jalannya waralaba di Indonesia,
yang antara lain terwujud dalam penerbitan Surat Tanda
Pendaftaran Usaha Waralaba, pengaturan wilayah pelaksa-
naan waralaba, pelaporan pelaksanaan waralaba secara
berkala, dan penyelesaian perselisihan secara clean break.
b. Pernbuatan perjanjian waralaba harus dalam bahasa Indo-
nesia, untuk jangka waktu sekurang-kurangnya 5tahun, dan
berlakunya ketentuan hukum Indonesia secara memaksa
bagi perjanjian pemberian waralaba yang dilaksanakan di
Indonesia.
B. SARAN
Para pemilik Hak atas Kekayaan Intelektual (dalam ani luas) yang
112 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
akan melaksanakan Hak atas Kekayaan Intelektualnya seeara tidak
langsung di Indonesia, dengan memperhatikan akan kebutuhan dan
kepentingan usahanya dapat memilih antara Iisensi dan waralaba,
yaitu dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan khusus dan spe-
sifik bagi pemberian Iisensi dan atau waralaba di Indonesia. Demikian
pula kiranya perbedaan tersebut dapat juga dipakai dan dipergunakan
oleh pihak yang akan melaksanakan Hak atas Kekayaan Intelektual
(dalam ani luas) yang dilisensikan atau diwaralabakan tersebut, untuk
meneapai format yang paling baik dan optimum bagi jalannya
kegiatan usaha melalui Iisensi atau waralaba yang dilakukan olehnya di
Indonesia.
Tidak ada yang salah atau tidak baik dari ketentuan yang ada, baik
yang mengatur mengenai Iisensi atau waralaba. Perbedaan dari keten-
tuan-ketentuan tersebut harus dapat dimantaatkan dan disesuaikan
dengan kebutuhan dari, baik pemilik Hak atas Kekayaan Intelektual
(dalam ani luas) yang akan mengembangkan usahanya di Indonesia
seeara tidak langsung, melalui pemberian Iisensi dan atau waralaba:
maupun pihak yang akan melaksanakan Hak atas Kekayaan Intelektual
(daIam ani luas) yang dilisensikan atau diwaralabakan tersebur.
113
DAFTAR PUSTAKA
Anthony, Sheila F. AIPLA Quarterly Journal. "Antitrust and Intellec-
tual Property Law: From Adversaries to Partners". Volume 28,.
~ m b e r 1, Winter 2000, halaman. 1-24.
Black, Henry Campbell. Black's Law Dictionary 6th ed, St. Paul MN:
West Publishing Co, 1990.
Burtis, Michelle M& Bruce H. Kobayashi. Why and Original can be
better than a Copy: Intellectual Property, the Antitrust Refusal
toDeal, and ISO Antitrust Litigation. Law and Economics Work-
ing Papers Series Working Paper' No. 01-02, George Mason
University School ofLaw, 2001. .
Business News No. 5577 tanggall ]uli 1994, Ruang Hukum, halaman
7-8. Nulitas dalam Perjanjian.
Business News No. 5583 tanggal15 ]uli 1994, Ruang Hukum, halaman
7-8. Hal berlaku secara mutlak.
Business News No. 5612 tanggal23 September 1994, Ruang Hukum,
halaman 7-8. Seputar Perjanjian Assesoir.
Business News No. 5707 tanggal12 Mei 1995, Ruang Hukum, halaman
7-8. Aspek Hukum Franchising (Bagian I).
114 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
Business News No. 5709 tanggal19 Mei 1995, Ruang Hukum, halaman
7-8. Aspek Hukum Franchising (BagianII).
Business News No. 5712 tanggaI26Mei 1995, Ruang Hukum, halaman
7-8. Franchising, Distribusi dan Keagenan.
Business News No. 5717 tanggal9 ]uni 1995, Ruang Hukum, halaman
7-8. Pilihan Hukum.
Business News No. 5764 tanggal 29 September 1995, Ruang Hukum,
halaman 7-8. Esensialia Waktu dalam Perjanjian.
Business News No. 5951 tanggal 20 Desember 1996, Ruang Hukum,
halaman 7-8. Mempersoalkan Masalah Kesepakatan Lisan.
Business News No. 5720 tanggal16]uni 1995, Ruang Hukum, halaman
7-8. Pilihan Domisili dan Pilihan Hukum.
Business News No. 5764 tanggal 29 September 1995, Ruang Hukum,
halaman 7-8. Esensialia Waktu dalam Perjanjian.
BusinessNews No. 6038 tanggal25 ]uli 1997, Ruang Hukum, l1alaman
7-8. Franchise di Indonesia. .//
Business News No. 6074 tanggal 17 Oktober 1997, Ruang Hukum,
halaman 7-8. Pilihan Hukum dan Konsekuensi Hukumnya
(BagianI).
Business News No. 6080 tanggal 31 Oktober 1997, Ruang Hukum,
halaman 7-8. Pilihan Hukum dan Akibat Hukumnya (Bagian II -
Habis).
Business News No. 6097 tanggal 12 Desember 1997, Ruang Hukum,
halaman 7-8. Pilihan Forum dan Pilihan Hukum (Bagian I).
Business News No. 6103 tanggal 26 Desember 1997, Ruang Hukum,
halaman 7-8. Pilihan Forum dan Pilihan Hukum (Bagian II -Habis).
Business News No. 6381 tanggal 29 Oktober 1999, Ruang Hukum,
halaman 7-8. Alternatif Penyelesaian Sengketa (Negosiasi dan
Perdamaian).
Daftar Pustaka 115
Business News No. 6387 tanggal 12 November 1999, Ruang Hukum,
halaman 7-8. Alternatif Penyelesaian Sengketa (Mediasi dan
Konsiliasi).
Business News No. 6393 tanggal 26 November 1999, Ruang Hukum,
halaman 7-8. Arbitrase sebagai salah satu Alternatif Penyelesaian
Sengketa.
Business News No. 6399 tanggal 10 Desember 1999, Ruang Hukum,
halaman 7-8.jangka waktu Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Business News No. 6590 tanggal16 Maret 2001, Ruang Hukum, halaman
7-8. Lisensi Rahasia Dagang.
Business News No. 6595 tanggal30 Maret 2001, Ruang Hukum, halaman
7-8. Perlindungan Rahasia Dagang.
Campbell, Dennis & Louis Lafili. Ed. Distributorship, Agency and
Franchising inanInternational Arena: Europe, theUnited States;
Japan and L ~ e r i c a . Boston: Kluwer Law and Taxation
Publishers, 1p90.
Cass, Ronald A. Copyright, Licensing, andFirst Screen. Discussion Paper.
Correa. Carlos M. Intellectual Property Rights and the Use of
Compulsory Licenses: Option for Developing Countries. TRADE
Working Papers 5. SouthCenter, October1999.
Fox, Stephen. Seri Bisnis Baron: Membeli dan Menjual Bisnis dan
Franchise. Jakarta: Elex Media Komputindo, 1993.
Dinwoodie, Graeme B. The Role ofPrivate LawDispute Resolution in
Developing Principles of International Copyright Law. Discus-
sion Paper, draft March 2000.
Gautarna, Sudargo, Aneka Masalah Hukum Perdata Internasional.
Bandung: Alumni, 1985.
Gautama, Sudargo.Segi-segi Hukum Hak Milik Intelektual. Bandung:
Eresco, 1990.
Gautama, Sudargo. Masalab-Masalab Perdagangan, Perjanjian,
116 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis
Hukum Perdata Internasional dan Hak Milik Intelektual.
Bandung: Citra Aditya Bakti, 1992.
Gautama, Sudargo. Hak Milik IntelektualIndonesia danPerjanjian
Internasional: TRIPs, GATT, Putaran Uruguy (1994). Bandung:
Citra Aditya Bakti, 1994.
Gikkas, Nicolas S. Journal of Technology Lawand Policy. "Interna-
tional Licensing of Intellectual Property: The Promise and the
Peril". Volume 1 Spring 1996, Issue 1, page 1-17. http://
journal.law.ufl.eduI%7Etechlaw/1/gikkas.html.
Gramatidis, Yanos &- Dennis Campbell. Ed. International Franc-
bising: an indeptb treatment of business and legal techniques.
Boston: Kluwer Law and Taxation Publishers, 1991.
Indonesia. Undang-Undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 7Ta-
hun1987tentangPerubahan atas u n ~ u n d a n g No. 6Tahun
1982 tentang Hak Cipta, dan terakbir 'diubab dengan Undang-
Undang No. 12Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang-
Undang No. 6Tahun 1982 tentang Hak Cipta.
Indonesia. Undang-Undang No. 6 Tahun 1989 tentang Paten
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 13
Tahun 1997tentang Paten.
Indonesia. Undang-Undang No. 7 Tahun 1994 telah mengesahkan
Agreement Establishing the World Trade Organization (Perse-
tujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia). Un-
dang-Undang No. 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agree-
ment Establishing the World Trade Organization (persetujuan
Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia).
Indonesia. Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Indonesia. Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia
Dagang.
DaftarPustaka 117
Indonesia. Undang-Undang No. 31 Tahun 2000 tentang Desain
Industri.
Indonesia. Undang-Undang No. 32Tahun 2000 tentang Desain Tata
Letak Sirkuit Terpadu.
Indonesia. Undang-Undang No. 15Tahun 2001 tentangMerek.
Indonesia. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1997 tentang
Waralaba. LNNo. 49 Tahun 1997, TLNNo.3689.
Indonesia. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
Republik Indonesia No. 259/MPP/Kep/7/1997 tentang Ketentuan
danTata Cara Pelaksanaan Pendaftaran Usaha Waralaba.
juma, Calestous.Intellectual Property Rights andGlobalization: Im-
plications for Developing Countries. Technology and Inno-
vation Discussion Paper No. 4. Centre for International De- .
velopment. Harvard University. Cambridge, MA, USA.
Karamoy, Amir. Sukses !:fa Lewat Waralaba. Jakarta: jurnalindo
Aksara Grafika, 199 .
Keegen, Warren J. Globa Marketing Management. New York: Pren-
tice Hall International, 1989.
Law Library. Guide tothe FIC Franchise andBusiness Opportunity
Rule.
Mendelshon, Martin. Franchising: Petunjuk Praktis bagi Franchisor
danFranchisee. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo, 1997.
Nahattands, Lambock V. Pokok-Pokok Pemikiran dalam Peraturan
Pemerintab No. 16 Tahun 1997 tentang Waralaba. Makalah
disampaikan dalam Seminar Waralaba yang diselenggarakan oleh
Program Pasca Sarjana Universitas Iayabaya, 18 September 1997
Purwin [r, Robert L. The Franchise Fraud. New York: John Wiliet &
Sons, !nc, 1994.
Queen, Douglas J. Pedoman Membeli danMenjalankan Franchise.
Jakarta: Elex Media Komputindo, 1993.
118 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis
Shippey, KarIa. C. Menyusun Kontrak Bisnis Internasional. Jakarta:
Penerbit PPM, 200l.
Subekti, Rdan Tjitrosoedobio, R. Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata.Jakarta: Pradnya Paramita, 1985.
United States ofAmerica. Title 16: Commercial Practices, Chapter 1:
Federal Trade Commission, Sub Chapter D: Trade Regulation
Rules, Part 436: Disclosure Requirements and Prohibitions
Concerning Francchise andBusiness Opportunity Ventures.
United States ofAmerica. Uniform Franchise andBusiness Opportu-
nity Act. .
United States of America. Uniform Franchise Offering Circular
Guidelines. ~
United States Department of] ustice andth ederal Trade Commission.
Antitrust Guidelines for the Lie ngof Intellectual Property.
http://www.usdoj.gov/atr/public/guidelines/ipguide.htm.
Widjaja, Gunawan. Media Ilmiah Indonusa. "Perlindungan Hak atas
Kekayaan Intelektual (HAKI) di Indonesia menjelang Era
Globalisasi". Ed VII Nov 1999-Mei 2000, haI31-43.
Widjaja, Gunawan &Ahmad Yani. Seri HukumBisnis-Arbitrase. Jakarta:
Rajawali Pers, 2000.
Widjaja, Gunawan & Ahmad Yani. Seri Hukum Bisnis-Transaksi Bis-
nisInternasional: Ekspor Impor danjual Beli. Jakarta: Rajawali
Pers, 2000.
Widjaja, Gunawan. Seri Hukum Bisnis-Alternatif Penyelesaian
Sengketa. Jakarta: Rajawali Pers, 200l.
Widjaja, Gunawan. Seri Hukum Bisnis-Rahasia Dagang. Jakarta:
Rajawali Pers, 200l.
Widjaja, Gunawan. Seri Hukum Bisnis-Lisensi. Jakarta: Rajawali Pers,
2001.
Daftar Pustaka 119
Widjaja, Gunawan. Seri Hukum Bisnis-Waralaba. Jakarta: Rajawali
Pers,200l.
WIPO. Background Reading Material on Intellectual Property. Ge-
neva: WIPO Publication, 1988.
WIPO. Licensing Guide for Development Countries. Geneva: \V1PO
Publication, 1977.
\V1PO. Paris Convention for the Protection of Industrial Property
and Convention Establishing the \Vorld Intellectual Property
Organization
WTO. Trade Related Aspects on Intellectual Properties, including
Trade inCounterfeit Goods.
Yani, Ahmad & Gunawan Widjaja. Seri Hukum Bisnis-snti Monopoli.
Jakarta: Rajawali Pers, 1999.
(
279
RIWAYAT HIDUP
GUNAWWWIDJAjA, lahir di Medan, tanggal 12 Mei
1969. Pe .iyandang gelar Sarjana Hukum dan Magister.
Manajemen ini me-nyelesaikan studinya pada Fa-
kultas Hukum Universitas Indonesia di tahun 1990
dengan program kekhususan Hukum tentang Ke-
, r. , giatan Ekonomi, dan tengah menyelesaikan studi
Magister Hukum pada Universitas Indonesia. Pengasuh Ruang Hu-
kumBuletin Business News dari tahun 1993 hingga sekarang ini, juga
adalah StafPengajar pada Universitas Indonusa Esa Unggul, Universitas
Pelita Harapan, dan Instruktur Business Law pada German-Swiss Bu-
siness Training Foundation. Selain t e r d a f t a r ~ e b gai Konsultan Hu-
kum Pasar Modal, Kurator dan Pengurus, iaju merupakan anggota
Persatuan Wartawan Indonesia. Saat ini merup kan rekan senior pada
Kantor Konsultan Hukum SWS & Rekan.