Anda di halaman 1dari 214

HERINAWATI, SH,M.

Hum

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa


Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

Buku ini dipersembahkan untuk Ayahanda dan Ibunda Serta Suami Tercinta Tiadalah lengkap arti kehadiran karya ini bila engkau tak menjadikannya pemicu

semangat untuk mengapai cita-cita yang lebih baik dari yang kumiliki

PERJANJIAN UNIT LINK dalam asuransi jiwa


Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

Penulis

HERINAWATI, SH,M.Hum

Editor:

Ramziati, SH,M.Hum Yulia, SH,MH Nurarafah, SH,MH. Zainal Abidin, SH,M.Hum

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Herinawati Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis Editor: Ramziati, SH,M.Hum, Yulia, SH,MH, Nurarafah, SH,MH., Zainal Abidin, SH,M.Hum Unimal Press viii, 162 hlm; 160 x 240 mm (UNESCO Standard) ISBN 979-1372-36-7 1. Unit Link 2. Asuransi 3. Hukum Bisnis 4. Herinawati I. Judul I. Malikussaleh, Univ.

Unimal Press
Cetakan ke-1 Desember 2007. Cetakan ke-2 Januari 2009.

Universitas Malikussaleh: Jl. Panglateh No. 10, Keude Aceh, Lhokseumawe P.O. Box 141, Nanggroe Aceh Darussalam INDONESIA +62-0645-41373-40915 +62-0645-44450 Alamat Penerbit: Unimal Press Jl. Panglateh No. 10, Lhokseumawe 24351 Nanggroe Aceh Darussalam INDONESIA +62-0645-47146 +62-0645-47512 Email: unimalpress@unimal.ac.id unimalpress@gmail.com Website: www.unimal.ac.id/unimalpress

Hak Cipta 2009, Herinawati

All rights reserved

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis Editor: Ramziati, SH,M.Hum, Yulia, SH,MH, Nurarafah, SH,MH., Zainal Abidin, SH,M.Hum Hak Penerbitan: Unimal Press Design Cover dan Layout: M. Muntasir Alwy Dicetak oleh: Unimal Press Cetakan Pertama, Desember 2007 Cetakan ke dua, Januari 2009.

No parts of this book may be reproduced by any means, electronic or mechanical, including photocopy, recording, or information storage and retrieval system, without permission in writing from the publisher.
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apa pun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa izin sah dari penerbit

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga atas izin dan ridha-Nya, karya ini dapat diterbitkan menjadi sebuah buku. Selawat serta salam kepada Nabiyullah Warasulullah Muhammad SAW, sebagai figur keteladanan bagi seluruh ummat manusia. Buku ini berjudul Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum dan Bisnis yang merupakan transformasi tesis yang berjudul Aspek Yuridis Perjanjian Unit Link dalam Perusahaan Asuransi Jiwa saat penulis menyelesaikan studi pada Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, Medan. Penulisan buku ini diharapkan dapat memperluas ide-ide yang tertuang di dalamnya dan dapat bermanfaat bagi semua kalangan. Substansi dalam buku ini membahas mengenai Unit Link yang merupakan pengembangan dari produk asuransi jiwa yang dikaitkan dengan investasi, dengan masuk asuransi jiwa seorang juga ikut berinvestasi di dalamnya. Namun, kehadiran produk unit link ternyata menimbulkan masalah dan ganjalan. Pertama, unit link dinilai oleh banyak pihak sebagai sebuah produk yang tidak termasuk dalam kategori asuransi jiwa, karena lebih banyak menitikberatkan pada investasi

vi

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

daripada unsur perlindungan jiwanya sendiri. Kemudian, sebagai suatu produk baru yang memadukan asuransi dan proteksi, unit link juga memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaiannya dengan ketentuan perjanjian asuransi yang diatur dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dalam buku ini akan dibahas kesesuaian perjanjian unit link dengan ketentuan perjanjian yang terdapat dalam KUH Perdata, KUHD, Undang-Undang Perasuransian dan Ketentuan yang terdapat dalam undangundang perlindungan konsumen. Dalam penyusunan buku ini, tidak terlepas dari bimbingan, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati dan ketulusan hati, diucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat para pembimbing: Dr. Tan Kamello, SH, MS., Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum dan Dr. Sunarmi, SH, M.Hum sebagai pembimbing penulis dari Universitas Sumatera Utara Medan. Kemudian kepada pihak Universitas Malikussaleh sebagai instansi tempat mengabdi Penulis, kepada penerbit, kepada kakanda Ramziati, S.H., M.Hum sebagai editor yang telah banyak membantu, kepada Ayahanda dan Ibunda, kepada Suami tercinta yang tiada henti memberi semangat dan dukungan serta kepada

Kata Pengantar

vii

semua pihak yang telah ikut membantu hingga buku ini selesai. Penulis terbuka menerima kritikan dan tangggapan dari semua pihak untuk penyempurnaan buku ini. Akhirnya, Kepada-Mu ya Allah penulis serahkan, semoga karya sederhana ini dapat bermanfaat serta menjadi tambahan ilmu bagi nusa dan bangsa. Amin. Lhokseumawe, Agustus 2008 Herinawati

viii

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................vi DAFTAR ISI......................................................ix PENDAHULUAN..................................................1 A. Latar Belakang........................................................................1 B. Permasalahan yang Terjadi...................................................10 KERANGKA TEORI DAN KONSEPSI..........................14 A. Kerangka Teori.....................................................................14 B. Konsepsi................................................................................24 PERJANJIAN ASURANSI PADA UMUMNYA.................33 A. Ketentuan Umum Perjanjian Menurut KUH Perdata...........33 B. Perjanjian Asuransi di Dalam KUHD...................................39 C. Ketentuan Perjanjian Asuransi Menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian dan Peraturan Pelaksanaannya.....................................................................42 D. Perlindungan Konsumen Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dan Kaitannya Dengan Asuransi..................................................47 1. Esensi Undang-Undang Perlindungan Konsumen.......47 2. Asas-asas Perlindungan Konsumen..............................49 3. Hak-hak Konsumen .....................................................51 4. Berbagai Pengaturan Bagi Pelaku Usaha.....................52 PRODUK UNIT LINK...........................................55 DALAM BISNIS ASURANSI JIWA..............................55 A. Unit Link Sebagai Perpaduan Antara Asuransi dan Investasi 55 B. Pemasaran Produk Unit Link di Indonesia............................63 C. Masalah-Masalah Seputar Produk Unit Link........................71 PERJANJIAN UNIT LINK DALAM BISNIS ASURANSI JIWA ...................................................................83 DITINJAU DARI KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN.83 A. Aspek-aspek Hukum Perjanjian Dalam Perjanjian Unit Link 83 1. Asas-asas Hukum Perjanjian........................................83

Daftar Isi

ix

2. Ketentuan Tentang Syarat Sah Perjanjian ...................86 B. Perjanjian Unit Link dan Ketentuan Perjanjian Asuransi Dalam KUHD.......................................................................89 1. Prinsip-prinsip Utama Perjanjian Asuransi..................89 2. Pengaturan Tentang Isi Perjanjian Asuransi................92 C. Penerbitan Perjanjian Asuransi Unit Link Menurut Undangundang Usaha Perasuransian.................................................96 1. Penerbitan Perjanjian Unit Link oleh Perusahaan Asuransi Jiwa...............................................................96 2. Pencantuman Ketentuan Unit Link dalam Polis Asuransi.....................................................................101 D. Perlindungan Bagi Nasabah Unit Link Dihubungkan Dengan Undang- Undang Perlindungan Konsumen........................108 1. Kewajiban Perusahaan Asuransi Jiwa Sebagai Pelaku Usaha.........................................................................108 2. Tanggung Jawab Perusahaan Asuransi Jiwa Penerbit Unit Link Kepada Nasabah........................................113 3. Klausul Baku Dalam Perjanjian Unit Link.................114 4. Penyelesaian Sengketa Dalam Kaitan Hubungan Penanggung dan Tertanggung...................................123 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI.........................129 A. Kesimpulan.........................................................................129 B. Rekomendasi.......................................................................132 DAFTAR PUSTAKA...........................................135 LAMPIRAN I...................................................143 LAMPIRAN II..................................................166 RIWAYAT PENULIS...........................................201

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

Daftar Isi

xi

1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pelaksanaan Zona Perdagangan bebas Asean yang dikenal dengan Asean Free Trade Area (AFTA) 2003 dan besarnya pasar yang demikian menjanjikan di kawasan Asia terutama Asia Tenggara telah mendorong terjadinya penetrasi perusahaan Multinasional yang semakin meningkat intensitasnya belakangan ini, terutama sejak dan dalam masa-masa pemulihan ekonomi. Dukungan dana yang kuat dan mulai jenuhnya pasar Eropa dan Amerika menjadikan mereka mengalihkan perhatian ke kawasan padat penduduk di Asia dan negara-negara dengan perekonomian yang terus tumbuh. Indonesia sebagai salah satu negara di kawasan Asia dengan jumlah penduduk terbesar, merupakan pangsa pasar yang potensial dan menjadi salah satu pilihan bagi perusahaan-perusahaan global di bidang barang dan jasa untuk mengembangkan usahanya. Hal ini menjadi sesuatu keadaan yang tidak dapat dihindari karena perekonomian suatu negara dalam era

Pendahuluan

globalisasi tidak hanya menyangkut kegiatan usaha atau pasar di dalam negeri, melainkan sudah menyangkut pasar di luar negeri. Perkembangan kehidupan perekonomian sudah menyangkut hubungan perekonomian dengan negara lain.1 Kondisi perekonomian suatu negara akan mempengaruhi perkembangan berbagai jenis usaha, yang selanjutnya akan berdampak pada berbagai jenis jasa keuangan termasuk asuransi. Perekonomian Indonesia yang pada periode 1996-1997 tumbuh rata-rata 7% per tahunnya telah mendorong tumbuh dan berkembangnya berbagai industri. Kondisi ini selanjutnya memacu pertumbuhan sektor usaha jasa asuransi rata-rata mencapai 23,6 % setiap tahunnya. 2 Kondisi perekonomian yang kemudian memburuk sejak tahun 1997 yang berlanjut dengan krisis ekonomi, telah memberikan dampak negatif pada berbagai jenis usaha yang selanjutnya berpengaruh pada pertumbuhan jasa keuangan. Namun demikian, bagi industri jasa asuransi, dampak negatif tersebut tidak separah yang dialami berbagai industri keuangan lainnya, misalnya industri perbankan.

Emmy Pangaribuan Simanjuntak, Analisis Hukum Ekonomi Terhadap Hukum Persaingan, Makalah dalam seminar Nasional Pendekatan Ekonomi Dalam Pengembangan Sistem Hukum Nasional Dalam Rangka Globalisasi, Bandung, 29 April 1998, h 9. 2 Endro Priosamodro, Industri Asuransi Indonesia, Asing Datang Lokal Meradang, Majalah Pilar Bisnis, No. 03, 14 Februari 2001, h 17.
1

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

Apabila dilihat dari jenis usaha asuransi, tampak bahwa perkembangan asuransi jiwa yang sempat tertinggal dari asuransi kerugian, mulai dua tahun terakhir dan sampai tahun ini diperkirakan akan terus membaik dengan kenaikan yang cukup signifikan. Alasan paling utama dalam memiliki asuransi jiwa adalah untuk memastikan bahwa keluarga yang ditinggalkan akan aman secara finansial jika terjadi kematian mendadak terhadap pencari nafkah. Pertumbuhan jumlah pemegang polis pada asuransi jiwa tidak terlepas dari mulai membaiknya kesadaran masyarakat untuk memiliki polis asuransi jiwa sebagai salah satu alat pemenuhan kebutuhan manusia akan jaminan finansial. Asuransi jiwa dapat memenuhi banyak kebutuhan perorangan dan yang paling dominan adalah kebutuhan akan: 3 1. Pengeluaran akhir (Final expenses) Berkaitan dengan pengeluaran yang timbul ketika seseorang meninggal dunia dan pengeluaran itu harus segera dibayar, misalnya uang pinjaman pribadi, rekening listrik, telpon, angsuran pembelian rumah, mobil dan sebagainya. Juga pengeluaran lain yang merupakan akibat dari kematian itu

Ketut Sendra, Memahami Produk Asuransi Jiwa dalam Prosedur dan Penerapannya Modul Kursus Asuransi tingkat Basic, (Jakarta : Lembaga Asuransi Indonesia, 1997) , h 83.
3

Pendahuluan

sendiri, misalnya biaya rumah sakit dan ongkos penguburan. 2. Tunjangan keluarga (Dependents support) Pemenuhan kebutuhan finansial bagi keluarga sangat besar manfaatnya ketika pencari nafkah utama meninggal. 3. Dana pendidikan (Educational fund) Setiap orang tua menginginkan anakanaknya memperoleh pendidikan yang tinggi. Karena itu meninggalnya pencari nafkah utama dapat berdampak buruk bagi kelanjutan sekolah mereka. Asuransi jiwa dapat menyediakan pemenuhan kebutuhan dana untuk pendidikan anak di masa depan. 4. Penghasilan utama pensiun (Retirement income) Ketika seseorang memasuki masa pensiun pekerjaannya dan penghasilannya mulai berkurang, maka akumulasi nilai tunai polis asuransi jiwa pada masa habis kontrak dapat dipakai untuk keperluan hari tua, seperti membeli rumah atau menyiapkan pendidikan anak. Di pasar asuransi jiwa Indonesia saat ini terdapat tidak kurang dari 60 perusahaan yang beroperasi, yang terdiri atas 38 perusahaan asuransi jiwa dan 22 perusahaan patungan (joint venture).4 Kehadiran perusahaan asuransi jiwa asing di pasar lokal
Data per Juni 2002, dikutip dari Majalah Investor, Edisi 59/24 Juli 2002, h. 18.
4

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

tidak dapat dihindari lagi di era globalisasi ekonomi sekarang ini, yaitu era ketiadaan batas dan kendala dalam perdagangan antar bangsa.5 Manifestasi Liberalisasi di sektor jasa adalah dengan diberlakukannya Asean Framework Agreement Servis (AFAS) yang disepakati di Bangkok pada Desember 1995. Di dalam kesepakatan ini liberalisasi diterapkan pada sektor Telekomunikasi, Pariwisata, Jasa Keuangan, Konstruksi dan Transportasi Laut.6 Sebagai langkah awal sebelum memasuki pelaksanaan Word Trade Organization (WTO) Tahun 2020.7 Industri asuransi sebagai salah satu industri jasa keuangan harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam AFAS tersebut. AFAS mengatur cara melakukan transaksi di bidang jasa, yakni: Pertama, pasokan lintas batas (cross border supply). Ketentuan ini memberikan kebebasan kepada pemasok jasa asing untuk memasuki pasar lokal. Ini berarti pada tahun-tahun mendatang diperkirakan akan semakin banyak perusahaan asuransi asing mengirimkan tenaga ahli dan memasarkan produk mereka di dalam negeri.
Sera dan Ohmae, dikutip dalam Ade Maman Suherman, Aspek Hukum Dalam Ekonomi Global, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 2002), h. 31 6 Edi Subekti, Kenapa Harus Takut Bersaing di AFTA, Jurnal Hukum Bisnis, Volume 22- No. 2 Tahun 2003, h. 22. 7 Irvan Rahardjo, Bisnis Asuransi Menjongsong Era Global, (Jakarta :YASDAYA, 2001), h..46.
5

Pendahuluan

Kedua, konsumsi produk dari luar (consumption abroad). Ketentuan ini memberi kebebasan kepada masyarakat untuk mengkonsumsi jasa dari luar negeri. Faktor kepuasan terhadap jasa yang diberikan sangat menentukan ke arah mana konsumen akan berpaling. Jika perusahaan asuransi tidak meningkatkan mutu pelayanannya, maka dapat dipastikan sebagian besar premi akan mengalir ke luar negeri. Ketiga, keberadaan secara komersial (commercial presence). Dengan ketentuan ini, maka diberikan kebebasan bagi perusahaan asing termasuk perusahaan asuransi untuk mendirikan atau melakukan atau membuka usaha di dalam negeri. Keempat, kehadiran warga asing (presence of natural person). Ketentuan ini memberikan kebebasan bagi orang asing untuk memasuki pasar dalam negeri. Kedatangan mereka akan membawa ketrampilan teknik dan mengisi kekurangan tenaga ahli di Indonesia. Kelima, persamaan perlakuan (most favoured nation & national treatment), yaitu ketentuaan yang menuntut diwujudkannya perlakuan yang sama dan tidak ada diskriminasi dalam hubungan perdagangan antar bangsa.8
PP. No. 63 Tahun 1999 mensyaratkan modal disetor Rp. 100 milyar untuk perusahaan asuransi dan Rp. 200 milyar untuk perusahaan reasuransi, tidak dibedakan antara perusahaan asuransi atau reasuransi kepemilikan asing atau tidak. Sebelumnya, melalui
88

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

Khusus untuk industri asuransi, telah dihasilkan Pro-Competitive Regulatory Principles yang memuat prinsip-prinsip, pertama, akses penuh terhadap pasar dan kebebasan bentuk perusahaan dan operasinya. Kedua, tidak ada diskriminasi terhadap perusahaan asuransi asing. Ketiga, atmosfer pengawasan dan pelaksanaan asuransi berdasarkan best practices yang berlaku secara Internasional. Keempat, fokus pengawasan pada solvabilitas dan standarstandar pelaksanaan bisnis yang sehat, tidak pada manajemen mikro dan penetapan tarif. Kelima, kebebasan untuk memasarkam produk dan jasa. Keenam, tidak mengeluarkan pembatasan dan proteksi yang baru terhadap jenis investasi saat ini. Ketujuh, memperbolehkan perdagangan lintas batas dan akses yang bebas kepada pasar 9 reasuransi internasional. Untuk pasar asuransi jiwa, dapat dikatakan bahwa saat ini pelaku-pelaku bisnis bertaraf dunia sudah beroperasi di Indonesia. Beberapa dari mereka bahkan sudah menempatkan posisi bisnisnya sedemikian kuat dan melakukan penetrasi yang cukup jauh ke dalam pasar asuransi jiwa Indonesia yang masih sangat potensial. Prudential, Manulife Indonesia, AXA Life, AIG, John
PP No. 73 tahun 1992, modal setor untuk asuransi umum Rp. 3 milyar dan jika ada penyertaan asing adalah Rp. 15 milyar. Edi Subekti, op cit, h. 23. 9 Endro Priosamodro, op cit, h. 20.

Pendahuluan

Hancock, Allianz Life, Aetna Life, New York Life dan Zurich Life adalah beberapa asuransi jiwa Indonesia yang telah dikenal oleh masyarakat. Kehadiran Perusahaan-perusahaan asuransi jiwa asing di Indonesia melalui pembentukan usaha patungan telah membawa pengaruh yang positif bagi perkembangan industri jasa asuransi jiwa itu sendiri. Hal ini karena mereka pada umumnya memiliki keunggulan baik di bidang permodalan, teknologi, jaringan pemasaran maupun produk yang bervariasi.10 Asuransi kini telah beralih fungsinya, bukan saja sebagai lembaga penjamin risiko, tetapi juga sebagai lembaga pengelolaan dana masyarakat. Masyarakat sekarang kecendrungannya lebih senang membeli polis asuransi yang ada unsur tabungannya, seperti halnya asuransi Dwi-guna (endowment) dengan produk turunannya. Sebagai contoh, dalam hal produk, semenjak empat tahun terakhir pasar asuransi jiwa di Indonesia diramaikan dengan hadirnya sebuah produk baru yang lazim disebut unit link, yaitu suatu produk asuransi yang dikombinasikan dengan investasi. Di pasar asuransi internasional produk ini sudah cukup lama berkembang, tetapi di Indonesia masih baru. Perusahaan asuransi jiwa yang memiliki
Endro Priosamudro, Agar Tidak Asing di Tengah Asing, Majalah Pilar Bisnis, No. 03, 14 Februari 2001, h..25.
10

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

andil di dalam upaya memperkenalkan produk unit link di Indonesia diantaranya adalah PT. Asuransi Prudential dan PT. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, yang notabene keduanya adalah perusahaan patungan11 (Joint 12 Venture) . Unit Link, pada dasarnya memiliki komposisi yang tidak jauh berbeda dengan produk gabungan (endowment) tradisional, hanya saja produk ini mengaitkan dengan investasi dan bukan dengan tabungan. Dengan membeli polis asuransi jiwa sebagai proteksi, masyarakat sekaligus berinvestasi. Misalnya, seseorang yang memiliki dana Rp. 10 juta, sebagian untuk membayar polis asuransi, sebagian dipotong untuk biaya administrasi. Sisa dana tersebut, oleh perusahaan asuransi ditanamkan ke dalam instrument investasi sehingga pemegang polis memperoleh dua manfaat sekaligus, pertanggungan asuransi jiwa (proteksi) dan hasil investasi (return).13 Pada Unit Link, dana investasinya dipisahkan dengan dana pertanggungan untuk klaim tertanggung. Dana klaim tertanggung
Harian Ekonomi Neraca, 7 Februari 2000, h.3. Joint Venture adalah suatu perusahaan baru yang didirikan bersamasama oleh beberapa perusahaan yang berdiri sendiri dengan menggabungkan potensi usaha termasuk know how (teknologi dan pengetahuan) dan modal dalam perbandingan yang telah ditetapkan menurut perjanjian yang telah sama-sama disetujui, antara perusahaan domistik dan perusahaan asing, yang modalnya dari pemerintah atau modal swasta. Napitupulu, Joint Venture di Indonesia, (Jakarta : Erlangga, 1986), h 24 13 Andi Surudji, Unit Link Produk Asuransi Yang Melesat, Harian Kompas, 4 Maret 2002, h. 32.
11 12

Pendahuluan

dikelola oleh perusahaan asuransi, sedangkan investasi dikelola oleh manajer investasi yang terpisah. B. Permasalahan yang Terjadi Kehadiran produk unit link di Indonesia memperoleh sambutan yang baik dari masyarakat, terbukti dari besarnya jumlah premi dan banyaknya pemegang polis yang berhasil dihimpun oleh perusahaan asuransi jiwa untuk produk tersebut. Namun demikian, kehadiran produk unit link ternyata juga menimbulkan beberapa masalah dan ganjalan. Pertama, unit link dinilai oleh banyak pihak sebagai sebuah produk yang tidak termasuk dalam kategori asuransi jiwa, karena lebih banyak menitikberatkan pada investasi daripada unsur perlindungan jiwanya sendiri. Dua pihak saling berbeda pendapat dalam hal ini, yaitu kalangan perusahaan asuransi jiwa dan Direktorat Asuransi Departemen Keuangan di satu pihak, yang merasa yakin bahwa unit link masih tergolong sebagai produk asuransi jiwa yang dapat dipasarkan oleh perusahaan asuransi jiwa, dan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yaitu Yayasan Lembaga Konsumen Asuransi Indonesia (YLKAI) pada pihak lain, yang berpendapat bahwa produk unit link tidak termasuk dalam kategori produk asuransi, sehingga dengan demikian pemasaran produk tersebut oleh perusahaan asuransi jiwa

10

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

melanggar ketentuan Undang-undang No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian.14 Kemudian, sebagai suatu produk baru yang memadukan asuransi dan proteksi, unit link juga memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaiannya dengan ketentuan perjanjian asuransi yang diatur dalam Kitab Undangundang Hukum Dagang (KUHD), yaitu apakah polis asuransi yang diterbitkan untuk produk ini tidak bertentangan dengan ketentuan perjanjian asuransi yang termuat di dalam Kitab Undang-undang tersebut. Selanjutnya sebagai sebuah produk perjanjian, bagaimana kedudukan polis atau perjanjian unit link apabila dikaitkan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam hukum perjanjian sebagaimana termuat dalam buku III Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Sebagai suatu produk asuransi yang dikombinasikan dengan investasi, YLKAI berpendapat bahwa pembebanan kerugian investasi kepada si tertanggung merupakan pengingkaran terhadap definisi dan objek asuransi yang telah diatur dengan tegas dalam Undang-undang Perasuransian itu sendiri. YLKAI mengajukan argumentasi, bahwa sebagai penanggung, perusahaan asuransi justru harus menganti kerugian yang dialami oleh tertanggung bukan malah memberikan beban tambahan kepada si tertanggung seperti yang
14

Koran Tempo, 21 November 2001, h. 8.

Pendahuluan

11

terjadi bila unit investasi dalam unit link tersebut mengalami kegagalan.15 Menyangkut tingginya risiko yang dihadapi para tertanggung unit link, bahwa penempatan investasi produk ini tidak dibatasi dan tanpa mendapat pengawasan, baik dari Direktorat Asuransi maupun Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). 16 Aspek perlindungan konsumen atau tertanggung dalam produk unit link menjadi pertanyaan karena seolaholah tidak memperoleh perhatian yang serius. Perlindungan terhadap kepentingan konsumen merupakan hal yang tidak dapat diabaikan karena meskipun selalu menjadi pihak yang lemah di dalam kegiatan usaha perdagangan, tetapi pemerintah telah berupaya untuk mulai meningkatkan aspek perlindungan terhadap konsumen. UndangUndang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen merupakan satu upaya nyata pemerintah di dalam memberikan perlindungan yang lebih baik kepada para konsumen barang dan jasa di Indonesia. Hal ini pun sesuai dengan amanat Tap MPR No. IV Tahun 1999 Tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999-2004 yang secara tegas menyebutkan salah satu arah dan kebijakan pembangunan di bidang ekonomi adalah

Ricardo Simanjuntak, Perlu Redefinisi Asuransi, Jurnal Hukum Bisnis, Volume 22, No. 2 Tahun 2003, h. 13. 16 Majalah Investor, No. 51, 27 Maret 2002, h.26.
15

12

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

memberikan perhatian terhadap perlindungan hak-hak konsumen.17 Dengan berlakunya Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) yang konon telah diperjuangkan oleh YLKI sejak 20 tahun lalu, masyarakat konsumen seperti memperoleh kemenangan besar dalam memperjuangkan hak-haknya. Sementara para produsen dilanda kecemasan akan kemungkinan menghadapi tuntutan konsumen baik sendirisendiri maupun melalui bersama-sama (class action).18

Bab IV B angka 1. Dengan adanya perubahan sistem ketatanegaraan dan implementasinya dalam bentuk pemilihan umum Pil Pres yang baru pertama kali dipilih langsung oleh rakyat, Presiden dalam merencanakan pembangunan nasional tidak lagi berdasarkan pada Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) maupun PROPENAS, tapi pada Undang-Unmdang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). 18 Irvan Rahardjo, op cit, h. 38.
17

Pendahuluan

13

KERANGKA TEORI DAN KONSEPSI


A. Kerangka Teori Kontinuitas perkembangan Ilmu Hukum, selain bergantung pada metodologi, aktivitas penelitian dan imajinasi sosial sangat 19 ditentukan oleh teori. Kerangka teori dalam penelitian ini akan diawali dengan Teori Hukum Positivisme, yang mengatakan Kaidah Hukum itu hanya bersumber dari kekuasaan negara yang tertinggi dan sumber itu hanyalah hukum positif yang terpisah dari kaidah sosial, bebas dari pengaruh politik, ekonomi, sosial dan budaya. Teori ini dipelopori oleh John Austin yang sering disebut sebagai bapak Ilmu Hukum Inggris. Penganut teori positivisme memandang bahwa tujuan akhir hukum positif (Perundang-Undangan) adalah untuk memenuhi kebahagiaan rakyat sesuai dengan tujuan-tujuan negara. Sumber hukum yang hanya langsung dari kekuasaan negara yang berdaulat merupakan petunjuk bahwa negara juga sebagai pembuat hukum.20
Soerjono Soekanto, dalam Tan Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia, Suatu Kebutuhan yang Didambakan, (Bandung : PT. Alumni, 2004), h.16 20 Teori ini juga dipelopori oleh Hans Kelsen yang terkenal dengan teorinya Hukum Murni, Teori Hukum Murni Hans Kelsen mengatakan bahwa hukum adalah ilmu normatif yang murni dan tidak boleh dicemari oleh ilmu-ilmu politik, sosiologi, sejarah dan
19

14

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

Dalam transaksi hukum (perjanjian), tata hukum memberikan wewenang khusus (otonomi pribadi) kepada para pihak untuk mengatur hubungan-hubungan tertentu secara hukum, ini adalah suatu tindakan pembentukan hukum, kerena transaksi hukum melahirkan kewajiban-kewajiban hukum dan hak-hak hukum dari para pihak yang mengadakan transaksi tersebut, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1338 KUH Perdata, yaitu semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya. Perjanjian menunjuk kepada prosedur khusus yang melahirkan kewajiban-kewajiban dan hak-hak dari para pihak yang lahir karena perjanjian, maupun kepada norma perjanjian yang dilahirkan oleh prosedur khusus ini, oleh sebab itu perjanjian merupakan suatu ungkapan ganda yang merupakan sumber khas di dalam teori perjanjian.21 Karena penelitian ini merupakan penelitian normatif, kerangka teori diarahkan secara khas Ilmu Hukum, maksudnya, penelitian ini berusaha untuk melihat perjanjian unit link dalam perusahaan asuransi jiwa telah sesuai dengan ketentuan hukum positif yang berlaku untuk
etika. Marwan Mas, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 2004), h. 119 - 120 21 Hans Kelsen, Teori Hukum Murni, Dasar-dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif (terjemahan) dari General Teory Of Law and State, (Jakarta: Rimdi Press, 1995), h. 139.

Kerangka Teori dan Konsepsi

15

sekarang ini, hukum positif yang dimaksud yaitu : 1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). 2. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) 3. Undang-Undang No. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian. 4. Undang-Undang No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Penelitian ini berusaha untuk memahami objek penelitian hukum sebagai kaidah hukum atau sebagai isi kaidah hukum yang ditentukan dalam peraturan-peraturan yang berkaitan dengan masalah perjanjian unit link dalam perusahaan asuransi jiwa.22 Asuransi atau pertanggungan adalah suatu jenis perjanjian. Hal ini secara tegas dinyatakan dalam Undang-undang Usaha Perasuransian yang mendefinisikan asuransi sebagai suatu perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada pihak tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti
22

Soerjono Soekanto, op cit, h. 17

16

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

atau memberikan suatu pembayaran atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.23 Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri pada tertanggung dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu.24 Berdasarkan definisi tersebut, maka dalam asuransi terkandung 4 (empat) unsur yaitu: 1. Pihak tertanggung (insured) yang berjanji akan membayar premi kepada pihak penanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur. 2.Pihak penanggung (insure) yang berjanji akan membayar sejumlah uang (santunan) kepada pihak tertanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur apabila terjadi sesuatu yang mengandung unsur tak tertentu. 3. Suatu peristiwa (accident) yang tak tertentu (tidak diketahui sebelumnya).

Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang No. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian. 24 Definisi Asuransi Menurut Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD).
23

Kerangka Teori dan Konsepsi

17

4.Kepentingan (interest) yang mungkin akan mengalami kerugian karena peristiwa yang tak tertentu. Asuransi adalah suatu alat untuk mengurangi risiko yang melekat pada perekonomian, dengan cara menggabungkan sejumlah unit-unit yang terkena risiko yang sama, dalam jumlah yang cukup besar, agar probabilitas kerugiannya dapat diramalkan dan bila kerugian yang diramalkan terjadi akan dibagi secara proposional oleh semua pihak dalam gabungan itu. Fungsi asuransi adalah : 1.Transfer risiko Dengan membayar premi yang relatif kecil, seseorang atau perusahaan dapat memindahkan ketidakpastian atas hidup dan harta bendanya (risiko) ke perusahaan asuransi. 2. Kumpulan dana Premi yang diterima kemudian dihimpun oleh perusahaan asuransi sebagai dana untuk membayar risiko yang terjadi.25 Pertanggungan adalah suatu perjanjian, dimana penanggung dengan menikmati suatu premi mengikat dirinya terhadap tertanggung untuk membebaskannya dari kerugian karena
Definisi dan Fungsi Asuransi, Tanggal 14 Maret 2005 (http://www.asuransi-mobil.com/tentangasuransi/definisi.asuransi.htm).
25

18

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

kehilangan, kerugian atau ketidakadaan keuntungan yang diharapkan yang akan dapat diberikan olehnya, karena suatu kejadian yang tidak pasti.26 Dalam Pasal 308 KUHD, diatur mengenai asuransi jiwa, yang dipertanggungkan dalam asuransi ini adalah jiwa seseorang, yang dipertanggungkan untuk keperluan seseorang yang berkepentingan, baik untuk suatu waktu yang diperjanjikan atau untuk seumur hidup penanggung.27 Rumusan Pasal 1 angka 1 UndangUndang No. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian jika dipersempit hanya melingkup jenis asuransi jiwa, maka rumusannya adalah Asuransi jiwa adalah perjanjian antara 2 (dua) pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi, untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang diasuransikan. Sebelum berlakunya Undang-Undang No. 2 Tahun 1992, asuransi jiwa diatur dalam ordonantie op het levensverzekering bedrijf (Staatblad Nomor 101 Tahun 1941), menurut ketentuan Pasal 1 ayat (1) huruf (a) ordonansi tersebut Asuransi jiwa adalah perjanjian untuk
Emmy Pangaribuan Simanjuntak, Hukum Pertanggungan, Seksi Hukum Dagang, (Jogjakarta :FH-UGM, 1990), h. 5. 27 Agus Prawoto, Hukum Asuransi dan Kesehatan Perusahaan Asuransi, Guide Line Untuk Membeli Polis Asuransi yang Tepat dari Perusahaan Asuransi Yang Benar, (Yogyakarta : BPFE, 1995) h. 69.
26

Kerangka Teori dan Konsepsi

19

membayar sejumlah uang karena telah diterimanya premi, yang berhubungan dengan hidup atau matinya seseorang, reasuransi termasuk di dalamnya, sedangkan asuransi kecelakaan tidak termasuk di dalam asuransi jiwa.28 Asuransi jiwa adalah suatu pelimpahan risiko (risk shifting) atas kerugian keuangan (financial loss) oleh tertanggung kepada penanggung.29 Jadi dalam asuransi jiwa risiko yang dilimpahkan adalah risiko kerugian keuangan sebagai akibat hilangnya jiwa atau ketidak mampuan seseorang bukan risiko hilangnya jiwa seseorang. Salah satu upaya dapat dilakukan untuk mengurangi risiko adalah dengan mengalihkan risiko pada pihak lain (perusahaan asuransi/ penanggung). Hal ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungan akan rasa aman kepada masyarakat, yaitu dengan mengadakan perjanjian pelimpahan risiko dengan pihak lain. Perjanjian macam ini disebut perjanjian asuransi.30 Perjanjian asuransi merupakan 31 perjanjian Aletoir. Disamping itu perjanjian
Abdulkadir Muhammad, Hukum Asuransi Indonesia, (Bandung: PT. Aditya Bakti, 2002), h. 194. 29 Modul Training, Prufast Start Training, PT. Prudential Life Assurance, Medan, Tanggal 9-11 Mei 2005. 30 Sri Rejeki Hartono, Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi, (Jakarta : Sinar Grafika, 2001), h. 15. 31 Aletoir adalah bahwa prestasi dari penanggung untuk memberikan ganti rugi atau sejumlah uang kepada tertanggung diganti kepada suatu peristiwa yang belum pasti terjadi. Gunanto,
28

20

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

asuransi juga merupakan perjanjian sepihak, artinya bahwa perjanjian dimaksud menunjukkan bahwa hanya satu pihak saja yang memberi janji yaitu pihak penanggung. Dimana penanggung memberikan janji akan mengganti kerugian apabila tertanggung sudah membayar premi dan polis sudah berjalan, sebaliknya tertanggung tidak 32 menjanjikan suatu apapun. Pengertian perjanjian dimuat di dalam Pasal 1313 KUH Perdata, yaitu suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Untuk lebih memberikan gambaran yang lebih jelas tentang arti perjanjian, Sudikno Mertokusumo memberikan batasan perjanjian sebagai suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.33 Agar suatu perjanjian dapat dinyatakan sah secara hukum maka perjanjian tersebut harus memenuhi syarat-syarat yang diatur dalam Pasal 1320 KUH Perdata, yaitu: 1. Adanya sepakat mereka yang mengikatkan dirinya,
Asuransi Kebakaran di Indonesia,(Jakarta : Tirta Pustaka, 1994), h.25. 32 Sri Rejeki Hartono, Reasuransi, Kebutuhan yang tidak dikesampingkan Oleh Penanggung Guna Memenuhi kewajiban Terhadap Tertanggung, Tinjauan Yuridis, Disertasi Untuk Memperoleh Gelar Doktor Pada Universitas Diponogoro, Semarang, 1990, h. 75. 33 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, Suatu Pengantar, (Yogyakarta : Liberty, 1996), h. 110.

Kerangka Teori dan Konsepsi

21

2. Kecakapan para pihak untuk membuat perikatan, 3. Adanya suatu hal tertentu, dan 4. Atas dasar sebab yang halal. Dua syarat yang pertama disebut syaratsyarat subjektif, karena mengenai orangorangnya atau subjeknya yang mengadakan perjanjian, sedangkan syarat yang terakhir dinamakan syarat-syarat objektif karena mengenai perjanjiannya sendiri atau objek dari perbuatan hukum yang dilakukan itu.34 Sebagai suatu perjanjian, asuransi harus tunduk pada ketentuan buku III KUH Perdata tentang perikatan. Landasan Hukum dari pernyataan tersebut adalah Pasal 1 KUHD yang menentukan bahwa:Kitab UndangUndang Hukum Perdata, seberapa jauh daripadanya dalam kitab ini tidak khusus diadakan penyimpangan-penyimpangan, berlaku juga terhadap hal-hal yang dibicarakan dalam kitab ini. Sesuai dengan bunyi ketentuan Pasal 1774 KUH Perdata yang menyatakan bahwa perihal asuransi akan diatur lebih lanjut dalam KUHD, maka materi dan syarat-syarat yang berlaku bagi perjanjian asuransi telah diatur secara khusus di dalam buku I bab 9 dan 10 serta buku II bab 9 dan 10 KUHD. Buku I bab 9 dan 10 mengatur tentang asuransi kebakaran, asuransi hasil pertanian dan asuransi jiwa,
34

Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta : Intermasa, 1996), h. 17.

22

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

sedangkan buku II bab 10 mengatur tentang asuransi pengangkutan di darat dan di sungai serta perairan pedalaman. Dengan demikian, pengaturan perjanjian asuransi dalam KUHD merupakan hukum yang bersifat khusus (lex specialis). Dalam ilmu hukum dianut suatu asas bahwa hukum yang bersifat khusus itu mengenyampingkan hukum yang bersifat umum (lex specialis derogat lex generalis)35 Pengaturan asuransi di dalam KUHD masih tetap berlaku karena Undang-Undang Usaha Perasuransian hanya mengatur tentang usaha perasuransian dan bukan tentang substansi dari perjanjian asuransi itu sendiri.36 Pasal 247 KUHD menyebutkan beberapa jenis asuransi, yaitu asuransi kebakaran, asuransi hasil pertanian, asuransi jiwa dan asuransi pengangkutan. Mengenai asuransi atau pertanggungan jiwa secara lebih detail diatur dalam Pasal 302 sampai dengan Pasal 308 KUHD. Dalam asuransi jiwa, objek yang diasuransikan atau dipertanggungkan adalah jiwa seseorang, yang dipertanggungkan untuk
35 Kedua Undang-Undang tersebut mengatur hukum privat, walaupun sama-sama mengatur hukum privat, namun daya mengikat KUHD lebih kuat karena apa yang ditentukan dalam KUHD pada umumnya bersifat imperatif, sebaliknya, karena KUH Perdata itu lebih banyak mengatur hal-hal yang pokok dan merupakan lex generalis, menyebabkan ketentuan-ketentuan Undang-undang tersebut yang berkenaan dengan perjanjian dapat dikesampingkan apabila para pihak menghendakinya, Agus Prawoto, op cit, h. 40. 36 Man Suparman Sastrawidjaja & Endang, Hukum Asuransi, Perlindungan Tertanggung, Asuransi Deposito, Usaha perasuransian, (Bandung : Alumni, 1997), h. 117.

Kerangka Teori dan Konsepsi

23

keperluan seseorang yang berkepentingan, baik untuk suatu waktu tertentu yang diperjanjikan atau untuk seumur hidup tertanggung. 37 Dalam konteks produk asuransi unit link, polis atau perjanjian asuransinya diterbitkan oleh perusahaan asuransi jiwa. Perusahaan asuransi jiwa adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam penanggulangan risiko yang dikaitkan dengan hidup atau meninggalnya seseorang yang 38 dipertanggungkan. Dengan perkataan lain, kegiatan usaha utama dari perusahaan asuransi jiwa adalah memasarkan produk perlindungan jiwa kepada para calon konsumen, yang dalam produk unit link sering juga disebut sebagai tertanggung. B. Konsepsi Unit link adalah suatu produk asuransi jiwa pengembangan dari dwiguna (endowment), yang menggabungkan unsur perlindungan (proteksi) dan investasi. Fleksibilitas hasil investasi dan risiko penempatan dana sepenuhnya ada pada tertanggung. Produk ini lahir sebagai antisipasi perusahaan asuransi jiwa di dalam merespon kecenderungan meningkatnya minat 39 masyarakat terhadap pilihan investasi.
Agus Prawoto, op cit, h. 69. Pasal 1 angka 6 UU No.2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian. 39 Harian Ekonomi Neraca, Senin 7 Februari 2000, h. 4.
37 38

24

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

Mekanisme kerja asuransi unit link cukup sederhana. Premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi jiwa akan dipisahkan sesuai peruntukannya, berapa persen yang diperhitungkan sebagai premi untuk proteksi jiwa dan berapa persen yang dialokasikan untuk diinvestasikan, sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Selanjutnya, perusahaan asuransi akan menginvestasikan sebagian dana premi itu dalam bentuk instrumen reksa dana. Hasil dari investasi melalui reksa dana akan diberikan kepada pemegang polis pada saat polis tersebut jatuh tempo. Dengan demikian, pada saat polis jatuh tempo, nasabah akan menerima akumulasi premi yang dibayarkan sekaligus akumulasi hasil investasi yang diperoleh selama masa pertanggunagan.40 Keuntungan perusahaan asuransi yang menerbitkan unit link adalah mampu meningkatkan pendapatan premi asuransinya. Tujuan lainnya adalah untuk memperkuat struktur RBC (Risk Based Capital) dan meringankan kewajiban pengelolaan modal bagi perusahaan asuransi. Dengan bertambahnya nilai premi, perusahaan asuransi harus menyediakan pencadangan premi dalam bentuk modal agar rasio solvabilitas bisa tetap terjaga. Hal inilah yang kadang-kadang memberatkan perusahaan
Elvyn G. Masassya, Berburu Unit Link, Harian Kompas, 2 Maret 2002, h. 20.
40

Kerangka Teori dan Konsepsi

25

asuransi untuk berkembang dan berekspansi dengan cepat.41 Tujuan lain dari penerbitan unit link adalah supaya perusahaan asuransi mampu menambah target calon pembeli asuransi. Selain itu cakupan dan segmentasi pelanggan yang lebih luas diharapkan bisa menarik investor yang berminat melakukan investasi pada unit link. Keuntungan membeli unit link adalah bagi investor yang membeli unit link akan mendapatkan beberapa manfaat dan keuntungan. Pertama, memberikan dua jenis instrument keuangan sekaligus, yaitu instrumen asuransi dan instrumen investasi. Nasabah yang membeli unit link akan mendapatkan keuntungan berupa jaminan asuransi jiwa apabila meninggal pada priode pembayaran premi, yaitu berupa uang pertanggungan asuransi. Selain itu, hasil perolehan dana investasi dikelola Manajer investasi diharapkan cukup memuaskan dibanding apabila ditaruh di deposito. Kedua, memberi tingkat penghasilan investasi yang cukup menarik disbanding asuransi konvensional. Banyak calon pembeli polis asuransi sekarang yang lebih memilih produk unit link karena hasil investasinya dianggap lebih memuaskan dibandingkan investasi asuransi yang konvensional. Sebagian
Sapto Rahardjo, Panduan Investasi Reksadana, Pilihan Bijak Berinvestasi & Mengembangkan Dana,(Jakarta: PT.Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia, 2004), h. 205.
41

26

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

dari dana premi unit link akan dimasukkan dalam portofolio investasi yang dikelola Manajer investasi Reksadana. Tentunya target penghasilan perolehan investasinya diharapkan lebih tinggi karena dimasukkan dalam instrumen seperti misalnya saham dan obligasi. Ketiga, pilihan investasi lebih beragam, pembeli asuransi bisa menentukan tingkat risiko investasi yang diinginkan dengan memilih investasi yang diinginkan. Anda bisa memilih unit link yang diinvestasikan di pasar saham, di pasar obligasi atau di pasar uang. Jenis portofolio yang dipilih bisa disesuaikan dengan karakter investasi masing-masing nasabah. Keempat, dana investasi dikelola secara profesional oleh Manajer investasi. Untuk mendapatkan hasil investasi yang lebih maksimal, pihak perusahaan asuransi akan memilih perusahaan Manajer investasi yang profesional untuk mengelola dana nasabah asuransinya. Kadang perusahaan Manajer investasi itu masih satu grup dengan perusahaan asuransi tersebut sehingga aspek administrasi keuangannya akan lebih mudah. Kelima, penempatan dana terpisah pada Bank Kustodian lebih terjamin. Dana investasi yang dikelola Manajer investasi tentunya akan disimpan oleh Bank Kustodian sehingga keamanannya akan lebih terjamin dan sistem pencatatannya lebih transparan. Sistem ini pada

Kerangka Teori dan Konsepsi

27

dasarnya sama dengan pengelolaan uang portofolio reksadana.42 Kelemahan membeli produk unit link potensi risiko kerugian investasi bisa saja terjadi. Hal ini perlu dicermati oleh pembeli unit link , apakah sudah sepenuhnya paham mengenai mekanisme produk unit link atau belum. Unit link meskipun memberikan fasilitas asuransi yang mengutamakan jaminan dan ditanggung perusahaan asuransi, tetapi potensi risiko kerugiannya yang ditanggung oleh pemegang polis asuransi. Pengelolaan sebagian dana asuransi dipegang oleh pihak lain, yaitu Manajer investasi yang ditunjuk oleh perusahaan asuransi. Hal ini memberikan potensi risiko kerugian bagi pemegang polis asuransi apabila target yang diiginkan tidak terwujud. Jenis produk unit link yang ada di Indonesia terbagi menjadi beberapa jenis: 1. Unit link Pasar Uang. Investasinya dimasukkan pada instrumen pasar uang yang lebih stabil dan konservatif. Jenis unit link yang ada di Indonesia adalah Pro Invest Rupiah Fund dan PRU Link Cash Fund. 2. Unit Link Pendapatan Tetap. Dana investasinya dibelikan pada instrumen obligasi yang mempunyai sifat pendapatan tetap (kupon obligasinya). Contoh jenis ini adalah PRU Link Fixed Income Fund, Panin Lifevest Link Managed Fund, AIA Rupiah
42

Ibid, h. 209.

28

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

Fixed Income Fund, dan AIG Fixed Income Rupiah. 3. Unit Link US$. Investasinya dalam bentuk mata uang US Dolar atau produk valuta asing lainnya. 4. Unit link saham. Investasinya dalam bentuk saham. Sifat investasinya agak fluktuatif sesuai pergerakan saham di bursa efek. 5. Unit Link Campuran. Investasinya berbentuk instrumen campuran, bisa berbentuk jenis instrumen obligasi digabung dengan saham atau pasar uang. Dalam kaitan hubungan antara pelaku usaha dan konsumen, pemegang polis unit link adalah selaku konsumen jasa asuransi jiwa yang dalam pemasaran produk ini sering juga disebut sebagai tertanggung. Dimaksudkan dengan konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain, dan tidak untuk diperdagangkan.43 Perlindungan konsumen dalam UUPK diartikan sebagai segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen. Perlindungan terhadap konsumen dipandang baik secara material maupun formal semakin terasa
Pasal 1 angka 2 Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan konsumen (UUPK).
43

Kerangka Teori dan Konsepsi

29

penting, mengingat semakin lajunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan motor penggerak produktifitas dan efisiensi produsen atas jasa yang dihasilkannya dalam rangka mencapai sasaran usaha.44 Sebuah upaya perlindungan konsumen akan mengandung beberapa unsur, yaitu hukum yang memberikan persyaratan keadilan dan kontrak dalam bentuk standar, hukum yang mengharuskan pembebasan informasi kepada konsumen, serta hak yang melarang praktik jual-beli tertentu.45 Dalam perlindungan konsumen, ada beberapa asas atau prinsip-prinsip yang dianut dalam UUPK. Hal tersebut dirumuskan dalam Pasal 2 UUPK yang menegaskan bahwa, Perlindungan konsumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum. Penjelasan dari Pasal 2 UUPK ini menyatakan bahwa perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan lima asas yang relevan dalam pembangunan nasional, yaitu : 1. Asas manfaat, dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala upaya penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya
Sri Redjeki Hartono, dalam Erman Radjagukguk, et al., Hukum Perlindungan Konsumen,, (Bandung : Mandar Maju, 2000), h. 33. 45 Head, John W., Hukum Ekonomi (terjemahan), (Jakarta : ELIPSFHUI, 1997), h. 64-65.
44

30

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan; 2. Asas keadilan, dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajiban secara adil; 3. Asas keseimbangan, dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti material dan spiritiual; 4. Asas keamanan dan keselamatan konsumen, dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang di konsumsi atau digunakan; 5. Asas kepastian hukum, dimaksudkan agar pelaku usaha maupun konsumen mentaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum. Perlindungan konsumen merupakan masalah kepentingan manusia, oleh karenanya menjadi harapan bagi semua bangsa di dunia untuk dapat mewujudkannya. Mewujudkan perlindungan konsumen adalah mewujudkan hubungan berbagai dimensi yang satu sama lain mempunyai keterkaitan dan

Kerangka Teori dan Konsepsi

31

saling ketergantungan antara pengusaha dan pemerintah.46

konsumen,

46

Nurmadjito, dalam Erman Radjagukguk, et. Al., op cit,h. 7.

32

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

PERJANJIAN ASURANSI PADA UMUMNYA

A. Ketentuan Umum Perjanjian Menurut KUH Perdata Perjanjian secara umum diatur dalam buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Pengertian perjanjian itu sendiri dimuat di dalam Pasal 1313 yang menyatakan bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Subekti memberikan pengertian perjanjian sebagai suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada orang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.47 Pengertian lain dari perjanjian diberikan oleh Sardjono48 yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan perjanjian adalah suatu perbuatan di mana salah satu pihak mengikatkan diri pada pihak lain untuk melakukan sesuatu perbuatan. Selanjutnya sardjono mengemukakan bahwa ketentuan pasal tersebut di atas mengandung banyak kelemahan karena definisi
47 48

Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta: Intermasa, 1996), h. 1. Sebagaimana dikutip dalam Agus Prawoto, op cit, h. 35-36.

Perjanjian Asuransi Pada Umumnya

33

itu tidak mencakup semua jenis perjanjian. Kelemahan-kelemahan yang ada adalah: 1. Definisi tersebut tidak mengutarakan suatu syarat kata sepakat, padahal kata sepakat mutlak harus ada dalam suatu perjanjian. 2. Istilah perbuatan juga terlalu luas karena tidak meliputi perjanjian saja, melainkan juga kegiatan yang lain. 3. Definisi itu hanya menunjuk kepada perjanjian sepihak, padahal perjanjian yang terbanyak adalah perjanjian dua pihak. Sudikno Mertokusumo menyatakan bahwa perjanjian bukan merupakan suatu perbuatan hukum, melainkan merupakan suatu hubungan hukum antara dua orang yang bersepakat untuk menimbulkan akibat hukum. Selanjutnya Sudikno juga berpendapat bahwa batasan perjanjian yang disebutkan dalam Pasal 1313 KUH Perdata terlalu umum dan tidak jelas, karena hanya menyatakan sebagai perbuatan saja, sehingga pengertiannya menjadi luas sebab meliputi baik perbuatan hukum maupun perbuatan faktual.49 Walaupun definisi yang diberikan KUH Perdata tersebut memiliki beberapa kelemahan, yang perlu untuk diingat adalah karena perjanjian itu melahirkan hubungan hukum, maka hak dan kewajiban yang timbul dari perjanjian itu akan dijamin oleh hukum dan undang-undang selama isinya tidak
49

Sudikno Mertokusumo, op cit, h. 110.

34

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

bertentangan dengan hukum dan kesusilaan serta memenuhi syarat-syarat perjanjian. Hal tersebut disebabkan perjanjian itu menerbitkan suatu perikatan antara dua pihak yang membuatnya, yaitu hubungan hukum yang memberikan alas hak kepada suatu pihak yang menuntut sesuatu hal dari pihak lain yang berkewajiban memenuhi tuntutan itu, dan pihak yang lain tersebut wajib untuk memenuhi tuntutan tersebut berdasarkan perjanjian yang telah dibuatnya itu.50 Hukum perjanjian mengenal beberapa asas penting yang merupakan dasar kehendak para pihak dalam mencapai tujuan. Beberapa asas tersebut adalah:51 1. Asas Konsensualisme, dengan adanya persesuaian kehendak perjanjian terjadi. 2. Asas kekuatan mengikat, kedua belah pihak terikat oleh kesepakatan dalam perjanjian yang mereka buat. 3. Asas kebebasan berkontrak, setiap orang bebas untuk mengadakan dan menentukan isi perjanjian. Di dalam hukum perikatan dikumpulkan asas sebagai berikut:52 nasional

Mariam Darus Badrulzaman, et. al., Kompilasi Hukum Perikata, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2001), h. 87 51 Sudikno Mertokusumo, op cit, h. 111. 52 Mariam Darus Badrulzaman, Menuju Hukum Perikatan Indonesia, (Medan: Fakultas Hukum USU, 1986), h. 15.
50

Perjanjian Asuransi Pada Umumnya

35

1. Asas

2.

3.

4.

5.

6. 7.

kebebasan mengadakan perjanjian (partij otonomi), yaitu sepakat mereka mengikatkan diri. Asas konsensualisme, yaitu setiap orang diberi kesempatan untuk menyatakan keinginannya (will), yang dirasanya baik untuk menciptakan perjanjian. Asas kepercayaan (vertrouwensbeginsel), yaitu seseorang yang mengadakan perjanjian dengan pihak lain, menumbuhkan kepercayaan diantara kedua pihak itu bahwa satu sama lain akan memegang janjinya. Asas kekuatan mengikat, yaitu terikatnya para pihak pada perjanjian tapi tidak hanya terbatas pada apa yang diperjanjikannya, akan tetapi juga terhadap kebiasaan, kepatutan dan moral. Asas persamaan hukum, yaitu menempatkan para pihak di dalam persamaan derajat, tidak ada perbedaan kulit, bangsa, kekayaan, kekuasaan, jabatan dan lain-lain. Asas keseimbangan, yaitu menghendaki kedua pihak memenuhi dan melaksanakan perjanjian itu. Asas kepastian hukum, yaitu perjanjian sebagai suatu figur hukum harus mengandung kepastian hukum yang dilihat dari kekuatan mengikat perjanjian itu yaitu sebagai Undang-Undang bagi para pihak.

36

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

8. Asas moral, yaitu seseorang yang melakukan suatu perbuatan dengan sukarela (moral), yang bersangkutan mempunyai kewajiban (hukum) untuk meneruskan dan menyelesaikan perbuatannya. 9. Asas kepatutan, yaitu melalui asas ini ukuran tentang hubungan ditentukan juga oleh rasa keadilan dalam masyarakat. 10. Asas Kebiasaan, yaitu perjanjian tidak hanya mengikat untuk apa yang secara tegas diatur, tetapi juga hal-hal yang dalam keadaan dan kebiasaan yang lazim diikuti. Untuk sahnya persetujuan diperlukan 4 (empat) syarat sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 1320 yaitu sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, cakap untuk membuat suatu perikatan, suatu hal tertentu, dan suatu sebab yang halal. Kedua syarat yang pertama dinamakan syarat subjektif, karena kedua syarat tersebut mengenai subjek perjanjian. Sedangkan kedua syarat terakhir disebut syarat objektif, karena mengenai objek dari perjanjian.53 Perjanjian yang cacat syarat subjektif dapat dibatalkan dan yang cacat syarat objektif batal demi hukum.54 KUH Perdata membedakan perjanjian ke dalam perjanjian yang bernama dan perjanjian tidak bernama. Perjanjian bernama adalah
53 54

Mariam Darus Badrulzaman, op. cit., h. 73. Ibid, h. 82.

Perjanjian Asuransi Pada Umumnya

37

perjanjian yang diatur dan diberi nama di dalam undang-undang, contohnya jual beli dan sewamenyewa. Perjanjian tidak bernama adalah perjanjian yang materinya tidak diatur di dalam KUH Perdata, misalnya perjanjian beli sewa. Perjanjian tidak bernama lahir dalam praktik berdasarkan asas kebebasan berkontrak.55 Hal berikutnya yang penting untuk dipahami adalah tentang sistem, asas-asas dan syarat sahnya suatu perjanjian. Pada umumnya dianut pendapat bahwa hukum perjanjian menganut suatu sistem terbuka. 56 Ketentuanketentuan dari hukum perjanjian itu merupakan hukum pelengkap, artinya pasal-pasal itu boleh disingkirkan oleh para pihak apabila dikehendakinya, dan boleh membuat ketentuan sendiri yang menyimpang dari hukum perjanjian. Dalam tidak diatur sendiri, maka akan tunduk kepada ketentuan undang-undang. Pada umumnya memang para pihak yang mengadakan perjanjian hanya memperjanjikan hal-hal yang bersifat pokok saja, sedangkan halhal yang lain cukup tunduk kepada ketentuan undang-undang.57 Di samping sistem terbuka hukum perjanjian juga menganut asas kebebasan
Mariam Darus Badrulzaman, op. cit., h. 67. Sistem terbuka adalah hukum perjanjian itu memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengadakan perjanjian mengenai apa saja sepanjang tidak melanggar ketertiban umum dan kesusilaan dalam masyarakat. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, (Jakarta: Intermasa, 1996), h. 128. 57 Ibid.
55 56

38

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

dalam membuat perjanjian sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Menurut Subekti bahwa asas ini memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengadakan perjanjian yang berisi apa saja, asalkan tidak melanggar Undang-Undang, ketertiban umum dan kesusilaan.58 B. Perjanjian Asuransi di Dalam KUHD Dalam kaitan dengan perjanjian asuransi, KUHD mengatur prinsip atau asas-asas yang berlaku dan bersifat memaksa bagi pembuatan perjanjian asuransi, yaitu:59 1. Prinsip kepentingan yang dapat diasuransikan (insurable interest). Berdasarkan prinsip ini, pihak yang bermaksud akan mengasuransikan sesuatu harus mempunyai kepentingan terhadap objek yang akan diasuransikan. Berdasarkan Pasal 250 KUHD, kepentingan ini harus ada pada saat perjanjian asuransi diadakan. Pelanggaran ketentuan ini dapat menyebabkan penanggung tidak diwajibkan untuk memberi ganti kerugian dalam hal terjadi risiko yang dijamin, atau asuransi menjadi batal.
Subekti, loc. cit. Gunanto, Asuransi Kebakaran di Indonesia, (Jakarta: Tirta Pustaka, 1994), h. 26-37, juga dalam Man Suparman Sastrawidjaja & Endang, op. cit, h. 62-63.
58 59

Perjanjian Asuransi Pada Umumnya

39

2. Prinsip kejujuran sempurna (utmost good faith) Di dalam perjanjian asuransi, tertanggung memiliki kewajiban untuk memberitahukan segala sesuatu yang diketahuinya mengenai objek atau barang yang dipertanggungkan secara benar. Keterangan yang tidak benar atau informasi yang tidak diberikan kepada penanggung walaupun dengan itikat baik sekalipun dapat mengakibatkan batalnya perjanjian asuransi. Prinsip ini diatur tegas dalam Pasal 251 KUHD. 3. Prinsip ganti kerugian (indemnity) Perjanjian asuransi bertujuan untuk memberikan ganti kerugian kepada tertanggung atas sejumlah kerugian yang diderita, yang disebabkan oleh terjadinya risiko yang dijamin sebagaimana diatur dalam polis. 4. Prinsip suborgasi bagi penanggung (suborgation) Prinsip ini sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari prinsip indemnity seperti dijelaskan sebelumnya. Menurut prinsip suborgasi, dalam hal setelah menerima ganti kerugian ternyata tertanggung mempunyai tagihan kepada pihak lain yang secara hukum bertanggung jawab atas timbulnya kerugian tersebut, maka tertanggung tidak berhak

40

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

menerimanya dan hak itu beralih kepada penanggung. 5. Prinsip sebab akibat (causaliteit principle) Di dalam polis asuransi disebutkan adanya kewajiban penanggung untuk memberikan ganti kerugian kepada tertanggung apabila yang bersangkutan mengalami kerugian. Akan tetapi tidaklah mudah untuk menentukan apakah suatu peristiwa yang terjadi itu merupakan penyebab utama timbulnya kerugian yang dijamin dalam polis. 6. Prinsip gotong royong (contribution) Jika suatu polis untuk suatu polis yang sama ditandatangani oleh beberapa tertanggung, maka masing-masing penanggung akan melakukan pembayaran ganti kerugian kepada tertanggung sesuai dengan perimbangan nilai premi yang mereka terima dan besarnya risiko yang mereka tanggung. Kontribusi terjadi apabila ada asuransi berganda (double insurance) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 278 KUHD. Di samping prinsip-prinsip tersebut, terhadap perjanjian asuransi berlaku pula beberapa asas lain yang memberikan ciri kepada perjanjian asuransi. Asas pertama adalah asas konsensual. Dilihat dari bentuknya, perjanjian asuransi termasuk ke dalam

Perjanjian Asuransi Pada Umumnya

41

perjanjian konsensual, yaitu perjanjian yang sudah terbentuk sejak adanya kata sepakat.60 Selanjutnya perjanjian asuransi juga menganut asas bersyarat (conditional). Bahwa perwujudan prestasi penanggung itu digantungkan kepada suatu peristiwa yang tidak pasti, yaitu apakah risiko yang dipertanggungkan akan terjadi atau tidak. Terjadinya peristiwa yang tidak pasti itu merupakan syarat perwujudan dari prestasi penanggung.61 Perjanjian asuransi juga menganut asas kepercayaan (trust). Dengan mengalihkan risiko kepada penanggung melalui pembayaran premi, maka tertanggung percaya bahwa apabila risiko itu ternyata terjadi, maka penanggung akan memberikan penggantian atas kerugian yang dideritanya itu.62 C. Ketentuan Perjanjian Asuransi Menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian dan Peraturan Pelaksanaannya. Undang-Undang Usaha Perasuransian hanya memuat hal-hal pokok dari usaha jasa asuransi, misalnya pengaturan tentang bidang asuransi, jenis usaha perasuransian, ruang lingkup usaha perusahaan perasuransian, kepemilikan perusahaan perasuransian, hal-hal
60 61 62

Man Suparman Sastrawidjaja & Endang, op. cit., h. 52. Agus Prawoto, op. cit, h. 46. Agus prawoto, loc. cit.

42

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

seputar perizinan, pembinaan dan pengawasan serta pengenaan sanksi. Hal-hal yang bersifat teknis, misalnya syarat-syarat penutupan perjanjian asuransi, diatur dalam peraturan pelaksana. Peraturan Pemerintah No. 73 Tahun 1992 jo. No. 63 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian (selanjutnya disebut PP No. 73) adalah peraturan pelaksana dari UndangUndang Usaha Perasuransian, yang menitikberatkan pada pengaturan lebih lanjut di bidang penyelenggaraan usaha perasuransian. Bab IV PP No. 73 yang terdiri dari 15 pasal (mulai dari Pasal 17 sampai dengan Pasal 31) khusus mengatur penyelenggaraan usaha. Pasal 17 PP No. 73 menegaskan bahwa di dalam memasarkan suatu program atau produk asuransi, perusahaan asuransi harus mengungkapkan informasi yang relevan, tidak ada yang bertentangan dengan persyaratan yang dicantumkan dalam polis dan tidak menyesatkan. Selanjutnya Pasal 18 ayat (1) PP No. 73 tersebut menggariskan bahwa sebelum memasarkan produk baru, setiap perusahaan asuransi harus melapor pada pihak regulator di bidang usaha asuransi, dalam hal ini adalah Departemen Keuangan (Depkeu). Ayat selanjutnya dari Pasal 18 PP No. 73 ini menegaskan suatu larangan bagi perusahaan asuransi untuk memasarkan produk asuransi

Perjanjian Asuransi Pada Umumnya

43

yang bertentangan dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 19 dan Pasal 20 PP No. 73. Pasal 19 PP No. 73 mengatur tentang polis atau jenis perjanjian asuransi lain. Adapun yang perlu mendapat perhatian adalah ayat (1) dari Pasal 19 PP No. 73 ini yang mengatur bahwa polis atau jenis perjanjian asuransi lainnya beserta lampiran yang merupakan kesatuan dengannya tidak boleh mengandung kata, katakata, atau kalimat yang dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda mengenai risiko yang ditutup asuransinya, kewajiban penanggung dan kewajiban tertanggung atau mempersulit tertanggung di dalam mengurus haknya. Berkaitan dengan ketentuan Pasal 19 ayat (1) dari PP No. 73 di atas, pada tanggal 22 November 2001, Departemen Keuangan melalui Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan menerbitkan Surat Edaran Nomor S5560/LK/2001 Tentang Polis asuransi dan Lampirannya. Di dalam surat edaran tersebut diatur ketentuan bahwa semua perusahaan asuransi yang menerbitkan polis asuransi beserta segala lampiran yang merupakan kesatuan dengannya dalam bahasa asing, diwajibkan untuk menyertakan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya perbedaan penafsiran atas isi polis. Surat edaran tersebut juga menentukan bahwa dalam hal terjadi sengketa penafsiran, maka yang berlaku atau yang dijadikan sebagai acuan adalah polis dalam

44

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

bahasa Indonesia. Ini berarti bahwa dengan surat edaran tersebut setiap polis dan lampiranlampirannya yang ditulis dalam bahasa asing, harus disertakan juga terjemahan dalam bahasa Indonesia dan bila terjadi sengketa bahasa Indonesia yang akan digunakan untuk menyelesaikannya. Ketentuan lain tentang polis asuransi adalah Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 422/KMK.06/2003 Tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi (selanjutnya disebut KMK 422) yang diterbitkan pada tanggal 30 September 2003 sebagai penjabaran lebih lanjut dari PP No. 73. Bab III dari KMK 422 khusus mengatur tentang polis yang terdiri dari dua belas pasal, yaitu dari Pasal 7 sampai Pasal 18. Beberapa pasal yang diantaranya adalah Pasal 7 KMK 422 diatur bahwa dalam setiap penutupan asuransi, polis asuransi harus sesuai dengan polis asuransi yang dilaporkan kepada menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 yaitu pelaporan mengenai rencana memasarkan produk asuransi baru. Selanjutnya Pasal 9 KMK 422 mengatur tentang polis asuransi harus dicetak dengan jelas sehingga dapat dibaca dengan mudah dan dimengerti baik langsung maupun tidak langsung oleh pemegang polis dan atau tertanggung. Pasal 10 KMK 422 ayat (1) mensyaratkan bahwa setiap polis asuransi yang diterbitkan dan

Perjanjian Asuransi Pada Umumnya

45

dipasarkan di wilayah hukum Indonesia harus dibuat dalam Bahasa Indonesia. Kemudian ayat (2) disebutkan bahwa dalam hal diperlukan, polis asuransi dapat dibuat dalam bahasa asing berdampingan dengan Bahasa Indonesia. Selanjutnya dalam Pasal 11 KMK 422 ayat (1) apabila polis asuransi terdapat perumusan yang dapat ditafsirkan sebagai pengecualian atau pembatasan penyebab risiko yang ditutup berdasarkan polis asuransi yang bersangkutan, bagian perumusan yang dimaksud harus ditulis atau dicetak sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah diketahui adanya pengecualian atau pembatasan tersebut. Dalam ayat (2) disebutkan apabila dalam polis asuransi terdapat perumusan yang dapat ditafsirkan sebagai pengurangan, pembatasan, atau pembebasan kewajiban penanggung, bagian perumusan dimaksud harus ditulis atau dicetak sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah diketahui adanya pengurangan, pembatasan, atau pembebasan tersebut. Kemudian Pasal 15 KMK 422 menyatakan bahwa dalam polis asuransi dilarang dicantumkan suatu ketentuan yang dapat ditafsirkan bahwa tertanggung tidak dapat melakukan upaya hukum sehingga tertanggung harus menerima penolakan pembayaran klaim. Pasal 16 KMK 422 menyatakan bahwa dalam polis asuransi dilarang dicantumkan ketentuan yang dapat ditafsirkn sebagai pembatasan

46

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

upaya hukum bagi para pihak dalam hal terjadi perselisihan mengenai ketentuan polis. Selanjutnya dalam Pasal 17 KMK 422 dinyatakan mengenai pemilihan pengadilan dalam hal terjadi perselisihan yang menjangkut perjanjian asuransi, tidak boleh membatasi pemilihan pengadilan hanya pada pengadilan negeri di tempat kedudukan penanggung. Ketentuan lain yang penting adalah Pasal 18 KMK 422 yang menegaskan bahwa apabila Menteri menilai bahwa dalam ketentuan polis terdapat hal-hal yang dapat merugikan pihak tertanggung atau pihak penanggung, Menteri dapat meminta perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi untuk meninjau ulang ketentuan polis dimaksud. D. Perlindungan Konsumen Berdasarkan UndangUndang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dan Kaitannya Dengan Asuransi. 1. Esensi Undang-Undang Perlindungan Konsumen Perlindungan hukum kepada konsumen merupakan hal yang menjadi semakin penting disebabkan antara lain faktor-faktor berikut ini:63 a. Kedudukan konsumen yang relatif lemah dibandingkan produsen;
Erman Radjagukguk, dalam Hukum Perlindungan Konsumen, (penyunting: Husni Syawali & Neni Sri Imaniyati), (Bandung: Mandar Maju, 2000), h. 93.
63

Perjanjian Asuransi Pada Umumnya

47

b. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai motor penggerak produktifitas dan efisiensi produsen dalam menghasilkan barang dan jasa; c. Perubahan konsep pemasaran yang mengarah pada pelanggan dalam konteks lingkungan eksternal yang lebih luas pada situasi ekonomi global. Perlindungan hukum kepada konsumen diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut: pertama, menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur keterbukaan akses dan informasi serta menjamin kepastian hukum; kedua, melindungi kepentingan konsumen pada khususnya dan seluruh pelaku dunia usaha pada umumnya; ketiga, meningkatkan kualitas barang dan pelayanan jasa; keempat, memberikan perlindungan kepada konsumen dari praktik usaha yang menipu dan menyesatkan.64 Dilihat dari materi muatan UUPK tersebut, tampak bahwa meskipun undang-undang tersebut undang-undang Perlindungan konsumen tetapi ketentuan-ketentuan di dalamnya lebih dominan mengatur perilaku produsen atau pelaku usaha. Hal ini dapat dimengerti karena sejarah umat manusia, termasuk di Indonesia, menunjukan bahwa kerugian yang dialami konsumen berupa barang atau jasa sering kali merupakan akibat dari
64

Erman Radjagukguk, loc cit.

48

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

perilaku pelaku usaha. Dengan demikian wajar jika para aktivis gerakan perlindungan konsumen menuntut agar perilaku pelaku usaha tersebut mendapat pengaturan, dan pelanggaran terhadap aturan tersebut 65 dikenakan sanksi yang setimpal. Esensi dari diundangkannya UUPK adalah mengatur perilaku pelaku usaha dengan tujuan agar konsumen terlindungi secara hukum.66 Mewujudkan perlindungan konsumen adalah mewujudkan hubungan berbagai dimensi yang terkait dan bergantung satu dengan yang lain antara konsumen, pelaku usaha dan 67 pemerintah. 2. Asas-asas Perlindungan Konsumen Pengaturan mengenai asas-asas dan prinsip-prinsip yang dianut dalam UUPK dirumus dalam Pasal 2 UUPK yang Menegaskan bahwa Perlindungan konsumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum. Jika dicermati asas-asas tersebut tanpa melihat penjelasan UUPK maka akan sulit untuk
Johanes Gunawan, Tanggung Jawab Pelaku Usaha Menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Antisipasi Pelaku Usaha Terhadap Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen , Bandung 8 April 2000, h. 2. 66 Ibid., h. 3. 67 Nurmadjito, dalam Hukum Perlindungan Konsumen, (penyunting: Husni Syawali & Neni Sri Imaniyati), (Bandung: Mandar Maju, 2000), h. 7.
65

Perjanjian Asuransi Pada Umumnya

49

memperoleh gambaran yang lengkap. Karena itu Pasal 2 UUPK yang menyatakan bahwa perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan lima asas yang relevan dalam pembangunan nasional, yaitu: a. Asas manfaat, dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan; b. Asas keadilan, dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajiban secara adil; c. Asas keseimbangan, dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha dan pemerintah dalam arti material dan spiritual; d. Asas keamanan dan keselamatan konsumen, dimaksud untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan;

50

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

e. Asas kepastian hukum, dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen mentaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum. 3. Hak-hak Konsumen Konsumen memiliki hak-hak yang harus dilindungi oleh produsen atau pelaku usaha yaitu sebagai berikut:68 a. Hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang; b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan barang dan/atau jasa; c. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa; d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan; e. Hak untuk mendapat advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut; f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen; g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar, jujur serta tidak diskriminatif;
68

Pasal 4 UUPK.

Perjanjian Asuransi Pada Umumnya

51

h. Hak untuk mendapatkan konpensasi, ganti kerugian dan/atau penggantian apabila barang atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangan lainnya. 4. Berbagai Pengaturan Bagi Pelaku Usaha Untuk memberikan perlindungan yang maksimal bagi para konsumen, UUPK menerapkan berbagai macam pengaturan bagi para pelaku usaha, baik dalam bentuk kewajiban, larangan maupun pengenaan sanksi. Kewajiban yang dikenakan bagi para pelaku usaha menurut UUPK adalah sebagai berikut: 69 a. Beritikat baik dalam melakukan kegiatan usahanya; b. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan; c. Memperlakukan dan melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; d. Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;
69

Pasal 7 UUPK.

52

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

e. Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan; f. Dan seterusnya. UUPK juga menerapkan beberapa larangan bagi pelaku usaha di dalam menjalankan kegiatan produksi, perdagangan, penawaran, promosi dan pengiklanan suatu barang dan/atau jasa. Perbuatan yang dilarang bagi para pelaku usaha diatur dalam Bab IV UUPK, yang terdiri dari 10 pasal, dimulai dari Pasal 8 sampai dengan Pasal 17. Larangan yang dikenakan kepada pelaku usaha yang disebut dalam Pasal 8 ayat (1) UUPK dapat diklasifikasikan ke dalam dua larangan pokok, yaitu larangan mengenai produk itu sendiri yang tidak memenuhi syarat dan standar yang layak untuk dipergunakan atau dipakai atau dimanfaatkan oleh konsumen; dan larangan mengenai ketersediaan informasi yang benar, dan tidak akurat, yang menyesatkan konsumen.70 UUPK juga perlu mengatur mengenai ketentuan perjanjian baku dan/atau pencatuman klausul baku dalam setiap dokumen atau
Gunawan Widjaja & Ahmad Yani, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001), h.39.
70

Perjanjian Asuransi Pada Umumnya

53

perjanjian yang dibuat oleh pelaku usaha. Kontrak baku itu sendiri adalah kontrak berbentuk tertulis yang telah digandakan dalam bentuk formulir-formulir yang isinya telah distandarisasi atau dibakukan terlebih dahulu secara sepihak oleh pihak yang menawarkan, serta ditawarkan secara massal, tanpa mempertimbangkan perbedaan kondisi yang dimiliki.71 UUPK juga mengatur tanggung jawab pelaku usaha terhadap gugatan atau ganti kerugian yang diajukan oleh konsumen mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan barang dan/jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkannya. UUPK juga mengatur mekanisme pengenaan sanksi kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran dan hal ini diatur secara khusus dalam Bab VIII. Ada tiga macam sanksi yang dapat dikenakan kepada pelaku usaha, yaitu sanksi administrasi, sanksi pidana pokok dan sanksi pidana tambahan. Para pemegang polis atau nasabah asuransi adalah konsumen yang menggunakan produk jasa perlindungan atas harta benda dan jiwa dan dengan demikian ketentuan-ketentuan di atas berlaku pula bagi pelaku usaha asuransi.

71

Ibid, h. 7.

54

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

PRODUK UNIT LINK DALAM BISNIS ASURANSI JIWA

A. Unit Link Sebagai Perpaduan Antara Asuransi dan Investasi Dalam beberapa tahun terakhir ini, bisnis asuransi jiwa Indonesia mencatat perkembangan yang signifikan. Beberapa pelaku industri asuransi jiwa di Indonesia secara antusias mempromosikan dan memasarkan produkproduk modern yang memadukan proteksi dan investasi. Konsumen asuransi diperkenalkan pada sebuah produk kombinasi antara asuransi dan investasi yang lazim disebut unit link. Produk Unit Link merupakan salah satu bentuk inovasi produk asuransi jiwa. Unit Link, selain memberikan proteksi jaminan asuransi, juga memberikan insentif penghasilan investasi atas pertumbuhan dana yang dikelola Manajer Investasi. Dana Unit Link sebagian berasal dari premi asuransi dan sisanya dari investasi. Tujuan penerbitan Unit Link adalah memberikan daya tarik atau insentif tambahan bagi pemilik asuransi jenis Unit Link. Selain menginvestasikan dananya pada instrumen reksadana, pembeli Unit Link juga diberi fasilitas

Produk Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa

55

jaminan proteksi. Asuransi jiwa ini juga berfungsi sebagai alat investasi karena sebagian preminya dikelola di reksadana.72 Salah satu latar belakang munculnya Unit Link adalah semakin menurunnya tingkat investment yield (imbal hasil investasi) yang bisa diberikan oleh aktuaris untuk jenis produk asuransi yang konvensional. Hal ini menyebabkan minat orang untuk membeli asuransi berkurang. Salah satu cara supaya minat pembeli asuransi meningkat ialah dengan menambahkan instrument investasi seperti reksadana sebagai target pengelolaan dana asuransi tersebut. Produk Unit Link di Indonesia pertama kali muncul tahun 1998 dimonitori oleh Asuransi Jiwa Prudential dan Asuransi Jiwa Manulife Indonesia. Nilai kelolaan dana Unit Link dari Rp. 150,6 miliar pada tahun 2000 meningkat pesat mencapai jumlah lebih dari Rp. 1 triliun pada tahun 2003. Pada dasarnya, produk asuransi jiwa yang ditawarkan di pasar terdiri dari empat bentuk, yaitu Term Life Insurance, Whole Life Insurance, Endowment Insurance dan produk-produk 73 asuransi jiwa modern. Term Life Insurance adalah suatu jenis asuransi jiwa yang hanya akan memberikan manfaat pembayaran uang pertanggungan
Sapto Rahardjo, Panduan Investasi Reksadana, (Jakarta: PT.Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, 2004), h. 204. 73 Tempo, 24 September 2004.
72

56

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

kepada tertanggung apabila yang bersangkutan meninggal dunia pada masa kontrak, sebaliknya jika tertanggung hidup sampai akhir kontrak, tidak ada pembayaran apapun.74 Whole Life Insurance disebut juga asuransi seumur hidup karena pembayaran preminya berlangsung seumur hidup sampai tertanggung meninggal dunia. Jenis asuransi ini akan membayarkan manfaat uang pertanggungan kepada penerima manfaat hanya jika tertanggung meninggal dunia. Dilihat dari cara pembayaran manfaat uang pertanggungannya, tampak bahwa asuransi ini hanya memiliki unsur proteksi yang ditujukan bagi keluarga 75 tertanggung. Endowment atau dwiguna adalah suatu perjanjian asuransi jiwa yang memiliki unsur perlindungan dan tabungan. Pembayaran manfaat uang pertanggungan hanya dilakukan pada akhir kontrak seperti yang telah ditentukan atau jika tertanggung meninggal dunia dalam periode pertanggungan. Polis ini berguna untuk setiap keadaan ketika seseorang memerlukan terkumpulnya dana pada akhir suatu periode, saat tertanggung atau pemegang polis masih hidup atau meninggal dunia. Dengan demikian, asuransi jenis ini menjamin selesainya suatu rencana tabungan, baik hidup maupun 76 meninggalnya si tertanggung.
74 75 76

Ketut Sendra, op. cit., h. 40. Ibid, h. 31. Ibid, h. 45.

Produk Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa

57

Di luar negeri, produk ini sebenarnya sudah lama dikenal. Namun unit link itu sendiri diambil dari nama produk sejenis yang beredar di Inggris, unit link dikenal dengan nama Unit Linked dan pertama kali diterbitkan di London dan Manchester pada tahun 1957. Di Amerika Serikat, produk ini lebih dikenal dengan Variable Life, dan mulai ditawarkan pada tahun 1967 setelah sebelumnya sukses dalam pemasaran di Inggris.77 Menurut teorinya produk ini merupakan salah satu kategori dari produk dasarnya, yaitu dynamic products.78 Perbedaan dynamic Products dengan produk asuransi jiwa umum adalah dalam hal penentuan nilai uang pertanggungan yang diterima oleh pemegang polis. Nilai uang pertanggungan produk asuransi jiwa pada umumnya ditentukan pada saat produk ditawarkan pada pemegang polis. Sedangkan nilai uang pertanggungan pada dynamic products ditentukan berdasarkan akumulasi nilai uang yang dibayarkan sebagai premi dan ditambah dengan hasil investasi atas akumulasi premi tersebut.79 Produk yang dalam industri asuransi juga dikenal dengan nama invesment linked products tersebut mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam pemasarannya di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan premi yang
Andi Surudji, op. cit. Fadlul Imansyah, Menyiasati Keberadaan diIndonesia, Bisnis Indonesia, 26 Maret 2002, h. 5. 79 Fadlul Imansyah, loc. cit
77 78

Unit

Link

58

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

diperoleh perusahaan-perusahaan asuransi jiwa yang memasarkan unit link. Pesatnya perkembangan unit link itu tidak terlepas dari kebutuhan alternatif investasi bagi masyarakat. Dengan membeli unit link, masyarakat melakukan dua hal secara bersamaan, yaitu berinvestasi dan mendapat proteksi asuransi.80 Dahulu, produk asuransi jiwa yang disebut dwiguna (endowment), sebenarnya juga telah mengkombinasikan antara proteksi dan tabungan. Akan tetapi, produk ini menghasilkan tingkat kembalian (return) yang relatif rendah. Nasabah pun tidak mengetahui bagaimana uang yang nasabah titipkan itu diinvestasikan oleh perusahaan asuransi. Di samping itu, nasabah tidak bebas memilih instrumen investasinya. Nasabah hanya membayar sejumlah uang premi dan selanjutnya ditangani sepenuhnya oleh perusahaan asuransi.81 Tidak begitu halnya dengan produk unit link. Produk yang inovatif ini memberikan keleluasaan bagi nasabah untuk memilih investasi yang memungkinkan mereka untuk memperoleh tingkat return investasi yang optimal. Karena itu, risiko investasinya juga ditanggung oleh nasabah. Misalnya, jika hargaharga instrumen investasi yang menjadi target penempatan dana nasabah itu turun, maka nilai investasi juga menurun. Demikian pula
80

30.
81

Unit Link, Terus Diburu Masyarakat, Kompas 23 April 2002, h.

Andi Surudji, Mencari Solusi Perlindungan Nasabah Unit Link , Kompas, 25 Maret 2002, h. 32.

Produk Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa

59

sebaliknya jika nilai instrumen itu meningkat maka otomatis nilai penyertaan nasabah juga meningkat. Berdasarkan jenis portofolio investasinya, unit link terdiri dari empat jenis yaitu Dana Saham (Equity Fund), Dana Pendapatan Tetap (Fixed Income), Dana Campuran (Managed Fund) dan Dana Kas atau Pasar Uang (Cash Fund). Dana Saham bertujuan untuk mendapatkan pertumbuhan investasi yang tinggi dalam jangka panjang dengan menginvestasikan sebagian besar (80%) dananya pada efek ekuitas. Dana Pendapatan Tetap bertujuan menghasilkan penghasilan yang stabil dengan risiko seminimal mungkin dengan melakukan investasi pada efek hutang yang diterbitkan atau dijamin oleh pemerintah dalam mata uang Rupiah. Dalam Dana Campuran, tujuan yang hendak dicapai adalah mendapatkan pertumbuhan modal dan aliran pendapatan yang tinggi dengan jalan melakukan investasi sebagian pada saham dan sebagian pada efek pendapatan tetap. Jenis yang terakhir yaitu Dana Kas memiliki tujuan untuk mendapatkan pendapatan dan likuiditas yang tinggi dan mempertahankan nilai aktiva bersih dengan menginvestasikan seluruh dananya pada efek pasar uang dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun, Itu sebabnya, Dana Kas disebut juga Dana Pasar Uang. Secara umum unit link sebenarnya tidak berbeda dengan reksadana yang diterbitkan

60

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

oleh perusahaan-perusahaan pengelola dana publik. Hal yang membedakan unit link dengan reksadana adalah bahwa dalam unit link, selain berinvestasi nasabah juga memperoleh perlindungan asuransi jiwa. Sedangkan dalam reksadana, nasabah tidak mendapatkan proteksi asuransi jiwa. Dengan diberikannya proteksi perlindungan jiwa kepada nasabah unit link, beberapa kalangan menyebut produk ini sebagai super reksadana.82 Investasi dalam produk unit link dapat dikatakan merupakan suatu perencanaan keuangan untuk kepentingan masa depan konsumen atau nasabah. Sifat dari produk unit link itu sendiri adalah fleksibel sehingga nasabah dapat memilih dan menentukan sendiri jenis-jenis investasi yang diinginkan untuk penempatan dananya. Karena itu, tingkat pengembalian investasi tertanggung dari jenis investasi menjadi tanggung jawab nasabah, sedangkan proteksi atas jiwanya tetap merupakan tanggung jawab dari perusahaan asuransi yang mengeluarkan polis.83 Pengaturan unit link di Indonesia untuk sekarang ini dapat dilihat dalam Undang-Undang Perasuransian yaitu Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 yang diatur lebih lanjut dalam peraturan pelaksana, yaitu dalam Pasal 18 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 73 Tahun 1992 jo
Andi Surudji, Unit Link, Produk Asuransi Jiwa yang Melesat, Kompas, 4 Maret 2002. 83 Andi Surudji, loc. cit.
82

Produk Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa

61

Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian, yang menyatakan perusahaan asuransi jiwa yang akan memasarkan produk baru harus terlebih dahulu memberitahukan rencana tersebut kepada Menteri. Kemudian dalam Pasal 5 ayat (1) Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 422/KMK.06/2003 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan asuransi dan Perusahaan Reasuransi, menyatakan Perusahaan asuransi Jiwa yang akan memasarkan produk asuransi baru yang dikaitkan dengan investasi antara lain untuk produk asuransi unit link, harus melaporkan pada Menteri Keuangan, dan ayat (2) mengenai produk asuransi baru selanjutnya diatur dengan Keputusan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan. Payung Hukum unit link adalah Menteri Keuangan dalam rangka pelaksanaan fungsi pembinaan, pengawasan, pemeriksaan terhadap perusahaan perasuransian yang dilakukan oleh Direktur Jenderal Lembaga Keuangan. Ketentuannya ditentukan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor; 424/KMK.06/2003 tentang Kesehatan Keuangan perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dan mengharuskan perusahaan asuransi untuk membuat laporan keuangannya termasuk juga laporan mengenai investasi, ini berarti bahwa unit link atau investasi juga berada dalam pengawasan menteri keuangan walaupun dananya berada dalam pasar modal.

62

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

B. Pemasaran Produk Unit Link di Indonesia Pada awal pemunculannya di Indonesia, tercatat hanya beberapa perusahaan asuransi jiwa saja yang memasarkan produk unit link. Kini setelah lebih dari lima tahun kehadirannya, terdapat tidak kurang dari lima belas perusahaan asuransi jiwa baik patungan (joint venture) maupun lokal yang memasarkan produk unit link, seperti PT. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, PT. Prudential Life Assurance, PT. Asuransi AIA Indonesia, PT. Asuransi AIG Lippo Life, PT. Asuransi Panin Life Tbk, PT. ING Aetna Life Indonesia, PT. AXA Life Indonesia, PT. Asuransi Zurich Life Indonesia, PT. Asuransi Allianz Life Indonesia, PT. Asuransi Jiwa Sewu New York Life, PT. Asuransi Cigna, PT. Asuransi MAA Life, PT. Asuransi Jiwa Adisarana Wana Artha, PT. Asuransi Jiwa Bina Daya Nusa Indah, PT. Asuransi Sun Life Indonesia. Dari lima belas perusahaan penjual unit link tersebut di atas, yang dapat disebut sebgai pelopor di dalam memperkenalkan produk ini di Indonesia adalah PT. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (AJMI) dan PT. Prudential Life Assurance (PLA), yang meluncurkan produk unit link mereka di tahun 1999.84 AJMI saat ini memiliki sebuah produk unit link yang diberi nama ProInvest. Selain memberikan proteksi asuransi jiwa, ProInvest menawarkan beberapa manfaat tambahan yaitu
84

Andi Surudji, loc. cit.

Produk Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa

63

hasil investasi yang menarik, fleksibilitas dalam penarikan dana, manfaat akhir kontrak sebesar nilai polis yang telah terbentuk yang akan dibayarkan bila tertanggung hidup hingga akhir kontrak dan manfaat kematian sebesar seratus persen uang pertanggungan ditambah nilai polis yang telah terbentuk bila tertanggung meninggal dunia dalam masa kontrak. ProInvest ditawarkan dalam dua mata uang yaitu Rupiah (ProInvest Rupiah) dan Dolar Amerika (ProInvest US Fund). Dalam hal pembayaran premi, AJMI memberikan kemudahan dengan cara pembayaran melalui ATM, transfer bank, autodebet rekening atau kartu kredit. Sementara PLA memiliki produk unit link yang diberi nama PRUlink investor account. Produk ini mulai diluncurkan pada April 1999 dengan dua pilihan investasi yaitu Rupiah dan Dolar Amerika. Pada tahun berikutnya, PLA meluncurkan tiga pilihan baru investasi dalam PRUlink, yaitu Rupiah Equity Fund yang menempatkan investasinya pada saham berdenominasi Rupiah yang tercatat di Bursa Efek Jakarta, selanjutnya Rupiah Fixed Income Fund yang dirancang untuk memberikan hasil investasi melalui instrumen sekuritas dan pasar uang berpendapatan tetap. Pilihan ketiga adalah Rupiah Cash Fund yang dirancang untuk memberikan hasil melalui instrumen investasi

64

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

dalam Rupiah di pasar uang seperti Deposito berjangka dan Sertifikat Bank Indonsia (SBI).85 Walaupun kehadirannya tergolong baru dibandingkan produk asuransi jiwa konvensional lainnya, ternyata produk unit link mampu mendatangkan pemasukan premi yang cukup besar bagi perusahaan asuransi yang menjualnya. Mayoritas perusahan pemasar unit link adalah perusahaan asuransi patungan (joint venture). Kesuksesan perusahaan asuransi jiwa joint venture dalam menjual produk unit link telah mendorong perusahaan asuransi jiwa lokal untuk mulai merancang dan menawarkan produk serupa. Perusahaan asuransi jiwa lokal yang pertama kali menjual unit link adalah PT. Asuransi Jiwa Binadaya Nusaindah (AJBN). Produk unit link yang dipasarkan AJBN diberi nama AJBN-Link dan mulai diperkenalkan ke konsumen pada bulan April 2000. AJBN-Link dipasarkan dalam dua paket yaitu AJBN Stable Link, merupakan perpaduan asuransi jiwa dan investasi, dan AJBN Dynamic Link yang merupakan perpaduan asuransi kecelakaan dan investasi. Penempatan dana AJBN Stable Link lebih banyak ke pasar uang, sedangkan dalam AJBN Dynamic Link lebih banyak ke ekuitas.86 Dalam memasarkan produk unit link, pada umumnya perusahaan asuransi jiwa
Dikutip dari konfrensi pers yang dimuat di halaman situs resmi Asuransi Prudential,(http://www.prudential.co.id.) Akses tanggal 19 maret 2006. 86 Harian Bisnis Indonesia, 2 Oktober 2002
85

Produk Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa

65

menggunakan jalur pemasaran secara langsung melalui tenaga pemasaran lapangan atau agen. Mengingat bahwa unit link adalah sebuah produk baru yang membutuhkan keahlian khusus dari agen yang menjelaskan segala informasi yang dibutuhkan calon nasabah, maka beberapa perusahaan asuransi jiwa menerapkan syarat khusus bagi agen yang menawarkan unit link kepada calon nasabah mereka. PT. Asuransi AXA Life Indonesia (AXA) adalah salah satu perusahaan yang menerapkan hal tersebut. Setiap agen yang akan menawarkan Honey, produk unit link dari AXA, diwajibkan terlebih dahulu menjalani serangkaian program pelatihan dan bagi agen yang lulus akan memperoleh sertifikat PEAK (profesional education and applied knowledge).87 Perusahaan asuransi lainnya yaitu PT. Asuransi Jiwa Adisarana WanaArtha, menerapkan metode yang serupa, bahkan menyewa perusahaan konsultan dari Filipina yaitu ROSCH Consulting khusus untuk memberikan pelatihan kepada agen yang akan menawarkan produk unit link yang diberi nama Big I WanaArtha.88 AJMI sebagai pelopor pemasaran unit link mengadakan pendidikan khusus bagi agen yang akan menjual produk unit link ProInvest. Pendidikan khusus itu dinamakan Certificate Unit Link Training (Culig) dan diselenggarakan
87 88

Harian Bisnis Indonesia, 6 November 2001, h. 5. Harian Bisnis Indonesia, 5 Desember 2001, h. 4.

66

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

bekerjasama dengan Dewan Asuransi Indonesia (DAI). Hal ini dilakukan mengingat bahwa untuk sekarang ini Direktorat Asuransi telah mengeluarkan suatu ketentuan yang mewajibkan para agen pemasar unit link untuk terlebih dahulu menjalani pelatihan khusus. Direktorat Asuransi Depkeu sebagai pengawas jasa asuransi saat ini telah mewajibkan perusahaan asuransi yang akan menjual unit link untuk melakukan sertifikasi khusus kepada para agennya. Hal ini sama dengan Singapura, dimana otoritas keuangan negara tersebut (MAS-Monetary Authority of Singapore) mensyaratkan setiap agen asuransi jiwa yang akan menjual unit link untuk terlebih dahulu menempuh pendidikan khusus memperoleh sertifikat asuransi jiwa unit link yang dikeluarkan oleh The Singapore College of Insurance. Sertifikat tersebut sebagai bukti bahwa agen yang bersangkutan telah memiliki kompetensi serta standar dan profesionalisme yang memuaskan dalam menjual produk unit link.89 Dewan Asuransi Indonesia (DAI) sebagai wadah pelaku industri jasa asuransi mendukung adanya ketentuan khusus yang diterapkan kepada agen yang akan menjual produk unit link yaitu dengan mengikuti program sertifikasi agen. Hal ini dirasakan perlu mengingat bahwa unit link adalah produk asuransi yang cukup
Dikutip dari Http://www://infojiwa.com/versiindonesia/lembar berita26.htm. akses 6 Juni 2006.
89

Produk Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa

67

rumit (complicated) sehingga diperlukan keahlian khusus dari agen di dalam memasarkan produk tersebut kepada masyarakat.90 Dilihat dari kecenderungan dan besarnya kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan, produk unit link memang menarik minat para pemilik perusahaan asuransi. Namun demikian, untuk menggarap bisnis ini bukanlah pekerjaan yang mudah karena setidak-tidaknya dibutuhkan keahlian ekstra di bidang administrasi polis dan aktuaria, karena premi yang terkumpul terbagi menjadi dua yaitu untuk pertanggungan dan investasi. Di samping itu juga dibutuhkan keahlian dalam bidang portofolio karena dana yang terkumpul harus diinvestasikan ke berbagai instrumen investasi dan hal itu masih harus disesuaikan dengan keinginan pemegang polis. Karena alasan-alasan tersebut, di dalam pengelolaan dana investasi, perusahaan asuransi menyerahkan pengelolaannya kepada ahli pengelola dana (fund manager).91 Di dalam praktek, ada perusahaan asuransi yang menyerahkan pengelolaan investasi itu kepada suatu perusahaan khusus yang bergerak dalam pengelolaan dana (fund management). Diantaranya adalah PT. Asuransi Jiwa Adisarana WanaArtha yang mempercayakan pengelolaan dana investasi pemegang polis Big I WanaArtha kepada PT. Bhakti Asset Management92 dan PT.
90 91 92

Bisnis Indonesia, 4 September 2004. Andi Surudji, op. cit. Harian Bisnis Indonesia, 5 Desember 2002.

68

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

AXA Life Indonesia yang menyerahkan pengelolaan dana pemegang polis Honey kepada PT. Schroders Investment 93 Management. Sementara AJMI menyerahkan pengelolaan dana nasabah pemegang polis ProInvest kepada PT. Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), yang berada dalam satu kepemilikan dengan pemegang saham mayoritas di AJMI, yaitu Manufacturers Life Insurance Co. Ltd. (Canada) PLA juga sama dengan AJMI menyerahkan pengelolaan dana nasabah pemegang polis kepada PT. Prudential Asset Management (PAM), yang berada dalam satu kepemilikan dengan pemegang saham mayoritas di PLA, yaitu Prudential plc di Inggris. Perusahaan asuransi yang menyerahkan pengelolaan dana unit linknya kepada pihak lain biasanya juga menunjuk suatu bank kustodian untuk menyimpan dana hasil investasi. PT. Asuransi Jiwa Adisarana WanaArtha menunjuk PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) sementara PT. AXA Life Indonesia, seperti halnya AJMI, mempercaya penyimpanan dana hasil pengembangan investasi nasabahnya kepada Duetsche Bank. Setiap nasabah yang telah menandatangani surat permohonan asuransi jiwa unit link dan menyetujui syarat dan ketentuan yang telah diajukan oleh perusahaan asuransi jiwa akan memperoleh polis sebagai
93

Harian Bisnis Indonesia, 6 November 2001.

Produk Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa

69

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.


14.

bukti adanya perjanjian asuransi jiwa diantara nasabah atau tertanggung dengan perusahaan asuransi jiwa atau penanggung. Pada dasarnya, isi dan bentuk polis asuransi unit link tidak jauh berbeda dengan polis untuk produk asuransi jiwa konvensional lainnya. Hal yang membedakan polis unit link dengan polis asuransi jiwa pada umumnya adalah adanya beberapa pengaturan mengenai pengertian unit, harga unit, jenis dana investasi, risiko investasi dan penilaian dana investasi. Dari setiap polis unit link yang dipasarkan, pada umumnya dapat ditemukan kesamaan karakteristik tentang hal-hal yang diatur, yaitu: Jenis Pembayaran; Premi; Pengertian Unit; Jenis Asuransi Tambahan; Biaya; Metode Pengenaan biaya; Jenis Dana Investasi; Penempatan Dana Investasi; Risiko Investasi; Pembatalan Polis; Pemulihan Polis; Pengecualian atau Penyampingan hak; Penyelesaian Sengketa; Manfaat Asuransi.94
Hal ini merupakan salah satu temuan dari kajian yang diadakan Yayasan Lembaga Konsumen Asuransi Indonesia (YLKAI) dan Lembaga Penelitian Universitas Parahyangan Bandung (LPUnpar) terhadap unit link pada bulan Oktober 2001.
94

70

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

Pada umumnya polis asuransi unit link diterbitkan dalam bahasa Indonesia untuk memudahkan para pemegang polis atau nasabah dalam memahami bagian-bagian penting menyangkut produk tersebut. C. Masalah-Masalah Seputar Produk Unit Link Sebagai suatu produk asuransi jiwa yang dipadukan dengan investasi, kehadiran unit link tidak saja mendapat sambutan baik tetapi ada juga beberapa pihak yang mempertanyakan keabsahannya sebagai suatu produk asuransi. Salah satu pihak yang cukup gigih mempertanyakan keabsahan unit link sebagai suatu produk asuransi jiwa adalah Yayasan Lembaga Konsumen Asuransi Indonesia (YLKAI), yaitu sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang advokasi konsumen asuransi. YLKAI berpendapat bahwa hakikat suatu produk asuransi adalah adanya suatu pengalihan risiko dari tertanggung kepada penanggung. Dalam kaitan dengan unit link, YLKAI berpendapat bahwa fungsi pengalihan risiko itu tidak terpenuhi karena konsumen atau pemegang polis harus menanggung risiko atas kegagalan investasi dan hal ini bertentangan dengan prinsip dasar asuransi itu sendiri. Dalam pandangan YLKAI, sebagai suatu produk investasi, unit link seharusnya tidak dipasarkan oleh perusahaan asuransi, karena terdapat

Produk Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa

71

perbedaan esensial antara produk investasi dengan produk asuransi. 95 Untuk memperkuat argumentasinya, YLKAI bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Universitas Parahyangan Bandung (LP-Unpar) mengadakan suatu kajian khusus terhadap produk unit link yang diterbitkan oleh perusahaan asuransi jiwa. Dalam studi dengan metode yuridis normtif itu, YLKAI dan LP-Unpar mengkaji delapan dari empat belas polis unit link perusahaan asuransi jiwa yang telah beredar. Kedelapan perusahaan itu adalah PT.Asuransi Jiwa Binadaya Nusa Indah, PT. Asuransi Allianz Life Indonesia, PT. ING Aetna Life Indonesia, PT. MAA Life Assurance, PT. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, PT. Panin Life Tbk, PT. Zurich Life Insurance Indonesia, dan PT. Prudential Life Assurance.96 Dari kajian tersebut YLKAI menarik beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut: 1. Pertama, perusahaan asuransi yang telah memasarkan unit link jelas telah bergeser dari prinsip dasar atau hakikat usaha asuransi sebagai pemikul risiko yang timbul dari hidup atau matinya tertanggung;

Mira Amalia Malik, et. al., Legalitas Produk Unit Link Dalam bisnis Asuransi Jiwa: Pandangan Yayasan Lembaga Konsumen Asuransi Indonesia(YLKAI) terhadap Produk Unit Link yang Dipasarkn oleh Perusahaan Asuransi, 5 Maret 2002. 96 Menggugat Aspek Yuridis unit link, Bisnis Indonesia, 22 November 2001.
95

72

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

2. Kedua,

pergesaran itu terjadi karena produk unit link melanggar ketentuan dasar Undang-Undang Usaha Asuransi antara lain mencakup pengertian asuransi, objek asuransi, pengertian asuransi jiwa dan ruang lingkup asuransi jiwa. Selain itu produk unit link juga telah melanggar ketentuan PP No. 73 dan KMK No. 481; 3. Ketiga, produk unit link merupakan hasil perpaduan antara asuransi dan investasi karena dari karakteristik dan cara-cara penghimpunan dananya berpijak pada prinsip-prinsip dari kedua bidang tersebut; 4. Keempat, berkaitan dengan kesimpulan ketiga di atas maka produk unit link memisahkan dana pembayaran dari masyarakat dalam dua bagian yaitu sebagian untuk premi asuransi dan sebagian lainnya untuk investasi. Hasil investasi inilah yang pada saatnya nanti akan dikembalikan kepada nasabah pada masa akhir pertanggungan; 5. Kelima, dilihat dari karakteristik cara kerjanya, maka unit link jelas telah mengadopsi cara reksadana, karena membagi dana dari masyarakat dalam unitunit kecil dengan nilai tertentu yang dalam reksadana disebut Unit Penyertaan. Dengan demikian dapat diartikan bahwa unit link adalah reksadana yang dipasarkan oleh perusahaan asuransi jiwa. Hal ini

Produk Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa

73

melanggar Undang-Undang Nomor 8 Thun 1995 tentang Pasar Modal.97 Sebenarnya tidak ada yang baru dari kesimpulan-kesimpulan yang ditarik YLKAI dari hasil kajian yang dilakukannya tersebut karena temuan-temuan itu telah diuraikan pada bagian sebelumnya. Namun demikian, sebagai sebuah wacana untuk pengembangan perangkat hukum di bidang usaha asuransi, hasil kajian tersebut perlu untuk dicermati. Direktorat Asuransi Depkeu juga menyambut baik hasil kajian tersebut karena dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk peningkatan pengawasan bagi industri jasa asuransi. Menindaklanjuti hasil kajian tersebut, YLKAI menyerukan agar semua perusahaan asuransi jiwa yang menjual unit link untuk menghentikan penjualan produk tersebut dalam waktu sepuluh hari sejak tanggal mereka mengumumkan hasil kajian mereka. Seruan YLKAI itu tidak mendapat tanggapan dari perusahaan asuransi, sehingga YLKAI melakukan tindakan hukum dengan mengajukan gugatan kepada tiga perusahaan asuransi penjual unit link, masing-masing PT. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, PT. Prudential Life Assurance, dan PT. ING Aetna Life Indonesia melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. YLKAI memohon agar penjualan unit link dilarang karena melanggar hakikat asuransi yang berarti
97

Mira Amalia Malik, et.al., loc.,cit.

74

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

proteksi seperti yang telah dikemukakan dalam hasil kajian di atas. YLKAI mengajukan gugatan hanya kepada tiga dari empat belas perusahaan penjual unit link karena menurut YLKAI ketiga perusahaan itulah yang paling gencar 98 memasarkan unit link. Ketiga perusahaan asuransi yang digugat menanggapi gugatan tersebut dengan menyatakan bahwa YLKAI telah salah alamat mengingat bahwa mereka telah mendapat izin penjualan unit link dari Direktorat Asuransi Depkeu. Dengan demikian, kalau YLKAI akan mengajukan gugatan maka seharusnya gugatan itu diajukan kepada Menteri Keuangan dalam hal ini Direktorat Asuransi yang telah mengeluarkan izin tersebut. Mereka juga mempertanyakan kapasitas YLKAI dalam mengajukan gugatan atas nama konsumen asuransi, karena sampai dengan tanggal diajukan gugatan tidak satupun perusahaan asuransi penjual unit link yang menerima pengaduan dari konsumen berkaitan dengan unit link yang dipasarkan.99 Gugatan YLKAI terhadap PT. Prudential Life Assurance sebagai salah satu perusahaan asuransi jiwa yang memasarkan produk unit link, yaitu Gugatan Nomor: 64/PDT.G/2002/PN.JKT.PST tanggal 04 Maret 2002 yang dalam gugatannya pada intinya mendalilkan bahwa, prudential selaku pelaku
98

Majalah Pilar Bisnis, Edisi 7/ Tahun V/ 27 Maret -09 April 2002, Majalah Pilar Bisnis, loc. cit.

h. 12.
99

Produk Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa

75

usaha telah melakukan perbuatan melawan hukum yaitu dengan mengeluarkan dan memasarkan produk unit link yang tidak sesuai dengan karakteristik produk asuransi sebagaimana diatur dalam Pasal 246 KUHD dan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor: 2 Tahun 1992 tentang Usaha perasuransian. Yang dalam provisi: memerintahkan tergugat/prudential untuk segera menghentikan semua produksi, pemasaran produk unit link tersebut paling lambat 7 (tujuh) hari sejak ditetapkan putusan dalam rivisi ini. Majelis hakim berdasarkan eksepsi dan hasil pemeriksaan menimbang bahwa surat kuasa penggugat/YLKAI bukan surat kuasa khusus untuk mengajukan gugatan, karena dalam hal ini YLKAI tidak mendapat kuasa atau mewakili konsumen asuransi unit link yang dirugikan oleh pelaku usaha atau prudential. Melainkan atas inisiatif dan atas nama Yayasan Lembaga Konsumen Asuransi Indonesia (YLKAI) yang bekerja sama dengan Universitas Katolik Parahyangan bandung yang berusaha menggugat keabsahan produk unit link. Maka majelis Hakim dalam putusannya menolak seluruh gugatan penggugat (YLKAI). Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam Amarnya menilai YLKAI telah mencemarkan nama baik perusahaan asuransi yang memasarkan produk unit link yang mendalilkan bahwa unit link tidak sah dipasarkan oleh perusahaan asuransi jiwa, tidak sesuai dengan prinsip dasar asuransi karena

76

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

memuat adanya risiko investasi serta tidak mendapat pengawasan, baik dari Direktorat Asuransi maupun Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam).100 Dalam Pasal 18 ayat (1) dan (3) PP No. 63 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian jelas bahwa untuk memasarkan suatu produk asuransi, maka program asuransi tersebut harus diberitahukan terlebih dahulu kepada Menteri keuangan dan produk asuransi dapat dipasarkan dan dijual jika Menteri Keuangan tidak memberikan keberatannya dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari.101 Produk asuransi unit link diatur oleh Keputusan Direktur Jenderal Lembaga keuangan No. 6098/LK/2001 tentang perubahan atas Keputusan Dirjen LK No. 5289/LK/1993 tentang Bentuk dan Susunan Laporan serta Pengumuman Laporan Keuangan Perusahaan Perasuransian (Kep Dirjen LK No. 6098/2001) yang mensyaratkan kepada perusahaan asuransi jiwa yang memasarkan produk asuransi unit link untuk memasukkan informasi atas produk tersebut dalam laporan keuangannya. KMK 423 Tahun 2003 tentang Pemeriksaan Perusahaan Asuransi ini menunjukkan bahwa payung hukum dari produk unit link adalah menteri keuangan dalam rangka pelaksanaan fungsi pembinaan, pengawasan dan
Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No: 64PDT.G/2002/PN.JKT.PST. h. 20 101 Ibid.
100

Produk Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa

77

pemeriksaan terhadap perusahaan asuransi yang dilakukan oleh Direktur Jenderal Lembaga Keuangan dalam hal ini menteri keuangan. Oleh karena itu Kep Dirjen LK No.6098 juga membuat jelas keberadaan dan keabsahan hukum dari produk unit link, serta diakui oleh pemerintah Indonesia. Maka Menteri Keuangan secara khusus mengakui keabsahan dari produk Polis Asuransi Unit Link dan secara khusus konsep risiko investasi atas polis tersebut akan ditanggung oleh pemegang polis. Pasal 11 ayat (1) KMK No. 481 Tahun 1999 jo KMK Nomor: 424 Tahun 2003 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi mensyaratkan penanggung untuk memisahkan kekayaan dan kewajiban polis seperti itu dari polis-polis asuransi jiwa. Persyaratan ini diadakan untuk menjamin bahwa risiko dari polis asuransi unit link tidak bercampur dengan risiko polis produk asuransi jiwa lainnya. Menteri keuangan telah dengan tegas mengatur jenis-jenis investasi yang dapat dilakukan oleh penanggung dengan dana yang dibayarkan pada polis asuransi unit link. Pasal 11 ayat (1) KMK No. 481 Tahun 1999 jo KMK 424 Tahun 2003 ini secara tegas memperbolehkan adanya risiko investasi yang ditanggung oleh pemegang polis.102 Gugatan YLKAI atas keabsahan unit link sebagai produk asuransi ternyata tidak membawa dampak negatif bagi pemasaran dan
102

Ibid, h. 17-18.

78

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

penjualan produk unit link. PT. Prudential Life Assurance (PLA) sebagai salah satu pihak yang digugat tidak mengalami penurunan jumlah calon nasabah yang mengajukan permintaan asuransi jiwa PRUlink investor account dan tidak mengalami kesulitan di dalam pemasarannya. Konsumen sendiri juga tidak terlalu terpengaruh oleh adanya gugatan YLKAI terhadap penjualan unit link. Konsumen beranggapan bahwa selama penjualan produk itu telah mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang dan dirasakan tidak akan merugikan mereka sebagai konsumen, penjualan unit link oleh asuransi jiwa sah secara hukum. Di samping itu juga bahwa produk unit link tidak mengandung hal-hal yang merugikan nasabah sebagai konsumen, bahkan nasabah senang karena dengan unit link ada dua manfaat sekaligus yang dapat diperoleh yaitu asuransi dan investasi. Mengenai risiko investasi yang harus mereka tanggung sendiri jika mengalami kegagalan, konsumen pada umumnya tidak berkeberatan karena nasabah maklum bahwa dalam berinvestasi masalah untung atau rugi adalah sesuatu yang wajar. Kontroversi seputar keabsahan unit link sebagai produk asuransi jiwa yang dapat dipasarkan oleh perusahaan asuransi akhir-akhir ini mulai mereda. Hal ini terjadi setelah pemerintah mengeluarkan Keputusan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan No. 6098 LK/2001 tentang Bentuk dan Susunan Laporan serta

Produk Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa

79

Pengumuman Laporan Keuangan Perusahaan Perasuransian, Kep Dirjen LK ini membuat jelas keberadaan dan keabsahan hukum dari produk unit link diakui oleh Pemerintah Indonesia.103 Di samping itu juga muncul rencana pemerintah untuk melakukan revisi UndangUndang No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Di dalam draft tersebut dicantumkan suatu ketentuan yang mengatur kemungkinan perusahaan asuransi jiwa untuk melakukan kegiatan usaha dalam memasarkan produk-produk asuransi jiwa yang mengandung muatan investasi, tanpa secara spesifik 104 menyebutkan produk unit link. Namun dalam Pasal 5 ayat (1) KMK No. 422 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi dinyatakan bahwa perusahaan asuransi yang akan memasarkan produk asuransi baru yang dikaitkan dengan investasi,antara lain untuk produk asuransi unit link, harus melaporkan kepada Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 PP No. 73 Tahun 1992 yang telah diubah dengan PP No. 63 Tahun 1999. Ayat (2) menyatakan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai produk asuransi baru sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Keputusan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan.105
Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, op. cit., h. 17. Tempo, 4 September 2002. 105 Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 422/KMK.06/2003 Tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi Dan
103 104

80

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

Perusahaan Reasuransi.

Produk Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa

81

82

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

PERJANJIAN UNIT LINK DALAM BISNIS ASURANSI JIWA DITINJAU DARI KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN
A. Aspek-aspek Hukum Perjanjian Unit Link Perjanjian Dalam

1. Asas-asas Hukum Perjanjian Hukum Perjanjian menganut beberapa asas penting yang merupakan dasar kehendak para pihak dalam mencapai tujuan. Asas yang esensial dari Hukum Perjanjian adalah sepakat mereka yang mengikatkan diri. Asas ini juga dinamakan asas otonomi konsensualisme yang menentukan adanya perjanjian. Asas konsensualisme yang terdapat di dalam Pasal 1320 KUH Perdata mengandung arti kemauan para pihak untuk saling berpartisipasi dan ada kemauan untuk saling mengikatkan diri. 106
Mariam Darus Badrulzaman, et. al., Kompilasi Hukum Perikatan , (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2001), h. 83.
106

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

83

Asas konsensualisme ini mempunyai hubungan yang erat dengan asas kebebasan berkontark (contractvrijheid) dan asas kekuatan mengikat yang terdapat di dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang berbunyi, Semua Persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya. Kata semua dalam rumusan ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata di atas mengandung pengertian meliputi seluruh perjanjian, baik yang namanya dikenal maupun yang tidak dikenal oleh Undang-Undang. Asas kebebasan berkontrak berhubungan dengan isi perjanjian, yaitu kebebasan dalam menentukan apa dan dengan siapa perjanjian itu diadakan.107 Perjanjian unit link dalam asuransi jiwa juga lahir dari adanya prinsip kebebasan berkontrak tersebut. Pada umumnya perjanjian asuransi jiwa yang dibuat sebelum adanya unit link hanya mengatur bahwa penanggung akan memberikan santunan atas meninggalnya tertanggung atau jika tertanggung hidup sampai masa berakhirnya perjanjian maka penanggung akan memberikan manfaat berupa nilai tunai polis yang telah dikumpulkan. Di dalam unit link, penanggung dan tertanggung menyepakati pula adanya investasi sebagai bagian penting yang ditambahkan ke dalam mekanisme proteksi jiwa pada umumnya. Dengan adanya asas kebebasan berkontrak, maka keberadaan
107

Ibid, h. 84.

84

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

perjanjian unit link ini menjadi sah secara hukum. Asas selanjutnya yang dikenal dalam Hukum Perjanjian adalah asas konsensualisme, yang dapat ditemukan dalam Pasal 1320 dan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata. Pasal 1320 KUH Perdata menyebutkan secara tegas sedangkan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata penegasan itu dapat ditemukan dalam kata semua. Seperti telah diuraikan di atas, kata semua menunjukan bahwa setiap orang diberi kesempatan dan kebebasan yang seluasluasnya untuk mengadakan perjanjian tentang apa saja sepanjang tidak melanggar UndangUndang, ketertiban umum dan kepatutan.108 Dengan demikian, perjanjian unit link dibentuk atas dasar consensus atau kesepakatan antara para pihak yang membuatnya. Hukum Perjanjian juga menganut asas obligatoir, yaitu perjanjian yang dibuat oleh para pihak akan menimbulkan hak dan kewajiban. Dalam perjanjian unit link, asas obligatoir ini tercermin dari adanya kewajiban dari penanggung untuk memberikan pertanggungan atas jiwa dari tertanggung dengan imbalan menerima premi yang disepakati. Pembayaran premi tersebut adalah kewajiban dari pihak tertanggung yang telah menikmati proteksi atas jiwanya. Berkaitan dengan investasi, penanggung berkewajiban untuk menempatkan sebagian dana ke dalam instrumen yang
108

Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta: intermasa, 1996), h. 13.

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

85

disepakati dan memberikan hasil investasi tersebut yang menjadi hak dari tertanggung sepenuhnya. 2. Ketentuan Tentang Syarat Sah Perjanjian Sebagai suatu perjanjian, polis asuransi unit link harus memenuhi ketentuan tentang syarat-syarat sah suatu perjanjian yang diatur dalam Pasal 1320 KUH Perdata. Menurut Ketentuan pasal tersebut ada empat syarat untuk sahnya suatu perjanjian, yaitu: a. Adanya kesepakatan Tertanggung dan penanggung sepakat mengadakan perjanjian asuransi. Kesepakatan tersebut pada pokoknya meliputi benda yang menjadi objek asuransi, pengalihan risiko dan pembayaran premi, evenemen dan ganti kerugian, syarat-syarat khusus asuransi dan dibuat secara tertulis dalam akta yang disebut polis. Dalam perjanjian unit link, unsur kesepakatan tersebut telah terpenuhi ketika calon tertanggung menandatangani surat permohonan asuransi jiwa dan penanggung menyatakan menerima permohonan tersebut dengan syarat dan ketentuan yang disepakati bersama. b. Adanya kewenangan. Kedua pihak yaitu tertanggung dan penanggung sama-sama berwenang melakukan perbuatan hukum yang diakui

86

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

Undang-Undang. Kewenangan berbuat tersebut ada yang bersifat subjektif dan ada yang bersifat objektif. Kewenangan subjektif artinya kedua pihak sudah dewasa, sehat ingatan, tidak berada di bawah perwalian dan pemegang kuasa yang sah. Kewenangan objektif artinya tertanggung mempunyai hubungan sah dengan benda objek asuransi karena benda atau kepentingan tersebut adalah miliknya sendiri, sedang penanggung adalah pihak yang sah mewakili perusahaan asuransi berdasarkan anggaran dasar 109 perusahaan. Dalam Kaitan dengan asuransi unit link, penanggung memberi batasan umur minimum 21 tahun bagi pemohon untuk dapat disetujui permohonannya. Kemudian di dalam polis, pejabat dari perusahaan asuransi yang menandatangani dokumen polis adalah dari jajaran Dewan Direksi yang telah mendapatkan wewenang berdasarkan anggaran dasar untuk menandatangani setiap polis yang diterbitkan. c. Adanya objek tertentu. Objek tertentu dalam perjanjian asuransi adalah objek yang diasuransikan, dapat berupa harta kekayaan dan kepentingan yang melekat padanya, dapat pula berupa jiwa atau raga manusia. Pengertian objek
Abdulkadir Muhammad, Hukum Asuransi (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999), h. 52-53.
109

Indonesia,

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

87

tertentu adalah identitas objek asuransi harus jelas.110 Dalam asuransi unit link yang menjadi objek adalah jiwa atau hidup manusia dan hal ini tercantum dalam polis asuransi. d. Adanya kausa yang halal. Kausa yang halal maksudnya adalah isi perjanjian asuransi itu tidak dilarang oleh Undang-Undang, tidak bertentangan dengan ketertiban umum, dan tidak bertentangan dengan kesusilaan. Contoh dari perjanjian asuransi yang memiliki kausa yang tidak halal adalah mengasuransikan benda yang dilarang oleh Undang-Undang untuk diperdagangkan, mengasuransikan benda tetapi tertanggung tidak mempunyai kepentingan sehingga hanya berupa spekulasi yang bersifat untung-untungan. Berdasarkan kausa yang halal itu tujuan yang hendak dicapai tertanggung dan penanggung adalah beralihnya risiko atas objek asuransi yang diimbangi dengan pembayaran premi. Dalam perjanjian unit link, kausa yang halal tercermin dari adanya kewajiban pihak tertanggung untuk mengasuransikan jiwanya sendiri atau jiwa orang lain yang memiliki hubungan kepentingan keuangan dengan pemegang polis.

110

Abdulkadir Muhammad, loc. cit.

88

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

B. Perjanjian Unit Link dan Ketentuan Perjanjian Asuransi Dalam KUHD 1. Prinsip-prinsip Utama Perjanjian Asuransi. Seperti telah diuraikan dalam bab terdahulu, di dalam pasal-pasal KUHD termuat prinsip dasar atau asas-asas yang berlaku mutlak bagi suatu perjanjian asuransi. Di dalam praktik, tidak semua prinsip tersebut berlaku bagi semua jenis asuransi. Dengan demikian, ada beberapa prinsip yang berlaku bagi asuransi kerugian saja dan ada yang berlaku bagi asuransi jiwa. Dari keenam prinsip utama perjanjian asuransi yang terdiri dari insurable interest, indemnity, utmost good faith, suborgation, causaliteit principle serta contribution tersebut semuanya berlaku dan dapat diterapkan bagi asuransi kerugian karena dalam asuransi kerugian, kepentingan dapat dinilai dengan uang.111 Bagi asuransi jiwa, dari keenam prinsip dasar tersebut yang berlaku adalah: a. Prinsip kepentingan yang dapat diasuransikan (insurable interest). Berdasarkan prinsip ini, pihak yang akan mengasuransikan sesuatu harus mempunyai kepentingan terhadap objek yang akan diasuransikan. Menurut Pasal
Man Suparman Sastrawidjaja & Endang, Hukum Asuransi, Perlindungan Tertanggung, Asuransi Deposito, Usaha Perasuransian, (Bandung: Alumni, 1997), h. 64.
111

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

89

250 KUHD, kepentingan ini harus ada pada saat perjanjian asuransi diadakan. Pelanggaran terhadap ketentuan ini dapat menyebabkan penanggung tidak diwajibkan untuk memberikan ganti kerugian dalam hal terjadi risiko yang dijamin atau pertanggungan menjadi batal. Dalam perjanjian unit link, adanya kepentingan ini menjadi syarat utama disetujuinya permohonan asuransi. Dalam polis PRUlink yang diterbitkan PT. Prudential Life Assurance, misalnya dinyatakan dalam ketentuan Pasal 1 ayat (9) polis, bahwa orang atau badan yang ditunjuk sebagai penerima manfaat asuransi jika tertanggung meninggal, haruslah yang mempunyai kepentingan terhadap tertanggung (insurable interest). b. Prinsip kejujuran sempurna (utmost good faith). Di dalam perjanjian asuransi, tertanggung memiliki kewajiban untuk memberitahukan segala sesuatu yang diketahuinya mengenai objek atau barang yang dipertanggungkan secara benar. Keterangan yang tidak benar atau informasi yang tidak diberikan kepada penanggung walaupun dengan itikad baik sekalipun dapat mengakibatkan batalnya perjanjian asuransi. Prinsip ini diatur tegas dalam Pasal 251 KUHD. Dalam polis asuransi unit link, prinsip ini tercermin dari

90

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

adanya suatu klausul yang mengatur tentang pernyataan yang salah yang telah diberikan oleh tertanggung atau penanggung polis beserta segala akibat hukumnya. c. Prinsip ganti kerugian (indemnity) Perjanjian asuransi bertujuan untuk memberikan ganti kerugian kepada tertanggung atas sejumlah kerugian yang diderita, yang disebabkan oleh terjadinya risiko yang dijamin sebagaimana diatur dalam polis. Prinsip ini tersirat dalam Pasal 246 KUHD yang memuat definisi asuransi. Besarnya ganti kerugian harus sama dengan besarnya kerugian yang diderita oleh tertanggung, tidak lebih kecil. Perjanjian unit link dengan tegas mengatur hal ini di dalam ketentuannya. d. Prinsip sebab akibat (causaliteit principle) Di dalam polis asuransi disebutkan adanya kewajiban penanggung untuk memberikan ganti kerugian kepada tertanggung apabila yang bersangkutan mengalami kerugian. Akan tetapi tidaklah mudah untuk menentukan apakah suatu peristiwa yang terjadi itu merupakan penyebab utama timbulnya kerugian yang dijamin dalam polis. Perjanjian asuransi hanya memberikan penggantian atas kerugian yang dialami tertanggung yang secara langsung diakibatkan oleh kejadian yang penyebabnya atau pemicunya dijamin

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

91

dalam polis. Perjanjian asuransi unit link memuat ketentuan tentang risiko-risiko apa saja yang ditanggung dan yang tidak ditanggung. Seperti polis asuransi jiwa pada umumnya, polis unit link tidak akan memberikan santunan kepada tertanggung atau ahli warisnya apabila kematian tertanggung disebabkan karena bunuh diri. Keempat prinsip utama asuransi yang berlaku dalam asuransi jiwa tersebut mengingat bahwa prinsip-prinsip lainnya menghendaki adanya ganti kerugian, sedangkan dalam asuransi jiwa tidak ada unsur ganti kerugian (indemnity), karena dalam asuransi jiwa ganti kerugian tidak diseimbangkan dengan kerugian yang sungguh-sungguh diderita, melainkan uang pertanggungan sudah ditetapkan sebelumnya pada waktu perjanjian asuransi ditutup. Dasar pemikirannya adalah bahwa dalam asuransi jiwa, kepentingan yang dipertanggungkan tidak dapat dinilai dengan uang.112 2. Pengaturan Tentang Isi Perjanjian Asuransi Sesuai dengan ketentuan Pasal 255 KUHD, asuransi jiwa harus diadakan secara tertulis dengan bentuk akta yang disebut polis. Selanjutnya berdasarkan ketentuan Pasal 259 KUHD apabila asuransi diadakan langsung antara tertanggung dan penanggung, maka
112

Ibid, h. 59.

92

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

polis harus ditandatangani dan diserahkan oleh penanggung dalam tempo duapuluh empat jam setelah permintaan disetujui, kecuali apabila karena ketentuan Undang-Undang ditentukan tenggang waktu yang lebih lama. Berdasarkan ketentuan ini, maka pihak yang membuat polis adalah penanggung atas permintaan tertanggung. Penanggung menandatagani polis tersebut dan setelah itu menyerahkannya kepada tertanggung. Pembuatan dan penyerahan polis oleh penanggung sesuai dengan fungsi polis sebagai bukti tertulis bagi kepentingan tertanggung. Mengenai isi dari polis asuransi jiwa, Pasal 304 KUHD mengatur bahwa yang harus dicantumkan adalah Hari diadakan asuransi, Nama tertanggung, Nama orang yang jiwanya diasuransikan, Saat mulai dan berakhirnya pertanggungan, Jumlah asuransi, dan Premi asuransi. Dalam polis asuransi jiwa harus dicantumkan hari dan tanggal diadakan asuransi. Perjanjian asuransi unit link mencantumkan dengan jelas hari dan tanggal dimulainya pertanggungan asuransi di dalam ringkasan polis yang menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari polis. Di dalam polis juga harus dicantumkan nama tertanggung sebagai pihak yang wajib membayar premi dan berhak menerima polis. Apabila terjadi peristiwa yang diasuransikan atau jika jangka waktu berlakunya asuransi

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

93

berakhir, maka tertanggung atau ahli warisnya yang sah berhak menerima sejumlah uang santunan atau pengembalian nilai tunai polis dari perusahaan asuransi. Di dalam perjanjian unit link, nama tertanggung dan ahli waris yang ditunjuk dicantumkan di dalam ringkasan polis yang menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari polis. Objek asuransi jiwa adalah jiwa dan badan manusia sebagai satu kesatuan.113 Jiwa seseorang menjadi objek asuransi yang tidak berwujud, yang hanya dapat dikenal melalui wujud badannya. Individu yang memiliki badan itu mempunyai suatu kepentingan atas jiwanya atau jiwa orang lain untuk diasuransikan. Polis unit link secara jelas memuat nama orang yang jiwanya diasuransikan tersebut sehingga ketika timbul klaim di kemudian hari akan jelas bagi perusahaan asuransi jiwa mengenai pembayaran santunannya. Saat mulai dan berakhirnya pertanggungan adalah suatu ketentuan penting yang harus dimuat dalam polis asuransi jiwa, karena hal ini dapat menentukan sah atau tidaknya klaim yang diajukan tertanggung serta ada atau tidaknya tanggungjawab penanggung untuk memberi santunan. Risiko yang terjadi setelah lewat masa pertanggungan tidak akan dijamin oleh polis, meskipun risiko tersebut termasuk dalam risiko yang diasuransikan. Untuk polis asuransi jiwa unit link, Ketentuan masa pertanggungan ini
113

Abdulkadir Muhammad, op. cit., h. 171.

94

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

dinyatakan secara jelas dengan menegaskan bahwa pertanggungan berlaku sejak hari dan tanggal yang tercantum dalam ringkasan polis. Kemudian yang dimaksud dengan jumlah asuransi dalam polis asuransi jiwa adalah sejumlah uang tertentu yang diperjanjikan pada saat diadakan asuransi sebagai jumlah santunan yang wajib dibayar oleh penanggung kepada tertanggung atau ahli warisnya dalam hal terjadi risiko yang diasuransikan.114 Menurut ketentuan Pasal 305 KUHD, perkiraan jumlah dan syaratsyarat asuransi sama sekali ditentukan oleh perjanjian atau kesepakatan bebas antara tertanggung dan penanggung. Dalam asuransi (termasuk juga asuransi unit link) istilah yang dipergunakan adalah uang pertanggungan (sum assured) dan jumlah dari uang pertanggungan (sum assured) ini disebutkan dalam ringkasan atau ikhtisar polis. Penanggung bersedia menerima pengalihan risiko dari tertanggung dengan menerima imbalan sejumlah uang yang disebut premi. Besarnya jumlah premi bergantung pada uang pertanggungan yang disetujui oleh tertanggung pada saat perjanjian asuransi dibuat. Perjanjian asuransi unit link menyebutkan besarnya premi yang harus dibayar dan metode pembayarannya di dalam ikhtisar polis.

Ketut Sendra, Panduan Sukses menjual Asuransi, (Jakarta: PPM, 2001), h. 125.
114

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

95

C. Penerbitan Perjanjian Asuransi Unit Link Menurut Undang-undang Usaha Perasuransian. 1. Penerbitan Perjanjian Unit Link oleh Perusahaan Asuransi Jiwa. Usaha jasa asuransi menurut UndangUndang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu Asuransi Jiwa (Life Insurance), Asuransi Kerugian atau Asuransi Umum (General Insurance) dan Reasuransi atau Pertanggungan Ulang (Reinsurance). Pasal 3 huruf a angka 2 dari UndangUndang Usaha Perasuransian telah mendefinisikan dengan jelas bahwa yang dimaksud dengan usaha perasuransian jiwa adalah usaha yang berkenaan dengan pemberian jasa dalam penanggulangan risiko yang dikaitkan dengan hidup atau meninggalnya seseorang yang dipertanggungkan. Usaha asuransi jiwa hanya dapat dijalankan oleh suatu badan hukum, yang menurut ketentuan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Usaha Perasuransian harus dalam bentuk salah satu dari empat jenis yang diperbolehkan, yaitu apakah perusahaan perseroan (persero), koperasi, perseroan terbatas atau usaha bersama. Perusahaan asuransi jiwa di dalam menjalankan kegiatan usahanya harus memperhatikan ruang lingkup usaha perasuransian seperti yang telah diatur di dalam

96

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

Pasal 4 Undang-Undang Perasuransian. Untuk Perusahaan asuransi jiwa, kegiatan usaha yang boleh dijalankan adalah menyelenggarakan usaha dalam bidang asuransi jiwa, dan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan diri, serta menjadi pendiri dan pengurus dana pensiun sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan ketentuan ini maka tertutup kemungkinan bagi perusahaan asuransi jiwa untuk sekaligus menjalankan usaha di bidang asuransi kerugian. Dilihat dari ruang lingkup untuk perusahaan asuransi jiwa tersebut memang tidak secara jelas menyebutkan produk unit link atau produk asuransi yang mengandung muatan investasi sebagai salah satu jenis produk yang dapat dipasarkan oleh perusahaan asuransi jiwa. Oleh karena itu, mengingat semakin berkembangnya produk inovatif di bidang asuransi jiwa terutama produk unit link, serta untuk menghindari ketidak jelasan pengaturannya, maka pemerintah melalui Direktorat Asuransi Departemen keuangan pada tahun 2001 telah mengeluarkan Keputusan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan No. 6098/LK/2001 tentang Bentuk dan Susunan Laporan serta Pengumuman Laporan Keuangan Perusahaan Perasuransian, yang mensyaratkan kepada perusahaan asuransi jiwa yang memasarkan produk asuransi unit link untuk memasukan informasi atas produk tersebut dalam laporan keuangan mereka.

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

97

Melalui Keputusan Menteri Keuangan No. 422 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi dalam Pasal 5 ayat (1) dinyatakan, perusahaan asuransi jiwa yang akan memasarkan produk asuransi baru yang dikaitkan dengan investasi, antara lain produk unit link, harus melaporkan pada menteri sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 18 Paraturan Pemerintah No. 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha perasuransian yang telah diubah dengan PP No. 63 Tahun 1999. Dalam ayat (2) dinyatakan, ketentuan lebih lanjut mengenai produk asuransi baru diatur dengan Keputusan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan. Di dalam draft revisi atas Undang-Undang Perasuransian, ruang lingkup usaha untuk perusahaan asuransi diperluas, walaupun tidak secara tegas menyebutkan Produk unit link, karena sebagaimana kita ketahui bahwa dalam suatu Undang-Undang hanya memuat ketentuan pokok saja, ketentuan mengenai produk unit link diatur lebih lanjut dalam peraturan pelaksanaannya yaitu dalam Peraturan Pemerintah dan Keputusan Menteri Keuangan, seperti yang telah diuraikan di atas. Dalam menjalankan kegiatan usahanya, perusahaan asuransi diwajibkan untuk memperhatikan aspek peningkatan sumber daya manusia, mengingat usaha asuransi adalah salah satu jenis bidang usaha yang

98

Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum & Bisnis

membutuhkan keahlian teknis dalam hal akseptasi risiko yang diasuransikan. Hal inipun telah dengan tegas diatur di dalam ketentuan Pasal 8 ayat (1) huruf a dari PP No. 73 yang menyatakan bahwa perusahaan asuransi dan reasuransi diwajibkan untuk melaksanakan peningkatan sumberdaya manusia yang dapat menunjang terciptanya pengelolaan perusahaan yang profesional, kegiatan usaha yang sehat, kemampuan untuk mengikuti perkembangan kemajuan teknologi serta penyelenggaraan jasa asuransi secara tertip dan bertanggung jawab. Ketentuan di atas dijabarkan lebih lanjut di dalam Keputusan Menteri Keuangan No. 426/KMK.06/2003 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi (KMK 426). Ketentuan Pasal 29 ayat (1) KMK 426 tersebut mengatur bahwa perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi wajib menyediakan dana pendidikan dan pelatihan sekurang-kurangnya lima persen dari jumlah biaya pegawai dan pengurus, untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan keahlian di bidang usaha asuransi bagi karyawannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a PP No. 73. Sesuai dengan ketentuan pemerintah tersebut, perusahaan asuransi jiwa yang memasarkan produk unit link menerapkan suatu program pelatihan khusus bagi agen yang akan memasarkan produk unit link kepada masyarakat. Beberapa contoh dapat disebut,

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

99

misalnya PT. Asuransi AXA Life Indonesia, yang mewajibkan para agennya untuk menjalani serangkaian program pelatihan guna memperoleh sertifikat PEAK (professiona education and applied knowledge) sebelum menjual unit link. 115 PT. Asuransi Jiwa Adisarana WanaArtha, menerapkan pelatihan khusus bagi agennya dengan menyewa sebuah perusahaan konsultan dari Filipina yaitu ROSCH Konsulting khusus untuk memberikan pelatihan kepada agen yang akan menawarkan produk unit link mereka yang diberi nama Big I WanaArtha.116 Sementara itu AJMI sebagai pelopor pemasaran unit link mengadakan pendidikan khusus bagi agennya yang akan menjual produk unit link ProInvest. Pendidikan khusus ini dinamakan Certificate Unit Link Training (Culig), begitu juga dengan PLA mengadakan pelatihan khusus bagi para agennya yang diberi nama PRUfast start training yang diselenggarakan bekerjasama dengan Dewan Asuransi Indonesia (DAI) dan berdasarkan Keputusan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Dewan Asuransi Indonesia (DAI) mendukung pendidikan khusus bagi agen yang akan menjual produk unit link. Hal ini dirasakan perlu mengingat unit link adalah produk asuransi yang cukup rumit (complicated)

115 116

Bisnis Indonesia, 6 November 2001. Bisnis Indonesia, 5 Desember 2001.

100 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

sehingga diperlukan keahlian khusus dari agen di dalam memasarkannya.117 2. Pencantuman Ketentuan Unit Link dalam Polis Asuransi Usaha asuransi adalah suatu usaha jasa di bidang keuangan yang dengan jalan menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi, memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti atau terhadap hidup atau meninggalnya seseorang. Sebagaimana telah diuraikan pada bab terdahulu, Undang-Undang Usaha Perasuransian hanya memuat hal-hal pokok dari usaha jasa asuransi, misalnya pengaturan tentang bidang usaha asuransi, jenis usaha perasuransian, ruang lingkup usaha perusahaan perasuransian, kepemilikan perusahaan perasuransian, hal-hal seputar perizinan, pembinaan dan pengawasan serta pengenaan sanksi. Hal-hal yang bersifat teknis, misalnya syarat-syarat penutupan perjanjian asuransi, diatur dalam peraturan pelaksana. PP No. 73 jo PP No. 63 Tahun 1999 adalah peraturan pelaksana dari UndangUndang Usaha Perasuransian, yang menitikberatkan pada pengaturan lebih lanjut di bidang penyelenggaraan usaha perasuransian.
117

Bisnis Indonesia, 4 September 2002.

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

101

Bab IV PP No. 73 yang terdiri dari 15 Pasal (mulai dari Pasal 17 sampai dengan Pasal 31) khusus mengatur tentang penyelenggaraan usaha Pasal 17 PP No. 73 menegaskan bahwa di dalam memasarkan suatu program atau produk asuransi, perusahaan asuransi harus mengungkapkan informasi yang relevan, tidak ada yang bertentangan dengan persyaratan yang dicantumkan dalam polis dan tidak menyesatkan. Pemasaran dalam bunyi ketentuan Pasal 17 PP No. 73 ini adalah setiap kegiatan secara langsung atau tidak langsung dilakukan untuk menarik calon tertanggung, termasuk diantaranya kegiatan promosi, iklan brosur dan prospektus. Di dalam memasarkan produk asuransi unit link, perusahaan asuransi jiwa pada umumnya tidak melakukan promosi besar-besaran. Beberapa promosi yang ditempuh adalah dengan peluncuran produk yang diikuti jumpa pers dan calon konsumen, pembuatan brosur, pengiklanan melalui media luar ruang misalnya baliho dan pembuatan informasi produk si situs resmi dari perusahaan yang bersangkutan. Di dalam materi iklan atau promosi tersebut, perusahaan asuransi tidak mencantumkan pernyataan yang menyesatkan misalnya adanya jaminan bahwa investasi yang dilakukan para nasabah akan mendatangkan keuntungan. Dalam memasarkan produk unit link pihak asuransi jiwa dituntut untuk terbuka mengungkapkan fakta kemungkinan kerugian

102 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

yang dialami nasabah dalam melakukan investasi dan kerugian itu menjadi tanggungan para nasabah sendiri. Selanjutnya Pasal 18 ayat (1) PP No. 73 menggariskan bahwa sebelum memasarkan suatu produk baru, setiap perusahaan asuransi harus melaporkan kepada pihak regulator di bidang usaha asuransi, dalam hal ini adalah Departemen Keuangan (Depkeu). Berkaitan dengan produk unit link, perusahaan asuransi jiwa yang berencana akan memasarkan produk ini juga harus terlebih dahulu melaporkannya ke Depkeu guna memperoleh izin. Izin ini merupakan syarat mutlak sehingga tidak ada satupun perusahaan asuransi yang menjual unit link, yang melakukan penjualan produk ini tanpa sepengetahuan maupun izin dari Depkeu.118 Pasal 18 ayat (2) PP No. 73 menegaskan suatu larangan bagi perusahaan asuransi untuk memasarkan produk asuransi yang bertentangan dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 19 dan Pasal 20 dari peraturan yang sama. Dalam ketentuan Pasal 19 PP No. 73 diatur tentang polis dan perjanjian asuransi lain. Yang perlu mendapatkan perhatian adalah ayat (1) yang mengatur bahwa polis atau bentuk perjanjian asuransi lainnya beserta lampiran merupakan satu kesatuan dengannya tidak boleh mengandung kata, kata-kata, atau kalimat
Hal ini disampaikan oleh Angger Yuwono, Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dalam diskusi mengenai Unit Link di Jakarta, 5 Maret 2002.
118

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

103

yang dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda mengenai risiko yang ditutup asuransinya, kewajiban penanggung dan kewajiban tertanggung, atau mempersulit tertanggung di dalam mengurus haknya. Dari polis asuransi unit link yang dikaji, tidak ditemukan kata-kata, atau kalimat yang dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda mengenai risiko yang ditutup asuransinya, atau mengenai kewajiban penanggung dan kewajiban tertanggung. Juga tidak ditemukan adanya suatu kalimat yang menimbulkan kesulitan bagi tertanggung di dalam mengurus hak-haknya. Berkaitan dengan ketentuan Pasal 19 ayat (1) dari PP No. 73 tersebut di atas, Departemen keuangan melalui Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan menerbitkan surat edaran Nomor S5560/LK/2001 tentang polis asuransi dan lampirannya. Di dalam surat edaran tersebut diatur ketentuan bahwa semua perusahaan asuransi yang menerbitkan polis asuransi baserta segala lampiran yang merupakan kesatuan dengannya dalam bahasa asing, diwajibkan untuk menyertakan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya perbedaan penafsiran atas isi polis. Surat edaran tersebut juga menentukan juga bahwa dalam hal terjadi sengketa penafsiran, maka yang berlaku atau yang dijadikan acuan adalah polis dalam bahasa Indonesia.

104 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Dalam kaitannya dengan polis asuransi unit link, berdasarkan kajian yang dilakukan ditemukan bahwa semua polis beserta segala dokumen dan lampiran yang merupakan satu kesatuan diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Ini merupakan satu langkah yang positif bagi peningkatan kepuasan konsumen, karena konsumen dapat dengan mudah memahami isi polis dalam Bahasa Indonesia dibandingkan dalam bahasa asing. Ketentuan lain yang berlaku bagi polis adalah Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 422/KMK.06/2003 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi (selanjutnya disebut KMK 422), yang diterbitkan pada tanggal 30 September 2003 sebagai penjabaran dari PP No. 73. Pasal 7 KMK 422 tersebut mengatur masalah bahwa dalam setiap penutupan asuransi, polis asuransi harus sesuai polis asuransi yang dilaporkan kepada Menteri Keuangan. Ketentuan ini, bertujuan untuk mengantisipasi adanya perbedaan (gap) antara polis yang diterbitkan dengan polis untuk produk yang sama yang telah dilaporkan oleh penanggung kepada pengawas asuransi. Pasal 8 KMK tersebut mengatur tentang polis, bahwa polis asuransi harus memuat ketentuan mengenai: a. saat berlakunya pertanggungan; b. uraian manfaat yang diperjanjikan; c. cara pembayaran premi;

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

105

d. tenggang waktu pembayaran premi; e. kurs yang dipergunakan untuk polis asuransi dengan mata uang asing apabila pembayaran premi dan manfaat dikaitkan dengan mata uang rupiah; f. waktu yang diakui sebagai saat diterimanya pembayaran premi; g. kebijakan perusahaan yang ditetapkan apabila pembayaran premi dilakukan melewati tenggang waktu yang disepakati; h. periode dimana pihak perusahaan tidak dapat meninjau ulang keabsahan kontrak asuransi (incontestable period); i. tabel nilai tunai, bagi polis asuransi jiwa yang mengandung nilai tunai; j. dan seterusnya. Selanjutnya Pasal 11 KMK 422 dalam ayat (1) mengatur apabila dalam polis asuransi terdapat perumusan yang dapat ditafsirkan sebagai pengecualian atau pembatasan penyebab risiko yang ditutup berdasarkan polis asuransi yang bersangkutan harus ditulis atau dicetak sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah diketahui adanya pengecualian atau pembatasan tersebut, ayat (2) menyatakan, apabila dalam polis asuransi terdapat perumusan yang dapat ditafsirkan sebagai pengurangan, pembatasan atau pembebasan kewajiban penanggung, perumusan yang dimaksud harus ditulis atau dicetak sedemikian

106 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

rupa sehingga dapat dengan mudah diketahui hal tersebut. Beberapa polis unit link yang dikaji memuat suatu ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 KMK 422 tersebut dicetak sedemikian rupa, misalnya dengan menggunakan huruf tebal (bold letters) sehingga memudahkan pemegang polis untuk menemukannya. Salah satu polis tersebut adalah yang diterbitkan oleh PT. Prudential Life Assurance untuk produk PRUling-nya. Pasal 15 KMK 422 memuat larangan bagi polis asuransi untuk mencantumkan suatu ketentuan yang dapat ditafsirkan bahwa tertanggung tidak dapat melakukan upaya hukum sehingga tertanggung harus menerima penolakan pembayaran klaim. Ketentuan ini membuka peluang bagi tertanggung untuk menempuh segala upaya hukum yang dimungkinkan oleh Undang-Undang jika yang bersangkutan tidak puas atas penolakan klaimnya oleh perusahaan asuransi. Selanjutnya dalam Pasal 16 KMK 422 ditegaskan pula bahwa dalam polis asuransi dilarang dicantumkan ketentuan yang dapat ditafsirkan sebagai pembatasan upaya hukum bagi para pihak dalam hal terjadi perselisihan mengenai ketentuan polis. Ketentuan ini memberikan ruang gerak kepada para pihak untuk mengajukan sengketa penafsiran isi polis kepada pengadilan umum maupun ke lembaga arbitrase.

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

107

Berkaitan dengan penyelesaian sengketa perselisihan perjanjian asuransi, polis asuransi yang mengatur mengenai pemilihan pengadilan, tapi tidak boleh membatasi pemilihan pengadilan hanya pada pengadilan negeri ditempat kedudukan penanggung. Hal ini diatur dalam Pasal 17 KMK 422. Polis asuransi unit link umumnya tidak memberikan perbedaan antara sengketa yang dapat diajukan penyelesaiannya ke pengadilan negeri dengan sengketa yang diajukan penyelesaiannya melalui lembaga arbitrase. Dalam kebanyakan polis hanya disebutkan bahwa penyelesaian sengketa yang timbul antara tertanggung dan penanggung, maka sengketa itu akan diselesaikan di pengadilan negeri yang wilayahnya meliputi kedudukan hukum dari penanggung.

D. Perlindungan Bagi Nasabah Unit Link Dihubungkan Dengan UndangUndang Perlindungan Konsumen. 1. Kewajiban Perusahaan Asuransi Jiwa Sebagai Pelaku Usaha. Pemegang polis dalam asuransi unit link yang dalam praktik disebut sebagai nasabah unit link adalah konsumen yang memiliki hakhak yang harus dilindungi oleh perusahaan

108 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

asuransi jiwa selaku pelaku usaha. Sebagai konsumen, hak-hak yang harus dihargai adalah sebagai berikut:119 a. Hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang; b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan barang dan/atau jasa; c. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa; d. Hak untuk didengarkan pendapat dan keluhan atas barang dan/atau jasa yang digunakan; e. Hak untuk mendapat advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut; f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen; g. Hak untuk diperlakukan dan dilayani secara benar, jujur serta tidak diskriminatif; h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti kerugian dan/atau penggantian apabila barang atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangan lainnya.
119

Dinyatakan dalam ketentuan Pasal 4 UUPK.

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

109

Kesembilan hak konsumen diatas telah sesuai dengan empat hak dasar konsumen yang diakui secara universal yaitu hak untuk mendapatkan keamanan, hak untuk mendapatkan informasi, hak untuk memilih dan hak untuk didengar.120 Dari kesembilan butir hak konsumen yang disebutkan dalam Pasal 4 UUPK tersebut, tampak bahwa masalah kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen menjadi hal yang paling pokok dan utama dalam konteks perlindungan konsumen. Dalam kaitan dengan produk asuransi unit link, kesembilan hak tersebut tercermin dari adanya kebebasan dari konsumen untuk memilih salah satu produk unit link yang paling diminatinya dari kurang lebih lima belas jenis produk yang ada di pasaran. Selanjutnya berkenaan dengan seluk beluk produk unit link yang tergolong masih baru di Indonesia, perusahaan asuransi jiwa melalui tenaga pemasaran atau agennya akan memberikan segala informasi dan penjelasan sekitar produk yang dipasarkannya. Ketika memilih satu produk asuransi untuk memberikan perlindungan atas jiwanya, konsumen tentu menginginkan adanya rasa aman di dalam menggunakan jasa asuransi tersebut dan ketika terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan kesepakatan atau tidak memuaskan pihak konsumen, perusahaan asuransi wajib menerima setiap keluhan yang
Sidharta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, (Jakarta: PT. Grasindo, 2000), h. 16.
120

110 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

diajukan dan berusaha untuk menindaklanjuti keluhan tersebut. Beberapa perusahaan asuransi jiwa yang memasarkan unit link telah memberikan perhatian khusus terhadap kepuasan nasabahnya dengan membentuk divisi pelayanan nasabah (customer service) atau dengan membuka saluran telepon bebas pulsa untuk menerima masukan dan keluhan dari para nasabahnya berkaitan dengan jasa asuransi yang mereka konsumsi. Setiap hak yang diberikan kepada konsumen merupakan suatu kewajiban bagi para pelaku usaha. Menurut Pasal 7 UUPK pelaku usaha memiliki kewajiban-kewajiban sebagai berikut: a. beritikat baik dalam melakukan kegiatan usahanya; b. memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan; c. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; d. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku; e. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

111

dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan; f. memberi kompensasi, ganti kerugian dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan; g. memberi kompensasi, ganti kerugian dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian. Apabila disimak secara cermat, tampak bahwa kewajiban-kewajiban pelaku usaha tersebut di atas merupakan manifestasi hak konsumen dalam sisi lain yang diarahkan untuk menciptakan suatu budaya tanggung jawab pada diri pelaku usaha.121 Perusahaan asuransi sebagai pelaku usaha dalam memasarkan produk unit link harus menerapkan prinsip itikat baik. Salah satu perwujudan itikat baik itu adalah dengan mentaati segala ketentuan mengenai hal-hal yang dilarang dalam menjalankan kegiatan usaha sesuai dengan UUPK. Dari berbagai macam larangan yang dikenakan kepada pelaku usaha, beberapa yang dapat diterapkan bagi
Gunawan Widjaja & Ahmad Yani, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001), h. 34.
121

112 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

perusahaan asuransi jiwa adalah larangan untuk memasarkan produk yang tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam iklan atau bentuk promosi lainnya. Hal ini diatur dalam Pasal 8 ayat (1) huruf f UUPK dan memilki kaitan dengan larangan yang termuat dalam Pasal 16 huruf b UUPK yang menyatakan bahwa dalam menawarkan produk barang atau jasa, pelaku usaha dilarang untuk tidak menepati janji atas suatu pelayanan. 2. Tanggung Jawab Perusahaan Asuransi Jiwa Penerbit Unit Link Kepada Nasabah. Sebagai konsekuensi hukum dari pelarangan yang diberikan UUPK kepada pelaku usaha dan sifat perdata dari hubungan hukum antara pelaku usaha dan konsumen, maka demi hukum, setiap pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku usaha yang menimbulkan kerugian bagi konsumen akan memberikan hak kepada konsumen yang dirugikan tersebut untuk meminta pertanggungjawaban dari pelaku usaha yang merugikannya, serta untuk menuntut ganti kerugian atas kerugian yang dialaminya. Ketentuan-ketentuan mengenai tanggungjawab pelaku usaha dalam UUPK diatur mulai dari Pasal 19 sampai dengan Pasal 28. Dari kesepuluh pasal tersebut, ketentuan yang berkenaan dengan tanggung jawab pelaku usaha yang memperdagangkan jasa terdapat pada Pasal 26 UUPK yang menyatakan bahwa

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

113

pelaku usaha yang memperdagangkan jasa wajib memenuhi jaminan dan/atau garansi yang disepakati dan/atau yang diperjanjikan. Perusahaan asuransi jiwa yang memperdagangkan produk jasa asuransi unit link, dengan demikian, bertanggung jawab kepada nasabah pemegang polis atau tertanggung untuk memenuhi setiap jaminan perlindungan yang disebutkan secara tegas dalam polis asuransi. Apabila perusahaan asuransi jiwa lalai atau sengaja tidak memenuhi jaminan atau garansi yang telah diberikan atau disepakati, maka nasabah yang merasa dirugikan dapat mengajukan tuntutan ganti kerugian kepada perusahaan asuransi jiwa yang bersangkutan. Tanggung jawab pelaku usaha dalam bidang proteksi atau pertanggungan jiwa, perusahaan asuransi harus mengelola dan membayar uang pertanggungan jiwa kepada nasabah atau ahli warisnya sesuai dengan perjanjian yang tertera dalam polis. Sedangkan tanggung jawab yang berhubungan dengan investasi, perusahaan asuransi harus menempatkan dana investasi nasabah ke dalam insrtumen investasi untuk dikelola secara profesional seperti yang telah ditetapkan dalam perjanjian atau polis. 3. Klausul Baku Dalam Perjanjian Unit Link Seperti telah diuraikan di atas, pada dasarnya perjanjian dibuat berdasarkan

114 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

kesepakatan bebas antara dua pihak yang cakap untuk bertindak demi hukum untuk melaksanakan suatu prestasi yang tidak bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku, kepatutan, kesusilaan, ketertiban umum, serta kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Namun adakalanya kedudukan dari kedua belah pihak dalam suatu negosiasi tidak seimbang, yang pada gilirannya melahirkan suatu perjanjian yang tidak terlalu menguntungkan bagi salah satu pihak. Bertitiktolak dari kenyataan bahwa kekuatan tawar-menawar (bargaining power) konsumen pada praktiknya berada jauh di bawah para pelaku usaha, Maka UUPK mengatur perjanjian baku dan/atau pencantuman klausul baku dalam setiap dokumen atau perjanjian yang dibuat oleh pelaku usaha. Pengaturan klausul baku dalam UUPK meliputi aspek substansi dan aspek fisik atau penampilan perjanjian. UUPK tidak memberikan definisi tentang perjanjian baku, tetapi merumuskan klausul baku sebagai berikut: Setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu sacara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen.122
122

Pasal 1 angka 10 UUPK.

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

115

Secara sederhana, klausul baku 123 mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: a. perjanjian dibuat sepihak oleh produsen yang posisinya relatif lebih kuat dari konsumen; b. konsumen sama sekali tidak dilibatkan dalam menentukan isi perjanjian; c. dibuat dalam bentuk tertulis dan bersifat massal; d. konsumen terpaksa menerima isi perjanjian karena didorong oleh kebutuhan; e. dalam perjanjian ada klausul eksonerasi, yang isinya membatasi tanggung jawab pelaku usaha. Perjanjian baku atau perjanjian standar adalah perjanjian yang isinya dibakukan dan dituangkan dalam bentuk formulir.124 Ketentuan pencantuman klausul baku diatur dalam Pasal 18 UUPK, yang secara prinsip mengatur dua macam larangan yang diberlakukan bagi para pelaku usaha yang membuat perjanjian baku dan/atau mencantumkan klausul baku dalam perjanjian yang dibuatnya. Ketentuan Pasal 18 ayat (1) UUPK menegaskan bahwa para pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan, dilarang
Sudaryatmo, Memahami Hak Anda Sebagai Konsumen, (Jakarta: PIRAC & PEG, 2001), h. 70. 124 Mariam Darus Badrulzaman, Perlindungan Terhadap Konsumen Dilihat dari Sudut Perjanjian Baku (Standar), dalam Badan Pembinaan Hukum Nasional, Simposium Aspek-aspek Hukum Masalah Perlindungan Konsumen, (Bandung: Bina Cipta, 1986), h. 58.
123

116 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

membuat atau mencantumkan klausul baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian apabila pencantuman klausul baku tersebut: a. akan mengakibatkan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha; b. menyatakan bahwa pelaku usaha barhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen; c. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen; d. menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha, baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran; e. mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen; f. memberikan hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi objek jual-beli jasa; g. menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru, tambahan, lanjutan, dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya;

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

117

h. menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran. Salah satu sektor usaha yang masih banyak mencantumkan klausul baku yang tidak sesuai dengan UUPK adalah toko atau supermaket. Isi klausul baku yang biasa tercantum pada bon /kuitansi penjualan adalah seputar barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukarkan kembali dan toko atau/pelaku usaha tidak bertanggung jawab jika terjadi kerusakan barang/produk yang diketahui setelah pembelian.125 Menurut ketentuan Pasal 18 ayat (1) huruf a UUPK, klausul baku yang dicantumkan dalam perjanjian tidak boleh berakibat pada pengalihan tanggung jawab pelaku usaha. Dalam kaitan dengan perjanjian unit link, pengaturan tanggung jawab perusahaan asuransi itu telah jelas diatur dalam polis, sehingga dengan demikian tidak ada pengalihan tanggung jawab. Perusahaan asuransi jiwa akan bertanggung jawab membayarkan manfaat pertanggungan, sepanjang klaim yang diajukan tersebut adalah sah dan tidak bertentangan dengan ketentuan dari polis yang sudah diterbitkan.

Asad Nugroho, Klausul Baku , Jebakan Bagi Konsumen, dalam Zaim Saidi, et. al., mencari Keadilan, Bunga Rampai Penegakan Hak Konsumen, (Jakarta: PIRAC, 2001), h. 78.
125

118 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Berdasarkan ketentuan Pasal 18 ayat (1) huruf c UUPK, klausul baku tidak boleh menyatakan adanya hak pelaku usaha untuk menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen. Dalam polis unit link, apabila polis menjadi batal akibat pelanggaran prinsip itikat baik (utmost good faith) oleh tertanggung, maka tidak ada kewajiban perusahaan asuransi untuk mengembalikan premi yang sudah dibayarkan. Apabila pembatalan polis dilakukan oleh tertanggung karena satu hal dan lain hal, maka ketentuan yang berlaku adalah pengembalian uang premi yang telah dibayarkan secara prorata, setelah dikurangi biaya administrasi. Dalam kasus seperti ini, nilai atas polis tersebut dapat juga dibayarkan asal sudah mencukupi jumlah minimum nilai tunai. Ketentuan pencantuman klausul baku seperti dinyatakan dalam Pasal 18 ayat (1) huruf d UUPK tidak berlaku bagi unit link sebab ketentuan tersebut menyangkut pembelian barang secara angsuran. Selanjutnya huruf e dari ayat (1) Pasal 18 UUPK berisi larangan klausul baku yang mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen. Berkaitan dengan polis unit link, tidak ditemukan adanya klausul tersebut dalam polis unit link. Kritik yang paling banyak muncul berkenaan dengan klausul atau perjanjian baku adalah

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

119

adanya pernyataan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru, tambahan, lanjutan, dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat secara sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya. Ketentuan semacam itu dilarang berdasarkan Pasal 18 ayat (1) huruf g UUPK. Polis unit link yang dikaji pada umumnya memuat suatu klausul yang menyatakan bahwa perubahan atau penambahan ketentuan polis hanya dapat dilakukan atas persetujuan penanggung dan tertanggung. Polis unit link yang dikaji tidak memuat suatu ketentuan yang mengatur tunduknya pemegang polis pada setiap dan semua perubahan atas syarat dan ketentuan polis yang ditentukan oleh perusahaan asuransi di kemudian hari. Dengan perkataan lain, perusahaan asuransi tidak diperbolehkan melakukan perubahan isi ketentuan polis secara sepihak tanpa terlebih dahulu memberitahukan atau memperoleh persetujuan dari pemegang polis atau tertanggung, demikian sebaliknya. Polis unit link yang diterbitkan oleh PT. Asuransi Cigna untuk Produk Colors Of Life, misalnya, mencantumkan ketentuan tersebut dalam Pasal 16 ayat (2) yang berbunyi: Perusahaan berhak untuk mengubah ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat umum polis yang tercantum dalam polis ini dan hal tersebut akan dinyatakan atau diumumkan pada

120 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

tanggal penerbitan atau selama jangka waktu polis ini berlaku. Dari bunyi ketentuan di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan syarat dan ketentuan polis yang dilakukan perusahaan asuransi harus terlebih dahulu diberitahukan kepada dan mendapat persetujuan pemegang polis. Prinsip yang dipegang adalah perubahan apapun pada polis atau perjanjian asuransi harus dikomunikasikan dan mendapat persetujuan tertanggung sebelum 126 diberlakukan. Menurut penjelasan dari Pasal 18 ayat (1) UUPK, larangan pencantuman klausul baku dengan materi seperti di atas, dimaksudkan untuk menempatkan kedudukan konsumen setara dengan pelaku usaha berdasarkan prinsip kebebasan berkontrak. Selanjutnya dalam Pasal 18 ayat (2) UUPK dinyatakan bahwa pelaku usaha dilarang mencantumkan klausul baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas, atau pengungkapannya sulit dimengerti. Selama ini banyak kalangan menilai polis asuransi yang ada di pasaran dicetak dalam huruf yang terlalu kecil dan dengan bahasa yang sulit dimengerti oleh konsumen.
Frans Lamury, Undang-undang Perlindungan Konsumen dan Kaitannya Dengan Asuransi, makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Antisipasi Pelaku Usaha Terhadap Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Bandung, 8 April 2000, h. 5.
126

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

121

Dari kajian yang dilakukan, polis unit link yang diterbitkan perusahaan asuransi jiwa umumnya dicetak dengan jenis dan ukuran huruf yang relatif cukup mudah untuk dibaca dan dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang juga cukup mudah untuk dipahami. Istilahistilah asing atau istilah-istilah khusus yang lazim digunakan dalam bidang asuransi, diberikan penjelasannya di bagian Definisi yang diletakkan di awal polis. Konsekuensi atas pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 18 ayat (1) dan (2) UUPK diatur di Pasal 18 ayat (3) UUPK yang menegaskan bahwa setiap klausul baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau perjanjian yang memuat ketentuan yang dilarang dalam ayat (1) serta perjanjian baku atau klausul baku yang memenuhi ketentuan ayat (2) dinyatakan batal demi hukum. Ketentuan di atas merupakan penegasan kembali tentang sifat kebebasan berkontrak yang diatur dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata. Mariam Darus Badrulzaman, berpendapat bahwa perjanjian baku atau perjanjian standar bertentangan dengan asas kebebasan berkontrak yang bertanggung jawab. Dalam perjanjian baku, kedudukan para pelaku usaha dan konsumen tidak seimbang. Oleh karena itu, penggunaan perjanjian baku perlu ditertibkan.127
Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, (Bandung: Alumni, 1994), h. 35.
127

122 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Tugas pengawasan terhadap pencantuman klausul baku ini merupakan tugas dan wewenang dari Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), berdasarkan ketentuan Pasal 52 huruf c UUPK. 4. Penyelesaian Sengketa Dalam Kaitan Hubungan Penanggung dan Tertanggung Di dalam rangka memberikan kepastian perlindungan konsumen secara integratif dan komprehensif, maka UUPK juga mengatur tentang penyelesaian sengketa antara pelaku usah dan konsumen. Masalah penyelesaian sengketa diatur di Bab X yang terdiri dari empat pasal, dimulai dari Pasal 45 sampai dengan Pasal 48. Menurut Pasal 45 ayat (1) UUPK setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lngkungan peradilan umum. Dimaksud dengan lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha sebagaimana tersebut dalam ayat (1) adalah Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) yang diatur lebih lanjut di dalam Bab XI mulai dari Pasal 49 sampai dengan Pasal 58. Tugas dari BPSK pada intinya adalah untuk menyelesaikan sengketa konsumen di luar pengadilan.128 Berdasarkan Keputusan Presiden
128

Pasal 49 ayat (1) UUPK.

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

123

(Keppres) No. 90 Tahun 2001, Pemerintah telah membentuk BPSK di sepuluh Pemerintahan Kota, meliputi Medan, Palembang, Jakarta Barat dan Pusat, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang dan Makasar. BPSK dalam konteks UUPK adalah semacam lembaga arbitrase yang dibentuk untuk memeriksa dan menyelesaikan kasus sengketa konsumen, tentu saja dengan mengadopsi prinsip kerja lembaga arbitrase yang mengedepankan penyelesaian sengketa secara cepat, murah, tanpa proses yang berbelit tetapi putusannya bersifat final dan mengikat. Penyelesaian sengketa antara nasabah unit link dengan perusahaan asuransi jiwa dapat dilakukan melalui baik di luar pengadilan maupun melalui pengadilan. Upaya penyelesaian di luar pengadilan dengan melalui BPSK diberikan oleh UUPK untuk mengatasi berlikunya proses pengadilan 129 dan bertujuan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti kerugian dan/atau mengenai tindakan tertentu untuk menjamin tidak terjadi kembali atau tidak akan terulang kembali kerugian yang diderita oleh konsumen.130 Penyelesaian sengketa di luar pengadilan melalui BPSK bukanlah suatu keharusan untuk ditempuh oleh nasabah unit link sebelum pada akhirnya sengketa tersebut diselesaikan melalui
Sidharta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, (Jakarta: PT. Grasindo, 2000), h. 142. 130 Pasal 47 UUPK.
129

124 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

lembaga peradilan. Walaupun demikian, hasil putusan BPSK memiliki suatu daya hukum yang cukup untuk memberikan shock terapy bagi pelaku usaha yang tidak beritikat baik, karena putusan tersebut dapat dijadikan bukti permulaan bagi penyidik. Hal ini berarti penyelesaian sengketa melalui BPSK tidak menghilangkan tanggung jawab pidana menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.131 Pasal 45 ayat (4) UUPK menyebutkan bahwa jika telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan, gugatan pengadilan hanya dapat ditempuh jika upaya itu dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh para pihak. Ketentuan ini sulit dipahami karena tidak menyebutkan secara jelas apa yang dimaksud dengan penyelesaian sengketa di luar pengadilan itu. Jika yang dimaksud dengan penyelesaian sengketa di luar pengadilan itu adalah penyelesaian melalui BPSK, ketentuan itu bertentangan dengan Pasal 60 Undang-undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa yang menyebutkan bahwa putusan arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak. Rumusan Pasal 46 ayat (1) UUPK menyatakan bahwa setiap gugatan atas pelanggaran pelaku usaha dapat dilakukan oleh:
131

Gunawan Widjaja & Ahmad Yani, op. cit., h. 73.

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

125

a. seorang konsumen yang dirugikan atau ahli waris yang bersangkutan; b. sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama; c. lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam UUPK; dan d. pemerintah dan/atau instansi terkait apabila barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau dimanfaatkan mengakibatkan kerugian materi yang besar dan/atau korban yang tidak sedikit. Berdasarkan ketentuan di atas, seorang nasabah unit link atau ahli warisnya yang dirugikan oleh perusahaan asuransi jiwa sebagai pelaku usaha dapat mengajukan gugatan. Apabila ada beberapa nasabah unit link yang memiliki keluhan atau kasus yang sama sehingga kepentingan mereka juga sama, gugatan kepada perusahaan asuransi juga dapat diajukan secara kelompok. Dengan perkataan lain, UUPK telah mengakui gugatan kelompok (class action) dengan catatan bahwa gugatan kelompok tersebut harus diajukan oleh konsumen yang benar-benar dirugikan dan hal itu dapat dibuktikan secara hukum, salah satunya adalah adanya bukti transaksi. Ketentuan Pasal 46 ayat (1) UUPK di atas juga memberikan peluang bagi lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat

126 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

yang memenuhi ketentuan UUPK untuk mengajukan gugatan atas pelanggaran oleh pelaku usaha yang merugikan konsumen. Dalam kaitan ini gugatan yang diajukan oleh YLKAI terhadap sejumlah perusahaan asuransi yang memasarkan unit link sebagaimana yang telah diuraikan pada sebelumnya, bahwa YLKAI dalam mengajukan gugatan terhadap perusahaan asuransi tidak berdasarkan surat kuasa atau mengatas namakan konsumen dari produk unit link, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1) b UUPK, karena tidak ada satupun dari konsumen unit link yang memberikan kuasa kepada YLKAI untuk mengajukan gugatan tersebut, sehingga gugatan YLKAI terhadap perusahaan asuransi prudential ditolak/tidak dapat diterima oleh majelis hakim Pengadilan Negeri jakarta pusat, karena tidak sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 46 UUPK. Dalam ketentuan Pasal 46 ayat (2) UUPK digariskan lebih lanjut bahwa gugatan yang diajukan oleh sekelompok konsumen, lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat, atau pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1) huruf b, c, dan d UUPK di atas hanya dapat diajukan kepada peradilan umum. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berkaitan dengan gugatan oleh konsumen perorangan, UUPK mengarahkan agar gugatan tersebut diajukan kepada BPSK, yang memang dikhususkan bagi konsumen individual yang

Perjanjian Unit Link dalam Bisnis Asuransi Jiwa Ditinjau dari Ketentuan UU

127

memiliki perselisihan dengan pelaku usaha.132 Sifat penyelesaian sengketa yang cepat dan murah yang memang dibutuhkan oleh konsumen, terutama konsumen perorangan tampaknya sudah cukup terakomodasi dalam UUPK.

132

Ibid, h. 78.

128 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


A. Kesimpulan Dari analisis yang telah dilakukan dan diuraikan dalam bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Perjanjian unit link dalam asuransi jiwa telah sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum perjanjian yang terdapat dalam KUH Perdata, yaitu sesuai dengan asas-asas hukum perjanjian yang terdapat dalam Pasal 1320 KUH Perdata, konsensualisme mengandung arti kemauan para pihak untuk mengikatkan diri dan ketentuan-ketentuan tentang syarat-syarat sah perjanjian, kemudian asas kebebasan berkontrak yang terdapat dalam Pasal 1338 yang menyatakan semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya. Setiap orang diberi kesempatan dan kebebasan untuk mengadakan perjanjian sepanjang tidak melanggar Undang-Undang, ketertiban umum dan kepatutan. Dengan demikian perjanjian unit link dibentuk atas dasar consensus atau kesepakatan antara para pihak yang membuatnya, penanggung dan tertanggung

Kesimpulan dan Rekomendasi

129

menyepakati pula adanya investasi sebagai bagian yang penting yang ditambahkan ke dalam mekanisme proteksi jiwa pada umumnya, serta bersedia pula menanggung sendiri risiko investasi. 2. Perjanjian unit link dalam asuransi jiwa telah memenuhi ketentuan mengenai perjanjian asuransi yang terdapat dalam KUHD. Sesuai dengan prinsip-prinsip utama dalam perjanjian asuransi maupun dengan pengaturan tentang isi perjanjian asuransi yang terdapat dalam Pasal-pasal KUHD, diantaranya Pasal 255 KUHD menyatakan asuransi harus diadakan secara tertulis dengan bentuk akta yang disebut polis. 3. Perjanjian unit link dalam asuransi jiwa telah mengikuti ketentuan tentang perasuransian sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian dan segenap peraturan pelaksanaannya. Walaupun dilihat dari definisi dan ruang lingkup untuk perusahaan asuransi jiwa tersebut memang tidak secara jelas menyebutkan produk unit link atau asuransi yang dikaitkan dengan investasi yang dapat dipasarkan oleh asuransi jiwa, karena dalam suatu Undang-Undang tidak mungkin akan mencakup semua persoalan, namun untuk lebih mendetailnya diatur dalam peraturan pelaksanaannya, seperti unit link diatur dalam Pasal 5 KMK 422 Tahun 2003 yang merupakan ketentuan lebih lanjut dari

130 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Pasal 18 Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Perasuransian. 4. Aspek perlindungan nasabah unit link telah sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Misalnya berkenaan dengan tanggung jawab perusahaan asuransi jiwa penerbit unit link kepada nasabah seperti yang terdapat dalam Pasal 26 UUPK, perusahaan asuransi jiwa yang memasarkan jasa asuransi unit link bertanggung jawab kepada nasabah atau tertanggung untuk memenuhi setiap jaminan perlindungan yang disebutkan secara tegas dalam polis. Kemudian mengenai klausul baku dalam unit link, Pasal 18 ayat (1) huruf a UUPK, Menyatakan klausul baku yang dicantumkan dalam perjanjian tidak boleh berakibat pada pengalihan tanggung jawab pelaku usaha, perusahaan asuransi jiwa akan bertanggung jawab membayarkan manfaat pertanggungan, sepanjang klaim yang diajukan tersebut sah dan tidak bertentangan dengan ketentuan polis yang sudah diterbitkan. Kemudian dalam huruf g, mengenai aturan baru, tambahan, lanjutan, dan/atau penambahan lanjutan tidak boleh dilakukan sepihak. Dalam polis asuransi unit link yang dikaji hal tersebut mendapat persetujuan atau diberitahukan kepada pemegang polis. Pasal 18 ayat (2) UUPK, mengenai pencantuman klausul baku yang

Kesimpulan dan Rekomendasi

131

letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas atau pengungkapannya sulit dimengerti, dalam polis asuransi unit link yang telah dikaji tidak terdapat hal-hal seperti yang disebutkan di atas. B. Rekomendasi Setelah selesainya proses revisi atas Undang-Undang Usaha Perasuransian untuk masa yang akan datang, diharapkan kepada Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat sebagai lembaga yang berwenang dalam pembentukan Undang-Undang, agar definisi dan ruang lingkup untuk asuransi jiwa mencakup asuransi yang dikaitkan dengan investasi atau unit link. Jadi tidak hanya terdapat dalam peraturan pelaksana saja, mengingat semakin pesatnya perkembangan asuransi unit link dalam masyarakat. Hal ini perlu agar tercipta suatu kejelasan aturan dan syarat-syarat (rule of the game) bagi perusahaan asuransi jiwa yang hendak memasarkan produk unit link atau sejenisnya dan dengan demikian dapat mencegah adanya pihak-pihak tertentu yang berupaya memanfaatkan celah hukum demi kepentingan bisnis semata tanpa mempertimbangkan nasabah. Bagi perusahaan asuransi jiwa yang memasarkan produk unit link, hendaknya senantiasa memperhatikan peningkatan mutu sumber daya manusia yang berada di lini depan

132 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

pemasaran, yaitu tenaga agen, dengan mengadakan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme agen. Hal ini diharapkan dapat mengurangi terjadinya kesalahan pemberian informasi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kerugian bagi nasabah. Perlunya peningkatan kualitas dan profesionalisme agen ini mengingat bahwa unit link adalah produk asuransi dengan kompleksitas yang cukup tinggi, sehingga jika agen pemasar tidak dapat memberikan penjelasan secara baik, nasabah unit link menghadapi kemungkinan kesalahan baik dalam pemilihan produk maupun penempatan investasi. Bagi para nasabah atau calon nasabah unit link, hendaknya tetap mengutamakan kecermatan dan kehati-hatian dalam memilih produk asuransi jiwa yang menjanjikan tingkat pengembalian investasi dan pilihan pertanggungan yang menarik serta pula mengetahui secara persis berapa tingkat risiko yang dapat ditanggungnya. Sikap cermat dan hati-hati ini mutlak perlu agar nantinya dapat mengurangi potensi timbulnya kekecewaan atas informasi yang diberikan agen ataupun pelayanan yang diberikan oleh perusahaan asuransi jiwa. Mengingat saat ini sudah terdapat tidak kurang dari lima belas perusahaan asuransi jiwa yang menjual produk unit link, maka keuntungan di pihak nasabah adalah keleluasaan di dalam memilih nama diantara

Kesimpulan dan Rekomendasi

133

sekian banyak produk unit link itu yang dirasakan paling cocok untuk dijadikan pilihan terakhir.

134 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

DAFTAR PUSTAKA
1. Buku. Badan Pembinaan Hukum Nasional, 1987, Simposium Aspek-aspek Hukum Masalah Perlindungan Masalah Perlindungan Konsumen, Binacipta, Bandung. Badrulzaman,Mariam Darus, et. al., 2001, Kompilasi Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti, Bandung. ------------, 1994, Aneka Hukum Bisnis, Alumni, Bandung. ------------, 1986, Menuju Hukum Perikatan Indonesia, Fakultas Hukum USU, Medan. Gunanto, 1994 Asuransi Kebakaran di Indonesia, Tira Pustaka, Jakarta. Hanitijo Soemitro, Rony, 1998, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta. Hartono, Sri Redjeki, 2000 Hukum Ekonomi, Mandar -----------, 2001 Hukum Perusahaan Asuransi, Jakarta. Kapita Selekta Maju, Bandung. Asuransi dan Sinar Grafika,

------------,1990, Reasuransi Kebutuhan yang tidak di kesampingkan Oleh Penanggung

Daftar Pustaka

135

Guna Memenuhi Kewajiban Terhadap Tertanggung, Tinjauan Yuridis, Disertasi Untuk Memperoleh Gelar Doktor, Universitas Diponogoro (UNDIP), Semarang. Hartono, Sunaryati, 1994, Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20, Alumni, Bandung. Head, John, 1997, Hukum Ekonomi (terjemahan), ELIPS-FHUI, Jakarta. Ibrahim, Jhonny, 2005, Teori dan Metode Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia Publishing, Malang. Kamello, Tan, 2004, Hukum Jaminan Fidusia, Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Alumni, Bandung. Kelsen, Hans, 1995, Teori Hukum Murni, Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif, Terjemahan dari Theory of Law and State, Rimdi Press, Jakarta. Mertokusumo, Sudikno, 1996, Mengenal Hukum, (Suatu Pengantar), Liberty, Yogyakarta. Muhammad, Abdulkadir, 2002, Hukum Asuransi Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung.

136 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Pangaribuan Simanjuntak, Emmy, 1990, Hukum Pertanggungan, Seksi Hukum Dagang, FH-UGM, Yogyakarta. Prawoto, Agus, 1995, Hukum Asuransi dan Kesehatan Perusahaan Asuransi, BPFE,Yogyakarta.. Prodjodikoro, Wirjono, 1997, Hukum Asuransi di Indonesia, Intermasa, Jakarta. Radjagukguk, Erman, 2000, Dalam: Hukum Perlindungan Konsumen, (Penyunting: Husni Syawali & Neni Sri Imaniyati) Mandar Maju, Bandung. Rahardjo, Irvan, 2001, Bisnis Asuransi Menyonsong Era Global, Yasdaya, Jakarta. Saidi, Zaim, et, al., 2001, Mencari Keadilan, Bunga Rampai Penegakan Hak Konsumen, PIRAC & PEG, Jakarta. Sastrawidjaja, Man Suparman & Endang, 1997, Hukum Asuransi, Perlindungan Tertanggung, Asuransi Deposito,Usaha Perasuransian,Alumni, Bandung. Sendra, Ketut, 2001, Panduan Sukses Menjual Asuransi, PPM, Jakarta. Setia Tunggal, Hadi, 2005, Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang

Daftar Pustaka

137

Perasuransian Jakarta.

Indonesia,

HARVARINDO,

Setiawan, 1987, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Binacipta, Bandung. Shidarta, 2000, Hukum Perlindungan Indonesia, PT. Grasindo, Jakarta. Sisilahi, Ferdinand, 1997, Manajemen Risiko dan asuransi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Subekti, 1996, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta.. Sudaryatmo, 2001, Memahami Hak Anda Sebagai Konsumen, PIRAC & PEG, Jakarta. Suherman, Ade Maman, 2002, Aspek Hukum Dalam Ekonomi Global, Ghalia Indonesia, Jakarta. Soekanto, Soerjono & Sri Mamudji, 1996 , Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tin jauan Singkat, Raja Grafindo Persada, Jakarta. Syahrin, Alvi, 2003, Pengaturan Hukum & Kebijaksanaan Pembangunan Perumahan Permukiman Berkelanjutan, Pustaka Bangsa Press, Medan. Waluyo, Bambang, 2002, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Sinar Grafika Jakarta.

138 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Widjaja, Gunawan & Ahmad Yani, 2001, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 2. Makalah Gunawan, Johanes, Tanggung Jawab Pelaku Usaha Menurut Undang-Undang No. 8 Tentang Perlindungan Konsumen, Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Antisipasi Pelaku Usaha Terhadap Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Bandung 8 April 2000. Lamury, Frans, Undang-undang Perlindungan Konsumen dan Kaitannya dengan asuransi, Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Antisipasi Pelaku Usaha Terhadap Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Bandung 8 April 2000. Pangaribuan Simanjuntak, Emmy, Analisis Hukum Ekonomi Terhadap Hukum Persaingan, Makalah Dalam Seminar Nasional Pendekatan Ekonomi dalam Pengembangan Sistem Hukum Nasional dalam Rangka Globalisasi, Bandung, 29 April 1998. 3. Jurnal/Laporan/Modul Amalia Malik, Mira, et, al., Legalitas Produk Unit Link Dalam Bisnis Asuransi Jiwa: Pandangan Yayasan Lembaga Konsumen 139

Daftar Pustaka

Asuransi Indonesia (YLKAI) Terhadap Produk Unit Link Yang Dipasarkan Oleh Perusahaan Asuransi, 5 Maret 2002. Modul, Prufast Start Training Agen, PT. Prudential Life Assurance, Medan, tanggal 9-11 Mei 2005. Sendra, Ketut, Memahami Produk Asuransi Jiwa Dalam Prosedur dan Penerapannya, (Modul Kursus Asuransi Tingkat Basic), Lembaga Pendidikan Asuransi Indonesia, Jakarta, 1997. Simanjuntak, Ricardo, Perlu Redefinisi Asuransi, Jurnal Hukum Bisnis, Volume 22, No. 2. 2003. Subekti, edi, Kenapa Harus Takut Bersaing di AFTA, Jurnal Hukum Bisnis, Volume 22, No. 2., 2003. 4. Artikel/Surat Kabar/Majalah Ekonomi Neraca, Harian, 7 Februari 2000. G., Masassya, Elvyn , Berburu Unit Link, Harian Kompas, 3 Maret 2002. Investor, Majalah, No. 51/27 Maret 2002. Priosamodro, Endro, Industri Asuransi Indonesia,Asing Datang Lokal Meradang, Majalah Pilar Bisnis, No. 03, 14 Februari 2001.

140 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

-------------, Agar Tidak Asing Di Tengah Asing , Majalah Pilar Bisnis, No. 03, 14 Februari 2001. Surudji, Andi, Unit Link, Produk Asuransi Yang Melesat, Harian Kompas, 4 Maret 2002. 5. Internet Http://www.asuransi-mobil.com/tentangasuransi/definisi.asuransi.htm. (14 Maret 2005). Http://www://infojiwa.com/versiindonesia/lemb arberita26.htm.(6 Juni 2005). Http://www.prudential.co.id. (19 Maret 2005). 6. Peraturan Perundang-undangan. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUH Dagang), TAP MPR No. IV Tahun 1999 Tentang GarisGaris Besar Haluan Negara. Undang-Undang Republik Indonesia No.2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian. Undang-Undang Republik Indonesia No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor : 64/Pdt.G/2002/PN.JKT.PST.

Daftar Pustaka

141

142 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

LAMPIRAN I
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1992 TENTANG USAHA PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: 1. bahwa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, pembangunan disegala bidang perlu dilaksanakan secara menyeluruh; 2. bahwa dalam pelaksanaan pembangunan dapat terjadi berbagai ragam dan jenis risiko yang perlu ditanggulangi oleh masyarakat; 3. bahwa usaha perasuransian yang sehat merupakan salah satu upaya untuk menanggulangi risiko yang dihadapi oleh anggota masyarakat dan merupakan salah satu lembaga penghimpun dana masyarakat, sehingga memiliki perekonomian dalam upaya memajukan kesejahteraan umum;

Lampiran

143

4. bahwa

dalam rangka meningkatkan peranan usaha perasuransian dalam pembangunan perlu diberikan kesempatan yang luas bagi pihakpihak yang ingin berusaha di bidang perasuransian, dengan tidak mengabaikan prinsip usaha yang sehat dan bertanggung jawab, yang sekaligus dapat mendorong kegiatan perekonomian pada umumnya; 5. bahwa sehubungan dengan halhal tersebut dipandang perlu untuk menetapkan UndangUndang tentang Usaha Perasuransian. Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) UUD 1945; 2. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Staatsblad Tahun 1847 Nomor 23); 3. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Staatsblad Tahun 1847 Nomor 23) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang No. 4 Tahun 1971 tentang Perubahan dan Penambahan atas Ketentuan Pasal 54 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Lembaran Negara

144 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Tahun 1971 Nomor 20 , Tambahan Lembaran Negara Nomor 2959) 4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perkoperasian (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2832); 5. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1969 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1969 tentang Bentuk-Bentuk Usaha Negara (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2890) menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2904); Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG USAHA PERASURANSIAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

Lampiran

145

Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara 2 (dua) pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan pengantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. 2. Objek asuransi adalah benda dan jasa, jiwa dan raga, kesehatan manusia, tanggung jawab hukum, serta semua kepentingan yang dapat hilang, rusak, rugi dan atau berkurang nilainya. 3. Program Asuransi Sosial adalah program asuransi yang diselenggarakan secara wajib berdasarkan suatu undang-undang, dengan tujuan untuk memberikan perlindungan dasar bagi kesejahteraan masyarakat. 4. Perusahaan Perasuransian adalah Perusahaan Asuransi Kerugian, Perusahaan Asuransi jiwa, Perusahaan Reasuransi, Perusahaan Pialang Asuransi, Perusahaan

146 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

5.

6.

7.

8.

9.

Pialang Reasuransi, Agen Asuransi, Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi, dan Perusahaan Konsultan Aktuaria. Perusahaan Asuransi Kerugian adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam penanggulangan risiko atas kerugian, kehilangan manfaat, tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga, yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti. Perusahaan Asuransi Jiwa adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam penanggulangan risiko yang dikaitkan dengan hidup atau meninggalnya seseorang yang dipertanggungkan. Perusahaan Reasuransi adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam penanggulangan ulang terhadap risiko yang dihadapi oleh Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa. Perusahaan Pialang Asuransi adalah Perusahaan yang memberikan jasa keperantaraan dalam penutupan asuransi dan penanganan penyelesaian ganti kerugian asuransi dengan bertindak untuk kepentingan tertanggung. Perusahaan Pialang Reasuransi adalah Perusahaan yang memberikan jasa keperantaraan dalam penempatan reasuransi dan penanganan penyelesaian ganti kerugian reasuransi dengan bertindak untuk kepentingan perusahaan asuransi.

Lampiran

147

10. Agen Asuransi adalah seseorang atau badan hukum yang kegiatannya memberikan jasa dalam memasarkan jasa asuransi untuk dan atas nama penanggung. 11. Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi adalah perusahaan yang memberikan jasa penilaian terhadap kerugian pada objek asuransi yang dipertanggungkan. 12. Perusahaan Konsultan Aktuaria adalah perusahaan yang memberikan jasa aktuaria kepada Perusahaan Asuransi dan Dana Pensiun dalam rangka pembentukan dan pengelolaan suatu program asuransi dan atau program pensiun. 13. Afiliasi adalah hubungan antara seseorang atau badan hukum dengan 1 (satu) atau lebih badan hukum lain, sedemikian rupa sehingga salah satu dari mereka dapat mempengaruhi pengelolaan atau kebijaksanaan dari orang yang lain atau badan hukum yang lain, atau sebaliknya, dengan memanfaatkan adanya kebersamaan kepemilikan saham atau kebersamaan pengelolaan perusahaan. 14. Menteri adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia. BAB II BIDANG USAHA PERASURANSIAN Pasal 2

148 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Usaha perasuransian merupakan kegiatan usaha yang bergerak di bidang: a. Usaha Asuransi, yaitu usaha jasa keuangan yang dengan menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti, atau terhadap hidup atau meninggalnya seseorang. b. Usaha Penunjang Usaha Asuransi, yang menyelenggarakan jasa keperantaraan,, penilaian kerugian asuransi, dan jasa aktuaria. BAB III JENIS USAHA PERASURANSIAN Pasal 3 Jenis usaha perasuransian meliputi: a. Usaha asuransi terdiri dari: 1. Usaha asuransi kerugian yang memberikan jasa dalam penanggulangan risiko atas kerugian, kehilangan manfaat, dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti. 2. Usaha asuransi jiwa yang memberikan jasa dalam penanggulangan risiko yang dikaitkan dengan hidup atau meninggalnya seseorang yang dipetanggungkan. 3. Usaha reasuransi yang memberikan jasa dan pertanggungan ulang terhadap risiko

Lampiran

149

yang dihadapi oleh Perusahaan Asuransi Kerugian dan atau Perusahaan Asuransi Jiwa. b. Usaha Penunjang Usaha Asuransi terdiri dari: 1. Usaha pialang asuransi memberikan jasa keperantaraan dalam penutupan asuransi dan penanganan penyelesaian ganti kerugian asuransi dengan bertindak untuk kepentingan tertanggung. 2. Usaha pialang reasuransi yang memberikan jasa keperantaraan dalam penempatan reasuransi dan penanganan penyelesaian ganti kerugian reasuransi dengan bertindak untuk kepentingan perusahaan asuransi. 3. Usaha Penilai kerugian asuransi yang memberikan jasa penilaian terhadap kerugian pada objek asuransi yang dipertanggungkan. 4. Usaha konsultan aktuaria yang memberikan jasa konsultasi aktuaria. 5. Usaha agen asuransi yang memberikan jasa keperantaraan dalam rangka pemasaran jasa asuransi untuk dan atas nama penanggung. BAB IV RUAG LINGKUP USAHA PERUSAHAAN PERASURANSIAN Pasal 4 Usaha asuransi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a hanya dapat dilakukan oleh

150 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

perusahaan perasuransian, dengan ruang lingkup kegiatan sebagai berikut: a. Perusahaan Asuransi Kerugian hanya dapat menyelenggarakan usaha dalam bidang asuransi kerugian, termasuk reasuransi. b. Perusahaan Asuransi Jiwa hanya dapat menyelenggarakan usaha dalam bidang asuransi jiwa dan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan diri, dan usaha anuitas, serta menjadi pendiri dan pengurus dana pensiun sesuai dengan peraturan perundang-undangan dana pensiun yang berlaku. c. Perusahaan Reasuransi hanya dapat menyelenggarakan usaha pertanggungan ulang. Pasal 5 Usaha penunjang usaha asuransi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b hanya dapat dilakukan oleh perusahaan perasuransian dengan ruang lingkup kegiatan usaha sebagai berikut: a. Perusahaan Pialang Asuransi hanya dapat menyelenggarakan usaha dengan bertindak mewakili tertanggung dalam rangka transaksi yang berkaitan dengan kontrak. b. Perusahaan Pialang Reasuransi hanya dapat menyelenggarakan usaha dengan bertindak mewakili perusahaan asuransi

Lampiran

151

dalam rangka transaksi yang berkaitan dengan kontrak asuransi. c. Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi hanya dapat menyelenggarakan usaha jasa penilai kerugian atas kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada objek asuransi kerugian. d. Perusahaan Konsultan Aktuaria hanya dapat menyelenggarakan usaha jasa di bidang aktuaria. e. Perusahaan Agen Asuransi hanya dapat memberikan jasa pemasaran asuransi yang memiliki izin usaha dari Menteri. BAB V PENUTUPAN OBJEK ASURANSI Pasal 5 (1). Penutupan asuransi atas objek asuransi harus didasarkan pada kebebasan memilih penanggung, kecuali bagi Program Asuransi Sosial. (2) Penutupan objek asuransi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan dengan memperhatikan daya tampung perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi di dalam negeri. (3) Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB VI BENTUK HUKUM USAHA PERASURANSIAN

152 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Pasal 7 (1). Usaha perasuransian hanya dapat dilakukan oleh badan hukum yang berbentuk: a. Perusahaan Perseroan (Persero); b. Koperasi; c. Perseroan Terbatas; d. Usaha Bersama (Mutual). (2).Dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), usaha konsultan aktuaria dan usaha agen asuransi dapat dilakukan oleh perusahaan perorangan. (3).Ketentuan tentang usaha perasuransian yang berbentuk usaha bersama (mutual) diatur lebih lanjut dengan undang-undang. BAB VII KEPEMILIKAN PERUSAHAAN PERASURANSIAN Pasal 8 (1). Perusahaan perasuransian hanya dapat didirikan oleh: a. Warga Negara Indonesia dan atau badan hukum Indonesia yang sepenuhnya dimiliki warga Negara Indonesia dan atau badan hukum Indonesia. b. Perusahaan perasuransian yang pemiliknya sebagaimana dimaksud dalam huruf a, dengan perusahaan perasuransian yang tunduk pada hukum asing.

Lampiran

153

(2). Perusahaan perasuransian yang didirikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b harus merupakan: a. Perusahaan perasuransian yang mempunyai kegiatan usaha dari perusahaan perasuransian yang mendirikan atau memilikinya. b. Perusahaan asuransi kerugian atau perusahaan reasuransi yang para pendiri atau pemilik perusahaan tersebut adalah perusahaan asuransi kerugian dan atau perusahaan reasuransi. (3). Ketentuan lebih lanjut mengenai kepemilikan perusahaan perasuransian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB VIII PERIZINAN USAHA Pasal 9 (1). Setiap pihak yang melakukan usaha perasuransian wajib mendapat izin usaha dari Menteri, kecuali bagi perusahaan yang menyelenggarakan Program Asuransi Sosial. (2). Untuk mendapatkan izin usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dipenuhi persyaratan mengenai: a. Anggaran Dasar; b. Susunan Organisasi; c. Permodalan; d. Kepemilikan; e. Keahlian di bidang perasuransian;

154 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

f. Kelayakan rencana kerja; g. Hal-hal lain yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan usaha perasuransian secara sehat. (3). Dalam hal terhadap kepemilikan pihak asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b, maka untuk memperoleh izin usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dipenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) serta ketentuan mengenai batas kepemilikan dan kepengurusan pihak asing. (4). Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan izin usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB IX PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 10 Pembinaan dan pengawasan terhadap usaha perasuransian dilakukan oleh Menteri. Pasal 11 (1). Pembinaan dan pengawasan terhadap usaha perasuransian meliputi: a. Kesehatan keuangan bagi Perusahaan Asuransi Kerugian, Perusahaan Asuransi Jiwa, dan Perusahaan Reasuransi yang terdiri dari: 1. Batas tingkat solvabilitas; 2. Retensi sendiri;

Lampiran

155

Reasuransi; Investasi; Cadangan teknis; Ketentuan-ketentuan lain yang berhubungan dengan kesehatan keuangan. b. Penyelenggaraan usaha yang terdiri dari: 1. Syarat-syarat polis asuransi; 2. Tingkat premi; 3. Penyelesaian klaim; 4. Persyaratan keahlian di bidang perasuransian; 5. Ketentuan-ketentuan lain yang berhubungan dengan penyelenggaraan usaha. (2). Setiap perusahaan perasuransian wajib memelihara kesehatan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) serta wajib melakukan usaha sesuai dengan prinsip-prinsip asuransi yang sehat. (3). Ketentuan lebih lanjut mengenai kesehatan keuangan dan penyelenggaraan usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 12 Perusahaan Pialang Asuransi dilarang menempatkan penutupan asuransi pada perusahaan asuransi yang tidak mempunyai izin usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9. Pasal 13

3. 4. 5. 6.

156 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

(1).Perusahaan Pialang Asuransi dilarang menempatkan penutupan asuransi pada suatu perusahaan asuransi yang merupakan afiliasi dari perusahaan Pialang Asuransi yang bersangkutan, kecuali apabila calon tertanggung telah lebih dahulu diberitahu secara tertulis dan menyetujui mengenai adanya afiliasi tersebut. (2). Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi dilarang melakukan penilaian kerugian atas objek asuransi yang diasuransikan kepada Perusahaan Asuransi Kerugian yang merupakan afiliasi dari Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi yang bersangkutan. (3). Perusahaan Konsultan Aktuaria dilarang memberikan jasa kepada Perusahaan Asuransi Jiwa atau dana pensiun yang merupakan afiliasi dari perusahaan Konsultan Aktuaria yang bersangkutan. (4). Agen asuransi dilarang bertindak sebagai agen dari perusahaan asuransi yang tidak mempunyai izin usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9. Pasal 14 (1). Program Asuransi Sosial hanya dapat diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negara. (2). Terhadap perusahaan yang menyelenggarakan Program Asuransi Sosial sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

Lampiran

157

berlaku ketentuan mengenai pembinaan dan pengawasan dalam undang-undang ini. Pasal 15 (1). Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan, Menteri melakukan pemeriksaan berkala atau setiap waktu apabila diperlukan terhadap usaha perasuransian. (2). Setiap perusahaan perasuransian wajib memperlihatkan buku, catatan, dokumen dan laporan-laporan serta memberikan keterangan yang diperlukan dalam rangka pemeriksaan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1). (3). Persyaratan dan tata cara pemeriksaan senagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 16 (1).Setiap Perusahaan Asuransi Kerugian, Perusahaan Asuransi Jiwa, Perusahaan Reasuransi, Perusahaan Pialang Asuransi, dan Perusahaan Pialang Reasuransi wajib menyampaikan neraca dan perhitungan laba rugi perusahaan beserta penjelasannya kepada Menteri. (2).Setiap perusahaan perasuransian wajib menyampaikan laporan operasional kepada Menteri. (3). Setiap perusahaan asuransi kerugian, perusahaan asuransi jiwa, dan perusahaan reasuransi wajib mengumumkan neraca

158 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

a. b. c.

perhitungan laba rugi perusahaan dalam surat kabar harian di Indonesia yang memiliki peredaran yang luas. (4). Selain kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), setiap perusahaan asuransi jiwa wajib menyampaikan laporan investasi kepada Menteri. (5) Bentuk susunan dan jadwal penyampaian laporan serta pengumuman neraca dan perhitungan laba rugi perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 17 (1). Dalam hal terdapat pelanggaran terhadap ketentuan dalam undang-undang ini atau peraturan pelaksanaannya, Menteri dapat melakukan tindakan berupa pemberian peringatan, pembatasan kegiatan usaha atau pencabutan izin usaha. (2). Tindakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan tahapan pelaksanaan sebagai berikut: Pemberian peringatan; Pembatasan kegiatan usaha; Pencabutan izin usaha. (3). Sebelum pencabutan izin usaha, Menteri dapat memerintahkan perusahaan yang bersangkutan untuk menyusun rencana dalam rangka mengatasi penyebab dari pembatasan kegiatan usahanya.

Lampiran

159

(4). Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) serta jangka waktu bagi perusahaan dalam memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 18 (1). Dalam hal tindakan untuk memenuhi rencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) telah dilaksanakan dan apabila dari pelaksanaan tersebut dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang bersangkutan tidak mampu atau tidak bersedia menghilangkan hal-hal yang menyebabkan pembatasan termaksud, maka Menteri mencabut izin usaha perusahaan. (2). Pencabutan izin usaha diumumkan oleh Menteri dalam surat kabar harian di Indonesia yang memiliki peredaran yang luas. Pasal 19 Dalam hal perusahaan telah berhasil melakukan tindakan dalam rangka mengatasi penyebab dari pembatasan kegiatan usahanya dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4), maka perusahaan yang bersangkutan dapat melakukan usahanya kembali. BAB X KEPAILITAN DAN LIKUIDASI

160 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Pasal 20 (1). Dengan tidak mengurangi berlakunya ketentuan dalam Peraturan Kepailitan, dalam hal terdapat pencabutan izin usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18, maka Menteri berdasarkan kepentingan umum dapat memintakan kepada pengadilan agar perusahaan yang bersangkutan dinyatakan pailit. (2). Hak pemegang polis atas pembagian harta kekayaan Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa yang dilikuidasi merupakan hak utama. BAB XI KETENTUAN PIDANA Pasal 21 (1). Barang siapa menjalankan atau menyuruh menjalankan kegiatan usaha perasuransian tanpa izin usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 2.500.000.000.00 (dua miliar lima ratus juta rupiah). (2). Barang siapa menggelapkan premi asuransi diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 2.500.000.000.00 (dua miliar lima ratus juta rupiah). (3).Barang siapa menggelapkan dengan cara mengalihkan, menjaminkan atau menggunakan tanpa hak kekayaan

Lampiran

161

Perusahaan Asuransi Jiwa atau Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 2.500.000.000.00 (dua miliar lima ratus juta rupiah). (4). Barang siapa menerima, menadah, membeli, atau mengangunkan, atau menjual kembali kekayaan perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) yang diketahuinya atau patut diketahuinya bahwa barangbarang tersebut adalah kekayaan Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau Perusahaan Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000.00 (lima ratus juta rupiah). (5). Barang siapa secara sendiri-sendiri atau bersama-sama melakukan pemalsuan dokumen Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau Perusahaan Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 250.000.000.00 (dua ratus lima puluh juta rupiah). Pasal 22 Dengan tidak mengurangi ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, terhadap perusahaan perasuransian yang tidak memenuhi ketentuan undang-undang ini dan peraturan-peraturan pelaksanaannya dapat

162 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

dikenakan sanksi administratif ganti kerugian, atau denda yang ketentuannya lebih lanjut ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 23 Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 adalah kejahatan. Pasal 24 Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum atau badan usaha yang bukan merupakan badan hukum, maka tuntutan pidana dilakukan terhadap badan tersebut atau terhadap mereka yang memberikan perintah untuk melakukan tindak pidana itu atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam melakukan tindak pidana maupun terhadap kedua-duanya. BAB XII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 25 (1).Perusahaan perasuransian yang telah mendapat izin usaha dari Menteri pada saat ditetapkan undang-undang ini, dinyatakan telah mendapat izin usaha berdasarkan undang-undang ini. (2).Perusahaan persauransian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diwajibkan menyesuiakan diri dengan ketentuan dalam undang-undang ini.

Lampiran

163

(3).Ketentuan tentang penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) serta jangka waktunya ditetapkan oleh Menteri. Pasal 26 Peraturan perundang-undangan mengenai usaha perasuransian yang telah ada pada saat undang-undang ini mulai berlaku, sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang ini, dinyatakan tetap berlaku sampai peraturan perundang-undangan yang menggantikannya berdasarkan undang-undang ini ditetapkan. BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 27 Dengan berlakunya undang-undang ini, maka Ordonantie op het Levensverzekering bedrijf (Staatsblad Tahun 1941 Nomor 101) dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 28 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

164 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Disahkan di : Jakarta Pada : 11 Pebruari 1992 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di : Jakarta Pada tanggal : 11 Pebruari 1992 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA RI ttd MOERDIONO tanggal

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1992 NOMOR 13 ******

Lampiran

165

LAMPIRAN II
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: 1. bahwa penerapan usaha perasuransian di Indonesia dalam menunjang pembangunan nasional perlu diarahkan agar dalam kegiatan usahanya, Perusahaan Perasuransian di Indonesia dapat tumbuh dan berkembang dengan tidak mengabaikan prinsip usaha yang sehat dan bertanggung jawab; 2. bahwa sehubnungan dengan itu dipandang perlu untuk mengatur penyelenggaraan usaha perasuransian di dalam suatu Peraturan Pemerintah.

Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945; 2. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Staatsblad Tahun 1847 Nomor

166 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

23) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1971 Tentang Perubahan dan Penambahan atas ketentuan Pasal 54 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Lembaran Negara Tahun 1971 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2959); 3. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3467); 4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3502). MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Yang dimaksud dalam Peraturan Pemerintah ini dengan:

Lampiran

167

1. Perusahaan

2.

3.

4.

5.

Asuransi adalah Perusahaan Asuransi Kerugian dan Perusahaan Asuransi Jiwa. Perusahaan Penunjang Usaha Asuransi adalah Perusahaan Pialang Asuransi, Perusahaan Pialang Reasuransi, Perusahaan Agen Asuransi, Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi dan Perusahaan Konsultan Aktuaria. Retensi sendiri adalah bagian dari jumlah uang pertanggungan untuk setiap risiko yang menjadi tanggungan sendiri tanpa dukungan reasuransi. Pengurus adalah direksi untuk perseroan terbatas atau persero, atau yang setara dengan itu untuk koperasi dan usaha bersama. Menteri adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia.

BAB II PENUTUPAN OBJEK ASURANSI Pasal 2 Objek asuransi di Indonesia hanya dapat diasuransikan pada Perusahaan Asuransi yang mendapat izin usaha dari Menteri, kecuali dalam hal: a. tidak ada Perusahaan Asuransi di Indonesia, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, yang memiliki kemampuan menahan risiko asuransi dari objek yang bersangkutan; atau

168 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

b. tidak ada Perusahaan Asuransi yang bersedia melakukan penutupan asuransi atas objek yang bersangkutan; c. pemilik objek asuransi yang bersangkutan bukan warga Negara Indonesia atau bukan badan hukum Indonesia. BAB III PERIZINAN USAHA PERASURANSIAN Bagian Pertama Persyaratan Umum Perusahaan Perasuransian. Pasal 3 (1)Perusahaan Perasuransian dalam rangka melaksanakan kegiatan usahanya harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. Dalam anggaran dasar dinyatakan bahwa: 1. maksud dan tujuan pendirian perusahaan hanya untuk menjalankan salah satu jenis usaha perasuransian; 2. perusahaan tidak memberikan pinjaman kepada pemegang saham. b. Susunan Organisasi perusahaan sekurang-kurangnya meliputi fungsifungsi sebagai berikut: 1. Bagi Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi, yaitu fungsi pengelolaan risiko, fungsi

Lampiran

169

pengelolaan keuangan, dan fungsi pelayanan. 2. Bagi Perusahaan Pialang Asuransi dan Perusahaan Pialang Reasuransi, yaitu fungsi pengelolaan keuangan dan fungsi pelayanan. 3. Bagi Perusahaan Agen Asuransi, Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi, dan Perusahaan Konsultan Aktuaria, yaitu fungsi teknis sesuai dengan bidang jasa yang diselenggarakannya. c. Memenuhi ketentuan permodalan sebagaimana ditetapkaan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. Mempekerjakan tenaga ahli sesuai dengan bidang usahanya dalam jumlah yang memadai untuk mengelola kegiatan usahanya. Melaksanakan pengelolaan perusahaan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah ini, yang sekurang-kurangnya didukung dengan: 1. Sistem pengembangan sumber daya manusia. 2. Sistem administrasi. 3. Sistem pengelolaan data. (2). Ketentuan lebih lanjut mengenai huruf c dan d ditetapkan oleh Menteri.

170 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Pasal 5 (1) Perusahaan Perasuransian yang seluruh pemiliknya warga Negara Indonesia dan atau badan hukum yang seluruh atau mayoritas pemiliknya warga Negara Indonesia, seluruh anggota Dewan Komisaris dan Pengurus harus warga Negara Indonesia. (2)Sekurang-kurangnya separo dari jumlah anggota Pengurus memiliki pengetahuan dan pengalaman dibidang pengololaan risiko. (3) Pengurus tidak diperkenankan merangkap jabatan pada perusahaan lain, kecuali untuk jabatan Komisaris. (4)Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 6 (1)Modal disetor pada perusahaan yang seluruh pemiliknya warga Negara Indonesia dan atau badan hukum Indonesia yang seluruh atau mayoritas pemiliknya warga Negara Indonesia, untuk masing-masing perusahaan perasuransian sekurang-kurangnya sebagai berikut: a. Rp. 3.000.000.000.00 (tiga miliar rupiah) bagi Perusahaan Asuransi Kerugian;

Lampiran

171

b. Rp. 2.000.000.000.00 (dua miliar rupiah) bagi Perusahaan Asuransi Jiwa; c. Rp. 10.000.000.000.00 (sepuluh miliar rupiah) bagi Perusahaan Reasuransi; d. Rp. 500.000.000.00 (lima ratus juta rupiah) bagi Perusahaan Pialang Asuransi; e. Rp. 500.000.000.00 (lima ratus juta rupiah) bagi Perusahaan Pialang Reasuransi.
(2) Dalam hal terdapat penyertaan langsung

oleh pihak asing, modal disetor untuk masing-masing Perusahaan Perasuransian sekurang-kurangnya sebagai berikut: a. Rp. 15.000.000.000.00 (lima belas miliar rupiah) bagi Perusahaan Asuransi Kerugian; b. Rp. 4.500.000.000.00 (empat miliar lima ratus juta rupiah) bagi Perusahaan Asuransi Jiwa; c. Rp. 30.000.000.000.00 (tiga puluh miliar rupiah) bagi Perusahaan Reasuransi; d. Rp. 3.000.000.000.00 (tiga miliar rupiah) bagi Perusahaan Pialang Asuransi; e. Rp. 3.000.000.000.00 (tiga miliar rupiah) bagi Perusahaan Pialang Reasuransi. (3) Pada saat pendirian perusahaan, penyertaan langsung pihak asing dalam

172 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Perusahaan Perasuransian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) paling banyak 80% (delapan puluh persen). (4)Perusahaan Perasuransian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus memiliki perjanjian antar pemegang saham yang memuat kesepakatan mengenai rencana peningkatan kepemilikan saham pihak Indonesia.
(1)

(2)

(3)

(4)

Pasal 7 Pada awal pendirian, Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi harus menempatkan sekurang-kurangnya 20% (dua puluh persen) dari modal disetor yang dipersyaratan, dalam bentuk deposito berjangka dengan perpanjangan otomatis pada bank umum di Indonesia yang bukan afiliasi dari Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi yang bersangkutan. Deposito sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan jaminan terakhir dalam rangka melindungi kepentingan pemegang polis. Penempatan deposito sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus atas nama Menteri untuk kepentingan perusahaan yang bersangkutan. Deposito sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus disesuaikan dengan perkembangan volume usaha yang

Lampiran

173

besarnya ditetapkan oleh Menteri dengan ketentuan besarnya deposito dimaksud tidak kurang dari yang dipersyaratkan pada awal pendirian. (5) Deposito sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dicairkan atas persetujuan Menteri berdasarkan: a. atas permintaan likuidator dalam hal perusahaan dilikuidasi;atau b. atas permintaan perusahaan yang bersangkutan dalam hal izin usahanya dicabut atas permintaan perusahaan yang bersangkutan dengan ketentuan kewajibannya telah diselesaikan. Pasal 8 (1) Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi harus menyelenggarakan: a. Pengembangan sumber daya manusia yang dapat menunjang pengelolaan perusahaan secara profesional, pengembangan perusahaan secara sehat, adanya kemampuan dalam mengikuti perkembangan teknologi, serta penyelenggaraan jasa asuransi secara tertib dan bertanggung jawab. b. Administrasi keuangan yang dapat menunjang ketertiban pengelolaan keuangan dan pelaksanaan pengendalian intern perusahaan. c. Pengelolaan data yang dapat menunjang pelaksanaan fungsi pengelolaan risiko, pemasaran,

174 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

penyelesaian klaim dan pelayanan kepada pemegang polis, serta memungkinkan tersedianya data yang relevan, akurat dan tepat waktu, untuk pemeriksaan dan pengawasan perusahaan maupun untuk analisis dalam rangka pengembangan perusahaan. (2). Perusahaan Pialang Asuransi dan Perusahaan Pialang Reasuransi harus menyelenggarakan hal-hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan huruf b. (3). Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi dan Perusahaan Konsultan Aktuaria harus menyelenggarakan hal-hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a. (4). Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) ditetapkan oleh Menteri. Bagian Kedua Perizinan Perusahaan Perasuransian Pasal 9 (1). Pemberian izin bagi Perusahaan Perasuransian dilakukan dalam 2 (dua) tahap, yaitu: a. Persetujuan prinsip; b. Izin usaha (2) Ketentuan sebagaimana dalam ayat (1) huruf a tidak berlaku bagi agen asuransi dan konsultan aktuaria.

Lampiran

175

(3) Permohonan persetujuan prinsip bagi perusahaan perasuransian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a diajukan kepada Menteri dengan melampirkan: a. anggaran dasar perusahaan yang dibuat di muka notaries; b. Rencana susunan organisasi perusahaan; c. Rencana penggunaan tenaga ahli oleh perusahaan; d. Rencana kerja bagi perusahaan dalam garis besar; e. Rancangan perjanjian kerja sama dengan pihak asing dalam hal terdapat penyertaan langsung oleh pihak asing; f. Program Asuransi yang akan dipasarkan dan rencana reasuransinya, khusus bagi Perusahaan Asuransi; g. Bukti penempatan deposito sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1). (4).Persetujuan prinsip sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a berlaku untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. (5) Permohonan izin usaha perusahaan perasuransian disampaikan kepada Menteri dengan melampirkan: a. Anggaran dasar perusahaan yang telah mendapat pengesahan dari instansi yang berwenang.

176 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

b. Susunan organisasi perusahaan; c. Bukti pemenuhan penyetoran modal disetor; d. Surat pengangkatan tenaga ahli yang dipekerjakan oleh perusahaan. e. Program kerja serta rincian persiapan yang telah dilakukan; f. Perjanjian kerjasama dengan pihak asing dalam terdapat penyertaan langsung oleh pihak asing; g. Contoh polis, perhitungan premi dan perjanjian reasuransi dari program asuransi yang akan dipasarkan, bagi perusahaan asuransi; h. Perjanjian retrosesi bagi perusahaan reasuransi; i. Perjanjian keagenan dengan perusahaan asuransi yang diageni, bagi Perusahaan Agen asuransi. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (3) dan ayat (5) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 10 Izin usaha Perusahaan Perasuransian dapat dicabut apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal izin usaha ditetapkan, Perusahaan Perasuransian yang bersangkutan tidak menjalankan usahanya. BAB IV KESEHATAN KEUANGAN Pasal 11

Lampiran

177

(1) Perusahaan

Asuransi dan Perusahaan Reasuransi setip saat wajib menjaga tingkat solvabilitas. (2) Tingkat solvabilitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah selisih antara kekayaan yang diperkenankan dengan jumlah kewajiban dan modal disetor yang dipersyaratkan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tingkat solvabilitas dan kekayaan yang diperkenankan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 12 (1) Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi harus memiliki dan menerapkan Retensi sendiri yang besarnya didasarkan pada kemampuan keuangan dan tingkat risiko yang dihadapi. (2) Perusahaan Asuransi Kerugian dan Perusahaan Reasuransi harus menjaga perimbangan yang sehat antara jumlah premi neto dengan jumlah premi bruto, dan perimbangan antara jumlah premi neto dengan modal sendiri. (3) Perusahaan Asuransi Jiwa yang menyelenggarakan program asuransi kecelakaan diri dan program asuransi kesehatan harus menjaga perimbangan yang sehat antara jumlah premi neto dengan jumlah premi bruto yang berasal dari program termaksud, dan perimbangan

178 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

antara jumlah premi neto yang berasal dari program termaksud dengan modal sendiri. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) ditentukan oleh Menteri. Pasal 13 (1) Investasi Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi wajib dilakukan pada jenis investasi yang aman dan menguntungkan serta memiliki tingkat likuiditas yang sesuai dengan kewajiban yang harus dipenuhi; (2) Menteri menetapkan jenis-jenis investasi yang tidak boleh dilakukan oleh perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Pasal 14 (1) Setiap Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi harus membentuk cadangan teknis asuransi sesuai dengan jenis asuransi yang diselenggarakan yaitu: a. Cadangan teknis asuransi kerugian yang terdiri dari cadangan atas premi yang belum merupakan pendapatan dan cadangan klaim. b. Cadangan teknis asuransi jiwa terdiri dari cadangan premi, cadangan premi anuitas, cadangan atas premi yang belum merupakan pendapatan dan cadangan klaim.

Lampiran

179

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1)

ditetapkan oleh Menteri. Pasal 15 (1) Setiap penutupan asuransi yang jumlah uang pertanggungannya melebihi retensi sendiri harus memperoleh dukungan reasuransi. (2) Penempatan reasuransi ke luar negeri, baik yang dilakukan langsung oleh Perusahaan Asuransi maupun yang dilakukan melalui perusahaan pialang reasuransi, hanya dapat dilakukan kepada penanggung ulang yang oleh Perusahaan Asuransi yang bersangkutan dapat dibuktikan telah memenuhi persyaratan. (3) Ketentuan sebagaimana dimkasud dalam ayat (2) berlaku pula dalam hal penempatan retrosesi ke luar negeri oleh Perusahaan Reasuransi dan Perusahaan Asuransi. (4) Jumlah premi penutupan langsung Perusahaan Asuransi harus lebih besar daripada jumlah premi penutupan tidak langsung. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 16

180 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

(1) Setiap perjanjian reasuransi harus dibuat secara tertulis dan tidak merupakan perjanjian yang menjanjikan keuntungan pasti bagi penanggungan ulangnya. (2) Dalam perjanjian reasuransi harus dinyatakan bahwa dalam hal perusahaan asuransi dilikuidasi, hak dan kewajiban Perusahaan Asuransi yang timbul dalam transaksi reasuransi sampai dengan saat Perusahaan Asuransi dilikuidasi, diselesaikan oleh likuidator.

BAB IV PENYELENGGARAAN USAHA Pasal 17 Dalam setiap pemasaran asuransi harus diungkapkan informasi yang relevan, tidak ada yang bertentangan dengan persyaratan yang dicantumkan dalam polis, dan tidak menyesatkan. Pasal 18 (1) Perusahaan Asuransi harus lebih dahulu melaporkan kepada Menteri setiap program asuransi baru yang akan dipasarkan. (2) Perusahaan Asuransi dilarang memasarkan program asuransi baru yang

Lampiran

181

tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dan Pasal 20. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 19 (1) Polis atau bentuk perjanjian asuransi dengan nama apapun, berikut lampiran yang merupakan satu kesatuan dengannya, tidak boleh mengandung kata, kata-kata, atau kalimat yang dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda mengenai risiko yang ditutup asuransinya, kewajiban penanggung dan kewajiban tertanggung, atau mempersulit tertanggung mengurus haknya. (2) Dalam polis atau dokumen yang merupakan kesatuan dengannya harus dimuat rincian mengenai bagian premi yang diteruskan kepada Perusahaan Asuransi dan bagian premi yang dibayarkan kepada Perusahaan Pialang Asuransi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 20 (1) Premi harus ditetapkan pada tingkat yang mencukupi, tidak berlebihan, dan tidak diterapkan secara diskriminatif.

182 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

(2) Tingkat premi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dinilai tidak mencukupi apabila: a. sedemikian rendah sehingga sangat tidak sebanding dengan manfaat yang diperjanjikan dalam polis asuransi yang bersangkutan; b. penerapan tingkat premi secara berkelanjutan akan membahayakan tingkat solvabilitas perusahaan; c. penerapan tingkat premi secara berkelanjutan akan dapat merusak iklim kompetisi yang sehat; (3) Tingkat premi sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) dinilai berlebihan apabila sedemikian tinggi, sehingga sangat tidak sebanding dengan manfaat yang diperjanjikan dalam polis asuransi yang bersangkutan. (4) Penerapan tingkat premi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dinilai bersifat diskriminatif apabila tertanggung dengan luas penutupan yang sama serta dengan jenis dan tingkat risiko yang sama dikenakan tingkat premi yang berbeda. Pasal 21 (1) Penetapan premi asuransi harus didasarkan pada perhitungan analisis risiko yang sehat. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) ditetapkan oleh Menteri.

Lampiran

183

Pasal 22 (1) Premi asuransi dapat dibayarkan langsung kepada Perusahaan Asuransi, atau melalui Perusahaan Pialang Asuransi untuk kepentingan tertanggung. (2) Dalam hal premi asuransi dibayarkan melalui Perusahaan Pialang, Perusahaan Pialang Asuransi wajib menyerahkan premi tersebut kepada Perusahaan Asuransi sebelum berakhirnya tenggang waktu pembayaran premi yang ditetapkan dalam polis asuransi yang bersangkutan. (3) Dalam hal penyerahan premi oleh Perusahaan Pialang Asuransi dilakukan setelah berakhirnya tenggang waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), Perusahaan Pialang Asuransi yang bersangkutan wajib bertanggung jawab atas pembayaran klaim yang timbul dari kerugian yang terjadi dalam jangka waktu antara habisnya tenggang waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) sampai dengan diserahkannya premi kepada perusahaan asuransi.

Pasal 23 (1) Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi dilarang melakukan tindakan yang dapat memperlambat penyelesaian

184 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

atau pembayaran klaim, atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan yang dapat mengakibatkan kelambatan penyelesaian atau pembayaran klaim. (2) Tertanggung dalam melakukan pengurusan penyelesaian klaim dapat menunjuk pihak lain, termasuk Perusahaan Pialang Asuransi yang dipergunakan jasanya oleh tertanggung dalam penutupan asuransi yang bersangkutan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 24 (1) Perusahaan Pialang asuransi wajib memberikan keterangan yang sejelasjelasnya kepada penanggung tentang objek asuransi yang dipertanggungkan, dan wajib menjelaskan secara benar kepada tertanggung tentang ketentuan isi polis, termasuk mengenai hak dan kewajiban tertanggung. (2) Perusahaan Pialang Asuransi dilarang menerbitkan dokumen penutupan sementara dan atau polis asuransi. (3) Perusahaan Pialang asuransi harus menjaga perimbangan yang sehat antara premi yang belum disetor kepada Perusahaan Asuransi dan jumlah modal sendiri.

Lampiran

185

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (3) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 25 (1) Perusahaan Pialang Reasuransi wajib memberikan keterangan yang sejelasjelasnya kepada penanggung ulang tentang objek asuransi yang dipertanggungkan, serta kepada penanggung tentang hak dan kewajibannya. (2) Perusahaan Pialang Reasuransi yang menerima pembayaran premi dari penanggung wajib menyetorkan kepada penanggung ulang sesuai dengan tenggang waktu pembayaran premi sebagaimana yang tertera dalam perjanjian reasuransi. Pasal 26 (1) Setiap penilai kerugian asuransi dalam menjalankan usahanya harus mempergunakan keahlian berdasarkan norma profesi yang berlaku. (2) Setiap Konsultan Aktuaria dalam menjalankan kegiatan usahanya harus mempergunakan keahlian berdasarkan norma profesi yang berlaku. (3) Menteri dapat memberikan arahan bagi penilai kerugian asuransi dan konsultan aktuaria dalam menyusun norma profesi

186 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). Pasal 27 (1) Setiap agen asuransi hanya dapat menjadi agen dari 1 (satu) Perusahaan Asuransi. (2) Agen asuransi wajib memiliki perjanjian keagenan dengan perusahaan asuransi yang diageni. (3) Semua tindakan agen asuransi yang berkenaan dengan transaksi asuransi menjadi tanggung jawab Perusahaan Asuransi yang diageni. (4) Agen asuransi dalam menjalankan kegiatannya harus memberikan keterangan yang benar dan jelas kepada calon tertanggung tentang program asuransi yang dipasarkan dan ketentuan isi polis, termasuk mengenai hak dan kewajiban calon tertanggung. Pasal 28 (1) Perusahaan Perasuransian dapat menggunakan tenaga asing sebagai tenaga ahli, penasehat atau konsultan yang penggunaannya: a. hanya untuk melaksanakan proyek atau program tertentu yang berkaitan dengan kegiatan operasional di bidang perasuransian; dan

Lampiran

187

waktu untuk proyek atau program sebagaimana dimaksud dalam huruf a paling lama 5 (lima) tahun. (2) Perusahaan Perasuransian yang di dalamnya terdapat penyertaan langsung oleh pihak asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dapat menggunakan tenaga asing sebagai eksekutif di luar pengurus dengan memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. tenaga asing tersebut menduduki jabatan yang belum dapat diisi oleh tenaga kerja warga Negara Indonesia. b. Mempunyai program Indonesianisasi yang jelas melalui pendidikan dan latihan. (3) Di samping persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), penggunaan tenaga kerja asing serta tatacara penggunaannya mengikuti peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 29 (1) Setiap pembukaan kantor cabang Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi yang dalam kenyataannya memiliki kewenangan untuk menerima atau menolak penutupan asuransi dan atau

b. jangka

188 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

menolak penutupan asuransi dan atau menanda tangani polis dan atau menetapkan untuk membayar atau menolak klaim, harus lebih dahulu memperoleh izin dari Menteri. (2) Untuk memperoleh izin pembukaan kantor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi harus memenuhi ketentuan tingkat solvabilitas. (3) Kantor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memiliki tenaga ahli, sistem administrasi dan sistem pengololaan data yang memadai. (4) Setiap pembukaan kantor Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi selain kantor cabang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), harus lebih dahulu dilaporkan kepada Menteri. (5) Setiap pembukaan kantor cabang Perusahaan Penunjang Usaha Asuransi dalam bentuk atau dengan nama apa pun harus lebih dahulu dilaporkan kepada Menteri. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 30 (1) Izin pembukaan kantor cabang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dapat dicabut apabila dalam jangka waktu 2 (dua) bulan terhitung sejak

Lampiran

189

tanggal izin pembukaan kantor cabang ditetapkan, kantor cabang yang bersangkutan tidak menjalankan kegiatan usahanya. (2) Setiap penutupan kantor cabang Perusahaan Perasuransian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 wajib dilaporkan kepada Menteri. Pasal 31 (1) Setiap perubahan terhadap ketentuan persyaratan yang telah dipenuhi dalam rangka pemberian izin usaha, harus lebih dahulu dilaporkan kepada Menteri. (2) Dalam hal perubahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak memenuhi ketentuan Peraturan Pemerintah ini beserta peraturan pelaksanaannya, Menteri memerintahkan dilakukannya perbaikan terhadap perubahan dimaksud agar tetap memenuhi ketentuan yang berlaku. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. BAB VI PENYELENGGARAAN PROGRAM ASURANSI SOSIAL Pasal 32 (1) Program Asuransi Sosial merupakan program asuransi yang diselenggarakan secara wajib berdasarkan suatu undangundang.

190 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

(2) Program

Asuransi Sosial sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negara yang dibentuk khusus untuk itu.

Pasal 33 Perusahaan Asuransi yang menyelenggarakan Program Asuransi Sosial dilarang menyelenggarakan Program asuransi lain selain Program Asuransi Sosial, Pasal 34 Perusahaan Asuransi yang menyelenggarakan program Asuransi Sosial dalam menyelenggarakan usahanya wajib memenuhi ketentuan Peraturan Pemerintah ini beserta peraturan pelaksanaannya. Pasal 35 (1) Perusahaan Asuransi yang telah menyelenggarakan Program Asuransi Sosial pada saat ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini, diwajibkan untuk menyesuaikan kegiatannya. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyesuaian kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) serta jangka waktunya ditetapkan oleh Menteri. BAB VII MERGER DAN KONSOLIDASI Pasal 36

Lampiran

191

(1) Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi yang akan melakukan merger atau konsolidasi harus lebih dahulu memperoleh persetujuan dari Menteri. (2) Merger atau Konsolidasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan antara: a. Perusahaan Asuransi Kerugian dengan Perusahaan Asuransi Kerugian atau dengan Perusahaan Reasuransi, untuk membentuk Perusahaan Asuransi Kerugian. b. Perusahaan Reasuransi dengan Perusahaan Reasuransi atau dengan Perusahaan Asuransi Kerugian, untuk membentuk Perusahaan Reasuransi atau c. Perusahaan Asuransi Jiwa dengan Perusahaan Asuransi Jiwa, untuk membentuk Perusahaan Asuransi Jiwa. (3) Untuk memperoleh persetujuan merger atau konsolidasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dipenuhi ketentuan: a. Merger atau Kosolidasi tersebut tidak mengurangi hak tertanggung. b. Kondisi keuangan perusahaan hasil merger atau kosolidasi harus tetap memenuhi ketentuan mengenai tingkat solvabilitas.

192 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

(4) Tata cara permohonan persetujuan untuk

melakukan merger atau ditetapkan oleh Menteri.

konsolidasi

BAB VIII SANKSI Pasal 37 Setiap Perusahaan Perasuransian yang tidak memenuhi ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini dengan Peraturan pelaksanaannya tentang perizinan usaha, kesehatan keuangan, penyelenggaraan usaha, penyampaian laporan, pengumuman neraca dan perhitungan laba rugi, atau tentang pemeriksaan langsung, dikenakan sanksi peringatan, sanksi pembatasan kegiatan usaha dan sanksi pencabutan izin usaha. Pasal 38 (1) Tanpa mengurangi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, maka terhadap: a. Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi yang tidak menyampaikan laporan keuangan tahunan dan laporan operasional tahunan dan atau tidak mengumumkan neraca dan perhitungan laba rugi, sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan, dikenakan denda administrasi Rp. 1.000.000.00 (satu juta rupiah) untuk setiap hari keterlambatan.

Lampiran

193

Pialang Asuransi atau Perusahaan Pialang Reasuransi yang tidak menyampaikan laporan keuangan tahunan dan laporan operasional tahunan sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan, dikenakan denda administrasi Rp. 500.000.00 (lima ratus ribu rupiah) untuk setiap hari keterlambatan. (2). Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan denda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 39 (1) Pengenaan denda administratif berakhir pada saat pembayaran denda ke kantor Perbendaharaan dan Kas Negara yang diikuti dengan penyampaian laporan keuangan tahunan dan atau pengumuman neraca dan perhitungan laba rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 selambat-lambatnya 2 (dua) hari kerja. (2) Dalam hal laporan keuangan tahunan dan atau laporan operasional tahunan telah disampaikan dan atau neraca dan perhitungan laba rugi telah diumumkan, tetapi perusahaan yang bersangkutan belum membayar denda administratif, denda tersebut dinyatakan sebagai hutang kepada Negara yang harus dicantumkan dalam neraca perusahaan yang bersangkutan.

b. Perusahaan

194 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Pasal 40 Perusahaan Perasuransian yang telah dikenakan denda selama 90 (sembilan puluh) hari keterlambatan, tetapi belum juga menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, dengan tidak membebaskan kewajiban membayar denda yang telah dikenakan untuk jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari termaksud, dikenakan sanksi pembatasan kegiatan usaha. Pasal 41 (1) Pengenaan sanksi peringatan dilakukan oleh Menteri segera setelah diketahui adanya pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37. (2) Pengenaan sanksi peringatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikenakan paling banyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan jangka waktu paling lama masing-masing 1 (satu) bulan. (3) Dalam hal perusahaan telah dikenakan sanksi peringatan terakhir, dan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari setelah peringatan dimaksud perusahaan tetap tidak memenuhi kewajiban yang telah dipersyaratkan, perusahaan yang bersangkutan dikenakan sanksi pembatasan kegiatan usaha. Pasal 42

Lampiran

195

(1) Sanksi

Pembatasan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (3) berlaku sejak tanggal ditetapkan untuk jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan. (2) Dalam hal Menteri menilai diperlukan adanya suatu rencana dari sanksi pembatasan kegiatan usaha, pada saat penetapan pembatasan kegiatan usaha Menteri dapat memerintahkan penyusunan rencana kerja yang harus disampaikan kepada Menteri dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan. (3) Dalam hal Perusahaan Perasuransian dapat mengatasi penyebab dari sanksi pembatasan kegiatan usaha dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Menteri mencabut sanksi pembatasan kegiatan usaha. (4) Dalam hal Perusahaan Perasuransian tidak dapat mengatasi penyebab dari sanksi pembatasan kegiatan usaha dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), atau dan pelaksanaan rencana kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dalam jangka waktu sampai berakhirnya sanksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disimpulkan bahwa perusahaan tidak mampu atau tidak bersedia mengatasi penyebab dari sanksi termaksud, Menteri mencabut izin usaha perusahaan yang bersangkutan.

196 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Pasal 43 (1) Menteri dapat mencabut izin usaha Perusahaan Pialang Asuransi yang diwajibkan membayar klaim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3). (2) Tanpa mengurangi berlakunya ketentuan Pasal 41 dan Pasal 42 pencabutan izin usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan tahapan pelaksanaan sebagai berikut: a. Pengenaan sanksi peringatan dilakukan oleh Menteri segera setelah diketahui adanya kewajiban pembayaran klaim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3). b. Pengenaan sanksi pembatasan kegiatan usaha dilakukan oleh Menteri apabila Perusahaan Pialang Asuransi tidak memenuhi kewajiban pembayaran klaim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3) dalam jangka waktu 1 (satu) bulan setelah ditetapkannya sanksi peringatan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. c. Pengenaan sanksi pencabutan izin usaha dilakukan oleh Menteri apabila Perusahaan Pialang Asuransi tidak memenuhi kewajiban pembayaran klaim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3) dalam jangka waktu 1 (satu) bulan setelah ditetapkannya

Lampiran

197

sanksi pembatasan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam huruf b. d. Dalam Perusahaan Pialang asuransi dapat memenuhi kewajiban membayar klaim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3) sebelum ditetapkannya sanksi pencabutan izin usaha sebagaimana dimaksud dalam huruf c, Menteri mencabut sanksi pembatasan kegiatan usaha. (3) Dalam hal terdapat Perusahaan Pialang Asuransi yang diwajibkan membayar klaim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3) untuk kedua kalinya, maka pelanggaran yang dilakukan oleh Perusahaan Pialang Asuransi yang bersangkutan dianggab sebagai kelanjutan dari pelanggaran sebelumnya dan pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan mengikuti dengan kelanjutan tahapan pelaksanaan pengenaan sanksi yang pernah dilakukan tanpa harus mengulangi dari tahap pemberian peringatan. BAB IX KETENTUAN PERALIHAN Pasal 44

198 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

(1) Bagi Perusahaan Perasuransian yang telah

mendapat izin usaha pada saat Peraturan Pemerintah ini ditetapkan, izin usahanya dinyatakan tetap berlaku, dan diwajibkan menyesuaikan diri dengan ketentuanketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini serta peraturan pelaksanaannya . (2) Perusahaan Pialang Asuransi yang telah mendapat izin usaha pada saat Peraturan Pemerintah ini ditetapkan, wajib memperbarui izin usahanya sebagai Perusahaan Pialang Asuransi atau Perusahaan Pialang Reasuransi. (3) Penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 45 Peraturan Pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 40 Tahun 1988 Tentang Usaha di Bidang Asuransi Kerugian serta ketentuan lainnya masih berlaku sampai dengan diberlakukannya peraturan perundang-undangan yang menggantikannya berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 46 Dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini, Keputusan Presiden Nomor 40 Tahun 1988

Lampiran

199

tentang Usaha di Bidang Asuransi dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 47 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penetapannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 30 Oktober 1992 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di : Jakarta Pada tanggal : 30 Oktober 1992 MENTERI SEKRETARIS NEGARA RI ttd MOERDIONO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1992 NOMOR 120

200 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

RIWAYAT PENULIS
Herinawati, S.H.,M.Hum lahir di Lhoksukon, 15 Januari 1976, menamatkan Sekolah Dasar di SD Negeri No. 4 Lhoksukon (1988), menamatkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri No. 1 Lhoksukon (1991), menamatkan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri No. 1 Lhoksukon (1994), kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Program Studi Ilmu Hukum selesai tahun 2000, kemudian melanjutkan pendidikan Magister (S2) di Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara Medan, Konsentrasi Hukum Perdata selesai tahun 2005. Penulis adalah seorang dosen di Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, mulai mengajar sejak menjelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh. Menjadi Asisten Dosen di fakultas Hukum Universitas malikussaleh (2001), kemudian tahun 2002 diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil sebagai staf pengajar di Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh sampai sekarang. Penulis selain sebagai staf pengajar juga pernah menjabat sebagai Kabag. TU di Fakultas Universitas Malikussaleh (2003), kemudian menjabat sebagai Ketua Bagian Litigasi Laboratorium Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh (2007 sampai sekarang). Di samping itu juga pernah melakukan beberapa

Riwayat Penulis

201

penelitian seperti Pelaksanaan Eksekusi Perkara Perdata Objek Perkara di Tangan Pihak ketiga, Penanggulangan Limbah Pabrik PT. Pupuk Iskandar Muda serta Dampaknya terhadap Masyarakat Sekitarnya, Analisis Hukum Mengenai Pengaturan Reorganisasi Perusahaan dalam Kaitannya dengan Hukum Kepailitan, Aspek Yuridis Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa, Pelaksanaan Ketentuan Pasal 7 UU N0. 56 Prp Tahun 1960 Tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian terhadap Gadai Tanah di Kecamatan Baktiya Aceh Utara, Kontradiksi Status Hukum Perkawinan Beda Agama di Indonesia dilihat dari Perundangan, Agama dengan Putusan Mahkamah Agung.

202 Perjanjian Unit Link dalam Asuransi Jiwa; Tinjauan Aspek Hukum &
Bisnis

Riwayat Penulis

203

Anda mungkin juga menyukai