Anda di halaman 1dari 18

EKSTRAK BUNGA PACAR AIR (Impatiens basalmina) SEBAGAI INDIKATOR SEDERHANA UJI FORMALIN

ABSTRAK

Salah satu kemajuan yang memiliki dampak positif dan negatif adalah kemajuan di bidang pengolahan makanan yang biasanya menggunakan zat pengawet, baik alami maupun sintetis. Penggunaan bahan pengawet yang aman bagi kesehatan mulai berkurang. Hal ini disebabkan harga pengawet tersebut cukup tinggi dibandingkan jenis formalin. Senyawa ini termasuk disinfektan kuat yang dapat membasmi berbagai bakteri pembusuk, namun berbahaya bagi kesehatan jika digunakan dalam bahan makanan. Oleh sebab itu pengujian sederhana terhadap formalin sangat diperlukan. Berdasarkan hal tersebut memunculkan adanya inovasi dalam pengujian sederhana pada formalin dengan ekstrak bunga dari tanaman Pacar Air (Impatiens basalmina) yang mengandung antosianin, untuk pengujian asam- basa. Adapun tujuan penelitian untuk mengetahui potensi Ekstrak Bunga Pacar Air sebagai indikator sederhana pengujian formalin pada makanan Metode penelitian secara eksperimental meliputi variabel dan analisis, serta cara kerja. Penelitian dilakukan dengan membandingkan tahu berformalin dan non formalin dengan menggunakan ekstrak bunga pacar air. Hasil penelitian menunjukan bahwa tahu yang berformalin akan merubah kertas saring menjadi merah muda karena mengandung asam, dan tahu non fomalin merubah kertas saring menjadi ungu kebiruan karena mengandung basa. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak bunga Pacar Air ( Impatiens basalmina) berpotensi sebagai indikator sederhana pengujian formalin pada makanan.

Kata Kunci : Formalin, Antosianin, Pacar Air, Impatiens basalmina


1

EXTRACT OF FLOWER PACAR AIR (Impatiens basalmina) AS SIMPLE INDICATOR FORMALIN TEST

ABSTRAK

One of the advances that have positive and negative effects is the progress in the field of food processing typically use preservatives, both natural and synthetic. The use of preservatives is safe for health began to decline. This is due to the relatively high price of preservatives than other types of formalin. These compounds include a powerful disinfectant that can kill a variety of bacterial decay, but harmful to health when used in foodstuffs. Therefore, a simple test of the formalin is necessary. Based on that led to the innovation in a simple test on formalin with flower extracts from plants Pacar Air (Impatiens basalmina), which containing anthocyanin, for testing of acid-base balance. The purpose of the study to determine the potential Flower Extract with water as a simple indicator of formaldehyde in food testing. Experimental research methods include variables and analysis, as well as ways of working. The study was conducted by comparing knows formalin andnon-formalin using Pacar Air flower extract. The results showed that formalin know that will change the filter paper to pink because it contains acid and non fomalin change out the filter paper becomes bluish purple because it contains bases. It can be concluded that the extract of flower Pacar Air (Impatiens basalmina) has potential as a simple indicator of formalin test on the food.

Key words: Formalin, Anthocyanins, Pacar Air, Impatiens basalmina


2
I.PENDAHULUAN

Perkembangan zaman menghasilkan berbagai ide dan inovasi baru. Keadaan tersebut membawa manusia pada bebagai kemajuan di bidang ekonomi, kesehatan, bioteknologi dan lain sebagainya. Salah satu kemajuan yang memiliki dampak positif dan negatif adalah kemajuan di bidang pengolahan makanan, yaitu dalam bentuk

kaleng maupun botol. Teknologi pengolahan makanan ini biasanya menggunakan zat pengawet, baik alami maupun sintetis. Bahan pengawet dicampurkan dalam makanan untuk memperpanjang daya tahan suatu makanan.

Bahan pengawet makanan adalah bahan (senyawa) yang ditambahkan ke dalam makanan dan minuman yang bertujuan untuk mencegah atau menghambat terjadinya kerusakan makanan oleh kehadiran organisme. Tujuan umum pemberian bahan pengawet ke dalam makanan dan minuman adalah untuk memelihara kesegaran dan mencegah kerusakan makanan atau bahan makanan. Zat pengawet alami aman digunakan untuk makanan dan tidak bersifat toksik, seperti gula, garam, cuka, kunyit dan bahan alami lainnya. Pengawet sintetis yang aman digunakan untuk makanan diantaranya Asam Benzoat, Kalium Nitrit, Kalium Propionat, BHA, Natrium Metasulfat, Asam Propionat, Asam Askorbat dan Kalium Asetat. Beberapa pengawet makanan dan minuman yang diizinkan berdasarkan Permenkes No. 722/1988 adalah berupa senyawa kimia seperti asam benzoate,
3

kalium bisulfit, kalium meta bisulfit, kalkum nitrat, kalium nitrit, belerang dioksida, asam sorbat, asam propionate, kalium propionate, kalium sorbat, kalium sulfite, kalsium benzoit, kalsium propionate, kalsium sorbat, natrium benzoate, metal-p-hidroksi benzoit, natrium bisulfit, natrium metabisulfit, natrium nitrat, natrium nitrit, natrium propionate, natrium sulfite, nisin, danpropel-p-hidroksibenzoat. Namun penggunaannya harus sesuai dengan

takaran yang dianjurkan, karena jika digunakan dalam takaran yang berlebihan dapat berbahaya bagi kesehatan. Penggunaan bahan pengawet yang aman bagi kesehatan mulai berkurang. Hal ini disebabkan harga pengawet tersebut cukup tinggi dibandingkan jenis formalin. Selain murah dari segi harga, penggunaan formalin dapat memperbaiki tekstur makanan. Beberapa makanan ditemukan menggunakan formalin diantaranya bakso, kerupuk, ikan, tahu, mie dan daging ayam. Formalin termasuk kelompok senyawa disinfektan kuat yang dapat membasmi berbagai bakteri pembusuk dan biasanya digunakan sebagai pengawet mayat. Penggunaan formalin dalam bahan makanan sangat berbahaya karena dapat menyebabkan gejala langsung, seperti rasa panas pada mulut; kerongkongan; isophagus dan lambung. Selain itu, gejala lain yang ditimbulkan adalah rasa sakit yang sangat, pingsan mendadak, diare, kerusakan hati, bahkan kematian.
4

Bahaya memunculkan larangan penggunaan formalin pada bahan makanan. Namun pada kenyataannya, di pasaran masih banyak ditemukan berbagai makanan yang masih menggandung formalin. Oleh sebab itu, berbagai upaya pengujian banyak dilakukan untuk mengurangi peredaran makanan berformalin di masyarakat. Pengujian formalin yang dilakukan diantaranya dengen analisis spektrofotometer visibel, maupun dengan menggunakan reagensia seperti Fuchsin, Reagen Tollens, Fehling, KMnO4 0,1 N + NaHSO3

0,1 N dan KMnO4 0,1 N. Pengujian tersebut masih terbatas skala laboratorium, sehingga masyarakat umum sulit untuk menguji secara mandiri. Berdasarkan hal tersebut, perlu adanya pengujian sederhana terhadap formalin yang dapat dilakukan oleh masyarakat umum, dengan cara yang mudah dan biaya yang murah. Adapun inovasi yang ditawarkan adalah dengan menggunakan ekstrak bunga dari tanaman Pacar Air (Impatiens basalmina) yang berpotensi sebagai indikator sederhana uji formalin pada makanan. Bunga pacar air mengandung antosianin yang dapat digunakan dalam pengujian asam basa. Sehingga diharapkan inovasi tersebut dapat mempermudah masyarakat untuk membedakan antara makanan berformalin dan non formalin.

II.TUJUAN

Untuk mengetahui potensi Ekstrak Bunga Pacar Air (Impatiens basalmina) sebagai indikator sederhana pengujian formalin pada makanan.
5

III.DASAR TEORI

A. FORMALIN

Formalin adalah nama dagang dari campuran formaldehid, metanol dan air. Formalin yang beredar di pasaran mempunyai kadar formaldehid yang bervariasi, antara 20% 40%. Formalin atau senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal), merupakan aldehida berbentuknya gas dengan rumus kimia H2CO, yang biasanya ditambahkan 1015% metanol sebagai stabilisator. Formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung karbon yang terkandung dalam asap pada kebakaran hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau. Formaldehida dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan sebagai metabolit kebanyakan organisme, termasuk manusia. Larutan formaldehid mempunyai nama dagang formalin, formol, atau mikrobisida. Formalin merupakan cairan jernih tidak berwarna dengan bau yang menusuk, uap dapat merangsang selaput lendir hidung, tenggorokan dan mempunyai rasa yang membakar. Bobot tiap milliliter adalah 1,08 gram dan dapat bercampur dengan air dan alkohol, tetapi tidak bercampur dengan kloroform dan eter.

Gambar 1. Struktur Kimia Formalin


6

Formalin merupakan larutan yang digunakan sebagai desinfektan. Selain itu juga digunakan dalam industri tekstil untuk mencegah bahan menjadi kusut dan meningkatkan

ketahanan bahan tenunan. Besarnya manfaat formalin di bidang industri ternyata disalahgunakan untuk penggunaan pengawetan industri makanan. Biasanya hal ini sering ditemukan dalam industri rumahan karena mereka tidak terdaftar dan tidak terpantau oleh Depkes dan Balai POM. Beberapa makanan yang biasanya ditambahkan dengan formalin adalah bakso, kerupuk, ikan, tahu, mie dan daging ayam. Formalin sangat berbahaya jika terakumulasi di dalam tubuh, tidak hanya dikonsumsi melainkan kontak terhadap formalin. Gangguan kesehatan yang terjadi akibat kontak dengan formalin tergantung pada cara masuk zat tersebut dalam tubuh. Kontak dengan formalin dapat menyebabkan luka bakar jika mengenai kulit, iritasi pada saluran pernafasan bila terhirup uapnya dalam konsentrasi yang tinggi, maupun reaksi alergi dan bahaya kanker. Sedangkan penggunaan formalin dalam bahan makanan sangat berbahaya karena dapat menyebabkan gejala langsung, seperti rasa panas pada mulut; kerongkongan; isophagus dan lambung. Selain itu, gejala lain yang ditimbulkan adalah rasa sakit yang sangat, pingsan mendadak, diare, kerusakan hati dan gangguan pada saluran pencernaan. Penggunaan formalin dalam dosis tinggi dapat menyebabkan konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah dan haematomesis (muntah darah) yang berakhir dengan kematian dalam waktu 3 jam.
7

B.ANTOSIAN IN

Antosianin adal ah suatu kelas dari senyawa flavonoid yang s ecara luas terbagi dalam polifenol tumbuhan. Flavonoid, flavan-3-ol, flavon, flavanon dan flavanonol adalah kelas tambahan flavonoid yang berbeda dalam ok sidasi dari antosianin.

Gambar 2. Struktur Kimia Antosianin Secara kimia, antosianin merupakan sub-tipe senyawa organik dari keluarga flavonoid dan merupakan anggota kelompok senyawa yang lebih besar yaitu polifenol. Beberapa senyawa antosianin yang banyak ditemukkan adalah pelargonidin, peonidin, sianidin, malvidin, petunidin dan delfinidin. Antosianin merupakan senyawa fl avonoid yang memiliki kemampuan sebagai antioksidan. Umumnya senyawa flavonoid berfungsi sebagai antioksidan primer, ch elator dan scavenger terhadap superoksida anion.

Aktivitas antioksidan antosianin dipengaruhi oleh sistem yang digunakan sebagai substrat dan kondisi yang dipergunakan untuk mengkatalisis reaksi oksidasi. Antosianin

bersifat amfoter yang memiliki kemampuan untu k bereaksi baik dengan asam mau pun dalam basa. Dalam media asam, antosianin berwarna merah seperti halnya sa at dalam vakuola sel dan berubah menjadi ung u dan biru
8

jika media bertambah basa. Perubahan warna karena perubahan kondisi lingkungan ini tergantung dari gugus yang terikat pada struktur dasar dari posisi ikatannya. Kadar keasaman (pH) suatu sistem akan sangat mempengaruhi aktivitas antioksidan antosianin. pH juga akan mempengaruhi stabilitas dari antosianin disamping berpengaruh terhadap warna dari antosianin tersebut. Senyawa tersebut lebih stabil pada pH asam dibanding dalam pH netral atau basa. Warna yang ditimbulkan oleh antosianin tergantung dari tingkat keasaman (pH) lingkungan sekitar sehingga pigmen ini dapat dijadikan sebagai indikator pH melalui uji titrasi asam basa. Warna yang ditimbulkan adalah merah (pH 1), biru kemerahan (pH 4), ungu (pH 6), biru (pH 8), hijau (pH 12), dan kuning (pH 13). Dalam suasana asam, antosianin berwarna merah-oranye sedangkan dalam suasana basa antosianin berwarna merah muda/pink, merah, merah tua hingga ke arah jingga.

Antosianin adalah pigmen larut air yang secara alami terdapat pada berbagai jenis tumbuhan. Sesuai namanya (bahasa inggris: anthocyanin, dari gabungan kata

Yunani: anthos: bunga dan cyanos: biru), pigmen ini memberikan warna pada bunga, buah dan daun tumbuhan hijau. Antosianin telah banyak digunakan sebagai pewarna, khususnya minuman, karena banyak pewarna sintetis diketahui bersifat toksik dan karsinogenik. Menurut JEFCA (Join

FAO/WHO Expert ommitte on Food Additives) telah menyatakan bahwa ekstrak yang mengandung antosianin efek toksisitasnya rendah. Antosianin juga
9

bermanfaat bagi kesehatan manusia, termasuk mengurangi resiko penyakit jantung koroner, resiko stroke, aktifitas antikarsinogen, efek anti-inflammatory,memperbaiki ketajaman mata dan memperbaiki perilaku kognitif. Antosianin banyak ditemukan pada pangan nabati yang berwarna merah, ungu, merah gelap seperti pada beberapa buah, sayur maupun umbi. Beberapa sumber antosianin telah dilaporkan seperti buah mulberry, blueberry, cherry, blackberry, rosela, kulit dan sari buah anggur. Antosianin juga terdapat pada beberapa jenis bunga seperti bunga kana, bunga mawar, bunga kembang sepatu dan mahkota bunga pacar air. Pigmen antosianin bunga pacar air merah efektif diekstrak dengan pelarut air (aquades) dan asam sitrat dengan perbandingan 9:1. C. PACAR AIR (Impatiens basalmina) Pacar air (Impatiens basalmina) adalah tanaman yang berasal dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Tanaman ini termasuk herba dengan batang basah dan tergolong dalam famili Balsaminaceae. Pacar air bersinonim dengan I. Corcuta L., I. Mutila Dc., I.

Trifora Blanco, Basalmina mutila Dc. Nama daerah pacar air antara lain : Kimhong (Jakarta), Lahine dan Parunai (Sumatera), Pacar cai, Pacar Air, Pacar Banyu (Jawa), Pacar Foya, Pacar Aik (Nusa Tenggara), Tilanggele Duluku dan Kolending Ungga-Ayu (Sulawesi), Bunga Jebelu, Glabebe, Gofu, Laka dan Bunga Tahoianai Anyer (Maluku).

Tanaman ini adalah tanaman tahunan atau dua tahunan dan memiliki bunga yang berwarna putih, merah, ungu atau merah jambu. Bentuk bunganya
10

menyerupai bunga anggrek kecil dengan batang yang tebal dan daun yang bergerigi di bagian tepinya. Adapun klasifikasi Pacar Air (Impatiens basalmina) : Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan Berpembuluh) Super Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Speses : Spermatophyta (Tumbuhan Berbunga) : Magnoliopsida (Berkeping Dua) : Rosidae : Geraniales : Balsaminaceae : Impatiens : Impatiens basalmina L. . Di Indoensia, tanaman ini sangat mudah ditemukan dan sering dipakai sebagai tanaman hias maupun dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Bagian tanaman pacar air yang

dapat digunakan sebagai obat adalah bagian biji, bunga, daun dan akar karena memiliki kandungan kimia yang berkhasiat.

Gambar 3. Tanaman Pacar Air (Impatiens basalmina)


11

Biji bermanfaat sebagai peluruh haid (emenagog), terlambat datang haid (amenorrhea), mempermudah persalinan (parturifasien) dan kanker saluran pencernaan bagian atas. Bunga berkhasiat untuk mengobati tekanan darah tinggi (hipertensi), pembengkakan akibat terpukul (hematoma), bisul (furunculosis), rematik sendi, gigitan ular berbisa, radang kulit. Bagian daun untuk mengobati keputihan (leucorrhoea), nyeri haid (dysmenorrhoea), radang usus buntu kronis (cronic appendicitis), tulang patah / retak (fraktur) dan radang kulit (dermatitis). Sedangkan akar digunakan sebagai peluruh haid, antiinflamasi (antiradang), kaku leher dan sakit pinggang (lumbago). Biji terdapat kandungan kimia berupa saponin dan fixed oil. Bunga mengandung anthocyanins (antosianin), cyanidin, delphinidin, pelargonidin, malvidin, kaemphenol,

quercetin. Daun mengandung minyak atsiri, alkaloid, damar, garam mineral dan tanin. Sedangkan akar mengandung cynadin mono- glicoside.

IV. MATERI DAN METODE A.MATERI Materi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat dan bahan yang berupa :
1.Alat -Mortar dan Pastle, untuk menghaluskan bahan -Pipet tetes, untuk mengambil larutan 12 -Cawan petri, untuk menempatkan bahan yang akan diuji -Kertas saring, untuk mempermudah pengamatan warna -Gunting, untuk memotong kertas saring -Kamera digital, untuk mendokumentasi kegiatan penelitian -Alat tulis, untuk mempermudah dalam pengumpulan data. 2.Bahan -Bunga Pacar Air (Impatiens basalmina), untuk bahan ekstraksi -Air, untuk pelarut ekstraksi -Tahu, untuk bahan pengujian formalin -Formalin, untuk membedakan tahu berformalin dan non formalin -Jeruk nipis, untuk diperas dan diambil sarinya sebagai pengganti asam sitrat.

B.METODE Metode penelitian secara eksperimental meliputi variabel dan analisis, serta cara kerja. 1.Variabel dan analisis Variabel yang digunakan antara membandingkan perlakuan dan ulangan, dengan analisis deskriptif. 2.Cara Kerja
-Tahu sebanyak 9 buah disiapkan dalam praktikum ini, dengan 6 buah tahu direndam dalam

formalin dan 3 tahu tidak direndam


13 -Tahu direndam dalam formalin selama 10 menit -Bunga pacar air dihaluskan dengan menggunakan mortar dan pastle, kemudian ditambahkan

air sebanyak 6 ml sebagai pelarut


-Ekstrak bunga pacar air diambil sebanyak 4,5 ml; kemudian dicampur dengan air perasan jeruk

nipis sebanyak 0,5 ml


-Kertas saring yang telah dipotong persegi, direndam dalam campuran ekstrak pacar air dan

perasan jeruk nipis selama 5 menit. Hingga kertas saring barwarna ungu merata.
-Letakan 9 tahu yang telah disiapkan ke masing-masing cawan petri untuk pengamatan -Perlakuan yang dilakukan dalam penelitian, antara lain : Cawan A : Tahu non formalin yang

diberi kertas saring yang

tidak direndam dalam ekstrak pacar air. Cawan B : Tahu non formalin yang diberi kertas saring dengan ekstrak pacar air. Cawan C : Tahu berformalin yang diberi kertas saring dengan ekstrak pacar air.
-Penelitian dilakukan 3 kali ulangan pada masing-masingperlakuan -Amati perubahan kertas warna setelah 15 menit. 14

V.HASIL DAN PEMBAHASAN A.HASIL Berdasarkan pengamatan selama penelitian, didapat data sebagai berikut :

Tabel 1. Pengamatan Warna Kertas dari Berbagai Perlakuan dan Ulangan Perlakuan Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3 A
Putih Putih Putih

B Ungu kebiruan Ungu tua Ungu kebiruan

C Ungu muda Ungu muda Merah muda

Gambar 4. Tahu dengan Perlakuan A

Gambar 5. Tahu dengan Perlakuan B

Gambar 6. Tahu dengan Perlakuan C


15

Data penelitian menunjukan pada perlakuan A dengan tahu non formalin dan kertas saring tanpa ekstrak, menghasilkan warna putih atau tetap tanpa perubahan. Perlakuan B dengan tahu non formalin dan kertas saring dengan ekstrak, menghasilkan warna ungu tua hingga ungu kebiruan. Sedangkan perlakuan C dengan tahu berformalin dan kertas saring dengan ekstrak, menghasilkan warna ungu muda hingga merah muda. B.PEMBAHASAN Warna yang ditimbulkan dari perlakuan berbeda-beda karena adanya antosianin dalam ekstrak pacar air. Warna yang ditimbulkan oleh antosianin tergantung dari tingkat

keasaman (pH) lingkungan sekitar sehingga pigmen ini dapat dijadikan sebagai indikator pH melalui uji titrasi asam basa. Warna yang ditimbulkan adalah merah (pH 1), biru kemerahan (pH 4), ungu (pH 6), biru (pH 8), hijau (pH 12), dan kuning (pH 13).

Berdasarkan hasil dapat dibahas bahwa pada kertas saring yang berwarna putih merupakan kontrol warna, dalam pH netral. Kertas saring yang berwarna ungu kebiruan menandakan tahu bersifat basa, sedangkan warna kertas saring yang berwarna merah muda menandakan tahu bersifat asam. Dapat diketahui bahwa tahu non formalin bersifat asam, sedangkan tahu berformalin bersifat basa. Formalin sendiri bersifat asam karena mengandung asam formiat akibat oksidasi formaldehida.
16

VI. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa ekstrak bunga Pacar Air (Impatiens basalmina) berpotensi sebagai indikator sederhana pengujian formalin pada makanan.
17

VII. DAFTAR REFERENSI Arifin, Zainal, Tri Budhi Murdiati dan R. Firmansyah, 2005, Deteksi Formalin dalam Ayam Broiler di Pasaran. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005. Arifin, Anshoril, 2012, Pengawet Makanan Sintetis,http://avicenna91.blogspot.com/2012/08/pengawet-makanan-sintesis.html. Ariviani, Setyaningrum, 2010, Kapasitas Anti Radikal Ekstrak Antosianin Buah Salam (Syzygium polyanthum [Wight.] Walp) Segar dengan Variasi Proporsi Pelarut , Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan UNS. Caraka Tani XXV No.1 Maret 2010.

Cahyadi, Wisnu, 2009, Analisis & Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan, Bumi Aksara, Jakarta. Davletshina, T.A., Shul gina, L.V., Lazhentseva, L.Y., Blinov, Y.G. and Pivnentoko, T.N., (2003), Inhibitory Effect of an Antimicrobial Preparation from Lipids Of Marine Fishes on Tissue and Microbial Enzimes, Applied Biochemistry and Microbiology, 39 ( 6 ): 596-598. Dolaria, Nanik dan Helena Manik, 2007, Uji Validasi pada Analisis Formalin Menggunakan Spektrofotometer UV-VIS, Buletin Tek. Lit. Akuakultur Vol. 6 No 1 Tahun 2007. Endrikat, S., Gallagher, G., Pouillot, R. G., Quesenberry, H.H., Labarre, D., Schroeder, C.M., and Kause, J., 2010, A Comparative Risk Assesment for Listeria monocytogenes in Prepackaged versus Retail- Sliced Deli Meat, Journal of Food Protection, 73 ( 4 ): 612- 619. Hamdani, 2012, Formalin, http://catatankimia.com/formalin.html. Marsitta, Utary, 2012, Antosianin. http://utarymarsitta.blogspot.com.
18

Rahmadetiasani, Afifi, Marlia F. Hayoto dan Tenno Mauldan, 2010,Impatiens basalmina : Pacar Air, Fakultas Biologi, Universitas Nasional, Jakarta. Saati, E. Anis, 2005, Studi Stabiltas Ekstrak Pigmen Antosianin Bunga Mawar Rontok pada Peiode Simpan Tertentu (Kajian Keragaman pH Media dan Suhu Pasteurisasi , Gamma Volume 1, Nomor 1, September 2005, hal 77-82. Saati, E. Anis, 2007, Identifikasi dan Uji Kualitas Pigmen Kulit Buah Naga Merah (Hylocareus costaricensis) pada Beberapa Umur Simpan dengan Perbedaan Jenis Pelarut.