P. 1
Laporan Observasi

Laporan Observasi

|Views: 1,005|Likes:
Dipublikasikan oleh Yasrin Karim
Geografi Desa Dan Kota
Geografi Desa Dan Kota

More info:

Published by: Yasrin Karim on Mar 25, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/24/2014

pdf

text

original

LAPORAN OBSERVASI, INTERVIEW, DAN SOSIALISASI GEOGRAFI DESA KOTA

Yasrin Karim 451 409 057

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2011

HALAMAN PENGESAHAN 1. Judul Laporan :

Laporan Observasi, Interview, dan Sosialisasi 2. Identitas Penyusun a. Nama : Yasrin Karim b. NIM : 451 409 057 : :

3. Dosen Pembimbing

a. Nama : Intan Noviantari Manyoe, S.si b. NIP 4. Lokasi : 19821112 200812 2 002 :

Desa Girisa, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten bualemo 5. Koordinat N = 000 31’ 008” E = 1320 30’ 834” :

Mengesahkan

Gorontalo, 28 juni 2011 Dosen Penanggung Jawab Dosen Pembimbing

Drs. Nawir Sune, M.Si NIP. 196311011 989031 003

Intan Noviantari Manyoe, S.Si NIP. 19821112 200812 2 002

KATA PENGANTAR Bismillahir-rahmaanir-rahiim. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Dalam suasana yang penuh dengan khidmat ini, puja dan puji syukur saya haturkan kehadirat Allah swt, dengan ucapan “Alhamdulillah Wasysyukru Lillah” atas limpahan rahmat dan nikmat-Nya serta taufik dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Laporan Observasi, Interview, dan Sosialisai Geografi Desa Kota ini. Semoga dengan adanya Laporan Observasi, Interview, dan Sosialisai Geografi Desa Kota ini bisa membantu masyarakat pada umumnya dan khususnya Mahasiswa Geografi memahami Sistem pemerintahan, Sistem sosial, Struktur ruang, Pola ruang dan Potensi masalah lingkungan yang ada didesa. . Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing Mata Kuliah Geografi Desa Kota yang telah menugaskan kami melakukan Observasi, Interview, dan Sosialisai ke masyarakat-masyarakat, karena dengan adanya tugas ini, saya menjadi semakin paham dan mengerti tentang Sistem pemerintahan, Sistem sosial, Struktur ruang, Pola ruang dan Potensi masalah lingkungan yang ada didesa. Akhir kata, tiada gading yang tak retak. Begitu pula dengan Laporan ini, yang tentunya masih jauh dari sempurna. Maka dari itu saya mohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam laporan ini. Semoga laporan ini dapat berguna bagi segenap pembaca, dan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan ilmu Geografi Desa Kota sendiri. Sekian kata pengantar ini, akhir kata saya mengucapkan banyak terima kasih. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Gorontalo,

28 Juni 2011

Penyusun

Yasrin Karim

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL. ....................................................................................i HALAMAN PENGESAHAN. .........................................................................ii KATA PENGANTAR. .....................................................................................iii DAFTAR ISI. ...................................................................................................iv DAFTAR TABEL. ...........................................................................................v DAFTAR GAMBAR. .......................................................................................vi DAFTAR LAMPIRAN. ...................................................................................vii BAB I PENDAHULUAN. ................................................................................1 1.1. Latar Belakang. ...................................................................................1 1.2. Rumusan Masalah. ..............................................................................2 1.3. Tujuan. .................................................................................................2 1.4. Manfaat. ...............................................................................................3 BAB II DESKRIPSI LOKASI. ........................................................................4 BAB III TINJAUAN PUSTAKA. ....................................................................5 3.1. Pengertian desa/pedesaan.. .................................................................5 3.2. Pola Tata Ruang Desa . .......................................................................7 3.3.Ciri-ciri Masyarakat desa (karakteristik). ..........................................8 3.4.Interaksi Desa Kota. .............................................................................8 BAB IV METODOLOGI.................................................................................10 4.1. Alat dan Bahan. ....................................................................................10 4.2. Prosedur Kerja. ....................................................................................10 a. Tahap persiapan. .............................................................................10 b. Tahap observasi. ..............................................................................10 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. ...........................................................11 5.1.Hasil Observasi Lapangan ...................................................................11 5.2. Pembahasan. ........................................................................................15 BAB VI PENUTUP. .........................................................................................18 6.1. Kesimpulan. ..........................................................................................18 6.2. Saran. ....................................................................................................19 DAFTAR PUSTAKA. ......................................................................................20 LAMPIRAN. ....................................................................................................21

DAFTAR TABEL Tabel 1.1. System Sosial Desa Girisa…. ......................................................... 11 Tabel 1.2. Strktur Ruang Desa Girisa…. ....................................................... 12 Tabel 1.3. Pola Keruangan Desa Girisa. ........................................................ 13

DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1. Sketsa Desa Girisa. .................................................................... 14 Gambar 1.2. Profil Desa Girisa. ..................................................................... 17

DAFTAR LAMPIRAN Foto kegiatan dalam pelaksanaan observasi. ................................................. 21 Laporan observasi format dua ....................................................................... 22

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dengan adanya mata kuliah Geografi Desa Kota yang membahas tentang pola keruangan dari desa dan kota baik itu definisi kota, ciri fisik kota, ciri masyarkat kota, klasifikasi kota, struktur panggunaan lahan kota, faktor yang mempengaruhi perkembangan kota juga membahas tentang definisi desa, pola persebaran desa, unsur-unsur desa, faktor-faktor yang mempengaruhi sistem perhubungan desa, potensi desa, ciri-ciri masyarakat desa, dan syarat-syarat desa sehingga itu kami melakukan observasi, interview, dan sosialisasi langsung agar kita mengetahui dan memahami seperti apa yang dijadikan objek kajian dari mata kuiah Geografi Desa Kota ini. Karena adanya rasa keingintahuan tentang pola keruangan desa kota bukan hanya sekedar sebatas teori sehingga diadakannya Observasi, Interview, dan

Sosialisasi Geografi Desa Kota khususnya di daerah pedesaan agar Kami Mahasiswa Geografi mendapatkan pengalaman baru dan menambah pengetahuan kami tentang kondisi umum desa, system pemerintahannya, system sosialnya termasuk kebiasaan yang ada pada masyarakatnya, struktur ruangnya, pola ruanganya, dan potensi masalah lingkungan/geografi, dll. Kegiatan Observasi, Interview, dan Sosialisasi Geografi Desa Kota ini selain untuk menambah pengetahuan kami tentang pola keruangan desa dan kota, juga melatih kami dalam hal melakukan interaksi dengan kelompok masyarakat serta membuat kami lebih mengetahui lebih detail lagi tentang pola keruangan desa. Kegiatan ini diperuntukkan pada Mahasiswa Geografi sebagai penunnjang teori-teori yang sudah kami pelajari. Dan rasa keingintahuan serta untuk menambah pengetahuan sehingganya di adakannya Observasi, Interview, dan Sosialisasi.

1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan dari latar belakang yang sudah ada, adapun rumusan masalah yaitu : 1) Bagaimana kondisi umum daerah yang dijadikan sebagai lokasi Observasi, Interview , dan Sosialisasi Geografi Desa Kota! 2) Bagaimana system pemerintahan di daerah yang dijadikan sebagai lokasi Observasi, Interview , dan Sosialisasi Geografi Desa Kota! 3) Bagaimana system sosial di daerah yang dijadikan sebagai lokasi Observasi, Interview , dan Sosialisasi Geografi Desa Kota! 4) Bagaimana struktur ruang dari daerah yang dijadikan sebagai lokasi Observasi, Interview , dan Sosialisasi Geografi Desa Kota! 5) Bagaimana pola ruang dari daerah yang dijadikan sebagai lokasi Observasi, Interview , dan Sosialisasi Geografi Desa Kota! 6) Apa saja potensi masalah lingkungan/geografi dari daerah yang dijadikan sebagai lokasi Observasi, Interview , dan Sosialisasi Geografi Desa Kota? 7) Bagaimana dengan kebiasaan yang ada pada masyarakatnya!

1.3. Tujuan Berdasarkan dari latar belakang yang sudah ada, adapun tujuannya yaitu : 1) Untuk mengetahui kodisi umum daerah yang dijadikan sebagai lokasi Observasi, Interview , dan Sosialisasi Geografi Desa Kota. 2) Untuk mengetahui system pemerintahan di daerah yang dijadikan sebagai lokasi Observasi, Interview , dan Sosialisasi Geografi Desa Kota. 3) Untuk mengetahui system sosial di daerah yang dijadikan sebagai lokasi Observasi, Interview , dan Sosialisasi Geografi Desa Kota. 4) Untuk mengetahui struktur ruang dari daerah yang dijadikan sebagai lokasi Observasi, Interview , dan Sosialisasi Geografi Desa Kota. 5) Untuk mengetahui pola ruang dari daerah yang dijadikan sebagai lokasi Observasi, Interview , dan Sosialisasi Geografi Desa Kota. 6) Untuk mengetahui potensi masalah lingkungan/geografi dari daerah yang dijadikan sebagai lokasi Observasi, Interview , dan Sosialisasi Geografi Desa Kota.

1.4. Manfaat Berdasarkan dari latar belakang yang sudah ada, adapun manfaatnya yaitu : 1) Menambah pengetahuan tentang kondisi umum desa 2) Menambah pengetahuan tentang system pemerintahan desa 3) Menambah pengetahuan tentang system sosial desa 4) menambah pengetahuan tentang struktur ruang desa 5) Menambah pengetahuan tentang pola ruang desa 6) Menambah pengetahuan tentang potensi masalah lingkungan / geografis desa 7) Mengetahui kebiasaan-kebiasaan yang ada pada masyarakat di daerah pedesaan.

BAB II DESKRIPSI LOKASI Daerah yang dijadikan sebagai lokasi Observasi, Interview, dan Sosialisasi Geografi Desa Kota adalah Desa Girisa, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Bualemo. Daerah ini merupakan daerah pemekaran dari Desa Bilato, Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo pada tahun 2003 dan didefinitif pada tahun 2004. Daerah ini mempunyai luas sebesar 800 m2 dan terbagi dalam beberapa dusun, yaitu Dusun Tenilo dengan luas lahan pertanian sebesar 75 Ha, Dusun Dutula dengan luas lahan pertanian sebesar 135 Ha, Dusun Keramat Indah dengan Luas lahan pertanian sebesar 65,5 Ha, dan Dusun Keramat Jaya dengan luas lahan pertanian sebesar 63 Ha. Desa Girisa mempunyai pemerintahan berada langsung dibawah camat, mempunyai lembaga sosial desa yang sudah berfungsi, mata pencaharian mulai bearagam dan juga sudah ada hubungan dengan daerah sekitarnya. Desa ini termasuk dalam desa masa transisi. Terkait dengan batas wilayah, disebelah utara Desa Girisa berbatasan dengan Desa Karya Murni, sebelah timur berbatasan dengan Desa Bilato, sebelah barat berbatasan dengan Desa Olipu, dan sebelah selatan berbatasan dengan Teluk Tomini. Daerah ini merupakan daerah dataran tinggi yang berelief kasar dan daerahnya terisolir dengan pola pemukiman terpusat yang membentuk unit-unit yang kecil dan menyebar. Penduduk yang tinggal didaerah ini masih memiliki hubungan kekerabatan dan hubungan dalam pekerjaan yaitu gotong royong.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.5. Pengertian desa/pedesaan Yang dimaksud dengan desa menurut Sutardjo Kartodikusuma

mengemukakan Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri. Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesatuan goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain. Sedang menurut Paul H. Landis :Desa adalah pendudunya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri sebagai berikut : a) Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa. b) Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan c) Cara berusaha (ekonomi)adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti : iklim, keadaan alam ,kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan Dalam kamus sosiologi kata tradisional dari bahasa Inggris, Tradition artinya Adat istiadat dan kepercayaan yang turun menurun dipelihara, dan ada beberapa pendapat yang ditinjau dari berbagai segi bahwa, pengertian desa itu sendiri mengandung kompleksitas yang saling berkaitan satu sama lain diantara unsurunsurnya, yang sebenarnya desa masih dianggap sebagai standar dan pemelihara sistem kehidupan bermasyarakat dan kebudayaan asli seperti tolong menolong, keguyuban, persaudaraan, gotong royong, kepribadian dalam berpakaian, adat istiadat , kesenian kehidupan moral susila dan lain-lain yang mempunyai ciri yang jelas. Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan pengertian desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam pembentukan sebuah desa terdapat tiga unsur pokok, yaitu : - Daerah/ wilayah yang merupakan tempat tinggal dan tempat beraktivitas. - Penduduk adalah terkait dengan kualitas dan kuantitasnya. - Tata kehidupan atau aturan-aturan yang berhubungan langsung dengan keadaan masyarakat dan adat istiadat setempat. Desa sebagai kesatuan masyarakat memiliki kesamaan tiga hal yang dalam bahasa Jawa adalah : rangka (wilayah), darah (satu keturunan), dan wilayah (ajaran/ adat istiadat) dan ini merupakan sebuah modal/potensi yang

dikembangkan untuk terbentuknya sebuah desa. Potensi apakah yang dimiliki desa sehingga dapat dimanfaatkan dan menjadi sebuah desa berkembang maju. Mari kita lihat dan baca serta pahami dengan baik. Dua macam Potensi Desa yaitu: 1. Potensi fisik yang meliputi, tanah air, iklim dan cuaca, flora dan fauna 2. Potensi non fisik, meliputi; masyarakat desa, lembaga-lembaga sosial desa, dan aparatur desa, jika potensi dimanfaatkan dengan baik, desa akan berkembang dan desa akan memiliki fungsi, bagi daerah lain maupun bagi kota. Fungsi desa sebagai berikut : 1. Desa sebagai Hinterland (pemasok kebutuhan bagi kota) 2. Desa merupakan sumber tenaga kerja kasar bagi perkotaan 3. Desa merupakan mitra bagi pembangunan kota 4. Desa sebagai bentuk pemerintahan terkecil di wilayah Kesatuan Negara Republik Indonesia Desa pun berkembang dan kriteria yang dipakai untuk menentukan klasifikasi desa adalah adat istiadat, ekonomi, prasarana, serta tingkat kemampuan mengelola potensi yang ada. Secara hirarkhis perkembangan desa sbb: 1. Desa Swadaya, yaitu desa yang memiliki potensi tertentu tetapi dikelola dengan sebaik-baiknya. 2. Desa Swakarya, yaitu desa dalam keadaan peralihan dan sudah mendapatkan pengaruh dari luar untuk mengolah potensinya sehingga desa ini sudah sedikit lebih berkembang.

3. Desa Swasembada, yaitu desa yang karya masyarakatnya sudah mampu melaksanakan pembangunan dan potensinya sudah memberikan daya dukung bagi pembangunan desanya sehingga desa ini sudah dikatakan makmur. 3.6.Pola Tata Ruang Desa Desa merupakan suatu lokasi di pedesaan dengan kondisi lahan sangat heterogen dan topografi yang beraneka ragam. Pola tata ruangnya sangatlah tergantung pada topografi yang ada. Pola tata ruang merupakan pemanfaatan ruang atau lahan di desa untuk keperluan tertentu sehingga tidak terjadi tumpang tindih dan berguna bagi kelangsungan hidup penduduknya. Pemanfaatan lahan di desa dibedakan atas dua fungsi, yaitu: 1. Fungsi sosial adalah untuk perkampungan desa. 2. Fungsi ekonomi adalah dimanfaatkan untuk aktivitas ekonomi seperti , sawah, perkebunan, pertanian dan peternakan Dalam penataan ruang desa maupun kota diperlukan empat komponen, yaitu : 1. Sumberdaya alam, 2. Sumberdaya manusia, 3. IPTEK dan 4. Spatial (keruangan) Pola tata ruang desa pada umumnya sangat sederhana, letak rumah di kelilingi pekarangan cukup luas, jarak antara rumah satu dengan lain cukup longgar, setiap mempunyai halaman, sawah dan ladang di luar perkampungan. Pada desa yang sudah berkembang pola tata guna lahan lebih teratur, yaitu adanya perusahaan yang biasa mengolah sumberdaya desa, terdapat pasar tradisional, tempat ibadah rapi, sarana dan prasarana pendidikan serta balai kesehatan. Semakin maju daerah pedesaan, bentuk penataan ruang semakin teratur dan tertata dengan baik. Pola persebaran dan pemukiman desa menurut R Bintarto (1977) sebagai berikut: 1. Pola Radial 2. Pola Tersebar 3. Pola memanjang sepanjang pantai 4. Pola memanjang sepanjang sungai

5. Pola memanjang sepanjang jalan 6. Pola memanjang sejajar dengan jalan kereta api

3.7.Ciri-ciri Masyarakat desa (karakteristik) Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mebngenal ciri-ciri sebagai berikut : a) Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain menolongnya tanpa pamrih. b) Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu dan

mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan. c) Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya

dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme) d) Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak

diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi). e) Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott Parson) dapat terlihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar

3.8.Interaksi Desa Kota Terbentuknya wilayah/ tempat menjadi sebuah desa pedasaan atau perkotaan merupakan hasil hubungan antar unsur-unsur di desa dengan unsur-unsur yang ada di kota, istilah lain disebut dengan interaksi desa – kota. Interkasi desa – kota adalah proses hubungan yang bersifat timbal balik antar unsur-unsur yang ada dan mempunyai pengaruh terhadap perilaku dari pihakpihak yang bersangkutan melalui kontak langsung, berita yang didengar atau surat kabar sehingga melahirkan sebuah gejala baru, baik berupa fisik maupun non fisik. Bentuk interaksi desa – kota : a. Kerjasama antar penduduk b. Penyesuaian terhadap lingkungan c. Persaingan fasilitas hidup d. Asimilasi. Interaksi antara desa - kota melahirkan suatu perkembangan baru bagi desa maupun bagi kota. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan potensi yang dimiliki desa maupun kota, dan adanya persamaan kepentingan. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Desa Kota Edward Ulman (1987) memberikan penjelasan tentang faktor yang mempengaruhi interaksi desa – kota adalah : a. Regional Complementarity (adanya wilayah yang saling melengkapi) b. Interventing Opportunity (adanya kesempatan untuk berintervensi) c. Spatial Transfer Ability (adanya kemudahan pemindahan dalam ruang )

BAB IV METODOLOGI 4.1. Alat dan Bahan 1. Alat tulis menulis 2. Pedoman wawancara dan Instrumen Observasi Lapangan 3. GPS 4. Kamera Digital

4.2. Prosedur Kerja a) Tahap persiapan 1. Mempersiapkan format/Pedoman wawancara dan Instrumen Observasi Lapangan 2. Mempersiapkan alat tulis menulis 3. Memprsiapkan alat-alat yang digunakan dalam Observasi berupa Kamera Digital dan GPS. b) Tahap observasi 1. Mencari data tentang kondisi umum desa dengan mewawancarai tokoh masyarakat . 2. Mencari data tentang system pemerintahan desa dengan mewawancarai tokoh masyarakat . 3. Mewawancarai masyarakat atau tokoh masyarakat desa tentang bentuk system sosial di desa 4. Mencari data tentang struktur ruang desa dengan mengamati dan mengajukan beberapa pertanyaan pada tokoh masyarakat dan masyarakat . 5. Mencari data tentang pola ruang desa dengan meminta keterangan dari tokoh-tokoh masyarakat . 6. Mencari data tentang potensi masalah lingkungan/geografi dengan meminta keterangan dengan mewawancarai tokoh masyarakat . 7. Mencari informasi tentang kebiasaan-kebiasaan yang ada pada masyarakat desa dengan mengajukan pertanyaan pada tokoh masyarakat dan masyarakat dasa. 8. Persiapan pulang

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Observasi Lapangan A. Nama kegiatan B. Lokasi C. Kondisi Umum 1) Luas desa 2) Nama Kades : Observasi Lapangan Mata Kuliah geografi Desa Kota : Desa Girisa, Kec. Paguyaman, Kab. Bualemo : : 800 m2 : Sandi Taliki

3) Nama Kepala BPD: Taufik Taliki 4) Nama Kepala LPM: Sukardi Djamu 5) Jumlah Penduduk : L = 482 jiwa, P = 504 jiwa 6) Mata Pencaharian : Petani, Nelayan, Pegawai, dan Wiraswasta D. Sistem Pemerintahan 1) Desa Girisa merupakan desa pemekaran dari Desa Bilato, Kec. Boliyohuto, Kab. Gorontalo yang dimekarkan pada tahun 2003 2) Bpk. Wilson Taliki Kades dan Sekertaris Desa Bpk. Olis Taliki pada tahun 2003-2004. 3) Desa Girisa didefinitf pada tahun 2004 4) Bpk. Sandi Taliki dengan sekertaris pribadinya Bpk. Olis Taliki merupakan Kades dan sekdes desa girisa tahun 2004 sampai sekarang. 5) Nama camat paguyaman Bpk. Lukman Amu, S.Pd. 6) Kepala urusan di Desa Girisa ada 3 yaitu: a. Kepala Urusan Umum Bpk.Wiranto Saidi b. Kepala Urusan Pembangunan Bpk. Rustam Nonoa c. Kepala Urusan Pemerintahan Ibu Rita Nasaru E. System Sosial No 1. 2. 3. Nama Kegiatan Gotong royong Iuran warga Bentuk kerja sama Ada    Tidak Contoh Jum’at Bersih Arisan duka, arisan keluarga atau sejenisnya Pembangunan jalan

4.

Kebiasaan dari masyarakat setempat

-

Melakukan

penghambaan

kepada

Allah swt menggunakan perantara dengan berziarah di kuburan keramat yang berada di Desa Girisa tersebut.

Tabel 1.1. System Sosial Desa Girisa F. Struktur Ruang No Bentuk Struktur Ruang Desa girisa 1. System jaringan jalan Berbukit 2. System transportasi Kendaraan lalulintas desa darat (1 buah) air (2 buah). Angkutan umum menuju kecamatan-kota, Ojek (10 buah), Kendaraan Roda 4 (3 buah), Delman belum ada, Perahu (2 buah), Bentor belum ada. Hanya terdapat kios Belum ada industri-industri kecil Terdapat masjid Belum ada Ada jaringan kabel, belum ada tower, belum ada warnet, belum ada wartel, belum ada telephone umum, belum ada kantor pos, ada radio pada RT 44 buah, dan TV pada RT 64 buah. 8. System sanitasi Sudah menggunakan sepiteng

3. 4. 5. 6. 7.

System perdagangan System perindustrian System peribadatan System drainase Sistem jaringan komunikasi

9.

System pendidikan/sosial/budaya

PAUD 2 buah, SD 1 Buah, dan SMP 1 buah. Tamat PT Akademik 9 jiwa, tamat SLTA 36 jiwa, SLTP 78 jiwa, SD 645 jiwa, dan tidak tamat SD/tidak sekolah tidak terdapat

didata pendidikan penduduk. Budaya masyarakat masih melekat contoh gotong royong, dll. 10. System pemukiman dan sumber air Bentuk rumah semi permanen, dan untuk sumber air menggunakan air yang diprogramkan oleh PMPM atau SWOS.

Tabel 1.2. Strktur Ruang Desa Girisa G. Pola keruangan Pola Keruangan Desa Girisa Ruang terbangun a) Jumlah KK ; b) Banyaknya rumah warga ; 174 buah (permanen 88 buah, Ruang terbuka hijau a) Luas lahan pertanian ; 338.5 Ha. b) Tanaman produktif ; Jagung c) Hasil pertanian menonjol ; Jagung

semipermanen 48 buah, dan d) Luas usaha perikanan ; darurat 38 buah). c) Banyaknya gedung sekolah ; 4 d) Banyaknya masjid ; 2 e) Gedung lainnya ; e) Banyaknya ikan yang dihasilkan per sekali panen ; tdk dapat diperkirakan/tergantung pada musim f) Banyaknya jagung yang dihasilkan per sekali panen ; 3-4 ton/orang g) Banyak kopra yang dihasilkan per sekali panen ; tdk dapat diperkirakan

Tabel 1.3. Pola Keruangan Desa Girisa

Peta/Sketsa Desa Girisa

Dusun keramat jaya

Dusun kerama t indah

Dusun Dutula

Dusun Tenilo

Gambar 1.1. Sketsa Desa Girisa GiriGirisa H. Potensi masalah lingkungan/geografis Ada potensi banjir, tidak ada potensi longsor, tidak ada kebakaran hutan, tidak ada penebengan liar, tidak ada binatang buas tapi ada serangan hama pada tanaman pada musim tertentu, perladangan berpindah, ada pencemaran air dan udara. Provinsi Gorontalo adalah salah satu dari 32 provinsi di wilayah Republik Indonesia yang memanjang dari Timur ke Barat di Bagian Utara Pulau Sulawesi, memiliki luas wilayah 12.215,44 km2 dan berada pada posisi geografis antara 00030’04” – 01002’30” Lintang Utara dan 112008’04”– 123032’09” Bujur Timur serta mempunyai 2 (dua) musim iklim pada umunya, yakni musim penghujan dan musim kemarau. Biasanya hari hujan terbanyak terjadi pada Bulan Maret, Mei dan Oktober dengan Curah Hujan rata-rata 207,7 mm dan suhu rata-rata 23 – 31° C. Sedangkan tekanan udaranya berkisar antara 11.21.5 MOB dengan kecepatan angin rata-rata 1,9 knot.

5.2. Pembahasan Daerah yang kami jadikan sebagai lokasi Observasi, Interview dan Sosialisasi Geografi Desa Kota adalah Desa Girisa, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Bualemo . Desa Girisa ini termasuk daerah dataran tinggi dengan titik koordinat N = 000 31’ 008” dan E = 1320 30’ 834”. Berdasarkan hasil Observasi kami bahwa Desa Girisa merupakan desa pemekaran dari Desa Bilato, Kecamatan Boliyohuto Kabupaten Gorontalo pada tahun 2003 dan kepala desanya pada saat itu ialah Bpk. Wilson Taliki, Sedangkan Sekertaris Desa pada saat itu Bpk. Olis Taliki. Seiring berjalannya waktu, tepat pada tahun 2004 Desa Girisa didefinitifkan dan Kepala Desanya pada saat itu dan sampai saat ini ialah Bpk. Sandi Taliki, sedangkan Sekertaris Desanya masih tetap Bpk. Olis Taliki. Selain itu, daerah ini mempunyai pemerintahan berada langsung dibawah camat dan Camat daerah ini ialah Bpk. Lukman Amu, S.Pd sedangkan Kepala BPD-nya Bpk. Taufik Taliki dan Kepala LPM-nya Bpk. Sukardi Jamu. Desa Girisa mempunyai luas wilayah sebesar 800 m2 dengan jumlah penduduk ± 986 jiwa yang terdiri dari laki-laki 482 jiwa dan perempuan 504 jiwa. Dari sekian benyaknya jumlah penduduk, mempunyai pekerjaan yang berbedabeda. Ada yang bekerja sebagai nelayan, ada yang bekerja sebagai petani, ada juga sebagai pegawai negeri dll. Dengan demikian bisa kita lihat ternyata di daerah ini mata pencahariannya mulai beragam. Selain itu, Desa Girisa memiliki empat dusun yaitu Dusun Tenilo dengan luas lahan pertanian sebesar 75 Ha, Dusun Dutula dengan luas lahan pertanian sebesar 135 Ha, Dusun Keramat Indah dengan Luas lahan pertanian sebesar 65,5 Ha, dan Dusun Keramat Jaya dengan luas lahan pertanian sebesar 63 Ha. Disebelah utara, desa girisa berbatasan dengan Desa Karya Murni, sebelah timur berbatasan dengan Desa Bilato, sebelah barat berbatasan dengan Desa Olipu, dan sebelah selatan berbatasan dengan Teluk Tomini. Terkait dengan system pemerintahannya, selain memiliki Camat, Kepala BPD, Kepala LPM, Kepala Desa, Sek. Desa, Desa Girisa juga memiliki tiga kepala urusan, yaitu sebagai berikut : 1. Kepala Urusan Umum yaitu Bpk. Wiranto Saidi

2. Kepala Urusan Pembangunan yaitu Bpk. Rustam Nanoa 3. Kepala Urusan Pemerintahan yaitu Ibu Rita Masaru Untuk system sosialnya, di Desa Girisa ini kegiatan gotong royong masih melekat pada diri masyarakatnya seperti kegiata n jum’at bersih, selain itu tingkah laku masyarakatnya tidak bersifat individualistik masih saling membantu/kerja sama seperti pembangunan jalan. Selain itu juga ada iuran warga seperti arisan duka, arisan keluarga atau sejenisnya. Sedangkan struktur ruang Desa Girisa berupa system jaringan jalan dimana hubungan transportasi desa-kota sulit karena jalannya masih kurang baik, selain itu system perdagangannya hanya memiliki kios, system perindustriannya belum memiliki industry-industri kecil, system drainasenya belum ada berupa penampungan air dan selokan serta air limpasan, namun untuk system jaringan komunikasinya sudah ada brupa TV dan radio yang dimiliki oleh warga setempat, untuk system sanitasinya masyarakat setempat sudah menggunakan sepiteng atau sejenisnya, serta untuk system pendidikannya sudah ada bebrapa bangunan sekolah yaitu PAUD, SD, dan SMP, selain itu saat ini kemauan dari masyarakat setempat mengikuti pendidikan formal sudah meningkat dan kebudayaan di Desa Girisa tersebut masih melekat pada masyarakatnya, dan juga terkait dengan system pemukiman dan sumber air, rumah penduduk sudah sebagian besar berbentuk semipermanen dan untuk sumber airnya masyrakat Desa Girisa mendapatkan air yang diprogramkan PMPM atau sejenisnya. Kemudian tentang pola ruang Desa Girisa yang tidak lain adalah ruang terbangun yang dilihat dari banyaknya rumah warga 174 buah (permanen 88 buah, semipermanen 48 buah, dan darurat 38 buah), selain itu banyaknya gedung sekolah 4 buah, dan masjid 2 buah. Untuk ruang terbuka hijau, Desa Girisa mempunyai luas lahan pertanian sebesar 338.5 Ha, tanaman produktif daerah tersebut dan hasil pertanian yang menonjol yaitu jagung yang dihasilkan per sekali panen sebanyak 3-4 ton/orang. Dan untuk penghasilan ikan dan kopra tdk dapat diperkirakan karena tergantung pada musim. Adapun potensi masalah lingkungan/geografis daerah ini yaitu ada potensi banjir, untuk potensi longsor kebakaran hutan, penebangan liar, binatang buas

tidak ada, tapi ada serangan hama pada tanaman pada musim tertentu, perladangan berpindah, dan ada pencemaran air dan udara. Terkait dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada pada masyarakat Desa Girisa yaitu dimana masyarakatnya masih juga mengasumsi/mempercayai hal-hal yang gaib contohnya dengan adanya kuburan keramat (menurut masyarakat) yang meraka jadikan sebagai salah satu sarana perantara untuk meminta segala sesuatu kapada Allah swt, Nauzubillah….. Pemikiranlah yang membuat mereka seperti itu, karena pemikiran yang membentuk serta memperkuat mafahim (persepsi) terhadap segala sesuatu. Mereka memiliki pandangan bahwa itu tidak termasuk dalam syirik dan juga itu merupakan kebiasaan dari orang-orang sebelumnya yang harus tetap dipelihara, sehingganya harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini khususnya pemikiran-pemikiran semacam itu, yang kemudian akan diganti dengan pemikiran yang baru yaitu dengan mewujudkan suatu pemikiran tentang kehidupan dunia sehingga dapat terwujud mafahim yang benar tentang kehidupan tersebut. Karena tingkah laku manusia berkaitan erat dengan mafahim yang dimilikinya dan manuisa itu selalu mengatur tingkah lakunya dalam kehidupan ini sesuai dengan mafahim-nya terhadap kehidupan.

Gambar 1.2. Profil Desa Girisa

BAB VI PENUTUP 6.1. Kesimpulan 1) Daerah yang dijadikan sebagai lokasi observasi ialah Desa Girisa, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Bualemo dengan luas 800 m2 dan jumlah penduduknya ± 986 jiwa. Desa ini merupakan desa pemekaran dari Desa Bilato, Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo pada tahun 2003 yang dipimpin oleh kepala desa yang bernama Wilson Taliki dan didefinitifkan pada tahun 2004 yang dipimpin langsung oleh Bpk. Sandi Taliki. 2) Desa Girisa mempunyai pemerintahan berada langsung dibawah camat dan Camat daerah ini ialah Bpk. Lukman Amu, S.Pd sedangkan Kepala BPDnya Bpk. Taufik Taliki dan Kepala LPM-nya Bpk. Sukardi Jamu. 3) Tingkah laku masyarakat Desa Girisa bersifat saling membantu/kerja sama dalam hal gotong royong seperti kegiatan jum’at bersih, pembangunan

jembatan, arisan duka, dll. 4) Struktur ruang Desa Girisa seperti system jaringan jalan belum begitu baik sehingga system transportasi desa-kota agak susah, selain itu untuk sistem system perdagangan hanya terdapat kios, system perindustrian belum ada industri-industri kecil, system peribadatan, terdapat masjid, system drainase belum ada, sistem jaringan komunikasi ada jaringan kabel, belum ada tower, belum ada warnet, belum ada wartel, belum ada telephone umum, belum ada kantor pos, ada radio pada rt 44 buah, dan tv pada rt 64 buah untuk system sanitasi : sudah menggunakan sepiteng, system pendidikan/sosial/budaya : paud 2 buah, sd 1 buah, dan smp 1 buah. tamat pt akademik 9 jiwa, tamat slta 36 jiwa, sltp 78 jiwa, sd 645 jiwa, dan tidak tamat sd/tidak sekolah tidak terdapat didata pendidikan penduduk. Budaya masyarakat masih melekat contoh gotong royong, dll. System pemukiman dan sumber air : bentuk rumah semi permanen, dan untuk sumber air menggunakan air yang diprogramkan oleh PMPM atau SWOS. 5) Pola ruang Desa Girisa seperti ruang terbangun ada beberapa bangunan sekolah, masjid dll. Selain itu juga ada ruang terbuka hijau berupa besar luas

lahan petanian seperti Dusun Tenilo dengan luas lahan pertanian sebesar 75 Ha, Dusun Dutula dengan luas lahan pertanian sebesar 135 Ha, Dusun Keramat Indah dengan Luas lahan pertanian sebesar 65,5 Ha, dan Dusun Keramat Jaya dengan luas lahan pertanian sebesar 63 Ha. Disebelah utara, desa girisa berbatasan dengan Desa Karya Murni, sebelah timur berbatasan dengan Desa Bilato, sebelah barat berbatasan dengan Desa Olipu, dan sebelah selatan berbatasan dengan Teluk Tomini. 6) Potensi-potensi masalah lingkungan yang ada di Desa Girisa yaitu banjir, serangan hama pada tanaman, pencemaran, dan penggunaan perladangan berpindah. 7) Masyarakat Desa Girisa Masih ada juga mengasumsi/mempercayai hal-hal yang gaib contohnya dengan adanya kuburan keramat (menurut masyarakat) yang meraka jadikan sebagai salah satu sarana perantara untuk meminta segala sesuatu kapada Allah swt.

6.2. Saran 1. Untuk kemajuan Mata Kuliah Geografi Desa Kota perlu adanya Observasi, Interview, dan Sosialisasi Geografi Kota lagi dari mahasiswa khususnya Mahasiswa geografi secara terus menerus. 2. Untuk masyarakat perlunya perhatian terhadap pola-pola perkembangan desa, karena hal ini dapat membantu untuk peningkatan pembangunan desa. 3. Untuk pemerintah perlunya perhatian yang lebih fokus lagi terhadap perkembangan dan pembangunan desa tertinggal dengan membuka lapangan pekerjaan dipedesaan sekaligus mengalirnya investasi dari kota dan juga menerapkan desentralisasi otonomi daerah yang memberikan keleluasaan kepada seluruh daerah untuk mengembangkan potensinya menjadi lebih baik, sehingga kota dan desa saling mendukung dalam segala aspek kehidupan. 4. Untuk UNG, perlunya pperhatian dengan kegiatan semacam Observasi ini agar mahasiswa mendapatkan pengetahuan yang lebih, bukan hanya sebatas teori saja..

DAFTAR PUSTAKA Karim, Yasrin.,2011,desa-girisa,diperoleh-dari-http://biosinformasi.blogspot.com /2010/01/pengertian-desa-kota.html Karim, Yasrin.,2011,desa-girisa,diperoleh-dari-http://qac.ums.ac.id/dosen/~sunar hadi/Animasi/POLA_KERUANGAN_DESA_DAN_KOTA.swf Karim, Yasrin.,2011,desa-girisa,diperoleh-dari-http://www.scribd.com/doc/2623 3047/INTERAKSI-DESA-KOTA Karim, Yasrin.,2011,desa-girisa,Gorontalo:Geografi-press

LAMPIRAN

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->