Anda di halaman 1dari 11

TELAAH JURNAL Treatment for osteoporosis in Australian residential aged care facilities: consensus recommendations for fracture prevention

1. Topik Jurnal ini membahas tentang terapi yang tepat dilakukan untuk penderita osteoporosis pada fasilitas perumahan perawatan manula sebagai rekomendasi terhadap pencegahan frakur.

2. Latar Belakang Masalah Osteoporosis merupakan suatu kelainan yang ditandai dengan berkurangnya massa tulang secara progresif atau cepat yang menyebabkan tulang semakin menipis dan lemah. Hal ini mengindikasikan bahwa orang yang mengalami osteoporosis kronis akan mudah mengalami patah tulang. Permasalahan dalam jurnal ini diangkat karena warga Australia yang berusia lebih dari 70 tahun membutuhkan perawatan intensif sepanjang hidupnya. Beberapa survey di Australia membuktikan bahwa manula pada usia rata-rata 83 tahun hanya memiliki rentang hidup dibawah 3 tahun. Selain itu juga ditunjukkan bahwa manula yang tinggal dipanti jompo lebih berisiko patah tulang dibandingkan dengan manula yang hidup di masyarakat sehingga jurnal ini akan membahas upaya pencegahan fraktur pada penderita osteoporosis di fasilitas perumahan perawatan lansia atau Residential Aged Care Facilities (RACFs). Hal ini dilakukan untuk meningkatkan angka harapan hidup pada lansia serta menanggulangi morbiditas dan mortalitas sesuai dengan pendekatan-pendekatan treatment yang tepat untuk diterapkan kepada klien.

3. Tujuan Penulisan Menentukan terapi yang tepat untuk penderita osteoporosis. Meminimalisir resiko terjadinya fraktur pada lansia yang dirawat di fasilitas perumahan perawatan lansia (panti jompo). Meningkatkan harapan hidup lansia di dunia, khususnya di Australia.

Mengembangkan pola dan peran perawat untuk menerapkan asuhan keperawatan khusus pada lansia sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi.

4. Metode Metode awal penulisan jurnal ini merupakan hasil review dari beberapa artikel yang merupakan kombinasi dari beberapa topik yaitu osteoporosis, nursing homes, residential care, long term care, fractures, fracture prevention, calcium, vitamin D, bisphosphonates, strontium ranelate, teriparatide, hip protectors, falls, and falls prevention. Penulis mengembangkan beberapa topic tersebut sebagai dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait penderita osteoporosis dan manajemen keperawatan yang dilakukan untuk mengurangi gejala atau keluhan serta mendukung proses kesembuhan pasien. Pada hasil penelitian yang tercantum pada tabel 2 sampai tabel 6 merupakan penyajian dari metode berbeda-beda yang diterapkan penulis kepada responden untuk menentukan terapi yang tepat diterapkan kepada penderita osteoporosis. Pada tabel 2 penulis menggunakan metode survey kepada penderita osteoporosis di Australia yang berada di Residential Aged Care Facilities (RACFs) dan nursing homes. Survey tersebut membandingkan persepsi atau kepuasan klien terhadap pelayanan medis dan keperawatan. Kemudian pada tabel 3 penulis menggunakan screening model yang merupakan pengembangan dari metode survey untuk mengidentifikasi dugaan penyebab osteoporosis pada beberapa responden di kedua tempat yang digunakan sebagai perbandingan. Sedangkan pada tabel 4 penulis menerapkan pengembangan survey pada penggunaan terapi pengobatan yang dipantau oleh perawat sesuai dengan dosis pemberian obat dan evaluasi dampak yang ditimbulkan selama konsumsi obat tersebut. Pada tabel 5, 6, dan 7 penulis menyarankan penggunaan suplemen dan vitamin tambahan bagi penderita osteoporosis untuk menigkatkan ketahanan fisik dan memenuhi kebutuhan nutrisi tulang sebagai pendukung dalam upaya pencegahan terjadinya fraktur. Ketiga tabel ini merupakan kesimpulan dari hasil review, survey, dan pengembangannya untuk menentukan terapi yang

tepat dalam pencegahan fraktur terhadap penderita osteoporosis yakni dengan menjaga keseimbangan terapi secara farmakologis berupa monitoring dan evaluasi pemberian obat-obatan serta non farmakologis berupa optimalisasi peran perawat dalam menerapkan asuhan keperawatan khusus untuk lansia.

5. Hasil Penelitian a. Tabel 2: Faktor risiko fraktur pada penderita osteoporosis

Berdasarkan hasil survey penulis yang disajikan pada tabel tersebut dijelaskan tentang faktor resiko fraktur secara umum dan perbandingan di kedua tempat pengambilan sample terhadap lansia yang mengalami osteoporosis. Persentase 85% penghuni panti jompo di seluruh dunia dilaporkan telah mengalami osteoporosis dengan estimasi 40% mengalami patah tulang pinggul. Oleh karena itu, identifikasi lansia penderita osteoporosis yang berisiko terhadap fraktur harus dilakukan secara aktif. Dalam penelitian terbarunya, Chen dan rekannya melaporkan hasil epidemiologi risiko fraktur pada lansia melalui cohort study. Studi prospektif ini

dirancang untuk mengevaluasi faktor risiko jatuh dan patah tulang dalam populasi 1894 lansia (1433 perempuan dan 461 laki-laki) yang diambil dari 52 panti jompo dan 30 hostel pada fasilitas pelayanan kesehatan yang berada di Northern Sydney Central Coast Australia. Fakta studi ini menunjukkan bahwa lansia penderita osteoporosis yang berada di RACFs memiliki faktor risiko yang berbeda dengan lansia yang berada di lingkungan masyarakat. Patah tulang pinggul pada orang dewasa merupakan penyebab utama kematian yang dapat dicegah sesuai dengan bukti yang berbasis pendekatan treatment. Beberapa pengembangan metode telah diuji untuk meningkatkan kesadaran tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat terhadap pentingnya identifikasi, pemantauan, dan pengobatan

osteoporosis. Sebuah uji coba secara acak terbaru bertujuan untuk meningkatkan pencegahan patah tulang pada penghuni panti jompo menunjukkan bahwa intervensi dan evaluasi yang dilakukan selama ini tidak efektif dalam meningkatkan pencegahan. Maka, solusi akhir dari studi ini menyarankan bahwa penggunaan intervensi terstruktur dan pendekatan multidisiplin yang mencakup farmakologi dan non-

farmakologi akan sangat berguna dalam konteks pencegahan fraktur pada penderita osteoporosis di Australia.

b.

Tabel 3: Upaya pencegahan di fasilitas perumahan perawatan lansia

Seorang apoteker harus melakukan peninjauan obat setiap tahunnya untuk mengidentifikasi potensi permasalahan obat yang aktual sesuai dengan pemberian resep. Kajian obat harus difokuskan pada penggunaan benzodiazepin dan psikotropika. Intervensi lainnya yang membahas faktor risiko yang berkaitan dengan individu (misalnya, kekuatan dan keseimbangan pelatihan) serta kemampuan mereka untuk aman berinteraksi dengan lingkungan. Studi penggunaan metode meta-analisis melaporkan bahwa intervensi multifaktorial dapat mengurangi risiko jatuh dan dapat diterapkan dalam asuhan keperawatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Penulis mengkonfirmasi bukti yang menunjukkan bahwa kekurangan vitamin D sebagai etiologi osteoporosis ternyata bukan satu-satunya faktor efektif yang bepengaruh pada intervensi untuk mencegah jatuh pada populasi lansia. Sedangkan bukti sebelumnya menunjukkan bahwa latihan

fisik secara aktif memiliki efek yang berpengaruh pada upaya pencegahan jatuh. Melalui tinjauan Cochrane, kedua bukti tersebut disimpulkan bahwa pemenuhan kebutuhan vitamin D dan latihan fisik tetap berpengaruh terhadap intervensi pencegahan fraktur pada penderita osteoporosis, maka perawatan dan pemantauan intensif harus dilakukan secara terstruktur.

c. Tabel 4: Upaya Pencegahan Farmakologis terhadap risiko fraktur pada penderita osteoporosis

Secara umum, pemilihan obat osteoporosis yang paling tepat untuk pasien harus mencakup pertimbangan optimalisasi efek utama, frekuensi dosis dan rute pemberian, efek samping dan toleransi pasien, kepatuhan dan masalah yang mungkin muncul, efektivitas biaya, dan kemampuan untuk mencegah patah tulang lebih awal.

d. Tabel 5: Vitamin D dan suplemen kalsium sebagai pendukung dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi tulang

Pemenuhan kebutuhan vitamin D sangat penting untuk penyerapan kalsium dalam usus. Pada orang dewasa dengan kalsium dasar, asupan yang dibutuhkan sekitar 500-900mg/hari. Bukti terbaru menunjukkan bahwa suplementasi dapat meningkatkan risiko infark miokard yang merupakan efek samping yang harus diwaspadai. Penggunaan dosis tinggi vitamin D, baik oral atau parenteral, belum dibuktikan secara ilmiah pada pencegahan fraktur di Australia. Namun, berdasarkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa dosis tinggi serum kadar vitamin D dapat meningkatkan kepatuhan pasien dan menjadi alternatif sebagai penobatan untuk lansia di RACFs.

e. Tabel 6: Penggunaan bifosfonat untuk pencegahan patah tulang pada fasilitas perumahan perawatan lansia

Bifosfonat adalah obat yang paling umum digunakan untuk pencegahan fraktur pada populasi umum. Namun, bukti yang mendukung penggunaan bifosfonat untuk lansia sangat terbatas hanya pada satu penelitian acak terkontrol yang menunjukkan bahwa alendronat

meningkatkan kekuatan tulang. Selain itu, frekuensi optimal dan rute administrasi bifosfonat untuk meminimalkan efek samping dan

memaksimalkan manfaat pada populasi RACF perlu untuk dilakukan.

Bifosfonat intravena bisa menjadi alternatif yang bermanfaat karena kurangnya efek samping pada gastrointestinal, namun lamanya interval (1 tahun) serta diharapkan 100% kepatuhan selama 12 bulan juga harus dipertimbangkan. Jumlah efek samping potensial yang terkait

dengan bifosfonat merupakan keprihatinan umum dari dokter ketika memutuskan penggunaannya pada treatment osteoporosis Osteonekrosis rahang (ONJ) dan atrium fibrilasi adalah potensi efek samping paling memprihatinkan karena keduanya terjadi pada awal setelah pengobatan. Risiko yang terkait dengan terapi bisfosfonat ONJ untuk osteoporosis adalah rendah dan bahwa pretreatment rutin penilaian gigi hanya harus dilakukan pada pasien yang berisiko tinggi (pasien kanker yang menerima bifosfonat intravena) dan bukan merupakan pilihan utama yang memberikan manfaat bagi semua pasien osteoporosis.

f. Tabel 7: Pengobatan farmakologis lain untuk pencegahan fraktur di fasilitas perumahan pelayanan kesehatan lansia

Stronsium ranelate adalah agen yang digunakan hanya untuk indikasi yang menunjukkan pengurangan dalam fraktur non vertebral dan pinggul pada wanita lansia berisiko tinggi, namun belum ada penelitian yang menilai dampak dari strontium ranelate pada populasi RACFs. Teriparatide anabolic sebagai alternatif obat, baru-baru ini disetujui di Australia dengan pemberian secara subkutan sekali sehari.

6. Aplikasi Hasil Penelitian Inovasi metode baru dalam penelitian ini sangat baik dan cukup efektif untuk diterapkan di tatanan pelayanan kesehatan di Indonesia. Aplikasi tersebut dapat meningkatkan kemampuan para pemberi pelayanan kesehatan terutama perawat dan melengkapi fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia terutama fasilitas homecare. Penerapan metode ini juga efektif digunakan sebagai referensi pengembangan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan muskuloskeletal karena dapat mengurangi resiko fraktur pada penderita osteoporosis khususnya lansia. Penerapan di Indonesia dapat dilakukan di panti jompo maupun pemberian edukasi kepada keluarga yang memiliki anggota keluarga lansia.

DAFTAR PUSTAKA

Bischoff-Ferrari HA, Willett WC, Wong JB, et al. Fracture prevention with vitamin D supplementation: a meta-analysis of randomized controlled trials. JAMA 2005; 293: 2257-2264. Cameron ID, Murray GR, Gillespie LD, et al. Interventions for preventing falls in older people in nursing care facilities and hospitals. Cochrane Database Syst Rev 2010; (1): CD005465 Loke YK, Jeevanantham V, Singh S. Bisphosphonates and atrial fibrilla-tion: systematic review and meta-analysis. Drug Saf 2009; 32: 219-228. Rapp K, Lamb SE, Bchele G, et al. Prevention of falls in nursing homes: subgroup analyses of a randomized fall prevention trial. J Am Geriatr Soc 2008; 56: 1092-1097. Richards JB, Cherkas LF, Spector TD. An analysis of which anti-osteo-porosis therapeutic regimen would improve compliance in a population of elderly adults. Curr Med Res Opin 2007; 23: 293-299.