Anda di halaman 1dari 85

IMAN KEPADA HARI KIAMAT (Kuliah Akidah FE UII­Pertemuan Ke­6) Dr. Abdul Munif, M.Ag

A. Pengertian Hari Akhir

Ada dua pengertian yang terkandung dalam istilah "hari akhir", pertama, hancurnya semua alam semesta dan berakhirnya kehidupan dunia ini. Kedua, dimulainya babak kehidupan akhirat. Istilah "hari akhir" (al­yaum al­akhir) menunjukan hari terakhir dalam kehidupan dunia, sekaligus sebagai hari pertama dalam kehidupan yang kedua (akhirat). Beriman kepada hari akhir mengharuskan seseorang untuk membenarkan semua informasi yang disampaikan Allah Swt tentang kefanaan atau kebinasaan kehidupan dunia, tanda­tandanya, dan hiruk pikuk yang menyertainya. Begitu juga dia harus mempercayai kebenaran Allah yang telah menginformasikan tentang kehidupan akhirat, termasuk di dalamnya adalah tentang nikmat dan siksaan, kebangkitan dari kubur, pengumpulan makhluk, dan hisab serta balasan sesuai dengan amal perbuatan iradiyah dan ikhtiyariyah yang dilakukan di dunia ini. 1

Keharusan Beriman Kepada Hari Akhir Beriman kepada hari akhir berarti membenarkan dan mempercayai dengan sungguh­sungguh tentang adanya kehancuran total alam semesta yang menandai berakhirnya kehidupan dunia, sekaligus dimulainya kehidupan akhirat dengan segala situasi dan kondisinya, seperti adanya kebangkitan makhluk dari kubur, berkumpulnya mereka, hisab, dan pembalasan atas amal perbuatan mereka. Keimanan terhadap hari akhir ini bukan saja suatu keharusan atau kewajiban, tetapi juga sebagai salah satu rukun iman yang enam, yang menjadi pondasi bangunan aqidah seorang mukmin. Tidak sah dan sempurna aqidah seseorang tanpa beriman kepada hari akhir ini. Allah berfirman:

œQˆquã¯9$#ur ´!$$Œ/ z`tB#uÙ`tB ßé9¯9$# £`

s9ur >Ãç¯ÛyJ¯9$#ur -ŒéÙ yJ¯9$# ü@t6œ% ˆN3ydq_r (#qó9uqË? br& ßé9¯9$# }߯ä©9 *

4íytGuä¯9$#ur 4Ün1ˆç)¯9$# ìÕrså æœmŒm6m 4ín?ttA$yJ¯9$# ítA#uur zÕhãŒ;®Z9$#ur =ªtG

3¯9$#ur œpx6եتn=yJ¯9$#ur Ãç

zFy$#

no4qü2®ì9$#

ítA#uur

no4qn=¢£9$#

uQ$s%r&ur

U$s%Ãhç9$#

íŒ˚ur

t˚,Œ#Õ¨!$°°9$#ur

»Œ6°°9$#

t˚¯Û$#ur

t˚¸

|°yJ¯9$#ur

y7եتs9'rÈ& 3 ƒ®˘'t7¯9$# t˚¸œnur œ!#ßéúÿ9$#ur œ!$yô˘'t7¯9$# íŒ˚ t˚ÔŒé9ª¢£9$#ur ( (#râyt„ #såŒ) ˆNœdœâÙgyËŒ/ öcqˢqJ¯9$#ur

« ––» tbq) GJ¯9$# NËd y7եتs9'rÈ&ur ( (#qË%yâ| t˚Ôœ%©!$#

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat­malaikat, kitab­kitab, nabi­nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak­anak yatim, orang­orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang­orang yang meminta­minta; dan

1 Syeikh Abu Bakar al­Jazairi, Aqidah al­Mu'min, hlm. 321.

(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang­orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang­orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang­orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang­orang yang bertakwa (Qs. Al­Baqarah: 177).

Mengingat pentingnya keimanan ini dalam kehidupan seorang mukmin dan pengaruhnya yang besar dalam membantu keistiqamahan seseorang, maka al­Quran sangat memperhatikan keimanan ini sama besarnya dengan perhatian terhadap keimanan kepada Allah Swt. Puluhan surat dan ratusan ayat membicarakan masalah ini. Kadang dengan mendiskripsikannya dan kadang dengan menyinggungnya, seperti dalam ayat­ ayat berikut ini.

«Õ» Zoyâœn ur Zp©.yä $tG©.âs˘ A$t7

g¯:$#ur ˆëF{$# œMn=œHqur «Ã» oyâœn ur pyǯˇtR

Õëqê£9$# íŒ˚ yáœˇÁR #såŒ*s˘

4 $ygÕ¨!%y`ˆër& #ín?t7n=yJ¯9$#ur «œ» puäœd#ur

7ãÕ¥tBˆqtÉ }ëœSs˘ !$yJ°°9$# œM§)t±R$#ur «Œ» ËpyËœ%#uq¯9$# œMyËs%ur 7ãÕ tBˆquäs˘

« —» puäœ˘%s{ ÛO3ZœB 4ís"¯ÉrB üw tbq

tç˜ËË? 7ãÕ¥tBˆqtÉ « –» puäœoˇsS

7ãÕ¥tBˆqtÉ ˆNgs%ˆqs˘ y7Œn/uë z

Ûèt@œJ¯tsÜur

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung­ gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur, aka pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat­malaikat berada di penjuru­penjuru langit. dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah) (Qs. Al­Haqqah: 13­18).

Kadang dengan menetapkan dan menguatkan berita kedatangannya, seperti dalam ayat­ayat berikut.

ûw puäœ?#u

spt„$°°9$# ®br&ur «œ» ÷çÉœâs% &Ûx´ »e@. 4ín?tºÁmØRr&ur 4ítAˆquK¯9$# «ë¯tÜ ºÁmØRr&ur ë,pt¯:$# uqËd ©!$# ®br'Œ/ y7œ9 så

«–» ÕëqÁ7)¯9$# íŒ˚ `tB ]yˈ7tÉ ©!$# ûcr&ur $pœ˘ |=˜Éuë

Yang demikian itu, Karena Sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan Sesungguhnya dialah yang menghidupkan segala yang mati dan Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya hari kiamat itu Pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur (Qs. Al­Hajj: 6­7).

´!$# ín?ty7œ9 såur 4 ˜L͢=œHx $yJŒ/ ®bs¨7t^ÁGs9 ßNËO £`ËVyˈ6ÁGs9 íŒn1uëur 4ín?t/ ˆ@Ë% 4 (#qËVyˈ7É `©9 br& (#ˇrçxˇx. t˚Ôœ%©!$# zNtyó

«–»

°oÑ

éç

Orang­orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali­kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Memang, demi Tuhanku, benar­benar kamu akan

dibangkitkan, Kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan." yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (Qs. At­Taghabun: 7).

«`3tÉ `tBur 3 Ãç

zFy$# œQˆquã¯9$$Œ/ üwur ´!$$Œ/ öcqYœB˜sÉ üwur ƒ®$®Y9$# u!$sùÕë ˆNgs9 uq¯Br& öcq)œˇYÉ t˚Ôœ%©!$#ur

«Ã—» $YÃçs% u!$|°s˘ $YÃçs% ºÁms9 s¯ã§±9$#

Dan (juga) orang­orang yang menafkahkan harta­harta mereka Karena riya[297] kepada manusia, dan orang­orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, Maka syaitan itu adalah teman yang seburuk­buruknya (Qs. An­Nisa:38).

&Ûx´ íŒ˚ ˜LÍÙtìªuZs? bŒ*s˘ ( ÛO3ZœB ÕêˆDF{$# íÕ<'rÈ&ur tAqôßç9$# (#qË㜤r&ur ©!$# (#qË㜤r& (#˛qYtB#ut˚Ôœ%©!$# $pköâr'تtÉ

«Œ“» xÉÕr˘'s?

`|°Ùmr&ur

éˆçyz y7œ9 så 4 Ãç

zFy$# œQˆquã¯9$#ur ´!$$Œ/ tbqZœB˜sË? ˜LÍY. bŒ) Aqôßç9$#ur ´!$# ín<Œ) Ánrñäçs˘

Hai orang­orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar­benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (Qs. An­Nisa: 59.

….danmasihbanyakayatyanglain. Perhatian al­Quran terhadap kedua rukun iman ini menunjukkan bahwa keduanya merupakan pilar utama kehidupan spiritual­ruhiyah. Di atas pondasi kedua rukun iman inilah keistiqamahan seseorang dalam kehidupan ini bisa ditegakkan, dan sesungguhnya keimanan tanpa kedua rukun iman tersebut tidak akan berarti apa­apa. Barangsiapa yang kehilangan dua rukun iman ini, maka sesungguhnya dia kehilangan peluang untuk mendapatkan unsur­unsur kebaikan dan keutamaan bagi dirinya, sehingga dia menjadi manusia yang jahat. Kesimpulannya adalah bahwa meyakini dan beriman kepada Allah dan hari akhir merupakan inti dari semua aqidah, dan pondasi dari semua keimanan. Di atas dua keimanan ini bisa dibangun keistiqamahan seseorang, kebaikan akhlaknya, dan kesucian jiwanya. Tanpa keimanan ini, seseorang akan menjadi makhluk yang sama sekali tidak memiliki kebaikan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Dia akan menjadi manusia yang buruk dan jahat, sehingga tidak ada orang lain yang merasa aman, tentram, dan damai bersamanya. Semuanya itu karena dia tidak memiliki sumber kebaikan, keutamaan, dan kesempurnaan bagi dirinya sendiri.

B. Tanda­Tanda Kiamat Kecil

1. Diutusnya Rasulullah saw.

Rasulullah saw bersabda: "Aku diutus, sedangkan kiamat seperti dua jari ini". Beliau menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Muslim).

Imam al­Qurthubi mengatakan bahwa tanda pertama datangnya kiamat adalah kehadiran Rasulullah saw, karena beliau adalah nabi akhir zaman. Beliau diutus, dan tidak ada nabi lagi sesudahnya sampai datangnya hari kiamat.

Wafatnya Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda: "Hitunglah enam (tanda) menjelang hari kiamat, yakni "

kematianku (HR. Bukhari).

Kematian Rasulullah saw merupakan salah satu tanda hari kiamat. Semenjak kematian beliau, maka terhentilah wahyu, beberapa suku Arab murtad (keluar) dari agama Islam, dan timbullah fitnah dimana­mana, serta dunia terasa gelap di mata para sahabatnya, radliyallahu 'anhum.

2.

3. TerbukanyaBaitulMakdis

Rasulullah bersabda: "Hitunglah enam (tanda) menjelang hari kiamat, ­lalu beliau menyebutkan­ terbukanya Baitul Makdis" (HR. Bukhari). Peristiwa terbukanya Baitul Makdis itu terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab.

4. BencanaPenyakitTha'un

Rasulullah saw bersabda: "Hitunglah enam (tanda) menjelang hari kiamat, ­beliau menyebutkan­ kemudian banyaknya kematian di antara kalin seperti wabah penyakit qu'ash yang menimpa kambing" (HR. Bukhari). Qu'ash adalah semacam wabah penyakit yang menimpa binatang ternak dan membuat terjadinya kematian hewan secara mendadak.

Penyakit tha'un ini telah melanda umat Islam pada masa pemerintahan Umar bin Khathab, yang memakan korban 25.000 orang meninggal, termasuk Abu Ubaidah Amir bin al­Jarrah, salah seorang pahlawan umat Islam.

5. Munculnya berbagai fitnah

Rasulullah saw bersabda: "Sebelum kiamat tiba akan ada banyak fitnah seolah­olah kepingan­kepingan malam yang gelap­gulita. Di pagi hari seseorang masih menjadi seorang mukmin tetapi di sore hari dia telah berubah menjadi orang kafir. Pada masa itu, seorang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan. Orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari, maka pecahlah orang­orang keras kalian, putuskanlah tali busur kalian, pukullah batu dengan pedang kalian. Jika salah seorang kalian mengalaminya, maka jadilah sebagai manusia terbaik" (HR. Ahmad, Abu Daud, dan al­Hakim dari Abu Musa al­ Asy'ari, dishahihkan oleh al­Albani).

Rasulullah saw telah memperingatkan kita tentang adanya fitnah itu dan memerintahkan agar kita memohon perlindungan. Beliau mengatakan: "Mohonlah perlindungan kepada Allah dari segala fitnah, baik yang dlahir maupun yang batin" (HR. Muslim).

6. Disia­siakannya amanah

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: "Apabila amanah telah disia­ siakan, maka tunggulah hari kiamat". Abu Hurairah bertanya: "Bagaimana menyia­ nyiakannya, ya Rasulullah?" Rasulullah saw menjawab: "Apabila suatu urusan diserahkan kepada seseorang yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat" (HR. Bukhari).

7.

Menyebarnyaperbuatanzina

Rasulullah saw bersabda "Salah satu tanda datangnya hari kiamat adalah ­beliau menyebutkan salah satunya­ menyebarnya perbuatan zina" (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak hanya terbatas pada menyebarnya zina, tetapi sampai pada persoalan dihalalkannya zina, sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah saw: "Di kalangan umatku akan ada berbagai kelompok yang menghalalkan zina dan sutera" (HR. Bukhari).

8. Tersebarnyapornografidannyanyianmesum

Hal ini merupakan salah satu hal yang melanda di era sekarang ini. Anda hampir tidak bisa menemukan sebuah rumahpun kecuali suara nyanyian dan bunyi­bunyian terdengar dari rumah tersebut, dan anda tidak menemukan orang yang mengingkarinya. Sungguh, telah ada ancaman berat bagi orang yang memperdengarkan nyanyian dan orang yang menghalalkannya.

Rasulullah saw bersabda: "Di kalangan umatku akan ada berbagai kelompok yang menghalalkan zina, sutera, khamr (minuman keras), dan permainan musik. Akan ada berbagai kelompok orang yang tinggal di lereng gunung menikmati kekayaan mereka, lalu dating seorang fakir untuk meminta suatu hajat. Mereka berkata: Datanglah kembali kepada kami besok pagi. Lalu Allah swt menghancurkan mereka di malam hari, meruntuhkan gunung itu, dan mengubah rupa orang­orang lainnya seperti monyet dan babi hingga datang hari kiamat (HR. Bukhari). Rasulullah saw bersabda: "Pada akhir zaman akan terjadi penenggelaman, gelombang air besar, dan pengubahan bentuk rupa. Rasulullah saw ditanya: Kapan itu terjadi ya Rasulullah? Beliau menjawab: Jika telah muncul permainan alat musik dan para penyanyi perempuan" (HR. ath­Thabrani).

9. Munculnyaparanabipalsu

Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan tiba hari kiamat hingga munculnya para dajal pendusta yang jumlahnya hampir tiga puluh. Semuanya mengaku sebagai utusan Allah swt" (HR. Bukhari). Di antara mereka adalah Musailamah al­Kadzab, al­Aswad al­ 'Insi, Sajah, dan lain­lain.

10. Banyaknya harta benda

Rasulullah bersabda: "Tidak akan datang hari kiamat hingga kalian banyak memiliki harta benda, sehingga tidak ada nilainya, sampai­sampai pemilik harta berharap ada orang yang mau menerima shadaqahnya, lalu diundangnya seseorang, tetapi dia menjawab: Aku tidak membutuhkan harta itu" (HR. Bukhari).

Pada masa shahabat, harta benda begitu berlimpah. Mereka membagi kekayaan dari Persia dan Romawi, begitu juga pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Di masa mendatang, yakni pada masa al­Mahdi dan Nabi Isa as, harta benda juga akan berlimpah sehingga tidak akan ada lagi orang yang mau menerima shadaqahnya.

11. Banyaknya peperangan

Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan datang hari kiamat sampai terjadi banyaknya al­harju". Para sahabat bertanya: Apa yang dimaksud dengan al­harju ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Pembunuhan dan pembunuhan (HR. Muslim). Semua ini terjadi karena banyaknya peperangan dan digunakannya berbagai jenis senjata pemusnah masal, tersebarnya berbagai fitnah, jauhnya manusia dari agama Allah

(kecuali mereka yang dirahmati Allah), dan banyaknya kemaksiatan serta jungkir baliknya akal manusia.

12. Menyebarnya khamr dan orang yang menhalalkannya

Rasulullah saw bersabda: "Di antara tanda­tanda hari kiamat ­beliau menyebutkan di antaranya­ diminumnya khamr" (HR. Muslim). Rasulullah juga bersabda: "Di kalangan umatku akan ada berbagai kelompok yang menghalalkan zina, sutera, khamr (minuman keras)" (HR. Bukhari).

13. Peperangan Ajam

Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan datang hari kiamat kecuali setelah kalian memerangi bangsa Huz dan Kirman dari kalangan ajam (non Arab), merah wajahnya, pesek hidungmya, kecil matanya, seolah­olah wajah mereka seperti perisai dan sandal mereka dari bulu" (HR. Bukhari). Huz adalah salah satu wilayah yang dikenal dengan Huzistan. Kirman adalah wilayah yang terkenal yang diwilayah barat bertabatasan dengan Persia dan di wilayah utara dengan Khurasan.

14. Peperangan at­Turk

Rasulullah saw bersabda: Tidak akan datang hari kiamat sampai orang­orang Islam memerangi at­Turk, yakni sekelompok orang yang wajah mereka seperti perisai, mereka mengenakan pakaian dari bulu, dan berjalan dengan sandal bulu" (HR. Muslim).

Umat Islam telah memerangi at­Turk pada masa sahabat,dan juga pada masa awal pemerintahan Mu'awiyah.

15. Banyaknya gempa bumi

Salmah bin Nufail as­Sakuni berkata: Kami sedang duduk bersama Rasulullah, kemudian beliau mengatakan sebuah hadits: "Menjelang hari kiamat akan ada kematian yang dahsyat, dan setelah itu adalah tahun­tahun gempa bumi" (HR. Ahmad dan ath­ Thabrani).

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan datang hari kiamat hingga banyak terjadi gempa bumi" (HR. Bukhari). Hal ini telah kita saksikan dan kita dengar tentang banyaknya peristiwa gempa bumi di berbagai negara.

16. Diangkatnya ilmu pengetahuan dan banyaknya kebodohan

Rasulullah saw bersabda: "Menjelang hari kiamat akan ada suatu masa, saat kebodohan diturunkan dan ilmu pengetahuan diangkat" (HR. Bukhari). Rasulullah saw bersabda: "Salah satu syarat (tanda) hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan menetapnya kebodohan" (HR. Bukhari). Diangkatnya ilmu adalah dengan wafatnya para ulama. Rasulullah saw bersabda:

"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan sekaligus dari semua hambaNya, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga jika sudah tidak ada lagi orang alim, maka orang­orang bodoh dijadikan sebagai pemimpin. Jika mereka ditanya, mereka memberikan fatwa (jawaban) tanpa dasar ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan" (HR. Bukhari).

17.

Al­Qur'an lenyap dari hati manusia dan mushaf.

Rasulullah saw bersabda: "Islam akan dipelajari sebagaimana mempelajari bordiran pakaian, sehingga tidak diketahui lagi apa itu puasa, shalat, ibadah haji, dan zakat. Lalu dalam satu malam, kitabullah disembunyikan sehingga tidak tersisa satu ayatpun di muka bumi. Yang tersisa hanya beberapa kelompok manusia; orang tua dan perempuan tua. Mereka berkata: Kami menemukan bapak­bapak kami memegangi kalimat ini. Mereka mengatakan La ilaha illallah, dan kami mengucapkan kalimat itu. Kemudian Shilah berkata: Tidak ada gunanya ucapan (La ilaha illallah) bagi mereka, karena mereka tidak tahu apa itu shalat, puasa, ibadah haji dan zakat. Lalu Hudzaifah berpaling darinya. Dia bolak balik melakukannya tiga kali, lalu menghadap ke arah Shilah dan berkata: Wahai Shilah, kalimat itu bisa menyelamatkan mereka, tiga kali (HR. Ibn Majah dan al­Hakim dari Hudzaifah, dishahihkan oleh al­Albani).

Abdullah bin Mas'ud ra berkata: "Al­Qur'an akan hilang dari mereka, disembunyikan dalam suatu malam dan hilang dari mulut orang­orang, sehingga tidak ada satu ayatpun yang tersisa di muka bumi" (HR. Ath­Thabrani).

Ibn Taimiyah mengatakan bahwa di akhir zaman, al­Qur'an lenyap dari mushaf dan hati manusia. Tidak ada satu kalimat pun dari al­Qur'an yang tersisa di hati manusia, dan tidak ada satu huruf pun dari al­Qur'an yang masih tersisa dalam mushaf­mushaf itu. (Ibn Taimiyah, Majmu' Fatawa Ibn Taimiyah, 3/198­199). Yang lebih besar dari hal ini adalah nama Allah swt tidak lagi disebut di muka bumi, sebagaimana dalam hadits Anas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan datang hari kiamat hingga di muka bumi ini tidak ada yang mengucapkan Allah, Allah" (HR. Muslim).

18. Kesaksian palsu dan disembunyikannya kesaksian yang benar.

Rasulullah saw bersabda: "Menjelang hari kiamat, akan ada kesaksian palsu dan disembunyikannya kesaksian yang benar" (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Ahmad Syakir).

Demi Allah, telah banyak kejahatan keji dilakukan yang membuat hati orang mukmin merinding. Betapa banyak penganiayaan (ketidakadilan) hukum terhadap anak­ anak yatim dan orang­orang miskin. Mereka dijauhkan dari mendapatkan apa yang menjadi hak mereka. Sebaliknya, betapa banyak orang­orang yang menghambur­ hamburkan harta dan harga diri. La haula wala quwwata illa billahi.

19. Tersebarnya rasa aman di berbagai negara.

Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan datang hari kiamat hingga seorang pengembara menempuh perjalanan antara Irak dan Mekkah tanpa ada rasa ketakutan kecuali hanya khawatir tersesat di jalan" (HR. Ahmad). Dalam hadits riwayat Habbab bin al­Art, Rasulullah saw bersabda: "Demi Allah, Allah akan menyempurnakan persoalan ini hingga seorang pengembara menempuh perjalanan dari San'a ke Hadramaut tanpa pernah merasa ketakutan kecuali kepada Allah dan srigala atas kambing­kambingnya, tetapi kalian adalah orang­orang yang tergesa­ gesa" (HR. Bukhari, Ahmad, dan Nasa'i). Hal ini pernah terjadi pada masa sahabat, dan akan terulang lagi kelak pada zaman al­Mahdi dan Nabi Isa as.

20.

Megahnya kandang binatang

Dalam hadits mutafaq 'alaih sesungguhnya Nabi Muhammad saw berkata kepada

namun aku akan

menceritakan salah satu tanda­tandanya, (lalu beliau menyebutkan) jika kandang binatang sangat panjang dan megah bangunannya, maka itulah salah satu tanda­tandanya (HR. Bukhari dan Muslim).

Semua ini disebabkan karena kecintaan mereka kepada dunia dan saling membanggakannya, sampai­sampai banyak orang yang membangun rumah dengan sangat megah dan mempercatiknya, dan lain­lain yang menandakan kecintaan mereka kepada kehidupan dunia yang fana ini.

Jibril as, ketika dia bertanya tentang saat kedatangan hari kiamat: "

21. Keluarnya api di daerah Hijaz.

Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ada api yang keluar di daerah Hijaz yang bisa menerangi leher­leher onta di kota Bashrah" (HR. Bukhari). Api itu telah keluar pada pertengahan abad ke­7 H, tepatnya tahun 654 H. Api itu sangat besar hingga bisa dilihat dari kota Madinah. Ibn Katsir menceritakan bahwa lebih dari satu orang di kota Bashrah yang menyaksikan leher­leher onta diterangi api yang muncul di daerah Hijaz tersebut. 1

22. Banyaknya polisi

Rasulullah saw bersabda: "Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya; sekelompok orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukuli orang­orang" (HR. Muslim). Rasulullah saw berkata: "Di akhir zaman akan ada para polisi yang di pagi hari berada dalam kemarahan Allah, dan ketika mereka istirahat (di sore hari) juga berada dalam kebencian Allah" (HR. Ath­Thabrani, dishahihkan oleh al­Albani)

Imam Nawawi mengatakan bahwa hadits ini merupakan salah satu mukjizat kenabian Muhammad saw. Sungguh telah terbukti apa yang disabdakan oleh beliau.

23. Perginya orang­orang baik dan beragama.

Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan datang hari kiamat hingga Allah mengambil para polisiNya (orang­orang terbaik dan beragama) dari penduduk bumi, sehingga yang tersisa adalah orang­orang yang tidak memiliki kebaikan, mereka tidak mengetahui kebaikan dan juga tidak mencegah kemungkaran" (HR. Ahmad).

Tanda­tanda itu terjadi pada saat banyaknya kemaksiatan, dan tidak ada lagi upaya amar ma'ruf nahi munkar. Dengan demikian, orang­orang shaleh yang ketika melihat kemungkaran tidak berusaha untuk mencegahnya, maka mereka juga terkena azab, sebagaimana firman Allah swt:

>$s)œË¯9$# âÉœâx© ©!$# ûcr& (#˛qJn=˜Ê$#ur ( Zp¢ !%s{ ˆN3YœB (#qJn=st˚Ôœ%©!$# ®˚t˘ã £Ë? ûw ZpuZ˜Fœ˘ (#q)®?$#ur

1 an­Nihayah fi al­fitan wa al­malahim, 1/14.

«ÀŒ»

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang­ orang yang zalim saja di antara kamu, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan­Nya (Qs. Al­Anfal: 25) Pada saat itu, di kalangan umat Islam ini ada orang yang merasa bangga bahkan saling membanggakan diri masing­masing bahwa mereka menyembah syetan selain Allah swt, meskipun Allah telah melarang kita menyembah syetan. Allah berfirman:

»br&ur «œ…» ˚¸Œ7ïB

Arâtˆ/3s9 ºÁmØRŒ) ( zs¯ã§±9$# (#râÁ7˜Ës? ûw cr& tPyä#u˚Õ_t6ªtÉ ˆN3ˆãs9Œ) ÙâygÙr& ÛOs9r&

«œ» )tGÛ°ïB ué

¿ #xãªyd 4 íŒTrâÁ6Ù$#

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu" (Qs. Yasin: 60­61). 24. Munculnya banyak perbuatan keji, pemutusan silaturrahmi dan sistem bertetangga yang jelek Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan datang hari kiamat hingga muncul perbuatan keji, saling berbuat keji, pemutusan silaturrahmi dan jeleknya hubungan bertetangga (HR. Ahmad. Menurut Ahmad Syakir, sanadnya shahih). Semua itu telah terjadi di negara­negara muslim dalam bentuk yang sangat memprihatinkan. Telah terjadi pemutusan hubungan silaturrahmi antara seorang bapak dengan anak­anaknya. Sedangkan jeleknya hubungan bertetangga, sungguh aku tidak mampu menggambarkannya tentang keadaan tersebut pada saat ini. Inna lilahi wainna ilaihi raji'un, semua itu terjadi karena lemahnya iman. 25. Tersebarnya riba dan kebiasaan makan sesuatu yang haram. Rasulullah saw bersabda: "Menjelang datangnya hari kiamat, akan muncul riba" (HR. At­Thabrani). Hal tersebut tidak terbatas pada munculnya riba, tetapi telah begitu menggurita kebiasaan memakan riba dalam bentuk yang sangat menakjubkan. Inilah yang telah diprediksikan oleh Rasulullah saw ketika beliau bersabda: "Akan datang suatu masa, dimana seseorang tidak lagi memperdulikan darimana hartanya dia dapatkan, apakah dari sesuatu yang halal atau haram" (HR. Bukhari). 26. Meningkatnya jumlah orang­orang yang rendah dan bodoh Rasulullah juga bersabda: "Tidak akan datang hari kiamat sampai ada orang yang paling kaya adalah Luka' bin Luka' (HR. Ahmad, dan Tirmidzi dari Hudzaifah, dishahihkan oleh al­Albani). Luka' adalah sebutan bagi orang bodoh dan tidak berilmu, juga menjadi sebutan bagi orang yang buruk perangainya. Rasulullah saw bersabda: "Demi yang jiwa Muhammad dalam genggaman­Nya. Kiamat tidak akan terjadi kecuali telah merata dan merajalela dengan terang­terangan segala perbuatan mesum dan keji, pemutusan hubungan kekeluargaan, beretika (berakhlak) buruk dengan tetangga, orang yang jujur (amanat) dituduh berkhianat, dan orang yang khianat diberi amanat (dipercaya). (HR. Al Hakim) Rasulullah juga mengatakan: "Akan datang suatu masa, yakni tahun­tahun saat banyak para pengkhianat. Orang berdusta dibenarkan, orang yang jujur dianggap

pendusta, pengkhianat dipercaya, dan orang yang dipercaya dikhianati, sementara itu, ruwibidlah banyak berbicara. Rasulullah ditanya: Siapakah ruwaibidlah itu? Rasulullah menjawab: (Yaitu) seorang lelaki yang bodoh tetapi berbicara mengenai persoalan umum" (HR. Ahmad, Ibn Majjah, al­Hakim, dari Abu Hurairah, dishahihkan ole al­ Albani) Fenomena dalam hadits di atas sudah sering kita saksikan. Anda bisa melihat bagaimana orang­orang begitu menghormati seseorang yang termasuk paling sengit dalam memusuhi Islam dan umat Islam. Sebaliknya, seringkali orang yang berkorban dan berjuang menolong agama Allah dilecehkan dan direndahkan oleh banyak orang. Kepada Allahlah kita meminta pertolongan! 27. Orang­orang berlomba dan saling membagakan dalam membangun masjid dan mempercantiknya. Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan datang hari kiamat sampai orang­orang saling membagakan masjid (masing­masing) (HR. Ahmad dan Ibn Hiban dari Anas, dishahihkanolehal­Albani).

Ibn Abbas mengatakan: "Kalian akan mempercantik masjid­masjid itu seperti yang

dilakukan oleh Yahudi dan Nashrani". Anas mengatakan: "Mereka saling berlomba membangun masjid, tetapi hanya sedikit yang memakmurkannya. Yang dimaksud dengan

membanggakan masjid adalah menghiasi dan mempercatiknya dengan berlebihan.

Tidak diragukan lagi, bahwa secara hakiki, memakmurkan masjid tidak lain adalah dengan menggunakannya untuk bertaat kepada Allah dan berzikir kepadaNya. Itulah mengapa Umar bin Khathab melarang untuk mempercantik dan menghias masjid karena khawatir orang­orang berpaling dari beribadah kepada Allah. Beliau mengatakan kepada mereka yang terlibat dalam renovasi Masjid Nabawi: "Buatlah agar orang­orang bisa berteduh dari hujan, dan janganlah diberi warna merah atau kuning karena bisa menjadi fitnah bagi banyak orang" (HR. Bukhari). 28. Merajalelanya syirik di kalangan umat Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan datang hari kiamat hingga beberapa kelompok dari umatku mengikuti orang­orang musyrik hingga mereka menyembah berhala" (HR. Tirmidzi dan al­Hakim dari Tsauban, dishahihkan oleh al­Albani).

Di kalangan umat, secara perlahan­lahan semakin bertambah orang­orang yang

jatuh ke dalam syirik akbar, apalagi syirik ashghar (kecil). Kita memohon kepada Allah agar umat Islam ini kembali kepadaNya, kembali bertauhid kepadaNya. 29. Banyak masjid dijadikan jalan Rasulullah saw bersabda: "Di antara tanda­tanda kiamat adalah seseorang melewati masjid tetapi tidak melakukan shalat dua rakaat di dalamnya" (HR. Ibn Khuzaimah dan al­Bughawi, dishahihkan oleh al­Albani). Hal ini merupakan wujud tidak adanya penghormatan kepada syi'ar­syi'ar Allah swt, karena masjid itu dibangun bukan untuk dijadikan jalan buat lewat orang tetapi untuk beribadah. Lebih dari itu, sekarang ini di berbagai negara, masjid telah dijadikan sebagai tujuan wisata, dimana para turis kafir, termasuk para perempuan dengan pakaian seronok memasuki masjid, bahkan seringkali pelaksanaan shalat ditunda sampai selesainya kunjungan wisata tersebut. Ina lilahi wainna ilaihi raji'un.

30.

Budak perempuan melahirkan anak majikannya

Rasulullah saw pernah bertanya kepada Jibril tentang tanda­tanda kiamat: Di antaranya adalah apabila seorang budak perempuan (amat) melahirkan anak majikannya (HR. Bukhari). Dalam riwayat Muslim: "Apabila seorang budak perempuan melahirkan majikannya".

Para ulama berbeda pendapat mengenai tanda kiamat ini. Kesimpulan yang bisa diambil adalah merajalelanya perbuatan durhaka kepada orang tua. Banyak anak yang memperlakukan ibunya seperti memperlakukan seorang budak perempuan atau pembantunya dengan perlakuan yang kasar, keras, dan menyakitkan. Ada juga fenomena seorang suami memperjualbelikan isterinya yang sekaligus menjadi ibu bagi anak­ anaknya, sehingga bisa saja ada seorang anak yang "membeli" ibunya sendiri karena dia tidak tahu bahwa perempuan itu adalah ibunya.

31. Terjadinya penenggelaman, perubahan rupa orang, gelombang air besar.

Rasulullah saw bersabda: "Menjelang hari kiamat akan terjadi penenggelaman, gelombang air besar, dan pengubahan bentuk rupa". Sungguh telah diberitakan ancaman yang keras bagi para pemain musik, peminum khamr dengan siksaan tersebut di atas. Rasulullah saw bersabda: "Di kalangan umatku akan terjadi penenggelaman, gelombang air besar, dan pengubahan bentuk rupa. Seorang lelaki dari kalangan umat Islam bertanya: Kapan itu terjadi ya Rasulullah? Beliau menjawab: Jika telah muncul para penyanyi perpempuan, permainan alat musik dan pesta minuman khamr " (HR. at­ Tirmidzi).

32. Pertengkaran di kalangan orang­orang

Dari Hudzaifah ra, Rasulullah pernah ditanya tentang kiamat. Rasulullah menjawab: "Hanya Allah yang tahu pasti, tidak ada yang tahu kepastian waktunya kecuali Allah swt. Namun, aku akan memberi tahu kalian tentang tanda­tandanya menjelang kedatangannya, di antaranya adalah munculnya fitnah dan al­haraj. Para sahabat bertanya: Kalau fitnah kami sudah tahu, tetapi apakah yang dimaksud dengan al­ haraj? Rasulullah menjawab: Dengan bahasa Habsyi, Itu artinya pembunuhan. Di kalangan manusia akan muncul sikap saling menyangkal (pertengkaran), sehingga hampir setiap orang tidak mengenal orang lain" (HR. Ahmad)

Tanda­tanda itu telah kita saksikan di kalangan orang­orang khusus, apalagi di kalangan orang awam. Sikap pertengkaran telah merajalela di kalangan umat Islam, seperti menyebarnya api membakar pepohonan kering. Semua orang (kecuali orang yang mendapat rahmat Allah swt) La haula wala quwwata illa billah.

33. Eksklusivitas salam

Rasulullah saw bersabda: "Di antara hal yang terjadi menjelang datangnya kiamat adalah mengucapkan salam kepada orang khusus" (HR. Ahmad). Rasulullah saw juga bersabda: "Di antara tanda kiamat adalah seseorang mengucapkan salam kepada orang lain, dan dia hanya mengucapkan kepada orang yang dikenalnya saja (HR. Ahmad). Kebanyakan orang hanya memberi salam kepada mereka yang dikenalnya saja, dan ini merupakan hal yang menyalahi sunnah Rasulullah yang selalu menganjurkan untuk mengucapkan salam kepada semua orang, baik yang dikenalnya maupun yang tidak. Salam merupakan penyebab tumbuhnya cinta dan kasih sayang di antara sesama muslim,

sedangkan cinta menjadi penyebab bertambahnya iman yang merupakan surga dunia yang akan membuahkan surga akhirat.

34. Banyaknya orang yang mati mendadak.

Rasulullah saw bersabda: "Salah satu tanda kiamat adalah munculnya kematian mendadak" (HR. Ath­Thabrani, dianggap hadts hasan oleh al­Albani).

Pada saat itu akan banyak orang yang mati mendadak, sehingga anda masih bertemu dengan orang yang sehat dan tiba­tiba dia meninggal dunia. Oleh karena itu, seorang mukmin harus selalu dalam ketaatan kepada Allah dalam segala keadaan, karena dia tidak tahu kapan kematian menjemputnya.

35. Waktu berjalan dengan cepat

Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan datang hari kiamat hingga waktu terasa berjalan cepat, satu tahun terasa sebulan, satu bulan terasa seminggu, satu minggu terasa sehari, satu hari terasa satu jam, dan satu jam terasa seperti menyalakan kyu dengan api" (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dari Anas, dishahihkan oleh al­Albani).

Para ulama berbeda pendapat tentang hal tersebut, kesimpulan mereka berkaitan dengan cepatnya waktu berjalan, antara lain: (1) cepatnya waktu berjalan karena sedikitnya keberkahan, (2) hal itu terjadi nanti pada masa al­Mahdi dan Isa as, karena banyaknya kelapangan (kemakmuran) hidup sehingga mereka merasa waktu berjalan begitu cepat, (3) cepatnya waktu yang ditempuh dalam perjalanan karena semakin canggihnya alat transportasi.

36. Muncul banyaknya wanita berpakaian tetapi "telanjang".

Rasulullah saw bersabda: "Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat keduanya, ­beliau menyebutkan salah satunya adalah­ para perempuan berpakaian tetapi telanjang, dan melenggak­lenggokan kepalanya, mereka tidak akan masuk surga juga tidak akan mendapatkan baunya, padahal bau surga bisa dicium dari jarak sekian sampai sekian" (HR. Muslim dari Abu Hurairah) Demi Allah, aku tidak ingin ada seorang muslimah yang beriman kepada hari kiamat, dia telah membaca hadits ini dan mengetahui Rasulullah mengabarkan bahwa dia termasuk penghuni neraka, hanya karena dia tidak mengenakan hijab atau jilbabnya dan terus dalam keadaan demikian, bahkan dia tetap mengenakan pakaian yang nyaris "telanjang". Yang cukup mengherankan juga adalah adanya para suami yang membiarkan ister­ isteri mereka keluar rumah dengan mengenakan pakaian setengah telanjang. Hal ini tentu menunjukkan para suami tidak memiliki kepekaan agama. Mereka tidak lagi mempunyai sifat cemburu kepada isterinya, yang dengan itu seorang suami masih memiliki harga diri, padahal Allah swt telah berfirman:

üxœÓ Óps3եتn=tB $pkˆén=tÊ ouë$yfœt¯:$#ur ®$®Z9$# $ydäqË%ur #Yë$tR ˆ/Œ=˜dr&ur ˆ/3|°ˇRr& (#˛qË% (#qZtB#ut˚Ôœ%©!$# $pköâr'تtÉ

«œ» tbrêsD˜sÉ $tB tbqË=y˯ˇtÉur ˆNËdtçtBr& !$tB ©!$# tbq£˜ËtÉ ûw ä#y✩

Hai orang­orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat­ malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang

diperintahkan­Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (Qs. At­Tahrim: 6). Rasulullah saw juga bersabda: "Setiap kalian adalah seorang pemimpin dan akaan ditanya tentang kepemimpinannya" (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Umar). Inna lilahi wainna ilaihi raji'un, karena telah hilangnya perasaan cemburu, sifat kelelakian dan kewibawaan suami, dan juga adanya fenomena meremehkan ajaran agama di hati sebagian umat Islam, kecuali mereka yang masih dirahmati Allah swt. 37. Sungai Euprat menyingkap gunung dari emas Rasulullah saw bersabda: "Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum sungai Euphrat menyingkap gunung emas, sehingga manusia saling membunuh (berperang) untuk mendapatkannya. Lalu terbunuhlah dari setiap seratus orang sebanyak sembilan puluh sembilan dan setiap orang dari mereka berkata: Semoga akulah orang yang selamat. (Shahih Muslim No.5152) Rasulullah melarang untuk mengambil sesuatu apapun dari gunung tersebut, beliau bersabda: "Sungai Euphrat akan menyingkap gunung emas, barangsiapa yang mendatanginya maka jangan ambil apapun darinya" (HR. Muslim) Ibn Hajar menguatkan bahwa sebab dilarangnya mengambil sesuatu dari gunung emas itu adalah karena bisa menimbulkan fitnah dan peperangan untuk menguasainya.

38. Membesarnya bulan

Rasulullah saw bersabda:"Di antara tanda sudah dekatnya hari kiamat adalah membesarnya (menggelembungnya) bulan" (HR. Ath­Thabrani, dishahihkan oleh al­ Albani).

Dalam riwayat lain disebutkan: "Di antara tanda sudah dekatnya hari kiamat adalah bulan terlihat lebi dulu (dari biasanya), sehingga dikatakan ada dua malam". Makna hadits itu adalah bahwa kita melihat bulan sabit tampak besar saat terbitnya tidak seperti biasanya yang terjadi di awal bulan, sehingga kita melihatnya seolah­oleh ada dua malam.

39. Mimpi yang benar oleh seorang mukmin

Rasulullah saw bersabda: "Jika zaman (kiamat) sudah dekat, maka mimpi seorang muslim tidak bohong. Di antara kalian yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur pembicaraannya. Mimpi seorang muslim adalah satu bagian dari 45 bagian kenabian" (HR. Bukhari).

Kesimpulan para ulama mengenai penjelasan hadits di atas adalah bahwa di akhir zaman, mimpi seorang mukmin berupa mimpi kongkrit yang tidak perlu ditakwilkan lagi, sehingga mimpi itu tidak bohong. Semua itu karena pada akhir zaman, seorang mukmin merasakan keterasingan yang luar biasa, sehingga mimpi itu bisa menghibur keterasingannya itu. Hal itu terjadi ketika banyaknya fitnah dan mendominasinya kekafiran dan kebodohan. Ada juga yang berpendapat bahwa itu terjadi pada zaman Isa bin Maryam. Selama seorang mukmin teguh dalam keimanannya, maka mimpi yang dialaminya tidak akan bohong selamanya. Wallahu a'lam.

40. Banyaknya hujan tetapi sedikit tanaman yang tumbuh

Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan terjadi hari kiamat hingga sering terjadi hujan tetapi tidak bisa menumbuhkan apapun" (HR. Ahmad, menurut Ibn Katsir, sanadnya baik).

Hal ini terjadi karena banyaknya kemaksiatan yang menghilangkan keberkahan dari tanaman dan air hujan, bahkan dari bumi dan langit.

41. Banyaknya perdagangan

Rasulullah saw bersabda: "Menjelang hari kiamat akan ada transaksi salam khusus dan banyaknya perdagangan hingga seorang isteri membantu suaminya dalam perdagangan itu" (HR. Ahmad, dishahihkan oleh al­Albani).

Hal ini terjadi karena adanya persaingan yang ketat dalam urusan dunia yang di sisi Allah tidak bisa sebanding dengan sayap seekor nyamuk.

42. Banyaknya pasar yang saling berdekatan.

Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan terjadi hari kiamat hingga muncul banyak fitnah, orang­orang pendusta, dan pasar­pasar yang saling berdekatan" (HR. Ahmad. Menurut al­Haitsami, sanad hadits ini shahih kecuali Sa'id bin Sam'an yang juga tsiqat atau bisa dipercaya).

Pasar­pasar itu menjadi semakin dekat jaraknya karena semakin mudahnya sarana transportasi, begitu juga karena semakin banyaknya inforrmasi (iklan) di berbagai kawasan daerah karena semakin canggihnya sarana komunikasi. Dengan demikian, semua itu menjadikan pasar­pasar yang ada terasa dekat jaraknya. Wallahu a'lam.

43. Penguasaan ilmu oleh orang­orang kecil

Rasulullah saw bersabda: "Salah satu tannda kiamat adalah adanya penguasaan ilmu oleh orang­orang kecil" (HR. At­Thabrani, dishahihkan oleh al­Albani).

Ibn Mas'ud ra mengatakan: "Orang­orang selalu mengambil ilmu terbaik yang dibawa oleh para sahabat Muhammad saw dan tokoh­tokoh mereka, kemudian jika ilmu yang datang kepada mereka berasal dari orang­orang kecil dan berkelompoknya hawa nafsu mereka, maka mereka binasa".

44. Tanah Arab kembali menjadi tanah yang subur dan banyaknya sungai.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan terjadi hari kiamat hingga tanah Arab kembali menjadi tanah yang subur dan banyak sungai" (HR. Muslim).

Hal ini menunjukkan bahwa di masa lalu, tanah Arab merupakan tanah yang subur dan penuh dengan sungai­sungai, dan akan kembali seperti keadaan tersebut kelak.

45. Jumlah perempuan lebih banyak daripada jumlah lelaki.

Rasulullah saw bersabda: "Di antara tanda kiamat adalah sedikitnya ilmu, banyaknya kebodohan dan zina, jumlah wanita semakin banyak dan jumlah lelaki semakin sedikit, sehingga akan ada lima puluh orang wanita berbanding satu orang lelaki" (HR. Bukhari).

Para ulama memberikan penjelasan terhadap hadits ini, bahwa hal itu terjadi karena banyaknya fitnah dan peperangan, sehingga banyak lelaki yang terbunuh dalam peperangan itu sedangkan jumlah wanita bertambah banyak. Ada juga yang berpendapat bahwa di akhir zaman, Allah mentakdirkan untuk mengurangi jumlah bayi lelaki yang dilahirkan dan memperbanyak bayi perempuan. Wallahu a'lam.

46. Tersebarnya dan banyaknya dusta.

Rasulullah saw bersabda: "Pada akhir zaman, di kalangan umatku akan banyak orang yang berbicara tentang sesuatu yang belum pernah kalian dan nenek moyang kalian dengar, maka berhati­hatilah" (HR. Muslim)

Tanda­tanda ini telah bisa diamati. Sungguh telah tersebar berita dusta di kalangan banyak orang, bahkan di kalangan mereka yang kurang memperdulikan kesahihan suatu hadits. Banyak orang yang meriwayatkan hadits palsu, padahal Rasulullah telah memperingatkan: "Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaknya dia menempati tempatnya di neraka" (HR. Bukhari)

47. Seorang mengharapkan kematian karena dahsyatnya ujian hidup

Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ada seseorang melewati kuburan orang lain dan berkata: Sekiranya aku berada di dalam kuburan ini" (HR. Bukhari) Ibn Mas'ud ra mengatakan: "Akan datang suatu masa, sekiranya salah seorang di antara kalian menemukan kalau kematian itu bisa dijual, tentu dia akan membelinya". Semua ini disebabkan karena banyaknya fitnah yang dihadapi oleh orang­orang beriman yang di setiap tempat dan zaman hidup dalam suasana keterasingan.

48. Orang tua menjadi "muda" kembali

Dari Ibn Abba ra, Rasulullah saw bersabda: "Di akhir zaman akan ada sekelompok orang yang menyemir (rambutnya) dengan warna hitam,…mereka tidak akan mencium bau surga" (HR. an­Nasa'i da Abu Daud) Ibn al­Jauzi mengatakan: "Kemungkinan nakna dari pernyataan tidak mencium bau surga, adalah karena niat perbuatan mereka, bukan karena penyemiran itu sendiri yang menjadi cirri­ciri mereka, seperti dikatakan kepada kelompok Khawarij: Ciri­ciri mereka adalah mencukur rambutnya, meskipun mencukur rambut itu bukan merupakan sesuatu yang diharamkan".

1

49. Hewan dan benda mati bisa berbicara dengan manusia

Rasulullah saw bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak akan terjadi hari kiamat hingga binatang buas berbicara dengan manusia, bahkan tali cambuk "

dan sandal berbicara kepada pemiliknya (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan al­Hakim dari Abi Sa'id, dishahhihkan oleh al­Albani).

50. Banyaknya pena (penulisan)

Rasulullah saw bersabda: "Di antara tanda menjelang hari kiamat adalah munculnya pena (al­qalam) (HR. Ahmad). Maksud hadits di atas adalah banyaknya tulisan, majunya teknologi percetakan, dan banyaknya buku, tetapi pada saat yang sama ilmu pengetahuan menjadi sedikit. Wallahu a'lam.

51. Mengikuti tradisi orang­orang kafir.

Rasulullah saw bersabda: "Tidak terjadi hari kiamat hingga umatku menjadikan masa­masa sebelumnya (begitu dekat dengan mereka) sejengkal dan sehasta. Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, seperti Persia dan Romawi? Rasulullah menjawab:

"Tidak ada yang lain kecuali mereka" (HR. Bukhari).

Rasulullah juga bersabda: "Tradisi orang­orang sebelum kamu akan diikuti (dengan sangat dekat) sejengkal dan sehasta, sehingga jika mereka melewati batu kerikil merekapun akan melewatinya. Para sahabat bertanya: "Orang­orang Yahudi dan Nashrani? Rasulullah menjawab: Siapa lagi?" (HR. Bukhari).

1 Ibn al­Jauzi, al­Maudlu'at, 3/55.

Inna lilahi wainna ilaihi raji'un atas umat Islam yang meninggalkan syari'ah Allah dan sunnah RasulNya. Umat ini justeru menjadi pengikut Barat yang kafir dan Timur yang atheis, sehingga Allah menjadikan umat ini sebagai umat yang terendah. Ya Allah, kembalikanlah umat ini kepada agamaMu dan sunnah NabiMu dengan baik.

52. Banyak berkata sedikit berbuat atau beramal

Rasulullah saw bersabda: "Di antara tanda kiamat ­Beliau menyebutkan salah satunya ­adalah dibukanya perkataan dan disimpannya amal perbuatan" (HR. Al­Hakim dan Ibn Asakir, dishahihkan oleh al­Albani). Dengan demikian, anda akan melihat seseorang pandai berbicara dengan perkataan yang indah tetapi tidak pernah mengamalkan atau mempraktekkan sedikit pun dari perkataannya itu. Allah sangat mencela kelompok orang yang seperti ini. Dia berfirman:

üw $tB (#q9q)s? br& ´!$# yâYœ„ $ F¯)tB

ué9ü2 «À» tbqË=y˯ˇs? üw $tB öcq9q)s? zNœ9 (#qZtB#ut˚Ôœ%©!$# $pköâr'تtÉ

«Ã» öcqË=y˯ˇs?

Wahai orang­orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa­apa yang tidak kamu kerjakan (Qs. Ash­Shaf: 2­3).

53. Peperangan antara Romawi dengan umat Islam

Rasulullah bersabda: "Hitunglah enam (tanda) menjelang hari kiamat, ­Beliau menyebutkan salah satunya adalah­ kemudian ada masa ketenangan (kedamaian) antara kalian dengan bani al­Ashfar, yakni orang­orang Rumawi. Lalu mereka mengkhinati (perdamaian itu) dan mendatangi kalian dengan membawa delapan puluh panji bendera, setiap bendera membawahi 12 ribu pasukan" (HR. Bukhari dari Auf bin Malik, dishahihkanolehal­Albani).

Peperangan ini akan terjadi di daerah Syam (Syiria) pada akhir zaman sebelum munculnya Dajal, dan kemenangan umat Islam atas Rumawi merupakan jalan pembuka untuk penaklukan Konstantiyah (Konstantinopel atau Istanbul).

54. Penaklukan Konstantinopel (Istanbul)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: "Pernahkah kalian mendengar sebuah kota, yang satu sisinya berada di darat dan satu sisinya lagi berada di laut? Para sahabat menjawab: Pernah ya Rasulullah. Beliau bersabda: Tidak akan datang hari kiamat hingga kota itu diserang oleh 70 ribu (paaukan) dari keturunan Ishaq. Ketika mereka tiba di kota itu, mereka bisa menguasainya. Mereka berperang tanpa menggunakan senjata, juga tidak menggunakan panah. Mereka mengatakan La ilaha illallahu Allahu akbar, lalu jatuhlah satu sisi kota tersebut. Tsaur (salah seorang perawi hadits tersebut) mengatakan:

Aku tidak mengetahui secara jelas kecuali beliau mengatakan: Yakni sisi bagian laut. Kemudian mereka mengatakan untuk yang kedua kali: La ilaha illallahu Allahu akbar, maka jatuhlah bagian lainnya dari kota tersebut. Kemudian mereka mengatakan: La ilaha illallahu Allahu akbar, sehingga terbukalah jalan bagi mereka untuk memasuki kota tersebut, dan mereka memperoleh ghanimah (harta rampasan perang). Pada saat mereka membagi ghanimah, tiba­tiba terdengar suara teriakan, yang mengatakan: Dajal telah datang! Sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu dan kembali pulang" (HR. Muslim).

55.

Keluarnya al­Qahthani

Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan terjadi hari kiamat hingga keluarnya seorang lelaki dari Qahthan. Dia menggiring manusia dengan tongkatnya" (HR. Bukhari dan Muslim). Lelaki ini keluar ketika banyak sekali terjadi fitnah dan pergantian zaman. Dia mendorong manusia untuk mentaati Allah swt. Dia adalah seorang lelaki yang shaleh, yang menghukum (memerintah) dengan adil, sehingga dicintai dan ditaati oleh banyak orang.

56. Peperangan dengan Yahudi dan pohon dan batu bisa berbicara

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan datang hari kiamat hingga umat Islam memerangi orang­orang Yahudi. Umat Islam berhasil membunuh mereka hingga ada seorang Yahudi bersembunyi di balik sebuah batu dan pohon, kemudian batu dan pohon itu berbicara: Wahai orang Islam, wahai hamba Allah, ini ada seorang Yahudi bersembunyi di belakangku. Kemarilah, dan bunuhlah dia. Kecuali pohon Gharqad, karena pohon itu merupakan salah satu pohon Yahudi" (HR. Bukhari danMuslim).

Demikianlah, Allah menundukkan alam ini untuk orang muslim ketika Islam telah benar­benar meresap dalam hatinya dan hak ubudiyah semata­mata untuk Allah swt.

57. Kota Madinah bersih dari para penduduk yang jahat adan akan hancur di

akhirzaman Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan terjadi har kiamat hingga kota madinah telah bersih dari (orang­orang) jahatnya sebagaimana besi telah bersih dari karat­kartanya yang jelek (HR. Bukhari dan Muslim).

Al­Qadli 'Iyadz berpendapat bahwa bersihnya kota Madinah dari orang­orang jahat terjadi pada zaman Rasulullah saw. Sementara itu, an­Nawawi berpendapat bahwa hal itu akan terjadi pada zaman Dajal. Al­Hafidz Ibn Hajar berpendapat bahwa hal itu mungkin terjadi pada kedua saman (zaman Nabi Muhammad saw dan zaman Dajal). Adapun keluarnya semua penduduk dari kota Madinah dan kehancuran kota itu akan terjadi pada akhir zaman menjelang datangnya hari kiamat. Dari Abu Hurairah ra mengatakan, aku mendengar Rasulullah saw bersabda:

"Kalian akan meninggalkan kota Madinah dalam keadaan yang sebaik­baiknya, tidak ada yang mendatangi kota itu selain para pencari mangsa –maksudnya binatang buas dan burung­burung. Orang yang terakhir keluar adalah dua penggembala dari Muzainah yang hendak menuju Madinah, sambil menggembala kambingnya, lalu keduanya mendapatkan kambingnya itu menjadi liar (buas). Ketika kemudian keduanya sampai di Tsaniyatal Wada', mereka menjerit kaget atas kedua wajahnya" (HR. Bukhari).

58. Angin yang baik mencabut ruh­ruh orang­orang mukmin

Dari Abdullah bin Umar ra, Rasulullah saw bersabda: "Dajal keluar, (Beliau menuturkan hadits yang di dalamnya adalah) lalu Allah swt mengutus Isa bin Maryam

, seakan­akan dia adalah 'Urwah bin Mas'ud. Dia mencari Dajal dan membinasakannya. Kemudian, selama tujuh tahun, manusia hidup tanpa ada permusuhan di antara dua orang. Kemudian, Allah meniupkan angin yang sejuk dari arah Syam (Syiria), sehingga di muka bumi ini tidak ada orang yang di hatinya ada kebaikan walaupun sebesar biji atom atau ada keimanan kecuali angin itu mewafatkannya, bahkan jika salah seorang di antara

kamu bersembunyi di balik celah­celah gunung, niscaya angin itu akan menjangkaunya dan mewafatkannya" (HR. Muslim). Yang tersisa di muka bumi adalah orang­orang yang jahat sebagaimana keterangan dalam hadits lain: "Karena Allah meniupkan angin yang baik sehingga semua orang mukmin dan muslim diwafatkan dengan angin itu, yang tersisa adalah orang­orang yang jahat. Mereka hilir mudik seperti keledai (yang kebingungan). Kepada merekalah kiamat didatangkan" (HR. Muslim) 59. Hancurnya Ka'bah Rasulullah saw bersabda: "Ka'bah akan dihancurkan oleh dzu as­suwaiqataini (pemilik dua betis yang halus) dari Habsyah" (HR. Muslim). Hal itu terjadi ketika di muka bumi ini tidak ada lagi orang­orang yang mengatakan atau menyebut: Allah, Allah. Orang ini datang dari negara Habsyah (Ethiopia?), kemudian menghancurkan Ka'bah, merobohkannya dan membiarkannya tanpa kiswah (kelambu). Setelah itu, Ka'bah itu tidak dibangun kembali karena hari kiamat akan segera tiba di tengah­tengah orang­orang jahat yang ada. Sa'id bin Sam'an mendengar Abu Hurairah menceritakan Abu Qatadah, bahwa Rasulullah bersabda: "Seorang lelaki yang berada di antara rukun dan maqam (Ibrahim) akan dibaiat, dan rumah (Ka'bah) itu tidak akan diduduki kecuali oleh penduduknya. Jika mereka telah mendudukinya, maka jangan ditanya tentang rusaknya bangsa Arab, kemudian datanglah orang­orang Habsyah meruntuhkan Ka'bah itu yang setelah itu tidak dibangun kembali. Mereka itulah orang­orang yang berusaha mengeluarkan simpanan Ka'bah itu" (HR. Ahmad, dishahihkan oleh al­Albani). Dari Abdullah bin Umar ra, Rasulullah bersabda: "Ka'bah akan dirobohkan oleh oleh dzu as­suwaiqataini (pemilik dua betis yang halus) dari Habsyah. Dia akan merobohkannya dan melepaskan kiswahnya, seolah­olah aku melihatnya berkepala botak dan bengkok kakinya. Dia memukul Ka'bah dengan kapak dan cangkulnya" (HR. Bukhari danAhmad). Keraguan dan jawabannya. Jika ada yang berpendapat bahwa hadits di atas bertentangan dengan firman Allah:

$YZœB#u$ Btçym

$uZ˘=yËy_ $ØRr& (#˜rtçtÉ ˆNs9urr&

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya kami Telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, (Qs. Al­Ankabut: 67). Allah juga telah menjaga kota Mekkah dari serangan tentara gajah. Tidak mungkin penduduknya menghancurkan Ka'bah, karena berarti tidak ada lagi kiblat. Bagaimana mungkin Ka'bah itu bisa dikuasai oleh orang­orang Habsyah setelah sekian lama menjadi kiblat bagi orang Islam? Jawabannya adalah: Sesungguhnya hancurnya Ka'bah iti terjadi di akhir zaman menjelang hari kiamat, ketika di muka bumi ini tidak ada lagi seorang pun yang menyebut Allah, Allah. Hal itu sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad

tersebut di atas dari Sa'id bin Sam'an, bahwa Rasulullah saw bersabda: "

setelah itu tidak

ada yang membangunnya kembali selamanya". Dengan demikian, Ka'bah itu tetap menjadi tempat yang mulia dan aman selagi masih dikuasai oleh ahlinya (umat Islam). Lagi pula, ayat di atas tidak menjelaskan batas waktu kemuliaan dan keamanannya.

Di Mekkah sendiri pernah terjadi beberapa kali peperangan, yang paling besar adalah pemberontakan sekte Qaramithah yang terjadi pada abad keempat hijriyah, ketika banyak umat Islam terbunuh di tempat thawaf. Mereka berhasil mengambil hajar aswad dan membawanya ke tempat tinggal mereka untuk kemudian dikembalikan lagi setelah waktu yang lama. Meskipun demikian, peristiwa tersebut tidak bertentangan dengan ayat al­Qur'an di atas, karena hal itu terjadi di tangan orang­orang Islam dan mereka yang menisbatkan diri sebagai orang Islam. Hal itu juga sesuai dengan hadits riwayat Ahmad bahwa "Baitul Haram tidak diduduki kecuali oleh penduduknya". Kejadian itu akan

terulang sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Rasulullah saw: "

terjadi lagi di akhir zaman. Ka'bah itu tidak akan dibangun lagi ketika di muka bumi ini

sudah tidak ada lagi seorang muslim" (Fathul Bari, 3/461­462).

Dan hal itu akan

C. Munculnya al­Mahdi Pembicaraan tentang al­Mahdi 'alaihi salam menjelang datangnya hari kiamat merupakan topik yang diperbincangkan oleh banyak orang. Kemungkinan sebabnya adalah bahwa sebagian besar manusia sekarang ini sedang memprihatinkan kehidupan sekuleristik­hedonistik yang jauh dari sifat cinta dan kasih sayang, sehingga mereka mencari jalan keselamatan dari kehidupan yang penuh fitnah dan ujian tersebut. Mereka telah mengetahui bahwa Rasulullah saw pernah mengabarkan bahwa al­ Mahdi akan datang pada akhir zaman, dan di muka bumi ini akan dipenuhi dengan keadilan sebagai ganti kegelapan dan kezaliman yang ada. Itulah sebabnya, hati mereka selalu mengharapkan datangnya suatu masa ketika al­Mahdi muncul di muka bumi. Mereka menduga bahwa kemunculan al­Mahdi sebagai awal datangnya masa kedamaian dan ketenangan. Dugaan ini adalah keliru, karena nash­nash yang ada menunjukkan bahwa kemunculan al­Mahdi merupakan awal dimulainya masa penaklukan, jihad, dan perjuangan demi menegakkan kalimat La ilaha illallahu. Lebih dari itu, kita harus memahami bahwa al­Mahdi tidak akan muncul kecuali jika dunia Islam telah siap menyongsong kemunculannya, yakni setelah sempurnanya kegiatan tashfiyah (penyucian jiwa), tarbiyah (pendidikan), dan berdirinya kekhilafahan Islam yang rasyidah (di bawah naungan petunjuk Allah swt). Dengan kata lain, al­Mahdi akan muncul jika telah ada kebangkitan umat Islam di segala hal yang menjamin tegaknya syari'at Allah dan sunnah NabiNya. Hanya seorang pemimpin Rabbani yang dengan izin Allah bisa mengantarkan tegaknya syari'at Allah dan sunnah NabiNya. Pemimpin itu adalah al­Mahdi. Dalil terkuat mengenai hal itu adalah bahwa Isa as akan melakukan shalat di belakang al­Mahdi di Masjidil Aqsha. Hal ini tidak akan terjadi kecuali setelah Masjidil Aqsha kembali ke pangkuan umat Islam, dan itu tidak akan pernah terjadi kecuali umat Islam telah mengangkat bendera jihad di bawah naungan al­khilafah ar­rasyidah 'ala minhaj an­nubuwwah (kekhalifahan yang sesuai dengan metode Rasulullah). Dengan demikian, kita semua harus berjuang dalam ketaatan kepada Allah, dan berkorban demi menolong agama Allah. Kita tidak boleh bermalas­malasan dengan alasan menunggu datangnya al­Mahdi yang akan memimpin umat Islam menuju kemenangan dan kejayaan. Sebaliknya, kita harus mempersiapkan kualitas keimanan kita demi menyongsong kemunculan al­Mahdi, dan itu hanya bisa terlaksana melalui perjuangan (jihad) yang tulus dalam penyucian jiwa dan pendidikan terhadap umat ini sesuai dengan kitabullah dan sunnah RasulNya. Jika al­Mahdi as muncul dan kita masih

diberi kesempatan untuk hidup, maka alhamdulillah, itu adalah kenikmatan tak terhingga. Namun jika kita telah meninggalkan dunia ketika al­Mahdi muncul, maka kita sudah memenuhi kewajiban kita. Kita semua adalah hamba­hamba Allah kapanpun dan di manapun kita berada. Tidak ada kewajiban bagi kita selain kita harus menjadi penolong agama Allah dan RasulNya. Aku memohon kepada Allah swt agar membimbing kita dalam membela agamaNya, sesungguhnya Dia adalah Maha Kuasa mengenai hal itu.

1. Siapakah al­Mahdi itu?

Menurut kebanyakan (jumhur) ulama Ahlissunnah, al­Mahdi berasal dari keturunan Rasulullah saw melalui jalur Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Al­Mahdi akan muncul pada akhir zaman ketika dunia dipenuhi dengan kezaliman dan kejahatan. Al­Mahdi mengubah semua itu menjadi dunia yang penuh keadilan dan kesejahteraan. Inilah pendapat yang shahih (valid) yang didukung dan dikuatkan dengan hadits­hadits shahih, diikuti oleh tokoh­tokoh ulama di bidang hadits, para hufadz, dan ulama terkemuka lainnya baik di masa lampau maupun masa sekarang. Al­Mahdi yang ditunggu­tunggu itu tidak mengaku sebagai nabi, tetapi sebagai pengikut Rasulullah. Al­Mahdi tidak lain adalah seorang khalifah yang oleh Rasulullah disabdakan: "Kalian harus mengikuti sunnahku dan sunnah para khalifah (al­khulafa') ar­ rasyidin al­mahdiyin" (al­hadits).

Menurut faham Ahlussunnah, al­Mahdi adalah seorang manusia biasa, bukan seorang nabi dan bukan pula seorang yang ma'shum (terjaga dari kesalahan dan dosa). Dia hanyalah salah seorang ahli bait atau keturunan Rasulullah, seorang hakim (penguasa) yang adil. Sifat keadilannya memenuhi bumi menggantikan kezaliman yang ada sebelumnya. Dia akan muncul pada saat umat Islam benar­benar membutuhkan kehadirannya. Dia akan menghidupkan kembali sunnah­sunnah Rasulullah, menghancurkan segala kebatilan dan menyebarkan keadilan di muka bumi. 1

Oleh karena itu, kelirulah orang­orang yang mendustakan hadits ini, karena sesungguhnya Nabi Muhammad saw adalah nabi penutup dan tidak ada nabi lagi sesudahnya. Apakah ada orang yang menganggap bahwa al­Mahdi adalah seorang nabi? Ketahuilah, al­Mahdi hanyalah seorang khalifah rasyidah dari keturunan Rasulullah saw yang keadilannya akan memenuhi bumi dan mengantarkan umat Islam kepada kemenangan dan kejayaan dengan izin Allah swt.

2. Namanyadanciri­cirinya

Ibn Mas'ud meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: "Ketika umur dunia hanya tinggal satu hari, maka Allah memanjangkan hari itu hingga Dia mengutus seorang lelaki dari kalangan ahli baitku, namanya menggunakan namaku, dan naa bapaknya sama dengan nama bapakku". Dalam riwayat lain ada tambahan: "Dia akan memenuhi bumi dengan keadilannya sebagaimana bumi ini sebelumnya telah dipenuhi kezaliman dan kejahatan". Dalam riwayat Tirmidzi: "Dunia ini tidak akan pergi atau berakhir hingga ada seorang lelaki dari ahli baitku (keturunanku) memerintah bangsa Arab. Namanya seperti namaku" (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dianggap hadits hasan oleh al­Albani).

Nama lelaki ini persis seperti nama Rasulullah, dan nama bapaknya seperti nama ayah Rasulullah, sehingga nama orang ini adalah Muhammad (atau Ahmad) bin

1 (Ahmad bin Sa'd bin Hamdan al­Ghamidi, 'Aqidah Khatmi an­Nubuwwah bi an­Nubuwwah al­ Muhammadiyah.

Abdullah. Dia adalah keturunan Fathimah binti Rasulullah dari jalur Hasan bin Ali bin AbiThalib. Ibn Katsir menjelaskan bahwa al­Mahdi itu adalah Muhammad bin Abdullah al­ 'Alawi al­Fathimi al­Hasani, semoga Allah meridainya. 1 Adapun ciri­ciri fisiknya adalah bahwa dia seorang yang lebar dahinya dan mancung hidungnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa'id al­Khudri, bahwa Rasulullah bersabda: " Al­Mahdi itu berasal dari keturunanku, lebar dahinya dan mancung hidungnya. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilannya sebagaimana bumi ini sebelumnya telah dipenuhi kezaliman dan kejahatan" (HR. Abu Daud dan al­Hakim, dianggap hadits hasan oleh al­Albani).

3. Darimanaal­Mahdiakanmuncul?

Pendapat yang kuat mengatakan bahwa al­Mahdi akan muncul dari wilayah Timur. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tsauban, Rasulullah saw bersabda: "Ada tiga kelompok yang saling berperang di sekitar simpananmu (Ka'bah), semuanya adalah anak seorang khalifah, tetapi Ka'bah itu tidak jatuh kepada salah seorang dari mereka.

Kemudian, muncullah (pasukan dengan) bendera­bendera hitam dari arah sebelah timur. Mereka memerangi kalian dengan peperangan yang tidak pernah dilakukan oleh kaum

Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak bisa kuingat), jika kalian

melihatnya, maka berbaiatlah kepadanya, sesungguhnya dia adalah khalifah Allah al­ Mahdi" (HR. Ibn Majah).

Ibn Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan simpananmu dalam konteks hadits di atas adalah simpanan Ka'bah. Terjadi peperangan di antara ketiga anak khalifah di sekitar Ka'bah itu untuk memperebutkannya hingga sampai pada akhir zaman, lalu muncullah al­Mahdi. Kemunculannya dari negara di wilayah Timur bukan dari negara Sardab Samira seperti yang diduga oleh para pendusta dari kelompok Rafidhah (aliran Islam sesat yang pernah muncul dalam sejarah Islam) bahwa al­Mahdi sekarang telah muncul di negara tersebut. Mereka menunggu kemunculannya pada akhir zaman. Sesungguhnya persoalan ini merupakan igauan, bentuk penghinaan dan lebih dahsyat daripada syetan, karena tidak ada dalil atau petunjuk baik dari al­Qur'an maupun as­ sunnah, tidak pula sesuai dengan akal sehat dan istihsan. Ibn Katsir juga mengatakan: "Para penduduk di wilayah timur mendukung al­ Mahdi, menjadikannya sebagai seorang sultan, dan memperkokoh pilar kekuasaannya. Bendera mereka juga berwarna hitam, yang merupakan bentuk (pakaian) kebesaran, karena bendera Rasulullah juga berwarna hitam yang disebut dengan al­'aqab. Kesimpulannya, bahwa al­Mahdi yang dipuji dan ditunggu­tunggu kemunculannya di akhir zaman akan datang dari arah timur dan akan dibaiat di dekat Ka'bah, sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa hadits di atas". 2

manapun (lalu

4. Banyaknyakebaikanpadamasaal­Mahdi

Pada zaman al­Mahdi, banyak sekali kebaikan, keberkahan, kenikmatan dan kesejahteraan yang dirasakan oleh umat Islam, suatu keadaan yang belum pernah dialami sebelumnya. Di masa al­Mahdi, bumi dan langit memberikan kebaikannya masing­

1 Ibn Katsir, an­Nihayah fi al­Fitan wa al­Malahim, 1/29. 2 Ibn Katsir, an­Nihayah fi al­Fitan wa al­Malahim, 1/29­30.

masing. Harta kekayaan melimpah dan semua manusia merasakan kebahagiaan yang tak terkira, karena hanya Allah yang mengetahui. Ibn Katsir mengatakan: "Pada zaman al­Mahdi, buah­buahan sangat melimpah, aneka tanaman tumbuh dengan subur, harta kekayaan mencukupi, kekuasaan politik berwibawa, agama bisa ditegakkan, musuh bisa ditundukkan dan kebaikan ada dimana­ mana". 1 Dari Abi Sa'id al­Khudri, Rasulullah saw bersabda: "Di masa akhir umatku akan muncul al­Mahdi. Allah menyiraminya dengan air hujan, bumi mengeluarkan tanaman­ tanamannya, diberikanya harta yang melimpah, binatang ternak sangat banyak, dan umat sangat besar dan berwibawa. Dia hidup selama tujuh atau delapan musim haji" (HR. Al­ Hakim, dishahihkan oleh al­Albani). Karena Nabi Isa as akan turun dan melakukan shalat di belakang al­Mahdi, maka saya akan menuturkan beberapa kebaikan yang akan ada pada zaman kejayaan yang diberkahi tersebut. Dalam hadits an­Nawas bin Sam'an yang panjang, yakni tentang Dajal, turunnya

Nabi Isa as, munculnya Ya'juj dan Ma'juj pada zaman Isa as, dan bagaimana Isa berdo'a untuk kehancuran Ya'juj dan Ma'juj tersebut, terdapat potongan sabda Rasulullah saw:

Allah menurunkan hujan Hujan itu mengguyur bumi sampai bumi itu

" Kemudian

seperti kolam, kemudian dikatakan kepada bumi itu: Tumbuhkanlah buah­buahanmu, kembalikanlah keberkahanmu. Pada hari itu sekelompok orang memakan buah delima dan berteduh dengan kulitnya. Allah swt memberkahi susu sehingga satu perahan susu onta cukup untuk sekelompok orang, satu perahan susu sapi cukup untuk satu kabilah, dan satu perahan susu kambing cukup untuk sekelompok orang" (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: "Para nabi itu bersaudara, meskipun ibu mereka banyak tetapi agama mereka satu. Aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa bin Maryam, karena antara aku dan dia tidak ada seorang nabi. Sesungguhnya Isa akan turun. Pada zamannya, Allah swt akan membinasakan Dajal. Amanat akan menetap di bumi, sehingga hidup berdampingan antara singa dengan onta, harimau dengan sapi, srigala dengan kambing, dan anak­anak bermain bersama ular dan tidak mencelakaannya" (HR. Ahmad. Menurut Ibn Hajar, sanadnya shahih).

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: "Demi Allah, Isa bin Maryam akan turun (untuk menegakkan) hukum yang adil. Jizyah (pajak) tidak lagi dipungut, onta muda dibiarkan saja tanpa ada yang menggembalakannya. Tidak ada lagi dendam, permusuhan, dan kedengkian. Orang­orang menwarkan harta tetapi tidak ada seorangpun yang mau menerimanya" (HR. Muslim).

5. Bagaimana kita mengetahui kemunculan al­Mahdi?

Hafsh bin Ghiyats bertanya kepada Sufyan ats­Tsauri: "Ya Abu Abdullah, sesungguhnya jumlah manusia sangat banyak pada zaman al­Mahdi, apa yang akan engkau katakan tentang dia? Dia menjawab: Jika dia melewati pintu rumahmu maka tidak ada yang bisa kamu lakukan hingga orang­orang berkumpul mengerumuninya". 2

1 Ibid, hlm. 31. 2 Hilyah al­Auliya, 7/31.

Rasulullah saw juga telah mengabarkan tentang tanda­tanda yang dengannya kita bisa mengetahui bahwa orang yang akan muncul itu adalah al­Mahdi. Tanda­tanda yang paling pokok adalah bahwa Nabi Isa as akan shalat di belakang orang tersebut. Al­Barzanji mengatakan: "Di antara tanda­tanda yang dengannya bisa diketahui keberadaan al­Mahdi adalah bahwa al­Mahdi berkumpul bersama Nabi Isa as, dan Isa shalat sebagai makmum di belakang al­Mahdi". 1 Syeikh Hamud bin Abdullah at­Taujiri berkata: "Barangsiapa yang mengaku dirinya sebagai al­Mahdi yang ditunggu­tunggu, sementara Dajal belum muncul pada zamannya, maka sesungguhnya orang tersebut adalah dajal si pendusta. Begitu juga orang yang mengaku dirinya sebagai Isa ibn Maryam sedangkan dajal belum muncul sebelumnya, maka orang tersebut adalah dajal si pendusta. Kemunculan kembali Isa as ditandai dengan dua tanda yang tidak ada dalam diri orang lain, yaitu, pertama, dia berhasil membunuh Dajal sebagaimana terdapat dalam berbagai hadits yang mutawatir. Kedua, orang kafir yang terkena bau nafasnya akan mati, sedangkan nafas beliau mencapai segala penjuru (HR. Muslim). Dengan kedua tanda tersebut, maka runtuhlah semua dajal yang mengaku sebagai Isa bin Maryam. 2 Di antara tanda­tanda yang pasti mengenai kemunculan al­Mahdi.adalah ditenggelamkan atau dibenamkannya pasukan yang hendak menyerang al­Mahdi. Dari A'isyah ra, dia berkata: Rasulullah saw bergerak­gerak di dalam tidurnya, maka kami bertanya: Wahai Rasulullah, ketika engkau tidur, engkau melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan? Beliau menjawab: Mengherankan! Ada sekelompok manusia dari umatku yang datang menuju Baitullah karena seorang lelaki Quraisy yang berlindung di Baitullah, sehingga ketika mereka telah tiba di suatu tanah lapang mereka dibenamkan. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, di jalan itu banyak berkumpul manusia? Beliau menjawab: Benar! Di antara mereka terdapat orang yang pintar, orang yang terpaksa dan ada juga orang yang dalam perjalanan mereka seluruhnya binasa dalam satu waktu lalu mereka akan dibangkitkan oleh Allah di tempat yang berbeda­beda sesuai dengan niat mereka (Shahih Muslim No.5134) Abdullah bin Shafwan meriwayatkan dari Ummul Mukminin, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Di rumah ini ­yakni Ka'bah­ akan berlindung sekelompok orang yang tidak memiliki kekuatan yang bisa melindungi mereka dari orang yang jahat, mereka akan diserbu oleh suatu pasukan, hingga ketika pasukan itu berada tanah yang lapang mereka dibenamkan" (HR. Muslim). Dalam riwayat Abdullah bin Shafwan yang lain dari Ummul Mukminin, Khafsah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Rumah ini (Ka'bah) akan aman dari pasukan yang akan menyerangnya, hingga ketika pasukan itu berada di tempat yang lapang, pasukan yang di tengah tenggelam ke tanah, lalu pasukan yang ada di depan memanggil­manggil pasukan yang ada di belakang kemudian mereka semua terbenam, tidak ada yang tersisa kecuali seorang yang lari dari rumah untuk memberikan kabar tentang mereka" (HR. Ahmad, Muslim, dan an­Nasa'i), lalu seorang lelaki berkata: Aku bersaksi bahwa engkau tidak berdusta atas nama Khafshah, dan aku bersaksi bahwa Khafshah tidak berdusta atas namaRasulullahsaw.

1 Al­Isya'ah, hlm. 91 2 Iqamat al­Burhan fi ar­Radd 'ala Man Ankara al­Mahdi wa ad­Dajal

6.

Kemutawatiran hadits­hadits tentang al­Mahdi

Sesungguhnya hadits­hadits yang menceritakan tentang al­Mahdi mencapai tingkatan mutawatir (bisa dijadikan hujjah) dalam aspek makna substansinya. Beberapa tokoh ulama telah menuturkan hal tersebut, dan saya akan menuturkan beberapa pendapat mereka. Asy­Syaukani mengatakan: Jumlah hadits­hadits yang menceritakan tentang al­ Mahdi sekitar lima puluh hadits, di antaranya ada yang shahih, hasan, dan dla'if. Hadits­ hadits tersebut bersifat mutawatir tanpa diragukan lagi. Adapun perkataan para sahabat yang menjelaskan tentang al­Mahdi juga sangat banyak jumlahnya, yang mencapai tingkatan marfu'' karena bukan bidang garapan ijtihad mengenai hal tersebut. Al­Hafidz Abu al­Hasan al­Abari mengatakan: "Khabar (hadits) yang menuturkan tentang al­Mahdi mencapai tingkatan mutawatir dan memang berasal dari Rasulullah saw, yakni seputar bahwa al­Mahdi adalah keturunan Rasulullah, dia akan berkuasa selama 7 tahun, keadilannya akan memenuhi bumi, Nabi Isa as akan keluar dan saling membantu dalam membunuh Dajal. Al­Mahdi akan menjadi pemimpin (imam) bagi umat Islam, dan Nabi Isa as akan shalat sebagai makmum di belakangnya. 1 Muhammad as­Safarini mengatakan bahwa riwayat­riwayat yang bercerita tentang kemunculan al­Mahdi itu sangat banyak hingga mencapai derajat mutawatir dari aspek maknanya, lagi pula tersebar di kalangan ulama sunnah sehingga dianggap sebagai bagian dari aqidah mereka. 2 Syeikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: "Mengingkari al­Mahdi al­Muntadhar secara total seperti yang dikemukakan oleh sebagian kalangan umat Islam belakangan merupakan pendapat yang batil. Hal ini karena hadits­hadits mengenai kemunculannya di akhir zaman kemudian akan menebarkan keadilan di muka bumi merupakan hadits­hadits yang mutawatir dari segi maknanya dan itu jumlahnya sangat banyak. Banyak tokoh ulama yang berpendapat seperti itu, antara lain; Abu al­Hasan al­Abari as­Sajastani dari kalangan ulama abad ke­4 Hijriyah, al­Alamah as­Safarini, al­Alamah asy­Syaukani, dan lain­lain. Seolah­olah tentang al­Mahdi ini telah menjadi ijma (kesepakatan) di kalangan ulama, namun tetap tidak diperbolehkan untuk menegaskan bahwa si­Fulan adalah al­ Mahdi kecuali setelah terbukti tanda­tanda atau ciri­cirinya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam berbagai haditsnya yang valid. Di antara tanda terbesar dan terjelas adalah keadilannya memenuhi bumi setelah sebelumnya bumi ini dipenuhi dengan berbagai kezaliman.

3

1 Abi al­Hajaj Yusuf al­Mazi, Tahdzib al­Kamal fi Asma ar­Rijal, 3/1194.

2 Lawami' al­Anwar al­Bahiyah, 2/84.

3 Harian Ukaz, 18 Muharram 1400 H.

7.

Dalil­dalil sunnah atas kemunculan al­Mahdi 1

Telah banyak diriwayatkan sejumlah hadits shahih dan hasan yang berisi seputar kemunculan al­Mahdi di akhir zaman sebagai "penghubung" di antara berbagai tanda­ tanda kiamat kecil dan besar. Saya akan menuturkan beberapa di antaranya. Dari Abu Sa'id al­Khudri ra, Rasulullah saw bersabda: "Kiamat tidak akan terjadi hingga bumi dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan, kemudian muncullah seorang lelaki dari keturunanku yang akan memenuhi bumi dengan keadilannya (menggantikan) kezaliman dan permusuhan yang telah memenuhi (sebelumnya) (HR. Ahmad, Abu Ya'la dan al­Hakim yang mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai dengan persyaratan Bukhari dan Muslim meskipun mereka tidak meriwayatkannya. Pendapat ini disepakati oleh adz­Dzahabi). Rasulullah saw bersabda: "Aku kabarkan kalian tentang al­Mahdi. Dia diutus pada saat manusia saling berselisih dan penuh gonjang ganjing, lalu dia penuhi bumi ini dengan kesejahteraan dan keadilannya sebagaimana kejahatan dan kezaliman telah memenuhi sebelumnya. Penduduk langit dan bumi meridlai al­Mahdi, dan dia membagi­ bagikan harta dengan shihah. Seorang lelaki bertanya: Apa itu shihah? Rasulullah saw menjawab: Dengan merata dan sama. Rasulullah saw bersabda lagi: "Allah akan menanamkan kekayaan dalam hati umat Muhammad, melapangkan mereka dengan keadilanNya, sampai kemudian ada yang menyeru: Siapakah yang membutuhkan harta? Orang­orang tidak ada yang berdiri (menjawab) kecuali seorang lelaki dan berkata: Datanglah kepada as­sudan, yakni al­ hazin (bendahara negara) dan katakan kepadanya: Sesungguhnya al­Mahdi memerintahkan kepadamu agar kamu memberikan harta kepadaku. Lalu dia berkata kedanya: Cepatlah sampai jika dia menahan hartanya dan mengeluarkannya dia akan menyesal. Lalu berkata: Aku adalah umat Muhammad yang paling menahan diri atau aku tidak mampu atas kelapangan yang ada pada mereka? Abu Sa'id al­Khudri mengatakan: Kami mengkhawatirkan akan terjadinya sesuatu setelah kematian nabi kami, maka kami bertanya kepada Rasulullah saw dan beliau menjawab: Sesungguhnya dari kalangan umatku akan muncul al­Mahdi, dia akan hidup lima,atau tujuh,atau sembilan. Kami bertanya: Apa itu? Rasulullah saw menjawab:

Tahunnya. Rasulullah berkata lagi: Lalu datang kepadanya seorang lelaki dan berkata: Ya

1 Syeikh Abul Alim Abdul Adzim mengupas panjang kebar dalam tesisnya yang berjudul al­Ahadits al­Waridah fi al­Mahdi fi Mizan al­Jarh wa at­Ta'dil (Hadits­hadits tentang al­Mahdi dari perspektif ilmu kritik hadits) untuk memperoleh gelar magister. Dalam tesisnya itu, diungkapkan secara mendetail tentang para ulama yang meriwayatkan hadits­hadits tersebut, pendapat mereka tentang jalur sanad (transmisi) setiap hadits, status kualitasnya dan kesimpulan yang bisa diambil. Bagi siapa saja yang ingin mendalami lebih lanjut silakan baca tesis tersebut karena merupakan referensi yang lengkap tentang pembicaraan mengenai hadits­hadits al­Mahdi sebagaimana dikemukakan oleh Syeikh Abdul Muhsin al­Ibad dalam Majallah al­Jami'ah al­Islamiyah volume 45 hlm. 323). Isi pokok tesis tersebut adalah bahwa ada sekitar 330 riwayat tentang al­Mahdi. 32 di antaranya adalah hadits­hadits yang marfu' dan 11 atsar (perkataan sahabat). Yang mencapai tingkatan kualitas shahih dan hasan mengenai al­Mahdi sekitar 9 hadits dan 6 atsar, sedangkan sisanya merupakan penjelasan dan gambaran pelengkap mengenai al­Mahdi. Banyak ahli hadits yang menganggap shahih beberapa hadits tentang al­Mahdi, seperti Syeikh al­ Islam Ibn Taimiyah dalam kitabnya Minhaj as­Sunnah fi Naqdl Kalam as­Syi'ah wa al­Qadariyah, 4/211; Ibn al­Qayim dalam kitabnya al­Manar al­Munif fi ash­Shahih wa adl­Dlai'if, hlm 142 dst; Ibn Katsir dalam kitabnya an­Nihayah fi al­Fitan wa al­Malahim, 1/24­32; dan beberapa ulama yang lain.

Mahdi, berilah aku, berilah aku! Rasulullah berkata lagi: Maka dia mengisikan pakaian orang tersebut dengan pemberian sebanyak dia bisa membawanya" (HR. Tirmidzi dan Ahmad, dianggap hadits hasan oleh al­Albani). Dari Umu Salamah ra, dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Al­Mahdi berasal dari keturunanku dari anak keturunan Fathimah" (HR. Abu Daud dan Ibn Majah, dishahihkanolehal­Albani).

8. NabiIsaasshalatdibelakangal­Mahdi

Diriwayatkan dari Abu Sa'id al­Khudri, Rasulullah saw bersabda: "Di antara (keturunan) kami ada orang yang Nabi Isa as shalat di belakang orang tersebut" (HR. Abu Na'im).

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: "Bagaimana kalian jika (Isa) ibn Maryam turun ke tengah­tengah kalian, dan imamnya adalah dari kalangan kalian (juga)?" (HR. Bukhari dan Muslim). Dari Jabir bin Abdullah ra, Rasulullah saw bersabda: "Segolongan orang dari umatku akan terus menerus berperang (membela) kebenaran dan menang (terus) hingga datang hari kiamat. Kemudian turunlah Isa as, lalu imam mereka berkata: Marilah anda menjadi imam shalat kami! Nabi Isa menjawab: Tidak, sesungguhnya sebagian dari kalian lebih mulia sebagai wujud kemuliaan Allah kepada umat ini" (HR. Muslim).

Al­Hafidz Ibn Hajar memberi komentar sebagai berikut: "Shalatnya Isa as di belakang seorang lelaki (al­Mahdi) dari kalangan umat ini pada saat menjelang terjadinya hari kiamat merupakan bukti atau dalil keshahihan pendapat bahwa bumi ini tidak akan pernah sepi dari orang yang berjuang di jalan Allah dengan hujjah. Wallahu a'lam" (Fath al­Bari, 6/494).

9. Beberapa tuduhan dan bantahannya

Sebagian orang ada yang mengingkari tentang prediksi peristiwa bahwa Nabi Isa as akan shalat Shubuh di belakang al­Mahdi, bahkan dia menulis satu kitab khusus mengenai hal tersebut. Dalam pengantar kitab itu, penulis tersebut mengatakan:

"Sesungguhnya seorang nabi alahi salam memiliki kedudukan yang sangat tinggi sehingga kurang pas jika dia menjadi makmum dari orang yang tidak berkedudukan sebagai nabi". Jawaban atau bantahan terhadap pendapat di atas adalah sebagai berikut: Pertama, shalatnya Isa as di belakang al­Mahdi dikabarkan secara pasti di dalam hadits­hadits Rasulullah saw, sedangkan beliau adalah orang yang selalu jujur dan benar perkataannya, karena apa yang disabdakannya tidak lain adalah wahyu (Qs. An­Najm: 4), dan ini telah dituturkan sebelumnya. Kedua, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Ibn al­Jauzi, bahwa hikmah di balik itu adalah untuk menghindari Isa as dari tuduhan­tuduhan yang tidak pas, karena seandainya Nabi Isa as maju menjadi imam akan muncul pertanyaan­pertanyaan seperti apakah ia akan mengawali syari'at baru? Ketiga, tidak diragukan lagi bahwa Nabi Isa lebih mulia daripada al­Mahdi, karena dia adalah seorang Nabiyullah, namun dalam kacamata syara', dipastikan tentang kebolehan seseorang yang kurang utama menjadi imam bagi orang yang lebih utama. Rasulullah saw sebagai nabi yang paling mulia dan tinggi derajatnya dalam peperangan Tabuk juga pernah shalat di belakang Abdurrahman bin 'Auf ra. Dalam hadits al­

Mughirah bin Syu'bah ra, dia berkata: "Maka aku maju bersama beliau sampai kami bertemu dengan orang­orang yang meminta Abdurrahman bin 'Auf ke depan (menjadi imam) shalat bagi mereka, lalu Nabi saw mendapatkan satu raka'at bersamanya, lalu beliau bersama­sama orang lain melakukan shalat raka'at yang terakhir. Ketika Abdurrahman melakukan salam, Rasulullah saw berdiri dan melanjutkan shalatnya. Hal itu membuat kaum muslimin terkejut dan mereka memperbanyak membaca tasbih. Ketika Rasulullah menyelesaikan shalatnya, beliau menghadap kepada orang­orang dan berkata: "Kalian telah berbuat baik" atau "Kalian telah berbuat benar", atau beliau bersabda: Mereka menginginkan untuk shalat tepat pada waktunya" (HR. Asy­Syafi'i dalam Musnadnya dan Muslim). Dari A'isyah ra, dia berkata: Rasulullah shalat sambil duduk di belakang Abu Bakar, ketika beliau dalam keadaan sakit yang menyebabkan wafatnya (HR. Tirmidzi). 10. Allah "memperbaiki" al­Mahdi dalam satu malam Rasulullah saw bersabda: "Al­Mahdi berasal dari keluarga kami, ahlul bait. Allah memperbaikinya dalam satu malam" (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh al­ Albani). Perkataan beliau "Allah memperbaikinya dalam satu malam" mengandung beberapa kemungkinan arti. Pertama, maksud perkataan itu adalah Allah "mempersiapkannya" untuk menjadi seorang pemegang kekhilafahan, yakni mempermudah jalan menuju kekhilafahan tersebut. Kedua, al­Mahdi masih memiliki beberapa "kekurangan", lalu Allah memperbaikinya dan mengampuni atau menerima taubatnya. 1 Pengertian yang kedua ini dipaparkan oleh al­Hafiz Ibn Katsir, ketika dia berpendapat: "Allah memperbaikinya dalam satu malam, maksudnya adalah Allah menerima taubatnya, memberikan taufik dan ilham kepadanya. Al­Qari, dalam kitab Al­ Murqah mengatakan bahwa Allah memperbaikinya dalam satu malam, mengandung maksud Allah memperbaiki urusannya, mengangkat derajatnya dalam satu malam, atau dalam suatu saat di malam itu, yakni pada saat Ahlul Halli wal­Aqdi (semacam lembaga parlemen) menyetujui kekhilafahan al­Mahdi. Sebagian orang moderen meragukan hadits ini agar maknanya menjadi kabur, padahal tidak ada yang aneh dalam maksud hadits tersebut, karena Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu, dan apa yang dikehendakiNya pasti terjadi. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dia adalah orang yang mendapatkan petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka dia tidak akan mendapatkan penolong yang memberinya petunjuk. Di antara contoh yang lebih gamblang adalah yang terjadi dalam diri seseorang yang lebih mulia daripada al­Mahdi, daripada seluruh umat Islam kecuali Abu Bakar, yakni Amirul Mukminin Umar bin Khathab ra. Sebelumnya, beliau adalah orang yang paling bengis terhadap Islam dan kaum muslimin, kemudian dengan taufik dan kekuasaan Allah swt, Umar berubah menjadi seorang yang paling berani membela Islam dan kaum muslimin. Beliau menjadi seorang lelaki mulia, yang apabila dia berjalan melewati suatu

1 Al­Ihtijaj bi al­Atsar 'ala Man Ankara al­Mahdi al­Muntadzar, cet. Ke­2, hlm. 263.

jalan, maka syetan berjalan melewati jalan yang lain (karena ketakutan)sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah saw. 1 11. Tuduhan para pendusta terhadap hadits­hadits tentang al­Mahdi Para pendusta telah menempuh berbagai cara untuk mengingkari hadits­hadits tentang al­Mahdi. Mereka melontarkan berbagai tuduhan dan keraguan yang sesuai dengan madzhab pemikiran mereka. Dalam bagian ini, insya Allah kami akan mengungkapkan tuduhan­tuduhan itu disertai dengan berbagai bantahannya.

Tuduhan yang pertama Yakni pendapat mereka yang mengatakan bahwa pembenaran mengenai keluarnya al­Mahdi merupakan persoalan teoritis yang tidak tidak diikuti dengan hal­hal yang bersifat amaliyah, sehingga apa manfaatnya bagiku dalam agamaku jika aku mempercayainya? Dan apa pula bahanya bagiku jika aku mengingkarinya? Jawaban atas persoalan tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, kita harus mengetahui bahwa hal ini termasuk persoalan ilmiah yang bersifat khabariyah (prediktif) yang dikabarkan oleh wahyu yang wajib dibenarkan dan diyakini, karena merupakan bagian dari dasar agama dan substansi ketauhidan. Kedua, beriman kepada persoalan ini merupakan konsekuensi logis dari syahadat atau kesaksian bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah. Konsekuensi itu adalah mentaati apa yang diperintahkan membenarkan apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang, dan tidak menyembah Allah kecuali sesuai dengan apa yang telah beliau syari'atkan. Ketiga, membenarkan persoalan tersebut merupakan konsekuensi dari keimanan kepada hari kiamat, karena salah satu tanda kiamat adalah keluarnya al­Mahdi. Keempat, membenarkan tentang keluarnya al­Mahdi termasuk bagian dari keimanan kepada takdir Allah swt. Kelima, beriman kepada tanda­tanda kiamat merupakan bagian dari keimanan kepada hal yang ghaib, dan di antara beriman kepada yang ghaib adalah beriman kepada apa yang telah diberitakan oleh Rasulullah mengenai al­Mahdi yang akan keluar di akhir zaman.

Tuduhankedua Yakni pendapat mereka yang mengatakan: Bagaiman mungkin hanya dalam waktu 7 tahun al­Mahdi bisa meratakan keadilan di seluruh muka bumi yang sebelumnya dipenuhi dengan kejahatan, padahal Rasulullah saw saja memerlukan waktu 23 tahun untuk berjuang mengajak manusia ke jalan Allah dan keadilannya tidak merata di semua penjuru bumi? Jawaban tentang tuduhan itu adalah sebagai berikut: Pertama, seungguhnya Allah berfirman:

« » LÏŒ=tÊ

ÏÏãœˇxú ©!$# ®bŒ) 4 ©!$# (#q)®?$#ur ( æœ&Œ!qôuëur ´!$# ƒìyâtÉ t˚˜¸t/ (#qBœdâs)Ë? üw (#qZtB#ut˚Ôœ%©!$# $pköâr'تtÉ

Hai orang­orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui (Qs. Al­Hujurat: 1)

1 Syeikh Abdul Muhsin al­Ibad, ar­Radd 'ala Man Kadzdzaba bi al­Ahadits ash­Shahihah al­ Waridah fi al­Mahdi, hlm. 79.

«Õ» 4yrqÉ ÷Ûrur ûwŒ) uqËd ˜bŒ) «Ã» #ìuqol˘;$# «`t,œZtÉ $tBur

Dan tidalak lah yang diucapkannya itu (Al­Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (Qs. An­Najm: 3­4). Semua yang terbukti telah dikabarkan oleh Rasulullah harus diyakini kebenarannya. Seorang muslim tidak sepantasnya merasa keberatan dengan apa yang telah dikabarkan oleh Radulullah saw, apalagi menentangnya dengan bertanya bagaimana, dan mengapa, karena hal ini bisa merusak aqidahnya. Kedua, jika Allah swt menghendaki sesuatu, maka Dia menyediakan sebab­ sebabnya dan memudahlan jalan menuju sesuatu tersebut. Contohnya adalah Amirul Mukminin Umar bin Khathab yang keadilannya telah memenuhi permukaan bumi dalam waktu 10 tahun. Padahal sebelum Islam tersebar pada masa kekhilafahannya, bumi tersebut dipenuhi dengan kezaliman dan kejahatan. Begitu juga dengan Umar bin Abdul Aziz, hanya dalam waktu 2 tahun 5 bulan pemerintahannya, bumi ini dipenuhi dengan keadilannya. Sementara itu, Rasulullah saw mengabarkan bahwa al­Mahdi akan memenuhi bumi ini dengan keadilannya dalam waktu 7 tahun, dan kabar dari Rasulullah itu pasti akan terjadi. Hanya orang­orang yang meragukan kemahakuasaan Allah sajalah yang mengingkari berita tersebut. Ketiga, Allah akan mempersiapkan al­Mahdi dan membekalinya untuk memperbaharui agamaNya dengan "memperbaikinya" dalam satu malam. Lalu Allah menguatkannya dengan karamah yang luar biasa yakni "tenggelamnya" para tentara yang hendak menyerang Baitul Haram. Keempat, seperti diketahui bahwa buah dakwah para nabi dan pengaruhnya di alam semesta ini adalah salah satu tanda kenabian mereka. Semua yang terjadi di muka bumi ini adalah pengaruh dari kenabian Rasulullah Muhammad saw. Apa yang terjadi pada masa Khulafaurasyidin dan yang akan terjadi insya Allah pada masa al­Mahdi kelak adalah juga karena pengaruh kenabian Rasulullah saw, salah satu buah dari diutusnya beliau, dan pantulan dari cahaya kenabiannya.

Tuduhan ketiga Salah satu tuduhan paling berbahaya yang dilontarkan oleh para penentang kemunculan al­Mahdi adalah bahwa hadits­hadits tentang al­Mahdi tidak terdapat dalam kedua kitab shahih (Bukhari dan Muslim), dan hadits­hadits tersebut telah tercampur dengan sumber Israiliyat. Adapun tuduhan bahwa dua syeikh hadits (Bukhari dan Muslim) tidak memasukkan sesuatu dari hadits­hadits tentang al­Mahdi, maka kami menjawab bahwa sunnah tidak semuanya dikodifikasikan dalam dua kitab shahih saja, tetapi masih banyak hadits shahih yang terdapat dalam kitab­kitab lain yang ditulis oleh ulama lain seperti terhimpun dalam berbagai kitab sunan, musnad, kamus, dan buku­buku hadits lainnya. Ibn Katsir mengatakan bahwa Bukhari dan Muslim tidak hanya menshahihkan hadits­hadits yang diriwayatkannya, tetapi keduanya juga pernah menshahihkan hadits­ hadits yang tidak terdapat dalam kitab mereka, sebagaimana Imam Tirmidzi dan lainnya

meriwayatkan bahwa Bukhari pernah menshahihkan hadits­hadits yang tidak terdapat di dalam kitabnya tetapi terdapat dalam kitab­kitab sunan lainnya. 1 Adapun hadits­hadits yang telah tercampur dengan kisah­kisah Israiliyat, maka sebagian memang hasil buatan kelompok Syi'ah dan kelompok fanatis lainnya, dan hal itu memang benar. Namun demikian, para imam ahli hadits telah memisahkan hadits­hadits shahih dari hadits­hadits lainnya. Mereka juga telah menulis berbagai kitab yang berisi kumpulan hadits palsu, menjelaskan riwayat­riwayat hadits yang lemah (dla'if), menyusun aturan­aturan yang rinci dalam menilai kualitas para periwayat hadits sehingga ketahuan siapa para pelaku bid'ah dan pendusta. Allah telah menjaga Sunnah dari Itulah bentuk penjagaan Allah terhadap agama ini. 2

Tuduhan keempat Yakni pendapat mereka yang mengatakan bahwa meyakini tentang keluarnya al­ Mahdi merupakan tindakan khurafat yang merasuki kalangan Ahlussunnah melalui jalur pertemanan dan tercampur dengan ajaran Syi'ah, jadi bukan merupakan ajaran asli Ahlussunnah. Jawaban atas tuduhan tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, sesungguhnya hadits­hadits tentang al­Mahdi terdapat dalam beberapa kitab kumpulan hadits yang sanad­sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah saw melalui jalur para sahabatnya yang mulia. Adapun hadits­hadits Syi'ah hanya bersambung sampai kepada para imam mereka yang dianggap ma'shum (bebas dari kesalahan dan dosa). Dengan demikian, hadits­hadits shahih dari Rasulullah saw yang terkait tentang al­Mahdi tidak memiliki hubungan dengan Syi'ah dan juga tidak diambil dari kalangan Syi'ah. Lagi pula, al­Mahdi dalam pandangan kaum Syi'ah adalah Muhammad bin al­Hasan al­'Askari si penghuni gua, sedangkan al­Mahdi dalam pandangan Ahlussunnah adalah Muhammad bin Abdullah. Dengan demikian, al­Mahdi dalam pandangan Syi'ah berbeda dengan al­Mahdi dalam pandangan Ahlussunnah. Kedua, tidak sepantasnya mengabaikan kebenaran demi kebatilan. Pengakuan kaum Rafidlah yang penuh dusta mengenai kehadiran al­Mahdi sebagai imam mereka yang tidak sesuai dengan aql maupun naql tidak serta merta membuat kita menolak dalil­ dalil shahih dari sunnah Rasulullah saw yang menegaskan bahwa kemunculan al­Mahdi adalah sebuah kebenaran bukan sebuah khurafat. Ketiga, penggunaan sunnah yang diakui oleh kaum Rafidlah untuk membenarkan kemunculan al­Mahdi hanyalah bersifat dugaan semata (dzanni) tidak sampai pada taraf dalil atau hujjah yang kuat. Keempat, keterangan yang sangat jelas mengenai diri al­Mahdi dan ciri­cirinya dalam pandangan Ahlussunnah bisa dijadikan bantahan terhadap keyakinan kaum Syi'ah mengenai al­Mahdi dalam dugaan mereka, yakni bahwa al­Mahdi adalah imam mereka yang kedua belas atau yang terakhir, yang sampai sekarang dianggap "hilang". Imam Ibn al­Qayyim mengungkapkan bagaimana gambaran al­Mahdi yang "hilang" itu dalam hayalan mereka: "Dia akan muncul di beberapa kota, tidak bisa terlihat oleh mata, dia mewarisi sebuah tongkat, bercincinkan perak, memasuki sebuah gua pada waktu masih kecil kira­kira sebelum usia 15 tahun, dan setelah itu tidak ada orang yang melihatnya

1 Ahmad Syakir, al­Ba'its al­Hatsis, Syarh Ikhtishar Ulum al­Hadits Li Ibni Katsir, hlm. 25. 2 Yusuf al­Wabil, Asrath as­Sa'ah, hlm. 270.

lagi, tidak juga terdengar kabar beritanya. Mereka menunggu kemunculannya kembali setiap hari. Dengan menunggang kuda, mereka menunggu dengan setia di mulut gua sambil berteriak memanggil­manggil, wahai tuanku, keluarlah. Kemudian mereka pulang dengan perasaan sedih dan susah. Itulah perilaku mereka. Selanjutnya Ibn al­Qayyim mengatakan: Apa yang dilakukan mereka mempermalukan umat manusia dan menggelikan bagi orang yang mempunyai akal sehat. Jika perbedaan gambaran al­Mahdi antara Ahlussunnah dan Syi'ah seperti perbedaan antara satu bintang dengan bintang lainnya, maka bagaimana mungkin bisa disamakan antara yang hak dengan yang batil? Renungkanlah.

Tuduhankelima Yakni pendapat mereka yang mengatakan bahwa kepercayaan atau i'tiqad tentang kemunculan al­Mahdi bisa menimbulkan bahaya, kerusakan dan fitnah sebagaimana telah tercatat dalam sejarah. Sebaliknya, keyakinan akan ketidakbenaran kemunculan al­Mahdi bisa mendatangkan rasa tenang, aman, dan selamat dari fitnah. Jawaban atas tuduhan tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, yang wajib dilakukan adalah membenarkan Rasulullah saw dalam semua yang beliau beritakan terkait dengan perkara ghaib, baik di masa lampau maupun di masa yang akan datang, yang bisa kita saksikan ataupun yang tidak. Mereka yang menghukumi keshahihan hadits­hadits tentang al­Mahdi adalah para ulama yang sangat berkompeten, sedangkan mereka yang mengkritiknya adalah orang­orang kini yang belum tentu berkompeten, sehingga dengan kebodohannya tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak para ulama dan menentang pendapat mereka. Kedua, Ahlussunnah wal­jama'ah meyakini bahwa al­Mahdi akan menegakkan keadilan, menghilangkan kejahatan dan kezaliman. Adapun fitnah itu berasal dari para dajal pendusta yang mengaku sebagai al­Mahdi. Ketiga, sesungguhnya bahaya dan kerusakan juga akan mengikuti upaya pendustaan terhadap hadits­hadits yang shahih karena bisa menafikan keimanan. Allah swt berfirman:

1

«œÃ» Ìœ9r& Î>#xãtˆNÂkz:è £É ˜rr& ÓpuZ˜Fœ˘ ˆNÂkz:ä

£Ë? br& ˇæÕnÕêˆDr& Ù`ttbqˇœ9$sÉÜ t˚Ôœ%©!$# ëxãÛsuä˘=s˘

Maka hendaklah orang­orang yang menyalahi perintah­Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih (Qs. An­Nur: 63). Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan: "Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah saw, maka dia berada di pinggir jurang kehancuran". Keempat, bahwa pengingkaran terhadap munculnya al­Mahdi di akhir zaman bukanlah hal yang menghalangi timbulnya berbagai fitnah, mengantarkan pada rasa aman dan ketenangan berdasarkan dalil bahwa Allah swt berfirman:

1 Al­Manar al­Munif, hlm. 152­153)

>Ûx´ »e@3Œ/ !$# tb%x.ur 3 zÕhäŒ;®Y9$# zOs?$yzur ´!$# tAqôßë `

s9ur ˆN3œ9%y`Õhë `œiB 7âtnr& !$t/r& Óâ£JptËC tb%x. $®B

«Õ…» $VŒ=t

Muhammad itu sekali­kali bukanlah bapak dari seorang laki­laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi­nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu (Qs. Al­Ahzab: 40). Rasulullah juga bersabda: "Aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi lagi sesudahku". Meskipun demikian, ternyata banyak orang yang mengaku sebagai nabi, sehingga menimbulkan kekacauan besar di kalangan umat Islam. Terjadilah peperangan antara umat Islam dengan mereka yang mengaku sebagai nabi, darahpun tertumpah seperti yang terjadi ketika memerangi Musailamah al­Kadzab, al­Aswad al­Unsi, Thulaihah al­Asadi, Sujah, al­Mukhtar bin Abi Ubaid, dan para "dajal pendusta" lainnya yang juga memiliki banyak pengikut. Adapun penyebab hakiki yang bisa menyelamatkan dari fitnah adalah berpegang teguh kepada kitabullah, sunnah RasulNya, dan tali agamaNya. Kelima, persangkaan mereka bahwa mendustakan hadits­hadits tentang al­Mahdi bisa mendatangkan ketenangan, keselamatan, rasa aman serta terhindar dari fitnah, maka sesungguhnya yang benar adalah yang sebaliknya. Hal yang bisa mendatangkan ketenangan, keselamatan dan rasa aman adalah beriman kepada semua yang datang dari Allah swt, apa yang telah ditegaskan oleh Rasulullah, dan menghilangkan semua keraguan terhadap kebenaran berita ghaib baik yang telah maupun yang akan terjadi.

Tuduhankeenam Ketika mereka tidak mampu membantah keshahihan hadits­hadits tentang al­ Mahdi, mereka mengatakan: "Memang benar, bahwa hadits­hadits tentang al­Mahdi adalah shahih, tetapi kami menakwilkan bahwa al­Mahdi tidak lain adalah simbol kebaikan, petunjuk, dan perbaikan. Jawabannya adalah bahwa mereka yang melakukan penakwilan yang salah pada hakikatnya adalah para pendusta bukan para pencari kebenaran. Contoh penakwilan yang keliru adalah mengikuti kedustaan dan menolak hadits. Hindarilah bahaya, fitnah, dan kerusakan yang sering muncul dari penakwilan semacam ini, karena terbukti telah banyak orang yang mengaku sebagai al­Mahdi, yakni mereka yang memandang dirinya memiliki kebaikan dan petunjuk, atau karena orang­ orang melihatnya memiliki kebaikan. 12. Hadits yang tidak shahih Sebagian orang yang mengingkari hadits­hadits tentang al­Mahdi berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Majah dan al­Hakim dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Tidak bertambah suatu urusan kecuali semakin berat, dunia semakin dibelakangi, dan manusia semakin pelit. Kiamat tidak akan menimpa kecuali atas orang­orang yang jahat, dan tidak ada al­Mahdi kecuali Isa bin Maryam". Jawaban untuk mereka adalah bahwa hadits di atas adalah hadits dla'if, karena salah seorang sanadnya yakni Muhammad bin Khalid al­Jundi, menurut adz­Dzahabi ­ mengutip al­Azdi­ adalah orang yang tidak diterima haditsnya, dan menurut Abu Abdillah al­Hakim, adalah orang yang tidak diketahui profilenya (majhul). Adz­Dzahabi

mengatakan bahwa hadits "Tidak ada al­Mahdi kecuali Isa bin Maryam" adalah hadits yang munkar yang diriwayatkan oleh Ibn Majah. 1 Syaikhul Islam Ibn Taimiyah juga berpendapat bahwa hadits tersebut adalah dla'if. 2 13. Bukan untuk meniadakan sebab dengan alasan menunggu kemunculan al­ Mahdi Ada sebagian orang yang malas bekerja dan cukup dengan berkhayal dan berangan­ angan. Mereka berpangku tangan tidak mau memperbaiki kualitas umat ini dengan alasan hal itu telah dilakukan oleh orang­orang sebelumnya serta akan diperbaiki oleh orang­ orang yang hidup sesudahnya. Mereka hanya berdiam diri tidak mau berjuang menegakkan agama Allah hanya karena alasan bahwa tugas itu akan dilakukan oleh al­ Mahdi kelak. Sikap yang semacam itu adalah bentuk pelarian menuju khayalan dan mengabaikan sebab­sebab syar'iyah. Padahal Allah swt mendorong kita untuk melakukan upaya dan sebab­sebab yang mengantarkan pada suatu tujuan.

=¯ãtÛ¯9$# OŒt4ín<Œ) öcrñäuéIyôur ( tbqZœB˜sJ¯9$#ur º&Ë!qôuëur ˆ/3n=uHx !$# ìuézç|°s˘ (#qË=yJÙ$# »@Ë%ur

« …Œ» tbqË=yJ˜Ës? ˜LÍZ. $yJŒ/ /3Œm7t^ãs˘ Õoyâªpk§ 9$#ur

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul­Nya serta orang­ orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan­Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (Qs. At­Taubah:

105).

«“» #Yëq3Ù±®B Ogã˜Ëyô tb%ü2 y7եتs9'rÈ's˘ ÷`œB˜sB uqËdur $yguä˜Ëyô $olm; 4tÎyôur notç

zFy$# yä#uër& Ù`tBur

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh­sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang­orang yang usahanya dibalasi dengan baik (Qs. Al­Isra: 19).

« “–» =ªt6¯9F{$# íÕ<'rÈ'تtÉ »bq)®?$#ur 4 3ìuq¯) G9$#

œä#®ì9$# uéˆçyz cŒ*s˘ (#rä®rtìs?ur

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik­baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada­Ku hai orang­orang yang berakal (Qs. Al­Baqarah: 197). Allah swt memerintahkan Maryam as untuk melakukan upaya atau sebab­sebab padahal dia sedang dalam keadaan yang sangat payah dan lemah. Allah berfirman:

«ÀŒ» $wäœZy_ $Y7s¤ë

7¯ãn=tÊ Ò|°Ë@ œ's#˜Ç®Z9$#

Ìıã

7¯ãs9Œ) ¸ìÃhìËdur

gø2

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu (Qs. Maryam: 25). Rasulullah saw juga selalu memperhitungkan sesuatu dengan matang dengan membuat perencanaan yang teliti seperti dalam perjalanan hijrah beliau. Beliau membawa perbekalan, memilih teman perjalanan, menentukan tempat persembunyian

1 Mizan al­I'tidal, 3/535. 2 Minhaj as­Sunnah an­Nabawiyah, 4/211.

yang aman, dan lain­lain. Beliau juga membuat perencanaan dan strategi yang matang dalam setiap peperangan. Hal itu pula yang beliau ajarkan kepada para sahabatnya yang mulia, sehingga mereka menghadapi musuh dengan berlindung di balik berbagai macam jenis senjata. Rasulullah saw memasuki kota Mekkah dengan pedang di atas kepalanya, padahal Allah swt telah berfirman: "Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia" (Qs. Al­Maidah: 67). Setiap kali beliau bepergian untuk berjihad, berhaji ataupun umrah, tidak lupa membawa perbekalan secukupnya. Dari Amirul Mukminin Umar ra, Rasulullah saw berkata: "Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar­benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rizki kepada seekor burung, di pagi hari (pergi) dalam keadaan lapar dan di sore hari (pulang) dalam keadaan kenyang" (HR. Ahmad, dan Tirmidzi, dishahihkan oleh al­Albani). Imam Ahmad berkata: "Hadits di atas tidak menunjukkan makna berpangku tangan tetapi menunjukkan kegiatan mencari rizki, karena burung jika di pagi hari dia pergi untuk mencari rizki" 1 Umar ra sangat marah terhadap orang­orang pemalas yang hanya duduk­duduk saja tanpa mau berusaha mencari rizki sambil berdo'a: Ya Allah berilah aku rizki, padahal dia tahu bahwa langit tidak pernah menurunkan emas dan perak, dan Allah berfirman:

ˆ/3Ø=yË©9 #ZéçœWx. ©!$# (#rç.¯å$#ur ´!$# »@Ùs˘ `œB (#qÛtGˆ/$#ur «ˆëF{$# íŒ˚ (#r眱tFR$$s˘ o4qn=¢£9$# œMuä Ë% #såŒ*s˘

« …» tbqsŒ=¯ˇË?

Apabila Telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak­banyak supaya kamu beruntung (Qs. Al­Jumu'ah: 10). Al­Hafiz Ibn Hajar mengatakan: "Ketahuilah bahwa hakikat tawakal tidak bisa menafikan usaha dan upaya untuk melakukan sebab­sebab yang telah ditakdirkan Allah, sehingga berlakulah sunnatullah terhadap makhlukNya. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk mentaati sebab­sebab bersamaan dengan perintahNya untuk bertawakal. Berusaha melaksanakan sebab­sebab itu dengan anggota badan merupakan bentuk ketaatan kepadaNya, dan bertawakal dengan hatinya merupakan bentuk keimanan kepadaNya". 2

D. Tanda­Tanda Kiamat Besar

Anda mungkin menemukan nash yang jelas yang menerangkan tentang urutan tanda­tanda kiamat besar. Sungguh Rasulullah menuturkan lebih dari satu kali tentang urutan itu yang saling berbeda. Ini semakin memperkuat bahwa memang ada perbedaan mengenai urutan tanda­tanda kiamat tersebut. Inilah beberapa contoh yang bisa anda lihat. Dari Khudzaifah bin Asid al­Ghifari ra, dia berkata: Rasulullah datang kepada kami pada saat kami sedang berdiskusi, lalu beliau berkata: Apa yang kalian diskusikan? Kami menjawab: Sedang membicarakan

1 Syu'ub al­Iman, 2/66­67 2 Jami' al­'Ulum wal­Hikam, hlm. 409.

tentang kiamat. Beliau bersabda: Kiamat tidak akan terjadi sampai kalian melihat sepuluh tanda sebelumnya. Beliau lalu menyebutkan: asap, dajal, dabah, matahari terbit dari barat, munculnya Isa as, Ya'juj dan Ma'juj, tiga gerhana (gerhana di timur, gerhana di barat, dan gerhana di jazirah Arab), dan akhirnya ada api yang keluar di Yaman yang menggiring manusia ke tempat berkumpul mereka". (HR. Muslim 18/27­28). Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dari Hudzaifah bin Asid dengan lafal yang berbeda, yakni: "Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi hingga ada sepuluh tanda­tanda; gerhana di timur, gerhana di barat, gerhana di jazirah Arab, asap, dajal, dabah al­ardl, Ya'juj dan Ma'juj, matahari terbit dari sebelah barat, dan api yang keluar dari jurang Adn yang menggiring manusia". Dalam riwayat lain: "Yang kesepuluh adalah turunnya Isa bin Maryam" (HR. Muslim) Hadits di atas adalah satu hadits yang berasal dari seorang sahabat yang sama tetapi dengan lafal atau redaksi yang berbeda dari segi urut­urutan tanda­tanda kiamat. Saudaraku, hendaknya anda memperhatikan dengan seksama tanda­tanda kiamat besar itu,yaitu:

Al­Masih ad­Dajal Marilah kita mengenal lebih jauh tentang fitnah terbesar dan paling membahayakan yang selalu menghantui semua manusia semenjak sejarahnya yang panjang, yaitu fitnah al­Masih ad­Dajal.

1. Rahasia dibalik penamaan al­Masih ad­Dajal

Kata "dajal" adalah kata benda yang menunjuk pada orang yang suka berdusta. Jika kata "dajal" diucapkan maka hanya ada satu makna yang terbayang dalam pikiran yaitu pendusta. Kata "al­masih" disandingkan dengan kata dajal karena salah satu matanya buta atau dalam bahasa Arab disebut dengan "mamsuhah", ada juga yang berpendapat karena Dajal "yamsahu" (menghapus) bumi dalam waktu 40 hari. 1 Pendapat yang pertama adalah pendapat yang paling mendekati kebenaran, karena dinyatakan dalam sebuah hadits: "Sesungguhnya Dajal itu buta matanya" (HR. Muslim, 18/61).

Adapun gelar al­Masih yang melekat dalam diri Isa as, karena beliau "yamsahu" (mengusap) orang yang sakit dan bisa sembuh seketika dengan izin Allah swt. Dinamakan dengan "dajal", karena dia menutupi kebenaran dengan kebatilan, atau karena dia menutupi kekafirannya di hadapan manusia dengan berdusta, dan mengelabui mereka. Ada juga yang berpendapat karena dia berhasil menutupi kebenaran suatu perkara dengan mengandalkan banyaknya pengikutnya. Wallahu a'lam. 2

2. Ciri­ciri Dajal

Dajal adalah seorang lelaki dari golongan manusia yang memiliki banyak tanda­ tanda atau ciri­ciri sebagaimana diberitakan dalam berbagai hadits, agar orang­orang bisa mengenalnya dan bisa menjadi peringatan bagi mereka. Dengan demikian, jika Dajal benar­benar telah muncul maka kaum mukminin segera mengetahuinya dan tidak terkecoh fitnahnya. Sebaliknya, mereka segera mengetahui tanda­tandanya seperti yang diberitakan oleh Rasulullah saw. Tanda­tanda ini bisa membedakan dirinya dengan orang

1 An­Nihayah fi Gharib al­Hadits, 4/327) 2 Lisanul Arab, 11/237

lain, sehingga hanya orang bodoh dan celaka saja yang bisa terpedaya. Kepada Allah swt kami memohon perlindungan.

Di avntara ciri­ciri Dajal adalah bahwa dia seorang lelaki, berusia muda, kulitnya kemerah­merahan, pendek, congkak, keriting rambutnya, luas dahinya, lebar dadanya, mata kanannya buta, bola matanya tidak begitu menonjol dan juga tidak cekung seolah­ olah seperti buah anggur, di atas mata kirinya ada daging yang tumbuh dan keras, di antara dua matanya tertulis (ﺭ ﻑ ﻙ) dengan huruf terpisah, atau tulisan (ﺮﻓﺎﻛ) dengan huruf bersambung. Tulisan itu bisa dibaca oleh semua orang Islam baik yang bisa baca tulis atau tidak. Salah satu tandanya yang lain adalah bahwa Dajal itu seorang lelaki yang mandul yang tidak mempunyai anak. Berikut ini beberapa hadits shahih yang menjelaskan tentang tanda­tanda Dajal tersebut di atas. Dari Ibn Umar ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Ketika saya tidur, saya

(bermimpi) melakukan thawaf di Baitil Haram

melihat Isa bin Maryam, lalu melihat Dajal, dan meceritakan), tiba­tiba ada seorang lelaki

yang besar, berkulit merah, keriting rambutnya, matanya buta dan seolah­olah matanya seperti buah anggur. Mereka berkata: Inilah Dajal yang sangat mirip dengan Ibn Qathn, seorang lelaki dari Khuza'ah" (HR. Bukhari dan Muslim). Dari lbnu Umar ra, sesungguhnya Rasulullah saw menuturkan bahwa Dajal berada di tengah­tengah manusia. Beliau bersabda lagi: "Sesungguhnya Allah tidak buta, ingatlah bahwa al­Masih ad­Dajal itu buta matanya yang kanan seolah­olah matanya adalah buah anggur yang padam" (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits Ubadah bin Shamit ra, Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Masih ad­Dajal adalah seorang lelaki, pendek, congkak, kriting, buta, matanya melotot tetapi tidak cekung jika dia menyamar kepada kalian maka ketahuilah bahwa Rabb kalian tidak cacat (buta)" (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh al­Albani). Dalam hadits Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda: "Adapun Masih adl­Dlalalah "

menuturkan bahwa dirinya

(Beliau

(Dajal) adalah orang yang cacat (buta) matanya, lebar dahinya, luas dadanya (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Ahmad Syakir). Dalam hadits Hudzaifah ra, Rasulullah mengatakan: "Dajal itu buta matanya yang sebelah kiri, banyak rambutnya" (HR. Muslim). Dalam hadits Anas ra, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya di antara kedua mata Dajal ada tulisan ﺮﻓﺎﻛ (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain: " kemudian

tertulis kata (ﺭ ﻑ ﻙ) yang bisa dibaca oleh setiap orang muslim" (HR. Muslim). Dalam

bisa dibaca oleh semua orang mukmin yang bisa menulis

ataupun yang tidak" (HR. Muslim). An­Nawawi mengatakan: "Pendapat yang dibenarkan oleh para ulama adalah bahwa tulisan tersebut memang tampak nyata dan merupakan tulisan yang sebenarnya. Allah menjadikan tulisan itu sebagai salah satu tanda di antara berbagai tanda kekafirannya, kedustaannya, dan kebatilannya. Allah menampakkan tanda itu kepada setiap orang Islam, baik yang bisa baca tulis ataupun tidak. Sebaliknya, Allah menyamarkan atau memyembunyikan tanda tulisan itu kepada orang yang dikehendaki akan celaka atau terkena fitnahnya, dan tidak ada orang yang bisa mencegah datangnya fitnah tersebut" (Muslim bi Syarh an­Nawawi, 18/60).

riwayat Hudzaifah: "

yang

Dalam kitab Fath al­Bari disebutkan: "Tulisan itu bisa dilihat oleh orang mukmin dengan mata kepalanya sendiri meskipun dia tidak bisa baca­tulis, tetapi tidak bisa dilihat oleh orang kafir meskipun dia bisa baca­tulis, sebagaimana orang mukmin juga bisa melihat bukti­bukti itu dengan matahatinya sendiri yang tidak bisa dilakukan oleh orang kafir. Allah memberikan kemampuan memahami kepada orang mukmin tanpa harus melewati proses belajar, karena pada zaman itu banyak kejadian­kejadian di luar kebiasaan" (Fath al­Bari, 13/100). Di antara ciri Dajal yang lain adalah seperti yang terdapat dalam hadits Fathimah binti Qis ra, tentang kisah Jasasah, sebagaimana dikatakan juga oleh Tamim ra: "Maka kami segera bergegas sampai kami memasuki biara, tiba­tiba ada seorang manusia yang besar yang belum pernah kami lihat sebelumnya, dia juga sangat kuat" (HR Muslim). Bahkan Nabi saw mengabarkan bahwa "Dajal itu mandul dan tidak punya anak" (HR. Muslim, 4/2242).

3. Kebatilan pengakuan rububiyah (ketuhanan) Dajal

Jika sifat­sifat atau ciri­ciri yang dimiliki Dajal semuanya negatif, maka bagaimana mungkin seorang makhluk yang lemah seperti dia mengaku sebai tuhan? Dia mengaku dirinya sebagai tuhan manusia, sedangkan Tuhan tidak akan bisa dilihat di dunia, sebagaimana sabda Rasulullah saw: "Ketahuilah bahwa salah seorang di antara kalian tidak bisa melihat Tuhannya sampai dia mati" (HR. Muslim, 4/2245). Lagipula disamping Dajal adalah seorang makhluk, dia juga memiliki sejumlah cacat, di antaranya adalah matanya yang buta. Dalam beberapa hadits di atas, di antara kecacatan Dajal adalah dia memiliki kaki yang pincang. (Fathul Bari, 13/97).

Benar apa yang dikatakan oleh Ibn al­Arabi, bahwa berkaitan dengan sifat­sifat Dajal yang penuh kekurangan tersebut menandakan bahwa dirinya ternyata tidak mampu menolak kecacatan dalam dirinya. Sesungguhnya dia hanyalah seorang yang juga terkena hukum sunnatullah (Fathul Bari, hlm. 98). Artinya, jika Dajal adalah Tuhan tentu dia mampu menghilangkan kekurangan dalam dirinya. Dengan demikian, ketidakmampuan dia menghilangkan kekurangan itu menunjukkan bahwa dia adalah seorang makhluk yang tidak berdaya dan tidak mampu melepaskan dirinya dari cacat. Pernyataan Rasulullah saw secara khusus bahwa Dajal itu seorang yang buta karena kebutaan itu merupakan bukti nyata kecacatanya yang bisa difahami oleh orang alim maupun orang awam, termasuk orang yang tidak mampu berpikir berdasarkan dalil aqliyah (logika).

4. Fitnah terbesar sampai hari kiamat

Sesungguhnya fitnah al­Masih ad­Dajal merupakan fitnah terbesar semenjak Allah menciptakaan Adam as sampai dengan datangnya hari kiamat. Hal itu karena Allah swt menciptakan untukny hal­hal yang tidak bisa dinalar dengan logika. Rasulullah saw bersabda: "Sejak Allah menciptakan Adam sampai dengan datangnya hari kiamat tidak ada makhluk yang lebih besar dari Dajal". Dalam riwayat lain: "Suatu hal yang lebih besar dari Dajal" (HR. Muslim).

5. Beberapa bentuk gambaran fitnah Dajal

Sesungguhnya Dajal akan mengaku sebagai Tuhan, dan Allah swt akan memberikan kepadanya kekuatan, kemampuan, dan lain­lain yang bisa menyebabkan dia bisa melancarkan fitnah­fitnahnya. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari fitnah Dajal ini kecuali orang yang berpegang teguh kepada Allah swt dan

mempersenjatai diri dengan iman dan tauhid yang kuat. Di antara kemampuan dan kekuatan yang akan dimiliki Dajal sehingga dia bisa meluluhkan orang­orang yang hatinya berpenyakit adalah:

6. SorgadannerakaDajal

Diriwayatkan bahwa di sisi Dajal ada sesuatu yang menyerupai sorga dan neraka atau ada sesuatu yang menyerupai sungai dari air dan sungai dari api. Kenyataan yang sebenarnya tidaklah seperti yang dilihat oleh orang­orang. Apa yang mereka lihat sebagai api sesungguhnya adalah air yang dingin, dan apa yang mereka lihat sebagai air yang dingin sesungguhnya adalah api yang panas. Rasulullah saw bersabda: "Bersama Dajal ada sorga dan neraka. Nerakanya adalah sorga dan sorganya adalah neraka" (HR. Muslim). Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Hudzaifah ra, Rasulullah saw bersabda mengenai Dajal: "Sesungguhnya bersama Dajal ada air dan api. Apinya adalah air yang dingin dan airnya adalah api", dalam riwayat Muslim ada tambahan: "maka kalian jangan terpedaya". Rasulullah memberitahu kepada kita tentang jalan keselamatan dari fitnah Dajal ini, beliau bersabda: "Sesungguhnya bersama Dajal ada sorga dan neraka. Nerakanya adalah sorga dan sorganya adalah neraka. Barangsiapa diuji dengan nerakanya maka mohonlah pertolongan Allah dan bacalah ayat pembuka surat al­Kahfi" (HR. Ibn Majah dan al­ Hakim, dishahihkan oleh al­Albani). Dalam riwayat Muslim dari Hudzaifah, Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya aku adalah orang yang paling tahu apa yang ada bersama Dajal. Di sisinya ada dua sungai yang mengalir, salah satunya terlihat oleh mata berupa air yang jernih, dan satunya lagi terlihat oleh mata berupa api yang menyala. Jika ada seseorang yang mendapatkannya, maka hendaklah dia datangi sungai yang dilihatnya (seperti) api lalu menceburlah (ke dalamnya) kemudian kibaskan kepalanya dan minumlah darinya, sesungguhnya itu adalah air yang dingin". Dalam riwayat Muslim yang lain yang juga melalui jalur Hudzaifah disebutkan:

"Sesungguhnya Dajal akan keluar. Bersamanya ada air dan api. Apa yang dilihat orang sebagai air (sebenarnya) adalah api yang membakar, dan apa yang dilihat orang sebagai api (sebenarnya) adalah air yang dingin dan tawar. Barangsiapa di antara kalian yang bertemu dengannya, maka menceburlah ke dalam apa yang terlihat sebagai api, karena itu (sebenarnya) adalah air tawar yang menyejukkan".

7. KecepatanDajaldalamberpindahtempat

Di antara fitnah Dajal yang lain adalah dia mampu berpindah dari satu daerah

(negara) ke daerah (negara) lain dengan sangat cepat yang tidak bisa dibayangkan. Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw sebagaimana dalam riwayat Muslim: "Ya Rasulullah, bagaiman kecepatannya (Dajal) di bumi?" Rasulullah menjawab: "Seperti tetesan air yang ditiup angin". Oleh karena itu, Dajal akan memasuki semua negara yang ada di seluruh penjuru bumi kecuali Mekkah dan Madinah.

8. Langit dan bumi mematuhi perintah Dajal

Di antara fitnah Dajal yang lain adalah dia bisa memerintahkan langit untuk

menurunkan hujan, memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman, memanggil hewan untuk mengikutinya, dan memerintahkan bekas­bekas reruntuhan untuk

mengeluarkan harta yang tersimpan atau terpendam di dalamnya. Semuanya mau memenuhi perintah Dajal.

Dajal mendatangi sekelompok orang dan

menyeru kepada mereka lalu mereka beriman kepadanya dan memenuhi seruan (dakwah)nya. Kemudian Dajal memerintah kepada langit sehingga langit pun menurunkan hujan, dan kepada bumi sehingga bumi pun menumbuhkan tanaman…" (HR. Muslim). Hal yang demikian lebih mudah bagi Allah. Dari Mughirah bin Syu'bah, dia berkata: Tidak ada orang yang bertanya kepada Rasulullah saw tentang Dajal lebih dari apa yang aku tanyakan. Rasulullah saw bertanya:

Apa pertanyaanmu? Aku manjawab: Sesungguhnya orang­orang berkata bahwa Dajal membawa gunung dari roti dan daging, dan sungai dari air. Rasulullah saw bersabda:

"Yang demikian lebih mudah bagi Allah" (HR. Muslim).

Di sini kita dapatkan bahwa Nabi saw di samping beliau mengabarkan bahwa Dajal adalah fitnah terbesar di alam semesta ini, tetapi beliau juga memusatkan pada satu aspek penting dari beberapa aspek akidah, yakni bahwa hanya karena takdir Allah lah Dajal ada di alam ini. Apa yang dikehendaki Allah pasti terwujud dan apa yang tidak dikehendaki Allah pasti tidak akan terwujud. Meskipun Dajal akan ada dan memiliki kemampuan­ kemampuan tersebut tetapi dia tidak akan sanggup melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah ditakdirkan Allah. Itulah mengapa Rasulullah mengatakan: "Yang demikian lebih mudah bagi Allah", artinya Dajal tidak akan mampu memastikan takdir para hamba, dia hanya sebatas fitnah.

Rasulullah saw bersabda: "

kemudian

9. Dajal meminta bantuan kepada syetan

Rasulullah saw bersabda: " antara fitnah Dajal adalah dia mengatakan kepada

seorang a'rabi: Apakah jika aku hadirkan ayah dan ibumu di hadapanmu maka kamu mau bersaksi bahwa aku adalah tuhanmu? Orang itu menjawab: Ya. Maka dua syetan menyamar menyerupai ayah dan ibunya, lalu keduanya berkata: Hai anakku, ikutilah dia, sesungguhnya dia adalah tuhanmu (HR. Ibn Majah dan al­Hakim, dishahihkan oleh al­ Albani). Dajal membunuh seorang remaja dan menghidupkannya kembali (dengan izin Allah) Dari Abi Sa'id al­Khudzri ra, dia berkata: Pada suatu hari Rasulullah saw bercerita tentang Dajal secara panjang lebar. Di antara cerita beliau adalah: "Suatu ketika Dajal mau memasuki Madinah yang terlarang untuknya hingga dia berhenti di di tanah lapang tandus yang ada di pinggiran kota Madinah. Lalu di hari itu keluarlah seorang lelaki yang merupakan sebaik­baik orang atau salah seorang dari orang­orang terbaik menemui Dajal itu. Dia berkata kepadanya: Aku bersaksi bahwa kamu adalah Dajal yang pernah diceritakan oleh Rasulullah dalam haditsnya. Dajal berkata: Bagaimana pendapat kalian jika aku bunuh orang ini kemudian aku hidupkan kembali, apakah kalian masih meragukannya? Mereka (para pengikut Dajal) menjawab: Tidak. Lalu Dajal pun membunuh orang itu kemudian menghidupkannya kembali. Ketika hidup kembali orang itu berkata: Demi Allah, aku sekarang lebih yakin tentang dirimu dari sebelumnya. Rasulullah berkata lagi: Lalu Dajal hendak membunuh orang itu (kembali) tetapi dia tidak mampu mengalahkannya" (HR. Muslim).

di

"

Ini adalah orang yang paling kuat kesaksiannya di sisi Allah Dai Abu Sa'id al­Khudri, Rasulullah saw bersabda: "Dajal muncul lalu seorang dari kalangan mukminin hendak menghadapinya, dan dia bertemu dengan para pengikut Dajal. Mereka bertanya kepadanya: Kemana kamu mau pergi? Dia menjawab: Aku hendak menuju orang yang baru muncul itu (Dajal). Mereka bertanya lagi: Apakah kamu tidak beriman kepada tuhan kami? Dia menjawab: Tuhan kami tidaklah terlihat. Mereka berkata: Bunuhlah dia. Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain:

Bukankah tuhan kami telah melarang kalian untuk membunuh seseorang kecuali dia sendiri (yang membunuh). Rasulullah meneruskan: Lalu mereka membawa orang ini menghadap Dajal. Begitu melihat Dajal, orang itu berseru: Wahai manusia, inilah Dajal yang telah dituturkan oleh Rasulullah. Lalu Dajal menyuruh orang itu untuk ditelentangkan. Dia berkata: Bawalah dia dan telentangkanlah! Lalu perut dan punggungnya dipukul. Dajal bertanya kepadanya: Mengapa kamu tidak mau beriman kepadaku? Dia menjawab: Kamu adalah al­Masih si­Pendusta. Lalu Dajal memerintahkan untuk memotong dengan pisau dari persendiannya sehingga tubuh dan kedua kakinya terpisah. Kemudia Dajal berjalan di antara dua potongan tubuh itu dan berkata: Berdirilah. Lalu orang itu bisa berdiri dengan sempurna. Dajal bertanya kepadanya: Maukah kamu beriman kepadaku? Dia menjawab: Kamu tidak bisa menambahku kecuali aku semakin mantap keyakinanku (bahwa kamu Dajal). Rasulullah saw meneruskan: Kemudian orang itu berkata: Wahai manusia, sungguh setelahku ini dia tidak akan melakukan lagi pada orang lain. Lalu Dajal menangkap orang itu untuk menyembelihnya, sehingga dia tidak bisa meloloskan diri. Kemudian kaki dan tangannya dipegang dan dilemparkannya. Orang­orang mengira bahwa dia dilemparkan ke api (neraka), tetapi sesungguhnya dia dimasukkan ke dalam sorga. Rasulullah saw bersabda:

Orang ini adalah orang yang paling kuat kesaksiannya di hadapan Allah, Tuhan semesta alam" (HR. Muslim).

Para Nabi memperingatkan kaumnya tentang fitnah Dajal ini. Karena para nabi ­shalawat dan salam semoga terlimpah kepada mereka­ mengetahui dengan pasti tentang bahayanya fitnah Dajal ini, maka tidak ada seorang nabipun yang tidak memberikan peringatan tentang fitnah Dajal ini.

Dalam kitab Shahih Bukhari, dari Abdullah bin Umar ra, dia berkata: "Rasulullah saw berdiri di hadapan banyak orang, lalu beliau memuji Allah dengan pujian yang pantas untukNya, kemudian menuturkan tentang Dajal dan bersabda: "Aku sungguh memperingatkan kalian tentang Dajal ini. Tidak ada seorang nabipun kecuali dia memperingatkan kaumya tentang Dajal, tetapi aku akan mengatakan kepada kalian sesuatu yang tidak pernah dikatakan oleh nabi lain kepada kaumya. Sesungguhnya Dajal itu buta mata satunya sedangkan Allah tidak buta" (HR. Bukhari). Dari Anas ra, Rasulullah saw bersabda: "Tidak ada seorang nabipun yang diutus kecuali memperingatkan umatnya tentang si buta yang pendusta (Dajal). Ingatlah bahwa Dajal itu buta satu matanya sedangkan Allah tidak buta, dan di antara kedua matanya tertulis kafara (kafir)" (HR. Bukhari dan Muslim). 10. Tamim ad­Dari dan ceritanya yang mengherankan Dari Fathimah binti Qis, bahwa dia mendengar panggilan Rasulullah saw yang "

menyeru: "Mari shalat berjama'ah Fathimah berkata: "Lalu aku keluar menuju ke masjid dan shalat bersama Rasulullah saw. Aku berada di barisan shaf perempuan yang

ada di belakang shaf laki­laki. Ketika Rasulullah saw selesai shalat, beliau duduk di atas mimbar sambil tersenyum, lalu berkata: "Hendaknya setiap orang tetap di tempat shalatnya masing­masing. Tahukah kalian, mengapa aku kumpulkan kalian?" Para sahabat menjawab: "Allah dan RasulNya lebih mengetahui". Rasulullah saw berkata:

"Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengumpulkan kalian untuk menakut­nakuti, tetapi aku kumpulkan kalian karena Tamim ad­Dari dulu adalah seorang Nasrani kemudian dia berbaiat dan masuk Islam. Dia menceritakan kepadaku tentang cerita yang sesuai dengan apa yang pernah aku ceritakan kepada kalian mengenai Masih ad­Dajal. Dia bercerita bahwa dirinya menaiki sebuah kapal laut bersama dengan 30 orang dari (kota) Lahm dan Jadzam, lalu mereka dipermainkan oleh ombak selama satu bulan di lautan. Kemudian mereka berlayar menuju sebuah pulau di tengah lautan hingga tenggelamnya matahari. Lalu mereka duduk­duduk di tepi pulau kemudian memasuki pulau itu. Mereka bertemu dengan binatang ahlab yang sangat lebat bulunya, mereka tidak tahu mana bagian depan dan mana bagian belakang karena begitu lebat bulunya itu. Mereka bertanya: "Hai, siapakah kamu? Dia menjawab: Aku adalah jasasah. Mereka bertanya: Apakah jasasah itu? Dia menjawab: Wahai orang­orang! Pergiah kalian menuju seorang lelaki yang ada di dalam biara, sesungguhnya dia sangat merindukan kabar kalian. Tamim ad­Dari berkata: Ketika dia membuat panas seorang lelaki, kami segera meninggalkannya karena khawatir dia adalah sejenis syetan perempuan. Kemudian kami bergegas dengan cepat sampai kami memasuki biara itu. Tiba­tiba di dalam biara itu ada seorang lelaki yang sangat besar yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Dia diikat dengan rantai besi yang sangat kuat, kedua tangannya sampai lehernya, dan antara kedua lututnya sampai kedua mata kakinya. Kami bertanya kepadanya: Celakalah, siapakah engkau? Dia menjawab: Kalian telah ditakdirkan untuk mendengar kabarku, maka ceritakanlah kepadaku siapakah kalian? Mereka menjawab:

Kami adalah rombongan dari bangsa Arab. Kami menaiki kapal laut dan selama satu bulan kami dipermainkan ombak sampai kemudian kami terdampar di pulaumu ini. Kami duduk­duduk di tepi pulau kemudian memasukinya. Lalu kami bertemu dengan binatang ahlab yang penuh dengan bulu sampai tidak diketahui mana bagian depan dan mana bgian belakangnya. Lalu kami bertanya: Celaka, siapakah kamu? Dia menjawab: Aku adalah al­jasasah. Kami bertanya lagi: Apakah al­jasasah itu? Dia menjawab: Pergilah kepada seorang lelaki yang ada di biara ini, sesungguhnya dia sangat merindukan kabar kalian. Lalu kami segera bergegas menuju kepadamu, dan kami tinggalkan dia karena kami takut jika dia sebangsa syetan perempuan. Lalu lelaki besar itu bertanya: Ceritakanlah tentang pohon korma di Baisan (nama sebuah kota di Palestina). Kami bertanya: Tentang apanya yang ingin kamu ketahui? Dia menjawab: Aku bertanya tentang pohon kormanya, apakah masih berbuah? Kami menjawab: Ya. Dia berkata: Suatu saat korma itu tidak akan berbuah. Dia bertanya lagi:

Ceritakanlah tentang danau ath­thabriyah (danau di Palestina). Kami bertanya: Tentang apanya yang ingin kamu ketahui? Dia berkata: Apakah masih ada air di dalamnya? Kami menjawab: Airnya masih sangat banyak. Dia berkata: Suatu saat danau itu akan kering airnya. Dia bertanya lagi: Ceritakanlah tentang mata air Zughar (nama daerah dekat Syam/Syiria). Kami menjawab: Tentang apanya yang ingin kamu ketahui? Dia berkata:

Apakah masih ada airnya, apakah para penduduk bercocok tanam dengan mata air itu? Kami menjawab: Ya, airnya masih melimpah dan para penduduk menggunakannya untuk bercocok tanam. Dia bertanya: Ceritakanlah tentang Nabinya orang­orang ummi (Nabi

Muhammad), apa yang telah dia lakukan? Kami menjawab: Dia telah pindah dari kota Mekkah ke kota Yasrib. Dia bertanya: Apakah orang­orang Arab memeranginya? Kami menjawab: Ya. Dia bertanya: Apa yang telah dia perbuat kepada mereka? Lalu kami ceritakan bahwa dia berhasil mengalahkan orang­orang Arab yang ada di sekitarnya dan mereka tunduk dan taat kepadanya. Dia bertanya: Apakah memang demikian kejadiannya? Kami menjawab: Ya. Dia berkata: Memang lebih baik mereka mentaatinya. Aku akan menceritakan kepada kalian siapa diriku. Aku adalah al­Masih (Dajal). Sesungguhnya sebentar lagi aku diizinkan untuk keluar. Lalu aku keluar dan menjelajahi bumi, tidak ada satu wilayahpun yang aku lewati kecuali aku hancurkan dalam waktu 40 malam, kecuali Mekkah dan Thayibah (Madinah). Kedua kota itu dilarang untukku. Setiap kali aku hendak memasuki salah satu kota itu, maka aku dihadang oleh malaikat dengan pedang yang mengkilat di tangannya mengusirku dari kota itu. Di setiap pojok dari kota itu terdapat pasukan malaikat yang menjaganya. Fathimah berkata: Rasulullah saw bersabda sambil berdiri di mimbar: Inilah Thayibah itu, inilah Thayibah itu, inilah Thayibah itu (yakni Madinah). Ingatlah, apakah aku telah menceritakan kepada kalian tentang hal itu? Para sahabat menjawab: Ya. Rasulullah saw berkata lagi: Sesungguhnya aku sangat heran terhadap cerita Tamim yang sesuai dengan apa yang telah aku ceritakan kepada kalian, juga tentang Madinah dan Mekkah. Ketahuilah, sesungguhnya dia berada di laut Syam atau laut Yaman. Tidak, tetapi dari arah timur, dari arah timur. Beliau menunjukkan tangannya ke arah timur. Fathimah berkata: Maka aku hafalkan (hadits) ini dari Rasulullah saw. (HR. Muslim dalam Shahihnya). 11. Ibn Shayad dan al­Masih ad­Dajal Dalam benak kebanyakan orang terbersit pertanyaan: "Apakah Ibn Shayad itu adalah Dajal atau bukan?" Nama asli Ibn Shayad adalah Shafi, menurut pendapat lain adalah Abdullah bin Shayad atau Sha'id. Dia adalah salah seorang Yahudi Madinah. Dia masih anak­anak saat Rasulullah tiba di kota Madinah. Adz­Dzahabi, dalam kitabnya yang berjudul Tajrid Asma ash­Shahabah, menuturkan tentang nama Ibn Shayad ini. Menurutnya, namanya adalah Abdullah bin Shayad atau Ibn Sha'id. Bapaknya adalah seorang pemeluk Yahudi. Abdullah dilahirkan dalam keadaan buta dan sudah dikhitan. Dialah orang yang sering dikatakan sebagai Dajal, kemudian dia masuk Islam, merupakan salah seorang tabi'in, dan memiliki peran tersendiri. (1/319). Al­Hafidz Ibn Hijr mengatakan bahwa secara umum tidak ada artinya menuturkan Ibn Shayad sebagai bagian dari sahabat Nabi saw, karena jika dia adalah Dajal, maka pasti dia tidak termasuk sahabat karena dia mati dalam keadaan kafir. Namun jika dia bukan Dajal, maka ketika dia bertemu dengan Nabi saw masih belum menjadi seorang muslim. 1 Menurut Imam an­Nawawi, dalam pandangan ulama, kisah hidup Ibn Shayad merupakan problematika. Persoalannya tidak jelas, apakah dia seorang al­Masih ad­Dajal yang terkenal itu atau bukan. Tidak diragukan lagi, bahwa dia adalah salah seorang Dajal (pendusta) di antara beberapa Dajal yang lain. Menurut ulama, dilihat dari lahiriyah beberapa hadits, sesungguhnya Rasulullah saw tidak diberi wahyu apakah Ibn Shayad adalah Dajal atau bukan. Beliau hanya diberi wahyu tentang sifat­sifat Dajal, sedangkan dalam diri Ibn Shayad terdapat ciri­ciri yang mirip. Itulah mengapa Rasulullah saw tidak

1 Al­Hafidz Ibn Hijr, Al­Ishabah fi Tamyiz ash­Shahabah, 3/133).

pernah memastikan apakah Ibn Shayad itu Dajal atau bukan. (Muslim bi Syarh an­

Nawawi,18/64).

Keadaan Ibn Shayad Ibn Shayad adalah seorang dajal (pendusta). Dia sering bertindak sebagai seorang dukun atau peramal yang kadang benar dan salah, sehingga kabar tentang dirinya tersebar luas. Populerlah dia sebagai Dajal sebagaimana akan dipaparkan dalam ujian Rasulullah saw kepada dirinya.

Rasulullah mencaritahu hakikat Ibn Shayad

Ketika persoalan Ibn Shayad telah tersiar luas bahwa dia seorang dajal, maka Rasulullah saw ingin menyelidikinya dan memperoleh kejelasan keadaan yang sebenarnya. Secara diam­diam, beliau pergi menemui Ibn Shayad sehingga dia tidak menyadarinya. Rasulullah berharap dapat memperoleh jawaban dari Ibn Shayad dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang bisa mengungkap jatidiri Ibn Shayad yang sebenarnya. Dalam sebuha hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Umar: Bahwa Umar bin Khathab pergi bersama Rasulullah saw. dalam suatu rombongan menuju tempat Ibnu Shayyad dan menjumpainya sedang bermain dengan anak­anak kecil di dekat gedung Bani Maghalah, sedangkan pada waktu itu Ibnu Shayyad sudah mendekati usia balig. Ia tidak merasa kalau ada Nabi saw. sehingga beliau menepuk punggungnya lalu Nabi berkata kepada Ibnu Shayyad: Apakah kamu bersaksi bahwa aku ini utusan Allah? Ibnu Shayyad memandang beliau lalu berkata: Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan orang­orang yang buta huruf. Lalu Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Rasulullah saw.: Apakah engkau bersaksi bahwa aku utusan Allah? Beliau menolaknya dan bersabda: Aku beriman kepada Allah dan para rasul­Nya. Kemudian Rasulullah berkata kepadanya: Apa yang kamu lihat? Ibnu Shayyad berkata: Aku didatangi orang yang jujur dan pendusta. Maka Rasulullah saw. bersabda: Perkara ini telah menjadi kabur bagimu. Lalu Rasulullah melanjutkan: Aku menyembunyikan sesuatu untukmu. Ibnu Shayyad berkata: Asap. Beliau bersabda: Pergilah kau! Kamu tidak akan melewati derajatmu! Umar bin Khathab berkata: Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya! Beliau bersabda: Kalau dia Dajal, dia tidak akan dapat dikalahkan, kalau bukan maka tidak ada baiknya kamu membunuh dia. Salim bin Abdullah berkata: Aku mendengar Abdullah bin Umar berkata: Sesudah demikian, Rasulullah dan Ubay bin Ka'ab Al­Anshari pergi menuju ke kebun korma di mana terdapat Ibnu Shayyad. Setelah masuk ke kebun beliau segera berlindung di balik batang pohon korma mencari kelengahan untuk mendengarkan sesuatu yang dikatakan Ibnu Shayyad sebelum Ibnu Shayyad melihat beliau. Maka Rasulullah saw. dapat melihat

ia sedang berbaring di atas tikar kasar sambil mengeluarkan suara yang tidak dapat

dipahami. Tiba­tiba ibu Ibnu Shayyad melihat Rasulullah saw. yang sedang bersembunyi

di balik batang pohon korma lalu menyapa Ibnu Shayyad: Hai Shaaf, (nama panggilan

Ibnu Shayyad), ini ada Muhammad! Lalu bangunlah Ibnu Shayyad. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Seandainya ibunya membiarkannya, maka akan jelaslah perkara dia. Diceritakan oleh Salim, bahwa Abdullah bin Umar berkata: Maka Rasulullah saw. berdiri

di tengah­tengah orang banyak lalu memuji Allah dengan apa yang layak bagi­Nya

kemudian menyebut Dajal seraya bersabda: Sungguh aku peringatkan kamu darinya dan tiada seorang nabi pun kecuali pasti memperingatkan kaumnya dari Dajal tersebut. Nabi

Nuh as. telah memperingatkan kaumnya, tetapi aku terangkan kepadamu sesuatu yang belum pernah diterangkan nabi­nabi kepada kaumnya. Ketahuilah, Dajal itu buta sebelah matanya, sedangkan Allah Maha Suci lagi Maha Luhur tidak buta. (Shahih Muslim

No.5215)

Abu Dzar ra mengatakan: Rasulullah mengutusku untuk mendatangi ibunya (Ibn Shayad) dan berkata: Tanyakanlah kepadanya berapa lama dia mengandung anaknya itu? Kemudian aku datangi dia dan aku tanyakan tentang hal tersebut. Dia menjawab: Aku mengandungnya selama 12 bulan. Abu Darda berkata: Kemudian Rasulullah saw mengutusku kembali dan berkata: Tanyakanlah kepadanya tentang jeritanya ketika lahir. Abu Darda berkata: Lalu aku datangi dia dan menanyakan tentang hal itu. Dia menjawab:

Dia menjerit seperti jeritanya seorang anak pada usia 1 bulan. Kemudian Rasulullah berkata kepada Abu Darda: Sesungguhnya aku menyembunyikan sesuatu kepadamu. Dia berkata: Dia (Ibn Shayad) hendak mengatakan ad­dukhan (asap), tetapi tidak bisa sehingga hanya berkata ad­dukh, ad­dukh (Musnad Ahmad 5/148. Ibn Hijr mengatakan hadits ini shahih dalam sanadnya, lihat Fathul Bari, 13/325).

Mengapa Rasulullah saw mengujinya dengan ad­dukhan (asap)? Lalu Rasulullah menguji Ibn Shayad dengan ad­dukhan agar beliau mengetahui hakikat persoalannya yang sebenarnya. Yang dimaksud dengan ad­dukhan di sini adalah firman Allah swt:

« …» &˚¸Œ7ïB 5b%s{âŒ/ !$yJ°°9$# íŒA˘'s? tPˆqtÉ Û=)s?ˆë$$s˘

Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut (asap) yang nyata, (Qs. Ad­ Dukhan: 10). Dalam riwayat Ibn Umar versi Imam Ahmad bin Hambal, Rasulullah saw mengatakan: "Sesungguhnya, aku sembunyikan sesuatu darimu, dan dia menyembunyikan ayat: "ketika langit membawa kabut (asap) yang nyata" (HR. Ahmad 6360, menurut Ahmad Syakir, sanad hadits ini shahih). Ibn Katsir dalam tafsirnya mengatakan: Sesungguhnya Ibn Shayad bisa mengetahui rahasia (kasyif) melalui jalan para dukun dengan perantaraan jin. Mereka sering melakukan pemotongan kata atau istilah. Itulah sebabnya, Ibn Shayad mengatakan ad­ dukh, padahal yang dimaksud adalah ad­dukhan. Pada saat itulah, Rasulullah saw mengetahui duduk persoalannya, yang sesungguhnya adalah bersifat syaitaniyah, sehingga Rasulullah saw berkata kepada Ibn Shayad: Pergilah kau!, kamu tidak bisa menentang takdirmu. (Tafsir Ibn Katsir, 7/234)

Apakah Ibn Shayad adalah Dajal? Kita telah mengetahui bahwa Nabi saw telah menyelidiki tentang hakikat Ibn Shayad yang sebenarnya. Namun demikian, beliau menangguhkan sikapnya karena Allah tidak menurunkan wahyu apapun mengenai persoalan Ibn Shayad ini. Sedangkan Umar ra bersumpah di hadapan Nabi saw bahwa Ibn Shayad adalah Dajal, dan Nabi saw tidak mengingkari sumpah tersebut. Sebagian sahabat juga sependapat dengan pandangan Umar ra, dan mereka juga bersumpah bahwa Ibn Shayad adalah Dajal, sebagaimana ditegaskan dari Jabir, Ibn Umar, dan Abi Dzar.

Ibn Shayad sendiri juga mendengar apa yang diperbincangkan oleh orang­orang mengenai dirinya. Dia merasa sangat sakit hatinya dan berusaha membela diri bahwa dia bukanlah Dajal. Dia beralasan bahwa apa yang diberitakan oleh Rasulullah saw mengenai sifat­sifat Dajal tidak sesuai dengan dirinya. Para ulama terlibat perdebatan yang sengit mengenai status Ibn Shayad ini. Imam asy­Syaukani, Ibn Hajar, al­Qurthubi, dan an­Nawawi berpendapat bahwa Ibn Shayad adalah Dajal, sedangkan Ibn Taimiyah, Ibn Katsir, dan al­Baihaqi berpendapat bahwa Ibn Shayad bukanlah Dajal. Dalam hal ini, Ibn Taimiyah berkata: "Sesungguhnya persoalan Ibn Shayad ini telah menyulitkan para sahabat sehingga sebagian mereka menduga bahwa dia adalah Dajal, sedangkan Nabi saw menangguhkan sikapnya (mauquf) sampai kemudian jelas setelah itu bahwa dia bukanlah Dajal tetapi sejenis dukun yang berteman akrab dengan syetan. Itulah sebabnya Rasulullah pergi untuk mengujinya". 1 Di tempat lain Ibn Katsir mengatakan: "Maksudnya adalah bahwa Ibn Shayad pasti bukanlah Dajal yang akan keluar di akhir zaman berdasarkan hadits Fathimah binti Qis al­Fahriyah. Inilah penjelasan yang memadai mengenai persoalan ini" 2

Ibn Shayad meniup sampai memenuhi jalan Dari Nafi', dia berkata: Ibn Umar bertemu dengan Ibn Sha'id (Shayad) di salah satu jalan atau gang di kota Madinah. Ibn Umar mengatakan sesuatu yang membuat Ibn Sha'id marah, maka kemudian Ibn Sha'id meniup sampai memenuhi gang tersebut. Lalu Ibn Umar memasuki rumah Khafshah dan menceritakannya. Khafshah berkata kepadanya:

Semoga Allah merahmatimu, apa yang kamu inginkan dari Ibn Sha'id? Tidakkah kamu tahu bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: Sesungguhnya itu keluar dari amarahnya. (HR. Muslim). Dalam riwayat lain, Ibn Umar ra bertemu dengan Ibn Shayad dalam keadaan kedua matanya bengkak dan tampak jelas menonjol. Ibn Umar bertanya kepadanya: Sejak kapan kedua matamu itu seperti yang aku lihat sekarang? Ibn Shayad menjawab: Aku tidak tahu. Ibn Umar berkata: Kamu tidak tahu! Padahal kedua matamu itu berada di kepalamu sendiri? Ibn Shayad menjawab: Jika Allah menghendaki, dia menciptakan mata itu di tongkatmu ini. Ibn Umar mengatakan: Lalu Ibn Shayad mendengus seperti dengusan keledai yang pernah aku dengar. Lalu sebagian sahabatku menyangka jika aku memukulnya dengan tongkat yang ada di tanganku sampai pecah, padahal, demi Allah, aku tidak merasa melakukannya. Kemudian Ibn Umar pergi menuju rumah Ummul Mukminin Khafshah dan menceritakannya. Khafshah bertanya: Apa yang kamu inginkan darinya? Tidakkah kamu tahu bahwa Nabi saw berkata: Sesungguhnya hal pertama yang menyebabkan dia dikeluarkan ke tengah­tengah manusia adalah emosi yang membuatnya marah" (HR. Muslim). Seakan­akan Khafshah memperingatkan Ibn Umar agar tidak membuat Ibn Shayad marah sehingga dia tidak berubah menjadi Dajal yang muncul akibat kemarahannya itu sehingga bisa berbuat kebinasaan di muka bumi.

Kisah Ibn Shayad bersama Abi Sa'id al­Khudri Dari Abu Sa'id al­Khudri ra, dia berkata: Kami pergi untuk menunaikan ibadah haji atau umrah dan Ibn Sha'id bersama kami. Lalu kami tiba di suatu tempat tetapi orang­

1 Ibn Taimiyah, al­Furqan baina Auliya' ar­Rahman wa Auliya' asy­Syaithan, hlm. 77. 2 Ibn Katsir, an­Nihayah fi al­Fitan wa al­Malahim, hlm. 77

orang pada menghindar hingga tinggal aku dan dia. Saya berusaha merasa tidak senang terhadapnya karena informasi yang dikatakan tentangnya. Abi Sa'id melanjutkan: Dia membawa perbekalannya dan meletakannya bersama dengan barang bawaanku, lalu aku berkata: Hari ini sangat panas, akan lebih baik jika kamu letakan barang itu di bawah pohon itu. Lalu diapun melakukannya. Kemudian tampaklah bagi kami seekor kambing, lalu dia pergi dan datang dengan membawa bejana besar, lalu berkata: minumlah wahai Abi Sa'id. Aku menjawab: Hari ini sangat panas, dan susu itu juga panas. Itu adalah sekedar alasanku karena aku tidak suka meminum dari pemberian tangannya. Lalu dia berkata: Ya Abi Sa'id, sungguh aku ingin sekali mengambil seutas tali lalu aku ikatkan di pohon itu kemudian aku mencekik diriku karena apa yang dibicarakan orang mengenai diriku. Wahai Abi Sa'id, kalaupun ada yang orang yang tidak mengetahui hadits Rasulullah itu tidak terjadi pada kalian wahai kaum Anshar. Bukankah kamu adalah salah seorang yang paling mengetahui hadits Rasulullah saw? Bukankah Rasulullah pernah berkata: "(Dajal) itu seorang yang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslim? Atau bukankah Rasulullah saw juga pernah berkata: "(Dajal) itu seorang yang mandul yang tidak mempunyai anak", sedangkan aku tinggalkan anakku di Madinah? Atau bukankah Rasulullah saw juga pernah berkata: (Dajal) itu tidak bisa memasuki kota Madinah dan Mekkah", sedangkan aku telah tinggalkan Madinah dan kini hendak ke Mekkah? Abi Sa'id berkata: Sampai hampir saja aku memaafkannya. Kemudian dia meneruskan: Demi Allah, sesungguhnya aku tahu siapa dia, aku tahu kelahirannya, dan aku tahu dimana dia sekarang. Lalu aku katakan kepadanya: Celaka kamu, seharian ini. (HR. Muslim).

Kematian Ibn Shayad Ibn Shayad tetap hidup selama beberapa waktu sejak wafatnya Rasulullah saw dan dianggap bahwa dirinya adalah seorang muslim, namun banyak orang yang meragukan keislamannya dan tetap menyangsikan status persoalannya. Dalam peperangan al­hurah yang terjadi antara al­Hajaj dengan penduduk Madinah, orang­orang kehilangan Ibn Shayad. Mereka tidak menemukannya sebagai orang yang terbunuh atau ditawan. Artinya, sejak peristiwa itu, Ibn Shayad menghilang dan tidak ada seorang pun yang melihatnya lagi. Dari Jabir ra, dia berkata: Kami kehilangan Ibn Shayad dalam peperangan al­hurah (Sunan Abu Daud, 11/476). Ibn Hajar menganggap shahih riwayat ini dan menganggap dla'if pendapat yang mengatakan bahwa Ibn Shayad mati di kota Madinah, mereka membuka wajahnya dan menshalatinya. (Lihat Fathul Bari, 13/328). 12. Keadaan umat Islam pada zaman keluarnya Dajal Menjelang kemunculan Dajal, umat Islam memiliki kemajuan yang besar dan kekuatan yang hebat. Tampak bahwa keluarnya Dajal untuk menuntaskan kekuatan tersebut. Pada saat itu, umat Islam berhasil menguasai Romawi, memerangi semua musuh dan sekutunya, dan berhasil mengalahkan mereka, kemudian berkecamuklah peperangan antara umat Islam dengan kaum salib. Dalam Sunan Abi Daud dari Dzi Mukbir, dia berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda: "Kalian akan menebarkan kedamaian dan keamanan di Romawi. Kalian akan berperang sedangkan mereka menjadi musuh di belakang kalian. Lalu kalian akan menang, mendapatkan ghanimah, kemudian kalian pulang kembali sampai kalian berhenti di tanah lapang Dzi Talul. Lalu seorang lelaki Nasrani mengangkat tanda salib dan berseru: Salib telah menang. Maka salah seorang pasukan muslim marah dan

menghancurkan salib itu. Pada saat itu, Romawi berkhianat melanggar perjanjian dan berkumpul untuk berperang. Sebagian perawi menambahkan: Maka umat Islam menghunus senjata mereka, lalu terjadilah pertempuran yang sengit, dan Allah memuliakan sisa pasukan itu dengan kematian syahid. (Sanad hadits ini dishahihkan oleh al­Albani dalam Misykat al­Mashabih, 5428). Anda akan melihat bagaimana kekuatan Islam pada saat itu, karena mereka berperang, memperoleh kemenangan, mendapatkan ghanimah (rampasan perang), dan pulang kembali dengan penuh kejayaan. Anda juga melihat seberapa kuat mereka berpegang teguh dengan agama mereka. Pada saat yang sama, seorang anggota pasukan salib mengangkat salib sambil berharap bahwa kemenangan berada di pihaknya. Lalu salah seorang pasukan muslim terpancing emosi keagamaannya dan merebut salib itu lalu menghancurkannya. Sisa pasukan muslim mengangkat senjata mereka di tempat itu, kemudian bertempur melawan pasukan Romawi meskipun jumlah mereka sedikit. Rasulullah saw bersaksi bahwa mereka adalah para syuhada, sebagai bentuk penghormatan Allah kepada mereka. Pengkhianatan Romawi tersebut dan peristiwa sesudahnya itulah yang menjadi penyebab berkecamuknya peperangan yang sangat dahsyat.

13. Nabi saw menggambarkan peperangan tersebut. Nabi saw telah menggambarkan peperangan dahsyat tersebut yang akan terjadi antara pasukan Islam dan pasukan Salib. Hal yang akan menjadi faktor pemicunya adalah seperti yang diisyaratkan dalam hadits yang lalu. Marilah kita renungkan bagaimana Nabi saw menggambarkan dahsyatnya peperangan tersebut serta bagaimana umat Islam tetap bertahan dalam peristiwa itu sampai kemudian datang pertolongan Allah swt. Rasulullah saw bersabda: "Hari kiamat tidak akan terjadi sampai Romawi berhenti di al­A'maq atau Dabiq. Lalu keluarlah pasukan dari Madinah, yang termasuk pasukan terbaik di muka bumi pada saat itu. Ketika pasukan Islam sedang berbaris, pasukan Romawi berseru: Menyingkirlah dari kami, siapa yang menghalangi kami akan kami bunuh. Pasukan Islam menjawab: Tidak, demi Allah, kami tidak akan menyingkir dari kalian. Lalu terjadilah peperangan dahsyat di antara mereka. Sepertiga pasukan (Islam) melakukan desersi dan tidak akan pernah dimaafkan oleh Allah selamanya, sepertiga pasukan gugur sebagai para syuhada terbaik di sisi Allah, dan sepertiga sisanya mengalami kemenangan yang tidak akan terkalahkan selamanya. Mereka berhasil menaklukan kota Konstantiniyah (Konstantinopel). Ketika mereka sedang membagi ghanimah dan menggantungkan minyak zaitun pada pedang mereka, tiba­tiba syetan berteriak di tengah­tengah mereka: Sesungguhnya al­Masih telah berada di belakang

kalian di keluarga kalian. Lalu mereka keluar

dan itu hanya dusta. Ketika mereka

, sampai di Syam (Syiria), syetan itu keluar. Ketika mereka sedang bersiap­siap untuk berperang, merapikan barisan, tiba­tiba datang waktu shalat. Lalu turunlah Isa bin Maryam as dan mengimami shalat mereka. Jika dia dilihat oleh musuh Allah, maka dia akan meleleh seperti melelehnya garam di dalam air. Kalau dia dibiarkan tentu akan meleleh sampai dia mati, tetapi Allah swt mematikannya dengan tanganNya (HR. Muslim). Dalam hadits lain, Rasulullah menceritakan kepada kita tentang huru­hara peperangan tersebut, juga tentang para komandan dalam barisan pasukan umat Islam.

1

1 Al­Qiyamah ash­Shughra, 226­227.

Termasuk juga tentang adanya berbagai elemen umat Islam yang berbaiat untuk berperang menang atau kalah selama tiga hari berturut­turut. Tampak bahwa jumlah pasukan umat Islam pada hari itu sedikit dengan bukti bahwa sesungguhnya umat Islam bisa memperoleh kemenangan ketika datang bala bantuan dari penduduk muslim yang lain. (al­Qiyamah ash­Shughra, hlm. 228). 14. Kapan Dajal akan muncul? Dajal akan muncul setelah umat Islam menguasai kota Konstantinopel. Hal itu disabdakan oleh Rasulullah saw: "Ramainya Baitul Makdis adalah kehancuran Madinah, kehancuran Madinah adalah keluar (terjadinya) malhamah (peperangan besar), terjadinya malhamah adalah penaklukan Kostanthiyah, dan penaklukan Kostanthiyah adalah saat keluarnya Dajal (HR. Ahmad dan Abu Daud, dishahihkan oleh al­Albani dalam Shahih al­Jami' 4097). Rasulullah saw menggambarkan bagaimana umat Islam menaklukan Konstantinopel dan bagaimana Dajal muncul setelah penaklukan tersebut.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: "Pernahkah kalian mendengar sebuah kota, yang satu sisinya berada di darat dan satu sisinya lagi berada di laut? Para sahabat menjawab: Pernah ya Rasulullah. Beliau bersabda: Tidak akan datang hari kiamat hingga kota itu diserang oleh 70 ribu (paaukan) dari keturunan Ishaq. Ketika mereka tiba di kota itu, mereka bisa menguasainya. Mereka berperang tanpa menggunakan senjata, juga tidak menggunakan panah. Mereka mengatakan La ilaha illallahu Allahu akbar, lalu jatuhlah satu sisi kota tersebut. Tsaur (salah seorang perawi hadits tersebut) mengatakan:

Aku tidak mengetahui secara jelas kecuali beliau mengatakan: Yakni sisi bagian laut. Kemudian mereka mengatakan untuk yang kedua kali: La ilaha illallahu Allahu akbar, maka jatuhlah bagian lainnya dari kota tersebut. Kemudian mereka mengatakan: La ilaha illallahu Allahu akbar, sehingga terbukalah jalan bagi mereka untuk memasuki kota tersebut, dan mereka memperoleh ghanimah (harta rampasan perang). Pada saat mereka membagi ghanimah, tiba­tiba terdengar suara teriakan, yang mengatakan: Dajal telah datang! Sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu dan kembali pulang" (HR. Muslim). 15. Tiga tahun yang kritis sebelum munculnya Dajal Tiga tahun menjelang kemunculan Dajal adalah masa­masa yang kritis dan kemarau. Langit tidak lagi menurunkan hujan dan bumi tidak lagi menumbuhkan

tanaman, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah saw: "

Sesungguhnya sebelum

keluarnya Dajal adalah tiga tahun yang kritis, dimana manusia mengalami kelaparan yang sangat dahsyat. Allah memerintahkan kepada langit pada tahun pertama untuk menahan sepertiga dari hujannya dan memerintahkan bumi untuk menahan sepertiga tanamannya. Pada tahun kedua Allah memerintahkan langit untuk menahan duapertiga dari hujannya dan memerintahkan bumi untuk menahan duapertiga tanamannya. Pada tahun ketiga Allah memerintahkan langit untuk menahan semua hujannya hingga tidak ada setetespun air hujan yang turun, dan memerintahkan bumi untuk menahan semua tanamannya hingga tidak tumbuh sayur­sayuran. Tidak ada tanah berbatu yang tersisa kecuali binasa dan kecuali atas kehendak Allah swt. Dikatakan: Bagaimana manusia bisa hidup pada zaman tersebut? Beliau menjawab: (Dengan) tahlil, takbir, dan tahmid. Semua itu bagi mereka berfungsi sebagai makanan. (HR. Ibn Majah dan al­Hakim, dishahihkan oleh al­ Albani)

16.

Darimana Dajal akan muncul?

Dajal akan keluar dari timur, dari Khurasan, dari Yahudiah Isfahan kemudian berjalan mengelilingi bumi. Tidak ada satu negara pun yang tidak dilewatinya kecuali Mekkah dan Madinah. Dia tidak bisa memasuki kedua kota tersebut karena dijaga oleh paramalaikat.

Dari Abu Bakar ash­Shidiq ra, Rasulullah menceritakan kepada kami: "Dajal itu akan muncul dari sebuah wilayah di timur yang dinamakan Khurasan" (HR. Tirmidzi dan al­Hakim, dishahihkan oleh al­Albani).

Dari Anas ra, Rasulullah saw bersabda: "Dajal akan muncul dari Yahudiyah Isfahan bersama dengan 70 orang Yahudi" (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Ibn Hajar, Fathul Bari,

13/328).

Al­Hafidz Ibn Hajar mengatakan: "Adapun darimana dia muncul? Maka bisa dipastikan dari wilayah timur" (Fathul Bari, 13/91). Menurut Ibn Katsir, awal kemunculan Dajal adalah dari Isfahan dari sebuah pemukiman yang bernama Yahudiyah. (an­Nihayah, 1/128). Namun demikian, kemunculannya bagi umat Islam terjadi ketika dia sampai pada suatu tempat antara Irak dan Syam (Syiria). Dalam sebuah hadits yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim, dari an­Nuwas bin Sam'an yang diriwayatkan secara marfu', disebutkan: "Sesungguhnya Dajal keluar dari wilayah perbatasan antara Syam dan Irak. Dia berjalan ke kanan dan dan berjalan ke kiri, wahai hamba­hamba Allah tetap waspadalah" (HR. Muslim).

17. Para pengikut Dajal

Sebagian besar pengikut Dajal terdiri dari kalangan Yahudi, orang­orang ajam (non­Arab), Turki, campuran dari berbagai jenis manusia, yang pada umumnya adalah kelompok A'rabi (Arab pedalaman) dan perempuan. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik ra dari Rasulullah saw, beliau bersabda: "Dajal akan diikuti oleh 70 ribu Yahudi Isfahan dengan mengenakan jubah (HR. Muslim). Dalam riwayat Ahmad: "70 ribu dengan mengenakan serban (mahkota)" (HR. Ahmad dengan sanad shahih, lihat Fathul Bari, 13/238). Di kalangan Yahudi, nama asli Dajal adalah al­Masih bin Daud. Mereka menduga bahwa Dajal akan muncul pada akhir zaman. Kekuasaanya menjangkau wilayah darat dan laut. Sungai­sungai mengalir bersamanya. Mereka menduga bahwa Dajal itu adalah salah satu dari tanda­tanda (ayat) kekuasaan Allah yang akan mengembalikan kerajaan kepada mereka. (Lawami' al­Anwar al­Bahiyah, 2/112). Adapun mengapa kebanyakan pengikutnya berasal dari kalangan A'rabi (Arab pedalaman), adalah karena kebanyakan mereka adalah orang­orang yang bodoh, dan juga berdasarkan hadits Abi Umamah yang panjang, Rasulullah saw bersabda: "Di antara fitnah Dajal adalah dia bertanya kepada seorang A'rabi, jika aku kirim bapak dan ibumu kepadamu, apakah kamu akan bersaksi bahwa aku adalah tuhanmu? Dia menjawab: Ya. Lalu dua syetan menyerupai bapak dan ibunya dan keduanya berkata: Hai anakku, ikutilah dia, karena dia adalah tuhanmu (HR. Ibn Majah, dishahihkan oleh al­Albani. Mengapa kaum perempuan banyak yang menjadi pengikut Dajal? Keadaan kaum perempuan lebih parah dibandingkan