Anda di halaman 1dari 49

Bab 3 Sifat Partikel dari Gelombang 3.

1 Deskripsi Dalam bab ini memberikan gambaran tentang sifat partikel dari gelo mbang. Kenyataan fisis yang kita terima timbul dari gejala yang terjadi dalam du nia mikroskopik dari atom dan molekul, electron dan inti, tetapi dalam dunia ini tidak terdapat partikel atau gelombang dalam arti yang kita kenal. Kita mengang gap electron memiliki muatan dan massa dan berperilaku menurut hukum mekanika pa rtikel dalam alat-alat yang kita kenal seperti tabung gambar televisi. Namun dem ikian kita akan melihat bahwa banyak kenyataan yang memaksa kita untuk menafsirk an electron yang bergerak sebagai suatu manifestasi gelombang sebanyak kenyataan lain yang memaksa kita untuk menafsirkannya sebagai manifestasi partikel. Kita anggap gelombang elektromagnetik sebagai gelombang karena dalam keadaan tertentu gelombang elektromagnetik memperlihatkan gejala difraksi, interferensi dan pola risasi. Namun kita juga akan melihat bahwa dalam keadaan yang lain gelombang ele ktromagnetik berperilaku seakan-akan terdiri dari berkas partikel. Bersama-sama dengan relativitas khusus, dualitas partikel gelombang merupakan pengertian sent ral dalam fisika modern. Bab ini menguraikan tentang gelombang elektromagnetik d an sifat-sifatnya sebagai obyek yang dibahas, manivestasi yang meliputinya antar a lain peristia efek fotolistrik, efek Compton, produksi pasangan, sinar-X dan l ubang hitam. 3.2 Relevansi Keterkaitan antara bab ini dengan bab sebelumnya adalah sebagai sa lah satu lanjutan teori sub atomic dalam kajian fisika modern karena bab ini ber isikan kajian tentang sifat partikel dari Gelombang, yang memuat tentang dualism e gelombang. 3.3 Tujuan Instruksional Khusus (TIK) Setelah mempelajari Bab ini mahasiswa diha rapkan dapat: 1. Menjelaskan pengertian dan fenomena tentang sifat partikel dan gelombang 2. Menjelaskan mekanisme terjadinya efek fotol;istrik, sinar-X, efek C ompton, Produksi Pasangan. 58

3. Menjelaskan teori kuantum cahaya dan sifat-sifatnya. 4. Memahami tentang luba ng hitam. 3.4 Uraian Materi Dalam kehidupan kita sehari-hari tidak ada sesuatu yang mister ius atau kekaburan arti mengenai konsep partikel dan gelombang. Sebuah batu yang dijatuhkan ke sebuah danau dan riak yang menyebar dari titik dampak mempunyai k esamaan hanya dalam sifatnya untuk membawa energy dan momentum dari suatu tempat ke tempat lain. Fisika klasik yang mencerminkan kenyataan fisis dari kesan indera kita, memperlakukan partikel dan gelombang sebagai komponen yang terpisah dari kenyataan itu. Mekanika partikel dan optika gelombang secara tradisional merupak an disiplin yang bebas, masing-masing dengan serangkaian eksperimen dan prinsipprinsip yang didasarkan atas hasil eksperimen itu. Kenyataan fisis yang kita ter ima timbul dari gejala yang terjadi dalam dunia mikroskopik dari atom dan moleku l, electron dan inti, tetapi dalam dunia ini tidak terdapat partikel atau gelomb ang dalam arti yang kita kenal. Kita menganggap electron memiliki muatan dan mas sa dan berperilaku menurut hukum mekanika partikel dalam alat-alat yang kita ken al seperti tabung gambar televisi. Namun demikian kita akan melihat bahwa banyak kenyataan yang memaksa kita untuk menafsirkan electron yang bergerak sebagai su atu manifestasi gelombang sebanyak kenyataan lain yang memaksa kita untuk menafs irkannya sebagai manifestasi partikel. Kita anggap gelombang elektromagnetik seb agai gelombang karena dalam keadaan tertentu gelombang elektromagnetik memperlih atkan gejala difraksi, interferensi dan polarisasi. Namun kita juga akan melihat bahwa dalam keadaan yang lain gelombang elektromagnetik berperilaku seakan-akan terdiri dari berkas partikel. Bersamasama dengan relativitas khusus, dualitas p artikel gelombang merupakan pengertian sentral dalam fisika modern. 3.4.1 Gelombang Elektromagnetik Gelombang elektromagnetik yang selanjutnya disin gkat gelombang EM adalah gelombang yang menjalarnya tak perlu medium. Dasar dari gelombang EM adalah teori-teori listrik dan megnet yang kemudian diringkas menj adi sekumpulan persamaan yang disebut persamaan Maxwell. Salah satu persamaan Ma xwell memprediksi bahwa perubahan waktu 59

terhadap medan listrik akan menghasilkan medan magnet, seperti halnya adanya per ubahan medan magnet yang menghasilkan medan listrik (hukum Faraday). Dari dasar ini Maxwell mengawali suatu konsep bahwa arus displacement merupakan sumber dari medan magnet. Dengan demikian teori Maxwell menyediakan hubungan penting antara medan listrik dengan medan magnet. Pada awalnya Maxwell memprediksi bahwa gelom bang EM menjalar dengan kecepatan jalar seperti kecepatan jalar cahaya. Penaksir an ini dibuktikan oleh Hertz secara eksperimen, dan dia merupakan orang pertama yang meneliti gelombang EM. Penemuan ini telah mengawali beberapa ilmu tentang s istem komunikasi seperti radio, televisi dan radar. Pada tingkat konseptual, Max well menggabungkan masalah cahaya dan gelombang EM, kemudian membangun ide bahwa cahaya adalah bentuk dari radiasi elektromagnetik. Gelombang EM dibentuk oleh m uatan listrik yang dipercepat. Gelombang diradiasi terdiri dari medan listrik da n medan magnet yang saling tegak lurus dan juga kedua duanya tegak lurus arah pe njalarannya. Dengan demikian gelombang EM adalah gelombang transversal. Oleh Max well ditunjukkan bahwa amplitudo-amplitudo medan listrik dan medan magnet ( E & B) dalam gelombang EM mempunyai hubungan E = c B, dengan c adalah kecepatan caha ya. Pada jarak yang cukup jauh dari sumber gelombang, amplitudo dari getaran med an akan mengecil terhadap jarak, sebagai perbandingan (1/r). Gelombang EM juga m empunyai momentum dan energi sehingga dapat menghasilkan tekanan terhadap materi yang dijumpai. Gelombang EM mempunyai banyak frekwensi. Sebagai contoh gelomban g radio adalah gelombang EM yang dihasilkan oleh osilasi arus di menara antena r adio. Pemancaran gelombang cahaya adalah bentuk frekwensi tinggi dari radiasi EM yang dihasilkan oleh osilasi elektron dalam sistem atom. Hukum-hukum dasar dari medan listrik dan magnet mendasari persamaan-persamaan Maxwell. Persamaan ini m erupakan unified teori dari EM. Persamaan tersebut adalah : . . . . 0 (3.1) (3.2) (3.3) (3.4) 60

Penggabungan dari persamaan-persamaan diatas dapat diturunkan suatu bentuk persa maan gelombang EM. Untuk ruang hampa (Q=0, i=0) , solusi persamaan gelombang ter sebut menghasilkan kecepatan jalar gelombang sebesar (0 0)1/2 , yang mana nilai in i sama dengan kecepatan jalar cahaya. Hasil ini mengawali Maxwell untuk mempredi ksi bahwa gelombang cahaya adalah bentuk radiasi gelombang EM. Gambar 3.1 Gelombang Elektromagnetik Spektrum GEM Gelombang EM juga telah dikete mukan dalam bentuk lain setelah tahun 1887. Hertz secara sukses menemukan dan me ndeteksi radio frekwensi gelombang EM. Pada saat itu hanya diketemukan gahwa gel ombang radio dan cahaya tampak adalah gelombang EM. Sampai saat sekarang, bentuk lain dari gelombang EM dapat dikenal dengan perbedaan frekwensi dan panjang gel ombang dalam bentuk hubungan : C=f (3.5) 2 Spektrum gelombang elektromagnetik dimulai dari frekewensi yang paling rendah hi ngga frekwensi paling tinggi. Gelombang elektromagnetik dengan frekwensi sekitar 10 8 hingga 10 merupakan frekwensi gelombang radio. Daerah frekwensi ini dipakai untu k radio 8 12 Am hingga TV. Untuk frekwensi yang lebih tinggi lagi, yaitu antara 10 hingga 10 , merupakan daerah gelombang mikro. Daerah ini biasa dipakai untuk radio FM, TV da n telepon celuler. Pada frekwensi yang tinggi dari daerah gelombang mikro, juga termasuk daerah inframerah, yang berfrekwensi hingga frekwensi sinar tampak. Gel ombang radio dan gelombang mikro dapat dibuat di laboratorium, sedangkan untuk i nframerah, cahaya tampak, dan sinar ultra violet terbentuk secara alami. Demikia n juga untuk sinar X dan sinar gamma. 61

Gambar 3.2 Spektrum Gelombang Elektromagnetik Spektrum gelombang elektromagnetik dari frekuensi kecil ke besar dan pemanfaatan nya dalam kehidupan sehari-hari adalah : Gelombang Radio (104 107), digunakan un tuk media komunikasi dari satu tempat ke tempat lain. Gelombang ini dapat dipant ulkan oleh lapisan ionosfer sehingga dapat mencapai tempat -tempat yang jauh. Be rdasarkan sistim modulatornya, gelombang radio dapat dibagi menjadi gelombang AM (Amplitudo Modulasi) dan gelombang FM (Frekuensi Modulasi). Gelombang AM menggu nakan frekuensi rendah dan dapat dipantulkan lapisan ionosfer bumi sehingga dapa t mencapai tempat -tempat yang jauh. Sedangkan pada gelombang FM menggunakan fre kuensi tinggi (VHF) sehingga tidak dapat mencapai tempat yang jauh. Gelombang TV (108 Hz), digunakan untuk sumber informasi dan hiburan. Gelombang ini menggunak an gelombang UHF, sehingga tidak dapat dipancarkan oleh lapisan ionosfer. Gelomb ang Radar/Mikro (109 1010 Hz), adalah gelombang radio dengan frekuensi yang pali ng tinggi, dimanfaatkan dalam alat peralatan microwave dan pesawat RADAR (Radio Detection and Ranging). Sinar Infra Merah (1011 1014 Hz), dihasilkan oleh elektr on -elektron dalam molekul yang bergetar karena sebuah benda dipanaskan, digunak an dalam bidang kesehatan untuk 62

mendeteksi penyakit gangguan dalam sirkulasi darah, kanker, dsb., dan juga dalam peralatan remote control serta alarm pencuri. Cahaya Tampak (mejikuhibingu) ber ada pada frekuensi 1015 Hz digunakan untuk membantu pengelihatan mata manusia. S inar Ultra Violet (1015 1016 Hz), dihasilkan oleh atom-atom dan molekul-molekul dalam nyala listrik, dimanfaatkan dalam bidang kesehatan untuk menyucihamakan pe ralatan operasi dalam rumah sakit. Sinar X (1016 1020 Hz), dihasilkan dari tabun g sinar X karena rangsangan foton berenergi tinggi, dimanfaatkan dalam bidang ke dokteran untuk pemotretan bagian dalam tubuh. Sinar Gamma (), berada pada frekuen si 1020 1025 Hz mempunyai daya tembus yang sangat besar, bahkan dapat menembus b aja sehingga dalam bidang industri dimanfaatkan untuk memotong baja dan memeriks a cacat-cacat pada logam. Sinar gamma merupakan zat radioaktif sehingga membahay akan bagi kesehatan manusia. Sifat karakteristik semua gelombang ialah bahwa gelombang itu memenuhi prinsip s uperposisi. Bila dua atau lebih gelombang yang alamnya sama melalui satu titik p ada saat yang sama, maka amplitude sesaat dari masing-masing gelombang. Amplitud o sesaat berarti harga rata-rata pada tempat dan waktu tertentu dari kauntitas y ang membentuk gelombang. (amplitude tanpa keterangan tambahan berarti harga maksim um dari variable gelombang.) Jadi amplitude sesaat tali yang teregang ialah perg eseran maksimum tali tersebut yang diukur dari kedudukan normal; amplitude gelom bang air ialah tinggi maksimum permukaan air relative terhadap tekanan normal. K arena E=cB pada gelombang cahaya, amplitude sesaatnya dapat diambil E atau B. Bi asanya, E yang dipakai karena interaksi gelombang medan listrik cahaya dengan ma teri menimbulkan efek optis yang sudah dikenal. Sifat lain selain bersuperposisi , gelombang dapat berinterferensi yaitu menghasilkan gelombang baru yang amplitu de sesaatnya merupakan jumlah dari amplitude sesaat gelombang semula. Seperti ya ng dikemukakan oleh Thomas Young pada 1801. Dengan sumber cahaya yang singular, distribusi energi yang melingkupi medium adalah uniform. Tetapi ketika dua sumbe r cahaya yang berdekatan memiliki panjang gelombang yang sama, maka distribusi e nerginya menjadi tidak uniform. Pada beberapa titik dimana puncak dari satu 63

gelombang berada diatas puncak gelombang yang lain. Resultan amplitudonya besar dan menyebabkan intensitasnya menjadi maksimum. Di titik lain dimana puncak gelo mbangnya saling berlawanan, resultan amplitudonya berkurang menjadi nol dan inte nsitasnya menjadi minimum. Modifikasi dari distribusi energi yang disebabkan ole h superposisi dua atau lebih gelombang cahaya ini disebut interferensi cahaya. H arus diperhatikan bahwa fenomena ini hanya mentransfer energi dari satu titik ke titik lainnya. Tidak ada energi yang hilang pada setiap titik karena superposis i gelombang cahaya. Karena interferensi, ada daerah gelap dan terang yang bergan tian yang diamati. Daerah ini disebut pita interferensi atau interferensi fringe . Pola warna yang diamati pada gelembung sabun dan minyak pada jalan yang basah merupakan contoh interferensi. Jika lensa cembung dengan radius kelengkungan bes ar ditempatkan pada plat kaca dan disinari dengan sumber cahaya monokromatik. Po la gelap terang bergantian berbentuk cincin (disebut cincin newton) dihasilkan k arena interferensi. Hal ini mirip dengan lapisan tipis udara diantara plat kaca yang planar disinari dengan sumber cahaya yang monokromatik. Salah satu eksperim en yang paling penting dalam teori gelombang adalah double slit experiment (perc obaan celah ganda Young). Percobaan ini merupakan contoh difraksi cahaya yang di hasilkan melalui percobaan dengan peralatan sains dasar. Thomas Young, selain ah li fisika juga ahli sejarah peradaban Mesir kuno. Salah satu kontribusinya adala h menerjemahkan tulisan pada batu Rosetta. Thomas Young melakukan eksperimen pad a awal abad 19 yang membuktikan bahwa cahaya memiliki karakteristik sebagai gelo mbang. Percobaannya digunakan di tahun-tahun berikutnya untuk menunjukkan karakt eristik gelombang di berbagai medium. Ketika dua sinar datang berinteraksi, kedu a sinar itu berinterferensi. Interferensi ini bisa berupa interferensi konstrukt if atau interferensi destruktif. Tempat terjadinya interferensi ini berubah seca ra konstan. Karena keluaran gelombang elektromagnetik memiliki beda fase yang be rvariasi, maka digunakan satu sumber cahaya yang dipisahkan menjadi dua dan meng hasilkan dua sumber cahaya baru yang koheren. Artinya keduanya memiliki frekuens i yang identik dan memiliki beda fase yang konstan. Cahaya yang digunakan monokr omatik agar lokasi interferensi merupakan fungsi panjang gelombang. Peralatan do uble slit experiment terdiri dari dua penghalang identik dengan celah yang sanga t tipis dan layar untuk melihat pola interferensi. Kemudian dengan meletakkan la yar untuk menangkap sinar maka 64

pola interferensinya dapat diamati. Double slit experiment dapat digunakan untuk menghitung panjang gelombang pada interference fringe yang terbentuk. Untuk mem buktikan hal tersebut maka perlu dilakukannya praktikum ini sehingga kita menget ahui kondisi riil dari interferensi cahaya. Ketika dua gelombang cahaya melintas satu sama lain, medan listrik resultan E pada titik persimpangan sama dengan pe njumlahan dari masing-masing medan listrik E1 dan E2 : E = E1 + E2 I E2 = ( E1 + E2 )2 (3.6) Intensitas gelombang gabungan adalah sebanding dengan kuadrat medan listrik resultan : (3.7) Ketika suatu gelombang cahaya dengan panjang gelombang merambat sepanjang sumbu-x, ia membangkitkan suatu medan listrik pada titik x y ang berbentuk : E = E0 sin ( t - kx ) (3.8) Dengan E0 disebut amplitudo, frekuens i angular dan k bilangan gelombang. dan k berhubungan dengan panjang gelombang d an kecepatan cahaya sebagai berikut : = 2v / k = 2 / (3.9) (3.10) Argumen dari fungsi sinus pada persamaan untuk E disebut fasa. Perhatikan bahwa fasa bertambah dengan 2 dalam suatu siklus waktu pada posisi tertentu. Karenanya Perbedaan fasa antara dua posisi x1 dan x2 pada suatu saat adalah : (3.11)

nan disebut sebagai perbedaan lintasan (path difference). Untuk cahaya, nilai mutlak dari suatu fasa tertentu tidak dapat diukur, dan karenanya tidak begitu penting. Hanya perbedaan fasa yang penting. Pengaruh interferensi dalam cahaya t idak teramati secara biasa. Ini karena gelombang cahaya dari suatu sumber cahaya biasa mengalami perubahan fasa secara acak kira-kira sekali dalam setiap 10-8 s dan bahwa panjang gelombang cahaya cukup pendek (4x10-7m 7x10-7 m). Interferens i mungkin terjadi, tapi hanya untuk durasi dalam orde 10-8 s dan tidak dapat dil ihat dengan mata. Agar diperoleh interferensi yang stabil dan berkelanjutan dari gelombang cahaya dapat diamati, kondisi berikut harus dipenuhi :
65

1) Sumber harus bisa mempertahankan suatu beda fasa yang tetap (mereka disebut s umber koheren). 2) Sumber harus monochromatic dan menghasilkan cahaya dengan pan jang gelombang sama. 3) Dua buah gelombang akan menghasilkan pola interrferensi yang stabil, jika memiliki frekuensi yang sama 4) Perbedaan frekuensi yang signi fikan mengakibatkan beda fasa yang bergantung waktu. 5) Jika sumber memancarkan cahaya putih, maka komponen merah berinterferensi dengan merah,biru dengan biru dan seterusnya. 6) Jika sumbernya monokromatik, maka pola interferensi adalah hi tam-putih Interferensi Destruktif Bayangkan jika kita menggambar dua (2) gelombang sinus d an menjumlahkan amplitudonya. Apabila puncak dari gelomabag pertama dan lembah d ari gelombang kedua, tiba pada saat yang sama dan pada tempat yang sama, kita ak an memperoleh penghilangan dari sinyal (1 + (-1) = 0), interferensi destruktif a tau garis gelap, merupakan hasil interferensi minimum (saling memperlemah). Inte rferensi destruktif akan terjadi manakala selisih lintasan antara gelombang pert ama dan gelombang kedua (r2-r1) merupakan kelipatan dari panjang gelombang (). (3 .12) Bilangan m disebut orde gelap. Tidak ada gelap ke nol. Untuk m=1 disebut ge lap ke-1, dst. Mengingat sin = tan = p/l, maka : (3.13) Dengan p adalah jarak te rang ke-m ke pusat terang. Jarak antara dua garis terang yang berurutan sama deg an jarak dua garis gelap berurutan. 66

Gambar 3.3 interferensi destruktif Interferensi Konstruktif Bayangkan jika kita menggambar dua (2) gelombang sinus dan menjumlahkan amplitudonya. Pada saat puncak bertemu dengan puncak, maka kita akan memperoleh hasil yang maksimum (1 + 1 = 2). Karena sefasa maka akan terben tuk gelombang baru yang amlitudonya dua kali dari gelombang semula (gabungan dar i dua amplitudo). Hal ini disebut interferensi konstruktif atau garis terang, me rupakan hasil interferensi maksimum (saling memperkuat) Kedua sumber (S1 dan S2) menghasilkan gelombang yang mempunyai amplitude dan panjang gelombang sama.Inte rferensi konstruktif akan terjadi jika selisih lintasan antara gelombang pertama dan gelombang kedua (r2-r1) merupakan kelipatan bulat dari panjang gelombang (). (3.14) Bilangan m disebut orde terang. Untuk m=0 disebut terang pusat, m=1 dise but terang ke-1, dst. Karena jarak celah ke layar l jauh lebih besar dari jarak kedua celah d (l >> d), maka sudut sangat kecil, sehingga sin = tan = p/l, denga n demikian : (3.15) Dengan p adalah jarak terang ke-m ke pusat terang 67

Gambar 3.4 Interferensi Konstruktif Interferometer Pemantauan dan pengendalian semua variabel proses seperti daya, t emperatur, dan tekanan merupakan kebutuhan mutlak dalam bidang industri. Instrum entasi merupakan alat yang dapat digunakan untuk memantau dan mengendalikan vari abel proses tersebut. Dari hasil pemantauan maka dapat diketahui apakah sistem b erjalan sesuai dengan yang dikehendaki atau tidak. Bila terjadi penyimpangan, ma ka diperlukan tindakan kontrol sehingga proses dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu peralatan instrumentasi yang banyak digunakan adalah Int erferometer. Interferometer merupakan perangkat ukur yang memanfaatkan gejala in terferensi. Interferensi adalah suatu kejadian dimana dua gelombang atau lebih b erjalan melalui bagian yang sama dari suatu ruangan pada waktu yang bersamaan. H al ini mengakibatkan terjadinya superposisi dari gelombang-gelombang tersebut se hingga menghasilkan pola intensitas baru. Dengan ditemukannya sinar laser yang m empunyai sifat koheren, maka Interferometer dapat menjadi perangkat yang sangat berguna dalam industri. Interferometer dapat digunakan untuk mengukur getaran pe rmukaan, simpangan, kecepatan partikel, temperatur dan sebagainya. Pengukuran be rlangsung tanpa kontak mekanik sehingga tidak membebani obyek yang diukur. Disam ping itu kepekaannya sangat tinggi: simpangan dengan orde kurang dari panjang ge lombang cahaya dapat dideteksi dengan mudah. Macam-macam interferometer diataran ya adalah: a. Interferometer Young Interferensi gelombang dari dua sumber pertam a kali didemonstrasikan oleh Thomas Young pada 1801. Skema eksperimen Young ditu njukkan dalam gambar. Cahaya monokromatik dilewatkan pada suatu celah sempit S0 pada penghalang pertama, tiba pada penghalang kedua 68

mempunyai dua celah sejajar S1 dan S2. terang dan gelap. S1 dan S2 berfungsi sebagai suatu pasangan sumber cahaya koheren dan menghasilkan pada layar suatu pola interferensi yang terdiri dari fringe Gambar 3.5 Interferometer Young Fringe terang terbentuk ketika beda fasa gelombang dari S1 dan S2 sama dengan 0,2, 4, . . . . Fringe gelap terbentuk ketika beda fasa gelombang dari S1 dan S2 sama dengan

,3,5, . . . . Posisi fringe yang diamati dalam percobaan Young dengan mudah dapat dihi tung dengan bantuan diagram berikut :
Gambar 3.6 Posisi Fringe pada interferometer Young 69

Kondisi untuk interferensi konstruktif : Karenanya posisi untuk fringe terang adalah: (3.16) Kondisi untuk interferensi d estruktif : Karenanya posisi untuk fringe gelap adalah: (3.17) Pada titik P di layar dimana beda fasa , medan listrik E resultan adalah : E = E1 + E2 = E0 sin (t) + E0 sin (t + ) Gunakan persamaan trigonometri : (3.18) E dapat dituliskan sebagai : (3.19) Sehingga : (3.20) Intensitas cahaya yang dilihat atau diukur pada layar adalah time-average d intensity. Nilai time-averaged dari suatu fungsi sin2(t+/2) selama satu siklus a dalah . Karenanya : 2 (3.21) (3.22) fringe yang terang Karena fasa Dnan Imax adalah intensitas cahaya pada pusat berhubungan dengan , d dan oleh : (3.23) 70

(3.24) Untuk kecil, dimana sin tan = y / L, (3.25) Gambar di bawah menunjukan hubungan antara intensitas cahaya versus beda lintasa n d sin : Gambar 3.7 Hubungan intensitas cahaya dengan beda lintasan b. Interferometer Michelson Interferometer Michelson adalah konfigurasi yang pal ing umum untuk interferometri optik, diciptakan oleh Albert Abraham Michelson. P ola interferensi dihasilkan dengan membelah seberkas cahaya menjadi dua jalur, s inar itu memantul kembali dan merekombinasi mereka. Yang berbeda mungkin jalan p anjang yang berbeda atau terdiri dari bahan yang berbeda untuk menciptakan gangg uan bolak pinggiran di belakang detektor. Interferometer ini terkenal dengan seb utan percobaan Michelson-Morley (1887) di mana interferometer digunakan untuk me nunjukkan kecepatan cahaya di beberapa frame inersial, yang dihapus konseptual p erlunya luminiferous ether untuk menyediakan kerangka untuk istirahat cahaya. Ad a dua jalur dari (cahaya) sumber ke detektor. Satu memantul dari cermin semi-tra nsparan, kemudian ke atas cermin dan merefleksikan kembali, berjalan melalui cer min semi-transparan, ke detektor. Pertama yang lain pergi melalui cermin semi-tr ansparan, ke cermin di sebelah kanan, mencerminkan kembali ke cermin semi-transp aran, kemudian mencerminkan dari cermin semitransparan ke detektor. Jika dua jal an berbeda dengan satu nomor (termasuk 0) dari panjang gelombang, ada interferen si konstruktif dan sinyal yang kuat di detektor. Jika mereka berbeda dengan selu ruh nomor dan setengah panjang gelombang (misalnya, 0.5, 1.5, 2.5 ...) ada gangg uan dan merusak sinyal yang lemah. Ini mungkin muncul pada pandangan pertama mel anggar prinsip kekekalan energi. Namun energi kekal, karena ada redistribusi ene rgi di detector di mana energi di situs destruktif kembali didistribusikan ke si tus 71

konstruktif. Efek gangguan adalah untuk mengubah bagian dari cahaya yang dipantu lkan kepala untuk detektor dan sisanya yang kembali kepala ke arah sumber. Pada akhir 1800-an, pola gangguan diperoleh dengan menggunakan lampu lucutan gas, pen yaring, dan sebuah slot atau lubang jarum tipis. Dalam salah satu versi dari per cobaan Michelson-Morley, yang interferometer bintang digunakan sebagai sumber ca haya. Bintang adalah cahaya inkoheren temporal, tetapi karena itu adalah titik s umber cahaya memiliki koherensi spasial dan akan menghasilkan sebuah pola interf erensi. Yang paling terkenal dalam penerapan Interferometer Michelson MichelsonMorley adalah eksperimen yang memberikan bukti untuk relativitas khusus. Namun, konfigurasi ini dapat digunakan untuk berbagai macam aplikasi yang berbeda. Mich elson Interferometer yang telah digunakan untuk mendeteksi gelombang gravitasi, sebagai filter band sempit merdu, dan sebagai inti dari spektroskopi transformas i Fourier. Ada juga beberapa aplikasi menarik sebagai "nulling" instrumen yang d igunakan untuk mendeteksi planet-planet di sekitar bintang-bintang di dekatnya. Gambar 3.8 Interferometer Michelson Berdasarkan desain interferometer diatas tampak beberapa komponen penting yang m engindikasikan fungsinya seperti beamspliter atau pemisah berkas yang memisahkan cahaya laser. Cermin uji merupakan Moveable mirror dimana cermin tersebut pada rumusan masalah ini yang akan mengindikasikan tentang adanya perubahan fase. Dan cermin tersebut secara pergerakan akan dinilai atau dicari kesebandingannya den gan knob pemutar. Pada desain tersebut juga terdapat cermin referensi atau biasa disebut dengan adjustable mirror. Dimana jika berkas yang dipantulkan dari kedu a cermin ini tidak kembali pada beamspliter maka adjustablemirror dapat diatur s esuai dengan kebutuhan dan menentukan posisi serta fokusdari 72

cahaya yang dipantulkan . Sumber Laser He-Ne dimana sumber ini memiliki panjang gelombang khusus dimana panjang gelombangnya (=6,328 nm).Pada sebuah Referensi se telah melalui beamspliter lagi maka berkas cahaya yang saling berinterferensi pa da alat ini akan di hitung dengan detector intensitas cahaya (photometer). c. Interferensi dalam selaput tipis Macam-macam cahaya dapat dilihat ketika caha ya dipantulkan dari buih sabun atau dari layar tipis dari minyak yang mengambang dalam air dihasilkan oleh pengaruh inteferensi antara dua gelombang cahaya yang dipantulkan pada permukaan yang berlawanan dari lapisan tipis larutan sabun ata u minyak. Tinjau suatu berkas cahaya monokromatik dengan panjang gelombang yang sampai pada pemukaan selaput tipis yang tebalnya t, seperti pada gambar. Indek b ias selaput lebih besar dari indeks bias udara Gambar 3.9 Interferensi dalam selaput tipis Interferensi ini terjadi pada sinar yang dipantulkan langsung dan sinar yang dip antulkan setelah dibiaskan. Syarat terjadinya interferensi memenuhi persamaan be rikut : Interferensi maksimum : 2nd = (m + 1) Interferensi minimum : 2nd = m . K eterangan : n = indeks bias lapisan d = tebal lapisan (m) = panjang gelombang ca haya (m) m = 0,1,2,3,4, ...... 3.4.2 Efek Fotolistrik 73

Cahaya merupakan radiasi elektromagnetik. Ada sifat unik dari gelombang elektrom agnetik, seperti cahaya yaitu sifat kembarnya. Di satu pihak ia bertingkah laku seperti gelombang pada peristiwa difraksi lenturan, interferensi/ perpaduan dan polarisasi/ pengutuban, tetapi di pihak lain ia bertingkah laku sebagai partikel yaitu pada peristiwa fotolistrik, gejala Compton. Partikel-partikel cahaya itu membentuk partikel-partikel/ kelompok-kelompok energi yang disebut foton. Jika c ahaya yang frekuensinya cukup tinggi jatuh pada permukaan logam (cahaya ultra un gu), maka logam tersebut akan memancarkan elektron. Gejala ini dosebut efek foto listrik. Elektron dapat terlepas dari logam karena menyerap energi dari gelomban g elektromagnetik. Besarnya energi kinetic electron yang terlepas adalah (3.26) Dimana W = hf 0 (energi ambang) h = Konstanta Planck (6,626 x 10-34 J.s) f 0 = Frekuensi ambang f = Frekuensi gelombang yang datang Energi foton untuk massa diam ( m = 0 ) (3.27) Dimana = Panjang gelombang cahaya (m) c = Kecepatan cahaya (3 x 108 m/s) f = Frekuensi cahaya E = Energi foton n = Jumlah Partikel Momentum partikel tak bermassa berkaitan dengan energi yang menurut rumus E = pc (3.28) Karena energi foton ialah hf maka momentumnya ialah : P= E h = c (3.29) Untuk menyatakan E dalam ev, maka : 1 ev = 1.60 x 10-19 joule. Untuk lebih memah ami tentang efek fotolistrik, berikut ini adalah gambar ilustrasi jenis alat yan g digunakan pada percobaan efek fotolistrik. 74

Gambar 3.10 Pengamatan Eksperimental Efek Fotolistrik Gambar diatas merupakan peralatan untuk mengamati efek fotolistrik. Cahaya yang menyinari permukaan logam (katoda) menyebabkan electron terpental keluar. Ketika elekyron bergerak menuju anoda, pada rangkaian luar terjadi arus elektrik yang diukur dengan Ammeter A. Laju pancaran electron diukur sebagai arus listrik pada rangkaian luar dengan menggunakan sebuah Ammeter, sedangkan energi kinetiknya d itentukan dengan mengenakan suatu potensial perlambat (retarding potential) pada anoda sehingga electron tidak mempunyai energi yang cukup untuk memanjati bukit p otensial yang terpasang. Secara eksperimen tegangan perlambat terus diperbesar h ingga pembacaan arus pada ammeter menurun ke nol. Tegangan yang bersangkutan ini disebut potensial henti ( Vo ). karena electron yang berenergi tertimggi tidak dapat melewati potensial henti ini, maka pengukuran V merupakan suatu cara untuk menentukan energi kinetik maksimum electron : Ek mak = e.V Sehingga V = E kmak e (3.30) Berdasarkan hasil pengamatan : 1. Intensitas cahaya tidak mempengaruhi pergeraka n electron 2. Intensitas cahaya mempengaruhi jumlah elektron yang lepas dari per mukaan logam 3. Energi kinetik hanya bergantung pada panjang gelombang cahaya at au frekuensinya. Untuk lebih jelas hubungan antara potensial perintang terhadap arus fotolistrik dan kelajuan perhatikan gambar berikut : 75

Gambar 3.11 hubungan antara potensial perintang terhadap arus fotolistrik Beberapa fungsi kerja fotolistrik terlihat dalam tabel 3.1. Untuk melepaskan ele ktron dari permukaan logam biasanya memerlukan separuh dari energi yang diperluk an untuk melepaskan electron dari atom bebas dari logam bersangkutan sebagai con toh, energi ionisasi cesium 3,9 eV dibandingkan dengan fungsi kerja 1,9 eV. Kare na spectrum cahaya tampak berkisar dari 4,2 hingga 7,9x1014 Hz yang bersesuaian dengan energi kuantum 1,7 hingga 3,3 eV, jelaslah dari tabel 3.1 bahwa efek foto listrik ialah suatu gejala yang terjadi dalam daerah cahaya tampak dan ultraungu . Seperti telah kita lihat, foton cahaya berfrekuensi dinyatakan dalam elektronv olt (eV), yaitu : 1 eV = 1,60 x 10-19 f berenergi hf . hf dapat Tabel 3.1 Fungsi Kerja Fotolistrik Metal Cesium Kalium Natrium Lithium Kalsium T embaga Perak Platina Lambang Cs K Na Li Ca Cu Ag Pt Fungsi Kerja, eV 1,9 2,2 2,3 2,5 3,2 4,5 4,7 5,6 76

Jadi rumus energi foton E = hc E= (4,14x10 15

V . s 3x108 m / s
)(

roh sebagi berikut


) = 1,24x10 eV .m 4 Enri foton Dengan dinyatakan dalam meter. Bila dinyatakan dalam satuan angstrom (), dengan 1 = 10-10 m, maka : E= 1,24 x10 4 eV . (3.32) Contoh Soal 3.1 Cari energi kinetik fotoelectron jika cahaya ultraungu yang panj ang gelombangnya 3500 jatuh pada permukaan kalium. Pemecahan Dari tabel 3.1 fung si kerja kalium ialah 2,2 eV. Energi kuantum cahaya yang panjangnya 3500 ialah hv = 1,24 x10 4 eVA = 3,5 eV 3500 A Sehingga energi kinetic fotoelektron maksimum ialah K mak = hf Wo = 3,5 eV 2,2 eV = 1,3 eV. Contoh soal 3.2 Sebuah logam mempunyai frekuensi ambang 4 x 1014 Hz. Jika logam tersebut dijatuhi foton ternyata elektron foto yang dari permukaan logam memilik i energi kinetik maksimum sebesar 19,86 10-20 Joule. Hitunglah frekuensi foton t ersebut! (h = 6,62 10-34 Js) Penyelesaian : Diketahui : fo = 4 1014 Hz ; Ek = 19,86 10-20 J ; h = 6,62 10-34 Js Ditanyakan : f = ...? Jawab : Wo = hfo = = 6,62 10-34 4 1014 J = 26,48 10-20 J E = Ek + Wo = hf 77

Jadi frekuensi foton sebesar 7x1014 Hz. Kesalahan penafsiran yang lalu mengenai efek fotolistrik diteguhkan dengan studi mengenai emisi termionik. Telah lama diketahui bahwa terdapatnya benda panas me nambah konduktivitas listrik udara yang ada di sekelilingnya, dan menjelang abad ke sembilan belas penyebab gejala itu di temukan yaitu emisi electron dari bend a panas itu. Emisi termonik memungkinkan bekernyanya peralatann seprti tabung ga mbar televise yang didalamnya terdapat filament logam atau katoda berlapisan khu sus yang pada temperature tinggi mentajikan arus electron yang rapat. Jelaslah b ahwa electron yang dipancarkan memperoleh energi dari agitasi termal partikel pa da logam, dan dapat diharapkan bahwa electron harus mendapat energi minimum tert entu supaya dapat lepas. Energi minimum ini dapat ditentukan untuk berbagai perm ukaan dan selalu berdekatan dengan fungsi kerja fotolistrik, foton cahaya menyed iakan energi yang diperlukan oleh electron untuk lepas, sedang dalam emisi termi onik kalor yang menyediakannya: dalam kasus itu proses fisis yang bersangkutan d engan timbulnya electron dari permukaan logam sama. 3.4.3 Teori Kuantum Cahaya Teori elektromagnetik cahaya dapat menerangkan sangat baik banyak sekali gejala, sehingga teori ini tentu mengandung kebenaran. Namun teori yang berdasar kokoh ini tidak cocok untuk menerangkan efek fotolistrik. D alam tahun 1905 Einstein menemukan bahwa paradoks yang timbul pada efek fotolist rik dapat dimengerti hanya dengan memasukkan pengertian radikal yang pernah disu sulkan lima tahun sebelumnya oleh fisikawan teoretis Jerman Max Planck. Ketika i tu Planck mencoba menerangkan radiasi karakteristik yang dipancarkan oleh benda mampat. Kita mengenal pijaran dari sepotong logam yang menimbulkan cahaya tampak , tetapi panjang gelombang lain yang terlihat mata juga juga terdapat. Sebuah be nda tidak perlu sangat panas untuk bisa memancarkan gelombang 78

elektromagnetik- semua benda memancarkan energi seperti secara malar (kontinu) t idak perduli berapa temperaturnya. Pada temperature kamar sebagian besar radiasi nya terdapat pada bagian inframerah dari spectrum, sehingga terlihat. Sifat yang dapat diamati dari radiasi benda hitam ini tidak dapat diterangkan berdasrkan p rinsip fisis yang dapat diterima pada waktu itu. Planck dapat menurunkan rumus y ang dapat menerangkan radiasi spectrum ini (yaitu kecerahan relatif dari berbaga i panjang gelombang yang terdapat) sebagai fungsi dari temperature dari benda ya ng meradiasikannya kalau ia menganggap kalau radiasi yang dipancarkan terjadi se cara tak malar (diskontinu), dipancarkan dalam caturan kecil, suatu anggapan yan g sangat asing dalam teori electromagnet. Catuan ini disebut kuanta. Planck mend apatkan bahwa kuanta yang berpautan dengan frekuensi tertentu v dari cahaya semuanya harus berenergi sama dan bahwa energi ini E berbanding lurus dengan v. Jadi E = hf (3.31) Dengan h, pada waktu itu disebut tetapan Planck, berharga h = 6,626 X 10-34 J.s (Tetapan Planck) Ketika ia harus menganggap bahwa energi elektromagnetik yang di radiasikan oleh benda timbul secara terputus-putus, Planck tidak pernah menyangs ikan bahwa penjalarannya melalui ruang merupakan gelombang elektromagnetik yang malar. Einstein mengusulkan bukan saja cahaya dipancarkan menurut suatu kuantum pada suatu saat, tetapi juga menjalar menurut kuanta individual; anggapan yang l ebih berlawanan dengan fisika klasik. Menurut hipotesis ini efek fotolistrik dap at diterangkan dengan mudah. Gambar 3.12 (a) Teori gelombang cahaya menjelaskan difraksidan interferensi yang tidak dapat dijelaskan oleh teori kuantum.(b) Teori kuantum menjelaskanefek fot olistrik yang tidak dapat di jelaskan oleh teori gelombang. 79

Bila cahaya melalui celah-celah, cahaya berlalu sebagai gelombang, ketika tiba d i layar cahaya berlalu sebagai partikel. 3.4.4 Sinar-X dan Difraksi Sinar-X Dalam tahun 1895 Wilhelm Roentgen mendapatkan bahwa radiasi yang kemampuan tembusnya besar yang sifatnya belum diketahui, dit imbulkan jika electron cepat menumbuk materi. Sinar X ini didapatkan menjalar me nurut garis lurus walaupun melalui medan magnetik dapat menembus bahan, dengan mudah, menyebabkan bahan fosforesen berkil au dan menyebabkan perubahan plat fostografik. Bertambah cepat electron semula, bertambah hebat kemampuan tembus sinar X dan bertambauh banyak jumlah elektron, bertambah besar pula intensitas berkas sinar X. Kemampuan tembus sinar X, menimb ulkan kemampuan untuk memperlihatkan struktur interior dari benda seperti mesin kapal terbang. Belum lama setelah penemuan itu orang menduga bahwa sinar X merup akan gelombang elektromagneti. Bahkan teori elektromagnetik meramalkan bahwa muatan listrik yang dipercepat akan meradiasika n gelombang elektromagnetik, dan electron yang bergerak cepat yang tiba-tiba dih entikan jelas mengalami percepatan. Radiasi yang ditimbulkan dalam keadaan serup a itudiberi nama bahasa Jerman bremsstrahlung (radiasi pengereman). Tidak ditemukannya pembiasan (r efraksi sinar X pada pekerjaan dini disebabkan sangat kecilnya panjang gelombang . Sifat gelombang sinar X, mula-mula ditegakkan oleh Barkla dalam tahun1906 yang bias menunjukkan polarisasinya. Marilah kita anggap sinar X sebagai gelombang elektromagnetik. Pada bagian kiri seberkas sinar X takterpolarisasi menjalar dal am arah z menumbuk sekelimit karbon. Sinar X dihambur oleh karbon , ini berarti b ahwa electron pada atom karbon digetarkan oleh vector listrik dari sinar X, kemu dian meradiasikan kembali. Karena vector listrik dalam gelombang elektromagnetik tegak lurus pada arah penjalaran, berkas sinar X semula yang mengandung vector listrik hanya terletak pada bidang xy. Electron target terimbas untuk bergetar p ada bidang xy. Sinar X yang terhambur yang menjalar pada arah +x hanya dapat mem iliki vector listrik pada arah y saja, sehingga sinar itu mengalami polarisasi b idang datar. Untuk memperlihatkan polarisasi ini sekelumit karbon yang lain dile takkan pada lintasan sinar X yang menjalar pada bidang xz saja, dan tidak ada pa da arah y. tidak adanya sinar X yang dihamburkan diluar bidang xz meyakinkan sif at gelombang sinar X. 80

Dalam tahun 1912 suatu metode dicari untuk mengukur panjang gelombang sinar X. e ksperimen difraksi dapat dipandang ideal, tetapi kita ingat dari optic fisis bah wa jarak antara dua garis yang berdekatan pada kisi difraksi harus berorde besar sama dengan panjang gelombang cahaya supaya didapatkan hasil yang memuaskan dan kisi yang berjarak sangat kecil seperti yang diperlukan untuk sinar X tak dapat dibuat. Namun dalam tahun 1912, Max von Laure menyadari bahwa untuk panjang gel ombang yang diduga berlaku untuk sinar X berorde besar hampir sama dengan jarak antara atom-atom dalam kristal yaitu sekitar beberapa angstrom. Dengan alas an i tu ia mengusulkan bahwa kristal dapat digunakan untuk mendefraksi sinar X dengan kisi kristal berlaku sebagai kisi tiga dimensi. Tahun berikutnya eksperimen yan g memadai untuk hal tersebut telah dilakukan dan sifat gelombang sinar X secara sukses ditunjukkan. Dalam eksperimen itu panjang gelombang dari 1,3X10-11hingga 4,8X 10-11m (0,13 hingga 0,48) telah ditemukan 10-4 kali panjang gelombang cahaya tampak sehingga mempunyai kuanta 104 kali lebih energitik. Radiasi elektromagne tik dalam selang panjang gelombang aproksimasi 0,1 hingga 100 , pada waktu ini di golongkan sebagai sinar X. Perbatasan selang tersebut tidak tajam , pada batas p anjang gelombang kecil bertindak sebagai sinar X dan batas panjang gelombang bes ar bertindihan dengan cahaya ultraungu. Gambar 3.13 merupakan diagram tabung sin ar X. Sebuah katode yng dipanasi oleh filament berdekatan yang dilalui arus list rik menyediakan electron terus menerus dengan emisi termionik. Perbedaan potensi al yang tinggi V dipertahankan antara katode dengan target logam mempercepat ele ctron kearah target tersebut. Permukaan target membentuk sudut relatif terhadap berkas electron dan sinar X yang keluar dari target melewati bagian pinggir tabu ng. Tabung tersebut dihampakan supaya electron dapat sampai ke target tanpa hala ngan. Prinsip kerja sinar-X merupakam kebalikan dari gejal efek fotolistrik. Pad a gejala fotolistrik katodanya ditumbuk oleh foton-foton sehingga melepaskan ele ctron. Sedangkan sinar-X anodanya ditumbuk electron, sehingga memancarkan energi foton (sinar-X). 81

Untuk lebih memahaminya perhatikan gambar berikut ini : Gambar 3.13 Tabung Sinar-X Beda potensial anoda dan katoda (50-100) KV kecapatan electron mencapai 10% dari kecepatan cahaya. Elekttron yang terlepas dari katod a menumbuk anoda dengan kecepatan tinggi. Di anoda, energi kinetik electron beru bah menjadi sinar-X. Sinar-X dapat terjadi melalui dua cara yaitu : 1). Sinar-X terjadi tanpa eksitasi electron Ek ' Ek Berkas electron yang berasal dari katode menumbuk atom logam anoda dengan kecepa tan tinggi. Sebagian besar electron ini masuk kedalam logam, sehingga energi kin etiknya mungkin berkurang, energi yang hilang berubah menjadi energi foton (sina r-X) E k E k' = hf , jika E k = 0 , maka E k = hf = hc (3.33) Karna electron dipercepat dengan beda potensial V, maka : 82

E k = eV Karena f = c jadi hf = eV maka hc (3.34) = eV Jadi untuk mencari panjang gelombang pada sinar-X dapat dihitung dengan : = hc ev = o 12400 v A o Sinar-X mempunyai = (0.01 100 ) A 2). Sinar-X terjadi karena eksitasi electron E lektron yang berkecepatan tinggi ketika menumbuk atom logam anoda akan menyebabk an electron pada kulit atom sebelah dalam akan pindah kekulit sebelah luarnya. E lektron yang pindah akan cenderung kembali ke kulit asal sambil melepaskan energ i dalam bentuk sinar-X EK EK` Spektrum sinar x sebanding dengan potensial pemercepat Gambar 3.14 Spektrum Sinar-X Tungsten Pada Beberapa potensial pemercepat Sifat-sifat sinar-X adalah 83

1. GEM (Gelombang Elektromagnetik frekuensi tinggi) 2. Tidak dipengaruhi oleh E dan B 3. Daya tembusnya besar 4. Dapat menghitamkan film Spektroskopi Difraksi Sinar-X (X-ray difraction/XRD) Spektroskopi difraksi sinar-X (X-ray difraction/XRD) merupakan salah satu metoda karakterisasi materia l yang paling tua dan paling sering digunakan hingga sekarang. Teknik ini diguna kan untuk mengidentifikasi fasa kristalin dalam material dengan cara menentukan parameter struktur kisi serta untuk mendapatkan ukuran partikel. Difraksi sinarX terjadi pada hamburan elastis foton-foton sinar-X oleh atom dalam sebuah kisi periodik. Hamburan monokromatis sinar-X dalam fasa tersebut memberikan interfere nsi yang konstruktif. Dasar dari penggunaan difraksi sinar-X untuk mempelajari k isi kristal adalah berdasarkan persamaan Bragg : n. = 2.d.sin ; n = 1,2,... Denga n adalah panjang gelombang sinar-X yang digunakan, d adalah jarak antara dua bid ang kisi, adalah sudut antara sinar datang dengan bidang normal, dan n adalah bi langan bulat yang disebut sebagai orde pembiasan. Berdasarkan persamaan Bragg, j ika seberkas sinar-X di jatuhkan pada sampel kristal, maka bidang kristal itu ak an membiaskan sinar-X yang memiliki panjang gelombang sama dengan jarak antar ki si dalam kristal tersebut. Sinar yang dibiaskan akan ditangkap oleh detektor kem udian diterjemahkan sebagai sebuah puncak difraksi. Makin banyak bidang kristal yang terdapat dalam sampel, makin kuat intensitas pembiasan yang dihasilkannya. Tiap puncak yang muncul pada pola XRD mewakili satu bidang kristal yang memiliki orientasi tertentu dalam sumbu tiga dimensi. Puncak-puncak yang didapatkan dari data pengukuran ini kemudian dicocokkan dengan standar difraksi sinar-X untuk h ampir semua jenis material. Standar ini disebut JCPDS. Keuntungan utama pengguna an sinar-X dalam karakterisasi material adalah kemampuan penetrasinya, sebab sin ar-X memiliki energi sangat tinggi akibat panjang gelombangnya yang pendek. Sina r-X adalah gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 0,5-2,0 mikron. Si nar ini dihasilkan dari penembakan logam dengan elektron 84

berenergi tinggi. Elektron itu mengalami perlambatan saat masuk ke dalam logam d an menyebabkan elektron pada kulit atom logam tersebut terpental membentuk kekos ongan. Elektron dengan energi yang lebih tinggi masuk ke tempat kosong dengan me mancarkan kelebihan energinya sebagai foton sinar-X. Metode difraksi sinar X dig unakan untuk mengetahui struktur dari lapisan tipis yang terbentuk. Sampel dilet akkan pada sampel holder difraktometer sinar X. Proses difraksi sinar X dimulai dengan menyalakan difraktometer sehingga diperoleh hasil difraksi berupa difrakt ogram yang menyatakan hubungan antara sudut difraksi 2 dengan intensitas sinar X yang dipantulkan. Untuk difraktometer sinar X, sinar X terpancar dari tabung sin ar X. Sinar X didifraksikan dari sampel yang konvergen yang diterima slit dalam posisi simetris dengan respon ke fokus sinar X. Sinar X ini ditangkap oleh detek tor sintilator dan diubah menjadi sinyal listrik. Sinyal tersebut, setelah dieli minasi komponen noisenya, dihitung sebagai analisa pulsa tinggi. Teknik difraksi sinar x juga digunakan untuk menentukan ukuran kristal, regangan kisi, komposis i kimia dan keadaan lain yang memiliki orde yang sama. SUMBER DAN SIFAT SINAR X Tabung sinar-X Pada umumnya, sinar diciptakan dengan pe rcepatan arus listrik, atau setara dengan transisi kuantum partikel dari satu en ergi state ke lainnya. Contoh : radio (electron berosilasi di antenna) , lampu m erkuri (transisi antara atom). Ketika sebuah elektron menabrak anoda : 1. Menabr ak atom dengan kecepatan perlahan, dan menciptakan radiasi bremstrahlung atau pa njang gelombang kontinyu 2. Secara langsung menabrak atom dan menyebabkan terjad inya transisi menghasilkan panjang gelombang garis Sinar X merupakan radiasi elektromagnetik yang memiliki energi tinggi sekitar 20 0 eV sampai 1 MeV. Sinar X dihasilkan oleh interaksi antara berkas elektron ekst ernal dengan elektron pada kulit atom. Spektrum Sinar X memilki panjang gelomban g 10-5 10 nm, berfrekuensi 1017 -1020 Hz dan memiliki energi 103 -106 eV. Panjan g gelombang sinar X memiliki orde yang sama dengan jarak antar atom sehingga dap at digunakan sebagai sumber difraksi kristal. 85

Difraksi Sinar X merupakan teknik yang digunakan dalam karakteristik material un tuk mendapatkan informasi tentang ukuran atom dari material kristal maupun nonkr istal. Difraksi tergantung pada struktur kristal dan panjang gelombangnya. Jika panjang gelombang jauh lebih dari pada ukuran atom atau konstanta kisi kristal m aka tidak akan terjadi peristiwa difraksi karena sinar akan dipantulkan sedangka n jika panjang gelombangnya mendekati atau lebih kecil dari ukuran atom atau kri stal maka akan terjadi peristiwa difraksi. Ukuran atom dalam orde angstrom () mak a supaya terjadi peristiwa difraksi maka panjang gelombang dari sinar yang melal ui kristal harus dalam orde angstrom (). Skema Tabung Sinar X Sinar X dihasilkan dari tumbukan antara elektron kecepatan tinggi dengan logam target. Dari prinsip dasar ini, maka alat untuk menghasilkan sinar X harus terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu : a. Sumber elektron (katoda) b. Tegangan tinggi untuk mempercepat elektron c. Logam target (anoda) K etiga komponen tersebut merupakan komponen utama suatu tabung sinar X. KOMPONEN DALAM XRD Komponen XRD ada 2 macam yaitu: 1. Slit dan film 2. Monokroma tor Sinar-X dihasilkan di suatu tabung sinar katode dengan pemanasan kawat pijar untuk menghasilkan elektron-elektron, kemudian electron-elektron tersebut diper cepat terhadap suatu target dengan memberikan suatu voltase, dan menembak target dengan elektron. Ketika elektron-elektron mempunyai energi yang cukup untuk men geluarkan elektron-elektron dalam target, karakteristik spektrum sinar-X dihasil kan. Spektrum ini terdiri atas beberapa komponen-komponen, yang paling umum adal ah K dan K. Ka berisi, pada sebagian, dari K1 dan K2. K1 mempunyai panjang gelombang sedikit lebih pendek dan dua kali lebih intensitas dari K2. Panjang gelombang yan g spesifik merupakan karakteristik dari bahan target (Cu, Fe, Mo, Cr). Disaring, oleh kertas perak atau kristal monochrometers, yang akan menghasilkan 86

sinar-X monokromatik yang diperlukan untuk difraksi. Tembaga adalah bahan sasara n yang paling umum untuk diffraction kristal tunggal, dengan radiasi Cu K =05418. Sinar-X ini bersifat collimated dan mengarahkan ke sampel. Saat sampel dan detek tor diputar, intensitas Sinar X pantul itu direkam. Ketika geometri dari peristi wa sinar-X tersebut memenuhi persamaan Bragg, interferens konstruktif terjadi da n suatu puncak di dalam intensitas terjadi. Detektor akan merekam dan memproses isyarat penyinaran ini dan mengkonversi isyarat itu menjadi suatu arus yang akan dikeluarkan pada printer atau layar komputer. PROSEDUR DIFRAKSI SINAR X Percobaan dengan menggunakan difraksi sinar X kebanyak an terbatas pada zat padat saja. Hasil yang paling baik akan diperoleh apabila d igunakan satu kristal tunggal. Tetapi, percobaan difraksi sinar ini dapat pula d ilakukan dengan menggunakan padatan dalam bentuk serbuk yang sebenarnya terdiri dari kristal-kristal yang sangat kecil. Atau dapat juga menggunakan padatan dala m bentuk kumparan yang biasa digunakan untuk menentukan struktur molekul yang me mpunyai ukuran yang sangat besar, seperti DNA, protein, dan sebagainya. Alat yan g digunakan untuk mengukur dan mempelajari difraksi sinar X dinamakan Goniometer . Pada metoda kristal tunggal, sebuah kristal yang berkualitas baik diletakkan s edemikian rupa sehingga dapat berotasi pada salah satu sumbu kristalnya. Ketika kristal itu diputar pada salah satu sumbu putar, seberkas sinar X monokromatik d ipancarkan ke arah kristal. Ketika kristal berputar, perangkat-perangkat bidang yang ada dalam kristal berurutan akan memantulkan berkas sinar X. berkas sinar X yang dipantulkan ini kemudian direkam pada sebuah piringan fotografik. Jika yan g digunakan piringan datar, akan diperoleh suatu pola seperti terlihan pada gamb ar dibawah ini. tetapi apabila yang digunakan adalah film fotografik yang lengku ng berbentuk silinder dengan kristal yang diuji terletak ditengah silinder, maka akan diperoleh suatu deretan spot yang berbentuk garis lurus sehingga pengukura n akan menjadi semakin mudah. 87

Gambar 3.15 Difraksi sinar X menggunakan metode rotasi kristal Masalah utama dalam metoda difraksi sinar X ini adalah bagaimana menghubungkan p ola spot yang diperoleh dengan posisi ion atau atom dalam unit sel. Memang dari jarak antar spot, kita dapat mengetahui dimensi unit sel, tetapi letak atom atau ion dalan unit sel sangat sulit ditentukan . Salah satu cara untuk mengatasi ha l diatas adalah dengan jalan mula-mula kita menduga struktur molekul dan kemudia n memperkirakan difraksi sinar X yang mungkin diperoleh. Difraksi sinar X yang k ita perkirakan kemudian kita bandingkan dengan hasil percobaan. Adanya perbedaan antara pola difraksi hasil perkiraan dan hasil percobaan menunjukkan struktur m olekul yang kita perkirakan masih salah dengan membandingkan kedua pola difraksi , kita dapat membuat perbaikan-perbaikan sehingga hasilnya diperoleh struktur mo lekul yang tepat, tetapi dalam beberapa kasus, misalnya apabila jumlah atom dala m unit sel sangat banyak, metode diatas menjadi tidak parktis lagi. Dalam kasus seperti ini biasanya posisi atom atau ion ditentukan berdasarkan intensitas rela tif dari spot yang dihasilkan. Ketika sinar X menumbuk kristal, sebenarnya elekt ron yang terdapat di sekeliling atom atau ionlah yang menyebabkan terjadinya pem antulan. Makin banyak jumlah elektron yang terdapat disekeliling atom pada suatu bidang, makin besar intensitas pemantuklan yang disebabkan oleh bidang tersebut dan akan mengakibatkan makin jelasnya spot yang terekam dalam film. Dengan meng gunakan metode sintesis fourier, kita dapat menghubungkan intensitas spot dengan kepekatan distribusi elektron dalam unit sel. Dengan mengamati kepekatan dalam unit sel, kita dapat menduga letak atom dalam unit sel tersebut. Atom akan terle tak pada daerah-daerah yang mempunyai kepekatan distribusi elektron maksimum. 88

Dengan menggunakan metode difraksi sinar X, struktur molekul yang sangat komplek s dapat ditentukan. Misalnya struktur DNA yang sangat kompleks dapat ditentukan dengan metode sinar X seperti yang telah dilakukan oleh Crick, Wilkins dan Watso n PETUNJUK PENGGUNAAN, PENYIAPAN SAMPLE Ambil sepersepuluh berat sample (murni lebih baik) Gerus sample dalam bentuk bub uk. Ukuran kurang dari ~10 m atau 200-mesh lebih disukai Letakkan dalam sample ho lder Harus diperhatikan agar mendapatkan permukaan yang datar dan mendapatkan di stribusi acak dari orientasi-orientasi kisi Untuk analisa dari tanah liat yang m emerlukan single orientasi, teknik-teknik yang khusus untuk persiapan tanah liat telah diberikan oleh USGS Pengumpulan Data Intensitas sinar-X yang didifraksikan secara terus-menerus dire kam sebagai contoh dan detektor berputar melalui sudut mereka masing-masing. Seb uah puncak dalam intensitas terjadi ketika mineral berisi kisi-kisi dengan d-spa cings sesuai dengan difraksi sinar-X pada nilai Meski masing-masing puncak terdi ri dari dua pemantulan yang terpisah (K1 dan K2), pada nilai-nilai kecil dari 2 lo kasi-lokasi puncak tumpang-tindih dengan K2 muncul sebagai suatu gundukan pada si si K1. Pemisahan lebih besar terjadi pada nilai-nilai yang lebih tinggi . KEGUNAA N DAN APLIKASI Kegunaan dan aplikasi XRD: a. Membedakan antara material yang ber sifat kristal dengan amorf b. Membedakan antara material yang bersifat kristal d engan amorf. c. Mengukur macam-macam keacakan dan penyimpangan kristal. d. Karak terisasi material kristal e. Identifikasi mineral-mineral yang berbutir halus se perti tanah liat f. Penentuan dimensi-dimensi sel satuan 89

Dengan teknik-teknik yang khusus, XRD dapat digunakan untuk: 1. Menentukan struk tur kristal dengan menggunakan Rietveld refinement 2. Analisis kuantitatif dari mineral 3. Karakteristik sampel film 3.4.5 Efek Compton Compton menganggap bahwa cahaya sebagai partikel sehingga mem punyai momentum : P = mc , atau P = E c atau P = hf c atau P = h E = pc = mc 2 Gambar 3.16 Efek Compton Gambar diatas merupakan gambar penghamburan foton oleh electron disebut efek Com pton. Energi dan momentum adalah kekal dalam keadaan seperti itu, dan sebagai fo ton hambur kehilangan energi (panjang gelombang hasilnya lebih panjang) dibandin gkan foton datang. Momentum foton semula ialah hv c , momentum foton hambur iala h hv' c , dan momentum electron awal sector ialah, berurutan, 0 dan p. Dalam ara h foton semula. Momentum awal = Momentum akhir hv hv +0 = cos + p cos c c (3.35) Dan tegak lurus pada arah ini Momentum awal = Momentum akhir 90

0= hv ' sin p sin c (3.36) Sudut menyatakan sudut antara arah mula-mula dan arah foton hambur, dan ialah su dut antara arah foton mula dan arah electron yang tertumbuk. Persamaan (3.35) da n (3.36) samasama dikali c, sehingga diperoleh : pc cos = hv hv ' cos pc sin = hv ' sin Dengn mengkuadratkan masing-masing persamaan ini dan menambahkannya, sudut dapa t dieliminasi sehinga menjadi : p 2c 2 = (hv ) 2(hv )(hv ')cos + (hv ') 2 2 (3.37) Kemudian kita samakan kedua rumus untuk energi total partikel E = K + mo c 2 E = mo c 2 + p 2c 2 2 dapat memperoleh : (K + m c ) o 2 2 = mo c 4 + p 2c 2 2 p 2c 2 = K 2 + 2moc 2 K Karena : K = hv hv' , maka kita dapatkan : p 2c 2 = (hv ) 2(hv )(hv') + (hv') + 2moc 2 (hv hv') 2 2 (3.38) Selanjutnya kita mendapatkan 2mo c 2 (hv hv ') = 2(hv )(hv ')(1 cos ) (3.39) Hubungan ini akan lebih sederhana jika dinyatakan dalam panjang gelombang sebaga i pengganti frekuensi. Bagi persamaan (3.39) dengan 2h2c2, mo c v v ' v v ' (1 cos ) = h c c c c (3.40) dan karena v c = 1 dan v' c = 1 ' mo c 1 1 1 cos = h ' (3.41) Sehingga panjang gelombang untuk efek Compton adalah : ' = '

h (1 cos ) mo c 91 (3.42)

Contoh Soal 3.3 Pada percobaan efek Compton seberkas sinar X dengan frekuensi 3. 1019 Hz ditembakkan pada elektron diam. Pada saat menumbuk elektron terhambur de ngan sudut 60o. Bila diketahui mo = 9,1.10-31 kg, h = 6,62.10-34 Js, dan c = 3.1 08 m/s, hitunglah frekuensi sinar X yang terhambur! Penyelesaian Diketahui : f = 3 1019 Hz ; = 60o ; mo = 9,1 10-31 kg ; h = 6,62 10-34 Js c = 3 108 m/s Ditanyakan : f = ? Jadi, frekuensi sinar X yang terhambur sebesar 2,676 1019 Hz. 92

3.4.6 Produksi Pasangan Produksi pasangan adalah salah satu efek interaksi suatu penyinaran pada suatu benda atau materi. Sinar gamma dengan tingkat energi yang besar (beberapa MeV) bila menghantam sebuah inti atom dapat mengubah energi ter sebut menjadi massa yang bergerak dengan kecepatan tertentu E=mc. Dalam waktu yan g bersamaan muncul dari inti atom yang dikenai sinar gamma sepasang partikel yan g satu positron yang bermuatan positif dan yang lain elektron bermuatan negatif. Foton yang baru dihasilkan ini harus mempunyai energi yang besarnya minimal mas sa kedua partikel tersebut dalam keadaan tenang atau sebelum disinar; besarnya k urang lebih 2x0,51 MeV (besar energi minimal Foton). Energi Foton yang berlebih akan diubah menjadi energi kinetik kedua partikel tersebut. Telah diterangkan ba hwa pada efek foto listrik, foton bila ditembakkan kepada logam, maka dapat meny erahkan seluruh energinya atau sama sekali tidak. Kalau menyerahkan seluruh ener ginya, berarti untuk mengeluarkan elektron dari dalam logam dan untuk tenaga ele ktron meninggalkan logam. Juga telah diterangkan pada Compton, foton yang mempun yai frekuensi tinggi ditembakkan langsung pada elektron terluar maka energinya u ntuk menghamburkan foton baru. Pada produksi pasangan, bila sebuah foton dengan frekuensi tinggi mendekati inti atom berat maka foton tersebut lenyap dan menjel ma menjadi sebuah elektron dan sebuah positron (elektron positif). Jadi ada peru bahan energi elektromagnit menjadi energi diam. hv= -e0 + +e0 Jumlah muatan elek tron (-e) dan positron (+e) adalah nol. Energi kinetik elektron positron masingmasing adalah : E = m0c2 = 0,51 MeV Jadi foton tersebut harus mempunyai energi m inimal 2 x 0,51 = 1,02 MeV agar dapat mendekati inti berat sehingga terjadi prod uksi pasangan berupa elektron dan positron. Foton tersebut termasuk dalam sinar gamma. Kebalikannya elektron bila bertemu dengan positron maka keduanya musnah ( anihilasi) dan menjelma menjadi foton sinar gamma. Pada proses produksi pasangan maupun kebalikannya ini tetap berlaku hukum kekekalan energi dan hukum kekekala n momentum. Kembali pada produksi pasangan tersebut di atas, karena foton beruba h menjadi elektron dan positron, maka dengan sendirinya foton yang ditembakkan h arus mempunyai energi lebih 93

tinggi dari 1,02 MeV. intensitas. Setelah terjadi produk pasangan ini, maka mengalami penurunan 3.4.7 Lubang Hitam Istilah lubang hitam atau yang biasa disebut black hole pertama k ali digunakan tahun 1969 oleh fisikawan Amerika John Wheeler. Awalnya, kita bera nggapan bahwa kita dapat melihat semua bintang. Akan tetapi, belakangan diketahu i bahwa ada bintang-bintang di ruang angkasa yang cahayanya tidak dapat kita lih at. Cahaya tidak dapat meloloskan diri dari sebuah lubang hitam disebabkan luban g ini merupakan massa berkerapatan tinggi di dalam sebuah ruang yang kecil. Grav itasi raksasanya bahkan mampu menangkap partikel-partikel tercepat, seperti foto n [partikel cahaya]. Karena cahaya tidak dapat melarikan diri dari bintang terse but, maka bintang yang dinamakan Lubang Hitam tidak dapat kita lihat. Bintang bu kan makhluk hidup, namun ia seperti makhluk hidup yang dilahirkan, hidup dan kem udian mati. Setelah melewati masa jaya, bintang mengakhiri riwayatnya setelah ny ala apinya padam dan mengalami keruntuhannya sebagai sebuah lubang hitam berdiam eter hanya 20 kilometer. Dinamakan hitam karena hitam identik dengan gelap, di man a kita tidak dapat melihat sesuatu karena tidak ada cahaya. Namun demikian, kebe radaan lubang hitam ini diketahui secara tidak langsung, melalui daya hisap raks asa gaya gravitasinya terhadap bendabenda langit lainnya Bintang-bintang bermass a besar di ruang angkasa biasanya menyebabkan terbentuknya lekukan-lekukan yang dapat ditemukan di ruang angkasa. Demikian juga bumi, planet kesayangan kita. In tinya semua benda angkasa yang bermassa pasti menghasilkan lekukan di ruang angk asa (Dalam teori Relativitas Umum eyang Einstein, dikatakan bahwa suatu benda be rmassa, melengkungkan ruang dimana benda itu berada, kelengkungan ini setara denga n gravitasi. Semakin besar masa benda angkasa tersebut, semakin besar lekukannya . Untuk memudahkan pemahaman anda, bayangkanlah anda dan teman anda merentangkan sebuah kain yang terbuat dari karet. Sekarang, letakan sebuah benda, dari ukura n terkecil hingga ukuran besar di atas kain atau lembaran karet tersebut. Apa ya ng anda amati ? jika yang anda letakan adalah sebuah kelereng, maka lekukan yang terbentuk kecil, tetapi jika anda meletakan sebongkah batu yang berukuran besar maka lekukan pada kain atau lembaran karet tersebut sangat besar, bahkan seolah -olah membentuk lubang. 94

Lubang hitam tidak hanya menimbulkan lekukan-lekukan di ruang angkasa tapi juga membuat lubang di dalamnya. Hal ini disebabkan karena massa lubang hitam sangat besar. Ini alasan mengapa bintang-bintang runtuh tersebut disebut sebagai Lubang Hitam. Lubang hitam adalah sebuah Bintang yang mengalami pemusatan massa yang c ukup besar sehingga menghasilkan gaya gravitasi yang sangat besar. Gaya gravitas i yang sangat besar ini mencegah apa pun lolos darinya kecuali melalui perilaku terowongan kuantum. Medan gravitasi begitu kuat sehingga kecepatan lepas di deka tnya mendekati kecepatan cahaya. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnet ik yang dapat lolos dari gravitasinya, bahkan cahaya hanya dapat masuk tetapi ti dak dapat keluar atau melewatinya. Secara teoritis, lubang hitam dapat memiliki ukuran apa pun, dari mikroskopik sampai ke ukuran alam raya yang dapat diamati. Menurut Hawking, ada dua jenis Lubang Hitam, Lubang Hitam Kecil dan Lubang Hitam Besar. Mengenai Lubang Hitam Kecil, Hawking mengajukan dugaan sebagai berikut. Di kala alam semesta ini lahir, terjadi dentuman besar, yang menghasilkan tekana n yang luar biasa besarnya. Tekanan ini dapat mengakibatkan kantung-kantung mate ri tergencet sehingga menjadi sangat kecil dengan rapatan sangat besar. Pada rap atan yang besar, benda ini menjadi lubang hitam. Lazimnya, lubang hitam primordi al ini berukuran sebesar proton (partikel bermuatan listrik positip yang terdapa t di dalam inti atom) dengan massa satu miliar ton. Teori adanya lubang hitam pe rtama kali diajukan pada abad ke-18 oleh John Michell and PierreSimon Laplace, s elanjutnya dikembangkan oleh astronom Jerman bernama Karl Schwarzschild, pada tahun 1916, dengan berdasar pada teori relativitas umum dari Albert Einstein, dan semakin dipopulerkan oleh Stephen William Hawking. Pada sa at ini banyak astronom yang percaya bahwa hampir semua galaksi dialam semesta in i mengelilingi lubang hitam pada pusat galaksi. John Archibald Wheeler pada tahu n 1967 memberikan nama Lubang Hitam sehingga menjadi populer di dunia bahkan juga menjadi topik favorit para penulis fiksi ilmiah. Kita tidak dapat melihat lubang hitam akan tetapi kita bisa mendeteksi materi yang tertarik / tersedot ke arahn ya. Dengan cara inilah, para astronom mempelajari dan mengidentifikasikan banyak lubang hitam di angkasa lewat observasi yang sangat hati-hati sehingga diperkir akan di angkasa dihiasi oleh jutaan lubang hitam. Mengerikan J Lebih dua ratus ta hun silam, atau tepatnya pada tahun 1783. pemikiran akan adanya monster kosmis b ersifat melenyapkan benda lainnya ini sebenarnya pernah dilontarkan oleh seorang pendeta 95

bernama John Mitchell. Mitchell yang kala itu mencermati teori gravitasi Isaac N ewton (16431727) berpendapat, bila bumi punya suatu kecepatan lepas dari Bumi 11 km per detik (sebuah benda yang dilemparkan tegak lurus ke atas baru akan terle pas dari pengaruh gravitasi bumi setelah melewati kecepatan ini), tentu ada plan et atau bintang lain yang punya gravitasi lebih besar. Mitchell malah memperkira kan di kosmis terdapat suatu bintang dengan massa 500 kali matahari yang mampu m encegah lepasnya cahaya dari permukaannya sendiri. Lubang Hitam tercipta ketika suatu obyek tidak dapat bertahan dari kekuatan tekanan gaya gravitasinya sendiri . Banyak obyek (termasuk matahari dan bumi) tidak akan pernah menjadi lubang hit am. Tekanan gravitasi pada matahari dan bumi tidak mencukupi untuk melampaui kek uatan atom dan nuklir dalam dirinya yang sifatnya melawan tekanan gravitasi. Tet api sebaliknya untuk obyek yang bermassa sangat besar, tekanan gravitasi yang un ggul. Menurut teori evolusi bintang (lahir, berkembang dan matinya bintang), eya ng kakung dari lubang hitam adalah sebuah bintang biru. Bintang biru merupakan j ulukan bagi deret kelompok bintang yang massanya lebih besar dari 1,4 kali massa matahari. Disebutkan para ahli fisika kosmis, ketika pembakaran hidrogen di bin tang biru mulai berakhir (kira-kira memakan waktu 10 juta tahun), ia akan berkon traksi dan memuai menjadi bintang maha raksasa biru. Selanjutnya, ia akan mendin gin menjadi bintang maha raksasa merah. Dalam fase inilah, akibat tarikan gravit asinya sendiri, bintang maha raksasa merah mengalami keruntuhan gravitasi mengha silkan ledakan dahsyat atau biasa disebut sebagai Supernova. Supernova ditandai dengan peningkatan kecerahan cahaya hingga miliaran kali cahaya bintang biasa ke mudian melahirkan dua kelas bintang, yakni bintang netron dan lubang hitam. Bint ang netron (disebut juga Pulsar atau bintang denyut) terjadi bila massa bintang runtuh lebih besar dari 1,4 kali, tapi lebih kecil dari tiga kali massa matahari . Sementara lubang hitam mempunyai massa bintang runtuh lebih dari tiga kali mas sa matahari. Materi pembentuk lubang hitam kemudian mengalami pengerutan yang ti dak dapat mencegah apapun darinya. Bintang menjadi sangat mampat sampai menjadi suatu titik massa yang kerapatannya tidak terhingga. Massa dari lubang hitam ter us bertambah dengan cara menangkap semua materi didekatnya. Semua materi tidak b isa lari dari jeratan lubang hitam jika melintas terlalu dekat. Jadi obyek yang tidak bisa menjaga jarak yang aman dari lubang hitam akan tersedot. Berlainan de ngan reputasi yang disandangnya saat ini yang menyatakan bahwa lubang hitam 96

dapat menyedot apa saja disekitarnya, lubang hitam tidak dapat menyedot material yang jaraknya sangat jauh dari dirinya. Dia hanya bisa menarik materi yang lewa t sangat dekat dengannya. Lubang hitam juga dapat bertambah massanya dengan cara bertubrukan dengan lubang hitam yang lain sehingga menjadi satu lubang hitam ya ng lebih besar. Di dalam kaidah fisika, besaran gaya gravitasi berbanding terbal ik dengan kuadrat jarak atau dirumuskan F 1/r2. Dari formula inilah kita bisa me mahami mengapa lubang hitam mempunyai gaya gravitasi yang maha dahsyat. Dengan n ilai r yang makin kecil atau mendekati nol, gaya gravitasi akan menjadi tak hing ga besarnya. Para ilmuwan menghitung, seandainya bumi kita ini akan menjadi luba ng hitam, agar gravitasinya mampu mencegah cahaya keluar, maka bumi harus dimamp atkan menjadi bola berjari-jari 1 cm. Kalo bumi berjari-jari 1 cm, lalu manusia ? Gambar 3.17 lubang hitam di depan galaksi Bima Sakti 3.5 Latihan Soal 1. Pancaran radio 100 W bekerja pada frekuensi 880 KHz, berapa banyak foton perdetik yang dipancarkannya? 2. Panjang gelombang ambang pancar fo toelektrik pada tungsten ialah 2300 . Berapa besar panjang gelombang cahaya yang harus dipakai supaya electron dengan energi maksimal 1,5 Ev terlempar keluar? 3. Frekuensi ambang pancar fotoelektron dalam elektronvolt dalam tembaga 1,1 x 101 5 Hz. Cari energi maksimum fotoelektron bila cahaya berfrekuensi 1,5 x 1015 Hz d itunjukkan pada permukaan tembaga. 97

4. Berapa panjang gelombang maksimum yang dapat menyebabkan fotoelektron terpanc ar dari natrium? Berapa energi kinetic maksimum dari fotoelektron bila cahaya 20 00 jatuh pada permukaan natrium? 5. Jarak antara bidang antomik yang bersebelaha n dalam kalsit ialah 3 x 10-10 m. Berapa sudut terkecil antara bidang-bidang ini dengan berkas sinar-x 0,3 yang datang supaya sinar-x yang terhambur dapat didet eksi. 6. Berapa besar energi yang harus dimiliki sebuah foton supaya mempunyai m omentum 10 mev. 7. Seberkas sinar x terhambur oleh electron bebas. Pada sudut 45 o dari arah berkas sinar-x yang terhambur mempunyai panjang gelombang 0,022 . gel ombang sinar-x datang ? 8. foton sinar-x yang frekuensi awalnya 1,5 x 1019 Hz ti mbul dari tumbukan dengan sebuah electron dengan frekuensi 1,2 x 1019 Hz. Berapa besar energi kinetic yang dserahkan pada elektron ? 9. cari energi foton sinarx yang dapat menyerahkan energi maksimum 50 ke V pada sebuah electron. 10. freku ensi ambang dari suatu material 5.1014 Hz. Berapa energi kinetik elektron yang t erlepas jika material tersebut diberi gelombang elektromagnetik dengan frekuensi 1015 Hz. 11. Berapa frekuensi sinar x terhambur pada gejala Compton, jika freku ensi sinar x datang 3.1019 Hz, dan sudut hambur 60o (me = 9,1.10-31 kg) 12. hitu ng berapa % perubahan panjang gelombang sinar x dari 0,4 A yang terhambur 90o pa da gejala Compton 13. Sebuah lampu merkuri dipasang sehingga mempunyai daya panc ar 150 watt. Jika 2% dari intentitas lampu ini terdiri dari cahaya dengan panjan g gelombang 600 A. banyaknya foton cahaya yang dipancarkan tiap detik? 14. Sinar x dengan panjang gelombang 0,2 A mengalami hamburan comptom pada sudut 90o, hit ung (a). Perubahan panjang gelombang sinar x ; (b)Energi elektron yang terpental ; (c) momentum elektron yang terpental. 15. Berapakah energi dan momentum sebua h foton cahaya merah yang panjang gelombangnya 650 nm 98 Berapa besar panjang Berapa

16. Berapa panjang gelombang foton yang berenergi 2,40 eV 17. Frekuensi ambang s uatu logam adalah 6.1014 Hz, jika logam tersebut disinari cahaya dengan gelomban g yang frekuensinya 1015 Hz. Hitunglah energi kinetik electron foto yang terlepa s dari permukaan logam tersebut! (h = 6,62 10-34 Js) 18. Sebuah elektron baru ak an terlepas dari permukaan logam jika disinari cahaya dengan panjang gelombang 5 000 . Tentukan : (h = 6,62 10-34 Js dan c = 3 108 m/s) a. fungsi kerja logam ters ebut. (Wo = 3,972 10-19 J) b. energi kinetik elektron foto yang terlepas jika di sinari cahaya dengan frekuensi 8 x 1014 Hz! (Ek = 1,324 10-19 J) 19. Bila diketa hui fungsi kerja sebuah logam 2,1 eV. Jika foton dengan panjang gelombang 5 10-7 m dijatuhkan ke permukaan logam tersebut, tentukan berapa kecepatan maksimum el ektron yang terlepas! (massa electron (m) = 9,1 10-31 kg, muatan elektron (e) = 1,6 10-19 C, dan h = 6,62 10-34 Js) 20. Pada percobaan Compton seberkas sinar X dengan panjang gelombang 0,6 nm menumbuk sasaran elektron dalam atom karbon, apa bila sinar X dihamburkan membentuk sudut 90o terhadap arah semula. Hitunglah pan jang gelombang sinar X yang terhambur! 3.6 Rangkuman 1. Peristiwa keluarnya elektron dari permukaan logam karena disina ri dengan cahaya atau foton disebut efek fotolistrik, elektron yang terlepas dis ebut elektron foto. Besarnya energi kinetik maksimum electron foto tidak tergant ung pada intensitas cahaya yang dijatuhkan tetapi tergantung pada frekuensi foto n (cahaya). 2. Frekuensi ambang yaitu frekuensi foton terendah yang mampu menimb ulkan efek fotolistrik. (fo). 3. Fungsi kerja (energi ambang) yaitu energi teren dah dari foton agar mampu menimbulkan efek fotolistrik (Wo). 4. Besarnya energi kinetik maksimum elektron foto dinyatakan dalam persamaan : Ek = E Wo atau Ek = h (f fo) 5. Foton dapat berkelakuan sebagai partikel. Ciri sebagai partikel yaitu mempuny ai momentum untuk membuktikan foton berkelakuan sebagai partikel, maka Afthur Co mpton melakukan percobaan yang lebih dikenal dengan sebutan efek Compton. 99

Panjang gelombang sinar X setelah menumbuk electron sebagai sasaran target panja ng gelombangnya menjadi lebih besar sebagai akibat kehilangan sebagian energinya . Pada saat menumbuk elektron, besarnya perubahan panjang gelombang dinyatakan d alam persamaan : ' = h (1 cos ) mo c 3.7 Test Formatif 1. Urutan spektrum gelombang elektromagnetik mulai dari frekue nsi terbesar adalah a. Infra merah, cahaya tampak, ultra violet, sinar x b. Sina r gamma, sinar x, ultra violet, infra merah c. Gelombang mikro, infra merah, ult ra violet, sinar tampak d. Gelombang TV, ultra violet, sinar gamma, sinar x e. U ltra violet, sinar x, sinar gamma, infra merah 2. Pernyataan di bawah ini, yang bukan sifat gelombang elektromagnetik adalah..., a. merupakan gelombang longitud inal b. dapat mengalami polarisasi c. dapat merambat di ruang hampa d. merambat pada medan magnet dan medan listrik e. arah getar dan arah rambat saling tegak l urus 3. Frekuensi ambang suatu logam 1,5 1016 Hz. Apabila logam tersebut disinar i dengan cahaya yang mempunyai frekuensi 2 1016 Hz dan h = 6,6 10-34 Js, 1 eV = 1,6 10-19 J maka besarnya energi kinetik electron yang terlepas dari permukaan l ogam tersebut adalah .... a. 41,2 eV b. 29,6 eV c. 13,6 eV d. 20,6 eV e. 5,2 eV 4. Dari efek Compton dapat diinterpretasikan bahwa .... a. cahaya bersifat sebag ai partikel 100

b. cahaya dapat dihamburkan c. elektron bersifat sebagai cahaya d. cahaya terdir i atas elektron-elektron e. cahaya bersifat sebagai gelombang 5. Energi kinetik elektron yang terlepas dari permukaan logam pada peristiwa efek fotolistrik akan semakin besar .... a. intensitas cahaya diperbesar b. intensitas cahaya diperke cil c. panjang gelombang cahaya diperbesar d. frekuensi cahaya diperbesar e. fre kuensi cahaya diperkecil 6. Sebuah partikel dan foton memiliki energi yang sama apabila a. massanya sama b. kecepatannya sama c. momentumnya sama b. arah rambat nya sama c. medium yang dilalui sama 7. Sebuah foton mempunyai panjang gelombang 6500 , maka energi foton tersebut adalah .... (h = 6,62 x 10-34 Js, e = 1,6 x 10 -19 C dan c = 3 x 108 m s-1) a. 0,191 eV b. 1,91 eV c. 19,1 eV d. 3,05 eV e. 0,3 05 eV 8. Pada percobaan efek Compton apabila perubahan panjang gelombang sinar X setelah menumbuk electron dinyatakan , maka besar sudut hamburan sinar X adalah .... a. 30o b. 60o c. 180o d. 150o e. 120o 101

9. Pada tabung sinar X bekerja pada beda potensial sebesar 60 kVolt, maka panjan g gelombang dari sinar X tersebut adalah .... (e = 1,6 10-19 C, m = 9,1 10-31kg, dan c = 3 108 m/s) a. 5,02 10-9 m b. 5,02 10-10 m c. 5,02 10-11 m d. 5,02 10-12 m e. 5,02 10-8 m 10. Besarnya frekuensi ambang logam natrium adalah 4,4 1014 Hz . Besarnya potensial penghenti logam tersebut saat disinari cahaya dengan panjan g gelombang 4000 adalah ... volt. a. 0,128 b. 1,28 c. 0,28 d. 2,80 e. 0,42 3.8 Tindak Lanjut Jika anda telah selesai mengerjakan soal latihan dan tes forma tif di atas, maka hitung jawaban anda yang benar kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk menentukan tingkat penguasaan anda terhadap materi modul ini. Rumus: 100% Tingkat Penguasaan: 90% - 100% 80% - 89% 70% - 79% 0% - 69% = = = = Baik Se kali Baik Cukup Kurang 102

Jika tingkat penguasaan anda di bawah 80%, maka diharapkan mengulangi materi ini , khususnya bagian-bagian yang belum dipahami, serta menambah pengetahuan dari r eferensi lain yang berhubungan. 103