ASUHAN KEPERAWATAN Pada Pasien dengan kasus CEDERA KEPALA RINGAN Di Ruangan F RS Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten I.

Tinjauan Teori A. Definisi Cedera Kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. B. Klasifikasi Diklasifikasikan berdasarkan mekanisme, keparahan, dan morfologi cedera 1. Mekanisme: Berdasarkan adanya penetrasi durameter Trauma tumpul: kecepatan tinggi (tabrakan automobil) kecepatan rendah (terjatuh, dipukul) Trauma tembus (luka tembus peluru dan cedera tembus lainnya) 2. Keparahan cedera Ringan : Skala koma Glasgow (GCS) 14 -15 Sedang : GCS (9-13) Berat : GCS (3-8) 3. Morfologi Fraktur tengkorak : kranium: linear/ stelatum ; depresi/ non depresi; terbuka/ tertutup basis dengan /tanpa kebocoran cairan serebrobspinal dengan / tanpa kelumpuhan nervus VII Lesi Intrakranial : fokal: epidural, subudaral, intraserebral difus:konkusi ringan, konkusi klasik, cedera aksonal difus C. Penanganan Awal Pada Kegawatan Trauma ♣ Primary Survey a. Airway menjaga jalan nafas dari sumbatan dengan control cervical sebab sumbatan: muntahan, corpus alineum, perdarahan.lidah jatuh, spasme laring Tindakan: - Muntah dibersihkan - Gigi Palsu dilepas - Hiperekstensi kepala ( chin lift atau jaw trust ) - Posisi miring Catatan: Bila penderita bisa bicara, dianggap jalan nafasnya lancar

atau muntah maka pasien harus dintu basi dan diventilasi Periksa: . reaksi pupil. monitor cedera dada berat. agar proses pertukaran O2 kejaringan terganggu Tentukan apakah pasien bernafas spontan atau tidak. amnesia • Adanya trauma non-serebal • Ragon eye (gematom di mata). Jika tidak berikan berikan oksigen.Caillary refill test .Px penunjang: Head CT-Scan dan Fotokepala . Periksa: .Selalu dianggap ada fractur cervical collar pada pasien multitrauma b.Akral dingin/tidak .Anamnesis Termasuk mekanisme trauma . Jika jalan nafas pasien terancam.Warna kulit: sianosis/tidak . Breathing Menjaga lancarnya pernafasan.Denyut nadi c.Whole examination (head to toe examination) Perhatikan: • Status respirasi dan Cardiovaskuler • Kesadaran. Jika pasien bernafas spontan. otorrhea • Lucid interval (periode sadar antara dua pingsan) .Nadi ♣ Secondary Survey ABC tertangani → lakukan anamnesis dan pemeriksaan untuk tentukan disability elevasi neurolofy Meliputi: . lateralisasi • Muntah.Circulation Mengontrol pendarahan atau keadaan hemoinamik.Tingkat kesadaran . Bettle sign (hematon di retroaurikuler).

Kejang c. atau stupor) . Penatalaksanaan umum dan Pemeriksaan Penunjang 1.Tanda kemungkina fraktur kranium (tanda battle.Skor skala koma Glasgow 3-8 (koma) . atentif. Diagnosis klinis: Berdasarkan severity-nya: Cidera Kepala Berat : GCS 3-8 Cidera Kepala Sedang : Nilai GCS 9-13 Cidera Kepala Ringan : Nilai GCS 14-15 a.Skor skala koma Glasgow 9-14 (konfusi. Cedera Kepala Berat ( kelompok resiko berat) . letargo. Berupa diagnosis klinis dan anatomis/morfolohis. lakukan foto tulang belakang 2. otorea atau renore . Cedera Kepala Ringan (kelompok resiko rendah) Skor skala koma Glasgow 15 (sadar penuh. laserasi. hemotimpanum .Muntah . dan orientatif) Tidak ada kehilangan kesadaran (misalnya konkusi) Tidak ada intoksikasi alkohol atau obat terlarang Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing Pasien dapat menderita abrasi.Penurunan derajat kesadaran secara progresif .Cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi kranium Skala koma Glasgow (GCS) Buka Mata E 4 = spontan 3 = dengan perintah 2 = dengan rangsang nyeri 1 = tidak ada reaksi Respon Motorik M 6 = mengikuti perintah 5 = melokalisir nyeri 4 = menghindari nyeri 3 = fleksi abnormal 2 = ekstensi abnormal 1 = tidak ada gerakan Respon Verbal V 5 = orientasi baik dan sesuai 4 = disorientasi tempat dan wkt 3 = bicara kacau 2 = mengerang 1 = tidak ada suara D. atau hematoma kulit kepala Tidak adanya kriteria sedang-berat b.♣ Terapi Definitif Diperoleh diagnosis kerja.Amnesia pasca-trauma .Konkusi .Tnada neurologis fokal . Pada pasien dengan cidera kepala sedang atau berat lakukan: → pasang jalar IV dengan NaCl atau RL . mata rabun.Cedera Kepala Sedang (kelompok resiko sedang) . Pada pasien cidera kepala dan atau leer.

Tanda bahaya tersebut adalah : • Rasa kantuk berlebihan. agitai. maka penderita harus segera dibawa lagi ke rumah sakit untuk dirawat dan diberikan penanganan lebih lanjut. Ada beberapa gejala klinis yang baru akan muncul beberapa jam kemudian setelah terjadinya cedera. trombosis. Penatalaksanaan khusus 1. (Oleh karenanya. Bila tanda bahaya ini ditemukan.→ lakukan pemeriksaan: hematocrit. Pasien dengan koma (GCS < 8).Hasil pemeriksaan neurologis (terutama status mini mental dan gaya berjalan) dalam batas normal . dalam masa awal setelah cedera kepala. Lakukan CT Scan jika diperlukan. kima dll 3. Cedera kepala ringan: pasien dengan cedera kepala ini umumnya dapat dipulangkan ke rumah tanpa perla dilakukan pemeriksaan CT Scan bila memenuhi kriteria berikut: . untuk mendeteksi terjadi fraktur 4. maka lakukan: → elevasi kepala 30 → hiperventilasi → berikan manitol 20 % 1 gr / kg IV 20 -30 mnt. • . penderita harus selalu dibangunkan tiap 2-3 jam).Foto servikal jelas normal . atau kesadaran menurun Adanya tanda atau gelaja neurologis fokal Intoksikasi obat atau alkohol Adanya penyakit medis komorbid yang nyata Tidak adanya orang yang dapat dipercaya untuk mengamati pasien di rumah. dan sulit dibangunkan. darah perifer lenglap. dapat diberikan ¼ dosis semula tiap 6 jam → pasang kateter E. kepala berat.Adanya orang yang bertanggung jawab untuk mengamati pasien selama 24 jam pertama. Perlu dipahami bahwa ternyata tidak semua kelainan akibat cedera kepala akan segera muncul dan terdeteksi. dengan instruksi untuk segera kembali ke bagian gawat darurat jika timbul gejala perburukan Kriteria perawatan di rumah sakit: Adanya darah intrakranial atau fraktur yang tampak pada CT scan Konfusi.

linglung. timbul gejala lusid. Muncul gangguan penglihatan. Penatalaksanaan cedera kepala berat seyogyanya dilakukan di unit rawat intensif. Sakit kepala yang hebat.Cedera Kepala Sedang: pasien yang menderita konkusi otak (komosio otak). hipotensi. Jika ada indikasi. atau tekanan intrakranial yang meningkat. orientasi baik dan mengikuti perintah) dan CT scan normal. kira-kira 5 % akan terjadi perdahan otak  Hematoma epidural disebabkan oleh robeknya arteri meningea media. Walaupun sedikit sekali yang dapat dilakukan untuk kerusakan primer akibat cedera. Cedera Kepala Berat: Setelah penilaian awal dan stabilitas tanda vital. Pola pernapasan yang tidak seperi keadaan normal. tanda: kehilangan kesadaran sejenak . Perdarahan atau keluarnya cairan dari lubang hidung atau telinga. Kejang. 75 % adalah kasus kranium. Risiko timbulnya lesi intrakranial lanjut yang bermakna pada pasien dengan cedera kepala sedang adalah minimal. 3. dapat terjadi karena akselarasi dan deshelarais . dengan skala koma Glasgow 15 (sadar penuh. Pasien ini dapat dipulangkan untuk observasi di rumah.dengan berkumpulnya darah antara durameter dengan membran subaknoid pada Ct csan terlihat bulan sabit. anemsia singkat. keputusan segera pada pasien ini adalah apakah terdapat indikasi intervensi bedah syaraf segera (hematoma intrakranial yang besra). tetapi setidaknya dapat mengurangi kerusakan otak sekunder akibat hipoksia. Rasa lemah atau rasa baal / kebal pada anggota tubuh. Rasa bingung. disebabkan efek fisologis dan fongsional otak. dan semakin memberat. mual. pusing. (lubang hitam di tengah mata) yang tidak sama antara kanan dan kiri. 2. penurunan kesadaran. gangguan gerakan mata. atau gangguan saraf lainnya. meskipun terdapat nyeri di kepala. tidak perlu dirawat. muntah. dan ukuran pupil mata Denyut nadi yang sangat lambat atau justru terlalu cepat. darah rongga epidural gelembung pada CT scan  Hematoma sub dural berasal dari sumber vena. • • Sekule  Konkusi otak (komutio serebri) hilangnya kesadaran untuk sementara. atau amnesia. harus segera dikonsulkan ke bedah saraf untuk tindakan operasi. atau tiba-tiba mengalami perubahan perilaku.• • • • • • • Rasa mual dan muntah yang berlebihan.

lonus inferior dan temporal merupakan lokasi yang sering terjadi. Pathway . Kontusio parenkim dan hematom disebabkan oleh gesekan dan goresan otak ketika otak bergerak melalui permukaan dalamkranium yang kasar.

ketidaknyamanan 6.d cidera kepala 4.d Agent Injuri fisik. Nyeri Akut b. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif b.II.d obstruksi jalan nafas. Cerebral b.d kerusakan transport O2 2. Kerusakan Mobilitas Fisik b. 5. Penurunan capasitas Intracraneal adaptif b. Perfusi jaringan tidak efektif. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul 1. kejang laring 3. Resiko cedera: Internal fisik .d pembatasan gerak.

Philadelphia : Mosby NANDA. A. 1996. Wwwl. Nursing Diagnosis : Defenition & Classification 2001-2002.2003. Buku Saku Ilmu Bedah. Elseverhealth Johnson. etc. 1999. Nursing Intervention Classification. Jakarta: Media Aesculapius FK UI Wasiyastuti. Us.DAFTAR PUSTAKA Haryani. Diagnosis A Guide To Planing Care. Philadelphia: North America Nursing Diagnosis Assosiation Mansyour. 2004. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga Jilid 2. W.1997. Nursing Outcome Classification. Ani. 2001. Widia medika: Yogyakarta . Philadelphia: Mosby Joane C. etc.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful