Anda di halaman 1dari 30

Kelainan Kelenjar Saliva

Oleh : Kelompok Tutorial 6

Kelainan Kelenjar Saliva


Kelainan kelenjar saliva adalah suatu keadaan abnormal dalam kelenjar saliva yang dapat merujuk pada kondisi yang dapat menyebabkan pembengkakan atau nyeri. Kelainan kelenjar saliva terdiri dari kelainan yang bersifat neoplastik dan kelainan yang bersifat non-neoplastik.

Neoplastik berarti pembentukan jaringan baru yang abnormal dan tidak dapat dikontrol oleh tubuh. Ada 2 tipe neoplasia yaitu :
Neoplasia jinak (benign neoplasm) : pertumbuhan jaringan baru yang lambat, ekspansif, terlokalisir, berkapsul, invasif/mendesak tulang, permukaan lesi menegang, warna jaringan yang terinfeksi normal, efek terhadap jaringan tubuh tidak ada/hiperfungsi, dan tidak bermetastasis (anak sebar).

Neoplasia ganas (malignant neoplasm) : tumor yang tumbuhnya cepat, infiltrasi ke jaringan sekitarnya, permukaan lesi mengalami ulserasi, warna jaringan yang terinfeksi berubah, efek terhadap jaringan tubuh hipofungsi/kaheksi, dan dapat menyebar ke organ-organ lain atau metastase. (Miller, dkk. 1995)

Etiologi
Digolongkan ke dalam 2 kategori : 1. Faktor internal, yaitu faktor yang berhubungan dengan herediter dan faktorfaktor pertumbuhan. 2. Faktor eksternal, seperti bakteri, virus, jamur, bahan kimia, obat-obatan, radiasi, trauma, panas, dingin, tembakau atau alkohol.

Macam Kelainan Kelenjar Saliva


Neoplasia jinak 1. Pleomorfic adenoma GK : tumor jinak yang berasal dari kelenjar saliva yang dapat tumbuh dari kelenjar saliva minor maupun mayor. Tumor ini tumbuh lambat, asymtomatis, dapat digerakkan dan konsistensi kenyal dengan permukaan yang halus. Tumor dapat membesar mendesak jaringan sekitarnya. HPA : pleomorfic adenoma menunjukkan campuran proliferasi jaringan epithel dalam daerah jaringan myxoid, mucoid, atau chondroid. Tumor sebagian mempunyai kapsul fibrous.

2. Monomorphic adenoma Tumor-tumor monomorfik tersusun reguler berbentuk grandular, dengan tidak adanya dominasi komponen jaringan mesenkim. Tumor yang termasuk ke dalam adenoma monomorfik adalah Warthin tumor (papillary cystadenoma lymphomatosum), basal sel adenoma, oxyphilic adenoma (oncocytoma), canalicular adenoma, myoepthelioma, dan clear cell adenoma.

Whartins Tumor
GK : tumor jinak kelenjar saliva yang paling umum dijumpai diantara tumor-tumor monomorfik lainnya dan sering terjadi pada kelenjar parotis. Lk > Pr HPA : berbentuk glandula yang dipisahkan celahcelah yang cenderung dan membentuk proyeksi papila-papila yang tertanam didalam jaringan limfoid yang padat. Rongga kistik dilapisi oleh sel epitel yang eosinopilik (onkosit) 2 lapis (bilayer).

Onkositoma
Gx : kelenjar parotid adalah tempat yang paling sering terjadinya onkositoma diikiuti dengan kelenjar submandibula. Tumornya muncul sebagai massa yang tumbuh lambat, tidak nyeri, yang sering keras dan kadangkadang kistik. Pembengkakan kelenjar parotis kadang-kadang difus, dapat terjadi bilateral ataupun multiple.

HPA : mengandung sel-sel epitelial berbentuk polyhedron yang besar (onkosit), yang penuh dengan sitoplasma eosinofilik bergranular dan mitokondria.

Neoplasia Ganas
1. Mukoepidermoid karsinoma Gx : umumnya melibatkan kelenjar ludah mayor, yaitu kelenjar ludah parotis. Sebagian kecil dapat timbul dari kelenjar ludah minor. Tumor ini sering terjadi pada orang dewasa, Pr > Lk. Tumor ini tumbuhnya lambat, berasal dari sel epitelium duktus dan berpotensi metastasis.

HPA : secara mikroskopis dibedakan atas : low grade, intermediate grade, dan high grade. Menunjukkan campuran sel kelenjar penghasil mukus dan del epitel intermediate. Ketiga sel-sel ini berasal dari sel duktus yang berpotensi mengalami metaplasia. Low grade merupakan massa yang kenyal dan mengandung solid proliferasi sel tumor, pembentukan struktur seperti duktus dan adanya cystic space yang terdiri dari epidermoid sel dan sel intermediate.

Tipe intermediate ditandai massa tumor yang lebih solid sebagian besar sel epidermoid dan sel intermediate dengan sedikit memproduksi kelenjar mukus. Tipe poorly diferentiated ditandai dengan populasi sel-sel pleomorfik dan tidak terlihat sel-sel berdiferensiasi.

Karsinoma Sel Asinar


Gx : merupakan tumor ganas kelenjar parotis yang jarang terjadi. Kadang ditemukan pada kelenjar saliva lainnya. Umumnya pada lelaki muda antara umur 20-30 tahun. Tumor ini berkapsul, merupakan suatu proliferasi sel-sel yang membentuk massa bulat, diameter < 3 cm. HPA : berisi sel-sel asinar yang seragam dengan nukleus kecil berada di sentral dengan sitoplasma yang basofilik dan padat mirip sel-sel sekretoris (asinar) dari kelenjar saliva normal. Tumor ini dapat bermetastasis ke limfonodi regional.

Kelainan Kelenjar Saliva Non Neoplastik


Mukokel Definisi Mucocele adalah Lesi pada mukosa (jaringan lunak) mulut yang diakibatkan oleh pecahnya saluran kelenjar liur dan keluarnya mucin ke jaringan lunak di sekitarnya. Mucocele bukan kista, karena tidak dibatasi oleh sel epitel. Mucocele dapat terjadi pada bagian mukosa bukal, anterior lidah, dan dasar mulut.

Etiologi Umumnya disebabkan oleh trauma, misalnya bibir yang sering tergigit pada saat sedang makan, atau pukulan di wajah. Dapat juga disebabkan karena adanya penyumbatan pada duktus (saluran) kelenjar liur minor. Mucocele Juga dapat disebabkan oleh obat-obatan yang mempunyai efek mengentalkan ludah. Gambaran Klinis Batas tegas Konsistensi lunak Warna transluscent Ukuran biasanya kecil Tidak ada keluhan sakit Kadang-kadang pecah, hilang tapi tidak lama kemudian akan timbul lagi

Ranula
Etiologi Dan Patogenesis Ranula terbentuk sebagai akibat normal melalui duktus ekskretorius major yang membesar atau terputus atau terjadinya rupture dari saluran kelenjar terhalangnya aliran liur yang sublingual (duktus Bartholin) atau kelenjar submandibuler (duktus Wharton), sehingga melalui rupture ini air liur keluar menempati jaringan disekitar saluran tersebut. Selain terhalangnya aliranliur, ranula bisa juga terjadi karena trauma dan peradangan. Ranula mirip dengan mukokel tetapi ukurannya lebih besar. Gambaran Klinis Bentuk dan rupa kista ini seperti perut kodok yang menggelembung keluar (Rana=Kodok) Dinding sangat tipis dan mengkilap Warna translucent Kebiru-biruan Palpasi ada fluktuasi Tumbuh lambat dan expansif

Sialadenitis
Sialadenitis adalah infeksi bakteri dari glandula salivatorius, biasanya disebabkan oleh batu yang menghalangi atau hyposecretion kelenjar. Etiologi Sialadenitis biasanya terjadi setelah obstruksi hyposecretion atau saluran tetapi dapat berkembang tanpa penyebab yang jelas. Sialadenitis paling sering terjadi pada kelenjar parotis dan biasanya terjadi pada pasien dengan umur 50-an sampai 60-an, pada pasien sakit kronis dengan xerostomia, pasien dengan sindrom Sjgren, dan pada mereka yang melakukan terapi radiasi pada rongga mulut. Remaja dan dewasa muda dengan anoreksia juga rentan terhadap gangguan ini. Organisme yang merupakan penyebab paling umum pada penyakit ini adalah Staphylococcus aureus; organisme lain meliputi Streptococcus, koli, dan berbagai bakteri anaerob.

Gejala Umum meliputi gumpalan lembut yang nyeri di pipi atau di bawah dagu, terdapat pembuangan pus dari glandula ke bawah mulut dan dalam kasus yang parah, demam, menggigil dan malaise (bentuk umum rasa sakit).

Sjorgen syndrome
Sjorgen syndrome merupakan suatu penyakit auto imun yang ditandai oleh produksi abnormal dari extra antibodi dalam darah yang diarahkan terhadap berbagai jaringan tubuh. Ini merupakan suatu penyakit autoimun peradangan pada kelenjar saliva yang dapat menyebabkan mulut kering dan bibir kering Gejala Gejala dari sjorgen syndrome antara lain; mulut kering, kesulitan menelan, kerusakan gigi, penyakit gingiva, mulut luka dan pembengkakan, dan infeksi pada kelenjar parotis bagian dalam pipi.

Etiologi Penyebab sjorgen syndrome tidak diketahui, ada dukungan ilmiah yang menyatakan bahwa penyakit ini adalah penyakit turunan atau adanya faktor genetik yang dapat memicu terjadinya sjorgen syndrome, karena penyakit ini kadang-kadang penyakit ditemukan pada anggota keluarga lainnya. Hal ini juga ditemukan lebih umum pada orang yang memiliki penyakit autoimun lainnya seperti lupus eritematous sistemik, autoimun penyakit tiroid, diabetes, dll.

Sialorrhea Sialorrhea adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan menetesnya air liur atau sekresi saliva yang berlebihan. Etiologi Penyebab dari sialorrhea dapat bevariasi berupa gejala dan gangguan neurologis, infeksi atau keracunan logam berat dan insektisida serta efek samping dari obat-obatan tertentu.

Sialosis Sialosis didefinisikan sebagai pembengkakan non-inflamasi dan non-neoplastik dari kelenjar saliva. Paling sering mengenai kelenjar parotis biasanya bilateral, tapi kadang-kadang juga mengenai kelenjar submandibularis dan sublingualis. Etiologi Penyebab pembengkakan belum diketahui dengan jelas, walaupun dihubungkan dengan sejumlah penyakit sistemik, terutama diabetes melitus, akromegali, alkoholisme, malnutrisi, bulimia nervosa dan anoreksia nervosa. Sialosis Juga digambarkan sebagai efek samping sejumlah obat-obatan.

Sialometaplasia necrotic
Lesi pada kelenjar saliva yang bersifat nonneoplastik, peradangan yang dapat sembuh dengan sendirinya, terutama mengenai kelenjar saliva yang terdapat pada palatum. Lebih sering terjadi pada penderita laki-laki daripada perempuan. Gejala klinis Muncul secara spontan Terdapat lesi dan pembengkakan Ukuran maksimal 1-2 cm Lesi bilateral atau unilateral Burning sensation (sensasi terbakar)

Hpa Necrosis lobuler pada kelenjar saliva, metaplasia squamosa pada asinus dan saluransaluran,hyperplasia pseudoepitelomatosa dan jaringan granulasi yang nyata serta inflamasi. Etiologi Tidak diketahui secara pasti namun berhubungan dengan trauma dan terapi radiasi.

Sialolitiasis
Gejala dan Tanda Pembengkakan berulang dan nyeri pada kelenjar submandibular dengan eksaserbasi apabila makan adalah gejala yang sering muncul pada batu kelenjar liur. Obstruksi yang lama dapat menyebabkan terjadinya infeksi akut dengan nyeri yang semakin berat dan eritema pada kelenjar tersebut. Pasien juga mengeluhkan adanya riwayat xerostomia dan kadang-kadang terasa ada benda asing seperti pasir di rongga mulut. Gambaran Radiologis Foto Rontgen dengan posisi lateral dan oklusal dapat menunjukkan batu radiopak tetapi posisi ini tidak selalu dapat diandalkan. Posisi intraoral mungkin lebih membantu.

Xerostomia
Banyak pasien mengeluh mulutnya kering Walaupun kelenjar saliva mereka berfungsi dengan normal. Xerostomia sejati dapat disebabkan oleh penyakit kelenjar saliva primer atau manifestasi sekunder dari suatu kelainan sistemik atau terapi obat. Penyakit kelenjar saliva primer meliputi sindrom Sjorgen, kerusakan pascaradiasi atau anomali pertumbuhan. Penyebab sistemik sekunder dari xerostomia meliputi kegelisahan kronis, dehiderasi atau terapi obat. Gambaran Klinis Konfirmasi adanya penurunan dalam produksi saliva didasarkan atas pemeriksaan klinis dan pengukuran kecepatan aliran saliva.

TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA