Anda di halaman 1dari 21

LEARNING TASK Case 4 Ny.

Wati 45 th mengeluh mengeluarkan darah pervaginam dan nyeri yang menjalar ke ekstremitas bawah dan lumbal. Riwayat keputihan yang lama dan berbau menyengat, disertai perdarahan di luar siklus haid. Klien juga mengeluhkan adanya post coital bleeding. Berdasarkan data diatas : a. Sebutkan dan jelaskan kelainan yang terjadi pada Ny. Wati b. Berdasarkan data, apa penyebab terjadinya pendarahan pada Ny. Wati c. Uraikan patofisiologinya kelainan pada Ny. Wati d. Sebutkan komplikasi yang timbul karena kelainan tersebut e. Sebutkan pemeriksaan diagnostic yang harus dilakukan f. Sebutkan intervensi medis untuk masalah tersebut g. Pendidikan kesehatan apa yang diperlukan pada pasien dengan kasus diatas? h. Uraikan WOC sampai timbulnya masalah keperawatan pada pasien dengan kelainan diatas, tujuan criteria hasil dan intervensi yang diperlukan (Gunakan TRIPLE N)

PEMBAHASAN a. Kelainan yang terjadi pada Ny. Wati : Perdarahan pervagina Perdarahan abnormal termasuk perdarahan setelah hubungan seksual atau perdarahan di antara periode menstruasi. Gejala-gejala akhir yang terjadi ketika kanker lanjutan termasuk nyeri punggung bawah, nyeri panggul, kehilangan berat badan dan kaki bengkak. Perdarahan yang dialami segera setelah senggama merupakan tanda-tanda kanker serviks. Perdarahan ini terjadi akibat pembuluh darah terbuka dan makin lama akan lebih sering terjadi, ini berlanjutan akibat menyebab perdarahan spontan atau luar sanggama. Perdarahan spontan ini terjadi pada tingkatklink yang lebih lanjut (II atau III), terutama yang bersifat eksofitik. Perdarahan spotan saatdefekasi akibat tergesernya tumor eksofitik dari serviks oleh skibala dan harus dicurigai adanyakarsinoma serviks tingkat lanjut disertai bau busuk yang khas memperkuat dugaan adanyakarsinoma. Perdarahan pasca koitus Perdarahan yang dialami segera setelah bersenggama (disebut sebagai perdarahan kontak) merupakan gejala karsinoma serviks (75 -80%). Pada tahap awal, terjadinya kanker serviks tidak ada gejala-gejala khusus. Biasanya timbul gejala berupa ketidak teraturannya siklus haid, amenorhea, hipermenorhea, dan penyaluran sekret vagina yang sering atau perdarahan intermenstrual, post koitus serta latihan berat. Perdarahan yang khas terjadi pada penyakit ini yaitu darah yang keluar berbentuk mukoid. Menurut Baird (1991) tidak ada tanda-tanda khusus yang terjadi pada klien kanker serviks. Perdarahan setelah koitus atau pemeriksaan dalam (vaginal toussea) merupakan gejala yang sering terjadi. Karakteristik darah yang keluar berwarna merah terang dapat bervariasi dari yang cair sampai menggumpal. Perdarahan rektum dapat terjadi karena penyebaran sel kanker yang juga merupakan gejala penyakit lanjut. Keputihan lama dan bau menyengat Pada dasarnya gejala keputihan sering dijumpai pada kanker serviks. Makin lama getah yang keluar dari vagina, maka berbau busuk akibat infeksi dan atau nekrosis jaringan. Salah satu jenis keputihan adalah Keputihan Patologis, yang merupakan keputihan yang tidak normal yang terjadi karena infeksi pada vagina, adanya benda asing pada vagina

ataukarena keganasan. Infeksi bisa sebagai akibat dari virus, bakteri, jamur, dan parasit berselsatu Trichomonas vaginalis. Dapat pula disebabkan oleh iritasi karena berbagai sebab sepertiiritasi akibat bahan pembersih vagina, iritasi saat berhubungan seksual, penggunaan tampon,dan alat kontrasepsi. Infeksi virus, bakteri, dan parasit bersel satu umumnya didapatkan saatmelakukan aktivitas seksual. Perdarahan diluar siklus haid Ulkus pada portio uteri merupakan perdarahan yang terjadi diluar haid dengan penyebab kelainan hormonal atau kelainan organ genitalia. Perdarahan terjadi dalam masa antara 2 haid. Perdarahan ini tampak terpisah dan dapat dibedakan dari haid, atau 2 jenis pendarahan ini menjadi sebab-sebab organik. Perdarahan dari uterus, tuba dan ovarium disebabkan oleh kelainan pada : a) serviks uteri, seperti polipus servisis uteri, erosi porsionis uteri, ulkus pada porsio uteri, karsinoma sevisis uteri. Rasa sakit Perut bagian bawah atau daerah lumbosakral sering terasa sakit, terkadang sakit timbul di perut bagian atas, paha atas dan persendian panggul, setiap saat masa menstruasi, waktu buang air besar atau hubungan badan, rasa sakit akan meningkat, terlebih pada saat infeksi meluas mengarah ke belakang sepanjang ligamen uterosakral atau menyebar sepanjang ligamen luas di bagian bawah, membentuk peradangan kronis jaringan ikat parametrium, pada saat ligamen utama serviks menebal, rasa sakit akan lebih berat. Setiap menyentuh serviks, secara langsung menimbulkan rasa sakit di iliaka fosa, lumbosakral, bahkan ada pasien kanker serviks yang timbul gejala mual. Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa Ny. Wati mengalami Kanker Serviks, dimana : o Ca. Serviks adalah keadaan dimana sel-sel neoplastik terdapat pada seluruh lapisan epitel pada daerah serviks uteri. (Wilson and Price, 1995: 1137) o Carsinoma Serviks adalah pertumbuhan baru yang ganas terdiri dari sel sel epitel yang cenderung menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan menimbulkan metastasis (Dorland, 1998). o Karsinoma serviks adalah tumbuhnya sel-sel abnormal pada serviks. Karsinoma serviks merupakan karsinoma yang primer berasal dari serviks (kanalis servikalis dan atau

porsio). Serviks adalah bagian ujung depan rahim yang menjulur ke vagina (Cunningham, 2010). o Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997). b. Penyebab terjadinya pendarahan pada Ny. Wati Berdasarkan data pada kasus, Ny. Wati mengeluhkan adanya perdarahan pada vagina di luar siklus haid serta perdarahan post coitus. Penyebab yang paling sering dari perdarahan di luar siklus haid biasanya disebabkan oleh adanya masa atau tumor pada rahim. Masa tumor yang semakin membesar mengakibatkan proses inflamasi yang menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah serta pengeluaran mediator inflamasi yang menyebabkan adanya nyeri. Namun pembuluh darah yang melebar tersebut menjadi mudah rapuh dikarenakan sel kanker yang terus menginvasi dan mendesak pembuluh darah sehingga pembuluh darah mudah pecah dan sering terjadi perdarahan pervagina dan ini cenderung bertambah parah apabila masa tumor yang menutupi mulut rahim menjadi hematometra ( darah yang tertahan ). Manakala terjadi penetrasi penis sewaktu coitus, juga menyebabkan pembuluh darah yang sangat rapuh menjadi pecah sehingga terjadi perdarahan pasca senggama atau Perdarahan post coitus. Secara umum penyebab karsinoma serviks masih berupa perkiraan, tetapi sebagian besar data epidemiologik memasukkan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual. Penyebab utamanya adalah virus yang disebut Human Papilloma (HPV) yang dapat menyebabkan kanker. HPV 16 dan 18 secara bersama mewakili 70% penyebab kanker serviks.Biasanya sebagian besar infeksi akan sembuh dengan sendirinya namun kadang bisa menjadi infeksi persisten yang dapat berkembang menjadi kanker serviks (Cunningham, 2010). Virus HPV dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Penularan dapat juga terjadi meski tidak melalui hubungan seksual dan HPV dapat bertahan dalam suhu panas (Cunningham, 2010). Beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain : 1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual

Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda 2. Jumlah kehamilan dan partus Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks. 3. Jumlah perkawinan Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini. 4. Infeksi virus Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks 5. Sosial Ekonomi Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh. 6. Hygiene dan sirkumsisi Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma. 7. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks. c. Patofisiologi Ca. Serviks Pada masa kehidupan wanita terjadi perubahan fisiologis pada epitel serviks; epitel kolumnar akan digantikan oleh epitel skuamosa yang diduga berasal dari cadangan epitel kolumnar. Proses pergantian ini disebut proses metaplasia dan terjadi akibat pengaruh pH vagina yang

rendah. Akibat proses metaplasia ini maka secara morfogenetik terdapat 2 SSK, yaitu SSK (Sel skuamosa karsinoma) asli dan SSK baru yang menjadi tempat pertemuan antara epitel skuamosa baru dengan epitel kolumnar (Rahmawan, 2009). Daerah di antara kedua SSK ini disebut daerah transformasi. Masuknya mutagen atau bahanbahan yang dapat mengubah perangai sel secara genetik pada saat fase aktif metaplasia dapat menimbulkan sel-sel yang berpotensi ganas. Perubahan ini biasanya terjadi di daerah transformasi. Mutagen tersebut berasal dari agen-agen yang ditularkan secara hubungan seksual dan diduga bahwa human papilloma virus (HPV) memegang peranan penting. Sel yang mengalami mutasi tersebut dapat berkembang menjadi sel displastik sehingga terjadi kelainan epitel yang disebut displasia. Perbedaan derajat displasia didasarkan atas tebal epitel yang mengalami kelainan dan berat ringannya kelainan pada sel. Sedangkan karsinoma insitu adalah gangguan maturasi epitel skuamosa yang menyerupai karsinoma invasif tetapi membrana basalis masih utuh (Rahmawan, 2009). Klasifikasi terbaru menggunakan istilah Neoplasia Intraepitel Serviks (NIS) untuk kedua bentuk displasia dan karsinoma insitu. NIS terdiri dari ; NIS 1, untuk displasia ringan; NIS 2, untuk displasia sedang; dan NIS 3, untuk displasia berat dan karsinoma in-situ. Organ reproduksi wanita khususnya serviks sangat mudah dijangkau,Patogenesis penyakit ini jelas melibatkan pajanan karsinogen pada jaringan yang rentan (zona transformasi). Beberapa faktor pejamu juga terlibat. Sambungan skuamokolumnar merupakan satu dari enam batas epitel yang terdapat di dalam saluran genitalia bagian bawah. Posisi sambungan skuamokolumnar dipengaruhi oleh perubahan hormonal dan anatomis saat pubertas, kehamilan, dan menopause. Sebelum pubertas, sambungan skuamokolumnar biasanya berlokasi pada ostium servikalis eksterna. Saat pubertas, perubahan pada bentuk dan volume serviks yang diinduksi estrogen membawa sambungan skuamokolumnar ke bagian luar ektoserviks. Reposisi ini membuat jaringan yang sebelumnya ditemukan pada kanal endoserviks bagian bawah menjadi terpajan pada vagina. Pajanan lingkungan vagina yang asam pada epitel yang mensekresi musin sederhana menginduksi denaturasi kimia pada ujung vili epitel kolumnar. Proses perbaikan yang terjadi setelahnya menghasilkan epitel skuamosa yang matur. Tanda pertama proses perbaikan adalah terdapatnya sel cadangan yang diaktivasi di bawah epitel kolumnar. Sel cadangan secara bertahap menjadi berlapis di bawah sel kolumnar dan

meggantikan sel tersebut, membentuk zona transformasi. Setelah menopause. sambungan skuamokolumnar naik kembali ke posisi di dalam kanal endoserviks. Kanker serviks biasa menyebar melalui peredaran darah, ekstensi langsung, dan kelenjar limfa. Kelenjar limfa bisa membesar yang kemudian menghambat sirkulasi darah vena dan menimbulkan edema pada ekstremitas bawah. pembesaran kelenjar limfa bisa juga menyebabkan obstruksi ureter dan/atau hidronefrosis. Kanker bisa menyebar ke paru-paru, mediastinum, hepar, dan tulang. Kanker serviks sifatnya asimtomatis pada tahap awal. Seiring perkembangannya, ada sedikit sekresi berupa cairan dari vagina, dan sewaktu-waktu ada bloody spotting (perdarahan sangat sedikit hanya menodai celana dalam) setelah persetubuhan. Kanker yang sudah berkembang akan menimbulkan sekresi dari vagina yang kehitaman dan bau karena kerusakan jaringan epitel. Rasa nyeri adalah tanda akhir yang dirasakan pasien pada bagian pelvis, lumbar, dan abdomen. Tumor yang membesar bisa menekan vesika urinaria dan rectum. Perdarahan bisa timbul apabila kanker sudah mengadakan infiltrasi. d. Komplikasi yang timbul karena kelainan tersebut 1. Berkaitan dengan intervensi pembedahan Vistula Uretra Disfungsi bladder Emboli pulmonal Infeksi pelvis Obstruksi usus Sistitis radiasi Enteritis Supresi sumsum tulang Mual muntah akibat pengunaan obat kemoterapi yang mengandung sisplatin Kerusakan membrane mukosa GI Mielosupresi

2. Berkaitan dengan kemoterapi

3. Berkaitan dengan kemoterapi

e. Pemeriksaan diagnostic yang harus dilakukan 1. Tes Pap Smear Wanita bisa mengurangi risiko terserangnya kanker serviks dengan melakukan Pap Smear secara teratur. Tes Pap adalah suatu tes yang digunakan untuk mengamati selsel leher rahim. Tes Pap dapat menemukan adanya kanker leher rahim atau sel abnormal (pra-kanker) yang dapat menyebabkan kanker serviks (Bryant, 2012). Hal yang paling sering terjadi adalah, sel-sel abnormal yang ditemukan oleh tes Pap bukanlah sel kanker. Sampel sel-sel yang sama dapat dipakai untuk pengujian infeksi HPV (Puteh, 2008). 2. Tes IVA IVA adalah singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam asetat, merupakan metode pemeriksaan dengan mengoles serviks atau leher rahim dengan asam asetat. Kemudian diamati apakah ada kelainan seperti area berwarna putih. Jika tidak ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks (Bryant, 2012). Jika hasil tes Pap atau IVA anda tidak normal, dokter akan menganjurkan tes lain untuk membuat diagnosis yaitu Kolposkopi: Dokter menggunakan kolposkop untuk melihat leher rahim. Kolposkop menggunakan cahaya terang dan lensa pembesar untuk membuat jaringan lebih mudah dilihat. Alat ini tidak dimasukkan ke dalam vagina. Kolposkopi biasanya dilakukan di tempat praktek dokter atau klinik. 3. Schillentest Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna. 4. Koloskopi Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali. Keuntungan ; dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy. Kelemahan ; hanya dapat memeiksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelianan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat. 5. Kolpomikroskopi

Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali 6. Biopsi Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya. 7. Konisasi Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas. f. Intervensi medis untuk masalah tersebut Penatalaksanaan kanker serviks dapat dilakukan dengan beberapa cara. Dokter akan merencanakan penanganan atau pengobatan yang terbaik bagi seorang penderita kanker, dengan mempertimbangkan beberapa faktor usia, kesehatan secara umum dan jenis, tahapan dan tingkatan kanker. Adapun pengobatan atau tindakan yang dilakukan sesuai dengan stadium kanker leher rahim adalah sebagai berikut: a. Stadium 0 (karsinoma in-situ): terapi operasi berupa konisasi (jika pasien masih muda dan masih menginginkan anak), atau operasi histerektomi simpel. b. Stadium IA-IIA: operasi histerektomi simpel atau radiasi. c. Stadium IIB-IIIB: radiasi atau kemoradiasi. d. Stadium IV: terapi paliatif, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita. Pembedahan Operasi untuk mengambil uterus biasanya dilakukan untuk mengatasi stadium dini dari kanker serviks. Hysterectomy sederhana yaitu dengan membuang jaringan kanker, serviks, dan uterus. Hysterectomy biasanya dilakukan hanya jika kanker dalam stadium yang dini dan invasi kurang dari 3milimeter (mm) ke dalam serviks. Hysterectomy radikal yaitu dengan membuang serviks, uterus, bagian vagina, dan nodus limfe pada area tersebut merupakan operasi standar saat terdapat invasi lebih besar dari 3 mm kedalam serviks dan tidak ada bukti adanya tumor pada dinding pelvis. Hysterectoy dapat mengobati kanker serviks stadium dini dan mencegah kanker kembali lagi, namun membuang uterus membuat pasien tidak mungkin hamil lagi. Efek samping sementara dari hysterectomy termasuk nyeri pelvis, kesulitan dalam pencernaan, dan urinasi.

Radioterapi Radioterapi adalah pengobatan dengan sinar berenergi tinggi (seperti sinar-X) untuk membunuh sel-sel kanker ataupun menyusutkan tumornya. Sebelum radioterapi dilakukan, biasanya pasien akan menjalani pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah Anda menderita Anemia. Penderita kanker serviks yang mengalami perdarahan pada umumnya menderita Anemia. Untuk itu, transfusi darah mungkin diperlukan sebelum radioterapi dijalankan. Pada kanker serviks stadium awal, biasanya dokter akan memberikan radioterapi (external maupun internal). Kadang radioterapi juga diberikan sesudah pembedahan. Akhirakhir ini, dokter seringkali melakukan kombinasi terapi (radioterapi dan kemoterapi) untuk mengobati kanker serviks yang berada antara stadium IB hingga IVA. Yaitu, antara lain bila ukuran tumornya lebih besar dari 4 cm atau bila kanker ditemukan telah menyebar ke jaringan lainnya (di luar serviks), misalnya ke kandung kemih atau usus besar. Radioterapi ada 2 jenis, yaitu radioterapi eksternal dan radioterapi internal. Radioterapi eksternal berarti sinar X diarahkan ke tubuh Anda (area panggul) melalui sebuah mesin besar. Sedangkan radioterapi internal berarti suatu bahan radioaktif ditanam ke dalam rahim/leher rahim selama beberapa waktu untuk membunuh sel-sel kankernya. Salah satu metode radioterapi internal yang sering digunakan adalah brachytherapy. Kemoterapi Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Biasanya obatobatan diberikan melalui infuse ke pembuluh darah atau melalui mulut. Setelah obat masuk ke aliran darah, mereka menyebar ke seluruh tubuh. Kadang-kadang beberapa obat diberikan dalam satu waktu. Kemoterapi dapat menyebabkan efek samping. Efek samping ini akan tergantung pada jenis obat yang diberikan, jumlah/dosis yang diberikan, dan berapa lama pengobatan berlangsung. Efek samping bisa termasuki: Sakit maag dan muntah. Kehilangan nafsu makan. Kerontokan rambut jangka pendek. Sariawan. Meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi (kekurangan sel darah putih). Pendarahan atau memar bila terjadi luka (akibat kurang darah). Sesak napas (dari rendahnya jumlah sel darah merah).

Kelelahan. Menopause dini. Hilangnya kemampuan menjadi hamil (infertilitas).

Sebagian besar efek samping (kecuali untuk menopause dan ketidaksuburan) berhenti ketika pengobatan selesai. Pemberian kemoterapi pada saat yang sama seperti radioterapi dapat meningkatkan prospek kesembuhan pasien, tetapi dapat memberikan efek samping yang lebih buruk. g. Pendidikan Kesehatan Pendidikan kesehatan yang dapat diberikan kepada pasien yang telah positif mengalami kanker serviks dapat berupa : Pemberian informasi mengenai penatalaksanaan yang akan dijalani oleh pasien sesuai dengan tingkatan stadium kanker yang dialami. Informasi dapat berupa jenis terapi, biaya yang akan dikenakan, durasi pengobatan serta efek samping yang akan ditimbulkan pasca pengobatan berlangsung. Hal ini akan dapat menurunkan tingkat kecemasan pasien dan meningkatkan kesiapan mental pasien dalam menghadapi pengobatannya. Edukasi tentang perubahan pola aktivitas seksual yang akan dialami oleh pasien dengan kanker serviks. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat post coitus bleeding. Dalam pemberian edukasi ini diharapkan untuk melibatkan pasangan dari pasien dan menjaga privasi serta kerahasiaan informasi. Pengetahuan tentang pentingnya peningkatan asupan nutrisi untuk mengatasi efek samping yang dialami pasca pengobatan kanker. Nutrisi penting bagi status imunitas pasien dalam menjalani proses pengobatan. Diet untuk pasien dengan kanker serviks dapat dikonsultasikan dengan ahli gizi di rumah sakit. Sedangkan untuk pencegahan dari kanker serviks dapat diberikan pendidikan kesehatan untuk menghindari faktor resiko dari kanker serviks tersebut. Beberapa informasi yang dapat diberikan antara lain : Menghindari aktivitas seksual pada usia dini ( < 20 tahun ). Karena pada usia tersebut pematangan sel-sel epitel pada serviks belum sempurna sehinnga rentan terjadi kerusakan saat melakukan aktivitas seksual dan meningkatkan resiko invasi dari HPV.

Menjalankan gaya hidup yang sehat seperti tidak merokok atau mengkonsumsi alkohol karena zat yang terkandung dalam rokok maupun alkohol dapat menurunkan imunitas lokal pada serviks serta dapat bersifat karsinogenik. Menjaga kebersihan dari organ reproduksi wanita juga sangat penting karena kondisi organ yang tidak bersih, kelembaban dan pH yg tidak sesuai dengan batas normal juga akan meningkatkan resiko invasi HPV dan menjadi tempat berkembang biak yang baik bagi virus tersebut Melakukan screening (Pap SMEAR) dan vaksinasi HPV bagi wanita usia produktif ataupun wanita yang aktif dalam kegiatan seksual dan wanita dengan resiko tinggi terkena kanker serviks. Deteksi dini dan vaksinasi dilakukan dengan tujuan mencegah perkembangan sel-sel kanker di dalam serviks sehingga tidak menjadi ganas dan menimbulkan komplikasi bahkan kematian. Namun hambatan dalam melakukan screening dan vaksinasi adalah tingginya biaya admistrasi sehingga tidak dapat menjangkau semua kalangan.

ASUHAN KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN 1. Identitas pasien Nama, usia, alamat, jenis kelamin, status perkawinan, pekerjaan, jumlah anak, agama, dan pendidikan terakhir. 2. Keluhan utama: Perdarahan dan keputihan 3. Riwayat penyakit sekarang Pasien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau tetapi tidak gatal. Pada stadium awal klien tidak merasakan keluhan yang mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul keluhan seperti : perdarahan, keputihan dan rasa nyeri intra servikal. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat, misalnya keterlambatan keluarga untuk memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera, serta kurangnya pengetahuan keluarga. 4. Riwayat penyakit terdahulu. Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga, apakah pasien pernah mengalami hal yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi. Data yang perlu dikaji adalah : Riwayat abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat ooperasi kandungan, serta adanya tumor 5. Riwayat penyakit keluarga Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau penyakit menular lain. 6. Riwayat psikososial Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan bagaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks. Pola Kesehatan Fungsional : a) Aktivitas/Istirahat Gejala : Kelemahan/keletihan, anemia, Perubahan pada pola istirahat dan kebiasaan tidur pada malam hari, adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri,

ansietas,

keringat

malam.

Pekerjaan/profesi

dengan

pemajanan

karsinogen

lingkungan, tingkat stress tinggi. b) Integritas Ego Gejala : faktor stress, merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religius/spiritual, masalah tentang lesi cacat, pembedahan, menyangkal diagnosis, perasaan putus asa. c) Eliminasi Gejala : Pada kanker servik, perubahan pada pola devekasi, perubahan eliminasi urinarius misalnya : nyeri. d) Makanan dan Minuman Gejala : Pada kanker servik : kebiasaan diet buruk (ex : rendah serat, tinggi lemak, aditif, bahan pengawet, rasa). e) Neurosensori Gejala : pusing, sinkope f) Nyeri/Kenyamanan Gejala : adanya nyeri, derajat bervariasi misalnya : ketidaknyamanan ringan sampai nyeri hebat (dihubungkan dengan proses penyakit) g) Pernafasan Gejala : Merokok, Pemajanan abses h) Keamanan Gejala : Pemajanan pada zat kimia toksik, karsinogen Tanda : Demam, ruam kulit, ulserasi i) Seksualitas Gejala : Perubahan pola respon seksual, keputihan (jumlah, karakteristik, bau), perdarahan sehabis senggama (pada kanker serviks), Nullgravida lebih besar dari usia 30 tahun multigravida pasangan seks multiple, aktivitas seksual dini. j) Interaksi sosial Gejala : Ketidak nyamanan/kelemahan sistem pendukung, Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan), dukungan, bantuan, masalah tentang fungsi/tanggung jawab peran. k) Penyuluhan

Gejala : Riwayat kanker pada keluarga, sisi primer : penyakit primer, riwayat pengobatan sebelumnya (Doenges, 2000). Data subjektif berdasarkan kasus: Pasien mengeluh mengeluarkan darah pervaginam dan nyeri yang menjalar ke ekstremitas bawah dan lumbal Pasien mengatakan memiliki riwayat keputihan yang lama dan berbau menyengat Pasien mengatakan mengalami perdarahan di luar siklus haid dan post coital bleeding Pemeriksaan Fisik

Konjungtiva : Anemis Wajah : Pucat Abdomen Vagina Serviks : Distensi abdomen : Keputihan berbau,warna merah,perdarahan merah tua,berbau,dan : Ada nodul

kental

Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Patologi analogi Pemeriksaan diagnostic

Hb menurun, leukosit meningkat,trombosit meningkat Untuk memeriksa keganasan Pap smear, kalposkopi,biopsy kerucut,MRI atau CT-Scan abdomen ataupun pelvis

B. ANALISA DATA No 1 Data Fokus DS : Klien mengeluh nyeri yang menjalar ke ekstremitas bawah dan lumbal DO : Infiltrasi leukosit yg telah mati di serviks tekanan local di daerah serviks Infiltrasi mediator inflamasi perubahan keseimbangan asam-basa Nekrosis jaringan Etiologi Kanker Serviks Masalah Keperawatan Nyeri Kronis

Merangsang reseptor nyeri Nyeri berlangsung lama Menjalar ke ektremitas bawah dan lumbal Nyeri Kronis 2 DS : Klien mengeluh mengeluarkan darah pervaginam, riwayat keputihan yang lama Nekrosis jaringan Vaskularisasi Kanker Serviks PK Perdarahan

dan berbau menyengat, disertai perdarahan di luar siklus haid, dan adanya post coital bleeding DO : Perdarahan Destruksi PD

pd serviks Saat koitus terjadi gesekan penis pd serviks Pecahnya PD pd serviks Perdarahan post koitus

PK Perdarahan

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri Kronis berhubungan dengan ketunadayaan fisik kronis (ca serviks) ditandai dengan

keluhan nyeri 2. PK Perdarahan

Rencana Asuhan Keperawatan No 1. Diagnosa Nyeri Kronis berhubungan dengan ketunadayaan fisik kronis (ca serviks) ditandai dengan keluhan nyeri Tujuan dan Kriteria Hasil Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam diharapkan nyeri pasien dapat terkontrol, dengan kriteria hasil: NOC : Pain Control
Pasien mengetahui

Intervensi NIC : Pain Management 1. Lakukan termasuk karakteristik, presipitasi 2. Gunakan mengetahui nyeri pasien 3. Ajarkan manajemen nyeri 4. Ajarkan tentang teknik non farmakologi 5. Tingkatkan istirahat NIC : Analgesic Administration 1. Ketahui derajat nyeri lokasi, sebelum karakteristik, kualitas, dan memberikan pasien medikasi prinsip komunikasi terapeutik untuk pengalaman pengkajian nyeri secara komprehensif durasi,

Evaluasi S : klien mengatakan nyeri mampu dikontrol normal sebagian teknik P : lanjutkan intervensi

lokasi, O : TTV dalam rentang

frekuensi, kualitas dan faktor A : Intervensi tercapai

panjang nyeri yang dirasakan (skala 5)


Pasien menggunakan

analgetik untuk mengurangi nyeri (skala 5)


Pasien mengatakan

nyeri sudah terkontrol dengan teknik non farmakologis (skala 5) NOC : Pain Level
TD normal : 100-120 /

60-80 mmHg RR normal : 16 20

x/menit HR normal : 60 -100x /menit

2. Lakukan 3. Pilih sesuai

pengecekan yang

terhadap riwayat alergi analgesic atau kombinasikan

analgesic saat di resepkan anagesik lebih dari 4. Monitor tanda-tanda vital sebelum dan setelah diberikan analgesic dengan satu kali dosis atau tanda yang tidak biasa dicatat perawat 5. Evaluasi keefektian dari analgesic 2 PK : Perdarahan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ...x24 jam, perawat dapat meminimalkan komplikasi yang terjadi dengan kriteria hasil: Nilai Ht dan Hb berada dalam batas normal 2. Pantau 3. Lindungi hasil pasien lab b/d perdarahan terhadap Mandiri: 1. Kaji pasien untuk menemukan S : klien mengatakan perdarahan berkurang normal, Nilai Ht dan Hb dalam batas normal A : tujuan tercapai sebagian bukti-bukti O : TTV dalam rentang

perdarahan atau hemoragi

Klien tidak mengalami episode perdarahan

cedera dan terjatuh 4. Instruksikan membatasi diperlukan 5. Siapkan pasien secara fisik dan psikologis untuk menjalani bentuk terapi lain jika diperlukan Kolaborasi : Kolaborasi pemberian transfuse sesuai indikasi pasien aktivitas, untuk jika

P : lanjutkan intervensi

Tanda-tanda vital berada dalam batas normal (TD: 100-120 / 60-80 mmHg Nadi: 60 100 x/menit RR: 16 20 x/mnt Suhu 0,50C : 36 - 370C

DAFTAR PUSTAKA Bryant, E. (2012). The Impact of policy and screening on cervical cancer in england. British Journal of Nursing , Volume 21, s4-s10. Farrer, H. 2001. Perawatan Maternitas. Edisi 2. EGC. Jakarta Guyton. Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. EGC. Jakarta Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan, PenyakitKandungan dan Keluarga Berencana. EGC. Jakarta Mansyoer, A., Dkk. 1999. Kapita SeleKta Kedokteran. Media Aeskulapius FKUI. Jakarta Sarwono, P. 1994. Ilmu Kebidanan. Balai Penerbit UI. Jakarta Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Tridasa. Jakarta Bidus A.M., Elkas C.JJ, 2008. Cervical and Vaginal Cancer. Berek S.J., Berek & Novaks Gynecology 14th edition : Philadelphia. 1404 - 1412 http://cattycha.wordpress.com/2009/03/12/asuhan-keperawatan-kanker-cerviks/ (diakses : 20 Februari 2013) Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. (1994). Patofisiologi, Konsep Klinis Proses Proses Penyakit. Jakarta: Penerbit EGC. Joanne&Gloria. 2004. Nursing Intervension Classification Fourth Edition, USA : Mosby Elsevier Sue, Marion, Meridean, Elizabeth. 2008. Nursing Outcomes Classification Fourth Edition, USA : Mosby Elsevier T. Heather Herdman. 2011. NANDA Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 20092011, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC http://www.scribd.com/doc/77442630/askep-kanker-servik (akses tanggal 20 Februari 2013)