Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN 1. DEFINISI 1.

1 Pengertian Rumah Tinggal

Secara terminology rumah tinggal menurut KBBI adalah : Rumah : bangunan untuk tempat tinggal, bangunan yang pada

umumnya (seperti gedung). Tinggal : tetap, selalu ada, berdiam. secara umum adalah adalah bangunan yang

Pengertian Rumah tinggal

dijadikan sebagai tempat tinggal selama jangka waktu tertentu. Dalam arti khusus, rumah mengacu pada konsep-konsep sosial-

kemasyarakatan yang terjalin di dalam bangunan tempat tinggal, seperti keluarga, tempat bertumbuh, makan, tidur, beraktivitas, dll. (Wikipedia, 2012)

1.2 Pengertian dan Batasan Rumah Tinggal Rumah tinggal adalah sebuah wadah atau tempat yang menaungi penghuninya untuk dapat melakukan segala aktifitas-aktifitas pada umumnya, serta tempat untuk berlindung dari ancaman lingkungan luar. Sebuah rumah tinggal bukan hanya menjadi tempat melakukan segala aktifitas dan tempat berlindung, namun juga untuk menaungi anggota keluarga yang ada di dalamnya. Rumah tinggal juga merupakan suatu tempat bagi manusia untuk berlindung dari berbagai keadaan yang membahayakan dirinya. ( iklim, binatang buas dan musuh) serta sebagai wadah untuk membina keluarga dan melakukan segala rutinitas keseharian. Rumah juga berfungsi sebagai perwujudan status sosial seseorang. Selain itu, bisa juga menjadi tempat untuk mewadahi mata pencaharian seseorang, atau sebagai tempat bekerja. Rumah tinggal yang akan dirancang ini adalah rumah tinggal milik kepala Bank Indonesia cabang Kota Surakarta. Dimana dalam hal ini pemilik rumah adalah seorang yang sibuk dan memiliki kegiatan yang padat. Rumah tinggal bagi kepala Bank ini haruslah mampu untuk menaungi segala aktifitas keluarganya, aktifitas pekerjaannya, nyaman, serta aman.

1.3 Fungsi Rumah Tinggal

Rumah tinggal yang akan dirancang ini menjadi tempat untuk beristirahat bagi penghuninya. Rumah tinggal ini juga menjadi tempat untuk bertemunya keluarga, melakukan segala aktifitas keluarga bersama. Rumah ini juga sebagai sebuah perwujudan stasus social seseorang dengan lingkungan sekitarnya. Selain untuk dapat menaungi segala aktifitas maupun kegiatan dari penghuninya, rumah ini juga dirancang untuk dapat menyediakan tempat bagi pemilik rumah untuk bekerja di rumah. Karena sejatinya dalam hal ini pemilik rumah adalah seorang kepala bank Indonesia di Kota Surakarta yang memiliki kesibukan yang cukup padat dan menjadi orang terpandang di kota tersebut. Rumah yang akan dirancang ini diharapkan mampu menciptakan iklim yang selaras antara fungsi rumah sebagai hunian serta sebagai tempat untuk bekerja/ menyelesaikan pekerjaan kantor di rumah. Penyelarasan kedua aktifitas di dalam rumah tinggal tersebut juga menjadi hal utama dalam proses perancangan kali ini. Selain itu rumah juga berfungsi sebagai tempat berlindung dari iklim, cuaca, serta binatang buas.

1.4 Gambaran Mengenai Rumah Tinggal yang Akan Dirancang Rumah tinggal haruslah menjadi tempat yang dapat menaungi segala aktifitas penghuninya, mendekatkan antara satu anggota keluarga dengan yang lainnya, menjalin intensitas hubungan keluarga dengan kreatifitas perancangan kualitas ruang yang dihasilkan. Rumah tinggal juga harus menjadi tempat beristirahat yang nyaman untuk beristirahat total dan tidak banyak gangguan setelah lelah melakukan aktifitas kerja di luar. Rumah tinggal ini juga menjadi sebuah wadah yang kondusif serta nyaman untuk bekerja di dalam rumah oleh pemiliknya. Selain akan hal tersebut, harus adanya ruang bekerja yang dirancang sekondusif mungkin dan jauh dari jangkauan anak-anak serta memiliki kenyamanan yang cukup untuk membuat pemilik menjadi rileks ketika berada di dalam ruang bekerjanya ketika bekerja lembur. 2. LATAR BELAKANG Manusia tidak pernah lepas dari segala masalah yang berhubungan dengan tempat dimana manusia bernaung dan tinggal dalam kehidupannya sehari-hari. Bagi
2

manusia, tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar (basic need), disamping kebutuhannya akan pangan dan sandang. Maslow (1970) menyebutkan bahwa sesudah manusia terpenuhi kebutuhan jasmaninya, yaitu sandang, pangan, dan kesehatan, kebutuhan akan rumah atau tempat tinggal merupakan motivasi untuk pengembangan kehidupan yang lebih tinggi lagi. Tempat tinggal pada dasarnya merupakan wadah bagi manusia atau keluarga dalam melangsungkan kehidupannya. Peran tempat tinggal bagi kelangsungan kehidupan yang dinamis sangatlah mutlak karena tempat tinggal bukan lagi sekedar tempat untuk bernaung, tetapi juga merupakan tempat untuk melindungi diri dari kondisi alam yang tidak selamanya menguntungkan. Rumah ini dirancang untuk keluarga seorang kepala Bank Indonesia cabang Kota Surakarta yang aktivitasnya cukup padat. Tidak hanya aktivitas pribadi, tetapi juga aktivitas yang berhubungan dengan sosial. Rumah ini dibangun di era modern di mana segala sesuatu dituntut untuk compact, instan dan cepat. Rumah yang akan dirancang ini akan mengusung tema mediterania, dimana konsep ini akan menegaskan serta memberikan kesan mewah bagi penghuninya dan lingkungan sekitar. Rumah yang mengusung konsep mediterania ini merupakan cerminan dari kepribadian pemilik rumah yang termasuk dalam golongan ekonomi menengah ke atas. Rumah dituntut sebagai sebuah tempat yang serba ada, mampu menampung segala aktivitas baik itu rumah tinggal maupun sebagai kantor dan juga harus mampu mewadahi kegiatan sosial kemasyarakatan. Rumah Tinggal yang akan dirancang ini juga dirancang untuk dapat mengakrabkan hubungan antara keluarga serta meningkatkan intensitas kekeluargaan di dalamnya.

3. PERMASALAHAN Dari segi non arsitektural

Bagaimana merancang sebuah rumah tinggal kepala Bank Indonesia cabang kota Surakarta ini yang mampu untuk menaungi segala aktifitas penghuni di dalamnya, sehingga rumah tersebut menjadi rumah tinggal yang dapat memberikan kenyamanan dan kehangatan bagi anggota keluarga, disamping profesi pemiliknya sebagai kepala bank?

Bagaimana

merancang

sebuah

rumah

yang

dapat

menciptakan

serta

mengakbrabkan hubungan antar keluarga sehingga intensitas kekeluargaan di dalam keluarga tersebut dapat lebih berkualitas? Bagaimana merancang sebuah rumah tinggal yang nyaman, aman, serta indah dan menarik? Bagaimana menciptakan rumah yang akan dirancang ini mampu untuk menciptakan iklim yang selaras antara fungsi rumah sebagai hunian serta sebagai tempat untuk bekerja/ menyelesaikan pekerjaan kantor di rumah? Bagaimana merancang sebuah rumah yang juga berfungsi sebagai perwujudan dari status sosial pemiliknya?

Dari segi arsitektural Bagaimana pengolahan site serta denahnya agar terjadi sebuah keserasian antara kegiatan profesi dengan kegiatan keluarga pemilik rumah tinggal tersebut? Bagaimana system peruangan di dalamnya, sirkulasi, serta besaran ruang agar rumah tersebut terlihat padu/ menyatu dengan konsep mediterania? Bagaimana menghadirkan sebuah keterpaduan antara unsur alami dengan konsep mediterania? Bagaimana menentukan perbedaan ruang profesi/bekerja dengan ruang-ruang untuk segala aktifitas keluarga lainnya? Bagaimana system struktur, serta konstruksi dan utilitas dari rumah tinggal yang akan dirancang tersebut?

4. TUJUAN DAN SASARAN 4.1 Tujuan Membuat serta menyusun konsep sebagai dasar dalam perancangan rumah tinggal untuk Kepala Cabang Bank Indonesia Kota Surakarta yang serba ada dan mampu untuk menampung segala aktifitas keluarga serta aktifitas yang berhubungan dengan profesi pemiliknya serta mampu untuk meningkatkan kualitas intensitas keakraban kekeluargaan dalam keluarga tersebut dengan mengusung keselarasan hunian antara unsur alam dan unsur mediteranian.

4.2 Sasaran Hal-hal yang ingin dicapai di dalam perancangan rumah tinggal seorang kepala bank yakni dapat menentukan konsep mengenai : 1. Macam aktivitas 2. Hubungan ruang dengan organisasi 3. Penzooningan 4. Pemilihan site 5. Besaran ruang 6. Tata masa 7. Pengolahan tapak 8. Eksplorasi bentuk bangunan

5. METODE PEMBAHASAN 5.1 Penyajian Pola Pikir Pembahasan mengenai beberapa proses perencanaan dan perancangan rumah tinggal Kepala Bank Indonesia cabang Kota Surakarta ini dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu: 1). Pengumpulan Data Dalam merencanakan dan merancang sebah bangunan/ hunian dibutuhkan berbagai macam data yang relevan. Data-data yang dibutuhkan tersebut dibedakan menjadi: a. Data Primer Merupakan penyajian data pokok/utama yang dijadikan bahan dasar dalam perencanaan dan perancangan rumah tinggal seorang Kepala Bank Indonesia cabang Kota Surakarta. b. Data Sekunder Merupakan data tambahan/ pelengkap yang digunakan sebagai pendukung. Dalam tahapan proses pengumpulan data-data tersebut hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
5

a). Survey Metode survey ini bersifat kemandirian penulis yang bertujuan untuk mendapatkan data-data yang akurat yang dibutuhkan di lapangan. b). Studi Literatur Pada proses ini, perancang mencoba mencari data melalui sumber buku-buku referensi dan situs-situs internet yang terkait dengan judul yang diajukan. c). Studi Komparasi Untuk lebih mendukung obyek pembahasan selanjutnya, perancang melalui studi banding dari obyek bangunan yang telah ada. Hal ini dapat digunakan sebagai pembanding serta memperbanyak

pengetahuan dari kasus yang diambil dari judul. d). Analisa Data Dalam proses perencanaan dan perancangan rumah tinggal Kepala Bank Indonesia cabang Kota Surakarta ini, pada tahapan analisa akan dilakukan pengolahan data-data yang telah terkumpul dan

dikelompokkan berdasarkan pemrograman fungsional, performansi, dan arsitektural. Analisa Fungsional bertujuan untuk mengidenifikasi penggunaan rumah tinggal, termasuk kegiatan pengguna, kebutuhan dan aktivitas di dalam rumah tinggal tersebut. Analisa Performansi membahas tentang persyaratan atau kriteria persyaratan dan program ruang dalam bangunan rumah tinggal. Analisa Arsitektural

merupakan tahap penggabungan dari hasil identifikasi kedua hasil analisa sebelumnya (fungsional dan performansi). Dalam proses ini akan menganalisa masalah massa, ruang, tampilan, pengolahan site, utilitas, dan struktur bangunan yang menyatukan antara tuntutan kebutuhan pengguna dengan persyaratan yang ada.

e). Konsep Perencanaan dan Perancangan Dari proses analisa dan sintesa arsitektural akan dihasilkan beberapa konsep yaitu konsep tampilan bangunan, konsep utilitas, serta konsep struktur bangunan. 5.2 Penyajian Data Fisik dan Non Fisik Data yang dibutuhkan dikumpulkan melalui observasi (tinjauan langsung ke lokasi objek), ditambah dengan dilakukannya wawancara yang sesuai dengan tujuan dan sasaran yang akan diperlukan. Selain itu juga menjadi bahan literatur yang menunjang teori-teori tentag objek yang dibahas (studi literatur). Data tersebut dibagi dan dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu data fisik dan non fisik. 1. Data fisik, meliputi lokasi site, ukuran site, denah peruangan, bentuk atau tampak bangunan, potongan, interior atau eksterior, utilitas, struktur dan konstruksi, material bahan dan sebagainya. 2. Data non fisik, meliputi aktivitas user, jenis kelamin, pekerjaan, karekteristik, umur, latar belakang, religi, dan sebagainya.

BAB II TINJAUAN TEORI

Rumah tinggal sejatinya adalah bangunan yang dipergunakan/ditinggali dalam jangka waktu tertentu. Dengan pengertian demikian, maka disini perlu dirancang sebuah hunian yang dapat menciptakan pemiliknya menjadi nyaman, aman, dan merasa rileks ketika berada di dalam hunian pribadinya. Kenyamanan yang akan ditimbulkan tersebut diwujudkan dengan penerapan konsep mediterania pada perancangan hunian tempat tinggal seorang kepala bank Indonesia cabang kota Surakarta ini. Banyak hal yang akan dilakukan dalam proses perancangan desain hunian kali ini. Dengan berkiblat pada konsep mediterania ini diharapkan akan dihadirkan serta diciptakan sebuah hunian yang berbeda dengan hunian lainnya. Sejatinya hunian yang berhasil baik secara desain maupun secara fungsional serta kenyamanan adalah hunian yang menyesuaikan dengan lokasi di mana hunian tersebut berdiri. Hunian selayaknya didesain selaras dengan kondisi lingkungan sekitar. Dengan demikian keadaan iklim di Indonesia yang beriklim tropis ini, juga mendukung konsep perencanaan rumah tinggal kepala bank Indonesia cabang Kota Surakarta ini. Perancangan pada hunian kali ini juga ikut memperhatikan dari segi profesi pemilik rumah tinggal ini sebagai seorang sosok yang cukup memiliki serta mendapat perhatian khusus di daerahnya. Oleh karena itu penggabungan antara kegiatan yang berhubungan dengan profesi pemilik dengan pelaksanaan kegiatan-kegiatan para penghuni rumah tinggal yang lainnya sangatlah perlu dilakukan, agar tetap menjalin intensitas hubungan keluarga dengan kreativitas perancangan kualitas ruang yang dihasilkan. Bentuk dasar dari rumah tinggal Mediterania ini dapat diketahui bahwa bentuk pada bangunan tersebut merupakan bentuk bangunan hasil dari penyesuaian dengan keadaan lingkungan serta iklim dan keadaan geografis pada negara negara di sekitar laut Mediterania seperti negara negara kawasan Eropa selatan. Seperti telah diketahui sebelumnya, bahwa keadaan geografis, iklim serta budaya pada masing
8

masing kawasan di sekitar pesisir laut Mediterania sangat berpengaruh pada bentukan arsitektur Mediterania sendiri. Dari segi arsitektur, ada dua hal yang menonjol pada gaya bangunan di Laut Mediterania, yaitu perpaduan antara budaya Barat dan Timur serta gaya bangunan yang khas yang berlokasi di kawasan pesisir, yang dikelilingi pulau - pulau. Secara keseluruhan bangunan bergaya Mediterania menciptakan kesan hangat, kokoh, tetapi tetap dinamis. Bangunan Mediterania memiliki ciri ciri khusus pada elemennya, seperti : a. Kolom Kolom pendukung yang sering digunakan adalah kolom yang terbuat dari batubata, sebagai bagian dari kolonade biasanya mengelilingi patio, kolom satu dengan yang lain dihubungkan dengan balok berbentuk semi sirkular (arches) dilengkapi dengan mahkota dan alas kolom sederhana. b. Atap Bentuk atap yang biasa digunakan adalah bentuk atap pelana, meskipun disana-sini ditemukan bentuk atap perisai. Dan kebanyakan bangunan menggunakan tritisan yang dalam (deep eaves). Genteng yang menutup bagian atas listplank masih menyisakan listplank dibagian bawahnya. c. Dinding Bahan dinding yang menjadi ciri khas bangunan Mediterania adalah tanah liat yang dibakar (adobe), yang tiap kali disegarkan kembali dengan dicampur cat kapur (whitewasher). Di Amerika dinding batubata yang dibakar merupakan bahan bangunan pilihan dan penggunaan batu alam lebih banyak dipakai (terutama Mexico, Texas, California, dan juga New York). Penggunaan bahan-bahan alam diselesaikan tanpa finishing. Apabila dinding tersebut diselesaikan, maka plesteran dibuat tidak rata sehingga menimbulkan karakter tekstur yang kasar. Karakter dinding yang berat hadir dengan adanya konstruksi dinding tebal.Pada awalnya bangunan bergaya arsitektur Mediterania, memiliki citra polos dan sederhana. Ada yang menyebut bangunan asal Spanyol ini berwajah bleak and blare. d. Jendela Jendela-jendela biasanya berukuran relatif kecil dan berbentuk persegi panjang atau kotak-kotak kecil. Kadang-kadang dengan ujung bagian atas berbentuk lengkungan. Jendela biasanya dilengkapi dengan kisi-kisi yang
9

terbuat dari kayu atau besi tempa. Angin-angin yang berbentuk lingkaran banyak juga menjadi bagian dari penampilan wajah bangunan berarsitektur Mediterania e. Pintu masuk utama Pintu masuk utama (doorway) memiliki bentukan terutama karena pengaruh-pengaruh Bizantium, Spanish Gotthic dan bentuk pintu masuk yang paling sering digunakan adalah bentuk Spanish Renaissance. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa pintu masuk utama berbentuk persegi empat biasa dengan angin-angin berbentuk semi-sirkular atau persegi empat. lukisan. Bingkai atau frame pada lubang pintu ini tidak hanya pada pintu masuk utama saja, tetapi berlaku untuk semua pintu dan bahkan jendela. f. Balkon Balkon tipe continous biasanya ditemukan pada bagian patios atau courts, balkon ini biasanya digunakan untuk koridor terbuka yang menghubungkan dua sayap bangunan.

Tentunya tidak hanya dibutuhkan mengenai konsep yang matang saja dalam proses perancangan rumah tinggal seorang kepala bank ini, namun juga dibutuhkan kepahaman seorang arsitek mengenai teori-teori dasar dalam perancangan sebuah bangunan. Sehingga keselarasan dan kepaduan mengenai kemenarikan konsep dan kesesuaian perancangan bangunan tersebut dengan teori-teori yang telah ada, akan mengantarkan kepada hasil yang memuaskan serta menakjubkan bagi arsitek (perancang) dan juga bagi pemilik rumah tersebut. Teori-teori dasar dalam perancangan dalam rumah tinggal kali ini dapat dimulai dalam sebuah konteks terkecil pada sebuah bangunan, yaitu ruang. Ruang dalam arsitektur menjadi hal yang sangatlah penting karena perwujudan nyata dari arsitektur adalah ruang. Ruang bukan hanya sesuatu yang memiliki batasan fisik, namun juga dapat berupa batasan secara visual. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Francis D.K ching, kita banyak dilatih untuk lebih peka terhadap kehadiran ruang. Hal ini sangatlah ditekankan karena seperti pada paragraf sebelumnya yaitu ruang adalah hal pokok dalam sebuah perwujudan arsitektur. Secara sederhana juga, dalam hal ini penulis juga melatih kita dengan mengamati dan melihat perhatian pada sebuah figur. Setelah itu kita
10

memfokuskan segala perhatian serta pandangan kita tertuju pada figur tersebut. Dengan perlahan kita mencoba untuk bergeser dan mengalihkan pandangan ke daerah yang lainnya yang terdapat di sekitar fokus figur kita yang pertama tadi. Dengan demikian, kita dapat memahami perbedaan yang signifikan terhadap figur yang kita amati dengan lingkungan sekitar. Perbedaan dengan batas-batas tertentu itu bisa disebut dengan ruang, walaupun tidak dibatasi dengan sesuatu yang bersifat fisik. Namun tidak hanya asal saja kita bisa menyebut suatu hal itu ruang. Ruang tetap memiliki unsur, serta batasan-batasan kenapa sesuatu hal itu bisa disebut dengan ruang. Unsur pembentuk ruang itu sendiri adalah berupa bidang bawah, bidang atas, serta unsur vertikal yang melingkupi bidang tersebut. Kembali kepada penjelasan di atas yang menyatakan bahwa unsur-unsur itu tidak harus berupa sesuatu yang konkret secara fisik saja. Seperti kolom, dinding, atap, dan lain sebagainya. Tentunya jika ruang tidak hanya bisa terbentuk dengan batasan fisik saja, pasti ruang juga bisa terbentuk dari batasan non fisik atau yang lebih dikenal dengan unsur imajiner. Unsur-unsur tersebut dapat berupa bayangan, suara, bau, dan lain sebagainya. Setelah kita telah mengetahui batasan, serta unsur-unsur pembentuk ruang, maka kita diharapkan untuk bisa menciptakan sebuah ruang yang berkualitas dan berbeda serta memiliki kemenarikan tersendiri. Keasahan kita mengenai ruang akan terus diasah dan dipertajam lagi dalam buku karya Francis D.K Ching ini. Selain ruang, berlanjut lebih dalam lagi mengenai konsep dasar dalam perancangan sebuah bangunan yaitu mengenai hubungan-hubungan antara ruang satu dengan ruangan yang lain. Hal ini juga perlu diperhatikan, karena jika kita tidak memperhatikan serta mempertimbangkan mengenai hubungan antar ruang, maka denah dalam perancangan kita tersebut tidak akan ditemui sebuah kejelasan, dan kesinambungan antara satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini, hubungan antar ruang dapat berupa ruang dalam ruang, ruang bersebelahan, ruang yang saling berkaitan, serta ruang yang dihubungkan oleh ruang bersama. Hubungan yang terjadi tersebut bisa menyebabkan hubungan antar ruang menjadi dikuatkan, mengaburkan bahkan ada yang saling berjalan beriringan. Setelah kita mengetahui tentang hubungan-hubungan ruang, kita juga patut untuk mengetahui mengenai organisasi-organisasi yang dimiliki oleh ruang. Dalam hal ini tidak hanya bentuk saja yang memiliki organisasi, ruangpun di dalam dunia arsitektur juga mengenal adanya organisasi, atau yang lebih dikenal dengan organisasi ruang. Organisasi tersebut berupa organisasi linier, grid, cluster, terpusat serta radial.
11

Organisasi ruang ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, hanya berbeda pada pengaplikasiaanya, yaitu pada ruang dalam sebuah desain atau bangunan. Dalam buku ini penulis juga menyajikan banyak contoh dalam penggolongan organisasi ruang, sehingga indra kita lebih terlatih dan lebih peka untuk mengidentifikasi maupun merancang sebuah ruang dengan organisasi tertentu. Ulasan-ulasan di atas hanyalah sekelumit ilmu tentang bagaimana mendesain sebuah bangunan agar tercipta sebuah kepaduan antar ruang yang ada di dalamnya, keselarasan, serta kemenarikan tersendiri. Namun ada hal lain yang patut untuk diperhatikan juga dalam proses perancangan bangunan, selain hal-hal yang disebutkan di atas. Hal tersebut yaitu berupa strategi desain yang kita terapkan dalam bangunan kita, agar tercipta sebuah kenyaman thermal pada bangunan rancangan kita tersebut. Karena sejatinya iklim di Indonesia yang tropis ini juga menghendaki kita untuk dapat membuat sebuah inovasi baru yang dapat mengatasi permasalahan iklim yang ada di negara ini. Secara geografis Indonesia berada dalam garis khatulistiwa atau tropis, namun secara thermis (suhu) tidak semua wilayah Indonesia merupakan daerah tropis. Daerah tropis menurut pengukuran suhu adalah daerah tropis dengan suhu rata-rata 20oC, sedangkan rata-rata suhu di wilayah Indonesia umumnya dapat mencapai 35oC dengan tingkat kelembaban yang tinggi, dapat mencapai 85% (iklim tropis panas lembab). Keadaan ini terjadi antara lain akibat posisi Indonesia yang berada pada pertemuan dua iklim ekstrim (akibat posisi antara 2 benua dan 2 samudra), perbandingan luas daratan dan lautannya, dan lain-lain. Kondisi ini kurang menguntungkan bagi manusia dalam melakukan aktifitasnya sebab produktifitas kerja manusia cenderung menurun atau rendah pada kondisi udara yang tidak nyaman seperti halnya terlalu dingin atau terlalu panas. Suhu nyaman thermal untuk orang Indonesia berada pada rentang suhu 22,8C - 25,8C dengan kelembaban 70%. Langkah yang paling mudah untuk mengakomodasi kenyamanan tersebut adalah dengan melakukan pengkondisian secara mekanis (penggunaan AC) di dalam bangunan yang berdampak pada bertambahnya penggunaan energi (listrik). Cara yang paling murah memperoleh kenyamanan thermal adalah secara alamiah melalui pendekatan arsitektur, yaitu merancang bangunan dengan mempertimbangkan orientasi terhadap matahari dan arah angin, pemanfaatan elemen arsitektur dan material bangunan, serta pemanfaatan elemen-elemen lansekap.

12

Indonesia mempunyai iklim tropis dengan karakteristik kelembaban udara yang tinggi (dapat mencapai angka 80%), suhu udara relatif tinggi (dapat mencapai hingga 35_C), serta radiasi matahari yang menyengat serta mengganggu. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana menciptakan kenyamanan termal dalam bangunan dalam kondisi iklim tropis panas lembab seperti di atas. Idealnya, sebuah bangunan mempunyai nilai estetis, yang berfungsi sebagaimana tujuan bangunan tersebut dirancang, memberikan rasa aman (dari gangguan alam dan manusia/makhluk lain), serta memberikan kenyamanan. Berada di dalam bangunan kita berharap tidak merasa kepanasan, tidak merasa kegelapan akibat kurangnya cahaya, dan tidak merasakan bising yang berlebihan. Setiap bangunan diharapkan dapat memberikan kenyamanan termal, visual dan audio. Pengkondisian lingkungan di dalam bangunan secara arsitektural dapat dilakukan dengan mempertimbangkan perletakan bangunan (orientasi bangunan terhadap matahari dan angin), pemanfaatan elemen-elemen arsitektur dan lansekap serta pemakaian material/bahan bangunan yang sesuai dengan karakter iklim tropis panas lembab. Melalui ke-empat hal di atas, temperatur di dalam ruangan dapat diturunkan beberapa derajat tanpa bantuan peralatan mekanis. Hal- hal tersebut menjadi hal yang perlu diperhatikan juga dalam proses perancangan, karena akan mempengaruhi kenyamanan penghuni dalam rumah/ bangunan tersbut. Hal pertama yaitu mengenai orientasi bangunan terhadap matahari. Orientasi bangunan terhadap matahari akan menentukan besarnya radiasi matahari yang diterima bangunan. Semakin luas bidang yang menerima radiasi matahari secara langsung, semakin besar juga panas yang diterima bangunan. Dengan demikian, bagian bidang bangunan yang terluas (mis: bangunan yang bentuknya memanjang) sebaiknya mempunyai orientasi ke arah Utara-Selatan sehingga sisi bangunan yang pendek, (menghadap Timur Barat) yang menerima radiasi matahari langsung. Kemudian menginjak ke hal kedua yaitu mengenai orientasi bangunan terhadap angin. Kecepatan angin di daerah iklim tropis panas lembab umumnya rendah. Angin dibutuhkan untuk keperluan ventilasi (untuk kesehatan dan kenyamanan penghuni di dalam bangunan). Ventilasi adalah proses dimana udara bersih (udara luar), masuk (dengan sengaja) ke dalam ruang dan sekaligus mendorong udara kotor di dalam ruang ke luar. Ventilasi dibutuhkan untuk keperluan oksigen bagi metabolisme tubuh, menghalau polusi udara sebagai hasil proses metabolisme tubuh (CO2 dan bau) dan kegiatan-kegiatan di dalam bangunan. Untuk
13

kenyamanan, ventilasi berguna dalam proses pendinginan udara dan pencegahan peningkatan kelembaban udara (khususnya di daerah tropika basah), terutama untuk bangunan rumah tinggal. Kebutuhan terhadap ventilasi tergantung pada jumlah manusia serta fungsi bangunan. Posisi bangunan yang melintang terhadap angin primer sangat dibutuhkan untuk pendinginan suhu udara. Jenis, ukuran, dan posisi lobang jendela pada sisi atas dan bawah bangunan dapat meningkatkan efek ventilasi silang (pergerakan udara) di dalam ruang sehingga penggantian udara panas di dalam ruang dan peningkatan kelembaban udara dapat dihindari. Jarang sekali terjadi orientasi bangunan yang baik terhadap matahari sekaligus arah angin primer. Penelitian menunjukkan, jika harus memilih (untuk daerah tropika basah seperti Indonesia), posisi bangunan yang melintang terhadap arah angin primer lebih dibutuhkan dari pada perlindungan terhadap radiasi matahari sebab panas radiasi dapat dihalau oleh angin yang berhembus. Kecepatan angin yang nikmat dalam ruangan adalah 0,1 0,15 m/detik. Besarnya laju aliran udara tergantung pada: Kecepatan angin bebas Arah angin terhadap lubang ventilasi Luas lubang ventilasi Jarak antara lubang udara masuk dan keluar Penghalang di dalam ruangan yang menghalangi udara Pola aliran udara yang melewati ruang tergantung pada lokasi inlet (lobang masuk) udara dan shading devices yang digunakan di bagian luar. Secara umum, posisi outlet tidak akan mempengaruhi pola aliran udara. Untuk menambah kecepatan udara terutama pada saat panas, bagian inlet udara ditempatkan di bagian atas , luas outlet sama atau lebih besar dari inlet dan tidak ada perabot yang menghalangi gerakan udara di dalam ruang. Gerakan udara harus diarahkan ke ruang ruang yang membutuhkan atau ruang keluarga. Bukaan jendela (Jalousie atau louvered akan membantu udara langsung ke tempat-tempat yang membutuhkan. Memberi ventilasi pada ruang antara atap dan langit-langit (khususnya bangunan rendah) sangat perlu agar tidak terjadi akumulasi panas pada ruang tersebut. Panas yang terkumpul pada ruang ini akan ditransmisikan ke ruang di bawah langit-langit tersebut. Ventilasi atap sangat berarti untuk mencapai suhu ruang yang rendah.
14

Ventilasi yang baik adalah yang berjalan alamiah. Jika ventilasi alamiah tidak dapat berjalan lancar, maka barulah dibutuhkan ventilasi dengan pertolongan alat. Prinsip ventilasi adalah udara mengalir dengan sendirinya dari bagian-bagiannya yang bertekanan tinggi ke arah yang bertekanan rendah. Perbedaan tekanan dapat dicapai oleh perbedaan suhu yang horizontal menimbulkan perbedaan tekanan dan vertikal menimbulkan perbedaan berat jenis. Ventilasi horizontal disebabkan oleh arus angin yang datang horizontal dari pihak sumber angin. Gejala ini bisa timbul bagus, bila ada sisi rumah yang sengaja kita buat relatif lebih panas dan ada pihak lain yang sejuk. Berikut ilustrasinya :

Gambar 1. Skema aliran angin di sekitar bangunan

Pada bukaan-bukaan yang kita rancang dalam sebuah bangunan, hendaklah kita menerapkannya dengan sistem croos ventilation ( ventilasi silang). Di mana hal ini akan sangat memungkinkan penghawaan dalam sebuah ruang/ bangunan menjadi lebih lancar, sehingga akan menjadikan udara yang ada menjadi lebih sejuk karena penerapan cross ventilation ini.

15

Gambar 2 : Skema ventilasi silang

Gambar 3 : Skema ventilasi silang pada rumah / bangunan bertingkat

Dalam ilustrasi tersebut terlihat jelas jika penghawaan dan pertukaran udara dalam ruangan yang menerapkan sistem cross ventilation akan lebih sejuk daripada ruangan / bangunan yang tidak menerapkan sistem ini. Dalam gambar tersebut juga dapat kita lihat adanya pertukaran udara yang terus berputar dan tidak ada yang memutar atau berhenti dalam ruangan saja. Hal ini tentunya memberikan efek positif bagi penghawaan serta sirkulasi udara dalam sebuah ruangan/ bangunan.

16

Selain mengatur letak serta penggunaan ventilasi dalam sebuah bangunan, kita juga bisa memberikan alternatif lain untuk mencapai sebuah kenyamanan thermal pada sebuah bangunan. Yaitu dengan menggunakan elemen-elemen arsitektur tambahan. Seperti elemen arsitektur yang digunakan untuk melindungi dari sinar matahari. Apabila posisi bangunan pada arah Timur dan Barat tidak dapat dihindari, maka pandangan bebas melalui jendela pada sisi ini harus dihindari karena radiasi panas yang langsung masuk ke dalam bangunan (melalui bukaan/kaca) akan memanaskan ruang dan menaikkan suhu/temperatur udara dalam ruang. Di samping itu efek silau yang muncul pada saat sudut matahari rendah juga sangat mengganggu. Gambar di bawah adalah elemen arsitektur yang sering digunakan sebagai pelindung terhadap radiasi matahari (solar shading devices).

Gambar 4 : Elemen arsitektur pelindung dari sinar matahari

Elemen-elemen arsitektur tersebut merupakan salah satu cara untuk menghalau datangnya sinar matahari, sehingga kenyamanan thermal dalam sebuah bangunan dapat terwujud. Selain menggunakan elemen-elemen arsitektur, kita juga bisa memanfaatkan vegetasi yang ada di sekitar bangunan, untuk memberikan kenyamanan thermal secara alami. Keberadaan pohon secara langsung/tidak langsung akan menurunkan suhu udara di sekitarnya, karena radiasi matahari akan diserap oleh daun untuk proses fotosintesa dan penguapan. Efek bayangan oleh vegetasi akan menghalangi pemanasan permukaan bangunan dan tanah di bawahnya. Lippsmeier memperlihatkan suatu hasil penelitian di Afrika selatan, pada ketinggian 1m di atas permukaan perkerasan (beton) menunjukkan suhu yang lebih tinggi sekitar 4C dibandingkan

17

suhu pada ketinggian yang sama di atas permukaan rumput. Perbedaan ini menjadi sekitar 5C apabila rumput tersebut terlindung dari radiasi matahari.

Gambar 5 : Skema pohon yang berjarak 1,5 meter dari bangunan

Gambar 6 : Skema pohon yang berjarak 3 meter dari bangunan

Gambar 7 : Skema pojon yang berjarak 9 meter dari bangunan

Dari ilustrasi di atas dapat kita ketahui bahwa penempatan pohon ( vegetasi ) juga akan mempengaruhi datangnya angin yang memasuki bangunan kita. Karena itulah kita dapat memanfaatkan letak dari sebuah vegetasi untuk mendapatkan kenyamanan alami dalam sebuah bangunan. Selain hal-hal di atas kita juga dapat mendapatkan suatu kenyaman dalam sebuah bangunan dengan memperhatikan material bangunan yang kita gunakan. Ini berfungsi agar pengaplikasian material yang kita inginkan tidak salah tempat, dan tidak salah dalam penggunaan. Kadang material yang dirasa bagus, tidak pas kita
18

terapkan pada desain bangunan kita, mengingat letak, fungsi dari material tersebut bisa membuat kondisi dalam bangunan menjadi tidak nyaman. Itulah mengapa pemilihan material bangunan juga sangatlah diperhatikan untuk mendapatkan kenyaman dalam sebuah hunian atau bangunan. Dapat disimpulkan juga, kondisi ideal yang harus dibuat untuk menciptakan bangunan nyaman secara termal adalah sebagai berikut: - Teritis atap/Overhang cukup lebar - Selubung bangunan (atap dan dinding) berwarna muda (memantulkan cahaya) - Terjadi Ventilasi Silang - Bidang bidang atap dan dinding mendapat bayangan cukup baik - Penyinaran langsung dari matahari dihalangi (menggunakan solar shading devices) untuk menghalangi panas dan silau. Berikut ilustrasinya :

Gambar 8 : Ilustrasi pencapaian kenyamanan dalam sebuah hunian

19

BAB III DATA DAN INFORMASI

III.1 DATA LOKASI DAN SITE III.1.1 LOKASI Lokasi pemilihan site kali ini berada di daerah Sumber, tepatnya di Jalan Kahuripan Utara Raya, Sumber, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Luasan site yang terpilih adalah 700m2, dengan ukuan 20m x 35m. Berikut sketsa situasi lokasi site terpilih.

20

III.1.2 KONDISI SITE Dalam observasi dan peninjauan lokasi site terpilih, keadaan lingkungan yang berada di kawasan sekitar site adalah : 1. Keadaan lingkungan terlihat sepi 2. Lokasi berada di samping SMP IT Nur Hidayah 3. Masih jarang kendaraan yang berlalulalang di depan atau di sekitar lokasi site 4. Penghawaan yang cukup sejuk karena lingkungan di sekitar lokasi site masih banyak vegetasi dan banyak lahan kosong yang digunakan untuk persawahan Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai keadaan site terpilih :

21

POTONGAN A-A

POTONGAN B-B

III. 2 STUDI PENGGUNA RUMAH TINGGAL III.2.1 Pengguna / User Dalam rumah tinggal yang akan direncanakan tersebut memiliki 5 orang penghuni/ pengguna. Pengguna dalam rumah tinggal tersebut adalah : 1. Ayah (Pemilik rumah tinggal sekaligus Kepala Bank) Berprofesi sebagai Kepala Bank cabang Kota yang mempunyai hobi membaca literatur ekonomi dan berolah raga. Menyukai rumah yang jauh dari kebisingan. 2. Ibu (Istri dari pemilik rumah) Berprofesi sebagai seorang ekonom dengan hobi membaca buku masakan, bercocok taman. Menyukai rumah yang terlihat megah atau bernuansa klasik. 3. Anak perempuan Sekarang sedang duduk dibangku kuliah semester III. Mempunyai hobi membaca buku pengetahuan umum.

22

4. Anak laki-laki Sekarang sedang duduk dibangku SMA kelas XI. Mempunyai hobi membaca buku dan bermain game online. 5. Pembantu Sudah bekerja sejak anak pertama duduk dibangku taman kanak-kanak.

III.2.2 Tabel Aktivitas PENGGUNA AYAH AKTIVITAS Bangun tidur Sholat Mandi Sarapan Persiapan kerja Parkir mobil Berangkat kerja Pulang kerja Rapat dengan staff Mandi Santai Istirahat / kumpul keluarga Membaca Menerima tamu Sholat + Qiroah Makan Membaca Bekerja Tidur WAKTU 04.00 04.30(5 X 1 hari) 06.30 07.00 07.00-08.00 08.00 08.00 15.30 15.30 (1x seminggu) 15.30 16.00 16.00 Pagi,siang, sore, malam Sewaktu-waktu 18.00-19.00 19.00 19.30 20.00 22.00
23

PENGGUNA IBU

AKTIVITAS
Bangun tidur Sholat Memasak Mandi Sarapan Persiapan kerja Parkir mobil Berangkat kerja Pulang kerja Mandi Santai Istirahat / kumpul keluarga Membaca Memasak Sholat + Qiroah Makan Membaca Bekerja Tidur

WAKTU
04.00 04.30(5 X 1 hari) 05.30 06.30 07.00 07.00-08.00 08.00 08.00 15.30 15.30 16.00 16.00 Pagi, siang, sore, malam 17.00 18.00-19.00 19.00 19.30 20.00 22.00 04.00 04.30 (5 X 1 hari) 05.30 06.00 06.00-07.00 07.00 06.30 15.00 24

ANAK

Bangun tidur

PEREMPUAN Sholat
Mandi Sarapan Persiapan kuliah Parkir Berangkat kuliah Pulang kuliah

Santai Istirahat/kumpul keluarga Membaca buku Mandi Sholat + Qiroah Makan Belajar Tidur

16.00 16.00 16.00 15.30 18.00-19.00 19.00 20.00 22.00 04.00 04.30 (5 X 1 hari) 05.30 06.00 06.00-06.30 06.30 06.30 14.00 14.00 14.15 14.30 16.00 16.00 16.00 Sore, malam 15.30 18.00-19.00 19.00 20.00 22.00 25

ANAK LAKILAKI

Bangun tidur Sholat Mandi Sarapan Persiapan sekolah Parkir Berangkat sekolah Pulang sekolah Istirahat Makan Tidur siang Santai Istirahat/kumpul keluarga Membaca buku Main computer Mandi Sholat + Qiroah Makan Belajar Tidur

PEMBANTU

Bangun tidur Sholat Mencuci baju Menjemur Memasak Sarapan Mencuci piring Membersihkan pekarangan Bersih-bersih rumah Memasak Makan Bersih-bersih ruang makan Mencuci piring Istirahat Menyetrika baju Membersihkan pekarangan Memasak Sholat + Qiroah Makan Mencuci piring Membersihkan rumah Tidur

04.00 04.30(5 X 1 hari) 05.45 06.00 07.00 07.30 08.00 09.00 11.00 12.15 13.00 13.30 14.00 15.00 16.00 17.00 18.00-19.00 19.00 19.30 20.00 Pagi, siang, sore, malam 22.00 Pagi, siang, sore, malam 16.00 16.30 18.00-19.00 19.00

TAMU/ RELASI

Datang bertamu Berbincang-bincang Istirahat / bersantai Mandi Sholat + Qiroah

26

Makan Membaca Tidur

19.30 20.00 22.00

27

BAB IV ANALISIS

IV.1 PERSYARATAN RUANG

1. TERAS Persyaratan ruang yang diperlukan pada teras yaitu memerlukan sinar matahari yang cukup ketika matahari terbit, pada malam hari teras juga membutuhkan cahaya buatan yang cukup. Penghawaan di teras juga perlu dan membutuhkan view dengan tingkat kebisingan yang cukup.

2. RUANG TAMU Persyaratan ruang yang diperlukan pada ruang tamu yaitu memerlukan sinar matahari yang cukup dan memerrlukan cahaya buatan dimalam hari. Penghawaan di ruang tamu juga diperlukan dengan adanya view yang terlihat yang memilikki tingkat kebisingan yang cukup.

3. RUANG KERJA Pada ruang kerja memerlukan persyaratan ruang dengan sinar matahari pagi yang cukup dan cahaya buatan pada malam hari sangat diperlukan karena kebutuhan aktivitas untuk bekerja. Pada tingkat kualitas penghawaan juga sangat diperlukan dan memiliki view yang cukup, ruang ini bersifat semi publik.

4. KAMAR TAMU Persyaratan ruang pada kamar tamu memerlukan sinar matahari pagi yang cukup dan dibutuhkan cahaya buatan pada malam hari sangat diperlukan. Tingkat penghawaan sangat diperlukan pada kamar tamu dan memiliki view yang cukup.

5. KAMAR MANDI TAMU/ UMUM Pada ruang ini diperlukan sinar matahari dan cahaya buatan malam yang cukup. Penghawaan sedikit diperlukan pada kamar mandi untuk sirkulasi udara dan tidak memerlukan view pada kamar mandi.

28

6. MUSHOLA Persyaratan ruang yang diperlukan yaitu sinar matahari dan cahaya buatan dimalam hari yang cukup. Penghawaan pada mushola diperlukan agar mushola tidak pengap. Pada mushola tidak memerlukan view dan tingkat kebisingan sangat diminimalisir karena untuk menjaga kekusyukan saat beribadah.

7. GAZEBO Pada ruang ini sinar matahari pagi tidak diperlukan sedangkan cahaya buatan diperlukan pada malam hari. Ruang ini bersifat terbuka dan sirkulasi udara sudah baik untuk kriteria penghawaan.

8. TAMAN Pada ruang ini sinar matahari diperlukan untuk fotosintesa tumbuhan. Cahaya buatan juga diperlukan pada malam hari.

9. RUANG TANGGA Persyaratan ruang pada ruang tangga diperlukan sinar matahari dan cahaya buatan yang cukup. Tingkat penghawaan dan view juga cukup dibutuhkan dengan tingkat kebisingan yang rendah.

10. KAMAR TIDUR UTAMA Pada kamar tidur anak diperlukan sinar matahari dan cahaya buatan yang cukup. Penghawaan juga cukup diperlukan untuk sirkulasi udara dan memiliki view yang baik dengan tingkat kebisingan yang rendah.

11. KAMAR TIDUR ANAK Pada kamar tidur anak diperlukan sinar matahari dan cahaya buatan yang cukup. Penghawaan juga cukup diperlukan untuk sirkulasi udara dan memiliki view yang baik dengan tingkat kebisingan yang rendah.

29

12. RUANG KELUARGA Pada ruang keluarga dibutuhkan sinar matahari dan cahaya buatan yang cukup. Penghawaan sangat diperlukan pada ruang ini, sebaiknya view di ruang keluarga tetap ada dengan tingkat kebisingan yang cukup.

13. RUANG DUDUK + BACA LT.2 Ruang duduk memerlukan sinar matahari yang cukup, sedangkan pada cahaya buatan pada malam hari sangat diperlukan yang berkaitan dengan fungsinya. Penghawaan juga sangat diperlukan dan view pun diperlukan pada ruang ini dengan tidak adanya kebisingan di sekitar ruang karena untuk menjaga ketenangan dalam membaca.

14. RUANG MAKAN Persyaratan ruang pada ruang makan diperlukan sinar matahari dan cahaya buatan. Pada penghawaan juga diperlukan pada ruang ini namun view dan kebisingan tidak begitu diperlukan.

15. CARPORT Pada carport, sinar matahari dan cahaya buatan cukup diperlukan keadaannya. Penghawaan tidak begitu diperlukan karena ruang yang bersifat terbuka.

16. GARASI Pada garasi, sinar matahari dan cahaya buatan cukup diperlukan keadaannya. Penghawaan cukup diperlukan untuk sirkulasi udara karena ruang yang bersifat tertutup.

17. DAPUR Persyaratan pada ruang ini, cukup diperlukan sinar matahari dan cahaya buatan. Penghawaan diperlukan untuk sirkulasi udara karena ruang yang berfungsi untuk memasak.

30

18. PANTRY Pada pantry, diperlukan sinar matahari dan cahaya buatan yang cukup. Tingkat penghawaan yang cukup diperlukan untuk sirkulasi udara karena ruang yang berfungsi untuk menyajikan makanan dan minuman.

19. KAMAR TIDUR PEMBANTU Pada kamar tidur pembantu diperlukan sinar matahari dan cahaya buatan yang cukup. Penghawaan juga cukup diperlukan untuk sirkulasi udara dan memiliki view yang baik.

20. KAMAR MANDI / WC PEMBANTU Pada ruang ini diperlukan sinar matahari dan cahaya buatan malam yang cukup. Penghawaan sedikit diperlukan pada kamar mandi untuk sirkulasi udara dan tidak memerlukan view pada kamar mandi.

21. TEMPAT CUCI + JEMUR Tempat cuci dan jemur sangat memerlukan sinar matahari karena terkait dengan fungsinya untuk menjemur, sdangkan cahaya buatan pada malam hari cukup diperlukan. Penghawaan yang berlebih tidak begitu diperlukan.

IV.2 ANALISIS TAPAK DAN RESPON TAPAK PADA SITE TERPILIH 1. Zone terhadap Pengelompokan Kegiatan dan Hirarki Ruang

PUBLIK

SEMI PRIVATE

PRIVATE

S E R V I S

Pada sisi utara tapak sesuai dengan aktivitas user digunakan sebagai zone publik kemudian diikuti dengan zone semi publik. Untuk aktivitas istirahat user diletakkan zone private setelah zone semi publik. Sebagai pelayanan terhadap user diletakkan zone service di site di sisi timur site.
31

2. Zone terhadap Kebisingan


Jalan Kahuripan Utara Raya, Sumber

BISING TENANG
AGAK TENANG

Sisi utara tapak mempunyai tingkat kebisingan yang tinggi karena merupakan jalur utama yang dilewati kendaraan. Pada gambar zone tingkat bising pada difungsikan sebagai zona publik dan semi public di mana menjadi area sirkulasi tuan rumah dan tamu. Zona tenang difungsikan sebagai zona private dan service dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah dan zona agak tenang difungsikan sebagai zona privat dengan tingkat kebisingan minimal sebagai tempat istirahat.

3. Zone terhadap Pencapaian


Jalan Kahuripan Utara Raya, Sumber
PUBLIK SEMI PUBLIK PRIVATE SERVICE

Dalam pencapaian sebuah hunian sebaiknya ruang publik diletakkan dibagian paling depan karena sebagai sirkulasi user dan kawan dari user. Selanjutnya diikuti oleh zone semi publik yang terletak setelah zone public, karena pada zone ini ruang bersifat tidak umum. Sebagai hunian / tempat istirahat pemilik / user diberikan zone private yang terletak setelah zone semi publik, agar user lebih tenang dalam beristirahat. Sebagai pelayanan user zone service diletakkan pada site paling belakang.

32

4. Zone terpilih

Sesuai dengan analisa pada zone aktivitas, kebisingan, dan pencapaian telah terpilih zone yang baik sebagai rumah hunian. Berurutan dari yang dekat dengan jalan yaitu zone publik, semi publik, private, dan semi private.

33