Anda di halaman 1dari 2

HEMODINAMIKA Definisi: ilmu mengenai pergerakan darah dan daya yang berperan di dalamnya.

Hemodinamika erat kaitannya dengan mekanisme sirkulasi dalam tubuh. Fungsi sirkulasi : memenuhi kebutuhan jaringan tubuh, untuk mentranspot zat makanan ke jaringan tubuh, untuk mentransport produk-produk yang tidak berguna, untuk menghantarkan hormon, dan lain sebagainya. Prinsip dasar yang mendasari keseluruhan fungsi dari sistem sirkulasi : 1. Kecepatan aliran darah ke setiap jaringan tubuh hampir selalu diatur sesuai dengan kebutuhan jaringan. 2. Curah jantung terutama dikendalikan oleh penjumlahan seluruh aliran darah setempat. Bila darah mengalir ke jaringan, darah akan segera kembali ke vena dan menuju jantung. Sehingga jantung berespon secara otomatis terhadap peningkatan aliran darah ini untuk pemompaan. Hal ini juga sangat memerlukan bantuan dari sinyal saraf khusus untuk pemompaan agar sesuai dengan jumlah aliran yang dibutuhkan. 3. Pada umumnya, tekanan arteri dikendalikan secara mandiri dengan pengaturan aliran darah setempat atau pengaturan curah jantung. Distensibilitas vaskular : daya regang pembuluh darah. Hal ini memiliki peranan penting dalam sistem sirkulasi. Misalnya sifat distensibilitas arteri memungkinkan arteri tersebut untuk menyalurkan curah jantung yang bersifat pulsatif (pulsasi adalah denyutan yang berirama misalnya yang terdengar pada jantung) dan menimbulkan pulsasi tekanan rata-rata. Hal ini akan menyebabkan aliran darah yang terus-menerus dan lancar. Secara anatomis, dinding arteri sifatnya lebih kuat daripada vena, sehingga vena lebih distensibilitas daripada arteri. Artinya dengan kenaikan tekanan tertentu akan menyebabkan peningkatan volume darah di sebuah vena 8 kali daripada di arteri yang berukuran sebanding. Komplians vaskular/kapasitansi vaskular adalah jumlah total seluruh darah yang dapat ditampung di bagian sirkulasi tertentu untuk setiap kenaikan tekanan dalam ml air raksa. Hal ini sangat penting dalam studi hemodinamika. Komplians vena sistemik 24 kali komplians arteri karena vena 8 kali lebih distensibel daripada daripada arteri, dan mempunyai volume 3 kali lebih besar. Jadi perhitungan dari komplians vaskuler itu sendiri adalah distensibilitas dikalikan dengan volumenya. Mikrosirkulasi adalah transport zat nutrisi ke jaringan dan pembuangan eskreta sel. Pada umumnya arteri pemberi makanan masuk ke organ yang disuplai akan bercabang 6-8 kali

sebelum jadi arteriol, dan ukurannya sekitar 10-15b mikrometer. Kemudian akan menjadi arteriol yang akan bercabang lagi sekitar 2 5 dan ukuranya sekitar 5-9 mikrometer. Atriol ini berotot sehingga memungkinkan perubahan pada ukuran diameternya. Dari arteriol akan berakhir pada arteriol terminal yang juga memiliki serabut otot, dan akhirnya menjadi kapiler. Di kapiler terdapat serabut otot yang mengelilinginya yang disebut sfingter prakapiler, yang fungsinya dapat membuka dan menutup sebagai jalan kapiler. Aliran darah dalam kapiler : darah umumnya tidak terus mnengalir ke kapiler darah, tapi alirannya dapat berhenti setiap beberapa detik atau beberapa menit yang disebut vasomotion. Faktor terpenting dalam vasomotion adalah kebutuhan jaringan akan suplai oksigen dan nutrien. Jika kebutuhannya meningkat maka aliran darah dalam kapiler itu juga akan meningkat. Difusi pada membran kapiler : fungsinya adalah untuk memindahkan zat-zat antara plasma dan cairan interstisial yang disebabkan oleh pergerakan termal molekul air dan zat terlarut dalam cairan, yaitu berbagai molekul dan ion yang mula-mula bergerak scara satu arah dan kemudian ke arah lainnya yang menumbuk secara acak ke setiap arah. Untuk zat zat yang larut lemak, maka akan berdifusi secara langsung melalui endotel kapiler, sedangkan zat-zat yang tidak larut lemak maka hanya bisa melewati pori-pori antarsel pada membran kapiler. Seperenam dari volume tubuh kita terdiri atas ruang n-ruang antar jaringan yang disebut interstisium dan cairan yang terdapat di dalamnya adalan cairan interstisial. Filtrasi cairan yang melewati kapiler ditentukan oleh beberapa faktor antara lain tekanan hidrostatik yang cenderung mendorong cairan atau zat-zat terlarutnya lewat pori-pori kapiler ke ruang interstisial. Kemudian faktor kedua adalah tekanan osmotik koloid protein plasma yang cenderung menimbulkan pergerakan cairan secara osmosis dari interstisium ke darah. Dan faktor yang terakhir adalah koefisien filtrasi kapiler.