Anda di halaman 1dari 17

KARAKTERISASI JAMUR MAKROMORFOLOGI DAN MIKROMORFOLOGI SERTA KOLEKSI JAMUR MAKROSKOPIS

Oleh: Nama Nim Kelompok Rombongan Asisten : : : : : Tyta Ajrina B1J010027 2 V Wasmid

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI JAMUR MAKROSKOPIS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Istilah jamur berasal dari bahasa Yunani, yaitu fungus (mushroom) yang berarti tumbuh dengan subur. Istilah ini selanjutnya ditujukan kepada jamur yang memiliki tubuh buah serta tumbuh atau muncul di atas tanah atau pepohonan. Organisme yang disebut jamur bersifat heterotrof, dinding sel spora mengandung kitin, tidak berplastid, tidak berfotosintesis, tidak bersifat fagotrof, umumnya memiliki hifa yang berdinding yang dapat berinti banyak (multinukleat), atau berinti tunggal (mononukleat), dan memperoleh nutrien dengan cara absorpsi. Jamur mempunyai dua karakter yang sangat mirip dengan tumbuhan yaitu dinding sel yang sedikit keras dan organ reproduksi yang disebut spora. Dinding sel jamur terdiri atas selulosa dan kitin sebagai komponen yang dominan. Kitin adalah polimer dari gugus amino yang lebih memiliki karakteristik seperti tubuh serangga daripada tubuh tumbuhan. Spora jamur terutama spora yang diproduksi secara seksual berbeda dari spora tumbuhan tinggi secara penampakan (bentuk) dan metode produksinya.

B. Tujuan 1. Mengetahui cara melakukan karakterisasi jamur makroskopis menggunakan karakter morfologi baik secara makroskopis maupun mikroskopis. 2. Mengetahui manfaat karakterisasi yaitu untuk menentukan keragaman jamur identifikasi. 3. Mengklasifikasikan serta mengidentifikasi jamur liar. 4. Mengetahui cara membuat herbarium basah pada jamur.

II.

MATERI DAN METODE

A. Alat Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu, pinset, cawan petri, object glass dan cover glass.

B. Bahan Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu, Ganoderma lucidum, Lentinula edodes, Agaricus bisporus, Auricularia auricular, Tremella fuciformis, Pleurotus ostreatus, Hypsizigus tessellates dan FAA.

C. Cara Kerja Koleksi Jamur 1. Jamur diambil dari habitatnya. 2. Dimasukkan kedalam toples, lalu kita buat herbarium basah jamur. 3. Dimasukkan larutan FAA secukupnya. Karakterisasi Jamur 1. Disiapkan berbagai jenis jamur. 2. Diamati bagian-bagiannya.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Table 1. Hasil Pengamatan Makromorfologi Jamur Makroskopis Nama Bentuk Permuka Warna Perlekat Tipe Stipe Preparat Tudung an Tudung an Jamur Tudung Tudung Pleurotus Seperti Radially Whitsh decurent eksentris ostreatus karang fibrillose to grayish cream Ganodrma Sirkuler Licin dan Vivid eksentris lucidum (melingkar) terlignifik brown asi Agaricus Konveks Whitout Whitsh Adinate Konsentris bisporus structure to grayish cream Auricularia Seperti Licin dan Blackish ----auricula kuping terlignifik asi Lentinula Konveks Scaly Dull Adinate Konsentris edodes brown Tremella Seperti Licin dan Whitsh ----fuciformis kuping terlignifik to asi grayish cream Hypsizigus Konveks Coated Whitsh Adinate Konsentris tesselatus flocoose to pulverulen t

No.

1.

2.

3.

4.

5. 6.

7.

Foto jejak spora

Hasil Pengamatan Mikromorfologi Jamur Makroskopis a) Preparat awetan Ganoderma lucidum

(a) Keterangan :

(b)

a. Penampang membujur Ganoderma lucidum 1. Phorus b. Penampang melintang Ganoderma lucidum 1. Sel tabung 2. Kutis FOTO KOLEKSI JAMUR MAKROSKOPIS

Substrat hidup : Kayu Lokasi pengambilan: Di depan Fakultas Pertanian Warna tudung : Putih kecoklatan

B. Pembahasan Salah satu jamur yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan adalah jamur kuping hitam (Auricularia auricula). Jamur inl mempunyai tubuh buah seperti daun telinga. Permukaan bagian atas agak mengkilap dan halus sedangkan bagian bawah berbulu halus yang menghasilkan spora. Pada saat ini budidaya jamur banyak dilakukan dengan menggunakan serbuk gergaji sebagai media tanamnya. Ada 3 jenis jamur kuping yang dibudidayakan yaitu jamur kuping hitam (Auricularia polytrica), warna tubuh buahnya keunguan atau hitam, jamur kuping merah (Auricularia yudae), tubuh buah kemerahan dan jamur kuping putih (Tremella fuciformis), tubuh buahnya putih. Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) tumbuh secara berkelompok dan berjejal-jejal. Tubuhnya terdiri dari stipe dan pileus. Pileus atau tudung buahnya berdiameter antara 5-12 cm, saat masih muda bentuknya cembung, setelah tua akan mekar membentuk corong yang dangkal atau berbentuk seperti kulit kerang sehingga jamur ini sering disebut jamur kerang. Stipe atau batangnya berwarna lebih muda dibandingkan dengan tudung buahnya. Daging buah lembut dan berwarna putih sporanya berwarna putih. Jamur ini merupakan edible mashroom dan sudah banyak dibudidayakan. (Dwijoseputro, 1978) Adapun klasifikasi jamur tiram putih menurut Alexopoulous (1996) adalah sebagai berikut : Kingdom Phylum Classis Ordo Familia Genus Spesies : Fungi : Basidiomycota : Homobasidiomycetes : Agaricales : Tricholomataceae : Pleurotus : Pleurotus ostreatus Jamur tiram dapat ditumbuhkan pada media kompos serbuk gergaji kayu. Miselium dan tubuh buahnya tumbuh dan berkembang baik pada suhu 25-39 ?C. Agar bakal tubuh buah terbentuk biasanya dibutuhkan kejutan fisik seperti perubahan

suhu, cahaya, tingkat CO2, kelembaban relatif udara dan aerasi. Suhu substrat yang tinggi dapat memicu pertumbuhan mikroflora termofilik. Mikroorganisme termofilik tumbuh pada kisaran suhu 30-55oC, ketika tumbuh mikroorganisme tersebut menghasilkan panas yang lebih pada substrat sehingga dapat mematikan miselium jamur yang dibudidayakan. Substrat sebaiknya memiliki konduktivitas panas yang rendah, oleh karena itu susunan tinggi kompos kurang dari 25 cm dan log jamur tidak lebih dari 25 kg. Selama pembentukan tubuh buah, beberapa jamur sensitif terhadap tingkat CO2 yang tinggi, sehingga tubuh buah yang terbentuk akan memiliki tangkai yang panjang dan tudung yang kecil. Kisaran konsentrasi CO2yang baik untuk pertumbuhan galur tertentu dari P. ostreatus antara 550-700 ppm. Faktor cahaya sangat menentukan pembentukan tubuh buah. Beberapa jamur akan membentuk tubuh buah jika kekurangan cahaya. Untuk pembentukan tubuh

buahnya Pleurotus spp. diperlukan 8 jam penyinaran cahaya, namun Pleurotus yang tumbuh tanpa cahaya akan membentuk struktur seperti koral dengan banyak tangkai yang bercabang. Jamur Shiitake (Lentinula edodes) termasuk dalam family Tricholomataceae, ordo Agaricales, dan kelas Basidomycetes. Jamur Shiitake termasuk salah satu jamur kayu yang bisa dimakan. Jamur Shiitake memiliki gizi tinggi sehingga budidaya jamur ini berkembang pesat di Cina, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan sekarang di Indonesiapun sudah banyak yang membudidayakannya. Nama lain yang sering digunakan untuk menyebut jamur ini adalah Hoang-ko, Siang-Ku juga ada yang menyebutnya Jamur Harum. Siklus Jamur Shiitake secara umum dimulai dari spora sampai membentuk tubuh buah dewasa penghasil spora, Spora jamur Shiitake dihasilkan dari bilah yang terdapat pada tudung tubuh buah jamur tersebut. Jumlah spora tersebut sangat banyak bahkan bias mencapai ribuan, bentuknya sangat kecil, bulat dan ringan dengan diameter kurang dari 20-30 mikrometer sehingga mudah diterbangkan oleh hembusan angin dan cepat tersebar luas. Jika spora tersebut jatuh di tempat yang lembab maka akan berkecambah membentuk miselia yang dinamakan miselia primer. Umumnya pertumbuhan miselian primer ini tidak banyak (tidak tebal). Selanjutnya miselia primer tersebut akan tumbuh dan berkembang semakin

tebal dan meluas menjadi miselia skunder. Pada kelompok miselia sekunder akan tampak awal pertumbuhan, mula-mula berentuk seperti bintik kemudian menebal hingga akhirnya membentuk massa bulat yang membesar atau disebut (primordia) yang akan menjadi kuncup tubuh buah. Setelah beberapa hari, kuncup buah tersebut siap menjadi sebagai cikal bakal untuk pertumbuhan selanjutnya. Saat berkembang dan tumbuh secara sempurna tubuh buah akan tampak dengan mata telanjang di atas lokasi pertumbuhan jamur Shiitake tersebut. Champignon, jamur kompos atau jamur kancing (Agaricus bisporus, Agaricus campestris) merupakan jenis jamur liar pertama yang dibudidayakan sejak ratusan tahun lalu. Jamur ini memiliki nilai organoleptik (rasa, aroma dan penampilan) yang tinggi, menarik, dan disenangi, selain nilai bisnis yang menguntungkan karena banyaknya penggemarnya. Jamur kancing terutama digemari di kawasan yang memiliki empat musim seperti beberapa kawasan di Eropa, Amerika Serikat, juga Asia dan Afrika. Jamur kancing dijual dalam bentuk segar atau kalengan, biasanya digunakan dalam berbagai masakan Barat seperti omelet, pizza,kaserol, gratin, dan selada. Jamur kancing memiliki aroma unik, sebagian orang ada yang menyebutnya sedikit manis atau seperti "daging". Jamur kancing segar bebas lemak, bebas sodium, serta kaya vitamin dan mineral, seperti vitamin B dan potasium. Jamur kancing juga rendah kalori, 5 buah jamur ukuran sedang sama dengan 20 kalori. Jamur kancing dimasak utuh atau dipotong-potong lebih dulu. Jamur kancing cepat berubah warna menjadi kecoklatan dan hilang aromanya setelah dipotong dan dibiarkan di udara terbuka. Jamur kancing segar sebaiknya cepat dimasak selagi masih belum berubah warna. Menurut Tjondronegoro, dkk (1989) klasifikasi jamur kuping hitam (Auricularia auricula) adalah sebagai berikut : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia : Fungi : Eumycota : Heterobasidiomycetes : Auriculariales : Auriculariaceae

Genus Species

: Auricularia : Auricularia auricula

Jamur kuping hitam merupakan contoh jenis jamur kayu selain shittake. Jamur ini secara alami mempunyai kekhususan jenis kayu yang ditumbuhi secara baik dan subur, walaupun begitu pada saat ini pertumbuhan jamur ini tidak terbatas pada satu dua jenis kayu tertentu, tetapi dapat ditumbuhkan pada berbagai jenis kayu. Bahkan pada sisa kertas serta bahan-bahan lainnya seperti bagas (ampas tebu ), ampas aren, dan sabut kelapa. Maka jenis jamur kuping ini dapat tumbuh dan berkembang secara baik. Jenis jamur kuping selain digunakan sebagai bahan pangan juga dapat digunakan sebagai obat untuk mengobati sakit tenggorokan (Sinaga, 1993). Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa karakterisasi jamur lingzhi (Ganoderma lucidum) yaitu memiliki bentuk tudung sirkular (melingkar), permukaan tudungnya licin dan terlignifikasi, warna tudungnya vivit brow, tidak memiliki memiliki perlekatan tudung serta tipe stipenya eksentris. Hasil ini sesuai dengan pustaka yang mengatakan bahwa kompleks Ganoderma lucidum terdiri dari tubuh buah yang tebal, bergabus dan berwarna kuning kemerahan pada awalnya dan kemudian berubah menjadi berwarna kecoklatan pada saat masaknya. Pada batas tubuh buah biasanya tipis berwarna putih pada awalnya dan menjadi coklat terang pada tahap akhirnya. Bentuknya bervariasi, bundar, semi bundar, dan bentuk kipas atau seperti ginjal (Chang dan Miles, 2004). Hasil ini juga diperkuat oleh Steyaert (1972) dan Gilbertson & Ryvarden (1986) dalam Risna (2004) yang mengatakan bahwa G. lucidum yang dalam bahasa latin artinya mengkilat, memiliki basidioma anual, applanate, dimidiate atau bertangkai. Pileus bisa mencapai ketebalan 1,5-2 cm, diameter hingga 20 cm; biasanya berlapis lak, mengkilat, berwarna merah bata hingga coklat kehitaman; margin tebal, pada spesimen yang sedang tumbuh aktif berwarna putih, berubah menjadi kekuningan, oranye atau coklat kemerahan pada individu dewasa; hymenophore berwarna putih agak krem hingga kecoklatan; pori-pori bulat atau bersegi, 4-5 per mm, dengan dissepiment lebar.

Jamur makroskopis atau cendawan adalah jamur-jamur yang tubuh buahnya berukuran besar (berukuran 0,6 cm dan lebih besar) yang merupakan struktur

reproduktif yang terbentuk untuk menghasilkan dan menyebarkan sporanya. Bisa dijumpai ketika berjalan di hutan, tanah lapang, padang rumput, atau mungkin di halaman belakang. Istilah jamur berasal dari bahasa Yunani, yaitu fungus (mushroom) yang berarti tumbuh dengan subur. Istilah ini selanjutnya ditujukan kepada jamur yang memiliki tubuh buah serta tumbuh atau muncul di atas tanah atau pepohonan (Tjitrosoepomo, 1991). Organisme yang disebut jamur bersifat heterotrof, dinding sel spora mengandung kitin, tidak berplastid, tidak berfotosintesis, tidak bersifat fagotrof, umumnya memiliki hifa yang berdinding yang dapat berinti banyak (multinukleat), atau berinti tunggal (mononukleat), dan memperoleh nutrien dengan cara absorpsi (Gandjar, et al., 2006). Jamur mempunyai dua karakter yang sangat mirip dengan tumbuhan yaitu dinding sel yang sedikit keras dan organ reproduksi yang disebut spora. Dinding sel jamur terdiri atas selulosa dan kitin sebagai komponen yang dominan. Kitin adalah polimer dari gugus amino yang lebih memiliki karakteristik seperti tubuh serangga daripada tubuh tumbuhan. Spora jamur terutama spora yang diproduksi secara seksual berbeda dari spora tumbuhan tinggi secara penampakan (bentuk) dan metode produksinya (Alexopoulus dan Mimms, 1979). Tubuh buah suatu jenis jamur dapat berbeda dengan jenis jamur lainnya yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan tudung (pileus), tangkai (stipe), dan lamella (gills) serta cawan (volva). Adanya perbedaan ukuran, warna, serta bentuk dari pileus dan stipe merupakan ciri penting dalam melakukan identifikasi suatu jenis jamur (Smith, et al., 1988). Menurut Alexopoulus dan Mimms (1979), beberapa karakteristik umum dari jamur yaitu: jamur merupakan organisme yang tidak memiliki klorofil sehingga cara hidupnya sebagai parasit atau saprofit. Tubuh terdiri dari benang yang bercabang-cabang

disebut hifa, kumpulan hifa disebut miselium, berkembang biak secara aseksual dan seksual. Klasifikasi Jamur , Mc-Kane (1996) mengatakan setiap jamur tercakup di dalam salah satu dari kategori taksonomi, dibedakan atas dasar tipe spora, morfologi

hifa dan siklus seksualnya. Kelompok-kelompok ini

adalah : Oomycetes,

Zygomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes dan Deuteromycetes. Terkecuali untuk deuteromycetes, semua jamur menghasilkan spora seksual yang spesifik. Berikut ini disajikan Tabel 1 untuk membedakan 5 kelompok jamur. Kelompok jamur Zygomycota memiliki hifa yang tidak bersekat,

bereproduksi secara seksual dengan membentuk zigospora. Secara aseksual berkembang biak dengan spora yang disebut sporangiosopra. Contoh fungi dari kelompok ini adalah Rhizopus, Mucor, danPhycomyces.

Zigospora (warna gelap) dengan suspensor yang melengkapinya Kelompok jamur Ascomycota tubuhnya ada yang uniseluler dan ada yang multiseluler, memiliki hifa yang bersekat-sekat, dan berinti banyak. Ciri khas Ascomycota berkembang biak secara seksual dengan struktur pembentuk spora yang disebut Askus. Contoh ascomycota adalah Penicilium, Aspergillus

dan Saccharomyces.

Penicillium

Ascocarp dengan ascospora Basidiomycetes dicirikan memproduksi spora seksual yang disebut

basidiospora. Kebanyakan anggota basiodiomycetes adalah cendawan, jamur payung dan cendawan berbentuk bola yang disebut jamur berdaging, yang spora seksualnya menyebar di udara dengan cara yang berbeda dari jamur berdaging lainnya. Struktur tersebut berkembang setelah fusi (penyatuan) dari dua hifa haploid hasil dari formasi sel dikaryotik. Sebuah sel yang memiliki kedua inti yang disumbangkan oleh sel yang kompatibel secara seksual. Sel-sel yang diploid membelah secara meiosis

menghasilkan basidiospora yang haploid. Basidiospora dilepaskan dari cendawan, menyebar dan berkecambah menjadi hifa vegetatif yang haploid. Proses tersebut berlanjut terus (Mc-Kane, 1996). Kelas basiodiomycetes ditandai dengan adanya basidiokarp yang makroskopik kecuali yang hidup sebagai parasit pada daun dan pada bakal buah. Dwidjoseputro (1978) menerangkan bahwa karakteristik dari Basiodiomycetes antara lain kebanyakan makroskopik, sedikit yang mikroskopik. Basidium berisi 2-4 basiodiospora, masing-masing pada umumnya mempunyai inti satu. Diantara Basiodiomycetes ada yang berguna karena dapat dimakan, tetapi

banyak juga yang merugikan karena merusak tumbuhan, kayu-kayu dan perabot rumah tangga. Selain itu tubuh Basidiomycetes terdiri dari hifa yang bersekat dan berkelompok padat menjadi semacam jaringan, dan tubuh buah menonjol daripada Ascomycetes. Misellium terdiri dari hifa dan sel-sel yang berinti satu hanya pada tahap tertentu saja terdapat hifa yang berinti dua. Pembiakan vegetatif dengan Universitas Sumatera Utarakonidia. Pada umumnya tidak terdapat alat pembiakan generatif, sehingga lazimnya berlangsung somatogami. Anyaman hifa yang membentuk mendukung himenium disebut himenofore. Himenofore dapat berupa rigi-rigi, lamella, papan-papan dan dengan demikian menjadi sangat luas permukaan lapis himenium (Tjitrosoepomo, 1991). Spora pada jamur berfungsi untuk alat reproduksi dan bertahan. Karakteristik spora sering digunakan untuk mempelajari sistematika dan klasifikasi jamur. Para ahli mikologi dapat menggunakan spora atau lebih tepatnya jejak sporayang dapat membantunya untuk mengidentifikasi ribuan spesies jamur yang memiliki tudung. Jejak spora adalah kumpulan spora dalam jumlah besar. Hal ini bisa diperoleh dengan meletakkan tudung dengan himenium menghadap ke bawah pada selembar kertas putih atau sepotong kaca. Setelah beberapa jam, terkadang tidak sampai esok harinya, lapisan spora akan terkumpul. Warna spora terbagi ke dalam 4 atau 5 tipe umum, yaitu: putih, merah muda, kuning tanah dan ungu kehitaman, namun kelompok terakhir dapat dibedakan lagi menjadi ungu dan hitam. Warna spora kadang-kadang dapat dilihat secara visual dengan melihat lamela pada jamur dewasa, tetapi kadangkadang warna dari lamela menyembunyikan warna sporanya (Setiyono, 2011).

Fungsi larutan-larutan yang digunakan yaitu formalin sebagai antiseptic dan juga mengawetkan jamur, alkohol juga berfungsi sebagai antiseptic dan mengawetkan jamur sedangkan asam asetat glacial berfungsi untuk mempertahankan struktur tubuh buah jamur. Cara pembuatan herbarium basah jamur yang telah dilakukan pada saat praktikum yaitu mula-mula jamur liar yang telah ditemukan di alam dimasukan ke dalam wadah ataupun toples, kemudian jamur disiram atau diberi larutan. Larutan tersebut terdiri dari tiga macam yakni formalin 10ml; 40%, alkohol 100ml; 50%, serta asam asetat glacial 10m, setelah itu diberi label.

DAFTAR REFERENSI

Alexopoulous, C. J.W Mims. 1996. Introduction micology. John willegan sons, New York. Chang, Shu-ting and P. G. Miles, 2004. Mushrooms: Cultivation, Nutritional Value, Medicinal Effect, and Environmental Impact. CRC Press, California. Dwijoseputro. 1978. Pengantar Mikologi. Anggota IKAPI, Bandung. Risna, Rosniati A. 2004. Lingzhi (Ganoderma lucidum) Primadona Jamur Kayu Berkhasiat Obat. Warta Kebun Raya. Setiyono, L. 2011. Jamur Tiram, Jamur yang Bergizi dan Prospektif. http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis. diakses pada tanggal 18 November 2012. Tjondronegoro, PD, dkk. 1989. Botani Umum. Gramedia, Jakarta. Tjondronegoro, PD, dkk. 1991. Botani Umum. Gramedia, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai