Anda di halaman 1dari 17

Embriologi Oromaksilofasial

Pertumbuhan dan Perkembangan Rongga Mulut Pertumbuhan dan perkembangan oromaksilofasial (muka & rongga mulut) dimulai pada minggu ke-3 intra uterin. Mula-mula masih terbentuk tube dan terdiri dari 3 unsur yaitu ectoderm, mesoderm dan endoderm/entoderm. Pertumbuhan dan perkembangan oral / mulut dimulai dengan proses invaginasi lapisan ectoderm di bagian caudal dan Processus Prontonasalis dan disebut Stomodeum (Primitive Oral Cavity). Di samping itu terjadi pula proses invaginasi pada lapisan endoderm yang disebut Primitive Digestive Tract. Selanjutnya POC dan PDT saling mendekat hingga bertemu pada membran yang tipis disebut : Membrana Bucco Pharyngeal. Membran tersebut akhirnya pecah dan terjadilah hubungan yang sempurna antara POC dan PDT. Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Apparatus Selain proses tersebut terjadi pula pula proses pertumbuhan dan perkembangan pembentukan Branchial Apparatus, yaitu terdiri dari : Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Arches Llengkungan) Mula-mula dibentu Branchial Arch I / Pharyngeal Arch I, kemudian dibentuk Branchial Arch I hingga IV, namun Branchial Arch V rudimenter / hilang sehingga Branchial Arch IV bergabung dengan Branchial IV. Dari Branchial Apparatus inilah akan dibentuk organ-organ, rahang atas, rahang bawah, lidah larynx, pharynx, os hyoid, otot-otot wajah, ligamentum, arteri, vena, nervus, dll. Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Pouches (Konjungsi) Yang pertama dibentuk adalah: Cavum tympanica Antrum Mastoideum Telinga tengah Tuba Eustachii Lalu lapisan Endoderm berdiferensiasi membentuk Tonsila Palatina dan Fossa Supratonsilaris. Bagian Dorsal berdirensiasi membentuk glandula parathyroid inferior lalu bermigrasi ke arah dorsal glandula thyroid. Sedangkan bagian ventral berdiferensiasi membentuk primordial glandula thymus kemudian bermigrasi kea rah Caudal & Medial selanjutnya bagian kanan & kiri berfusi membentuk glandula thymus. Bagian dorsal berdirensiasi membentuk glandula parathyroid superior kemudian bermigrasi ke dorsal glandula thyroid. Bagian ventral berdiferensiasi membentuk ultimo branchial body lalu bermigrasi dan berfusi dengan glandula thyroid. Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Groove (Celah) Branchial Groove I akan membentuk meatus acusticus externus, sedangkan Branchial Groove yang lain akan hilang sehinga leher rata. Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Membrane (Selaput)

Branchial Membrane I akan membentuk membrane tympanica sedangkan branchial membrane yang lain menghilang. Pertumbuhan dan Perkembangan Fasial (Muka) Pertumbuhan dasn perkembangan fasial (muka) berasal dari 5 buah Fasial Promordia, yaitu : 1. Sebuah tonjolan Processus Fronto Nasalis di atas Stomodeum 2. Sepasang tonjolan Processus Maxillaris yang berasal dari Branchial Arch I, terlet,ak di Cranio Lateral Stomodeum. 3. Sepasang tonjolan Processus Mandibularis yang juga berasal dari Branchial Arch I, terletak di Caudal Stomodeum. Pertumbuhan dan Perkembangan Processus Fronto Nasalis Dimulaik pada minggu ke-4, yaitu sebagai dua buah penebalan ectoderm yang terletak di latero processus fronto dan di atas stomodeumm disebut Nasal Placode. Setelah embrio berumur 5 minggu, terjadi lagi dua buah penonjolan yang mengelilingi Nasal Placoda yang berbentuk tapal kudas yang disebut : Processus Nasalis Medialis (medial) Processus Nasalis lateralis (lateral) Selanjutnya Nasal Placoda akan menjadi dasar lekukan ke dalam dan membentuk Nasal Pit yang nantinya akan merupakan lubang hidung atau Nostril. Sedangkan kedua Processus nasalis medialis akan berfusi membentuk intermaxillary segment. Intermaxillary segmente akan mengalami pertumbuhan dasn pertumbuhan perkembangan dalam 2 arah yaitu : Ke arah caudal akan membentuik Phitrum Ke arah medial akan membentuk Septum nasi, Palatum Primer (processus palatinus medialis), Premaxilla (yaitu tulang rahange atas bagian tengah yange menunjang gigi-gigi Sedangkan processus nasalis lateralis akan membentuk Ala Nasi (yang akan dipisahkan dari processus maxillaries oleh sulcus naso lacrimalis). Pertumbuhan dan Perkembangan Cavum Nasi Dimulai pada embrio umur kurang dari 6 minggu, sebagai proses invaginasi pada nasal placode sebagai dasar lekukannya. Mula-mula dibentuk nasal pit, kemudian lekukan semakin meluas membentuk Saccus Nasalis. Soccus nasalis ini masih belum berhubungan dengan cavum oris karena masih dipisahkan oleh membrane oro nasal. Setelah embrio berusia 7 minggu itu., membrane oro nasal pecah, hingga terjadilah hubunan antara Cavum Nasi dan Cavum oris. Batas hubungan Cabum Nasi dan Cavum oris di belakang Palatum Primer disebut Primitive Choanae. Selain proses tersebut di atas, pada dinding Cavum Nasi terbentuk pula tonjolan-tonjolan yang disebut : Concha Nasalis Superior Concha Nasalisi Medius

Concha Nasalis Inferior Dan dinding epitel atas Cavum Nasi (lapisan ectoderm) juga mengalami diferensiasi membentuk serabu-serabu syafaf N, Olfaccorlus. Setelah palatun sekunder kanan dan kiri selesai berfusi dengan septum nasi, maka terbentuklah Cavum Nasi yang sempurna. Dengan demikian batas hubungan Cavum Nasi dan Cavum Orls kini di belakang palatum sekunder dan disebut Definitive Chonchae. Pertumbuhan dan Perkembangan Tulang Rahang Atas Tulang rahang atas (os maxilla) berasal dari Branchial Arch I bagian atas. Disebut pula Processus Maxillaris. Pusat ossifikasi terletak pasda percabangan N. infra orbitalis menjadi N. alveolaris superior anterior dan N. alveolaris superior medius. Kemudian proses ossifikasinya berlanjut mulamula ke arah posterior membentuk Processus Zygomaticus Ossis Maxillaris, kemudian ke arah Caudal membentuk Processus Alveolaris Ossis Maxillaris dan ke arah medial membentuk Processus Palatinus Ossis Maxillaris. Selama proses pertumbuhan dan perkembangan tersebut, di bagian pusat ossifikasinya membentuk Corpus Maxillia, hingga terbentuklah Os Maxilla yang lengkap. Pertumbuhan dan Perkembangan Palatum Pertumbuhan dan Perkembangan palatum terjadi melalui beberapa tahap : Palatum Primer (Processus Palatinus Medialis) Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa palatum primer dibentuk oleh Intermaxillary Segment (fusi dari processus nasalis medialis) yang berkembang ke arah medial dan caudal membentuk Palatum primer,septum nasi, premaxilla (tulang rahang atas yang menunjang gigi , philtrum (alur vertical pada bagian tengah bibir atas). Palatum Sekunder (Processus palatines lateralis) Palatum sekunder (processus palatines lateralis) berasal dari processus maxillaries. Mula-mula palatum sekunder berkembang ke arah bawah karena masih adanya lidah embrional. Namun setelah rahang bawah (os mandibula) berkembang, maka ruang bertambah besar, sehingga lidah turun ke bawah. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan palatum sekunder dapat berkembang ke arah mid line dan berfusi. Selain itu septum nasi juga mengadakan fusi tangan kedua palatum sekunder (kanan dan kiri). Pertumbuhan dan Perkembangan Selanjutnya dari Paltum Sekunder 1. Dorsal palatum primer Terjadi proses ossifikasi disebut : Processus Palatinus Ossis Maxillari. 2. Dorsal ad1 Terjadi pula ossifikasi disebut Os Palatinum 3. Dorsal ad.2 Pertumbuhan dan perkembangan pada dorsal ad.2 tidak mengalami proses ossifikasi, disebut : Palatum Molle dan Uvulia. Pertumbuhan dan Perkembangan Os Palatinum

Berasal dari bagian medial tulang rawan nasal capsul. Nasal capsul merupakan tulang rawan yang pertama kali dibentuk di daerah muka atas dan analog dengan tulang rawan Meckel rahang bawah. Atas nasal capsul, bagian lateral membentuk Os Ethmoidale, bagian posterior membentuk septal cartilage (pars perpendicularis ossis ethmoidalis). Keduanya mengalami ossifikasi setelah lahir. Bawah nasal capsul bagian lateral membentuk concha nasalis inferior sedangkan di antaranya mengalami atropi bagian medial membentuk os palatinum . Ossifikasi : pada minggu ke 7-8. Lokasi di dekan N. Palatinus Descendeus Ossifikasi ke arah vertical disebut pars perpendicularis ossis palatine, yang akan berfusi dengan os maxillaries membentuk dinding medial sinus maxillaries. Ossifikasi ke arah horizontal disebut pars horizontal ossis palatine yang akan berfusi dengan prosessus palatines ossis maxillaries. Pertumbuhan dan Perkembangan Sinus Maxillaris Pada bulan ke-4 i.u., mula-mula terbentuk kantong mukosa kecil di daerah lateral cavum nasi. Kantong tersebut mula-mula terpisah dari maksila oleh tulang rawan nasa capsul. Setelah nasal capsul bagian bawah atropi, kantong mukosa tersebut menerobos masuk ke dalam os maxilla di atas processus palatines lateral sehingga terbentuk maxillaries. Sinus ini terus berkembang hingga ukuran dewasa. Perkembangan seterusnya ke arah processus alveolaris. Proses Pertumbuhan dan Perkembangan Tulang Rahang Bawah Tulang rahang bawah (os mandibula) berasal dari Branchial Arch I bawah atau mandibulaj Arch dan disebut pula Processus Mandubularis. Mula-mula dibentuk tulang rawan Meckel di bagian lingual Processus Mandibularis. Pertumbuhan dan perkembangan tulang Meckel ini berada dekat dengan pembentukan N. Mandibularis. Pada saat N. Mandibularis dibentuk mencapai 1/3 dorsal tulang rawan Meckel, kemudian bercabang menjadi N. Alveolaris inferior ke arah anterior dan bercabang lagi menjadi N.Mentalis dan N. Incisivus. Di Tempat lateral percabangan inilah jaringan ikat pada fibrosa mengalami ossifikasi (minggu ke-7). Pusat ossifikasinya sekitar for. Mentale. Kemudian pertumbuhan dan perkembangan posterior membentuk rumus mandibulae hingga terbentuk mandibula hingga terbentuk mandibula yang lengkap, sedang tulang rawan Meckle menghilang. Pertumbuhan dan Perkembangan Temoro Mandibular Joint Mula-mula os temporalis masih terpisah jauh dari os mandibula. Setelah pertumbuhan conovius mandibula jaringan, dibentuk jaringan ikat padat yang tipis disebut Discus Articularis. Selanjutnya Tuberculum Articulare baru tampak pada saat lahir. Bentuknya khas setelah pembentukan gigi sulung. Pertumbuhan dan Perkembangan Lidah

Pertumbuhan dan perkembangan lidah dimulai pada akhir minggu ke-4. Mula-mula dibentuk sebuah tonjolan di dasar pharynx, anterior foramen caecum disebut Tuberculum Impar. Kemudian dibentuk pula 2 tonjolan di daerah lateral dari Tuberculum Impar, disebut Tonjolan Lateral Lidah. Ketiga tonjolan tersebut berasal dari Branchial Arch I.5 Kemudian tonjolan lateral lidah berfusi membentuk 2/3 anterior lidah dengan garis fusi pada : Sulcus lingualis media (luar) Septum lingual (dalam) Pertumbuhan dan perkembangan Papilla dan Taste Buds pada Lidah Mula-mula dibentuk papilla filiformis tanpa ada induksi syaraf sehingga tidak ada taste buds. Saat umur 54 hari dibentuk Papilla Circum Vallatae, lalu Papilla Foliatae Fungiformis yang diinduksi oleh chorda tympani (N. VII). Ketiganya terdapat taste buds.

Pertumbuhan dan Perkembangan Kelenjar Saliva Pada embrio minggu ke 6-7 dibentuk Glandula Parotis yang berasal dari jaringan ektodermal berlokasi di tepi stomodeum. Sel-sel berpoliferasi membentuk tali padat dan ujung bulat. Tali tersebut berkembang membentuk tumen dan selanjutnya terbentuk duktus, sedangkan ujung yang bulat berdiferensiasi membentuk acini (khusus menghasilkan saliva) yang akan mengeluarkan secret.5 Glandula Submandibularis yang berasal dari jaringan endodermal berlokasi di dasar mulut di latero-caudal lidah. Cara pembentukannya sama dengan GI. Parotis. Glandula sublingualis berkembang agak akhir, juga berasal dari jaringan endodermal sebagai multiple buds yang nantinya membentuk lobus mayor dan lobus minor. Lokasinya di latero-caudal lidah. Pertumbuhan dan Perkembangan Glandulaj Thyroid Glandulaj Thyroid dari penebalan jaringan endodermal di belakang tuberculum impar kemudian melekuk ke caudal yang disebut thyroid diverticulum yang lalu bermigrasi (lidah berkembang) ke caudal. Pada saat bermigrasi ke caudal terbentuklah Ductus Thyroglossus. Ductus Thyroglossus ini akan tersisa sebagai foramen caecum dan lobus Pyramidalis GI. Tyreodea. Bagian ductus yang lain menghilang sedangkan Thyroid Diverticulum yang bermigrasi ke caudal membentuk 2 lobus yaitu GI Thyroidea dan akhir migrasinya berada di antara lateral Trachea. Sedangkan tuberculum impar tidak membentuk bangunan yang khas. Pertumbuhan dan perkembangan 1/3 posterior lidah dimulai dengan dibentuknya tonjolan Copula (berasal dari pharyngeal arch ke II) kemudian dibentuk lagi tonjolan Hypobranchial (Branchialk Arch III IV). Caudal dari foramen Caecum. Namun proses selanjutnya tonjolan Copula mengalami rudimeter dan menghilang. Sedangkan tonjolan Hypobranchial tetap

berperan membentuk 1/3 posterior lidah dan selanjutnya berfusi dengan 2/3 anterior lidah. Garis fusinya pada Sulcus Terminalis Linguae. Sehingga terbentuklah lidah yang lengkap dan pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya ke arah atas dan depan. REFERENSI 1. T.W. Sadler,embriologi kedokteran langman,Jakarta:EGC, 1997 2. Drg. Ny.itjingningsih W.H, anatomi gigi, Jakarta:EGC, 1991 3. Ivar A. Mjor,Ole fajerskov, embriologi dan histology rongga mulut, Jakarta: widya medika, 1990 4. Kenneth j. anusavice, buku ajar ilmu bahan kedokteran gigi, edisi 10, Jakarta:EGC, 2003 5. Drg.Harun A.GUnawan.Ms,Biologi Oral 1, edisi ketiga, fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

Odontogenesis Odontogenesis adalah proses terbentuknya jaringan gigi. Proses ini tidak terjadi pada waktu yang bersamaan untuk semua gigi. Gigi dibentuk dari lapisan ektoderm, yaitu dari jaringan ektomesenkim. Ektomesenkim ini dibentuk dari neural crest cells. Sel ini terdapat pada sepanjang sisi lateral dari neural plate. Perkembangan gigi dimulai dengan pembentukan primary dental lamina, yang menebal dan meluas sepanjang daerah yang akan menjadi tepi oklusal dari mandibula dan maksila dimana gigi akan erupsi. Dental lamina ini tumbuh dari permukaan ke mesenchyme di bawahnya. Bersamaan dengan perkembangan dari primary dental lamina , pada 10 tempat di dalam mandibular arch and pada 10 tempat di dalam maxillary arch, beberapa sel dari dental lamina memperbanyak diri pada laju yang lebih cepat daripada yang berada di sekitar sel, dan 10 tonjolan kecil dari sel-sel epithel terbentuk pada dental lamina dalam tiap rahang. Secara singkat pertumbuhan dan perkembangan dari gigi dapat dilihat pada gambar berikut ini. Proses odontogenesis A.Tahapan Dental lamina invaginasi dari oral epithelium ke dalam jaringan pengubung di bawahnya (mesenchyme).

B.Tahapan enamel organ awal pembentukan tunas dari epithelium dari dental lamina. C.Tahapan kuman gigi enamel organ, dental papilia, dental sac D.Inisiasi dari pembentukan dentin dan enamel di dalam gigi. E.Tahapan enamel organ & bantalan akar yang direduksi. F.Tahapan erupsi aktif pemecahan dari bantalan akar (root sheath) dan mulai pembentukan cementum. G. Tahapan epithelium darurat dan gabungan - enamel epithelium yang direduksi menjadi epithelium gabungan dan gigi masuk rongga mulut. H. Tahapan bidang occlusal gigi dalam posisis fungsional. Perkembangan Gigi Pada minggu keenam kehamilan, lapis basal epitel mulut (ektoderm) berproliferasi dan tumbuh ke dalam ektomesenkim di bawahnya, yang berkembang dari krista neural. Sabuk berbentuk tapal kuda yang dikenal sebagai lamina dentis dibentuk pada tiap rahang. Penjuluran ektodermal ini membentuk sungkup di atas kelompok ektomesenkim dan setiap kelompok sel (kuncup gigi) akan berkembang menjadi gigi desidua. Ektomesenkim dibentuk oleh sel-sel mesenkim sehubungan dengan sel krista neural yang berasal dari ektoderm. Sel-sel ektodermal kemudian berdegenerasi dan menghilang. Komponen ektodermal kuncup gigi membentuk organ email yang berfungsi untuk menghasilkan email. Komponen ektomesenkim membentuk papila dentis yang akan mengembangkan sel odontoblas (sel yang menghasilkan dentin) dan struktur pulpa dentis lainnya. Mesenkim juga memadat disekitar organ email dan akhirnya berkembang menjadi sementoblas (sel yang membentuk sementum) dan ligamen periodontal. Organ email terus membesar dan mengambil bentuk genta pada minggu ke-8 kehamilan. Epitel email luar (eksterna), yang berhubungan dengan lamina dentis bertakuk oleh banyak pembuluh kapiler. Sel berbatasan dengan papila dentis menjadi silindris dan menyusun epitel email dalam (interna). Sel ini berkembang menjadi ameloblas (sel yang akan menghasilkan email). Sel epitelial di antara lapis luar dan dalam menyusun retikulum stelata dan stratum intermedium. Sebelum ameloblas mulai mensekresi email, mereka merangsang sel-sel lapisan superfisial dari papila dentis untuk memanjang dan berkembang menjadi odontoblas. Odontoblas mulai mensekresi predentin, yang merangsang pembentukan email oleh ameloblas. A. Pembentukan Dentin Odontoblas mensekresi prokolagen yang bergabung menjadi serabut kolagen dari predentin. Selsel ini juga memperantarai mineralisasi serabut kolagen, yang berakibat terbentuknya dentin. Badan sel odontoblas terdesak mundur ke dalam rongga pulpa sementara dentin menimbun, tetapi cabangnya tetap terdapat dalam tubuli dentin yang terbentang di seluruh tebal dentin. B. Penbentukan Email Ameloblas adalah sel epitel luar biasa karena bagian dasarnya, yang berbatasan dengan lamina basal, menjadi permukaan sekresinya. Taut kedap dijumpai di sekitar apeks histologis (basis fungsional) dan basis histologis (apeks fungsional) setiap sel. Retikulum endoplasma kasar dan sebuah kompleks golgi luas terdapat dalam sitoplasama di antara inti dan apeks fungsional sel ini. Ameloblas berfungsi menghancurkan lamina basal yang memisahkan sel-sel ini dari odontoblas dan dentin. Juluran pendek berbentuk kerucut dari ameloblas (prosesus Tomes) merupakan tempat sekresi dari matriks email. Permukaan lateral prosesus Tomes menghasilkan matriks organik dari email antar-batang, sedangkan permukaan apikal berfungsi meletakkan matriks dari batang email. Peranan ameloblas dalam mineralisasi belum jelas, tetapi kristal hidroksiapatit

dibentuk pada matriks organik. Matriks ini hampir seluruhnya dibuang oleh ameloblas. Setelah pembentukan email selesai, organ email terdiri atas epitel berlapis gepeng yang cepat terkikis habis bila gigi muncul dalam rongga mulut. C. Perkembangan Akar Gigi Setelah perkembangan korona selesai dan sebelum erupsi, lengkung servikal bertumbuh ke apikal membungkus papila dentis dan membentuk selubung akar Hertwig, yang terdiri atas penyatuan epitel email luar dan dalam. Lapis dalam menginduksi pembentukan odontoblas yang menghasilkan dentin dari akar gigi. Bila dentin telah dibentuk, selubung akar hancur dan dentin yang baru dibentuk ini menginduksi perkembangan sementoblas dari sel mesenkim sakus dentis di sekitarnya. Sementoblas menghasilkan sementum, yaitu jaringan mirip tulang yang membungkus akar gigi. D. Gigi Tetap (permanen) Pada sisi labial setiap lamina dentis terjulur ke luar suatu massa sel ektodermal dan membentuk lamina suksesional. Sel-sel lamina dentis menggali ke belakang dan bakal gigi molar permanen berturut-turut terlepas. Bakal gigi molar kedua dan ketiga tidak dibentuk sampai sesudah lahir Pertumbuhan dan perkembangan gigi sulung dan gigi tetap Pertumbuhan dan perkembangan dari gigi geligi seperti halnya organ lainnya telah dimulai sejak 4 5 bulan dalam kandungan. Pada waktu lahir, maksila dan mandibwula merupakan tulang yang telah dipenuhi oleh benih-benih gigi dalam berbagai tingkat perkembangan. Tulang alveolar hanya dilapisi oleh mucoperiosteum yang merupakan bantalan dari gusi. Pada saat lahir, tulang maksila dan mandibula terlihat mahkota gigi-gigi sulung telah terbentuk dan mengalami kalsifikasi, sedangkan benih gigi-gigi tetap masih berupa tonjolan epitel. Pada umur 6 7 bulan telah terjadi erupsi dari gigi sulung dan pada umur 12 bulan gigi insisif pada maksila dan mandibula telah erupsi. Pada umur 2 - 3 tahun semua gigi sulung telah erupsi dan email gigi-gigi sulung telah terbentuk sempuna. GIGI SULUNG

Rahang Gigi lengkap

Pembentukan

Erupsi

Akar

Atas Insisif pertama 4 bl inutero Insisif kedua 4 bl inutero Caninus 5 bl inutero Molar pertama 5 bl inutero Molar kedua 6 bl inutero Bawah Insisif pertama 4 bl inutero Insisif kedua 4 bl inutero Caninus 5 bl inutero Molar pertama 3 bl inutero Molar kedua 6 bl inutero GIGI TETAP

7 bl 9 bl 18 bl 14 bl 24 bl 7 bl 7 bl 16 bl 12 bl 20 bl

1 th 2 th 3 th 2 th 3 th 1 th 1 th 3 th 2 th 3 th

Rahang Gigi lengkap Atas Insisif pertama Insisif kedua Caninus Premolar pertama th Premolar kedua th Molar pertama th Molar kedua Molar ketig Bawah Insisif pertama Insisif kedua

Mulai terbentuk 3 4 bl 10 12 bl 4 5 bl 18-21 bl 3033 bl 0 3 bl 27 36 bl 7 9 th 3 4 bl 3 4 bl

Erupsi 7 8 th 8 9 th 1 12 th 10 12

Akar 10 tahun 11 tahun 13 15 th th 12 14 12 14 9 10 14 16 th 18 25 th 9 th 10 th

10 12 th 6 7 th 12 13 th 17 21 th 6 7 th 7 8 th

Caninus Premolar pertama Premolar kedua Molar pertam Molar kedua Molar ketiga

4 6 bl 18 24 bl 24 30 bl 0 3 bl 2 3 th 8 10 th

9 10 th 10 12 th 11 12 th 6 7 th 11 13 th 17 21 th

12 14 th 12 13 th 13 14 th 9 10 th 14 15 th 18 25 th

Pertumbuhan dan Perkembangan Wajah Palatum primer dan palatum sekunder terbentuk berdasarkan perkembangan embriologi. Palatum primer atau premaksila merupakan daerah triangular pada bagian anterior langitan keras, meluas secara anterior ke insisif foramen sampai ke lateral insisif kanan dan kiri, termasuk bagian alveolar ridge gigi-gigi insisif maksila. Palatum sekunder terdiri dari sisa bagian palatum keras dan semua palatum lunak (gambar 2.1).

Gambar 2.1. Anatomi Bibir dan Langitan Sumber: Millard, Ralph D., Jr. Cleft Craft. Boston: Little, Brown, 1977.

Menurut Alberry, perkembangan wajah terjadi pada minggu keempat setelah fertilisasi, dengan penampakan lima buah penonjolan atau swelling yang mengelilingi stomotodeum. Swelling ini disebut juga facial processes. Facial processes tersebut merupakan hasil akumulasi sel mesenkim yang berada di bawah permukaan epitel. Mesenkim ini merupakan ektomesenkimal dan berkontribusi terhadap perkembangan struktur orofasial seperti saraf, gigi, tulang, mukosa mulut. Swelling yang berada diatas stomodeum disebut frontonasal process dimana berkontribusi dalam perkembangan hidung dan juga bibir atas. Di bagian bawah dan di lateral stomodeum terdapat dua buah mandibular processes yang berkontribusi dalam perkembangan rahang bawah dan bibir dan di atas mandibular processes terdapat maxillary processes yang berkontribusi dalam perkembangan rahang atas dan bibir. Pada sisi inferior frontonasal prosessus akan muncul nasal (olfactory) placodes. Proliferasi ektomesenkim pada tiap kedua sisi placode akan menghasilkan pembentukan medial dan lateral nasal prosessus. Diantara pasangan prosessus tersebut terdapat cekungan yaitu nasal pit yang merupakan primitive nostril. Sedangkan menurut Petterson, perkembangan embriologi hidung, bibir dan langitan terjadi antara minggu ke-5 hingga ke-10. Pada minggu ke-5, tumbuh dua penonjolan dengan cepat yaitu lateral processes dan median nasal processes. Maxillary swelling secara bersamaan akan mendekati medial dan lateral nasal prossesus tetapi tetap akan terpisah dengan batas groove yang jelas. Selama dua minggu selanjutnya maxillary processus akan meneruskan pertumbuhannya ke arah tengah dan menekan median nasal prosessus ke arah midline. Kedua penonjolan ini akan bersatu dengan maxillary swelling dan terbentuklah bibir.

Dari maxillary processes akan tumbuh dua shelflike yang disebut palatine shelves. Palatine shelves akan terbentuk pada minggu ke-6. Kemudian pada minggu ke-7, palatine shelves akan naik ke posisi horizontal di atas lidah dan berfusi satu sama lain membentuk palatum sekunder dan dibagian anterior penyatuan dua shelf ini dengan triangular palatum primer, terbentuklah foramen insisif. Penggabungan kedua palatine shelf dan penggabungan dengan palatum primer terjadi antara minggu ke-7 sampai minggu ke-10. Pada anak perempuan, pembentukkan palatum sekunder ini terjadi 1 minggu kemudian, karena itu celah langitan lebih sering terjadi pada anak perempuan (gambar 2.2 dan 2.3).

Celah pada palatum primer dapat terjadi karena kegagalan mesoderm untuk berpenetrasi ke dalam grooves diantara maxilary processes dan median nasal process sehingga proses penggabungan antara keduanya tidak terjadi. Sedangkan celah pada palatum sekunder diakibatkan karena kegagalan palatine shelf untuk berfusi satu sama lain. Berbagai hipotesis dikemukakan bagaimana bisa menyebabkan kegagalan proses penyatuan. Pada normal embrio, epitel diantara median dan lateral nasal processes dipenetrasikan oleh mesenkim dan akan menghasilkan fusi diantara keduanya. Jika penetrasi tidak terjadi maka epitel akan terpisah dan terbentuk celah. Bukti terbaru menyatakan bahwa facial processus berisikan sel descendant yang bermigrasi dari neural crest. Perubahan kuantitas dari

sel-sel neural crest, tingkat migrasi atau arah migrasi mereka dapat berkontribusi dalam pembentukkan celah bibir atau langitan, yaitu dengan mengurangi ukuran satu atau lebih prosessus atau dengan merubah hubungan prosessus yang satu dengan yang lain. Defek yang muncul dapat bervariasi tingkat keparahannya. Apabila faktor etiologi dari pembentukkan cleft terjadi pada akhir perkembangan, efeknya mungkin ringan. Namun jika faktor etiologi muncul pada tahap awal perkembangan, cleft yang terjadi bisa lebih parah.

ANATOMI GIGI

Email Gigi

Email adalah lapisan terluar gigi, yang menutupi seluruh mahkota gigi dan merupakan bagian gigi yang paling keras dan dibentuk oleh sel-sel yang disebut ameloblast. Meskipun sangat keras, email rentan terhadap serangan asam, baik langsung dari makanan atau dari hasil metabolisme bakteri yang memfermentasi karbohidrat yang kita makan dan menghasilkan asam. Pola makan yang kaya asam akan mempercepat kerusakan email gigi. Demikian juga pada penderita penyakit tertentu misalnya bulimia yang selalu memuntahkan kembali makanan yang baru dimakan, di mana makanan yang dimuntahkan tersebut telah bercampur dengan asam lambung sehingga bersifat erosif bagi gigi. Jaringan email gigi tidak mengandung persyarafan, sehingga bila terjadi kerusakan yang terbatas hanya pada email tidak akan terasa sakit. Bila terjadi kerusakan pada email, tidak dapat mengadakan pemulihan diri dengan sendirinya seperti halnya pada tulang atau jaringan dentin. Warnanya putih, namun email memiliki sifat translusen dan memungkinkan warna dentin yang kuning sedikit terlihat, sehingga member tampilan gigi terlihat kuning.

Jaringan email adalah struktur kristalin yang tersusun oleh jaringan anorganik 96 %, material organik hanya 1 % dan sisanya adalah air. Komposisi ini membuat sifat email gigi mirip seperti keramik. Secara mikroskopis, lapisan email tersusun oleh prisma email yang merupakan kristal hidroksiapatit dengan pola orientasi yang khas. Meski strukturnya keras dan padat, email mampu dilewati oleh ion dan molekul tertentu misalnya zat warna dari makanan atau minuman tertentu. Email menutupi mahkota anatomis gigi dengan ketebalan yang berbeda-beda di daerahdaerah tertentu, email paling tebal di daerah permukaan kunyah gigi (di insisal gigi insisif dan oklusal gigi molar), dan semakin kebawah makin menipis. Ketebalan juga berbedabeda pada jenis gigi yang berbeda, yaitu: Incisal ridge insisif = 2 mm Cusp premolar = 2.3 2.5 mm Cusp molar = 2.5 3 mm
Jaringan Dentin

Dentin merupakan struktur penyusun gigi yang terbesar. Jaringan ini jauh lebih lunak dibandingkan email karena komposisi material organiknya lebih banyak dibandingkan email yaitu mencapai 20 %, di mana 85 % dari material organik tersebut adalah kolagen. Sisanya adalah air sebanyak 10 % dan material anorganik 70 %. Di daerah permukaan mahkota gigi, dentin terletak di bawah email. Tapi di bagian akar dentin tidak ditutupi oleh email melainkan oleh sementum. Di bagian bawahnya, dentin menjadi atap bagi rongga pulpa. Pulpa adalah suatu rongga yang berisi pembuluh darah dan persyarafan bagi gigi. Oleh karena itu secara anatomis, dentin sangat berhubungan erat dengan jaringan pulpa. Kebanyakan ilmuwan menganggap dentin dan pulpa adalah satu jaringan dan membentuk pulp-dentin complex. Secara mikroskopis, dentin berbentuk seperti saluran yang disebut tubuli dentin dan berisi sel odontoblast dan cairan tubuli dentin. Sel ini dianggap sebagai bagian dari dentin maupun jaringan pulpa karena badan selnya ada di rongga pulpa namun serabutnya (yang disebut serabut tomes) memanjang ke dalam tubuli-tubuli dentin yang termineralisasi. Serabut tomes inilah yang membuat dentin dianggap sebagai jaringan hidup dengan kemampuan untuk bereaksi terhadap rangsang fisiologis maupun patologis.

Bila dentin terekspos ke lingkungan karena karies telah mencapai dentin atau karena gigi tersebut patah, maka gigi akan sensitif terhadap perubahan suhu (misalnya pada saat berkontak dengan makanan panas/dingin) dan akan terasa sakit. Hal ini disebabkan karena tubuli dentin berisi cairan seperti serum yang berkesinambungan dengan cairan ekstraseluler pada jaringan pulpa. Dengan tereksposnya tubuli dentin, cairan dalam tubuli ini akan mengalir dari pulpa ke arah luar yaitu perbatasan email dengan dentin, sehingga mempengaruhi ujung syaraf gigi. Akibatnya syaraf gigi akan teraktivasi dan mengirimkan sinyal ke otak dan terasa sakit. Pulpa Terdiri dari jaringan ikat longgar : pembuluh darah dan saraf Pulpa terhubung dengan periodontal ligamen melalui foramen apical (tempat keluar masuk pembuluh darah/ limfe dan saraf) Terbagi menjadi tiga area : Odontobalstic zone > bagian terluar pulpa terdiri dari selapis odontoblasts Cell-free zone > terletak pada bagian dalam odontoblastic zone. Pada area ini tidak ada sel Cell-rich zone > bagian paling dalam dari pulpa, banyak terdapat fibroblasts dan sel mesensim

Jaringn Periodontium Periodontium merupakan suatu jaringan yang mengelilingi dan mendukung gigi. Secara anatomi struktur periodontal meliputi gingiva (gusi), ligamen periodontal, tulang alveolar, serta sementum. Gingiva adalah suatu jaringan lunak yang terdapat pada rongga mulut. Gingiva dapat dibedakan dalam tiga tipe, yaitu :

1. Marginal gingival (gingiva tepi). Lapisan ini terletak pada daerah koronal dari bagian gingiva yang lain, tidak melekat pada gigi dan dapat membentuk sulkus gingiva (yaitu ruang dangkal antara tepi gingiva dan gigi). Pada keadaan normal, gingiva tepi mempunyai kontur seperti mata pisau, dengan konsistensi kenyal, dan berwarna merah muda. 2. Attached gingival (gingiva cekat), yakni terletak pada daerah apikal dari gingiva tepi dan cekungan gingiva bebas. Gingiva cekat berwarna merah muda dan mempunyai gambaran stipling (seperti kulit jeruk). 3. Gingiva interdental, yakni yang berlokasi di antara gigi pada daerah mesio-distal dari gigigigi. Ligamen periodontalmerupakan suatu jaringan yang mengelilingi akar gigi dan melekat erat pada gigi dan tulang alveolar. Ligamen periodontal ini terutama terdiri atas serabut kolagen yang tersusun secara teratur yang menghubungkan antara gigi dan tulang alveolar. Sementara tulang alveolar, merupakan bagian yang memegang gigi. Jenis tulang dikomposisikan sebagai tulang kanselus atau spongius yang ditutupi dengan penutup tulang yang keras, yaitu tulang kortikal. Sementum adalah jaringan terkalsifikasi yang menutupi akar gigi dan melekat pada serat-serat ligamen periodontal gigi. Sementum dibentuk secara berkesinambungan pada permukaan akar gigi yang berkontak dengan ligamen periodontal atau serat gingiva. Akar Gigi Pembentukan akar gigi dimulai setelah email selesai terbentuk. Sel-sel epitel email luar dan dalam bertemu dan membentuk cervical loop yang kemudian akan 1berproliferasi membentuk selubung epitel akar Hertwig. Bentuk dan ukuran akar gigi ditentukan oleh selubung epitel akar Hetwig. Sel epitel email dalam akan memicu sel mesenkim untuk berproliferasi menjadi preodontoblas dan odontoblas membentuk dentin. Setelah matriks dentin terbentuk, sel mesenkim dalam saku dental akan mendekat dan berkontak dengan dentin. Sel mesenkim ini kemudian berdiferensiasi menjadi sementoblas dan membentuk sementum.