Anda di halaman 1dari 84

TES TERTULIS UNTUK PRESTASI BELAJAR DAN TABEL SPESIFIKASI

Kelompok 6: Fitri Nurinayati | 3415101466 Wahyu Fitria Ningrum | Hapsari Kusumaningtyas |

TES TERTULIS UNTUK


PRESTASI BELAJAR

BENTUK-BENTUK TES

Tes Subjektif

Tes Objektif

TES SUBJEKTIF

Tes subjektif,pada umumnya berbentuk esai (uraian memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Ciri-ciri pertanyaaannya didahului dengan kata-kaata seperti uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan, dan sebagainya. Soal bentuk esai biasanya jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 5-10 buah soal dalam waktu kira-kira 90 s.d 120 menit. Tes esai menuntut siswa untuk dapat mengingat-ingat dan mengenal kembali, dan terutama harus mempunyai daya kreativitas yang tinggi.

KEBAIKAN TES SUBJEKTIF:


Mudah disiapkan dan disusun Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan Mendorong siswa untuk mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri Dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami seseuatu masalah yang diteskan.

KEBURUKAN TES SUBJEKTIF:

Kadar validitas dan realibilitas rendah karena sukar diketahui segi-segi mana dari pengetahuan siswa yang betul-betul telah dikuasai Kurang representatif dalam hal mewakili seluruh scope bahan pelajaran yang akan dites karena soalnya hanya beberapa saja (terbatas). Cara memeriksanya banyak dipengaruhi oleh unsurunsur subjektif Pemeriksaannya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari penilai Waktu untuk koreksinya lama dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain

PETUNJUK PENYUSUNAN

soal-soal tes dapat meliputi ide-ide pokok dari bahan yang diteskan, dan kalau mungkin disusun soal yang sifatnya komprehensif. soal tidak mengambil kalimat-kalimat yang disalin langsung dari buku atau catatan Pada waktu menyusun, soal-soal itu sudah dilengkapi dengan kunci jawaban serta pedoman penilaiannya diusahakan agar pertanyaannya bervariasi antara jelaskan, mengapa, bagaimana, seberapa jauh rumusan soal dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh tercoba ditegaskan model jawaban apa yang dikehendaki oleh penyusun tes, tes bersifat spesifik

TES OBJEKTIF
Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Dalam penggunaan tes objektif ini jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak dari pada tes esai. Kadang-kadang untuk tes yang berlangsung selama 60 menit dapat diberikan 30-40 buah soal.

KEBAIKAN-KEBAIKANNYA:
Mengandung lebih banyak segi-segi yang positif, misalnya lebih representatif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat dihindari campur tangannya unsur-unsur subjektif baik dari segi siswa maupun segi guru yang memeriksa Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi Pemeriksaannya dapat diserahkan orang lain Dalam pemeriksaan, tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi

KELEMAHAN-KELEMAHANNYA:
Persiapan untuk menyusunnya jauh lebih sulit daripada tes esai karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang lain Soal-soalnya cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja, dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi. Banyak kesempatan untuk main untung-untungan Kerja sama antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka

CARA MENGATASI KELEMAHAN:


Kesulitan menyusun tes objektif dapat diatasi dengan jalan banyak berlatih terus-menerus hingga betul-betul mahir. Menggunakan tabel spesifikasi untuk mengatasi kelemahan nomor satu dan dua Menggunakan norma (standar) penilaian yang memperhitungkan faktor tebakan (guessing) yang bersifat spekulatif itu.

MACAM-MACAM TES OBJEKTIF


Tes benar-salah (true-false)

Tes pilihan ganda (multiple choice)

Menjodohkan (matching test)

Tes Isian (completion test)

TES BENAR-SALAH (TRUE-FALSE)


Soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement). Statement tersebut ada yang benar dan ada yang salah. Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pernyataan itu dengan melingkari huruf B jika pernyataan itu betul menurut pendapatnya dan melingkari huruf S juka pernyataannya salah. Contoh: B-S. Tes bentuk objektif banyak memberi peluang testee untuk bermain spekulasi. Bentuk benar-salah ada 2 macam (dilihat dari segi mengerjakan/menjawab soal), yakni: Dengan pembetulan (with correction) Tanpa pembetulan (without correction

KEBAIKAN-KEBAIKAN TES BENAR-SALAH:


Dapat mencakup bahan yang luas dan tidak banyak memakan tempat karena biasanya pertanyaan-pertanyaannya singkat saja. Mudah menyusunnya Dapat digunakan berkali-kali Dapat dilihat secara cepat dan objektif Petunjuk cara mengerjakannya mudah dimengerti

KEBURUKAN TES BENAR-SALAH:


Sering membingungkan Mudah ditebak/diduga Banyak masalah yang tidak dapat ditanyakan hanya dengan dua kemungkinan benar atau salah Hanya dapat mengungkap daya ingatan dan pengenalan kembali

PETUNJUK PENYUSUNAN:
Tulislah huruf B-S pada permulaan masing-masing item dengan maksud untuk mempermudah mengerjakan dan menilai (scoring). Usahakan agar jumlah butir soal harus dijawab B sama dengan butir soal yang harus dijawab S. Dalam hal ini hendaknya pola jawaban tidak bersifat teratur, misalnya: B-S-B-S-B-S atau SS-BB-SS-BB-SS. Hindari item yang masih bisa diperdebatkan: Contoh: B-S. Kekayaan lebih penting daripada kepandaian Hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang persis dengan buku

CARA MENGOLAH SKOR:


Rumus untuk mencari skor akhir bentuk benar-salah ada 2 macam: Dengan denda S=R-W Contoh: Jumlah soal tes = 20 buah. A menjawab betul 16 buah dan salah 4 buah. Maka skor untuk A adalah: 16-4 = 12 Tanpa denda Rumus: S=R Yang dihitung ada yang betul (Untuk soal yang tidak dikerjakan dinilai 0).

TES PILIHAN GANDA (MULTIPLE CHOICE)

Multiple choice test terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap. Dan untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Atau Multiple choice test terdiri atas bagian keterangan (stem) dan bagian kemungkinan jawaban atau alternatif (options). Kemungkinan jawaban (option) terdiri atas satu jawaban yang benar yaitu kunci jawaban dan beberapa pengecoh (distractor).

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM TES PILIHAN GANDA:

Instruksi pengerjaannya harus jelas, dan bila dipandang perlu baik disertai contoh mengerjakannya. Dalam multiple choice test hanya ada satu jawaban yang benar. Jadi tidak mengenal tingkatan-tingkatan benar, misalnya benar nomor satu, benar nomor dua, dan sebagainya. Kalimat pokoknya hendaknya mencakup dan sesuai dengan rangkaian mana pun yang dapat dipilih. Kalimat pada tiap butir soal hendaknya sesingkat mungkin Usahakan menghindarkan penggunaan bentuk negatif dalam kalimat pokoknya Kalimat pokok dalam setiap butir soal, hendaknya tidak tergandung pada butir-butir soal lain. Gunakan kata-kata manakah jawaban paling baik, pilihlah satu yang pasti lebih baik dari yang lain, bilamana terdapat lebih dari satu jawaban yang benar.

Jangan membuang bagian pertama dari suatu kalimat. Contoh: .......... kita sudah merdeka ........ kita bekerja sama......... kita masing-masing. a. Andaikata......... maka b. Meskipun .........boleh c. Negara.............. maka d. Walaupun..........tidak seharusnya e. Tahun 1945 .......dan Dilihat dari segi bahasanya, butir-butir soal jangan terlalu sukar. Tiap butir soal hendaknya hanya mengandung satu ide. Meskipun ide tersebut dapat kompleks.

Bila dapat disusun urutan logis antar pilihan-pilihan, urutkanlah (misalnya: urutan tahun, urutan alphabet, dan sebagainya). Susunlah agar jawaban mana pun mempunyai kesesuaian tata bahasa dengan kalimat pokoknya. Alternatif yang disajikan hendaknya agak seragam dalam panjangnya, sifat uraiannya maupun taraf teknis. Alternatif-alternatif yang disajikan hendaknya agak bersifat homogen mengenai isinya dan bentuknya. Buatlah jumlah alternatif pilihan ganda sebanyak empat. Bilamana terdapat kesukaran, buatlah pilihan-pilihan tambahan untuk mencapai jumlah empat tersebut. Pilihan-pilihan tambahan hendaknya jangan terlalu gampang diterka karena bentuknya atau isi.

Hindarkan pengulangan suara atau pengulangan kata pada kalimat pokok di alternatif-alternatifnya, karena anak akan cenderung memilih alternatif yang mengandung pengulangan tersebut. Hal ini disebabkan karena dapat diduga itulah jawaban yang benar. Hindari menggunakan susunan kalimat dalam buku pelajaran. Karena yang terungkap mungkin bukan pengertiannya melainkan hafalannya. Alternatif-alternatif hendaknya jangan tumpang-suh, jangan inklusif, dan jangan sinonim. Jangan gunakan kata-kata indikator seperti selalu, kadang-kadang, pada umumnya.

CARA MENGOLAH SKOR:


Untuk mengolah skor dalam tes bentuk pilihan ganda digunakan 2 macam rumus: Dengan denda, dengan rumus: = 0 S = skor yang diperoleh (Raw score) R = jawaban yang betul W = jawaban yang salah 0 = banyaknya option l = bilangan tetap

contoh: murid menjawab betul 17 soal dari 20 soal. Soal bentuk multiple choice ini dengan menggunakan option sebanyak 4 buah.

Skor = 17

3 41

= 16

Tanpa denda, dengan rumus: S=R

MENJODOHKAN (MATCHING TEST)


Matching test dapat diganti dengan istilah mempertandingkan, mencocokkan, memasangkan, atau menjodohkan. Matching test terdiri atas satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban. Masing-masing pertanyaan pmempunyai jawabnya yang tercantum dalam seri jawaban. Tugas murid ialah: mencari dan menempatkan jawaban-jawaban, sehingga sesuai atau cocok dengan pertanyaannya.

Pasangkanlah pertanyaan yang ada pada lajur kiri dengan yang ada pada lajur kanan dengan cara menempatkan huruf yang terdapat di muka pernyataan lajur kiri pada titik-titik yang disediakan di lajur kanan.
a. Transmigrasi ........ 1. Masuknya penduduk dari negara lain. a. Imigrasi ............. 1. Pindahnya penduduk ke negara lain. a. Emigrasi ............... 1. Pindahnya penduduk dari desa ke kota. .................................. 1. Pindahnya penduduk antarpulau di dalam satu negara

PETUNJUK PENYUSUNAN
Seri pertanyaan-pertanyaan dlam matching test hendaknya tidak lebih dari sepuluh soal (item). Jika itemnya cukup banyak, lebih baik dijadikan dua seri. Jumlah jawaban yang harus dipilih, harus lebih banyak daripada jumlah soalnya (lebih kurang 1 kali). Dengan demikian murid dihadapkan kepada banyak pilihan, yang semuanya mempunyai kemungkinan benarnya, shingga murid terpaksa lebih mempergunakan pikirannya. Antara item-item yang tergabung dalam satu seri matching test harus merupakan pengertianpengertian yang benar-benar homogen.

Cara mengolah skor: dihitung S=R Artinya skor terakhir dihitung jawaban yang benar saja

TES ISIAN (COMPLETION TEST)


Completion test atau biasa disebut dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan , atau tes melengkapi. Completion test terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagiannya yang dihilangkan.

Misalnya: Di mulut, makanan dikunyah dan dicampur dengan ...........(1) yang mengandung ..................(2) dan berguna untuk menghancurkan ..............(3) kemudian ditelan melalui .................(4) masuk ke...........(5) Disini dicampur lagi dengan .................(6) ................. dan seterusnya.
1. 2.

3.
4. 5.

6.
7.

Contoh lembar jawaban: ...................................... ...................................... ...................................... ...................................... ...................................... ...................................... ......................................

Misalnya: .................... menemukan ......................... pada tahun ................. Soal diatas adalah tidak memberikan kunci pembuka. Oleh sebab itu tidak dapat dikerjakan, atau dapat dikerjakan dengan berbagai macam jawaban. Cara scoring: S=R (sama dengan bentuk matching).

PETUJUK PENYUSUNAN

Saran-saran dalam menyusun tes bentuk isian ini adalah sebagai berikut: Perlu selalu diingat bahwa kita tidak dapat merencanakan lebih dari satu jawaban yang kelihatan logis. Jangan mengutip kalimat/pernyataan yang tertera pada buku/catatan Diusahakan semua tempat kosong hendaknya sama panjang. Diusahakan hendaknya setiap pernyataan jangan mempunyai lebih dari satu tempat kosong Jangan mulai dengan tempat kosong. Misalnya: Ibukota Indonesia adalah ............. (lebih baik) ................... adalah ibukota Indonesia (kurang baik)

BAGAIMANAKAH DIGUNAKAN TES SUBJEKTIF?


Tes bentuk esai digunakan apabila: Kelompok yang akan tes kecil, dan tes itu tidak akan digunakan berulang-ulang Tester (guru) ingin menggunakan berbagai cara untuk mengetahui kemampuan siswa dalam bentuk tertulis. Guru ingin mengetahui lebih banyak tentang sikapsikap siswa daripada hasil yang telah dicapai. Memiliki waktu yangn cukup banyak untuk menyusun tes.

BILAMANAKAN DIGUNAKAN TES OBJEKTIF?


Kelompok yang akan dites banyak dan tesnya akan digunakan berkali-kali Skor yang diperoleh diperkirakan akan dapat dipercaya (mempunyai reliabilitas yang tinggi). Guru lebih mampu menyusun tes bentuk objektif daripada tes bentuk esai (uraian). Hanya mempunyai waktu sedikit untuk koreksi dibandingkan dengan waktu yagn digunakan untuk menyusun tes. Pada umumnya, guru seyogianya menggunakan dua macam bentuk tes ini dalam perbandingan 3:1, yaitu 3 bagian untuk tes objektif, dan 1 bagian untuk tes uraian.

PENGUKURAN RANAH AFEKTIF


Pengukuran ini tidak semudah mengukur ranah kognitif. Pengukuran ini tidak dapat dilakukan setiap saat karena perubahan tingkah laku siswa tidak dapat berubah sewaktu-waktu.

TUJUAN PENGUKURAN RANAH AFEKTIF


Mendapatkan umpan balik bagi guru dan siswa untuk memperbaiki proses belajar-mengajar dan mengadakan program remedial.

Mengetahui tingkat perubahan tingkah laku anak didik sebagai bahan perbaikan, pemberian laporan kepada orang tua, dan penentuan lulus tidaknya anak didik.

Menempatkan anak didik dalam situasi belajar-mengajar yang tepat, sesuai dengan tingkat pencapaian dan kemampuan serta karakteristik anak didik.

Mengenal latar belakang kegiatan belajar dan kelainan tingkah laku anak didik.

Sasaran penilaian efektif adalah perilaku anak didik, bukan pengetahuannya. Contoh : Siswa bukan dituntut untuk mengetahui sebabsebab dibentuknya BPUPKI, tetapi bagaimana sikapnya terhadap pembentukan BPUPKI tersebut. Pertanyaan afektif tidak menuntut jawaban benar atau salah, tetapi jawaban yang khusus tentang dirinya mengenai minat, sikap, dan internalisasi nilai (Cronbach, 1970).

Sebelum melakukan penilaian terhadap aspek afektif, guru diharapkan mendaftar materi yang dicakup dihubungkan dengan TIU dan TIK-nya. Sebagai pengganti TIU adalah yang disebut sebagai nilai dasar yang tercantum dalam GBHN 1983 yang menjadi dasar dalam PSPB. Nilai dasar diuraikan ke dalam nilai dan indikator.

Untuk PSPB ada 4 nilai dasar yang akan dicapai yaitu: a. Kesadaran Nasional sebagai suatu bangsa b. Sikap patriot c. Kreatif dan inovatif d. Kepribadian yang berdasarkan nilai, jiwa, dan semangat 1945 dan Pancasila

JENIS-JENIS SKALA SIKAP


1.

2.
3. 4. 5. 6.

Skala Likert Skala Pilihan Ganda Skala Thurstone Skala Guttman Semantic Differential Pengukuran Minat

1. SKALA LIKERT

Skala ini disusun dalam bentuk suatu penyesuaian dan diikuti oleh lima respons yang menunjukkan tingkatan. Misalnya seperti yang telah dikutip yaitu : SS = sangat setuju S = setuju TB = tidak berpendapat TS = tidak setuju STS = sangat tidak setuju

2. SKALA PILIHAN GANDA

a.

b.

c.

d.

Skala ini bentuknya seperti soal bentuk pilihan ganda yaitu suatu pernyataan yang diikuti oleh sejumlah alternatif pendapat. Contoh: Dalam suatu upacara bendera: Setiap peserta harus dengan khidmat mengikuti jalannya upacara tanpa kecuali. Peserta diperbolehkan berbicara asal dalam batas-batas tertentu dan tidak mengganggu jalannya upacara. Dalam keadaan terpaksa peserta boleh berbicara tetapi hanya dengan berbisik. Peserta boleh (merdeka) berbicara asal tertib. Skala seperti ini dikembangkan oleh Inkels, seorang ahli penilaian di Standford University.

3. SKALA THURSTONE
Skala

Thurstone merupakan skala mirip skala buatan Likert karena merupakan suatu instrumen yang jawabannya menunjukkan tingkatan. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 A B C D E F G H I J K
very favourable neutral very unfavourable

Pernyataan yang diajukan kepada responden disarankan oleh Thurstone kira-kira 10 butir, tetapi tidak kurang dari 5 butir.

4. SKALA GUTTMAN

Skala ini sama dengan yang disusun oleh Bogardus, yaitu berupa tiga atau empat buah pernyataan yang masing-masing harus dijawab ya atau tidak. Pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan tingkatan yang berurutan sehingga bila responden setuju pernyataan nomor 2, diasumsikan setuju nomor 1. selanjutnya jika responden setuju dengan pernyataan nomor 3, berarti setuju pernyataan nomor 1 dan 2.

Contoh: 1. Saya mengizinkan anak saya bermain ke tetangga. 2. Saya mengizinkan anak saya pergi kemana saja ia mau. 3. Saya mengizinkan anak saya pergi kapan saja dan kemana saja 4. Anak saya bebas pergi kemana saja tanpa minta izin terlebih dahulu.

5. SEMANTIC DIFFERENTIAL

Instrumen yang disusun oleh Osgood ini mengukur konsep-konsep untuk tiga dimensi. Dimensi-dimensi yang ada diukur dalam kategori: baik-tidak baik, kuatlemah, dan cepat-lambat atau aktif-pasif, atau dapat juga berguna-tidak berguna. Dalam buku Osgood dikemukakan adanya 3 faktor untuk menganalisis skalanya. A. Evaluation (baik-buruk) B. Potency (kuat-lemah) C. Activity (cepat-lambat) D. Familiarity (tambahan Nunnally)

contoh: Baik 1 2 3 4 5 6 7 tidak baik Berguna 1 2 3 4 5 6 7 tidak berguna Aktif 1 2 3 4 5 6 7 pasif cara ini dapat digunakan untuk mengetahui minat atau pendapat siswa mengenai sesuatu kegiatan atau topik dari suatu mata pelajaran

6. PENGUKURAN MINAT

Di samping menggunakan skala seperti dicontohkan di atas, minat juga dapat diukur dengan cara seperti di bawah ini a. Mengunjungi perpustakaan SS S B AS TS STS b. Sandiwara SS S B AS TS STS pilihan: senang, sampai dengan sangat tidak senang dapat ditentukan sendiri seberapa suka. Boleh juga diteruskan sampai 11 skala.

PENGUKURAN RANAH PSIKOMOTOR


Pengukuran ranah ini dilakukan terhadap hasil-hasil belajar yang berupa penampilan. Biasanya disatukan dengan pengukuran ranah kognitif sekaligus. Misalnya menilai penampilan siswa dalam menggunakan termometer

Tahu dan paham tentang termometer dan penggunaannya (aplikasi)

Tahu cara menggunakan termometer dalam bentuk keterampilan.

Perhatian! Cara memegang, meletakkan di ketiak/mulut, membaca angka, dan mengembalikan ke tempatnya.

Instrumen yang digunakan mengukur keterampilan biasanya berupa matriks. Ke bawah menyatakan perperincian aspek (bagian keterampilan) yang akan diukur, ke kanan menunjukkan besarnya skor yang dapat dicapai.

Contoh:

instrumen untuk mengamati keterampilan praktek memasak (dalam skala 5).


No. Keterampilan Skor 3 1 1 Terampil menyiapkan alat Tekun dalam bekerja Menggunakan waktu sangat efektif Mampu bekerja sama X X 2 4 5 X

2 3

Memperhatikan keselamatan kerja Memperhatikan kebersihan

Hasil masakan enak

Keseluruhan hasil sesuai dengan skor yang diperoleh. Untuk A ini skornya adalah:

BAB 12 TABEL SPESIFIKASI

1. FUNGSI TABEL SPESIFIKASI

Sebuah tes harus memiliki validitas isi dan tingkah laku, karena hal inilah yang terpenting dalam menyusun tes prestasi. Tabel spesifikasi dibuat untuk menjaga agar tes yang disusun tidak menyimpang dari bahan (materi) serta aspek kejiwaan (tingkah laku) yang akan dicakup dalam tes. Tabel spesifikasi dapat disebut juga sebagai grid, kisi-kisi atau blueprint. Wujudnya adalah sebuah tabel yang memuat tentang perperincian materi dan tingkah laku beserta imbangan/proporsi yang dikehendaki oleh penilai. Tiap kotak diisi dengan bilangan yang menunjukkan jumlah soal. Terdapat 3 buah aspek : ingatan, pemahaman, dan aplikasi.

Contoh Tabel Spesifikasi


Aspek yang diungkap Pokok Materi Bagian I Bagian II Bagian n (terakhir) Jumlah

Ingatan (I) ..... ..... ..... .....

Pemahaman (P) ..... ..... ..... .....

Aplikasi (A)

Jumlah

..... ..... ..... .....

..... ..... ..... .....

Tabel spesifikasi mempunyai kolom dan baris, sehingga tampak antara materi dengan aspek yang tergambar dalam TIK. Sebenarnya penyusun tersusun atas empat hal, yaitu hubungan antara materi, TIK, kegiatan belajar, dan evaluasi. Materi yang akan diajarkan mencapai TIK tahu bagaimana sifat materi tersebut misalnya fakta, konsep atau hubungan antarkonsep kegiatan belajar berupa informasi evaluasi berupa uraian, isian singkat, benar-salah atau pilihan ganda biasa.

2. LANGKAH-LANGKAH PEMBUATAN
1. Mendaftar pokok materi yang akan diteskan kemudian memberikan imbangan bobot untuk masing-masing pokok materi, yang ditentukan atas perkiraan saja. contoh : Akan membuat tes untuk evaluasi, pokok-pokok materinya adalah: a. Pengertian (2) b. Fungsi evaluasi (3) c. Macam-macam cara evaluasi (5) d. Persyaratan evaluasi (4)

2. Pokok-pokok materi dipindahkan ke dalam tabel dan mengubah indeks menjadi persentase. Aspek yang
diungkap Pokok Materi Pengertian (14%) Fungsi evaluasi (21%) Macam-macam cara evaluasi (36%) Persyaratan evaluasi (29%) Jumlah Ingatan (I) Pemahaman (P) Aplikasi (A) Jumlah

3. Memerinci banyaknya butir soal untuk tiap-tiap pokok materi, dan angka ini dituliskan pada kolom paling kanan.
Aspek yang diungkap Pokok Materi Pengertian (14%)

Ingatan (I)

Pemahaman (P)

Aplikasi (A)

Jumlah

Fungsi evaluasi (21%)


Macam-macam cara evaluasi (36%) Persyaratan evaluasi (29%) Jumlah

10
18 15 50 butir soal

Caranya adalah membagi jumlah butir soal (50 buah) menjadi 4 bagian berdasarkan imbangan bobot yang tertera sebagai presentase. Angka 50 ditentukan oleh guru berdasarkan alokasi waktu yang disediakan dan bentuk soal yang akan diberikan. Disini diperlukan kebijaksanaan guru untuk memperkirakan banyaknya butir soal agar tidak terlalu sedikit maupun terlalu banyak.

Misalnya sebuah soal objektif membutuhkan waktu 1 menit untuk membaca dan menjawabnya, sehingga jika disediakan waktu 75 menit untuk tes, dapat disusun butir soal sejumlah: - 50 soal bentuk objektif (50 menit) - 5 soal bentuk uraian (25 menit) Jadi banyaknya butir soal sangat ditentukan oleh 1. Waktu yang tersedia 2. Bentuk soal Sampai dengan langkah ketiga, cara yang dilalui sama bagi seluruh bidang studi

4. Terdapat langkah khusus, tergantung dari homogenitas atau heterogenitas (keragaman) materi yang diteskan. 1. Untuk materi yang seragam Dimana antara pokok materi yang satu dengan pokok materi yang lain mempunyai kesamaan dalam imbangan aspek tingkah laku.

Aspek yang diungkap Pokok Materi Pengertian (14%) Fungsi evaluasi (21%) Macam-macam cara evaluasi (36%) Persyaratan (29%) Jumlah evaluasi

Ingatan (I) (50%)

Pemahaman (P) (30%) B E H K

Aplikasi (A) (20%) C F I L

Jumlah (100%)

A D G J

7 10 18 15 50

Untuk menentukan banyak butir soal untuk tiap sel dilakukan : Sel A = 50/100 x 7 soal = 3,5 (4 soal) Sel B = 30/100 x 7 soal = 2,1 (2 soal) Sel C = 20/100 x 7 soal = 1,4 (1 soal)

Aspek yang diungkap Pokok Materi Pengertian (14%) Fungsi evaluasi (21%) Macam-macam cara evaluasi (36%) Persyaratan (29%) Jumlah evaluasi

Ingatan (I) (50%)

Pemahaman (P) (30%) B (2 soal) E H K

Aplikasi (A) (20%) C (1 soal) F I L

Jumlah (100%)

A (4 soal) D G J

7 10 18 15 50

CARA LAIN
Aspek yang diungkap Ingatan (I) Pokok (50%) Materi Bab 1 (40%) A Bab 2 (30%) D

Pemahaman (P) (30%) B E

Aplikasi (A) (20%) C F

Jumlah (100%)

Bab 3 (30%) Jumlah (100%)

I 40

Cara menghitung butir soal Sel A = 50% x 40% x 40 soal = 8 soal Sel B = 30% x 40% x 40 soal = 4,8 soal (dibulatkan 5 soal) Sel C = 20% x 40% x 40 soal = 3,2 soal (dibulatkan 3 soal)

Aspek yang diungkap Ingatan (I) Pokok (50%) Materi Bab 1 (40%) A (8) Bab 2 (30%) D (6) Bab 3 (30%) G (6) Jumlah (100%) 20

Pemahaman (P) (30%) B (5) E (4) H (4) 13

Aplikasi (A) (20%) C (3) F (2) I (2) 7

Jumlah (100%) 16 12 12 40

Untuk materi yang tidak seragam

tidak perlu mencantumkan angka persentase ambangan tingkah laku di kepala kolom. Pemberian imbangan dilakukan tiap pokok materi didasarkan atas banyaknya soal untuk pokok materi itu dan imbangan yang dikehendaki oleh penilai menurut sifat pokok materi yang bersangkutan.

C O N T O H

Aspek yang diukur Pokok materi BAB I 25% BAB II 40% BAB III 35% Jumlah 100%

Ing ata n A D G

Pemaha man

Aplikasi

Jumlah

B E H

C F I

10 16 14 40

Imbangan aspek tingkah laku, tidak dapat dituliskan pada kepala kolom.Penentuan angka yang menentukan banyaknya butir soal pada tiap sel, ditentukan perbab. Untuk BAB I, ingatan 60%, pemahaman 30%, aplikasi 10%. Maka: Sel A = 60/100 x 10 soal = 6 soal Sel B = 30/100 x 10 soal = 3 soal Sel C = 10/100 x 10 soal = 1 soal

membuat tabel spesifikasi: diadakan perkiraan mater-materi yang akan diteskan merupakan materi yang homogen atau bukan. Penyusunan tes yang melalui tabel spesifikasi dijamin bahwa tesnya cukup mempunyai validitas isi dan validitas tingkah laku. Sebaiknya dalam mengisi sel-sel tabel spesifikasi, dituliskan sekaligus unsur-unsur item bagi sel yang bersangkutan.

3. TINDAK LANJUT SESUDAH PENYUSUNAN TABEL


SPESIFIKASI

menentukan bentuk soal dua hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan bentuk soal yaitu: waktu yangg tersedia sifat materi yang dites bentuk soal sehubungan dengan waktu yangg tersedia, sifat materi sangat menentukan bentuk soal tes pula.
a.

Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan alokasi waktu tes adalah Untuk tes formatif dari bahan diselesaikan dalam waktu 4-5 kali pertemuan kira-kira memerlukan 1520 menit, sedangkan pelajaran yang berlangsung selama 1 jam pelajaran memerlukan waktu kira-kira 5-10 menit. Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan soal bentuk objektif pilihan ganda kira-kira - 1 menit untuk setiap butir tes. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan bentuk uraian tergantung dari berapa lama siswa harusnya berpikir dan menuliskan jawaban.

Untuk menentukan bentuk soal ditinjau dari segi aspek berpikir adalah sebagai berikut: Mendaftar fakta-fakta, istilah, definisi yang terdapat pada materi yang diajarkan. aspek ingatan. Mendaftar setiap konsep (pengertian) yang tercakup dalam seluruh materi. aspek pemahaman siswa. Mencari hubungan dari dua atau beberapa konsep. aspek pemahaman tetapi dapat juga aplikasi. Mempertentangkann konsep, menggenaeralisasikan dan menghubungan konsep dengan masalah sehari-hari berhubungan dengan aspek aplikasi. Memilih hubungan antara beberapa konsep dalam penerapan ke dalam permasalahan yang lebih luas. Kasus permasalahan yang luas dapat diangkat sebagai pokok untuk menyusun soal bentuk analisis, sintesis atau evaluasi.

Untuk menentukan bentuk soal ditinjau dari segi konstruksi soal yaitu bentuk objektif dan uraian maka yang dapat dilakukan adalah : Memilih fakta-fakta tunggal seperti tahun, nama atau istilah. Hal ini merupakan bagian tepat untuk dijadikan butir soal benar-salah atau isian singkat Hubungan konsep-konsep yang berupa klasifikasi dan diferensiasi ditentukan untuk membuat soal bentuk pilihan ganda. Definisi atau hubungan sebab-akibat, merupakan bahan yangg dapat diuji dengan bentuk benar-salah, pilihan ganda atau hubungan sebab-akibat. Memilih konsep-konsep yang agak kompleks

b. Menuliskan soal-soal tes hal-hal yang harus diperhatikan : bahasanya harus sederhana dan mudah dipahami tidak boleh mengandung penafsiran ganda atau membingungkan cara memenggal kalimat atau meletakkan kata-kata perlu diperhatikan agar tidak ditafsirkan salah petunjuk mengerjakan

Catatan: untuk mendapatkan tes terstandar, harus dilakukan ujicoba berkali-kali agar diperoleh soal-soal yang baik. manfaatnya: pengalaman menggunakan tes tersebut mengetahui kesukaran bahasa mengetahui variasi jawaban siswa mengetahui waktu yang dibutuhkan dan lain-lain kesulitan. Guru yang baik selalu meningkatkan mutu tes yang digunakan. mengumpulkan soal-soal tesnya, dan disertai catatan-catatan. Evaluasi harus sejalan dengan materi yang diajarkan.

1. Bentuk tes objektif yang terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagianbagiannya yang dihilangkan disebut... a. b. c. d. e. Tes pilihan ganda Tes isian Tes menjodohkan Tes benar salah Tes uraian

2. Kebaikan tes objektif dibandingkan dengan tes subjektif adalah.... a. Pemeriksaannya tidak dapat diwakilkan kepada orang lain b. Tidak memberi kesempatan untunguntungan c. Lebih mudah dengan cepat cara memeriksanya d. Persiapan untuk menyusunnya lebih sulit e. Dipengaruhi oleh unsur subjektif dalam pemeriksaannya,

3. Tujuan pengukuran ranah afektif adalah, kecuali... a. Mendapatkan umpan balik bagi guru maupun siswa untuk memperbaiki proses belajarmengajar b. Mengukur pengembangan penalaran c. Menentukan lulus tidaknya anak didik. d. Menempatkan anak didik dalam situasi belajar-mengajar yang tepat e. Mengenal kelainan tingkah laku anak didik.

4. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penulisan soal tes adalah sebagai berikut, kecuali... a. Bahasa sederhana dan mudah dipahami b. Soal tidak mengandung penafsiran ganda c. Petunjuk mengerjakan d. Soal memiliki dua jawaban e. Cara memenggal kalimat

5. Sebutkan bentuk-bentuk soal tipe objektif (minimal 3)!


6.Perhatikan tabel berikut ini :
Aspek yang diungkap
Pokok Materi Bab 1 (40%) Bab 2 (30%) Bab 3 (30%) Jumlah (100%) Ingatan (I) (50%) A D G Pemahama Aplikasi Jumlah n (P) (A) (100%) (30%) (20%) B C E F H I 40

Tentukan banyak butir soal untuk tiap sel pada Bab 2!