Anda di halaman 1dari 90

KAJIAN DAYA DUKUNG LAHAN LAUT

DI PERAIRAN TELUK BONE

Laporan Akhir Kegiatan

PUSAT RISET WILAYAH LAUT DAN SUMBERDAYA NON-HAYATI


BADAN RISET KELAUTAN DAN PERIKANAN
DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN

20 DESEMBER 2004
RINGKASAN

Konsep daya dukung (carrying capacity) perairan sebenarnya berakar pada disiplin ilmu
demografi, biologi dan ekologi terapan. Daya dukung dapat diartikan sebagai kondisi
maksimum suatu ekosistem untuk menampung komponen biotik yang terkandung
didalamnya. Dengan kata lain, kondisi suatu sumberdaya tertentu yang terdapat pada suatu
ekosistem alami seperti laut, akan bervariasi dari tahun ke tahun dikarenakan adanya
pengaruh faktor biotik dan abiotik serta pengaruh antar spesies yang terdapat di dalam
ekosistem tersebut. Apabila suatu suatu ekosistem telah mengalami gejala over-population,
maka akan sulit untuk ekosistem tersebut pulih kembali.
Selaras dengan salah satu tujuan strategis Departemen Kelautan dan Perikanan yakni
pemanfaataan sumberdaya perikanan dan kelautan yang sesuai dengan daya dukung
perairan, maka perlu untuk melakukan kajian yang dapat memberikan gambaran secara
ilmiah daya dukung perairan guna menunjang kegiatan pembangunan perikanan dan
kelautan. Hal ini penting dilakukan mengingat informasi seperti ini mutlak diperlukan untuk
kelangsungan pembangunan perikanan dan kelautan di suatu wilayah. Hasil kajian daya
dukung akan berguna dalam penentuan opsi kebijakan (policy option) yang diperlukan bagi
pembuat kebijakan pengelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan.
Kegiatan KAJIAN DAYA DUKUNG LAHAN LAUT DI PERAIRAN TELUK BONE pada
tahun 2004 ini, menghasilkan penggambaran fenomena yang terjadi pada periode Monsun
Tenggara (Bulan Agustus 2004). Elevasi permukaan laut pada kondisi Pasang Purnama
adalah berkisar 0,0492 - 2,4140 meter. Sedangkan kecepatan arus permukaan pada kondisi
yang sama berkisar 0,5x10-3 - 12,25x10-3 m/dt, dengan arah dominan menyusur pantai timur
yang kemudian menuju ke arah Utara dan Barat. Peristiwa downwelling terjadi di beberapa
lokasi di pantai barat dan upwelling di beberapa lokasi di pantai timur. Dimana kisaran
kecepatan arus vertikal yang menuju ke atas adalah 0,5x10-3 - 3,5x10-3 m/dt, sedangkan
kisaran kecepatan arus vertikal yang menuju ke bawah adalah 0,5x10-3 - 4,6x10-3 m/dt.
Kondisi temperatur air di permukaan berkisar 27,083 - 29,029 ºC, sedangkan kisaran
temperatur hingga di kedalaman rata-rata 150 meter adalah 17,677 - 18,328 ºC. Dimana
kisaran salinitas di permukaan antara 33 - 32,32 PSU, dan kisaran salinitas di kedalaman
rata-rata 150 meter mencapai 34,388 - 34,860 PSU. Sedangkan kisaran densitas dari
seluruh stasiun pengamatan adalah 20 - 25 kg/m3.
Meningkatnya nilai kandungan Nitrat dan Fosfat dikarenakan adanya peristiwa naiknya
zat unsur hara dari dasar laut menuju ke permukaan (upwelling). Kadar Nitrat berkisar antara
0,12 - 0,796 ppm. Kandungan Nitrat yang rendah karena arus dalam yang kuat pada
kedalaman tersebut menyebabkan kandungan Nitrat terbawa oleh massa air yang berasal
dari bagian selatan (mulut) teluk yang bergerak ke arah utara sehingga zat hara yang berada
pada bagian tersebut tidak sempat mengalami pengendapan yang menyebabkan kandungan
unsur hara relatif lebih rendah. Kandungan Fosfat berkisar 0,5 - 1,152 ppm. Rendahnya
kandungan Fosfat menunjukkan bahwa penyerapan oleh fitoplankton berjalan dengan baik.
Tingginya nilai Khlorofil antara 1,426 - 1,722 mg/m3 dikarenakan adanya penyinaran matahari
yang cukup sehingga mendapatkan intensitas cahaya yang dibutuhkan Fitoplankton untuk
dapat melakukan proses fotosintesa. Perairan Kep. Sembilan tergolong perairan yang subur
sehingga masih berada di dalam kisaran rata-rata untuk pertumbuhan fitoplankton.
Secara umum kondisi terumbu karang di daerah penelitian Kabupaten Kolaka lebih baik
dibandingkan kondisi terumbu karang di Kab. Sinjai. Tutupan karang hidup di Kab. Kolaka
adalah sekitar 61 %, sedangkan di Kab. Sinjai hanya sekitar 26,15 %. Dan tutupan karang
mati di Kab. Kolaka hanya sekitar 16 %, berbeda sekali dengan di Kab. Sinjai yang
mempunyai 43,63 %.
Kondisi fisik, kimiawi dan biologi perairan Teluk Bone yang lebih luas dibandingkan Teluk
Lasongko, tentunya akan bisa memberikan kekayaan alam laut yang lebih melimpah, dimana
daya dukung kelautan dan perikanan tersebut bisa lebih dimanfaatkan oleh masyarakat
sekitar untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - i


DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul
Ringkasan i
Daftar Isi ii
Daftar Gambar iv
Daftar Tabel vi
Kata Pengantar vii

BAB I PENDAHULUAN 1-1


A. Latar Belakang 1-1
B. Maksud dan Tujuan 1-2
C. Hasil yang Diharapkan 1-3
D. Ruang Lingkup 1-3
E. Anggaran dan Kegiatan 1-5

BAB II PENGELOLAAN PROYEK 2-1


A. Organisasi dan Personil 2-1
B. Keuangan 2-1

BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN 3-1


A. Dasar Pelaksanaan Kegiatan 3-1
B. Hasil Pelaksanaan Kegiatan 3-1
B.1. Teluk Bone 3-1
B.1.1 Metodologi 3-2
B.1.2 Hasil Simulasi Model 3 Dimensi Arus Barotropik 3-5
B.1.2.1 Sebaran Elevasi Muka Laut & Pola Arus 3-6
Permukaan
B.1.2.2 Profil Arus Di Teluk Bone 3-9
B.1.2.2.1 Profil Arus Pada Lintang Grid J=19 3-9
(Tg Siwa - Wawo)
B.1.2.2.2 Profil Arus Pada Lintang Grid J=33 3-13
(Muranti - Susua)
B.1.2.2.3 Profil Arus Pada Lintang J=39 (Suli -Tg Tabako) 3-15
B.1.2.2.4 Profil Arus Pada Lintang J=75 (Palopo-Lelewau) 3-18
B.1.3 Massa Air Teluk Bone 3-20
B.1.3.1 Temperatur 3-21
B.1.3.2 Salinitas 3-23
B.1.3.3 Densitas 3-26
B.1.4 Sebaran Nutrien Dan Klorofil Di Perairan 3-29
Kepulauan Sembilan
B.1.4.1 Nitrat 3-29
B.1.4.2 Fosfat 3-31
B.1.4.3 Khlorofil 3-34
B.1.5 Inventarisasi Terumbu Karang 3-35
B.1.5.1 Inventarisasi Terumbu Karang Di Kabupaten 3-35
Kolaka
B.1.5.1.1 Kondisi Karang 3-35
B.1.5.1.2 Invertebrata 3-39
B.1.5.2 Inventarisasi Terumbu Karang Kabupaten Sinjai 3-40
B.1.5.2.1 Kondisi Karang 3-40

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - ii


B.1.5.2.2 Invertebrata 3-43
B.2. Teluk Lasongko 3-53
B.2.1 Metodologi 3-54
B.2.2 Kondisi Oseanografi Fisik & Kimiawi 3-55
B.2.3 Kondisi Mangrove 3-58
B.2.4 Kondisi Lamun 3-59
B.2.5 Kondisi Terumbu Karang 3-61
B.2.6 Kondisi Perikanan Tangkap 3-63
B.2.7 Kondisi Budidaya Laut 3-65
B.3. Hasil Diskusi 3-69

BAB IV PERMASALAHAN 4-1

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5-1


A. Kesimpulan 5-1
B. Saran 5-3

DAFTAR PUSTAKA DP-1

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - iii


DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

3.1 Posisi Stasiun CTD pada Teluk Bone bagian selatan 3-3

3.2 Elevasi Pasang Surut di Teluk Bone 3-5

3.3 Profil Temperatur terhadap Kedalaman 3-22

3.4 Profil Salinitas terhadap Kedalaman 3-25

3.5 Profil Densitas terhadap Kedalaman 3-28

3.6 Grafik kadar nitrat di perairan Kep. Sembilan, Teluk Bone 3-30

3.7 Grafik kadar fosfat di perairan Pulau Sembilan, Teluk Bone 3-32

3.8 Grafik pengukuran klorofil di perairan Kep. Sembilan, Teluk Bone 3-34

3.9 Kondisi Tutupan Karang pada Kedalaman 3 meter di Kolaka 3-36


Stasiun1

3.10 Kondisi Tutupan Karang pada Kedalaman 3 meter di Kolaka 3-37


Stasiun 2

3.11 Kondisi Tutupan Karang pada Kedalaman 10 meter di Kolaka 3-38


Stasiun 2

3.12 Kondisi Tutupan Karang pada Kedalaman 3 meter di Kep. 3-40


Sembilan Stasiun 1

3.13 Kondisi Tutupan Karang pada Kedalaman 6 meter di Kep. 3-41


Sembilan Stasiun 3

3.14 Kondisi Tutupan Karang pada Kedalaman 3 meter di Kep. 3-42


Sembilan Stasiun 3

3.15 Area model dan kondisi batimetri Teluk Bone 3-45

3.16 Pola arus permukaan & sebaran muka air laut di Teluk Bone pada 3-46
Kondisi Pasang Purnama, saat air (a) menjelang pasang, (b)
pasang, (c) menjelang surut, (d) surut

3.17 Pola kecepatan & arah arus permukaan di Teluk Bone pada 3-47
Kondisi Pasang Purnama, saat air (a) menjelang pasang, (b)
pasang, (c) menjelang surut, (d) surut

3.18 Profil arus potongan melintang Tg. Siwa – Wawo pada Kondisi 3-48
Purnama, saat air (a) menjelang pasang, (b) pasang, (c) menjelang
surut, (d) surut

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - iv


3.19 Profil arus potongan melintang Tg. Siwa – Wawo pantai Timur 3-49
(zoom area) pada Kondisi Purnama, saat air (a) menjelang pasang,
(b) pasang, (c) menjelang surut, (d) surut

3.20 Profil arus potongan melintang Muranti – Susua pada Kondisi 3-50
Purnama, saat air (a) menjelang pasang, (b) pasang, (c) menjelang
surut, (d) surut

3.21 Profil arus potongan melintang Suli – Tabako pada Kondisi 3-51
Purnama, saat air (a) menjelang pasang, (b) pasang, (c) menjelang
surut, (d) surut

3.22 Profil arus potongan melintang Palopo – Lelewau saat air (a) 3-52
menjelang pasang, (b) pasang, (c) menjelang surut, (d) surut

3.23 Peta Batimetri Teluk Lasongko (Sumber: Dishidros TNI-AL) 3-56

3.24 Batimetri Teluk Lasongko hasil Asimilasi data akuisisi Multibeam 3-57
Echosounder dan Digitasi Peta (Satuan Kedalaman: meter)

3.25 Mangrove di Teluk Lasongko 3-58

3.26 Contoh padang Lamun di Teluk Lasongko 3-59

3.27 Jenis Lamun Teluk Lasongko berturut-turut dari kiri atas ke kanan 3-60
(Enhalus acoroides, Thalassia hemprinchii, Cymodocea rotundata),
dan kiri bawah ke kanan (Halophila ovalis, Syringodium
isoetifolium, Halodule universis)
3-61
3.28 Kondisi Terumbu Karang Teluk Lasongko

3.29 Jenis Pavona cactus (alga) dan Sinularia polydactyla 3-63


(karang lunak)

3.30 Rumput laut jenis Euchema Cottonii 3-66

3.31 Metode tali rentang untuk budidaya rumput laut 3-66

3.32 Karamba Jaring Apung 3-67

3.33 Karamba jaring tancap untuk pembesaran kerapu 3-68

3.34 Lobster jenis Mutiara yang cukup ekonomis 3-68

3.35 Cangkang hasil molting yang ke 8 kali 3-68


(kiri) dan tempat pembesaran Lobster (kanan)

4.1 Kapal Phinisi Cinta Laut sebagai Wahana dalam kegiatan riset ini 4-1

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - v


DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Desain Model Hidrodinamika 3-4

3.2 Jumlah penduduk usia 10 tahun keatas berdasarkan mata 3-54


pencaharian

3.3 Hasil terukur parameter fisik dan kimiawi perairan Teluk Lasongko 3-58

3.4 Kerapatan rata-rata tiap jenis lamun pada setiap stasiun penelitian 3-60

3.5 Hasil Analisa Ukuran Butir Pasir Substrat Di Setiap Stasiun 3-61
Penelitian

3.6 Jenis ikan yang tertangkap dengan alat jaring apung di Teluk 3-64
Lasongko

3.7 Jenis budidaya laut di Teluk Lasongko 3-65

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - vi


KATA PENGANTAR

Kegiatan KAJIAN DAYA DUKUNG LAHAN LAUT DI PERAIRAN TELUK


BONE pada tahun 2004 ini, merupakan rangkaian dari kegiatan kajian dengan
tema yang sama yang sudah dimulai sejak tahun 2003 yang berlokasi di Selat
Sunda, Teluk Tomini, Teluk Saleh, dan Teluk Ekas. Kajian kali ini menghasilkan
penggambaran fenomena yang terjadi di perairan Teluk Bone pada periode
Monsun Tenggara (Bulan Agustus 2004). Selain itu juga dalam kegiatan ini
dilakukan survei di Teluk Lasongko yang bisa digunakan sebagai perairan
pembanding, dimana luasnya yang memang lebih kecil tetapi memiliki daya
dukung untuk budidaya laut yang cukup bagus.
Tidak ada satu angka mutlak yang dapat menunjukkan daya dukung
ekosistem dalam menampung semua kegiatan manusia, karena berbagai
variabel yang menentukan besarnya daya dukung ekosistem tersebut sangat
bervariasi dan selalu tergantung pada tingkat pemanfaatan yang dilakukan oleh
manusia sendiri.
Hasil yang diharapkan secara umum dalam kegiatan ini adalah
terwujudnya suatu kebijakan kelautan nasional untuk pengelolaan perairan yang
dikelola oleh pemerintah pusat dan daerah. Hasil ini juga diharapkan dapat
dimanfaatkan sebagai panduan (guidance) dalam pengelolaan kelautan nasional
dalam bentuk perencanaan wilayah pengelolaan laut (regional marine plan) yang
terpadu.

Jakarta, 20 Desember 2004

Dr. Tonny Wagey, M.Sc

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - vii


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konsep daya dukung (carrying capacity) perairan sebenarnya berakar
pada disiplin ilmu demografi, biologi dan ekologi terapan. Seidl dan Tisdel
(1999) melacak asal usul dari konsep ini dan menyatakan bahwa
sebenarnya konsep dasar dari daya dukung terkait dengan teori Malthus
yang menggambarkan pertumbuhan populasi manusia hanya dibatasi
oleh ketersediaan makanan. Selanjutnya konsep Malthus ini berkembang
dan menjadi dasar bidang-bidang ilmu seperti biologi populasi, demografi
dan ekologi terapan.
Berbagai definisi terhadap konsep daya dukung telah para ahli. Odum
(1959) mengatakan bahwa daya dukung dapat diartikan sebagai kondisi
maksimum suatu ekosistem untuk menampung komponen biotik yang
terkandung didalamnya. Diatas level daya dukung ini, tidak akan terjadi
peningkatan populasi yang berarti. Dalam ilmu ekologi terapan, hal ini
terkait dengan parameter K dari kurva pertumbuhan logistik (Logistic
Growth Curve).
Namun Dhont (1988) menyatakan bahwa kaitan tersebut “salah
kaprah” karena tidak memperhitungkan faktor lingkungan dan berbagai
faktor lainnya yang berperan di alam.
Dikatakan oleh Dhont (1988), konsep daya dukung yang realistik tidak
dapat dijelaskan hanya dengan kurva pertumbuhan logistic yang
mengabaikan sifat-sifat alami seperti:
a. adanya pergerakan spasial (migrasi) species dari waktu ke waktu, dan
b. sifat stokastik alam.
Dengan kata lain, kondisi suatu sumberdaya tertentu yang terdapat
pada suatu ekosistem alami seperti laut, akan bervariasi dari tahun ke
tahun yang dikarenakan adanya pengaruh faktor-faktor biotik dan abiotik
serta pengaruh antar species yang terdapat di dalam ekosistem tersebut.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 1-1


Apabila suatu suatu ekosistem telah mengalami gejala over-population,
maka akan sulit untuk ekosistem tersebut pulih kembali.
Selanjutnya, Cohen (1995) menyimpulkan bahwa tidak ada satu
angka mutlak yang dapat menunjukkan daya dukung ekosistem dalam
menampung semua kegiatan manusia, karena berbagai variable yang
menentukan besarnya daya dukung ekosistem tersebut sangat bervariasi
dan selalu tergantung pada tingkat pemanfaatan yang dilakukan oleh
manusia sendiri.
Selaras dengan salah satu tujuan strategis Departemen Kelautan dan
Perikanan yakni pemanfaataan sumberdaya perikanan dan kelautan yang
sesuai dengan daya dukung perairan, maka perlu untuk melakukan kajian
yang dapat memberikan gambaran secara ilmiah daya dukung perairan
guna menunjang kegiatan pembangunan perikanan dan kelautan. Hal ini
penting dilakukan mengingat informasi seperti ini mutlak diperlukan untuk
kelangsungan pembangunan perikanan dan kelautan di suatu wilayah.
Hasil kajian daya dukung akan berguna dalam penentuan opsi kebijakan
(policy option) yang diperlukan bagi pembuat kebijakan pengelolaan
sumberdaya perikanan dan kelautan, yakni departemen teknis seperti
DKP.

B. Maksud Dan Tujuan


Tujuan secara umum dari kegiatan ini adalah untuk dapat mengetahui
hubungan antara daya dukung sumberdaya perikanan dengan variasi
kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap sumberdaya tersebut,
dengan sasaran:
• Tersedianya data daya dukung laut di kawasan perairan Teluk
Bone;
• Tersedianya peta zonasi pemanfaatan lahan laut di perairan
tersebut;
• Tersedianya panduan survei dan analisa spasial daya dukung
lahan

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 1-2


C. Hasil Yang Diharapkan
Hasil yang diharapkan secara umum dalam kegiatan ini adalah
terwujudnya suatu kebijakan kelautan nasional untuk pengelolaan
perairan yang dikelola oleh pemerintah pusat (12 mil s/d ZEE). Hasil ini
juga diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai panduan (guidance) dalam
pengelolaan kelautan nasional dalam bentuk perencanaan wilayah
pengelolaan laut (regional marine plan) yang terpadu.
Dengan demikian dampak dari kegiatan ini diharapkan mampu
menjadi “payung” dalam penyelesaian permasalahan lintas sektor,
perlindungan terhadap isu lingkungan dan pembangunan lestari sekaligus
menjadi instrument bagi Indonesia terhadap kewajiban-kewajiban
Internasional. Sedangkan hasil akhir yang diharapkan dari penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Report deskriptif kondisi wilayah penelitian.
2. Makalah yang siap dipublikasikan.
3. laporan akhir penelitian yang siap untuk dijadikan bahan
pertimbangan bagi para pengambil keputusan.
4. Peta batimetri Teluk Bone.
5. Informasi daya dukung lahan laut Teluk Bone.

D. Ruang Lingkup
Adapun ruang lingkup kegiatan KAJIAN DAYA DUKUNG LAHAN
LAUT DI PERAIRAN TELUK BONE ini pada tahun 2004 adalah:
• Mengidentifikasi faktor-faktor biotik dan abiotik yang berkaitan dengan
daya dukung sumberdaya kelautan dan perikanan di lokasi studi
• Membuat model ekosistem dari lokasi yang dipelajari.
• Mengukur pengaruh dari parameter biotik dan abiotik utama seperti:
suhu, salinitas, kandungan Chlorophyll-a, nutrien, dan memodelkannya
ke dalam pemodelan hidrodinamika dan ekologi untuk melihat
pengaruh lainnya terhadap kegiatan ekonomis kelautan dan perikanan,
serta memetakan lokasi penelitian tersebut.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 1-3


• Melakukan pemetaan zonasi pemanfaatan lahan laut berdasarkan
pada:
a) Data hidrodinamika laut
b) Biodiversitas (keragaman hayati) perairan
c) Perikanan
d) Sosial ekonomi

Selanjutnya unsur-unsur komponen kegiatan penelitian kajian daya


dukung ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Pengukuran dan inventarisasi parameter pemetaan wilayah dan
hidrodinamika, meliputi:
a. Suhu, salinitas, peta batimetri, arus dan pola sirkulasi air, profil
kandungan unsur hara primer (NO3 dan PO4), pasang surut.
2. Keragaman hayati laut termasuk:
a. Jumlah (biomasa) dan komposisi spesies.
3. Aspek perikanan, meliputi:
a. Perikanan tangkap, termasuk didalamnya informasi: hasil
tangkapan (catch), usaha (effort),data kelimpahan ikan (jumlah
dan jenis) ikan ekonomis penting keperluan pendugaan stok
assessment perikanan (single-species stock assessment).
b. Perikanan Budidaya, Untuk mengetahui potensi kegiatan
perikanan budidaya di suatu wilayah, diperlukan informasi
seperti: tataguna lahan dan sifat-sifat fisik dan kimia air dan
lahan yang dianggap potensial untuk dikembangkan.
4. Aspek Sosial Ekonomi dan Pengolahan hasil perikanan, meliputi:
a. Penghasilan (income), jumlah penduduk, distribusi geografis
masyarakat nelayan tangkap dan budidaya.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 1-4


E. Anggaran Dan Kegiatan
Adapun dana untuk kegiatan ini menurut Mata Anggaran Tahun
2004 adalah:
Uraian Tahun 2004
Bahan Rp. 24.500.000,00
Perjalanan Rp. 46.678.000,00
Lain-lain Rp. 194.950.000,00
Jumlah Rp. 266.128.000,00

Lokasi kajian yang dilakukan terletak di Teluk Bone dan Teluk


Lasongko, dengan jangka waktu pelaksanaan selama 6 bulan (180 hari
kalender kerja) terhitung sejak dikeluarkannya Surat Perintah Kerja (SPK)
dengan jadwal sebagai berikut :

Bulan ke-
Kegiatan 1 2 3 4 5 6
• Identifikasi masalah
• Survai dan pengumpulan
data sekunder (hasil survey
lapangan dan data satelit)
• Pengolahan dan analisis
data
• Pemodelan Hidrodinamika
• Verifikasi dan evaluasi hasil
model
• Penyusunan Laporan

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 1-5


Untuk melaksanakan seluruh kegiatan di atas, dibutuhkan tenaga ahli
sebagai berikut :
No. Tenaga Uraian Tugas Kualifikasi
1 Koordinator Tim Team Leader bertanggung-jawab S-3 Oseanografi dengan
(Ahli Oseanografi dalam mengkoordinasi kerja tim pengalaman kerja di bidang
Laut) ahli secara keseluruhan dan keahlian yang relevan ≥ 7 th,
pemantauan kemajuan teknis atau S-2 data oseanografi
pelaksanaan kegiatan serta dengan pengalaman ≥ 10 tahun.
penyelesaian penyusunan
laporan
2 Ahli Analisis Data Mengolah data yang diukur S-2 Oseanografi/Teknik Kelautan
beserta intepretasinya yang berpengalaman dibidang
pengolahan dan analisan data-
data oseanografi ≥ 6 th.
3 Ahli Interpretasi data satelit dan S-2 Oseanografi/Teknik
Penginderaan kaitannya dengan pola Geodesi/Geofisika yang
Jauh pergerakan pola penyebaran berpengalaman di bidang
temperatur, salinitas dan penginderaan jauh ≥ 6 th.
densitas; upwelling; zona
konvergensi dan front salinitas
4 Ahli Mengumpulkan informasi tentang S-2 Perikanan yang
Perikanan/Biologi kondisi perikanan dan berpengalaman di bidang
Oseanografi biodiversity, isu dan perangkat perikanan tangkap ≥ 6 th.
pengelolaannya
5 Ahli Mengumpulkan data dan S-2 Geografi/Geodesi yang
Pemetaan/Tata permasalahan wilayah laut, dan berpengalaman di bidangnya ≥ 6
Wilayah Laut menyusun pembagian wilayah tahun
pengelolaan kelautan
6 Ahli Biologi Laut/ Mengkaji masalah lingkungan, S-2 Biologi Laut yang
Lingkungan ekosistem laut dan manajemen berpengalaman di bidang
pengelolaannya ekosistem kelautan ≥ 6 th.
7 Ahli Oseanografi Mengkaji pola pergerakan, S-2 Oseanografi yang
kondisi oseanigrafi serta berpengalaman di bidangnya ≥
pemodelan oseanografi 6 th.
8 Asisten Ahli Membantu tugas ahli oseanografi S-1 Oseanografi yang
Oseanografi berpengalaman di bidang yang
relevan ≥ 3 th
9 Asisten Ahli Tata Membantu tugas ahli model S-1 Oseanografi yang
Wilayah Laut numerik dinamika laut /GIS berpengalaman di bidang
pemodelan numerik dinamika
laut ≥ 3 th
10 Asisten Ahli Membantu tugas ahli perikanan S-1 Perikanan yang
Perikanan tangkap berpengalaman di bidang
Budidaya perikanan budidaya ≥ 3 th
11 Asisten Ahli Membantu tugas ahli biologi laut S-1 Biologi yang berpengalaman
Biologi Laut di bidang yang relevan ≥ 3 th
12 Sekretaris/Juru Melakukan pekerjaan -
Ketik administrasi
13 Pesuruh Membantu tugas sekertaris -

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 1-6


BAB II
PENGELOLAAN PROYEK

A. Organisasi dan Personil


Adapun secara organisasi kegiatan ini dilakukan oleh Pusat Riset Wilayah
Laut dan Sumberdaya Non-hayati, Badan Riset Kelautan dan Perikanan,
Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, dengan personil
sebagai berikut:

Ketua Tim : 1. Dr. Tonny Wagey, M.Sc (Ahli Oseanografi Perikanan)

Pelaksana : 2. Drs. Andjar Suparman, M.M (Ahli Tata Wilayah)


3. Widodo S. Pranowo, M.Si (Ahli Analisis Data Oseanografi)
4. A. Rita Tisiana DK, M.T. (Ahli Oseanografi)
5. Andreas Hutahaean, M.Sc (Ahli Biologi/Lingkungan Laut)
6. Bagus Hendrajana, M.Sc (Ahli Instrumen Oseanografi)
7. Gunardi Kusumah, ST (Ahli Pemetaan)
8. Eva Mustikasari, S.Si (Ass. Ahli Analisis Data)
9. Hari Prihatno, ST (Ass. Ahli Oseanografi &
Administrasi)
10. Hariyanto Triwibowo, ST (Ass. Ahli Instrumen Oseanografi)
11. Restu Nur Afiati, S.ST.Pi (Ass. Ahli Biologi Laut)
12. Rizki Anggoro Adi, ST (Ass. Ahli Pemetaan)
13. Sari Novita Peneliti Mahasiswa

B. Keuangan

Adapun perincian keuangan dalam kegiatan ini yang telah diserap adalah
sebesar 73,25 %, dan 26,75% yang belum terserap, dengan rincian sebagai
berikut:

Uraian Anggaran Penggunaan


Bahan Rp. 24.500.000,00 Rp. 24.500.000,00
Perjalanan Rp. 46.678.000,00 Rp. 46.678.000,00
Lain-lain Rp. 194.950.000,00 Rp. 123.772.000,00
Jumlah Rp. 266.128.000,00 Rp. 194.950.000,00

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 2-1


BAB III
PELASANAAN KEGIATAN

A. Dasar Pelaksanaan Kegiatan


Adapun dasar pelaksanaan kegiatan ini adalah KERANGKA ACUAN
KERJA (KAK) KAJIAN DAYA DUKUNG LAHAN LAUT DI PERAIRAN TELUK
BONE, tahun 2004.

B. Hasil Pelaksanaan Kegiatan


Adapun hasil pelaksanaan kegiatan meliputi hasil riset pada 2 lokasi
penelitian sesaui dengan yang tercantum di dalam KAK (Kerangka Acuan Kerja),
yaitu Teluk Bone dan Teluk Lasongko. Dimana Teluk Bone merupakan teluk
dengan area yang luas, sedangkan area yang kecil diwakili oleh Teluk Lasongko.

B.1. Teluk Bone


Perairan Teluk Bone Secara administratif terletak di Propinsi Sulawesi
Selatan (di sebelah barat dan utara) dan Propinsi Sulawesi Tenggara (di sebelah
timur). Wilayah administratif dari Propinsi Sulawesi Selatan yang berbatasan
perairan Teluk Bone adalah Kabupaten Bulukumba, Kab. Sinjai, Kab. Bone, Kab.
Wajo, Kab. Luwuk, Kodya Polopo, Kab. Luwuk Utara, Kab. Luwuk Timur.
Sedangkan wilayah administratif di Propinsi Sulawesi Tenggara yang berbatasan
dengan perairan Teluk Bone adalah Kabupaten Bombana dan Kab. Kolaka. Laut
Flores adalah batas sebelah selatan dari perairan Teluk Bone.
Teluk Bone dicirikan sebagai tempat bermuaranya Sungai Cenrana.
Secara geografis Sungai Cenrana menjadi muara dari sejumlah sungai besar
dan kecil di Sulawesi Selatan. Dimana air dari Sungai Cenrana ini kemudian
mengalir ke Teluk Bone.
Riset yang dilakukan pada tahap ini adalah mengumpulkan komponen
sumberdaya hayati dan non-hayati, yang pada tahap selanjutnya akan dilakukan

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-1


perhitungan mengenai seberapa besar daya dukung lingkungan yang ada di
perairan Teluk Bone.

B.1.1 Metodologi
Metode penelitian yang digunakan untuk mengkaji kondisi oseanografi fisik
perairan Teluk bone adalah:
1. Pengukuran parameter CTD (Conductivity, Temperature, Depth) secara in
situ pada cakupan area perairan Teluk Bone bagian Selatan.
2. Pemodelan numerik arus dan muka laut secara 3 dimensi menggunakan
3DD Suite Software Model (Black, 2002), dimana daerah yang menjadi
domain model adalah perairan Teluk Bone bagian Utara.
Simulasi arus dilakukan selama 10 hari (1 – 10 Agustus 2004). Domain model
yang disimulasikan tidak mencakup seluruh titik-titik lokasi pengukuran
parameter CTD. Dimana luasan area yang menjadi domain model adalah
2º45’00”– 3º50’00” LU dan 120º10’00” – 121º20’00” BT, atau sebagai batas
selatan domain model adalah sekitar pesisir Wulu dan Tanjung Lakoloko (lihat
Gambar 3.15). Desain model hidrodinamika secara detail dapat dilihat pada
Tabel 3.1. Hasil simulasi arus ditampilkan dalam bentuk 3 dimensi, dimana
selain ditampilkan pola arus permukaan dan sebaran elevasi muka laut,
ditampilkan juga beberapa profil arus di beberapa penampang melintang yaitu
pada lintang grid J=19, J=33, J=39, dan J=75 (lihat Gambar 3.15). Sedangkan
pengukuran parameter CTD dilakukan sesaat pada periode waktu yang sama
juga dengan simulasi waktu pemodelan (1 – 10 Agustus 2004) mencakup daerah
sekitar 3º29’00”– 4º30’00” LU dan 120º10’00” – 121º40’00” BT (lihat Gambar
3.1).

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-2


Gambar 3.1. Posisi Stasiun CTD pada Teluk Bone bagian selatan

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-3


Tabel 3.1. Desain Model Hidrodinamika
No Parameter Harga Satuan
1 X Grid Size 100 meter
2 Y Grid Size 100 meter
3 Number of X (I) 100 cells
4 Number of Y (J) 100 cells
5 Time step 0,45 detik
6 First time step 1
7 Last time step 1700000 detik
8 Roughness length 1 m
9 Effective depth 0,3 m
10 Drying height 0,05 m
11 Initial sea level 99 Set by model
12 Latitude in the centre of the grid -3,5 derajat
13 Orientation of the grid relative to true north 0 derajat
14 Horizontal eddy viscosity (uniform and constant) 3
15 Horizontal eddy viscosity multiplication factor 1
16 Number of horizontal eddy viscosity multiplying steps 1
17 Coastal slip 95 %
18 Non-linear term treatment 0-none; 4-third order 4
19 Wind speed (uniform And constant) 2,08 m/detik
20 Wind direction (uniform And constant) 116 derajat
21 Barometric pressure 0
22 Vertical eddy viscosity type Mixing #1

Metode penelitian yang digunakan untuk mengkaji kondisi oseanografi biologi


perairan Teluk bone adalah:
1. Pengambilan dan analisa laboratorium dari contoh air, untuk diketahui
kandungan nutrien (Nitrat dan Fosfat) dan Khlorofil.
2. Inventarisasi potensi sumberdaya terumbu karang menggunakan metode
(English, et al., 1997): Transek Garis (Line Intercept Transect),
Pengambilan Contoh secara Bebas (Free Sampling), dan RRA (Rapid
Reef Resource Assesment).
Pengambilan contoh air dilakukan bersamaan dengan dilakukannya pengukuran
parameter CTD (lihat Gambar 3.1), sedangkan inventarisasi terumbu karang
dilakukan pada perairan Kabupaten Kolaka (Propinsi Sulawesi Tenggara) dan
Kab. Sinjai (Propinsi Sulawesi Selatan). Penentuan kadar Khlorofil adalah
menggunakan Metode Parsons, et al (1984).

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-4


B.1.2 Hasil Simulasi Model 3 Dimensi Arus Barotropik
Berdasarkan hasil ramalan menggunakan ORITIDE (Global Tide Model)
yang dibangun oleh Ocean Research Institute, University of Tokyo dimana
melibatkan 8 komponen pasut utama (M2, S2, N2, K2, K1, O1, P1, dan Q1),
terlihat pola elevasi pasang surut (lihat Gambar 3.2) di perairan Teluk Bone
adalah bertipe Campuran cenderung ke Harian Ganda (Mixed Tide Prevailing
Semidiurnal), dimana dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air
surut, tetapi tinggi dan periodenya berbeda, dan jika dinyatakan dalam kisaran
nilai Formzahl adalah sebesar 0,25 < F < 1,50 (Wyrtki,1961).

Tide of Point reference for Bone Bay


(August 1 [00:00 WITA] - 10 [20:00 WITA], 2004)

2.5

2
Height (meters)

1.5

0.5

0
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200
Hours

Gambar 3.2. Elevasi Pasang Surut di Teluk Bone

Sedangkan hasil simulasi pemodelan 3 dimensi barotropik yang melibatkan


angin dengan kekuatan dan arahnya yang konstan selama 10 hari pertama di
bulan Agustus 2004 adalah sebagai berikut:

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-5


B.1.2.1 Sebaran Elevasi Muka Laut & Pola Arus Permukaan
Pada saat air menjelang pasang pada kondisi Purnama, ketinggian
elevasi permukaan laut berkisar 1,8200 meter hingga 1,8310 meter diatas muka
laut rata-rata, dengan elevasi tertinggi ada di Teluk Usu, dan terendah ada di
sepanjang pesisir Wawo hingga Wulu (lihat Gambar 3.16.a). Sehingga pola
sirkulasi arus yang terjadi adalah sebagai berikut (lihat Gambar 3.17.a):
Kecepatan arus antara 1,5x10-3 m/dt hingga 12,25x10-3 m/dt dengan kecepatan
terbesar di bagian selatan dari teluk. Kecepatan arus berkurang ketika menuju ke
bagian tengah dari teluk, tetapi kemudian terjadi peningkatan intensitas
kecepatan menjadi 6 x10-3 m/dt hingga 8x10-3 m/dt akibat perubahan slope
batimetri di sekitar Karang Lamunre, Karang Bali, dan Tanjung Tabako.
Intensitas kecepatan kembali berkurang ketika melewati sekitar Karang Naber,
Karang Bron dan Tanjung Batikala. Sedangkan pola arus yang terjadi secara
umum adalah: Arus berasal dari bagian selatan dari teluk (mulut) bergerak ke
Baratlaut, arus dari pesisir Wulu bergerak menyusur pantai timur hingga Tanjung
Tabako kemudian berbelok ke Barat menuju pantai Barat sekitar pesisir Muranti,
yang kemudian bergabung dengan arus susur pantai Barat yang bergerak dari
bagian selatan dari teluk (sekitar Tanjung Lakalolo) menuju ke Utara menyusur
menuju Pesisir Karangkarangan dan Palopo. Sebagian arus yang bergerak dari
Tanjung Tabako menyusuri sepanjang pesisir pantai timur dan pesisir utara
kemudian berbelok menuju Baratdaya ke arah pesisir Palopo. Jika meninjau
lebih detail di sekitar Tanjung Batikala dan Teluk Usu, arus susur pantai timur
ketika sampai di Tanjung Batikala akan terbagi menjadi 2 pola aliran, pola utama
akan berbelok ke Baratlaut menuju pesisir utara (antara pesisir Bubu dan
Saluana), sedangkan pola aliran yang lain akan menyusuri Teluk Usu baru
kemudian bergerak menyusuri pesisir Bubu untuk bergabung lagi dengan arus
susur pantai utara.
Pada saat air pasang pada kondisi Purnama, ketinggian elevasi
permukaan laut berkisar 2,4065 meter hingga 2,4140 meter diatas muka laut
rata-rata, dengan elevasi tertinggi ada di sepanjang pesisir Wawo hingga Wulu,
dan terendah ada di Teluk Usu (lihat Gambar 3.17.b). Sehingga pola sirkulasi

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-6


arus yang terjadi adalah sebagai berikut (lihat Gambar 3.18.b): Kecepatan arus
antara 0,5x10-3 m/dt hingga 9,5x10-3 m/dt dengan kecepatan terbesar di bagian
selatan dari teluk. Kisaran tersebut lebih rendah dibandingkan kisaran kecepatan
arus pada saat menjelang pasang. Secara umum kecepatan berkurang dari
9,5x10-3 m/dt menjadi sekitar 7.5 x10-3 m/dt ketika menuju ke bagian tengah dari
teluk ketika mendekati Karang Bali dan sejajar dengan pesisir Lahou, dan
semakin menurun intensitasnya menjadi 6x10-3 m/dt hingga 4,5x10-3 m/dt ketika
mendekati pesisir utara. Intensitas kecepatan rendah (3,5x10-3 m/dt hingga
0,5x10-3 m/dt) terlihat di bagian barat dari teluk mencakup area sekitar Karang
Lamunre, Karang Naber, Karang Bron hingga pesisir Muranti dan pesisir
Mandalinga (termasuk pesisir Karangkarangan dan Palopo), begitu juga kisaran
kecepatan di Teluk Usu. Sedangkan secara umum pola arus yang bergerak
adalah sama dengan yang terjadi pada saat air menjelang pasang.
Pada saat air menjelang surut pada kondisi Purnama, ketinggian elevasi
permukaan laut berkisar 1,0770 meter hingga 1,0832 meter diatas muka laut
rata-rata, dengan elevasi tertinggi ada di Teluk Usu, dan terendah ada di
Tanjung Lokoloko dan di sepanjang pesisir Wawo hingga Wulu. Sedangkan
sinyal elevasi muka laut yang tinggi (sekitar 1,0825 meter) tampak muncul di
sekitar pesisir Palopo tetapi hanya seluas 20 km2 (lihat Gambar 3.17.c).
Sehingga pola sirkulasi arus yang terjadi adalah sebagai berikut (lihat Gambar
3.18.c): Kecepatan arus antara 0,5x10-3 m/dt hingga 10,5x10-3 m/dt dengan
kecepatan terbesar di bagian selatan dari teluk. Kecepatan arus berkurang ketika
menuju ke bagian tengah dari teluk, tetapi kemudian terjadi peningkatan
intensitas kecepatan menjadi 8 x10-3 m/dt hingga 10x10-3 m/dt akibat perubahan
slope batimetri di sekitar Karang Naber dan Karang Bali hingga sedikit ke arah
utara di tengah teluk yang sejajar dengan Tanjung Batikala. Intensitas kecepatan
kembali berkurang menjadi 4 x10-3 m/dt hingga 0,5x10-3 m/dt ketika mendekati
pesisir utara, pesisir Karangkarangan, pesisir Palopo, pesisir Tanjung Tolala, dan
Teluk Usu. Kisaran tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan kisaran kecepatan
arus pada saat menjelang pasang, dan sedikit lebih tinggi dibandingkan kisaran
arus pada saat surut. Sedangkan pola arus yang terjadi secara umum adalah:

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-7


Arus bergerak meninggalkan bagian utara dari teluk menuju ke selatan dari teluk,
tetapi ada sedikit arus yang bergerak dari pesisir Wulu lurus menuju ke pesisir
Barat. Secara lebih detail: Arus meninggalkan Teluk Usu sebagian menyusur
pesisir utara baru kemudian bergabung dengan arus yang meninggalkan pesisir
Palopo dan Karangkarangan, dan sebagian lagi langsung bergerak ke
Baratdaya. Arus-arus tersebut kemudian akan bertemu dengan pola arus yang
bergerak ke Barat yang meninggalkan sepanjang pesisir timur yang dimulai dari
Teluk Usu hingga pesisir Susua. Sedangkan arus yang meninggalkan pesisir
Labuandata hingga pesisir Wawo dan sekitarnya kembali bergerak menuju
Baratdaya keluar dari mulut Teluk.
Pada saat air surut pada kondisi Purnama, ketinggian elevasi permukaan
laut berkisar 0,0492 meter hingga 0,0525 meter diatas muka laut rata-rata,
dengan elevasi tertinggi ada di pesisir Palopo, dan terendah ada di dareah
antara Tanjung Batikala dan Tanjung Tolala. Sedangkan sinyal elevasi muka laut
yang tinggi (sekitar 0,0522 meter hingga 0,0525 meter) tampak muncul di
sepanjang pesisir Wulu hingga pesisir Wawo dengan luasan sekitar 920 km2
(lihat Gambar 3.17.d). Sehingga pola sirkulasi arus yang terjadi adalah sebagai
berikut (lihat Gambar 3.18.d): Kecepatan arus antara 0,5x10-3 m/dt hingga
10x10-3 m/dt dengan kecepatan terbesar di bagian selatan dari teluk. Kisaran
kecepatan tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan kisaran pada saat
menjelang surut dan sedikit lebih tinggi dibandingkan kisaran pada saat pasang.
Secara umum kecepatan berkurang dari 10x10-3 m/dt menjadi sekitar 8x10-3 m/dt
ketika menuju ke bagian tengah dari teluk ketika mendekati Karang Bali dan
sejajar dengan pesisir Pakowe, dan semakin menurun intensitasnya menjadi
6,5x10-3 m/dt hingga 3,5x10-3 m/dt ketika mendekati pesisir utara, dan pesisir
timur mulai dari pesisir Lahou hingga Tanjung Batikala. Intensitas kecepatan
rendah (3,5x10-3 m/dt hingga 0,5x10-3 m/dt) terlihat di bagian barat dari teluk
mencakup area sekitar Karang Lamunre, Karang Naber, Karang Bron hingga
pesisir Muranti dan pesisir Mandalinga (termasuk pesisir Karangkarangan dan
Palopo), begitu juga kisaran kecepatan di Teluk Usu. Sedangkan pola arus yang
terjadi secara umum adalah: Arus bergerak meninggalkan pesisir timur menuju

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-8


ke pesisir barat dari teluk, kemudian arus tersebut bergabung dengan arus susur
pantai barat menuju ke utara yang bergerak dari Tanjung Lokoloko menuju
Tanjung Jene yang kemudian menyusur menuju pesisir Palopo. Arus dari pesisir
timur yang kemudian menyusuri pesisir utara juga bergerak menuju ke arah
pesisir Palopo.

B.1.2.2 Profil Arus Di Teluk Bone


Dalam simulasi model arus 3 dimensi barotropik ini upwelling ditinjau dari
parameter arus vertikal yang bergerak dari kedalaman tertentu menuju ke
lapisan yang lebih dangkal/permukaan. Hasil simulasi juga menunjukkan adanya
fenomena arus sinking/downwelling di sekitar perairan Teluk Bone, tetapi dengan
kecepatan yang tidak begitu signifikan. Fenomena upwelling di perairan Teluk
Bone terjadi akibat adanya Ekman Transport yang menarik massa air permukaan
menuju ke Barat dari pantai timur Teluk Bone sehingga massa air dari lapisan di
bawahnya naik ke permukaan untuk mengisi kekosongan tersebut. Ekman
transport yang terjadi diakibatkan oleh angin Tenggara sebagai wind-driven
current, dimana Ekman transport yang dibangkitkan oleh angin memiliki
kecepatan maksimum di permukaan dan kecepatan tersebut akan berkurang
terhadap kedalaman, kemudian karena arus terkuat ke arah kiri dari arah angin
maka dapat dinyatakan bahwa net transport akan ke arah kiri dari arah angin
(Pond dan Pickard, 1995).

B.1.2.2.1 Profil Arus Pada Lintang Grid J=19 (Tg Siwa - Wawo)
Pada saat menjelang pasang, kondisi Purnama secara umum kecepatan
arus vertikal pada lintang grid j=19 umumnya berkisar antara 0,5x10-3 m/dt
hingga 10,2x10-3 m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada
pada kisaran 4 x10-3 m/dt hingga 10,2x10-3 m/dt, sedangkan pada lapisan
berikutnya yaitu hingga kedalaman 40 meter kecepatan berkisar 1,5 x10-3 m/dt
hingga 6 x10-3 m/dt, arah arus kedua lapisan tersebut dominan menuju ke arah
Barat, dimana kecepatan semakin melemah ketika mendekati ke dua sisi pantai
(lihat Gambar 3.19.a). Dinamika arus vertikal mulai terlihat pada kedalaman 60

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-9


meter hingga ke lapisan kolom air yang mendekati dasar perairan. Hasil simulasi
memperlihatkan dengan jelas adanya peristiwa downwelling di pantai barat pada
kedalaman antara 60 meter, arus vertikal tersebut menuju ke bawah hingga
mencapai lapisan kolom air terbawah (300 meter) dengan kecepatan arus antara
2,2x10-3 m/dt sampai dengan 3,6x10-3 m/dt. Peristiwa downwelling kuat terlihat
pada jarak sekitar 1 kilometer dari pantai barat dengan kisaran 3,6x10-3 m/dt
sampai dengan 4,3x10-3 m/dt, dimana mulai terjadi dari kedalaman 60 meter
menuju ke kedalaman 200 meter hingga 300 meter. Peristiwa front arus terlihat
pada jarak sekitar 2 kilometer dari pantai barat, dimana terjadi pertemuan antara
kolom arus upwelling dan kolom arus downwelling, dimana arus vertikal menuju
ke atas tersebut mulai terjadi dari kedalaman sekitar 200 meter menuju
kedalaman 60 meter dengan kecepatan berkisar 3 x10-3 m/dt hingga 3,5 x10-3
m/dt. Peristiwa arus vertikal menuju ke atas juga terjadi pada jarak sekitar 2,7
kilometer dari pantai timur, yang terjadi pada kedalaman sekitar 140 meter
menuju ke kedalaman 75 meter dengan kekuatan yang sangat kecil. Peristiwa
upwelling juga terjadi diatas basin kecil yang berjarak sekitar 1 kilometer dari
pantai timur, dengan kecepatan arus vertikal ke atas sekitar 1x10-3 m/dt hingga
3,5 x10-3 m/dt (lihat Gambar 3.20.a).
Pada saat pasang, kondisi Purnama secara umum kecepatan arus vertikal
pada lintang grid j=19 umumnya berkisar antara 0,5 x10-3 m/dt hingga 8,2x10-3
m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada pada kisaran 2,1
x10-3 m/dt hingga 8,2x10-3 m/dt, sedangkan pada lapisan berikutnya yaitu hingga
kedalaman 40 meter kecepatan berkisar 0,8x10-3 m/dt hingga 4,8x10-3 m/dt, arah
arus kedua lapisan tersebut dominan menuju ke arah Barat, dimana kecepatan
semakin melemah ketika mendekati ke dua sisi pantai (lihat Gambar 3.19.b).
Dinamika arus vertikal mulai terlihat pada kedalaman 60 meter hingga ke lapisan
kolom air yang mendekati dasar perairan. Hasil simulasi memperlihatkan dengan
jelas adanya peristiwa downwelling di pantai barat pada kedalaman antara 60
meter, arus vertikal tersebut menuju ke bawah hingga mencapai lapisan kolom
air terbawah (300 meter) dengan kecepatan arus antara 0,8x10-3 m/dt sampai
dengan 2,5x10-3 m/dt. Peristiwa upwelling kuat pada periode ini terlihat pada

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-10


jarak sekitar 1 kilometer dari pantai barat dengan kisaran 1,8x10-3 m/dt sampai
dengan 2,8x10-3 m/dt, dimana mulai terjadi dari kedalaman 280 meter hingga
250 meter menuju ke kedalaman 60 meter. Peristiwa front arus terlihat pada
jarak sekitar 2 kilometer dari pantai barat, dimana terjadi pertemuan antara
kolom arus upwelling dan kolom arus downwelling, dimana arus vertikal menuju
ke bawah tersebut mulai terjadi dari kedalaman sekitar 75 meter menuju
kedalaman 350 meter dengan kecepatan berkisar 1x10-3 m/dt hingga 1,2x10-3
m/dt. Peristiwa arus vertikal menuju ke atas juga terjadi pada jarak sekitar 2
kilometer dari pantai timur, yang terjadi pada kedalaman sekitar 200 meter
menuju ke kedalaman 60 meter dengan kekuatan yang lebih kecil. Peristiwa
upwelling juga terjadi diatas basin kecil yang berjarak sekitar 5 meter dari pantai
timur, dengan kecepatan arus vertikal ke atas sekitar 1x10-3 m/dt hingga 1,4 x10-
3
m/dt (lihat Gambar 3.20.b).
Pada saat menjelang surut, kondisi Purnama secara umum kecepatan
arus vertikal pada lintang grid j=19 umumnya berkisar antara 0,5 x10-3 m/dt
hingga 9,8x10-3 m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada
pada kisaran 0,8x10-3 m/dt hingga 9,8x10-3 m/dt, sedangkan pada lapisan
berikutnya yaitu hingga kedalaman 40 meter kecepatan berkisar 1,5 x10-3 m/dt
hingga 6,8 x10-3 m/dt, arah arus kedua lapisan tersebut dominan menuju ke arah
Barat, dimana kecepatan semakin melemah ketika mendekati ke dua sisi pantai
(lihat Gambar 3.19.c). Dinamika arus vertikal mulai terlihat pada kedalaman 60
meter hingga ke lapisan kolom air yang mendekati dasar perairan. Hasil simulasi
memperlihatkan dengan jelas adanya peristiwa downwelling di pantai barat pada
kedalaman antara 60 meter, arus vertikal tersebut menuju ke bawah hingga
mencapai lapisan kolom air terbawah (250 meter) dengan kecepatan arus antara
2,6x10-3 m/dt sampai dengan 3,6x10-3 m/dt. Peristiwa upwelling kuat terlihat pada
jarak sekitar 1 kilometer dari pantai barat dengan kisaran 6x10-3 m/dt sampai
dengan 7,6x10-3 m/dt, dimana mulai terjadi dari kedalaman 275 meter hingga
250 menuju ke kedalaman 60 meter. Peristiwa front arus terlihat pada jarak
sekitar 2 kilometer dari pantai barat, dimana terjadi pertemuan antara kolom arus
upwelling dan kolom arus downwelling, dimana arus vertikal menuju ke bawah

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-11


tersebut mulai terjadi dari kedalaman sekitar 75 meter menuju kedalaman 180
meter dengan kecepatan berkisar 4,4 x10-3 m/dt hingga 4,6 x10-3 m/dt. Peristiwa
arus vertikal menuju ke atas juga terjadi pada jarak sekitar 2,7 kilometer dari
pantai timur, yang terjadi pada kedalaman sekitar 325 meter menuju ke
kedalaman 60 meter dengan kekuatan yang lebih kecil. Peristiwa upwelling juga
terjadi diatas basin kecil yang berjarak sekitar 500 meter dari pantai timur,
dengan kecepatan arus vertikal ke atas sekitar 0,6x10-3 m/dt hingga 0,8 x10-3
m/dt (lihat Gambar 3.20.c).
Pada saat surut, kondisi Purnama secara umum kecepatan arus vertikal
pada lintang grid j=19 umumnya berkisar antara 0,5 x10-3 m/dt hingga 8,8x10-3
m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada pada kisaran 2
x10-3 m/dt hingga 8,8x10-3 m/dt, sedangkan pada lapisan berikutnya yaitu hingga
kedalaman 40 meter kecepatan berkisar 1x10-3 m/dt hingga 3x10-3 m/dt, arah
arus kedua lapisan tersebut dominan menuju ke arah Barat, dimana kecepatan
semakin melemah ketika mendekati ke dua sisi pantai (lihat 3.19.d). Dinamika
arus vertikal mulai terlihat pada kedalaman 60 meter hingga ke lapisan kolom air
yang mendekati dasar perairan. Hasil simulasi memperlihatkan dengan jelas
adanya peristiwa downwelling di pantai barat pada kedalaman antara 60 meter,
arus vertikal tersebut menuju ke bawah hingga mencapai lapisan kolom air
terbawah (300 meter) dengan kecepatan arus antara 0,8x10-3 m/dt sampai
dengan 3,2x10-3 m/dt. Peristiwa downwelling kuat terlihat pada jarak sekitar 1
kilometer dari pantai barat dimana mulai terjadi dari kedalaman 60 meter menuju
ke kedalaman 200 meter hingga 300 meter. Peristiwa arus vertikal menuju ke
atas juga terjadi pada jarak sekitar 2,7 kilometer dari pantai timur, yang terjadi
pada kedalaman sekitar 200 meter menuju ke kedalaman 60 meter dengan
kekuatan yang sangat kecil. Peristiwa upwelling juga terjadi diatas basin kecil
yang berjarak sekitar 1 kilometer dari pantai timur, dengan kecepatan arus
vertikal ke atas sekitar 0,5x10-3 m/dt hingga 0,8 x10-3 m/dt (lihat Gambar 3.20.d).

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-12


B.1.2.2.2 Profil Arus Pada Lintang Grid J=33 (Muranti - Susua)
Pada saat menjelang pasang, kondisi Purnama secara umum kecepatan
arus vertikal pada lintang grid j=33 umumnya berkisar antara 1x10-3 m/dt hingga
7,5x10-3 m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada pada
kisaran 3x10-3 m/dt hingga 7,5x10-3 m/dt, sedangkan pada lapisan berikutnya
yaitu hingga kedalaman 40 meter kecepatan berkisar 1,8x10-3 m/dt hingga 3,4
x10-3 m/dt, arah arus kedua lapisan tersebut dominan menuju ke arah Barat,
dimana kecepatan semakin melemah ketika mendekati ke dua sisi pantai (lihat
Gambar 3.21.a). Dinamika arus vertikal mulai terlihat pada kedalaman 60 meter
hingga ke lapisan kolom air yang mendekati dasar perairan (1000 meter). Hasil
simulasi memperlihatkan dengan jelas adanya peristiwa downwelling di pantai
barat pada kedalaman antara 60 meter, arus vertikal tersebut menuju ke bawah
hingga mencapai kedalaman 200 meter dengan kecepatan arus antara 1,6x10-3
m/dt sampai dengan 2x10-3 m/dt. Peristiwa downwelling juga terlihat pada jarak
sekitar 1,2 kilometer dari pantai barat dengan kisaran 3,6x10-3 m/dt sampai
dengan 4,3x10-3 m/dt, dimana mulai terjadi dari kedalaman 410 meter menuju ke
kedalaman 600 meter hingga 800 meter. Peristiwa front arus tidak terlihat pada
kolom air ini. Peristiwa arus vertikal menuju ke atas terjadi pada jarak sekitar 800
meter dari pantai timur, yang terjadi pada kedalaman sekitar 200 meter menuju
ke kedalaman 60 meter dengan kekuatan sekitar 1,8x10-3 m/dt hingga 2,4 x10-3
m/dt. Peristiwa arus vertikal ke atas juga terjadi pada kedalaman 680 meter
menuju ke kedalaman 630 meter dengan kecepatan sekitar 1,2x10-3 m/dt hingga
1,4 x10-3 m/dt.
Pada saat pasang, kondisi Purnama secara umum kecepatan arus vertikal
pada lintang grid j=33 umumnya berkisar antara 0,5x10-3 m/dt hingga 7,8x10-3
m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada pada kisaran
2,8x10-3 m/dt hingga 7,8x10-3 m/dt, sedangkan pada lapisan berikutnya yaitu
hingga kedalaman 40 meter kecepatan berkisar 1,5x10-3 m/dt hingga 3,6 x10-3
m/dt, arah arus kedua lapisan tersebut dominan menuju ke arah Barat, dimana
kecepatan semakin melemah ketika mendekati ke dua sisi pantai (lihat Gambar
3.21.b). Dinamika arus vertikal mulai terlihat pada kedalaman 60 meter hingga

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-13


ke lapisan kolom air yang mendekati dasar perairan (1000 meter). Hasil simulasi
memperlihatkan dengan jelas adanya peristiwa downwelling di pantai barat pada
kedalaman antara 60 meter, arus vertikal tersebut menuju ke bawah hingga
mencapai kedalaman 700 meter dengan kecepatan arus antara 0,5x10-3 m/dt
sampai dengan 1,4x10-3 m/dt. Peristiwa downwelling terlihat berintensitas kuat
pada periode ini pada kedalaman 60 meter hingga 230 meter dilanjutkan dengan
intensitas menengah hingga kedalaman 430 meter, sedangkan intensitas rendah
hingga 700 meter. Peristiwa front arus tidak terlihat pada kolom air ini. Peristiwa
arus vertikal menuju ke atas (upwelling) terjadi di pantai timur pada kedalaman
sekitar 720 meter menuju ke kedalaman 60 meter dengan kekuatan sekitar
1,8x10-3 m/dt hingga 2,4 x10-3 m/dt, dimana intensitas yang kuat terlihat dimulai
dari kedalaman 200 meter menuju ke atas.
Pada saat menjelang surut, kondisi Purnama secara umum kecepatan
arus vertikal pada lintang grid j=33 umumnya berkisar antara 0,8x10-3 m/dt
hingga 8,6x10-3 m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada
pada kisaran 2x10-3 m/dt hingga 8,6x10-3 m/dt, sedangkan pada lapisan
berikutnya yaitu hingga kedalaman 40 meter kecepatan berkisar 2,6x10-3 m/dt
hingga 4,6 x10-3 m/dt, arah arus kedua lapisan tersebut dominan menuju ke arah
Barat, dimana kecepatan semakin melemah ketika mendekati ke dua sisi pantai
(lihat Gambar 3.21.c). Dinamika arus vertikal mulai terlihat pada kedalaman 60
meter hingga ke lapisan kolom air yang mendekati dasar perairan (1000 meter).
Hasil simulasi memperlihatkan dengan jelas adanya peristiwa downwelling di
pantai barat pada kedalaman antara 60 meter, arus vertikal tersebut menuju ke
bawah hingga mencapai kedalaman 750 meter dengan kecepatan arus antara
2x10-3 m/dt sampai dengan 2,4x10-3 m/dt. Peristiwa downwelling terlihat
berintensitas kuat pada periode ini pada kedalaman 60 meter hingga 290 meter
dilanjutkan dengan intensitas menengah hingga kedalaman 490 meter,
sedangkan intensitas rendah hingga 750 meter. Peristiwa front arus tidak terlihat
pada kolom air ini. Peristiwa arus vertikal menuju ke atas (upwelling) terjadi di
pantai timur pada kedalaman sekitar 780 meter menuju ke kedalaman 60 meter

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-14


dengan kekuatan sekitar 2,6x10-3 m/dt hingga 3,2 x10-3 m/dt, dimana intensitas
dari lapisan terbawah sudah terlihat kuat ketika menuju ke atas.
Pada saat surut, kondisi Purnama secara umum kecepatan arus vertikal
pada lintang grid j=33 umumnya berkisar antara 0,5x10-3 m/dt hingga 8,4x10-3
m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada pada kisaran
1,8x10-3 m/dt hingga 8,4x10-3 m/dt, sedangkan pada lapisan berikutnya yaitu
hingga kedalaman 40 meter kecepatan berkisar 1,6x10-3 m/dt hingga 3,8 x10-3
m/dt, arah arus kedua lapisan tersebut dominan menuju ke arah Barat, dimana
kecepatan semakin melemah ketika mendekati ke dua sisi pantai (lihat Gambar
3.21.d). Dinamika arus vertikal mulai terlihat pada kedalaman 60 meter hingga
ke lapisan kolom air yang mendekati dasar perairan (1000 meter). Hasil simulasi
memperlihatkan dengan jelas adanya peristiwa downwelling di pantai barat pada
kedalaman antara 60 meter, arus vertikal tersebut menuju ke bawah hingga
mencapai kedalaman 430 meter dengan kecepatan arus antara 1,8x10-3 m/dt
sampai dengan 2,4x10-3 m/dt. Peristiwa downwelling juga terlihat berintensitas
sangat kecil pada periode ini di pantai sisi timur pada kedalaman 620 meter
hingga 640 meter. Pertemuan arus vertikal keatas dan kebawah terlihat di
lapisan kolom air pada kedalaman sekitar 700 meter di sisi timur tetapi dengan
intensitas kekuatan yang sangat kecil. Peristiwa arus vertikal menuju ke atas
(upwelling) terjadi di pantai timur pada kedalaman sekitar 430 meter menuju ke
kedalaman 60 meter dengan kekuatan sekitar 1,4x10-3 m/dt hingga 2,6 x10-3
m/dt.

B.1.2.2.3 Profil Arus Pada Lintang J=39 (Suli -Tg Tabako)


Pada saat menjelang pasang, kondisi Purnama secara umum kecepatan
arus vertikal pada lintang grid j=39 umumnya berkisar antara 0,5x10-3 m/dt
hingga 7,5x10-3 m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada
pada kisaran 0,5x10-3 m/dt hingga 7,5x10-3 m/dt, sedangkan pada lapisan
berikutnya yaitu hingga kedalaman 40 meter kecepatan berkisar 1,8x10-3 m/dt
hingga 3,5 x10-3 m/dt, arah arus kedua lapisan tersebut dominan menuju ke arah

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-15


Barat, dimana kecepatan semakin melemah ketika mendekati ke dua sisi pantai
(lihat Gambar 3.22.a). Dinamika arus vertikal mulai terlihat pada kedalaman 60
meter hingga ke lapisan kolom air yang mendekati dasar perairan (1198 meter).
Hasil simulasi memperlihatkan peristiwa arus vertikal, sudut arah-nya terhadap
garis permukaan air kurang begitu tajam (tidak tegak lurus). Arus vertikal di
pantai barat menuju ke bawah tetapi serong ke arah tengah kolom air pada
kedalaman antara 60 meter hingga mencapai kedalaman mendekati dasar
perairan dengan kecepatan arus antara 1x10-3 m/dt sampai dengan 1,6x10-3
m/dt. Peristiwa arus vertikal menuju ke atas terjadi di pantai timur, yang terjadi
dari lapisan kolom air terbawah menuju ke kedalaman 60 meter dengan
kekuatan sekitar 1,5x10-3 m/dt hingga 2,2x10-3 m/dt, dimana intensitas terkuat
pada periode ini terjadi pada kedalaman 200 meter menuju ke atas.
Pada saat pasang, kondisi Purnama secara umum kecepatan arus vertikal
pada lintang grid j=39 umumnya berkisar antara 0,5x10-3 m/dt hingga 7,8x10-3
m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada pada kisaran
0,5x10-3 m/dt hingga 7,8x10-3 m/dt, sedangkan pada lapisan berikutnya yaitu
hingga kedalaman 40 meter kecepatan berkisar 1x10-3 m/dt hingga 3,4x10-3
m/dt, arah arus kedua lapisan tersebut dominan menuju ke arah Barat, dimana
kecepatan semakin melemah ketika mendekati ke dua sisi pantai (lihat Gambar
3.22.b). Dinamika arus vertikal mulai terlihat pada kedalaman 60 meter hingga
ke lapisan kolom air yang mendekati dasar perairan (1198 meter). Hasil simulasi
memperlihatkan peristiwa arus vertikal, sudut arah-nya terhadap garis
permukaan air kurang begitu tajam (tidak tegak lurus). Arus vertikal di pantai
barat menuju ke bawah tetapi serong ke arah tengah kolom air pada kedalaman
antara 60 meter hingga mencapai kedalaman mendekati dasar perairan dengan
kecepatan arus antara 0,5x10-3 m/dt sampai dengan 2,4x10-3 m/dt. Peristiwa
arus vertikal menuju ke atas terjadi di pantai timur, yang terjadi dari lapisan
kolom air terbawah menuju ke kedalaman 60 meter dengan kekuatan sekitar
1,2x10-3 m/dt hingga 2,2x10-3 m/dt, dimana intensitas terkuat pada periode ini
terjadi pada kedalaman 200 meter menuju ke atas.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-16


Pada saat menjelang surut, kondisi Purnama secara umum kecepatan
arus vertikal pada lintang grid j=39 umumnya berkisar antara 0,5x10-3 m/dt
hingga 8,4x10-3 m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada
pada kisaran 0,5x10-3 m/dt hingga 8,4x10-3 m/dt, sedangkan pada lapisan
berikutnya yaitu hingga kedalaman 40 meter kecepatan berkisar 1x10-3 m/dt
hingga 4,2x10-3 m/dt, arah arus kedua lapisan tersebut dominan menuju ke arah
Barat, dimana kecepatan semakin melemah ketika mendekati ke dua sisi pantai
(lihat Gambar 3.22.c). Dinamika arus vertikal mulai terlihat pada kedalaman 60
meter hingga ke lapisan kolom air yang mendekati dasar perairan (1198 meter).
Hasil simulasi memperlihatkan peristiwa arus vertikal yang lebih signifikan
dibandingkan dengan periode sebelum dan sesudahnya (pada saat menjelang
pasang, saat pasang, saat surut). Arus vertikal di pantai barat menuju ke bawah
terjadi pada kedalaman antara 60 meter hingga mencapai kedalaman 480 meter
dengan kecepatan arus antara 2x10-3 m/dt sampai dengan 2,4x10-3 m/dt.
Peristiwa arus vertikal menuju ke atas dominan terjadi di pantai timur, yang
terjadi dari lapisan kolom air terbawah menuju ke kedalaman 60 meter dengan
kekuatan sekitar 2x10-3 m/dt hingga 2,6x10-3 m/dt, dimana intensitas terkuat pada
periode ini terjadi pada lapisan kolom air terdasar menuju ke atas.
Pada saat surut, kondisi Purnama secara umum kecepatan arus vertikal
pada lintang grid j=39 umumnya berkisar antara 0,5x10-3 m/dt hingga 8,4x10-3
m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada pada kisaran
0,5x10-3 m/dt hingga 8,4x10-3 m/dt, sedangkan pada lapisan berikutnya yaitu
hingga kedalaman 40 meter kecepatan berkisar 1x10-3 m/dt hingga 3,8x10-3
m/dt, arah arus kedua lapisan tersebut dominan menuju ke arah Barat, dimana
kecepatan semakin melemah ketika mendekati ke dua sisi pantai (lihat Gambar
3.22.d). Dinamika arus vertikal mulai terlihat pada kedalaman 60 meter hingga
ke lapisan kolom air yang mendekati dasar perairan (1198 meter). Arus vertikal
di pantai barat menuju ke bawah terjadi pada kedalaman antara 60 meter hingga
mencapai lapisan kolom air terbawah dengan kecepatan arus antara 0,5x10-3
m/dt sampai dengan 1,8x10-3 m/dt. Peristiwa arus vertikal menuju ke atas
dominan terjadi di pantai timur, yang terjadi dari lapisan kolom air terbawah

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-17


menuju ke kedalaman 60 meter dengan kisaran kekuatan kurang lebih sama
dengan kekuatan downwelling, dimana intensitas terkuat pada periode ini terjadi
pada kedalaman 200 meter menuju ke atas.

B.1.2.2.4 Profil Arus Pada Lintang J=75 (Palopo-Lelewau)


Pada saat menjelang pasang, kondisi Purnama secara umum kecepatan
arus vertikal pada lintang grid j=75 umumnya berkisar antara 0,5x10-3 m/dt
hingga 7,8x10-3 m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada
pada kisaran 0,5x10-3 m/dt hingga 7,8x10-3 m/dt, dimana arah arus pada lapisan
tersebut dominan menuju ke arah Barat, dimana kecepatan semakin melemah
ketika mendekati ke dua sisi pantai (lihat Gambar 3.23.a). Dinamika arus vertikal
mulai terlihat pada kedalaman 30 meter hingga ke lapisan kolom air yang
mendekati dasar perairan (70 meter). Arus vertikal di pantai barat pada
kedalaman antara 60 meter menuju ke timur hingga mencapai 3 kilometer dari
pantai dengan kecepatan arus antara 0,5x10-3 m/dt sampai dengan 1,2x10-3
m/dt. Arus tersebut kemudian mengalami perubahan arah menuju vertikal ke
atas hingga jarak 1,6 kilometer sebelum pantai timur, selanjutnya semakin
mendekati pantai timur arah arus ada yang berubah menuju ke bawah dan ke
atas. Pada saat arus menuju vertikal ke atas, kekuatannya berkisar antara
2,8x10-3 m/dt hingga 5,8x10-3 m/dt. Peristiwa arus vertikal menuju ke atas juga
terlihat pada jarak sekitar 1,8 kilometer dari pantai timur di kedalaman 40 meter
hingga 50 meter dengan kekuatan sekitar 3x10-3 m/dt hingga 4,8x10-3 m/dt.
Pada saat pasang, kondisi Purnama secara umum kecepatan arus vertikal
pada lintang grid j=75 umumnya berkisar antara 0,5x10-3 m/dt hingga 5,8x10-3
m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada pada kisaran
0,5x10-3 m/dt hingga 5,8x10-3 m/dt, dimana arah arus pada lapisan tersebut
dominan menuju ke arah Barat, dimana kecepatan semakin melemah ketika
mendekati ke dua sisi pantai (lihat Gambar 3.23.b). Dinamika arus vertikal mulai
terlihat pada kedalaman 30 meter hingga ke lapisan kolom air yang mendekati
dasar perairan (70 meter). Arus vertikal di pantai barat pada kedalaman antara
30 meter menuju ke timur hingga mencapai 4 kilometer dari pantai dengan

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-18


kecepatan arus antara 1,8x10-3 m/dt sampai dengan 3x10-3 m/dt. Arus tersebut
kemudian mengalami perubahan arah menuju vertikal ke bawah hingga jarak 1
kilometer berikutnya, selanjutnya semakin mendekati pantai timur arah arus ada
yang berubah menuju ke atas dan semakin bertambah hingga mencapai sekitar
2x10-3 m/dt. Arus menuju vertikal ke atas juga terlihat pada kedalaman 40 meter,
tetapi kekuatannya sangat kecil sekitar 1,2x10-3 m/dt. Secara umum arus pada
kedalaman 20 meter hingga 40 meter ini terlihat bergerak ke timur dan terjadi
down welling serta up welling pada kedalaman 30 meter hingga 40 meter karena
terdapat daerah sill dan basin.
Pada saat menjelang surut, kondisi Purnama secara umum kecepatan
arus vertikal pada lintang grid j=75 umumnya berkisar antara 0,5x10-3 m/dt
hingga 6,2x10-3 m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada
pada kisaran 0,5x10-3 m/dt hingga 6,2x10-3 m/dt, dimana arah arus pada lapisan
tersebut dominan menuju ke arah Barat, dimana kecepatan semakin melemah
ketika mendekati ke dua sisi pantai (lihat Gambar 3.23.c). Dinamika arus vertikal
mulai terlihat pada kedalaman 20 meter hingga ke lapisan kolom air yang
mendekati dasar perairan (70 meter) dimana intensitas pada periode ini lebih
kuat dibandingkan periode sebelum dan sesudahnya (saat menjelang pasang,
saat pasang, dan saat surut). Arus pada kedalaman antara 30 meter menuju ke
timur hingga mencapai 4 kilometer dari pantai dengan kecepatan arus antara
3x10-3 m/dt sampai dengan 5,8x10-3 m/dt. Arus tersebut kemudian mengalami
perubahan arah menuju vertikal ke bawah hingga jarak 1,5 kilometer berikutnya,
selanjutnya semakin mendekati pantai timur arah arus ada yang berubah menuju
ke atas dan semakin bekurang hingga mencapai sekitar 2x10-3 m/dt. Arus
menuju vertikal ke atas terlihat pada kedalaman sekitar 45 meter, tetapi
kekuatannya sangat kecil sekitar 1,2x10-3 m/dt hingga 1,4x10-3 m/dt. Secara
umum arus pada kedalaman 20 meter hingga 40 meter ini terlihat bergerak ke
timur dan terjadi down welling serta up welling pada kedalaman 30 meter hingga
40 meter karena terdapat daerah sill dan basin.
Pada saat surut, kondisi Purnama secara umum kecepatan arus vertikal
pada lintang grid j=75 umumnya berkisar antara 0,5x10-3 m/dt hingga 6,2x10-3

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-19


m/dt. Kecepatan arus pada kedalaman 0 hingga 20 m berada pada kisaran
0,5x10-3 m/dt hingga 6,2x10-3 m/dt, dimana arah arus pada lapisan tersebut
dominan menuju ke arah Barat, dimana kecepatan semakin melemah ketika
mendekati ke dua sisi pantai (lihat Gambar 3.23.d). Dinamika arus vertikal mulai
terlihat pada kedalaman 20 meter hingga ke lapisan kolom air yang mendekati
dasar perairan (70 meter). Arus pada kedalaman antara 30 meter menuju ke
timur hingga mencapai 4 kilometer dari pantai dengan intensitas kecepatan arus
menguat antara 0,5x10-3 m/dt sampai dengan 2,4x10-3 m/dt. Arus tersebut
kemudian mengalami pengurangan intensitas kekuatan dan perubahan arah
menuju vertikal ke atas hingga jarak 200 meter berikutnya, selanjutnya semakin
mendekati pantai timur arah arus ada yang berubah menuju ke bawah dan
berganti ke atas, kecepatan arus juga berubah kembali menguat intensitasnya
hingga mencapai sekitar 2,5x10-3 m/dt. Arus menuju vertikal ke atas juga terlihat
pada kedalaman sekitar 45 meter, tetapi kekuatannya sangat kecil sekitar
3,2x10-3 m/dt. Secara umum arus pada kedalaman 20 meter hingga 40 meter ini
terlihat bergerak ke timur dan terjadi down welling serta up welling pada
kedalaman 30 meter hingga 40 meter karena terdapat daerah sill dan basin.

B.1.3 Massa Air Teluk Bone


Stasiun pengukuran yang bertepatan masuk ke dalam domain model arus
3 dimensi adalah Stasiun 1, yaitu pada koordinat 3°33’ 43.6” LS dan 120°49’ 8.5”
BT, yaitu di sekitar perairan Susua (lihat Gambar 3.16 dan Gambar 3.15).
Berdasarkan hasil simulasi model, terlihat adanya arus vertikal ke atas pada
perairan tersebut pada beberapa kedalaman tertentu menuju ke lapisan kolom
air permukaan, dengan kekuatan bervariasi yaitu berkisar antara 1,2x10-3 m/dt
hingga 3,2x10-3 m/dt yang terlihat dari kedalaman sekitar 720 meter hingga 60
meter (lihat Gambar 3.21). Sedangkan hasil pengukuran CTD pada Stasiun 1
walaupun hanya sampai kedalaman maksimal 154 meter, secara sekilas
memang menunjukkan adanya peristiwa upwelling, dimana dari profil temperatur
terlihat beberapa kali ada signal perubahan temperatur yang sedikit drastis pada

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-20


kisaran tertentu (lihat Gambar 3.3). Hal tersebut juga ditunjukkan oleh profil
salinitas dan densitas, dimana di beberapa kedalaman tampak kemunculan
densitas atau salinitas yang lebih tinggi secara tiba-tiba dari kisaran yang
seharusnya terjadi (lihat Gambar 3.4). Dan hasil simulasi model menunjukkan
bahwa arus vertikal ke atas terlihat signifikan terjadi dimulai dari kedalaman
sekitar 200 meter menuju ke atas.
Secara lebih lanjut uraian hasil pengukuran temperatur, salinitas, dan
densitas dapat dibaca pada deskripsi dibawah ini:

B.1.3.1 Temperatur
Hasil penelitian nilai temperatur permukaan di perairan Teluk Bone
menunjukkan nilai yang relatif kecil yaitu di bawah 28˚C. Pada Stasiun 1
pengambilan data dilakukan hingga kedalaman 154 m. Temperatur permukaan
(asumsi temperatur permukaan adalah temperatur pada kedalaman 1 meter
hingga 10 meter) adalah sekitar 27,890˚C. Temperatur maksimal pada stasiun 1
adalah 28,117˚C dan temperatur minimal adalah 18,328˚C, sedangkan
temperatur rata-rata adalah 23,604˚C. Secara umum temperatur dari permukaan
sampai kedalaman 40 meter terlihat konstan yaitu antara 27,980˚C hingga
28,117˚C, kemudian pada kedalaman sekitar 51 meter temperatur turun menjadi
sekitar 26˚C. Temperatur mulai menurun menjadi sekitar 20˚C ketika mencapai
kedalaman antara 100 meter hingga 128 meter, kemudian terus menurun
mencapai 18,328˚C pada kedalaman 154 meter. Berdasarkan tampilan grafik
dapat dilihat adanya perubahan temperatur yang cukup besar dengan cepat
terhadap kedalaman, dimana perubahan tersebut merupakan indikasi adanya
fenomena upwelling.
Pada Stasiun 2 pengambilan data temperatur hanya sampai kedalaman
61 meter, dengan temperatur permukaan sekitar 27,250˚C. Pada stasiun ini nilai
temperatur berkisar 26,225˚C hingga 27,990˚C. Temperatur hingga kedalaman
26 meter umumnya tetap di sekitar 27˚C, kemudian terus menurun hingga sekitar
26,3˚C. Nilai temperatur maksimal Stasiun 2 adalah sekitar 27,991˚C, sedangkan

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-21


temperatur minimal sekitar 26,224˚C, dengan temperatur rata-rata sekitar
26,720˚C.

Temperatur ( C)
15 17 19 21 23 25 27 29
9.866

22.1602

33.039

45.4273

58.3887

77.467

94.67

109.043

121.734

137.481

153.686

Kedalaman (m)
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5

Gambar 3.3. Profil Temperatur terhadap Kedalaman

Pengukuran pada Stasiun 3 dilakukan sampai dengan kedalaman 54


meter, dengan temperatur permukaan sekitar 27,350˚C. Nilai temperatur
permukaan di Stasiun 3 jika dibandingkan dengan kedua stasiun sebelumnya
merupakan yang paling rendah, karena Stasiun 3 merupakan lokasi yang terjauh

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-22


dari daratan. Pada stasiun ini nilai temperatur berkisar 27,083˚C hingga
26,256˚C. Nilai temperatur maksimal adalah 27,472˚C, sedangkan temperatur
minimal adalah 26,256˚C, dengan temperatur rata-rata 26,870˚C. Temperatur
mulai turun menjadi sekitar 26˚C pada kedalaman 25 meter.
Pada Stasiun 4 pengukuran dilakukan hanya sampai dengan kedalaman
28 meter, karena arus pada saat pengambilan data sangat kuat sehingga tidak
memungkinkan untuk pengukuran parameter pada lapisan kolom air yang lebih
dalam. Pada stasiun ini temperatur permukaan adalah sekitar 27,600˚C. Secara
umum temperatur berkisar antara 27,792˚C hingga 26,730˚C. Temperatur
permukaan konstan pada kisaran 27,350˚C hingga 27,550˚C sampai dengan
kedalaman 21 meter. Kemudian semakin kedalaman bertambah, temperatur
semakin menurun dengan fluktuasi antara 0,1 hingga 0,5, yaitu temperaturnya
sekitar 26,700˚C pada kedalaman 28 meter. Nilai temperatur maksimal adalah
27,792˚C, sedangkan temperatur minimal adalah 26,721˚C, dengan temperatur
rata-rata 27,330˚C.
Pengukuran pada stasiun 5 dilakukan hingga kedalaman 167 meter.
Temperatur permukaan adalah 27,600˚C dan temperatur semakin menurun
seiring dengan bertambahnya kedalaman secara bertahap. Temperatur
maksimal adalah 29,029˚C, dan temperatur minimal adalah 17,677˚C, dengan
temperatur rata-rata sebesar 23,270˚C. Pada kedalaman sampai dengan 55
meter, temperatur adalah konstan pada kisaran 26˚C hingga 27˚C. Perubahan
temperatur terbesar terjadi pada kedalaman 98 meter, dari kisaran 24,400˚C
temperatur turun secara drastis hingga mencapai kisaran 18,960˚C pada
kedalaman 137 meter. Pada kedalaman lebih dari 137 meter suhu terus
menurun intensitasnya hingga berada pada kisaran 17,805˚C pada 167,98
meter.

B.1.3.2 Salinitas
Salinitas di perairan Teluk Bone menunjukkan variasi yang cukup tinggi
yaitu antara 32 PSU (Practical Salinity Unit) hingga 34 PSU pada masing-masing
stasiun penelitian. Secara umum salinitas permukaan rata-rata bernilai 33 PSU

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-23


untuk semua stasiun kecuali pada Stasiun 1 yang nilai salinitasnya berkisar
antara 31,102 PSU hingga 32,212 PSU.
Hasil pengukuran pada Stasiun 1 secara umum nilai salinitas
permukaannya hingga kedalaman 15 meter berkisar antara 31,10 PSU hingga
32,32 PSU. Pada kedalaman 20 meter salinitas mulai bertambah secara
perlahan dari 32,59 PSU hingga 32,88 PSU. Pada kedalaman 36 meter sampai
dengan 43 meter salinitas gradien kenaikannya bernilai konstan yaitu sekitar
32,98 PSU hingga 33,08 PSU. Kemudian pada kedalaman lebih dari 60 meter
salinitas kembali mengalami kenaikan secara kontinyu hingga kedalaman 154
meter dengan nilai salinitasnya mencapai 34,388 PSU.
Stasiun 2 memiliki nilai salinitas berkisar antara 33,22 PSU hingga 33,65
PSU. Nilai salinitas permukaan stasiun ini relatif berada pada kisaran yang rapat
sampai dengan kedalaman 24 meter, yaitu sekitar 33,22 PSU hingga 33,26 PSU,
kemudian dengan semakin bertambahnya kedalaman terlihat nilai salinitas juga
semakin bertambah. Pada kedalaman lebih dari 30 meter salinitas terus
bertambah dari 33,30˚C menjadi sekitar 33,65˚C pada kedalaman 50 meter,
dimana fluktuasinya adalah cukup besar yaitu mencapai 0,1 bila dibandingkan
dengan fluktuasi salinitas di permukaan yang bernilai sekitar 0,001.
Hasil pengukuran pada Stasiun 3 salinitasnya secara umum berada pada
kisaran 33,28 PSU hingga 33,60 PSU, sedangkan kondisi salinitas permukaan
berkisar antara 33,26 PSU hingga 33,27 PSU. Pada saat kedalaman mencapai
15 meter terlihat adanya kenaikan salinitas yaitu dari sekitar 32,29 PSU hingga
mencapai 33,31 PSU pada kedalaman 16,2 meter. Terlihat semakin kedalaman
bertambah, salinitas juga terus bertambah dengan kenaikan yang rendah yaitu
sekitar 0,01 PSU, sehingga salinitas dapat mencapai sekitar 33,50 PSU pada
kedalaman 27,56 meter. Namun pada saat kedalaman mencapai 53 meter terjadi
penurunan nilai salinitas dari kisaran nilai sebelumnya yaitu dari sekitar 33,68
PSU menjadi sekitar 33,54 PSU hingga 33,21 PSU pada kedalaman 54,29
meter.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-24


S a lin ita s (p s u )
31 3 1 .8 3 2 .6 3 3 .4 3 4 .2 35
1 0 .0 9 6

2 0 .3 9 5 7

3 0 .0 5 6 5

3 8 .0 6 0 7

5 1 .2 3 9 3

6 3 .2 4 4

7 9 .1 4 9

9 3 .5 2 3

1 0 4 .6 2 4

1 1 5 .7 7 1

1 2 8 .8 4 3

1 3 9 .9 5 7

1 5 5 .5 2 1

Kedalaman (m)
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5

Gambar 3.4. Profil Salinitas terhadap Kedalaman

Nilai salinitas permukaan pada Stasiun 4 sedikit lebih besar


dibandingkan dengan nilai salinitas permukaan pada stasiun 2 yaitu sekitar 33,35
PSU meskipun keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu pada kisaran 33
PSU. Pada kedalaman sampai dengan 27 meter, nilai salinitas umumnya berada
pada kisaran yang rapat yaitu sekitar 33,35 PSU hingga 33,39 PSU, kemudian
pada kedalaman 24 meter nilai salinitas meningkat mencapai kisaran 33,40 PSU,

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-25


dan semakin bertambahnya kedalaman salinitas juga terus bertambah hingga
mencapai kisaran tertinggi yaitu sekitar 33,60 PSU pada kedalaman 27,3 meter,
tetapi pada kedalaman 28,6 meter terlihat salinitas turun dari 33,24 PSU kembali
menjadi sekitar 33,60 PSU.
Salinitas di permukaan pada stasiun 5 mengalami kenaikan yang tidak
teratur hingga kedalaman 14 meter, yaitu dari sekitar 33,29 PSU menjadi 33,70
PSU pada kedalaman 10 meter kemudian turun kembali menjadi sekitar 33,40
PSU pada kedalaman 11 meter. Salinitas kembali meningkat secara perlahan
yaitu dari kedalaman 12 meter hingga kedalaman 97 meter dengan salinitas
menjadi sekitar 33,54 PSU. Pada kedalaman lebih dari 97 meter, salinitas
mencapai 34,00 PSU, namun kenaikan tersebut selanjutnya tidak konstan,
seperti yang terlihat pada grafik hingga kedalaman 134 meter. Kisaran salinitas
terlihat mulai merapat pada kedalaman lebih dari 135 meter yaitu dengan
salinitas antara 34,29 PSU hingga 34,86 PSU.

B.1.3.3 Densitas
Densitas air laut di perairan Teluk Bone mempunyai kisaran antara 20
kg/m³ hingga 25 kg/m³ dari semua stasiun. Hasil pengukuran di Stasiun 1 pada
kedalaman 10 meter hingga 37 meter, densitas umumnya berkisar antara 20,29
kg/m3 sampai dengan 21 kg/m3, sementara pada kedalaman 37 meter hingga 43
meter nilai densitas berkisar antara 21,01 kg/m3 sampai dengan 21,15 kg/m3.
Pada kedalaman 44 meter terjadi kenaikan densitas dengan fluktuasi yang
cukup tinggi yaitu 0,49 dari densitas bernilai 21,15 kg/m3 menjadi 21,64 kg/m3.
Semakin kedalaman bertambah maka densitas juga semakin bertambah, hingga
mencapai nilai sekitar 24,00 kg/m3 pada kedalaman 92 meter, dan berakhir
dengan nilai densitas sekitar 25.31 kg/m3 pada kedalaman 154 meter.
Nilai densitas di permukaan pada stasiun 2 sampai dengan kedalaman 30
meter berkisar antara 21,31 kg/m3 hingga 21,43 kg/m3. Kenaikan densitas pada
Stasiun ini umumnya sebesar 0.01, sementara kenaikan densitas dengan
fluktuasi sebesar 0,11 terjadi mulai di kedalaman 31 meter yaitu dimulai dari nilai
21,54 kg/m3, dan densitas tersebut mengalami kenaikan dengan fluktuasi

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-26


terbesar yaitu sebesar 0.14 pada kedalaman 42 meter hingga 46 meter,
sehingga densitas naik dari nilai 21,68 kg/m3 menjadi bernilai 21,72 kg/m3. Nilai
densitas tersebut kemudian terus bertambah menjadi 22,04 kg/m3 dan bisa
mencapai 22,16 kg/m3 pada kedalaman 61 meter.
Densitas pada Stasiun 3 nilainya berkisar antara 21,17 kg/m3 hingga
21,39 kg/m3 dari permukaan sampai dengan kedalaman 17 meter. Perubahan
nilai densitas terlihat mulai terjadi pada kedalaman 18 meter yaitu dari nilai
21,39 kg/m3 naik menjadi 21,45 kg/m3 dan terus meningkat hingga kedalaman
48 meter. Selanjutnya densitas menjadi 22,01 kg/m3 pada kedalaman 48,7
meter, dan mencapai nilai 22,71 kg/m3 pada kedalaman akhir pengukuran yaitu
54 meter.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-27


D e n s ita s (k g /m *3 )
20 21 22 23 24 25 26
1 0 .0 9 6

1 7 .2 0 9

2 5 .9 4 6

3 3 .4 0 6

4 0 .7 4 7

5 1 .2 3 9

5 9 .1 9 2

7 1 .4 5 7

8 5 .6 4 8

9 5 .2 0 5

1 0 4 .6 2

1 1 4 .2 1

1 2 2 .3 8

1 3 4 .1 9

1 4 2 .0 7

1 5 5 .5 2

Kedalaman (m)
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5

Gambar 3.5. Profil Densitas terhadap Kedalaman

Hasil pengukuran pada Stasiun 4 secara keseluruhan, nilai densitas


mengalami kenaikan, namun gradien kenaikan yang terjadi tidak sama pada
setiap kedalaman. Kedalaman 10 meter sampai 15 meter nilai densitas berkisar
antara 21,32 kg/m3 hingga 21,36 kg/m3 dengan nilai fluktuasi sekitar 0,03 hingga
0,04. Sementara itu mulai kedalaman 16 meter, densitass terus naik menjadi
21,49 kg/m3 pada kedalaman 24,32 meter, namun pada kedalaman 24,62 meter
densitas naik mencapai 21,60 kg/m3, kemudian terus menurun hingga

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-28


kedalaman 26 meter menjadi 21 kg/m3. Densitas pada kedalaman 26,46 meter
kembali naik menjadi 21,78 kg/m3, kemudian terus bertambah secara perlahan
hingga mencapai 21,84 kg/m3 pada kedalaman 28,9 meter .
Densitas di permukaan pada Stasiun 5 mengalami kenaikan yang tidak
teratur sampai dengan kedalaman 13 meter, yaitu dari nilai 21,31 kg/m3 pada
kedalaman 10 meter naik menjadi 21,71 kg/m3 pada kedalaman 11 meter,
kemudian kembali turun menjadi 21,60 kg/m3 pada kedalaman 12 meter.
Densitas kembali meningkat secara perlahan saat dari kedalaman 12,5 meter
menuju kedalaman 14,9 meter, yaitu menjadi bernilai 21,62 kg/m3. Mulai
kedalaman 15 meter perubahan kenaikan densitas terjadi secara perlahan
hingga kedalaman 100 meter, yaitu mencapai nilai 22,92 kg/m3, sedangkan pada
kedalaman antara 100 meter hingga 124 meter densitas mengalami kenaikan
dengan fluktuasi yang cukup tinggi, yaitu hingga mencapai nilai 24,65 kg/m3.
Pada kedalaman 167,9 meter nilai densitas mencapai 25,36 kg/m3.

B.1.4 Sebaran Nutrien Dan Klorofil Di Perairan Kepulauan Sembilan


Organisme di laut, khususnya fitoplankton dalam pertumbuhannya dan
perkembangan hidupnya memerlukan unsur hara (nutrien) yaitu Nitrogen dalam
bentuk Nitrat, dan Fosfor dalam bentuk Fosfat. Sebaran dari kedua parameter
tersebut tidak lepas dari proses siklus biologi dan kimia perairan, serta
didistribusikan oleh pola arus yang ada baik secara horisontal maupun vertikal.

B.1.4.1 Nitrat
Suatu perairan dapat diketahui tingkat kesuburannya berdasarkan dari
kandungan nitratnya. Kandungan nitrat di katakan kurang subur bila
kandungannya < 0,226 ppm (< 1,001 µg-at N/lt), nilai antara 0,227 – 1,129 ppm
(1,005 – 5,001 µg-at N/lt) digolongkan perairannya subur dan antara 1,130 –
11,290 ppm (5,006 – 50,015 µg-at N/lt) menunjukkan perairan dengan tingkat
kesuburan tinggi (Vollenweider, 1968).
Nilai kandungan nitrat di perairan Kepulauan Sembilan adalah sebagai
berikut:

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-29


Kadar Nitrat di 4 Stasiun

0.9
0.796
0.8

0.7
0.662
0.6
Nitrat (mg

St. 2
0.5 0.488
0.462 St. 3
0.448 0.408 0.415
0.361 St. 4
0.4
0.381
0.395 St. 5
0.321 0.281 0.314
0.3
0.241 0.254
0.268
0.2 0.187
0.16
0.12
0.1

0 0 0 0
0 5 15 20 25 35
Kedalaman (m)

Gambar 3.6. Grafik kadar nitrat di perairan Kep. Sembilan, Teluk Bone

Nilai Nitrat yang diperoleh bervariasi yaitu berkisar antara 0,12 ppm
hingga 0,796 ppm. Kandungan nitrat tertinggi diperoleh pada Stasiun 3 pada
kedalaman 5 meter yaitu sekitar 0,796 ppm sedangkan yang paling rendah
adalah pada Stasiun 2 dengan kedalaman 20 meter dengan nilai kandungan
nitrat 0,12 ppm. Berdasarkan kriteria diatas, maka perairan kepulauan Sembilan
tergolong perairan yang subur. Terlihat bahwa kadar nitrat di Stasiun 3 dengan
kedalaman 5 meter lebih tinggi dari kandungan Nitrat di stasiun lainnya.
Fenomena tersebut diduga terjadi karena adanya kandungan nitrat yang tinggi
yang berasal dari laut dalam dan bukan dari daratan seperti limbah rumah
tangga. Hal ini juga disebabkan oleh arus vertikal yang bergerak ke atas pada
perairan tersebut pada beberapa kedalaman tertentu menuju ke lapisan kolom
air permukaan. Sehingga meningkatnya nilai kandungan nitrat dikarenakan
adanya peristiwa naiknya zat unsur hara dari dasar laut menuju ke permukaan
yang menunjukkan adanya peristiwa upwelling, dimana dari profil temperatur
terlihat beberapa kali ada signal perubahan temperatur yang sedikit drastis pada
kisaran tertentu.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-30


Pada Stasiun 2 dengan kedalaman 20 meter memiliki nilai kandungan
nitrat yang rendah (0,12 ppm), dan stasiun 5 di kedalaman 25 meter kandungan
nitratnya juga rendah (0,187 ppm). Kemungkinan arus dalam yang kuat pada
kedalaman tersebut menyebabkan kandungan nitrat terbawa oleh massa air
yang berasal dari bagian selatan (mulut) teluk yang bergerak ke arah utara
sehingga zat hara yang berada pada bagian tersebut tidak sempat mengalami
pengendapan yang menyebabkan kandungan unsur hara relatif lebih rendah.
Pada stasiun 4 memperlihatkan distribusi yang seragam, konsentrasinya
meningkat dengan bertambahnya kedalaman. Fenomena ini disebabkan karena
tingkat penyerapan produser cukup tinggi dari permukaan sampai lapisan
eufotik. Fitoplankton memanfaatkan unsur hara seperti nitrat karena fitoplankton
dapat menyimpan nutrien di dalam tubuhnya. Meningkatnya nitrat dengan
bertambahnya kedalaman juga dikarenakan adanya penenggelaman partikel-
partikel yang mengandung nitrat dan nitrogen organik yang mengalami
dekomposisi. Pada Stasiun 5 di kedalaman 15 meter dan 20 meter nilai kadar
nitrat-nya 0 (nol) dikarenakan pada kedalaman tersebut tidak dilakukan
pengambilan contoh air.
Pertumbuhan fitoplankton berlangsung secara optimum umumnya pada
perairan yang mempunyai kandungan nitrat sebesar 1,0 – 10,0 ppm (0,203 –
0,790 (Basmi, 1995). Kandungan nitrat lebih dari 0,1 ppm (0,0226 µg-at N/lt)
masih dapat digunakan untuk pertumbuhan fitoplankton sedangkan kurang dari
0,0226 µg-at N/lt merupakan faktor pembatas di perairan tersebut (Mackentum,
1969). Berdasarkan hal tersebut maka kandungan nitrat di perairan Kepulauan
Sembilan masih dapat digunakan untuk pertumbuhan fitoplankton.

B.1.4.2 Fosfat
Fosfat merupakan salah satu senyawa nutrien yang sangat penting.
Fosfat di-absorbsi oleh fitoplankton dan seterusnya masuk kedalam rantai
makanan. Senyawa fosfat di perairan berasal dari sumber alami seperti erosi
tanah, buangan (ekskresi) dari hewan, lapukan tumbuhan, dan dari laut sendiri.
Peningkatan kadar fosfat dalam laut akan menyebabkan terjadinya ledakan

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-31


populasi (blooming) fitoplankton yang akhirnya dapat menyebabkan kematian
ikan secara massal.
Kandungan fosfat 0,000 – 0,020 ppm (0,061 µg-at P/lt) digolongkan
kesuburan rendah, nilai antara 0,021 – 0,050 ppm (0,064 -0,153 µg-at P/lt)
digolongkan tingkat kesuburan sedang, nilai antara 0,051 – 0,100 ppm (0,156 –
0,169 µg-at P/lt) digolongkan dengan tingkat kesuburan sangat baik dan nilai >
0,210 ppm (0,643 µg-at P/lt) digolongkan dengan tingkat kesuburan sangat baik
(Vollenweider, 1968).
Nybakken (1998) menyatakan bahwa, zat-zat anorganik utama yang
diperlukan fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang biak adalah nitrogen
dalam bentuk nitrat, dan fosfor dalam bentuk fosfat. Kedua unsur tersebut
menjadi faktor pembatas produktivitas fitoplankton.
Nilai kandungan fosfat di perairan Kep. Sembilan adalah sebagai berikut:

Kadar Fosfat di 4 Stasiun

1.4

1.2
1.152

1 0.941
0.941 0.941 0.902
0.883
0.883 0.864
Fosfat (mg

0.787 St. 2
0.8
0.828 St. 3
0.787 0.73
0.749 0.73 0.768
0.653 St. 4
0.6
0.595 0.653 St. 5
0.5
0.4

0.2

0 0 0 0
0 5 15 20 25 35
Kedalaman (m)

Gambar 3.7. Grafik kadar fosfat di perairan Pulau Sembilan, Teluk Bone

Kandungan fosfat yang diperoleh adalah berkisar antara 0,5 ppm hingga
1,152 ppml. Nilai yang terendah terdapat pada Stasiun 2 (0,5 ppm) di kedalaman

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-32


25 meter, dan nilai yang tertinggi terdapat pada Stasiun 4 di permukaan (1,152
ppm). Nilai 0 (nol) pada kedalaman 15, 20 dan 35 meter terjadi dikarenakan tidak
adanya pengambilan sampel pada kedalaman-kedalaman tersebut. Berdasarkan
kriteria diatas, dengan melihat dari kandungan fosfatnya dapat dikatakan bahwa
perairan di Kep. Sembilan mempunyai tingkat kesuburan yang sangat baik.
Pada stasiun 2 pada kedalaman 20 meter kandungan nitratnya 0,941 ppm
tetapi pada kedalaman 25 meter kandungan nitratnya langsung menurun
menjadi 0,5 ppm. Kondisi perairan Teluk Bone yang tergolong perairan dalam
dapat menyebabkan meningkatnya kandungan fosfat di perairan. Kedalaman
perairan ini yang menyebabkan massa air tidak tercampur dengan sempurna
dan menimbulkan akumulasi nutrien ke arah dasar perairan. Sedangkan
rendahnya kandungan fosfat menunjukkan bahwa penyerapan oleh fitoplankton
pada kedalaman tersebut berjalan dengan baik. Berdasarkan grafik di atas pada
stasiun 3 kadar fosfat-nya semakin meningkat, hal ini dikarenakan arus vertikal
bergerak ke atas pada perairan tersebut pada beberapa kedalaman tertentu
menuju ke lapisan kolom air permukaan. Sehingga meningkatnya nilai
kandungan fosfat dikarenakan adanya peristiwa naiknya zat unsur hara dari
dasar laut menuju ke permukaan yang menunjukkan adanya peristiwa upwelling.
Konsentrasi fosfat permukaan di perairan Indonesia pada musim Timur
lebih tinggi dibandingkan pada musim Barat, karena pada musim Timur terjadi
penaikan massa air yang menyebabkan zat hara permukaan meningkat
(Soegiarto dan Birowo, 1970). Di perairan selat Makassar sebelah selatan
terlihat nilai yang lebih tinggi yaitu berkisar antara 0,3 – 0,4 µg-at P/lt pada
musim timur, hal ini juga disebabkan oleh penaikan massa air paada musim ini
(Soegiarto dan Birowo dalam Suari, 1999). Pada stasiun 4 lokasi pengambilan
sampel dekat dengan daratan yaitu disekitar Pulau Batanlampe, sehingga terjadi
run-off nutrien yang berasal dari daratan dan juga adanya pemakaian kadar
fosfat oleh fitoplankton karena pada permukaan hingga kedalaman 35 meter
masih memiliki kadar intensitas cahaya yang cukup dan juga diduga dipengaruhi
oleh arus yang bergerak dari arah selatan menuju barat.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-33


Batasan optimum kandungan Fosfat dalam perairan untuk mendukung
pertumbuhan Fitoplankton secara umum adalah sebesar 0,09 – 1,80 ppm (0,029
– 0,587 µg-at P/lt) (Mackentum, 1969). Berdasarkan batasan tersebut maka
kandungan fosfat yang diperoleh adalah masih berada di dalam kisaran rata-rata
untuk pertumbuhan fitoplankton.

B.1.4.3 Khlorofil
Khlorofil-a merupakan salah satu parameter yang sangat menentukan
produktivitas primer di laut, berupa pigmen yang terdapat pada organisme di
perairan yang digunakan untuk proses fotosintesis. Nilai kandungan khlorofil di
perairan Kep. Sembilan, Teluk Bone adalah sebagai berikut:

Klorofil di 4 Stasiun

1.8
1.722
1.6

1.4 1.426
Klorofil (mg/m

1.2 1.19
st. 2
st. 3
1 0.992
st. 4
st. 5
0.8
0.744
0.7
0.6 0.595 0.595 0.595

0.4 0.419
0.346
0.298 0.298 0.289 0.298
0.2 0.186
0.149

0 0 0 0
0 5 15 20 25 35
Depth (m)

Gambar 3.8. Grafik pengukuran klorofil di perairan Kep. Sembilan, Teluk Bone

Gambar diatas menunjukkan bahwa nilai kandungan Khlorofil-a bervariasi


pada setiap stasiun. Pada lapisan permukaan nilai Khlorofil tertinggi berada di
Stasiun 3 dengan nilai 1,722 mg/m3, sedangkan pada Stasiun 4 dengan

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-34


kedalaman 20 meter dijumpai nilai Khlorofil yang tinggi dengan nilai 1,426
mg/m3. Tingginya nilai Khlorofil tersebut diduga dikarenakan adanya penyinaran
matahari yang cukup sehingga mendapatkan intensitas cahaya yang di butuhkan
oleh Fitoplankton untuk dapat melakukan proses fotosintesa. Apabila dilihat dari
unsur haranya, ditemukan bahwa sejumlah kandungan Nitrat dan fosfat yang
tinggi ditemukan di Stasiun 3 dan kandungan Fosfat yang tinggi juga ditemukan
pada Stasiun 4. Kandungan kedua unsur hara inilah yang utama diperlukan oleh
Fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang biak.
Pada stasiun 2, 3 dan 4 di kedalaman 5 meter menunjukkan bahwa
kandungan khlorofil mengalami peningkatan . Keadaan ini disebabkan karena
sifat fitoplankton untuk beradaptasi di tempat yang mempunyai intensitas cahaya
yang cukup kuat (permukaan) adalah kecil.

B.1.5 Inventarisasi Terumbu Karang

B.1.5.1 Inventarisasi Terumbu Karang Di Kabupaten Kolaka

B.1.5.1.1 Kondisi Karang

Secara umum kondisi terumbu karang di daerah penelitian Kabupaten


Kolaka dapat dikategorikan baik dari hasil rata-rata dari seluruh stasiun yang ada
persentase tutupan karang hidup adalah sekitar 61 %, dan karang mati sekitar
16 %. Dimana jika dilihat untuk per stasiun pengamatan adalah sebagai berikut:

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-35


Lifeform 3M

2% 7%
18%
19%

20%
14%
11% 6% 3%

CB CE CM CME DCA OT RB S SP

Gambar 3.9. Kondisi Tutupan Karang pada Kedalaman 3 meter di Kolaka Stasiun 1

Lokasi penelitian Stasiun 1 berada di sebelah barat Kabupaten Kolaka,


dengan tipe terumbu adalah Terumbu Penghalang (Barrier Reef), dimana kondisi
perairan pada kedalaman 3 meter memiliki jarak pandang didalam air (Visibility)
sejauh 8 meter, sebelum transek dibentangkan terlebih dahulu dilakukan survei
dengan metode Rapid Reef Resource Assesment (RRA) untuk mengestimasi
tingkat kepadatan pentupan dasar perairan, dan dari hasil RRA kemudian
ditentukan daerah penyelaman.

Kondisi penutupan dasar perairan di kedalaman 10 meter Stasiun 1


didominasi oleh pasir 100 % sehingga tidak dilakukan pengambilan data, namun
pada kedalaman 3 meter kondisi dasar perairan yang diperoleh adalah Patahan-
patahan karang (Rubble) 20 %, Pasir (Sand) 18 %, Karang mati ditumbuhi
Algae (Dead Corals with Algae = DCA) 6 %. Sedangkan untuk karang hidup di
kedalaman 3 meter Stasiun 1 diperoleh bentuk Karang Bercabang selain marga
Acropora (Coral Branching = CB) 7 %, Karang yang menempel pada karang mati
(Coral Encrusting = CE) 19 %, Karang Masif (Coral Massive = CM) 14 %, dan
Karang marga Millepora (CME) 3 % (lihat Gambar 3.9). Pasir dan pecahan
karang lebih banyak ditemukan pada lokasi di luar transek, lokasi ini memang
berdekatan dengan daratan utama sehingga gangguan ekosistem terumbu
karang lebih besar. Hal ini nampak dari pengamatan di sekitar lokasi
pengambilan data, dimana banyak ditemukan karang mati dan pecahan karang.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-36


Lifeform 3m

1% 5% 2%
8% 24%
5%
2%
3%

10%

6%
34%

ACB ACD CB CE CM CME CMR DCA MA RB S

Gambar 3.10. Kondisi Tutupan Karang pada Kedalaman 3 meter di Kolaka Stasiun 2

Lokasi penelitian Stasiun 2 ini, yang berdekatan dengan pulau-pulau yang


berada di sebelah barat Kabupten Kolaka, tipe terumbu karangnya adalah
Terumbu Karang Tepi (Fringing Reef). Kondisi perairan pada Stasiun 2 di
kedalaman 3 meter ini memiliki jarak pandang di dalam air (visibility) sejauh 3
meter hingga 8 meter. Kondisi terumbu karang yang hidup pada kedalaman 3
meter ini didominasi oleh bentuk Karang jenis Acropora yang Bercabang
(Acropora Branching = ACB) 24 %, Acropora Digitate (ACD) 3 %, Karang
Bercabang (Coral Branching = CB) 34 %, Karang hidup yang menempel pada
karang mati (Coral Encrusting = CE) 6 %, Karang Masif (Coral Massive = CM) 10
%, Karang marga Millepora (CME) 2 %. Sedangkan karang mati yang ditemukan
antara lain patahan karang (Rubble) 5 %, Karang mati ditumbuhi Algae (Dead
Corals with algae = DCA) 8 %, dan Pasir (Sand) 2 %. Selain itu juga ditemukan
Makro-Algae (MA) sebanyak 1 % dan Fungia (Coral Mushroom = CMR) sekitar 5
% yang berada pada subsrat pasir (lihat Gambar 3.10).

Terdapat 8 Genera yang ditemukan pada Stasiun 2 kedalaman 3 meter,


yaitu Acropora, Porites, Montipora, Millepora, Fungia, Pectinia, Seriatopora dan
Fungia. Nampak pada pengamatan diluar transek kondisi karang mengalami
kerusakan yang cukup serius, yaitu banyak ditemukannya pecahan karang dan
karang mati yang ditumbuhi alga. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat
eksploitasi komponen ekosistem terumbu karang adalah cukup tinggi.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-37


Lifeform 10m

1% 2%
7% 5% 2%
2% 2%
16%
25%

11%

7% 4%
3% 13%

ACB ACD ACT CB CE CF CM CMR DCA


MA OT RB S TA

Gambar 3.11. Kondisi Tutupan Karang pada Kedalaman 10 meter di Kolaka Stasiun 2

Pada saat pengambilan data yang dilakukan di Stasiun 2 pada kedalaman


10 meter, permukaan laut mengalami pasang naik sehingga jarak pandang
hanya berkisar 3 meter hingga 5 meter. Kondisi penutupan dasar perairan
didominasi oleh Macro Algae 25 % (genera Padina) dan karang hidup. Karang
hidup yang ditemukan antara lain Karang jenis Acropora yang Bercabang
(Acropora Branching = ACB) 5 %, Acropora Digitate (ACD) 2 %, Karang marga
Acropora berbentuk meja (Acropora Tabulate = ACT) 2 %, Karang Bercabang
(Coral Branching = CB) 16 %, Karang hidup yang menempel pada karang mati
(Coral Encrusting = CE) 11 %, Karang Masif (Coral Massive = CM) 13 %.
Sedangkan karang mati yang ditemukan adalah Karang mati ditumbuhi Algae
(Dead Corals with Algae = DCA) 7 %, Patahan-patahan karang (Rubble) 2 %,
dan Pasir (Sand) 7%. Ditemukan juga hewan lain (OT) sebanyak 2 % dan Turf
Algae (TA) 1 % (lihat Gambar 3.11).

Nilai Indeks Keanekaragaman terumbu karang secara umum di


kedalaman 10 meter adalah lebih rendah dibandingkan dengan nilai indeks pada
kedalaman 3 meter, sebagian besar karang yang terdapat di Karang Tebing
(Reef Slope) mengalami tingkat kerusakan yang cukup serius, meskipun karang
mati di daerah ini lebih sedikit dibandingkan dengan yang ada di kedalaman
sebelumnya, namun ada indikasi bahwa kerusakan karang pada daerah ini
akibat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan (bom). Hal ini terlihat

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-38


dengan banyaknya makro-algae yang mendominasi daerah ini yang tumbuh
pada subsrat karang mati. Selain itu beberapa Karang Masif (Coral Massive)
dan jenis Fungia mengalami kematian dimana tubuh karang menjadi berwarna
putih akibat pigmen warna/Khlorofil hilang (bleach) yang disebabkan oleh
pemangsa karang Achantaster plancii. Karang yang menarik pada lokasi ini
adalah ditemukannya jenis karang dari genera Montipora memiliki diameter
berukuran ± 3,5 meter di sekitar daerah transek. Adapun 12 Genera karang lain
yang ditemukan pada stasiun pengamatan adalah Acropora, Porites, Montipora,
Millepora, Fungia, Pectinia, Seriatopora, Galaxea, Goniopora, Hynophora,
Plerogyra, Syhmphilia.

B.1.5.1.2 Invertebrata

Secara umum kondisi invertebrata banyak dijumpai pada daerah


penelitian, beberapa diantaranya yang memiliki nilai ekonomis dan merupakan
objek eksploitasi yang masih ditemukan di daerah ini. Namun demikian jika hal
ini terus berlangsung maka suatu saat invertebrata tersebut akan mengalami
kepunahan.

Beberapa genera yang dijumpai di lokasi ini antara lain Echinotrix, Linkia,
Didemnum, Spriobranchus, macrodactyla, dan Diadem. Rata-rata organisme ini
dapat ditemukan pada kedalaman 3 meter hingga 10 meter dengan subsrat
karang mati, pecahan karang maupun karang hidup.
Jenis Sponge diwakili oleh Haloclina sp, Plakortis nigra, Xextospongia sp,
Carteriospongia dan Cynacyra sp pada kedalaman 3 meter hingga 6 meter
dengan subsrat karang mati dan pasir. Sedangkan dari kelas Bivalvia dijumpai
adanya Kima Batu (Tridacna crocea), dan Kima Sisik (Tridacna squamosa)
dimana beberapa diantaranya memiliki ukuran ± 15 cm. Organisme ini dapat
dijumpai pada kedalaman 5 meter hingga 10 meter, dimana Kima Sisik hidup di
atas subsrat pasir dan Kima Batu hidup menempel pada Karang Masif mati.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-39


B.1.5.2 Inventarisasi Terumbu Karang Kabupaten Sinjai

Kepulauan Sembilan secara administrasi berada pada wilayah Kabupaten


Sinjai Sulawesi Selatan, dimana dinamakan Kep. Sembilan karena memiliki
sembilan pulau. Beberapa diantara pulau tersebut berpenghuni, yaitu Pulau
katindoang dan P. Larea-rea. Pulau Kambuno adalah sebagai pusat Kecamatan
Pulau-Pulau Sembilan. Sedangkan pulau-pulau lain adalah Pulau Burungloe, P.
Kanalo 1, P. Kanalo 2, P. Batanglampe, P. Kodingareng, P. Liang-liang.

B.1.5.2.1 Kondisi Karang

Secara umum kondisi karang di Kabupaten Sinjai (Kepulauan Sembilan)


dapat dikategorikan Sedang dengan persentase dari hasil rata-rata dari stasiun
yang ada tutupan karang hidup adalah sekitar 26,15 % dan karang mati 43,63 %.
Dimana jika dilihat untuk per stasiun pengamatan adalah sebagai berikut:

Lifeform 3m
1.4%
2.8% 1.3% 1.4%

3.3% 1.8%

24.4% 23.5%

1.6%

1.2%
0.2%
0.0%
0.3%
36.6%
ACB ACD ACE CB CE CM CME CMR DC DCA
MA OT S SP

Gambar 3.12. Kondisi Tutupan Karang pada Kedalaman 3 meter di Kep. Sembilan Stasiun 1

Kondisi tutupan dasar perairan pada Stasiun 1 di kedalaman 3 meter


didominasi oleh bentuk Karang ditumbuhi algae (Dead Corals with Algae = DCA)
36,6%, dan Pasir (Sand) 24,4 %. Sedangkan untuk kategori karang hidup terdiri
dari bentuk Karang marga Acropora Bercabang (Acropora Branching = ACB) 2,8

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-40


%, Acropora Digitate (ACD) 1,3 %, Acropora Encrusting (ACE) 1,4 %, Karang
Bercabang selain marga Acropora (CB) 1,4 %, Coral Encrusting (CE) 1,8 %,
Karang Masif (Coral Massive = CM) sebesar 23,54 %, Coral Millepora (CME) 1,2
%, Coral Mushroom (CMR) 0,01 %. Dalam hal ini ditemukan juga Sponge (SP)
sebanyak 3,3 %, Makro-Algae (MA) 0,01 % dan hewan lain (OT) sebanyak 1,6 %
(lihat Gambar 3.12).
Kondisi karang di daerah penelitian Stasiun 3 pada kedalaman 3 meter
adalah sangat memprihatinkan dengan persentase karang hidup hanya 33,45 %,
dimana karang hidup didominasi oleh karang jenis Porites, Montipora, Millepora
dan sebagian kecil Acropora. Jumlah karang mati pada kedalaman ini adalah
36,9 %. karang mati yang banyak ditemukan mengindikasikan adanya
penggunaan alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan
senyawa kimia Apotas.

Lifeform 6M

12% 2% 5% 10%
1%
1%

32%
29%
5% 3%

ACB CB CE CM CME DCA MA OT S SP

Gambar 3.13. Kondisi Tutupan Karang pada Kedalaman 6 meter di Kep. Sembilan Stasiun 3

Pada lokasi pengambilan data Stasiun 3 yang dilakukan di kedalaman 6


meter, jarak pandang berkisar 3 meter hingga 4 meter, dengan kondisi karang
didominasi oleh Karang mati ditumbuhi algae (Dead Coral with Algae = DCA) 29
% dan Pasir (Sand) 32 %. Karang hidup yang ditemukan antara lain Karang

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-41


marga Acropora Bercabang (Acropora Branching = ACB) 2 %, Karang
Bercabang selain marga Acropora (CB) 5 %, Coral Encrusting (CE) 10 %,
Karang Masif (Coral Massive = CM) sebesar 1 %, Coral Millepora (CME) 1 %.
Ditemukan juga Makro-Algae (MA) sebanyak 3 %, Sponge (SP), dan hewan lain
(OT) sebanyak 3 % (lihat Gambar 3.13).
Kondisi karang yang hidup pada kedalaman 6 meter adalah lebih tinggi
dibandingkan dengan karang yang hidup di kedalaman 3 meter yaitu 19 %,
sedangkan jumlah karang mati sebesar 29 %. Ada 11 genera yang ditemukan di
stasiun pengamatan Kepulauan Sembilan antara lain Acropora, Lobopyhillia,
Calaustrea, Galaxea, Euphilia, Seriatopora, Porites ,Montipora, Millepora,
Galaxea, Stylophora.

Lifeform P.Sembilan

3% 2% 1%1% 9%
9%
1% 2%
10%
2%
1%
3%

1%

55%

ACB CB CF CM CME CMR DC DCA MA


OT RB S SP TA

Gambar 3.14. Kondisi Tutupan Karang pada Kedalaman 3 meter di Kep. Sembilan Stasiun 3

Hasil pengamatan terhadap terumbu karang di Stasiun 3 pada kedalaman


perairan 3 meter diperoleh Karang mati ditumbuhi algae (Death Coral with Algae
= DCA) 55 %, Karang Mati (Death Coral = DC) 1 %, Patahan-patahan karang
(rubble) 9 %, dan Pasir (Sand) 3 %. Sedangkan karang hidup yang ditemukan
antara lain bentuk Karang Bercabang marga Acropora (Acropora Branching =
ACB) 1 %, Karang Bercabang selain marga Acropora (Coral Branching = CB) 9
%, Coral Foliose (CF) 2 %, Karang Masif (Coral Massive = CM) 10 %, Karang

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-42


marga Millepora (CME) 1 %, Coral Mushroom (CMR) 3 %. Ditemukan juga
Makro-Algae (MA) sebanyak 2 %, hewan lain (OT) 1 %, Sponge (SP) 2 %, dan
Turf Algae (TA) sebanyak 1 % (lihat Gambar 3.14). Dimana kondisi perairannya
yang jernih mempunyai jarak pandang sekitar 6 meter hingga 8 meter.
Secara umum kondisi lokasi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi karang
di satasiun pengamatan sebelumnya (Stasiun 3 pada kedalaman 6 meter),
dimana kondisi karang hidup pada Stasiun 3 kedalaman 3 meter ini hanya 26 %,
dan karang mati 65 %. Lokasi pengambilan data yang berdekatan dengan Pulau
Burungloe memungkinkan terjadinya eksploitasi terhadap komponen ekosistem
terumbu karang. Tingginya tingkat kerusakan nampak pada sebagian besar
karang yang teramati di daerah terumbu. Beberapa karang yang masih hidup
merupakan karang yang tahan terhadap tekanan misalnya jenis Porites, adapun
karang yang hidup merupakan karang yang masih baru (recruitment) atau
karang yang relatif masih muda.

B.1.5.2.2 Invertebrata
Invertebrata banyak ditemukan di sekitar lokasi pengamatan, beberapa
organisme yang memiliki nilai ekonomis masih dapat ditemukan di daerah ini
misalnya Kima Sisik (Tridacna squamosa) dan Kima Batu (Tridacna crocea),
yang memiliki ukuran 3 - 6 cm ditemukan pada kedalaman 3 meter hingga 6
meter. Dimana Kima Sisik hidup di subsrat pasir sedangkan Kima Batu
menempel pada Karang Masif. Organisme lain yang melimpah adalah jenis
Didemnum molle, pada kedalaman 3 meter hingga 6 meter dengan subsrat
karang mati maupun pecahan karang.
Jenis Lilia laut (Oxycomanthus) tampak hidup bersosiasi dengan karang,
sedangkan jenis Asteroidea Linkia laveigata dan Protoreaster serta nardoa
ditemukan pada subsrat pasir. Jenis Diadema dan Echinotrix juga banyak
ditemukan di atas subsrat pasir dan di antara karang yang masih hidup.
Sedangkan dari jenis Polycarpa aurata dan Liscoclinum platell yang biasanya
banyak terdapat di antara karang hidup, juga masih dapat dijumpai di daerah ini.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-43


Beberapa jenis Sponge yang dapat dijumpai adalah Haloclina, Plakortis,
Xextospongia, Callyspongia, yang hidup pada subsrat Karang Masif maupun
pasir. Salah satu sponge yang ditemukan dengan diameter berukuran ± 60 cm
pada kedalaman 5 meter.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - 3-44


Tg Batikala
Palopo
J = 75
Tg Tolala
Lelewau
Karang Bron Lahou
Karang Naber Pakowe

Karang Bali

Karang Lamunre
J = 39 Suli Tg Tabako

J = 33 Muranti Susua

J = 19 Tg Siwa Wawo

Tg Lokoloko Wulu

Gambar 3.15. Area model dan kondisi batimetri Teluk Bone

3-45
(a) (b)

(c) (d)
Gambar 3.16. Pola arus permukaan & sebaran muka air laut di Teluk Bone pada Kondisi Pasang Purnama,
saat air (a) menjelang pasang, (b) pasang, (c) menjelang surut, (d) surut

3-46
(a) (b)

(c) (d)
Gambar 3.17. Pola kecepatan & arah arus permukaan di Teluk Bone pada Kondisi Pasang Purnama,
saat air (a) menjelang pasang, (b) pasang, (c) menjelang surut, (d) surut

3-47
T T

(a) (b)

T T

(c) (d)
Gambar 3.18. Profil arus potongan melintang Tg. Siwa – Wawo pada Kondisi Purnama,
saat air (a) menjelang pasang, (b) pasang, (c) menjelang surut, (d) surut

3-48
T T

(a) (b)

T
T

(c) (d)
Gambar 3.19. Profil arus potongan melintang Tg. Siwa – Wawo pantai Timur (zoom area)
pada Kondisi Purnama, saat air (a) menjelang pasang, (b) pasang, (c) menjelang surut, (d) surut

3-49
T T

(a) (b)

T T

(c) (d)
Gambar 3.20. Profil arus potongan melintang Muranti – Susua pada Kondisi Purnama,
saat air (a) menjelang pasang, (b) pasang, (c) menjelang surut, (d) surut

3-50
T T

(a) (b)

T T

(c) (d)
Gambar 3.21. Profil arus potongan melintang Suli – Tabako pada Kondisi Purnama,
saat air (a) menjelang pasang, (b) pasang, (c) menjelang surut, (d) surut

3-51
T T

(a) (b)

T
T

(c) (d)
Gambar 3.22. Profil arus potongan melintang Palopo – Lelewau saat air (a) menjelang pasang, (b) pasang, (c)
menjelang surut, (d) surut

3-52
B.2 Teluk Lasongko
Teluk Lasongko secara administratif berada pada wilayah Kecamatan
Lakudo yang secara geografis terletak di Kabupaten Buton termasuk dalam
Pulau Muna, Sulawesi Tenggara pada 5º14’LS sampai 5º26’ LS dan 122º25’BT
hingga 122º 34’BT dengan batas wilayah Sebelah utara berbatasan dengan
Kabupaten Muna, sebelah selatan berbatasan dengan Selat Buton, sebelah
timur berbatasan dengan Kecamatan Gu, dan sebelah barat berbatasan dengan
Kecamatan Mawassangka Timur.
Kecamatan Lakudo terpisah dari daratan Sulawesi dengan luas daratan
22.500 ha dengan bentuk topografi datar, bergelombang sampai berbukit.
Daratan dengan topografi datar berada di Lakudo, Waara, dan Madongka,
sementara desa lainnya didominasi oleh areal bergelombang sampai berbukit.
Secara geologis jenis tanah yang dominan adalah kambisol yang
sebagian besar permukaannya tertutup oleh batuan cadas dan batuan kapur.
Suhu rata-rata harian 28ºC dan kelembaban udara 70.75 %. Ditinjau dari
keadaan curah hujannya yaitu 1473.4 mm/tahun maka daerah ini adalah daerah
semi kering. Musim hujan terjadi pada bulan Desember hingga Maret pada saat
angin barat, sedangkan musim kemarau pada bulan April hingga Oktober
dimana bertiup angin timur.
Jumlah penduduk Kecamatan Lakudo pada tahun 2002 adalah 22.686
jiwa yang terdiri dari 4.762 kepala keluarga dengan proporsi penduduk berjenis
kelamin laki-laki dan perempuan hampir seimbang yaitu 11.291 laki-laki dan
11.395 perempuan. Masyarakat setempat umumnya adalah suku Buton (Gu)
ditambah dengan suku Ambon dengan agama yang dianut adalah Islam. Jumlah
penduduk tertinggi berada di kelurahan Boneoge kemudian kelurahan Lakudo
dan selanjutnya Lolibu.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-53


Tabel 3.2. Jumlah penduduk usia 10 tahun keatas berdasarkan mata pencaharian
Laki-
No Mata Pencaharian laki Perempuan Jumlah
1 Pertanian 2267 2555 4822
2 Perikanan 2285 651 2936
3 Peternakan 301 558 859
4 Perkebunan 1079 714 1793
5 Kehutanan 4 - 4
6 Pertambangan 48 35 83
7 Industri 134 1874 2008
8 Listrik dan Air Minum 20 - 20
9 Konstruksi Bangunan 326 - 326
10 Perdagangan 578 535 1113
Transportasi dan
11 Komunikasi 127 - 127
12 Keuangan 10 2 12
13 Jasa Perseorangan 166 114 280
14 Lain-lain 733 1334 2067
8078 8372 16450

B.2.1 Metodologi
Lingkup wilayah yang diamati adalah sepanjang garis pesisir Teluk
Lasongko dengan jarak ke arah Laut flores 4 mil dan ke arah darat meliputi batas
administratif 13 (tiga belas) desa/kelurahan pada Kecamatan Lakudo, Kabupaten
Buton, dan 3 (tiga) desa/kelurahan di Kecamatan Mawasangka Timur,
Kabupaten Muna. Sedangkan lingkup materi yang diamati meliputi:
oseanografi fisik, vegetasi pantai, padang lamun, terumbu karang, sumberdaya
ikan, budidaya perairan.
Pengamatan kondisi oseanografi fisik yang berupa batimetri dilakukan
dengan menggunakan instrumen Multibeam Echosounder. Sedangkan
parameter kimia perairan yang dikumpulkan adalah: temperatur, salinitas, pH,
kecerahan, dan nutrien (Nitrat, Fosfat, dan Silikat).
Pengamatan mangrove yang dilakukan adalah mengadopsi dari English,
et al. (1997) yaitu Metode Transek Kuadrat. Dimana yang dilakukan adalah
melakukan transek dengan kuadran (10x10 m2) pada beberapa lokasi yang
berbeda dengan panjang transek 100 - 150 meter. Hasil transek kemudian
dihitung kerapatan jenis (Di), Kerapatan relatif jenis (RDi), Frekuensi jenis (Fi),

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-54


Frekuensi relatif jenis (RFi), Penutupan jenis (Ci), Penutupan relatif jenis (RCi),
serta nilai penting jenis (IV). Selain itu derajat keasaman tanah diukur dengan
menggunakan pH meter, dan sampel tanah juga diambil untuk mengetahui sifat-
sifat tanah.
Pengamatan lamun yang dilakukan adalah juga mengadopsi dari English,
et al. (1997) yaitu Metode Transek Kuadrat. Pengumpulan data kerapatan dan
penutupan lamun dengan menggunakan kuadrat besi yang berukuran 20 x 20
cm, sedangkan khusus untuk spesies Enhalus acoroides menggunakan ukuran
kuadrat besi 50 x 50 cm. Kuadrat besi ini dilempar secara acak masing-masing
10 x di setiap stasiun pengamatan kemudian dihitung jumlah tunasnya untuk
mengetahui kerapatan dan penutupannya. Pengukuran biomassa lamun dan tipe
substrat juga dilakukan dalam hal ini.
Pengamatan kondisi terumbu karang yang dilakukan adalah juga
mengadopsi dari English, et al. (1997) yaitu Metode Line Intercept Transec.
Dimana pada masing-masing stasiun penelitian dilakukan transek sepanjang 50
m sejajar garis pantai dengan kedalaman bervariasi antara 3 m sampai 10
meter. Pendataan yang dilakukan adalah terhadap jenis karang dan sebarannya,
dalam hal ini juga dilakukan dokumentasi bawah air.

B.2.2 Kondisi Oseanografi Fisik & Kimiawi


Secara visual topografi perairan Teluk Lasongko cenderung landai
dengan perbedaan kedalaman perairan dari 5 meter hingga 27 meter. Pada area
teluk yang lebih dalam yaitu diawali dari perairan Desa Lakudo, hingga ke Utara
sampai dengan perairan Desa Mone, kedalaman cukup dangkal yaitu berkisar 6
meter hingga 1,5 meter. Pada area mulut Teluk Lasongko juga ditemui
dangkalan dengan kedalam berkisar 5 meter, dangkalan ini berada di depan
desa Madongka. Profil dasar perairan Teluk Lasongko secara jelas dapat dilihat
pada data hasil survei batimetri yang dilakukan dengan Multibeam Echosounder
dan asimilasi data batimetri dari Dinas Hidro-oseanografi TNI-AL.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa tingkat kecerahan perairan
terendah ditemukan pada perairan Desa Lolibu hingga Desa Mone dengan nilai

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-55


0,5 - 1 meter dibandingkan dengan kecerahan di perairan Desa Lakudo hingga
Desa Madongka dengan nilai 6 – 8 meter. Temperatur perairan Teluk Lasongko,
sesuai hasil yang didapat dari instrumen pengukur berkisar antara 27,1 ºC
hingga 31ºC dengan salinitas rata–rata 32 ppt, dan Untuk hasil analisis kimia
didapatkan derajat keasaman (pH) 7,8 – 8,5. Sedangkan untuk kandungan
terlarut dari Fosfat, Nitrat dan Silikat selengkapnya dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.

Gambar 3.23. Peta Batimetri Teluk Lasongko (Sumber: Dishidros TNI-AL)

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-56


Gambar 3.24. Batimetri Teluk Lasongko hasil Asimilasi data akuisisi Multibeam
Echosounder dan Digitasi Peta (Satuan Kedalaman: meter)

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-57


Tabel 3.3. Hasil terukur parameter fisik dan kimiawi perairan Teluk Lasongko
Kedalaman Phospat Nitrat Silikat Salinitas pH Suhu Kecerahan
stasiun (meter) (µg-at/l) (µg-at/l) (µg-at/l) (ppt) (°C) (meter)

1 0 0,13 0,60 6,28 32 8,5 31 8


5 0,26 0,55 5,89
10 0,18 0,66 5,98
20 0,22 0,85 8,33
2 0 0,26 0,62 5,00 32 8,5 31,5 6
5 0,18 1,37 5,88
10 0,18 0,77 6,47
20 0,57 0,62 5,20
3 0 0,22 0,73 4,31 32 8,1 31,2 1
5 0,44 0,79 7,45
10 0,35 0,92 7,16
4 0 0,31 0,79 12,06 32 7,8 31 0,5
5 0,26 0,92 12,94

B.2.3 Kondisi Mangrove


Daerah mangrove yang terdapat di Teluk Lasongko umumnya mempunyai
tipe substrat yang berbatu dan sedikit lumpur sehingga pertumbuhan vegetasi
mangrove menjadi kurang baik dan keanekaragaman jenis vegetasi didominasi
oleh jenis yang berjumlah sedikit dan yang mampu bertahan pada daerah
tersebut yaitu jenis Rhizophora stylosa.

Gambar 3.25. Mangrove di Teluk Lasongko

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-58


Jenis vegetasi mangrove yang diidentifikasi dikelompokkan berdasarkan
zonasi tipe pantai, dimana pada daerah teluk lasongko terdapat tiga tipe pantai
yang mempunyai keanekaragaman vegetasi yang berbeda. Pantai yang
merupakan daerah estuaria yang ditumbuhi jenis mangrove sejati adalah pantai :
Matawine, Mone, Lolibu dan Lasori. Sedangkan untuk daerah dengan tipe pantai
berpasir seperti pantai Lakudo, Madongka, Moko dan Wajogu banyak ditumbuhi
tumbuhan predu dan paku-pakuan. Mangrove pada daerah dengan tipe pantai
bertebing adalah berupa tumbuhan pemanjat, yang terdapat di pantai
Nepamekar, Wanepa-nepa, Boneoge dan sebagian daerah Lakudo.

B.2.4 Kondisi Lamun

Padang lamun di Teluk Lasongko dapat ditemukan diseluruh zona


intertidal yang terdiri dari 6 macam vegetasi yang hidup pada substrat pasir halus
dan pasir berlumpur, yaitu: Enhalus acoroides, Thalassia hemprinchii,
Cymodocea rotundata, Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, Halodule
universis (lihat Gambar dan Tabel).

Gambar 3.26. Contoh padang Lamun di Teluk Lasongko

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-59


Gambar 3.27. Jenis Lamun Teluk Lasongko berturut-turut dari kiri atas ke kanan (Enhalus
acoroides, Thalassia hemprinchii, Cymodocea rotundata), dan kiri bawah ke kanan (Halophila
ovalis, Syringodium isoetifolium, Halodule universis)

Tabel 3.4. Kerapatan rata-rata tiap jenis lamun pada setiap stasiun penelitian
Kerapatan ( tunas/m² )
No Jenis Lamun 1 2 3 4
1 Enhalus acoroides 54.3 37.8 30.2 42.3
2 Thalassia hemprinchii 35.8 31.9 23.5 36.7
3 Cymodocea rotundata 23.6 31.4 28.7 28.7
4 Halophila ovalis 4.7 3.9 5.6 3.6
5 Syringodium isoetifolium 2.3 2.7 3.8 1.4
6 Halodule universis 1.3 3.2 2.5 3.2
Keterangan : 1=Sta.Wanepa-Nepa, 2=Sta.Lakudo, 3=Sta.Moko, 4=Sta.Wajogu

Kerapatan jenis lamun pada tiap daerah dipengaruhi oleh kondisi


abiotisnya seperti kecerahan, kedalaman, substrat dan kandungan zat hara
(Zieman, 1987). Pada setiap stasiun penelitian di Teluk Lasongko sedikit
terdapat perbedaan, hal ini diduga disebabkan karena daerah perairannya yang
cenderung homogen dan tipe substrat yang tidak jauh berbeda. Tetapi
berdasarkan analisa ukuran butiran sedimen pada substrat dasar di empat
stasiun pengamatan yaitu Wanepa-nepa, Lakudo, Moko dan Wajogu
menunjukkan bahwa setiap stasiun ternyata mempunyai substrat yang sedikit
berbeda.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-60


Tabel 3.5. Hasil Analisa Ukuran Butir Pasir Substrat Di Setiap Stasiun Penelitian
Stasiun Persentase Berat
No. Daerah No Lumpur Pasir Kerikil Jenis
1 26.35 65.86 7.79 Pasir berlumpur
1 Matawine 2 27.23 64.55 8.22 Pasir berlumpur
3 23.45 63.24 13.31 Pasir berlumpur
4 25.61 65.33 9.06 Pasir berlumpur
5 27.43 69.21 3.36 Pasir berlumpur
1 62.43 26.33 11.24 Lumpur berpasir
2 Lakudo 2 65.21 22.34 12.45 Lumpur berpasir
3 61.24 28.12 10.64 Lumpur berpasir
4 64.34 27.33 8.33 Lumpur berpasir
5 66.54 25.28 8.18 Lumpur berpasir
1 7.34 88.45 4.21 Pasir
3 Moko 2 8.34 89.37 2.29 Pasir
3 12.32 85.24 2.44 Pasir
4 11.23 84.22 4.55 Pasir
5 9.44 87.67 2.89 Pasir
1 66.23 21.34 12.43 Lumpur berpasir
4 Wajogu 2 64.33 24.12 11.55 Lumpur berpasir
3 67.45 20.33 12.22 Lumpur berpasir
4 68.34 23.22 8.44 Lumpur berpasir
5 63.56 24.33 12.11 Lumpur berpasir

B.2.5 Kondisi Terumbu Karang


Umumnya perairan Teluk Lasongko memiliki terumbu karang dengan tipe
karang pantai (Freenging reef) dan juga karang gosong (Patch reef) yang
terpisah dari pantai hingga 4 km. Tujuh lokasi terumbu karang yang tersebar di
perairan teluk lasongko adalah Pasik (Terumbu karang): Bungi, Madongka, Bone
Marangi, Bunta, Bunging Balano, Katembe dan Bawona.

Gambar 3.28. Kondisi Terumbu Karang Teluk Lasongko

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-61


Tujuh lokasi kelompok terumbu karang ini secara umum kondisinya
adalah rusak. Hal ini disebabkan oleh adanya aktivitas nelayan tradisional yang
melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak. Data pada
tahun 2001 menunjukkan daerah penangkapan ikan dengan bahan peledak di
Kecamatan Lakudo ialah pada perairan Waara, Wanepa-Nepa, Lolibu, dan
Boneoge dengan estimasi aktivitas 12 kali ledakan per hari atau 1.800 kali dalam
setahun, sedangkan yang tercatat di desa-desa di kecamatan Mawasangka
Timur jumlah ledakan per hari sekitar 15 kali atau 3.400 kali dalam setahun.
Setiap stasiun pengamatan terumbu karang hampir mempunyai ciri yang
sama dalam rataan terumbu karangnya yang ada, yaitu yang berada pada
kedalaman 3 meter hingga 5 meter dan pada bagian lereng sangat landai
dengan kontur rata. Karang ditemukan rata-rata pada kedalaman 5 meter sampai
8 meter dan selebihnya adalah pasir dan alga. Keberadaan alga cukup tinggi
diduga disebabkan karena pergerakan arus yang pada kolom air adalah lemah.
Penutupan alga yang besar mengindikasikan terjadinya proses pemulihan
(recovery) terhadap kondisi terumbu karang yang rusak, dimana karang lunak
(soft coral) dan alga lebih cepat tumbuh dan dominan dibanding karang keras
(hard coral).
Persentase penutupan karang hidup di Stasiun I di Karang Bungi, perairan
Mawasangka Timur menunjukkan nilai yang rendah yaitu 28,1 % dimana jenis
yang terbanyak adalah Pavona cactus (alga) dan Sinularia polydactyla (karang
lunak).
Stasiun II di Karang Madongka, memiliki karang yang cukup sehat karena
lebih beragam dan keberadaan unsur abiotik seperti pasir tidak terlalu besar.
Persentase penutupan karang hidup didaerah ini adalah 48,7 % dengan jenis
yang terbanyak adalah jenis Acropora nasuta.
Kondisi karang di stasiun III karang Bone Marangi mengarah pada kriteria
yang buruk, tetapi pada saat ini masih bisa dikatakan dalam keadaan sedang,
dengan mayoritas karang yang sudah hancur dengan sedimentasi yang tinggi.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-62


Persentase penutupan karangnya sebesar 37,12 % dengan jenis yang terbanyak
adalah Sinularia polydactyla.
Karang di Stasiun IV,Karang Bunta adalah dalam keadaan baik dengan
persentase 53,32 % tetapi sebenarnya adalah dalam keadaan tertekan karena
para nelayan semakin intens untuk melakukan pengeboman ikan yang
bersembunyi di balik karang. Jenis karang yang terbanyak pada stasiun ini
adalah jenis Pavona cactus yang terhampar seperti jamur dengan daun-daun
yang berwarna coklat.
Lobophytum strictum adalah jenis yang banyak terdapat di karang
Bunging Balano atau Stasiun V, dengan kondisi total karang kurang baik dan
persentase penutupan karang hidup 37,9 %.
Terumbu karang di Karang Katembe atau Stasiun VI adalah karang yang
paling baik untuk persentase karang hidupnya yaitu 58,7 %, dengan jenis karang
terbanyak dari jenis Pavona cactus dan Sinularia polydactyla.
Jenis yang terbanyak pada Stasiun VII di Karang Bawona adalah sama
dengan di Stasiun VI, yaitu dengan kondisi karang yang kurang baik dengan
persentase penutupan 52,06 % dan banyak jenis karang yang mulai mengalami
kerusakan pada setiap percabangannya.

Gambar 3.29. Jenis Pavona cactus (alga) dan Sinularia polydactyla (karang lunak)

B.2.6 Kondisi Perikanan Tangkap


Potensi perikanan tangkap yang berada di Teluk Lasongko secara garis
besar adalah perikanan demersal, pelagis kecil dan ikan hias karang dengan
jenis- jenis ikan utama adalah Peperek Cina (Leiognathus spelendens), Peperek

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-63


Bondolan (Gazza minuta), Tengiri Batang (Scomberomorus lineatus), Layur
(Trichiurus savala), dan Kembung (Restrelliger sp.).
Peralatan yang digunakan oleh para nelayan di perairan Teluk Lasongko
umumnya masih berupa alat yang belum modern. Nelayan Lasongko biasa
menggunakan alat seperti jaring apung (drift gill net), Lift net, jaring kepiting, dan
bagan apung.
Potensi ikan hias laut juga melimpah di perairan Teluk Lasongko
walaupun kondisi terumbu karang sangat tertekan. Ikan hias di perairan ini masih
melimpah disebabkan oleh kurangnya pengetahuan nelayan sekitar tentang nilai
ekonomi dari ikan hias tersebut, sehingga kurang terdapat aktivitas nelayan yang
menangkap ikan hias.

Tabel 3.6. Jenis ikan yang tertangkap dengan alat jaring apung di Teluk Lasongko
Jumlah
No Jenis Ikan Ekor Hasil Tangkapan
per 1 kg Rata-rata(kg/trip)
1 Biji Nangka a, Upeneus molluccensis 22 0.5
2 Biji Nangka b, Upeneus tragula 19 0.5
3 Daun Bambu, Chorinemus tol 10 2
4 Ekor Kuning, Caesio erythrogaster 18 1
5 Gorara Lutjanus vitta 18 0.8
6 Jambian, Lutjanus lutjanus 25 0.3
7 Kakatua,Callyodon cyanognathus 10 1
8 Kapas-Kapas,Geres filamentosus 25 5
Kembung Lelaki, Rastrelliger
9 brachysoma 10 3
Kembung Perempuan, Rastrelliger
10 neglectus 8 4
11 Kerapu Lumpur,Epinephelus tauvina 15 0.7
12 Kerondong,Gymnothorax undulatus 8 1
13 Kucul,Sphyraena obtusata 5 3
Kurisi(Kambayan),Nemipterus
14 hexodon 20 1
Kwee Ramping, Carangoides
15 ciliarius 15 4
16 Kwee Rombeh,Alectis indicus 15 3
17 Layur,Trichiurus savala 17 5
18 Lingkis,Siganus canalitulatus 15 0.3
19 Parang-Parang,Chirocentrus dorab 10 2
20 Pari Kembang, Amphotistius kuhlii 3 3
21 Peperek Bondolan, Gazza minuta 30 10
22 Peperek Cina,Leiognathus 30 20

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-64


spelendens
23 Rejum,Sillago sihama 15 1
24 Scorpion Kodok Biasa, Histrio histrio 17 0.5
25 Selar Kuning, Selaroides leptolepis 15 2
26 Sembilang, Plotosus canius 10 0.5
27 Talang Talang,Chorinemus tala 15 5
28 Tembang, Sardinella fimbriata 20 1
Tengiri Batang,Scomberomorus
29 lineatus 10 7
30 Therapon theraps 20 0.3
31 Triger Biru,Odonos niger 18 0.2
Total 88.6

B.2.7 Kondisi Budidaya Laut


Luas wilayah perairan laut di Kecamatan Lakudo untuk kegiatan budidaya
adalah 2.960 Ha. Dimana jumlah rumah tangga petani rumput laut di Kecamatan
Lakudo sebanyak 307 keluarga dan di Kecamatan Mawasangka sebanyak 228
keluarga dengan luas masing-masing area untuk satu keluarga adalah 6.85 Ha.
Kemudian untuk budidaya rumput laut saat ini dengan luasan areal potensi
budidaya yang ada diperkirakan produksi rumput laut dapat mencapai
24.098.040 kg/panen atau 96.392.160 kg/tahun.

Tabel 3.7. Jenis budidaya laut di Teluk Lasongko


Luas (Ha)
No Desa Komoditas atau Unit Metode Budidaya
1 Wajogu Rumput Laut 5 Ha Tali Rentang
Pembesaran Kerapu 4 Unit Karamba Tancap
Pembesaran Rajungan 3 Unit Karamba Tancap
2 Lolibu Rumput Laut 15 Ha Tali Rentang
Pembesaran Kerapu 12 Unit Karamba Tancap
Pembesaran Rajungan 4 Unit Karamba Tancap
3 Matawine Pembesaran Kerapu 2 Unit Tambak Laut
Karamba Jaring
4 Wanepa-Nepa Pembesaran Kerapu 1 Unit Apung
5 Boneoge Rumput Laut 40 Ha Tali Rentang
Pembesaran Kerapu 1 Unit Tambak Laut
6 Madongka Rumput Laut 450 Ha Tali Rentang

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-65


Gambar 3.30. Rumput laut jenis Euchema Cottonii

Gambar 3.31. Metode tali rentang untuk budidaya rumput laut

Rumput laut yang dibudidayakan adalah jenis Eucheuma cottonii, dengan


pembelian bibit atau biasa disebut petani satu tali bibit sepanjang 7 meter
seharga Rp. 30.000,- yang biasanya menghasilkan 3 sampai 4 kg rumput laut
kering dengan harga Rp. 4500,- per kg dan bisa dipanen setelah 45 hari. Selain

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-66


budidaya rumput laut, di perairan Teluk Lasongko juga banyak dijumpai karamba
untuk budidaya ikan, lobster dan juga teripang.
Jenis-jenis ikan kerapu yang banyak dibudidayakan terdiri dari kerapu
lumpur (Ephinephelus coioides), kerapu macan (Ephinephelus fuscoguttatus),
kerapu tikus (Cromileptes altivelis), dan kerapu sunu (Plectropomus spp.). Waktu
yang diperlukan untuk pembesaran kerapu hingga mencapai berat ikan 9 ons
adalah cukup lama, yaitu berkisar antara 6 – 8 bulan, dengan harga jual untuk
Kerapu Lumpur Rp. 33.000,- per kg, Kerapu Sunu Rp. 40.000,- per kg, dan untuk
Kerapu Tikus Rp. 200.000,- per kg. Bibit biasanya diperoleh dari Pulau Tiworo,
daerah Muna Barat dengan harga beli bibit per ons sekitar Rp. 10.000,-.

Gambar 3.32. Karamba Jaring Apung

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-67


Gambar 3.33. Karamba jaring tancap untuk pembesaran kerapu

Gambar 3.34. Lobster jenis Mutiara yang cukup ekonomis

Gambar 3.35. Cangkang hasil molting yang ke 8 kali


(kiri) dan tempat pembesaran Lobster (kanan)

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-68


Pada budidaya udang karang / Lobster, biasanya para nelayan
mendapatkan bibit dari penyelam dengan berat rata – rata bibit sekitar 50 gram,
dan kemudian dibesarkan selama 8 – 10 bulan hingga mencapai berat 1,1 – 2,3
kg ( molting ± 8 kali ). Jenis Lobster yang dibudidayakan ada dua yaitu: Mutiara
dan Bamboo. Dua jenis Lobster ini memiliki nilai ekonomis cukup tinggi, dimana
untuk Lobster Mutiara pada harga lokal saja mencapai Rp. 130.000,- hingga Rp.
150.000,- per kilonya, sedangkan untuk Lobster Bamboo agak lebih murah
harganya, yaitu berkisar Rp. 70.000,- per kilonya. Pemasarannya, biasanya di
ambil oleh tengkulak yang datang ke tempat petani yang mempunyai tempat
pembesaran langsung.

B.3 Hasil Diskusi


Kondisi fisik perairan Teluk Bone sangat dinamis karena areanya yang
sangat lebih luas dibandingkan dengan Teluk Lasongko. Masing-masing kondisi
fisik perairan ini akan mempengaruhi kehidupan ekosistem yang ada
didalamnya. Teluk Lasongko yang cenderung mempunyai kedalaman perairan
yang dangkal dan terlindung dari dinamika arus dan gelombang yang ekstrim
membuatnya sangat cocok digunakan untuk berbagai kegiatan budidaya di laut.
Kondisi fisik, kimiawi dan biologi perairan Teluk Bone yang lebih luas
dibandingkan Teluk Lasongko, tentunya akan bisa memberikan kekayaan alam
laut yang lebih melimpah, dimana daya dukung kelautan dan perikanan tersebut
bisa lebih dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk meningkatkan
kesejahteraannya.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 3-69


BAB IV
PERMASALAHAN

Tidak ada gading yang tak retak, begitu kata orang bijak, dan memang
seperti itulah kenyataan yang terjadi didalam kegiatan riset ini. Permasalahan
timbul baik secara teknis pengambilan dana dari Management Project maupun
secara teknis pelaksanaan dalam kegiatan riset di lapangan.
Permasalahan keterlambatan dana dari Management Project merupakan
hal klasik yang terjadi. Hal ini adalah salah satu yang mempengaruhi ke-
efisienan jalannya kegiatan penelitian.
Permasalahan teknis yang muncul dalam pelaksanaan kegiatan riset
umumnya dalam hal jadual penggunaan wahana riset, peralatan (instrumen) dan
cuaca. Wahana riset yang digunakan pada survei kegiatan ini adalah Kapal
Phinisi Cinta Laut, milik Lembaga Perahu Universitas Hasanuddin, Makassar.
Dimana jadual riset Kajian Daya Dukung Lahan Laut di Teluk Bone ini
seharusnya dilakukan dari tanggal 1 – 15 Agustus 2004, tetapi karena kondisi
cuaca yang ada kemudian menyebabkan kandasnya kapal tersebut pada 11
Agustus 2004. Sehingga target hasil riset yang diharapkan tidak bisa maksimal.

Gambar 4.1. Kapal Phinisi Cinta Laut sebagai Wahana dalam kegiatan riset ini

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 4-1


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil simulasi model, pengukuran in situ parameter CTD,
analisa Nutrien dan Khlorofil, serta inventarisasi terumbu karang di Teluk Bone,
maka didapatkan kesimpulan fenomena yang terjadi pada periode Monsun
Tenggara (Bulan Agustus 2004) adalah sebagai berikut:
1. Elevasi permukaan laut pada kondisi Pasang Purnama adalah berkisar
0,0492 meter hingga 2,4140 meter. Sedangkan kecepatan arus
permukaan pada kondisi yang sama berkisar 0,5x10-3 m/dt hingga
12,25x10-3 m/dt, dengan arah dominan menyusur pantai timur yang
kemudian menuju ke arah Utara dan Barat.
2. Profil arus menjukkan adanya peristiwa downwelling di beberapa lokasi di
pantai barat dan upwelling di beberapa lokasi di pantai timur. Dimana
kisaran kecepatan arus vertikal yang menuju ke atas adalah 0,5x10-3 m/dt
hingga 3,5x10-3 m/dt, sedangkan kisaran kecepatan arus vertikal yang
menuju ke bawah adalah 0,5x10-3 m/dt hingga 4,6x10-3 m/dt. Kondisi arus
vertikal ke atas dari hasil simulasi model dalam hal ini didukung oleh
kondisi parameter CTD di Stasiun 1 yang mengindikasikan memang
adanya upwelling.
3. Kondisi temperatur air di permukaan berkisar antara 27,083 ºC hingga
29,029 ºC, sedangkan kisaran temperatur hingga di kedalaman rata-rata
150 meter adalah antara 17,677 ºC hingga 18,328 ºC. Dimana kisaran
salinitas di permukaan antara 33 PSU hingga 32,32 PSU, dan kisaran
salinitas di kedalaman rata-rata 150 meter mencapai 34,388 PSU hingga
34,860 PSU. Sedangkan kisaran densitas dari seluruh stasiun
pengamatan adalah 20 kg/m3 hingga 25 kg/m3.
4. Kadar nitrat berkisar antara 0,12 ppm-0,796 ppm. Kandungan nitrat yang
tinggi berasal dari laut dalam, disebabkan oleh arus vertikal yang bergerak
ke atas di perairan tersebut pada beberapa kedalaman tertentu menuju ke

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 5-1


lapisan kolom air permukaan, peristiwa naiknya zat unsur hara dari dasar
laut menuju ke permukaan yang menunjukkan adanya peristiwa upwelling.
Kandungan nitrat yang rendah karena arus dalam yang kuat pada
kedalaman tersebut menyebabkan kandungan nitrat terbawa oleh massa
air yang berasal dari bagian selatan (mulut) teluk yang bergerak ke arah
utara sehingga zat hara yang berada pada bagian tersebut tidak sempat
mengalami pengendapan yang menyebabkan kandungan unsur hara
relatif lebih rendah.
Kandungan fosfat berkisar antara 0,5 ppm-1,152 ppm. Meningkatnya nilai
kandungan fosfat dikarenakan adanya peristiwa naiknya zat unsur hara
dari dasar laut menuju ke permukaan yang menunjukkan adanya peristiwa
upwelling. Rendahnya kandungan fosfat menunjukkan bahwa penyerapan
oleh fitoplankton berjalan dengan baik.
5. Tingginya nilai Khlorofil antara 1,426 mg/m3 - 1,722 mg/m3 dikarenakan
adanya penyinaran matahari yang cukup sehingga mendapatkan
intensitas cahaya yang di butuhkan Fitoplankton untuk dapat melakukan
proses fotosintesa.
Perairan Kep. Sembilan tergolong perairan yang subur sehingga masih
berada di dalam kisaran rata-rata untuk pertumbuhan fitoplankton.
6. Secara umum kondisi terumbu karang di daerah penelitian Kabupaten
Kolaka lebih baik dibandingkan kondisi terumbu karang di Kab. Sinjai. Hal
ini terlihat dari hasil persentase rata-rata dari seluruh stasiun yang ada,
tutupan karang hidup di Kab. Kolaka adalah sekitar 61 %, sedangkan di
Kab. Sinjai hanya sekitar 26,15 %. Dan tutupan karang mati di Kab.
Kolaka hanya sekitar 16 %, berbeda sekali dengan di Kab. Sinjai yang
mempunyai 43,63 %.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 5-2


Kondisi fisik, kimiawi dan biologi perairan Teluk Bone yang lebih luas
dibandingkan Teluk Lasongko, tentunya akan bisa memberikan kekayaan alam
laut yang lebih melimpah, dimana daya dukung kelautan dan perikanan tersebut
bisa lebih dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk meningkatkan
kesejahteraannya.

B. SARAN
Adapun saran yang bisa diberikan berdasarkan pelaksanaan kegiatan
riset KAJIAN DAYA DUKUNG LAHAN LAUT DI PERAIRAN TELUK BONE ini
pada tahun 2004, adalah sebagai berikut:
1. Diperlukan koordinasi yang lebih baik antara pihak Management Project
dengan pihak Penanggungjawab Kegiatan serta pihak Penanggungjawab
Program, agar bisa saling membantu untuk kelancaran kegiatan
pencairan dana dan pemenuhan laporan administratif.
2. Diperlukan koordinasi dari Penanggungjawab Kegiatan dengan pelaksana
kegiatan dan juga dengan tim kegiatan riset yang lain untuk bisa
mengefisienkan kegiatan riset dalam hal penggunaan alat (instrumen)
atau wahana riset, serta memperhitungkan kondisi cuaca/monsun yang
ada.
3. Diperlukan suatu kebijakan dari para pimpinan kantor untuk mengadakan
asuransi bagi para peneliti yang kerja di laut, dan juga asuransi bagi
peralatan (instrumen) untuk berjaga-jaga dari sesuatu musibah yang tidak
diinginkan, karena melakukan suatu pekerjaan di laut adalah beresiko
tinggi.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone – 5-3


DAFTAR PUSTAKA

1. Basmi, J., 1995. Ekologi Plankton. Fakultas Perikanan IPB.


2. Barnes, R. S. K., and R. N. Hughes., 1999. An Introduction to Marine Ecology
Third Edition. University Press, Cambridge.
3. Black, K.P., 2002. Model 3DD Descriptions and User’s Guide. ASR Ltd. Hamilton
– New Zealand.
4. Christensen, V., and D. Pauly. 1992. ECOPATH II – A software for balancing
steady-stae models and calculating network characteristics. Ecol. Model. (61):
169-185
5. Clarke, A.L. 2002. Assessing the Carrying Capacity of the Florida Keys.
Population and Environment. (23): 405 – 418
6. Dhont, A. 1988. Carrying Capacity: A confusing concept. Acta Oecologia (9):
337 – 346
7. English, S., C. Wilkinson, and V. Baker, 1997. Survey Manual for Tropical
Marine Resources. Austyralian Institute of Marine Science. Townsville.
8. Hatayama, T., Awaji, T., Akimoto, K., 1996. Tidal Currents in the Indonesian
Seas and Their Effect on Transport and Mixing. Journal of Geophysical Research,
101, No. C5, American Geophysical Union, 12353-12373
9. Kurniawati, N., 2003. Kajian Massa Air dan Dinamika Arus di Selat Sunda. Tesis
Magister, Bidang Khusus Oseanografi, Program Studi Oseanografi dan Sains
Atmosfer, Program Pascasarjana, Institut Teknologi Bandung, Bandung.
10. Mackentum, 1969. The Practise of Water Polution Biology. United Store
Departement of Tehnical Support.
11. Marshall, S. and M. Elliot. 1998. Environmental influences on the fish
assemblages of the Humber estuary, UK. Estuarine, Coastal and Shelf Science.
(46): 175-184.
12. Matsumoto, K., 1996. ORI Description dalam A Collection of Global Ocean Tide
Models CD ROM. Jet Propulsion Laboratory, Physical Oceanography Distributed
Active Archieve Center, NASA, US.
13. Nybakken, J. W., (1998), Marine Biology: An Ecological Approach. The 3rd edition.
Harper Collins College Publisher, New York.
14. Parsons, T.R., Takahashi, M., Hargrave, B., 1984. Biological Oceanographic
Processes. Third Edition. Pergamon Press, 26.
15. Pauly, D., and V. Christensen. 1995. Primary Production required to sustain
global fisheries. Nature (374): 255-257
16. Pawlowicz, R., Beardsley, B., Lentz, S., 2002. Classical Tidal Harmonic Analysis
Including Error Estimates in MATLAB using T_TIDE. Computer and Geosciences,
28, p. 929-937.
17. Pond, S., G. L. Pickard., (1995), “Introductory Dynamical Oceanography”, 2nd
Edition, Butterworth-Heinemann, Oxford.
18. Pugh, D.T., 1987. Tides, Surges, and Mean Sea-Level: A Handbook for Engineers
and Scientists. John Wiley & Sons Ltd, Great Britain.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - DP-1


19. Rivera, P.C., 1997. Hydrodynamics, Sediment Transport, and Light Extinction Off
Cape Bolinao, Philippines. Dissertation, the Wageningen Agricultural University
and the International Institut for Infrastructural, Hydraulic and Environmental
Engineering, A.A. Balkema Publishers, Rotterdam.
20. Suari, 1999. Hubungan Antara Produktivitas Primer dengan Kandungan Zat Hara
(Fosfat, Nitrat dan Silikat) di Perairan Teluk Bone Bulan Februari 1995. Fakultas
Perikanan Institut Pertanian Bogor.
21. Wyrtki, K., 1961. Physical Oceanography of the Southeast Asian Waters. Naga
Report Vol. 2. Scripps Institution of Oceanography, La Jolla, California.

Kajian Daya Dukung Lahan Laut Di Perairan Teluk Bone - DP-2

Anda mungkin juga menyukai