Anda di halaman 1dari 82

STERILISASI 1. Pengertian Steril 1.

SDF : 37 Steril adalah suatu kondisi absolut dan harus tidak pernah digunakan atau dianggap secara relatif sebagai bahan atau hampir steril 2. Lachman : 619 Steril adalah kondisi yang memungkinkan tercipatanya kebebasan penuh dari mikroorganisme dengan keterbatasan 3. RPS : 1470 Steril adalah tidak adanya mikoroorganisme yang aktif 4. Text book phar ; 526 Steril adalah keadaan bebas dari mikroorganisme hidup dari lingkungan 5. PDF Kenneth ; 325 Steril adalah produk biologis steril sebagai produk yang bebas dari kontaminasi mikroba sebagai hasil dari tes sterilisasi. Kesimpulan : Steril adalah suatu keadaan yang mutlak bebas dari mikroorganisme baik patogen maupun non patogen,baik vegetatif maupun sporanya, tidak setengah atau hampir steril. 2. Definisi sterilitas 1. RPS 18 th : 1470 Sterilitas adalah karakteristik yang disyaratkna untuk sediaan farmasetik bebas dari mikroorganisme hidup karena metode, wadah atau rute pemakaian 2. SDF : 15 Sterilitas adalah karakteristik yang diisyaratkan untuk sediaan-sediaan farmasetik ini karena metode, wadah atau rute pemakaian Kesimpulan : Sterilitas adalah karakteristik yang diisyaratkan untuk sediaan farmasetik yang bebas dari mikroorganisme hidup meliputi metode, wadah atau rute pemakaian. 3. Definisi sterilisasi 1. Scovilles : 403 Sterilisasi adalah suatu proses membunuh atau menghilangkan bakteri dan mikroorganisme lain. 2. Ansel : 410 Sterilisasi adalah suatu proses seperti yang dilakukan terhadap sediaan farmasetik berarti penghancuran sempurna seluruh mikroorganisme dan sporanya atau penghilangan mikroorganisme dari sediaan 3. Lachman : 619 Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menghasilkan keadaan steril 4. Parrot : 274 Sterilisasi adalah proses pembunuhan atau penghilangan mikroorganisme dan spora yang hidup 5. RPS 18TH : 1470 Sterilisasi adalah suatu proses dimana semua bentuk organisme hidup dihilangkan atau dirusak fungsinya yang mungkin 6. DOM : 592 Sterilisasi adalah biasanya didefinisikan sebagai pemusnahan keseluruhan atau menghilangkan semua jenis-jenis kehidupan dari material-material

7. Text Book of Pharm ; 526 Sterilisasi adalah semua proses untuk mencapai status steril. Kesimpulan : Sterilasasi adalah suatu proses mengurangi, menghilangkan, menghancurkan, membunuh mikroorganisme dan sporanya dari sediaan untuk mencapai suatu keadaan yang steril. 4. Jenis-jenis sediaan steril SDF ; 15-18 1. Injeksi Larutan obat dalam pembawa yang sesuai dengan atau tanpa penambahan bahan-bahan dimaksudkan untuk pemakaian parenteral dibuat sebagai injeksi. 2. Cairan infuse Cairan infuse intravena dibuat sebagai sejumlah karakteristik infuse melalui cara pemakaiannya. 3. Radiasi Farmasetik Bahan kimia radio aktif digunakan untuk uji, fungsi bahan-bahan yang kadang dipastikan sejumlah infeksi dibawah radiofarmasetik. Ini berbeda dari infeksi lain dalam obat sebagi bentuk radioaktif. 4. Steril Padat Beberapa obat tidak mempunyai kestabilan yang cukup dalam larutan untuk dapat mewadahkannya seperti injeksi maka disediakan sebagai sediaan padat kering dalam larutan ketika digunakan. 5. Suspensi steril Suspensi obat dalam pembawa parenteral yang cocok dibuat sebagai suspensi obat steril seperti suspensi sediaan Hidrokortison Asetat. Jika obat ini bentuk kering dan suspensi dengan penambahan pembawa parenteral yang cocok disebut obat steril unutk suspensi seperti Kloramfenikol Steril untuk Suspensi. 6. Tetes Mata, Suspensi dan Salep Obat-obat dalam larutan atau suspensi digunakan melalui penetesan pada mata sebagai sediaan steril, walaupun tidak umum disebut steril seperti larutan mata Natrium Sulfametasol atau suspensi mata Hidrokortison asetat. 7. Larutan irigasi Larutan irigasi yang digunakan untuk mencuci atau menyembuhkan luka terbuka, rongga badan didefinisikan sebagai larutan irigasi dan diguanakn pada pemakaian luar tidak pernah secara parenteral 8. Bahan Diagnosis Larutan yang digunakan secara parenteral untuk tujuan diagnosa seperti injeksi yang digunakan unutk menentukan volume darah. 9. Ekstrak Allergenio Ekstrak allergenio adalah konsentrasi steril pada allergen atau bahan-bahan yang tidak bisa sensitif. Pada beberapa orang digunakan untuk diagnosa atau percobaan pada reaksi alergi. 10. Larutan Dialisis Peritonial Larutan yang digunakan pada teknik yang dikenal sebagai dialisis peritoneal utnuk menurunkan kelebihan larutan cairan tubuh, serum elektrolit, bahanbahan toksik seluruh pencernaan. 5. Metode-metode Sterilisasi

A. 1.

Sterilisasi Secara Fisika Pemanasan Kering a. Udara Panas Oven (Scoville`s :404) Bahan yang karena karakteristik fisikanya tidak dapat disterilisasi dengan uap destilasi dalam udara panas-oven. Yang termasuk dalam bahan ini adalah minyak lemak., paraffin, petrolatum cair, gliserin, propilen glikol. Serbuk steril seperti talk, kaolin dan ZnO, dan beberapa obat yang lain. Sebagai tambahan sterilisasi panas kering adalah metode yang paling efektif untuk alatalat gelas dan banyak alat-alat bedah. Ini harus ditekankan bahwa minyak lemak, petrolatum, serbuk kering dan bahan yang sama tidak dapat disterilisasi dalam aytoklaf. Salah satu elemen penting dalam sterilisasi dengan menggunakan uap aotoklaf. Atau dengan adanya lembab dan penembusannya ke dalam bahan yang telah disterilkan. Sebagai contoh, organisme pembentuk spora dalam medium anhidrat tidak dibunuh oleh suhu sampai 121o C (suhu yang biasanya digunakan dalam autoklaf bahkan setelah pemanasan sampai 45 menit). Untik alasan ini, autoklaf merupakan metodee yang tidak cocok untuk mensterilkan minyak, produk yang dibuat dengan basis minyak, atau bahan-bahan lain yang mempunyai sedikit lembab atau tidak sama sekali. Selama pemanasan kering, mikroorganisme dibunuh oleh proses oksidasi. Ini berlawanan dengan penyebab kematian oleh koagulasi protein pada sel bakteri yang terjadi dengan sterilisasi uap panas. Pada umumnya suhu yang lebih tinggi dan waktu pemaparan yang dibutuhkan saat proses dilakukan dengan uap di bawah tekanan. Saat sterilisasi di bawah uap panas dipaparkan pada suhu 121 C selam 12 menit adalah efektif. Sterilisasi panas kering membutuhkan pemaparan pada suhu 150 C sampai 170 C selama 1-4 jam. Suhu yang biasa digunakan pada sterilisasi panas kering 160 C paling cepat 1 jam, tapi lebih baik 2 jam. Suhu ini digunakan secara khusus untuk sterilisasi minyak lemak atau cairan anhidrat lainnya. Bagaimanapun juga range 150-170 C digunakan untuk streilisasi panas kering dan lain-lain, sebagi contoh : bahan-bahan gelas, dapat disterilkan pada suhu 170 C. dimana beberapa serbuk seperti sulfonilamid harus disterilkan pada suhu rendah dan waktu yang lebih lama. PTM : 123 Panas kering pada temperatur lebih 160 C efktif menghancurkan mikroorganisme hidup dengan sebuah proses kehilangan kelembaban secara inversible. Proses ini berjalan relativ lambat, mengisyaratkan sedikitnya 1 jam pada suhu 160 C tetapi lebih cepat pada temperatur yang tinggi. Panas kering ini sering merugikan beberapa produk. Penerapan panas dengan keberadaan lembab lebih efektif untuk pembunuhan mikroorganisme diIsyaratkan 15 menit pada suhu 121oC. RPS 18th : 1471 Beberapa bahan yang tidak dapat disterilkan dengan uap, paling baik disterilkan dengan panas kering,. Misalnya petrolatum jelly, minyak mineral, lilin, wax, serbuk talk. Karena panas kering

kurang efisien dibanding panas lembab, pemaparan lama dan temperature tinggi dibutuhkan. Range luas waktu inaktivasi dalam temperatur bervariasi telah diterapkan berdasarkan tipe indikator steril yang digunakan, kondisi kelembaban dan faktor lain. Jumlah air dalam sel mikroba diketahui mempengaruhi resistensinya terhadap destruksi panas kering. Umumnya, ini diterima bahwa sel mikroba dalam daerah yang betul-betul kering menunjukkan resistensi terhadap inaktivasi panas kering,. Ini jelas bahwa perhatian harus diberi untuk mendisain siklus sterilisasi panas kering untuk produkproduk rumah sakit dan validasi sistematis sterilisasi dengan metode sterilisasi standar. Oven digunakan untuk sterilisasi panas kering biasanya secara panas dikontrol dan mungkin gas atau elektrik gas. Beberapa waktu dan suhu yang umum digunakan pada oven : 170 C (340 F) sampai 1 jam 160 C (320 F) sampai 2 jam 150 C (300 F) sampai 2,5 jam 140 C (285 F) sampai 3 jam b. Penangas minyak dan lainnya (Scovilles : 404) Bahan kimia yang stabil dalam ampul bersegel dapat disterilisasi dengan mencelupkannya, dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu 1620 C. larutan jenuh panas dari natrium atau ammonia klorida dapat juga digunakan sebagai pensterilisasi. Ini merupakan metode yang mensterilisasi alat-alat bedah. Minyak dikatakan bereaksi sebagai lubrikan, untuk menjaga alat tetap tajam, dan untuk memlihara cat penutup. c. Pemijaran langsung (Scovilles : 404) Pemijaran langsung digunakan untuk mensterilkan spatula logam, batang gelas, filter logam bekerfield dan filter bakteri lainnya. Mulut botol, vial, dan labu ukur, gunting, jarum logam dan kawat, dan alat-alat lain yang tidak hancur dengan pemijaran langsung. Papan salep, lumping dan alu dapat disterilisasi dengan metode ini. Dalam semua kasus bagian yang paling kuat 20 detik. Dalam keadaan darurat ampul dapat disterilisasi dengan memposisikan bagian leher ampul kearah bawah lubang kawat keranjang dan dipijarkan langsung dengan api dengan hati-hati. Setelah pendinginan, ampul harus segera diisi dan disegel. 2. Panas Lembab a. Uap bertekanan (Scoville`s :404) Penggunanaan uap bertekanan atau metode sterilisasi yang paling umum memuaskan dan efektif yang ada. Ini adalah metode yang diinginkan untuk sterilisasi larutan yang ditujukan untuk infeksi pada tubuh, pembawa pada sediaan mata, bahan-bahan gelas. Untuk penggunaan darurat, pakaian dan alat kesehatan dan benda-benda karet. Kerugian yang paling prinsip dan penggunaan uap ini adalah ketidaksesuaiannya untuk penggunaan pada bahan sensitiv terhadap panas dan kelembaban. Metode ini tidak dapat digunakan untuk sterilisasi misalnya, produk yang dibuat dari basis minyak dan serbuk. Uap jenih pada 120 C mampu membunuh

secara cepat semua bentuk vegetatif mikroorganisme hidup dalam waktu menit. Uap jenuh ini dapat menghancurkan spora vegetatif yang tahan terhadap pemanasan tinggi. Keefektifan sterilisasi uap bertekanan tergantung pada 4 sifat dari uap jenuh kering yaitu : 1. Suhu 2. Panas tersembunyi yang berlimpah 3. Kemapuan untuk membentuk kondensasi air 4. Kontraksi volume yang timbul selama kondensasi Waktu yang dibutuhkan untuk mensterilkan larutan saat suhu 121 C selama 12 menit, ditambah waktu tambahan untuk larutan dalam wadah untuk mencapai 121 C setelah termometer pensteril menunjukkan suhu ini. Secara umum larutan dalam botol 100-200 ml akan membutuhkan kurang 5 menit botol 500 ml antara 10-15 menit. RPS 18 th : 1471 Panas lembab merupakan bentuk uap jenuh di bawah tekanan yang merupakan cara sterilisasi yang paling banyak digunakan. Penyebeb kematian dengan cara sterilisai panas terhadap lembab berbeda dengan cara panas kering, kematian mikroorganisme oleh panas lembab adalah hasil koagulasi protein sel, berbeda dengan cara panas kering, kematian mikroorganisme yang paling penting adalah proses oksidasi. USP menentukan sterilisasi uap sebagai penerapan uap jenuh di baeah teakana paling kurang 15 menit dengan temperatur minimal 121 C dalam jaringan tekanan. Bentuk yang paling sederhana dari autoklaf adalah home preasure cooker. b. Uap panas pada 100 C. Uap panas pada suhu 100 C dapat digunakan dalam bentuk uap mengalir atau air mendidih. Metode ini mempunyai keterbatasan penggunaan uap mengalir dilakukan dengan proses sterilisasi bertingkat untuk mensterilkan media kultur. Metode ini jarang memuaskan untuk larutan yang mengandung bahan-bahan karena spora sering gagal tumbuh dibawah kondisi ini, bentuk vegetatif dari kebanyakan bakteri yang tidak membentuk spora. Temperatur suhu titik mati bervariasi, tetapi tidak ada bentuk non spora yang bertahan. Dalam prakteknya, 2 metode uap mengalir digunakan, suatu perpanjangan pemaparan uap selama 20-60 menit akan membunuh semua bentuk vegetatif bakteri tapi tidak akan menghancurkan spora. Untuk meyakinkan penghancuran spora, sterilisasi berjeda yang juga disebut sterilisasi tidak berlanjut. Penjedahan dan bertahap adalah tindalisasi digunakan. Dengan metode ini bahkan dipaparkan pada uap mengalir pada periode waktu bervariasi dari 20-60 menit setiap hari selama 3 menit. Antara pemaparan bahan terhadap uap yang disimpan pada suhu kamar atau pada inkubator pada 37 C. prinsip dari metode ini adalah pada saat waktu pertama kali pemaparan pada uap membunuh bakteri vegetatif tapi tidak sporanya. Tapi pada saat bahan disimpan pada inkubator atau pada suhu ruangan selam 24 jam, banyak spora akan tumbuh ke dalam bentuk vegetatif bentuk spora yang telah tumbuh ini akan dimatikan pada pemanasan hari

ke dua. Kesuksesan dari proses ini tergantung pada spora yang berkembang ke bentuk vegetatif selama masa istirahat. c. Pemanasan dengan bakterisida Ini menghadirkan aplikasi khusus dari pada uap pans pada 100 C. adanya bakterisida sangat meningkatkan efektifitas metode ini. Metode ini digunakan untuk larutan berair atau suspensi obat yang tidak stabil pada temperatur yang biasa diterapkan pada autoklaf. Larutan yang ditumbuhkan bakterisida ini dpanaskan dalam wadah bersegel pada suhu 100 C selama 20 menit dalam pensterilisasi uap atau penangas air. Bakterisida yang dapat digunakan termasuk 0,5%, fenol, 0,5% klorbutanol, 0,2% kresol atau 0.002% fenil merkuri nitrat saat larutan dosis tunggal lebih dari 15 ml larutan obat untuk injeksi intratekal atau gastro intestinal sehingga tidak dibuat dengan metode ini. d. Air mendidih Penangas air mendidih mempunyai kegunaan yang sangat banyak dalam sterilisasi jarum spoit, penutup karet, penutup dan alat-alat bedah. Bahan-bahan ini harus benar-benar tertutupi oleh air mendidih dan harus mendidih paling kurang 20 menit. Stetelah sterilisasi bahan-bahan dipindahkan dan air dengan pinset yang telah disterilisasi menggunakan pemijaran. Untuk menigkatkan efisiensi pensterilan dari air, 5 % fenol, 1-2% Na-carbonat atau 2-3% larutan kresol tersaponifikasi yang menghambat kondisi bahanbahan logam. 3. Cara Bukan Panas Sinar ultraviolet (Lachman : 628) Sinar ultraviolet umumnya digunakan untuk membantu mengurangi kontaminasi di udara dan pemusnahan selama proses di lingkungan. Sinar yang bersifat membunuh mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu kabut merkuri yang dipancarkan secara eksklusif pada 2537 . sinar UV menembus udara bersih dan air murni dengan baik, tetapi suatu penambahan garam atau bahan tersuspensi dalam air atau udara menyebabakan penurunan derajat penetrasi dengan cepat. Untuk kebanyakan pemakaian lama penetrasi dihindarkan dan setiap tindakan membunuh mikroorganisme dibatasi pada permukaan yang dipaparkan. Aksi letal .Ketika sinar UV melewati bahan, energi bebas ke elektron orbital dalam atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Absorpsi energi ini menyebabkan meningginya keadaan tertinggi atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Ketika eksitasi dan perubahan aktivitas atom-atom utama terjadi dalam molekul-molekul mikroorganisme atau metabolit utamnya, organisme itu mati atau tidak dapat berproduksi. Pengaruh utamanya mungkin pada asam nukleat sel, yang diperhatikan untuk menunjukkan lapisan absorpsi kuat dalam rentang gelombang UV yang panjang. Radiasi pengion (Lachman : 628) Radiasi pengion adalah energi tinggi yang terpancar dari radiasi isotop radioaktif seperti kobalt-60 (sinar gamma) atau yang dihasilkan oleh percepatan mekanis elektron sampai ke kecepatan den energi tinggi (sinar katode, sinar beta). Sinar gamma mempunyai keuntungan

mutlak karena tidak menyebebkan kerusakan mekanik, namun demikian, kekurangan sinar ini adalah di hentikan dari, mekanik elektron akselerasi (yang dipercepat) keuntungan elektron yang dipercepat adalah kemampuannya memberikan output laju doisis yang lebih seragam. Aksi latal radiasi pengionan menghacurkan mikroorganisme dengan menghentikan rep-roduksi sebagai hasil mutasi letal. Mutasi ini disebabkan karena tarnsformasi radiasi menjadi molekul penerima pada sinar x, menurut teori langsung. Mutasi ini dapat disebabkan oleh tindakan tidak langsung, dimana molekulmolekul air diubah menjadi kesatuan yang berenergi tinggi seperti hidrogen dan ion hidroksil.semua ini pada kahirnya, menyebabkan perubahan energi pada asam nukleat dan molekul lain sehingga hilangnya keberadaannya bagi metabolisme molekul sel bakteri. Penerapan untuk sterilisasi ini. Elektron dipercepat atau sinar gamma dapat digunakan untuk mensterilkan produk-produk pilahan dengan suatu proses berkesinambungan. Kebanyakan prosedur sterilisasi produk lain harus diselenggarakan dalam batch setrilisasi dengan proses berkesinambungan memerlukan pengendalian yang tepat, sehingga tidak ada bagian yang lepas dari keefektifan sterilisasi. Radiasi Ionisasi (RPS 18 th : 1476) Radiasi ionisasi digunakan untuk sterilisasi industri untuk alatalat rumah sakit, vitamin, antibiotik, steroid hormon dan transplantasi tulang dan jaringan dan alat pengobatan seperti alat untuk suntik plastik, jarum, alat beda, tube palstik, katter, benang bedah dan cawan Petri. Radiasi ioniasasi dapat menghasilkan perubahan dalam molekul organik yang dapat mempengaruhi kemujaraban sediaan atau dapat menginduksi toksisitas. Radiasi produk juga dapat menghasilakn perubahan warna dan kerapuhan beberapa wadah gelas dan bahan plastik. Sterilisasi radiasi dapat dilakukan baik dengan radiasi elektromagnetil dan radiasi partikel. Radiasi elektromagnetik dan energi photon, termasuk ultra dari bahan radioaktif seperti kobalt 60 atau sesium 137 adalah yang paling sering digunakan sebagai sumber energi sterilisasi adhesi elektromagnetik. Radiasi partekel atau molekul termasuk daftar partikel yang steril. Satu-satunya sekarang yang digunakan untuk sterilisasi radiasi pada obat-obat rumah sakit dan laboratorium. Bagaimanapun banyak prosedur sterilisasi industri manggunakan radiasi, termasuk penjelasan singkatnya. Beberapa informasi mengenai efek sterilisasi ultraviolet juga dihadirkan. Prinsip bermuatan negativ sepeti elektron yang berinteraksi langsung dengan bahan menyebabkan ionisasi seperti elektron elektromagnetik menyebabkan ionisasi pada mekanisme yang bervariasi yang menghasilkan perpindahan suatu orbital elektron dengan mekanisme jumlah tertentu dari energi yang ditransfer dalam insiden sinar gamma. Perpindahan elektron ini kemudian bentindak sebagai partikel beta dalam reduksi. Oleh sebab itu baik partikel maupun elektromagnetik, dipertimbangkan sebagai radiasi ionisasi yang berbeda dengan radiasi sinar ultraviolet. Kerugian penggunaan germisida radiasi sinar UV adalah penetrasinya terbatas, pada panjang gelombang 253,7 nm, diserap oleh banyak bahan dan membuat penggumpalan organisme dan hal

tersebut dilindungi oleh debu dan puing-puing. Untuk menghindari aksi letal panggunaan radiasi sinar UV sebagai cara sterilisasi tidak direkomendasikan lemak jika bahan-bahan yang diradiasi sangat bersih dan bebas yang dapat melindungi mikroorganisme. B. Sterilisasi Secara Kimia Parrot ; 280 Sterilisasi gas adalah cara menghilangkan mikroorganisme dengan menggunakan gas atau uap yang membunuh mikroorganusme dan sporanya. Meskipun gas dengan segera berpotensi menyerap serbuk padat. Streilisasi ini adalah fenomena permukaan dan mikroorganisme occluded dengan kristal akan dibunuh. Sterilisasi gas digunakan dalam bidang farmasi unutk mensterilisasi bahan-bahan termolabil. Gas bakterisida yang paling sering digunakan adalah gas Etilen Oksida. Meskipun sterilisasi uap merusak beberapa bahan dan dipindahkan dari bahan yang dicobakan melalui jalur sterilisasi. Gas ini tidak inert dan kereaktivannya terhadap bahan yang disterilisasi antara lain : Tiamin, Riboflavin, Streptomisin kehilanngan potensi dengan adanya etilen oksida. Etilen oksida bereaksi sebagai bakterisida dengan alkilasi asam, amin, hidroksil dan gugus sulfhidril dari protein dan sel enzim. Kelembaban dibutuhkan untuk etilen oksida berpenetrasi dan merusak sel. Etilen oksida bersifat eksplosif ketika bercampur dengan udara. Sifat ini dapat dihilangkan dengan menggunakan campuran etilen oksida dengan CO2. Carboxide 20 atau campuran etilen oksida dengan hidrokarbon berfluoresensi. Sterilisasi dengan gas berjalan lambat, waktu sterilisasi tergantung pada keberadaan kontaminasi, kelembaban, temperature dan konsentrasi dari gas etilen oksida. Konsentrasi minimum adalah 450 mg/l pada tekanan 27psi. Cara ini digunakan digunakan untuk mensterilkan obat serbuk seperti Penisilin, juga telah digunakan unutk sterilisasi benang, plastik, tube. Penggunaan etilen oksida juga untuk sterilisasi akhir peralatan parenteral tertentu seperti kertas kraft dan lapisan tipis polietilen. Semprot aerosol etilen oksida telah digunakan untuk mensterilkan daerah sempit dimana dilakukan teknik aseptic. C. Sterilisasi Cara Mekanik (Scoville`s : 417) Larutan dapat dibebaskan dari mikroorganisme vegetatif dan sporanya melalui filter bakteri. Filter bakteri tidak dapaat membebaskan larutan dari virus; bagaimanapun alat ini tidak mengurangi jumlah virus. Pada prinsipnya dengan absorbsi ke dalam dinding filter dan dengan menghilangkan partikel kasar dari bahan yang mengandung virus. Sterilisasi dengan filter bakteri digunakan untk larutan farmasetik atau bahan biologi yang dipengaruhi oleh pemanasan. Berbeda dengan metode filtrasi lain, filter bakteri ditujukan untuk fltrat bebas bakteri. Metode sterilisasi ini membutuhkan penggunaan teknik aseptic yang benar. Sediaan obat yang disterilkan dengan metode ini membutuhkan penggunaan bahan bakteriostatik kecuali diarahkan lain. Larutan yang ditujukan untuk injeksi intrathecal atau merupakan larutan dosis tunggal intravena dengan volum elebih dari 15 ml tidak boleh ditambahkan bahan bakterisid. Paraffin cair dan minyak lain, tidak disterilkan dengan metode ini karena dapat meningnkatkan permeabilitas dari filter terhadap bakteri. Unutk dapat membuat larutan bebas bakteri dan steril, digunakan filter dengan berbagai tipe. Tipe ini termasuk filter yang terbuat dari silicon murni, porselin, asbes,

dan glass-fritted. Karena alat-alat ini mudah dibersihkan, filter Seitz yang menggunakan lapisan asbes dan fliter fritted glass mungkin lebih berguna untuk farmasis. Yang kadang-kadang dubutuhkan untuk menyaring larutan dalam jumlah kecil. Mekanisme filtrasi bakteri adalah kompleks. Meskipun ukuran pori filetr penting, tapi bukan itu saja criteria untuk keefektifan filtrasi. Fliter dengan pori lebih kecil menghilangkan bakteri tetapi beberapa filtrasi sangat lambat umtuk tujuan praktek. Dengan meningkatkan ketebalan filter lilin memungkinkan untuk mencapai efisiensi filtrasi, tetapi nkerugiannya adalah bahwa kebanyakan bahan aktif dari larutan dihilangkan dengan penyerapan oleh lilin. Bagaimanapun, dengan mengatur ukuran pori dan ketebalan filter yang optimum, mungkin diperoleh filter yang efisien dan baik secara cepat. factor lain dilibatkan dalam filtrasi bakteri termasuk keseimbangan permukaan antara bahan filter dan bakteri dan larutan, suhu, tekanan yang digunakan, waktu filtrasi, muatan listril filter, pH bahan yang difiltrasi, dan adsorbsi protein dan bahan lain. Filter Seitz Filter ini dibuat dari bahan asbes yang dijepit pada dasar wadah besi. Keuntungan utama dari filter Seitz ini adalah lapisan filter dapat dibuang setelah digunakan dan masalah pembersihannya berkurang. Efisiensi tergantung pada pengembang serat dari lapisan filter dari air. Karena larutan alcohol pekat tidak membuat mengembang, filter ini tidak digunakan untuk mensterilkan larutan yang mengandung alcohol dalam jumlah besar. Filter ini mampu dengan volume dari 30 ml hingga lebih dari 100 ml. Kerugian pertama dari filter ini adalah cenderung memberikan komponen magnesium pada filtrate. Bahan alkali ini dapat menyebabkan konsentrasi pengendapan alkaloid bebas dari garamnya dan dapat menginaktifkan seperti insulin, ekstrak pituari, epinefrin dan apomorfin. Hal ini dapat diatasi dengan perawatan pertama filter dengan dibasahkan dengan HCl lalu dibilas dengan air. Kerugian kedua dari seitz adalah permukaan serat pada lapisan filter membuat larutan tidak cocok untuk injeksi. Ini dapat diatasi dengan menempatkan ayakan dari nilon atau sutra dibawah lapisan filter sebelum menempatkan lapisan dalam filter, atau sebuah filter gelas fritted dapat ditempatkan pada saluran keluar untuk menghilangkan serat. Filter seitz ini juga cenderung untuk menghilangkan bahan dari filtrat bahan adsorbsi. Filter Swinny Sebuah adaptasi dari filter seitz, filter swinny mempunyai adat terkhusus yang terdiri dari lapisan hasbes, bersama dengan screen dan pencuci. Utamanya untuk digunakan filter swinny dibungkus dengan kertas dan diotoklaf. Bagian yang dipasang dihubungkan pada spoit Luer-lola dan cairan dimasukkan melalui disk asbes dengan menggunakan tekanan pada saluran spoit. Filter Fritted-Glass Filter fritted-glass disusun dari dasar serbuk, tombol bulat dari gelas digabung bersama dengan penggunaan panas untuk menentukan sebelumnya ukuran dalam bentuk disk. Permeabilitas filter barbanding secara tidak langsung dengan ukuran butiran. Setelah disk dibentuk, kemudian disegel dengan pemanasan kedalam corong gelas pyrex dibentuk seperti corong buchner.

Filter fritted-glass yang baru harus dicuci dengan penghisap dengan HCl panas dan kemudian dibilas dengan air sebelum digunakan. Filter dapat dibersihkan dengan membilasnya dengan air dibawah tekanan. Jika air tidak dapat membersihkan filter, suatu konsentrasi larutan asam sulfat mengandung 1 % sodium nitrat dipanaskan pada suhu 80 oC dapat digunakan. Filter fritted dirancang utamanya untuk filtrasi vakum. Jika digunakan filtrasi dibawah tekanan, perbedaan maksimum pada diks harus tidak boleh dari 15 pouns inci persegi (p.si). Filter Berkefeld & Mandler Tes bentuk tube filter pembanding ini, yang dihubungkan dengan dasar logam dan saluran keluar tubuh adalah dama pada keduanya. Felter mandler dibuat dari silikat murni, hasbes, dan kalsium sulfat (gips dari paris); filter berkefeld terdiri dari silica murni. Kedua filter ini bermuatan negative. Fitlrer ini tersedia dalam beberapa tingkatan porositas berdasarkan pada permeabilitas terhadap air, pada berkefeld atau pada mandler berdasarkan pada jumlah tekana air dalam pons yang dibutuhkan untuk mendorong udara melalui saluran keluar melawan air. Saluran berkefeld dan mandler dibersihkan dengan menggunakan air destilasi melalui saluran dari luar kedalam diikuti dengan menggosok bagian luarnya menggunakan sikat dalam aliran air. Saluran berkefeld dan mandler dapat disterilkan dengan autoklaf pada 121oC selama 20 menit. Tabung harus dibungkus dengan kain atau kertas secara langsung setelah dibilas dan saat masih basah sebelum ditempatkan di autoklaf. Selas Filter Filter porselen buatan Amerika sekarang tersedia dengan nama selas filter porselen microporous. Filter ini secara kimia inert, menjadi tahan terhadap semua larutan yang tidak menyerang silica. Saluran selas filter dapat dibersihkan dengan menggosoknya dengan sikat, dengan membilas, pencucian, dengan menggunakan alkali atau detergen asam atau dengan pemanasan dalam tungku dilaboratorium pada temperatur maksimum 1200oC dan dapat disterilkan dengan autoklaf. Saluran Filter Chamberland Pasteur Filter ini mempunyai bentuk yang mirip dengan berkefeld tetapi filter ini terbuat dari porselen penyerap yang tidak berlapis dengan pori-pori kecil yang menghasilkan filtrasi yang lambat. Filter ini dapat dibersihkan dan disterilkan dengan cara yang sama dengan yang digunakan untuk saluran berkefeld. 6. Keuntungan dan kerugian metode sterilisasi a. Sterilisasi Panas Kering Keuntungan 1. Dapat digunakan untuk membunuh spora dan bentuk vegetatifnya dari semua mikroorganisme (Lachman Industri; 1263) 2. Umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif disterilkan dengan uap air panas (Ansel; 413) 3. Metode pilihan bila dibutuhkan peralatan yang kering atau wadah yang kering seperti pada zat kimia kering atau larutan bukan air (Ansel; 414). Kerugian 1. Hanya digunakan untuk zat-zat yang tahan penguraian pada suhu diatas kira-kira 140oC (Lachman Industri; 1263)

2. Karena panas kering efektif membunuh mikroba dengan uap air panas, maka diperlukan temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang (Ansel; 413) b. Sterilisasi Uap Panas Keuntungan : 1. Adanya uap air dalam sel mikroba menimbulkan kerusakan pada temperatur yang relative rendah daripada tidak ada kelembaban (Ansel; 412) 2. Metode ini digunakan untuk sediaan farmasi dan bahan-bahan yang dapat tahan terhadap temperature yan digunakan dan penembusan uap tetapi tidak timbul efek yang tidak dikehendaki akibat uap air (Ansel :413) 3. Sel bakteri dengan kadar air besar umumnya lebih muidah dibunuh (Ansel : 413) 4. Dipergunakan unutk larutan jumlah besar, alat-alat gelas, pembalut operasi dan instrument (Ansel :413) 5. Dapat membunuh semua bentuk mikroorganisme vegetatif (Scoville`s:408). Kerugian : 1. Tidak digunakan untuk mensterilkan minyak-minyak lemak, sediaan berminyak dan sediaan yang tidak dapat ditembus oleh uap air atau pensterilan serbuk terbuka yang mungkin rusak oleh uap jenuh (Ansel :413) 2. Spora-spora yang kadar airnya rendah, sukar dihancurkan (Ansel :413) c. Sterilisasi Gas Keuntungan : 1. Beberapa senyawa yang tidak tahan terhadap panas dan uap dapat disterilkan dengan baik dengan memaparkan gas etilen oksida atau propilen oksida bila dibandingkan dengan cara lain (Ansel :416) 2. Dapat digunakan untuk membunuh mikroorganisme dan spora lain (Parrot : 280). Kerugian : 1. Gas-gas (etilen dan prop[ilen oksida) mudah terbakar bila tercampur dengan udara (Ansel :417) 2. Tidakan pengemasan yang lebih besar diperlukan untuk sterilisasi dengan car ini daripada dengan cara lain karena waktu, suhu, kadar gas dan kelembaban jumlhanya tidak setegas seperti pada sterilisasi panas kering dan lembab panas (Ansel : 417) 3. Gas-gas sulit hilang dan kebanyakan bahan-bahan setelah pemaparan (Lachman Industries :1283) 4. Iritasi jaringan dapat terjadi jika etilen oksida tidak dihilangkan sama sekali, sifat karsinogenik dan mutagenic dari etilen oksida dari sisa-sisa pada bahan yang digunakan pada manusia (Lachman Industries :1285) 5. Waktu siklus untuk sterilisasi dengan etilen oksida agak lama (Lachman :1286). Sterilisasi Dengan Penyaringan Keuntungan :

d.

1. Penyaringan dapat digunakan untuk memisahkan partikel termasuk mikroorganisme dari larutan gas tanpa menggunakan panas (Lachman Idustries :1285) 2. Saringan tidak harus mengubah larutan/gas segala cara (Lachman Ind :1265) 3. Tidak menghilangkan bahan yang diinginkan atau membawa komponen yang tidak diinginkan (Lachman Ind :1265) 4. Kecepatan penyaringan sejumlah kecil larutan, kemampuan untuk mensterilkan secara efektif bahan tahan panas (Ansel :416) 5. Peralatan yang digunakan relative tidak mahal dan mikroba hidup dan mati serta partikel-partikel lengkap semua dihilangkan dari larutan (Ansel :416). Kerugian : 1. Penyaringan cairan dengan voluime besar akan mermerlukan waktu yang lebih lama terutama bila cairan kental dibandingkan dengan bila memakai cara sterilisasi lembab panas (Ansel : 414). 2. cara ini diharuskan menjalani pengawasan yang ketat dan memonitoring karena efek hasil penyaringan dapat diperngaruhi oleh banyaknya miokroba dalam larutan (Ansel : 414). 3. Filter bakteri tidak efektif menghilangkan firus dari larutan (Scovilles?: 419). 4. Muatan dalam pH yang sesuai yang bersifat alkali menyebabkan kerusakan filter dan partiekel yang kecil pada filter merupakan problem yang khusus (Scovilles: 419) 5. Tiap kebocoran yang mungkin terjadi pada system ini menyebabkan kerusakan pada bagian luar tanpa kontaminan filtrate yang steril (Lachman:1282-1283 ) 6. Kesulitan mempertahankan kondisi aseptis seperti merupakan masalah besar sehubungan dengan sterilisasi melalui penyaringan (Lachman Industri: 1283 ). e. Sterilisasi Irradiasi Keuntungan : 1. Pemakaian radiasi meningkat dalam frekuensi dan luasnya pemakaian setelah diperoleh pengalaman dengan metode ini, khususnya untuk sterilisasi alat medis, plastik, sejumlah vitamin, antibiotic, dan hormone dalam keadaan kering setelah berhasil dibuat steril dengan radiasi (Lachman Indutri: 1276). Kerugian : 1. Penggunaan teknik ini terbatas karena memerlukan peralatan yang sangat khusus dan pengaruh radiasi dan produk-produk dan wadah-wadah (Ansel:418). 2. Sediaan farmasi dalam carian tubuh lebih sulit disterilkan karena efek radiasi terhadap sistem zat pembawa dari jaringan obat (Lachman Industri : 1276 )

SALEP MATA 1. Pengertian Sediaan Mata a. RPS 18 th; 1581 Sediaan mata adalah produk steril yang essensial dan bebas partikel asing, campuran senyawa dan pengemasannya sesuai untuk pemakaian kedalam mata. Sediaan mata meliputi larutan, suspensi tapi lebih banyak bentuk larutan. Salep mata biasanya terdiri dari basis petrolatum putih-minyak mineral b. SDF; 357 Sediaan mata sama dengan produk lainnya yaitu steril dan bebas dari bahan partikulat Kesimpulan : Sediaaan mata adalah sediaan steril yang mempunyai ciri-ciri steril, bebas dari partikel asing dan mempunyai komponen bahan dan pengepakan harus sesuai syarat sterilitas, cocok untuk penggunaan pada mata 2. Pengertian Salep Mata a. FI III; 20 Salep mata adalah salep steril untuk pengobatan mata menggunakan dasar salep yang cocok b. FI IV; 12 Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata c. Scovilles, 356 Salep mata adalah salep khusus untuk pemakaian pada mata dimana membutuhkan perhatian khusus pada pembuatannya d. SDF; 368 Salep mata memberikan arti lain dimana obat dapat mempertahankan kontak dengan mata dan jaringan disekelilingnya tanpa tercuci oleh cairan air mata. Basis untuk salep mata biasanya petrolatum putih walapun dalam beberapa kasus basis laruit air juga digunakan. Obat jika tidak larut didispersikan kedalam basis yang disterilkan dengan panas kering dan dicampur secara aseptis dengan obat dan bahan tambahan yang steril e. DOM King; 140 Salep mata adalah salep steril khusus untuk penggunaan pada mata. Salep ini dibuat dari bahan steril dibawah kondisi aseptis atau pada sterilisasi tahap akhir f. RPS 18 th; 1513 Salep mata adalah salep untuk penggunaan pada mata, dapat juga digunakan untuk memberikan efek pengobatan yang bervariasi pada bagian luar dan tepi kelopak mata, konjungtiva, kornea dan iris. Perhatian yang khusus dilakukan dalam penyiapannya Kesimpulan : Salep mata adalah sediaan steril yang mengandung bahan kimia yang terbagi halus dalam basis, yang digunakan pada mata dimana obat dapat kontak dengan mata dan jaringan tanpa tercuci oleh air mata dan memerlukan perhatian khusus dalam pembuatannya 3. Keuntungan dan Kerugian Salep mata a. Keuntungan Salep mata o RPS 18 th; 1585, 1587

b.

a. Salep mata memberikan keuntungan waktu kontak yang lebih lama dan bioavailabilitas obat yang lebih besar dengan onset dan waktu puncak absorbsi yang lebih lama b. Dari tempat kerjanya yaitu bekerja pada kelopak mata, kelenjar sebasea, konjungtiva, kornea dan iris o SDF; 368 Salep mata dapat dipertahankan kontak lama dengan mata dan jaringan disekelilingnya tanpa tercuci oleh air mata o RPS 16 th; 1502 Dari sisi positif adalah kurang atau tidak terjadinya iritasi pada penggunaan salep mata, pergerakan lebih lambat kedalam ductus lakrimal yang menyebabkan waktu kontak yang lebih panjang dan efek yang lebih lama, stabilitas penyimpoanan lebih besar, dan masalah kontaminasi yang kurang. Sebagai tambahan, untuk obat-obat yang tidak larut air, ada cara untuk meningkatkan konsentrasi obat terlarut dalam sistem dosis dengan memilih pembawa berminyak dimana obat tersebut dapat larut o Ansel Indonesia; 563 Keuntungan utama suatu salep mata daripada larutan untuk mata adalah penambahan waktu hubungan atau kontak antara obat dengan mata. Pengkajian telah menunjukkanm bahwa waktu kontak antara obat dengan mata, 2 4 kali lebih besar apabila dipakai salep dibandingkan jika dipakai larutan garam Kerugian Salep mata o RPS 18 th; 1585 Salep mata akan mengganggu penglihatan kecuali jika digunakan pada waktu tidur o Ansel indonesia; 563 Satu kekurangan pada penggunaan salep mata yaitu kaburnya pandangan yang terjadi begitu dasar salep meleleh ndan menyebar pada lensa mata o RPS 16 th; 1502 Pada sisi negatif, salep mata cenderung membentuk lapiusan pada mata dan menyebabkan pandangan kabur. Salep mata dapat mengganggu bila dimasukkan secara keras pada sel epitel kornea yang baru. Pada basis yang normal, dapat menyebabkan masalah-masalah pencampuran antara pembawa salep dengan cairan mata dan termasuk tambahan parameter partisi untuk obat antara salep dengan lapisan air mata

4. Anatomi Mata dan Fisiologi Mata RPS 18 th; 1581 Mata manusia adalah subjek yang menarik untuk pemberian topikal obat. Dasar ini dapat ditemukan dalam susunan anatomi dari jaringan permukaan dan dalam permeabilitas kornea. Tindakan perlidnungan dari kelopak mata dan sistem lakrimal adalah seperti penghilangan dengan cepat dari bahan yang dimasukkan kedalam mata, kecuali bahannya bervolume kecil dan secara kimia dan fisiologis dapat bercampur dengan jaringan permukaan. Kelopak Mata Kelopak mata memeiliki 2 tujuan : perlindungan mekanik terhadap bola mata dan mensekresikan suatu cairan optimum untuk kornea. Kelopak mata dilicinkan dan dijaga kandungan airnya oleh sekret kelenjar lakrimal dan

dikhususkan pada sel-sel yang terletak pada konjungtiva bulbar. Ruang penyokong memiliki bentuk tipis yang terpisah secara langsung lewat didepan bola mata, dengan perluasan kantong menaik dan menurun. Kantong-kantong tersebut disebut ruang superior dan inferior serta semua tempat, cul-de-sac. Celah antara kelopak mata disebut celah palbebra Bola mata Dinding bola mata manusia (bulbus, bula) disusun atas tiga lapisan konsentris : a. Lapisan fibrous luas b. Lapisan vaskular tengah sistem uvea atau traktus uveal, mengandung koroid, badan siliar dan iris c. Lapisan saraf retina Lapisan terluar kuat, dapat disentuh dan sedikit longgar. Pada bagian depan, bagian yang menghadap keluar. Struktur halus pada lapisan terluar sangat tertaur dan kandungan airnya sangat seksama diatur sehingga bertindak sebagai jendela yang jernih dan trasnparan (kornea). Ini mencegah pembuluh darah. Diatas 2/3 dari selaput serat yang tersisa nampak buram (bagian putih dari mata) dan disebut sklera. Sklera mengandung mikrosirkulasi yang memberikan nutrisis jaringan pada bagian atas anterior dan biasanya putih kecuali ketika terjadi iritasi dan dilatasi pembuluh darah Ruangan bola mata adalah suatu alat optik yang menyebabkan penampakan yang terbalik diperkecil yang terbentuk pada retina, yang mana merupakan membran tipis yang tembus cahaya. Secara berurutan alat optik terdiri dari : kornea, pupil, lensa kristal dan retina, dengan lapisan cairan yang jernih atau bahan seperti gel yang terjepit antara struktur yang padat. Pupil, lubang bulat dalam suatu bagian membran kontraktil (disebut iris), bertindak sebagai fungsi penampakan dari sistem. Lensa kristal adalah suatu unsur retraktif dengan kemampuan fungsi yang dikontrol dan didukung oleh suatu jaringan otot dalam badan siliar. Koroid adalah metabolit yang mendukung retina Fungsi optikal dari mata harus stabil secara dimensi yang mana dilakukan oleh sebagian selaput bagian luar, keefektifannya adalah suatu faktor penstabil pada tekanan intraokuler, yang mana akan mengeluarkan tekanan yang sama pada jaringan disekitarnya. Tekanan intraokuler ini menghasilkan produksi cairan spesifik yang mantap, cairan homur yang asli dari proses siliar dan mata menjadi sistem yang berbeli-belit dari kanal alirannya. Tahanan yang ditemui selama pelewatan dan kecepatan pembentukan cairan merupakan faktor utama yang menentukan tingkat tekanan intraokular. Sebagai tambahan untuk fungsi mekanis hidronya, cairan humor bertindak sebagai carrier nutrient, substrat dan metabolit untuk jaringan ovaskular mata. Tulang pada rangka juga mendukung bentuk yang mendekati piramid yang ditempati oleh bola mata, disebut orbit Konjungtiva Membran konjungtiva menutupi permukaan terluar dari bagian putih mata dan bagian dalam dari kelopak mata. Pada kebanyak tempat terikat dengan longgar dan dengan demikian memungkinkan gerakan bebas dari bola mata. Ini memungkinkan pemberian injeksi subkonjungtival kecuali untuk kornea, konjungtiva merupakan bagian terluar dari mata Sistem lakrimal Permukaan konjungtiva dan kornea ditutupi dan dilicinkan oleh suatu lapisan air yang disekresi oleh kelenjar lakrimal dan konjungtiva. Sekresi dari kelenjar lakrimal, air mata, diantara ke beberapa duktus kecil ke dalam formix konjungtiva, sekretnya jernih, berair, mengandung berbagai garam-garam,

glukosa, komponen organik lainnya, sekitar 0,7 % protein dan enzim lisosom. Bagian kelenjar lakrimal dikondisikan pada fornix konjungtiva. Sekretnya cocok untuk meleicinkan dan membersihkan dibawah kondisi biasa dan untuk mempertahankan lapisan tipis berair yang menutupi kornea dan konjungtiva ) lapisan prekorneal). Lapisan protein musin dari lapisan khususnya penting dalam mempertahankan stabilitas dari lapisan. Kelenjar lakrimal utama disebut memerankan hanya pada fungsi yang khusus. Kelenjar sebaseus terdapat pada kelopak mata mensekresi cairan berminyak yang membantu mencegah air mata yang berlebihan pada tepi kelopak dan mengurangi penguapan permukaaan yang terpapar pada mata dan menyebar diatas lapisan air mata Kedipan mata membantu lapisan cair dengan menekan lapisan tipis dari cairan didepan tepi kelopak mata pada saat keluar bersama-sama. Kelebihan cairan menuju ke penampungan lakrimal, suatu daerah segitiga kecil terhampar pada sudut bagian paling dalam dari kelopak mata. Kulit kelopak mata tipis dan dapat terlipat dengan mudah, sehingga memberikan pembukaan yang cepat dan penutupan pada celah palpebral. Gerakan kelopak mata termasuk penyempitan celah palpebral dalam suatu kantong mata, seperti tindakan chantus lateral melewati chantus (chant : sudut dimata bertemu). Ini akan membantu transport atau gerakan cairan melewati bagian lakrimal Lapisan Prekorneal Kornea harus basah untuk menjadi permukaan mata yang memadai, ketika kurang basah kornea kehilangan permukaannya yang halus dan sifat transparannya. La[isan prekorneal, bagian dari larutan air mata, memberikan kelembaban yang penting pada permukaan. Sifat dari lapisan prekorneal tergantung dari kondisi epitel kornea. Lapisan tersebut bercampur dengan sediaan mata berair dan lipid, disusun dari lapisan lipid tipis terluar. Lapisan berair yang tebal ditengah dan suatu lapisan mukoid tipis bagian dalam. Hal ini diperbaharui pada setiap kediapan dan ketika berkedip mengalami tekanan, baik oleh obat atau secara mekanik, akhirnya akan mengering pada potongannya. Ini memperlihatkan tidak berpengaruhnya penambahan konsentrasi hingga 2 % NaCl terhadap cairan konjungtiva. pH dibawah 4 atau diatas 9 akan menyebabkan kekacauan lapisan. Lapisan ini mempengaruhi gerakan lensa kontak dan terbentuk cepat dengan mudah pada gelas daripada plastik Kornea Kornea tebalnya 0,5 1 mm terdiri dari struktur berikut (dari depan ke belakang) : 1. Epitel kornea 2. Substantia propia (stroma) 3. Endotel kornea Kornea transparan untuk mendifusikan cahaya secara luar biasa, besarnya cahaya karena susunan tegak lurus dari sel dan serat dan karena tidak adanya pembuluh darah. Pengaburan kornea mengkin satu dari beberapa faktor termasuk tekanan bola mata sebagai glaukoma; jaringan bebas luka karena dilukai, injkesi atau kekurangan O2 atau kelebihan air seperti yang dapat terjadi karena pemakaian kontak lensa. 5. o Syarat-Syarat Salep Mata RPS 18 th; 1585 1. Salep mata dibuat dari bahan yang disterilkan dibawah kondisi yang bernar-benar aseptik dan memenuhi persyaratan dari tes sterilisasi resmi

2. Sterilisasi terminal dari salep akhir dalam tube disempurnakan dengan menggunakan dosis yang sesuai dengan radiasi gamma 3. Salep mata harus mengandung bahan yang sesuai atau campuran bahan untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang berbahaya ketika wadah terbuka selama penggunaan. Bahan antimikroba yang biasa digunakan adalah klorbutanol, paraben atau merkuri organik 4. Salep akhir harus bebas dari partikel besar 5. Basis yang digunakan tidak mengiritasi mata, membiarkan difusi obat melalui pencucian sekresi mata dan mempertahankan aktivitas obat pada jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang sesuai SDF; 357 a. Sediaan untuk mata dari berbagai jenis produk yang berbeda dapat berupa larutan tetes mata, pencuci mata atau salep mata. Kadangkadang injeksi mata digunakan untuk hal-hal yang khusus. Sediaan mata sama dengan produk steril lainnya yaitu kesterilan dan bebas dari bahan partikulat. Dengan pengecualian jumlah yang terbatas dari injeksi mata. Sediaan untuk mata merupakan bentuk sediaan topikal yang digunakan untuk efek lokal. Oleh karena itu tidak perlu bebas pirogen karena metode penggunaan dan pemakaian obat sediaan mata berbeda dengan bahan yang diberikan secara parenteral dalam hal bahan yang ditambahkan untuk meningkatkan aktivitas untuk memelihara stabilitasnya dan sterilitas produk b. Sterilitas merupakan syarat yang paling penting, tidak layak membuat sediaan larutan mata yang mengandung banyak mikroorganisme yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan, bahaya yang paling utama adalah memasukkan produk nonsteril kemata saat kornea digososk. Bahan partikulat yang dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien Karakteristik Sediaan Mata o RPS 18 th; 1589 a. Kejernihan Larutan mata adalah dengan definisi bebas dari partikel asing dan jernih secara normal diperoleh dengan filtrasi. Tentunya, pentingnya peralatan filtrasi agar jernih dan tercuci baik sehingga bahan-bahan partikulat tidak dikontribusikan untuk larutan dengan desain peralatan untuk menghilangkannya. Pengerjaan penampilan untuk larutan dalam lingkungan yang bersih, penggunaan LAF dan harus tidak tertumpah memberikan kebersihan untuk penyiapan larutan jernih bebas dari partikel asing. Dalam beberapa permasalahan, kejernihan dan sterilisasi dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama. Ini penting untuk menyadari bahwa larutan jernih sama fungsinya untuk pembersihan wadah dan tutup. Keduanya, wadah dan tutup harus bersih, steril dan tak tertumpahkan. Wadah atau tutup tidak membawa partikel dalam larutan selama kontak lama dalam penyimpanan. Normalnya dilakukan tes sterilisasi b. Stabilitas

6.

Stabilitas obat dalam larutan seperti produk mata tergantung sifat kimia bahan obat, pH produk, metode penyiapan (khususnya penggunaan suhu), zat tambahan larutanb dan tipe pengemasan Obat seperti pilokarpin dan fisostigmin aktif dan cocok pada mata pada pH 6,8. Namun demikian pH stabilitas kimia (atau ketidakstabilan) dapat diukur dalam beberapa hari atau bulan. Dengan obat ini, bahan kehilangan stabilitas kimia kurang dari 1 tahun. Sebaliknya pada pH 5 kedua obat stabil dalam beberapa tahun c. Buffer dan pH Idealnya, sediaan mata sebaiknya diformulasi pada pH yang ekuivalen dengan cairan air mata yaitu 7,4. dan prkteknya jarang dicapai. Mayoritas bahan aktif dalam optalmology adalah garam basa lemah dan paling stabil pada pH asam. Ini umumnya dapat dibuat dalam suspensi kortikosteroid tidak larut. Suspensi biasanya paling stabil pada pH asam pH optimum umumnya menginginkan kompromi pada formulator. pH diseleksi jadi optimum untuk stabil. Sistem dapar diseleksi agar mempunyai kapasitas adekuat untuk memperoleh pH dengan range stabilitas untuk durasi umur produk. Kapasitas buffer adalah kunci utama situasi ini d. Tonisitas Tonisitas berarti tekanan osmotik yang diberikan oleh garamgaram dalam larutan berair. Larutan mata adalah isotonik dengan larutan lain ketikamagnitude sifat koligatif larutan adfalah sama. Larutan mata dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan 0,9 % larutan NaCl Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas dari suatu waktu yang diusulkan. Mata biasanya dapat mentoleransi larutan sama untuk range 0,5 % - 1,8 % NaCl intraokuler. Namun demikian ini tidak dibutuhkan ketika stabilitas produk dipertimbangkan e. Viskositas USP mengizinkan penggunaan peningkat viskositas untuk memperpanjang waktu kontak dalam mata dan untuk absorpsi obat dan aktivitasnya. Bahan-bahan seperti metil selulose, polivinil alkohol dan hidroksil metil selulose ditambahkan secara berkala untuk meningkatkan viskositas Investigator telah mempelajari efek peningkatan viskositas pada waktu kontak dalam mata. Umumnya viskositas meningkat dari 25 50 cps range signifikan meningkatkan lama kontak dalam mata f. Bahan Tambahan Penggunaan bahan tambahan dalam larutan mata dibolehkan, namun pemilihannya dalam jumlah tertentu. Antioksidan, khususnya natrium bisulfit atau metasulfit, digunakan dalam konsentrasi sampai 0,3 %, khususnya dalam larutan yang mengandung garam epinefrin. Antioksidan lain seperti asam askobat atau asetilsistein dapat digunakan. Antioksidan ini berefek sebagai penstabil untuk meminimalkan oksidasi epinefrin Penggunaan surfaktan dalam sediaan mata dibatasi hal yang sama. Surfaktan nonionik, keluar toksis kecil seperti bahan campuran digunakan dalam konsentrasi rendahkhususnya suspensi steroid dan berhubungan dengan kejernihan larutan. Surfaktan jarang digunakan sebagai kosolven untuk meningkatkan kelarutan

Penggunaan surfaktan, khususnya beberapa konsentrasi signifikan, sebaiknya dengan karakteristik bahan-bahan. Surfaktan nonionik, khususnya dapat bereaksi dengan adsorpsi dengan komponen pengawet antimikroba dan inaktif sistem pengawet. Benzalkonium klorida dalam range 0,01 0,02 % dengan toksisitas faktor pembatas konsentrasi, sebagai pengawet digunakan dalam jumlah besar larutan dengan suspensi sediaan mata 7. Cara Penggunaan Salep mata RPS 18 th; 1584 a. Cuci tangan b. Buka tutup dari tube c. Dengan satu tangan, tarik kelopak mata bagian bawah perlahanlahan d. Sambil melihat keatas, tekan sejumlah kecil salep kedalam kelopak mata bagian bawah ( - inci). Hati-hati agar tidak menyentuhkan ujung tube pada mata, kelopak mata, jari, dll e. Tutup mata dengan lembut dan putar bola mata kesegala arah pada saat mata ditutup. Kadang-kadang pengaburan dapat terjadi f. Kelopak mata yang tertutup dapat digosok dengan lembut dengan jari untuk mendistribusikan obat melalui fornix g. Tutup kembali tube Hati-hati untuk mencegah kontaminasi tutup tube saat dibuka Pada saat tube salep dibuka pertama kali, tekan keluar inci salep dan buang karena mungkin terlalu kering Jangan pernah menyentuh ujung tube dengan permukaan apapun Jika mempunyai lebih dari satu tube untu salep mata yang sama, buka satu tube saja Jika menggunakan lebih dari satu jenis salep mata pada waktu yang sama, tunggu sekitar 10 menit sebelum menggunakan salep lainnya Untuk memperbaiki aliran dari salep, pegang tube dalam tangan selama beberapa menit sebelum digunakan Sangat bermanfaat untuk latihan menggunakan salep dengfan persis didepan cermin 8. Teori Kinsey DOM; 882 Banyak obat mata adalah basa lemah dimana bentuk garamnya digunakan pada mata dalam larutan beriar. Karena kemampuan netralisasi dari air mata, pH dari tetes mata dengan cepat dirubah menjadi pH fisiologis. Tergantung dari sifat disosiasi dari alkaloida, sebagian dari garam akan dirubah menjadi bentuk basa bebas yang biasanya lebih larut lemak sehingga ion mudah ditransfer dalam sel epitel yang kaya akan lemak. Bentuk lemak dari alkaloid R3N melewati lapisan epitel kedalam substantia propia (stroma). Lapisan stroma ini berlapis-lapis, kurang mengandung lipid dan kaya akan air. Obat yang berpenetrasi sebagian akan dirubah menjadi bentuk terprotonisasi tergantung pada pH lingkungan berair pada stroma. Pada saat melewati lapisan lemak endotelium, obat masuk kedalam cairan humor dimana obat akan terdifusi dengan cepat kedalam iris dan badan siliar yaitu tempat dimana obat mempunyai aksi farmakologis 9. Cara Pembuatan Salep mata

Scovilles; 357 Salep mata dibuat dengan menggunakan salah satu dari dua metode berikut : Jika bahan obat larut dalam air dan membentuk larutan stabil maka bahan obat dilarutkan dalam jumlah minimum air untuk injeksi, larutan yang dihasilkan kemudian digabungkan dengan basis yang telah dilebur dan campuran diaduk terus-menerus sampai mengental Jika bahan obat tidak segera larut dalam air, maka bahan obat dimikronisasi sampai menjadi sebur yang sangat halus dengan melevigasinya dengan sejumlah kecil basis. Campuran yang dihasilkan digabungkan dengan sisa basis 10. Cara Memasukkan Salep Kedalam Tube Scovilles; 361 Cara yang paling mudah untuk mengisi tube adalah menempatkan salep pada sepotongn kertas berlilin atau kertas perkamen kemudian lipat kertas sehingga kedua ujungnya bertemu. Dengan menempatkan batang pengaduk pada ujung lipatan dan menggulung kertas mengarah kebagian bawah lipatan, salep dalam kertas ditekan menjadi bentuk silinder. Kertas tube kemudian dimasukkan pada bagian belakang yang terbuka besar dari tube yang dapat dilipat dan ketika kertas ditarik keluar melalui jari, salep akan tertahan dan tertinggal didalam tube. Pada saat memasukkan salep, penutup dari tube harus dibuka untuk memungkinkan pengisian yang sempurna. Tube seharusnya diisi sampai jarak 1 inci dari ujung tube sehingga memberikan tempat untuk penutupan tube. Penutupan dilakukan dengan meratakan dasar salep dengan spatula dan melipatnya lebih dari dua kali dan menjaganya dengan penjepit khusus tube salep yang dilakukan dengan sepasang pinset. 11. Mengapa Salep Mata Harus Steril ? o Presc; 181 Jika suatu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata menjelaskan dengan sendirinya bahwa sediaan mata harus steril. Air mata tidak seperti darah tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Mekanisme utama untuk pertahanan melawan infeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata dan suatu enzim yang ditemukan dalam air mata (lizosim) yang mempunyai kemampuan menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa mikroorganisme, satu dari mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lizosim yakni yang paling mampu menyebabkan kerusakan mata yaitu Pseudomonas aeruginosa (Bacilllus pyocyamis). Infeksi serius yang disebabkan mikroorganisme ini ditunjukka dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea. Penting untuk dicatat bahwa ini bukan mikroorganisme yang jarang, namun juga ditemukan disaluran intestinal, dikulit normal manusia dan dapat menjadi kontaminan yang ada diudara o SDF; 359 Sterilitas merupakan syarat yang paling penting. Larutan mata yang dibuat dapat membawa banyak mikroorganisme, yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan, ini khususnya berbahaya untuk penggunaan produk-produk nonsteril pada mata saat kornea terkena. Bahan partikulat dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien o RPS 18 th; 1583

Pseudomonas aeruginosa (Bacillus pyocyaneus, P. pyocyanea, Blue Pas bacillus). Ini merupakan mikroorganisme berbahaya dan opurtonis yang tumbuh baik pada banyak kultur media dan menghasilkan toksin dari produk antibakteri. Cenderung untuk membunuh kontaminan lain dan membiarkan Pseudomonas aeruginosa untuk tumbuh pada kultur murni. Bacillus gram negatif juga tumbuh pada sediaan mata yang menjadi sumber infeksi serius dari kornea. Ini dapat menyebabkan kehilangan penglihatan pada 24 -48 jam. Pada konsentrasi yang ditopleransi oleh jaringan mata menunjukkan bahwa semua zat antimikroba didiskusikan pada bagian berikut dapat tidak efektif melawan beberapa strain dari organisme ini. 12. Cara Pengujian Salep mata a. Uji Kebocoran Salep mata (FI IV; 1086) Pilih 10 tube salep mata dengan segel khusus jika disebutkan. Bersihkan dan keringkan baik-baik permukaan luar tiap tube dengan kain penyerap. Letakkan tube pada posisi horisontal diatas lembaran kertas penyerap dalam oven dengan suhu yang diatur pada 60o + 3oC selama 8 jam. Tidak boleh terjadi kebocoran yang berarti selama atau setelah pengujian selesai, abaikan bekas salep yang diperkirakan berasala dari bagian luar dimana terdapat lipatan dari tube atau dari bagian ulir (tutup tube). Jika terdapat kebocoran pada 1 tube tapi tidak lebih darfi 1 tube, ulangi pengujian dengan tambahan 20 tube salep. Pengujian ini memenuhi syarat jika tidak satu pun kebocoran dari 10 tube uji pertama atau kebocoran yang diamati tidak lebih dari 1 atau 30 tube yang diuji b. Uji Partikel dan Ukuran (RPS 18 th; 1585) Undang-undang resmi memberikan suatu uji yang dirancang untuk membatasi tingkat yang dipertimbangkan untuk jumlah atau ukuran yang dapat disetujui untuk partikel yang berbeda yang mungkin terdapat dalam salep mata. Dalam uji ini, keluarkan isis dari 10 tube salep pertama-tama lebur dalam cawan petri, kemudian biarkan memadat. Lalu diamati dengan mikroskop berkekuatan rendah yang dilengkapi dengan mikrometer dan lensa okuler untuk partikel yang berukuran 50 m atau lebih dalam beberapa dimensi. Pengujian memenuhi syarat jika jumlah total dari partikel logam dalam 10 tube tidak lebih dari 50 g atau tidak lebih dari 1 tube ditemukan mengandung 8 partikel yang sama c. Uji Sterilitas (RPS 18 th; 1585) Uji sterilitas dari salep mata dilakukan dengan uji steril atau membran yang menahan bakteri dengan nilai porositas 0,45 atau 0,22 m. untuk salep yang larut dalam isopropil miristat (pelarut yang digunakan secara resmi untuk uji sterilitas). Sampel salep dilarutkan dalam pelarut untu tes steril. Untuk salep yang tidak larut dalam isopropil miristat, disuspensikan pada pembawa berair yang cocok yang mengandung bahan pendispersi dalanm prosedur umum yang konvensional

TETES MATA 1. Definisi tetes mata FI III ; 10 Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan pada mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata atau bola mata. Scovilles ; 231 Larutan mata merupakan cairan steril atau larutan berminyak dari alkaloid, garam-garam alkaloid, antibiotik atau bahan-bahan lain yang ditujukan untuk dimasukkan kedalam mata. Ketika cairan, larutan harus isotonis larutan mata digunakan untuk antibakterial, anestetik, midriatik, miotik atau maksud diagnosa larutan ini disebut juga tetes mata dan collyria (singular collyrium). Tekt bodes of pharmaclutik ; 358 Tetes mata adalah cairan steril atau larutan berminyak atau suspensi yang ditujukan untuk dimasukkan kedalam succos konjungtival. Dapat mengandung bahan-bahan AM seperti AB, bahan anti inflamasi seperti kortikosteroid, obat miontik seperti fisostigmin sulfat atau obat midriasis seperti atropin sulfat. Parrot ; 290 Bahan obat diteteskan kedalam mata harus diformulasi dengan tepat dan disiapkan dengan pemberian pertimbangan antara lain tonisitas, pH, kestabilan kekentalan dan sterilitas. Dom Martin ; 880 Tetes mata sering diteteskan kedalam mata yang terluka akibat kecelakaan atau operasi dan tetes mata kemudian secara potensial lebih berbahaya dibandingkan injeksi intravena. Kesimpulan : Tetes mata adalah suatu sediaan steril yang mengandung air maupun minyak harus bebas dari partikel asing baik dalam bentuk alkalk atau garamnya atau bahan lain, digunakan dengan cara meneteskan pada konjungtiva mata dengan memperhatikan stabilitasnya. Syarat- syarat sediaan mata Scovilles ; 221 Faktor- faktor dibawah ini sangat penting dalam pembuatan sediaan mata : 1. ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan. 2. sterilitas akhir dari collyrium (tetes mata)dan adanya bahan antimikrobauntuk menahan pertumbuhan dari suatu organisme yang ada selama penggunaan sediaan. 3. isotonisitas dari larutan 4. kesesuaian pH dari pembawa untuk menjamin stabilitas optimum SDF ; 357 Sediaan untuk mata terdiri dari bermacam-macam tipe produk yang berbeda. Sediaan ini bisa berupa larutan (tetes mata/pencuci mata), suspensi/salep kadang-kadang injeksi mata digunakan dalam kasus khusus. Sediaan mata sama dengan sediaan steril lainnya yaitu harus steril dan bebas dari bahan partikalat. Dengan pengeculian tertentu dari injeksi mata, sediaan untuk mata adalah bentuk sediaan topikal yang digunakan untuk efek lokal dan karena itu tidak perlu bebas pirogen.

2.

Scovilles ; 247 Farmasi seharusnya menyiapkan larutan mata yang : 1. steril 2. Dalam pembawa yang mengandung bahan meningkatkan sterilitas 3. Bebas dari partikel yang tersuspensi 4. Bahan-bahan yang akurat 5. Isotonik/mendekati isotonik 6. Pendaparan yang sesuai 7. Dimasukkan dalam wadah yang kecil 8. Dimasukkan dalam wadah yang steril

germisidal

untuk

DOM king ; 145 Mata manusia adalah organ yang sangat sensitif, mata itu bereaksi secara cepat terhadap tiap perubahan dari lingkungan. Untuk alasan ini, larutan yang digunakan pada mata seperti suspensi dan salep harus disiapkan dengan perawatan yang sangat teliti. Persyaratan yang harus dipertimbangkan pada sediaan dikontrol dari produk sediaan mata : 1. Sterilitas 6. Pengawet 2. Kejernihan 7. Zat tambahan 3. Buffer 8. Kekentalan 4. pH 9. Pengemasan 5. Tonisitas 10. Stabilitas RPS ; 1589 1. Bebas dari partikel asing dan secara normal harus jernih yang dicapai dengan filtrsi 2. Kestabilan dari obat pada sediaan mata tergantung daari sifat kimia bahan obat, pH, cara penyiapan (biasanya oleh pemaparan suhu) larutan tambahan dan tipe pengepakan 3. Buffer dan pH idealnya, sediaan mata harus diformulasi pada pH yang ekivalen dengan nilai cairan mata yaitu 7,4 4. Tonisitas, sediaan atau larutan mata dipertimbangkan isotailk yaitu tonisitas sama dengan 0.9% larutan NaCl 5. Viskositas 6. Bahan tambahan Dom Martin ; 880 Faktor yang paling penting dipertimbangkan ketika menyiapkan larutan mata adalah tonisitas, pH, stabilitas, viskositas, seleksi pengawet dan sterilisasi. Sayang sekali yang paling penting dari itu adalah sterilitas yang telah menerima sifat atau perhatian dari farmasis dan ahli mata. Ini diinginkan bahwa larutan mata stabil, isotonis, dan sifat pH, dan tidak ada pernah kehilangan mata karena larutan sebagian terurai atau mengiritasi penggunaan larutan tidak steril kedalam mata yang terluka dilain hal sering menyebabkan kecelakaan. Kesimpulan : 1. Harus steril 5. Kejernihan 2. Isotonis 6. Adanya bahan tambahan 3. Dibuffer dengan tepat 7. Stabilitas 4. Sterilitas 8. Bebas dari iritasi 3. Komposisi tetes mata

FI III ; 10 Tetes mata berair umumnya dibuat menggunakan cairan pembawa berair yang mengandung zat pengawet terutama fenil raksa (II) nitrat atau fenil raksi (II), asetat 0,002%, benzolkonium klorida 0,01 atau klorhebsidine asetat 0,01%, yang pemilihannya didasarkan atas ketercampuran zat pengawet terhadap obat yang terkandung didalamnya selama waktu tetes mata itudimungkinkan untuk digunakan. Dom Cooper ; 184 Disamping bahan obat, tetes mata dapat mengandung sejumlah bahan tambahan untuk mempertahankan potensinya dan mencegah kemunduran zat aktifnya. Antara lain dapat mengandung hal-hal sebagai berikut : 1. Pengawet pada dasarnya, pengawet dimasukkan untuk mencegah perkembangan mikroorganisme yang dapat ada selama penggunaan tetes mata. Larutan untuk tetes mata khusus yang paling banyak tetes mata dan yang lain menggunakan feril merkuri, nitrat, fenil etil alkohol dan benzol konium klorida. 2. Pengaturan isotonisitas dengan sekresi laknimal. Secara normal digunakan untuk mengatur tekana osmatik yang cocok dari larutan tetes mata, namun dalam beberapa kasus bahan obat membuat larutan hipertonis, seperti tetes mata sulfisetanid, mata dapat sedikit bertoleransi pada variasi yang luas dalam tekana osmotik dari larutan mata tapi ini biasa dan mungkin untuk mengaturnya menjadi isotonis dengan sekresi lakrimal. 3. Oksidasi bahan obat. Banyak obat mata dengan mudah dioksidasi dan biasanya dalam suatu kasus, dimasukkansetelah pereduksi natrium meta bisulfit dalam [] 0,1% sering digunakan untuk tujuan ini. Ini digunakan untuk contoh dalam tetes mata BDS dari fisostigmin, fenilefrin dan sulfatamia. 4. Konsentrasi ion hidrogen. Perlu suatu konsentrasi ion H+ yang stabil dan beberapa larutan buffer umumnya digunakan. Contoh dari penggunaan bahan pendapar Na sitrat digunakan dalam tetes mata perilefrin. Asam borat dan boraks dalam tetes mata dari krednisolon Na sulfat. 5. Bahan pengkhelat. Ketika ion logam dapat menyebabkan peruraian dari bahan obat dalam larutan. Suatu bahan pengkholat yang mengikat ion-ion dalam kompleks organik akan memberikan perlindungan Na EDTA adalah satu dari bahan pengkhelat terbaik yanh dikenal. 6. Viskositas. Untuk menghasilkan larutan kental yang akan memperpanjang aksi dari larutan mata untuk penahanan yang lebih lama dalam kontak dengan permukaan mata, bahan pengental digunakan yaitu metil selulosa 1% telah digunakan untuk tujuan ini. Kesimpulan : Komposisi tetes mata: 1. zat aktif 2. Bahan tambahan : - Pengawet - Tonisitas - pH - Buffer - Pengkhelat

4.

Sediaan mata harus steril karena : SDF ; 357 Sterilitas adalah persyaratan yang sangat penting pembuatan larutan mata yang tidak layak dapat membawa banyak organisme yang paling berbahaya adalah pseodomonas aeroginosa, infeksi mata dari orgabisme ini telah membuat kebutaan khususnya, berbahaya bagi produknon steril yang dimasukkan dalam mata ketika kornea terbuka. Parrot ; 290 Sterilitas diinginkan karena kornea dan jaringan yang segaris dengan daerah arteria adalah media yang baik untuk m.o dan penetesan dari larutan mata yang terkontanimasi kedalam mata yang luka oleh kecelakaan atau operasi dapat menghasilkan kehilangan penglihatan. Prescription ; 181 Jika satu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata, maka jelas dengan sendirinya bahwa dengan sediaan mata harus steril. Air mata, tidak seperti darah, tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Kemudian mekanisme utama dalam pertahanan melawan injeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata, dan suatu enzim yang ditemukan dalam air mata (lisosim) yang mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa m.o. salah satu mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lisozim, yakni paling mampu menyebabkan kerusakan mata adalahn pseudomonos aeroginosa (bacillus pyocyneus). Infeksi serius yang disebabkan organisme ini ditunjukan dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea. Penting untuk dicata bahwa ini bukanlah organisme yang jarang; namun juga ditemukan dalam saluran intestinal dari kulit normal manusia dan dapat menjadi kontaminan yang ada di udara (komersil atau persewaan) tidak mengejutkan jika tidak dirawat yang pantas.

5.

Keuntungan dan kerugian tetes mata Keuntungan RPS 18th ;1584 1. Tidak mengganggu penglihatan ketika digunakan 2. USP XXI menggambarkan larutan mata, dengan definisi semua bahan-bahan adalah lengkap dalam larutan, keseragaman tidak menjadi maslah, hanya sedikit pengaruh sifat fisika dengan tujuan ini. 3. Salep mata umumnya menghasilkan bentuk yang lebih besar daripada larutan berair AMA Drugs : 1624 Secara umum larutan berair lebih stabil daripada salep, meskipun salep dengan obat yang larut dalam lemak diabsorpsi lebih baik dari larutan, salep yang obat-obatnya larut dalam air. Kerugian

6.

RPS 18th : 1585 Kerugian yang prinsipil dari larutan mata adalah waktu kontak yang relatif singkat antara obat dan permukaan yang terabsorpsi DOM King ; 142 Bahan aktif obat mata diakui buruk jika larutannya digunakan secara topikal untuk kebanyakan obat kurang 1-3% dari dosis yang dimasukkan melewati kornea. Sampai kurang interior. Sejak BA obat sangat lamvat, pasien yang mematuhi aturan dari tekhnik pemakaian yang tepat. Perbedaan salep mata dan tetes mata RPS 18th ; 1586-1587 1. salep mata umumnya menghasilkan bioavauabilitau yang lebih besar dibandingkan dengan larutan berair lainnya. 2. Ditempat kerjanya tetes mata bekerja dari konjungtiva, kornea dan iris sedangkan salep mata bekerja pada kelopak mata, kelenjar sebaseus konjungtiva dan kornea serta iris. Cara penggunaan tetes mata RPS 18th ; 1584 1. Cuci tangan 2. Dengan satu tangan tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian bawah 3. Jika penetes terpisah tekan bola karetnya sekali ketika penetes dimasukkan kedalam botol pembawa 4. Tempatkan penetes diatas mata, jangan menyentuhnya penetes pada mata atau jari 5. Lepaskan penutup, usahakan untuk menjaga mata tetap terbuka dengan tidak berkedip paling kurang 30 detik 6. Jika penetesnya terpisah, tempatkan kembali pada botol dan tutup erat a. Jika penetes terpisah, selalu tempatkan penetes dengan ujung mengarah kebawah b. Jangan pernah menyentuh penetes pada permukaan apapun c. Jangan pernah mencuci penetes d. Jangan menggerakkan tetes mata yang telah mengalami perubahan warna e. Jika anda mempunyai lebih dari satu jenis botol tetes yang sama, buka satu tutup botol saja beberapa menit sebelum menggunakan tetes mata yang lain f. Akan sangat membantu untuk latihan memakai obat dalam posisi didepan cermin g. Setelah penggunaan jangan menutup mata terlalu cepat dan usahakan jangan berkedip lebih sering dari biasanya karena dapat menghilangkan obat dari tempat efektifnya. Pewadahan SDF ; 367 Larutan mata disiapkan secara terus menerus dikemas dalam wadah tetes (dropsrainen) polietelin atau dalam botol tetes gelas untuk mempertahankan sterilitas larutan, wadah harus steril. Wadah polietilen disterilkan dengan etilen oksida, sementara penetes gelas dapat dengan dibungkus dan diotoklaf secara komersial disiapkan unit dosis tunggaol

7.

8.

dengan volum0,3ml atau kurang dikemasdalam tube polietilen steril edan disegel dengan pemanasan. Scovilles ; 247 Wadah untuk larutan mata, larutan mata sebaiknya dibuat dalam unit kecil, tidak pernah lebih besar dari 15 ml dan lebih disukai yang lebih kecil. A botol 7,5 ml adalah ukuran yang menyenangkan untuk penggunaan larutan mata. Penggunaan wadah kecil memperpendek waktu pengobatan akan dijaga oleh pasien dan meminimalkan jumlah pemaparan kontaminan. Botol plastik untuk larutan mata juga dapat digunakan. Meskipun beberapa botol plastik untuk larutan mata telah dimunculkan dalam pasaran, mereka masih dilengkapi dan yang terbaik adalah untuk menulis secara langsung produksi untuk menghasilkan informasi terkini dalam perkembangan terakhir. RPS 18th : 1590 Wadah gelas sediaan mata tradisional dengan dilengkapi penetes gelas telah dilengkapi hampir sempurna dengan unit penetes polieblen densitas rendah yang disebut droptrainers hanya sejumlah kecil wadah gelas yang masih digunakan, biasanya karena pembatasan stabilitas. Larutan intraokulir vulome besar 250-5ml telah dikemas dalam gelas, tetapi bahkan sediaan parenteral mulai dikemas dalam pabrik khusus wadah polieblen atau polipropilen. Satu yang seharusnya masih dipikirkan adalah wadah plastik. Basanya polietilen densitas rendah adlah tidak boleh alat tergantikan dengan gelas. Wadah plastik adalah permeabel terhadap beberapa bahan termasuk cahaya dan air. Wadah plastik dapat mengandung variasi bahan-bahan ekraneus seperti bahan-bahan pelepas jamur, antioksidan, reaksi quenchers dan yang mirip. Siap dapat menggunakan plastik dan dalam wadah larutan. Lem label, tinta dan warna juga dapat berpenetrasi polietilen dengan cepat. Sebaiknya bahan-bahan menguap dapat menyerap dari larutan kedalam atau melalui wadah plastik. Wadah gelas memberikan bahan wadah yang menyenangkan untuk penyiapan terus menerus larutan mata.tipe I digunakan wadah sebaiknya dicuci dengan air destilasi steril kemudian disterilkan dengan autoklaf. Penetes normalnya disegel dan dikemas dalam blaster pack yang menyenangkan.

9.

Bahaya obat non steril

RPS 18th : 1568 Pseudomonas aerugunosa ( B. Pyouganeus, P. pyocyamea, Blue Pus bacillus ini merupakan mikroorganisme berbahaya dan opportunis yang tambah baik pada kultur media yang menghasilkan toksin dan zat atau produk antibakteri cenderung untuk menambah kontaminan lain dan membiarkan Pseudomonas aeoginosa untuk tumbuh pada klur murni. Bacilus gram (-) juga menjadi sumber dari ineksi yang serius pada kornea. Ini dapat menyebabkan keilangan penglihatan pada 24-48 jam pada konsentrasi yang ditoleransi oleh jaringan mata, menunjukkan bahwa semua zat beberapa strain dari organisme ini.

TETES HIDUNG 1. Definisi Tetes Hidung Larutan untuk digunakan pada hidung disebut juga spray atau collunaria atau tetes hidung didefinisikan sebagai larutan berair atau berminyak yang dimaksudkan untuk penggunaan topikal atau daerah nasofaring. (7 : 252) Tetes hidung adalah obat tetes yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung; dapat mengandung zat pensuspensi, pendapar dan pengawet. Cairan pembawa umumnya digunakan air. Cairan pembawa sedapat mungkin mempunyai pH antara 5,5 sampai 7,5, kapasitas dapar sedang, isotonis atau hampir isotonis. Zat pensuspensi dapat digunakan sorbitan, polisorbat atau surfaktan lain yang cocok, kadar tidak boleh lebih dari 0,01% b/v. Zat pendapar dapat digunakan dapar yang cocok dengan pH 6,5 dan dibuat isotonis menggunakan natrium klorida secukupnya. Zat pengawet umumnya digunakan benzalkonium klorida 0,01% b/v sampai 0,1% b/v. (2 : 10) Larutan untuk hidung umumnya larutan berair yang dirancang untuk digunakan pada hidung sebagai tetes atau dapar. (5 : 1526) Tetes hidung adalah larutan berair untuk dimasukkan ke dalam lubang hidung. Mereka dapat mengandung obat-obat vasokontriksi untuk mengobati kongesti nasal dan sering dilindungi dengan klorobutanol (0,5%) atau bahan antiseptik lain yang cocok. Dahulu kala, larutan minyak umum digunakan sebagai tetes hidung tetapi minyak dapat mengganggu aksi silia mukosa, jika tetesan minyak masuk ke dalam trakea, mereka dapat menyebabkan pneumonia lipoid. Untuk alasan ini, larutan minyak tidak direkomendasikan lebih lanjut. (16 : 352)

Tetes hidung dibuat dalam jumlah kecil (10 atau 25 ml) dalam botol gelas berwarna bergalur dengan plastik penyegel dan penetes. Pemilik spray menyiapkan dalam wadah tipe bertekanan. Penggunaan jangka waktu lama obat vasokontriktor dalam hidung dapat menyebabkan kerusakan mukosa hidung. (16 : 352) Kesimpulan : Tetes hidung biasa juga disebut spray atau collunaria merupakan larutan berair atau berminyak yang dimaksudkan untuk penggunaan topikal atau daerah nasofaring digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung, dapat mengandung zat pensuspensi, pengawet, pendapar, obat-obat vasokonstriksi dan antiseptik.

2. Jenis-jenis Sediaan Hidung (9 : 157) 1. Larutan (spray, tetes hidung, collunaria) Paling banyak sediaan untuk penggunaan lokal untuk rongga hidung adalah larutan berair. Meskipun petrolatum cair terang secara luas digunakan pada masa lalu, larutan minyak jarang digunakan dan tidak direkomendasikan untuk penggunaan pada hidung. Minyak, khususnya minyak mineral berbahaya dan telah dibuktikan dapat menyebabkan pneumonia lipoid atau pneumonia inspirasi-minyak sehingga aspirasi atau inspirasi dalam beberapa cairan. Mereka selalu bercampur dengan aksi silia normal dan tidak membebaskan obat tidak larut secara efisien. Pembawa untuk larutan hidung sebaiknya: a. Mempunyai pH dalam rentang 5,5-7,5, lebih dipilih kurang dari 7. b. Mempunyai kapasitas buffer yang baik. c. Isotonik atau mendekati isotonik.

d. Tidak mengubah viskositas normal mukus. e. Dapat bercampur dengan gerakan silia normal dan bahan ionik sekresi nasal. f. Dapat bercampur dengan bahan aktif. g. Cukup stabil untuk menyimpan aktivitas diperpanjang, sepanjang penggunaan pasien sendiri. h. Mengandung pengawet untuk menekan pertumbuhan bakteri yang mungkin ada melalui penetes. Paling banyak larutan untuk hidung digunakan penetes, atomizer atau kemasan spray. Botol gelas amber konvensional dengan penetes obat atas sebaiknya digunakan untuk obat tetes. Pasien seharusnya diberitahu untuk menyandarkan punggungnya sementara memiringkan kepalanya ke belakang. Penetes sebaiknya ditempatkan tepat masuk dalam nostril dan sejumlah yang diresepkan tetesan dimasukkan. Setelah pengobatan keduanya, pasien sebaiknya tetap pada posisi ini 2-4 menit untuk membiarkan obat berpenetrasi ke dalam sinus. Penetes hendaknya dibilas dengan air hangat dan dikeringkan dengan tissue sebelum menempatkannya kembali ke botol penetes. Kemasan spray plastik tersedia untuk pembuatan resep dengan instruksi "spray". Pasien sebaiknya diberitahukan untuk menjaga kepala tetap lurus atau membengkokkan kepala sedikit ke depan. Ujung nozzle kemudian ditempatkan ke dalam nostril tanpa penghambatan sempurna. Wadah spray ditekan secara lembut sementara pasien bernafas perlahan. Nozzle hendaknya dibilas dengan air dan kemudian dikeringkan dengan tissue sebelum digunakan. 2. Salep dan Jelly

Antibakteri, pengawet dan salep topikal penyejuk kadang-kadang digunakan untuk pengobatan inflamasi, kondisi dermatologi dan celah vestibula hidung. Jelli larut air jarang digunakan untuk pengobatan vasokontriktor (Jelly efedrin) atau anestesi lokal (jelly Pramoxine) paling tinggi dalam kanal nasal ketika aksi diperpanjang diinginkan. Jelli-jelli ini disusun dari tragakan, metil selulosa, dan bahan-bahan bercampur air. Sediaan basis minyak sebaiknya tidak digunakan dalam basis umum. 3. Inhalan Obat-obat atau kombinasi obat yang oleh dengan tekanan uap tinggi dapat membawa udara dengan segera ke dalam rongga hidung. Mentol, eukaliptol, dan timol secara luas digunakan dalam inhaler OTC. Propel Hexedril, vasokonstriktor menguap adalah bahan aktif yang secara luas digunakan untuk sediaan hidung (Benzedrex inhaler). Sediaan ini tidak membingungkan dengan inhalasi dimana obat atau penggunaan larutan obat sebagai nebulizer (kabut) dimaksudkan untuk mencapai jaringan pernafasan. 4. Inhaler Hidung Bertekanan Beberapa produk inhaler bertekanan tersedia untuk penggunaan kortikosteroid untuk membran hidung. Farmasis hendaknya secara hati-hati menginstruksikan pasien dalam penggunaan sehari bentuk dosis ini untuk memastikan keefektifan dan kelengkapan. Hidung sebaiknya menghembuskan untuk membersihkan nostril dan inhaler dikocok dengan segera sebelum digunakan. Biasanya, inhaler dimasukkan, kepala dimiringkan ke belakang dan potongan plastik nasal (nozzle) secara hati-hati dimasukkan ke dalam satu nostril. Lubang hidung yang satu ditutup menggunakan tekanan jari. Sementara bernafas perlahan melalui nostril. Canister ditekan ke bawah secara hati-hati antara jari dan jempol untuk membebaskan dosis obat.

Kemudian pasien hendaknya bernafas melalui mulut. Prosedur ini diulang untuk lubang hidung lain. Memastikan dengan mengocok lagi inhaler sebelum digunakan. 3. Anatomi dan Fisiologi Hidung Anatomi dan Fisiologi Hidung (11 : 912) Proetz, seorang penulis fisiologi hidung menyatakan bahwa semua penyakit infeksi pada batang hidung disebabkan oleh satu sumber yaitu kegagalan menyaring dan membersihkan. Seperti berulang kali ia tekankan bahwa kelembaban adalah hal penting dalam mekanisme pertahanan utama hidung yang baik-pergerakan silia yang secara konstan menarik lapisan mukosa ke belakang ke arah nasofaring. Bagian besar lubang hidung dilindungi dengan membran mukosa pernafasan, membran mukosa pernafasan terbatas pada bagian atas dan bagian tengah turbin dalam septum hidung. Epitelium pada bagian hidung mengandung sel-sel silia kolumnar dimana diselingi sel goblet. Bagian terakhir merupakan lubang dan kelenjar mukosa. Lapisan mukus bergerak terus-menerus menuju ke faring dengan aksi pemukulan dari silia. Karakteristik lain dari membran mukosa adalah mempunyai jaringan kapiler yang sangat banyak dalam epitelium dan di sekitar kelenjar. Jaringan kapiler ini menghubungkan sistem vena superfisial pada sistem arteri yang lebih dalam. Vena balik merupakan ruangan darah superfisial menuju pleksus vena yang lebih dalam dan biasanya sangatlah besar seperti membentuk sinus yang besar. Ada tidaknya kontrol netral terlibat dalam pemukulan silia dalam hidung manusia belum diketahui saat ini. Burn dengan jelas mengindikasikan bahwa asetilkolin diproduksi lokal dan konsentrasi lokal kolinesterase telah dideteksi. Konsentrasi inhibitor kolinesterase yang sangat encer dan mempercepat pergerakan silia. Sementara konsentrasi yang amat tinggi memperlambatnya. Baik atropin

maupun kurare akan memperlambat pukulan silia. Semua efek ini bersifat reversibel. Kelenjar mukosa bersekresi terus-menerus melalui proses grandular secara aktif, bukan melalui proses pasif, eksudatif atau transudatif, sebagaimana dipercaya dahulu. Dengan ini menginjeksikan fluoresensi secara intravena. Ingelsted dan Ivstam telah menunjukkan bahwa obat fluoresensi ini tidak dapat dideteksi dalam sekresi hidung normal, meskipun ditransfer dari darah ke dalam cairan intestinal, saliva dan cairan berair dan air mata. Pasien dengan rhinitis alergi kronis mengalami hal yang sama, tapi pasien rhinitis atau sinusitis akut, zat warna tersebut masuk melalui sekresi hidung dengan mudah seperti eksudasi. Pada demam Hay akut derajat fluoresensi menyarankan bahwa setelah meningkat baik pada aktivitas eksudasi glandular. Mukus juga merupakan perlindungan pada mukosa itu sendiri. Jika larutan histamin ditempatkan dalam hidung tanpa merusak lapisan mukosa, tidak terjadi fluoresensi. Bagaimanapun jika mukus dihilangkan fluoresensi ditandai dengan saluran nasal dan mukosa menjadi banyak. Pemberian parenteral antihistamin telah terbukti menghambat reaksi inflamasi ini. Lapisan mukosa merupakan lapisan sekresi yang berlapis-lapis yang melindungi membran mukosa pada traktus pernafasan bagian atas dan memperluasnya di atas permukaan saluran hidung, sinus paranasal, trakea, faring, esofagus dan ke dalam perut. Lapisan mukosa bergerak terus-menerus, bergerak melalui aksi silia. Arah aliran mukus masuk menuju nasofaring. Mukus merupakan sistem mukoprotein yang agak kental, pseudoplastik. Di bawah kondisi normal benda-benda asing seperti debu, bakteri, serbuk atau tetesan minyak terperangkap dalam lapisan dan dikeluarkan dari hidung menuju nasofaring. Komposisi mukus hidung tidak diketahui secara tepat karena tidak mungkin untuk mendapatkan sampel yang cocok untuk analisis kimia.

Mukoprotein telah ditemukan mengandung rantai polimer glukosamin dan atau asam glukoronat sebagai komponen protein. Ikatan ini dapat berupa ikatan ionik, ekuivalen (ester anhidrida, hidrogen dan ikatan-ikatan lainnya). Mukus hidung, dikatakan 6 kali lebih kental dari mukus lambung. Viskositas sekresi hidung penting untuk keefektifan aksi silia. Bila terlalu tipis atau terlalu tebal silia tidak mampu untuk menggerakkan lapisan mukus. Anderson dan Rubin percaya bahwa sedikitnya 20% kasus hidung gejalanya meningkat karena peningkatan viskositas yang menyebabkan kekeringan. Banyak hal yang dapat meningkatkan atau menurunkan produksi mukus diantaranya temperatur, debu dan alergi, obat (atropin), stimulasi atau depresi dan serangan virus. Anatomi dan Fisiologi Hidung (9 : 156) Rongga hidung adalah panjang, sempit, channel tinggi, dibagi menjadi dua bagian oleh septum hidung. Beberapa rongga terbuka dalam hidung disebut kolektif paranasal dan termasuk variasi sinus. Paling banyak rongga hidung ditutupi oleh membran mukosa yang secara ekstrim kaya akan jaringan kapiler dan mengandung sejumlah kelenjar mukus. Mukus secara terus-menerus diproduksi dan disekresi dan lapisan mukus secara terus-menerus bergerak maju ke faring dengan aksi pemukulan silia, projeksi rambut kecil menutupi paling banyak rongga hidung. Proetz, seorang penulis fisiologi hidung menyatakan bahwa semua penyakit infeksi pada batang hidung berasal dari satu sumber yaitu kegagalan filter untuk membersihkan dirinya sendiri. Kelembaban adalah bagian penting dalam mekanisme pertahanan hidung-silia yang baik, yang secara konstan menarik lapisan mukosa ke belakang menuju nasofaring. Mukus merupakan sistem yang kental, psudoplastik, sistem mukoprotein yang bertindak sebagai pelindung untuk menutupi mukosa sebaik bahan-bahan yang

terperangkap masuk ke dalam rongga hidung. Di bawah kondisi normal, benda asing seperti debu, serbuk, bakteri dan tetesan minyak terperangkap dalam lapisan mukus dan dikeluarkan dari hidung menuju nasofaring dimana ia akan tertelan atau dikeluarkan. Aksi silia efektif atau pemukulan silia tergantung pada viskositas mukus. Banyak simptom yang tidak menyenangkan dalam penyakit nasal adalah peningkatan viskositas dan dehidrasi sekresi. Beberapa kondisi dapat meningkatkan atau mengurangi produksi dan atau viskositas mukus. Diantaranya adalah efek temperatur dan kelembaban, debu, serbuk, dan alergi lain variasi obat, infeksi bakteri dan virus. pH normal sekresi hidung kira-kira 5,5-6,5. pH cenderung lebih meningkat menuju alkali dengan kondisi tertentu seperti dingin umumnya, rhinitis, sinusitis dan lain-lain. Sekresi nasal muncul untuk mempunyai sedikit kapasitas dapar dan terus-menerus penggunaan sediaan yang mempunyai nilai pH beberapa unit menghilangkan dari nilai normal yang dapat mengiritasi dan menyebabkan kerusakan jaringan. Sediaan hidung alkali sebaiknya tidak digunakan untuk kondisi inflamasi akut ketika hanya membuat keadaan menjadi lebih baik untuk mentoleransi variasi tonisitas yang relatif besar, larutan isotonis (0,9% NaCl) tampak dapat bercampur dan tidak mengiritasi hidung, sementara sangat hipo atau larutan hipertonik dapat menyebabkan iritasi. Beberapa obat diabsorpsi secara sistemik melalui vaskuler hidung setelah pemakaian intranasal dan sistem pembawa nasal semipadat dipelajari untuk mengontrol pembebasan obat. Bagaimanapun sejumlah kecil penggunaan intranasal merupakan metode rute penggunaan yang baik untuk mencapai level darah signifikan dari obat.

Absorpsi obat yang diberikan secara intranasal dapat terjadi dari jaringan pencernaan setelah mereka dialiri dari rongga hidung. Untungnya, paling banyak obat digunakan secara intranasal diberikan dalam jumlah kecil dari dosis, efektif yang biasa atau dirusak oleh saluran pencernaan. Potensi untuk absorpsi melalui rute ini perlu dipertimbangkan, bagaimanapun khususnya jika sejumlah besar larutan digunakan atau diberikan untuk bayi atau anak kecil.

4. Absorpsi Obat Pada Hidung (11 : 915) Terdapat sejumlah kasus dimana absorpsi obat dibutuhkan pada kondisi saat injeksi parenteral atau pemberian rektal tidak praktis. Pemberian obat pada pasien yang mual dan muntah memiliki kerugian nyata yaitu kesulitan menelan obat dan menahan obat dan relatif lambat. Rute intranasal tampaknya cukup ideal untuk tujuan ini karena kenyamanan dan kemudahan pemberian. Tanndorf dan pekerjanya, mempelajari absorpsi hiosin dan atropin dari mukosa hidung manusia. Mereka menggunakan derajat penghambatan produksi saliva sebagai test untuk sejumlah obat yang diabsorpsi. Penemuan mereka menunjukkan kegunaan pemberian nasal untuk penggunaan obat. Pentingnya rute pemberian dijelaskan. Dalam semua kasus produksi saliva secara signifikan berkurang di bawah level kontrol, diikuti pembalikan menuju level normal. Kapsul yang diberikan secara oral memberikan respon yang paling lambat, diikuti oleh penggunaan cairan oral. Penundaan dalam kasus ini tampaknya tergantung pada waktu yang dibutuhkan untuk melarutkan kapsul dan garam alkaloid padat. Injeksi subkutan memberikan respon yang paling nyata dan cepat, dan penggunaan pada hidung menempati posisi tengah. Pemberian hiosin dalam garam normal dengan spray tidak menghasilkan respon sebaik penggunaan pada

tetes hidung. Bagaimanapun, ketika 0,01% natrium lauril sulfat ditambahkan, pengurangan tegangan permukaan membiarkan obat berdifusi dengan cepat ke daerah absorpsi, dimana obat diabsorpsi dengan baik atau sedikit lebih baik daripada tetes hidung. Bagaimanapun, pemberian jumlah obat yang tepat dengan penggunaan spray ditemukan agak sulit. Penelitian tambahan terhadap kelompok yang termasuk pemberian sublingual, yang ditemukan lebih baik daripada rute nasal maupun subkutan dan hanya sedikit lebih baik daripada pemberian oral. Tidak ada komplikasi sekunder yang ditemukan. Monto dan Rebuck melaporkan penggunaan vitamin B12 dengan rute nasal. Penulis menemukan bahwa inhalasi kristalin vitamin B12 dalam larutan NaCl dan serbuk laktosa menghasilkan respon klinik cukup dan respon hematologikal dalam 12 persen pasien anemia yang kambuh.

5. Respon Silia Terhadap Obat Respon silia terhadap obat dan pengaruh lainnya telah diteliti oleh Proetz dan yang lain. Hasil penelitian ini telah diumumkan dan beberapa penemuan telah dirangkum sebagai berikut : (11 : 913-915) 1) Larutan NaCl Silia baik pada manusia maupun kelinci tetap aktif untuk waktu lama dalam larutan NaCl 0,9% pada suhu antara 25 0C dan 30 0C. Bila konsentrasi NaCl ditingkatkan, silia pada daerah tertentu berhenti bergerak. Setelah perlambatan gerakan terjadi di daerah lain. Pada konsentrasi 4-4,5%, semua aktivitas berhenti. Jika membrane dicuci dengan air suling lalu dicelup lagi dalam larutan NaCl 0,9% maka aktivitas pada mula-mulanya berbeda dari

kontrol tapi kemudian akan kembali seperti semula. Bila konsentrasi larutan dikurangi, ketajaman silia bahkan perlahan-lahan akan berkurang dan permukaan menjadi berkabut, sekelompok silia bahkan tidak dapat dibedakan. Semua pergerakan akan berhenti pada konsentrasi 0,2-0,3%. Penambahan NaCl pada berbagai konsentrasi tidak mampu mengembalikan pergerakan seperti semula. Silia menjadi rusak permanen bila dipaparkan larutan hipotonis, dalam jangka waktu yang cukup. Pada dasarnya, efek air suling setara dengan NaCl yang sangat encer. 2) Pengurangan Ion Kalsium Penggunaan tartrat, sitrat, oksalat, dan bahkan bahan pengkhelat lainnya untuk kalsium atau sulfat dan fosfat menghentikan pergerakan silia bila diberikan dalam garam fisiologis. Sejumlah tetesan mukus terbentuk pada silia. Transfer kembali ke lingkungan normal akan mengembalikan aksi silia seperti semula. Pemberian berulang pada tikus dan kelinci menyebabkan sinusitis akut. 3) Bahan Yang Bercampur Air Saat obat-obat sulfa populer dalam pengobatan hidung, beberapa peneliti mempelajari penggunaan propilenglikol tidak larut sebagai pembawa untuk melarutkan bentuk asam dari sulfa, sehingga mengurangi kealkalian yang tinggi dari sulfonamida. Meskipun propilenglikol murni sangat hipertonik yang akan menarik dari jaringan di sekitarnya, yang merupakan sistem yang digunakan untuk penggunaan klinis untuk jangka waktu yang lama. Alkohol dalam cairan isotonis telah digunakan dalam konsentrasi sampai 10% terhadap efek yang nyata. Proetz menstimulasi sekresi mukus dengan penggunaan lokal larutan alkohol (4%) dan gliserin (4%) dalam larutan garam

normal. Hal ini menyebabkan turbinasi pada pasien dalam posisi duduk. Bila larutan digunakan dalam bentuk tetes, maka akan timbul rasa sakit. 4) Minyak-minyak Bila digunakan dalam membran, maka minyak terletak stasioner sebagai lapisan berat yang menyebabkan gangguan pada aksi silia normal. Minyak tidak cocok sebagai pembawa karena obat yang terlarut di dalamnya karena obat-obat tersebut tidak mampu menembus mukosa dan mencapai lapisan seluler. Minyak-minyak juga berbahaya karena telah terbukti secara langsung menyebabkan pneumonia lipoid. Namun, minyak-minyak sayur yang mempunyai asam lemak bebas yang rendah dikatakan kurang berbahaya daripada minyak mineral atau minyak hewan. Penggunaan minyak teriodisasi sebagai medium opak dalam X-ray untuk sinus dan bronki telah ditunjukkan sebagai prosedur yang aman. 5) Protein Perak Ringan Bila protein perak koloidal digunakan pada membran mukosa, pergerakan silia awalnya dihambat tapi terpulihkan dengan baik setelah pemberian larutan garam hangat. Edema dan fragmentasi epitelium terjadi setelah kontak panjang argyrols (10%) dengan mukosa sinus frontal(harus diketahui bahwa argyrols merupakan kompleks protein perak oksida yang membutuhkan reaksi alkali kuat). 6) Larutan Perak dan Zink Pada penggunaan paling sedikit 0,5% perak nitrat menghancurkan silia. Hasil semua sama ditemukan setelah pemberian zink sulfat. 7) Larutan Kokain

Pada konsentrasi lebih dari 2,5%, kokain memparalisis silia, pada konsentrasi yang lebih rendah tidak ada efek selain pengerutan dan penyusutan permukaan. 8) Larutan Efedrin Konsentrasi efedrin (0,5-1%) dalam larutan garam normal tidak menghasilkan perubahan aksi silia, dan hal yang sama dapat diasumsikan pada kebanyakan komponen simpatomimetik sintetik yang umum digunakan.

9) menguap lainnya

Kamfer, timol, eukaliptol, mentol, dan bahan-bahan

Bahan-bahan ini dapat menyebabkan pengurangan pergerakan silia dan efek yang merugikan lainnya. Pemulihan aktivitas normal diharapkan, kecuali dengan timol. Larutan dengan konsentrasi kurang dari 0,1% tidak mempunyai efek yang berarti. Uap tidak berefek. 10) Antibiotik

Penisilin (garam natrium) tidak merusak silia bila digunakan dalam larutan yang mengandung 250 dan 500 unit/ml (dalam NaCl isotonis). Pada konsentrasi 5000 unit/ml terjadi penurunan kecepatan pukulan dan bahkan menghentikan aksi. Suspensi berair tirotrisin (1:2000 dan 1:5000) menahan pergerakan silia dengan sempurna. Tidak diketahui apakah data ini dalam perlakuan di bawah kondisi isotonis. Streptomisin dalam garam isotonis dalam 1000 unit/ml atau kurang, tidak mempunyai efek pengurangan atau merugikan membran mukosa hidung. Namun Fabricant melaporkan bahwa

penggunaan Na atau Ca Penisilin (Ca atau Na) sampai 5000 unit/ml tidak mempunyai efek pada membran mukosa pernafasan kelinci. 11) Atropin

Bila diberikan secara oral, atropin menyebabkan pengeringan dan bahkan perhentian gerakan silia. Pemakaian lokal mengurangi produksi mukosa. 12) Natrium Sulfarthiazol

Bila diberikan dalam larutan berair 5%, natrium sulfathiazol tidak mempengaruhi pemukulan silia dengan cepat dan berarti, tapi pada pH sekitar 10 (alkali tinggi), efek menyengat terjadi setelah pemberian berulang, tidak hanya pada silia tapi juga pada berbagai lapisan pada mukosa hidung, yang mungkin dapat menyebabkan kerusakan. Garam-garam sulfonamida lainnya seperti Na-suldosetamida, yang dapat didapar di bawah pH tanpa pengendapan, akan menunjukkan sedikit reaksi kerusakan. Bentuk asam bebas dari sulfonamida, terlarut dalam propilenglikol atau campuran propilenglikol-air dikatakan kurang mengiritasi. 13) Benzalkonium klorida dan Larutan Kuartener Lainnya

Larutan berair benzalkonium klorida 1:1000 dan 1:2000, sebagaimana air suling sendiri, menyebabkan penghentian aksi. Tidak tercatat efek yang merugikan pada efektivitas silia bila digunakan kuartener pada konsentrasi yang sama dalam larutan ragam isotonis. Baik pada kontrol garam dan larutan garam kuartener 1:10.000, silia bergerak aktif apabila dicelup selama 1 jam dalam larutan ini. Tampaknya kuartener tidak merugikan bila digunakan dalam medium isotonis. 14) Larutan Timerosol

Konsentrasi 1:1000 timerosol atau lebih sangat ekstrim dan menyebabkan penghentian gerakan silia secara permanen setelah pemberian 4 menit.

15)

Surfaktan Anionik dan Nonionik

Beberapa surfaktan anionik berbeda termasuk Na Lauril Sulfat, Na-dioktil sulfosuksinat dan alkil benzen sulfonat telah dicuci pada membran excise dan intact. Hampir 0,01% dapat ditoleransi tanpa efek. Larutan 0,05% Na-Lauril Sulfat dilaporkan menyebabkan sedikit rasa membakar. Lebih dari 200 pasien menggunakan larutan yang mengandung 0,01% dan dilaporkan tidak terjadi sensasi yang berarti pada penggunaanya. Surfaktan nonionik tampaknya ditoleransi pada konsentrasi yang lebih tinggi.

6. Syarat-syarat Tetes Hidung (7 : 253) a. Isotonisitas Penggunaan larutan berair lambat laun memusatkan perhatian pada pertanyaan tonisitas karena ditemukan bahwa baik larutan konsentrasi rendah dan tinggi keduanya menyebabkan iritasi pada membran mukosa hidung yang tidak nampak jika larutan isotonis atau sedikit hipertonis digunakan. Jadi, larutan dektrosa isotonis dan larutan NaCl isotonis telah menjadi bagian dari pelarut untuk sediaan ini. b. Konsentrasi Ion Hidrogen Fabricant telah menemukan bahwa pH sekresi hidung orang dewasa tidak tetap tetapi secara normal bervariasi dari 5,5-6,5, sementara pH hidung anakanak pada range 5-6,7. pH cenderung naik menjadi alkali selama serangan rhinitis akut. Jika terdapat inflamasi kuat, pergeserannya menuju ke lebih asam. Larutan yang sedikit asam lebih efektif dalam pengobatan flu dan infeksi sinus. Telah ditemukan bahwa penggunaan obat alkali dalam hidung cenderung untuk meningkatkan sekresi lebih alkali. Sementara penggunaan larutan asam cenderung untuk meningkatkan keasaman sekresi. Oleh karena

itu, penggunaan tetes hidung yang lebih alkali selama rhinitis dan rhino sinusitis akut dikontraindikasikan karena cenderung untuk membuat sekresi abnormal yang sudah alkali lebih alkali, atau sedikitnya memperpanjang kondisi ini. Konsentrasi ion hidrogen dalam larutan hidung juga penting untuk alasan lain. Asam rendah adalah tidak menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri. Perubahan pH juga berhubungan dengan aksi silia normal dan menghambat aksi perlindungan silia, yang sangat tidak diinginkan. Telah ditunjukkan bahwa obat dari garam Na sulfonamida telah merusak aksi silia, aksi menyengat pada membran mukosa dan cenderung menginduksi sensitivitas obat. Untuk mengatasi alkali kuat, sifat mengiritasi dan penguraian sulfonamida, Yonkman telah merekomendasikan penggunaan propilenglikol untuk obat-obat ini. Dia menggunakan 3% larutan propilenglikol sulfathiazol dan 10% larutan sulfonamida. Larutan sedikit asam dalam reaksinya. Bagaimanapun, sulfonamida yang umum digunakan dalam tetes hidung adalah sulfasetamid Na dan sulfisoxazol dietanolamin. Ini adalah sulfonamida larut dan esensial netral dalam reaksi (pH 7,4-7,5) dan tidak menyebabkan iritasi disebabkan oleh sulfonamida yang lebih alkali.

7. Pewadahan (16 : 352) Tetes hidung dibuat dalam jumlah kecil (10 atau 25 ml) dalam botol gelas berwarna bergalur dengan plastik penyegel dan penetes. Pemilik spray menyiapkan dalam wadah tipe bertekanan. Penggunaan jangka waktu lama obat vasokontriktor dalam hidung dapat menyebabkan kerusakan mukosa hidung.

INJEKSI

1 Definisi Injeksi FI III : 13 Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Parrot : 283 Injeksi atau parenteral adalah sediaan farmasetis steril yang diberikan dengan menembus satu atau lebih lapisan kulit. Scoville's : 124 Injeksi adalah larutan yang dimaksudkan untuk dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan alat suntik. PTM : 3 Injeksi adalah sediaan cair dari obat yang dimaksudkan ke tubuh atau melalui kulit atau selaput lendir.

RPS 18th : 1545 Parenteral merupakan rute pemberian obat melalui injeksi di bawah untuk menembus suatu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa.

FN : 317 Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan

lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Kesimpulan Injeksi atau parenteral adalah sediaan farmasetis steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir atau menembus suatu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa menggunakan alat suntik. II.1.2 Rute-rute Injeksi DOM Martin : 970 1. Parenteral Volume Kecil a. Intradermal Istilah intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti lipis dan "dermis" yang berarti sensitif, lapisan pembuluh darah dalam kulit. Ketika sisi anatominya mempunyai derajat pembuluh darah tinggi, pembuluh darah betul-betul kecil. Makanya penyerapan dari injeksi disini lambat dan dibatasi dengan efek sistemik yang dapat dibandingkan karena absorpsinya terbatas, maka penggunaannya biasa untuk aksi lokal dalam kulit untuk obat yang sensitif atau untuk menentukan sensitivitas terhadap mikroorganisme. b. Intramuskular Istilah intramuskular (IM) digunakan untuk injeksi ke dalam obat. Rute intramuskular menyiapkan kecepatan aksi onset

sedikit lebih normal daripada rute intravena, tetapi lebih besar daripada rute subkutan. c. Intravena Istilah intravena (IV) berarti injeksi ke dalam vena. Ketika tidak ada absorpsi, puncak konsentrasi dalam darah terjadi dengan segera, dan efek yang diinginkan dari obat diperoleh hampir sekejap. d. Subkutan Subkutan (SC) atau injeksi hipodermik diberikan di bawah kulit. Parenteral diberikan dengan rute ini mempunyai perbandingan aksi onset lambat dengan absorpsi sedikit daripada yang diberikan dengan IV atau IM. e. Rute Injeksi Lain Selain empat rute parenteral primer, beberapa rute juga digunakan untuk aksi khusus, kadang-kadang untuk aksi lokal daripada efek sistemik. Rute intra-arterial; disuntikkan langsung ke dalam arteri, digunakan untuk rute intravena ketika aksi segera diinginkan dalam daerah perifer tubuh. Intrakardial; disuntikkan langsung ke dalam jantung, digunakan ketika kehidupan terancam dalam keadaan darurat seperti gagal jantung. Intraserebral; injeksi ke dalam serebrum, digunakan khusus untuk aksi lokal sebagaimana penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal neuroligia.

Intraspinal; injeksi ke dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat dalam daerah lokal. Untuk pengobatan penyakit neoplastik seperti leukemia. Intraperitoneal dan intrapleural 2. Parenteral Volume Besar Untuk pemberian larutan volume besar, hanya rute intravena dan subkutan yang secara normal digunakan. a. Intravena Keuntungan rute ini adalah (1) jenis-jenis cairan yang disuntikkan lebih banyak dan bahkan bahan tambahan banyak digunakan IV daripada melalui SC, (2) cairan volume besar dapat disuntikkan relatif lebih cepat; (3) efek sistemik dapat segera dicapai; (4) level darah dari obat yang terus-menerus disiapkan, dan (5) kebangkitan secara langsung untuk membuka vena untuk pemberian obat rutin dan menggunakan dalam situasi darurat disiapkan. Kerugiannya adalah meliputi : (1) gangguan kardiovaskuler dan pulmonar dari peningkatan volume cairan dalam sistem sirkulasi mengikuti pemberian cepat volume cairan dalam jumlah besar; (2) perkembangan potensial trombophlebitis; (3) kemungkinan infeksi lokal atau sistemik dari kontaminasi larutan atau teknik injeksi septik, dan (4) pembatasan cairan berair. b. Subkutan Penyuntikan subkutan (hipodermolisis) menyiapkan sebuah alternatif ketika rute intravena tidak dapat

digunakan. Cairan volume besar secara relatif dapat digunakan tetapi injeksi harus diberikan secara lambat. Dibandingkan dengan rute intravena, absorpsinya lebih lambat, lebih nyeri dan tidak menyenangkan, jenis cairan yang digunakan lebih kecil (biasanya dibatasi untuk larutan isotonis) dan lebih terbatas zat tambahannya. PTM : 6-11 1. Subkutan (s.c) Injeksi yang dimasukkan ke dalam jaringan lunak tepat di bawah permukaan kulit karena ketersediaan ruangan dalam jaringan terbatas, volume injeksi tidak lebih dari 1 ml. Perhatian diinginkan untuk membuat formulasi yang berhubungan dengan kondisi pH dan tonisitas. 2. Intramuskular (i.m) Injeksi yang secara langsung dimasukkan ke dalam otot, biasanya lengan atau daerah panggul. Rute ini juga digunakan jika obat mengiritasi atau tidak larut dalam air atau minyak sehingga obat tersebut harus digunakan dalam bentuk suspensi. Volume injeksi harus tetap kecil, umumnya tidak lebih dari 2 ml. 3. Intravena (i.v) Injeksi yang dimasukkan langsung ke dalam aliran darah. Hal ini memungkinkan dengan hati-hati untuk memberikan volume kedil larutan pekat yang secara normal akan mengiritasi jaringan. Rute ini diberikan secara perlahan-lahan sehingga larutan diencerkan oleh darah mengalir melewati titik dimana jarum

disuntikkan. Rute ini juga digunakan untuk pemberian volume besar dari penggantian dan larutan hiperalimentasi. 4. Intrakutan (i.c) Injeksi yang dimasukkan secara langsung ke dalam epidermis di bawah stratum corneum. Rute ini digunakan untuk memberi volume kecil (0,1-0,5 ml) bahan-bahan diagnostik atau vaksin. 5. Intratekal Larutan yang digunakan untuk menginduksi spinal atau anestesi lumbar oleh larutan injeksi ke dalam ruang subarachnoid. Cairan serebrospinal biasanya diam pada mulanya untuk mencegah peningkatan volume cairan dan pengaruh tekanan dalam serabut saraf spinal. Volume 1-2 ml biasa digunakan. Berat jenis dari larutan dapat diatur untuk membuat anestesi untuk bergerak atau turun dalam kanal spinal, sesuai keadaan tubuh pasien. 6. Intra-artikular Injeksi yang digunakan untuk memasukkan bahan-bahan seperti obat antiinflamasi secara langsung ke dalam sendi yang rusak atau teriritasi. 7. Intrakardial Secara langsung ke dalam jantung, merupakan suatu rute yang mana digunakan untuk menginjeksi ke dalam aliran darah volume besar dari larutan hipertonik atau larutan teriritasi seperti dekstrosa 70%. Proses ini membutuhkan bantuan kateter. Kateterisasi meliputi proses pembedahan dan secara

umum hanya dilakukan dalam unit-unit tertentu dari rumah sakit yang lebih besar. 8. Intraperitoneal (i.p) Merupakan rute yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin rabies. Rute ini juga digunakan untuk pemberian larutan dialisis ginjal. 9. Intrasisternal dan Peridural Injeksi ke dalam sisterna intracranial dan durameter pada urat spinal. Keduanya merupakan cara yang sulit dilakukan, dengan keadaan kritis untuk injeksi.

PDF : 26-29 o Hiperdermoklisis Deskripsi : kegunaan rute pemakaian subkutan untuk infus larutan volume besar ke dalam jaringan subkutan, disebut hipodermoklisis. Indikasi : Meskipun jarang digunakan sekarang, pemakaian cairan secara hiperdermoklisis dapat diindikasikan jika kecepatan absorpsi lambat diinginkan atau jika tidak ada vena yang cocok (misal untuk bayi atau lanjut usia). Cairan seperti Ringer Laktat; dektrosa 2,5% dalam 0,45% larutan garam, dan garam normal dapat diinjeksikan untuk mempertahankan atau pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit. Perhatian : Injeksi harus diberikan perlahan-lahan untuk mencegah pembengkakan jaringan. Larutan hipertonis, cairan

bebas elektrolit, asam amino, emulsi lemak, dan lainnya berbeda dari pH tubuh secara signifikan tidak digunakan. Infeksi lokal adalah umum dan mungkin menjadi masalah. Bila larutan noneletrolit hipertonik disuntikkan, sejumlah besar cairan dapat dibawa dari kompartemen vaskuler, menghasilkan penurunan volume plasma dan shok. o Intra-arterial Dekripsi : Injeksi atau infus ke dalam arteri yang membawa langsung pada organ target. Indikasi: Rute intra-arterial digunakan umumnya untuk tujuan diagnosis seperti menginjeksikan bahan-bahan radiopak untuk studi roentgenografik dari cadangan vaskuler pada berbagai organ atau jaringan (seperti koroner, serebral, pulmonari, renal, enterik, atau arteri perifer). Hampir semua arteri dicapai dengan kateterisasi arterial. Penggunaan rute intra-arterial untuk tujuan pengobatan adalah jarang dan terbatas pada umumnya untuk kemoterapi organ tertentu, seperti mengobati kanker lokal tertentu (seperti melanoma malignant pada ekstremitis bawah), dimana perfusi regional dengan konsentrasi tinggi dari obat toksis (yang bila diberikan secara i.v dapat dihubungkan dengan reaksi sistemik serius) yang dapat tercapai. Perhatian: Rute ini sangat berbahaya karena produk-produk yang menggunakan rute ini tidak diencerkan secukupnya ataupun disaring untuk paru-paru, hati, ginjal sebelum kontak dengan jaringan perifer atau organ vital yang terlindung oleh

arteri. Produk yang terkontaminasi dengan mikroorganisme endotoksin dan atau bahan partikulat dapat menyebabkan komplikasi serius atau reaksi, seperti infeksi (baik intra-arterial atau ekstra-arterial) atau tromboembolisme arteri atau vasospasme, yang dapat menyebabkan iskemia, infarksi, atau gangren pada jaringan atau organ. Sebagai tambahan, bila teknik pemasukannya salah, kerusakan pada intima arteri dan dinding pembuluh dapat terjadi, sehingga ekstravasi perdarahan serius ataupun aneurisme disserting dapat terjadi. Jika udara diinfuskan dengan tidak sengaja, embolisme udara dengan akibat iskemia dan atau infarksi jaringan dapat terjadi, dan keadaan yang biasanya tidak muncul apabila sejumlah kecil udara diinfuskan ke dalam sistem vena. o Intralesional Deskripsi: Injeksi bahan obat langsung ke dalam atau di sekitar luka, biasanya pada atau dalam kulit atau jaringan lembut, untuk mencapai efek terapetik. Indikasi : Injeksi bahan-bahan obat ke dalam atau sekitar luka umumnya telah berguna jika diinginkan untuk menetralkan berbagai toksin seperti tetanus dimana injeksi antitoksin ke dalam atau sekitar luka telah digunakan. Terapi serupa ditemukan tidak berguna pada rabies, dimana diinjeksikan langsung ke dalam atau di sekitar tempat gigitan. Dermatologis umumnya menggunakan rute ini untuk mengobati psoriasis, lichen simpleks, sarkoid, lichen planus hipertropikus, herpes zoster (dan post-zoster neuralgia) dan jerawat sistik atau

nedulus, dengan steroid lokal. Keloid juga telah sering ditangani dengan injeksi lokal seperti ini, tetapi biasanya dengan steroid berdosis tinggi. Perhatian : Komplikasi yang paling sering terjadi yaitu infeksi, biasanya dari organisme yang baru masuk pada nasokamial. Meskipun mengalami kesulitan, tergantung pada tipe luka yang diinjeksikan, lingkungan steril harus disiapkan sebelum diinjeksikan. Dengan penyakit infeksi, penyebaran lokal dari proses yang diobati dapat terjadi. o Intraokuler Deskripsi : Ada 4 tipe injeksi intraokuler yang digunakan : 1. Chamber arterior: injeksi atau irigasi

langsung ke dalam chamber anterior mata. 2. Intravitreal : injeksi langsung ke dalam

lubang vitreous pada mata. 3. Retrobulbar : injeksi di sekitar ( bukan

ke dalam) bagian posterior bulat. 4. Subkonjugtiva : meskipun termasuk di

bawah intraokuler, injeksi subkonjungtiva (dan retrobulbar) bukanlah injeksi intraokuler. Injeksi semacam ini diberikan di bawah konjugtiva, sehingga obat-obat berdifusi melalui limbus dan sklera ke dalam mata. Indikasi : Setiap rute digunakan untuk pengobatan infeksi dan inflamasi pada maya yang tidak diobati secara efektif oleh pengobatan secara topikal atau sistemik, untuk anestesi globe (retrobulbar) dan untuk dilatasi pupil dengan sikloplegik dan

midriatik. Memasukkan obat ke dalam mata adalah mengalami kesulitan, sebagai transpor intraokuler dan difusi adalah miskin. Injeksi intraokuler adalah dilengkapi seringkali oleh infus intravena obat terapetik. Pemilihan tipe injeksi intraokuler tergantung pada penyakit yang ada dan lokasi yang tepat pada penyakit tersebut pada mata. Perhatian : Perhatian ekstra dan teknik tepat diinginkan untuk meminimalkan atau mencegah kerusakan pada mata, terutama pada endotelium kornea. Komplikasi yang dapat timbul tergantung pada seleksi rute, adalah kerusakan saraf mata, perdarahan, pelepasan retina, nekrosis retina, katarak dan injeksi obat langsung ke dalam sirkulasi dengan efek sistemik. Infeksi selalu berbahaya dan harus sedapat mungkin dicegah, sebab infeksi dapt menyebabkan kerusakan pada mata yang cepat dan atau kebutaan. Volume larutan yang dapat diinjeksikan ke dalam mata biasanya terbatas, umumnya tidak lebih dari 0,1-0,2 ml. Oleh karena dibutuhkan pengetahuan yang baik tentang anatomi dan fungsi mata maka ahli mata yang dapat melakukannya. o Intrapleural Deskripsi : Biasanya diinjeksikan tunggal ke dalam lubang pleura. Seringkali, pipa tidak permanent dimasukkan ke dada melalui pembedahan, rute ini dapat digunakan untuk tujuan irigasi atau untuk injeksi obat berulang. Indikasi : Seringkali, infeksi atau keganasan meliputi lubang pleura, umumnya bila proses penyakit adalah kerusakan fungsi

pernafasan, maka digunakan rute ini. Enzim (seperti streptokinase dan streptodornase) dapat diinjeksikan pada empyemas cair tebal yang todak dapat dihilangkan oleh absorpsi atau repsorpsi secara alamiah. Bila bagian kiri tidak terobati, empyemas dapat menyebabkan fibrasis, adhesi, penebalan pleura dan restriksi pernafasan. Juga penyebaran karsinoma atau mesothelomas pleura dapat diobati dengan injeksi intrapleural lokal dan bahan-bahan antitumor atau sclerosis, terutama bila infus berulang menjadi masalah. Perhatian : Komplikasi yang paling sering disebabkan oleh infeksi intrapleural adalah pneumothorax (kolaps paru-paru), perdarahan intrapleural dan atau infeksi superimposed. Hal yang terakhir lebih sering terjadi saat pipa dada berada di dalam dada untuk periode waktu yang panjang. o Intrauterin Deskripsi : Diinjeksikan atau diinfuskan melalui jarum yang dimasukkan secara perkutan ke dalam rahim yang hamil. Indikasi : Injeksi atau infus bahan-bahan tertentu seperti garam 20%, prostaglandin E atau urea ke dalam rahim yang hamil digunakan setelah 16 minggu kehamilan untuk menginduksi kerja dalam aborsi medik atau membawa fetus yang masih hidup. Meskipun kebanyakan aborsi dilakukan menggunakan terknik operasi, maka di tangan ahli yang kurang berpengalaman, aborsi medik melalui injeksi intrauterin ini berguna. Sebagai tambahan, bahan-bahan yang berbeda untuk

studi roentgenografik dapat diinjeksikan untuk studi anomaly kongental yang potensial. Perhatian : Infeksi (amnionitis dan myometritis) adalah komplikasi yang paling umum terjadi. Bila garam 20% tidak diinginkan untuk diinfuskan secara i.v pada pasien, kematian dapat terjadi. Untungnya hal ini jarang terjadi. Seringkali, sindrom koagulopati intravaskular terhambur dapat terjadi, yang diakibatkan oleh semua masalah yang disebabkan rute ini. Kemungkinan di tangan orang yang tidak berpengalaman, pembengkakan rahim atai saluran kemih dapat diinjeksikan. o Intraventrikuler Deskripsi : Diinjeksikan langsung ke dalam ventrikel lateral otak. Indikasi : Rute ini utamanya digunakan selama pengobatan infeksi (seperti meningitis bakteri atau fungi dan atau ventrikulitis) dan keganasan (seperti infiltrasi leukemia dari meningitis atau karsinomatosa) melibatkan membran dan cairan serebrospinal yang meliputi SSP. Rute ini digunakan terutama dalam situasi dimana obat-obat yang digunakan berdifusi atau lewat dengan buruk dari kompartemen vaskuler ke dalam ventrikel dan ruang subarachnoid dan atau dimana efek samping sistemik dari bahan partikulat diinginkan (seperti dalam pengobatan meningitis fungi dengan amfoterisin atau dalam terapi infiltrasi leukemia dengan methothexate). Perhatian : Oleh karena cairan serebrospinal adalah organ yang kritis sebagai otak dan cordspinal dank arena salah satu

fungsinya dipercaya untuk menjaga atau melindungi cairan dari organ ini. Pemisahan cairan atau membran termasuk deleterius dan mungkin mati. Adanya bahan asing, kimia, dan biologic, jika diinjeksikan ke sistem dapat mengendapkan inflamasi. Textbook of Pharmaceutics : 553 Injeksi parenteral adalah salah satu yang disuntikkan di bawah satu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa ke dalam daerah khusus dari tubuh. Jenis-jenis berikut yang tersedia : 1. Intradermal atau injeksi intrakutan Untuk diagnosa atau test penyakit tertentu, seperti diphtheria (shick test), tuberculosis (Old Tuberculin, Derivat Protein Tuberculin Murni). 2. Injeksi Subkutan atau Hipodermik Obat-obat vasokontriksi seperti adrenalin dapat ditambahkan untuk efek lokal, seperti anestesi lokal. 3. Injeksi Intramuskular Larutan berair dan berminyak dan juga bentuk suspensi diberikan melalui rute intramuscular. 4. Intravena Larutan berair, tetapi kadang-kadang emulsi minyak dalam air, (seperti Phytomenadion Injection, BP). Volume besar 500 ml atau lebih diberikan dalam bentuk infus i.v untuk mengganti cairan darah yang hilang akibat shok, luka, operasi pembedahan, atau cairan tubuh hilang oleh diarrhoeia, seperti pada kolera. 5. Injeksi Intra-arterial Digunakan ketika aksi segera diinginkan pada daerah perifer.

6. Injeksi Intrakardial Diinjeksikan secara langsung pada otot jantung atau ventrikel untuk pengobatan darurat, bebas bahan partikulat. 7. Injeksi Intratekal atau Subarachnoid Digunakan untuk anestesi spinal. Tidak mengandung bakterisida. 8. Injeksi Intrasisternal Untuk pemberian antibiotik. 9. Injeksi Peridural Injeksi peridural dapat dibuat dalam daerah torax, lumbar dan sakral.

II.1.3 Keuntungan Injeksi SDF : 11 1.Respon fisiologis yang cepat dapat dicapai segera bila diperlukan, yang menjadi pertimbangan utama dalam kondisi klinik seperti gagal jantung, asma, shok. 2.Terapi parenteral diperlukan untukobat-obat yang tidak efektif secara oral atau yang dapat dirusak oleh saluran pencernaan, seperti insulin, hormon dan antibiotik. 3.Obat-obat untuk pasien yang tidak kooperatif, mual atau tidak sadar harus diberikan secara injeksi. 4.Bila memungkinkan, terapi parenteral memberikan kontrol obat dari ahli karena pasien harus kembali untuk pengobatan selanjutnya. Juga dalam beberapa kasus, pasien tidak dapat menerima obat secara oral.

5.Penggunaan parenteral dapat menghasilkan efek lokal untuk obat bila diinginkan seperti pada gigi dan anestesi. 6.Dalam kasus simana dinginkan aksi obat yang diperpanjang, bentuk parenteral tersedia, termasuk injeksi steroid periode panjang secara intra-artikular dan penggunaan penisilin periode panjang secara i.m. 7. Terapi parenteral dapat memperbaiki kerusakan serius pada keseimbangan cairan dan elektrolit. 8.Bila makanan tidak dapat diberikan melalui mulut, nutrisi total diharapkan dapat dipenuhi melalui rute parenteral. PTM : 6 1.Aksi obat biasanya lebih cepat. 2.Seluruh dosis obat digunakan. 3.Beberapa obat, seperti insulin dan heparin, secara lengkap tidak aktif ketika diberikan secara oral, dan harus diberikan secara parenteral. 4.Beberapa obat mengiritasi ketika diberikan secara oral, tetapi dapat ditoleransi ketika diberikan secara intravena, misalnya larutan kuat dektrosa. 5.Jika pasien dalam keadaan hidrasi atau shok, pemberian intravena dapat menyelamatkan hidupnya. Parrot : 283 Beberapa obat mempunyai keuntungan dibandingkan dengan pemberian secara oral.

1.Pemberian rute ini adalah penting ketika jalur gastrointestinal tidak dapat digunakan karena pembedahan atau kekurangan stabilitas, seperti obat-obat penisilin dan penisilin G. 2.Respon fisiologis dari injeksi lebih cepat dan efektif dibandingkan pemberian secara oral. 3.Dalam kasus darurat dimana pasien tidak sadar atau tidak menerima obat oral, pemberian parenteral dapat memberikan efek yang segera dan menentu. 4.Injeksi dapat menghasilkan efek lokal. Anestesi lokal digunakan oleh dokter gigi untuk menginjeksi dekat batang dari serabut dan membantu sensasi nyeri segera pada daerahnya. II.1.4 Kerugian Injeksi SDF : 11 1.Bentuk sediaan harus diberikan oleh orang yang terlatih dan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pemberian rute lain. 2.Pada pemberian parenteral dibutuhkan ketelitian yang cukup untuk pengerjaan secara aseptik dari beberapa rasa sakit tidak dapat dihindari. 3.Obat yang diberikan secara parenteral menjadi sulit untuk mengembalikan efek fisiologisnya. 4.Yang terakhir, karena pada pemberian dan pengemasan, bentuk sediaan parenteral lebih mahal dibandingkan metode rute yang lain. PTM : 11

1.Beberapa rasa sakit dapat terjadi seringkali tidak disukai oleh pasien, terutama bila sulit untuk mendapatkan vena yang cocok untuk pemakaian i.v. 2.Dalam beberapa kasus, dokter dan perawat dibutuhkan untuk mengatur dosis. 3.Sekali digunakan, obat dengan segera menuju ke organ targetnya. Jika pasien hipersensitivitas terhadap obat atau overdosis setelah penggunaan, efeknya sulit untuk dikembalikan lagi. 4.Pemberian beberapa bahan melalui kulit membutuhkan perhatian sebab udara atau mikroorganisme dapat masuk ke dalam tubuh. Efek sampingnya dapat berupa reaksi phlebitis, pada bagian yang diinjeksikan. Parrot : 283 Beberapa orang tidak menyukai pemberian injeksi karena : 1.Umumnya, injeksi itu tidak nyaman. 2.Dibutuhkan orang-orang yang terlatih untuk pemberiannya. 3.Perhatian harus diberikan untuk injeksi intravena. 4.Reaksi sensitivitas lebih sering terjadi pada parenteral daripada bentuk sediaan lain. 5.Terapi parenteral lebih mahal daripada bentuk yang lain karena penggunaan dan produksinya. II.1.5 Komposisi Injeksi SDF : 16 Obat-obat dalam larutan dalam pembawa yang cocok, dengan atau tanpa bahan tambahan, ditujukan untuk penggunaan parenteral yang dikenal sebagai injeksi. Injeksi dapat dikemas sebagai unit dosis

tunggal atau unit dosis ganda, volumenya dapat sejumlah setengah milliliter, seperti injeksi Atropin Sulfat atau sebanyak 1 L seperti injeksi dektrosa. Modern Pharmeceutics : 450-457 1.Bahan aktif 2.Bahan tambahan a. Antioksidan Garam-garam sulfurdioksida, termasuk bisulfit, metasulfit dan sulfit adalah yang paling umum digunakan sebagai antioksidan. Selain itu digunakan : b. Asam askorbat Sistein Monotiogliseril Tokoferol

Bahan antimikroba atau pengawet Benzalkonium klorida Benzil alkohol Klorobutanol Metakreosol Butil p-hidroksibenzoat Metil p-hidroksibenzoat Propil p-hidroksibenzoat Fenol Timerosol

c.

Buffer

d. Bahan pengkhelat

Asetat Sitrat Fosfat

Garam etilendiamintetraasetat (EDTA) e. Gas inert f. Nitrogen Argon

Bahan penambah kelarutan (Kosolven) Etil alkohol Gliserin Polietilen glikol Propilen glikol Lecithin

g.

Surfaktan Polioksietilen Sorbitan monooleat

h.

Bahan pengisotonis Dekstrosa NaCl

i.

Bahan pelindung Dekstrosa Laktosa Maltosa Albumin serum manusia

j.

Bahan penyerbuk Laktosa Manitol Sorbitol Gliserin

3.Pembawa a. Pembawa air Menggunakan air untuk injeksi b. Pembawa nonair dan campuran o Minyak nabati o Pelarut bercampur air II.1.6 Syarat-syarat Injeksi PTM : 11 Rangkuman dari syarat-syarat utama dari produk injeksi : Karena kritikal alami, sediaan parenteral harus disiapkan secara hatihati, mengontrol kondisi lingkungan dan pengemasan untuk menjamin bahwa pada penggunaan produk : Gliserin Etil alkohol Propilen glikol Polietilenglikol 300 Minyak jagung Minyak biji kapas Minyak kacang Minyak wijen

a.

Bebas dari mikroorganisme, steril atau dibuat dari bahan-bahan steril di bawah kondisi yang kurang akan adanya kombinasi mikroorganisme (proses aseptik).

b.

Bahan-bahan bebas dari endotoksin bakteri dan bahan pirogenik lainnya.

c.

Bahan-bahan yang bebas dari bahan asing dari luar yang tidak larut.

Parrot : 284 Semua bahan-bahan yang dimasukkan ke epidermis tubuh harus bebas dari mikroorganisme, pirogen dan iritasi. Dalam injeksi volume besar, pH dan tekanan osmotik, dan aliran harus secara fisiologi bercampur dengan cairan tubuh. SDF : 37 1) Sterilitas Semua bentuk sediaan yang diberikan secara parenteral, larutan optalmik dan beberapa dosis medis yang digunakan dalam hubungannya dengan pemberian bahan yang harus steril, bebas dari semua mikroorganisme hidup, kebebasan dari mikoorganisme hidup dijamin pada awalnya dengan pembuatan produk dengan proses sterilisasi yang sah, kemudian pengemasan produk dalam dalam suatu bentuk yang meyakinkan penyimpanan dari sifat ini. Istilah steril adalah mutlak dan seharusnya tidak pernah digunakan atau betul-betul dipertimbangkan dalam suatu cara relatif baik sebagian atau hampir steril juga diharapkan dalam penanganan berikutnya dari produk selama pemberian, teknik aseptik dan manipulator akan

menjamin pengeluaran berlanjut dari mikroorganisme hidup. Teknik aseptik yang tepat untuk penyiapan dan pemberian bentuk sediaan steril akan didiskusikan selanjutnya. 2) Bebas dari bahan partikulat Bahan partikulat mengacu kepada bahan yang bergerak, tidak larut, yang tanpa sengaja ada dalam sediaan parenteral. Kehadiran bahan partikulat dalam sediaan larutan parenteral diperhatikan karena konsep rute pemberiannya. Walaupun rute parenteral dapat menyiapkan lama penyimpanan, penampilan, kebutuhan, dan metode efektif dari pemberian, namun dipercaya bahwa bahan-bahan dari luar yang tidak disengaja dapat berbahaya. Komposisi dari bahan partikulat yang tidak diinginkan bervariasi. Dalam beberapa hal, komposisi ini dari berbagai sumber, mengingat yang lain memiliki sumber khusus tersendiri. Bahan asing yang ditemukan dalam sediaan parenteral meliputi selulosa, serat kapas, gelas, karet, logam, partikel plastik, bahan kimia tidak larut, karet diatomae, ketombe dan sebagainya. Pengaruh Secara Biologis Kejernihan, atau tidak adanya bahan partikel yang tampak selalu dipertimbangkan sebagai persyaratan untuk produk parenteral. Bagaimanapun, awalnya ini adalah alasan fisiologis misalnya pengaruh larutan terhadap bahan yang tampak terhadap pasien yang menerimanya dalam injeksi akan merupakan gambaran kesimpulan produk yang beredar di pasaran, dengan adanya bahan yang mengapung. Saat gelas ampul mulai terkenal sebagai

wadah pengemasan, hal ini dapat dicatat bahwa kemungkinan partikel gelas akan masuk ke dalam larutan saat ampul dibuka. Sumber Bahan partikel dapat masuk dalam larutan parenteral dengan berbagai cara dan sumber : 1. 2. Larutan itu sendiri dan bahan kimia yang dikandungnya. Proses pabrikasi dan berbagai variabel seperti lingkungan, peralatan dan personil. 3. 4. 5. Komponen kemasan dan kandungannya. Alat dan peralatan yang digunakan saat pemberian produk. Manipulasi yang melibatkan peralatan produk untuk pemberian sama baiknya dengan lingkungan saat produk tersebut dibuat. 3) Bebas dari Pirogen Sekarang dalam praktek pemberian obat secara parenteral, reaksi piretik sering diamati. Reaksi-reaksi ini antara lain malaise, sakit kepala, dan peningkatan suhu tubuh (demam). Istilah seperti "sait fever", "protein fever", "serum fever", dan "salvarsan fever", umum digunakan untuk mengartikan reaksi ini. Definisi Pirogen didefinisikan sebagai produk metabolit yang berasal dari mikroorganisme hidup, atau mikroorganisme mati yang dapat menyebabkan respon demam setelah penyuntikan. Pirogen diproduksi oleh mikroorganisme gram-negatif yang sangat poten. Ekstrak pirogen kering muncul menjadi stabil sepanjang waktu,

bahkan larutan yang terpirogenik kehilangan beberapa aktivitasnya sampai beberapa tahun. 4) Kestabilan Dalam perkembangan sediaan steril, perkembangan atau perhatian utama ditujukan pada kestabilan obat. Obat dalam sediaan cenderung menjadi kurang stabil daripada obat dalam bentuk kering. Untuk penggunaan parenteral, suatu larutan atau suspensi dibutuhkan atau berupa faktor kestabilan obat dipertimbangkan secara hati-hati. Pemilihan bahan tambahan membantu dalam peranannya pada kestabilan secara fisika dan kimia. Untuk larutan kestabilan secara fisika memperlihatkan pada kenampakan secara fisika dari produk saat penyimpanan. Pembentukan endapan atau warnanya biasanya mengindikasikan ketidakstabilan. Penguraian obat tidak begitu nyata ditunjukkan oleh perubahan secara visual, sutau larutan subpoten dapat tetap jernih dan tidak berwarna. 5) Injeksi sedapat mungkin isotonis dengan darah (SDF : 164) Walaupun diinginkan bahwa cairan intravena isotonik untuk meminimalkan trauma pada pembuluh darah, larutan hipertonik atau hipotonik dapat diberikan dengan sukses. Larutan nutrient hipertonik konsentrasi tinggi digunakan pada hiperalimentasi parenteral. Untuk meminimalkan iritasi pembuluh, larutan ini diberikan secara perlahan dengan kateter pada vena besar seperti subclavian. II.1.7 Injeksi Intravena Harus Steril (Lachman : 639)

Sediaan parenteral merupakan sediaan yang unik di antara bentuk obat terbagi-bagi. Karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam tubuh. Karena sediaan mengelakkan garis pertahanan pertama dari tubuh yang paling efesien yakni membran kulit dan mukosa, maka sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari komponen toksis dan harus mempunyai kemurnian yang tinggi. II.1.8 Uji Kesterilan (FI III : 18) Injeksi harus memenuhi syarat uji sterilitas yang tertera pada uji keamanan hayati. II.1.9 Uji Keseragaman Bobot (FI III : 19) Keseragaman bobot : Sediaan yang sebelum digunakan sebagai injeksi dilarutkan terlebih dahulu, harus memenuhi syarat keseragaman bobot berikut : Hilangkan etiket 10 wadah, cuci bagian luar wadah dengan air, keringkan. Timbang satu persatu, dalam keadaan terbuka. Keluarkan isi wadah, cuci wadah dengan air kemudian dengan etanol (95%)P, keringkan pada suhu 105 0C hingga bobot tetap, dinginkan, timbang satu persatu. Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang tertera pada daftar berikut, kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera. Bobot yang tertera pada etiket Tidak lebih dari 120 mg Antara 120 mg dan 300 mg 300 mg atau lebih II.1.10 Keseragaman Volume (FI III L 19) Batas penyimpanan (%) +10 + 7,5 +5

Volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar di bawah ini. Volume pada etiket 0,5 ml 1,0 ml 2,0 ml 5,0 ml 10,0 ml 20,0 ml 30,0 ml 50,0 ml atau lebih II.1.11 Wadah Injeksi Scoville's : 207 Volume tambahan yang dianjurkan Cairan encer Cairan kental 0,10 ml 0,12 ml 0,10 ml 0,15 ml 0,15 ml 0,25 ml 0,30 ml 0,50 ml 0,50 ml 0,70 ml 0,60 ml 0,90 ml 0,80 ml 1,20 ml 2% 3%

Wadah sebaiknya selalu diisi dengan volume larutan yang lebih besar daripada yang tertera pada label. Ini perlu karena beberapa larutan akan selalu melekat pada sisi wadah dan tidak dapat terpisah, khususnya ketika penggunaan vial silikon. Penggunaan vial dan ampul sebelumnya dibuat dengan silikon membuat pergerakan isi lebih mudah karena cairan dengan vial tidak basah dan berpisah dengan gelas tetapi agak mengalir dengan cepat dan bebas dari sini. Sejumlah besar larutan perlu untuk menambahkan akan mengubah ukuran wadah dan viskositas larutan. Scoville's : 200

Ada dua tipe utama wadah untuk injeksi yaitu dosis tunggal dan dosis ganda. Wadah dosis tunggal yang paling sering digunakan adalah ampul dimana kisaran ukurannya dari 1-100 ml. pada kasus tertentu, wadah dosis ganda dan sebagainya berupa vial serum atau botol serum. Kapasitas vial serum 1-50 ml, bentuknya mirip

ampul tetapi disegel dengan pemanasan. Ditutup dengan penutup karet spiral. Botol serum juga dapat sebagai botol tipe army dengan kisaran ukuran dari 75-100 ml dan memiliki mulut yang lebar dimana ditutup dengan penutup karet spiral. Labu atau tutup yang lebih besar mengandung 250-2000 ml, digunakan untuk cairan parenteral yang besar seperti NaCl isotonis. Encyclopedia : 231

1. Gelas Gelas digunakan untuk sediaan parenteral dikelompokkan dalam tipe I, Tipe II, dan Tipe III (tabel 8). Tipe I adalah mempunyai derajat yang paling tinggi, disusun hampir ekslusif dan barosilikat (silikon dioksida), membuatnya resisten secara kimia terhadap kondisi asam dan basa yang ekstrim. Gelas tipe I, meskipun paling mahal, ini lebih disukai untuk produk terbanyak yang digunakan untuk pengemasan beberapa parenteral. Gelas tipe II adalah gelas soda-lime (dibuat dengan natrium sulfit atau sulfida untuk menetralisasi permukaan alkalinoksida), sebaliknya gelas tipe III tidak dibuat dari gelas soda lime. Gelas tipe II dan III digunakan untuk serbuk kering dan sediaan parenteral larutan berminyak. Tipe II dapat digunakan untuk produk dengan pH di bawah 7,0 sebaik sediaan asam dan netral. USP XXII memberikan uji untuk tipe-tipe gelas berbeda. Formulator harus mengetahuidan sadar bahwa masingmasing tipe gelas adalah berbeda dan level bahan tambahannya (boron, sodium, potassium, kalsium, besi, dan magnesium) yang berefek terhadap sifat kimia dan fisika. Oleh karena itu,

formulator sebaiknya mempunyai semua informasi yang diperlukan dari pembuatan gelas untuk memastikan bahwa formulasi gelas adalah konsisten dan dari batch dan spesifikasi bahan tambahan adalah konsisten ditemukan. Gelas untuk parenteral volume kecil Tabel 8 Definisi Tipe Umum I Paling resisten, gelas II borosilikat Gelas dibuat dari soda lime III IV Gelas soda lime Gelas soda lime-tujuan umum Wadah gelas ambar digunakan untuk produk yang sensitif terhadap cahaya. Warna ambar dihasilkan dengan penambahan besi dan mangan oksida untuk formulasi gelas. Namun demikian, dapat leach ke dalam formulasi dan mempercepat reaksi oksidasi. 2. Karet Formulasi karet digunakan dalam sediaan parenteral volume kecil untuk penutup vial dan catridge dan penutup untuk Attack water Gelas serbuk Gelas serbuk 100 atau kurang lebih 100 Semua Semua 0,7 0,2 8,5 15,0 Gelas serbuk Test USP Batas ml 0,02 N Ukuran (ml) asam Semua 1,0

pembedahan. Formulasi ini betul-betul kompleks. Tidak hanya mereka mengandung basis polimer karet, tetapi juga banyak bahan tambahan seperti bahan pelunak, pelunak, vulkanishing, pewarna, aktivator dan percepatan, dan antioksidan. Banyak bahan-bahan tambahan ini tidak dikarakteristikkan untuk isi atau pemurnian dan dapat bersumber dari masalah degradasi fisika dan kimia dalam produk parenteral. Seperti gelas, formulator harus bekerja dengan tertutup dengan pembuat karet untuk memilih formulasi karet yang tepat dengan spesifikasi tetap dan karakteristik untuk mempertahankan kestabilan produk. Paling banyak polimer karet digunakan dalam penutup sediaan parenteral volume kecil adalah alami dan butil karet dengan silikon dan karet neopren digunakan jarang. Butil karet lebih disukai karena ini diinginkan sedikit bahan tambahan, mempunyai penyerapan uap air rendah (oleh karena itu, baik untuk serbuk kering steril sensitif terhadap kelembaban) dan sifat sederhana dengan penghormatan penyerapan gas dan reaktivitas dengan produk farmasetik. Masalah dengan penutup karet termasuk leaching bahan ke dalam produk, penyerapan bahan aktif atau pengawet antimikroba oleh elastomer dan coring karet oleh pengulangan insersi benang. Coring menghasilkan partikel karet yang berefek terhadap kualitas dan keamanan potensial produk. Silikonisasi penutp karet adalah umum dilakukan untuk memfasilitasi pergerakan karet melalui peralatan sepanjang proses dan peletakan ke dalam vial. Akan tetapi, silikon tidak

bercampur dengan obat hidrofilik, khususnya protein. Kontak yang luar biasa dengan karet tersilikonisasi dapat menghasilkan agregasi protein. Pembuatan elastomer mempunyai perkembangan formulasi yang tidak menginginkan penggunaan silikon untuk menggunakan dalam operasi produksi kecepatan tinggi. 3. Plastik Pengemasan plastik adalah sangat penting untuk bentuk sediaan mata yang diberikan oleh botol plastic fleksibel, orang yang bersangkutan memeras untuk mengeluarkan tetesan larutan steril, suspensi atau gel. Wadah plastic parenteral volume kecil lain dari produk mata menjadi lebih luas dipakai karena pemeliharaan harga, eliminasi kerusakan gelas dari kenyamanan penggunaan. Seperti formulasi karet, formulasi plastik dapat berinteraksi dengan produk, menyebabkan masalah fisika dan kimia. Formulasi plastik adalah sedikit. Kompleks daripada karet dan cenderung mempunyai potensial lebih rendah untuk bahannya. Paling umum digunakan plastik polimer untuk sediaan mata adalah polietilen densitas rendah. Untuk sediaan parenteral volume kecdil yang lain, formulasi polyolefin lebih luas digunakan sebaik polivinil klorida, polipropilen, poliamida (nilon), polikarbonat dan kopolimer (seperti etilen-vinil asetat).

Tabel 9- Komponen karet Dapat Diautoklaf Digunakan Dalam Sediaan Parenteral Volume Kecil Tipe Bahan Penyerapan Uap Reaksi Potensial

Butil Natural Neupre n Polisop

Tambahan Sederhana Tinggi Tinggi Tinggi

Air Rendah Sederhana Sederhana Sederhana Sangat tinggi

Dengan Produk Sederhana Tinggi Tinggi Sederhana Rendah

ren Silikon

Sederhana

4. Container / wadah Tipe wadah yang paling umum digunakan untuk sediaan parenteral volume kecil adalah gelas atau vial polietilen dengan penutup karet dan besi. Gelas ampul digunakan paling banyak untuk sistem pengemasan parenteral volume kecil, tetapi jarang digunakan sekarang karena masalah aprtikel gelas ketika leher ampul dibuka. Masing-masing pembedahan dan wadah catridge mempunyai peningkatan popularitas dan penggunaan karena kenyamanan mereka dibandingkan vial dan ampul. Vial dan ampul menginginkan kemunduran produk dari kemasan. Injeksi, sebaliknya produk-produk dalam pembedahan dan catridge adalah siap untuk diberikan. Keduanya digunakan untuk parenteral volume besar (LVP). Wadah plastik digunakan untuk penggunaan produk mata. Salep dengan tube logam digunakan untuk kemasan salep mata steril. II.1.12 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Distribusi Obat Yang Diinjeksikan Secara Subkutan atau Intramuskular Ke Dalam Sirkulasi Umum (PDF Vol 1: 40-41) 1. Kelarutan Obat

Obat-obat perlu dilarutkan secara sempurna sebelum mereka dapat melewati obat atau hambatan jaringan dan masuk ke dalam sistem sirkulasi. Ada 2 tipe kelarutan yang penting yaitu kelarutan dalam pembawa dari bentuk sediaan dan kelarutan dalam cairan tubuh. Untuk obat-obat yang diberikan dalam bentuk larutan, kelarutan dari sediaan dicegah. Akan tetapi obat yang diberikan dalam bentuk suspensi, kecepatan disolusi obat dari pembawa bentuk sediaan, sebaik kelarutan dalam jaringan cairan pada daerah yang disuntikkan, secara lebih besar menentukan kecepatan absorpsi dari obat. Kecepatan disolusi dari obat yang diinjeksikan dalam bentuk suspensi tergantung dari ukuran partikel obat, pH cairan pada daerah yang disuntikkan, sifat polimorfis dari bentuk kristal obat, dan koefesien difusi obat. Viskositas yang lebih tinggi, koefesien dari obat dikurangi. Sekali obat dalam larutan dari bentuk sediaan, kelarutannya dalam cairan pada jaringan subkutan atau otot tergantung pada koefesien partisi dan derajat ionisasi sebagai tanda oleh pH cairan yang ada pada daerah yang disuntikkan. 2. Koefesien Partisi Obat

Kelarutan dalam lemak rendah dari obat, lebih rendah koefesien partisinya, dan lebih lambat kecepatan absorpsinya ke dalam aliran darah dari tempat yang diinjeksikan. 3. Kecepatan Aliran Darah Pada Daerah Yang Disuntikkan

Fakta yang telah diketahui bahwa aliran darah yang lebih besar dalam jaringan kapiler ke dan dari tempat dimana ia diinjeksikan, maka akan semakin tinggi kecepatan absorpsi dari obat. Injeksi ke dalam otot lateral paha atau bokong dihubungkan dengan absorpsi

obat yang lebih lambat dan rendah (karena vaskular yang kurang dan bahan lemak lebih tinggi) daripada injeksi dalam otot. Faktorfaktor yang meningkatkan aliran darah, seperti latihan, meningkatkan absorpsi obat setelah injeksi intramuscular atau subkutan. Sebaliknya, faktor-faktor yang dapat mengurangi aliran darah, seperti obat vasokonstriksi seperti epinefrin, jika diberikan secara concurrently pada daerah yang diinjeksikan mengurangi kecepatan absorpsi obat. 4. Degradasi Obat Pada Daerah Yang Diinjeksikan

Distribusi dari bahan aktif obat secara biologis dikurangi jika obat dimetabolisme atau dalam cara lain didegradasi pada daerah terinjeksi. 5. Ukuran Partikel Dari Obat

Ukuran partikel obat yang tersuspensi mempengaruhi kecepatan disolusinya dalam bentuk sediaan. Ukuran partikel yang lebih besar, kecepatan disolusi lebih lambat, luas permukaan obat kurang tersedia untuk interaksi dengan cairan tubuh. Obat-obat yang sedikit larut, seperti diazepam, fenitoin, dan digoxin, meskipun perlahan-lahan larut dalam bentuk kosolvennya, mereka tidak larut dalam cairan berair tubuh. Pengendapan partikel dapat dilarutkan kembali, tetapi kecepatan disolusinya lambat. 6. Bahan-bahan Formulasi

Bahan-bahan yang ditambahkan untuk formulasi sediaan obat untuk dapat disuspensikan kembali (seperti derivate selulosa), untuk melarutkan (seperti gliserin)dan atau untuk peningkatan kestabilan (antioksidan) yang secara potensial dapat

mempengaruhi distribusi obat dari daerah pemberian. Demikian efek-efek dapat dimanifestasikan dalam berbagai cara, seperti kompleksi yang mengurangi kecepatan disolusi obat, dan sebagai peningkat viskositas, yang mengurangi transport obat dari daerah injeksi ke sistem sirkulasi. II.1.13 Distribusi Obat Yang Diberikan Secara Parenteral Bahan-bahan yang diberikan secara intramuscular, intravena atau subkutan masuk ke dalam sistem sirkulasi melalui limfatik dan atau sistem transport vena. Sebelum dipompakan masuk ke dalam sirkulasi arteri oleh jantung, bahan-bahan harus pertama melewati paru-paru. Alur kapiler paru-paru seperti filter dan dalam beberapa keadaan bertindak sebagai reservoir jika partisi bahan yang terinjeksi dalam jaringan paru-paru dan secara subsequent terlepas balik ke dalam sistem sirkulasi. Paru-paru bertindak sebagai organ distribusi dan eliminasi.paur-paru juga bertindak sebagai daerah untuk metabolisme bahan-bahan tertentu. Setelah injeksi intravena atau infuse, obat-obat yang masuk ke dalam paru-paru didistribusikan melalui distribusi seluruh volumenya, menyediakan partisi obat yang menyenangkan. Porsi obat yang dibersihkan oleh ekshalasi, khususnya untuk mereka dengan tekanan uap tinggi. Setelah pemberian injeksi intramuscular atau subkutan, obat-obat terabsorpsi juga dapat didistribusikan dari paruparu. Akan tetapi, injeksi di daerah tersebut berhubungan dengan lag time antara waktu injeksi dan penampakannya dalam darah.

II.1.14 Cara Penyegelan Ampul (Lachman : 671)

Ampul dapat ditutup dengan melelehkan bagian gelas dari leher ampul sehingga membentuk segel penutup atau segel tarik. Segel penutup dibuat dengan melelehkan sebagian gelas pada bagian atas leher ampul bulatan gelas dan menutup bagian yang terbuka. Segel tarik dibuat dengan memanaskan leher dari suatu ampul yang berputar di daerah ujungnya kemudian menarik ujungnya hingga membentuk kapiler kecil yang dapat diputar sebelum bagian yang meleleh tersebut ditutup. II.1.15 Cara Pengisian Ampul (Scoville's : 206) Untuk pengisian ampul, jarum hipodermik panjang adalah penting karena lubangnya kecil. Jarum harus dimasukkan ke dalam ampul sampai di bawah. Leher ampul, tetapi tidak cukup jauh untuk masuk ke dalam larutan yang dimasukkan ke dalam ampul. Jarum harus dikeluarkan dari ampul tanpa menggunakan tetes larutan pada dinding primer dari leher ampul. Metode ini digunakan untuk mencegah pengurangan dan pengotoran jika ampul disegel.

DAFTAR PUSTAKA

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

AMA Drug Evaluation, (1995), Drug Evaluation Annual, 1995, American Medical Association, America. Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta. Ditjen POM, (1995), Farmakope Indonesia, Edisi IV Depkes RI, Jakarta. Ganiswara, S.B., (1995), Farmakologi dan Terapi, Edisi IV, Bagian Farmakologi FKUI, Jakarta. Gennaro, A.R., (1998), Remington's Pharmaceutical Science, 18th Edition, Marck Publishing Co, Easton. Gilman,G.A., (1994), Goodman and Gilman's The Pharmaceutical Basis of Therapeutics, Pergamen Press. Jenkins, G.L., (1969), Scoville's:The Art of Compounding, Burgess Publishing Co, USA. Kibbe,A.H., (1994), Handbook of Pharmaceutical Excipient, The Pharmaceutical Press, London. King, R.E., (1984), Dispensing of Medication, Ninth Edition, Marck Publishing Company, Philadelphia.

10. Lachman, L, et all, (1986), The Theory and Practise of Industrial Pharmacy, Third
Edition, Lea and Febiger, Philadelphia.

11. Martin., (1971), Dispensing of Medication, Marck Publishing Company,


Pensilvania.

12. Nuswantari, D., (1998), Kamus Saku Kedokteran Dorland, Penerbit Buku
Kedokteran, EGC, Jakarta.

13. Reynolds,J.E.F., (1982), Martindale The Extra Pharmacopeia, 28th Edition,


Pharmacetical Press, London.

14. Parfitt,K., (1994), Martindale The Complete Drug Reference, 32nd Edition,
Pharmacy Press.

15. Tjay, T.H., (2000), Obat-obat Penting, Edisi V, Depkes RI, Jakarta. 16. Rawling,E.A., (2003), Bentley Textbook of Pharmaceutics, Eight Edition,
Bailliere, Tindall, London.

17. Howard, C. Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV. UI
Press. Jakarta.