Anda di halaman 1dari 4

1 PERAN BADAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH (BPLHD) DALAM KANCAH MENUJU KAWASAN MEGAPOLITAN*)

Oleh: Tarsoen Waryono **)

Pendahuluan Konsep Megapolitan, mencuat saat Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso bersama mantan Gubernur Ali Sadikin bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Presiden, bulan Februari 2005. Megapolitas pada dasarnya merupakan konsep lama yang pernah dilontarkan, akan tetapi secara resmi belum dibahas dan belum mengikutsertakan pemerintah daerah di sekitar Jakarta (Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) dalam telahtelaahnya. Sebagai akibatnya muncul reaksi yang bernada menolak. Hal tersebut tampaknya salah persepsi, akan kehawatir daerahnya hanya akan menjadi tempat pembuangan sampah dari DKI. Megapolitan pada hakekatnya merupakan konsep penataan dan pengaturan ruang kawasan perkotaan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) secara terpadu berkelanjutan, dan bukan berarti wilayah Bodetabek menjadi bagian dari Provinsi DKI Jakarta. Namun demikian, Kabupaten/Kota Bekasi, Kota Depok, dan Kabupaten/Kota Bogor tetap menjadi bagian wilayah Provinsi Jawa Barat, dan Kabupaten/Kota Tangerang tetap merupakan bagian wilayah Provinsi Banten. Seluruh rencana pembangunan di kawasan tersebut, disusun secara menyeluruh dengan memperhatikan segala aspek dan faktor dalam satu rangkaian yang bersifat komprehensif yang disebut dengan Rencana Induk Megapolitan Jabodetabek. Pola penyusunan rencananya sesuai dengan karakter masing-masing daerah/ wilayahnya. Pembangunan Megapolitan Jabodetabek dilaksanakan atas prinsip-prinsip perencanaan yang mendapat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat termasuk di dalamnya DPRD serta Pemerintah Pusat baik Eksekutif maupun Legislatif. Bila dukungan tersebut tidak ada, sekalipun betapa baik dan indahnya rencana disusun, akan mengalami kegagalan. Oleh karena itu, diperlukan peraturan perudang-undangan dan lembaga yang jelas dan diberi wewenang penuh baik formal maupun politis dalam mengambil keputusan, serta mengakomodir semua kepentingan. Dari uraian di atas, maka pembangunan Megapolitan Jabodetabek tidak hanya menjadi tanggung jawab Gubernur DKI Jakarta, tetapi juga menjadi tanggung jawab Gubernur Provinsi Jawa Barat, dan Gubernur Provinsi Banten. Untuk itu, perlu dibentuk lembaga khusus guna menangani Megapolitan Jabodetabek, dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.
*). Nara sumber Diskusi Pengembangan Wilayah Jabodetabek. BPLHD Provinsi DKI Jakarta, Casablangka, Jakarta 7 Juli 2003. **). Staf Pengajar Jurusan Geografi FMIPA-UI.
Kumpulan Makalah Periode 1987-2008

2 Jika saja konsep ini direalisasikan, maka Undang-undang No. 34 tahun 1999 tentang Provinsi Daerah Khusus Ibukota Negara Republik Indonesia Jakarta perlu direvisi sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan, serta permasalahan yang terjadi di Jakarta maupun daerah sekitarnya. Pemahaman tersebut, memiliki arti, maksud dan tujuan merevisi Undang-undang tersebut, untuk mengatasi berbagai masalah yang terjadi di Jakarta dan daerah-daerah sekitarnya (Bodetabek) yang dituangkan dalam satu rencana pembangunan yang terarah, terpadu dalam satu kawasan Megapolitan Jabodetabek. Oleh karena itu judul undang-undang perlu direvisi menjadi Undang-Undang Megapolitan Jabodetabek.

Urban Environmental Accord Mengacu terhadap konsep Urban Environmental Accord (UEA), yang pada dasarnya merupakan kelanjutan implementasi deklarasi lingkungan hidup Rio de Janaero 1992, mencakup 21 butir rencana aksi guna mewujudkan kota yang ramah lingkungan (green city). Ke 21 aksi tersebut dikelompokkan dalam 7 isu atau sektor yang masing-masing memiliki 3 butir aksi. Ke 7 isu atau sektor dengan 21 aksi dimaksud, tampaknya juga merupakan tantangan embanan bagi lembaga pengelola lingkungan hidup masing-masing daerah dalam lingkup Megapolitan Jabodetabek. Isu atau sektor dari program aksi tersebut meliputi berbagai program. 1. Program aksi terhadap energi, menyangkut penggunaan (a) energi yang terbarukan, (b) efesiensi dan konservasi energi, dan (c) penurunan emisi gas rumah kaca. 2. Program aksi terhadap pengurangan sampah menyangkut (a) penetapan kebijakan untuk mencapai nir sampah (zero waste), (b) peraturan daerah untuk mengurangi pemakaian produk yang bersumber dari limbah B3 dan atau polyetyline, serta (c) pengembangan program daur ulang sampah. 3. Program aksi terhadap desain perkotaan, meliputi: (a) pemantapan kebijakan yang mewajibkan konsep bangunan ramah lingkungan, (b) prisip-prinsip perencanaan yang mengutamakan peruntukkan lahan campuran, pelibatan masyarakat, desain pembangunan terpadu yang dilengkapi dengan sarana jalan utama, fasos fasum (pejalan kaki, sepeda), serta perlindungan ruang terbuka termasuk penanganan permukiman kumuh, dan (c) menciptakan lapangan kerja ramah lingkungan bagi masyarakat kawasan kumuh dan miskin. 4. Program aksi terhadap lingkungan alami kota, meliputi: (a) penetapan luasan kawasan hijau, sebagai wahana pengetahuan lingkungan, (b) inventarisasi biodiversitas dan upaya pemulihannya, serta (c) pengesahan proyek pembangunan dengan mensyaratkan tersedianya ruang terbuka hijau (koridor habitat, tanaman produktif), dan kawasan tandon air. 5. Program aksi terhadap perhubungan, meliputi: (a) pengembangan dan implementasi kebijakan untuk perbaikan dan peningkatan mutu layanan transportasi umum, (b) pengesahan peraturan yang berkaitan untuk menghilangkan bahan bakar yang memiliki
Kumpulan Makalah Periode 1987-2008

3 kandungan bahan pencemar berbahaya, dan (c) menerapkan kebijakan efisiensi penggunaan sarana transportasi yang bersifat umum. 6. Program aksi terhadap kesehatan lingkungan, meliputi: (a) inventarisasi bahan kimia yang digunakan untuk keperluan industri barang yang dikomsumsi dan membahayakan masyarakat, (b) mempromosikan pemanfaatan produk organik, dan (c) menetapkan indeks kualitas udara, serta upaya penurunannya. 7. Program aksi terhadap sumberdaya air, meliputi: (a) pengembangan kebijakan kesehatan air untuk seluruh penduduk, (b) kebijakan pengurangan konsumsi air tanah wilayah perkotaan, dan (c) mengembangkan perencanaan sumberdaya air secara berkelanjutan, mengintegrasikan teknik sanitasi, manajemen air tanah, serta pengendalian pencemaran air tanah. Paradidma Pengelolaan Megapolitas Jabodetabek Paradigma baru bagi para pengelola lingkungan hidup daerah dalam lingkup Megapolitan Jabodetabek, mencakup 5 sektor, yaitu: (a). Kemitraan pengelolaan lingkungan hidup, (b). Pengawasan, pengendalian dan pemulihan kerusakan dan pencemaran lingkungan, (c). Tata Praja Lingkungan, (d). Penegakan hukum lingkungan, (e). Kesekretariatan. Ke lima program inilah yang setidaknya harus dipahami secara benar oleh pihakpihak terkait, pemerintah dan masyarakat di wilayah Jabodetabek. Hal tersebut merupakan kunci kesepahaman yang akan tercantum secara jelas dalam produk hukum keterkaitannya dengan Megapolitan Jabodetabek.

Kesimpulan dan Rekomendasi Untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota Metropolitan yang ramah terhadap lingkungan (green city), aspek 7 isu atau sektor dengan 21 aksi yang dapat dipergvunakan sebagai acuan kebijakan daerah, seyogianya dituangkan secara jelas dalam penyempurnaan Agenda-21 Provinsi DKI Jakarta.

Kumpulan Makalah Periode 1987-2008

Kumpulan Makalah Periode 1987-2008