Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum Teknologi Bioindustri

Hari/Tanggal : Kamis/7 Maret 2013 Golongan : P4 Dosen : Dr. Prayoga Suryadarma, S.TP, MT Asisten : 1. Nisa Urahmi 2. Muhammad Syifa

PRODUKSI BIOETANOL : SEL AMOBILISASI DAN SEL BEBAS

Oleh : Kardinah Brilliant Meilyaristiani Ari Permana Putra Gita Melisa Yolanda Alfyandi F34100124 F34100128 F341001 F341001 F341001

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Saat ini minyak bumi masih digunakan sebagai sumber energi utama, padahal sumber energi tersebut tidak dapat diperbaharui. Bila digunakan secara terus menerus, sumber energi tersebut akan menipis dan akhitnya habis. Dengan semakin menipisnya persediaan minyak bumi dan isu dampak pencemaran lingkungan serta global warming, diperlukan sumber energi alternatif sebagai pengganti minyak bumi yang ramah lingkungan untuk mengatasi masalah tersebut. Bioetanol merupakan salah satu alternatif solusi masalah energi alternatif. Selain merupakan sumber energi yang dapat diperbaharui, bietanol merupakan energi ramah lingkungan karena dapat terbakar lebih sempurna dan menggunakan bahan baku limbah pertanian. Bioetanol dapat diproduksi dari bahan baku yang mengandung gula, pati, dan selulosa serta turunan produk golongan karbohidrat lain. Salah satu bahan baku yang dapat digunakan adalah molases. Molases merupakan limbah hasil pengolahan tebu menjadi gula pasir yang masih mengandung cukup banyak glukosa. Bila dibiarkan, limbah ini dapat mencemari lingkungan sekitar pabrik. Pemanfaatan molases tebu selain dapat mengurangi dampak penceraman akibat limbah juga dapat memberi nilai ekonomi pada limbah tersebut dengan memanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol. Hasil bioetnaol tersebut juga dapat digunakan kembali oleh pabrik sebagai bahan bakar, sehingga mengurangi biaya operasional pabrik. Prospek pengembangan bioetanol di Indonesia sangatlah baik. Hal tersebut dilihat dari, banyaknya sumber bahan baku karbohidrat yang sangat melimpah dan limbah industri yang masih banyak mengandung produk-produk golongan karbohidrat. Selain, mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah yang tak termanfaatkan, penggunaan bietanol sebagai pengganti sumber energi minyak bumi dapat memberi kontribusi dalam menurunkan bahkan menghilangkan efek global warming.

B. Tujuan Praktikum produksi bioetanol dari sel amobil dan sel bebas bertujuan memproduksi bioetanol dan membandingkan hasil bioetanol yang diperoleh antara sel amobil dan sel bebas dari jumlah gas yang terbentuk, pH, kadar gula sisa, dan kadar alkohol pada produk akhir.

II.

METODOLOGI

A. Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain erlenmeyer, leher angsa, sudip, gelas ukur, pipet, pH meter, penangas air, shaker, gelas piala, autoklaf, mikropipet, freezer, spektrofotometer, clean bench, alat sentrifugasi, jarum inokulasi, tabung ulir, dan gelas kimia. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain biakan Saccharomyces cereviseae, Na alginat, CaCl2, aquades, pepton, ekstrak khamir, molases, glukosa, larutan DNS, dan larutan H 2SO4 (untuk pH). B. Metode 1. Media cair dan bioetanol dari sel bebas Media cair disiapkan dengan komposisi 2 gr glukosa, 1 gr pepton, 0,5 gr ekstrak khamir, dan 100 ml aquades

Media disterilkan dalam autoklaf dan dinginkan

Ke dalam media diinokulasikan biakan Saccharomyces cereviseae secara aseptis lalu diinkubasi pada inkubator goyang selama 24 jam pada kamar

Campuran diteteskan ke atas larutan CaCl2 0,05 M steril dengan menggunakan mikropipet 50% Media cair Sebanyak Na alginat 6 gr dilarutkan ke dalam 100 ml aquades dengan cara dipanaskan 50% Sel amobil Setelah dingin, biakan dan larutan Na alginat dicampur secara aseptip dengan perbandingan 1:3 lalu diaduk Media untuk sel mobil

Gel disaring dan direndam dalam larutan molases yang telah disterilisasi(molases: air = 1: 4)

Larutan diinkubasi selama 0, 24, 48, 72, dan 96 jam pada suhu kamar

Bioetanol sel amobil

2.

Bioetanol dari sel mobil Media cair

Molases diencerkan dengan air (1:4) dalam erlenmeyer 450 ml dan pH diatur sampai 4,5 dengan menambahkan H2SO4 encer lalu disterilkan

Larutan urea dibuat dengan komposisi 0,05 gr dan pH diatur sampai 4,5 dengan menambahkan H2SO4 encer lalu diencerkan

Ketiga larutan dicampur secara aseptis lalu diinokulasi dengan biakan khamir

Labu erlenmeyer ditutup dengan leher angsa yang telah diisi oleh larutan H2SO4 10%

Larutan diinkubasi selama 0, 24, 48, 72, dan 96 jam pada suhu kamar

Bioetanol sel mobil

3.

Jumlah gas terbentuk Labu erlenmeyer yang telah berisi media dan inokulum ditimbang sebagai bobot awal

Bobot erlenmeyer ditimbang kembali setelah diinkubasi

Jumlah gas terbentuk

4.

pH Beberapa ml larutan kultivasi (amonil dan mobil)

pH diukur dengan kertas pH atau pH meter

pH larutan

5.

Biomassa Kering Sebanyak 10 ml larutan (amonil dan mobil) disiapkan

Sampel disentrifugasi dengan kekuatan 13.000 rpm selama 15 menit

Endapan yang ada dikeringkan dalam wadah yang telah diketahui bobotnya sebelumnya pada oven dengan suhu 50C selama 24 jam

Biomassa Kering 6. Kadar Gula sisa Larutan kultivasi diencerkan sebesar 1000 kali lalu diambil 2 ml

Larutan dicampur dengan larutan DNS (1:3)

Lalu dipanaskan selama 5 menit dan didinginkan

Nilai absorbansi diukur menggunakan spektofotmeter 550 nm

Kadar gula sisa

III.

HASIL dan PEMBAHASAN

A. Hasil [Terlampir]

B. Pembahasan
Salah satu pengamatan yang dilakukan pada praktikum ini adalah jumlah gas yang pada bioetanol. Bioetanol merupakan salah satu jenis produk hasil fermentasi anaerobik. Fermentasi ini mengkonversi glukosa atau gula-gula sedarhana lain menjadi etanol serta hasil samping berupa gas CO2 dan energi (ATP). Setiap molekul glukosa akan menghasilkan 2 mol etanol dan 2 mol karbondioksida (CO2) serta melepaskan energi. Reaksi fermentasi tersebut dapat dituliskan sebagai berikut, C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2 + 2ATP + 210 KJ (Glukosa) (Etanol) Sumber : Shuler, M. and Kargi, F. (1992) Gas CO2 muncul akibat dari aktivitas yeast dalam mengkonversi glukosa menjadi etanol. Selama proses fermentasi akan muncul gelembung-gelembung udara kecil yang menunjukkan bahwa proses fermentasi sedang bekerja. Menurut Fardiaz (1992), gelembung-gelembung tersebut adalah gas CO2 yang dihasilkan selama proses fermentasi. Jumlah gas yang terbentuk berbanding lurus dengan jumlah etanol yang terbentuk. Banyaknya gas CO2 yang terbentuk dapat dipengaruhi oleh lamanya proses fermentasi. Semakin lama proses fermentasi, semakin banyak etanol yang terbentuk dan semakin banyak pula gas CO2 yang terbentuk. Adanya gas CO2 dapat menunjukkan proses fermentasi sedang berjalan atau tidak. Gas CO2 yang dihasilkan saat fermentasi dapat mencapai 35% volume bahan yang digunakan, sehingga untuk memperoleh kualitas bioetanol yang baik diperlukan permbersihan terhadap gas CO2 tersebut. Namun, gas CO2 ini dapat menimbulkan dampak negatif karena menghambat pertumbuhan dan aktivitas yeast. Dengan adanya produksi gas selama proses fermentasi maka pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae akan berhenti meskipun masih dalam keadaan hidup. Kemudian Akan mulai menghasilkan alkohol kembali jika gas CO2 dihilangkan (Datar et al. 2004). Pengukuran jumlah gelembung yang terbentuk dengan cara menghitung selisih bobot labu yang digunakan karena gas tersebut akan menguap sehingga akan terjadi pengurangan bobot. Berdasarkan hasil pengamatan, tidak terlihat munculnya gelembung udara pada permukaan cairan kultivasi, namun terdapat pengurangan bobot. Secara keseluruhan, jumlah gas yang terbentuk pada bioetanol sel bebas lebih banyak dibandingkan pada sel amobil pada semua waktu inkubasi. Seharusnya jumlah gas yang terbentuk pada bietanol sel amobil lebih banyak karena aktivitasnya lebih efektif. Penyebab tidak adanya gelembung udara di cairan kultivasi karena media kultivasi tidak cukup asam sehingga enzim tidak dapat bekerja maksimal.

IV.

PENUTUP

A. Kesimpulan Jumlah gas yang terbentuk pada bietanol sel amobil lebih rendah daripada sel mobil. Hal tersebut dikarenakan kondisi media kultivasi yang tidak cukup asam sehingga aktivitas enzim kurang maksimal. Semakin banyak gas yang terbentuk, semakin banyak pula bioetanol yang terbentuk. B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
Datar, R. P., R. M. Shenkman, G. Cateni, R. L. Huhnke, R. S. Lewis. 2004. Fermentation of Biomassa Generated Producer Gas to Ethanol. Biotechnology And Bioengineering. 86 (5):587594 Fardiaz.S. 1992. Mikrobiologi Pangan I. Jakarta: Gramedia pustaka utama Shuler, M. and Kargi, F. 1992. Bioprocess Engineering:Basic Concepts. New Jersey: Prentice Hall International