Anda di halaman 1dari 4

Proses komunikasi dalam Pemasaran

Juni 25, 2008 Disimpan dalam Komunikasi pemasaran Tagged ulasan singkat

Dalam komunikasi pemasaran, proses komunikasi bahkan harus dirancang sejak sebelum produk dibuat, karena produk itu sendiri adalah pesan, dan pesan adalah bagian atau unsur dari komunikasi. Karena itu, produk yang baik adalah produk yang lantang berbicara, tidak sayup-sayup atau samar. Sehingga, calon konsumen dapat menangkap dengan jelas apa yang disuarakan produk tersebut. Keuntungan apa yang ditawarkan produk tersebut. Misalnya, sebuah riset etnografis dilakukan terhadap beberapa remaja untuk mengetahui aspirasi (need, dream, desire) mereka terhadap teknologi dan gaya hidup terkini. Rupanya, ditemukan beberapa hal yang menarik. Para remaja tersebut mengungkapkan aspirasi-nya baik secara verbal maupun non verbal bahwa mereka tak dapat dipisahkan dari musik, kemanapun mereka pergi selalu membawa walkman atau discman. Kedua, mereka tak dapat dipisahkan dari teknologi komunikasi, baik handphone maupun internet. Repotnya, untuk dengar musik, mereka harus membawa segepok disc atau kaset sehingga tas mereka sering penuh dan memberatkan. Karena itu, produsen kemudian menjawab-nya dengan menciptakan produk handphone musik yang lebih praktis dan memuat banyak lagu yang tersimpan pada memori chip komputer di dalam handphone tersebut. Jadi produk handphone musik adalah sebuah pesan jawaban terhadap aspirasi remaja. Demikian pula sebelum merek/brand produk ditetapkan, sebuah proses komunikasi telah berjalan. Merek atau brand adalah lebih dari sekadar nama suatu produk. Dia adalah sebuah pesan. Karena nama tersebut merepresentasikan apa yang ingin dikatakan oleh produk tersebut. Karena itu, pemilihan merek atau nama produk harus dilakukan secara serius dan hati-hati. Jika kita ingin to the point atau berkata secara verbal kepada calon konsumen sehingga konsumen langsung mengetahui pesan produk, maka sebaiknya merek atau nama produk pun langsung bicara apa yang ingin dikatakan, misalnya: Aqua = air, Mie Sedaap = mi yang sedap, Universitas Islam Bandung = Universitas berbasis Islam yang berlokasi di Bandung, Majalah Mens Health = majalah

kesehatan pria. Bandingkan dengan Ades/2Tang/Vit yang bisa ditempelkan pada produk apa saja selain air minum, atau Indomie yang membuat orang masih bertanya-tanya apakah mienya enak atau tidak. Begitu pula misalnya Universitas Ibnu Khaldun atau Yarsi yang membuat orang masih meraba apa benar universitas islam atau bukan dan tempatnya di mana? Begitu pula bila disebutkan Majalah Matra, apakah orang yang baru pertama mendengar langsung mengetahui bahwa itu majalah pria? Itulah mengapa, lebih gamblang atau to the point sebuah merek atau nama produk, maka semakin cepat pula pesan komunikasi produk tersampaikan. Serupa dengan bentuk komunikasi antarpersonal. Semakin to the point kita menyampaikan maksud kita, semakin cepat dan jelas orang lain memahaminya. Bandingkan jika kita menyampaikannya secara berputarputar dan penuh basa-basi, tentu membutuhkan waktu lama untuk memahaminya. Demikian pula produk, dibutuhkan waktu, biaya dan perjuangan panjang agar konsumen memahami pesan produk jika menggunakan nama-nama atau merek yang tidak to the point. Demikian pula sebelum penjualan, perlu dipertimbangkan kepada siapa produk dijual, sehingga dapat ditentukan dengan cara apa produk didistribusikan dan dijual, menggunakan media apa dan apakah sesuai dengan karakter atau personality produk. Jangan sampai terjadi barang sudah dipasar, tetapi pesan dan cara berkomunikasi baru dipikirkan. Kemungkinan besar dapat terjadi miskomunikasi dan ketidaksinkronan. Pada tahap penjualan, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengaktivasi pesan produk maupun merek, sehingga konsumen percaya dan tertarik membelinya. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kebiasaankebiasaan konsumen dalam berbagai perspektif, media personal apa yang digunakan, gaya hidup, tempat berkumpul dan bersosialisasi, serta perilakuperilaku pembelian mereka. Sehingga dapat ditentukan program apa yang dapat dibuat untuk merangsang langsung pembelian produk. Pada tahap pemakaian, perancang komunikasi harus memikirkan cara bagaimana agar konsumen tertarik untuk membeli lagi produk (repeat order/buying). Karena itu yang perlu diperhatikan adalah tingkat kepuasan terhadap produk, layanan konsumen dan terhadap program-program yang telah dijalankan. Keluhan-keluhan, pendapat, kritik dan saran konsumen

merupakan dasar pijakan penting untuk membuat komunikasi yang strategis dalam menciptakan pembelian kembali konsumen terhadap produk yang dijual. Hal inilah yang mampu secara bertahapmengubah status konsumen menjadi pelanggan produk. Sedangkan pada tahap pasca pemakaian, perancang komunikasi harus memikirkan bagaimana agar konsumen setia atau loyal terhadap produk atau merek dan bahkan membuat mereka dengan penuh semangat menularkan pengalaman manis mereka kepada orang lain. Lebih dari itu, mereka bahkan berusaha membujuk orang lain untuk ikut mencoba atau membeli produk. Karena itu, medium yang patut dipertimbangkan adalah medium word-ofmouth, experiental marketing, community marketing, ambient media marketing, marketing public relation, maupun brand social responsibility. Jika digambarkan sinergitas komunikasi pemasaran produk dan komunikasi merek adalah sebagai berikut:

Ide Produk Merek Pra-penjualan Penjualan Pemakaian Pasca-pemakaian Brand awareness + Brand knowledge Brand image Brand equity Brand loyality Brand spirituality

Contoh Kasus:
DULU cukup banyak orang yang bertanya kepada saya seperti ini, "Pak, saya ingin meningkatkan pemasaran dengan memberikan hadiah kepada konsumen. Namun saya takut bagaimana kalau saya malah rugi nantinya?" Mereka bertanya seperti itu karena belum tahu caranya. Jika Anda belum mengetahui cara yang efektif, memberikan hadiah bisa jadi akan merugikan usaha Anda. Karena itu belajarlah dengan apa yang telah saya praktikkan sendiri dan saya tulis dalam buku Marketing Revolution saya. Karena dengan belajar cara yang tepat, kita bisa tetap memberi hadiah tanpa mengurangi margin, malah mendapat untung dari penjualan hadiah. Adapun cara yang bisa dilakukan di antaranya sebagai berikut. Carilah hadiah yang mahal/kesannya mahal. Kalau bisa eksklusif dan orang lain tidak mempunyainya. Kemudian diberi syarat, untuk pembelian dalam jumlah tertentu, pembeli boleh membeli hadiah dengan harga murah. (Harga ini lebih murah dari harga normal,tetapi tetap lebih tinggi dari harga beli). Diberi batas waktu. Contoh: Kita memberi hadiah malah bisa lebih untung karena hadiah dijual. Contoh: Dulu adik saya waktu SMA jual kaus untuk promosi ke toko-toko emas, banyak yang menolak. Karena margin emas tipis. Kemudian cara pemasarannya diperbaiki sehingga, kalau beli 10 gram,dapat kaus gratis, tapi bila lima gram bisa

dapat kaus gratis cukup bayar Rp2.000 (karena harga kaus jenis tersebut di pasaran saat itu Rp4.000). Saat itu harga kausnya, karena beli di grosir dari pabriknya bisa dapat @ Rp1.700. Satu toko menyambut ide ini. Akhirnya toko-toko lain ikut pesan kaus dan ramai-ramai dapat untung triple: (1) dari emasnya, (2) dari hadiah kausnya, dan (3) dari pemakaian kaus tersebut karena ketika dipakai, kaus tersebut mempromosikan tokonya. (Jadi, apa yang terjadi ketika orang beli lima gram emas dan menambah Rp2.000 untuk mendapatkan kaosnya? Karena kausnya @ Rp1.700, yang memberi hadiah malah untung Rp300. Contoh lain: Pompa bensin Shell pernah memberi program berikut ini. "Bagi setiap pembelian 20 liter boleh membeli mobilmobilan Ferrari yang terdiri atas 6 varian @ Rp29.500." Tahukah Anda,walaupun mainan mobil Ferrari ini resmi berlogo Ferrari, ternyata made in China. Apakah berdasarkan ongkos produksi mobil-mobilan ini yang ternyata dari plastik, tapi tetap menarik. Buktinya saya koleksi banyak, berharga lebih dari Rp29.500? Saya yakin tidak. Karena waktu saya di China, mereka bisa menjual bolpoin Mount Blanc aspal (asli tapi palsu) dengan harga setelah dikurskan ke rupiah Rp8.000. Lantas, karena ada pembatasan sampai tanggal tertentu hadiah mobil-mobilan Ferrari tidak boleh dibeli lagi, berbondongbondong orang membelinya. Sudah bensin semakin laris, untung dobel lagi. Isi bensin untung, jual hadiah juga untung. Anda juga bisa mempraktikkannya sesuai dengan bisnis yang Anda jalankan. Namun, harus terus diukur dan dimonitor serta dikembangkan agar lebih efektif. (*) Tung Desem Waringin Pelatih Sukses No 1 di Indonesia The most Powerful People and Ideas in Business 2005 (//rhs)