Anda di halaman 1dari 7

Rendra Dwi Anggara 0710020056 Etika Filsafat Komunikasi

1. Sejarah Komunikasi Pada awalnya komunikasi memang sekedar alat antar manusia, agar manusia bisa saling berhubungan. Pada waktu itu , Komunikasi tidak dianggap sebagai sesuatu yang harus diberi perhatian, dikaji atau distrukturkan. Namun, pada abad ke-5 sebelum masehi, di Yunani berkembang suatu ilmu yang mengkaji proses pernyataan antar manusia yang diberi nama retorika yang berarti seni berpidato dan beragumentasi yang bersifat menggugah atau seni yang menggunakan bahasa secara lancar untuk memengaruhi dan mengajak. Retorika mendapat pembahasan khusus bahkan beberapa pemikir itu menempatkan retorika sebagai hal penting dalam masyarakat dan pemerintahan. Pada perkembangan awal, batasan komunikasi yang dapat kita terapkan adalah percakapan atau penyampaian gagasan antar manusia secara lisan dan bertatap muka baik berupa pidato maupun diskusi, dengan tujuan mendidik, membangkitkan kepercayaan, dan menggerakkan perasaan orang lain. Komunikasi terus berkembang, tidak hanya menyampaikan gagasan melalui lisan. Pada zaman kekaisaran romawi, Julius Caesar membuat papan pengumuman yang dinamakan Acta Diurna. Penyampaian gagasan mengenai apa yang penting bagi masyarakat telah bertambah, dari sekedar lisan menjadi bentuk tulisan. Hal ini terus berkembang setelah ditemukannya kertas, penemuan mesin cetak, dan terbitnya surat kabar pertama (Avisa Relation Oder Zeituny di Jerman dan Weekly News di Inggris pada sekitar tahun 1622). Setelah surat kabar peradaban manusia juga berkembang dan ditemukanlah radio, film, televisi, dan sejumlah media lain. 2. Komunikasi Sebagai Ilmu Ciri ilmu adalah memiliki metode. Secara umum, tujuan sebuah pengetahuan ilmiah adalah untuk deskriptif, eksplanatif, dan prediktif. Deskriptif berarti suatu ilmu akan menjelaskan gejala-gejala yang menjadi objek formalnya, eksplanatif berarti seluruh gejala-gejala yang teramati itu dapat dihubungkan satu sama lain secara kausal. Dan setelah itu dapat dilakukan prediksi akan gejala-gejala yang akan muncul (prediktif) Persyaratan suatu keterampilan menjadi ilmu itu ialah objektif, metodis, sistematis dan universal :

Objektif, ilmu harus mempunyai objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun dari dalam. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian tahu dengan objek dan karenanya disebut kebenaran objektif. Metodis, dalam mencapi kebenaran , selalu terdapat kemungkinan penyimpangan yang harus diminimalisasi. Konsekuensinya, harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Sistematis, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti utuh menyeluruh, terpadu, menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Universal, Kebenaran yang hendak dicapai bukan yang tertentu, melainkan bersifat umum. Dengan kata lain pengetahuan tentang yang khusus, yang tertentu saja, tidak diinginkan Ciri ilmu dalam perspektif ilmu sosial diatas (objektif, metodis, sistematis, dan universal) kemudian diperbaharui. Perkembangan metode ilmu yang mulai membedakan antara ilmu alam dan ilmu sosial pada akhirnya merumuskan ciri ilmu sosial yang lebih khas. Ciri dari ilmu sosial adalah adanya rasionalitas, dapat digeneralisasi dan dapat disestematisasi. Setiap konsep atau proses ilmiah apapun dapat saja ditolak setelah dibuktikan kembali bahwa ia salah atau bahkan dipandang menipu. Ihwal cara pengujiannya tidaklah seragam bergantung pada perspesifikasi : Positivisme, menggunakan uji empiris verifikasi, dan atau falsifikasi, konstruktivisme, menggunakan uji valibilitas dan seterusnya. 3. Model Komunikasi Tujuan suatu ilmu adalah menjelaskan fenomena-fenomena alami. Model Komunikasi Linear Sumber Pesan Pesa n Saluran Penerima Pesan

Gambar A :Model Komunikasi Linear

Model ini dikembangkan oleh Claude Shannon dan Waren Weaver atas dasar suatu model mekanis yang dirancang untuk sistem telepon. Di antara berbagai variasi model linear terdapat suatu formula penelitian komunikasi yang diungkapkan oleh Harold Lasswell (Who, says what, to whom, in which channel, with what effect)

Model Linear ini mengidentifikasikan elemen-elemen utama proses komunikasi : sumber, pesan, saluran, penerima dan efek. Oleh karena itu riset pada waktu itu sangat memperhatikan persuasi dan propaganda. Maka model tersebut tampaknya bermakna dengan aliran pengaruhnya satu arah. Teori Peluru Pada waktu itu model dominan komunikasi massa dikenal sebagai peluru atau jarum suntik. Media massa dianggap sangat perkasa dengan efek yang langsung, dan segera pada khalayak komunikator menggunakan media massa untuk menembaki khalayak dengan pesan-pesan persuasif yang tidak dapat mereka tahan. Penelitian kemudian menunjukkan bahwa tidak satupun dari kejadian-kejadian tersebut layak menjadi bukti bagi media yang sangat perkasa itu, melainkan bagaimana media massa dapat menghasilkan efek yang perkasa dalam suatu kondisi yang spesifik. Setelah Perang Dunia II, model komunikasi yang disebut peluru atau jarum suntik berangsur-angsur kehilangan dukungan para peneliti komunikasi. Berbeda dengan anggapan semula, peneliti tidak menemukan khalayak pasif yang begitu saja mengikuti pesanpesan dalam media massa, tetapi menemukan khalayak yang aktif apa yang hendak dilihat, diinterpretasikan dan diingat dari media. Akan tetapi model linear komunikasi tetap bertahan, meskipun kali ini, aliran pesan dipengaruhi arah yang lain dari penerima ke pengirim pesan. Sumber Pesan Pesa n Saluran Penerima Pesan

Gambar B : Model komunikasi terbatas atau tanpa efek

Model Komunikasi Sirkuler Titik pemusatan komunikasi konvergen yang ada di dalam definisi komunikasi secara luas adalah bahwa komunikasi merupakan sebuah proses. Orientasi pengertian komunikasi sebagai suatu proses adalah bahwa komunikasi itu proses yang kompleks, berlanjut/kontinu dan tidak bisa berubah dengan sendirinya. Itulah yang menyebabkan bahwa komunikasi selalu berkembang dari waktu ke waktu.

Pada akhir dasawarsa 1900, sebuah model komunikasi baru mulai mendapat dukungan para peneliti komunikasi. Model tersebut dikenal sebagai model komunikasi interaktif atau konvergen (Schramm, Rogers dan Kincaid, seperti yang disitir Gonzalez, dalam jahi. 1988: 9). Model ini menganggap komunikasi sebagai suatu transaksi diantara partisipan komunikasi yang setiap orang memberikan kontribusi pada transaksi itu, meskipun dalam derajat yang berbeda. Terlebih lagi model ini berlaku baik untuk situasi komunikasi antarpersona maupn komunikasi massa. Teori Interaktif tidak didasarkan pada model komunikasi linear dan telah digambarkan secara berbeda oleh peneliti : (1) Sebagai lingkaran-lingkaran yang tumpang tindih (Gbr C), sebagai heliks (Gbr D), dan sebagai Zigzag (Gbr E). Namun ketiga model ini tetap sepakat tentang karakteristik utama.

A A

BB

Gambar C : model Komunikasi Interaktif atau konvergen

Pada Gambar C dikenal juga dengan diagram Venn, setiap lingkaran menunjukkan ruang kehidupan yang berbeda dari setiap partisipan komunikasi. A dan B memiliki pengalaman yang sama dan memahami pesan satu sama lain. Jika pengalaman mereka banyak persamaannya, maka daerah tumpang tindih itu akan semakin besar. Juga diperkirakan bahwa derajat pemahaman mereka pada isu-isu tertentu akan lebih besar jika dibandingkan dengan orang lain, yang memiliki pengalaman berbeda. Dalam diagram ini tidak terdapat pengirim (komunikator) dan penerima (komunikan). Baik A maupun B adalah partisipan dalam proses in

Gambar D : Model Helix Komunikasi Interaktif

A B

Gambar E : Model Zigzag komunikasi interaktif Gambar D dan E mendramatisasi komunikasi sebagai suatu proses yang sedang terjadi. Pada gambar D komunikasi diantara partisipan menimbulkan konvergen. Hal ini bisa terjadi dalam beberapa cara. Pertama, partisipan itu bisa bergerak menuju ke arah satu titik bersama dalam arti saling memahami pesan masingmasing. Kedua, Satu partisipan mungkin bergerak menuju ke arah yang lain. Konvergen tidak selalu berarti sepakat. Hal ini menunjukkan bahwa partisipan mulai memahami satu sama laindengan lebih baik, terlepas dari apakah mereka satu sama lain.

4. Fokus Kajian Komunikasi Robert Craig menetapkan tujuh perbedaan tradisi konseptual dalam komunikasi. Tujuh tradisi ini ditampilkan dalam yang menjelaskan setiap trasisi komunikasi berteori dan masalah-masalahdalam komunikasi. Craig berharap dengan penyusunan metamodel konstitutif ini, akan terdapat ruang terbuka untuk lebih banyak dialog antara berbagai pemikiran mengenai dan riset komunikasi

Komunikasi Berteori Retorika Semiotika Seni dalam praktik bercakap-cakap Penyelesaian intersubjektif tanda-tanda melalui

Fenomenologis

Pengalaman dari orang lain, dialog

Cybernetic

Proses informasi

Sosiopsikologis

Ekspresi, interaksi dan pengaruh

Sosiobudaya Kritis

(Re)produksi dan tata tertib sosial Refleksi yang tidak berkesinambungan

Masalah dalam komunikasi Membutuhkan urgensi sosial dan pendapat kulektif Salah paham atau kekosongan antara sudut pandang yang subjektif Ketidakhadiran, kegagalan untuk meneruskan, keaslian hubungan antaramanusia Gadun: muatan melebihi batas; muatan berada di bawah batas; kegagalan atau virus dalam sistem Situasi menghendaki adanya manipulasi karena adanya sikap untuk mencapai hasil yang terspesifikasi Konflik; alienasi; ketidaksejajaran; kegagalan koordinasi Ideologi Hegemoni; situasi pembicaraan yang menyimpang dari susunan yang ada

Daftar Pustaka
Elvinaro Ardianto, Filsafat Komunikasi, Rosdakarya, Bandung, 2007