Anda di halaman 1dari 3

UTILITARISME

Utilitarisme tergolong dalam dua bagian besar yaitu: klasik dan aturan. Utilitarisme klasik tumbuh dari tradisi pemikiran moral di Inggris, dikembangkan oleh David Hume (1711) dan dimatangkan oleh Jeremy Bentham (1748). Utilitarisme sebagai dasar etis untuk memperbaharui hukum Inggris (pidana). Tujuan hukum adalah memajukan kepentingan para warga negara, bukan melaksanakan perintah-perintah ilahi atau melindungi yang disebut hak-hak kodrati. Bentham mengusulkan suatu klasifikasi kejahatan yang didasarkan atas berat tidaknya pelanggaran dan yang terakhir ini diukur berdasarkan kesusahan atau penderitaan yang diakibatkannya terhadap para korban dan masyarakat. Pelanggaran yang tidak merugikan orang lain menurut Bentham sebaiknya tidak dianggap sebagai tindakan kriminal. Bentham mengusulkan suatu klasifikasi kejahatan yang didasarkan atas berat tidaknya pelanggaran dan yang terakhir ini diukur berdasarkan kesusahan atau penderitaan yang diakibatkannya terhadap para korban dan masyarakat. Pelanggaran yang tidak merugikan orang lain menurut Bentham sebaiknya tidak dianggap sebagai tindakan kriminal. Prinsip utilitas Bentham: kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar (the greatest happiness of the greatest number). Prinsip kegunaan harus diterapkan secara kuantitatif, karena kualitas kesenangan selalu sama sedangkan aspek kuantitasnya dapat berbeda-beda. Ia mengembangkan the hedonistic calculus. Sumber-sumber kesenangan dapat diukur dan diperhitungkan menurut intensitas dan lamanya perasaan yang diambil daripadanya. Perhitungan tsb akan menghasilkan saldo positif, jika kredit (kesenangan) melebihi debetnya (ketidaksenangan). Misal: kadar moral dari perbuatan minum minuman keras sampai mabuk. Seandainya tidak ada segi negatif maka keadaan mabuk merupakan suatu yang secara moral baik. Kemabukan harus dinilai secara moral sangat jelek karena keseluruhan saldo sangat negatif. Utilitarisme diperkuat oleh filsuf Inggris John Stuart Mill (1806). Ia mengkritik Bentham bahwa kesenangan dan kebahagiaan harus diukur kuantitatif, ia berpendapat bahwa kualitas perlu dipertimbangkan juga (mutu kesenangan). Kesenangan manusia harus dinilai lebih tinggi daripada kesenangan hewan. Kebahagiaan yang menjadi norma etis adalah kebahagiaan semua orang yang terlibat dalam suatu kejadian, bukan kebahagiaan satu orang

saja. Menurut filsuf Inggris-Amerika Stephen Toulmin dkk., prinsip kegunaan tidak harus diterapkan atas salah satu perbuatan, melainkan atas aturan-aturan moral yang mengatur perbuatan-perbuatan kita. Suatu perbuatan baik secara moral, bila sesuai dengan aturan yang berfungsi dalam sistem aturan moral yang paling berguna bagi suatu masyarakat. Utilitarisme ini mengalami kesulitan ketika terjadi konflik antara dua aturan moral.

Kritik Terhadap Utilitarisme


Keberatan terhadap hedonisme sebagian berlaku juga untuk utilitarisme Tidak lagi memuat egoisme etis, karena prinsip untuk jumlah orang terbesar. Bentham tidak dapat mempertanggunjawabkan sifat umum (keseluruhan) Ia bertolak dari dasar psikologis: manusia mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan (individualistis) Prinsip kegunaan bahwa setiap perbuatan adalah baik jika menghasilkan kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbesar, tidak selamanya benar. Misal : kesenangan yang didapat dengan menyiksa seseorang yang dilakukan oleh banyak orang Utilitarisme tidak ada tempat untuk paham hak. Padahal hak merupakan suatu kategori moral yang amat penting Jika suatu masyarakat mayoritas terbesar hidup makmur dan hanya minoritas yang serba miskin, menurut aliran ini dari segi etis telah diatur dengan baik (kesenangan melebihi ketidaksenangan). Disini dapat dinilai Utilitarisme sebagai sistem moral tidak dapat menampung prinsip keadilan. Barangkali aliran inilah yg mendasari pemikiran Nazi dan G30SPKI Sumber : www.forumsains.com Nama : Reza Alfian Haswin NIM : 0710023039