Anda di halaman 1dari 18

Rhodamin B pada Bahan Makanan

Desi Septiriani Dian Wahyuningsih Dina Rahmawati Dinar Putri Dinanti Eka Putri Enggar Prasetyaningrum Fitri Wulansari Gina Annoor Gita Nata Parawanesthi (1041111031) (1041111035) (1041111037) (1041111038) (1041111043) (1041111045) (1041111053) (1041111058) (1041111059)

Pendahuluan
Makanan adalah salah satu kebutuhan manusia.dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari makanan. Sebagai kebutuhan dasar , makanan tersebut harus mengandung zat gizi untuk dapat memenuhi fungsinya dan aman dikonsumsi karena makanan yang tidak aman dapat menimbulkan gangguan kesehatan bahkan keracunan (Moehji, 1992). Zat warna menurut Witt (1876:70) merupakan gabungan zat organik tidak jenuh, kromofor dan auksokrom. Zat organik tidak jenuh adalah molekul zat warna yang berbentuk senyawa aromatik yang terdiri dari hidrokarbon aromatik, fenol dan senyawa yang mengandung nitrogen. Kromofor adalah pembawa warna sedangkan auksokrom adalah pengikat antara warna dengan serat.

Di Indonesia saat ini banyak terjadi permasalahan konsumen pada bidang pangan khususnya : 1. penyalahgunaan bahan berbahaya pada produk pangan ataupun bahan yang diperbolehkan tetapi melebihi batas yang telah ditentukan. 2. Para produsen biasanya lebih mangutamakan keuntungan yang akan didapat daripada memperhatikan kebaikan produk makanan yang mereka jual bagi kesehatan. 3. Banyak faktor yang dapat menunjang nilai jual suatu produk makanan. Tidak hanya faktor cita rasa, faktor warna juga sangat penting guna menunjang daya jual produk makanan tersebut

Bahan pewarna makanan terbagi dalam dua kelompok besar yakni pewarna alami dan pewarna buatan. Di Indonesia, peraturan mengenai penggunaan zat pewarna yang diizinkan dan dilarang untuk pangan diatur melalui SK Menteri Kesehatan RI Nomor 722/Menkes/Per/IX/88 mengenai bahan tambahan pangan. Pewarna sintetik (buatan) adalah bahan pewarna yang tidak terdapat di alam melainkan diproduksi secara sintetik, melalui reaksi kimia.

Pewarna buatan/sintetik untuk makanan diperoleh melalui proses sintesis kimia buatan yang mengandalkan bahan-bahan kimia, atau dari bahan yang mengandung pewarna alami melalui ekstraksi secara kimiawi. Proses pembuatan zat warna sintetis biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun.

Alasan Penggunaan Pewarna sintetis


1. Harga pewarna sintetis jauh lebih murah dibandingkan dengan pewarna alami. 2. Menghasilkan warna yang lebih kuat dan stabil meski jumlah pewarna yang digunakan hanya sedikit 3. Memiliki tingkat stabilitas yang lebih baik, sehingga warnanya tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan dan pemanasan. Berbeda dengan pewarna sintetis, pewarna alami malah mudah mengalami pemudaran pada saat diolah dan disimpan.

Karena berbagai keuntungan tersebut, banyak orang lebih senang memakai zat pewarna sintetik. Disamping kemudahan atau keuntungan yang kita dapatkan dari penggunaan zat pewarna sintetik tentu saja pewarna tersebut tidak baik bagi kesehatan. Zat pewarna sintetik tersebut dapat mengganggu kesehatan bahkan menimbulkan penyakit. Saat ini banyak penyalahgunaan pewarna sintetik pada makanan misal rhodamin B yang seharusnya digunakan untuk pewarna tekstil dan cat digunakan untuk pewarna makanan contohnya saus.

Rodhamin B (C28H31N2O3Cl )
Rhodamin B adalah salah satu zat pewarna sintetis yang biasa digunakan pada industri tekstil dan kertas. Sehingga ditetapkan sebagai zat yang dilarang penggunaannya pada makanan melalui Menteri Kesehatan (Permenkes) No.239/Menkes/Per/V/85. Namun penggunaan Rhodamine dalam makanan masih terdapat di lapangan. BPOM di Makassar berhasil menemukan zat Rhodamine-B pada kerupuk, sambak botol, dan sirup melalui pemeriksaan pada sejumlah sampel makanan dan minuman.

Rhodamin B ini memiliki bentuk berupa serbuk kristal dengan warna merah keungu-unguan dan didalam larutan dia akan memiliki warna terang yang berpendar.

Sintesin Rodhamin B
Reaksi :

Ftalat anhidrida + N-N- dietilaminofenol +


ZnCl

Dampak Rodhamin B Bagi Tubuh


Penggunaan Rhodamine B dalam produk pangan dilarang karena bersifat karsinogenik kuat, dapat mengakibatkan gangguan fungsi hati hingga kanker hati (Syah et al. 2005). Beberapa sifat berbahaya dari Rhodamin B seperti : iritasi bila terkena mata, menyebabkan kulit iritasi dan kemerahan bila terkena kulit, bersifat radikal. Dalam struktur Rhodamin kita ketahui mengandung klorin (senyawa halogen), sifat halogen adalah mudah bereaksi atau memiliki reaktivitas yang tinggi dan merupakan senyawa yang radikal akan berusaha mencapai kestabilan dalam tubuh dengan berikatan dengan senyawasenyawa dalam tubuh kita sehingga pada akhirnya akan memicu kanker pada manusia.

Tanda-tanda dan gejala akut bila terpapar Rhodamin B : Jika terhirup dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan. Jika terkena kulit dapat menimbulkan iritasi pada kulit. Jika terkena mata dapat menimbulkan iritasi pada mata, mata kemerahan, udem pada kelopak mata. Jika tertelan dapat menimbulkan gejala keracunan dan air seni berwarna merah atau merah muda.

Pencegahan : Konsumen sebelum membeli makanan dan minuman, harus meneliti kondisi fisik, kandungan bahan pembuatnya, kehalalannya melalui label makanan yang terdapat di dalam kemasan makanan tersebut agar keamanan makanan yang dikonsumsi senantiasa terjaga dan Lihat nomor registrasi keamanan dari BPOM.
Ciri-ciri makanan yang mengandung Rhodamin B : Warna kelihatan cerah (merah menyala), sehingga tampak menarik bila produk pangan dalam bentuk larutan/minuman warna merah berpendar. Warna tidak pudar akibat pemanasan (akibat digoreng atau direbus). Ada sedikit rasa pahit (terutama pada sirop atau limun). Baunya tidak alami sesuai makanannya. Banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada kerupuk, es puter). Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya. Harganya Murah.

Pengobatan : Pertolongan Pertama pada Keracunan Rhodamine B: Bila terhirup segera pidahkan korban dari lokasi kejadian, pasang masker berkatup atau perlatan sejenis untuk melakukan pernapasan buatan, bila perlu hubungi dokter; Bila terkena kulit segera lepaskan pakaian perhiasan dan sepatu penderita yang terkontaminasi/terkena Rodamin B. Cuci kulit dengan sabun dan air mengalir sampai bersih dari Rodamin B, selama kurang lebih 15 menit sampai 20 menit. Bila perlu hubungi dokter; Bila terkena mata, bilas dengan air mengalir atau larutan garam fisilogis, mata dikeip kedipkan sampai dipastikan sisa Rodamin B sudah tidak ada lagi atau sudah bersih. bila perlu hubungi dokter; Bila tertelan dan terjadi muntah, letakan posisi kepala lebih rendah dari pinggul untuk mencegah terjadinya muntahan masuk ke saluran pernapasan. Bila korban tidak sadar, miringkan kepala ke samping atau ke satu sisi. Segera hubungi dokter.

Hukuman bagi produsen yang menggunakan Rhodamin B : Penyalahgunaan Rhodamin B dalam makanan dapat membahayakan konsumen sehingga dapat diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan atau denda paling banyak enam ratus juta rupiah.

Sikap konsumen agar tidak salah memilih produk makanan yang mengandung pewarna Rhodamin B : konsumen harus mengetahui ciri-ciri pangan dengan pewarna rhodamin B. Konsumen juga harus berhati hati ,memilih produk pangan yang akan dikonsumsi dengan tidak segan untuk menanyakan kepada penjual apakah produknya menggunakan bahan berbahaya atau tidak.

Upaya pemerintah agar masyarakat terbebas dari makanan yang berRhodamin B Pemerintah telah mengatur peredaran bahan berbahaya termasuk rhodamin B agar tidak bocor ke produsen pangan dan tidak disalahgunakan untuk makanan. Pemerintah melalukan pengawasan yang intensif terhadap toko toko bahan kimia yang selama ini menjual bahan berbahaya termasuk rhodamin B untuk produsen pangan. Pengawsan sebelum dan sesudah pangan beredar serta pengawasan disertai tindakan keras terhadap produsen pangan yang dijumpai menggunakan Rhodamin B untuk pewarna makanan.

TERIMA KASIH