Anda di halaman 1dari 13

GAYA SENTRAL DAN MEKANIKA ASTRONOMI

6.1 Pendahuluan. Hukum Gravitasi Newton



Suatu gaya yang dipengaruhi oleh adanya pengaruh dari titik pusat disebut dengan gaya
sentral. Jika besar gaya tersebut hanya bergantung pada jarak dari pusat dan tidak
tergantung pada arahnya, disebut isotropic. Gaya sentral merupakan pengetahuan dasar
yang sangat penting dalam ilmu fisika, termasuk diantaranya antara lain gaya gravitasi,
gaya elektrostatik dan sebagainya. Gaya interaksi antara partikel-partikel dasar yang
terdapat di alam sangat besar pengaruhnya, untuk dua partikel, salah satu partikel akan
berfungsi sebagai pusat gaya dari partikel yang lain. Tujuan utama dari bab ini adalah untuk
mempelajari gerakan medan gaya sentral dari partikel isotropik dengan penekanan pada
medan gravitasi.

Gravitasi
Newton mengumumkan hukum gravitasi universalnya pada tahun 1666. Hukum ini
bukanlah suatu pernyataan yang berlebih-lebihan yang mana menyangkut asal muasal ilmu
astronomi moderen, untuk perhitungan hukum gravitasi, untuk mengamati pergerakan
planet-planet dalam sistem matahari, pergerakan satelit-satelitnya, bintang kembar atau
ganda, bahkan sistem perbintangan. Hukum gravitasi ini berbunyi :
Setiap partikel yang ada di alam semesta berinteraksi langsung dengan partikel yang
lainnya maka gaya yang ditimbulkan sebanding dengan massa kedua partikel tersebut dan
berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara keduanya. Gaya yang terjadi adalah
sepanjang garis lurus jarak antara kedua partikel tersebut.



Gambar 1. Aksi dan reaksi pada hukum gravitasi Newton

Kita dapat menuliskan secara vektorial persamaan hukum tersebut adalah :
(6.1)
Dimana, F
ij
adalah gaya pada partikel i, dengan massa m
i
yang digunakan oleh
partikel j dengan massa m
j
. Vektor r
ij
adalah garis lurus yang menunjukkan bagian arah dari
partik1 i menuju partikel j, sebagaimana ditunjukkan pada gambar 6.1. Hukum ini
menunjukkan aksi dan reaksi yang seharusnya bahwa F
ij
= -F
ji
. Konstanta G dikenal
sebagaiKonstanta Gravitasi Universal. Nilai konstanta ini telah ditentukan pada
laboratorium dengan pengukuran yang sangat teliti gaya antara dua benda yang diketahui
massanya. Dalam satuan internasional, nilai ini dinyatakan dalam satuan SI,
G = (6,672 0,004) x 10
-11
Nm
2
kg
-2

Semua pemahaman kita tentang massa benda-benda angkasa, termasuk di
antaranya bumi, didasari pada nilai konstanta ini.

6.2 Gaya Gravitasi di antara Lingkaran dan Partikel
Pada bab 2, kita telah mendiskusikan tentang gerakan jatuh sebuah benda, hal ini
dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi pada partikel yang jatuh di permukaan bumi dimana
berbanding terbalik dengan jarak kuadrat partikel terhadap pusat bumi; yaitu daya tarik
bumi yang berpusat pada satu titik massa. Sekarang kita dapat membuktikan bahwa hal ini
dapat terjadi pada semua benda yang berbentuk bulat, atau benda-benda lain yang
memiliki bentuk bulat simetris.
Sebagai pertimbangan awal, suatu penampang tipis yang beraturan dengan massa
M dan jarak R. Selanjutnya r adalah jarak dari pusat O ke partikel P dengan massa m
(gambar 6.2). Hal ini diasumsikan bahwa r > R. Kita dapat membagi luas permukaan
dengan keliling lingkaran dengan lebar R Au, dimana ditunjukkan pada gambar. Sudut POQ
dinyatakan dengan u. Q merupakan titik pada lingkaran. Keliling lingkaran adalah 2tR
sin u, dan massanya AM diberikan oleh
AM ~ p2AR
2
sin u Au
Dimana p adalah massa setiap satuan luas permukaan.
Saat ini gaya gravitasional digunakan pada P dengan bagian elemen kecil Q
lingkaran (yang mana kita dapat mengandaikan sebagai partikel) adalah yang dinyatakan
dengan PQ. Kemudian kita ubah gaya ini,AF
Q
, ke dalam dua komponen, satu komponen
sepanjang PO, yang besarnya AF
q
cos |. Garis yang tegak lurus dengan PO diberikan
olehAF
q
sin |. Disini, | adalah sudut OPQ sebagaimana ditunjukkan pada gambar.
Berdasarkan sumbu simetri, kita dapat dengan mudah melihat bahwa jumlah vektor seluruh
komponen yang tegak lurus terhadap P dengan garis singgung lingkaran. Gaya AF
ditimbulkan dari semua lingkaran sebagaimana ditunjukkan oleh garis PO, dan besarnya AF
berasal dari penjumlahan komponen-komponen AF
q
con |. Hasil yang diperoleh :

Dimana, u adalah jarak PQ (jarak dari partikel P ke lingkaran) sebagaimana ditujukkan
pada gambar. Besarnya gaya yang ditimbulkan P terhadap keliling lingkaran berasal dari
limit Au dan integral :

Persamaan integral ini sangat mudah didapat dengan mengintegralkan turunan u.
Berdasarkan segitiga OPQ kita peroleh, dari hukum cosinus,
r
2
+ R
2
- 2rR cos u = u
2

Dengan menurunkan persamaan ini, kita peroleh bahwa R dan r adalah konstan,
rR sin u du = u du



gambar 6.2 Perhitungan koordinat dari medan gravitasi pada permukaan lintasan
berbentuk lingkaran.

Selain itu, pada segitiga yang sama OPQ, kita dapat menuliskan,

Berdasarkan pembentukan dari substitusinya yang diperoleh dari kedua persamaan di atas,
kita peroleh :
F =
=
=
Dimana M = 4tR
2
merupakan massa dari kulit. Kemudian kita dapat menuliskan
persamaan vektorialnya,
F = (6.2)
Dimana, e
r
adalah satuan dari vektor sudut dari pusat O. Persamaan di atas menjelaskan
tentang lintasan lingkaran beraturan dari interaksi ke dalam suatu benda terhadap partikel
luar dimana massa kulit lintasan berpusat di tengah-tengah lingkaran. Hal ini akan terjadi
untuk setiap bagian pusat lingkaran dari gerak melingkar beraturan. Suatu benda bulat
yang beraturan, dimana interaksi ke dalam suatu partikel luar merupakan keseluruhan
massa dari benda bulat dengan massa terpusat di tengahnya. Hal yang sama juga berlaku
pada benda bulat tidak beraturan berat jenisnya bergantung pada jarak jari-jari r.
Hal ini dapat ditunjukkan pada gaya gravitasi sebuah partikel yang terdapat dalam
benda bulat beraturan adalah nol. Pembuktian dapat dilakukan pada latihan.

6.3 Energi Potensial pada Medan Gravitasi.
Potensial Garvitasi
Pada bab 2 bagian 2.3, kita telah membahas bahwa hukum perbandingan terbalik kuadrat
jarak dari gaya menunjukkan hukum pertama untuk fungsi energi potensial. Pada bagian ini
kita akan menurunkan hubungan yang sama dengan berbagai macam cara secara fisika.
Marilah kita perhatikan suatu kerja W diperlukan untuk menggerakkan partikel uji
dengan massa m sepanjang jarak yang terdapat dalam medan gravitasi terhadap partikel
lain dengan massa M.
Kita harus menempatkan partikel dengan massa M pada sistem koordinat awal,
sebagaimana ditunjukkan pada gambar 6.3(a). Ketika gaya F pada partikel uji ini
memberikan gaya sebesar F = -(GMm/r
2
)e
r
, kemudian untuk menyeimbangkan gaya ini,
sebuah gaya luar F harus diberikan. dW bekerja pada pergerakan partikel uji hingga
mencapai jarakdr hingga kemudian dinyatakan sebagai,
(6.3)
Sekarang kita dapat menetapkan dr kedalam dua komponen: e
r
dr paralel
kepada e
r
(Komponen sudut), dan selain itu pada sudut kanan dari e
r
{Gambar 6.3 (b)}.
Dengan jelas.
e
r
. dr = dr
dan juga W dapat diberikan dengan
(6.4)



(a)




(b)
Gambar 6.3 Diagram untuk menentukan kerja yang disebabkan oleh gerak pada partikel uji
dalam medan gravitasi.

Dimana r
1
dan r
2
adalah sudut jarak dari masing-masing partikel pada awal dan akhir.
Kemudian kerja partikel sendiri pada lintasannya tergantung pada titik akhir. Hal ini
membuktikan fakta sebagaimana yang telah kita ketahui, pernyataan hukum perbandingan
terbalik kuadrat dari gaya sudah tidak berlaku.
Kita dapat mendefenisikan energi potensial massa suatu partikel yang terdapat
pada medan gravitasi terhadap partikel yang lain dimana terjadi kerja pada pergerakan
partikel uji dari beberapa (berubah-ubah) posisi acuan ke suatu titik ke dalam suatu
persamaan. Hal ini sangat tepat untuk menentukan posisi acuan pada titik yang tak
terbatas. Anggap r
1
= dan r
2
= r, dalam persamaan 6.4, kita dapatkan
(6.5)
Persamaan ini sangat tepat didefenisikan secara kuantitas sebagai u, yang disebut
sebagai potensial gravitasi, sebagaimana energi potensial gravitasi tiap satuan massa :
u =
Kemudian potensial gravitasi pada medan dari pertikel yang bermassa M diberikan :
u = (6.6)
Jika kita memiliki partikel dengan nilai M
1
, M
2
, ... M
i
, ...dengan posisi pada r
1
, r
2
, ... r
i
...,
kemudian potensial gravitasi pada titik (x, y, z) merupakan jumlah dari potensial gravitasi
semua partikel, yaitu
u (x, y, z) = Eu
i
= (6.7)
Dimana u
i
merupakan jarak dari partikel i, dengan massa M
i
, ke titik medan r (x, y, z).
Selanjutnya
U
i
= , r - r
i
,
Perbandingan gaya gravitasi yang diberikan oleh partikel terhadap massanya
disebut dengan Intensitas medan gravitasi. Intensitas medan gravitasi ini disimbolkan
dengan G , selanjutnya
G =
Hubungan antara intensitas medan dengan potensial adalah sama dimana antara gaya F
dan energi potensial V, dapat dinyatakan
G = - Vu (6.8)
F = - V V
Intensitas medan gravitasi dapat dihitung dengan persamaan potensial gravitasi pertama
dari persamaan 6.7 dan kemudian menghitung tingginya. Metode ini merupakan metode
sederhana yang sering diterapkan pada metode perhitungan medan gravitasi dari hukum
perbandingan terbalik kuadrat. Hasil perhitungan ini menunjukkan bahwa energi potensial
gravitasi merupakan penjumlahan secara berkala dimana medan gravitasi berasal dari
penjumlahan vektor. Keadaan ini dianalogikan dalam teori medan elektrostatik. Faktanya,
hanya satu yang dapat diterapkan dari berbagai hasil pengamatan berdasarkan gaya
elektrostatik yang ditimbulkan oleh medan gravitasi dan potensial gravitasi dengan
syarat, dimana massa bernilai negatif.

Contoh
6.1 Potensial pada kulit lingkaran beraturan
Sebagai contoh, marilah kita cari fungsi potensial untuk kulit lingkaran beraturan.
Dengan menggunakan persamaan yang sama sebagaimana ditunjukkan pada gamabr 6.2,
kita dapatkan:

Berdasarkan hubungan yang sama antara u dan u maka kita menemukan bahwa
persamaan di atas dapat disederhanakan menjadi:
(6.9)
Dimana M adalah massa kulit. Massa ini sama dengan fungsi potensial sebagaimana
halnya pada partikel tunggal dengan massa M pada posisi O. Oleh karena itu medan
gravitasi di luar kulit sama jika massanyaberpusat pada tengah lingkaran. Hal
ini menimbulkan masalah yang menunjukkan bahwa dengan mengubah secara tepat
terhadap integral dan limitnya, potensial dalam kulit akan konstan dan oleh karena itu
medan yang ditimbulkan adalah nol.

6.2 Potensial dan medan pada cincin tipis
Kita sekarang dapat menemukan fungsi potensial dan intensitas medan gravitasi
sebuah pesawat dengan peredaran yang membentuk lingkaran elips. Anggaplah lingkaran
tersebut memiliki jari-jari R dan massa M. Kemudian untuk titik singgung luarnya terletak di
lintasan pesawat, gambar 6.4, dapat kita peroleh,
u =


Gambar 6.4 Coordinat untuk menghitung medan grafitasi pada lingkaran

Yang mana merupakan kepadatan linier dari lingkaran. Dalam aturan
pengevaluasian integral, kita harus menuangkan hasil integral ke dalam suatu sudut .
Pada segitiga OPQ, kita peroleh
R sin = r sin |
Turunannya
R cos d = r cos | d| = r cos | (-du - d)
Tahap terakhir mengikuti dari kenyataan bahwa u + | + = t. Apabila diubah urutan
dan menghubungkan dengan u = R cos + r cos |, kita dapatkan,
U d = -r cos | du = -(r
2
R
2
sin
2
)
1/2
du
Oleh karena itu, integral persamaan di atas menghasilkan
(6.10)
Dengan melanjutkan pengintegralan sebagai kesatuan dan mengintegrakan bagian- per
bagian , kita peroleh
u =
=
=
Intensitas medan pada suatu jarak r dari pusat lingkaran merupakan jari-jari lingkaran
( u bukan sebuah fungsi dari u), dan persamaan ini ditunjukkan
G =
Jadi, medan gravitasi tidak mengikuti hukum perbandingan terbalik kuadrat. Jika r
dibandingkan dengan R sedemikian rupa, maka bagian pertama lebih mempengaruhi, dan
medan merupakan golongan perbandingan terbalik kuadrat. Faktanya, ini juga berlaku
untuk benda-benda tertentu dengan berbagai bentuk, yaitu untuk jarak yang dibandingkan
dengan dimensi linier pada sebuah benda, medan cenderung menjadi pendominasi
perbandingan terbalik kuadrat.




Hukum Gerakan Planet Kepler
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa


Figure 1: Illustration of Kepler's three laws with two planetary orbits. (1) The orbits are ellipses, with focal points1 and 2 for
the first planet and 1 and &>. (2) The two shaded sectors A1 and A2 have the same surface area and the time for planet 1 to
cover segment A1 is equal to the time to cover segment A2. (3) The total orbit times for planet 1 and planet 2 have a
ratio a1
3/2
: a2
3/2
.
Di dalam astronomi, tiga Hukum Gerakan Planet Kepler adalah:
Setiap planet bergerak dengan lintasan elips, Matahari berada di salah satu fokusnya.
Luas daerah yang disapu pada selang waktu yang sama akan selalu sama.
Perioda kuadrat suatu planet berbanding dengan pangkat tiga jarak rata-ratanya dari Matahari.
Ketiga hukum di atas ditemukan oleh ahli matematika dan astronomi Jerman: Johannes Kepler(15711630),
yang menjelaskan gerakan planet di dalam tata surya. Hukum di atas menjabarkan gerakan dua benda yang
saling mengorbit.
Karya Kepler didasari oleh data pengamatan Tycho Brahe, yang diterbitkannya sebagai 'Rudolphine tables'.
Sekitar tahun 1605, Kepler menyimpulkan bahwa data posisi planet hasil pengamatan Brahe mengikuti
rumusan matematika cukup sederhana yang tercantum di atas.
Hukum Kepler mempertanyakan kebenaran astronomi dan fisika warisan zaman Aristoteles danPtolemaeus.
Ungkapan Kepler bahwa Bumi beredar sekeliling, berbentuk elips dan bukannya epicycle, dan membuktikan
bahwa kecepatan gerak planet bervariasi, mengubah astronomi dan fisika. Hampir seabad kemudian, Isaac
Newton mendeduksi Hukum Kepler dari rumusan hukum karyanya, hukum gerak dan hukum gravitasi Newton,
dengan menggunakan Euclidean geometri klasik.
Pada era modern, hukum Kepler digunakan untuk aproksimasi orbit satelit dan benda-benda yang mengorbit
Matahari, yang semuanya belum ditemukan pada saat Kepler hidup (contoh: planet luar dan asteroid). Hukum
ini kemudian diaplikasikan untuk semua benda kecil yang mengorbit benda lain yang jauh lebih besar,
walaupun beberapa aspek seperti gesekan atmosfer (contoh: gerakan di orbit rendah), atau relativitas (contoh:
prosesi preihelion merkurius), dan keberadaan benda lainnya dapat membuat hasil hitungan tidak akurat dalam
berbagai keperluan.


Animasi dari gerak Kepler
Daftar isi
[sembunyikan]
- 1 Pengenalan Tiga Hukum Kepler
o 1.1 Secara Umum
o 1.2 Hukum Pertama
o 1.3 Hukum Kedua
o 1.4 Hukum Ketiga
- 2 Sejarah
- 3 Pustaka
- 4 Pranala luar
[sunting]Pengenalan Tiga Hukum Kepler
[sunting]Secara Umum
Hukum hukum ini menjabarkan gerakan dua badan yang mengorbit satu sama lainnya. Massa dari kedua
badan ini bisa hampir sama, sebagai contohCharonPluto (~1:10), proporsi yang kecil, sebagai
contoh. BulanBumi(~1:100), atau perbandingan proporsi yang besar, sebagai contohMerkurius
Matahari (~1:10,000,000).
Dalam semua contoh di atas, kedua badan mengorbit mengelilingi satu pusat massa, barycenter, tidak satu
pun berdiri secara sepenuhnya di atas fokus elips. Namun, kedua orbit itu adalah elips dengan satu titik fokus
di barycenter. Jika rasio massanya besar, sebagai contoh planet mengelilingi Matahari, barycenternya terletak
jauh di tengah obyek yang besar, dekat di titik massanya. Di dalam contoh ini, perlu digunakan instrumen
presisi canggih untuk mendeteksi pemisahan barycenter dari titik masa benda yang lebih besar. Jadi, hukum
Kepler pertama secara akurat menjabarkan orbit sebuah planet mengelilingi Matahari.
Karena Kepler menulis hukumnya untuk aplikasi orbit planet dan Matahari, dan tidak mengenal generalitas
hukumnya, artikel ini hanya akan mendiskusikan hukum di atas sehubungan dengan Matahari dan planet-
planetnya.
[sunting]Hukum Pertama


Figure 2: Hukum Kepler pertama menempatkan Matahari di satu titik fokus edaran elips.
"Setiap planet bergerak dengan lintasan elips, Matahari berada di salah satu fokusnya."
Pada zaman Kepler, klaim di atas adalah radikal. Kepercayaan yang berlaku (terutama yang berbasis teori
epicycle) adalah bahwa orbit harus didasari lingkaran sempurna. Pengamatan ini sangat penting pada
saat itu karena mendukung pandangan alam semesta menurut Kopernikus. Ini tidak berarti ia kehilangan
relevansi dalam konteks yang lebih modern.
Meski secara teknis elips yang tidak sama dengan lingkaran, tetapi sebagian besar planet planet
mengikuti orbit yang bereksentrisitas rendah, jadi secara kasar bisa dibilang mengaproksimasi lingkaran.
Jadi, kalau ditilik dari pengamatan jalan edaran planet, tidak jelas kalau orbit sebuah planet adalah elips.
Namun, dari bukti perhitungan Kepler, orbit-orbit itu adalah elips, yang juga memeperbolehkan benda-
benda angkasa yang jauh dari Matahari untuk memiliki orbit elips. Benda-benda angkasa ini tentunya
sudah banyak dicatat oleh ahli astronomi, seperti komet dan asteroid. Sebagai contoh, Pluto, yang diamati
pada akhir tahun 1930, terutama terlambat diketemukan karena bentuk orbitnya yang sangat elips dan
kecil ukurannya.
[sunting]Hukum Kedua


Figure 3: Illustrasi hukum Kepler kedua. Bahwa Planet bergerak lebih cepat di dekat Matahari dan lambat di jarak
yang jauh. Sehingga, jumlah area adalah sama pada jangka waktu tertentu.
"Luas daerah yang disapu pada selang waktu yang sama akan selalu sama."
Secara matematis:

dimana adalah "areal velocity".
[sunting]Hukum Ketiga
Planet yang terletak jauh dari Matahari memiliki perioda orbit yang lebih panjang dari planet yang
dekat letaknya. Hukum Kepler ketiga menjabarkan hal tersebut secara kuantitatif.

"Perioda kuadrat suatu planet berbanding dengan pangkat tiga jarak rata-ratanya dari Matahari."
Secara matematis:

dengan adalah perioda orbit planet dan adalah sumbu semimajor orbitnya.
Konstant proporsionalitasnya adalah semua sama untuk planet yang mengedar
Matahari.