Anda di halaman 1dari 36

TUTORIAL PERINATOLOGI HIPOGLIKEMI DAN HIPOTERMI PADA NEONATUS

Oleh: Venessa Pranata Karolind Adriani Pembimbing: dr. Hj. Sukartini, Sp.A

LABORATORIUM/SMF ILMU KESEHATAN ANAK FK UNMUL RSUD A. W. SJAHRANIE SAMARINDA 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Appendisitis adalah peradangan yang terjadi pada Appendiks vermicularis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering pada anak-anak maupun dewasa di seluruh dunia. Terdapat sekitar 250.000 kasus appendisitis yang terjadi di Amerika Serikat setiap tahunnya dan terutama terjadi pada anak usia 6-10 tahun. Kelompok umur kurang dari 2 tahun jarang mengalami apendisitis. Appendisitis akut merupakan kasus bedah emergensi yang paling sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Sakit perut sebagai keluhan utama masih memberikan banyak kemungkinan sehingga diagnosis apendisitis akut menjadi tidak mudah, terutama pada anak-anak. . Hampir 1/3 anak dengan appendisitis akut mengalami perforasi setelah
dilakukan operasi. Meskipun telah dilakukan peningkatan pemberian resusitasi cairan dan antibiotik yang lebih baik, appendisitis pada anak-anak, terutama pada anak usia prasekolah masih tetap memiliki angka morbiditas yang signifikan

Diagnosis appendisitis akut pada anak kadang-kadang sulit. Diagnosis yang tepat dibuat hanya pada 50-70% pasien-pasien pada saat penilaian awal. Angka appendectomy negatif pada pediatrik berkisar 10-50%. Riwayat perjalanan penyakit pasien dan pemeriksaan fisik merupakan hal yang paling penting dalam mendiagnosis appendisitis. Semua kasus appendisitis memerlukan tindakan pengangkatan dari appendiks yang terinflamasi, baik dengan laparotomy maupun dengan laparoscopy. Apabila tidak dilakukan tindakan pengobatan, maka angka kematian akan tinggi, terutama disebabkan karena peritonitis dan shock. 1.2 Tujuan Tujuan pembuatan laporan kasus tutorial ini adalah :
1. 2.

Menambah ilmu dan pengetahuan mengenai penyakit yang dilaporkan. Membandingkan informasi yang terdapat pada literatur dengan kenyataan yang terdapat pada kasus.

BAB II LAPORAN KASUS Identitas pasien :


Ruang perawatan Nama Jenis kelamin Umur Alamat Anak ke

: Melati : An. S : Laki-laki : 9 Tahun : Jl. Trikora, Handil bakti, Palaran : 3 dari 4 bersaudara

Identitas Orang Tua


Nama Ayah Umur Alamat Pekerjaan Pendidikan Terakhir Ayah perkawinan ke Riwayat kesehatan ayah Nama Ibu Umur Alamat Pekerjaan Pendidikan Terakhir Ibu perkawinan ke Riwayat kesehatan ibu

: Tn. M : 50 tahun : Jl. Trikora, Handil bakti, Palaran : Bangunan : SD :1 : sehat : Ny. H : 43 tahun : Jl. Trikora, Handil bakti, Palaran : IRT : SD :1 : sehat

Anamnesis Anamnesis didapatkan dari alloanamnesis. Alloanamnesis dilakukan terhadap ibu pasien pada tanggal 23 September 2012 pukul 13.00 WITA. Keluhan Utama Demam Riwayat Penyakit Sekarang Demam dialami pasien sejak 3 hari sebelum masuk RS siang hari saat pasien pulang dari sekolahnya. Demam ini tanpa disertai menggigil dan terjadi terus-menerus dan hanya turun jika diberi obat penurun panas. Demam juga disertai dengan mimisan. Ibu pasien mengaku bahwa pasien memang sering mimisan sejak dulu. Kemudian pasien dibawa ke klinik terdekat. Namun demam pasien tidak kunjung reda malah bertambah tinggi. Selasa (16-10-2012) pagi pasien dibawa ke RS Palaran dan dicurigai terkena DBD. Oleh karena itu, pasien segera dirujuk ke IGD RS AWS. Pasien datang ke IGD dengan keluhan demam, mimisan sebanyak 2 kali, muntah-muntah, disertai nyeri perut bagian tengah atas sehingga pasien sulit bergerak. Keluhan nyeri perut ini baru saja dialami pasien sejak siang harinya bersamaan dengan muntahnya. 2 hari kemudian saat pasien dirawat di Ruang Melati, nyeri perut pasien pindah ke daerah kanan bawah. Keluhan ini juga disertai dengan penurunan nafsu makan. Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan serupa Riwayat Kehamilan

Pemeliharaan Prenatal Periksa di Penyakit kehamilan : praktek bidan :-

Obat-obatan yang sering diminum

: vitamin

Riwayat Kelahiran :

Lahir di di tolong oleh Berapa bulan dalam kandungan Jenis partus Pemeliharaan postnatal Periksa di Keluarga berencana Memakai sistem Sikap dan kepercayaan

: rumah : dukun kampung : 11 bulan : spontan : bidan : ya : Hormonal (pil) : percaya

Pertumbuhan dan perkembangan anak :


Berat badan lahir Panjang badan lahir Miring Tengkurap Tersenyum Duduk Gigi keluar Merangkak Berdiri Berjalan Berbicara dua suku kata Masuk TK Masuk SD

: 3000 gram : 48 cm : ibu lupa : ibu lupa : ibu lupa : ibu lupa : ibu lupa : ibu lupa : 1 tahun : 1 tahun : 1,5 tahun : 5,5 tahun : 6,5 tahun

Riwayat Makan Minum anak :


ASI Dihentikan Alasan

: 0 hari : 1 tahun :-

Susu sapi/buatan Jenis susu buatan Takaran Frekuensi Buah Bubur susu Tim saring Makanan padat dan lauknya

: 4 bulan :::: 1 bulan :: 4 bulan : ibu lupa

Riwayat Imunisasi : Imunisasi BCG Polio Campak DPT Hepatitis B Usia Saat Imunisasi I 1 bulan 1 bulan 2 bulan 2 bulan II //////// ///////// III /////// //////// IV /////// /////// /////// ///////

Keadaan Sosial Ekonomi :


Pasien tinggal dan dirawat oleh kedua orang tua. Konsumsi untuk keluarga pasien berasal dari penghasilan ayahnya sebagai buruh bangunan Dalam satu hari keluarga pasien biasa makan tiga kali sehari dengan nasi, lauk, pauk, dan buah Pasien dan keluarga tinggal di rumah kontrakan yang berdinding beton, beratap genteng dan lantai semen berukuran 15 x 7 meter, berlantai satu, 3 kamar.

Dalam satu rumah dihuni oleh enam orang, yaitu: ayah, ibu dan saudara/I pasien. Kamar mandi dan toilet berada di dalam rumah. Sumber air: PDAM

Listrik: PLN Pasien memiliki jaminan kesehatan JAMKESDA.

Pemeriksaan Fisik Dilakukan pada tanggal : 23 September 2012 (pukul 15.00 WITA) Antropometri

Berat badan Panjang Badan BMI Lingkar Kepala Lingkar Lengan Atas Nadi Frekuensi napas Suhu aksiler Kesan sakit Kesadaran Status Gizi Rumus Behrman BB ideal Status gizi

: : : : : : 90 : 36

22 kg 132 cm 12,62 Kg/m2 52,5 cm 16 cm x/menit (reguler, isi cukup, kuat angkat) x/menit

Tanda Vital

: 36,7 C : Sakit sedang : compos mentis : gizi kurang

Keadaan Umum

= (umur dalam tahun x 7)-5 : 2 = 29 kg = BB sekarang/BB ideal x 100% = = 75,8 % (gizi kurang)

Kepala

Rambut

: hitam mm / 3 mm, Reflek cahaya +/+

Mata : cowong (-), edema pre orbita (-/-), anemis (-), ikterik (-), pupil 3 Hidung Telinga Mulut hiperemi : sumbat (-), bau (-), selaput putih (-) : Bersih, Bau (-), sakit (-) : lidah bersih, tonsil dan faring tidak

Leher

pembesaran kelenjar kaku kuduk

: (-) : (-)

Kulit Kering dengan turgor kulit baik Dada

Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi

: diam simetris, gerak simetris, retraksi suprasternal (-), retraksi interkostal (-) : krepitasi (-) : sonor : suara napas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi


Palpasi

: Ictus Cordis tidak terlihat : Ictus Cordis teraba pada ICS V MCL Sinistra : Batas Kiri = ICS V MCL Sinistra Batas Kanan = ICS IV PSL Dextra : S1/S2 tunggal, reguler, suara tambahan (-)

: datar, (-) : nyeri tekan mc.burney (+), rovsing sign (+), psoas sign (+), obturator sign (-), organomegali (-) : Timpani : Bising usus (+) kesan normal

Perkusi Auskultasi Ekstremitas

Akral Hangat, sianosis (-), edema

-- --

Pemeriksaan refleks: Refleks fisiologi :

Refleks patella Refleks Achilles Refleks tendo biceps Refleks triceps

: +/+ : +/+ : +/+ : +/+

Pemeriksaan Penunjang 1. Darah Lengkap (bulan Oktober 2012) Tanggal Jam Hb Ht Trombosit Leukosit 16 IGD 15,0 46,4% 89.00 0 4000 17 06.00 13,9 42% 44.00 0 4700 09.00 15 41,2% 35.00 0 4000 17.00 13,4 40% 34.00 0 5300 18 01.00 14 42% 45.00 0 7900 09.00 12,4 37% 53.00 0 11.20 0 Tanggal Jam Hb Ht Trombosit Leukosit 19 09.00 10,4 29% 75.00 0 15200 20 01.00 10,1 31% 51.00 0 16.30 0 21 09.00 9,6 29% 182.00 0 25.300 23 8,8 27% 397.000 18.200 17.00 10,5 32% 35.00 0 8400 19 01.00 10,7 33% 46.000 11.000

17.00 10,2 31% 50.00 0 12.50 0

09.00 10,4 29% 75.00 0 15.20 0

17.00 9,7 30% 57.00 0 14.90 0

01.00 8,8 27% 116.00 0 19.100

Tanggal 17-10-2012, hasil laboratorium pukul 09.00 Dengue IgM dan IgG positif

Hasil USG 23 September 2012

Hasil : Kesan suspek efusi pleura dextra Ada cairan dekat daerah liver, supect pleura effusion dextra. Liver, gall bladder, pancreas, spleen, kedua kidney, urinary bladder, dan caecum tidak tampak kelainan. Tidak tampak adanya appendicitis atau batu pada traktus urinarius. Tidak ada ascites intra abdomen et pelvis. Banyak udara dalam GIT. Diagnosis Kerja Terapi : post DHF dengan Appendisitis akut : IVFD RL 20 tpm Paracetamol 3x250 mg Ranitidine 3X23 mg iv 50 mg Pamol 3 X II cth Vit. B complex 1 X 1 Tab Inj Cefotaxime 3 x 500 mg iv Appendictomy emergency Prognosis : Bonam

Lembar Follow-Up Tanggal 22-10-2012 BB: 22 kg Perjalanan Penyakit S: nyeri perut (+), demam (-), muntah (-), Mencret 10X mulai kemarin O : CM, nadi 72 kali/menit, RR 24 kali/menit, T: 36,30C, anemis (-/-), ikt (-/-), rh (-/-), wh (-/-). Nyeri tekan mc. burney (+), psoas sign (-), Pengobatan IVFD RL 20 tpm Ranitidine 2X50 mg iv Cefotaxime 3X500 mg iv Dexametasone 4 mg iv Paracetamol 3XII cth Konsul bagian radiologi : USG abdomen susp. app Nasi lauk pauk 3 x sehari

rovsing sign (-), obturator sign (-). 23-09-2012 BB: 22 kg S: nyeri perut (+), demam (-), mencret (-) O: CM, nadi 70 kali/menit, RR 36 kali/menit, T: 36,70C, anemis (-/-), ikt (-/-), rh (-/-), wh (-/-),Nyeri tekan mc. burney (+), blumberg sign (+), psoas sign (+), rovsing sign (-), obturator sign (-). Hasil USG 22/10/12 : Tidak tampak adanya apendisitis Terapi lanjut Konsul bagian bedah anak Appendectomy emergency, persiapan op : - prc 1 ui di PMI - puasakan 4-6 jam

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1. Apendisitis I. Anatomi Appendiks merupakan suatu organ limfoid seperti tonsil, payer patch (analog dengan Bursa Fabricus) membentuk produk immunoglobulin. Appendiks adalah suatu struktur kecil, berbentuk seperti tabung yang berkait menempel pada bagian awal dari sekum. Pangkalnya terletak pada posteromedial caecum. Pada

Ileocaecal junction terdapat Valvula Ileocecalis (Bauhini) dan pada pangkal appendiks terdapat valvula appendicularis (Gerlachi). Panjang antara 7-10 cm, diameter 0,7 cm. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal. Appendiks terletak di kuadran kanan bawah abdomen. Tepatnya di ileosecum dan merupakan pertemuan ketiga taenia coli (taenia libera, taenia colica, dan taenia omentum). Dari topografi anatomi, letak pangkal appendiks berada pada titik Mc Burney, yaitu titik pada garis antara umbilicus dan SIAS kanan yang berjarak 1/3 dari SIAS kanan.

Gambar 1. Anatomi Valvula Ileocecalis Appendiks vermiformis disangga oleh mesoapendiks (mesenteriolum) yang bergabung dengan mesenterium usus halus pada daerah ileum terminale. Mesenteriolum berisi a.Apendikularis (cabang a.ileocolica). Orificiumnya terletak 2,5 cm dari katup ileocecal. Mesoapendiknya merupakan jaringan lemak yang mempunyai pembuluh appendiceal dan terkadang juga memiliki limfonodi kecil.

Gambar 2. Anatomi Appendiks Struktur appendiks mirip dengan usus mempunyai 4 lapisan yaitu mukosa, submukosa, muskularis eksterna/propria (otot longitudinal dan sirkuler) dan serosa. Lapisan submukosa terdiri dari jaringan ikat dan jaringan elastic membentuk jaringan saraf, pembuluh darah dan lymphe. Antara Mukosa dan submukosa terdapat lymphonodes. Mukosa terdiri dari satu lapis collumnar epithelium dan terdiri dari kantong yang disebut crypta lieberkuhn. Dinding dalam sama dan berhubungan dengan sekum (inner circular layer). Dinding luar (outer longitudinal muscle) dilapisi oleh pertemuan ketiga taenia colli pada pertemuan caecum dan apendiks. Taenia anterior digunakan sebagai pegangan untuk mencari appendiks. Pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden apendisitis pada usia itu. Pada 65 % kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Pada kasus selebihnya, apediks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, di belakang kolon asendens,

atau ditepi lateral kolon asendens. Gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks. Jenis posisi: Promontorik : ujung appendiks menunjuk ke arah promontoriun sacri Retrocolic Antecaecal Paracaecal Retrocaecal : appendiks berada di belakang kolon ascenden (biasanya : appendiks berada di depan caecum. : appendiks terletak horizontal di belakang caecum. : intraperitoneal atau retroperitoneal; appendiks berputar ke atas retroperitoneal)

Pelvic descenden : appendiks menggantung ke arah pelvis minor ke belakang caecum.

Gambar 3. Posisi Apendiks Appendiks dipersarafi oleh parasimpatis dan simpatis. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dan arteri appendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus thorakalis X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada appendisitis bermula di sekitar umbilikus. Pendarahan appendiks berasal dari arteri Appendikularis , cabang dari a.Ileocecalis, cabang dari a. Mesenterica superior. A. Appendikularis merupakan

arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena trombosis pada infeksi, appendiks akan mengalami gangren. 3.2. Fisiologi Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml perhari. Lendir itu normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis appendisitis. Dinding appendiks terdiri dari jaringan lymphe yang merupakan bagian dari sistem imun dalam pembuatan antibodi. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk appendiks, ialah IgA. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan limfonodi di sini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh. 3.3 Etiologi Appendisitis akut dapat disebabkan oleh beberapa sebab terjadinya proses radang bakteria yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus diantaranya hiperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks, dan cacing askaris yang menyumbat. Ulserasi mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini. namun ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya radang apendiks, diantaranya : 1. Faktor sumbatan (obstruksi) Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya appendisitis (90%) yang diikuti oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hyperplasia jaringan lymphoid sub mukosa, 35% karena stasis fekal, 4% karena benda asing dan sebab lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh parasit dan cacing. Obstruksi yang disebabkan oleh fekalith dapat ditemui pada bermacam-macam appendisitis akut diantaranya ; fekalith ditemukan 40% pada kasus apendisitis kasus sederhana, 65% pada kasus apendisitis akut ganggrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus apendisitis akut dengan rupture.

2. Faktor Bakteri Infeksi enterogen merupakan faktor pathogenesis primer pada apendisitis akut. Adanya fekalith dalam lumen apendiks yang telah terinfeksi memperburuk dan memperberat infeksi, karena terjadi peningkatan stagnasi feses dalam lumen apendiks, pada kultur didapatkan terbanyak ditemukan adalah kombinasi antara Bacteriodes fragililis dan E.coli, lalu Splanchicus, lacto-bacilus, Pseudomonas, Bacteriodes splanicus. Sedangkan kuman yang menyebabkan perforasi adalah kuman anaerob sebesar 96% dan aerob<10%. 3. Kecenderungan familiar Hal ini dihubungkan dengan tedapatnya malformasi yang herediter dari organ, appendiks yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan letaknya yang mudah terjadi appendisitis. Hal ini juga dihubungkan dengan kebiasaan makanan dalam keluarga terutama dengan diet rendah serat dapat memudahkan terjadinya fekalith dan mengakibatkan obstruksi lumen. 4. Faktor ras dan diet Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan sehari-hari. Bangsa kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai resiko lebih tinggi dari negara yang pola makannya banyak serat. Namun saat sekarang, kejadiannya terbalik. Bangsa kulit putih telah merubah pola makan mereka ke pola makan tinggi serat. Justru Negara berkembang yang dulunya memiliki tinggi serat kini beralih ke pola makan rendah serat, memiliki resiko apendisitis yang lebih tinggi. 3.4. Patofisiologi Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi lumen yang tertutup disebabkan oleh hambatan pada bagian proksimalnya dan berlanjut pada peningkatan sekresi normal dari mukosa appendiks yang distensi. Obstruksi tersebut mneyebabkan mucus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan intralumen. Kapasitas lumen apendiks normal hanya

sekitar 0,1 ml. Jika sekresi sekitar 0,5 ml dapat meningkatkan tekanan intalumen sekitar 60 cmH20. Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan appendiks mengalami hipoksia, menghambat aliran limfe, terjadi ulserasi mukosa dan invasi bakteri. Infeksi menyebabkan pembengkakan apendiks bertambah (edema) dan semakin iskemik karena terjadi trombosis pembuluh darah intramural (dinding apendiks). Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Gangren dan perforasi khas dapat terjadi dalam 24-36 jam, tapi waktu tersebut dapat berbeda-beda setiap pasien karena ditentukan banyak faktor. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangrene. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa local yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Infiltrat apendikularis merupakan tahap patologi apendisitis yang dimulai dimukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama, ini merupakan usaha pertahanan tubuh dengan membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum, usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk massa periapendikular. Didalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara lambat. Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan

pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah. Kecepatan rentetan peristiwa tersebut tergantung pada virulensi mikroorganisme, daya tahan tubuh, fibrosis pada dinding apendiks, omentum, usus yang lain, peritoneum parietale dan juga organ lain seperti vesika urinaria, uterus tuba, mencoba membatasi dan melokalisir proses peradangan ini. Bila proses melokalisir ini belum selesai dan sudah terjadi perforasi maka akan timbul peritonitis. Walaupun proses melokalisir sudah selesai tetapi masih belum cukup kuat menahan tahanan atau tegangan dalam cavum abdominalis, oleh karena itu pendeita harus benar-benar istirahat (bedrest). Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut. 3.5. Gejala Klinis Gambaran klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita, antara lain 1. Nyeri abdominal Nyeri ini merupakan gejala klasik appendisitis. Mula-mula nyeri dirasakan samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium atau sekitar umbilicus. Setelah beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di abdomen kanan bawah (titik Mc Burney). Nyeri akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya sehingga berupa nyeri somatik setempat. Bila terjadi perangsangan peritonium biasanya penderita akan mengeluh nyeri di perut pada saat berjalan atau batuk. 2. 3. 4. 5. Mual-muntah biasanya pada fase awal. Nafsu makan menurun. Obstipasi dan diare pada anak-anak. Demam, terjadi bila sudah ada komplikasi, bila belum ada komplikasi biasanya tubuh belum panas. Suhu biasanya berkisar 37,5-38,5 C Gejala appendisitis akut pada anak-anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa

nyerinya. Karena gejala yang tidak spesifik ini sering diagnosis appendisitis diketahui setelah terjadi perforasi.

Kelainan patologi Peradangan awal

Keluhan dan tanda Kurang enak ulu hati/daerah pusat, mungkin kolik

Apenditis mukosa

nyeri tekan kanan bawah (rangsaganan automik)

Radang di seluruh Ketebalan dinding

nyeri sentral pindah ke kanan bawah, mual dan muntah

Apendisitis komplet radang Peritoneum parietale appendiks

rangsangan peritoneum lokal (somatik) nyeri pada gerak aktif dan pasif, defans muskuler lokal

Radang alat/jaringan yang Menempel pada appendiks Perforasi Pendindingan (Infiltrat) Tidak berhasil

genitalia interna, ureter, m.psoas, kantung kemih, rektum demam sedang, takikardia, mulai toksik, leukositosis

demam tinggi, dehidrasi, syok, toksik

Berhasil

massa perut kanan bawah, keadaan umum berangsur membaik

Abses

demam remiten, keadaan umum toksik, keluhan dan tanda setempat

3.6.

Pemeriksaan Fisik Demam biasanya ringan, dengan suhu sekitar 37,5-38,5C. Bila suhu lebih

tinggi, mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat perbedaan suhu aksilar dan rektal sampai 1C. 1. Inspeksi Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk dan memegang perut. Penderita tampak kesakitan. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses appendikuler. 2. Palpasi Dengan palpasi di daerah titik Mc. Burney didapatkan tanda-tanda peritonitis lokal yaitu : Nyeri tekan di Mc. Burney Nyeri lepas Defans muscular lokal. Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietal. Pada appendiks letak retroperitoneal, defans muscular mungkin tidak ada, yang ada nyeri pinggang. Nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung : Nyeri tekan bawah pada tekanan kiri (Rovsing) Nyeri kanan bawah bila tekanan di sebelah kiri dilepaskan (Blumberg) Nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak seperti nafas dalam, berjalan, batuk, mengedan. Appendisitis infiltrat atau adanya abses apendikuler terlihat dengan adanya penonjolan di perut kanan bawah. 3. Auskultasi Peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat appendisitis perforata.

Pemeriksaan colok dubur akan didapatkan nyeri kuadran kanan pada jam 9-12. Pada appendisitis pelvika akan didapatkan nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Pada apendisitis pelvika tanda perut sering meragukan, maka kunci diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Colok dubur pada anak tidak dianjurkan. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan m. psoas lewat hiperekstensi atau fleksi aktif. Bila apendiks yang meradang menempel di m.psoas, tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Uji obturator digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak dengan m.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil. Dengan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang, pada apendisitis pelvika akan menimbulkan nyeri. Psoas sign. Nyeri pada saat paha kanan pasien diekstensikan. Pasien dimiringkan kekiri. Pemeriksa meluruskan paha kanan pasien, pada saat itu ada hambatan pada pinggul / pangkal paha kanan. Dasar anatomi dari tes psoas. Apendiks yang mengalami peradangan kontak dengan otot psoas yang meregang saat dilakukan manuver (pemeriksaan).

Gambar 5. Tes Psoas sign Tes Obturator. Nyeri pada rotasi kedalam secara pasif saat paha pasien difleksikan. Pemeriksa menggerakkan tungkai bawah kelateral, pada saat itu ada tahanan pada sisi samping dari lutut (tanda bintang), menghasilkan rotasi femur kedalam. Dasar Anatomi dari tes obturator : Peradangan apendiks dipelvis yang kontak dengan otot obturator internus yang meregang saat dilakukan manuver.

Gambar 6. Tes Obturator sign 3.7. Pemeriksaan Penunjang 1. a. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan darah : akan didapatkan leukositosis pada kebanyakan kasus appendisitis akut terutama pada kasus dengan komplikasi, pada appendicular infiltrat, LED akan meningkat. b. Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam urin. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan appendisitis. 2. Abdominal X-Ray Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai penyebab appendisitis. Pemeriksaan ini dilakukan terutama pada anak-anak. 3. USG Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG, terutama pada wanita, juga bila dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan sebagainya. Berbagai gambaran appendisitis : 1. Non-perforated appendicitis

Keterangan : panah hitam menunjukkan apendiks yang sedikit berdilatasi, panah putih menunjukkan ujung dari apendiks. Tidak ditemukan adanya apendikolith atau cairan disekitar usus.

2. Perforated appendicitis tanpa abses atau purulent fluid Keterangan : panah menunjukkan pembesaran apendiks, apendiks kehilangan bagian submucosanya, karena itu dicurigai adanya perforasi.

3. Perforated appendicitis with free fluid

Keterangan : ditemukan cairan bebas (ff) yang mengelilingi usus (b) 4. Perforated appendicitis

Keterangan : Kiri : panah kecil meunjukkan apendiks yang membesar berisi apendikolith (panah besar). Ditemukan juga diiding apendiks yang tidak simetris. Bagian posterior lebih runcing dibanding anterior dan apendiks kehilangan berbagai lapisannya. Temuan seperti ini dicurigai sebagai apendisitis yang mengalami perforasi Kanan : A = kumpulan echovoid fluid menunjukkan gambaran abses yang berdekatan dengan apendiks yang abnormal. Apendiks kehilangan berbagai lapisan dindingnya, hanya ditemukan 1 lapisan echogenic submucosa (panah kecil)

4.

Barium enema Suatu pemeriksaan x-ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendisitis pada jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding. Appendicogram memiliki sensitivitas dan tingkat akurasi yang tinggi sebagai metode diagnostik untuk menegakkan diagnosis appendisitis khronis. Dimana akan tampak pelebaran/penebalan dinding mukosa appendiks, disertai penyempitan lumen hingga sumbatan usus oleh fekalit.

5.

CT-scan Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendisitis. Selain itu juga dapat menunjukkan komplikasi dari appendisitis seperti bila terjadi abses.

6.

Laparoscopi Suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukan dalam abdomen, appendiks dapat divisualisasikan secara langsung. Tehnik ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan pada appendiks maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan pengangkatan appendiks. Sistem skor Alvarado Diagnosis appendisitis akut pada anak tidak mudah ditegakkan hanya berdasarkan gambaran klinis, hal ini disebabkan sulitnya komunikasi antara anak, orang tua dan dokter. Anak belum mampu untuk mendiskripsikan keluhan yang dialami, suatu hal yang relatif lebih mudah pada umur dewasa. Keadaan ini menghasilkan angka appendiktomi negatif sebesar 20% dan angka perforasi sebesar 20-30%. Salah satu upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan medis ialah membuat diagnosis yang tepat. Telah banyak dikemukakan cara untuk

menurunkan insidensi apendiktomi negatif, salah satunya adalah dengan instrumen skor Alvarado. Skor Alvarado adalah sistem skoring sederhana yang bisa dilakukan dengan mudah, cepat dan kurang invasif. Alfredo Alvarado tahun 1986 membuat sistem skor yang didasarkan pada tiga gejala , tiga tanda dan dua temuan laboratorium. Klasifikasi ini berdasarkan pada temuan pra operasi dan untuk menilai derajat keparahan apendisitis. Dalam sistem skor Alvarado ini menggunakan faktor risiko meliputi migrasi nyeri, anoreksia, nausea dan atau vomitus, nyeri tekan di abdomen kuadran kanan bawah, nyeri lepas tekan , temperatur lebih dari 37,20C, lekositosis dan netrofil lebih dari 75%. Nyeri tekan kuadran kanan bawah dan lekositosis mempunyai nilai 2 dan keenam sisanya masing-masing mempunyai nilai 1, sehingga kedelapan faktor ini memberikan jumlah skor 10. Skor Alvarado untuk diagnosis appendisitis akut: Gejala dan tanda: Nyeri berpindah Anoreksia Mual-muntah Nyeri fossa iliaka kanan Nyeri lepas Peningkatan suhu > 37,30C Jumlah leukosit > 10x103/L Jumlah neutrofil > 75% Total skor: Keterangan Alavarado score : Dinyatakan appendisitis akut bila > 7 point Modified Alvarado score tanpa observasi of Hematogram: 14 56 79 14 dipertimbangkan appendicitis akut possible appendicitis tidak perlu operasi appendicitis akut perlu pembedahan : : observasi Skor 1 1 1 2 1 1 2 1 10

__________________________________________________

Penanganan berdasarkan skor Alvarado

56

: antibiotic

7 10 : operasi dini 3.8. Diagnosis Banding 1. Gastroenteritis Pada gastroenteritis, mual-muntah dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistaltik sering ditemukan. Panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan dengan appendisitis. 2. Limfadenitis mesenterica Biasanya didahului oleh enteritis atau gastroenteritis. Ditandai dengan nyeri perut yang samar-samar terutama disebelah kanan, dan disertai dengan perasaan mual-muntah. 3. Ileitis akut Berkaitan dengan diare dan sering kali riwayat kronis, tetapi tidak jarang anorexia, mual, muntah. Jika ditemukan pada laparotomi, appendiktomi insidental diindikasikan utntuk menghilangkan gejala yang membingungkan. 4. DHF Pada penyakit ini pemeriksaan darah terdapat trombositopeni, leukopeni, rumple leed (+), hematokrit meningkat. 5. Peradangan pelvis Tuba fallopi kanan dan ovarium terletak dekat appendiks. Radang kedua organ ini sering bersamaan sehingga disebut salpingo-ooforitis atau adnecitis. Untuk menegakkan diagnosis penyakit ini didapatkan riwayat kontak sexual. Suhu biasanya lebih tinggi daripada appendisitis dan nyeri perut bagian bawah lebih difus. Biasanya disertai dengan keputihan. Pada colok vaginal jika uterus diayunkan maka akan terasa nyeri. 6. Kehamilan ektopik Ada riwayat terhambat menstruasi dengan keluhan yang tidak menentu. Jika terjadi ruptur tuba atau abortus di luar rahim dengan perdarahan akan timbul nyeri yang mendadak difus di daerah pelvis dan mungkin akan terjadi syok hipovolemik. Pada pemeriksaan colok vagina didapatkan nyeri dan penonjolan di cavum Douglas, dan pada kuldosentesis akan didapatkan darah.

7.

Diverticulitis Meskipun diverculitis biasanya terletak di perut bagian kiri, tetapi kadang-

kadang dapat juga terjadi di sebelah kanan. Jika terjadi peradangan dan ruptur pada diverticulum gejala klinis akan sukar dibedakan dengan gejala-gejala appendisitis. 8. Batu ureter atau batu ginjal Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaran yang khas. Hematuria sering ditemukan. Foto polos abdomen atau urografi intravena dapat memastikan penyakit tersebut. 3.9. Tata Laksana Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah apendektomi dan merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik. Penundaan apendektomi sambil memberikan antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi. Insidensi appendiks normal yang dilakukan pembedahan sekitar 20%. Pada appendisitis akut tanpa komplikasi tidak banyak masalah. Perjalanan patologis penyakit dimulai pada saat apendiks menjadi dilindungi oleh omentum dan gulungan usus halus didekatnya. Mula-mula, massa yang terbentuk tersusun atas campuran membingungkan bangunan-bangunan ini dan jaringan granulasi dan biasanya dapat segera dirasakan secara klinis. Jika peradangan pada apendiks tidak dapat mengatasi rintangan-rintangan sehingga penderita terus mengalami peritonitis umum, massa tadi menjadi terisi nanah, semula dalam jumlah sedikit, tetapi segera menjadi abses yang jelas batasnya. Urut-urutan patologis ini merupakan masalah bagi ahli bedah. Masalah ini adalah bilamana penderita ditemui lewat sekitar 48 jam, ahli bedah akan mengoperasi untuk membuang apendiks yang mungkin gangrene dari dalam massa perlekatan ringan yang longgar dan sangat berbahaya, dan bilamana karena massa ini telah menjadi lebih terfiksasi dan vascular, sehingga membuat operasi berbahaya maka harus menunggu pembentukan abses yang dapat mudah didrainase. Massa apendiks terjadi bila terjadi apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau lekuk usus halus.

Pada massa periapendikular yang pendidingannya belum sempurna, dapat terjadi penyebaran pus keseluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti peritonitis purulenta generalisata. Oleh karena itu, massa periapendikular yang masih bebas disarankan segera dioperasi untuk mencegah penyulit tersebut. Selain itu, operasi lebih mudah. Pada anak, dipersiapkan untuk operasi dalam waktu 2-3 hari saja. Pasien dewasa dengan massa periapendikular yang terpancang dengan pendindingan sempurna, dianjurkan untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotik sambil diawasi suhu tubuh, ukuran massa, serta luasnya peritonitis. Bila sudah tidak ada demam, massa periapendikular hilang, dan leukosit normal, penderita boleh pulang dan apendiktomi elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin. Bila terjadi perforasi, akan terbentuk abses apendiks. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi, bertambahnya nyeri, dan teraba pembengkakan massa, serta bertambahnya angka leukosit. Massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah pasien dipersiapkan, karena dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. Persiapan dan pembedahan harus dilakukan sebaik-baiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tinggi daripada pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi. Pada periapendikular infiltrat, dilarang keras membuka perut, tindakan bedah apabila dilakukan akan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak, lebih-lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit perut. Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses dengan atau pun tanpa peritonitis umum. Bila pada waktu membuka perut terdapat periapendikular infiltrat maka luka operasi ditutup lagi, apendiks dibiarkan saja. Terapi konservatif pada periapendikular infiltrat : 1. 2. 3. Total bed rest posisi fawler agar pus terkumpul di cavum douglassi. Diet lunak bubur saring Antibiotika parenteral dalam dosis tinggi, antibiotik kombinasi yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. Baru setelah keadaan tenang, yaitu sekitar 6-8 minggu kemudian, dilakukan apendiktomi. Kalau sudah terjadi abses, dianjurkan

drainase saja dan apendiktomi dikerjakan setelah 6-8 minggu kemudian. Jika ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun, dan pemeriksaan jasmani dan laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses, dapat dipertimbangkan membatalkan tindakan bedah. Analgesik diberikan hanya kalau perlu saja. Observasi suhu dan nadi. Biasanya 48 jam gejala akan mereda. Bila gejala menghebat, tandanya terjadi perforasi maka harus dipertimbangkan appendiktomy. Batas dari massa hendaknya diberi tanda (demografi) setiap hari. Biasanya pada hari ke5-7 massa mulai mengecil dan terlokalisir. Bila massa tidak juga mengecil, tandanya telah terbentuk abses dan massa harus segera dibuka dan didrainase. Caranya dengan membuat insisi pada dinding perut sebelah lateral dimana nyeri tekan adalah maksimum (incisi grid iron). Abses dicapai secara ekstraperitoneal, bila apendiks mudah diambil, lebih baik diambil karena apendik ini akan menjadi sumber infeksi. Bila apendiks sukar dilepas, maka apendiks dapat dipertahankan karena jika dipaksakan akan ruptur dan infeksi dapat menyebar. Abses didrainase dengan selang yang berdiameter besar, dan dikeluarkan lewat samping perut. Pipa drainase didiamkan selama 72 jam, bila pus sudah kurang dari 100 cc/hari, drai dapat diputar dan ditarik sedikit demi sedikit sepanjang 1 inci tiap hari. Antibiotik sistemik dilanjutkan sampai minimal 5 hari post operasi. Untuk mengecek pengecilan abses tiap hari penderita di RT. Penderita periapendikular infiltrat diobservasi selama 6 minggu tentang : LED, Jumlah leukosit, Massa Periapendikular infiltrat dianggap tenang apabila : 1. 2. o o o o Anamesa : penderita sudah tidak mengeluh sakit atau nyeri abdomen Pemeriksaan fisik : Keadaan umum penderita baik, tidak terdapat kenaikan suhu tubuh (diukur rectal dan aksiler) Tanda-tanda apendisitis sudah tidak terdapat Massa sudah mengecil atau menghilang, atau massa tetap ada tetapi lebih kecil dibanding semula. Laboratorium : LED kurang dari 20, Leukosit normal Kebijakan untuk operasi periapendikular infiltrat :

1. 2. 3.

Bila LED telah menurun kurang dari 40 Tidak didapatkan leukositosis Tidak didapatkan massa atau pada pemeriksaan berulang massa sudah tidak mengecil lagi. Bila LED tetap tinggi ,maka perlu diperiksa

o o o

Apakah penderita sudah bed rest total Pemakaian antibiotik penderita Kemungkinan adanya sebab lain. perbaikan, operasi tetap dilakukan.

d. Bila dalam 8-12 minggu masih terdapat tanda-tanda infiltrat atau tidak ada e. Bila ada massa periapendikular yang fixed, ini berarti sudah terjadi abses dan terapi adalah drainase. Pembedahannya adalah dengan appendiktomi, yang dapat dicapai melalui insisi Mc Burney. Tindakan pembedahan pada kasus apendisitis akut dengan penyulit peritonitis berupa apendektomi yang dicapai melalui laparotomi.7 Lapisan kulit yang dibuka pada Appendektomi : 1. 2. 3. 4. 5. 3.10. Cutis Sub cutis Fascia Scarfa Fascia Camfer Aponeurosis MOE Komplikasi Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa perforasi bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami pendindingan berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks, sekum, dan lekuk usus halus. Perforasi dapat menyebabkan timbulnya abses lokal ataupun suatu peritonitis generalisata. Tanda-tanda terjadinya suatu perforasi adalah : nyeri lokal pada fossa iliaka kanan berganti menjadi nyeri abdomen Suhu tubuh naik tinggi sekali. menyeluruh 6. 7. 8. 9. 10. MOI M. Transversus Fascia transversalis Pre Peritoneum Peritoneum

1. 2. 3.

Nadi semakin cepat. Defance Muskular yang menyeluruh Bising usus berkurang Perut distended Pelvic Abscess Subphrenic absess Intra peritoneal abses local. Peritonitis merupakan infeksi yang berbahaya karena bakteri masuk

Akibat lebih jauh dari peritonitis generalisata adalah terbentuknya :

kerongga abdomen, dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian.7 3.11. Prognosis Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit ini sangat kecil. Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila terjadi komplikasi. Serangan berulang dapat terjadi bila appendiks tidak diangkat BAB IV PEMBAHASAN Teori Anamnesis dan pemeriksaan fisik : 1. Nyeri abdominal Mula-mula nyeri dirasakan Fakta Pasien laki-laki 9 tahun menderita nyeri samar- perut yang awalnya didaerah

samar dan tumpul yang merupakan epigastrium kemudian berpindah ke nyeri viseral di daerah epigastrium atau bagian kanan bawah. Keluhan juga sekitar umbilicus. Setelah beberapa jam disertai dengan muntah dan diare. nyeri berpindah kanan dan bawah menetap (titik di Pasien juga mengalami demam Mc beberapa hari sebelumnya. abdomen

Burney). Nyeri akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya sehingga berupa nyeri somatik setempat. Bila terjadi perangsangan peritonium biasanya penderita akan mengeluh nyeri di perut

pada saat berjalan atau batuk. 2. Mual-muntah biasanya pada fase awal. 3. Nafsu makan menurun. 4. 4. Obstipasi dan diare pada anak-anak. 5. Demam Pemeriksaan fisik khusus : Psoas sign aktif / pasif (+), Nyeri tekan mc.burney (+), blumberg sign (+), obturator sign (+), rovsing sign (+), reborn tenderness (+), Hasil pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan mc.burney (+), psoas sign (+), obturator sign (-)

Skoring Alvarado Berdasarkan skorig Alvarado 14, dipertimbangkan appendisitis akut operasi) 79 pasti appendisitis akut perlu pembedahan

Gejala dan tanda : : Skor Nyeri berpindah Mual-muntah Nyeri fossa iliaka kanan Nyeri lepas Peningkatan suhu > 37,30C Jumlah leukosit > 10x103/L Jumlah neutrofil > 75% Total skor: 1 8
1 1 1 2

56 mungkin appendicitis (tidak perlu Anoreksia

1
1 2

___________________________

Pemeriksaan penunjang : USG Appensitis akut terlihat gambaran distensi/dilatasi pada appendiks Penatalaksanaan : Normal, tidak ada tanda-tanda appendisitis akut IVFD RL 20 tpm

1. Terapi medikamentosa simptomatis

Ranitidine 2X50 mg iv Cefotaxime 3X500 mg iv Dexametasone 4 mg iv Paracetamol 3XII cth Appendektomi dengan laparotomy (2310-2012) karena telah terjadi komplikasi yaitu abses apendiks. Sampai hari ke-6 post-op masih didapatkan produksi pus.

2. Semua kasus appendisitis memerlukan tindakan pengangkatan dari appendiks yang terinflamasi, baik dengan laparotomy maupun dengan laparoscopy Pasca bedah : dilakukan drainase abses dan kultur pus, setelah itu diberikan antibiotic post-op sesuai dengan hasil kultur . Hasil kultur (27-10-2012) Kuman : Escherichia coli Pewarnaan Gram : Batang gram negatif Antibiotik sensitive : Amikasin, Ceftazidime, Meropenem, Sulbactam Cefoperazone, Ceftizoxime

Terapi post-op yang diberikan (23-29 Oktober 2012) : - D5 NS 20 TPM - Ceftriaxone 700 mg iv - Antrain 3 X 250 mg iv - Metronidazole 3 X 100 mg - transfusi PRC 200 cc - memasang NGT - memasang Draine Catheter - Diet cair 6X25 cc Dubia et Bonam: - karena telah dilakukan appendektomi dengan laparotomi serta drainase pus e/c abses. Tinggal menunggu produksi pus berhenti (dengan pemberian antibiotic yang sensitive) serta pemulihan luka pos laparotomi

Prognosis : Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit ini sangat kecil. Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila terjadi komplikasi. Serangan berulang dapat terjadi bila appendiks tidak diangkat

BAB V PENUTUP

1.

Appendisitis adalah peradangan yang terjadi pada Appendiks

vermicularis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering pada anak-anak maupun dewasa di seluruh dunia. 2. Appendisitis akut dapat disebabkan oleh beberapa sebab

terjadinya proses radang bakteria yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus diantaranya hiperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks, dan cacing askaris yang menyumbat.
3.

Gejalanya adalah Nyeri abdominal, Mual-muntah biasanya pada

fase awal, Nafsu makan menurun, Obstipasi dan diare pada anak-anak, Demam.

4.

Prognosis pada penyakit

ini ada jika diagnosis akurat serta

pembedahan tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit ini sangat kecil. Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila terjadi komplikasi.

Daftar pustaka 1. Kumar, V., Cotran, R. S., & Robbins, S. L. (2007). Buku Ajar Patologi (7 ed. Vol. 2). 2. Reksoprodjo, S. (2009). Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara. 3. Schrock, T. (1991). Ilmu Bedah (7 ed.). Jakarta: EGC.
4. Sjamsuhidayat, R., & Jong, w. d. (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah (2 ed.):

EGC.