Anda di halaman 1dari 19

DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN KOLELITIASIS

Boby Abdul Rahman Mimi Suhaini binti Sudin

PENDAHULUAN
Penyakit batu empedu sudah merupakan masalah kesehatan yang penting di negara barat sedangkan di Indonesia baru mendapatkan perhatian di klinis, sementara publikasi penelitian batu empedu masih terbatas. Batu empedu umumnya ditemukan di dalam kandung empedu, tetapi batu tersebut dapat bermigrasi melalui duktus sistikus ke dalam saluran empedu menjadi batu saluran empedu dan disebut sebagai batu saluran empedu sekunder. Pada sekitar 80% dari kasus, kolesterol merupakan komponen terbesar dari batu empedu. Biasanya batu - batu ini juga mengandung kalsium karbonat, fosfat atau bilirubinat, tetapi jarang batu- batu ini murni dari satu komponen saja.

DEFINISI
Kolelitiasis disebut juga sinonimnya adalah batu empedu, gallstones, biliary calculus. Istilah kolelitiasis dimaksudkan untuk pembentukan batu di dalam kandung empedu.

ETIOLOGI
Stasis empedu Infeksi kandung empedu Endapan kolesterol

FAKTOR RESIKO

Wanita (beresiko dua jadi lebih besar dibanding laki-laki) Usia lebih dari 40 tahun . Kegemukan (obesitas). Faktor keturunan Aktivitas fisik Kehamilan (resiko meningkat pada kehamilan)

Hiperlipidemia Diet tinggi lemak dan rendah serat Pengosongan lambung yang memanjang Nutrisi intravena jangka lama Dismotilitas kandung empedu Obat-obatan antihiperlipedmia (clofibrate)

KLASIFIKASI KOLELITIASIS
1. Batu Kolesterol

Berbentuk oval, multifokal atau mulberry dan mengandung lebih dari 70%
kolesterol. Lebih dari 90% batu empedu adalah kolesterol (batu yang mengandung > 50% kolesterol). 2. Batu Pigmen

Batu pigmen kalsium bilirubinan (pigmen coklat) : Berwarna coklat atau coklat
tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung kalsium-bilirubinat sebagai komponen utama. Batu pigmen hitam : Berwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak berbentuk,

seperti bubuk dan kaya akan sisa zat hitam yang tak terekstraksi.
3. Batu Campuran Batu campuran antara kolesterol dan pigmen dimana mengandung 20-50% kolesterol.

ANATOMI

MANIFESTASI KLINIS

NYERI KOLIK

- NAUSEA - MUNTAH

BERKERINGAT

BERGULING SAAT TIDUR

DIAGNOSIS
ANAMNESIS
Setengah sampai dua pertiga penderita kolelitiasis adalah asimtomatis. nyeri di daerah epigastrium, kuadran kanan atas Kolik bilier yang mungkin berlangsung lebih dari 15 menit Keluhan nyeri menetap dan bertambah pada waktu menarik nafas dalam

PEMERIKSAAN FISIK
Batu kandung empedu (Murphy Sign +) Batu saluran empedu : Baru saluran empedu tidak menimbulkan gejala dalam fase tenang. Kadang teraba hati dan sklera ikterik. Apabila sumbatan saluran empedu bertambah berat, akan timbul ikterus klinis.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Peradangan akut : Leukositosis Kadar bilirubin serum yang tinggi mungkin disebabkan oleh batu di dalam duktus koledukus. Kadar fosfatase alkali serum dan mungkin juga kadar amilase serum biasanya meningkat

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
Foto polos abdomen biasanya tidak memberikan gambaran yang khas karena hanya sekitar 10-15% batu kandung empedu yang bersifat radioopak Kadang kandung empedu yang mengandung cairan empedu berkadar kalsium tinggi dapat dilihat dengan foto polos. Pada peradangan akut dengan kandung empedu yang membesar atau hidrops, kandung empedu kadang terlihat sebagai massa jaringan lunak

FOTO RONTGEN

PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN USG
USG derajat spesifisitas dan sensitifitas yang tinggi untuk mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu intrahepatik maupun ekstra hepatik Dinding kandung empedu yang menebal karena fibrosis atau udem yang diakibatkan oleh peradangan Batu yang terdapat pada duktus koledukus distal kadang sulit dideteksi karena terhalang oleh udara di dalam usus

KOLESISTOGRAFI
Pemeriksaan kolesitografi oral lebih bermakna pada penilaian fungsi kandung empedu kolesistografi dengan kontras cukup baik karena relatif murah, sederhana, dan cukup akurat untuk melihat batu radiolusen sehingga dapat dihitung jumlah dan ukuran batu

FOTO USG

PENATALAKSANAAN
DISOLUSI

KOLESISTEKTOMI LAPARASKOPI

ESWL

KOLESISTEKTOMI TERBUKA

PENATALAKSANAAN

ERCP

KOLESISTEKTOMI TERBUKA
Indikasi yang paling umum : Kolik biliaris yang diikuti dengan kolesistitis akut Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan pasien dengan kolelitiasis simtomatik Komplikasi yang paling bermakna yang dapat terjadi adalah cedera duktus biliaris yang terjadi pada 0,2% pasien

KOLESISTEKTOMI LAPARASKOPI
Indikasi awal hanya pasien dengan kolelitiasis simtomatik tanpa adanya kolesistitis akut Secara teoritis keuntungan tindakan ini dibandingkan prosedur konvensional adalah dapat mengurangi perawatan di rumah sakit dan biaya yang dikeluarkan, pasien dapat cepat kembali bekerja, nyeri menurun dan perbaikan kosmetik

DISOLUSI MEDIS
Zat disolusi hanya memperlihatkan manfaatnya untuk batu empedu jenis kolesterol Disolusi medis sebelumnya harus memenuhi kriteria terapi non operatif diantaranya : Batu kolesterol diameternya < 20 mm Batu kurang dari 4 batu Fungsi kandung empedu baik Duktus sistik paten

DISOLUSI KONTAK
Prosedur ini invasif dan kerugian utamanya adalah angka kekambuhan yang tinggi (50% dalam 5 tahun) Meskipun pengalaman masih terbatas, infus pelarut kolesterol yang poten (Metil-TerButil-Eter (MTBE)) ke dalam kandung empedu melalui kateter yang diletakkan perkutan telah terlihat efektif dalam melarutkan batu empedu pada pasien-pasien tertentu

EXTRACORPOREAL SHOCK-WAVE LITHOTRIPSY


Tindakan dimana Gelombang Kejut digunakan untuk menghancurkan Batu Empedu di Kantung Empedunya Namun prosedur ini jarang dilakukan, karena Batu Empedu biasanya terlalu besar dan tebal untuk bisa dipecah oleh ESWL, dan juga karena risiko pecahan batu yang ditimbulkan bisa melukai organ-organ lain di sekitarnya.

ENDOSCOPIC RETROGRADE CHOLANGIOPANCREATOGRAPHY


Suatu endoskop dimasukkan melalui mulut, kerongkongan, lambung dan ke dalam usus halus Zat kontras radioopak masuk ke dalam saluran empedu melalui sebuah selang di dalam sfingter oddi Pada sfingterotomi, otot sfingter dibuka agak lebar sehingga batu empedu yang menyumbat saluran akan berpindah ke usus halus ERCP dan sfingterotomi telah berhasil dilakukan pada 90% kasus