Sertifikasi Risiko Bank dan Regulasi Level 1

Part A: Risiko Bank dan regulasi

1

Chapter 1 – Introduksi risiko dan regulasi bank
1.1 Bank, risiko dan kebutuhan regulasi

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1

Bank, risiko dan kebutuhan regulasi

Apakah yang disebut dengan bank? Bank adalah institusi yang memiliki lisensi perbankan, menerima deposit, membuat loan, menerima serta menerbitkan check. Apakah yang disebut risiko? Menurut kamus, risiko adalah kemungkinan dari bencana atau kerugian. Untuk tujuan sertifikasi, risiko adalah kemungkinan hasil buruk atau negatif, dan kemungkinan hasil tersebut bisa diprediksi.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1

Bank, risiko dan kebutuhan regulasi

Dua istilah yang berhubungan dengan risiko dan penting untuk sertifikasi ini :

Risk event adalah terjadinya suatu keadaan yang mengakibatkan adanya potensi kerugian (bad outcome). Risk loss adalah kerugian yang terjadi sebagai akibat dari risk event. Kerugian tersebut bisa berupa kerugian finansial atau kerugian non-finansial

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.1 Industri jasa keuangan, bank dan regulasi
Regulasi adalah umum terjadi untuk produk non-finansial. Regulasi pada perusahaan non-finansial tidak lazim dilakukan. Regulasi pada Bank mengatur institusi-nya, bukan hanya pada produk dan jasa yang diberikan. Regulasi pada industri jasa keuangan adalah untuk melindungi nasabah, dan meningkatkan kepercayaan nasabah terhadap bank. Alasan regulasi adalah dampak kegagalan suatu bank yang bisa dalam dan berjangka panjang pada seluruh ekonomi.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.1 Industri jasa keuangan, bank dan regulasi
Bank tidak secara bebas menentukan struktur modal (Capital structure). Capital structure menunjukkan cara bank mengalokasikan sumber pendanaan, biasanya melalui kombinasi penerbitan saham, obligasi, atau pinjaman. Capital structure dari bank ditentukan oleh pengawas bank yang menentukan kebutuhan modal minimum (minimum capital requirement), dan likuiditas minimum yang harus disediakan, serta jenis dan struktur kredit. Jika bank memiliki cukup capital (modal) – bank memiliki cadangan yang cukup untuk memenuhi kemungkinan rugi. Jika bank memiliki cukup likuiditas, bank memiliki sumber keuangan yang cukup untuk membiayai aset dan memenuhi kewajiban-nya saat jatuh tempo.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.1 Industri jasa keuangan, bank dan regulasi
Assets Amount USD million Domestic Government Bonds Cash Loans to other banks < 1 yr Loans to small/medium enterprises Loans to local authorities Loans to major international companies Total Liabilities Capital Deposits from customers Loans from other banks Total 100 10 200 390 200 100 Risk Weight % 0 0 20 100 50 100 RWA USD million 0 0 40 390 100 100

RWA = RiskWeighted Assets (Basel I) Supervisor mengharuskan ratio regulatory capital 8% dari RWA x 8% = USD 50.4m Bank memiliki USD80 jt, lebih besar dari ketentuan regulator.

1000 Amount 80 820 100 1000

630

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.1 Industri jasa keuangan, bank dan regulasi

Basel II dan Sertifikasi keduanya berhubungan dengan regulasi bank, bukan industri jasa keuangan non-bank. Untuk European Union (EU), regulasi Basel II akan mengcover institusi jasa keuangan/ Bank yang cukup banyak (sekitar 8,800) dan sekitar 2,200 usaha investasi (investment firms).

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa diperlukan regulasi perbankan?
Regulasi bank diperlukan karena adanya risiko yang melekat pada aktivitas operasional bank. Bank menawarkan produk yang digunakan oleh nasabah individual maupun nasabah perusahaan – berkaitan dengan uang. Kegagalan sebuah bank, baik secara partial maupun total, akan mempengaruhi seluruh ekonomi yang disebut “systemic risk”.

Systemic risk adalah risiko bahwa kegagalan bank dapat menyebabkan kerusakan pada ekonomi lebih dari sekedar dampak langsungnya ke karyawan, pelanggan, dan pemegang saham.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa diperlukan regulasi perbankan?
Kebanyakan orang tidak familiar dengan istilah systemic risk, biasanya mereka lebih mengenal istilah “rush” atau ‘run on a bank’. Rush terjadi ketika bank tidak memiliki cukup kas untuk membayar depositor atau pemilik dana yang ingin menarik dana miliknya di bank. Ketidak-mampuan memenuhi kewajiban membayar depositor kadang-kadang hanya berupa hasil dari persepsi dari nasabah bahwa bank sedang menghadapi masalah.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa perlu regulasi bank – ‘rush pada bank’ contoh
KAS TIDAK CUKUP DEPOSITORS MENARIK DANA
KEKHAWATIRAN STABILITAS

KERUGIAN

LEBIH BANYAK YG MENARIK

RUMOR TTG BAD LOANS

BANK TERPAK SA DITUTUP

Efek berantai pada ekonomi lokal, berpotensi global.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa perlu regulasi bank – ‘rush pada bank’ contoh 2
Pada 14 Oktober 2003, Asia Commercial Bank, bank swasta di Vietnam dengan aset USD800 juta menghadapi ‘rush’. Rumour berkembang bahwa direktur umum dari bank tersebut telah melarikan diri ke luar negeri, sehingga nasabah khawatir bahwa bank ada dalam masalah. Pada satu cabang, 4,000 pelanggan serentak datang untuk mencairkan dananya. Bank sentral terpaksa menyuntikan dana sebesar USD61.2 juta sebagai tindakan darurat Seorang pejabat pemerintah terpaksa harus duduk semeja dengan direktur yang ‘hilang’ untuk meyakinkan bahwa ia masih bertanggungjawab, dan pada 15 Oktober deposit mulai mengalir kembali ke bank.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa diperlukan regulasi perbankan?
Solvency dari bank bukan saja menjadi concern bagi: • pemegang saham • pelanggan • karyawan Tapi juga : • mereka yang bertugas mengelola sistim ekonomi

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa diperlukan regulasi perbankan?
Assets Amount USD million Domestic Government Bonds Cash Loans to other banks < 1 yr Loans to small/medium enterprises Loans to local authorities Loans to major international companies Total Liabilities Capital Deposits from customers Loans from other banks Total 100 10 200 390 200 100 Risk Weight % 0 0 20 100 50 100 RWA USD million 0 0 40 390 100 100

Bandingkan kas yang tersedia terhadap deposit pelanggan

Menjual obligasi pemerintah sebagai sumber dana Usaha untuk meningkatkan dana selanjutnya memerlukan tindakan penjualan atau sekuritisasi

1000 Amount 80 820 100 1000

630

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa perlu regulasi bank – ‘rush pada bank’ contoh
Krisis Continental Illinois Bank Pada Mei 1984, Continental Illinois Bank menghadapi ‘rush’ pada deposit-nya. Ini disebabkan oleh kualitas credit risk yang buruk, terutama kredit yang diberikan ke Penn Square Bank yg kolaps pada 1982. Kredit bermasalah dari Continental Illinois meningkat menjadi USD 2.3 milyar pada April 1984, atau 7.7% dari total pinjaman. Kondisi dana Bank tsb rentan karena tergantung pada wholesale deposit, yang kemudian menjadi masalah ketika deposit tersebut tidak diperpanjang pada saat jatuh tempo. The Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) mengambil alih USD 3.5 milyar dari hutang Continental Illinois pada 1984. Karena “funding base” dari Continental Illinois bersifat global, maka Federal Reserve dan FDIC terpaksa masuk guna menghindari rush pada bank US besar lainnya khususnya dari depositor asing.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa diperlukan regulasi perbankan?
Sebelum 1930-an, ‘run’ pada bank dan bank bermasalah relatif sering terjadi. Hal Ini menyebabkan pemerintah mengawasi bank melalui regulasi, dan memastikan bahwa bank memiliki cukup modal dan likuiditas. Supervisor (biasanya bank sentral) berusaha memastikan bahwa bank senantiasa : • Mempunyai likuiditas yang memadai untuk membayar depositor tanpa perlu mencairkan kredit. • Mampu bertahan terhadap tingkat kerugian sebagai akibat praktek perkreditan yang kurang pruden atau penurunan aktivitas ekonomi secara musiman, yaitu berhasil dalam menghadapi resesi.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa diperlukan regulasi perbankan?
Pada awalnya tingkat kebutuhan modal dan likuiditas tidak ditentukan secara khusus, namun seringkali dinyatakan sebagai sekian persen dari kredit. Dalam menentukan modal dalam persentase dari kredit dengan jenis yang beraneka ragam, jelas terlihat adanya kelemahan (missing link) dalam menentukan tingkat modal bank yang memadai. ‘Missing link’ tersebut bisa dilihat dalam contoh sbb : Bank A hanya meminjamkan ke pemerintah domestik (risiko kecil). Dapat diasumsikan bahwa kredit akan dapat dilunasi Bank B hanya meminjamkan ke bisnis baru (risiko besar). Bank tidak dapat membuat asumsi yang sama dengan Bank A karena biasanya bisnis baru ada peluang untuk gagal.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa diperlukan regulasi perbankan?
Keputusan investasi dari Investor potensial pada Bank A atau Bank B antara lain atas dasar berapa besar setiap risiko yang diambil bank dalam melakukan aktivitasnya, dan berapa imbal hasil (return) yang akan diperoleh. Pada contoh sebelumnya, Bank B memerlukan perolehan margin yang lebih tinggi dari Bank A, karena potensi kerugian bank B lebih besar dibandingkan dengan Bank A. Dalam hal Bank B, tingkat kredit bermasalah tidak stabil, pada masa resesi NPL lebih tinggi dibandingkan pada periode ekonomi sedang tumbuh. Kredit menjadi bermasalah apabila debitur tidak dapat membayar kewajiban pokok atau bunga. Karena itu kerugian bank bersifat tidak konstan (variable), yang selanjutnya meningkatkan tingkat modal yang diperlukan untuk mengcover setiap kerugian tadi.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa diperlukan regulasi perbankan?
Untuk menjaga ekspektasi agar bank selalu mampu bertahan dalam menghadapi masalah kredit macet, bank harus memiliki suatu tingkat modal tertentu untuk mengcover terjadinya kerugian. Dalam contoh, Bank B harus memiliki modal jauh lebih banyak daripada Bank A, karena Bank A menerapkan kebijakan konservatif, dengan kredit yang walaupun memiliki margin lebih kecil, tapi lebih memiliki risiko lebih kecil. Dari contoh, bisa dilihat ‘missing link’ dalam menentukan tingkat modal bank, yaitu kebutuhan modal harus sesuai dengan besar risiko yang dihadapi.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa perlu regulasi bank – guncangan ekonomi dan risiko sistemik
Meski bank telah berusaha melakukan diversifikasi pada portfolio perkreditan, sebagian besar masih terekspos cukup besar terhadap risiko ekonomi domestik. Ekonomi suatu negara bisa dipengaruhi oleh : • suatu guncangan eksternal (external shock), seperti bencana alam atau kejadian yang dibuat manusia, dan/atau • kesalahan pengelolaan ekonomi.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa perlu regulasi bank – guncangan ekonomi dan risiko sistemik
Karena terekspos pada risiko ekonomi seperti itu, Bank dapat menderita kerugian akibat kredit bermasalah. Kenaikan NPL (non-performing loan) bisa disebabkan: • Kualitas kredit perusahaan yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang memburuk. • Kenaikan yang signifikan dari tingkat pengangguran • kenaikan suku bunga.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa perlu regulasi bank – guncangan ekonomi dan risiko sistemik
Sebagian besar bank mampu menghadapi kesulitan dalam melindungi dirinya dari guncangan ekonomi di suatu negara. Namun, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak ekonomi tersebut, termasuk : • Menerapkan regulasi (termasuk Basel II) yang semakin menuntut bank menciptakan skenario guncangan ekonomi dan memastikan mereka memiliki modal yang cukup untuk memproteksi stakeholder dari dampak guncangan tersebut • memperkirakan tingkat kredit bermasalah (NPL) dan memastikan bisnis mempunyai jumlah modal secara memadai.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa perlu regulasi bank – risiko dan modal
Contoh di atas jelas menunjukkan hubungan antara risiko dan modal. Semakin besar risiko yang dimiliki bank, semakin besar modal yang diperlukan. Bank harus memiliki modal yang cukup untuk menutupi risiko yang dimilikinya. Ini disebut Kewajiban Penyediaan Modal Minimum / KPMM (capital adequacy). Semakin jelas pula bagi supervisor bahwa level capital bank dan kemampuannya mendukung kerugian dari perkreditan dan kegiatan lainnya harus dihubungkan dengan risiko dari bisnis yang diambilnya.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.2 Mengapa perlu regulasi bank – risiko dan modal
Pertumbuhan pasar perbankan internasional pada 1970an dan 1980an menimbulkan upaya signifikan pertama untuk menerapkan prinsip modal berbasis risiko (risk-based capital). Kenaikan harga minyak yang tinggi dan negara dengan surplus USD yang besar perlu me-recycle dollar tersebut di negara lain dengan defisit yang besar. Hasilnya pertumbuhan dramatis dari perbankan internasional dan meningkatnya kompetisi. Supervisor menjadi yakin bahwa bankbank internasional perlu memastikan bahwa mereka mempunyai modal yang cukup dibandingkan dengan risiko yang diambil.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.3 Regulasi Bank – Basel I

Basel Committee on Banking Supervision pertama kali berusaha melakukan standarisasi metodologi perhitungan jumlah risk-based capital yang diperlukan bank ketika mempublikasikan Basel Capital Accord yang pertama pada 1988 Namun, Accord yang pertama hanya mengcover risiko kredit. Hubungan antara risiko dan modal masih lemah dibanding dengan standar saat ini. Sejumlah parameter yang disebut dengan multiplier (disebut riskweight) untuk government debt, bank debt, dan corporate dan personal debt dikalikan dengan target capital ratio 8%.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.3 Regulasi Bank– The Market Risk Amendment
Pengawas bank di berbagai negara mengembangkan Accord 1988 menjadi lebih sensitif terhadap risiko. Pengawas bank kemudian bergerak cepat memanfaatkan hasil kerja yang dilakukan berbagai bank untuk mengelola risiko pada operasi dealing (trading) mereka. Untuk memastikan bahwa risiko terkontrol dan dihargai secara tepat, bank mulai menentukan kebutuhan modal (capital requirement) internal untuk trading desk mereka. Kebutuhan tersebut secara langsung berhubungan dengan risiko dari desk yang menjalankan. Untuk itu, bank mengkaitkan risiko dan capital. Penentuan jumlah modal berkembang sejalan dengan pertumbuhan penggunaan teori finance, terutama variabilitas return historis dari berbagai bisnis.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.3 Regulasi Bank – The Market Risk Amendment
Pekerjaan yang dilakukan oleh bank untuk mengelola risiko didorong oleh : • pertumbuhan pasar derivatives • option pricing model yang menghubungkan volatilitas return instrumen underlying market pada harganya, yaitu risk-based pricing. Basel Committee menerbitkan Market Risk Amendment pada Accord original pada 1996. Selain menciptakan aturan sederhana untuk menghitung market risk, Basel Committee mendorong supervisor memfokuskan pada penilaian model bank menggunakan risk-based pricing.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.3 Regulasi Bank – Basel II
Setelah publikasi Market Risk Amendment, Basel Committee mulai mengembangkan Capital Accord yang baru, yang disebut Basel II. Setelah konsultasi dan debat, New Accord diadopsi pada 2004 dan akan diimplementasikan pada 2006/7

Basel II menghubungkan capital bank langsung dengan risiko yang dimilikinya. Untuk melindungi dari pengaruh guncangan ekonomi, Basel II mengharuskan bank untuk memperkirakan pengaruh kejadian tersebut dan menjamin bahwa bisnis terkapitalisasi secara memadai. Coverage dari market risk pada Basel II tidak berubah dari Amendment 1996 dan revisi berikutnya.

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.3 Regulasi Bank – Basel II
Basel II Accord juga memberi provisi untuk risiko lainnya ketika menghitung risk-based capital dari suatu bank; namun ini tidak dicover oleh pendekatan model Pengawas Bank akan bertanggung jawab dalam implementasi Basel II sesuai dengan hukum dan regulasi negara masing-masing. Penting bagi supervisor untuk melakukan Implementasi yang konsisten dari kerangka kerja (Framework) melalui perbaikan supervisi dan kerjasama. Implementasi yang konsisten juga penting untuk menghindari keragu-raguan dari pelaporan ganda ke supervisor negara ‘home’ (dimana bank secara legal didirikan) dan ‘host’ (dimana bank mungkin memiliki cabang atau anak perusahaan)

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.3

Regulasi Bank – Basel II

Perbandingan kedua Accord

Basel I Accord
Fokus pada ukuran tunggal Memiliki pendekatan sederhana terhadap sensitivitas risiko

Basel II Accord
Fokus pada metodologi internal Memiliki tingkat sensitivitas risiko yang lebih tinggi

Menggunakan pendekatan ‘satu Fleksibel terhadap kebutuhan ukuran untuk semua’ untuk berbagai bank risiko dan capital

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1.3 Regulasi Bank – Basel II
Bank perlu memahami setiap jenis utama risiko yang dicover oleh Basel II, serta konsekuensinya terhadap stakeholder bank dan ekonomi. Jenis risiko yang utama adalah : • Market risk (risiko pasar) • Credit risk (risiko kredit) • Operational risk (risiko operasi) • ‘Other’ risks (risiko lainnya)

1 Risiko dan regulasi perbankan
1.2 Risiko Pasar

1.2 Market risk

1.2.1 Apa yang disebut market risk?

Market risk adalah risiko kerugian pada posisi on- dan off-balance sheet yang timbul karena pergerakan harga pasar. Market risk adalah kelompok risiko yang berasal dari perubahan suku bunga, nilai tukar, harga pasar untuk saham dan komoditas.

1.2 Market risk

1.2.1 Apa yang disebut market risk?

Eksposur suatu bank dihitung atas dasar rate yang berlaku di pasar (misalnya suku bunga). Risiko pasar dapat berasal dari : • Traded market risk – dimana bank secara aktif berpartisipasi pada perdagangan instrumen di pasar, seperti bond, yang nilainya dipengaruhi oleh perubahan market rate • interest rate risk in the banking book – dimana bank terekspos pada risiko dari perubahan market rate karena struktur dari bisnisnya, misalnya pada aktivitas lending dan deposit taking.

1.2 Market risk

1.2.2

Kurva hasil (yield curve)
Yield curve menunjukkan hubungan suku bunga efektif yang dibayar dan tanggal maturity dari suatu investasi pada suatu waktu.
Yield curve
8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 4.5 4.0 1m 2m 3m 6m 12m Maturity 2y 3y 5y 10y

Interest rate

1.2 Market risk

1.2.3 Risiko Trading (Traded market risk)

Traded market risk adalah risiko kerugian nilai investasi yang berhubungan dengan jual beli instrumen finansial yang dilakukan secara terus menerus, dengan motif memperoleh profit. Traded market risk terjadi karena bank bermaksud memperoleh laba disamping risiko yang diambil.

1.2 Market risk

1.2.3

Risiko Trading (Traded market risk) – contoh 1

Bank A ingin masuk dalam aktivitas perdagangan untuk mendapat potensi laba. Ia memutuskan membeli obligasi pemerintah dengan bunga tetap untuk periode 5 tahun. Nilai dari obligasi dipengaruhi oleh perubahan suku bunga.

105

6%

100

5%

95

4%

1.2 Market risk

1.2.3

Risiko Trading (Traded market risk)– contoh 2

Traded market risk – keputusan funding Bank A bisa memilih membiayai pembelian obligasi di atas dengan mencari dana yang diperlukan secara : 1. lima tahun pada fixed rate 2. periode lebih panjang dari lima tahun 3. periode lebih pendek dari lima tahun.

1.2 Market risk

1.2.3 Risiko Trading (Traded market risk)– contoh 2
Traded market risk – keputusan funding 1.Bond akan ‘matched’ untuk interest rate risk bila Bank A memilih membiayai pembelian dari fixed rate 5-year bond tadi dengan mencari dana yang memiliki duration yang sama, 5 tahun. Keuntungan dari bond karena penurunan bunga akan di-offset oleh kerugian dari pembiayaan, dan sebaliknya. Bank A tidak memiliki market risk dan tidak akan dapat memperoleh laba besar dari aktivitas tersebut

Market raising

Bank
4½% 5 years 5% 5 years

Bonds

1.2 Market risk

1.2.3

Risiko Trading (Traded market risk)– contoh 2

Traded market risk – keputusan funding 2. Jika trader Bank A memperkirakan bahwa bunga akan naik di masa depan, ia dapat saja memutuskan untuk membiayai dengan fixed rate bond yang berdurasi lebih panjang. Misal, dana dengan jangka waktu 10 tahun. Jika perkiraan trader benar dan bunga naik, nilai dari 10-year fixed rate debt, akan turun lebih besar daripada nilai bond 5 tahun. Bank A akan mendapat profit dari keseluruhan transaksi. Ini disebut ‘long funding’. Perlu diingat bahwa jika bunga turun, bank akan menderita kerugian dari transaksi.

Market raising

Bank
6% 10 years 5% 5 years

Bonds

1.2 Market risk

1.2.3

Risiko Trading (Traded market risk)– contoh 2

Traded market risk – keputusan funding 3. Jika trader Bank A percaya bahwa bunga akan turun, ia bisa membiayai obligasi tadi dengan dana overnight. Ini disebut ‘short funding’. Bank akan memperbarui funding setiap hari, tapi bila trader benar, funding bisa diperoleh pada rate lebih rendah setiap hari ketika bunga turun.

Market raising

Bank
3% O/N 5% 5 years

Bonds

Keputusan funding yang keliru bisa mahal akiabtnya. Keputusan ini mengandung traded market risk.

1.2 Market risk

1.2.3

Risiko Trading (Traded market risk)– contoh 3

Midland Bank Pada 1989 Midland Bank, suatu bank utama di UK, menderita kerugian lebih dari GBP 116 juta pada posisi interest rate dari anak perusahaan, sebuah bank investasi. Ketika bunga bergerak kearah berlawanan dengan posisi Midland, ia tidak menurunkan eksposur malah meningkatkannya dengan harapan dapat menutup kerugian.

1.2 Market risk

1.2.4 Interest rate risk pada banking book

Contoh di atas adalah ilustrasi market risk dalam konteks perdagangan untuk profit. Di sisi lain banyak bank menghadapi problem mengelola risiko sejenis yang terjadi sebagai konsekuensi bisnis alaminya sebagai lembaga intermediari. Ini disebut interest rate risk in the banking book, yang dihasilkan dari bisnis yang dilakukan bank dengan nasabahnya.

1.2 Market risk

1.2.4 Interest rate risk pada banking book – contoh

Menerima 5 year fixed interest rate

Membayar central bank discount rate

Mortgage customers

Bank A

Depositors

Secara praktis, bank tersebut memiliki eksposur ‘short funding’ Dengan posisi seperti ini, bank berspekulasi apakah bunga akan naik atau turun, jadi walaupun bank tidak melakukan trading, bank secara ‘tidak langsung’ sudah mengambil posisi trading.

1.2 Market risk

1.2.4 Interest rate risk pada banking book – contoh
Untuk menghindari posisi trading yang tidak disengaja, Bank A perlu melakukan lindung nilai antara funding dan lending rate (proses yang disebut hedging), melindungi nilai baik deposit maupun loan. Terdapat sejumlah cara bagi bank untuk melakukan hedging : 1. mengubah model bisnis yang dilakukan. Dalam kasus Bank A, ia bisa mengubah lending rate berdasar discount rate dari bank sentral, atau funding rate ke 5-year fixed rate.

1.2 Market risk

1.2.4 Interest rate risk pada banking book – contoh
2. Menerima 5 year fixed interest rate Membayar discount rate bank sentral

Mortgage customers
Membayar 5 year fixed interest rate

Bank A

Depositors
Menerima central bank discount rate

Bank B

Bank C

1.2 Market risk

1.2.4 Interest rate risk pada banking book – contoh

3. Menerima 5 year fixed interest rate

Membayar discount rate bank sentral

Mortgage customers

Bank A

Depositors

Membayar 5 year fixed interest rate

Menerima discount rate bank sentral

Swap counterparty

1.2 Market risk

1.2.4 Interest rate risk pada banking book – contoh 2
American savings and loan associations, US American savings and loan associations (S&Ls) adalah mortgage lender, dengan konsentrasi kekuatan di beberapa negara bagian untuk membuat investasi langsung atau mengakuisisi bisnis lainnya dalam upaya melakukan pengembangan properti. Sampai 1980-an mereka adalah asosiasi yang dimiliki anggota. Namun karena bencana interest rate risk pada banking book, mereka saat ini menjadi milik pemerintah federal atau pemegang saham. Perkiraan awal biaya penyelamatan (bailout) adalah USD 500 juta atau USD 2,000 untuk setiap warga AS. Meski ada kejahatan dalam beberapa kasus, akar penyebab bencana ada dua.

1.2 Market risk

1.2.4 Interest rate risk pada banking book – contoh 2
American savings and loan associations, US Pertama, dana disalurkan ke properti dengan harga digelembungkan (mark up). Ketika harga aset kolaps, security pada berbagai mortgages terhapus. Kedua, meski suku bunga pada berbagai mortgage adalah fixed, tidak adanya penalti untuk prepayment menyebabkan peminjam bisa me-refinance mortgage pada bunga lebih rendah, ketika bunga turun. Namun, lender masih terkunci dengan borrowing pada bunga lebih tinggi. Posisi mismatch ini (meminjamkan pada bunga rendah dan terkunci pada borrowing dengan bunga tinggi) menyebabkan kolaps-nya banyak S&L dengan kerugian milyaran dollar.

1.2 Market risk

1.2.4 Interest rate risk pada banking book – contoh 2

American savings and loan associations, US Paying 5 year fixed at 4 ½ % Receiving mortgage rate at 5 ½%

Market
Funds flow Posisi matched ?

S & L
Funds flow

Mortgages

Ketika bunga turun, banyak nasabah yang membayar mortgage lebih awal tanpa penalti.

1.2 Market risk

1.2.4 Interest rate risk pada banking book – contoh 2

American savings and loan associations, US Paying 5 year fixed at 4 ½ % Receiving new mortgage rate at 3 ½%

Market
Funds flow

S & L
Funds flow

New mortgages

Ketika mortgage asal dibayar lebih awal, posisi matched hilang. S&L masih membayar suku bunga pasar awal yang tinggi dengan pendapatan dari mortgage baru pada bunga yang lebih rendah.

1 Risiko dan regulasi perbankan
1.3 Credit risk

1.3 Credit risk

1.3.1 Apa yang disebut dengan credit risk?

Credit risk adalah risiko kerugian berhubungan dengan kemungkinan suatu counterparty akan gagal memenuhi kewajibannya; dengan kata lain risiko bahwa peminjam tidak akan membayar hutangnya. Credit Risk – contoh Bank A meminjamkan mortgage ke nasabah personal. Dalam melakukannya, ia menghadapi risiko bahwa beberapa – atau seluruh – nasabahnya akan gagal membayar kembali pokok kredit yang dipinjam dan/atau bunga dari mortgage.

1.3 Credit risk

1.3.1 Apa yang disebut dengan credit risk?
Credit risk muncul dari kemungkinan nasabah tidak membayar kewajiban kredit yang diberikan bank, atau issuer bond yang dibeli bank, tidak membayar kupon dan pokok obligasi. Credit risk juga berasal dari kemungkinan counterparty bank tidak membayar kewajiban, misal dalam kegagalan membayar kewajiban dalam kontrak derivatif. Untuk banyak bank, credit risk adalah risiko terbesar yang ada pada bank. Biasanya margin yang dikenakan untuk mengcover credit risk relatif kecil dibandingkan dengan jumlah yang dipinjamkan, sehingga kerugian kredit bisa secara cepat menghabiskan capital bank.

1.3 Credit risk

1.3.1 Apa yang disebut dengan credit risk? - Contoh

Barclays Bank, UK Pada bulan Maret 1993, Barclays Bank mengumumkan kerugian GBP 244 juta untuk tahun 1992, setelah membuat provisi sebesar GBP 2.5 milyar untuk bad dan doubtful debts selama tahun tersebut. Ini termasuk provisi sebesar GBP 240 juta terhadap satu loan sebesar GBP 422 juta ke IMRY, suatu developer properti. Bagian besar dari kerugian ini terjadi karena hancurnya properti di UK pada awal 1990an.

1.3 Credit risk

1.3.2 Metode pengelolaan credit risk

Bank menerapkan sejumlah teknik dan kebijakan untuk mengelola risiko kredit guna meminimalkan kemungkinan atau akibat dari kerugian kredit (disebut credit risk mitigation). Ini termasuk : • grading model untuk masing-masing loan • portfolio management dari loan • securitization • collateral • cash flow monitoring • recovery management

1.3 Credit risk

1.3.3 Grading models
Bank harus membuat credit grading model yang detil, yang akan memberikan perkiraan kemungkinan default. Dengan demikian, Bank akan mengetahui probabilitas dari suatu bad outcome (biasanya disebut probability of default – PD). Hal Ini akan memungkinkan bank tidak mengkonsentrasikan portfolio kredit mereka pada kredit dengan kualitas buruk dengan probability of default yang tinggi.

Basel II secara khusus memasukan grading model sebagai bagian dari kerangka pengukuran credit risk.

1.3 Credit risk

1.3.3 Grading models – contoh
Single factor grading model Bank A memberikan pinjaman mortgage ke nasabah. Untuk meminimalkan credit risk, bank menggunakan grading model sederhana. Dalam hal ini Bank A mengelompokan kredit berdasarkan % dari nilai properti saat ini dibandingkan pagu kredit. Bank menghitung probabilitas tiap portofolio kredit mengakibatkan kerugian bagi bank dan menyesuaikan kebijakan bunga untuk memastikan imbal hasil portfolio sesuai dengan risiko untuk berbagai jenis kredit. Bank dapat memperkirakan bahwa potensi kerugian pada kredit yang disalurkan = 50% dari nilai properti saat ini. Bank bisa menyesuaikan bunga kredit untuk mengoptimalkan imbal hasil dan risiko.

1.3 Credit risk

1.3.4 Manajemen portofolio kredit

Bank mengukur risiko kredit pada portfolio untuk memastikan lending tidak terkonsentrasi pada satu industri atau satu area geografis. Dengan demikian portfolio bank terdiversifikasi dengan baik, yang berarti risiko systematic default lebih rendah. Analisa ini disebut cohort analysis dan diterapkan baik pada loan untuk korporasi maupun personal.

1.3 Credit risk

1.3.5 Sekuritisasi

Satu teknik yang digunakan bank untuk memperkecil risiko adalah mem ”package” dan menjual portfolio kredit sebagai sekuritas, yang disalurkan pada investor. Proses ini disebut sekuritisasi. Sekuritisasi memungkinkan bank mengurangi potensi eksposur yang menurut analisis adalah paling berisiko, atau segment dimana bank memiliki konsentrasi risiko yang tinggi. Sekuritisasi memungkinkan bank memperoleh dana dihasilkan dari penjualan aset dan menginvestasikan pada aset lainnya dengan risiko yang lebih rendah.

1.3 Credit risk

1.3.6 Agunan (collateral)
Agunan adalah aset yang dijaminkan (pledged) oleh peminjam sebagai agunan, dengan tujuan untuk mengamankan kredit, dimana apabila debitur gagal bayar, agunan dapat disita untuk membayar kredit tersebut. Agunan mempunyai peran penting dalam kebijakan kredit bank. Bentuk agunan dapat berupa kas (yang paling aman), dan yang lebih umum berupa tanah/ rumah. Bank harus memastikan bahwa agunan yang diambil dapat mengurangi risiko apabila debitur menjadi macet. Banyak bentuk agunan yang sangat spesifik untuk jenis bisnis tertentu. Jika bisnis tidak menguntungkan, aset dari debitur biasanya tidak bernilai. Bank harus memastikan bahwa agunan tetap bernilai dalam hal default.

1.3 Credit risk

1.3.6 Agunan – contoh
Bank A memberikan kredit pada perakit mobil. Sebagai agunan, bank berhak mengambil alih kepemilikan pabrik dan peralatan, jika debitur default. Karena menurunnya volume penjualan mobil, perusahaan kolaps dan default. Bank A mengambil alih kepemilikan pabrik dan peralatan, tapi karena kondisi ekonomi, nilai pabrik dan peralatan tidak memadai. Agunan jauh dari mencukupi untuk memenuhi baki debet kredit. Dalam kondisi ini, Bank A akan menderita rugi. Basel I sangat terbatas dalam jenis agunan yang diakui. Namun, Basel II mengakui jenis agunan yang lebih luas, terutama dalam pendekatan Internal Ratings-Based (IRB) untuk risiko kredit.

1.3 Credit risk

1.3.7 Monitoring arus kas (Cash flow)
Banyak bank yang mengalami kerugian akibat tingkat default yang tinggi berpendapat bahwa apabila bank mempunyai reaksi yang cepat terhadap perburukan situasi, maka bank dapat mengurangi masalah secara signifikan. Bank menurunkan risiko kreditnya dengan : • membatasi eksposur kredit (disebut exposure at default – EAD) • memastikan bahwa nasabah bereaksi cepat terhadap perubahan keadaan. Banyak credit model yang memberi perhatian khusus bagi arus kas perusahaan dan individu, yang terefleksi dari bank account mereka.

1.3 Credit risk

1.3.8 Manajemen Recovery
Banyak bank sependapat bahwa pengelolaan kredit bermasalah secara efisien dapat menghasilkan recovery yang signifikan. Mereka mendirikan departemen yang ditugaskan secara khusus untuk mengelola recovery sebagai bagian penting dari proses credit risk management yang berkualitas. Loss given default (LGD) adalah perkiraan kerugian yang diderita bank jika default terjadi. Penentuan dan pengelolaan LGD memainkan peran penting dalam pendekatan Internal RatingBased untuk menghitung modal untuk mengcover credit risk. Nilai dari LGD dalam Advanced IRB Approach langsung ditentukan oleh bank mengenai seberapa besar yang bisa di-recover dari loan yang default.

1 Risiko dan regulasi perbankan
1.4 Operational risk

1.4 Operational risk

1.4.1 Apa yang dimaksud dengan operational risk?
Operational risk adalah risiko kerugian akibat kegagalan proses internal, akibat faktor manusia dan sistem, atau akibat kejadian eksternal.

Definisi di atas adalah definisi Basel II. Operational risk bisa dibagi menjadi sub-kategori, yaitu risiko yang berhubungan dengan : • proses internal • manusia • sistem • kejadian eksternal • Risiko legal dan regulatory (legal risk).

1.4 Operational risk

1.4.1 Apa yang dimaksud dengan operational risk? – contoh 1
Failure of controls: Barings, London Pada 1995 Baring Brothers and Co. Ltd. (Barings), London, kolaps setelah merugi GBP 827 juta menyusul kegagalan proses dan prosedur kontrol internal Seorang trader (Nick Leeson) berbasis di Singapura dan bekerja pada Singapore Futures Exchange bisa menyembunyikan kerugian dari perdagangannya selama lebih dari dua tahun sampai menjadi tidak bisa dipertahankan. Kurangnya kontrol lokal membuat trader menjadi back dan front office settlement manager, mengotorisasi perdagangannya sendiri. Meski terlihat seperti ‘rogue trader’ kejadian ini menunjukkan kegagalan kontrol internal.

1.4 Operational risk

1.4.1 Apa yang dimaksud dengan operational risk? – contoh 2
Technology/globalization Contoh operational risk ini mempengaruhi seluruh industri, bukan hanya bank. Ia juga bukan satu kejadian yang berdiri sendiri, namun, suatu seri kejadian. Pengaruh dari virus komputer menyebabkan kerugian milyaran dollar ke bisnis di seluruh dunia. Virus Melissa, salah satu yang paling buruk, muncul pada Maret 1999 dan diperkirakan mempengaruhi 45 juta PC dalam hanya beberapa hari. Kerugian untuk bisnis diperkirakan USD 500 juta. Pada 1990 ada 200 virus yang diketahui dan pada akhir 2004 menjadi lebih dari 70,000.

1.4 Operational risk

1.4.1 Apa yang dimaksud dengan operational risk?
Operational risk terutama berhubungan dengan masalah yang dihasilkan oleh kegagalan proses di dalam bank. Namun operational risk mempengaruhi semua bisnis, bukan hanya bank. Operational risk adalah risiko terpenting yang mempengaruhi pelanggan dari hari ke hari. Karenanya, bank meningkatkan fokusnya pada proses, prosedur dan kontrol yang berhubungan dengan operational risk. Pada 20 tahun terakhir, mis-manajemen dari operational risk paling tidak menimbulkan kerugian yang sama terhadap nilai individu bank dibanding credit dan market risk.

1.4 Operational risk

1.4.1 Apa yang dimaksud dengan operational risk?
Pada umumnya bank sudah biasa dengan terjadinya kegagalan operasi, dan sudah memiliki rencana dan prosedur untuk mengelola risiko ini. Persoalan sehari-hari yang paling mempengaruhi setiap bank termasuk: • kegagalan rekonsiliasi pembayaran yang dibuat dan diterima dari bank lain • trader atau staf back office Keliru memasukan transaksi, yang menyebabkan kesalahan dalam menentukan posisi pasar dan timbul masalah pada rekonsiliasi posisi bank. • kegagalan menyeimbangkan debet dan kredit • kegagalan sistem transaksi utama setelah implementasi upgrade sistem komputer • kejadian eksternal seperti kegagalan listrik PLN atau banjir.

1.4 Operational risk

1.4.1 Apa yang dimaksud dengan operational risk?

Selama 15 tahun terakhir, terdapat sejumlah kenaikan kejadian operational risk yang terkenal dan menyebabkan dampak serius bagi laba dan modal (capital) bank. Akibatnya supervisor mendorong bank meninjau kembali proses kerja selengkap mungkin dan memperhitungkan kejadian low frequency/high impact di luar area credit dan market risk. Regulasi Basel II mengharuskan bank mengkuantifikasi operational risk, mengukurnya dan mengalokasikan modal untuk operational risk sama dengan credit dan market risk.

1.4 Operational risk

1.4.2 Perubahan bentuk operational risk
Baik supervisor maupun bank khawatir bahwa perubahan dalam industri perbankan menyebabkan sifat operational risk berubah. Kejadian yang dulunya menghasilkan error dengan biaya rendah diganti dengan kejadian yang lebih jarang terjadi, tapi dengan dampak jauh lebih besar. Beberapa alasan mengapa sifat operational risk berubah, diantaranya : • otomatisasi • ketergantungan pd teknologi • outsourcing • terorisme • meningkatnya globalisasi • insentif dan trading – ‘rogue trader’ • kenaikan nilai dan volume transaksi • kenaikan litigasi.

1 Risiko dan regulasi perbankan
1.5 Risiko lainnya

1.5 Other risks

1.5

Risiko lainnya
Meski definisi operational risk Basel II tidak memasukan business, strategic, dan reputational risk, Basel menyediakan sarana untuk memasukan other risk dalam perhitungan risk-based capital untuk bank.

Kerangka Basel II sangat spesifik menentukan apa saja yang masuk dalam ‘other risks’. Meski tidak dibahas dalam regulasi, mereka penting karena bank perlu memasukan berbagai risiko tersebut saat menghitung risk-based capital-nya. Tiga risiko yang termasuk ‘other risks’ adalah : • Risiko bisnis • risiko strategik • risiko reputasi.

1.5 Other risks

1.5.1 Risiko Bisnis

Risiko Bisnis (Business risk) adalah risiko berhubungan dengan posisi kompetitif bank, dan prospek bank untuk berhasil dalam pasar yang terus berubah. Meski risiko bisnis tidak dimasukkan dalam definisi Basel tentang operational risk, namun tetap menjadi perhatian utama bagi manajemen senior dan dewan Direksi bank. Risiko bisnis termasuk misalnya, prospek jangka pendek dan panjang dari produk dan jasa yang telah ada.

1.5 Other risks

1.5.1 Risiko bisnis – contoh 1
Bank A memberikan kredit mortgage pada nasabahnya. Senior manajemen memutuskan menaikan pangsa pasar secara agresif dengan mendiskon mortgage rate, dan memberi 100% (loan-tovalue) mortgages. Keputusan bisnis ini mengandung risiko tinggi dan mengekspos seluruh bank ke pasar properti dan pada risiko kenaikan suku bunga. Ini mungkin menyebabkan mortgage cost untuk peminjam naik dan menghasilkan tambahan default. Selain itu, penurunan harga properti bisa menyebabkan nilai-nya turun dibawah nilai loan.

1.5 Other risks

1.5.1 Risiko Bisnis – contoh 1
Karena kenaikan suku bunga dan penurunan harga properti akan terjadi bersamaan, keputusan bisnis tersebut jelas berisiko. Meski Bank A cepat mengembangkan pangsa pasarnya, kualitas dari mortgage baru rendah. Ketika bunga naik nasabah Bank A yang over-borrowed mungkin tidak bisa membayar lagi.

1.5 Other risks

1.5.1 Risiko bisnis – contoh 2
BestBank, Boulder, Colorado, US Pada July 1998 BestBank of Boulder, Colorado ditutup oleh Federal Deposit Insurance Corporation karena rugi sekitar USD 200 juta. Kerugian disebabkan oleh kebijakan memberikan kartu kredit untuk membiayai peminjam berkualitas rendah. Kebijakan kartu kredit Best Bank adalah contoh dari bank meminjamkan uang ke nasabah berisiko tinggi pada bunga tinggi untuk menumbuhkan bisnis. Karena kebijakan kartu kredit tersebut neraca bank bertumbuh dari USD 10 juta pada 1994 menjadi USD 348 juta pada 1998. Best Bank gagal memasukan provisi yang cukup untuk bad debt, meski return kelihatannya tinggi.

1.5 Other risks

1.5.2 Risiko strategik (Strategic risk)

Strategic risk adalah risiko berhubungan dengan keputusan bisnis jangka panjang oleh manajer senior bank. Bisa juga berhubungan dengan implementasi strategi tersebut. Strategic dan business risk mirip; namun berbeda dalam durasi dan pentingnya keputusan. Strategic risk berhubungan dengan keputusan seperti : • bisnis apa yang akan diinvestasikan • bisnis mana yang akan diakuisisi • kemana dan seberapa banyak bisnis akan dikecilkan atau dijual

1.5 Other risks

1.5.2 Strategic risk – Midland Bank, UK
Pada October 1981 Midland Bank membayar USD 597 juta untuk membeli 51% Crocker Bank. Pada February 1986 Crocker Bank dijual ke Wells Fargo Bank seharga USD 1.1 milyar. Meski terlihat investasi di Crocker menjadi dobel, ini tidak memperhitungkan : • USD 760m : provisi untuk bad debt yang dibuat oleh Midland Bank • USD 700m : investasi yang dilakukan di Crocker Bank pada 1981. Diperkirakan keseluruhan rugi di Crocker Bank mencapai USD 1.7 milyar. Problem Midland Bank karena mengakuisisi bank asing dimana standar dan perilaku bisnis berbeda. Akhirnya, perbedaan budaya ternyata tidak bisa dijembatani.

1.5 Other risks

1.5.3 Risiko Reputasi (Reputational risk)

Reputational risk adalah risiko dari potensi kerugian bagi perusahaan karena opini publik yang negatif. Sebagai contoh, persepsi tentang kurangnya dana bisa menyebabkan ‘run on bank’. Reputasi bank rusak karena risk event. Nasabah menjadi khawatir, dan akhirnya ada krisis kepercayaan. Risiko reputasi semakin meningkat dengan perdagangan pasar keuangan selama 24 jam. Kehancuran reputasi bank internasional dapat terjadi setiap saat, pada setiap bagian dunia dan dilaporkan langsung ke seluruh dunia.

1.5 Other risks

1.5.3 Reputational risk

Reputational risk bisa menyebar ke seluruh sektor dari industri perbankan misal mortgage banking atau internet banking. Meski risk event terjadi hanya di satu bank dimana terdapat kontrol risiko yang kurang memadai, reputasi dari suatu produk atau sektor bisa berpengaruh ke seluruh industri perbankan. Apa yang dimulai dari insiden terisolasi, karena pelaporan, bisa berakhir dengan kerusakan reputasi seluruh industri.

1.5 Other risks

1.5.3 Reputational risk – contoh 1
Industry-wide reputational risk Bank C adalah internet-only bank. Ketika bank meningkatkan software security, terjadi kegagalan software yang menyebabkan nasabah bisa melihat bank statement nasabah lainnya. Meski mereka tidak bisa mengotorisasi transaksi nasabah lainnya, insiden tersebut dilaporkan sebagai pelanggaran keamanan internet untuk online bank. Hal ini menimbulkan spekulasi mengenai keamanan transaksi secara online. Potensi online fraud menimbulkan persepsi bahwa internet bank tidak aman, meski tidak terjadi kerugian bagi nasabah. Kepercayaan publik pada online banking kolaps dan reputasi internet bank merosot. Sejumlah internet-only bank kehilangan nasabah dalam jumlah besar sehingga laba menurun dan beberapa online bank kolaps.

1 Risiko dan regulasi perbankan
1.6 Konsekuensi kegagalan mengelola risiko bank

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.1 Dampak Risiko

Selain kerugian finansial secara langsung, risk event dapat menimbulkan dampak pada stakeholder bank – pemegang saham, karyawan, pelanggan – juga ekonomi. Secara umum pengaruh ke pemegang saham dan karyawan adalah langsung, namun konsekuensi untuk nasabah bisa secara tidak langsung, sehingga kurang dapat terlihat. Risiko tidak langsung ini seringkali merupakan konsekuensi dari suatu risk event memiliki dampak terhadap ekonomi. Selanjutnya akan dijelaskan dampak risiko bagi stakeholders dan ekonomi.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.2 dampak pada pemegang saham
Ketika suatu event terjadi, pemegang saham dapat terkena pengaruh melalui : • Kerugian total dari investasi apabila bank kolaps • pengurangan nilai investasi – harga saham turun karena menurunnya reputasi atau penurunan laba • Kehilangan dividen karena penurunan profit perusahaan • Kewajiban dari kerugian – pemegang saham mungkin ikut bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.2 dampak pada pemegang saham - contoh
Bank of Credit and Commerce International (BCCI) Pada July 1991, BCCI kolaps akibat terjadinya internal fraud sekitar USD 4 milyar, dan menimbulkan kewajiban USD 14 milyar. Setelah kolaps, ternyata bank tidak memiliki nilai dan hal ini mempengaruhi lebih dari 1 juta investor. Likuidator ditunjuk untuk me-recover sebanyak mungkin aset bagi depositor dan kreditor. Tujuh tahun setelah BCCI kolaps, likuidator berhasil me-recover lebih dari USD 5.5 milyar. Likuidator masih terus bertindak (Agustus 2005) dan saat ini menuntut Bank of England sebesar USD 1 milyar karena gagal menjalankan tanggung jawabnya sebagai regulator.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.3 Dampak pada karyawan
Karyawan suatu bank dapat terkena pengaruh risk event, meskipun tidak terlibat secara langsung. Kemungkinan dampak : • internal disciplinary proceedings karena kelalaian atau aksi yang disengaja oleh karyawan • kehilangan pendapatan, misal pengurangan bonus atau kenaikan gaji karena pengaruh dari laba perusahaan • kehilangan pekerjaan.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.3 Dampak pada karyawan – contoh
Orange County, California, US
Pada December 1994 Orange County of California USA, mengumumkan bahwa pool investasi-nya merugi USD 1.6 milyar, kerugian terbesar yang pernah dialami otoritas pemerintah lokal. Penyebab kerugian adalah aktivitas investasi yang tidak diawasi dari treasurer yang mengelola USD 7.5 milyar milik sekolah dari kota, dan county sendiri. Dengan berinvestasi di derivatif, treasurer berspekulasi bahwa bunga akan turun atau tetap rendah. Strategi investasi berjalan dengan baik sampai 1994 ketika Federal Reserve Board menaikan bunga yang mengakibatkan kerugian pada pool. Investasi pool dilikuidiasi pada Des 1994 dengan realisasi kerugian USD 1.6 milyar. Sebagai akibat, Orange County mengumumkan kebangkrutan dan memecat sejumlah besar karyawan.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.4 Dampak pada pelanggan
Pengaruh risk event pada nasabah dapat secara langsung atau tidak langsung, dan mungkin tidak bisa segera teridentifikasi. Pengaruhnya bisa berlangsung lama dan memberi dampak tambahan pada bank. Oleh karena itu, sangat sulit untuk mengkuantifikasi jumlah kerugian sehubungan dengan risk event bagi nasabah. Konsekuensi bagi nasabah bank termasuk : • pengurangan level customer service • pengurangan ketersediaan produk • krisis likuiditas • perubahan regulasi.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.4 Dampak pada pelanggan

Penting untuk disadari konsekuensi risk event bagi nasabah, hal ini ikut meningkatkan kebutuhan akan regulasi bank secara spesifik, bukan menerapkan regulasi untuk industri jasa keuangan secara keseluruhan.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.5 Risiko operasional dan pelayanan nasabah
Risiko yang langsung dirasakan dampaknya oleh nasabah seharihari adalah operational risk. Ketika operational event terjadi, nasabah bisa merasakan melalui : • kualitas servis yang buruk atau salah • interupsi pelayanan parsial • persepsi kurangnya keamanan ataupun yang sesungguhnya • Menurunnya pelayanan secara keseluruhan.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.5 Risiko operasional dan pelayanan nasabah
Gangguan pada pelayanan customer service yang normal dapat berakibat pada reputasi bank yang akhirnya mempengaruhi laba, karena nasabah memindahkan bisnis-nya. Hal ini penting bila operational risk event disebabkan problem teknis yang mempengaruhi ribuan nasabah. Pengaruh operational risk event bagi nasabah akan menghasilkan bentuk kerugian finansial lainnya bagi bank, termasuk : • pembayaran pada individu sebagai kompensasi dari kerugian tidak langsung • biaya litigasi • penalti regulatory

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.5 Risiko operasional dan pelayanan nasabah contoh
Cahoot, online bank yang didirikan oleh Abbey National Bank, UK, mengalami masalah teknis setelah diluncurkan pada Juni 2000. Awalnya, sistem kolaps dan tidak berfungsi hampir dua hari. Kemudian ada masalah lainnya sampai tiga hari. Strategi Cahoot adalah memberikan 25,000 pelanggan pertama interest rate free overdrafts dan credit cards. Satu kompetitor online bank mempertanyakan apakah Cahoot telah berinvestasi cukup pada kapasitas sistem untuk menghadapi level demand yg diterimanya. Diperlukan 10-14 hari untuk menyetujui pelanggan karena pengecekan money laundering pada calon nasabah. Selain menolak pelamar dengan fasilitas kredit berlebihan, semua orang yang tinggal di apartemen akan ditolak karena website tidak mampu menerima alamat seperti 35a atau ‘top flat’ (alamat yang umum di UK).

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.6 Dampak ekonomis dari suatu risk event
Over lending – Fenomena bersifat musiman Banks yang ‘over lent’ pada saat boom akan ‘under lend’ pada saat resesi, karena resesi mengurangi modal bank ketika bank harus menghapus-buku kredit macet. Hal ini akan mengurangi kemampuan bank memberikan kredit di masa depan bila tidak ada tambahan modal baru.

‘Procyclicality’ effect ini bisa dilihat pada saat melakukan pinjaman pada ‘asset bubbles’. Lending berlebihan selama market booming menyebabkan ekspektasi return dan valuasi aset yang tidak masuk akal, seperti terjadi pada residential, commercial real estate dan pasar saham, pada berbagai waktu di berbagai belahan dunia.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.6 Dampak ekonomis dari suatu risk event - contoh
The ‘dotcom’ bubble Pada akhir 1990an investor antri ingin berinvestasi pada perusahaan internet sebagai cara untuk ‘cepat kaya’. Hal ini menyebabkan “over valuation” dengan harga saham yang tinggi secara artifisial. Ternyata return yang diharapkan tidak terjadi dan banyak perusahaan semakin terbebani oleh hutang. Pada 2000 s/d 2001, pasar kolaps dan merugikan milyaran bagi investor. Pada Nov 2000, diperkirakan selama delapan bulan sebelumnya lebih dari GBP 40 milyar hilang dari perusahaan dotcom di FTSE TechMark index di London. Beberapa tahun kemudian, hampir semua perusahaan internet, apapun rencana bisnisnya, tidak bisa lagi memperoleh sumber dana.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.6 Dampak ekonomis dari suatu risk event
Topik mengenai ‘Procyclicality’ kemungkinan akan menjadi pusat penelitian “pengelolaan credit risk dan modelling” dimasa depan. Basel II dikritik sebagai penyebab terjadinya ‘Procyclicality’ bagi lending dari bank karena menghubungkan kebutuhan capital regulatory dengan hasil credit grading model. Setiap terjadi penurunan kualitas kredit, akan menyebabkan kenaikan regulatory capital requirement tanpa memandang apakah default dari loan sudah meningkat.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.6 Dampak ekonomis dari suatu risk event
Market risk dan liquidity Karena pasar memperdagangkan semakin banyak aset, menimbulkan Konsekuensi meningkatnya market risk event. Pertumbuhan aset yang diperdagangkan tidak bebas dari permasalahan. Model mathematik yang digunakan untuk membantu proses identifikasi risiko dan harga telah mengalami kemajuan, namun untuk menjadi indikator yang dapat dipercaya yang menentukan trend dari market risk kiranya masih perlu waktu lama.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.6 Dampak ekonomis dari suatu risk event - contoh
Long-Term Capital Management, US Pada September 1998 Long-Term Capital Management, suatu hedge fund Amerika diselamatkan dari kolaps oleh 16 counterparty utama. Counterparty tersebut setuju melakukan investasi sebesar USD 4 milyar sehingga LTCM bisa mengurangi USD 200 milyar eksposur pasar secara teratur, dan menghindari terjadinya kekacauan di pasar. Long-Term Capital Management: • Tidak melakukan hedge terhadap risiko, tapi mengambil risiko • Tidak melakukan investasi jangka panjang • Sumber modal diperoleh dari pinjaman bank, sehingga memungkinkan return besar bagi investor dari pergerakan harga yang relatif kecil.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.6 Dampak ekonomis dari suatu risk event - contoh
Long-Term Capital Management, US Tidak seperti investment trust, LTCM bisa meminjam beberapa kali dari modalnya. Hal ini berperan penting dalam penyebab kolaps. Salah satu masalah LTCM adalah dua orang partner membawa pendekatan akademik pada bisnis. Model yang digunakan ternyata tidak bekerja pada dunia yang nyata. LTCM mulai bermasalah ketika pemerintah Rusia default pada hutangnya. Likuiditas yang diandalkan LTCM, mulai mengering pada berbagai pasar keuangan dunia dan LTCM harus membayar tunai untuk dapat memenuhi komitmen.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.6 Dampak ekonomis dari suatu risk event
Krisis likuiditas kemungkinan jarang terjadi pada unit retail banking, namun lebih umum terjadi pada wholesale bank. Wholesale bank, yang tidak memiliki nasabah retail, tergantung pada agunan untuk menjamin eksposur pinjaman di pasar. Agunan termasuk aset seperti obligasi pemerintah dan perusahaan. Jika aset tersebut menjadi tidak likuid, (investor tidak bersedia membelinya atau bersedia membeli pada harga yang lebih rendah) maka krisis likuiditas terjadi.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.6 Dampak ekonomis dari suatu risk event
Krisis likuiditas dapat terjadi di wholesale market. Untuk mengurangi dampak dari krisis likuiditas diperlukan : • Meningkatkan kewaspadaan bagi supervisor • Reaksi yang cepat dari bank sentral • Monitoring ketat oleh manajemen bank. Basel II Accord, dengan sensitivitas terhadap risiko yang lebih baik dikeluarkan karena adanya perubahan kondisi pasar ini.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.6 Dampak ekonomis dari suatu risk event
Sarbanes-Oxley (SOX) Badan regulasi seringkali memperkenalkan aturan baru sebagai respon terhadap masalah tertentu untuk mengurangi peluang berulangnya kejadian tersebut. Regulasi baru dapat memberikan dampak tidak langsung bagi nasabah bank, baik melalui biaya implementasi atau melalui perubahan persepsi nilai. Contoh dari meningkatnya regulasi setelah risk event adalah diundangkannya Sarbanes-Oxley Act pada 2002 di AS yang mengatur mengenai tanggung jawab dan akuntabilitas korporat. Legislasi tersebut diperkenalkan setelah terjadinya skandal akuntansi yang menyebabkan kolaps-nya Enron dan WorldCom.

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.6 Dampak ekonomis dari suatu risk event
International Accounting Standards (IAS) Pada tahun 2005/06, international accounting standard akan diperkenalkan secara luas, terutama di EU. Hal ini akan mempengaruhi sejumlah bank dalam membukukan, diantaranya, hedging dari underlying interest rate risk pada banking book. Pengenalan IAS juga mempengaruhi keterbukaan (disclosure) bank dalam pelaporan dan Accounts. Aturan akuntansi baru jarang dikategorikan sebagai risk event. Namun, bila proses introduksi dari standar akuntansi internasional mengubah persepsi mengenai laba di masa depan bank, maka bagi bank tersebut merupakan risk event. Jadi, perlu pengelolaan yang hati-hati dan setiap efek buruk dijelaskan ke stakeholders.

1 Risiko dan regulasi perbankan
1.7 Sistim regulasi perbankan Indonesia

1.7 The Indonesian banking system and regulation

1.7.1 Sistim Perbankan Indonesia
Undang-undang perbankan dikeluarkan pada 1992 dan 1998 membagi bank menjadi dua jenis, yaitu: Bank komersial (commercial bank) yang memberikan jasa keuangan yang lengkap termasuk jasa foreign exchange. Mereka memiliki akses ke sistem pembayaran dan memberi jasa perbankan yang umum. Bank Perkreditan Rakyat, atau BPR, jauh lebih kecil dari bank komersial dan biasanya beroperasi secara lokal. Bank diperbolehkan menampung deposit tapi tidak memiliki akses pada sistem pembayaran. Selain bank, terdapat institusi non-bank kecil seperti village credit institutions (Badan Kredit Desa/BKD) dan rural credit unions (Lembaga Dana Kredit Pedesaan/LDKP).

1.7 The Indonesian banking system and regulation

1.7.2 Regulasi Perbankan
Regulasi sistem perbankan berkembang pesat sejak 1998 sebagai respon terhadap berbagai tantangan yang dihadapi oleh pasar finansial domestik. Berbagai area dari pasar keuangan telah dibahas dalam regulasi baru, menciptakan framework regulatory yang lengkap. Tabel berikut memberi ringkasan dari aturan struktur dan regulasi yang berlaku sejak 1998. Table 1.1

Regulasi
Banking Act 1998 memperbaiki Banking Act 1992

Tujuan
Mendefinisikan tiap jenis bank dan persyaratan serta pembatasan yang berlaku untuk tiap jenis bank.

1.7 The Indonesian banking system and regulation

1.7.2 Regulasi Perbankan
Regulasi
Bank Indonesia 1999

Tujuan
Menetapkan Bank Indonesia sebagai bank sentral Indonesia yang independen. Menetapkan obyektif dan tugas dari bank sentral. Mendefinisikan kebutuhan fungsi audit dan compliance dalam bank Menentukan lisensi dan persyaratan operasi dari bank komersial. Mendefinisikan prosedur dan praktek yang harus digunakan bank untuk mengidentifikasi nasabah dan memonitor aktivitasnya. Fit dan proper test yang dijalankan BI pada pemegang saham pengendali dan manajer senior bank.

Audit & Compliance 1999 Commercial Banks 2000 Know Your Customer Principles 2001 Fit and Proper Test 2003

1.7 The Indonesian banking system and regulation

1.7.2 Regulasi Perbankan
Regulasi
Market Risk 2003

Tujuan
Mendefinisikan capital requirement minimal dari bank komersial dengan memperhatikan posisi market risk-nya. Mendefinisikan infrastruktur risk management yang diperlukan bank Mensyaratkan bank komersial untuk mengembangkan dan menyerahkan rencana bisnis jangka pendek dan menengah. Menentukan limit dari risiko konsentrasi dalam portfolio lending bank. Mengharuskan bank untuk menyerahkan informasi pada semua debtor ke central credit bureau (pusat biro kredit).

Risk Management 2003 Commercial Bank Business Plan 2004 Legal Lending Limit 2005 Debtor Information System 2005

1.7 The Indonesian banking system and regulation

1.7.2 Regulasi Perbankan
Regulasi Tujuan

Asset Securitization Mendefinisikan prinsip-prinsip yang 2005 digunakan bank dalam menggunakan dan mengeksekusi sekuritisasi aset.

Selain itu BI telah menerbitkan Indonesian Banking Architecture (API) yang menentukan arah, ringkasan, dan struktur kerja untuk industri perbankan dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan.

1.7 The Indonesian banking system and regulation

1.7.2 Regulasi Perbankan
Perubahan tersebut akan diimplementasikan secara bertahap meliputi obyektif berikut : • menguatkan struktur sistem perbankan nasional • meningkatkan kualitas regulasi perbankan • meningkatkan fungsi pengawasan • meningkatkan kualitas manajemen dan operasi bank • mengembangkan infrastruktur perbankan • mengembangkan proteksi pelanggan.

Chapter 2 – Evolusi dari risk management dan regulasi pada industri perbankan
2.1 Mengapa banks disebut ‘special’ dan perlu dilakukan regulasi

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Modal, Likuiditas dan persaingan
Telah diketahui bahwa bank adalah spesial karena permasalahan di sektor perbankan bisa berdampak serius ke keseluruhan ekonomi. Sebagai financial intermediaries, bank adalah kekuatan yang besar untuk membantu pembiayaan perusahaan sekaligus ‘menyalurkan’ simpanan dari depositor. Namun, jika bank memberikan kredit yang ternyata kemudian menjadi bermasalah, permasalahan bank tidak hanya menyebabkan kerugian bagi pemegang saham, namun juga menyebabkan hilangnya dana depositor. Hal ini karena karakteristik bank yang memiliki gearing tinggi (highly geared).

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Gearing

Gearing adalah rasio hutang perusahaan dibanding modal yang dimilikinya. Jadi bank memiliki sejumlah besar hutang dibanding dengan jumlah modal, dan dikatakan ‘highly geared’. Di AS, bank dianggap ‘highly leveraged’.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Contoh dari gearing
Assets Amount USD million Domestic Government Bonds Cash Loans to other banks < 1 yr Loans to small/medium enterprises Loans to local authorities Loans to major international companies Total Liabilities Capital Deposits from customers Loans from other banks Total 100 10 200 390 200 100 Risk Weight % 0 0 20 100 50 100 RWA USD million 0 0 40 390 100 100

1000 Amount 80 820 100 1000

630

Bank adalah ‘highly geared’ ; memiliki capital hanya USD 80 juta dibanding hutang USD 920 juta

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Modal

Sumber daya utama untuk memastikan solvency bank adalah kecukupan modal (capital). Modal dari bank adalah sumber daya finansial yang tersedia untuk menyerap kerugian karena modal tidak membutuhkan pembayaran. Modal adalah jumlah investasi pemegang saham dalam bank yang tercatat pada neraca.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Insolvency

Insolvency adalah ketidakmampuan suatu perusahaan membayar klaim yang jatuh tempo. Bank yang berada pada posisi ini akan menderita krisis solvency.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Insolvency – Contoh
Bank X memberikan kredit pada nasabah dengan sumber dana dari deposito dan penerbitan obligasi dengan fixed rate untuk 5 tahun. Sebagian besar dari nasabah Bank X gagal membayar kewajiban kredit. Bank X masih berhutang kepada depositor dan bond market, tapi tidak memiliki modal untuk menutupi kekurangan yang disebabkan kredit macet. Kerugian lebih besar daripada modal bank, sehingga nilai investasi pemegang saham menjadi negatif. Kerugian di atas tingkat modal harus diserap oleh pemilik dana seperti pemilik obligasi atau depositor. Bank X menghadapi krisis solvency.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Insolvency
Krisis solvency pada suatu bank bisa menyebabkan penurunan skala kecil pada aktivitas ekonomi (seringkali hanya lokal). Namun, jika krisis mempengaruhi seluruh sektor perbankan, seluruh ekonomi akan dipengaruhi. Tanpa mekanisme manajemen likuiditas, kondisi illiquidity bisa menyebabkan insolvency. Jika krisis likuiditas semakin menyebar, pengaruh pada ekonomi bisa serupa dengan pengaruh krisis solvency yang mempengaruhi seluruh industri perbankan. Kegagalan kepercayaan pada satu bank bisa menyebabkan kegagalan kepercayaan pada bank secara umum.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Bank sentral sebagai ‘lenders of last resort’
Issue likuiditas dan solvency telah ada sejak abad 18 dan masih valid sampai sekarang. Peran bank sentral sebagai guardian (belakangan supervisor) dari sistem perbankan dimulai pada abad 18. Disadari bahwa demi kepentingan masyarakat, bank kadang memerlukan dukungan bank sentral sebagai ‘lender of last resort’ untuk menjaga kestabilan sistem finansial. Sebagai lender of last resort, bank sentral siap memberi dana ke bank komersial untuk menjamin bahwa krisis solvency dan likuiditas di sektor bank komersial tidak akan menjadi krisis ekonomi yang umum.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Stabilitas Sistim Finansial

Standar setting untuk institusi keuangan berasal dari kebutuhan meningkatkan efisiensi dan daya tahan sistem keuangan. Financial stability adalah pemeliharaan kondisi dimana kapasitas institusi finansial dan pasar untuk memobilisasi dana secara efisien, menyediakan likuiditas, dan mengalokasikan investasi tidak terganggu.

Financial stability bisa terjadi meski ada kegagalan periodik dari individu institusi keuangan. Kegagalan periodik hanya menjadi perhatian bila menimbulkan gangguan umum pada sistem perbankan.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Stabilitas Moneter

Stabilitas moneter (Monetary stability) adalah stabilitas nilai uang (yaitu inflasi yang rendah dan stabil). Stabilitas moneter tidak sama dengan stabilitas sistim keuangan (financial stability). Meski keduanya sering terjadi pada saat bersamaan, kadang-kadang keduanya tidak terjadi secara bersamaan, misalnya : • periode inflasi rendah dari akhir abad 18 sampai awal 20 • Stabilitas moneter dari akhir PD I sampai 1980-an • inflasi terkontrol dari 1980 ke atas

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Liberalisasi Finansial
Satu alasan mengapa kebijakan moneter yang sukses tidak menciptakan stabilitas sistim keuangan (financial stability) adalah gelombang liberalisasi yang mulai melanda pasar keuangan pada 1970-an dan 1980-an. Peran negara dalam fungsi ekonomi berkurang karena sejumlah aksi termasuk : • Mencabut aturan yang merintangi terjadinya kompetisi antara institusi keuangan, termasuk liberalisasi persyaratan ijin operasional bank yang merupakan bagian dari regulasi sampai 1970-an • Mencabut aturan hambatan dari penentuan pricing transaksi keuangan, misal maksimum bunga kredit atau deposit • Mencabut aturan restriksi pada pergerakan kapital internasional yang diikuti dengan mata uang yang bisa dipertukarkan.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Contoh dari Liberalisasi Finansial
Krisis hutang Latin American tahun 1980s Pada tahun 1970an laba dari negara eksportir utama minyak akibat kenaikan harga minyak ditempatkan pada bank internasional, yang kemudian meminjamkan uang tersebut pada pemerintah Amerika Latin. Dengan terjadinya resesi pada berbagai negara industri pada awal 1980an, negara Amerika Latin menghadapi krisis finansial karena merosotnya harga komoditas, dan export mereka. Pada Agustus 1982 Mexico memberitahu IMF bahwa negara tersebut tidak mampu memenuhi kewajiban USD 80 milyar. IMF, World Bank dan AS bersama-sama membuat paket penyelamatan untuk mencegah Mexico dari default. Namun situasi di Amerika Latin memburuk karena bank dan investor kehilangan kepercayaan pada kemampuan negara berkembang untuk membayar hutangnya.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Contoh dari Liberalisasi Finansial
Latin American debt crisis in the 1980s Sekitar 16 negara Amerika Latin, secara keseluruhan mempunyai hutang sebesar USD 176 milyar, dibiarkan untuk berusaha sendiri memenuhi kewajibannya. Beberapa bank internasional terbesar menghadapi kemungkinan kredit macet yang besar dengan potensi menjadi insolvent. Bank besar yang menghadapi bahaya kolaps menggunakan cara debt rescheduling, namun tekanan untuk memenuhi pembayaran bunga mendorong ekonomi negara Amerika Latin ke dalam resesi lebih jauh. Pada 1989 penekanan berubah dari debt restructuring ke debt reduction. Sebagai pelaksanaan komitmen pada reformasi ekonomi, IMF dan World Bank memberikan bantuan dana pada negara Amerika Latin untuk membayar hutang outstanding pada bank komersial.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Bank dan Persaingan
Liberalisasi pasar keuangan meningkatkan tekanan kompetisi pada bank melalui : • mengurangi kemampuan institusi yang ada menetapkan margin besar dari bisnis mereka – produk terpaksa diberi harga lebih kompetitif. • menciptakan gelombang pemain baru, sehingga meningkatkan kompetisi. Kesulitan memperoleh return yang sama mendorong institusi berani mengambil risiko yang lebih tinggi untuk memelihara return.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1

Bank dan Persaingan - contoh

Pada tahun 1995 internet only bank yang pertama di dunia didirikan di Atlanta, AS. Security First National Bank (SFNB) hanya memiliki satu kantor, tanpa cabang, sedikit pegawai dan overhead terbatas. Konsep dasarnya adalah untuk nasabah yang ingin berbisnis secara cepat, efisien, dan dalam lingkungan yang aman. Meski sekarang SFNB merupakan bagian dari Royal bank of Canada, SNFB membuktikan bahwa untuk mendirikan bank relatif mudah. SNFB juga membuktikan bahwa konsep internet bank merupakan proposisi yang dapat bertahan hidup. Internet banking saat ini merupakan bagian yang substansial dari perputaran sektor perbankan.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Inovasi Produk Finansial
Liberalisasi sektor finansial juga menimbulkan periode dengan inovasi berkembang sangat cepat, terutama pertumbuhan yang pesat dari produk seperti futures, swap, dan options (pasar derivatif) dan sekuritisasi aset. Produk-produk tersebut bisa meningkatkan kemampuan bank mentransfer risiko antara mereka dan investor pada pasar yang berbeda.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Perkembangan International

Liberalisasi sektor perbankan juga meliputi kontrol kompetisi lintas batas, karena terjadinya pertumbuhan perdagangan bebas (free trade) secara global. Tapi mungkin event yang lebih signifikan adalah hasil dari meningkatnya kekuatan politis dan ekonomi dari European Union. Liberalisasi kontrol antar batas meningkatkan hubungan finansial antara institusi, pasar dan negara.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.2 Dampak dari supervisors dan regulasi
Perkembangan dalam pasar keuangan dan liberalisasi lintas batas menyadarkan supervisor, terutama bank sentral, bahwa meski safety net berupa fungsi ‘lender of last resort’ berkembang pesat, namun basis dari regulasi finansial mereka menjadi lemah. Sebelum liberalisasi keuangan pada 1970an dan 1980an regulasi finansial berfokus pada : • otorisasi institusi keuangan • secara ketat mendefinisikan aktivitas yang diijinkan untuk berbagai institusi keuangan • definisi ratio neraca dan persyaratan seperti memelihara sejumlah deposit kas pada bank sentral atau memelihara sejumlah aset dalam sekuritas pemerintah lokal.

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.3 Pendekatan baru pada regulasi
Dalam dunia ‘baru’, supervisor mulai melihat potensi pendekatan baru untuk regulasi, menarik kesimpulan sbb : • sejumlah partisipan pasar mengukur kinerja mereka sendiri dengan melihat return untuk risiko yang diambilnya. Jika supervisor membuat proses regulatory yang bekerja dengan pasar, mereka bisa membuat regulasi yang lebih efektif dan relevan bagi institusi yang diatur • peningkatan globalisasi pasar modal meningkatkan kebutuhan untuk memastikan norma kehati-hatian (prudential norm) diterima secara internasional dan diimplementasikan secara konsisten • regulasi hanya satu bagian dari solusi. Risiko financial intermediation, secara internasional, tergantung pada kepastian standar minimum hukum kontrak dan kebangkrutan, akuntansi dan standar audit dan syarat disclosure.

2 Evolusi dari risk management dan regulasi pada industri perbankan
2.2 Basel Accord asli dan kecukupan modal untuk mengcover credit risk

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.1 Tujuan dari Basel I
Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) didirikan pada tahun 1975 oleh sebelas gubernur bank sentral Group of Ten (G10) dengan fokus pada praktek regulasi dan supervisi perbankan. Basel Committee terdiri dari perwakilan bank sentral dan supervisor perbankan dari negara G10 ditambah Spanyol dan Luxemburg. Anggotanya adalah : Belgium Italy Switzerland Spain Canada Japan United Kingdom Luxembourg France Netherlands United States Germany Sweden

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.1 Objectives of Basel I

Basel Committee memiliki tiga tujuan dalam mengembangkan Basel I Accord : • Memperkuat daya tahan (soundness) dan stabilitas dari sistem perbankan internasional • Menciptakan framework yang adil untuk mengukur kecukupan modal pada bank yang aktif secara internasional • Mengupayakan framework yang bisa diaplikasikan secara konsisten dengan prinsip mengurangi ketidakadilan persaingan antar bank-bank yang aktif secara internasional

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.2 Aktiva tertimbang menurut risiko (Risk-weighted assets) dan bobot (risk weights)
Untuk memahami bagaimana Basel I memenuhi obyektif utamanya, perlu diketahui konsep risk-weighted-asset (RWA) atau ATMR. Risk-weighted asset adalah kategori aset neraca dikalikan dengan risk-weight. RWA adalah aktiva tertimbang menurut risiko, yang digunakan untuk menghitung kebutuhan modal.

Basel Committee menetapkan sistem yang membantu bank untuk menghitung risk-weighted asset. Sistem ini menetapkan bobot risiko sebagai suatu faktor. Bobot risiko ini didasarkan pada persepsi relatif credit risk yang terkait dengan tiap kategori aset.

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.2 Aktiva tertimbang menurut risiko (Risk-weighted assets) dan bobot (risk weights)
Untuk mendapatkan bobot risk factor neraca, setiap instrumen kontrak (misal kredit) dikelompokan dalam lima kategori secara umum menurut persepsi kualitas kredit dari counterparty pada kontrak. Bobot (weight) yang digunakan adalah 0%, 10%, 20%, 50%, 100%.

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.2 Aktiva tertimbang menurut risiko (Risk-weighted assets) dan bobot (risk weights)
Table 2.1: Versi ringkas dari list dalam Basel I. Risk weight % Asset Class 0 Cash Domestic and OECD central government 0 to 50 20 50 100 Government lending OECD Domestic & OECD public sector & local govt. Interbank (OECD) & intl. development banks Non-OECD bank <1year Mortgage lending (1st charge on residential property) Corporate and unsecured personal debt Non-OECD bank > 1year Non-OECD government debt

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.2 Aktiva tertimbang menurut risiko (Risk-weighted assets) dan bobot (risk weights) - contoh
Menghitung risk-weighted assets Bank A wajib mengikuti aturan Basel I, dan memberikan kredit sebesar USD 100 juta pada bank non OECD untuk jangka waktu enam bulan. Risk-weighed asset dari kredit adalah : Kredit yang diberikan Risk weight RWA USD 100m 20% USD 20m (100m * 20%)

Bank B memberikan kredit sebesar USD 100 juta pada perusahaan besar. Risk-weighted asset (RWA) dari kredit ini adalah : Kredit yg diberikan Risk weight RWA USD 100m 100% USD 100m (100m * 100%)

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.3 Target rasio permodalan
Basel I Accord menetapkan hubungan antara risiko dan modal. Basel menggunakan multiplier yang berbeda untuk hutang pemerintah, bank, corporate dan kredit perorangan, dan mengalikannya dengan target capital ratio. Target capital ratio adalah rasio capital yang memenuhi syarat terhadap risk-weighted asset (RWA) bagi bank internasional. Basel Committee menentukan target capital ratio minimal 8%.

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.3 Target rasio permodalan
Basel tidak menetapkan bahwa ketentuan 8% harus diterapkan secara universal pada semua bank dalam jurisdiksi supervisor nasional. The Committee secara specific membolehkan hal ini karena minimum regulatory capital ratio untuk bank harus merefleksikan risiko selain credit risk.

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.3 Target rasio permodalan
Rumus untuk menghitung target capital ratio : Eligible Capital x 100 = Ratio (min 8%) ------------------Risk-weighted assets Bank dapat menghitung modal yang diperlukan bila diketahui RWA, atau RWA yang diperbolehkan untuk suatu jumlah modal tertentu. Target capital ratio merupakan persamaan sederhana untuk sesuatu yang kompleks. Basel Committee terus merevisi Basel I Accord untuk memperhitungkan diversifikasi aktivitas perbankan.

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.3 Target rasio permodalan - contoh
Menghitung kebutuhan modal Bank A wajib mengikuti aturan Basel I dan memberikan kredit sebesar USD 100 juta pada non-OECD bank untuk jangka waktu 6 bulan. Modal yang harus disediakan Bank A terhadap kredit ini adalah : Kredit yg disalurkan Risk weight RWA Eligible capital ------------------20 (RWA) USD 100m 20% USD 20m

x 100 = 8% (minimum ratio)

Kebutuhan modal

USD 1.6m

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.3 Target rasio permodalan - contoh
Menghitung kebutuhan modal Bank C memiliki modal yang belum dialokasikan sebesar USD 2 juta dan ingin memberikan kredit pada OECD bank. Berapa besar kredit yang dapat diberikan? 2m x 100 = 8% (minimum ratio) --------------RWA Jumlah modal Risk weight RWA Loan equivalent USD 2m 20% USD 25m (2m / 8%) USD 125m

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.4 Credit risk equivalence
Karena bank melakukan diversifikasi, bank perlu memasukan eksposure off-balance sheet (OBS). Biasanya unsur off-balance sheet adalah contingent liability, seperti misalnya guarantees, options, acceptances atau warranties. Pada OBS tidak ada kas atau aset fisik yang diwakili nilainya di neraca. Neraca tidak mencatat kontrak, hanya hasilnya. Sebagai contoh kontrak asuransi dimana akun hanya menunjukkan premi yang dibayar, tapi asuransi sendiri tidak terdapat pada akun. Untuk unsur OBS, Basel Committee menentukan konsep credit risk equivalence yang pertama kali diusulkan pada Basel Committee paper untuk perlakuan off-balance sheet exposure pada Maret 1986 berjudul “The Management of Banks’ Off-Balance-Sheet Exposures: A Supervisory Perspective”.

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.4 Credit risk equivalence

Konsep credit risk equivalence adalah bahwa transaksi off-balance sheet bisa dikonversi menjadi loan ekuivalen sehingga dapat dicatat pada on-balance-sheet, untuk tujuan menghitung risk-weighted assets. Cara ini memastikan definisi RWA mencakup kewajiban bank yang luas, tidak hanya kredit dan aset-aset sejenis.

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.5 Instrument setara kredit
Table 2.2: Daftar instrumen off-balance sheet utama seperti definisi Basel I dengan Conversion Factor (CF) yang sederhana Off-balance sheet item
Direct credit substitutes (e.g. guarantees) Certain transaction-related contingent items Short-term self-liquidating trade-related contingencies Sale and repurchase agreements and asset sales with recourse, where the credit risk remains with the bank Forward asset purchases, forward-forward deposits and partly-paid shares and securities which represent commitments with certain draw downs Note issuance facilities and revolving underwriting facilities Other commitments with an original maturity of over one year Similar commitments with an original maturity of up to one year, or which can be unconditionally cancelled at any time.

CF %
100 50 20 100 100 50 50 0

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.6

instrumen Derivatif

Transaksi off-balance sheet lainnya seperti derivatif diperlakukan berbeda. Derivatif adalah instrumen finansial dimana jumlah pokok dari transaksi biasanya tidak dipertukarkan. Aset dasar derivatif diperoleh dari satu atau lebih unsur berikut : • financial instruments • indeks (indices) • komoditas • instrumen derivatif lainnya

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.6

instrumen Derivatif - contoh

Forward Rate Agreement (FRA)

Paying 3 month LIBID

Bank V
Receiving 2%agreed rate for 1v3 month FRA

Bank X

Receives 3 month LIBID (1.5%)

Bank V masuk FRA dengan Bank X yg ber hak mendepositokan USD 10 juta selama 3 bulan mulai satu bulan dari sekarang Dalam waktu 1 bulan, Bank V menempatkan deposit ke Bank Y dan menerima 3 month LIBID.

Bank Y

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.6

instrumen Derivatif

Dalam beberapa instrumen derivatif seperti kontrak interest rate swap, bank tidak terekspos ke seluruh face value dari kontrak swap jika counterparty default, namun hanya potential cost dari mengganti arus kas yang ekuivalen dengan kontrak (credit equivalent) Setiap mark-to-market exposure dikurangi 50% dari conversion factor / direct lending weight seperti terlihat dalam tabel di atas. Misal suatu counterparty dengan 100% akan diberikan bobot 50% mark-tomarket exposure. Tergantung pergerakan sejumlah faktor yang relevan sejak dimulainya kontrak, hal ini mungkin menghasilkan atau tidak credit risk equivalent exposure. Selalu ada ‘add on’ untuk menutupi potensi nilai kontrak berubah, sehingga bank akan terekspos risiko counterparty.

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.6

instrumen Derivatif

Secara umum instrumen derivatif adalah : • interest rate swaps dan options, forward rate agreements, interest rate futures • exchange rate swaps dan options, forward foreign exchange contracts, currency futures (tidak termasuk kontrak dengan original maturity kurang dari 14 hari) • Kontrak terkait precious dan non-precious metals mirip dengan di atas • equity contracts mirip dengan di atas Dua metode untuk menghitung credit equivalent dari kontrak yang diperbolehkan adalah : • Current Exposure Method • Original Exposure Method

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.7 Metode Current Exposure
CEM adalah metode yang dianjurkan oleh Basel Committee dalam Basel I. CEM menghitung current replacement cost dari kontrak dengan melakukan mark to market sesuai harga pasar. Biasanya cara ini mudah dilakukan karena pasar derivatif cukup aktif. Selain itu cara ini juga dinilai akurat dan dapat memberikan perbandingan yang jelas dari kontrak derivatif setiap waktu pada loan equivalent. Nilai mark-to-market dari suatu kontrak akan berubah terus karena nilai kontrak ditentukan oleh berbagi faktor risiko tergantung dari jenis kontrak itu sendiri. Sebagai contoh, perubahan nilai dari interest rate swap tergantung pada pergerakan relatif dari bunga.

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.7 Metode Current Exposure
Jika nilai mark-to-market dari transaksi saat ini positif, berarti bank berpotensi menderita kerugian jika counterparty default. Namun, karena nilai mark-to-market terus berfluktuasi sampai maturity, ada risiko bahwa credit exposure bisa meningkat dibanding nilai mark-tomarket saat ini. Suatu capital charge ditetapkan untuk tambahan exposure ini dengan menambahkan persentase dari notional principal ke current mark-tomarket value. Tabel berikut menunjukkan persentase yang diaplikasikan ke jumlah nominal dari setiap transaksi. Persentase dikategorikan berdasar instrumen dan sisa waktu sampai maturity untuk menunjukkan risiko relatif dari tiap instrumen dengan berjalannya waktu.

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.7 Metode Current Exposure
Table 2.3 Residual maturity Interest rate % < 1 yr 1-5 yrs > 5 yrs 0.0 0.5 1.5 Exchange rate & gold % 1.0 5.0 7.5 Equity Precious metals (not gold) % 7.0 7.0 8.0 Other comms % 10.0 12.0 15.0

% 6.0 8.0 10.0

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.7 Metode Current Exposure - contoh
7 year USD 10m interest rate swap
6% Fixed Rate

Bank A
6 month LIBOR

OECD Bank

Rate telah meningkat sehingga nilai mark-to-market dari swap adalah USD 1 juta. Sisa usia swap adalah 4 tahun. Credit Exposure (CE) = Mark-to-market + (notional amount x add-on) CE = USD 1m + (USD 10m x 0.5%) = USD 1,050,000 CE adalah ke OECD bank, dengan rate 20% dikurangi ke 10%. Capital consumption = USD 1,050,000 x 10% (risk weight) x 8% (target capital ratio) = USD 8,400

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.8 Metode Original Exposure
Original Exposure Method memperbolehkan bank menghitung persentase dari notional principal sebagai eksposur tanpa menghitung current value dari kontrak. Table 2.4: Faktor konversi untuk “Original Exposure method”. Maturity Interest rate contracts % One year or less One to two years For each additional year 0.5 1.0 1.0 Exchange rate contracts & gold % 2.0 5.0 3.0

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.8 Metode Original Exposure
Pada Basel I, otoritas regulator nasional memiliki diskresi membolehkan bank menggunakan metode ini sebagai kebijakan antara sebelum Current Exposure Model diimplementasikan. Cara Ini biasanya diaplikasikan untuk bank yang memiliki posisi yang matched dalam suatu instrumen. Bank yang terlibat dalam kontrak forward, swap, purchase option atau kontrak derivatif sejenis berdasar ekuitas, logam berharga (kecuali emas) atau komoditas lainnya harus menggunakan Current Exposure Model.

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.9 Menghitung kebutuhan eligible capital
Bank dapat menentukan level minimum dari kebutuhan modal dengan menentukan risk-weighted asset, dan mengalikan angka tersebut dengan target capital ratio yang ditentukan supervisor.

Menghitung regulatory capital - contoh
Bank A memiliki target capital ratio 8% dan memiliki posisi berikut dalam bukunya : 1. 6-month loan ke suatu bank Perancis sebesar USD 100m 2. 4-year interest rate swap ke perusahaan kimia UK sebesar USD10m dengan nilai USD 500,000 3. Residential property mortgage sebesar USD 500m

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.9
1

Menghitung regulatory capital - contoh (cont)
6-month loan pada bank Perancis sebesar USD 100m On-balance sheet – OECD bank – maturity less than 1 year RWA = USD 100m x 20% = USD 20m

2

4-year interest rate swap pada perusahaan kimia UK sebesar USD 10m dengan nilai USD 500,000 Off-balance sheet – private sector – maturity less than 5 years – using Current Exposure Method CE = (USD 10m x 0.5%) + USD 500,000 = USD 550,000 RWA = USD 550,000 x 50% = USD 275,000

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.9
3

Menghitung regulatory capital - contoh (cont)
Residential property mortgage book sebesar USD 500m On-balance sheet RWA = USD 500m x 50% = USD 250m

Total RWA

USD 20,000,000 + USD 275,000 + USD 250,000,000 = USD 270,275,000 USD 270,275,000 x 8% = USD 21,622,000

Regulatory capital requirement

2 Evolusi dari risk management dan regulasi pada industri perbankan
2.3 Pendekatan ‘grid’ dan ‘look up table’ untuk menghitung kebutuhan modal dan credit risk pada Basel I

2.3 The ‘grid’ and ‘look up table’ approach to capital adequacy and credit risk in Basel I

2.3 Pendekatan ‘grid’ dan ‘look up table’ untuk menghitung kecukupan modal dan credit risk

Dalam praktek setiap bank yang beroperasi dalam Basel I menggunakan tabel 2.3 dan 2.4 untuk menghitung level credit risk equivalent dari transaksi yang dilaksanakan. Bank juga menggunakan tabel 2.1 dan 2.2. untuk menghitung level risk-weighted asset yang digunakan untuk menentukan kebutuhan modal (capital requirement).

2.3 The ‘grid’ and ‘look up table’ approach to capital adequacy and credit risk in Basel I

2.3.1 Kecukupan imbal hasil dari regulatory capital
Dalam Basel I dan II, bank menghitung kebutuhan modal regulatory untuk suatu jumlah risk-weighted asset. Bisnis bank tidak statis dan level RWA dapat berubah apabila kontrak baru ditandatangani dan kontrak lama kadaluarsa. Dalam kondisi ini bank dapat memilih satu dari dua pilihan : • Menentukan limit dari level regulatory capital; dan menetapkan jumlah total RWA yang dapat ditambah. Namun, limit ini membatasi kapasitas meningkatkan bisnis. • Mengupayakan tambahan modal untuk memenuhi regulatory capital yang baru apabila terjadi kenaikan RWA. Perlu diketahui bahwa ‘menetapkan’ level regulatory capital dapat menjadi sulit karena RWA dari instrumen yg diperdagangkan bisa meningkat tanpa penambahan bisnis baru.

2.3 The ‘grid’ and ‘look up table’ approach to capital adequacy and credit risk in Basel I

2.3.1 Kecukupan imbal hasil dari regulatory capital

Return on regulatory capital adalah ukuran kinerja yang digunakan untuk memastikan bahwa suatu transaksi mendatangkan return yang cukup bagi bank untuk menghasilkan capital baru.

2.3 The ‘grid’ and ‘look up table’ approach to capital adequacy and credit risk in Basel I

2.3.1 Menghitung return on regulatory capital – contoh
Dalam contoh perhitungan return on regulatory capital berikut, digunakan asumsi : • capital structure memadai untuk mendukung transaksi • capital yang tersedia sama dengan regulatory capital – yang dalam dunia nyata jarang terjadi. Bank T mempertimbangkan memberi kredit secara fixed price pada nasabahnya, namun ingin menambah regulatory capital jika melakukannya. Untuk itu bank menghitung return on regulatory capital. Bank menentukan limit kredit yang tersedia sesuai jangka waktu dari kredit (stand by loan limit).

2.3 The ‘grid’ and ‘look up table’ approach to capital adequacy and credit risk in Basel I

2.3.1 Menghitung return on regulatory capital – contoh
Stand-by loan limit (available for > 365 days) Estimated utilization of limit Margin on utilized portion Risk weight RWA on utilized portion (20m x 50% x 100%) Estimate of non-utilization Margin on non-utilized portion Credit conversion factor Risk weight RWA on non-utilized portion (20m x 50% x 50% x 100%) Total RWA (10m + 5m) Risk asset ratio Notional capital (15m x 8%) Net earnings (10m x 1% + 10m x 0.5%) Return on regulatory capital = Net earnings / Notional capital x 100 Return on regulatory capital = (0.15m / 1.2m x 100) 12.5% 8% USD 1.20m USD 0.15m 50% 0.5% 50% 100% USD 5m USD 15m 50% 1% 100% USD 10m USD 20m

2.3 The ‘grid’ and ‘look up table’ approach to capital adequacy and credit risk in Basel I

2.3.1 Menghitung return on regulatory capital – contoh
Dalam contoh di atas, untuk menghitung net income hanya digunakan margin. Dalam praktek, kebanyakan bank akan menggunakan sistim transfer price untuk menghitung return dari sumber dana. Dalam contoh di atas, jika diasumsikan transfer price dari dana adalah 3% ; total return on regulatory capital adalah 15.5% (return yang dihitung ditambah transfer price) Dalam contoh di atas, Bank T perlu menentukan apakah return 15.5% cukup memadai untuk memutuskan menambah regulatory capital dan meluncurkan produk baru tersebut.

2 Evolusi dari risk management dan regulasi pada industri perbankan
2.4 Kebutuhan modal sesuai ketentuan Basel I

2.4 The bank capital requirements in Basel I

2.4.1 Struktur modal
Perhitungan kebutuhan modal minimum suatu bank tidak menentukan struktur capital yang seharusnya dimiliki bank. Dalam Basel I, Committee tidak hanya menetapkan kerangka untuk ukuran capital adequacy, namun juga menetapkan kerangka untuk struktur capital bank, sering disebut ‘eligible capital’ Basel Committee menganggap elemen kunci dari eligible capital untuk bank adalah equity capital.

2.4 The bank capital requirements in Basel I

2.4.1 Struktur modal

Untuk kebutuhan regulatory capital, bank dapat memiliki capital dalam dua tier : •Tier 1 – saham biasa yang diterbitkan dan dibayar penuh dan non-cumulative perpetual preferred stock dan disclosed reserves. •Tier 2 - undisclosed reserves, asset revaluation reserves, general provisions dan general loan loss reserves, hybrid capital instruments dan subordinated debt. Tier 2 capital tidak boleh lebih dari 50% total capital untuk credit risk.

2.4 The bank capital requirements in Basel I

2.4.1 Struktur modal
Capital base tidak boleh memasukan: • goodwill • investasi pada bank dan perusahaan keuangan yang tidak dikonsolidasi • investasi pada capital dari bank dan perusahaan keuangan lainnya (tergantung diskresi supervisor nasional) • investasi minoritas pada entitas tidak terkonsolidasi (misal associate bank) Perlu diketahui adalah tier 3 capital yang hanya bisa digunakan untuk mendukung portfolio trading bank.

2 Evolusi dari risk management dan regulasi pada industri perbankan
2.5 Basel I dan 1996 Market Risk Amendment

2.5 Basel I and the 1996 Market Risk Amendment

2.5.1 The Market Risk Amendment
Basel I sering dikritik karena kurang sensitif terhadap risiko. Sebenarnya, sensitivitas terhadap risiko merupakan pemikiran dasar Committee saat mengembangkan Capital Accord pertama. Tingkat sensitivitas terhadap risiko membaik saat Basel Committee menerbitkan “Amendment to the Capital Accord to Incorporate Market Risks” pada January 1996. Ini dikenal sebagai Market Risk Amendment. Market Risk Amendment adalah kulminasi proses yang dimulai ketika Committee menerbitkan paper “The Supervisory Treatment of Market Risks” dan berkomunikasi dengan bank dan partisipan pasar serta mengundang pendapat dan komentar. Selanjutnya Committee menetapkan penggunaan internal model untuk mengukur market risk oleh bank pada 1994.

2.5 Basel I and the 1996 Market Risk Amendment

2.5.1 The Market Risk Amendment
Penggunaan model-model secara individu menyebabkan perhitungan risiko seringkali berbeda cukup significant dibandingkan dengan perhitungan modal menggunakan pendekatan RWA-based Basel I. Dalam hal menggunakan internal model untuk market risk, Committee mengikuti apa yang sudah dilakukan leading banks. Basel Committee mengembangkan Market Risk Amendment dengan pendekatan ‘twin-track’. Pendekatan twin-track ini menilai model kuantitatif bank berdasarkan suatu set kriteria standar yang dipublikasikan selain suatu set kriteria standar kualitatif. Secara khusus pendekatan ini menilai kelayakan dari bank dalam menerapkan model kuantitatif, dan penilaian kualitas dari proses yang mendukung implementasi model di bank.

2.5 Basel I and the 1996 Market Risk Amendment

2.5.2 Value at Risk (VaR)
Model kuantitatif yang digunakan bank – dan diterima Committee – adalah model Value at Risk (VaR). Model VaR memperkirakan kemungkinan kerugian maksimum pada portfolio yang terkena market risk dari bank • untuk suatu periode waktu tertentu • dengan suatu degree confidence statistik tertentu Teknik Basel I untuk off-market asset (‘add-on’) dan teknik VaR sama-sama berusaha untuk mencapai tujuan yang serupa. Tujuan itu adalah menentukan eksposur dari seluruh portfolio trading bank, dengan memperhitungkan ‘off-set’, selama periode yang relevan dimana bank memelihara posisi tersebut.

2.5 Basel I and the 1996 Market Risk Amendment

2.5.2 Value at Risk (VaR)

Periode holding dari transaksi dikenal sebagai VaR Horizon. Untuk sebagian besar transaksi yang diperdagangkan di pasar, VaR Horizon yang dianggap paling sesuai adalah satu hari. Ukuran yang sering digunakan adalah Daily Value at Risk atau DVaR.

2.5 Basel I and the 1996 Market Risk Amendment

2.5.2 Value at Risk (VaR)

Risk report dari bank mungkin memiliki pernyataan sbb : “Portfolio trading memiliki DVaR USD 5 juta pada level 95%” Dalam bahasa sederhana DVaR diatas dapat dinyatakan sbb : “Selama periode satu hari trading ada 5% kemungkinan (100% 95%) kerugian portfolio melebihi USD 5 juta”

2.5 Basel I and the 1996 Market Risk Amendment

2.5.2 Value at Risk (VaR)
Walaupun terlihat sebagai suatu probabilitas yang rendah, namun hal ini berarti dalam satu tahun, terdapat 12 hari (asumsi 240 hari trading) dimana kerugian portfolio bank dapat melebihi USD 5 juta.

VaR model tidak memberi perkiraan seberapa besar kerugian sesungguhnya bisa terjadi. Dalam contoh kita model tidak memberikan berapa besar lebih dari USD 5 juta kerugian bisa terjadi.

2.5 Basel I and the 1996 Market Risk Amendment

2.5.3 Regulasi berbasis risiko (Risk-based regulation)
Basel I Accord tidak melihat bahwa modal yang dimiliki bank harus sebagian terkait dengan kualitas kredit dari : • debitur • penerbit sekuritas • counterparty lainnya yang memiliki kewajiban finansial ke bank (misal guarantor) Kategori secara luas dari counterparty yang digunakan, dan relatif kasarnya sensitivitas terhadap risiko dari proses ‘add-on’ untuk counterparty credit risk, membatasi scope dari risk-based regulation. Market Risk Amendment, dengan penetapan menggunakan model Value at Risk, menghasilkan untuk pertama kalinya regulasi berdasar risiko yang sesungguhnya.

2 Evolusi dari risk management dan regulasi pada industri perbankan
2.6 Kelemahan pada Basel I Accord

2.6 Weaknesses in the Basel I Accord

2.6.1 Basel I dan risiko kredit korporasi
Penetapan dan sukses dari Market Risk Amendment merupakan tonggak proses pengembangan dari regulasi berdasar risiko (riskbased regulation). Pada saat bersamaan, sejumlah bank mengubah proses kredit internal mereka dengan menggunakan model risiko kuantitatif yang serupa dengan teknik VaR. Ini terjadi karena : • Keberhasilan model VaR dari berbagai bank • Peningkatan aktivitas perdagangan kredit

2.6 Weaknesses in the Basel I Accord

2.6.1 Basel I dan risiko kredit korporasi
Trading Credit risk telah tersedia secara terbatas pada pasar commercial paper, namun meningkat drastis dengan semakin canggihnya pasar kredit sindikasi dan semakin menyebarnya sekuritisasi dari kredit bank. Transparansi risiko kredit korporasi terus meningkat drastis, saat model yang relatif sederhana dapat menunjukkan perbedaan kualitas kredit (credit grade) dan menentukan pricing untuk berbagai kategori kredit korporasi. Pendekatan Basel I untuk perhitungan kecukupan modal memberi bobot RWA dan kebutuhan modal yang sama untuk semua jenis kredit korporat, tanpa memandang kualitas rating (credit grade) dari debitur.

2.6 Weaknesses in the Basel I Accord

2.6.1 Basel I dan risiko kredit korporasi
Masalah dengan Basel I jelas: bank yang memberikan kredit pada perusahaan dengan kualitas kredit sangat baik harus menyediakan modal yang sama untuk keperluan regulatory, dibanding dengan bank yang memberikan kredit pada perusahaan dengan kualitas kredit buruk. Hal Ini tidak menimbulkan masalah jika bank dapat membebankan bunga yang sama untuk semua jenis debitur. Namun, bank harus bersaing dengan pasar obligasi korporat yang berkembang pesat, dimana kualitas kredit sesuai rating untuk bond yang diterbitkan oleh perusahaan pemeringkat seperti Standard & Poor’s dan Moody’s Investors Service dikaitkan dengan margin atau kupon yang ditetapkan. Masalah yang sama terjadi untuk kredit perorangan tanpa agunan (misal kartu kredit) dan kredit pada pemerintah (sovereign loan).

2 Evolusi dari risk management dan regulasi pada industri perbankan
2.7 Perkembangan The new Capital Accord – Basel II

2.7 The development of a new Capital Accord – Basel II

2.7

Perkembangan dari Basel II Capital Accord

Pada tahun 1999, Basel Committee mulai bekerja dengan bank-bank utama dari negara anggota untuk mengembangkan Capital Accord baru. Tujuan umumnya adalah memasukan seluruh risiko bank dalam suatu kerangka kecukupan modal yang komprehensif. Accord baru ini dikenal sebagai Basel II. Pengembangan Basel II Accord terjadi bersamaan dengan usaha European Union untuk menyelaraskan pasar keuangan-nya. Ini dikenal sebagai Financial Markets Program. Kebutuhan untuk menyelaraskan regulasi bank dan jasa keuangan di EU merupakan bagian integral dari Financial Markets Program.

2.7 The development of a new Capital Accord – Basel II

2.7

Perkembangan dari Basel II Capital Accord

Ada potensi bahwa EU akan mengadopsi Basel II Accord sebagai dasar bagi regulasi capital dari bank dan perusahaan jasa keuangan. Aplikasi yang luas dari Basel II dalam EU, tidak hanya bagi perbankan, diperlukan karena tidak adanya definisi mengenai bank yang seragam di antara negara-negara anggota. Basel II Accord, dengan sedikit penyesuaian, akan menjadi dasar arahan bagi aturan kecukupan modal di EU – the Capital Requirement Directive (CRD).

Chapter 3 – Perkembangan pengawasan bank berbasis risiko
3.1 Tiga pilar dari regulasi

3.1 The three Pillars of regulation

3.1 Tiga pilar dari regulasi
Basel II Capital Accord jauh lebih kompleks dibandingkan dengan Basel I. Cakupan risiko Basel II lebih luas dan menggunakan metodologi pengukuran risiko yang canggih. Basel I Accord Fokus pada pengukuran risiko tunggal Sensitivitas terhadap risiko dihitung dengan pendekatan sederhana Pendekatan ‘satu ukuran untuk semua’ bagi risiko dan modal Hanya Mencakup credit dan market risk Basel II Accord Fokus pada metodologi internal Sensitivitas terhadap risiko yang lebih tinggi Lebih fleksibel memenuhi kebutuhan berbagai bank Mencakup credit, market, operational, dan other risks.

3.1 The three Pillars of regulation

3.1

Tiga pilar dari regulasi
Basel II Framework disusun atas dasar tiga konsep regulasi, yang disebut dengan prinsip tiga pilar : • Pillar 1 – Kebutuhan modal minimum – Mengembangkan dan menyempurnakan regulasi standar yang ditetapkan sesuai Basel I 1988. • Pillar 2 - Regulatory review terhadap kecukupan modal bank dan penilaian atas proses internal assessment. • Pillar 3 - Penggunaan market discipline secara efektif agar bank menganut prinsip keterbukaan, dan mendorong praktek perbankan yang aman (safe) dan baik (sound).

3.1 The three Pillars of regulation

3.1.1 Pilar 1 – Kebutuhan Modal minimum

Pada Pillar 1, bank harus menghitung modal minimum untuk mengcover credit risk, market risk, dan operational risk. Untuk traded market risk, proses yang diuraikan dalam Basel I Market Risk Amendment tahun 1996 tetap digunakan (tidak ada perubahan) Interest rate risk yang terdapat pada posisi banking book tidak termasuk dalam kebutuhan modal pada Pillar 1.

3.1 The three Pillars of regulation

3.1.2 Pillar 2 – Supervisory review
Pillar 2 – proses supervisory review – ditujukan untuk menetapkan praktek yang telah dilakukan oleh banyak regulator selama ini secara formal. Supervisory review secara implisit sudah ada dalam Basel I, yang dimaksudkan agar supervisor dapat menggunakan pedoman tersebut sebagai dasar untuk menetapkan standar minimum yang harus dilaksanakan pada masing-masing bank. Pillar 2 merupakan proses pengawasan bank yang serupa dengan pendekatan pengawasan bank berbasis risiko oleh Federal Reserve Board di AS, dan Financial Services Authority di UK. Supervisory review dirancang untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut: • Kebutuhan modal di atas level minimum sesuai perhitungan Pilar 1 • Tindakan awal yang diperlukan untuk menghadapi risiko yg berkembang. Pillar 2 juga mencakup penilaian interest rate risk pada posisi banking book

3.1 The three Pillars of regulation

3.1.3 Keterbukaan (Disclosure)
Pillar 3 adalah pilar disiplin pasar (market discipline). BIS mendefinisikan market discipline sebagai mekanisme untuk melakukan kepatuhan internal dan eksternal dalam ekonomi pasar bebas tanpa intervensi pemerintah. Pillar 3 mencakup hal yang harus dipaparkan pada publik oleh bank. Ia dirancang untuk membantu pemegang saham dan analis pasar dan membantu meningkatkan tranparansi pada berbagai hal seperti: • Portfolio aset dari bank • Profil risiko bank Perlu dicatat bahwa Basel I hanya mengatur aturan pada Pillar 1. Dalam praktek Pillar 2 dan Pillar 3 akan selalu melekat pada proses pengawasan bank, walaupun penerapan pilar-pilar tersebut tidak dapat seragam pada berbagai macam bank.

3.1 The three Pillars of regulation

3.1.4 Cakupan Risiko – credit, market, operational dan risiko lainnya
Dalam pendekatan tiga pilar, Basel Committee mengusulkan perluasan cakupan risiko, bukan hanya credit dan traded market risk, tapi juga berbagai risiko lainnya yang dihadapi bank.

Basel Committee memfokuskan Pillar 1 pada credit risk dan operational risk tanpa mengubah aturan pada 1996 Market Risk Amendment. Pendekatan Pillar I untuk pertama kalinya mencakup operational risk dengan pendekatan kuantitatif. Selain itu kelompok risiko yang diharapkan dicakup dalam Pillar 2 dan 3, yang disebut dengan other risks’.

3.1 The three Pillars of regulation

3.1.4 Struktur Regulasi Basel II Pillar 1
Minimum Capital
Credit Risk Market Risk Op Risk

IRB approaches

Standardised Approach

1996 Capital Accord amendment

Standardised Approach Advanced Measurement Approach

Basic Indicator Approach

Foundation

Advanced

Collateral Securitization

3.1 The three Pillars of regulation

3.1.4

Struktur Regulasi Basel II Pillar 2
Supervisory Review

Pillar 3
Market Discipline

Interest Rate Risk in Banking Book Residual Risks

Disclosure

3.2 Reasons for the development of Basel II

3.2

Alasan perlunya mengembangkan Basel II

Peningkatan penggunaan metode kuantitatif oleh bank untuk mengukur dan melaporkan market risk pada posisi portfolio bank merupakan perkembangan yang akhirnya mendorong BCBS mengeluarkan Basel I Market Risk Amendment 1996 Amandemen itu memperbolehkan bank menggunakan model internal untuk mengukur market risk. Perkembangan metode kuantitatif tadi menjadi landasan untuk menyusun Basel II Accord. Namun, terdapat dua masalah, yaitu penetapan credit models dan masalah operational risk dan other risks – perlu diputuskan sebelum BCBS dapat melanjutkan mengembangkan Basel II.

3.2 Reasons for the development of Basel II

3.2.1 Credit models – grading atau options based
Untuk memutuskan jenis credit model yang boleh digunakan dalam Pillar 1, Committee mempertimbangkan penggunaan : • full portfolio model dengan dasar menggunakan metode option pricing • ‘Grading Model’ dimana risiko diukur pada masing-masing debitur, selanjutnya risiko portofolio diperoleh dengan menjumlahkan risiko masing-masing debitur. Full portfolio models merupakan hasil kerja Robert Merton dalam menentukan pricing dan pengukuran risiko pada portfolio option.

3.2 Reasons for the development of Basel II

3.2.1 Credit models – grading atau options based
Grading models digunakan oleh perusahaan pemeringkat seperti Standard & Poor’s dan Moody’s Investors Service Ratings. Meski istilah credit grade dan credit rating adalah sama, Basel II Accord menggunakan definisi ‘grade’ dalam kualitas kredit. Pada akhir 1990-an Committee memutuskan membatasi penggunaan credit model hanya pada credit grading model dan bukan option based model. Namun setelah keputusan tersebut, terdapat kecenderungan yang mengarah pengakuan atas penggunaan kedua teknik tersebut.

3.2 Reasons for the development of Basel II

3.2.2 Risiko Operational dan risiko lainnya
Issue kedua yang harus diputuskan adalah seberapa jauh teknik kuantitatif dapat digunakan untuk mengukur ‘other risks’ terutama operational risk. Sementara pihak berpendapat bahwa risiko tersebut dapat dimasukan dalam Pilar 2, karena tidak banyak bank yang telah menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengukur dan mengelola risiko-risiko tersebut. Supervisor berpendapat bahwa risiko tersebut cukup signifikan dan apabila dimasukan dalam Pillar II, dapat menyebabkan perhitungan modal kurang dari yang sebenarnya diperlukan. atau paling tidak akan menyebabkan perhitungan kecukupan modal untuk mengcover risiko menjadi tidak konsisten.

3.2 Reasons for the development of Basel II

3.2.1 Credit models – grading atau options based
Akhirnya Basel Committee memutuskan: • Memasukkan operational risk yang harus diukur secara kuantitatif dalam Pillar 1 • Mendefinisikan operational risk secara lebih luas mencakup berbagai macam risiko, namun tidak termasuk risiko reputasi, risiko bisnis dan risiko strategis. • Fokus untuk menggunakan metode credit grading untuk mengukur credit risk dalam Pillar 1

3.3 Development of the Basel II Accord

3.3

Perkembangan Basel II Accord

Basel Committee menggunakan pendekatan konsultatif untuk memastikan bahwa regulasi baru akan memberikan dampak positif. Basel menerbitkan consultative papers pertama, dan diikuti dengan periode konsultasi dan revisi. Periode konsultasi termasuk pelaksanaan serangkaian “Quantitative Impact Studies”, dimana Basel meminta sejumlah bank menghitung dampak dari implementasi Basel Accord berdasarkan consultative paper yang terakhir.

3.3 Development of the Basel II Accord

3.3

Perkembangan Basel II Accord

Pendekatan konsultatif (consultative approach) yang diadopsi Basel Committee sejalan dengan maksud dari Committee untuk tidak mengubah keseluruhan modal yang sudah ada dalam sistim perbankan untuk mendukung aktivitas industri perbankan. Langkah yang diambil Committee adalah menggunakan pendekatan yaitu pertama mengukur dampak implementasi dari Basel proposal pada industri perbankan. Kemudian informasi tersebut digunakan untuk membuat perubahan pada proposal. Pendekatan konsultatif berdampak positif pada pengembangan Basel Accord. Cara ini juga membantu bank dan Committee untuk lebih memahami permasalahan yang bakal timbul dalam implementasi nantinya.

3 – Perkembangan pengawasan bank berbasis risiko
3.4 Basel II dan sensitivitas terhadap risiko

3.4 Basel II and risk sensitivity

3.4.1 Cakupan Basel II
Perubahan terbesar dari risiko yang dicakup Basel II adalah masuknya operational risk. Operational risk adalah risiko kerugian karena proses internal yang tidak memadai atau gagal, karena faktor manusia dan kegagalan sistem, atau akibat dari kejadian eksternal. Sejumlah risiko yang masuk dalam definisi ini : transaksi, eksekusi, interupsi bisnis, settlement dan fidusia • Faktor manusia, manajemen yang buruk dan supervisi yang tidak cukup • Masalah kriminal, fraud, pencurian uang, dan ‘rogue trader’ • masalah relationship dan nasabah • struktur fixed cost, kurangnya sumber daya, teknologi, dan aset fisik • compliance dan legal/regulatory • informasi.

3.4 Basel II and risk sensitivity

3.4.1

Cakupan Basel II

Basel II memasukkan Pillar 2 dan Pillar 3 sebagai bagian integral dari proses untuk menentukan kebutuhan modal suatu bank. Dalam Pillar 2, regulator melalui sistim pengawasan bank diharapkan meneliti secara luas potensi adanya risiko lain-lain yang terdapat pada aktivitas bank.

3.4 Basel II and risk sensitivity

3.4.2

Cakupan Basel II

Selain cakupan yang lebih luas, Basel II juga menambah kedalaman cakupan risiko. Terutama dalam kebijakan perhitungan credit risk.

Basel II menetapkan lebih banyak kategori kredit terutama atas dasar kualitas debitur, syarat-syarat kredit, dan kualitas agunan. Basel II menyediakan dua pilihan bagi bank untuk menentukan bobot risiko dari asset kredit: Standardized Approach dan Internal Ratings Based Approach.

3.4 Basel II and risk sensitivity

3.4.2

Cakupan Basel II

Standardized Approach merupakan Basel I yang sudah disesuaikan secara significant. Pada Internal Ratings-Based Approach, bank mengembangkan sendiri grading model untuk menetapkan kualitas kredit debitur. Kedua pendekatan tersebut pada dasarnya serupa dengan cara perusahaan pemeringkat menetapkan rating pada obligasi. Basel I Accord menerapkan pendekatan sederhana mengenai hubungan profil risiko dari suatu aset dan kebutuhan modal untuk mengcover risiko aset yang tercatat pada neraca. Basel I hanya menetapkan sedikit kategori risiko dari berbagai jenis aset. Hal ini berbeda dengan perusahaan pemeringkat, yang menggolongkan lebih banyak kategori risiko kredit pada obligasi dengan menggunakan sistim rating.

3.4 Basel II and risk sensitivity

3.4.2 Bond Ratings
Moody’s Aaa Aa A Baa S&P AAA AA A BBB Description
Rating tertinggi. Kemampuan membayar bunga dan principal sangat kuat. Kapasitas kuat untuk membayar bunga dan pokok. Bersama kelompok rating tertinggi, kelompok ini digolongkan sebagai high-grade bond. Kapasitas kuat untuk membayar bunga dan pokok, meski kemungkinan rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi yang merugikan. Kapasitas cukup untuk membayar bunga dan pokok. Terjadinya kondisi ekonomi yang memburuk dan perubahan keadaan lebih mungkin menyebabkan melemahnya kemampuan untuk membayar bunga dan pokok hutang dibandingkan dengan kategori yang lebih tinggi. Obligasi pada kelompok ini tergolong medium grade.

3.4 Basel II and risk sensitivity

3.4.2 Bond Ratings - cont
Moody’s Ba B Caa Ca C D S&P BB B CCC CC C D
Ca / CC tingkat spekulasi tertinggi Rating ini adalah untuk bond yang tidak membayar bunga. Bond dalam kondisi default, menunggak pembayaran bunga dan/atau pokok.

Description
Tergolong sebagai spekulatif dalam hal kapasitas membayar bunga dan pokok sesuai dengan term dari obligasi. Ba / BB adalah tingkat spekulasi terendah.

Baik Moody’s maupun Standard & Poor’s juga menetapkan rincian lebih lanjut dari sistim rating mereka, sehingga menambah jumlah kelompok grade lebih lanjut. • Moody’s menggunakan tanda tambahan 1, 2 atau 3, dimana 1 berarti paling kuat: A 1 adalah rating A terkuat dan A3 terlemah. • S&P menggunakan plus dan minus: A+ adalah A yang terkuat dan Aadalah A yang terlemah.

3.4 Basel II and risk sensitivity

3.4.2

Cakupan Basel II

Untuk bank yang menggunakan Internal Ratings-Based Approach, jumlah grade yang akan digunakan diserahkan pada kebijakan bank, namun supervisor mengharapkan paling tidak bank menggunakan delapan kategori grade. Apabila Bank menggunakan Standardized Approach, tabel bobot risiko Basel II didasarkan atas tabel dari Basel I, dengan memasukkan credit rating apabila tersedia. Sama dengan metode pada Basel I, Pendekatan standardized mengelompokkan bobot risiko sesuai grading, namun pengelompokan tersebut berbeda sesuai kategori aset class dari aset.

3 – Perkembangan pengawasan bank berbasis risiko
3.5 Basel II dan kecukupan modal

3.5 Basel II and capital adequacy

3.5

Basel II dan Kecukupan Modal
Ketentuan kecukupan modal minimum sebesar 8% sesuai ketentuan Basel I Accord, tidak berubah dalam Basel II. Basel Committee menetapkan bahwa target rasio permodalan sebesar 8% masih cukup memadai untuk diterapkan pada bank internasional.

Karena berbagai jenis bank menghitung sendiri kebutuhan regulatory capital, jumlah regulatory capital yang dihitung dapat berbeda dengan jumlah regulatory capital yang ditetapkan dalam Basel I.

3.5 Basel II and capital adequacy

3.5

Basel II dan Kecukupan Modal – contoh

Bank U memiliki operational risk yang signifikan. Pada ketentuan kebutuhan modal sesuai Basel I, kebutuhan modal akan naik jika penurunan kebutuhan modal untuk mengcover risiko kredit tidak cukup untuk meng-offset modal yang dibutuhkan untuk mengcover risiko operasional. Bank X memiliki operational risk rendah portfolio kredit sebagian besar berupa perusahaan dengan rating AA. Dalam Basel II Bank X akan membutuhkan regulatory capital credit risk yang turun secara signifikan.

3.5 Basel II and capital adequacy

3.5

Basel II dan Kecukupan Modal

Tujuan Basel II Accord adalah mengupayakan agar kebutuhan regulatory capital sejauh mungkin sesuai dengan profil risiko dari setiap bank. Basel Committee menetapkan kebijakan transisi untuk memastikan bahwa penerapan Basel II Accord yang baru tidak menyebabkan terjadinya pengurangan modal yang diperlukan secara terlalu cepat, baik dilihat dari keseluruhan sistem perbankan, maupun dari sisi masing-masing bank secara individu.

3.5 Basel II and capital adequacy

3.5

Basel II dan Kecukupan Modal

Dalam menerapkan kebijakan transisi yang pertama, Basel II menetapkan faktor pengali pada perhitungan kebutuhan modal, untuk memastikan kebutuhan modal minimum sebesar 8% tetap terpelihara. Faktor ‘scaling’ ini diaplikasikan secara merata pada seluruh bank yang menggunakan Internal Ratings-Based Approach untuk menghitung credit risk, atau untuk bank yang menggunakan Advanced Measurement Approach untuk operational risk. Berdasarkan hasil dari QIS 3, faktor pengali ini pertama kali ditetapkan sebesar 106%. Committee percaya bahwa angka ini cukup untuk memastikan bahwa, pada tahap awal pengenalan Basel II, target ratio 8% akan terpelihara.

3.5 Basel II and capital adequacy

3.5

Basel II dan Kecukupan Modal

Pada kebijakan transisi kedua yang dapat diterapkan oleh supervisor, bank tidak diperbolehkan untuk segera merealisasikan pengurangan kebutuhan regulatory capital. Bank harus menurunkan kebutuhan modal regulatory secara bertahap sesuai petunjuk supervisor selama periode mulai akhir 2005 sampai tahun 2008 seperti terlihat pada tabel. Pengaturan ini menetapkan suatu ‘Capital floor’ yang akan dikurangi dengan berjalannya waktu.
From yearend 2005 IRB – Foundation approach Advanced IRB approaches Parallel calculation From year- end 2006 95% From yearend 2007 90% From yearend 2008 80%

Parallel Parallel calculation or calculation impact studies

90%

80%

3 – Perkembangan pengawasan bank berbasis risiko
3.6 Tingkat modal minimum dan aktual

3.6 Minimum and actual capital

3.6

Modal Minimum dan Modal aktual

Hubungan antara modal aktual yang dimiliki bank dengan kebutuhan modal minimum seringkali kompleks. Dalam praktek banyak bank yang saat ini memiliki rasio permodalan minimum sebesar 10% sampai 12%, jauh di atas kebutuhan modal minimum yang ditentukan regulator

3.6 Minimum and actual capital

3.6.1 Alasan Bank memiliki ‘excess’ capital
Pada umumnya Bank tidak mengungkapkan bagaimana cara bank menentukan modal aktual mereka. Namun, sejumlah faktor mempengaruhi keputusan tersebut. Rasio kecukupan modal atau Regulatory ratio adalah batas minimum dimana modal bank harus dijaga senantiasa berada diatas level tersebut, agar regulator tidak membekukan ijin operasional bank. Oleh karena itu pengelolaan bank pada umumnya memilih menjaga ratio capital berada di atas angka minimum yang ditentukan oleh supervisor.

3.6 Minimum and actual capital

3.6.1 Alasan Bank memiliki ‘excess’ capital
Dalam beberapa jurisdiksi, misal di AS dan UK, supervisor menentukan rasio modal terhadap risk-weighted asset (Asset Tertimbang Menurut Risiko/ATMR) secara spesifik untuk masingmasing bank. Dalam praktek rasio yang ditetapkan biasanya melebihi minimum dari yang ditetapkan Basel. Dengan demikian, ‘Surplus’ capital yang dimiliki bank yang berada diatas level minimum 8% dapat saja berkurang jauh apabila menggunakan ketentuan capital ratio yang ditetapkan supervisor. Karena rasio masing-masing bank biasanya tidak diungkapkan, maka actual surplus adalah merupakan angka perkiraan.

3.6 Minimum and actual capital

3.6.1 Alasan Bank memiliki ‘excess’ capital
Bank-bank terbesar di dunia memiliki internal risk model masingmasing. Model internal tersebut menghubungkan antara modal yang diperlukan dengan risiko yang melekat dalam aktivitas bank. Selanjutnya Bank menetapkan kebutuhan modal ekonomis. Model ‘economic capital’ ini dapat saja menghasilkan kebutuhan modal yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang diatur dalam Basel II. Supervisor yang menerapkan Basel II mengakui adanya model yang melakukan perhitungan ‘economic capital’. Bank yang menggunakan model tersebut harus memaparkan dan menjelaskan hasilnya dalam ruang lingkup supervisory process (Pillar 2, Basel II).

3.6 Minimum and actual capital

3.6.1 Alasan Bank memiliki ‘excess’ capital
• Baik Basel II maupun model economic capital menghubungkan modal bank dengan level dan struktur bisnis bank. Rencana pertumbuhan bank baik secara ‘organik’ maupun melalui akuisisi, kemungkinan akan membutuhkan modal yang lebih banyak untuk mendukung rencana pertumbuhan tersebut. • Akses ke pasar modal tidak selalu dapat dilakukan dan biaya yang diperlukan juga tidak pasti. Oleh karena itu bank yang merencanakan pertumbuhan harus memastikan bahwa rencana pertumbuhan tersebut tidak terhambat oleh masalah kekurangan capital. Selain itu Bank juga perlu memastikan bahwa rencana tersebut tidak terhambat oleh tingginya biaya modal akibat fluktuasi faktor pasar jangka pendek, misalnya apabila harus bersaing dengan penerbitan obligasi pemerintah.

Sertifikasi Risiko Bank dan Regulasi Level 1
B: Introduksi risiko pasar, risiko kredit dan risiko operasional

4 Konsep dasar dari Market risk dan Treasury risk

4.1 Risiko pasar (market risk)

4.1 The nature of market risk

4.1

Wujud asli market risk

Market risk = Risiko kerugian akibat posisi yang tercatat pada on- dan offbalance sheet karena pergerakan faktor pasar

4.1 The nature of market risk

4.1 Wujud asli market risk
Komponen Market risk : • Risiko Spesifik (specific risk) – risiko perubahan nilai pasar sekuritas akibat faktor issuer dari sekuritas. Contoh: Harga turun karena rating dari issuer memburuk. Dampak: hanya pada sekuritas yang diterbitkan issuer ini, tidak pada harga sekuritas secara umum. • Risiko pasar secara umum (general market risk) – Risiko perubahan harga pasar pada kelompok jenis instrumen tertentu. Contoh: Kenaikan bunga SBI menyebabkan harga pasar bond turun.

4.1 The nature of market risk

4.1 Wujud asli market risk
General market risk dapat dibagi menjadi: • Risiko suku bunga (interest rate risk) • Risiko posisi ekuitas (equity position risk) • Risiko nilai tukar (foreign exchange risk) • Risiko posisi komoditas (commodity position risk). Diantara berbagai kategori risiko tersebut, terdapat faktor korelasi yang saling mempengaruhi risiko portofolio.

4.1 The nature of market risk

4.1

Wujud asli market risk – interest rate risk

Interest rate risk = Potensi kerugian akibat perubahan tingkat bunga, yang menyebabkan perubahan harga pasar dari posisi. Harga pasar atau market value dihitung dengan menggunakan kurva hasil (yield curves) sebagai discount rate.

4.1 The nature of market risk

4.1 Wujud asli market risk – interest rate risk - contoh
Orange County, California • Pada bulan Desember 1994 – posisi investasi di likuidasi • Kerugian senilai USD 1.6 milyar, • Tidak ada sistim pengawasan atas kegiatan investasi oleh treasurer, yang memelihara posisi senilai USD 7.5 milyar milik sekolah, dan Pemda. • Investasi pada posisi derivatives, yang akan memperoleh keuntungan kalau tingkat bunga turun atau tetap dalam posisi rendah • Strategi tsb. Bekerja baik sampai tahun 1994, kemudian mengalami kerugian besar setelah suku bunga FED naik terus. • Setelah likuidasi, tingkat bunga turun sebesar 2.5%, apabila posisi dipertahankan, kerugian dapat berkurang menjadi USD 200 juta. • Pengamat jarang yang memprediksi bunga turun secepat itu pada tahun 1995

4.1 The nature of market risk

4.1 Wujud asli market risk – equity position risk
Equity position risk = Potensi kerugian akibat fluktuasi harga saham. Risiko dapat terjadi pada posisi yang melibatkan nilai saham didalamnya.

Contoh - Morgan Grenfell Private Equity February 2001 - Morgan Grenfell Private Equity (MGPE) mengalami kerugian sebesar GBP 150 juta pada posisi saham EM.TV, perusahaan media Jerman. MGPE membayar saham EM.TV dengan saham formula one miliknya. Lantas harga saham EM.TV menurun sampai 90%.

4.1 The nature of market risk

4.1

Wujud asli market risk – foreign exchange risk
Foreign exchange risk = Potensi kerugian akibat fluktuasi nilai tukar. Risiko dapat terjadi pada produk FX dan posisi yang harus dicatat dalam rupiah..

Example - Telekomunikasi Indonesia August 1998, Telkom Indonesia mengalami kerugian sebesar USD 101m akibat kerugian valas sebesar USD 150m. Telkom mengambil kredit sebesar USD 306m, JPY 11milyar dan FRF 130 juta, lantas dikonversi menjadi rupiah Rupiah mengalami devaluasi hebat terhadap USD, JPY dan FRF sehingga beban hutang dalam mata uang rupiah menjadi berganda.

4.1 The nature of market risk

4.1

Wujud asli market risk – commodity position risk

Commodity position risk = Potensi kerugian akibat fluktuasi harga komoditas. Risiko dapat terjadi pada posisi komoditas termasuk posisi derivatives komoditas.

Example - Sumitomo Corporation June 1996 - Sumitomo Corporation melaporkan kerugian sebesar USD 1.8 milyar dalam periode 10 tahun, akibat transaksi jual beli logam tembaga oleh trader secara tidak sah. Harga tembaga kemudian bergerak secara fluktuatif dan merugikan posisi perusahaan.

4.1 The nature of market risk

4.1 Wujud asli market risk – Harga pasar
Harga pasar (market value) dipengaruhi oleh antara lain: • supply dan demand dari produk mempengaruhi harga jangka pendek. Perubahan harga tergantung volume transaksi • liquidity – pasar yang likuid mampu menangani volume transaksi yang tinggi, bid-ask spread lebih tipis, biaya trade lebih murah. Pasar yang tidak likuid – spread lebih lebar dan sekuritas tidak aktif diperdagangkan. Pasar likuid dapat menjadi tidak likuid pada hari libur nasional atau akibat pengumuman yang mempengaruhi kondisi ekonomi.

4.1 The nature of market risk

4.1 Wujud asli market risk – Harga pasar
• Intervensi pemerintah/ BI (misalnya menurunkan tingkat bunga, devaluasi) memberikan dampak jangka pendek pada harga pasar. Dampak jangka panjang dapat terjadi apabila tindakan memberikan sinyal adanya perubahan kebijakan ekonomi • Arbitrage – timbul apabila ada perbedaan harga dari satu sekuritas yang diperdagangkan pada lebih dari satu bursa. Biasanya arbitrage hanya mungkin pada periode waktu pendek karena pasar langsung menyesuaikan harga pada kondisi seimbang.

4.1 The nature of market risk

4.1

Wujud asli market risk – Harga pasar

• Event ekonomi dan politik – plus bencana alam – memberikan dampak jangka pendek pada harga pasar. • Faktor fundamental ekonomi – memberikan dampak harga pasar jangka panjang. Contoh: Nilai tukar dipengaruhi oleh perbedaan tingkat inflasi dan kinerja ekonomi secara riil

4 Konsep dasar dari Market risk dan Treasury risk
4.2 Aktivitas Trading

4.2 Trading activities

4.2.1 Perkembangan aktivitas trading
Bank melakukan transaksi jual beli sekuritas untuk memperoleh keuntungan dari transaksi. Risikonya adalah rugi karena nilai pasar posisi turun. Strategi trading: ‘matched book’ strategy artinya posisi bank dibuat selalu square. Risiko yang tersisa: beda waktu saat transaksi dengan nasabah dilakukan dan saat upaya squaring dilakukan

4.2 Trading activities

4.2.1 Perkembangan aktivitas trading

Strategi kedua: Mengelola posisi dengan melakukan ‘covering deals’ atau hedging, dengan wewenang trading desk, yang dapat melakukan trade kalau pasar sedang menguntungkan. Untuk ini perlu ditetapkan ‘market risk limit’/ untuk membatasi risiko kerugian setiap saat. Posisi bank dapat untuk kepentingan nasabah, atau untuk kepentingan bank sendiri/ proprietary trading.

4.2 Trading activities

4.2.1 Perkembangan aktivitas trading
Strategi ketiga: Bank menjadi ‘market maker’ untuk produk tertentu. Traders menetapkan harga bid-ask untuk melakukan transaksi jual atau beli. Strategi ini memerlukan pasar yang likuid dan memerlukan market maker lainnya untuk mengcover risiko.

Market maker memperoleh laba dari spread bid-ask, dan mempunyai informasi dari trade yang dilakukan sehingga dapat segera menyesuaikan harga. Pada pasar yang bergerak cepat, posisi trader berpotensi rugi. Maka diperlukan menentukan limit dan memonitor pelaksanaannya.

4.2 Trading activities

4.2.1 Perkembangan aktivitas trading

Banks cenderung mengubah strategi sejalan dengan pertumbuhan, terdapat berbagai strategi pada berbagai produk dan posisi bank. Secara historis, aktivitas trading bank lebih untuk melayani kepentingan nasabah, khususnya nasabah yang melakukan transaksi internasional yang sangat membutuhkan jasa bank.

4.2 Trading activities

4.2.1 Perkembangan aktivitas trading
Nilai tukar retail (Retail exchange rates) diberikan bank untuk nasabah (korporasi) dengan manambahkan margin pada rate pasar. Margin retail merupakan sumber fee-based yang besar bagi bank, walaupun posisi bank relatif kecil. Kemudian melalui peningkatan pelayanan nasabah, aktivitas berkembang kearah wholesale trading operation.

4.2 Trading activities

4.2.1 Perkembangan aktivitas trading
Banks dengan basis pelanggan (customer base) yang luas dan transaksi FX yang besar dapat mempengaruhi nilai tukar jangka pendek dari pasar FX, yang berpotensi meningkatkan laba bank Untuk itu, bank mulai meningkatkan posisi FX. Proses ini berlanjut sejalan dengan berkembangnya persaingan, retail margins mulai mengecil. Saat ini volume transaksi seperti pada posisi USD/EUR, USD/JPY dan USD/GBP, didominasi oleh trading antar bank (interbank trading), sedang transaksi nasabah hanya sebagian kecil dari pasar.

4.2 Trading activities

4.2.1

Perkembangan aktivitas trading

Perkembangan pasar FX juga dapat menjelaskan bagaimana trading berbagai jenis sekuritas berkembang pada aktivitas bank. Tahap I: bank memelihara posisi match (matched position) pada suatu instrumen. Artinya bank melayani nasabah dan langsung melakukan hedge atas posisi tsb. Laba bank = harga nasabah – harga interbank.

4.2 Trading activities

4.2.1

Perkembangan aktivitas trading - contoh

Posisi match transaksi valas Bank A diminta oleh nasabah untuk membeli US dollar dan menjual Japanese yen karena ia harus membayar supplier Jepang senilai JPY 100 juta. Bank A menggunakan rate yang berlaku dipasar atau “quote rate” untuk membeli dollar di pasar, yaitu = Yen 100.00/USD, biaya yang diperlukan = USD 1 juta. Bank menjual Yen dengan “Selling rate” = 99.00 untuk nasabah, dan menerima USD 1,010,101. Artinya bank tidak menanggung risiko dan memperoleh laba USD 10,101.

4.2 Trading activities

4.2.1

Perkembangan aktivitas trading

Step kedua – bank memelihara posisi untuk melayani kebutuhan nasabah dengan antisipasi adanya perubahan faktor pasar yang untuk jangka pendek menguntungkan bank. Jangka waktu yang diijinkan pada trader untuk memelihara posisi akan semakin panjang apabila bank semakin berpengalaman dalam melakukan aktivitas trading instrumen tertentu. Dengan demikian, aktivitas trading bank tidak tergantung dari aktivitas transaksi valas dari nasabah.

4.2 Trading activities

4.2.2 Posisi manajemen dan lindung nilai (hedging)
Risiko pasar terdapat pada posisi trading maupun posisi banking book. Posisi banking book walaupun tidak dimaksudkan untuk tujuan diperdagangkan, tetap mengandung risiko pasar apabila dinilai dengan nilai tukar dan suku bunga yang berlaku. Pengelolaan risiko suku bunga pada banking book pada umumnya dikelola oleh fungsi Treasury. Trader diberikan wewenang untuk memelihara posisi, dan melakukan pengelolaan market risk pada trading book secara terus menerus pada dealing rooms. Aktivitas ini memerlukan pengawasan melekat oleh pihak independen untuk memastikan bank memahami risiko yang melekat pada posisi tersebut.

4.2 Trading activities

4.2.2 Posisi manajemen dan lindung nilai (hedging)
Traders mengelola risiko dengan melakukan trading pada instrumen yang dapat menutup risiko yang ada pada posisi terbuka. Metode ini biasanya kurang memberikan keuntungan, jadi trader lebih sering menggunakan metode lindung nilai (hedging) Traders dapat melakukan ‘hedge’ dengan mengambil posisi tertentu pada underlying instrument. Cara lain adalah melakukan hedge pada risiko portfolio dengan mengambil posisi pada instrumen yang berbeda, dengan perubahan harga pasarnya serupa dengan instrumen aslinya. Seringkali untuk melakukan hedge diperlukan beberapa posisi hedge agar dapat secara penuh matching dengan transaksi yang mendasarinya

4.2 Trading activities

4.2.2 Posisi manajemen dan lindung nilai (hedging) contoh
Interest Rate Hedge – hedging customer loan of USD 5m for 5 years
6% Fixed Rate 3 month LIBOR

Customer
Funds flow

Bank A
Funds flow

Market

Pays 5% Fixed Interest rate hedge through interest rate swap

Receives 3 month LIBOR

Bank B

4.2 Trading activities

4.2.2 Posisi manajemen dan lindung nilai (hedging)
Traders secara berkala melakukan hedge dengan instrumen yang lebih likuid dari pada instrumen dasar, sehingga trader dapat melakukan strategi hedge secara cepat Selain itu, biaya transaksi juga lebih rendah pada pasar yang lebih likuid. Traders dapat melakukan hedge secara penuh atau sebagian apabila trader mempunyai landasan kuat bahwa dengan memelihara posisi terbuka akan memperoleh keuntungan tanpa perlu melakukan trading pada aset dasar.

4.2 Trading activities

4.2.2 Posisi manajemen dan lindung nilai (hedging)
Nasabah membutuhkan bank untuk melakukan transaksi cash misalnya kredit, bank melakukan hedging melalui transaksi derivative. Hal ini karena pada umumnya derivatives lebih menguntungkan dibandingkan dengan instrumen cash: • credit risk lebih kecil • kebutuhan dana lebih kecil • kebutuhan modal lebih kecil • Likuiditas lebih baik • Biaya transaksi lebih murah.

4.2 Trading activities

4.2.2 Posisi manajemen dan lindung nilai (hedging)

Hedging memiliki banyak keuntungan tapi memerlukan pengelolaan yang cermat, karena derivative tidak identik dengan transaksi aslinya Biasanya akan selalu terdapat residual risk yang tidak terlindung yang harus dikelola dan dimonitor. Dalam beberapa kasus, khususnya transaksi posisi yang besar, interaksi antara hedge dan transaksi awal dapat menimbulkan risiko baru.

4.2 Trading activities

4.2.2 Posisi manajemen dan lindung nilai (hedging)
Basis risk adalah salah satu dari residual risks yang biasanya ditemukan pada portfolio dengan transaksi dengan tujuan hedge. Basis risk adalah risiko terjadinya perubahan hubungan antara nilai pasar dari posisi risiko dan nilai pasar dari instrumen yang digunakan untuk hedge posisi risiko tersebut. Basis risk timbul karena faktor pasar yang menjadi patokan berbeda diantara berbagai instrumen, namun mempunyai korelasi yang kuat Walaupun pada umumnya perubahan harian dari patokan tersebut relatif kecil, bank biasanya melakukan hedge pada perubahan pasar secara umum, dan mengelola basis risk secara terpisah.

4.2 Trading activities

4.2.2 Posisi manajemen dan lindung nilai (hedging) contoh
Perusahaan US mempunyai kredit dari Bank A atas dasar Prime lending rate = floating rate untuk nasabah dengan rating terbaik. Sumber dana Bank adalah interbank market dengan bunga 6 month LIBOR Pada contoh ini bank A mempunyai basis risk karena perbedaan antara Prime rate dan six-month LIBOR rate akan berfluktuasi selama kredit belum lunas..
Prime Rate 6 month LIBOR

Customer
Funds flow

Bank A
Funds flow

Market

4.2 Trading activities

4.2.2 Posisi manajemen dan lindung nilai (hedging)

Difference between Prime Rate and six-month LIBOR
3.40% 3.20% 3.00% 2.80% 2.60% 2.40% 2.20% 2.00% 2002 2003 2004 2005

4.2 Trading activities

4.2.3 Pengembangan produk baru
Aktivitas trading menjadi semakin kompleks dengan pasar menjadi semakin likuid dan canggih. Selain itu, bank merasa perlu untuk melakukan trade pada portofolio dengan instrumen yang lebih beragam dari sekedar permintaan nasabah. Hal ini memacu bank mengembangkan keahlian melakukan trading dalam upaya mengembangkan portofolio. Dalam kondisi ini, bank perlu mengembangkan sistim kontrol untuk memastikan bank mampu mengelola risiko dalam mengembangkan produk baru. Bank dapat tergoda untuk masuk pada produk atau pasar baru dan tidak sabar menunggu sampai bank mampu mengembangkan sistim pengawasan dan pemahaman penuh terhadap risiko yang dihadapi.

4.2 Trading activities

4.2.3 Pengembangan produk baru

Unsur penting untuk mengawasi aktivitas trading adalah adanya unit independen yang menentukan prosedur persetujuan yang ketat yang melibatkan berbagai unit dalam bank kalau bank ingin meluncurkan produk baru. Prosedur persetujuan hendaknya memperhatikan masalah sebagai berikut:

4.2 Trading activities

4.2.3 Pengembangan produk baru
Persetujuan regulator Dampak pada kebutuhan modal Masalah pajak Prosedur akuntansi Prosedur legal & dokumentasi Kebutuhan sistim IT Apakah bank sudah memperoleh persetujuan untuk produk ini? Bagaimana produk ini mempengaruhi kebutuhan modal bank? Apakah produk ini menimbulkan masalah pajak baru? Apakah sistim akuntansi yang ada dapat mencatat transaksi produk baru ini? Apakah seluruh ketentuan legal sudah terpenuhi & dokumentasi sudah disetujui? Apakah perlu menambah fitur sistim trading dan settlement?

4.2 Trading activities

4.2.3 Pengembangan produk baru
Dukungan operational Apakah bank dapat secara akurat melakukan pembukuan dan mengelola settlement dari transaksi? Apakah sistim yang ada pada bank dapat menangkap dan melaporkan posisi risiko yang timbul dari posisi produk baru tsb? Apakah pricing dan prosedur mark-tomarket sudah disetujui? Apakah produk akan mengakibatkan kebutuhan tambahan kebutuhan dana bagi bank? Apakah bank memiliki credit lines yang memadai untuk mendukung produk tsb? Apakah produk tsb. Memerlukan pengembangan prosedur kepatuhan?

Pelaporan risk management pricing dan valuasi Kebutuhan dana (funding) Implikasi credit risk Prosedur kepatuhan (compliance)

4.2 Trading activities

4.2.3 Pengembangan produk baru
Pertanyaan2 tsb. adalah masalah yang perlu diperhatikan bank kalau ingin meluncurkan produk baru. Sesudah produk baru disetujui, penting untuk memonitor volume transaksi untuk memastikan apabila produk merupakan suatu hal yang sukses, tidak menimbulkan permasalahan bagi manajemen. Pengembangan produk baru merupakan tanda bahwa operasi trading dari bank adalah berhasil dan bank sedang mengembangkan usaha untuk menambah penghasilan. Tetapi, bank juga terkadang perlu mengurangi bisnis yang sebenarnya menguntungkan untuk memastikan bahwa bank melakukan sistim kontrol yang pruden terhadap risiko dan mempertimbangkan kebutuhan modal untuk mendukung aktivitas trading

4 Konsep dasar dari Market risk dan Treasury risk
4.3 Instrumen Trading

4.3 Trading instruments

4.3.1 Introduksi
Terdapat berbagai macam instrumen Trading dan ‘variasi’. Untuk keperluan ujian sertifikasi, produk adalah instrumen utama yang diperdagangkan secara global. Pada umumnya kategori produk tersebut disebut dengan produk ‘vanilla’ karena bersifat sederhana tanpa unsur yang kompleks. Akan tetapi untuk setiap produk standar, biasanya terdapat bentuk yang kompleks. Selain itu produk baru terus dikembangkan untuk memenuhi permintaan nasabah Untuk instrumen akan dibahas lebih lanjut, valuta utama yang digunakan adalah US dollar, Euro, Japanese yen dan British pound.

4.3 Trading instruments

4.3.2 Instrumen Tunai – spot foreign exchange
Transaksi Valas adalah perjanjian untuk menukar satu jenis valuta dan valuta lainnya pada tanggal yang disepakati. Kapan transaksi dilakukan menentukan jenis transaksi dan pasarnya Spot foreign exchange adalah transaksi yang akan menjadi efektif dua hari kemudian, yang disebut dengan spot date. Jangka waktu dua hari adalah waktu yang diperlukan bank untuk memastikan transaksi dapat dilaksanakan, yang pada saat itu menggunakan telegraph. Walaupun sekarang penyelesaian transaksi (settlement) dilakukan secara elektronik, jangka waktu dua hari tetap digunakan. Transaksi spot adalah transaksi yang paling likuid, dan tetap menimbulkan risiko nilai tukar

4.3 Trading instruments

4.3.2 Instrumen Tunai – forward foreign exchange

Forward foreign exchange adalah transaksi dengan settlement lebih dari dua hari. Pasar forward menyediakan jangka waktu settlement sampai 1 tahun, beberapa bank bersedia memberikan jangka waktu lebih dari setahun. Transaksi forward menimbulkan risiko nilai tukar dan risiko suku bunga. Hal ini karena nilai tukar forward dipengaruhi oleh beda tingkat suku bunga antara dua valuta dan nilai tukar spot.

4.3 Trading instruments

4.3.2 Instrumen Tunai – forward foreign exchange contoh
Perusahaan US mengimpor barang dari Jepang, harus membayar biaya angkut yang jatuh tempo dalam 3 bulan senilai JPY 100 juta. Untuk memastikan biaya angkut dalam US dollar, perusahaan membeli kontrak forward senilai JPY 100 juta pada forward rate 3 bulan pada kurs 100.00. Transaksi ini memastikan biaya dalam USD adalah USD 1 juta. Dalam waktu 3 bulan, perusahaan membayar USD 1 juta pada bank dan menerima JPY 100 juta yang selanjutnya dibayarkan pada supplier Jepang..

4.3 Trading instruments

4.3.2 Instrumen Tunai – foreign exchange rate swap

foreign exchange rate swap adalah kombinasi dari transaksi spot dan forward. Kedua pihak melakukan transaksi spot pada spot rate dan pada saat yang sama melakukan transaksi forward pada forward rate, dengan jumlah pokok yang sama dalam mata uang lokal. Beda antara rate spot dan forward mencerminkan beda suku bunga dari dua valuta. Transaksi FX swaps menimbulkan risiko suku bunga. Contoh berikut menggambarkan mengapa transaksi FX forward menimbulkan risiko suku bunga

4.3 Trading instruments

4.3.2 Instrumen Tunai – foreign exchange rate swap contoh
Bank A dapat membeli USD dan menjual Japanese yen dengan jangka waktu 90 hari pada rate 99.50 yen/USD. Sebagai alternatif, bank dapat membeli USD pada spot date dengan rate 100.00. Jika Bank A membeli USD 10 juta dan menjual JPY 1,000 juta, kemudian perusahaan menahan posisi USD sampai 90 hari Dalam hal ini, bank perlu meminjam JPY 1,000 juta, menukar dengan USD dan mendepositokan USD 10 juta untuk waktu 90 hari. Apabila bunga USD = 3% dan untuk yen = 1%, arus kas bunga adalah: JPY 2,500,000 (bayar) USD 75,000 (terima) (1,000,000,000 x .01 x 90/360) (10,000,000 x .03 x 90/360)

4.3 Trading instruments

4.3.2 Instrumen Tunai – foreign exchange rate swap contoh
Sesudah 90 hari, posisi bank menjadi sbb: Long USD 10,075,000 dan Short JPY 1,002,500,000 Nilai tukar efektif adalah posisi yen dibagi posisi USD, didapat nilai tukar = 99.50. Ini adalah forward rate yang dapat digunakan bank sebagai ganti transaksi spot digabungkan dengan loan. Forward price dihitung dari beda suku bunga dengan prinsip tidak ada kesempatan meperoleh keuntungan. Forward price sangat tergantung dari level suku bunga

4.3 Trading instruments

4.3.2 Instrumen Tunai – Kredit (loan) dan penempatan (deposits)
Loans dan deposits adalah transaksi antar bank dengan bunga fixed untuk periode sesuai perjanjian. Jangka waktu mulai overnight sampai 5 tahun. Sebagian besar transaksi dengan jangka waktu kurang dari 1 tahun. Bunga dibayar pada saat jatuh tempo sekaligus dengan pembayaran pokok, kecuali kalau jangka waktu pinjaman lebih dari 1 tahun, bunga dibayar setiap tahun. Pasar uang antar bank adalah tempat dimana bank melakukan transaksi (pinjaman dan penempatan). Bank menggunakan pasar uang untuk mengambil posisi untuk memperoleh keuntungan dari prediksi pergerakan suku bunga. Motif lain adalah untuk memenuhi kebutuhan likuiditas. Pinjaman dan penempatan mengandung risiko suku bunga (interest rate risk).

4.3 Trading instruments

4.3.2 Instrumen Tunai – obligasi (bonds)
Obligasi atau bond adalah surat hutang jangka panjang yang dapat diperdagangkan, diterbitkan oleh penerbit (issuer). Investor (holder) membayar sejumlah pokok dari obligasi tersebut. Penerbit bond berkewajiban membayar holder bunga (coupon) secara periodik selama bond belum jatuh tempo, dan membayar pokok hutang yang biasanya dilakukan pada saat bond jatuh tempo. Bonds diterbitkan oleh berbagai organisasi. Setiap bond adalah tagihan pada organisasi. ‘vanilla’ bond biasa membayar kupon tetap dengan pokok dibayar pada saat jatuh tempo. Istilah ‘vanilla’ digunakan sebagai indikasi bahwa bond memiliki fitur standar.

4.3 Trading instruments

4.3.2 Instrumen Tunai – obligasi (bonds)

Harga pasar dari bond dipengaruhi oleh tingkat bunga dan kualitas rating dari issuer. Ratings agencies, misalnya Moody’s Investors Service dan Standard & Poor’s menerbitkan laporan kualitas issuer yang memperhitungkan risiko kredit dari bonds (kualitas keuangan dari issuer).

4.3 Trading instruments

4.3.2 Instrumen Tunai – obligasi (bonds)
Moody’s Aaa S&P AAA Penjelasan
Rating tertinggi. Kemampuan tinggi untuk melunasi bunga dan pokok

D

D

Bonds dengan rating D adalah dalam kondisi default, terdapat tunggakan pembayaran bunga dan atau pokok.

Rating diatas disebut dengan credit rating dari bond. Bonds menimbulkan risiko suku bunga dan risiko spesifik

4.3 Trading instruments

4.3.2 Instrumen Tunai – equity trading
Equity trading adalah jual beli saham perusahaan yang diperdagangkan di bursa. Saham biasa adalah bukti kepemilikan perusahaan. Pemegang saham dapat menerima dividen yang berasal dari laba perusahaan. Pemilik saham juga dapat memperoleh laba dari capital gain apabila harga saham naik. Semakin baik kinerja perusahaan, biasanya semakin baik return bagi pemegang saham. Harga saham mencerminkan persepsi pasar atas nilai perusahaan dan perkiraan nilai dimasa yang akan datang. Harga saham akan berfluktuasi sejalan dengan nilai yang dipersepsi pasar sesuai dengan informasi baru mengenai perusahaan. Posisi saham menimbulkan risiko ekuitas umum (general equity risk) dan risiko spesifik (specific risk).

4.3 Trading instruments

4.3.2 Instrumen Tunai – commodity trading

Commodity trading adalah transaksi jual beli komoditas yang diperdagangkan pada pasar sekunder (secondary markets). Termasuk didalamnya produk pertanian, minyak, logam mulia. Komoditas dibeli atau dijual dengan penyerahan secara fisik pada lokasi yang sudah ditetapkan pada tanggal yang disepakati. Tersedia pasar spot dan forward untuk berbagai macam komodiitas, dan setiap produk mempunyai fitur tambahan yang dikaitkan dengan karakteristik fisik dari komoditas tersebut

4.3 Trading instruments

4.3.2

Instrumen Tunai – commodity trading

Contoh dari fitur spesifik dari produk dapat dilihat pada pasar minyak (oil market) dimana lokasi penyerahan adalah faktor penting untuk dipertimbangkan. Sebuah tanker dari minyak mentah (crude oil) di Amerika akan mempunyai nilai berbeda dengan satu tanker di Malaysia karena adanya perbedaan permintaan dan penawaran, serta biaya pengangkutan antara kedua lokasi tersebut. Posisi komoditas menimbulkan risiko komoditas (commodity risk) dan posisi forward memiliki tambahan risiko, interest rate risk, sama seperti forward lainnya.

4.3 Trading instruments

4.3.3 Instrumen Derivatif

Derivatif tumbuh menjadi bagian utama dalam pengelolaan market risk selama 20 tahun terakhir, dimana bank terus menciptakan banyak produk inovatif untuk nasabah mereka Produk yang sudah diuraikan disebut dengan instrumen tunai (cash instruments), karena merupakan aset dasar (underlying instruments) untuk produk derivatif.

4.3 Trading instruments

4.3.3 Instrumen Derivatif
Fitur utama dari kebanyakan produk derivatif adalah bahwa tidak ada transaksi pada pokok instrumen. Hal ini mengurangi risiko kredit dan risiko settlement. Produk derivatif sering disebut dengan kontrak mengenai selisih harga (‘contracts for difference’) karena transaksi hanya menyangkut perubahan harga relatif dari aset dasar (underlying cash instruments). Dengan berkurangnya risiko kredit, maka bank dapat melakukan jumlah transaksi dengan counterparties yang jauh lebih banyak dibandingkan apabila transaksi dilakukan secara tunai. Dengan demikian, pasar menjadi lebih likuid, sehingga volume transaksi meningkat dan juga risiko yang melekat lebih besar.

4.3 Trading instruments

4.3.3 Instrumen Derivatif
Beberapa jenis derivatives diperdagangkan pada bursa berjangka (futures exchanges) dan lainnya diperdagangkan pada over-thecounter (OTC) market. OTC market adalah dimana bank langsung melakukan transaksi tanpa melalui bursa. Saat ini terdapat sejumlah besar produk derivative ‘exotic’ yang mengandung kombinasi dari berbagai risiko dan profil pembayaran. Sebagian besar dari produk eksotis tersebut dapat diurai ke dalam produk vanilla seperti uraian sebagai berikut:

4.3 Trading instruments

4.3.3 Instrumen Derivatif – kontrak berjangka (futures contracts)
Salah satu jenis kontrak derivative yang penting adalah kontrak berjangka (futures contract). Kontrak futures diperdagangkan di bursa, yang berperan sebagai bandar atau clearing house untuk semua counterparties. Seluruh transaksi dilakukan dengan bursa. Artinya bank tidak terekspos pada risiko kredit untuk berbagai counterparties, melainkan hanya risiko kredit dari bursa. Kontrak futures adalah menyerahkan posisi pada waktu tertentu dimasa depan. Kontrak futures tersedia untuk sebagian instrumen tunai (cash instruments) mulai dari bonds sampai commodities.

4.3 Trading instruments

4.3.3 Instrumen Derivatif – kontrak berjangka (futures contracts)
Pada umumnya fitur kontrak futures adalah sbb: • diperdagangkan di bursa • Jumlah fixed per contract • Tanggal penyerahan fixed • Syarat penyerahan sudah ditetapkan • Mark to market harian dan adanya sistim margin calls. Kontrak Futures mempunyai risiko yang sama dengan aset dasar. Dan terdapat risiko suku bunga (interest rate risk) akibat penyerahan kemudian.

4.3 Trading instruments

4.3.3 Instrumen Derivatif – kontrak berjangka (futures contracts) - Contoh
Kontrak berjangka obligasi (bond futures), transaksi untuk penyerahan December 2005 didasarkan pada forward price dari aset dasar (underlying bond) untuk penyerahan bulan December. Apabila pembeli mempertahankan posisi sampai tanggal penyerahan, penjual akan berkewajiban menyerahkan bond yang disebutkan dalam kontrak pada pembeli. Dalam prakteknya, penyerahan fisik jarang dilakukan, biasanya settlement dilaksanakan secara tunai sejumlah perbedaan antara harga kontrak futures awal dan harga pada tanggal jatuh tempo.

4.3 Trading instruments

4.3.3

Instrumen Derivatif – interest rate swaps

Interest rate swaps adalah kontrak derivative OTC yang memungkinkan bank dan nasabah mempunyai akses pada pendanaan jangka panjang tanpa perlu melakukan transaksi pendanaan jangka panjang. Bank menghadapi risiko kredit dan risiko likuiditas apabila menyediakan dana jangka panjang untuk nasabah. Sebaliknya, nasabah banyak yang memiliki proyek jangka panjang memerlukan dana jangka panjang dengan bunga tetap (fixed rate). Interest rate swaps memberikan solusi dengan cara kedua belah pihak saling menukar arus kas dari suku bunga tanpa perlu menukar pokoknya.

4.3 Trading instruments

4.3.3

Instrumen Derivatif – interest rate swaps

Transaksi Interest rate swaps dapat dengan jangka waktu sampai dengan 30 tahun, walaupun transaksi dengan jangka waktu lebih dari 10 tahun relatif kecil. Jangka waktu maksimum bervariasi sesuai dengan valuta yang digunakan, sesuai dengan pasar bond dengan valuta terkait yang tersedia dipasar. Ini karena bond digunakan untuk melakukan hedge atas transaksi swaps tersebut. Vanilla swaps pada umumnya meliputi pembayaran bunga fixed yang dipertukarkan dengan floating rate index misalnya one-month, three-month atau six-month LIBOR. Artinya kedua belah pihak sepakat mempertukarkan perbedaan dari kedua bunga tersebut pada tanggal pembayaran bunga. Karena LIBOR rate berubah sepanjang waktu, maka jumlah net yang harus dibayar oleh satu pihak akan bervariasi sepanjang swap belum jatuh tempo

4.3 Trading instruments

4.3.3

Instrumen Derivatif – interest rate swaps

Pasar antar bank (interbank market) pada umumnya melakukan transaksi vanilla swaps, tetapi dengan banyak variasi sesuai kebutuhan bank. Bank menggunakan berbagai kombinasi instrumen hedging untuk mengelola risiko yang ditimbulkan oleh transaksi swap. Interest rate swaps menimbulkan risiko suku bunga (interest rate risk).

4.3 Trading instruments

4.3.3 Instrumen Derivatif – interest rate swaps contoh

Bank A

Pays 6 month LIBOR

XYZ Company

Pays fixed 5% 6 monthly

Bank B
Receives 6 month LIBOR

4.3 Trading instruments

4.3.3

Instrumen Derivatif – currency swap

Currency swap mempunyai fitur serupa dengan interest rate swap kecuali bahwa aliran bunga dinyatakan dalam valuta yang berbeda. Produk ini digunakan untuk melakukan swap, misalnya, bunga dalam US dollar ditukar dengan bunga dalam valuta euro. Perbedaan utama antara interest rate dan currency swaps adalah pada currency swap, pokok dipertukarkan pada spot rate. Currency swaps menimbulkan interest rate risk pada kedua valuta dan risiko nilai tukar (foreign exchange risk).

4.3 Trading instruments

4.3.3

Instrumen Derivatif – currency swap – contoh
GBP

Stage 1 – Beginning

Customer

Initial exchange with Bank sells GBP v Euro at 1.46 EURO

Bank

Initial exchange optional

Stage 2 – Quarterly through deal life

Fixed EURO Interest Rate

Customer
Floating GBP LIBOR EURO

Bank

Interest rates can be fixed or floating

Stage 3 – Maturity

Customer

Final exchange of notional at 1.46 (as stage 1) GBP

Bank

Final exchange compulsory

4.3 Trading instruments

4.3.3

Instrumen Derivatif – forward rate agreements
Forward rate agreements (FRAs) adalah kontrak derivative OTC yang memungkinkan bank mengambil posisi pada suku bunga forward (forward interest rates). Kontrak memberikan hak untuk meminjam dana dengan rate tertentu (fixed) selama periode tertentu dimulai pada waktu tertentu dimasa depan. Tidak ada pertukaran pokok, pada saat kontrak jatuh tempo, dilakukan cash settlement yang adalah selisih dari rate yang disepakati dalam kontrak dengan rate LIBOR rate yang berlaku untuk periode yang diperjanjikan. FRAs adalah versi OTC dari kontrak berjangka suku bunga (interest rate futures contracts) dan memberikan lebih banyak fleksibilitas dari pada kontrak futures. FRAs menimbulkan risiko suku bunga (interest rate risk).

4.3 Trading instruments

4.3.3 Instrumen Derivatif – forward rate agreements – contoh

Paying notional 3 month LIBOR

Bank V
Receiving notional agreed fixed rate for 1v3 month FRA

Bank X

Receiving 3 month deposit rate

Bank V melakukan transaksi FRA dengan Bank X berupa hak untuk deposit USD Selama 3 months mulai 1 bulan yad. Dalam1 bulan Bank V menempatkan deposit pada Bank Y dan menerima Rate deposit 3 bulan.

Bank Y

4.3 Trading instruments

4.3.3

Instrumen Derivatif – option contracts
Kontrak opsi (option contract) memberikan hak pada pembeli, tapi bukan kewajiban, untuk melakukan kontrak dasar (underlying contract) dengan harga yang disepakati bersama. Artinya transaksi dasar (underlying transaction) akan terlaksana apabila rate menguntungkan bagi pembeli opsi. Penjual mempunyai risiko tak terbatas dari kontrak, dan untuk itu ia menerima premi. Kontrak opsi menimbulkan risiko baru diatas risiko yang melekat pada aset dasar (underlying instruments). Options dapat diciptakan dengan dasar hampir semua instrumen tunai dan instrumen derivatif, dan bahkan dapat diciptakan options on options.

4.3 Trading instruments

4.3.3

Instrumen Derivatif – option contracts

Istilah yang digunakan pada transaksi options : call put premium strike price exercise expiry date American European call option memberikan pembeli hak untuk membeli underlying instrument Put option memberikan pembeli hak untuk menjual underlying instrument Biaya yang dibayar oleh buyer pada seller Harga dimana dilaksanakan eksekusi dari underlying transaction Pembeli options ‘mengeksekusi’ option dan melaksanakan underlying contract Tanggal terakhir option pelaksanaan eksekusi Option yang dapat dilakukan eksekusi setiap saat selama options belum jatuh tempo Option yang hanya dapat dilakukan eksekusi pada saat jatuh tempo

4.3 Trading instruments

4.3.3

Instrumen Derivatif – option contracts

Harga Option didasarkan pada kemungkinan option tersebut dilakukan eksekusi. Untuk meghitung harga option, maka perlu ditentukan faktor volatilitas harga option. Volatilitas dari harga option adalah harga pasar yang mencerminkan persepsi pasar berapa harga aset dasar akan bergerak selama option belum jatuh tempo. Volatilitas yang digunakan untuk menentukan harga options ditentukan oleh pasar dan merupakan faktor risiko

4.3 Trading instruments

4.3.3

Instrumen Derivatif – option contracts

Options menimbulkan risiko yang melekat pada aset dasar (underlying instrument) yang harus diserahkan apabila pada option dilakukan eksekusi. Selain itu, options mempunyai risiko volatility dan risiko suku bunga (interest rate) karena aset dasar (underlying instrument) diserahkan pada masa yang akan datang. Sebagai contoh, option dari bond mempunyai risiko yang sama dengan underlying bond, dan juga risiko perubahan volatilitas dari harga bond

4.3 Trading instruments

4.3.3

Instrumen Derivatif – option contracts - contoh

Sebuah perusahaan Jepang mungkin perlu membeli USD 10 juta dalam 3 bulan untuk membeli pabrik di USA. Ia tidak ingin membeli USD 10 juta saat ini, tapi ia ingin melindungi dari risiko perubahan kurs USD meningkat. Oleh karena itu ia memutuskan untuk membeli kontrak Option. Diagram dibawah ini menggambarkan biaya pabrik dalam valuta Japanese yen akan bervariasi apabila tidak dilakukan pembelian kontrak option. Perusahaan akan rugi sebesar JPY 100 juta bila spot rate naik sampai 110.00.
Change in cost in Yen w ithout option
150 100

Yen (m)

50 0

Note : Jika change in cost negatif, maka berarti rugi (cost naik)

90

92

94

96

98 - 50 100 102 104 106 108 110
- 100 - 150

Spot rate

4.3 Trading instruments

4.3.3

Instrumen Derivatif – option contracts – contoh

Perusahaan membeli European style US dollar call option dengan jangka waktu 3 bulan, dengan strike price =100.00 terhadap JPY dengan premium dari option sebesar JPY 30 juta. Pada saat kontrak jatuh tempo, perusahaan setuju untuk membeli pabrik, dan harus membayar dalam valuta USD dan menjual Yen Spot rate menjadi 108.00, perusahaan melakukan exercises pada option dan membeli dollars dari penjual option dengan kurs strike price =100.00. Apabila spot rate ternyata ada dibawah 100.00 maka perusahaan akan membiarkan option kadaluarsa dan membeli dollar dengan kurs lebih rendah di pasar FX. Jadi apakah pada option dilakukan exercise atau tidak, biaya perusahaan tetap sebesar premi yang dibayar, yaitu JPY 30m.

4.3 Trading instruments

4.3.3

Instrumen Derivatif – option contracts – contoh

Kemungkinan hasil akhir dapat dilihat pada diagram dibawah ini. Dapat dilihat bahwa apabila spot rate jatuh sampai 90.00 perusahaan akan menghemat sebesar JPY 70m.

Possible outcom es if factory purchased
80 60 40 20 0

Yen (m) 90

92

94

96

98 -20 100 102 104 106 108 110
-40

Spot rate

4.3 Trading instruments

4.3.3

Instrumen Derivatif – option contracts – contoh

Apabila perusahaan tidak jadi membeli pabrik, maka perusahaan akan mempunyai posisi terbuka berupa kontrak opsi. Diagram dibawah ini terlihat variasi harga opsi untuk berbagai spot rate pada saat opsi jatuh tempo. Apabila kurs meningkat diatas 103.00 maka perusahaan akan dapat menutup biaya opsi dan mulai memperoleh laba. Apabila kurs pada saat jatuh tempo jatuh dibawah 100.00 maka perusahaan menderita kerugian sebesar premi yang dibayar.

Option values if factory not purchased
80 60 40 20 0

Premium recouped & profit Premium partially recouped

Premium given up

Yen (m) 90

92

94

96

98 -20 100 102 104 106 108 110
-40

Spot rate

4 Konsep dasar dari Market risk dan Treasury risk
4.4 Kebutuhan Pricing dan markto-market

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.1 Pricing
Fungsi kontrol yang penting bagi bank untuk mengelola operasional trading adalah memastikan bahwa terhadap posisi terbuka trading setiap hari dilakukan penilaian kembali sesuai dengan harga pasar yang berlaku. Proses revaluasi posisi dengan menggunakan harga pasar disebut dengan istilah marking-to-market. Untuk memahami proses mark to market, kita harus memahami terlebih dahulu bagaimana caranya menentukan nilai pasar dari instrumen. Menentukan nilai dari instrumen keuangan bervariasi mulai dari penentuan harga sederhana sampai menggunakan model keuangan yang kompleks dengan sejumlah input pada model. Untuk keperluan ujian sertifikasi, perlu dipahami prinsip umum untuk menentukan harga dari instrumen trading utama tanpa perlu mendiskusikan detail matematis dari berbagai model.

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.2 Yield curves
Semua instrumen finansial dengan arus kas dimasa depan dinilai dengan cara menghitung present value dari future cash flows dari instrument tersebut. Present value dari setiap future cash flow dihitung dengan metode discounting future value dengan menggunakan bunga berlaku (current interest rates). Jadi untuk itu diperlukan bunga pasar (market interest rate) untuk setiap jangka waktu dimana terdapat cash flow. Untuk menentukan market rate, bank membangun yield curve dengan menggunakan model yield curve. Uraian berikut disederhanakan untuk menggambarkan bagaimana caranya membangun yield curve. Yield curves yang digunakan traders lebih kompleks dan dibuat dari sejumlah besar instrumen untuk memastkan bahwa yield curve tersebut konsisten.

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.2 Yield curves
Inputs dari model yang disederhanakan adalah market interest rates untuk periode diskrit. Periode yang digunakan adalah 1, 2, 3, 6 dan 12 bulan dan 2, 3, 5 dan 10 tahun. Grafik dibawah adalah bentuk yield curve.
Yield Curve
8 7.5 7 6.5 6 5.5 5 4.5 4 1m 2m 3m 6m 12m Maturity 2y 3y 5y 10y

Rates

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.2 Yield curves

Nilai dari produk terkait dengan bunga (interest raterelated products), juga produk dengan cash flow dimasa depan, akan sensitif terhadap perubahan satu atau lebih titik pada yield curve. Tingkat sensitivitas tergantung dari Jatuh tempo produk dan karakteristik finansial dari instrumen dimaksud. Dalam praktek, masing-masing valuta utama mempunyai sejumlah yield curve yang digunakan pada saat bersamaan. Perbedaan diantar yield curve terutama akibat perbedaan pada aset dasar (underlying instruments) yang digunakan untuk menciptakan titik diskrit pada curve..

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.2 Yield curves
Jenis utama dari yield curves terkait dengan bunga adalah: • cash – digunakan untuk melakukan revalue posisi pinjaman dan penempatan. Titik pada kurva ditentukan atas dasar jatuh waktu standar sesuai praktek trading pada pasar interbank. • derivative – Kurva digunakan untuk melakukan revalue setiap jenis produk derivatives termasuk options. Titik pada kurva ditentukan atas dasar gabungan dari berbagai instrumen mulai dari cash rates untuk short maturities, diikuti kontrak futures. Akhirnya, long-term rates ditentukan dengan menggunakan swap rates untuk periode trade yang standar. Gabungan berbagai instrumen erat kaitannya dengan underlying hedge instruments yang digunakan oleh bank untuk melakukan hedge risiko derivative.

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.2 Yield curves
Jenis utama dari yield curves terkait suku bunga adalah: • bond – nilai pasar bonds ditentukan dari harga penutupan setiap hari. Namun beberapa jenis bond tidak aktif diperdagangkan setiap hari. Dalam hal ini bank dapat menggunakan bond curve untuk menentukan closing price teoritis yang diturunkan dari harga bond yang aktif diperdagangkan. Kurva tersebut biasanya ditentukan atas dasar standard maturities yang diperdagangkan pada government bond market. Apabila harga bond tidak dapat diperoleh di pasar, maka nilai bond dapat ditentukan atas dasar suatu spread diatas government benchmark bond terkait. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan dalam hal likuiditas dari bond dan risiko kredit dari issuer.

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.2 Yield curves Jenis utama dari yield curves terkait suku bunga adalah:
• basis – tidak semua posisi terkait bunga aktif diperdagangkan pada pasar inter-bank dan kalau ada hanya terdapat untuk keperluan data historis atau untuk melayani kebutuhan nasabah. Sebagai contoh, rate yang ditentukan oleh bank sentral untuk digunakan sebagai diskonto T-bill. Basis curves dibentuk untuk dipakai menilai harga dari instrumen pada non-inter-bank based rate seperti ini. Kurva biasanya dinyatakan sebagai suatu spread diatas suatu kurva standar, sehingga setiap titik pada kurva terdapat beda bunga dengan titik yang sama pada kurva standar.

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.3 Bonds, equities, commodities dan foreign exchange
Bond, equity, spot foreign exchange dan transaksi spot commodity dinilai atas dasar selisih antara original traded price dan current market price. Forward foreign exchange rates ditentukan dengan menyesuaikan current spot rate dengan suatu forward margin tertentu, yang dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Forward margin = Spot x Interest differential x Time / (Days in year x100) • interest differential adalah beda absolut dari base currency dan foreign currency • time adalah jangka waktu kontrak forward dalam hari. • “days in year” pada umumnya ditentukan = 360 tapi untuk beberapa jenis valuta digunakan 365.

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.3 Bonds, equities, commodities dan foreign exchange – contoh
JPY/USD adalah jumlah of yen per satu US dollar. Artinya yen adalah foreign currency dan US dollars adalah base currency. Spot rate = 105.00 JPY one-month rate = 1% Time to maturity = 30 days Forward margin = 0.2625 USD one-month rate = 4% Number of days in the year = 360 (105.00 x (4 – 1)% x 30 / 360)

Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat pada aliran suku bunga sbb: At spot Interest due At maturity USD 1,000,000 USD 3,333.33 USD 1,003,333.33 JPY 105,000,000 = 105 JPY 87,500 JPY 105,087,500 = 104.74

Forward margin = - 0.26

(104.74 – 105)

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.4 Options
Secara sederhana, option pricing didasarkan pada peluang bahwa option akan mempunyai nilai tertentu pada saat jatuh tempo. Unsur utama dari nilai option adalah: • Tingkat strike price relatif terhadap harga pasar berlaku. Kalau strike price = current market price, option mempunyai peluang 50% mempunyai nilai pada saat jatuh tempo. Jadi ada peluang yang sama bahwa harga pasar naik atau turun. • Jangka waktu berlakunya option. Semakin panjang jangka waktu, premi option semakin mahal karena option mempunyai waktu lebih panjang untuk menjadi bernilai. •Volatilitas dari harga pasar. Semakin harga volatile, semakin tinggi harga option

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.4 Options
Diagram dibawah menunjukkan rentang nilai tukar JPY/USD yang mungkin terjadi, dan kontrak option untuk membeli USD pada strike price = 105.00 terhadap Japanese yen. Nilai tukar spot adalah 100.00. Berbagai jangka waktu option sampai dengan 12 bulan dan tiga macam volatilitas untuk digunakan sebagai perbandingan.
Call option strike 105
115 110 Exchange rate 105 100 95 90 85 0 2 4 6 Months 8 10 12

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.4 Options
Pembeli option harus memilih Strike price dan jangka waktu option. Volatility adalah ukuran statistik yang diperoleh dari data historis perubahan harga. Tetapi data historis tidak selalu merupakan alat prediksi yang baik untuk masa depan, maka pasar sering menggunakan tingkat volatilitas yang diharapkan (expected volatility rates). Volatilities bervariasi sesuai dengan jangka waktu option dan dinyatakan dalam suatu kurva dengan menggunakan periode sebagaimana halnya pada yield curve.

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.4 Options

USD/Yen foreign exchange option volatilities
10.50 Annual volatility 10.00 9.50 9.00 1 Week 1 Month 3 Month 6 Month 1 Year 2 Years Option maturity

Volatilitas pasar dimasukan sebagai input pada option pricing formula bersama dengan current market prices untuk underlying instrument untuk menghitung nilai pasar dari option.

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.5 Proses Mark-to-market
Pada transaksi trading dengan volume besar, posisi dapat berubah setiap menit sejalan dengan upaya trader mengelola risiko atas posisi mereka. Maka penting bagi senior management dari bank mempunyai prosedur mark-to-market yang baik untuk memonitor kinerja dari trader. Prosedur mark-to-market biasanya merupakan proses harian, dimana suatu unit kerja yang independen dari trader mengupayakan dan verifikasi harga pasar untuk semua instrumen yang terdapat pada trading book. Untuk setiap pasar dimana transaksi dilakukan dengan counterparties secara langsung, harga penutupan (closing prices) dapat diperoleh dari brokers yang aktif pada pasar bersangkutan. Brokers adalah independen dari banks dan dapat digunakan sebagai informasi harga dari instrumen ybs.

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.5 Proses Mark-to-market
Beberapa harga pasar dapat diperoleh dari harga resmi setiap hari. Sebagai contoh, bunga LIBOR ditetapkan setiap hari oleh the British Bankers’ Association di London. Rate ini digunakan sebagai patokan melakukan settlement untuk berbagai kontrak derivatif atau untuk keperluan analisis data historis. Upaya ‘fixings’ rate seperti itu terdapat diberbagai belahan dunia untuk berbagai jenis rate. Disamping harga penetapan oleh brokers dan badan resmi lainnya, closing rates dapat diperoleh dari bursa untuk beberapa instrumen Kontrak Futures dan options on futures diperdagangkan pada bursa berjangka (futures exchanges) diberbagai tempat di dunia. Setiap bursa menetapkan closing price resmi setiap hari yang digunakan untuk menetapkan nilai pasar dari posisi. Kontrak berjangka diperdagangkan untuk interest rates, foreign exchange, bonds, commodities, energy dan stock market indices. Futures exchanges secara terus menerus mengembangkan berbagai kontrak baru untuk memenuhi permintaan pasar yang terus berubah

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.5 Mark-to-market process
Prosedur mark-to-market terdiri dari mengumpulkan dan verifikasi harga dan memasukan data tersebut sebagai input pada sistim perhitungan nilai dari bank. Sistim akan menghitung nilai dari setiap instrumen, yang selanjutnya akan dicatat sebagai posisi bank. Nilai pasar terkini atau current value disebut juga sebagai replacement value karena nilai ini adalah berapa bank harus membayar kalau ingin menggantikan dengan transaksi pada harga yang berlaku dipasar. Seringkali sistim juga menghitung faktor risiko yang terkandung dalam posisi instrumen yang dihitung nilainya, walaupun seringkali prosedur perhitungan ini dilakukan pada sistim yang terpisah.

4.4 Pricing and mark-to-market requirements

4.4.5 Mark-to-market process
Harga pasar dari transaksi digunakan untuk berbagai tujuan: • perhitungan rugi laba dengan membandingkan current values dengan original values • perhitungan counterparty credit risk dengan melakukan analisis current values dari semua transaksi dengan counterparty yang sama. • Perhitungan collateral untuk transaksi OTC dengan menggunakan current values dari instrumen yang digunakan sebagai agunan untuk memastikan agunan tsb. Mencukupi untuk mengcover eksposur terhadap suatu counterparty • margin calls yang dilakukan oleh bursa berjangka (futures exchanges) didasarkan pada current market value. Margin adalah serupa dengan agunan pada transaksi OTC. • untuk instrumen dengan settlement secara cash, harga pasar digunakan untuk menetapkan settlement transaksi dengan counterparty.

4 Konsep dasar dari Market risk dan Treasury risk
4.5 Konsep dasar treasury risk

4.5 The nature of treasury risk

4.5

The nature of treasury risk

Treasury risk adalah risiko kerugian pada aktivitas Treasury dari bank, jadi tergantung dari fungsi risk management dari Treasury unit sendiri. Peran Treasury berbeda untuk berbagai bank. Namun biasanya termasuk fungsi manajemen risiko misalnya interest rate risk pada banking book dan risiko likuiditas

4.5 The nature of treasury risk

4.5

The nature of treasury risk

Walaupun dalam praktek fungsi dari treasury bank termasuk aktivitas trading, hal ini tidak termasuk dalam risiko treasury sesuai definisi, yang mencerminkan struktur treasury bank dengan berbagai jenis aktivitas. Bank semacam itu seringkali memisahkan aktivitas trading dengan aktivitas manajemen capital dan liquidity, yang cenderung dilaksanakan oleh unit Treasury. Model treasury seperti ini secara umum disebut dengan ‘Corporate Treasury’. Peran Treasury sebenarnya, walaupun tidak memasukan aktivitas trading, tergantung dari business model yang digunakan. Sebagai contoh, sebagai tambahan dari fungsi treasury diatas, Treasury dapat mengelola risiko lainnya seperti risiko dari cabang luar negeri, baik dari sisi rugi laba maupun dari perspektif manajemen capital.

4.5 The nature of treasury risk

4.5

The nature of treasury risk

Dengan demikian Treasury sebenarnya dapat mengelola berbagai risiko pada unit treasury risk management, tetapi program sertifikasi hanya akan mengcover: • interest rate risk pada banking book • liquidity risk • capital management. Risiko tersebut diatas dan masalah terkait (seperti konsentrasi asset dan liability, kemampuan akses pada dana bank sentral, payment systems, kebutuhan agunan dsb.) dicover oleh fungsi asset and liability management (ALM).

4 Konsep dasar dari Market risk dan Treasury risk
4.6 Manajemen Aktiva Pasiva

4.6 Asset and liability management

4.6 Manajemen Aktiva Passiva (ALM)

Pada kebanyakan bank tujuan utama dari asset and liability management adalah mengelola risiko pada neraca bank dan memastikan bahwa interest rate risk yang melekat pada aktifitas bisnis bank tidak menurunkan stabilitas pendapatan bank.

4.6 Asset and liability management

4.6 Manajemen Aktiva Passiva (ALM)
Pendapatan bank terutama adalah the Net Interest Income (NII) dari bank. NII adalah pendapatan bunga dari kredit dan aset lainnya dikurangi biaya bunga simpanan pihak ketiga dan liabilities lainnya. Nilai tunai sekarang (net present value) dari arus NII selama periode tertentu merupakan komponen utama dari nilai pasar bank. Tujuan bank ditekankan pada dua hal yaitu – mengelola risiko atau stabilisasi nilai pasar dari bisnis – sering tergantung dari praktek management accounting yang digunakan, misalnya laporan terutama mencerminkan bagaimana manajemen mengelola bank, menekankan pada income atau value. Dengan demikian stabilisasi NII dapat dikatakan sebagai stabilisasi business value sepanjang waktu, suatu pernyataan yang umum dipakai di USA

4.6 Asset and liability management

4.6 Manajemen Aktiva Passiva (ALM)
Management accounting terdiri dari struktur pelaporan atas dasar informasi finansial yang mencerminkan bagaimana manajemen melihat bisnis. Sebaliknya, laporan posisi finansial, (misalnya. Laporan rugi laba dan neraca) harus mengikuti standar dan sesuai dengan ketentuan akuntansi yang berlaku. Praktek Management accounting seringkali dipengaruhi oleh standar akuntansi finansial yang digunakan setempat dimana bank berdomisili. Aktifitas dalam ALM (treasury risk management) mengcover 2 jenis risiko– interest rate risk pada banking book dan liquidity risk.

4.6 Asset and liability management

4.6.1 Risiko suku bunga pada banking book

Risiko pasar Banking book adalah risiko kerugian akibat bank memiliki posisi yang terpengaruh pergerakan suku bunga karena struktur bisnis bank, seperti aktifitas memberikan kredit dan menghimpun dana pihak ketiga Interest rate risk pada banking book adalah risiko kerugian akibat perubahan suku bunga Interest rate risk pada banking book terutama akibat jenis aktifitas bank dengan nasabah komersial dan retail.

4.6 Asset and liability management

4.6.1 Risiko suku bunga pada banking book – contoh

Mortgage customers
Paying 5 year fixed interest rate

Bank H
Paying floating 1 month rate

Depositors

Bank H menjalankan bisnis dengan risiko suku bunga yang cukup besar Apabila risiko suku bunga ini tidak dikelola dan suku bunga naik pada berbagai jangka waktu, bank harus membayar biaya dana lebih besar terutama pada jangka waktu 30 hari, tapi bank tidak dapat meningkatkan pendapat dari kredit dengan menaikan bunga sampai 5 tahun mendatang

4.6 Asset and liability management

4.6.1 Risiko suku bunga pada banking book - contoh
American savings and loan associations The American savings and loan associations (S&Ls) merupakan bank yang memberikan KPR, dengan wewenang pada beberapa negara bagian untuk melakukan direct investments untuk menguasai bisnis lain dan menjadi pengembang properti Sampai tahun 1980s bank dimiliki bersama oleh para anggota, tapi akibat adanya bencana risiko pasar pada banking book (diuraikan dibawah ini) mereka kehilangan industry milik mereka yang akhirnya merugikan federal government dan stockholders. Biaya menyelamatkan bank mencapai USD 500bn atau sekitar USD 2,000 untuk setiap warga USA. Fraud bisa terjadi dimana saja, tapi akar permasalahan dapat dijelaskan bersumber dua hal.

4.6 Asset and liability management

4.6.1 Risiko suku bunga pada banking book - contoh
American savings and loan associations Pertama, dana disalurkan pada properties dengan harga yang di markup. Ketika macet, agunan dari banyak KPR tidak ada nilainya Kedua, walaupun interest rates dari banyak jenis KPR adalah fixed, klausula kredit kurang memperhatikan penalty untuk pembayaran lebih awal (early pre-payment) sehingga terlalu mudah bagi nasabah untuk melakukan refinance dari KPR mereka pada bunga yang lebih rendah ketika interest rates mulai turun. Tetapi banyak S&Ls masih terperangkap pada biaya pinjaman jangka panjang dengan bunga tinggi dan tidak dapat melunasi kewajiban dari wholesale markets.

4.6 Asset and liability management

4.6.1 Risiko suku bunga pada banking book - contoh
American savings and loan associations Posisi mismatch dari memberikan pinjaman dengan bunga rendah dan harus membayar biaya dana yang tinggi menyebabkan banyak S&Ls bangkrut dengan kerugian mencapai milyaran dollars. Beberapa contoh terburuk adalah sbb: • Bulan Juni 1988 American Diversified, S&L di California , akhirnya dinyatakan insolvent dengan kerugian USD 800 juta. Total assets tumbuh dari USD 11.7 juta bulan June 1983 menjadi USD 1.1 milyar pada December 1985 ketika kondisi menjadi memburuk. • Bulan September 1988 Silverado Savings and Loan Association di Denver, Colorado bangkrut dengan kerugian sebesar USD 1 milyar. Neraca bank menggelembung dari USD 250 juta tahun 1982 menjadi USD 2.7 milyar pada saat bank collapse.

4.6 Asset and liability management

4.6.1 Risiko suku bunga pada banking book - contoh
American savings and loan associations • Bulan April 1989 Savings and Loan Association lainnya dari California kolaps dengan kerugian USD 2.5 milyar, yang harus ditanggung oleh para pembayar pajak. Kerugian 8 bulan pertama tahun 1988 adalah USD 14 juta dan kerugian selanjutnya USD11 juta pada bulan January 1989 sebagai akibat spekulasi pada pasar valas. Dana deposito Lincoln naik dari USD 1 milyar tahun 1983 menjadi USD 6 milyar bulan April 1989 ketika bank akhirnya diambil alih oleh the Federal Savings and Loan Insurance Corporation. • Bulan February 1990 Western Savings and Loan Association di Dallas, Texas akhirnya kolaps dengan assets sebesar USD 2 milyar dan kerugian USD 1 milyar. Bank dinyatakan insolvent tahun 1984 dengan kerugian USD 100 juta dan terjadi lagi tahun 1985 dengan kerugian USD 200 juta.

4.6 Asset and liability management

4.6.1 Risiko suku bunga pada banking book

Interest rate risk pada banking book tidak secara detail dicover pada Basel II Accord. Pada bulan July 2004, sebulan setelah Basel Committee menerbitkan buku “International Convergence of Capital Measurement and Capital Standards: a Revised Framework”, Basel menerbitkan "Principles for the Management and Supervision of Interest Rate Risk”. Paper ini terutama fokus pada pengelolaan risiko suku bunga (interest rate risk) termasuk posisi pada banking book.

4.6 Asset and liability management

4.6.1 Aktivitas manajemen Aktiva Passiva (ALM)
Manajemen Aktiva Passiva tidak hanya mengurusi pengelolaan risiko dan stabilisasi nilai bisnis. ALM juga memperhatikan: • Pemeliharaan struktur likuiditas dari bisnis • Masalah lain yang kemungkinan dapat mempengaruhi struktur neraca bank. • masalah yang dapat memberikan dampak pada stabilitas pendapatan pada periode mendatang

4.6 Asset and liability management

4.6.1 Aktivitas manajemen Aktiva Passiva (ALM)
Terdapat sejumlah masalah yang mendorong adanya kebutuhan untuk menyeimbangkan struktur neraca bank. Sejumlah masalah bersumber dari international banks yang mempunyai struktur modal dengan dominasi valuta domestik, tapi pendapatan dan aset terdiri dari valuta lainnya. Kondisi ini menimbulkan risiko nilai tukar pada pendapatan bank. Sebagai contoh: • Present dan future profits dari aktifitas internasional menjadi volatile ketika dihitung dalam mata uang domestik. Karena perubahan nilai tukar. • Modal dalam Valuta domestic yang dialokasikan pada aktifitas internasional untuk mendukung struktur aset dalam valuta asing, yang selanjutnya menyebabkan rasio capital to assets menjadi volatile ketika nilai tukar berubah.

4.6 Asset and liability management

4.6.1 Aktivitas manajemen Aktiva Passiva (ALM)
Pengelola aktiva passiva harus memahami: • Neraca bank komersial tidak terdiri dari kumpulan aktiva dan passiva yang stabil (kredit baru dan deposits terus dikembangkan disamping yang jatuh tempo) • repricing dari aktiva dan passiva pada neraca bank komersial tidak dapat dihitung secara kontraktual, (ada perbedaan timing yang cukup besar antara perubahan rate pasar dan perubahan bunga kredit serta bunga dana).

4.6 Asset and liability management

4.6.1 Aktivitas manajemen Aktiva Passiva (ALM)
Pengelola asset and liability harus memahami : • Seringkali tidak terdapat korelasi antara produk retail dan wholesale rates untuk menetapkan pricing dari assets dan liabilities (sejumlah masalah pemasaran mempengaruhi keputusan repricing dari produk retail yang tidak mempengaruhi harga produk wholesale) • Produk retail sering termasuk unsur opsi yang melekat (embedded options) yang seringkali dilakukan exercise secara tidak rasional. (nasabah retail seringkali mempunyai hak untuk melakukan terminasi kontrak kapan saja mereka menghendaki yang berbeda dengan kebiasaan pada pasar wholesale).

4.6 Asset and liability management

4.6.1 Aktivitas manajemen Aktiva Passiva (ALM)
Terdapat beberapa alasan mengapa bank komersial dengan jumlah nasabah retail yang besar mempunyai struktur neraca yang sulit untuk dikelola. Termasuk: • Bank komersial seringkali lebih mementingkan unsur relationship dan mengabaikan kewajiban kontrak, antara lain terlalu fokus pada nasabah • Dalam upaya menarik dan mempertahankan nasabah seringkali berupa menawarkan produk retail dengan fitur yang berbeda dengan produk pada pasar wholesale. Dengan demikian, sulit untuk menjual produk tersebut pada pasar wholesale, atau sulit untuk mengelola risiko dengan menggunakan produk wholesale. • pricing pada produk retail seringkali menitikberatkan pada pertimbangan marketing daripada market price

4.6 Asset and liability management

4.6.1 Aktivitas manajemen Aktiva Passiva (ALM)
Perilaku nasabah retail berkaitan dengan produk retail bank yang dibeli nasabah sering menguraikan kewajiban nasabah yang tidak jelas. Sebagai contoh, Secara kontrak memungkinkan bagi nasabah untuk menarik dana mereka dari savings account dengan memberitahukan 30 hari sebelumnya, tapi nasabah mempunyai hak untuk menempatkan dana pada account secara tidak menentu. Saldo dari accounts semacam ini akan sama seperti deposito dengan jangka waktu 3 tahun atau serupa dengan perpetual account. Seringkali keterkaitan antara nasabah dan fitur produk bank yang menyebabkan perlunya prosedur monitoring dan pengelolaan stabilitas dari NII (atau present value dari business) dan likuiditas dari saldo nasabah.

5. Konsep dasar Risiko kredit

5.1 Konsep dasar risiko kredit

5.1 The nature of credit risk

5.1

Konsep dasar risiko kredit
Credit risk adalah risiko kerugian karena potensi counterparty gagal memenuhi kewajibannya ketika jatuh tempo. Dengan kata lain, risiko bahwa peminjam tidak membayar kewajibannya.

Investor dan perusahaan tidak asing dengan credit risk. Investor perorangan menghadapi risiko kalau melakukan investasi selain dalam bentuk tunai (misal deposito, bond, saham). Perusahaan menghadapi credit risk dari piutang dari pelanggan. Bank menghadapi credit risk karena sifat dasar bisnis bank memberikan kredit. Bank memiliki gearing tinggi dan kenaikan default rate bisa mengurangi capital secara cepat.

5.1 The nature of credit risk

5.1

Konsep dasar risiko kredit - contoh

Peregrine Investment Holdings Pada bulan January 1998 Peregrine Investment Holdings, salah satu investment house independen terbesar di Asia, dilikuidasi dengan outstanding debt sebesar USD 400m. Kejadian ini sebagian karena krisis keuangan di Asia, namun sebab utama adalah karena Peregrine meminjamkan USD 200 juta – 20% dari capital base – pada Steady Safe, operator taxi dan bis di Indonesia yang menjadi insolvent.

5.1 The nature of credit risk

5.1

Konsep dasar risiko kredit

Investor yang mencari return lebih tinggi memainkan peran penting dalam evolusi teknik pembahasan kredit. Perkembangan investor institusi seperti asuransi dan dana pensiun menumbuhkan industri manajemen investasi profesional. Pada gilirannya hal ini meningkatkan investasi dalam bentuk saham dan obligasi yang diterbitkan perusahaan korporasi swasta. Pertumbuhan sangat cepat di AS dimana investor institusi diperbolehkan melakukan investasi dalam ‘securitized’ bond dengan aset dasar tagihan pada kredit perumahan (mortgage), kredit kendaraan bermotor, dan credit card. Akibatnya manajer investasi profesional harus meningkatkan bukan saja pemahaman mengenai credit risk, melainkan juga cara untuk mengukur risiko tersebut.

5.1 The nature of credit risk

5.1.1 Risiko kredit pemerintah (Sovereign)
Sampai saat ini pasar obligasi internasional didominasi oleh obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat berbagai negara. Sovereign risk adalah risiko kerugian karena potensi suatu negara gagal membayar kewajiban bunga atau pokok dari pinjaman nya. Meskipun kejadian dimana negara penghutang meyatakan tidak mau membayar termasuk jarang terjadi (Rusia 1917 dan 1998 dan default Afrika dan Amerika Selatan pada akhir 1960an dan 1970an), rescheduling dari hutang sudah umum dilakukan. IMF berperan membantu negara yang bermasalah dalam pembayaran hutang. Ketika dihadapkan pada pilihan apakah menanggung bahaya inflasi atau menyatakan default pada hutang dalam mata uang domestik, pemerintah Rusia pada 1998 memilih menyatakan default pada hutang dalam valuta domestik dan valuta asing.

5.1 The nature of credit risk

5.1.1 Risiko kredit pemerintah (Sovereign) - Contoh
Russian government bonds Pada tahun 1998 investor asing yang membeli obligasi domestik pemerintah Rusia menderita kerugian sekitar USD 33 milyar karena pemerintah menyatakan default. Semua institusi keuangan besar yang menderita kerugian kelihatannya mengabaikan fakta bahwa semakin tinggi return, semakin tinggi risiko. Sekuritas domestik pemerintah Rusia memberikan imbal hasil (yield) yang tinggi. Bank melakukan lindung nilai (hedge) baik secara sebagian dari eksposur valuta uang asing, atau untuk seluruh eksposur melalui kontrak forward, diantaranya banyak dilakukan dengan bank Rusia sebagai counterparty, yang meningkatkan eksposur pada negara Rusia. Institusi tersebut tidak menyadari bahwa pemerintah Rusia sudah default pada hutang sebelumnya.

5.1 The nature of credit risk

5.1.1 Risiko kredit Sovereign – hutang domestik dan hutang valuta asing
Pembedaan sovereign debt bond dilakukan antara : • hutang suatu negara dalam mata uang domestik, dimana default jarang terjadi karena pemerintah berwenang mencetak uang baru. • hutang dalam valuta asing dimana pemerintah harus mengupayakan valuta asing. Perlu dicatat bahwa pada umumnya negara-negara besar dunia meminjam hanya dalam mata uang domestik, walaupun obligasi negara beredar secara internasional. Status USD sebagai mata uang reserve mendorong banyak negara dengan surplus valuta asing memegang sejumlah besar sovereign debt AS sebagai cadangan devisa.

5.1 The nature of credit risk

5.1.1 Risiko kredit Sovereign – Analisa rasio keuangan

Sebagaimana halnya dengan corporate debt, sovereign risk dinilai berdasar kemampuan suatu negara membayar hutangnya. Debt service ratio adalah kewajiban bunga dan pokok pinjaman valuta asing dibagi income dari export dan capital inflow. Ratio ini penting bagi model sovereign risk. Selain itu, terdapat sejumlah rasio lainnya yang digunakan untuk membantu menilai kemampuan membayar hutang suatu negara.

5.1 The nature of credit risk

5.1.1 Risiko kredit Sovereign – Investasi masuk (inward investment)
Inward investment digabungkan dengan kebijakan ekonomi domestik bisa menciptakan ‘bubbles’ (valuasi terlalu tinggi untuk aset tertentu yang tidak bisa bertahan dalam jangka panjang). Contoh bubble adalah kenaikan aset properti komersial di Tokyo pada awal 1990an, dan saham teknologi di AS dan Eropa dari akhir 1990-an sampai 2002. Bubble juga berperan dalam krisis hutang Asia pada pertengahan 1990an. Baik harga properti komersial maupun saham di banyak negara Asia Tenggara mencapai level yang tidak bisa bertahan dalam jangka panjang.

5.1 The nature of credit risk

5.1.1

Risiko kredit Sovereign – faktor lainnya

Kualitas data pemerintah yang buruk seringkali membuat proses penilaian sovereign risk sulit. Karena tidak semua pinjaman dilakukan pemerintah, pinjaman swasta dalam bentuk valuta asing bisa mempengaruhi total hutang yang menjadi kewajiban suatu negara. Data pada pinjaman swasta seringkali buruk.

5.1 The nature of credit risk

5.1.1

Risiko kredit Sovereign – Faktor kualitatif

Ada sejumlah faktor kualitatif yang harus dipertimbangkan saat menilai sovereign risk : • efisiensi sistem perbankan dalam mengalokasikan modal pada usaha-usaha produktif • efisiensi sistem perpajakan dalam meningkatkan pendapatan bagi pemerintah • kemampuan bank sentral mempengaruhi kurs mata uang • peran suku bunga domestik yang tinggi yang mendorong pinjaman dalam valuta asing, dan mendorong tekanan inflasi. • transparansi ekonomi dan pemisahan yang jelas antara tugas pemerintah, bank sentral, supervisor, sistem hukum dan bisnis.

5.1 The nature of credit risk

5.1.1 Risiko kredit Sovereign – Risiko sovereign dan risiko negara (country risk)
Seringkali sovereign risk dianggap sama dengan country risk, namun lebih baik menempatkan sovereign risk sebagai bagian dari country risk Country risk mencakup hukum, politik, lingkungan ekonomi domestik dan bagaimana semuanya ini mempengaruhi sektor swasta dalam ekonomi. Analisis Country risk penting dilakukan untuk menilai inward investment yang melibatkan pemberian kredit lintas negara (cross-border lending) pada perusahaan, perorangan maupun proyek.

5.1 The nature of credit risk

5.1.1 Risiko kredit Sovereign – Risiko sovereign dan risiko negara (country risk)
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan ketika menilai country risk: • sistem legal, terutama hukum yang mengatur kepemilikan properti dan kebangkrutan • stabilitas sistem politik ; meski bukan berarti ditujukan bagi stabilitas suatu pemerintah tertentu • aturan tentang mata uang asing, terutama jika berlaku ketentuan sistim kontrol mata uang asing.

5.1 The nature of credit risk

5.1.1 Risiko kredit Sovereign – Basel II dan risiko sovereign
Faktor di atas menunjukkan pentingnya penilaian sovereign risk dilakukan secara cermat. Dalam Basel I Accord, sovereign risk diukur dengan menetapkan bobot risiko secara sederhana, yaitu berdasarkan kategori peminjam (misalnya pemerintah) dan jenis instrumen (misal, jaminan, kredit, dsb). Dalam Basel II, Standardised Approach menggunakan credit rating untuk menilai dan menetapkan sovereign risk. Perubahan ini memberikan dampak pada kebutuhan modal untuk mengcover sovereign risk. Banyak pemerintah saat ini sudah mempunyai rating sebagaimana hal nya sebagian besar penerbit surat hutang yang mempunyai hutang bersifat publik..

5.1 The nature of credit risk

5.1.2 Risiko kredit korporasi
Kredit korporasi (Corporate credit), memiliki risiko lebih tinggi dari pada sovereign debt, yang seharusnya ‘risk free’. Corporate credit risk berhubungan default risk dari hutang yang diterbitkan perusahaan. Bentuk yang paling umum dari hutang ini adalah saham biasa, yang memiliki risiko kerugian terbesar. Pemegang saham adalah stakeholder yang terakhir dibayar jika perusahaan dilikuidasi. Dalam jurisdiksi yang ada, obligasi korporat dan kredit bank dibayar terlebih dahulu sebelum pemegang saham, itupun setelah penyelesaian kewajiban pada preferred creditor seperti pegawai (upah tertunggak) dan pemerintah (pajak tertunggak).

5.1 The nature of credit risk

5.1.2 Risiko kredit korporasi
Mayoritas bank meng-klaim bahwa mereka lebih memahami risiko kredit korporat dari pada risiko lainnya. Risiko kredit merupakan risiko terpenting bagi bank. Peran bank menyalurkan dana pihak ketiga pada perusahaan yang memerlukan untuk melakukan aktivitas produksi (proses yang disebut dengan financial intermediation) penting bagi pertumbuhan ekonomi. Teknik pembahasan kredit yang banyak digunakan bank dalam proses pemberian kredit berasal dari metode evaluasi investasi. Analisa rasio laporan keuangan untuk keputusan proses keputusan kredit digunakan secara luas dikalangan perbankan.

5.1 The nature of credit risk

5.1.2 Risiko kredit korporasi

Basel II memberikan insentif bagi bank untuk meningkatkan kualitas keputusan kredit melalui penggunaan teknik metode statistik untuk melakukan kalibrasi dan ‘back testing’ terhadap model credit grading. Basel II juga mendorong bank untuk memperkaya informasi melalui penggunaan option-based model apabila data yang dibutuhkan tersedia.

5.1 The nature of credit risk

5.1.2 Risiko kredit korporasi

Option model bisa menggantikan model yang lebih konvensional bila corporate credit yang relevan diperdagangkan secara luas melalui instrumen seperti bond, commercial paper dan common stock, dan apabila informasi terkini dari struktur hutang dan kinerja trading dari perusahaan tersedia. Namun, model-model tersebut akan menghasilkan credit grade yang volatile. Kebanyakan bank komersial menggunakan metode tersebut sebagai tambahan analisis disamping model atas dasar rasio keuangan.

5.1 The nature of credit risk

5.1.3 Risiko kredit konsumer (Retail customer credit risk)
Mayoritas bank komersial menempatkan kualitas kredit perorangan sama pentingnya dengan risiko kredit korporat. Teknik untuk penilaian kredit perorangan di banyak negara telah berubah secara signifikan karena bank telah mengubah proses kredit dari tadinya berdasarkan wewenang pada cabang menjadi sistim perkreditan secara sentralisasi. Pada sistim perkreditan melalui cabang, tanggung jawab pemberian kredit diberikan pada kepala cabang atas dasar asumsi bahwa kepala cabang lebih memahami kondisi nasabah. Sistim sentralisasi menggunakan standardisasi informasi nasabah dengan menggunakan model credit scoring. Pengembangan produk telah mengubah pasar untuk personal finance, yang sekarang terbagi menjadi credit dengan agunan real estate (rumah) dan unsecured consumer finance (berdasarkan sistim credit card).

5.1 The nature of credit risk

5.1.3 Risiko kredit konsumer (Retail customer credit risk)
Kredit perumahan (Housing finance) secara tradisional sama dengan mortgage finance. Jual beli mortgage oleh investor profesional, termasuk dana pensiun dan perusahaan manajemen investasi melalui penerbitan securitized bond telah mendorong pengembangan model yang canggih untuk melakukan valuasi berbagai macam mortgage securitization bond. Perhitungan tersebut termasuk menetapkan kualitas kredit (credit standing) dari bond tersebut.

5.1 The nature of credit risk

5.1.3 Risiko kredit konsumer (Retail customer credit risk)
Di luar AS, telah berkembang berbagai bentuk pinjaman yang bisa dijamin oleh properti secara terus menerus. Jenis pinjaman termasuk mortgage, car loan, home improvement loan, dan kredit konsumer, serta pinjaman kartu kredit. Meski jenis kredit tersebut sering tidak dapat digolongkan sebagai mortgage di beberapa negara, perkembangan jenis kredit tersebut merupakan inovasi dalam personal finance. Produk tersebut tidak saja berpotensi mengurangi biaya pinjaman bagi nasabah, juga mengurangi risiko bagi bank. Basel II memperhitungkan agunan sebagai pengurang risiko, jadi Basel II ikut mendorong berkembangnya inovasi tersebut.

5.1 The nature of credit risk

5.1.3 Risiko kredit konsumer (Retail customer credit risk)
Kredit tanpa agunan atau “Unsecured consumer finance” dipengaruhi oleh perkembangan model yang mengukur kualitas kredit perorangan, yang disebut dengan model credit scoring. Model-model tersebut dipengaruhi oleh industri kartu kredit. Dalam industri dengan persaingan sengit, fitur-fitur dari model-model tersebut dijaga ketat dan merupakan rahasia bank. Namun, dasar fitur dari model-model tersebut termasuk penilaian arus kas, riwayat pekerjaan, dan agunan aset (asset cover). Pembahasan lebih detil akan dilakukan kemudian bersama dengan pembahasan mengenai pentingnya perusahaan pemeringkat dan credit history.

5.1 The nature of credit risk

5.1.4 Probability of default
Model-model yang sudah dibahas pada bagian sebelumnya digunakan bank untuk mendukung proses keputusan kredit. Keputusan kredit berciri “bimodal” (setuju atau menolak). Sayangnya metode tersebut terlalu menyederhanakan masalah, karena dalam praktek, bank ingin lebih memahami mengenai risiko, imbal hasil (misal margin dan fee dari loan), dan modal yang dibutuhkan untuk mengcover risiko kredit tersebut. Keputusan pemberian kredit atau investasi dibuat dengan mempertimbangkan keseimbangan antara risiko dan imbal hasil, karena dengan menetapkan harga tertentu, maka risiko tertentu layak untuk diambil. Semakin tinggi risiko, semakin tinggi imbal hasil yang diharapkan. Pendekatan bimodal sederhana tidak membantu bank mengambil keputusan komersial. Namun, grading model adalah salah satu cara untuk menerapkan kerangka risk/reward untuk mendukung keputusan kredit / investasi..

5.1 The nature of credit risk

5.1.4 Probability of default
Basel II, melalui penggunaan “public credit grade” dalam Standardized Approach atau grading model dalam Internal RatingBased approach, mendorong bank menggunakan model credit appraisal dalam membuat keputusan risiko – imbal hasil.. Seluruh model yang didiskusikan sejauh ini dapat digunakan sebagai dasar untuk dapat dinyatakan patuh (comply) dengan model credit grading Basel II.

5.1 The nature of credit risk

5.1.5 Systemic credit risk

Credit risk dan liquidity risk adalah risiko yang paling mendasar bagi bank. Pada Basel I, fokus hanya pada credit risk. Meskipun krisis likuiditas pada bank komersial relatif jarang terjadi saat ini, credit risk masih merupakan masalah, tidak hanya bagi bank namun juga bank sentral, supervisor, dan pemerintah. Boom kredit di Jepang pada 1990-an dan diikuti ‘bubble’ harga properti komersial, menyebabkan terjadinya kredit bermasalah melampaui 10% dari aset dari sejumlah besar bank domestik Jepang.

5.1 The nature of credit risk

5.1.5 Systemic credit risk
Di negara Cina supervisor mengkhawatirkan meningkatnya prosentase kredit bermasalah pada beberapa bank. Kredit bermasalah yang tinggi dapat mendorong terjadinya systemic risk, risiko yang paling ditakuti oleh bank sentral dan pemerintah. Setiap Bank yang memiliki tingkat kredit bermasalah yang tinggi pada portfolio pinjaman bank, akan menjadi masalah bagi supervisor dan bank sentral. Namun, jika seluruh bank mengalami hal yang sama pada saat bersamaan, ekonomi akan memburuk. Hal ini dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi karena sistem perbankan tidak memiliki cukup modal (bad debt harus dikurangkan dari modal bank). Akibatnya bank tidak akan mampu memberikan kredit yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

5.1 The nature of credit risk

5.1.6 Traded markets counterparty credit risk

Risiko pasar dihasilkan dari proses mark-to-market nilai pasar dari kontrak yang diperdagangkan seperti kontrak forex atau kontrak interest rate. Bank yang melakukan transaksi pasar bisa memperoleh laba atau merugi, tergantung nilai mark-to-market dari kontrak. Hal ini merupakan contoh klasik dari ‘zero sum game’, dimana hanya satu pihak dapat memperoleh laba dari satu kontrak.

5.1 The nature of credit risk

5.1.6 Traded markets counterparty credit risk

Traded markets counterparty credit risk timbul apabila ketika counterparty tidak langsung membayar jumlah yang terhutang dalam satu transaksi. Dalam sejumlah bisnis dilakukan sistim ‘cash on delivery’ untuk menghindari credit risk. Namun, pada sejumlah transaksi perbankan, jumlah yang jatuh tempo (misal kredit) hanya dibayar pada saat kontrak jatuh tempo. Pada berbagai produk pasar, jumlah terhutang pada counterparty dapat terus berubah selama umur kontrak. Bukan tidak mungkin aliran pembayaran berbalik karena pergerakan nilai pasar dari kontrak.

5.1 The nature of credit risk

5.1.6 Traded markets counterparty credit risk – contoh
Interest rate swap: Bank A membayar 4.75% fixed and menerima 3 month LIBOR dari Bank B pada GBP 5m, 3 year swap

4.75% fixed rate

Bank A
3 month LIBOR On 1st fixing date LIBOR set at 4.27%. On 5th fixing date LIBOR set at 5.19%. 4.75% fixed rate

Bank B

Bank A
4.27% 4.75% fixed rate

Bank B

Bank A
5.19%

Bank B

5.1 The nature of credit risk

5.1.6 Traded markets counterparty credit risk
Tingkat counterparty credit risk bisa dikurangi dengan : • membuat pembayaran regular diantara pihak dalam kontrak • pihak penghutang menjaminkan security untuk menjamin apa yang dihutangkan (collateral) • ‘netting’.

Netting adalah proses offsetting keuntungan atau kerugian di antara sejumlah kontrak yang sejenis atau di antara berbagai jenis kontrak.

5.1 The nature of credit risk

5.1.6 Traded markets counterparty credit risk
Pada market risk, marking-to-market adalah proses penggunaan harga pasar untuk menilai posisi trading. Nilai mark-to-market juga merupakan dasar perhitungan counterparty credit risk. Tingkat counterparty credit risk merupakan fungsi pergerakan pasar dan tidak langsung berhubungan dengan credit standing dari counterparty. Dalam aspek lainnya, counterparty dari perdagangan pasar dinilai sama dengan counterparty lainnya, dan akan dilakukan evaluasi dengan menggunakan teknik penilaian kredit yang sama.

5. Konsep dasar risiko kredit

5.2 Asal mula dan penggunaan analisa kredit

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.1 Analisa kelayakan kredit – sovereign risk
Analisa sovereign risk berkembang pesat sejak semakin berkembangnya pasar surat hutang internasional baru yang disebut dengan pasar surat hutang ‘emerging market’. Analisa kredit untuk sovereign risk saat ini merupakan bidang utama pekerjaan yang dilakukan perusahaan pemeringkat seperti Standard & Poors, Moody's Investors Services dan Fitch. Beberapa pemerintahan juga memiliki badan pemeringkat seperti hal nya Export Credit Agencies (ECA), yang memberikan jaminan atas untuk perusahaan eksportir. Terdapat seperangkat prinsip dasar yang disepakati oleh perusahaan pemeringkat untuk digunakan dalam proses analisa sovereign risk.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.1 Analisa kelayakan kredit – sovereign risk
Selain perusahaan pemeringkat, bank juga melakukan analisa sovereign risk secara terpisah. Analisa bank pada umumnya memperhatikan sejumlah faktor kuantitatif dan kualitatif. Biasanya analisa mencakup : • negara itu sendiri •lingkungan ekonomi (saving, investment, dan statistik pertumbuhan) •sumber daya alam dan bahan mentah •efisiensi pasar tenaga kerja dan kualitas ketrampilan dan pendidikan •efisiensi pasar modal dan perbankan • pemerintah •kebijakan ekonomi makro (nilai tukar dan kebijakan suku bunga) •perdagangan luar negeri dan neraca perdagangan •Inflasi historis dan perkiraan tingkat inflasi

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.1 Analisa kelayakan kredit – sovereign risk
•aliran investasi asing secara langsung •kebijakan belanja dan pembiayaan pemerintah • Situasi politik •stabilitas dan daya adaptasi dari proses politik •tingkat kesepakatan pada tujuan sosial dan ekonomi •Kondisi lingkungan legal (property rights, creditor’s rights) • sistem perbankan •kebijakan dan pengawasan sektor perbankan •independensi pengawas bank •peran bank sentral dan mekanisme support untuk sistem perbankan.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.1 Analisa kelayakan kredit – sovereign risk
Kerangka analisis sovereign risk dapat didasarkan baik dari perhitungan angka kuantitatif yang dapat diandalkan, maupun dengan membuat ranking atas analisa kualitatif seperti disebutkan dalam daftar di atas. Data kuantitatif yang dapat diandalkan dikeluarkan oleh BIS; namun, apabila tidak terdapat data mengenai suatu negara merupakan indikasi tingkat risiko dari negara tersebut. Grading model dapat dibuat atas dasar rata-rata (mean) data dari suatu cohort (grup) negara-negara sejenis, atau menggunakan cara ‘multivariate analysis’ yang menghasilkan satu ‘score’ tunggal dengan menggabungkan sejumlah ratio seperti diatas.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.1 Analisa kelayakan kredit – corporate risk

Dalam proses membahas fasilitas kredit pada nasabah korporat, bank perlu menentukan kemampuan perusahaan membayar kewajibannya. Pendekatan tradisional berpusat pada analisa laporan keuangan dari perusahaan debitur, proses ini biasa disebut dengan Analisa kredit. Teknik analisa kredit berasal dari teknik analisa saham yang dilakukan pada industri manajemen investasi.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.1 Analisa kelayakan kredit – corporate risk
Baik Investor maupun bank berupaya agar perusahaan mempunyai stabilitas dan kekuatan (soundness), yang diukur melalui: • kemampuannya membayar dividen secara regular dan berkesinambungan • rasio debt to equity yang tidak terlalu tinggi sehingga bila terjadi hal yang tak terduga (misal pelanggan utama gagal membayar), perusahaan dapat segera mengurangi dividen dan masih mampu membayar kewajiban pada kreditur (bank/supplier), sehingga perusahaan terhindar dari potensi likuidasi. • Kriteria lainnya seperti rasio current asset/current liabilities, yang menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan net cash flow.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.1 Analisa kelayakan kredit – corporate risk
Analisa Kredit korporasi Bank komersial masih melakukan analisa kredit korporat dengan alat utama berupa analisa rasio finansial dan model yang dibuat sesuai prinsip tersebut. Analisa tersebut meneliti komponen dari laporan keuangan debitur sebagai berikut : • neraca • laporan rugi laba (income statement) • laporan arus kas (cash flow statement) • laporan pajak (tax statement) Analisa biasanya melihat kinerja historis tiga tahun terakhir. Untuk meningkatkan prediksi analisis kredit, bank juga melakukan analisa untuk mengidentifikasi berbagai trend.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.1 Analisa kelayakan kredit – corporate risk
Rasio utama Rasio yang umum digunakan untuk analisa kredit korporasi mencakup :
operating performance debt service capability financial gearing (leverage) liquidity net income dibagi net worth (ekuitas) dan sales dibagi fixed assets cash flow dibagi kewajiban bunga long-term debt dibagi capital current assets dibagi current liabilities

Rasio bisa digunakan untuk mengembangkan grading model. Sebagai contoh, rasio dapat dibandingkan ke rata-rata industri, yang disebut univariate analysis, atau dibuat sistem scoring yang dibandingkan dengan industri yang disebut multivariate analysis.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.1 Analisa kelayakan kredit – corporate risk
Penilaian perusahaan Fokus dari analisa kredit korporasi mengalami perubahan sejak beberapa tahun belakangan karena adanya kekhawatiran berkembangnya upaya perusahaan memanipulasi laba. Proses valuasi saat ini lebih berdasarkan faktor aktual (tangible) seperti dividen ditambah aset bersih per saham, dari pada berdasarkan pada laba. Menilai kinerja keuangan perusahaan dengan analisa rasio keuangan masih penting karena ini membantu menghindari terjadinya ‘bubble’ valuation yang berpotensi menimbulkan kesalahan dalam keputusan kredit .

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.2 Analysis of creditworthiness – corporate risk
Penilaian perusahaan - contoh The South Sea Company Salah satu contoh terbaik dalam menilai perusahaan secara tepat adalah analisa oleh Archibald Hutcheson, anggota Parlemen Inggris, yg pada sekitar tahun 1720 berupaya mengingatkan investor bahaya berinvestasi di South Sea Company (dikenal South Sea Bubble). Hutcheson menghasilkan suatu seri teknik penilaian saham yang masih relevan saat ini.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.3 Teknik baru “options-based “
Beberapa tahun terakhir, mulai terasa adanya keterbatasan teknik penilaian saham. Saat ini, model credit rating yang canggih merupakan dasar dari sebagian besar analisa kredit. Hal ini terutama terjadi pada kondisi pasar sangat “likuid” dan informasi terkini mengenai perusahaan tersedia secara luas. Pendukung utama dari model credit rating adalah perusahaan pemeringkat obligasi, meskipun mereka tidak memaparkan secara detil model mereka. Model-model tersebut memasukkan analisa appraisal investasi dan juga memasukan teknik yang canggih hasil karya Robert C Merton, yaitu pendekatan options-based untuk credit model.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.3 Teknik baru “options-based “
Pendekatan Merton sederhana namun tajam. Merton melihat kredit pada perusahaan adalah serupa dengan debitur membeli hak (option) untuk menyerahkan aset perusahaan (put) pada bank apabila nilai saham perusahaan menjadi negatif. Hal ini terjadi apabila nilai pasar (present value) dari perusahaan lebih kecil dari nilai pasar (present value) dari total hutang perusahaan. Jika nilai pasar perusahaan dikurangi nilai pasar hutang adalah negatif, pemilik perusahaan tidak akan mempertahankan kepemilikan perusahaan, dan menyerahkan perusahaan ke bank, kreditor dan pemilik obligasi perusahaan. Perbedaan nilai perusahaan dan nilai pasar hutang bisa digunakan sebagai dasar untuk menentukan probability of default. Semakin kecil beda tersebut, maka peluang debitur menjadi default semakin besar. Pada kondisi ini saham debitur tidak memiliki nilai karena perusahaan mempunyai hutang lebih banyak dari pada nilai perusahaan.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.3 Teknik baru “options-based “
Pendekatan Merton sangat mempengaruhi model credit grading baru yang digunakan untuk memprediksi probability of credit default. Bersama teknik pengukuran seperti loss given default, exposure at default dan metode backtesting dengan fokus pada expected dan unexpected loss, option-based model menjadi dasar untuk mengatakan bahwa bank yang menggunakan Internal Rating-Based Approach patuh atau comply dengan ketentuan Basel II Penjelasan detil mengenai option model tidak termasuk dalam scope ujian sertifikasi.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.4 Analisa kelayakan – risiko kredit perorangan

Personal credit risk mencakup dua area utama kredit perorangan (personal finance): Kredit dengan agunan real estate (terutama mortgage lending) dan kredit tanpa agunan (unsecured lending, khususnya kredit konsumer) Personal budgets Kredit pada perorangan, baik berupa kredit dengan agunan rumah ataupun kredit tanpa agunan, perlu memperhatikan masalah personal budget. Budget berdasarkan pada jumlah pemasukan tunai dan pembelanjaan tunai dari dan ke rumah tangga. Sumber utama untuk memperoleh informasi historis yang diperlukan dapat diperoleh dari catatan rekening bank.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.4 Analisa kelayakan – risiko kredit perorangan
Credit scoring models Informasi keuangan yang dimiliki bank dari account nasabah memberi keunggulan bagi bank dibanding bank lainnya yang bermaksud memberikan kredit pada nasabah tersebut. Hal ini berpeluang membatasi persaingan pada pasar consumer credit dan mendorong berkembangnya credit scoring model. Credit scoring model membantu bank memberikan kredit ke individu meski nasabah belum memiliki hubungan perbankan. Bank memasukkan sejarah kredit calon debitur, bersama detil lainnya yang disampaikan nasabah potensial, kedalam scoring model yang memprediksi kualitas kredit nasabah tersebut.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.4 Analisa kelayakan – risiko kredit perorangan
Credit reference agencies (Agen pengelola data) Agen pengelola data berperan penting dalam pertumbuhan consumer lending. Agen tersebut memelihara catatan sejarah kredit seseorang. Idealnya semua bank menjadi anggota yang terus melengkapi data dari agen. Pertumbuhan agen tersebut mendorong peningkatan kredit tanpa agunan (unsecured lending) pada sejumlah pasar dimana agen sudah tersedia. Pentingnya agen tersebut untuk industri retail banking sudah semakin nyata, dan agen tersebut saat ini telah hadir di sejumlah pasar negara berkembang, termasuk Cina.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.4 Analisa kelayakan – risiko kredit perorangan
Lifetime consumption Keyakinan akan kemampuan membayar hutang sepanjang waktu memerlukan pendekatan melihat ke depan. Untuk maksud ini diperlukan penilaian mengenai profil penerimaan dari income selama hidup dan profile pengeluaran dari debitur. Ilustrasi sederhana dari perbedaan antara memberikan mortgage credit pada debitur usia 30 tahun dan debitur berusia 60 tahun. Sumber pembayaran dari kedua debitur akan sangat berbeda.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.4 Analisa kelayakan – risiko kredit perorangan
Nilai aset Bersih Selain income dan pengeluaran, posisi aset dan kewajiban debitur juga turut menentukan kelayakan debitur. Debitur dengan net aset pribadi yang tinggi dalam bentuk seperti saham atau obligasi, dapat menjadi sumber pembayaran untuk orang yang berusia lebih tua seperti dalam contoh di atas. Peran lembaga asuransi Kemampuan membayar juga ditentukan oleh jenis dan coverage asuransi yang dimiliki oleh debitur. Sebagai contoh, asuransi kesehatan membantu mempertahankan pembayaran pada saat debitur menderita sakit dan tidak bisa bekerja.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.4 Analisa kelayakan – risiko kredit perorangan
Affordability assessment (analisis kemampuan membayar) Dalam menilai apakah debitur layak diberikan kredit mortgage, bank biasanya mempertimbangkan : • free disposable income, baik income pribadi dan joint income. • income setelah dikurangi pembayaran mortgage • Pendapatan lain dan kemampuan mempertahankan pembayaran di masa depan • kepastian beban bunga pada mortgage • ancaman terhadap income dan asuransi yang mengcover (kesehatan, pengangguran) • asuransi aset (rumah, isi rumah) • loan to house value • mortgage indemnity insurance.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.4 Analisa kelayakan – risiko kredit perorangan

Analisa kemampuan membayar Seperti hal nya pada kredit mortgage, dalam menilai apakah debitur layak diberikan kredit konsumer, credit analysis melihat free disposable income debitur. Nilai dari aset dinilai kurang relevan, meskipun dipertimbangkan dalam kasus auto loan. Aset tersebut pada umumnya memiliki nilai tinggi dibandingkan jumlah outstanding kredit, sehingga dapat melunasi baki debet kredit apabila debitur default.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.5 Manajemen Portofolio

Perkembangan portfolio management theory mendorong pemahaman tidak hanya melihat risiko dari satu posisi kredit secara terpisah, namun yang lebih penting adalah perubahan risiko seluruh portofolio sebagai akibat bank menambah satu kredit pada portofolio tersebut. Efek dari korelasi diantara berbagai jenis kredit mendorong bank menghindari konsentrasi kredit pada berbagai area bisnis seperti geografis, sektor industri dan kualitas rating kredit, yang disebut dengan risiko konsentrasi kredit (credit concentration risk).

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.5 Manajemen Portofolio
Concentration risk dicakup dalam Basel II dimana dikatakan “risiko konsentrasi merupakan sumber utama penyebab terjadinya permasalahan di perbankan”, Risiko Konsentrasi tidak dimasukan dalam perhitungan kebutuhan modal pada Pillar 1, tapi dimasukan dalam Pillar 2, dimana dikatakan, bank harus memiliki kebijakan internal yang efektif, sistem dan kontrol untuk dapat mengidentifikasi risiko, mengelola dan memonitor risiko konsentrasi kredit. Bank juga harus mempertimbangkan besarnya risiko konsentrasi kredit (credit risk concentration) dalam menentukan kecukupan modal dalam Pillar 2, dan selanjutnya melakukan prosedur stress test.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.5 Manajemen Portofolio
Konsentrasi tersebut termasuk eksposur yang signifikan pada : • suatu counterparty atau counterparty dalam satu grup • sektor ekonomi atau daerah geografis • ketergantungan pada suatu aktivitas atau komoditas • jenis agunan Banyak supervisor nasional menerapkan limit eksposur untuk pemberian kredit pada satu debitur atau debitur group, maksimum dinyatakan sekian persen dari modal bank.

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.5 Manajemen Portofolio

Risiko konsentrasi dapat dianalisis dengan melihat cohort dari portfolio. Cohort adalah pengelompokan aset berdasarkan kriteria tertentu. Sebagai contoh, portfolio bisa dikelompokkan atas dasar klasifikasi industri, area geografis, dan credit grade. Semuanya merepresentasikan berbagai cara pengelompokan portfolio dan dapat memberi informasi yang penting pada saat bank ingin melihat risiko konsentrasi dalam portfolio.

5. Konsep dasar risiko kredit

5.3 Risiko kredit dan Basel II

5.3 Credit risk and Basel II

5.3

Risiko kredit dan Basel II

Pillar 1 dari Basel II mengharuskan bank menghitung kebutuhan modal untuk mengcover credit risk, market risk, dan operational risk. Perhitungan Kebutuhan modal regulatory untuk credit risk ada dalam Basel I. Dalam Basel II, bank dapat memilih tiga pendekatan berbeda untuk menghitung kebutuhan modal untuk credit risk: standardized approach, IRB foundation, dan IRB advanced. Selain menjelaskan prosedur dari masing-masing pendekatan, Basel II juga mendefinisikan kriteria minimum yang harus dipenuhi bank sebelum dapat menggunakan pendekatan yang lebih advance.

5.3 Credit risk and Basel II

5.3

Risiko kredit dan Basel II

Pendekatan Internal-Ratings Based yang advance membutuhkan persetujuan supervisor nasional sebelum bisa digunakan. Persyaratan utama dari supervisor adalah bahwa bank menggunakan pendekatan IRB untuk memutuskan kredit secara internal, selain digunakan untuk mengukur kebutuhan modal credit risk. Fitur pendekatan IRB yang membedakan Basel II dari Basel I. Basel II juga membedakan ketiga pendekatan untuk menghitung kebutuhan modal credit risk yang diperbolehkan. Dalam pendekatan IRB bank tidak hanya menggunakan metodologi pengukuran credit risk, namun juga menerapkan proses manajemen risiko kredit.

5.3 Credit risk and Basel II

5.3

Risiko kredit dan Basel II

Dalam pendekatan IRB, pengukuran dan manajemen harus dilakukan secara bersamaan. Bank harus menyesuaikan proses yang berlaku dengan kriteria minimum yang diperlukan oleh pendekatan IRB agar dapat dikatakan memenuhi kriteria Basel II. Dengan demikian, bank yang akan menggunakan pendekatan ini harus melakukan review yang menyeluruh mengenai proses yang berlaku saat ini, termasuk melakukan kaji ulang kekuatan dan kelemahannya dibandingkan persyaratan IRB.

6 Konsep dasar Risiko Operasional

6.1 Konsep dasar risiko operasional

6.1 The nature of operational risk

6.1.1 Apa yang dimaksud dengan Risiko operasional?

Basel II mendefinisikan operational risk adalah risiko kerugian akibat adanya kekurangan atau gagalnya proses internal, akibat masalah SDM dan sistim, atau kejadian eksternal. Secara umum, operational risk dapat disebabkan banyak hal akibat terjadinya kegagalan proses dan prosedur. Jadi operational risk bukan risiko yang baru atau bersifat unik bagi bank, walaupun kegagalan seperti ini sudah tidak asing lagi bagi bank dan biasanya bank sudah mempunyai taktik tertentu untuk menanggulangi risiko seperti ini. Risiko operasional mempengaruhi semua jenis usaha karena melekat dalam melakukan suatu proses atau aktivitas operasional.

6.1 The nature of operational risk

6.1.1 Apa yang dimaksud dengan Risiko operasional?
Ruang lingkup operational risk Walaupun operational risk sudah dikenal sejak lama, tapi sulit didefinisikan dengan baik. Terdapat berbagai versi definisi mencakup berbagai macam kategori. Definisi dari Basel II risiko operasional tidak termasuk risiko business, strategic dan risiko reputational, tapi termasuk legal risk. Mungkin mengagetkan bahwa definisi dan ruang lingkup dari operational risk belum ditetapkan secara seragam. Sebagai bagian dari manajemen bisnis yang baik, sudah banyak bank mengelola risiko operasional tapi tidak secara spesifik menyebutnya sebagai risiko seperti halnya dengan credit atau market risk.

6.1 The nature of operational risk

6.1.1 Apa yang dimaksud dengan Risiko operasional?
Sebagai contoh, bank sudah menyadari bahwa pelatihan dapat meningkatkan pelayanan pada nasabah dan mengurangi kejadian kesalahan proses. Jadi pelatihan pegawai yang efektif meningkatkan kesetiaan nasabah dan mengurangi biaya kompensasi untuk membayar kerugian nasabah. Tetapi bank tidak mengkategorikan kerugian akibat kesalahan pegawai sebagai kerugian operational risk, dan pelatihan staff sebagai upaya untuk mitigasi operational risks.

6.1 The nature of operational risk

6.1.1 Apa yang dimaksud dengan Risiko operasional?
Terdapat berbagai jenis operational risks, seperti halnya fraud dan kegagalan proses, relatif sering terjadi. Kejadian seperti itu biasanya berujung pada kerugian, dimana masing-masing kerugian jumlahnya kecil, (disebut dengan kerugian yang high frequency/low impact) dan dapat dikelola dengan kebijakan proses dan prosedur harian (misalnya pengawasan sistim teknologi dan security). Dipihak lain terdapat kejadian besar seperti serangan terrorist atau kebakaran jarang terjadi, tapi akibatnya menimbulkan kerugian yang besar (kerugian yang low frequency/high severity). Pendekatan yang dilakukan bank untuk memastikan bank dapat terus beroperasi sesudah terjadinya kejadian ekstrim tersebut antara lain membuat kebijakan dan program “business continuity plans”. Sebelum adanya Basel II, jarang ada bank yang melakukan alokasi modal untuk mengcover kerugian akibat operational risk.

6.1 The nature of operational risk

6.1.1 Apa yang dimaksud dengan Risiko operasional?
Operasional bank seperti hal nya ekonomi global terus berubah yang menyebabkan bertambahnya ragam kejadian yang berpotensi menimbulkan kerugian. Latar belakang ini yang mendorong kebutuhan untuk memperkenalkan pendekatan yang standar untuk mengelola operational risk dan mengukur besar dampak yang ditimbulkan oleh kejadian operasional. Pembahasan mengenai standar untuk manajemen operational risk terus berkembang sekitar 3 topik utama: • Apa yang disebut dengan operational risk • Apa yang termasuk dalam ruang lingkup operational risk • Bagaimana caranya bank dapat mengelola risiko operasional – baik secara kualitatif maupun kuantitatif?

6.1 The nature of operational risk

6.1.1 Apa yang dimaksud dengan Risiko operasional?
Basel II sudah mendefinisikan dan sekaligus menentukan ruang lingkupnya, dan mengharuskan bank mengukur besarnya potensi kerugian dan mengimplementasikan prosedur manajerial untuk mitigasi risiko tersebut. Untuk pertama kali bank diharuskan sesuai aturan pada Pillar 1, untuk menghitung kebutuhan modal dan mengalokasikan modal untuk mengcover potensi kerugian akibat operational risk sebagaimana halnya pada credit dan market risk. Kriteria Basel II dan definisi operational risk terbuka untuk interpretasi. Akibatnya bank melihat bagaimana industri lain menerapkan manajemen operational risk untuk membantu memastikan agar mereka memenuhi ketentuan yang digariskan oleh Basel II.

6.1 The nature of operational risk

6.1.2 Frequency versus impact
Kejadian Operational risk dapat dibagi dalam dua faktor: • frequency – seberapa sering terjadinya event • impact – Jumlah kerugian akibat terjadinya event Kita dapat membuat kategori operational risk events dari seringnya event terjadi dan dampak kerugian yang ditimbulkan. Empat jenis dari event adalah sbb: • low frequency / low impact • low frequency / high impact • high frequency / low impact • high frequency / high impact

6.1 The nature of operational risk

6.1.2 Frequency versus impact
Secara umum, operational risk management fokus pada dua dari empat event diatas: • low frequency / high impact (LFHI) • high frequency / low impact (HFLI) Banks biasanya mengabaikan event low frequency/low impact karena biaya pengelolaan lebih besar dari kerugian yang ditimbulkan Event High frequency/high impact dinilai tidak relevan karena kalau ada even semacam ini, tentunya bank sudah berhenti beroperasi! Kerugian seperti itu tidak akan sustainable, atau pihak supervisor akan segera turun tangan untuk memperbaiki praktek bisnis yang buruk dari bank

6.1 The nature of operational risk

6.1.2 Frequency versus impact
Event High frequency/low impact dikelola dengan cara meningkatkan efisiensi bisnis bank. Kejadian seperti ini mudah dimengerti dan biasanya digolongkan sebagai biaya untuk melakukan bisnis Sejumlah produk finansial khususnya pada retail banking, memasukan termasuk faktor kerugian operasional seperti ini dalam menentukan struktur bunga kredit. Sebagai contoh biasanya bank menetapkan bunga credit card dengan memperhitungkan kerugian akibat terjadinya fraud. Event Low frequency/high impact merupakan tantangan yang besar bagi bank. Event ini paling sedikit dimengerti dan sulit untuk diprediksi. Selanjutnya, kejadian ini dapat menimbulkan kerugian besar dan dapat membawa bank menjadi insolvent, misalnya Barings.

6 Konsep dasar Risiko Operasional

6.2 Risk of loss, risk events, expected and unexpected losses

6.2 Risk loss, risk events, expected and unexpected losses

6.2.1 Risk of loss
Seperti sudah diuraikan sebelumnya, Basel II mendefinisikan operational risk adalah risiko kerugian akibat adanya kekurangan atau gagalnya proses internal, akibat masalah SDM dan sistim, atau kejadian eksternal Dengan mengatakan operational risk dalam istilah “risiko terjadinya kerugian” pendekatan Basel II tidak memperhitungkan event kunci dari operational risk. Definisi Basel II dapat diartikan hanya event yang menimbulkan kerugian yang digolongkan pada operational risks. Sebenarnya definisi diatas dapat menyesatkan karena tidak semua event operational risk menimbulkan kerugian bagi bank. Walaupun event tersebut menimbulkan laba, event tersebut tidak boleh diabaikan karena berpotensi menimbulkan kerugian apabila terjadi lagi.

6.2 Risk loss, risk events, expected and unexpected losses

6.2.1 Risk of loss - contoh
Bank G mempunyai dealing desk yang melakukan transaksi Valas. Sesudah melakukan satu deal membeli dollar, tapi salah membukukan menjadi “membeli Yen”, sehingga seolah-olah trader menjadi “long Yen”. Sebagai upaya menghilang posisi “mismatch” trader tersebut memutuskan menjual Yen yang dia kira punya posisi, dan kemudian membeli dollars. Akibatnya dari kesalahan pertama, trader akhirnya mempunyai dollar mismatch dua kali lipat dan sama sekali tidak ‘squaring off’ posisi (tidak memiliki posisi baik dollars ataupun Yen). Besoknya kesalahan ditemukan dan trader menjual posisi dollar yang berlebihan. Kebetulan trader tersebut beruntung karena nilai tukar dollar naik sehingga ia memperoleh laba besar. Pada contoh ini terjadi event operational risk event, yaitu salah mencatat suatu transaksi, yang mengakibatkan Bank G memperoleh laba dan tidak mengalami kerugian. Hal ini menjadi catatan dimana Bank G harus memperbaiki proses kerja karena lain kali tidak selalu terjadi keberuntungan. Dalam hal ini laba yang diperoleh sebaiknya dicatat sebagai “sundry profit” dan bukan trading profit.

6.2 Risk loss, risk events, expected and unexpected losses

6.2.1 Risk of loss
Manajemen Operational risk adalah suatu proses pembelajaran Ketika terjadi peristiwa, atau hampir terjadi, apapun akibat finansial, penting bahwa peristiwa tersebut dicatat dan dilakukan langkah konkrit agar tidak terulang lagi. Basel II mengharuskan bank untuk menghitung kebutuhan modal yang harus dialokasikan bank untuk mengcover potensi kerugian dari event operational risk. Apabila bank menggunakan data historis atas dasar kerugian aktual, biasanya bank akan underestimate potensi kerugian yang akan terjadi

6.2 Risk loss, risk events, expected and unexpected losses

6.2.2 Expected loss verses unexpected loss

Dalam menghitung kebutuhan modal untuk operational risk, bank harus mendasarkan perhitungannya pada expected loss dan unexpected loss. Seperti halnya pada areal risk management lainnya, terdapat berbagai macam definisi dari expected dan unexpected loss. Bagian ini membahas definisi dalam konteks operational risk.

6.2 Risk loss, risk events, expected and unexpected losses

6.2.2 Expected loss verses unexpected loss
Dalam menghitung kebutuhan modal untuk operational risk, bank harus mendasarkan perhitungannya pada expected loss dan unexpected loss. Seperti halnya pada areal risk management lainnya, terdapat berbagai macam definisi dari expected dan unexpected loss. Bagian ini membahas definisi dalam konteks operational risk Expected loss adalah kerugian yang ada dalam bank melakukan aktivitas bisnis secara normal, yaitu bagian dari biaya dalam menjalankan bisnis. Dalam melakukan aktifitas harian, cukup beralasan bahwa akan terjadi kerugian operasional. – kesalahan pegawai, timbulnya credit card fraud dsb. Jadi kalau bank ingin menghilangkan risiko operasional, bank harus berhenti berbisnis.

6.2 Risk loss, risk events, expected and unexpected losses

6.2.2 Expected loss verses unexpected loss
Jadi bank perlu mengasumsikan terjadinya kerugian operasional dalam beroperasi. Kenyataannya beberapa kerugian “expected losses” sudah termasuk dalam struktur pricing dari produk bank. Apabila bank dapat menunjukkan pada pengawas bahwa sudah memperhitungkan expected losses, maka kerugian ini dapat dikurangkan dalam perhitungan modal. Dalam hal ini, kebutuhan modal adalah perkiraan unexpected losses. Bank menggunakan metode statistik untuk memprediksi expected losses, misalnya menggunakan data historis dan atas dasar pengalaman memprediksi kerugian yang akan datang. Metode sederhana untuk menentukan expected loss adalah menghitung mean (rata-rata) dari kerugian aktual selama periode waktu tertentu, dan menerima hal ini sebagai perkiraan kerugian periode mendatang.

6.2 Risk loss, risk events, expected and unexpected losses

6.2.2 Expected loss verses unexpected loss

Unexpected loss adalah kerugian yang menyimpang dari perkiraan. Kerugian tersebut timbul dari kondisi ekstrim sesuai asumsi bank yang walaupun jarang terjadi, tapi bisa terjadi. UL bukan kerugian dari bisnis normal biasa, tapi merupakan kerugian dari event dengan peluang terjadinya rendah. Unexpected losses biasanya berasal dari event low frequency/high impact.

6.2 Risk loss, risk events, expected and unexpected losses

6.2.2 Expected loss verses unexpected loss

Bank dapat mencoba memperkirakan nilai unexpected losses dengan menggunakan statistics, sebagaimana hal nya dengan perhitungan expected losses. Expected losses biasanya menggunakan data milik bank dan pengalaman. Tetapi bank mungkin saja tidak pernah mengalami kerugian dari beberapa event dimasa lalu yang dapat mengakibatkan terjadinya unexpected losses, sebagai contoh event terorisme. Jadi untuk menentukan unexpected loss bank menggunakan: • Data internal yang tersedia • Data external dari bank lain • data dari skenario operational risk

6.2 Risk loss, risk events, expected and unexpected losses

6.2.2 Expected loss verses unexpected loss
Metode sederhana untuk menghitung unexpected loss adalah menggunakan standar deviasi. Standar deviasi adalah penyimpangan dari nilai rata-rata. (mean). Dalam hal ini standar deviasi mengukur jarak kerugian dari operational risk tertentu, dari rata-rata kerugian dari seluruh event operational risk. Unexpected losses biasanya diasumsikan kerugian dengan standar deviasi yang meliputi 0.1% dari semua kerugian yang terjauh dari nilai rata-rata (mean). Untuk menghitung expected dan unexpected losses sesuai Basel II, bank diharuskan memelihara data kerugian historis operational risk baik internal maupun external. Terdapat berbagai definisi operational risk dan berbagai kategori. Agar ukuran diantara bank konsisten, Basel mendefinisikan definisi standar dari jenis kerugian operasional. Semua bank diharuskan memetakan data sesuai definisi tersebut.

6 Konsep dasar Risiko Operasional

6.3 Operational risk events

6.3 Operational risk events

6.3.1 Kategori Operational risk event

Sesuai kerangka Basel II, mitigasi operational risk tidak terbatas pada mencatat kerugian historis maupun prediksi kerugian operasional, tapi juga mengelola event penyebab kerugian tersebut. Mengurangi peluang terjadinya event dan mengurangi dampak kerugian apabila event tersebut terjadi dapat mengurangi kebutuhan modal untuk mengcover risiko operasional. Maka penting bagi bank untuk memahami mengenai event, dan tidak sekedar mencatat kerugian yang ditimbulkan.

6.3 Operational risk events

6.3.1 Kategori Operational risk event
Cara sederhana untuk memahami operational risk pada bank adalah semua risiko yang tidak termasuk dalam credit risk atau market risk. Tetapi definisi tersebut terlalu luas dan tidak membantu untuk mengelola operational risk. Maka perlu untuk mempertimbangkan berbagai macam event risiko operasional yang dapat menimbulkan kerugian. Hal ini dapat dicapai dengan membagi operational risk kedalam sejumlah kategori risk event yang menjadi dasar terjadinya risk event. Walaupun Basel II tidak secara formal memberikan petunjuk mengenai hal ini, event operational risk dapat dibagi dalam kategori sbb: • Risiko proses internal • Risiko SDM (people risk) • Risiko Kegagalan sistim (systems risk) • Risiko eksternal (external risk) • legal risk

6.3 Operational risk events

6.3.2 Risiko proses internal (Internal process risk)

Risiko proses internal adalah risiko terkait kegagalan proses dan prosedur bank. Dalam melakukan aktifitas harian, pegawai bank melaksanakan pekerjaan sesuai ketentuan yang berlaku. Kebijakan dan prosedur yang ada termasuk kegiatan checks, dan controls untuk memastikan bahwa nasabah sudah dilayani secara benar dan bank taat pada hukum dan regulasi yang berlaku.

6.3 Operational risk events

6.3.2 Risiko proses internal (Internal process risk)
Risiko proses internal termasuk: • dokumentasi – tidak memadai, tidak mencukupi atau salah • Kurang adanya sistim pengawasan • Kesalahan marketing • Kesalahan dalam menjual (misselling) • Pencucian uang (money laundering) • Laporan tidak akurat atau tidak cukup (contoh. Laporan BI) • Kesalahan transaksi (transaction error) Dengan melakukan kaji ulang (Review) dan meningkatkan proses internal bank sebagai bagian dari manajemen operational risk dapat meningkatkan efisiensi bank. Kesalahan dapat timbul apabila proses terlalu rumit, tidak terorganisir dengan baik atau mudah untuk dilakukan manipulasi, yang menunjukkan praktek bisnis yang tidak efisien.

6.3 Operational risk events

6.3.2 Risiko proses internal (Internal process risk) – contoh
Daiwa Bank, New York Bulan April 1995 seorang bond trader pada Daiwa Bank, New York, mengakui terjadi kerugian sebesar USD 1.1 milyar yang ditutupi selama periode waktu 11-tahun. Selama periode tersebut, ia melakukan paling sedikit 30,000 transaksi ilegal tanpa ada yang mengetahui apa yang dia lakukan. Peachey melihat kasus tersebut sebagai adanya kekurangan fungsi kontrol: Proses audit sederhana atas outstanding securities akan dengan mudah bisa mengungkap adanya transaksi ilegal, tapi selama periode tersebut tidak pernah ada audit dilakukan.

6.3 Operational risk events

6.3.3 Risiko SDM (People risk)
Risiko SDM (People risk) adalah risiko terkait dengan pegawai bank. Bank sering mengatakan aset terpenting dari perusahaan adalah SDM. Tetapi SDM bank juga merupakan sumber timbulnya event kerugian operational. Event tersebut dapat timbul, baik melalui aktifitas yang disengaja maupun yang tidak disengaja, dan tidak terbatas pada bagian tertentu dari organisasi. Event terkait people risk bahkan dapat terjadi pada fungsi risk management, dimana harus dipastikan bahwa pegawai mempunyai kualifikasi dan keahlian yang diperlukan.

6.3 Operational risk events

6.3.3 Risiko SDM (People risk)
Beberapa ciri yang pada umumnya menjadi sumber people risk adalah: • masalah kesehatan dan keamanan (health and safety issues) • Perputaran pegawai yang tinggi (high staff turnover) • internal fraud • Perselisihan perburuhan (labor disputes) • Pelaksanaan manajemen yang kurang baik (poor management practices) • Kurang melakukan pelatihan karyawan (poor staff training) • Terlalu mengandalkan karyawan kunci (over reliance on key staff) • Trader yang tidak bertanggung jawab (rogue trader)

6.3 Operational risk events

6.3.3 Risiko SDM (People risk) - contoh
UBS Warburg, Tokyo Pada bulan November 2001 UBS Warburg, bank di Swiss, mengalami kerugian sekitar USD50 juta pada trading book akibat kesalahan oleh karyawannya. Seorang trader dari UBS Warburg di Tokyo membuat kesalahan dengan menjual 610,000 lembar saham Dentsu pada harga 16 yen per saham, dimana seharusnya ia menjual 16 saham pada harga per saham 610,000 yen, walaupun sistim komputer sudah memberikan peringatan.

6.3 Operational risk events

6.3.4 Risiko kegagalan sistim (Systems risk)

System risk adalah risiko terkait dengan penggunaan sistim dan teknologi Saat ini pada umumnya bank sangat tergantung pada sistim dan teknologi untuk mendukung aktifitas harian. Saat ini bank tidak mungkin beroperasi tanpa didukung oleh sistim komputer. Tetapi penggunaan teknologi dapat menimbulkan operational risk.

6.3 Operational risk events

6.3.4 Risiko kegagalan sistim (Systems risk)
Event terkait Systems risk dapat disebabkan oleh: • Kerusakan data (data corruption) • Kesalahan data entry • Kurang pengawasan terhadap perubahan (inadequate change control) • Kurang adanya pegawasan proyek (inadequate project control) • Kesalahan program • Terlalu tergantung pada teknologi ‘black box’– terlalu yakin bahwa model matematis dalam sistim sudah pasti betul • Gangguan pelayanan – Baik sebagian maupun kegagalan total • Keamanan sistim misalnya virus computer dan hacking • Kesesuaian sistim (system suitability) • Menggunakan sistim baru yang belum diuji coba (use of new untried technology).

6.3 Operational risk events

6.3.4 Risiko kegagalan sistim (Systems risk)

Pada masa lalu apabila terjadi kegagalan pada sistim komputer bank, bank paling tidak dapat beroperasi untuk jangka waktu tertentu. Saat ini kegagalan komputer dapat mengakibatkan bank menjadi kolaps. Kekhawatiran terjadinya kegagalan teknologi terus menjadi fokus perhatian dari senior management bank. Kenyataannya cukup besar dana yang ditanamkan pada pengembangan teknologi komputer terbaru. Akan tetapi banyak juga kasus dimana proyek berskala besar dalam bidang teknologi diabaikan ketika tidak menghasilkan benefit yang diharapkan atau ketika biaya pengembangan menjadi sulit dikendalikan.

6.3 Operational risk events

6.3.4 Risiko kegagalan sistim (Systems risk)
Untuk mengendalikan kegagalan sistim, bank menerapkan teknik risk management yang beralaskan project management ‘best practice’. Best practice project management sering dimulai dengan proses tahapan ‘risk assessment’. Perlu diketahui bahwa bank di Inggris banyak yang masih menggunakan sistim yang sudah berumur 30 tahun untuk mendukung bagian utama dari proses transaksi nasabah. Tetapi risiko kegagalan dalam mengganti sistim memperlambat upaya mengganti sistim yang sudah tua ini. Proses sesuai best practice project management (misalnya Prince II) dapat dilakukan untuk upaya mitigasi risiko, hal ini tidak termasuk dalam ruang lingkup bahan ujian sertifikasi.

6.3 Operational risk events

6.3.4 Risiko kegagalan sistim (Systems risk) - contoh
Bank of Scotland Bulan October tahun 2000 terjadi kegagalan nyaris secara total pada sistim komputer Bank of Scotland, sehingga bank menutup seluruh ATM dan fasilitas internet banking. Bank juga tidak dapat melayani pemilik debit card untuk melakukan pembelian barang. Kegagalan terjadi pada saat jam makan siang selama sekitar 3 jam. Masalah lain timbul karena proses yang seharusnya diselesaikan malam sebelumnya tidak selesai, sehingga beberapa nasabah tidak dapat melakukan clearing check pada waktunya.

6.3 Operational risk events

6.3.5 Risiko eksternal (External risk)

External risk adalah risiko terkait events yang berada diluar kemampuan kontrol secara langsung dari bank. Event terkait External risk pada umumnya berupa event yang low frequency/high impact dan menimbulkan unexpected losses. Juga termasuk event yang sering dibuat dramatis diliput oleh mass media. Sebagai contoh, peristiwa perampokan bank skala besar dan serangan terrorist.

6.3 Operational risk events

6.3.5 Risiko eksternal (External risk)
Event seperti itu dapat disebabkan: events pada bank lain yang berdampak luas pada industri bank external fraud dan pencurian kebakaran bencana alam Kegagalan dalam perjanjian outsourcing Implementasi dari regulasi baru Huru hara dan demonstrasi masa terrorisme Ganguan pada sistim transportasi, sehingga pegawai sulit sampai di kantor • Gangguan seperti misalnya PLN • • • • • • • • •

6.3 Operational risk events

6.3.5 Risiko eksternal (External risk)

Secara historis, bank secara aktif fokus pada risiko eksternal untuk melindungi dari dampak buruk yang bersumber dari eksternal, misalnya terhadap bahaya pencurian. Banyak dari event eksternal berpotensi memberikan dampak buruk bagi kelangsungan bisnis. Maka bank banyak melakukan usaha untuk memastikan bank dapat tetap beroperasi apabila event tersebut terjadi. Upaya ini disebut dengan program “business continuity planning” atau “business resumption planning”. Sebelum adanya Basel II, fokus utama dari manajer operational risk pada bank adalah pada “business continuity planning”.

6.3 Operational risk events

6.3.5 Risiko eksternal (External risk) - contoh

National Westminster Bank Bulan April tahun 1993 the NatWest Tower, gedung jangkung kantor pusat dari National Westminster Bank menderita kerusakan berat ketika serangan bom dari terrorist meledak dipusat kota London. Perbaikan besar-besaran pada interior dan exterior dari gedung memakan biaya GBP 75 juta. Setelah diperbaiki, National Westminster Bank memutuskan menjual gedung tersebut pada perusahaan property.

6.3 Operational risk events

6.3.6 Risiko hukum (Legal risk)
Legal risk adalah risiko ketidakpastian melakukan tindakan hukum, atau ketidakpastian bahwa kontrak tidak mempunyai kepastian interpretasi dari sisi hukum atau regulasi Legal risk bervariasi pada berbagai negara dan pada umumnya bertambah besar yang merupakan akibat dari: • Ketentuan know-your-customer (KYC) untuk memerangi terrorisme • Ketentuan Proteksi data untuk melindungi informasi nasabah yang sering digunakan untuk keperluan marketing. Pada beberapa negara, legal risk disebabkan posisi legal yang tidak jelas, sebagai contoh kepemilikan agunan property pada saat perusahaan bangkrut. Dalam kasus lain hukum Eropa dan Amerika yang dapat menjangkau wilayah hukum diluar negara sering jadi hambatan bagi bank untuk berpartisipasi dalam pasar internasional.

6.3 Operational risk events

6.3.6 Risiko hukum (Legal risk) - contoh
Bear Sterns Bulan June 1999, Bear Sterns, perusahaan pialang Amerika, setuju untuk membayar SEC (Securities and Exchange Commission) sejumlah USD 25 juta untuk menyelesaikan perkara yang bersumber pada operasional back office dari bank. Perusahaan bertindak sebagai clearing agent untuk kepentingan A.R. Baron, perusahaan pialang kecil yang mengalami bangkrut tahun 1996. Kemudian Baron menjadi tersangka kasus kriminal yaitu merugikan investors sekitar USD 75 juta. Bear Sterns terseret dalam perkara ini karena menurut tuduhan pada saat itu, Bear Sterns seharusnya memberi peringatan pada pengawas aktifitas trading dari Baron karena dinilai mempunyai pengetahuan atas aktifitas trading dan seharusnya dapat mengidentifikasi terjadinya fraud.

6.3 Operational risk events

6.3.7 Event abu-abu (Boundary events)
Salah satu tantangan dalam upaya mengukur dan mengelola operational risk adalah menentukan klasifikasi risiko termasuk dalam risiko operasional, risiko kredit risiko pasar atau risiko lainnya. Ketika terjadi peristiwa risiko, menentukan apa penyebab terjadinya risiko sering tidak jelas dan dapat diinterpretasikan berbeda. Kasus ini disebut dengan boundary events karena ada potensi jenis risiko terdapat pada perbatasan dari berbagai jenis risiko Masalah yang sering terjadi adalah risiko kerugian timbul dari berbagai kombinasi jenis risiko dan bukan satu faktor tunggal. Contoh klasik adalah Baring bank dimana terjadi kerugian akibat dari berbagai jenis risiko.

6.3 Operational risk events

6.3.7 Event abu-abu (Boundary events)
Runtuhnya Barings dapat diklasifikasikan sebagai akibat event risiko operational, market, business atau risiko strategic. Tidak ada sistim kontrol yang memadai, tidak ada pemisahan tugas, dan trader yang tidak bertanggung jawab merupakan indikasi bahwa terjadi event operational risk sebagai penyebab (risiko proses internal dan risiko SDM). Kerugian finansial timbul akibat adanya transaksi derivative pada Singapore Futures Exchange. Jadi kegagalan Barings dapat digolongkan sebagai event market risk. Akhirnya dewan direksi Barings kelihatannya melaksanakan kebijakan dan strategi yang meragukan atas aktifitas dealing di Singapore, termasuk mengirimkan tambahan dana sebesar GBP 550 juta untuk membayar biaya trading. Jadi kerugian Baring juga dapat digolongkan sebagai event risiko bisnis

6.3 Operational risk events

6.3.7 Event abu-abu (Boundary events)
Masalah boundary risk event dapat diselesaikan dengan mengklasifikasikan event atas dasar akar penyebabnya. Pada kasus Barings, kegagalan adalah karena risiko operational risk karena kalau Barings memiliki sistim kontrol yang efektif, maka Barings seharusnya dapat : • mengidentifikasi bahwa trader sudah melakukan transaksi melewati limit yang ditetapkan dan dapat segera menghentikan aktifitas trader pada kesempatan pertama • mencegah terjadinya transaksi dengan volume begitu besar di pasar • mencegah adanya keputusan untuk mengirimkan tambahan dana kalau saja mereka memahami dengan jelas alasan penggunaan dana dan memahami risiko yang ada dalam transaksi.

6.3 Operational risk events

6.3.7 Event abu-abu (Boundary events)
Kenyataannya tidak mudah untuk mengidentifikasi apa yang menjadi penyebab utama terjadinya masalah Walaupun demikian, penting untuk menetapkan dimana duduk perkara dari boundary event untuk menghindari kemungkinan perhitungan kebutuhan modal dihitung dua kali (double counting) atau malah bank sama sekali tidak memasukan perhitungan modal untuk event tersebut. Metode yang digunakan setiap bank untuk menghitung risiko credit, market dan operational berbeda, maka penting untuk melakukan alokasi event pada kategori yang sesuai, khususnya apabila bank menggunakan metodologi yang mengandalkan pada data historis (misalnya OpVaR dan IRB untuk credit risk). Jadi penting untuk bank untuk menetapkan kebijakan yang jelas mengenai bagaimana menentukan klasifikasi dari boundary events.

6 Konsep dasar Risiko Operasional

6.4 Bagaimana evolusi perubahan risiko operasional

6.4 How operational risk is changing

6.4.1 Perubahan konsep risiko operasional
Sejak dulu ketika bank mulai aktifitas trading, bank sudah melakukan langkah-langkah untuk mengurangi operational risks, misalnya mencegah terjadinya upaya pencurian. Tetapi, karakteristik dari operational risk sudah berubah, terutama karena berkembangnya teknologi dan adanya globalisasi. Bukan saja lebih sering timbul event yang besar, juga dampak yang ditimbulkan menjadi lebih besar. Sebagai akibatnya pendekatan pengelolaan operational risk sudah mengalami perubahan karena berkembangnya masalah tata kelola perusahaan (corporate governance) dan tanggung jawab corporate management. Selanjutnya, bank mulai menyadari bahwa pengelolaan operational risk akan menguntungkan bagi bank.

6.4 How operational risk is changing

6.4.1 Perubahan konsep risiko operasional
Selama 15 tahun terakhir jumlah event operational risk sudah bertambah banyak dan memberikan dampak kerugian yang besar. Peningkatan ini sebagian karena bertambahnya ruang lingkup dari event tersebut dari seluruh penjuru dunia. Komunikasi global yang dapat dilakukan secara instan memungkinkan dalam beberapa kasus event tersebut dapat dilaporkan secara real time, sebagai contoh: • Bangkrutnya BCCI dan Barings Bank • Kerusakan parah pada NatWest Tower di London, karena terkena bom pada tahun 1993 • Serangan terrorist pada World Trade Center di New York tanggal 11 September 2001.

6.4 How operational risk is changing

6.4.1 Perubahan konsep risiko operasional - contoh
‘Y2K’ Bug Contoh klasik potensi event operational risk menjadi masalah serius adalah ‘Y2K bug’. Sekitar USD 400 milyar sudah dikeluarkan untuk membuat program komputer diseluruh dunia untuk menghadapi masalah melewati tahun 2000. Untuk membuat program komputer lebih efisien, sekitar tahun 1970 dan 1980 programmer mencatat data tahun hanya dua digit terakhir, misalnya tahun 1978 dicatat sebagai 78. pada pertengahan tahun 1990, bank mulai menyadari bahwa pada bulan Januari 2000, sistim komputer akan berhenti bekerja secara benar karena tanggal akan berubah dari 99 menjadi 00 (1999 menjadi 1900). Akibatnya program komputer akan menambah perhitungan bunga selama 100 tahun pada rekening bank. Antara tahun 1997 dan 1999 tersebar pembahasan yang meluas di media mengenai potensi dampak dari Y2K bug. Banks menyesuaikan sistim credit risk untuk memperhitungkan kelompok nasabah yang belum mengatasi masalah Y2K ini. Untuk pertama kali bank menyadari bahwa event operational risk dapat mempengaruhi credit rating dari nasabah. Kenyataannya pada tanggal 1 Januari 2000 tidak terjadi masalah yang berarti, termasuk pada negara yang tidak menggubris permasalahan Y2K ini.

6.4 How operational risk is changing

6.4.1 Perubahan konsep risiko operasional
Upaya untuk mengatasi masalah Y2K tidak memberikan manfaat berarti bagi bank. Metode yang dipakai untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah termasuk memahami proses utama dari bank dan bagaimana interaksi dari proses tersebut (disebut dengan pemetaan proses atau process mapping). Proses bisnis dari sejumlah bank sudah mengalami evolusi sejalan dengan perkembangan dan perubahan bisnis. Selama terjadinya permasalahan Y2K sejumlah bank dapat mengidentifikasi adanya operasi yang tidak efisien dengan cara analisis terhadap process maps dari bisnis bank.

6.4 How operational risk is changing

6.4.1 Perubahan konsep risiko operasional
Implementasi dari kebijakan dan prosedur operational risk dapat membantu bank dalam memperbaiki proses internal. Sejumlah teknik untuk melakukan mitigasi operational risk mulai dengan pemetaan proses yang juga meliputi mengurangi kemungkinan gagal, membingungkan dan menjadi pekerjaan siasia Upaya mengatasi masalah tersebut tidak hanya dapat mengurangi potensi kerugian, juga dapat mengurangi biaya operasional dari aktifitas bisnis. Untuk proses yang tergolong kritis, pemetaan proses adalah bagian dari perlunya disiplin dalam proses kontrol seperti terdapat dalam proses yang disebut dengan Six Sigma.

6.4 How operational risk is changing

6.4.2 Mengapa dampak dari event risiko operasional meningkat?
Dampak event operational risk sudah meningkat. Bank semakin khawatir bahwa event yang tergolong risiko kecil (high frequency/low severity events) digantikan oleh event kerugian dengan low frequency dan higher severity. Dampak dari bertambah besarnya event operational risk disebabkan oleh: • otomatisasi • mengandalkan teknologi • outsourcing • terrorisme • globalisasi • insentif dan trading – ‘rogue trader’ • Volume transaksi dan nilai • litigasi

6.4 How operational risk is changing

6.4.2 Mengapa dampak dari event risiko operasional meningkat?
Otomatisasi Bank semakin banyak yang tidak lagi mengandalkan proses klerikal, tapi lebih mengandalkan pada proses otomatisasi. Manusia dapat saja sering membuat kesalahan, tapi pada kesalahan yang dibuat manusia relatif mudah diketahui. Biasanya kelompok pegawai jarang membuat kesalahan yang sama berkalikali. Dilain pihak, program komputer yang salah dalam proses membuatnya atau salah cara menggunakannya, dapat membuat kesalahan yang sama berulang kali. Kesalahan seperti ini tidak mudah diketahui dibandingkan dengan kesalahan yang dibuat pegawai. Selain itu proses otomatisasi dapat mengakibatkan terjadinya kesalahan secara kumulatif yang berpotensi menimbulkan kerugian besar begitu kesalahan tsb. Ditemukan..

6.4 How operational risk is changing

6.4.2 Mengapa dampak dari event risiko operasional meningkat?
Ketergantungan pada teknologi Bank menjadi khawatir bukan saja dampak dari proses otomatisasi. Ketergantungan bank pada teknologi sudah merambah pada semua bagian kegiatan bank, dari otomatisasi secara masal sampai produk khusus. Sebagai contoh, produk dana dan teknik risk management sudah menjadi semakin canggih, dan semakin tergantung pada model matematis yang kompleks dan teknologi. Akibat proses Implementasi yang tidak tepat, kurang pemahaman dan ketergantungan pada akurasi dari teknologi yang digunakan akan terus memperbesar potensi kerugian pada bank.

6.4 How operational risk is changing

6.4.2 Mengapa dampak dari event risiko operasional meningkat?
Ketergantungan pada teknologi Teknologi baru sudah merubah cara nasabah berinteraksi dengan bank. Akibatnya hubungan antara sistim internal bank dan sistim nasabah eksternal semakin menjadi tidak jelas. Banyak transaksi nasabah dilakukan melalui internet tanpa menggunakan pegawai bank sebagai perantara. Pada kenyataannya semakin banyak nasabah bank melakukan aktifitas perbankan melalui produk berbasis teknologi. Gangguan yang terjadi pada sistim pelayanan berbasis teknologi semakin memberikan dampak besar pada nasabah bank disamping bank itu sendiri.

6.4 How operational risk is changing

6.4.2 Mengapa dampak dari event risiko operasional meningkat?
Outsourcing Sejumlah bank melakukan aktivitas melalui outsource, terkadang melalui perusahaan yang berdomisili dinegara lain. Perjanjian outsourcing dilakukan karena adanya keuntungan dari sisi biaya dan proses. Tetapi outsourcing juga menimbulkan operational risks diluar kemampuan kontrol bank karena: • Bank memberikan elemen penting dari pelayanan nasabah pada outsourcer • outsourcer dapat saja terimbas kondisi ekonomi yang tidak transparan baik untuk bank maupun supervisor • Outsourcer mungkin saja mempunyai jurisdiksi hukum dan regulasi yang berbeda dengan bank.

6.4 How operational risk is changing

6.4.2 Mengapa dampak dari event risiko operasional meningkat?
Outsourcing Insentif yang diterima outsourcer tergantung dari kontrak yang dibuat dengan bank dan tidak atas dasar kinerja bank kaitannya dengan nasabah. Struktur Insentif dan kontrak sangat penting seperti juga kekuatan finansial dan kemampuan outsourcer. Apabila outsourcer gagal memelihara nasabah bank, maka bank yang akan menanggung konsekuensi jangka panjang dan kerugian. Kondisi ketergantungan dari organisasi lain untuk melaksanakan operasional bank berpotensi menambah risiko kerugian akibat operational.

6.4 How operational risk is changing

6.4.2 Mengapa dampak dari event risiko operasional meningkat?
Terrorisme Kurang menguntungkan bahwa tindakan terror semakin meningkat baik dalam frekuensi dan dampak yang ditimbulkan, dan cenderung menjadi “risiko global”. Banks tidak lagi menjadi target spesifik tertentu untuk melawan terrorist. Aktifitas terroris terbaru tidak terbatas pada perusahaan tertentu atau pasar uang, tidak hanya pada perusahaan tertentu dan pasar tertentu, dengan meningkatnya volatilitas dunia (pasar modal dan komoditas) Dengan menggunakan level confiden dari pasar dan general public baik secara langsung terkena pengaruh, event terrorist mempunyai dampak jangka pendek dan jangka panjang.

6.4 How operational risk is changing

6.4.2 Mengapa dampak dari event risiko operasional meningkat?
Meningkatnya globalisasi Perpindahan kearah ekonomi global juga memberikan dampak pada operational risk. Events yang tadinya terisolasi pada pasar lokal, sekarang mempunyai risiko semakin besar termasuk akibat adanya efek Globalisasi. Sering dikatakan bahwa dunia menjadi semakin kecil dan menuju kearah masyarakat ‘24/7’. Bank menambah jam operasi menjadi 24 jam sehari., 365 hari libur per tahun, Pada pasar global risikonya lebih besar. Sistim internet memberikan bank fasilitas tambahan pada nasabah setiap waktu dan dimana sama di kantor BM.

6.4 How operational risk is changing

6.4.2 Mengapa dampak dari event risiko operasional meningkat?
Meningkatnya globalisasi Globalisasi memberikan dampak meningkatnya severity dan frequency dan event operational risk. Hal ini karena: • events dapat berpengaruh pada banyak pasar dan sejumlah besar bank. • Tidak banyak waktu untuk mengatasi permasalahan sehingga dampak dapat memberikan dampak buruk dengan cepat. • Terdapat pertumbuhan jumlah transaksi • events juga lebih banyak menerima publisitas.

6.4 How operational risk is changing

6.4.2 Mengapa dampak dari event risiko operasional meningkat?
Insentif (remunerasi) dan trading Masalah insentif dapat menjadi problem sentral yang untuk beberapa bank dapat menimbulkan kerugian besar (catastrophic) Trader dapat memperoleh laba secara pribadi dengan melakukan transaksi yang berisiko tinggi yang menghasilkan bonus. Apabila risiko mengakibatkan terjadinya kerugian besar, maksimum akibat pada dealer adalah kehilangan pekerjaan. Jadi seorang dealer dalam beberapa hal cenderung untuk mengambil posisi yang mempunyai risiko dan peluang memperoleh laba yang tinggi. Kekeliruan dalam menentukan insentif seperti ini yang disinyalir menjadi penyebab bertambah banyaknya kejadian yang diakibatkan oleh perilaku ‘rogue trader’ sepuluh tahun terakhir.

6.4 How operational risk is changing

6.4.2 Mengapa dampak dari event risiko operasional meningkat?
Meningkatnya volume transaksi dan nilai Sejak terjadinya liberalisasi pasar uang, sistim otomatisasi dan teknologi yang semakin canggih, dan globalisasi masing-masing memberikan kontribusi pada meningkatnya volume dan nilai trading. Jadi potensi kerugian maksimum dari event operational risk, khususnya terkait dengan trading juga meningkat. Potensi kerugian dapat dikaitkan dengan volume dan nilai trading yang menjadi sumber terjadinya kerugian.

6.4 How operational risk is changing

6.4.2 Mengapa dampak dari event risiko operasional meningkat?
Meningkatnya litigasi Ancaman atau penggunaan litigasi sesudah terjadinya event operational risk telah meningkatkan kerugian bank. Events yang dulunya dinilai minor sekarang dapat meyebabkan bank menderita kerugian besar sebagai akibat langsung dari litigasi. Bukan saja biaya kompensasi yang dibayarkan pada nasabah, juga biaya litigasi itu sendiri. Untuk beberapa bank kekhawatiran terjadinya masalah litigasi membuat bank mengeluarkan biaya besar dalam upaya memenuhi masalah Y2K. Pengawas Bank mengkhawatirkan adanya kecenderungan perpindahan dari event high frequency/low severity menjadi events low frequency/high severity. Mereka mendorong bank untuk melihat secara lebih luas pada proses dan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya event low frequency/high impact diluar area credit dan market risk.

6.5 Basel II and operational risk

6.5

Basel II dan risiko operasional
Basel II sudah mengeluarkan aturan baru bahwa bank harus mengelola operational risk. Dalam Pillar 1 bank harus mengukur besarnya operational risk, dan mengalokasikan modal sebagaimana halnya untuk credit dan market risk. Selain itu bank diharapkan mengelola operational risk agar dapat mengurangi peluang timbulnya event operational risk.

Operational risk sudah menjadi salah satu aspek yang kontroversial pada Basel II. Maksudnya agar bank harus menyediakan modal untuk mengcover segala sesuatu yang dipersepsikan sebagai operational risks. Diperkirakan bahwa secara rata-rata sekitar 12% dari modal dialokasikan untuk mengcover risiko operasional.

6.5 Basel II and operational risk

6.5

Basel II dan risiko operasional

Basel II menyadari bahwa banyak bank yang harus menyediakan modal regulatori akan mengalami kesulitan karena pengukuran operational risk bukan merupakan sesuatu yang eksak. Bagaimana bank menilai besar operational risk dan menghitung risk capital (untuk pertama kali) ini merupakan tantangan besar khususnya untuk bank dengan ukuran lebih kecil. Banyak event operational risk timbul sebagai akibat perbuatan seseorang, dan dapat diakibatkan dari sederetan kesalahan dan kesalahan yang sudah terjadi sejak lama. Kenyataannya banyak event berupa bencana yang mengakibatkan bank menjadi kolaps akibat event yang tidak dapat diprediksi atau akumulasi dari masalah yang bertumpuk dalam proses secara terpusat atau prosedur pelaporan.

6.5 Basel II and operational risk

6.5

Basel II dan risiko operasional

Alan Peachey berpendapat bahwa runtuhnya Barings dimulai dengan gempa bumi di Kobe Japan pada bulan January 1995: “Gempa tersebut menyebabkan pasar modal Jepang terjun bebas, yang selanjutnya menyebabkan posisi Lesson menerima “margin call”, yang mendorong posisi bank kearah kehancuran”

6.5 Basel II and operational risk

6.5

Basel II dan risiko operasional

Basel II memperbolehkan bank menggunakan satu dari tiga pendekatan untuk menghitung modal untuk mengcover operational risk. Bank dapat berpindah dari sistim yang paling sederhana, sebagaimana halnya dengan perhitungan credit risk pada Basel I, kemudian pindah ke pendekatan yang menggunakan metode statistik yang kompleks (OpVaR). Ketiga pendekatan ini adalah Basic Indicator Approach, Standardised Approach dan Advanced Measurement Approach.

Sertifikasi Risiko Bank dan Regulasi Level 1
Part C: Pengawasan, Keterbukaan dan Tata Kelola Perusahaan

7 Pengawasan Supervisor dan persyaratan Keterbukaan

7.1 Pentingnya Pengawasan

7.1 The importance of supervisory review

7.1

Pentingnya Pengawasan Supervisor
Supervisor melakukan pengawasan Bank untuk memastikan kepatuhan bank pada ketentuan kecukupan modal, serta meyakinkan bahwa bank mengembangkan dan menggunakan teknik manajemen risiko yang terbaik.

Pillar 1 mengatur proses perhitungan untuk menentukan kecukupan modal untuk mengcover risiko pasar, risiko kredit dan risiko operasional. Pillar 2 menetapkan prinsip-prinsip yang harus digunakan Supervisor dalam melakukan proses evaluasi kecukupan modal bank. (diluar kebutuhan modal yang ditetapkan dalam Pillar 1).

7.1 The importance of supervisory review

7.1

Pentingnya Pengawasan Supervisor

Pillar 2 membahas tiga area yang berada diluar lingkup Pillar 1. Yaitu: • Risiko konsentrasi kredit • Risiko suku bunga pada banking book • faktor ekstern yang mempengaruhi operasional bank (mis. Siklus bisnis). Selain itu, Pilar 2 juga menetapkan penilaian kepatuhan pada standar minimal dalam hal bank menggunakan metode perhitungan modal yang kompleks (advanced methods) dalam Pillar 1.

7.1 The importance of supervisory review

7.1

Proses evaluasi kebutuhan modal intern

Pengawasan Supervisor tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistim manajemen yang baik. Direksi dan senior manajemen bank mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bank mempunyai modal yang cukup untuk mendukung aktivitas kerja termasuk pada area yang tidak dicover dalam Pillar 1. Manajemen Bank bertanggung jawab untuk mengembangkan proses perhitungan kebutuhan modal yang memperhitungkan juga masalah risiko dan sistim kontrol pada seluruh aktivitas. Evaluasi kebutuhan modal merupakan proses yang berkelanjutan dan merupakan satu kesatuan dalam pengelolaan aktivitas bank.

7.1 The importance of supervisory review

7.1

Proses evaluasi kebutuhan modal intern

Proses evaluasi tidak hanya pada kebutuhan modal sekarang namun juga memperkirakan kebutuhan modal yang akan datang. Manajemen memperkirakan kebutuhan modal masing-masing aktivitas pada unit kerja, yang kemudian dijumlahkan untuk menentukan kebutuhan modal bank secara keseluruhan. Manajemen akan memantau kebutuhan riil modal dibandingkan dengan target, sebagai bagian dari proses pengawasan operasional bank.

7.1 The importance of supervisory review

7.1

Supervisory review dan tindak lanjut (actions)

Supervisor akan mengevaluasi kualitas proses perhitungan kebutuhan modal intern. Hasil evaluasi tersebut dan faktor lainnya (akan dibahas kemudian) menjadi dasar bagi supervisor untuk menentukan target rasio modal bank. Setiap temuan mengenai kelemahan dalam proses akan tercermin pada target rasio modal yang ditetapkan untuk bank tersebut. Tingkat rasio modal yang tinggi akan mengurangi tingkat aktivitas yang dapat didukung oleh modal bank. pada akhirnya kebutuhan modal yang tinggi akan mengurangi laba bank sebagai akibat berkurangnya aktivitas, dan biaya modal lebih mahal yang diperlukan untuk aktivitas tersebut.

7.1 The importance of supervisory review

7.1

Supervisory review dan tindak lanjut (actions)

Oleh sebab itu, bank menjadi termotivasi baik secara komersial maupun prudential untuk mengembangkan dan mempertahankan kualitas proses kebutuhan modal. Ini merupakan faktor kunci pada proses supervisory review, yang memastikan bahwa proses regulasi merupakan bagian dari proses manajemen bank. Namun perlu dicatat bahwa peningkatan modal tidak menggantikan kewajiban bank untuk memperbaiki kelemahan dalam sistim pengendalian kontrol yang tidak memadai atau gagal.

7.1 The importance of supervisory review

7.1

Supervisory review dan tindak lanjut (actions)

Meskipun Supervisor dapat meminta bank meningkatkan rasio kecukupan modal kepada bank apabila ditemukan kelemahan dalam proses supervisi, Supervisor juga dapat menggunakan cara lain untuk memperbaiki kelemahan bank tersebut, yaitu: • menetapkan target untuk memperbaiki struktur manajemen risiko • mensyaratkan prosedur internal yang lebih ketat • memperbaiki kualitas staff melalui pelatihan atau penerimaan baru

7.1 The importance of supervisory review

7.1

Supervisory review dan tindak lanjut (actions)

Dalam hal yang ekstrim, Supervisor dapat membatasi tingkat risiko atau aktivitas bisnis bank hingga permasalahan bank tersebut dapat diatasi. Misalnya Supervisor dapat memaksa bank untuk berhenti beraktivitas pada segmen pasar tertentu, hingga permasalahan pada segmen tersebut dapat diatasi. The Basel Committee memandang bahwa pengawasan Supervisor sebagai suatu dialog antara bank dengan pihak otoritas, sehingga permasalahan yang timbul dapat diketahui lebih awal dan tindakan dapat segera diambil sehingga modal bank dapat kembali pada tingkat yang mencukupi.

7 Pengantar Pengawasan Supervisor dan persyaratan Keterbukaan bank
7.2 Uraian Ringkas empat prinsip utama

7.2 An overview of the four key principles

7.2 Sekilas mengenai empat prinsip utama
The Basel Committee menetapkan 25 prinsip utama pengawasan pada “Core Principles for Effective Banking Supervision”, yang dikeluarkan pada bulan September 1997, yang berisi: • pra-syarat yang harus dipenuhi agar tercipta sistim pengawasan perbankan yang efektif • Perijinan dan struktur • Ketentuan kehati-hatian • Metode pengawasan bank yang berkesinambungan • Informasi yang dibutuhkan • Kewenangan yang formal • Bank dengan operasi lintas negara Pilar 2 mengidentifikasikan empat prinsip utama dari sistim pengawasan bank untuk melengkapi 25 prinsip utama tersebut.

7.2 An overview of the four key principles

7.2.1 Prinsip 1
Banks harus mempunyai proses untuk menilai kecukupan modal sesuai dengan profil risiko bank, dan mempunyai strategi untuk mempertahankan tingkat kecukupan modalnya. Tanggung jawab manajemen bank adalah memastikan bahwa bank mempunyai modal cukup untuk mendukung kegiatan baik saat ini maupun yang akan datang. Target modal harus ditetapkan sesuai dengan profil risiko dan sistim kontrol bank. Target modal harus merupakan satu kesatuan dengan rencana strategi bank dan harus dilengkapi dengan stress testing yang memadai.

7.2 An overview of the four key principles

7.2.1 Prinsip 1

Basel II menguraikan lima fitur dari proses penilaian modal yang akurat dan berhati-hati: • Adanya pengawasan Direksi dan senior manajemen • Penilaian modal yang baik (sound) • Penilaian risiko yang menyeluruh • Pemantauan dan pelaporan • Evaluasi pengendalian intern

7.2 An overview of the four key principles

7.2.2 Prinsip 2

Supervisor harus mengevaluasi proses perhitungan dan strategi kecukupan modal bank, dan menilai kemampuan bank untuk memonitor dan mematuhi ketentuan rasio kecukupan modal. Supervisor harus melakukan tindak lanjut apabila menilai proses tersebut di bank tidak berjalan dengan baik.

7.2 An overview of the four key principles

7.2.2 Prinsip 2

Proses pengawasan rutin Supervisor harus: • menguji perhitungan eksposur risiko bank dan konversi risiko tersebut kedalam perhitungan kebutuhan modal. • focus pada kualitas proses kerja dan kualitas pengawasan intern terhadap proses tersebut • menguji kerangka penilaian modal untuk mengidentifikasikan setiap kekurangannya. • tidak memberikan rekomendasi atas struktur kerangka kerja, karena hal ini merupakan masalah manajemen bank.

7.2 An overview of the four key principles

7.2.2 Prinsip 2

Proses evaluasi dimungkinkan melalui kombinasi metode pengumpulan data sebagai berikut : • kunjungan lapangan • off-site reviews • pertemuan dengan manajemen bank • mengevaluasi hasil kerja pemantauan periodik oleh external auditor

7.2 An overview of the four key principles

7.2.3 Prinsip 3
Supervisor mengharapkan bank untuk beroperasi diatas kebutuhan modal minimum yang ditetapkan dan mempunyai kewenangan untuk meminta bank mempertahankan modalnya diatas minimum. Persyaratan modal minimum yang ditetapkan pada Pillar 1 termasuk ‘buffer’ dengan mempertimbangkan ketidak-pastian yang dapat mempengaruhi perbankan secara keseluruhan. Pillar 1 dirancang untuk menentukan kebutuhan modal minimum standar bank yang: • mempunyai sistim pengendalian kuat •mempunyai portofolio dengan risiko yang terdiversifikasi • Risiko kegiatan usahanya yang sudah dicover pada pillar 1

7.2 An overview of the four key principles

7.2.4 Prinsip 4
Supervisor harus melakukan intervensi pada tahap awal, untuk mencegah turunnya modal bank dibawah minimum yang dipersyaratkan sesuai dengan risikonya. Dan harus meminta tindakan korektif secepatnya bila modal tidak dapat dipertahankan atau ditambah.

Jika modal bank jatuh dibawah tingkat modal minimum, Supervisor akan menggunakan kewenangannya untuk mengambil tindakan guna memperbaiki situasi. Supervisor dapat meningkatkan persyaratan modal minimum bank sebagai pemecahan jangka pendek sambil berupaya mengatasi permasalahan yang ada. Persyaratan peningkatan modal akan dihentikan bila supervisor yakin bahwa bank telah dapat mengatasi kesulitan operasional.

7 Pengantar Pengawasan Supervisor dan persyaratan keterbukaan bank.
7.3 Keterbukaan/Transparansi

7.3 The nature of disclosure

7.3

Keterbukaan/Transparansi (Disclosure)

Disclosure adalah penyediaan informasi yang cukup material kepada publik untuk dapat mengevaluasi usaha perusahaan. Secara tradisional, disclosure dianggap penting karena memberikan informasi yang diperlukan oleh investor eksisting maupun calon investor mengenai kinerja perusahaan saat ini dan prospek kinerja dimasa yang akan datang. Oleh sebab itu, perusahaan yang sudah ‘go public’ harus memenuhi persyaratan keterbukaan yang lebih ketat dibanding perusahaan yang sahamnya tidak/belum diperdagangkan di bursa.

7.3 The nature of disclosure

7.3

Keterbukaan/Transparansi

Namun akhir-akhir ini, keterbukaan menjadi mekanisme yang semakin penting dalam menetapkan kebijakan publik seperti: • kewajiban dalam memperbaiki standar tata kelola perusahaan (sebagai reaksi atas terjadinya skandal Enron dan WorldCom di US dan Parmalat Italy) • meningkatkan transparansi kebijakan perusahaan yang mempengaruhi kebijakan public seperti misalnya kebijakan keuangan, tidak membedakan atas dasar etnik, masalah lingkungan dan kekayaan alam.

7.3 The nature of disclosure

7.3

Laporan Keuangan

Secara umum, perusahaan baik yang sudah go public atau tidak, diharuskan untuk membuat laporan keuangan (seperti laporan Rugi Laba, perkiraan neraca dan laporan pajak). Laporan keuangan tersebut harus ditandatangani oleh auditor eksternal dan disusun sesuai dengan prinsip2 akuntansi yang berlaku.

7.3 The nature of disclosure

7.3

Persyaratan saham untuk go public

Dalam hal perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa, perusahaan harus memenuhi persyaratan keterbukaan yang ditetapkan oleh bursa. Ketentuan bursa kadang mensyaratkan publikasi berbagai macam laporan secara terbuka dan luas (disebut dengan filings). Otoritas bursa terutama memperhatikan kepentingan pemegang saham, dan pada umumnya ketentuan tersebut meliputi laporan keuangan yang sangat detail. Otoritas bursa tidak hanya meminta calon emiten mematuhi ketentuan, tapi juga bertanggung jawab agar emiten melaksanakan ketentuan keterbukaan yang diwajibkan oleh lembaga lain yang mengatur hal tersebut.

7.3 The nature of disclosure

7.3

Perundang-undangan

Salah satu contoh dari undang-undang yang relatif baru adalah ‘the US Sarbanes–Oxley Act 2002’ yang secara hukum menetapkan akuntabilitas perusahaan. Salah satu persyaratan itu adalah bahwa CEO dan CFO dari perusahaan yang telah IPO, harus menyatakan secara terbuka (public disclosure) mengenai kebenaran laporan keuangan nya. Section 404 of the Act, juga mensyaratkan keterbukaan dokumentasi, verifikasi auditor extern terhadap kualitas pengendalian intern perusahaan dalam hal pelaporan keuangannya. Ketentuan tersebut diimplementasikan melalui SEC, lembaga pengatur bursa saham di USA.

7.3 The nature of disclosure

7.3

Manajemen Perusahaan
Karena regulator mengatur dan mensyaratkan banyak hal mengenai keterbukaan perusahaan, kita sering lupa bahwa aktivitas mana yang dipilih oleh manajemen untuk dilaporkan memberikan masukan kepada stakeholders mengenai bagaimana perusahaan dikelola. Khususnya laporan manajemen menitikberatkan pada skala prioritas, kebijakan dan kinerja sebagaimana dilihat dari sudut pandang Direksi. Dalam hal ini, banyak bank-bank besar dunia menetapkan standar yang tinggi untuk memberikan gambaran bagaimana perusahaan dikelola. Stakeholder didefinisikan pemegang saham, pegawai, nasabah dan masyarakat secara keseluruhan.

7.3 The nature of disclosure

7.3

Issue lain

Di beberapa negara, contohnya UK, ketentuan mengenai transparansi perusahaan relatif lebih ringan. Diluar hal-hal yang mencakup akun-akun keuangan, persyaratan hukum berfokus pada ketentuan pelaksanaan (codes of practice), (The Combined Code, dan principles of disclosure). Contoh: Principle D2 dari the UK Combined Code menyebutkan: “BOD harus mempunyai internal kontrol yang memadai untuk mengamankan investasi pemegang saham dan aset perusahaan”. UK companies harus memenuhi prinsip-prinsip yang ditetapkan dalam “the Combined Code”, dan menjelaskan dampaknya pada operating and Financial Review (OFR), atau menjelaskan mengapa tidak terkena dampak. Meskipun the Combine Code kurang, bila dilihat dari unsur keseragaman dibandingkan dengan aturan disclosure yang lebih detail, the Combined Code lebih fleksibel dan mudah kalau diperlukan perubahan.

7.3 The nature of disclosure

7.3

Issue lain

Terdapat beberapa badan regulasi lain, bukan saja di UK, yang dapat saja meminta bank melaksanakan prinsip keterbukaan seperti masalah pengaruh pada lingkungan, persamaan hak dan keterkaitan politik Keterbukaan adalah issue yang luas. Aspek keterbukaan yang dicakup pada Basel II hanya merupakan bagian dari kewajiban keterbukaan bank untuk melaksanakan ketentuan mengenai hukum secara umum dan ketentuan regulasi. Keterbukaan mengenai kinerja operasional perusahaan mencakup semua kebijakan dan prosedur perusahaan untuk memberikan informasi yang cukup pada investor dan analis, untuk dapat menyimpulkan kondisi dan prospek perusahaan dengan baik. Akhir-akhir ini, keterbukaan sudah menjadi kebijakan sosial sejalan dengan berubahnya paradigma perusahaan maupun pemerintah yaitu dari sudut pandang pemegang saham menjadi sudut pandang stakeholders.

Sertifikasi Risiko Bank dan Regulasi Level 1
Part C: Pengawasan, Keterbukaan dan Tata Kelola

8 Tata kelola perusahaan (Corporate governance) untuk bank
8.1 Prinsip Tata Kelola Perusahaan bagi bank

8.1 Principles of corporate governance for banks

8.1.1 Konsep dasar Tata kelola Perusahaan (corporate governance)
Tata kelola perusahaan didefinisikan sebagai hubungan antara komisaris, direksi, stake holder dan pemilik dari suatu perusahaan. Tata kelola perusahaan menciptakan struktur yang membantu bank dalam : • menetapkan tujuan • menjalankan kegiatannya sehari-hari • mempertimbangkan kepentingan pihak-pihak yang berkepentingan (stake holder) terhadap bank. • memastikan bahwa bank beroperasi secara aman dan baik. • kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. • melindungi kepentingan nasabah deposan

8.1 Principles of corporate governance for banks

8.1.1 Konsep dasar Tata kelola Perusahaan (corporate governance)
Beberapa teknik dan strategi yang diperlukan untuk menciptakan tata kelola perusahaan yang baik. Yaitu: Tata Nilai perusahaan (Corporate values), Code of conduct dan standar perilaku baik lainnya, serta sistim yang digunakan untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan tersebut. strategi perusahaan yang dijabarkan secara jelas sehingga kinerja perusahaan secara keseluruhan dan kontribusi individu dapat diukur. Pemberian wewenang dan tanggung jawab yang jelas dalam pengambilan keputusan, termasuk pengaturan bagaimana proses meminta persetujuan mulai dari pegawai level bawah sampai pada kewenangan Direksi. menetapkan mekanisme interaksi dan kerja sama diantara dewan komisaris, Direksi, manajemen senior dan auditor.

8.1 Principles of corporate governance for banks

8.1.1 Konsep dasar Tata kelola Perusahaan (corporate governance)
• sistim pemantauan yang kuat, termasuk fungsi audit intern dan extern, fungsi manajemen risiko yang terpisah dari unit usaha, dan sistim periksa silang lainnya. • Sistim pemantauan risiko khusus apabila diperkirakan akan terjadi benturan kepentingan, termasuk hubungan usaha dengan debitur yang terkait dengan bank, pemegang saham mayoritas, manajemen senior, atau pemegang kewenangan memutus utama di bank. • Imbalan berupa uang atau bersifat manajerial bagi pegawai yang berperilaku sebagaimana mestinya. Insentif berlaku bagi manajemen senior, manajer lini tengah, dan pegawai dalam bentuk kompensasi, promosi dan bentuk pengakuan lainnya. • arus informasi intern dan ekstern yang memadai

8.1 Principles of corporate governance for banks

8.1.2 Struktur tata kelola perusahaan
Terdapat berbagai variasi dalam struktur tata kelola pada bank, tergantung dari kebiasaan, batasan hukum dan sejarah perkembangan masing-masing bank. Meskipun sulit mengatakan struktur tertentu yang dapat dianggap ideal, terdapat beberapa hal dalam tata kelola yang harus dipenuhi untuk memastikan bahwa sistim periksa silang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari struktur.

8.1 Principles of corporate governance for banks

8.1.2 Struktur tata kelola perusahaan
Yaitu: • adanya sistim pengawasan oleh Dewan Komisaris, Direksi atau dewan pengawas. • ada sistim pengawasan oleh pihak yang tidak terlibat aktivitas bisnis sehari-hari. • adanya pengawasan langsung di setiap bidang kegiatan • fungsi manajemen risiko dan fungsi audit yang terpisah. • penempatan karyawan kunci yang handal dalam bidang tugasnya. • Sistim pelaporan yang teratur.

8 Tata kelola perusahaan (Corporate governance) untuk bank
8.2 Pelaksanaan dari Tata Kelola Perusahaan

8.2 Implementation of sound corporate governance

8.2.1 Menetapkan tujuan strategi dan nilai-nilai perusahaan
Penting bagi bank untuk menetapkan tujuan strategis yang jelas dan etos perusahaan. Sama pentingnya dengan mengkomunikasikan kebijakan tersebut pada seluruh jajaran bank. Bank yang tidak mempunyai tujuan strategis akan mengalami kesulitan dalam mengelola aktivitas usaha karena tidak mempunyai fokus dalam menggunakan sumber daya yang ada. Dengan menetapkan etos perusahaan, bank akan dapat melakukan aktivitasnya menurut nilai-nilai yang telah didefinisikan dengan jelas..

8.2 Implementation of sound corporate governance

8.2.1 Menetapkan tujuan strategis perusahaan serta nilai-nilai perusahaan
Nilai-nilai perusahaan harus diterapkan disemua jajaran bank termasuk Direksi. Mereka harus menanamkan motivasi untuk melaporkan semua masalah secara tepat waktu, melarang dengan tegas korupsi dan penyuapan baik intern maupun ekstern. Nilai-nilai ini harus ditunjang oleh kebijakan untuk mencegah situasi yang mengancam pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik. Kebijakan yang jelas akan mendukung nilai-nilai bank dalam menghadapi situasi seperti itu akan berjalan dengan baik. Direksi harus menjamin bahwa terdapat sistim dan proses yang berfungsi dengan baik untuk memantau dan melaporkan kepatuhan terhadap kebijakan tersebut.

8.2 Implementation of sound corporate governance

8.2.2 Wewenang dan tanggung jawab yang jelas
Agar pemantauan dan pengendalian aktivitas bank efektif, Direksi harus menetapkan garis yang jelas antara kewenangan dan tanggung jawab. Direksi sendiri harus mengikuti proses ini. Semua bidang kegiatan usaha harus mempunyai tanggung jawab yang jelas untuk memastikan bahwa setiap masalah menjadi perhatian dan mendapat tanggapan dari manajemen. Setiap pegawai juga harus jelas apa kewenangannya dan jelas tingkat kewenangan dari semua pihak yang melibatkan pegawai tersebut dalam pekerjaannya. Garis batas yang jelas dari tanggung jawab akan menciptakan lingkungan kerja yang tenang dan stabil bagi operasional bank sehari-hari dan memungkinkan terciptanya proses pengambilan keputusan yang efisien.

8.2 Implementation of sound corporate governance

8.2.3 Tanggung jawab Direksi
Direksi atau yang setingkat merupakan penanggung jawab akhir atas pengelolaan dan kinerja bank. Maka seorang Direktur harus : • memenuhi kualifikasi minimal sesuai jabatannya • memahami peranannya dalam kerangka tata kelola perusahaan • tidak terpengaruh oleh pihak dalam maupun luar perusahaan. Direksi harus menjamin bahwa mereka menerima cukup informasi untuk menilai kinerja dari bank, independen dari penilaian manajemen lainnya, pemegang saham atau pemerintah.

8.2 Implementation of sound corporate governance

8.2.3 Tanggung jawab Direksi
Direksi yang kuat akan : • memahami peranan untuk memonitor kinerja bank dan loyal pada bank dan pemegang saham. • berfungsi melakukan proses ‘check dan recheck’ dalam pekerjaan manajemen sehari-hari • tidak ada beban untuk mempertanyakan manajemen bank dan meminta penjelasan yang tuntas dari manajemen bank • merekomendasikan praktek perbankan yang lebih baik sesuai dengan yang dipelajarinya dari berbagai kesempatan. • memberikan saran dan nasihat dengan menyampingkan emosi.

8.2 Implementation of sound corporate governance

8.2.3 Tanggung jawab Direksi
Direksi yang kuat akan : • tidak berlebihan dalam bertindak • Komitmen untuk menghindari benturan kepentingan dalam melakukan aktivitas dengan organisasi lain. • Melakukan rapat berkala dengan manajemen senior dan internal audit untuk menetapkan dan menyetujui kebijakan, mengembangkan sistim komunikasi organisasi, dan memantau kemajuan pada tujuan perusahaan. • tidak membuat keputusan apabila mereka tidak dapat memberikan saran yang objektif. • tidak terlibat pada pengelolaan bank sehari-hari.

8.2 Implementation of sound corporate governance

8.2.3 Komite khusus
Sebagai tambahan, bank dapat membentuk komite khusus agar BOD dapat melakukan tugas supervisi pada lingkup tugas tertentu yang spesifik. Komite dapat dibentuk untuk bidang: • Risk Management – melakukan pengawasan pada aktivitas manajemen senior dalam mengelola risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, legal dan risiko bank lainnya. • Audit – mengawasi auditor bank baik auditor internal dan external dan memastikan bahwa manajemen sudah melakukan tindakan korektif secara tepat waktu untuk mengatasi masalah kelemahan kontrol, tidak patuh pada kebijakan, hukum dan ketentuan regulasi. • remuneration – Mengawasi kebijakan kompensasi bagi manajemen senior dan personal kunci lainnya, dan memastikan bahwa sistim kompensasi sesuai dengan budaya kerja bank, tujuan, strategi dan kontrol.

8.2 Implementation of sound corporate governance

8.2.4 Proses pengawasan oleh manajemen senior
Elemen kunci pada tata kelola perusahaan yg baik terletak pada mereka yg bertanggung jawab mengelola bank, yaitu manajemen senior. Manajemen senior harus melakukan pengawasan yang komprehensif atas bawahannya sama seperti fungsi yang dilakukan oleh BOD. Keputusan strategis utama hendaknya diputuskan lebih dari seorang manajer. Selain itu perlu dihindarkan situasi manajemen sbb. : • Manajer senior terlalu jauh terlibat dalam membuat keputusan level manajer lini. • Manajer senior yang ditugaskan bidang kerja tertentu tidak cukup memiliki keahlian yang dibutuhkan • Manajer senior yang segan melakukan pengawasan pada pegawai tertentu yang menonjol kinerjanya (misalnya trader) karena takut kehilangan pegawai tersebut.

8.2 Implementation of sound corporate governance

8.2.5 Peranan auditor intern dan ekstern
Auditor intern maupun ekstern memainkan peranan penting dalam kerangka tata kelola perusahaan. Direksi harus memahami peran penting mereka dalam dewan Direksi. Hasil perkerjaan dari auditor hendaknya digunakan sebagai validasi informasi yang diberikan oleh manajemen senior.

8.2 Implementation of sound corporate governance

8.2.5 Peranan dari auditor intern dan ekstern
Proses tersebut dapat ditingkatkan oleh Direksi : • mengakui pentingnya proses audit dan mengkomunikasikannya pada seluruh jajaran bank • Melakukan langkah yang diperlukan untuk meningkatkan independensi dan status dari auditor. • Menggunakan hasil temuan auditor secara efektif dan tepat waktu. • Memastikan independensi dari kepala Audit independen dengan menilai laporan audit pada Direksi atau pada Komite Audit. • Menggunakan jasa auditor eksternal untuk menilai efektivitas kerja dari auditor internal • Melakukan tindakan korektif segera terhadap setiap masalah yang ditemukan oleh auditor,

8.2 Implementation of sound corporate governance

8.2.6 Kebijakan Penggajian
Penting bagi Direksi untuk kebijakan kompensasi yang mencerminkan budaya, tujuan, strategi dan fungsi kontrol. Direksi harus menetapkan kompensasi bagi manajemen senior dan personal kunci. Paket kompensasi harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan motivasi manajemen senior untuk bertindak bagi kepentingan bank. Sebaiknya menghindari pengukuran kinerja jangka pendek yang akan membawa risiko pada jangka panjang. Skala gaji dan kebijakan kompensasi lainnya harus ditentukan sedemikian sehingga pegawai tidak terdorong untuk mengejar kinerja jangka pendek.

8.2 Implementation of sound corporate governance

8.2.7 Keterbukaan/Transparency
Sulit bagi stakeholders, peserta pasar dan publik pada umumnya untuk menilai efektivitas dari Direksi dan manajemen senior jika tidak ada keterbukaan mengenai struktur dan tujuan dari bank. Tata kelola perusahaan yang baik memerlukan sistim keterbukaan secara luas, oleh karena itu keterbukaan publik harus mencakup: • struktur Direksi (jumlah, keanggotaan, kualifikasi dan komite) • struktur manajemen senior (tanggung jawab, garis pelaporan, kualifikasi dan pengalaman) • struktur organisasi dasar (struktur usaha, struktur legal perusahaan) • informasi mengenai struktur insentif (kebijakan gaji, kompensasi eksekutif, bonus, opsi saham) • transaksi-transaksi dengan pihak-pihak terkait.

Sertifikasi Risiko Bank dan Regulasi Level 1
Part C: Pengawasan, Keterbukaan dan Tata Kelola

9: Kerangka regulasi dan regulasi manajemen risiko Indonesia
9.1 Peranan Bank Indonesia

9.1 The role of Bank Indonesia

9.1.1 Tujuan utama dan tugas strategis

Bank Indonesia (BI) bertindak sebagai bank sentral pada sistim perbankan Indonesia. BI merupakan lembaga yang independen dari kontrol pemerintah. Tujuan BI adalah menciptakan stabilitas nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan ini, BI bertanggung jawab untuk: • Melakukan formulasi dan implementasi kebijakan moneter • Menyelenggarakan dan mengamankan sistim pembayaran • Mengatur dan melakukan pengawasan bank-bank.

9.1 The role of Bank Indonesia

9.1.2 Kebijakan Moneter

BI melaksanakan kebijakan moneter dengan menetapkan target tingkat suku bunga resmi (official interest rate), yang dikenal dengan BI Rate. Rate tersebut, sama dengan rate pasar satu bulan dan ditetapkan sebagai bagian dari target inflasi yang ditetapkan.. BI Rate ditetapkan pada pertemuan Gubernur dan Deputy yang diselenggarakan setiap 3 bulan, meskipun pertemuan tersebut dapat dilakukan bulanan apabila dianggap perlu. Penetapan BI rate merupakan alat utama dalam melaksanakan kebijakan moneter.

9.1 The role of Bank Indonesia

9.1.2 Kebijakan moneter
Operasi pasar Bank Indonesia lainnya meliputi : • operasi pasar terbuka untuk mempengaruhi likuiditas pasar. • menetapkan giro wajib minimum (reserve requirements) untuk mempengaruhi likuiditas pasar. • bertindak sebagai “lender of last resort” untuk membantu bank yang mengalami likuiditas jangka pendek. • melaksanakan kebijakan nilai tukar untuk menjaga kestabilan nilai • mengelola cadangan devisa negara dalam mendukung perdagangan internasional..

9.1 The role of Bank Indonesia

9.1.3 Sistim Pembayaran
Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk menerbitkan dan mendistribusikan rupiah. Selain itu juga, BI bertanggung jawab terhadap sistim kliring untuk pembayaran baik dalam rupiah maupun valuta asing. Bank Indonesia telah mengembangkan sistem pembayaran nasional. Sistim tersebut menawarkan berbagai metode pembayaran, misalnya elektronik, cards, papers, notes dan DVP (fasilitas delivery versus payment), yang digunakan pada transaksi penyelesaian lintas valuta (inter-currency settlement).

9.1 The role of Bank Indonesia

9.1.3 Sistim Pembayaran

Sistim pembayaran nasional meliputi sub sistim yaitu : • Sistim kliring elektronik nasional • Sistim Skedul kliring T+0 • Sistim transaksi elektronik antar bank dan Sistim jasa informasi (Information Service System)/ (BI-LINE) • Sistim Real Time Gross Settlement System (RTGS) • Sistim transfer dana US Dollar (Fund Transfer System).

9.1 The role of Bank Indonesia

9.1.4 Peraturan dan pengawasan
Bank Indonesia membuat peraturan perbankan dan mengeluarkan ijin operasional bagi bank. Selain itu BI juga : • menyetujui pembukaan atau penutupan kantor cabang bank • menyetujui kepemilikan dan manajemen bank • memberikan ijin untuk kegiatan tertentu bank. Bank Indonesia melakukan pengawasan bank-bank melalui pengawasan langsung secara “on-site “ yaitu pengawasan ditempat/ on-site presence (OSP). “ Selain itu BI juga melakukan pengawasan secara ‘off-site” melalui laporan-laporan bank yang disampaikan bank kepada BI

9: Kerangka regulasi dan regulasi manajemen risiko Indonesia
9.2 Manajemen Risiko – Struktur dan ruang lingkup

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.1 Ketentuan yang berlaku
Ketentuan umum bagi bank-bank dalam mengaplikasikan manajemen risiko, diatur dalam ketentuan Bank Indonesia no 5/8/PBI/2003: “Pedoman Pelaksanaan manajemen Risiko untuk bank umum". Ketentuan ini menekankan pada risiko yang melekat pada setiap aktivitas bank dan struktur kontrol yang diperlukan untuk mengendalikan risiko tersebut, termasuk proses: • identifikasi • pengukuran • monitor • kontrol.

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.2 Pengelolaan risiko yang terintegrasi

Pengelolaan risiko yang terintegrasi, menurut ketentuan Bank Indonesia, mengharuskan bank untuk : • mengelola risikonya dalam suatu struktur manajemen yang terintegrasi • membangun sistem informasi dan struktur manajemen yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.3 Pelaksanaan ketentuan no. 5/8/PBI/2003

Ketentuan ini berlaku bagi bank komersial yang didefinisikan sebagai berikut : • bank yang didirikan dengan badan hukum PT • banks yang didirikan dengan hukum Perusahaan daerah • banks yang didirikan berbentuk badan hukum Koperasi • cabang bank asing.

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.4 Ruang lingkup manajemen risiko
Manajemen dari setiap bank mempunyai tugas untuk secara efektif mengelola risiko yang timbul akibat kegiatan bank, Untuk itu diperlukan: - Pengawasan aktif dewan Komisaris dan Direksi • Kecukupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit • Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko • Sistim informasi yang memadai untuk pengelolaan risiko • Sistim pengendalian intern yang menyeluruh.

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.5 Struktur Manajemen Risiko

Direksi dan senior manajemen yang secara formal harus melaksanakan kebijakan manajemen risiko yang efektif, harus memperhitungkan : • Tujuan dan kebijakan bank • kompleksitas dari model bisnis bank • kemampuan bank dalam mengelola risiko usaha.

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.5 Struktur Manajemen Risiko
Bank Indonesia mengharapkan bank yang mempunyai kegiatan usaha yang sangat kompleks, termasuk transaksi obligasi dan mata uang asing, penempatan dalam mata uang asing dan sekuritisasi, harus mempunyai struktur manajemen risiko yang lebih kompleks dibanding bank yang kegiatannya relatif sederhana. Struktur harus dibuat sedemikian rupa sehingga setiap unit bisnis terpisah dari internal audit dan unit risk management. Berikut ini adalah salah satu contoh struktur organisasi dari suatu bank besar.

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.5 Struktur Manajemen Risiko
Board of Commissioners

Board of Directors

Risk Management Committee

Compliance Director

Line Management

Risk Director

Compliance Unit Management Line

Business Units Reporting Line

Risk Management Unit Membership Line

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.6 Risiko bank yang perlu dikelola

Bank Indonesia mengharuskan struktur manajemen setiap bank mencakup risiko sebagai berikut : • risiko pasar (market risk) • risiko kredit • risiko operasional • risiko likuiditas

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.6 Risiko Bank yang perlu dikelola

Risiko pasar timbul karena pergerakan variabel pasar (adverse movement) pada portofolio bank yang dapat menyebabkan kerugian bank. Variabel pasar adalah suku bunga dan kurs mata uang, termasuk risiko perubahan dari harga opsi. Risiko kredit adalah risiko counterparty gagal membayar kewajiban. Risiko kredit mungkin timbul dari berbagai jenis kegiatan bank, misalnya kredit, treasury, pembiayaan perdagangan (trade financing). Transaksi ini dapat dicatat dalam banking book maupun trading book.

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.6 Risiko Bank yang perlu dikelola

Risiko operasional adalah risiko yang timbul karena proses internal tidak memadai atau tidak berfungsi, akibat faktor kesalahan manusia, kegagalan sistim, atau faktor eksternal yang dapat mempengaruhi operasi bank. Risiko likuiditas adalah risiko yang disebabkan bank tidak mampu memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo.

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.6 Risiko Bank yang memerlukan pengelolaan

Jika bank mempunyai kegiatan usaha yang beragam dan kompleks, Bank Indonesia mengharapkan bank juga mengelola risiko : • Risiko hukum • risiko reputasi • risiko strategis • risiko kepatuhan.

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.6 Risiko Bank yang perlu dikelola

Risiko Hukum adalah risiko yang disebabkan oleh adanya kelemahan aspek yuridis. Kelemahan aspek yuridis antara lain berpotensi menimbulkan tuntutan hukum. Kelemahan dalam melakukan ikatan perjanjian seperti keabsyahan kontrak tidak sempurna. Atau pengikatan agunan yang tidak sempurna. Risiko Reputasi adalah risiko antara lain disebabkan adanya publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha bank atau persepsi negatif terhadap bank.

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.6 Risiko Bank yang perlu dikelola
Risiko Strategik adalah risiko disebabkan adanya penetapan dan pelaksanaan strategi bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat atau kurang responsif terhadap perubahan eksternal. Risiko Kepatuhan adalah risiko yang disebabkan karena bank tidak mematuhi atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku..

Bila Bank mengalami kerugian karena keempat risiko terakhir, maka bank tersebut diminta untuk memantau risiko tsb dimasa yang akan datang.

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.7 Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi

Tanggung jawab utama Dewan Komisaris dan Direksi adalah menetapkan risiko apa saja yang perlu dikelola dikaitkan dengan kompleksitas kegiatan bank. Mereka juga harus menetapkan pembagian wewenang dan tanggung jawab untuk pengelolaan risiko tersebut diantara Direksi dan senior manajemen.

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.7 Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi
Kewenangan dan tanggung jawab Dewan Komisaris dan Direksi meliputi : • Menyetujui dan mengevaluasi kebijakan Manajemen Risiko. • Pembagian tanggung jawab manajemen untuk pelaksanaan Manajemen Risiko. • Menentukan transaksi-transaksi yang memerlukan persetujuan Direksi atau komisaris. Contoh transaksi yang memerlukan persetujuan Direksi, misalnya pemberian kredit/penerimaan deposito kepada/dari debitur individu yang jumlahnya melebihi jumlah tertentu, misalnya 5% dari modal bank.

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.7 Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi
Dalam hal kredit atau deposito, yang melebihi limit tertentu, akan menyebabkan risiko akibat terjadinya konsentrasi, bank akan terpengaruh apabila debitur gagal membayar kembali atau deposan tiba-tiba menarik dananya. Meskipun tidak terbatas pada keputusan menyangkut risiko konsentrasi, pada umumnya bank akan memperhatikan hal tersebut, demikian pula Bank Indonesia, yang akan melakukan prosedur agar setiap masalah konsentrasi akan menjadi perhatian Direksi

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.7 Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi
Kewenangan dan tanggung jawab manajemen meliputi : • Melakukan dokumentasi yang menjelaskan kebijakan dan strategi Manajemen Risiko Bank. • pelaksanaan kebijakan Manajemen Risiko khususnya menetapkan tingkat risiko yang disetujui. (risk appetite) • menentukan transaksi yang memerlukan persetujuan Direksi. • mengembangkan budaya manajemen risiko pada seluruh jenjang organisasi. • memastikan peningkatan kompetensi sumber daya manusia yang terkait dengan Manajemen Risiko. • menjamin bahwa fungsi manajemen risiko telah beroperasi secara independen

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.7 Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi
• Secara periodik mengevaluasi: • Akurasi metodologi penilaian risiko, dibandingkan dengan kerugian yang terjadi. • kecukupan implementasi sistim informasi manajemen yang tercermin dari kualitas data.

• ketepatan kebijakan, prosedur dan penetapan limit risiko

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.7 Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi
perhitungan dan pelaporan: • risiko bank secara keseluruhan (overall risk appetite atau jumlah risiko yang ingin diambil) • profile risiko bank keseluruhan (yaitu distribusi risiko diantara unit bisnis) • kemampuan bank dalam mengelola risiko dengan sistim limit dan profile risiko yang telah ditetapkan.

9: Kerangka regulasi dan regulasi manajemen risiko Indonesia
9.3 Manajemen Risiko – penetapan limit

9.3 Risk management – limit setting

9.3.1 Kebijakan, prosedur dan penetapan limit

Kebijakan Manajemen Risiko harus memuat penilaian risiko yang berhubungan dengan setiap produk dan transaksi. Penilaian harus mencakup: • metode yang memadai untuk mengukur risiko • informasi yang diperlukan untuk menilai risiko (diambil dari sistim informasi) • penetapan limit total risiko yang sejalan dengan toleransi risiko oleh bank • proses penilaian peringkat risiko • penyusunan rencana darurat dalam kondisi terburuk ( worst case scenario) • memastikan semua risiko sudah dilakukan kontrol yang memadai (misalnya kaji ulang secara berkala)

9.3 Risk management – limit setting

9.3.2 Prosedur dan penilaian limit risiko
Direksi dan manajemen senior harus menciptakan proses untuk menetapkan toleransi risiko (risk appetite) dari bank, yang selanjutnya menjadi dasar penetapan limit risiko. Penetapan limit risiko harus: • tertulis dan secara jelas mengatur sistim pendelegasian wewenang untuk memastikan tanggung jawab masing-masing (wewenang biasanya sudah menjadi satu kesatuan dengan uraian pekerjaan pegawai, yang menjelaskan bagaimana sistim pertanggungjawaban pada seluruh level organisasi.

9.3 Risk management – limit setting

9.3.2 Prosedur dan Penetapan limit risiko
Penetapan limit risiko harus meliputi : • Baik limit keseluruhan maupun limit untuk setiap periode waktu tertentu yang relevan. Dalam hal ini, limit ditentukan secara berjenjang misalnya limit interest rate pada kontrak forward. Dokumentasi lengkap diperlukan agar monitoring terhadap ketaatan pada ketentuan limit dapat dilaksanakan, termasuk laporan mengenai peran serta trader, penilaian kinerja tahunan, pedoman sistim wewenang dan kontrol dsb.

9.3 Risk management – limit setting

9.3.2 Prosedur dan Penetapan limit

Limit risiko harus ditetapkan : • secara keseluruhan, misalnya toleransi risiko (risk appetite) • masing-masing jenis risiko, (misalnya risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional, risiko likuiditas dsb) • berdasarkan fungsi, (misalnya Treasury, cabang, Unit Manajemen Risiko dan Direksi).

9: Kerangka regulasi dan regulasi manajemen risiko Indonesia
9.4 Manajemen Risiko – informasi dan analisa

9.4 Risk management – information and analysis

9.4.1 Proses identifikasi

Direksi mempunyai tugas umum untuk memastikan bahwa: • semua risiko (risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko likuiditas, dsb) dapat diidentifikasi • semua risiko utama dapat diukur, dimonitor dan dikendalikan dengan baik. • pengukuran risiko tersebut ditunjang oleh sistim informasi yang up to date, akurat dan lengkap.

9.4 Risk management – information and analysis

9.4.1 Proses Identifikasi
Identifikasi faktor risiko tersebut pada umumnya dilakukan oleh Unit Manajemen Risiko dengan bekerja sama dengan unit bisnis misalnya unit trading (trading departments). Selain mengidentifikasi faktor risiko, Unit Manajemen Risiko mengupayakan data harga penutupan dari faktor risiko untuk setiap faktor risiko. Hal ini untuk memastikan bahwa penentuan posisi bank ditetapkan secara independen terpisah dari trader. Proses ini dilengkapi dengan analisa harian mengenai kinerja aktivitas trading untuk memastikan bahwa laba rugi yang dilaporkan konsisten dengan profile risiko bank.

9.4 Risk management – information and analysis

9.4.2 Implementasi dan pemantauan

Proses analisa risiko harus mengidentifikasi semua karakteristik risiko bank (biasanya dimulai dengan menguraikan semua jenis usaha yang dilakukan, dan apa saja risiko yang melekat pada setiap produk dan kegiatan usaha bank tersebut. Proses ini meliputi rincian berdasarkan faktor risiko, dan juga mempertimbangkan adanya risiko kinerja (performance risk) dan confidentiality risk.

9.4 Risk management – information and analysis

9.4.2 Implementasi dan pemantauan
Pengukuran risiko atas dasar produk dan aktivitas bisnis harus dilakukan sebagai berikut: • • • • dilaporkan berdasarkan periode waktu (apabila relevan) Menjelaskan sumber data yang digunakan Menjelaskan prosedur yang digunakan untuk mengukur risiko dapat menunjukan kapan setiap perubahan profil risiko bank terjadi.

Proses pemantauan risiko harus mengevaluasi seluruh eksposur risiko dan menciptakan proses pelaporan yang mencerminkan setiap perubahan profile risiko bank.

9.4 Risk management – information and analysis

9.4.3 Manajemen dan kontrol
Proses manajemen risiko harus menciptakan struktur yang dapat mengelola setiap risiko yang diperkirakan berpotensi mengancam kelangsungan usaha bank.. Akhir nya proses kontrol risiko harus meliputi proses manajemen aset dan liability (ALM) untuk mengelola : • risiko nilai tukar • risiko suku bunga • risiko likuiditas. Proses tersebut sudah cukup memadai bagi bank dengan kegiatan relatif sederhana.

9.4 Risk management – information and analysis

9.4.4 Sistim informasi
Sistim informasi Manajemen Risiko harus mampu menginformasikan: • semua eksposur risiko • Eksposur risiko yang terjadi dibandingkan dengan limit yang ditetapkan • kerugian aktual yang terjadi akibat mempertahankan posisi risiko dibandingkan dengan tingkat kerugian yang ditetapkan atas dasar toleransi risiko (risk appetite). Direktur Risiko (Chief Risk Officer ) harus secara rutin mengevaluasi laporan risiko yang dihasilkan oleh sistim Manajemen risiko.

9: Kerangka regulasi dan regulasi manajemen risiko Indonesia
9.5 Manajemen Risiko – Pengawasan Intern

9.5 Risk management – internal controls

9.5.1 Sistim Pengawasan Intern

• Direksi bank mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa secara umum bank telah melaksanakan pengawasan intern di setiap kegiatan/operasional bank. • Sistim pengawasan intern harus dapat mengidentifikasikan setiap kegagalan pengawasan dan setiap penyimpangan dari kebijakan, prosedur dan proses yang telah ditetapkan secara tertulis.

9.5 Risk management – internal controls

9.5.1 Sistim Pengawasan Intern Sistim pengawasan intern harus :
• memenuhi ketentuan Bank Indonesia • memenuhi ketentuan intern bank yang telah ditetapkan oleh Direksi. • menyediakan informasi keuangan untuk keperluan pelaporan yang lengkap, akurat, tepat guna, dan tepat waktu. • cukup memadai untuk mendukung manajemen dalam proses keputusan pengambilan risiko. • menciptakan budaya risiko pada organisasi bank secara menyeluruh.

9.5 Risk management – internal controls

9.5.2 Sistim Pengendalian Intern dan Pelaksanaan Manajemen Risiko - Peranan Internal Audit
Internal Audit merupakan fungsi independen pada bank. Peranan utama internal audit adalah melaksanakan penilaian yang terus menerus melalui laporan khususnya analisa metodologi, prosedur dan proses pada organisasi Manajemen Risiko bank.. Pelaporan Internal Audit langsung ditujukan pada Direktur Utama dan tidak kepada Direksi bidang manajemen risiko ( Chief Risk Officer).

9.5 Risk management – internal controls

9.5.2 Sistim Pengendalian Intern dan Pelaksanaan Manajemen Risiko – Peranan Internal Audit
Laporan Internal Audit pada umumnya meliputi : • Kesesuaian Sistim Pengendalian Intern dengan risiko yang dihadapi oleh bank • Penilaian kepatuhan terhadap kebijakan, prosedur dan limit yang telah dibuat dan disetujui oleh Bank Indonesia • fungsi pengendalian manajemen risiko yang independen/terpisah dari fungsi manajemen bisnis.

9.5 Risk management – internal controls

9.5.2 Sistim Pengendalian Intern dan Pelaksanaan Manajemen
Risiko – Peranan Internal Audit Laporan tertulis pada umumnya mencakup : • Struktur dari bank, yang menunjukkan organisasi dimana terdapat pemisahan yang jelas antara wewenang dan garis pelaporan dari unit manajemen risiko, unit bisnis dan audit intern. Laporan mencakup antara lain bagan organisasi yang menjelaskan sistim pelaporan dilengkapi dengan uraian pekerjaan, limit dan kewenangan dari semua pegawai. • Laporan yang akurat dan tepat waktu khususnya laporan keuangan dan informasi manajemen • Kepatuhan terhadap ketentuan Bank Indonesia dan ketentuan lain yang disyaratkan oleh Bank Indonesia sebagai pengawas dari bank. (misalnya apabila BI meminta hasil dari proses supervisory control)

9.5 Risk management – internal controls

9.5.2

Sistim Pengendalian Intern dan Pelaksanaan Manajemen Risiko – Peranan Internal Audit

Laporan Internal Audit pada umumnya mencakup : • kebebasan dan objektivitas dari fungsi manajemen risiko • tersedianya informasi yang memadai untuk mendukung proses pengambilan keputusan oleh manajemen. • dokumentasi yang memadai untuk mendukung proses operasi (biasanya melalui peta produksi dari awal sampai akhir) • tanggapan dari manajemen, baik dari sisi kualitas maupun waktu terhadap permintaan Audit Intern dan extern • Tanggapan manajemen terhadap setiap kelemahan operasional yang dilaporkan.

9: Kerangka regulasi dan regulasi manajemen risiko Indonesia
9.6 Manajemen Risiko – Unit Manajemen Risiko

9.6 Risk management – the risk management unit

9.6.1 Organisasi Manajemen Risiko
Direksi berkewajiban untuk membentuk struktur organisasi untuk mengelola risiko bank yang meliputi Komite Manajemen Risiko dan Unit Manajemen Risiko. Keanggotaan Komite Manajemen Risiko harus terdiri dari mayoritas Direksi dan senior manajemen yang terlibat..

9.6 Risk management – the risk management unit

9.6.1 Organisasi Fungsi Manajemen Risiko
Komite Manajemen Risiko harus memberikan rekomendasi kepada Direktur Utama mengenai hal sebagai berikut : • Kebijakan risiko, strategi dan implementasi. • setiap perubahan proses yang direkomendasikan oleh Internal Audit atau evaluasi proses manajemen risiko lainnya. • menjelaskan kepada Bank Indonesia dan kepada Direksi setiap keputusan bank yang bertentangan dengan kebijakan manajemen risiko yang telah ditetapkan.

9.6 Risk management – the risk management unit

9.6.2 Organisasi Fungsi Unit Manajemen Risiko

Persyaratan utama dari struktur unit manajemen risiko : • harus cukup memadai untuk dapat mengendalikan kompleksitas dan besarnya risiko yang akan diambil sesuai kebijakan bank. • mempunyai unit operasional dan pelaporan yang terpisah dari unit bisnis (misalnya. Cabang dan manajemen, kelompok perkreditan, Treasury) • melapor kepada Direktur manajemen risiko ( Chief Risk Officer).

9.6 Risk management – the risk management unit

9.6.2 Organisasi Fungsi Unit Manajemen Risiko
Unit Manajemen Risiko bertanggung jawab untuk : • memantau pelaksanaan strategi manajemen risiko yang telah ditetapkan Direksi dan disetujui oleh Bank Indonesia. • memantau seluruh risiko yang dihadapi bank dan membandingkan dengan toleransi risiko (appetite) sesuai ketentuan yang sudah ditetapkan bank dan Bank Indonesia. • memantau tingkat risiko yang terjadi dibandingkan dengan limit risiko yang telah ditetapkan untuk setiap jenis risiko. (misalnya. risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional) • melaksanakan stress tests

9.6 Risk management – the risk management unit

9.6.2 Organisasi Fungsi Unit Manajemen Risiko
• melakukan evaluasi secara periodik atas prosedur dan proses manajemen risiko (e.g. proses persetujuan kredit, proses pengelolaan piutang macet, dsb) • menganalisa usulan untuk produk dan jasa baru • secara periodik melakukan analisa kemampuan model untuk memprediksi hasil dari suatu proses pengambilan risiko dibandingkan dengan kenyataan yang terjadi, (mis. Memantau kredit macet yang terjadi dibandingkan dengan yang diprediksi oleh model yang digunakan (grading models) • merekomendasikan kepada Komite Manajemen Risiko mengenai semua aspek proses manajemen risiko. • melaporkan secara rutin, profile risiko bank kepada Kepala Manajemen Risiko dan Komite Manajemen Risiko.

9.6 Risk management – the risk management unit

9.6.3 Unit Bisnis dan Unit Manajemen Risiko
Unit bisnis (mis. Unit Perdagangan, Unit Kredit, corporate finance) harus melaporkan posisi risiko (risk exposure) secara lengkap kepada Unit Manajemen Risiko secara rutin atau per periode yang telah ditentukan.

9: Kerangka regulasi dan regulasi manajemen risiko Indonesia
9.7 Manajemen Risiko – produk dan jasa baru

9.7 Risk management – new products and services

9.7.1 Produk dan aktivitas atau jasa baru
Banks harus mendokumentasikan proses dan prosedur produk dan jasa baru yang akan diluncurkan, termasuk otorisasi manajemen. Dokumentasi tersebut harus meliputi: • sistem dan prosedur serta kewenangan dalam pengelolaan produk dan aktivitas baru • identifikasi seluruh risiko yang terkait dengan produk dan aktivitas baru. • analisa aspek hukum yang berhubungan dengan produk dan jasa baru tersebut • sistim informasi akuntansi untuk produk dan aktivitas baru

9: Kerangka regulasi dan regulasi manajemen risiko Indonesia
9.8 Manajemen Risiko Pelaporan

9.8 Risk management – reporting requirements

9.8.1 Laporan profile risiko
Bank harus melaporkan profile risikonya kepada Bank Indonesia. Dan laporan tersebut harus memuat informasi yang sama dengan laporan Unit Manajemen Risiko kepada Direksi dan Komite Manajemen Risiko.. Laporan tersebut harus dibuat per-triwulan dan disampaikan kepada Bank Indonesia selambat-lambatnya 7 hari setelah triwulan yang bersangkutan berakhir.

9.8 Risk management – reporting requirements

9.8.2 Laporan Produk dan kegiatan baru

Bank harus melaporkan produk dan aktivitas baru kepada Bank Indonesia. Laporan tersebut harus meliputi seluruh produk dan kegiatan baru dan disampaikan ke Bank Indonesia per triwulan dalam waktu 7 hari setelah triwulan berakhir.

9.8 Risk management – reporting requirements

9.8.3 Laporan Kerugian yang material

Setiap kerugian yang dialami dan jumlahnya material harus dilaporkan kepada Bank Indonesia segera.

9.8 Risk management – reporting requirements

9.8.4 Penerbitan Laporan

Untuk tujuan transparansi, banks harus menerbitkan laporan yang memadai mencakup kebijakan manajemen risiko dan strategi, serta ketaatan terhadap limit risiko, sebagai tambahan laporan mengenai kondisi keuangan. Semua laporan yang diterbitkan harus mendapat persetujuan Bank Indonesia.

9: Kerangka regulasi dan regulasi manajemen risiko Indonesia
9.9 Manajemen Risiko – Sanksi Bank Indonesia

9.9 Risk management – supervisory sanctions

9.9.1 Sanksi Ketidak-patuhan

Bank Indonesia mempunyai kewenangan untuk memberikan sanksi kepada bank yang tidak mematuhi ketentuan perbankan. Sanksi tersebut dapat berupa denda atau penalti hingga pencabutan ijin bank.