Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN Generasi muda merupakan salah satu komponen yang perlu dilibatkan dalam suatu pembangunan, karena

memiliki sumber daya yang potensial untuk mendukung keberhasilan pembangunan dalam masyarakat. Secara konseptual, definisi mengenai generasi muda dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti dari aspek biologi; aspek budaya; aspek hukum dan politik; serta aspek psikologis. Pada dasarnya, generasi muda adalah manusia yang berusia antara lima belas hingga tiga puluh tahun. Demikian pula dalam hal semangat dan idealisme, generasi muda dikenal sebagai kelompok masyarakat yang memiliki kreativitas dan gagasan-gagasan baru dalam memandang suatu permasalahan. Akan tetapi, potensi ini seringkali belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan keterlibatan generasi muda pun cenderung dimobilisasi untuk kepentingan elit tertentu. Padahal, dari segi kuantitas, generasi muda sebenarnya merupakan satu representasi dari kekuatan politik tersendiri yang mampu mempengaruhi pembuatan kebijakan. Dilihat dari segi kebutuhan, generasi muda adalah sumber daya manusia bagi masa yang akan datang. Sebagai potensi daerah dan bangsa, generasi muda perlu dipersiapkan agar berpartisipasi aktif dan dapat memberikan sumbangan yang positif dalam berbagai proses pembangunan daerah atau nasional. Generasi muda tidak hanya dijadikan obyek, tetapi juga ditempatkan sebagai subyek dalam pembangunan. Dalam upaya mempersiapkan, membangun dan memberdayakan generasi muda agar mampu berperan sebagai pelaku-pelaku aktif pembangunan, maka semua itu dihadapkan pula pada berbagai permasalahan dan tantangan terutama menyangkut moralitas, misalnya dengan munculnya berbagai permasalahan sosial yang melibatkan atau dilakukan generasi muda seperti tawuran dan kriminalitas lain, penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif, minuman keras, penyebaran penyakit HIV/Aids dan penyakit menular, penyaluran aspirasi dan partisipasi yang tidak pada tempatnya, serta apresiasi negatife terhadap kalangan generasi muda. Apabila permasalahan tersebut tidak memperoleh perhatian atau penanganan yang
1

sesuai, maka dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang luas dan mengganggu kesinambungan, kestabilan dalam proses pembangunan. Permasalahan lainnya terkait dengan generasi muda adalah ketahanan budaya dan kepribadian, khususnya budaya Sunda yang makin lama keberadaannya dikalangan generasi muda semakin luntur, hal ini disebabkan cepatnya perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi, derasnya arus informasi global yang berdampak pada penetrasi budaya asing. Hal ini mempengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku generasi muda Sunda di Jawa Barat. Persoalan tersebut dapat dilihat dari kurang berkembangnya kemandirian, kreativitas, serta produktivitas dikalangan generasi muda, sehingga generasi muda Sunda kurang dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan yang sesuai dengan karakter daerah. Cepat atau lambat, hal ini akan mengancam upaya pembentukan moral dan agama yang kuat di kalangan generasi muda. Pembentukan moralitas generasi muda sangat berpengaruh terhadap keberhasilan generasi muda itu sendiri dalam membangun karakter kehidupannya, dan kehidupan masyarakat secara umum. Karena suatu bangsa dikatakan mempunyai peradaban luhur, jika masyarakatnya mempunyai moral yang luhur, dengan kata lain moral generasi muda lah yang akan menjadi penentu masa depan suatu bangsa.

II RUMUSAN MASALAH Sunda sebagai suatu etnik, menyisakan aneka warisan kultural dalam kehidupan masyarakat di Jawa Barat, kendati tidak seluruhnya warga Jawa Barat ini bersuku Sunda. Perkembangan zaman, tentunya menyebabkan sunda saat ini bermetamorfosa, baik secara kultural, sosial, filsafat, dan pandangan hidup ke arah yang sesuai perkembangan zaman. Dapat dikatakan orang Sunda zaman dulu akan berbeda dengan generasi sunda saat ini. Kini, generasi muda sunda banyak yang tidak mengindahkan warisan kultural sunda, karena adanya pergesekan sunda dengan kebudayaan luar, sehingga mereka merepresi jati diri kebudayaannya ke alam bawah sadar. Utamanya, nonoman (anak muda) yang lebih tertarik dengan kebudayaan Barat yang lebih maju dan trendy, hingga generasi sunda sekarang menjadi gagap dengan kebudayaannya sendiri. Akibatnya berpengaruh pada moralitas generasi muda sunda yang kian hari kian jauh dari nilai-nikai kesundaannya. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat para ahli sosial bahwa masalah antar generasi kurang dan hampir tidak terdapat dimasyarakat tradisional. Dengan demikian jelaslah sudah, jika para generasi sunda, sudah hampir melupakan nilainilai yang diajarkan dalam budaya sunda sebagai ciri jati dirinya. Dengan kata lain masalah antar generasi merupakan suatu masalah modern. Berbagai macam permasalahan generasi muda yang muncul pada saat ini antara lain : 1. Menurunnya jiwa idealisme, patriotisme dan nasionalisme dikalangan generasi muda sunda. 2. Kekurang pastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya. 3. Belum seimbangannya antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia, baik yang formal maupun non formal. 4. Kekurangan lapangan dan kesempatan kerja serta tinggi nya tingkat pengangguran dan setengah pengangguran dikalangan generasi muda

mengakibatkan berkurangnya produktifitas oleh nilai-nilai kekuasaan dan sebagainya. 5. Masih langkanya pengalaman-pengalaman yang dapat merelefansikan pendapat sikap dan tindakannya dengan kenyataan yang ada. Semua permasalahan generasi muda tersebut diatas, akan berujung pada satu masalah yang merupakan hal paling penting dalam mempengaruhi kehidupan sekarang dan kehidupan di masa yang akan datang para generasi muda, yaitu masalah moralitas. Dimana harapan-harapan besar yang ada pada generasi muda, baik harapan pribadi maupun harapan dari masyarakatnya, tidak akan menjadi sebuah kenyataan. Ada lima penanda moral yang harus dijadikan acuan berperilaku hidup agar menjadi penanda bahwa masyarakat sunda merupakan masyarakat yang berperadaban luhur. Khususnya bagi generasi muda sunda sebagai tonggak pembangunan kehidupan di masa depan. Ironisnya saat ini lima penanda moral tersebut seakan-akan tidak menampakan kualitasnya. Hal ini akibat menurunnya moralitas masyarakat itu sendiri,terutama generasi mudanya. Kelima penanda moral tersebut adalah : 1. Moral manusia terhadap Tuhannya, ditandai dengan kualitas IMTAQ (Iman dan Taqwa) 2. Moral manusia terhadap pribadinya, ditandai dengan kualitas SDM 3. Moral manusia terhadap manusia, ditandai dengan kualitas silaturahmi kemanusiaannya 4. Moral manusia terhadap alamnya, ditandai dengan kesadaran ekologi atau lingkungan hidupnya 5. Moral manusia dalam mencapai kebahagiaan lahir batinnya, ditandai dengan etikanya,tahu batas, menghargai Hak Azasi Manusia (HAM) dan melaksanakan Kewajiban Azasi Manusia (KAM).

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Moral Istilah Moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata moral yaitu mos sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan dengan arti kata etika, maka secara etimologis, kata etika sama dengan kata moral karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan,adat. Dengan kata lain, kalau arti kata moral sama dengan kata etika, maka rumusan arti kata moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Moral juga dapat diartikan sebagai sikap, perilaku ,tindakan, kelakuan yang dilakukan seseorang pada saat mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara hati, serta nasihat dll. Moralitas (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral, hanya ada nada lebih abstrak. Berbicara tentang moralitas suatu perbuatan, artinya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya perbuatan tersebut. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. Dalam kamus Umum bahasa Indonesia Moral diartikan sebagai penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangai dinyatakan benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut. Moral dalam istilah dipahami juga sebagai : 1. prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk. 2. kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah. 3. ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik. Moralitas biasanya adalah suatu istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai
5

positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu, tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai keabsolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Pendapat lain menyebutkan, moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (Bertens, 2002:7). Moralitas juga berperan sebagai pengatur dan petunjuk bagi manusia dalam berperilaku agar dapat dikategorikan sebagai manusia yang baik dan dapat menghindari perilaku yang buruk (Keraf, 1993: 20). Dengan demikian, manusia dapat dikatakan tidak bermoral jika ia berperilaku tidak sesuai dengan moralitas yang berlaku. Velazquez memberikan pemaparan pendapat para ahli etika tentang lima ciri yang berguna untuk menentukan hakikat standar moral (2005:9-10). Kelima ciri tersebut adalah sebagai berikut: 1. Standar moral berkaitan dengan persoalan yang dianggap akan merugikan secara serius atau benar-benar menguntungkan manusia. Contoh standar moral yang dapat diterima oleh banyak orang adalah perlawanan terhadap pencurian, pemerkosaan, perbudakan, pembunuhan, dan pelanggaran hukum. 2. Standar moral ditetapkan atau diubah oleh keputusan dewan otoritatif tertentu. Meskipun demikian, validitas standar moral terletak pada kecukupan nalar yang digunakan untuk mendukung dan membenarkannya.
6

3. Standar moral harus lebih diutamakan daripada nilai lain termasuk kepentingan diri. Contoh pengutamaan standar moral adalah ketika lebih memilih menolong orang yang jatuh di jalan, ketimbang ingin cepat sampai tempat tujuan tanpa menolong orang tersebut. 4. Standar moral berdasarkan pada pertimbangan yang tidak memihak. Dengan kata lain, pertimbangan yang dilakukan bukan berdasarkan keuntungan atau kerugian pihak tertentu, melainkan memandang bahwa setiap masing-masing pihak memiliki nilai yang sama. 5. Standar moral diasosiasikan dengan emosi tertentu dan kosakata tertentu. Emosi yang mengasumsikan adanya standar moral adalah perasaan bersalah, sedangkan kosakata atau ungkapan yang merepresentasikan adanya standar moral yaitu ini salah saya, saya menyesal, dan sejenisnya.

B. Pengertian Generasi Muda Generasi Muda adalah kata yang mempunyai banyak pengertian, namun dari pengertian-pengertian generasi muda mengarah pada satu maksud yaitu kumpulan orang-orang yang masih memunyai jiwa, semangat, dan ide yang masih segar dan dapat menjadikan komunitas atau lingkungannya lebih baik, orangorang yang mempunyai pemikiran yang visioner. Bahkan revolusi suatu bangsa itu biasanya didobrak oleh generasi mudanya. Terlepas dari apakah pemuda itu perlu digolongkan berdasarkan umur atau tidak. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Menteri Pemuda dan Olah raga Adiaksa Daud bahwa nanti akan ada pengaturan pemuda itu berdasarkan umur atau semangat. Pelopor yang melakukan langkah-langkah konkret bagi perubahan bangsa kearah yang lebih baik dan kepekaan terhadap realita social yang ada di masyarakat, memang menjadi ciri utama yang melekat pada pemuda. Di setiap bangsa, peran pemuda ternyata tidak sedikit. Pemuda menorehkan sejarah penting bagi negeri tersebut. Sebagai contoh gerakan-gerakan mahasiswa di Indonesia yang pernah terjadi sejak pra kemerdekaan, orde lama,

orde baru, dan reformasi.. Selain itu revolusi kuba yang dipelopori oleh Che Guevara juga dari seorang pemuda. Melihat contoh di atas dapat dilihat betapa besarnya pengaruh generasi muda itu bagi perubahan suatu bengsa. Bahkan nasib bangsa ini diletakkan di bahu generasi mudanya. Selain itu telah kita ketahui bahwa pemuda atau generasi muda merupakan konsep-konsep yang selalu dikaitkan dengan masalah nilai. hal ini merupakan pengertian idiologis dan kultural daripada pengertian ini. Di dalam masyarakat pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan bangsanya karma pemuda sebagai harapan bangsa dapat diartikan bahwa siapa yang menguasai pemuda akan menguasai masa depan. Ada beberapa kedudukan pemuda dalam pertanggungjawabannya atas tatanan masyarakat, antara lain:
1. Kemurnian idealismenya 2. Keberanian dan Keterbukaanya dalam menyerap nilai-nilai dan gagasan-

gagasan yang baru


3. Semangat pengabdiannya 4. Sepontanitas dan dinamikanya 5. Inovasi dan kreativitasnya 6. Keinginan untuk segera mewujudkan gagasan-gagasan baru 7. Keteguhan janjinya dan keinginan untuk menampilkan sikap dan

kepribadiannya yang mandiri

BAB IV PEMBAHASAN
8

A. Moral Manusia Terhadap Tuhannya Orang sunda seperti orang Indonesia pada umumnya berpandangan bahwa hidup manusia bukan hanya berlangsung di dunia saja melainkan juga hidup di dunia setelah meninggal. Hal ini mempengaruhi dengan kuat tingkah laku orang sunda, khususnya generasi muda sunda yang pada umumnya beragama Islam, yang mengajarkan antara lain bahwa setiap orang bertanggung jawab atas tingkah lakunya yang baik atau tidak baik. Hal inilah yang ditanamkan oleh orang tua pada anak semenjak kecil, membuat generasi muda sunda benar-benar disiapkan dan diajarkan untuk tegas membedakan antara yang baik dan tidak baik. Moral manusia terhadap Tuhannya ini ditandai oleh kualitas IMTAQ atau iman dan Taqwa. Namun nilai-nilai yang telah ditanamkan sejak kecil pada generasi sunda tentang moralitas terhadap Tuhannya tersebut semakin tergerus oleh budaya asing yang berdampak negatif, terhadap generasi muda sunda. Akibatnya kualitas IMTAQ sebagai tanda moral manusia terhadap Tuhannya semakin menurun. Oleh sebab itu perlu sejak dini ditanamkan nilai-nilai moral beragama, dan semuanya dimulai dari pendidikan di dalam rumah, dimana anak sedari kecil sudah diajarkan untuk mulai mengenal Tuhan yaitu Allah SWT, mengenalkan tentang kewajiban untuk beribadah dan hukuman yang akan diperoleh sebagai mahluk Tuhan apabila meninggalkan kewajiban tersebut, selain itu mulai mengenalkan tentang doa doa sederhana. Bertaqwa kepada Allah adalah awal dari segalanya. Semakin tebal ketaqwaan seseorang kepada Allah, semakin tinggi kemampuannya merasakan kehadiran Allah. Allah SWT, menginginkan manusia agar bertaqwa dengan sebenarbenarnya. Berbagai cara untuk menunjukkan penghormatan kepada Yang Maha kuasa dapat dilakukan, sebagai contoh: berjalan di jalan Allah, melakukan perbuatan baik, mengikuti contoh-contoh yang diberikan para rasul, menaati serta memperhatikan ajaran-ajaran Allah, dan sebagainya. Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan
9

barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orangorang yang beruntung. (at-Taghaabun: 16) Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenarbenarnya taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran: 102) Kualitas Moral terhadap Tuhan inilah yang apabila terbentuk sejak kecil maka akan tertanan lebih dalam saat ia mulai dewasa. B. Moral Manusia Terhadap Pribadinya Telah disebutkan sebelumnya bahwa generasi muda memegang peranan penting dalam membangun masa depan suatu bangsa, begitupun dengan genersai muda sunda yang diharapkan dapat membangun masa depan masyarakat sunda menjadi lebih baik tanpa meninggalkan nilai-nilai kesundaannya. Berlangsung atau tidaknya pembangunan tersebut, salah satunya dipengaruhi oleh moral pribadi generasi muda sunda itu sendiri. Semakin baik kualitas moral pribadi generasi muda, maka pembangunan masyarakat sunda akan berhasil. Moral pribadi ini ditandai dengan kualitas SDM. Dapat kita lihat, saat ini kualitas SDM (sumber daya manusia) generasi muda sunda masih belum mencapai kualitas yang optimal untuk membangun masyarakat sunda yang lebih baik. Hal ini dapt kita lihat dari tingkat pendidikan orang sunda yang kebanyakan masih rendah,baik pendidikan formal maupun informal. Sekolah juga sebagai pondasi awal generasi muda sunda untuk menjadi pribadi yang memiliki budi pekerti, sopan santun dan tutur kata yang baik. Selain diajarkan sejak dini di rumah, peran sekolah juga sangat penting. Di Sekolah inilah seseorang mulai diajarkan untuk berbudi, bertingkah laku, dan bertutur kata yang baik. Walaupun dalam kenyataannya dalam pergaulan sekolah ini juga bagaimana generasi muda sunda mulai bersosialisasi, mengenal budaya orang lain, mulai melihat, menimbang dan memilih akan seperti apa dirinya berkembang. Dengan semakin kuatnya arus teknologi dimana budaya luar mudah sekali masuk tanpa penyaringan, dalam hal inilah perlunya orang tua untuk mengawasi sejauh mana generasi muda akan terbawa arus teknlogi tanpa
10

melupakan akar budaya sunda sendiri. Karena arus teknologi yang semakin modern juga dapat menjadi hal yang positif untuk membuat generasi muda sunda semakin maju dan berprestasi, hanya saja kemajuan teknologi ini jangan membuat generasi muda sunda melupakan akar budayanya sendiri. C. Moral Manusia Terhadap Manusia Lainnya Generasi Muda adalah kata yang mempunyai banyak pengertian, namun dari pengertian-pengertian generasi muda mengarah pada satu maksud yaitu kumpulan orang-orang yang masih memunyai jiwa, semangat, dan ide yang masih segar dan dapat menjadikan komunitas atau lingkungannya lebih baik, orangorang yang mempunyai pemikiran yang visioner. Dari pengertian diatas jelas bahwa pemuda mempunyai peranan penting dalam masyarakatnya. Generasi muda sunda diharapkan dapat mengangkat masyarakat sunda menjadi masyarakat yang breperadaban luhur. Cita-cita tersebut dapat tercapai jika ada kesamaan visi dan misi antara generasi muda sunda dengan masyarakat sunda itu sendiri. Namun penyamaan visi dan misi antara generasi muda sunda dengan masyrakatnya saat ini belum tercapai. Para ahli sosial berpendapat bahwa masalah antar generasi ini kurang dan hampir tidak terdapat dimasyarakat tradisional. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa antar generasi merupakan suatu masalah modern. Jelaslah sudah bahwa moralitas generasi muda sunda terhadap masyarakatnya sudah menyimpang dari nilai-nilai tardisional sunda. Satu nilai tersebut diungkapkan dalm peribahasa sunda yaitu kudu kawas gula jeung peueut,artinya harus saling menyayangi, dengan kata lain terjalin silaturrahmi yang baik. Dimana kualitas silaturahmi ini merupakan penanda moralitas manusia terhadap sesama manusia. D. Moral Manusia Terhadap Alam Manusia diciptakan berdampingan dengan alam, dimana satu sama lain saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Manusia membutuhkan alam untuk keberlangsungan kehidupannya, begitupun dengan alam yang

11

membutuhkan manusia untuk mengolahnya menjadi lebih bermanfaat. Pada hakikatnya hubungan yang seperti inilah yang ideal ada dalam masyarakat sunda. Tuntutan zaman saat ini mengharuskan pembangunan infrastruktur harus terus dikembangkan, akibat dari pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat. Namun pembangunan ini seringkali tidak mengindahkan nilai-nilai hubungan antara manusia dengan alam. Akibatnya pembangunan ini dilakukan dengan seenaknya. Semakin lama, lingkungan dan ekologi akan semakin terganggu keseimbangannya. Pemandangan seperti ini secara tidak langsung akan mempengaruhi moralitas generasi muda sunda dalam menghargai lingkungan/alam. Mereka tak lagi dapat membina hubungan yang baik dengan alam/lingkungan, karena keseimbangannya yang telah terganggu. Hubungan dengan alam ini juga dapat diartikan sebagai pengetahuan generasi muda sunda terhadap alam/lingkungan dengan keseimbangan ekologinya. E. Moral Manusia Dalam Mencapai Kebahagiaan Lahir Batinnya Generasi muda merupakan salah satu komponen utama dalam masyarakat, begitu juga dengan generasi muda sunda yang mempunyai peranan penting dalam masyarakat sunda. Masa muda merupakan masa dimana proses pencarian jati diri berlangsung. Ketika kita membicarakan generasi muda, maka sebenarnya sama halnya kita sedang berbicara mengenai dunia remaja. Menurut beberapa pakar psikologi, masa remaja merupakan masa yang sangat menentukan. Oleh sebab itu di sinilah mental remaja itu akan benar-benar diuji. Berbagai fenomena yang syarat akan jawaban dan persoalan yang menuntut sebuah solusi akan terus senantiasa mengiringinya. Dalam pencarian solusi inilah kadang-kadang generasi muda lupa dan akhirnya mereka tidak peduli dengan orang lain yang penting dirinya mendapatkan apa yang ia mau. Banyak hak-hak orang lain yang dilanggar.Tak sampai disitu bahkan kewajibannya pun tak mereka penuhi. Hal tersebut tidak sesuai dengan nilai moralitas yang diajarkan dalam masyrakat sunda, dikatakan

12

bahwa ulah ngukur baju saserig awak sesuatu hanya dari segi kepentingan pribadi.

artinya jangan mempertimbangkan

13

BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan Moralitas mengandung pengertian suatu tuntutan prilaku yang baik yang dimiliki individu yang tercermin dalam pemikiran/konsep, sikap, dan tingkah laku. Dalam Masyarakat sunda ada lima penanda moral manusia yang harus dijadikan acuan berperilaku hidup agar menjadi masyarakat sunda yang berperadaban luhur yaitu: 1. Moral manusia terhadap Tuhannya ditandai dengan kualitas Iman dan taqwa 2. Moral manusia terhadap dirinya sendiri ditandai dengan kualitas SDM. 3. Moral manusia terhadap manusia lainnya ditandai dengan kualitas silaturahmi-kemanusiaannya. 4. Moral manusia terhadap alamnya ditandai dengan kesadaran ekologi/lingkungan hidupnya. 5. Moral manusia dalam mencapai kebahagiaan lahir bathin ditandai dengan etikanya, tahu batas, menghargai Hak Azasi Manusia (HAM) dan melaksanakan Kewajiban Azasi Manusia (KAM). Bila kita telah mampu mengambil dan memanfaatkan nilai-nilai moral yang diatas serta mampu melaksanakannya dalam perilaku kehidupan generasi muda maka diharapkan dapat terwujud generasi muda sunda dengan penanda jati diri yang:

Cageur , sehat dan sejahtera lahir batinnya. Bageur, perilakunya tidak melanggar hukum Agama, hukum nuraninya, hukum Negara dan hukum Adat istiadat Bener, jelas dan terarah tujuan hidupnya sebagai manusia yang bermoral. Pinter, mampu mengatasi perjuangan hidupnya dengan cara yang baik dan benar.

14

B. Saran Bertolak dari moralitas generasi muda sekarang yang sudah tidak lagi mengenal jati ki sunda diakibatkan tidak adanya infilterisasi budaya luar yang masuk, sehingga menyebabkan terjadinya pergeseran nilai moral diantara generasi muda sunda, maka penulis memberikan saran sebagai berikut :
1. Sebaiknya sistem pembentukan moral dimulai sejak dari kecil dan di awali

dari lingkungan keluarga, yang paling mendasari dari semua nilai moral adalah moral terhadap Tuhan. Jika moral terhadap Tuhan sudah ditanamkan dengan baik maka dimanapun generasi muda berada maka ia akan berpegang pada hal tersebut. Moral terhadap Tuhan dapat menjadi landasan yang kuat agar tidak terjerumus infilterisasi budaya luar
2. Adanya pengawasan terhadap generasi muda dari lingkungan rumah agar

kebudayaan

luar

yang

masuk

dapat

diambil

manfaatnya

tanpa

meninggalkan nilai-nilai kesundaan

DAFTAR PUSTAKA
15

http://muslich-m.blogspot.com/2010_03_01_archive.html http://massofa.wordpress.com/2008/11/17/pengertian-etika-moral-dan-etiket/ http://jumpa.blog.friendster.com/2008/07/peran-generasi-muda-dalampendidikan-oleh-eka-rachma-kurniasi/ http://id.wikipedia.org M. Munandar, Sulaeman. Ir. Ms 1995. Teori dan Ilmu Sosial Dasar.PT Eresco. Bandung K Otang, Rahmat. Drs. 2002. Ilmu Budaya Sunda. Universitas Pasundan. Bandung

16