Anda di halaman 1dari 34

Undang-Undang dan Peraturan yang Mengatur Arbitrase dan Alternatif Pilihan Penyelesaian Sengketa

Undang-undang no 18 tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi Undang-undang no 30 tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa PP no 29 tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi

Haryadi Wirawan

(1006706515)

DOSEN PEMBIMBING Prof. Dr. Ir. Yusuf Latief, MT

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2013


Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009 Universitas indonesia

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Mata Ajar Etika dan Aspek Hukum Industri Konstruksi Penulisan makalah ini bertujuan untuk dapat menjelaskan lebih detail mengenai undang-undang yang mengatur tentang arbitrase dan alternatif pilihan penyelesaian sengketa lewat diksi yang diharapkan dapat dimengerti oleh insinyur. Tentunya dalam penulisan ini, penulis menemukan kesulitan-kesulitan mungkin karena kurangnya pengetahuan dalam menulis laporan ini. Namun, berkat adanya bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak, makalah ini dapat diselesaikan walaupun masih banyak kekurangannya. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada bapak Prof. Dr. Ir. Yusuf Latief,MT selaku fasilitator yang telah membimbing kami dalam Mata Ajar Etika dan Aspek Hukum Industri Konstruksi dan juga kepada seluruh pihak yang berusaha membantu dalam penulisan makalah ini terutama Inayati Ulin Namah yang menjadi sumber inspirasi dan dukungan moral untuk dapat lulus dengan nilai terbaik Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangankekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif agar makalah ini dapat menjadi lebih baik dan berdaya guna dimasa yang akan datang. Harapan penulis, mudah-mudahan makalah ini dapat berguna bagi kita semua dan dapat dijadikan media pembelajaran kuliah.

Jakarta, 26 Maret 2013

Penulis
Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009 Universitas indonesia

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Makalah ini adalah hasil karya saya sendiri dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar NAMA NPM Tanda Tangan : Haryadi Wirawan : 1006705615 :

Tanggal

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

ABSTRACT

Construction conflict in Indonesia are often settled out of court for mutual benefit of both parties who were in dispute. Alternative dispute resolution and arbitration were an good option to achieve an agreement between the parties who were in dispute. Arbitration process is fast and scalable is an advantage. Guidelines for dispute resolution set by the government and protected decision. Any decision made by the Arbitration Board is final and binding for both parties who were in dispute. Keywords : conflict construction, alternative conflict service construction, arbitration

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ABSTRAK DAFTAR ISI i ii iii iv v

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Perumusan Masalah 1.3 Pasal Yang Berkomplemen 1.4 Tujuan Penulisan 1.5 Manfaat Makalah BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Undang-Undang Jasa Konstruksi 2.2 Undang-Undang Terkait 2.3 Refrensi Pendukung BAB III METODE PEMECAHAN MASALAH 3.1 Metode Pemecahan 3.2 Metode Pengumpulan Data BAB IV HASIL ANALISA 4.1 Data Yang Didapat 4.2 Proses Analisa 4.3 Hasil Analisa BAB V PEMBAHASAN BAB VI KESIMPULAN BAB VII SARAN DAFTAR PUSTAKA

1 1 5 7 8 8

9 11 13

15 16

17 18 19 26 27 27 28

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Apabila kita membayangkan pembangunan di Indonesia, maka kita membayangkan era pembangunan dimulai saat negara Indonesia terbentuk yaitu saat 17 Agustus 1945. Namun dapat kita bayangkan juga bahwa para penyedia jasa konstruksi di Indonesia saat itu masih dipegang oleh perusahaan milik Belanda meskipun ada pengusaha jasa konstruksi milik pribumi saat itupun masih bergerak di pembangunan sektor kecil. Hingga saat Republik Indonesia Serikat dihapuskan dan berubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesa pada tahun 1950, pembangunan masih belum merata dan bentuk kontrak konstruksi saat itu masih mengacu kepada satu-satunya ketentuan warisan Belanda yaitu SU (AV) 41 selengkapnya bernama Algemene voorwarden voor de uitvoering bij aanneming van openbare werken atau dalam bahasa Indonesia yang berarti Syarat-syarat Umum untuk pelaksanaan bangunan umum yang dilelangkan. Syarat-syarat Umum ini ditetapkan dengan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda, tanggal 28 Mei 1941, No.4. Oleh sebab itu dikenal dengan nama sebutan SU (AV) 41. Kemudian ketika Dekrit Presiden pada tanggal 5 juli 1959 dikeluarkan oleh presiden Ir. Soekarno, pembangunan mulai bergairah dan bergejolak khususnya pada proyekproyek megah yang diberi nama proyek-proyek mandataris yang artinya di pimpin langsung oleh presiden Ir. Soekarno sebagai pucuk pimpinan tertinggi. Dengan bantuan dari para penyedia jasa konstruksi saat itu yang masih berasal dari perusahaan milik Belanda yang telah di nasionalisasikan oleh pemerintah. Sampai dengan tahun 1966 bentuk kontrak yang berlaku adalah Cost Plus Fee yang berarti pekerjaan langsung ditunjuk pemerintah (tanpa tender) dan sektor swasta belum disertakan, hal tersebut mengakibatkan banyaknya manipulasi pada efisiensi konstruksi. Namun setelah tahun 1966, akhirnya pemerintah melarang kontrak Cost Plus Fee tersebut. Sangat disayangkan bawah proyek-proyek pada era itu lebih diutamakan kepada kemegahan bukan untuk kesejahteraan rakyat umum.

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

Pembangunan di Indonesia mulai bergairah kembali dengan persaingan dikarenakan adanya REPELITA atau biasa disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun yang ditetapkan oleh presiden Soeharto demi pembangunan secara merata di Indonesia. Perusahaan-perusahaan penyedia jasa konstruksi milik pemerintah pun tidak dapat lagi mengandalkan nama besar mereka dikarenakan pada saat itu sudah mulai dilakukan tender dan pihak swasta juga diikutsertakan. Setelah mengalami pembangunan yang sangat pesat, pembangunan mulai melemah disaat era krisis moneter periode 1997-2002 dimana banyak investor asing mulai tidak percaya untuk berinvestasi di Indonesia. Iklim krisis moneter tersebut secara langsung mempengaruhi keuntungan beberapa penyedia jasa konstruksi menjadi negatif atau dapat dikatakan merugi secara dashyat. Permasalahan tersebut akhirnya dapat diatasi secara perlahan dengan ide pembangunan berdasarkan otonomi daerah yang berarti setiap daerah dapat

mengendalikan pembangunan di daerahnya sendiri tanpa campur tangan pihak pemerintah pusat. Sehingga beberapa daerah yang berpotensi seperti dibagian timur Indonesia diharapkan dapat membangun daerahnya sendiri tanpa terpengaruh kondisi pemerintah pusat. Mungkin setelah mengalami masa-masa suka dan duka yang banyak menimpa perkembangan dunia konstruksi di Indonesia, banyak yang meragukan kembali apakah aspek legalitas terhadap suatu pembangunan dapat dipercaya lagi mengingat banyaknya praktik gelap dari beberapa penyelenggara jasa konstruksi seperti arisan tender dan pengaturan tender , serta beberapa praktik lainnya. Namun untuk mencegah hal itu terjadi, seringkali peraturan yang ada tidak memberikan kemudahan serta keuntungan bagi penyedia jasa konstruksi. Seringkali banyak pengguna jasa yang selalu memiliki

keputusan terhadap segala prosedur yang diambil oleh penyedia jasa konstruksi atau pengguna jasa terlalu dominan. Seringkali beberapa tindakan diambil oleh pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini, namun masih memiliki beberapa kekurangan dalam pelaksanaannya. Dimana dapat kita lihat bahwa setiap investor menginginkan keuntungan sehingga memaksa para penyedia jasa konstruksi untuk melakukan manipulasi terhadap nilai proyek. Hal tersebut secara tidak langsung menguntungkan pihak penyedia jasa konstruksi namun sedikit merugikan pengguna jasa konstruksi

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

Umumnya khalayak publik tidak mengetahui bahkan bingung mengenai kontrak konstruksi. Padahal publik juga berkesempatan untuk mengetahui isi kontrak sebagai stakeholder dalam pembangunan khususnya pembangunan untuk kepentingan bersama seperti fasilitas umum. Hal tersebut tercermin dalam UU no 18 Tahun 1999 tentang jasa konstruksi dan PP no 29 tahun 200 tentang penyelenggaraan jasa konstruksi mengenai kesetaraan. Tertulis jelas bahwa tidak ada kesetaraan dimana saat penyedia jasa konstruksi lalai akan mendapatkan sanksi namun saat pengguna jasa konstruksi lalai maka sanksi akan ringan bahkan tidak ada sama sekali. Hal tersebut dapat dikatakan membingungkan publik bahwa dalam pembangunan suatu fasilitas, seringkali penyedia jasa konstruksi berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Dari posisi itulah, maka penyedia jasa konstruksi sering memanipulasi nilai proyek demi mendapatkan keuntungan. Tak hanya berhenti disitu, namun hal-hal yang berkaitan dengan isi kontrak seringkali tidak jelas, seperti kelengkapan, pengawasan yang tidak jelas, hingga deadline kontrak yang disebutkan. Namun penyedia jasa konstruksi dapat berbahagia ketika akhirnya klaim atas isi kontrak dan konstruksi dapat disetujui oleh pemerintah sehingga proyek dapat berjalan dengan baik. Hal yang baik lainnya adalah dengan mulai adanya lembaga penjamin untuk proyek konstruksi sehingga kedua belah pihak dapat merasa aman terhadap proyek yang dikerjakan. Dibalik semua intrik yang terjadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa dunia konstruksi memiliki peran yang besar terhadap kemajuan suatu negara. Namun seringkali kemajuan tersebut selalu disalahgunakan demi mengambil keuntungan semata, tetapi keuntungan tersebut terpaksa diambil oleh pihak penyedia jasa karena mereka memiliki posisi yang kurang setara terhadap pengguna jasa. Oleh karena itu diharapkan para pengguna dan penyedia jasa dapat mengesampingkan hal tersebut demi tercapainya sinergis terhadap kemajuan suatu negara

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

Perkembangan dunia konstruksi di Indonesia dapat dikatakan pesat namun ada satu aspek yang tak kalah penting dalam dunia konstruksi khususnya dalam hal manajemen proyek konstruksi. Dalam suatu manajemen konstruksi cukup banyak melibatkan sumbersumber daya, baik sumber daya manusia, sumber daya alam berupa bahan bangunan, sumber daya tenaga dan energi peralatan, mekanikal dan elektrikal, serta sumber daya keuangan. Dalam setiap tahapan pekerjaan tersebut dilakukan dengan pendekatan manajemen proyek, yang prosedurnya telah diatur dan ditetapkan sedemikian rupa, sehingga pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan waktu pelaksanaan. Namun pada setiap tahapan-tahapan pekerjaan tersebut adakalanya mengalami hambatan baik dari faktor manusia maupun sumber-sumber daya yang lain. Hambatanhambatan sekecil apapun harus diselesaikan dengan baik untuk mencegah kerugian yang lebih besar, baik dari pelaksanaan waktu pekerjaan maupun operasional bangunan kelak. Apabila kerugian tersebut diderita oleh kedua belah pihak maka jarang ditemukan adanya sengketa yang diusut. Tapi apabila kerugian tersebut hanya diderita oleh salah satu pihak yang berkepentingan seperti pihak pengguna jasa atau pihak penyedia jasa konstruksi maka sering ditemukan adanya klaim atau sengketa atas kerugian yang diderita oleh pihak yang berkepentingan. Oleh karena alasan tersebut tulisan ini akan berusaha sedemikian rupa untuk

membahas klaim atau sengketa di bidang konstruksi, alternatif penyelesaian dan arbitrase secara lebih lanjut serta berbagai peraturan yang mengikat sistem penyelesaian jasa konstruksi di indonesia dalam diksi yang dapat dengan mudah dimengerti oleh pihak engineer atau ahli rekayasa berdasarkan pada literatur yang terpercaya.

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

1.2. PERUMUSAN MASALAH

Pada realita yang terjadi di zaman ini, peraturan maupun perundang-undangan di daerah dan pusat yang didesain khusus untuk menangani permasalahan penyelesaian sengketa dirasakan telah cukup banyak. Apabila kita ingin mencari landasan atau pegangan aturan yang tepat untuk menangani penyelesaian sengketa dapat dipilih sesuai dengan perkara dan kondisi yang terjadi. Namun banyaknya peraturan maupun perundang-undangan seringkali tidak diketahui oleh para pihak yang berkepentingan khususnya para insinyur sipil yang bergerak di bidang konstruksi. Kondisi yang terjadi di pengadilan juga nampak selalu menyulitkan para insinyur dengan pasal-pasal dan ayatayat serta nomor-nomor peraturan yang sukar untuk dihapalkan.

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

Namun tidak dapat dipungkiri ada berbagai alternatif penyelesaian sengketa dalam konstruksi yang dapat digunakan bersama undang-undang maupun peraturan yang mengikat sistem konstruksi tersebut. Perpaduan antara alternatif penyelesaian sengketa dengan undang-undang maupun peraturan tersebut dapat menjadi keuntungan bagi kedua belah pihak yang bersengketa dengan kondisi dan kesepakatan yang ingin dicapai. Keadaan tersebut dapat ditunjukkan dengan diagram 1.1 sebagai berikut : Pengguna jasa Kontrak Penyedia jasa

Ya

Konstruksi berjalan lancar Tidak

Peran ---------------- Insinyur

Peran ---------

Damai

Sengketa

UUJK 2. Komplemen

Pedoman Peraturan ------------------Pihak Ketiga

Alternatif penyelesaian

-----

Ya Oleh : Haryadi Wirawan S.T Diagram 1.1 Alur penyelesaian sengketa konstruksi

Tidak

Peninjauan kembali

Adapun permasalahan yang muncul sebagai berikut berdasarkan pemikiran 5 W + 1 H : Mengapa ditemukan sengketa dalam dunia konstruksi? Apakah insinyur dapat berperan dalam penyelesaian sengketa? Bagaimana cara insinyur dapat menentukan alternatif penyelesaian sengketa yang efektif? Pedoman yang digunakan untuk membantu alternatif penyelesaian sengketa? Siapa saja yang berwenang menjadi pihak ketiga dalam alternatif penyelesaian sengketa?

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

1.3 PASAL YANG BERKOMPLEMEN

Undang-undang jasa konstruksi no 18 Tahun 1999 BAB IX PENYELESAIAN SENGKETA Bagian Pertama Umum Pasal 36 Bagian Kedua Penyelesaian Sengketa Di luar Pengadilan Pasal 37 Bagian Ketiga Gugatan Masyarakat Pasal 38 ; Pasal 39 ; Pasal 40 Undang-undang No. 30 / 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa BAB II Alternatif Penyelesaian Sengketa Pasal 6 BAB VI Pelaksanaan Putusan Arbitrase Bagian Pertama Arbitrase Nasional Pasal 60 Peraturan Pemerintah No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi BAB VI Penyelesaian Sengketa Pasal 49 ; Pasal 50 ; Pasal 51 ; Pasal 52 ; Pasal 53 ; Pasal 54

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

1.4 TUJUAN PENULISAN Berdasarkan rumusan masalah dan pasal-pasal yang saling berkomplemen diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dari penulisan makalah ini adalah :

1. Untuk melengkapi nilai Ujian tengah semester mata kuliah etika dan aspek hukum industri konstruksi tahun ajaran 2013 2. Untuk membantu para insinyur mencegah terjadinya sengketa 3. Untuk membantu para insinyur serta pihak yang terkait dalam meminimalisir dampak sengketa yang telah terjadi 4. Untuk membantu para insinyur serta pihak yang terkait dalam menyelesaikan sengketa dengan efektif 5. Untuk menjadi masukan dalam pedoman penyelesaian sengketa

1.5 MANFAAT MAKALAH Berdasarkan tujuan penulisan, rumusan masalah, dan pasal-pasal yang saling berkomplemen diatas, maka manfaat yang dapat diambil penulisan makalah ini adalah :

1. Untuk mendidik pola pikir para insinyur dalam penyelesaian sengketa 2. Untuk mengubah proses penyelesaian sengketa lewat pengadilan

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1. Undang-Undang JASA KONSTRUKSI

Undang-undang jasa konstruksi no 18 Tahun 1999 BAB IX PENYELESAIAN SENGKETA Bagian Pertama Umum Pasal 36 1) Penyelesaian sengketa jasa konstruksi dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa. 2) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap tindak pidana dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. 3) Jika dipilih upaya penyelesaian sengketa di luar pengadilan, gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa. Bagian Kedua Penyelesaian Sengketa Di luar Pengadilan Pasal 37 1) Penyelesaian sengketa jasa konstruksi di luar pengadilan dapat ditempuh untuk masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan pengikatan dan

penyelenggaraanpekerjaan konstruksi, serta dalam hal terjadi kegagalan bangunan. 2) Penyelesaian sengketa jasa konstruksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menggunakan jasa pihak ketiga, yang disepakati oleh para pihak. 3) Pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dibentuk oleh Pemerintah dan/atau masyarakat jasa konstruksi.

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

Bagian Ketiga Gugatan Masyarakat Pasal 38 1) Masyarakat yang dirugikan akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi berhak mengajukan gugatan ke pengadilan secara: a. orang perseorangan; b. kelompok orang dengan pemberian kuasa; c. kelompok orang tidak dengan knasa melalu gugatan perwakilan. 2) Jika diketahui bahwa masyarakat menderita sebagai akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi sedemikian rupa sehingga mempengarahi peri kehidupan pokok masyarakat, Pemerintah wajib berpihak pada dan dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. Pasal 39 Gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1) adalah tuntutan untuk melakukan tindakan tertentu dan/atau tuntutan berupa biaya atau pengeluaran nyata

dengan tidak menutup kemungkinan tuntutan lain sesuai ketentuan perundangundangan yang berlaku. Pasal 40 Tatacara pengajuan gugatan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1) diajukan oleh orang perseorangan, kelompok orang, atau lembaga kemasyarakatan dengan mengacu kepada Hukum Acara Perdata.

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

2.2 Undang-Undang TERKAIT Undang-undang No. 30 / 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa BAB II ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA Pasal 6 1) Sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri. 2) Penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui alternatif penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselesaikan dalam pertemuan langsung oleh para pihak dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari dan hasilnya dituangkan dalam suatu kesepakatan tertulis. 3) Dalam hal sengketa atau beda pendapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak dapat diselesaikan, maka atas kesepakatan tertulis para pihak, sengketa atau beda pendapat diselesaikan melalui bantuan seorang atau lebih penasehat ahli maupun melalui seorang mediator. 4) Apabila para pihak tersebut dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari dengan bantuan seorang atau lebih penasehat ahli maupun melalui seorang mediator tidak

berhasil mencapai kata sepakat, atau mediator tidak berhasil mempertemukan kedua belah pihak, maka para pihak dapat menghubungi sebuah lembaga arbitrase atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa untuk menunjuk seorang mediator. 5) Setelah penunjukan mediator oleh lembaga arbitrase atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa, dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari usaha mediasi harus sudah dapat dimulai.

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

6) Usaha penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui mediator sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dengan memegang teguh kerahasiaan, dalam waktu paling lama 30 ( tiga puluh ) hari harus tercapai kesepakatan dalam bentuk tertulis yang ditandatangani oleh semua pihak yang terkait. 7) Kesepakatan penyelesaian sengketa atau beda pendapat secara tertulis adalah final dan mengikat para pihak untuk dilaksanakan dengan itikad baik serta wajib didaftarkan di Pengadilan Negeri dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak penandatanganan. 8) Kesepakatan penyelesaian sengketa atau beda pendapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (7) wajib selesai dilaksanakan dalam waktu paling lama 30 ( tiga puluh) hari sejak pendaftaran. 9) Apabila usaha perdamaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sampai dengan ayat (6) tidak dapat dicapai, maka para pihak berdasarkan kesepakatan secara tertulis dapat mengajukan usaha penyelesaiannya melalui lembaga arbitrase atau arbitrase ad hoc. BAB VI PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE Bagian Pertama Arbitrase Nasional Pasal 60 Putusan arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak.

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

2.3 REFERENSI PENDUKUNG PP No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi

BAB VI PENYELESAIAN SENGKETA Pasal 49 1. Penyelesaian sengketa dalam penyelenggaraan jasa konstruksi di luar pengadilan dapat dilakukan dengan cara : a. melalui pihak ketiga yaitu : 1. mediasi (yang ditunjuk oleh para pihak atau oleh Lembaga Arbitrase dan Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa); 2. konsiliasi; atau b. arbitrase melalui Lembaga Arbitrase atau Arbitrase Ad Hoc. 2. Penyelesaian sengketa secara mediasi atau konsiliasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dapat dibantu penilai ahli untuk memberikan pertimbangan profesional aspek tertentu sesuai kebutuhan. Pasal 50 1. Penyelesaian sengketa dengan menggunakan jasa mediasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1) huruf a angka 1) dilakukan dengan bantuan satu orang mediator. 2. Mediator sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditunjuk berdasarkan kesepakatan para pihak yang bersengketa. 3. Mediator tersebut harus mempunyai sertifikat keahlian yang ditetapkan oleh Lembaga. 4. Apabila diperlukan, mediator dapat minta bantuan penilai ahli. 5. Mediator bertindak sebagai fasilitator yaitu hanya membimbing para pihak yang bersengketa untuk mengatur pertemuan dan mencapai suatu kesepakatan. 6. Kesepakatan tersebut pada ayat (5) dituangkan dalam suatu kesepakatan tertulis.

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

Pasal 51 1. Penyelesaian sengketa dengan menggunakan jasa konsiliasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1) huruf a angka 2) dilakukan dengan bantuan seorang konsiliator. 2. Konsiliator sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditunjuk berdasarkan kesepakatan para pihak yang bersengketa. 3. Konsiliator tersebut harus mempunyai sertifikat keahlian yang ditetapkan oleh Lembaga. 4. Konsiliator menyusun dan merumuskan upaya penyelesaian untuk ditawarkan kepada para pihak. 5. Jika rumusan tersebut disetujui oleh para pihak, maka solusi yang dibuat konsiliator menjadi rumusan pemecahan masalah. 6. Rumusan pemecahan masalah sebagaimana tersebut pada ayat (5) dituangkan dalam suatu kesepakatan tertulis. Pasal 52 Kesepakatan tertulis dalam penyelesaian sengketa melalui alternatif penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1) huruf a butir 1 dan butir 2, Pasal 50, dan Pasal 51 yang ditandatangani oleh kedua belah pihak bersifat final dan mengikat para pihak untuk dilaksanakan dengan iktikad baik. Pasal 53 1. Penyelesaian sengketa dengan menggunakan jasa arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1) huruf b dilakukan dengan melalui arbitrase sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Putusan arbitrase bersifat final dan mengikat. Pasal 54 Tata cara penyelesaian sengketa melalui mediasi, konsiliasi, dan arbitrase dilakukan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur penyelesaian sengketa melalui alternatif penyelesaian sengketa.

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

BAB III METODE PEMECAHAN MASALAH 3.1 METODE PEMECAHAN Penulisan ini menggunakan bentuk penelitian hukum normatif kualitatif yang menghasilkan data deskriptif dari pihak yang terkait dengan alternatif penyelesaian konstruksi. Dikaitkan dengan etika, norma, dan disiplin ilmu teknik sipil, penulisan ini termasuk penelitian juridis normatif. Dengan demikian penilisan ini selalu mengacu kepada asas-asas hukum, dan peraturan perundang-undangan yang menitikberatkan pada penelitian kepustakaan dibidang teknik sipil dengan menggunakan bahan yang ada. Langkah pemecahan masalah dimulai dengan menginventarisasi peraturan-peraturan yang berlaku. Kemudian disusun menurut norma-normanya untuk menentukan mana yang merupakan peraturan secara umum maupun yang bersifat khusus. Sifat pemecahan masalah yang akan dilakukan yaitu deskriptif. Hal tersebut karena dari penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan pola pikir kepada para insinyur dalam penyelesaian sengketa. Maksud yang diperjelas adalah untuk menegaskan hipotesahipotesa agar dapat membantu memperkuat argumentasi serta teori-teori lama. Selain itu, juga agar diperoleh gambaran secara menyeluruh dan sistematis mengenai masalah yang diteliti, melalui pemaparan data dan studi kasus.

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

3.2

METODE PENGUMPULAN DATA Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan sesuai dengan jenis dari

sumber datanya. Sumber data yang kemudian disebut bahan penulisan ini diperoleh lewat penelitian kepustakaan akan dinventarisasi dan dianalisis secara komprehensif dan terpadu. Bahan-bahan hukum yang diperoleh lewat penelitian kepustakaan meliputi data hukum primer, data hukum sekunder dan bahan tersier. Data yang diperlukan , diinventarisasi kemudian terhadap data hukum yang berkenaan dengan pokok masalah atau tema sentral diidentifikasi untuk digunakan dalam pembahasan masalah secara analisis. Berikut adalah data hukum yang digunakan dalam penelitian ini: a. Data Hukum Primer : 1. Undang-undang 2. Peraturan pemerintaah republik indonesia b. Data Hukum Sekunder : 1. Karya ilmiah dibidang ilmu hukum konstruksi 2. Hasil-hasil penelitian berupa laporan 3. Jurnal, artikel dan makalah c. Data Hukum Tersier, terdiri dari berbagai kamus hukum dan ensiklopedi hukum sebagai pelengkap atas diksi yang digunakan

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

BAB IV HASIL ANALISA 4.1 DATA YANG DIDAPAT Berdasarkan dari data-data yang telah dihimpun, maka didapatkan susunan data yang berhasil terinventarisasi berdasarkan topik yang diambil untuk penulisan ini. Data-data tersebut berisi pasal-pasal, pengertian akan beberapa hal, dan contoh kasus mengenai arbitrase yang diselesaikan oleh BANI. Berikut adalah beberapa data yang berhasil dihimpun : i. ii. Jenis-jenis Sengketa Jasa Konstruksi menurut Bambang Poerdyatmono Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi menurut Bambang Poerdyatmono dan Nazarkhan Yasin iii. iv. Pengertian Arbitrase dan alur pengajuan arbitrase oleh BANI Salinan Putusan Badan Arbitrase Nasional No 283 / VII/ ARB-BANI / 2008 tanggal 13 Januari 2009 v. vi. Undang undang no 18 tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi Undang-undang no 30 tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa vii. PP no 29/ 2000 Tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

4.2 PROSES ANALISA Proses analisa yang digunakan adalah untuk penulisan ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan data-data yang didapat lalu dijadikan dalam bentuk tabulasi sehingga dapat dengan mudah dibaca dan dimengerti oleh para insinyur. Sebagian dari tabulasi yang ada merupakan hasil dari data yang terolah sebagian yang berarti data tersebut telah diolah sebelumnya dan akan dimunculkan kembali sebagai analisa komparatif terhadap topik yang dibahas dengan menggunakan data pelengkap. Berikut adalah diagram 4.1 menunjukkan proses analisa yang digunakan : Data Mentah Data PRIMER Data terolah sebagian Data SEKUNDER yang

Deskripsi

Komparasi

Tabulasi Deskriptif Komparatif ---------------Data Pelengkap Data TERSIER

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

4.3 HASIL ANALISA i. Jenis-Jenis Sengketa Konstruksi

Jenis Terjadi pada tahap

Precontractual Sebelum konstruksi dimulai

Contractual Saat konstruksi berlangsung Proses Kerja

Pascacontractual Setelah Konstruksi dimulai Setelah 10 tahun atau ketika Garansi habis

Kondisi

Proses Penawaran

Pengikat Contoh

---Pemalsuan dokumen

Kontrak Percepatan Pekerjaan

---Kerusakan bangunan

ii.

Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi menurut Bambang Poerdyatmono dan Nazarkhan Yasin

Alternatif Pihak yang terlibat

Mediasi Pihak yang saling bersengketa

Konsultasi Pihak yang memerlukan konsultasi Konsultasi kepada pihak yang ahli dibidangnya

Konsiliasi Pihak yang saling bersengketa Dipertemukan untuk memilih solusi yang diberikan

Negosiasi Pihak yang saling bersengketa Dipertemukan untuk diskusi formal dan saling bertukar solusi

Proses

Dipertemukan untuk membicarakan solusi

Pihak Ketiga

Mediator sebagai fasilitator

Konsultan sebagai pemberi pendapat

Konsiliator sebagai penyusun dan pemberi solusi

Negosiator sebagai penghubung antara pihak yang bersengketa

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

iii.

Pengertian Arbitrase dan Prosedur arbitrase oleh BANI Arbitrase adalah salah satu jenis alternatif penyelesaian sengketa dimana para pihak menyerahkan kewenangan kepada kepada pihak yang netral, yang disebut arbiter, untuk memberikan putusan. Arbiter adalah orang perseorangan yang netral yang ditunjuk untuk memberikan putusan atas persengketaan para pihak. Perjanjian Arbitrase adalah perjanjian para pihak untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase yang dituangkan dalam klausula arbitrase atau perjanjian tersendiri. Putusan Arbitrase adalah keputusan tertulis yang dijatuhkan oleh arbiter atas sengketa yang telah diperiksanya berdasarkan ketentuan hukum atau berdasarkan kepatutan dan keadilan. Majelis Arbitrase BANI atau Majelis, baik dalam huruf besar atau huruf kecil, adalah Majelis yang dibentuk menurut Prosedur BANI dan terdiri dari satu atau tiga atau lebih arbiter Putusan, baik dalam huruf besar atau huruf kecil, adalah setiap putusan yang ditetapkan oleh Majelis Arbitrase BANI, baik putusan sela ataupun putusan akhir/final dan mengikat; BANI adalah Lembaga Badan Arbitrase Nasional Indonesia. Dewan adalah Badan Pengurus BANI; Ketua adalah Ketua Badan Pengurus BANI, kecuali dan apabila jelas dinyatakan bahwa yang dimaksud adalah Ketua Majelis Arbitrase. Ketua BANI dapat menunjuk Wakil Ketua atau Anggota Badan Pengurus yang lain untuk melaksanakan tugas-tugas Ketua sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Prosedur ini, termasuk dalam hal tertentu untuk menunjuk satu atau lebih arbiter, dalam hal mana rujukan kepada Ketua dalam Peraturan ini berlaku pula terhadap Wakil Ketua atau Anggota Badan Pengurus yang lain yang ditunjuk tersebut. Pemohon berarti dan menunjuk pada satu atau lebih pemohon atau para pihak yang mengajukan permohonan arbitrase; Undang-Undang berarti dan menunjuk pada Undang-undang Republik Indonesia No. 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa;

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

Termohon berarti dan menunjuk pada satu atau lebih Termohon atau para pihak terhadap siapa permohonan arbitrase ditujukan; Para Pihak berarti Pemohon dan Termohon; Peraturan Prosedur berarti dan menunjuk pada ketentuan-ketentuan Peraturan Prosedur BANI yang berlaku pada saat dimulainya penyelenggaraan arbitrase, dengan mengindahkan adanya kesepakatan tertentu yang mungkin dibuat para pihak yang bersangkutan

Sekretariat berarti dan menunjuk pada organ administratif BANI yang bertanggung jawab dalam hal pendaftaran permohonan arbitrase dan hal-hal lain yang bersifat administratif dalam rangka penyelenggaraan arbitrase;

Sekretaris Majelis berarti dan menunjuk pada sekretaris majelis yang ditunjuk oleh BANI untuk membantu administrasi penyelenggaraan arbitrase bersangkutan; dan

Tulisan, baik dibuat dalam huruf besar atau huruf kecil, adalah dokumendokumen yang ditulis atau dicetak di atas kertas, tetapi juga dokumendokumen yang dibuat dan/atau dikirimkan secara elektronis, yang meliputi tidak saja perjanjian-perjanjian tetapi juga pertukaran korespondensi, catatancatatan rapat, telex, telefax, e-mail dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya yang demikian; dan tidak boleh ada perjanjian, dokumen korespondensi, surat pemberitahuan atau instrumen lainnya yang dipersyaratkan untuk diwajibkan secara tertulis, ditolak secara hukum dengan alasan bahwa hal-hal tersebut dibuat atau disampaikan secara elektronis.

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

Prosedur Arbitrase

Pihak yang bersengketa

Saling sepakat membawa ke arbitrase

Pihak yang bersengketa

1.Administrasi 2.Pendaftaran

Tertulis Bayar ---------------------------Majelis Badan Arbitrase Nasional Indonesia

Arbiter

Arbiter

Arbiter

Pengesahan Ketua Majelis -----------------

Pengesahan Keputusan ---------------Sekretaris Majelis

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

iv.

Salinan Putusan Badan Arbitrase Nasional No 283 / VII/ ARB-BANI / 2008 tanggal 13 Januari 2009 Perkara diajukan oleh PT. Hutama Karya (Persero) Sebagai Pemohon dan mengajukan Pemerintah Indonesia (Departemen Pekerjaan Umum cq Direktorat Jendral Bina Marga cq Direktorat Jalan Bebas Hambatan dan Jalan Kota cq Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan Jakarta Wilayah I Suprapto Flyover dan Pemuda Pramuka Flyover) sebagai Termohon. PT. Hutama Karya (Persero) mengajukan perkara ini berdasarkan ketentuan yang terdapat pada addendum no 10 yang dibuat pada tanggal 30 Juni 2008 yang berisikan mengenai pilihan penyelesaian sengketa melalui forum Arbitrase di BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia) Dalam proyek yang dikenal dengan nama Urban Arterial Roads Development in Metropolitan and Large Citites Project, JBIC Loan No. IP 488, Packet No. 2, Suprapto Flyover and Pemuda Pramuka Flyover Berikut hal-hal yang diperkarakan : Keterlambatan pembebasan tanah oleh Pemerintah Perubahan nilai kontrak Jangka waktu penyelesaian pekerjaan konstruksi Masalah utilitas jalan Masalah kondisi tidak terlihat Masalah perubahan urutan pekerjaan

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

Perkara yang diajukan pada tanggal 11 Juli 2008 dan telah memperoleh pututsan oleh Majelis Arbiter BANI pada hari Selasa tanggal 13 Januari 2009 dan telah dibacakan dihadapan kuasa hukum Pemohon dan Termohon di kantor BANI, Gedung Wahana Graha lantai 2, Jln. Mampang Prapatan No.2 Jakarta Selatan oleh Majelis Arbitrase yang terdiri dari M. Husseyn Umar, S.H, FCBArb., sebagai ketua Majelis Arbitrase, dan Ir. Harianto Sunidja, M.Sc., Ph.D, FCBArb., dan Ir Madjedi Hasan, MPE, MH., masing-masing sebagai anggota majelis arbitrase serta didampingi oleh Sekretaris Majelis Kartadu S, S.H. Adapun hasil putusan telah ditetapkan dan disahkan oleh Ketua dan Sekretaris Majelis Badan Arbitrase Nasional Indonesia dan bersifat mengikat dengan inti rincian sebagai berikut Mengabulkan permohonan Pemohon untuk sebagian dari nilai yang dimohonkan Menyatakan Termohon telah melakukan ingkar janji (wanprestasi) Menghukum Termohon membayar kepada pemohon sejumlah Rp. 24.565.037.034,- dibulatkan Rp.24.565.000.000,- (termasuk bunga) (dua puluh empat milyar lima ratus enam puluh lima juta rupiah) Menghukum termohon untuk membayar kepada Pemohon biaya arbitrase dalam perkara ini sebesar Rp. 369.417.000,(tiga ratus enam puluh sembilan juta empat ratus tujuh belas ribu rupiah)

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

v.

Penjelasan

UU no 18 / 1999 Tentang Jasa Konstruksi

UU no 30 / 1999 Tentang Alternatif Sengketa Arbitrase

PP no 29 / 2000 Tentang dan Penyelenggaraan Jasa

Penyelesaian Konstruksi

Keputusan bersifat final, mutlak Pengadilan (Pidana/Perdata) Luar pengadilan dibantu pihak ketiga

Keputusan bersifat final, mutlak ---Luar pengadilan Konsultasi Mediasi Negosiasi Konsiliasi Penilaian Ahli

Keputusan bersifat final, mutlak ---Luar pengadilan Konsultasi Mediasi Negosiasi Konsiliasi Penilaian Ahli

vi.

Undang-undang no 18 tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi Cukup Jelas

vii.

Undang-undang no 30 tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Cukup Jelas

viii.

PP no 29/ 2000 Tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi Cukup Jelas

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

BAB V PEMBAHASAN Pada Bab ini akan dibahas mengenai analisa yang telah ditabulasikan. Beberapa pembahasan akan langsung menjawab dari beberapa rumusan pertanyaan sebelumnya. Mengapa ditemukan sengketa dalam dunia konstruksi? Akibat adanya kerugian pada satu pihak yang berkepentingan

Apakah insinyur dapat berperan dalam penyelesaian sengketa? Dengan sebagai pemberi data valid atas klaim yang terjadi

Bagaimana cara menentukan alternatif penyelesaian sengketa yang efektif? Melalui kondisi dan keinginan untuk menyelesaikan sengketa

Pedoman yang digunakan untuk membantu alternatif penyelesaian sengketa? Undang-undang dan peraturan yang berlaku di Negara Republik Indonesia

Siapa saja yang berwenang menjadi pihak ketiga dalam alternatif penyelesaian sengketa? Para ahli di bidangnya, Lembaga yang berwenang, pihak yang ditunjuk oleh kedua belah pihak

Melalui tabulasi dan diagram diatas, pengertian akan masing-masing unsur menjadi lebih mudah dimengerti oleh para insinyur. Kemudian mengenai undang-undang dan peraturan yang berkomplement satu sama lain sebetulnya memiliki persamaan pada klausa yang dibahas pada BAB peraturan dan undang-undang tersebut. Sehingga mencari komplement dari undang-undang dan peraturan menjadi lebih mudah. Adapun yang berkomplement adalah alternatif penyelesaian sengketa dan arbitrase. Hasil yang didapat dari komplement tersebut juga saling melengkapi tak mengurangi isi yang dijelaskan. Akan tetapi, pada studi kasus mengenai putusan Badan Arbitrase Nasional No 283 / VII/ ARB-BANI / 2008 tanggal 13 Januari 2009 telah didapatkan bahwa keputusan tiap Pemohon kepada Termohon belum tentu terkabulkan semuanya oleh Majelis. Namun keputusan tersebut telah diterima dengan baik oleh kedua pihak yang bersengketa.

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

BAB VI KESIMPULAN Berdasarkan uraian dan permasalahan serta analisis yang dikemukakan pada bab-bab sebelumnya dapat disusun kesimpuan sebagai berikut : 1. Dalam penyelesaian sengketa, pihak insinyur dapat berperan serta untuk membantu menyelesaikan masalah. 2. Alternatif penyelesaian sengketa dan arbitrase merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan perkara dengan terhormat efektif. 3. Apabila sengketa terjadi, maka pihak yang bersengketa dapat meminimalisir kerugian yang terjadi dengan alternatif penyelesaian sengketa dan arbitrase. 4. Setiap putusan dari arbitrase merupakan final, mutlak dan tidak dapat naik banding dan dimasukkan kembali ke arbitrase. 5. Sengketa konstruksi dapat dihindari dengan adanya koordinasi yang baik dan asas saling percaya dan jujur satu sama lain. 6. Undang-undang no 18 Tahun 1999 dan Undang-undang no 30 tahun 1999 dan peraturan pemerintah no 29 tahun 2000 merupakan pedoman yang valid untuk alternatif penyelesaian sengketa dan arbitrase di Indonesia BAB VII SARAN 1. Perlu adanya tinjauan kembali mengenai sengketa yang melibatkan pihak umum atau masyarakat. 2. Kasus pengadilan untuk sengketa konstruksi banyak yang tidak valid dan selesai di pengadilan sehingga tidak bisa dijadikan pembanding untuk alternatif penyelesaian sengketa dan arbitrase. 3. Validasi lebih lanjut terhadap proses arbitrase yang mengajukan bahwa pembayaran harus dilakukan diawal pengajuan arbitrase kepad Majelis BANI

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

DAFTAR PUSTAKA Buku Yasin, Nazarkhan., Mengenal Kontrak Konstruksi di Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006

Shahab, Hamid., Aspek Hukum Dalam Sengketa Bidang Konstruksi, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1996

Publikasi jurnal dan skripsi

Poerdyatmono, Bambang., 2003, Sengketa Pelaksanaan Kontrak Kerja Konsultan Pengawas Konstruksi, Skripsi S-1 llmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Sunan Giri, Surabaya (tidak dipublikasikan)

Poerdyatmono, Bambang., 2005, Asas Kebebasan Berkontrak (Contractvrijheid Beginselen) dan Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik van Omstandigheden) pada Kontrak Jasa Konstruksi, Jurnal Teknik Sipil, Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Atmajaya, Jogjakarta, Volume 6 No. 1.

Poerdyatmono, Bambang., 2008, Sengketa Jasa Konstruksi sebagai Akibat Terbitnya Beschikking dan Pelaksanaan Kortverban Contract : Tinjauan Aspek Hukum Manajemen Proyek,Prosiding Seminar Nasional VII, Program Studi Magister Manajemen Teknologi, Program Pascasarjana Institut Teknologi 10 November Surabaya

Poerdyatmono, Bambang., 2007, Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi , Jurnal Teknik Sipil, Fakultas Teknik , Universitas Madura, Pamekasan

Pinandita, Rizki Wahyu Sinatria., 2009, Penanganan Sengketa Pada Kontrak Konstruksi Yang Berdimensi Publik, Tesis S-2 Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, Jakarta

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia

Undang-Undang dan Peraturan

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi

Putusan

Salinan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia No. 283 / VII / ARB-BANI / 2008 tanggal 13 Januari 2009

Undang-Undang....., Haryadi Wirawan, FT UI, 2009

Universitas indonesia