Anda di halaman 1dari 7

Tinjauan Tentang Simplisia 2.3.1.

Pengertian Simplisia Pengertian simplisia menurut Farmakope Indonesia Edisi III adalah bahan alam yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan. 2.3.2. Penggolongan Simplisia Simplisia terbagi atas 3 golongan yaitu : 1. Simplisia nabati Simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman atau gabungan antara ketiganya. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan/ diisolasi dari tanamannya. 2. Simplisia Hewani Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni. 3. Simplisia Pelikan atau Mineral Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhan dan belum berupa bahan kimia murni. 2.3.3. Cara Pembuatan Simplisia Adapun tahap-tahap proses pembuatan pembuatan simplisia meliputi (Gunawan, 2004 ) : 1. Pengumpulan bahan baku Tahapan pengumpulan bahan baku sangat menentukan kualitas bahan baku. Faktor yang paling berperan dalam hal ini adalah masa panen. Berdasarkan garis besar pedoman panen, pengambilan bahan baku tanaman dilakukan sebagai berikut : Biji Pengambilan biji dapat dilakukan pada saat mulai mengeringnya buah atau sebelum semuanya pecah. Buah

Pengambilan buah tergantung tujuan dan pemanfaatam kandungan aktifnya. Panen buah bisa dilakukan saat menjelang masak, setelah benar-benar masak atau dengan cara melihat perubahan warna./bentuk dari buah yang bersangkutan. Bunga Panen bunga tergantung dari tujuan pemanfaatan kandungan aktifnya. Panen dapat dilakukan pada saat menjelang penyerbukan, saat bunga masih kuncup, atau saat bunga sudah mulai mekar. Daun Panen daun dilakukan pada saat proses fotosintesis berlangsung maksimal yaitu ditandai dengan saat-saat tanaman mulai berbunga atau buah mulai masak. Untuk pengambilan pucuk daun, dianjurkan dipungut pada saat warna pucuk daun berubah menjadi daun tua. Kulit batang Pemanenan kulit batang hanya dilakukan pada tanaman yang sudah cukup umur. Saat panen yang paling baik adalah awal musim kemarau. Umbi lapis Panen umbi dilakukan pada saat akhir pertumbuhan. Rimpang Panen rimpang dilakukan pada saat awal musim kemarau. Akar Panen akar dilakukan pada saat proses pertumbuhan berhenti atau tanaman sudah cukup umur. Panen yang dilakukan terhadap akar umumnya akan mematikan tanaman yang bersangkutan. 2. Sortasi basah Sortasi basah adalah pemilahan hasil panen ketika tanaman masih segar. Sortasi dilakukan terhadap : Tanaman kerikil Rumput-rumputan Bahan tanaman lain atau bagian lain dari tanaman yang tidak digunakan, Bagian tanaman yang rusak (dimakan ular dan sebagainya). 3. Pencucian Pencucian simplisia dilakukan untuk membersihkan kotoran yang melekat, terutama bahan-bahan yang berasal dari dalam tanah dan juga bahan-bahan yang tercemar

pestisida. Pencucian dilakukan dengan menggunakan air yang berasal daru beberapa sumber yakni mata air, sumur dan PAM. 4. Pengubahan Bentuk Pada dasarnya tujuan pengubahan bentuk simplisia adalah untuk memperluas permukaan bahan baku. Semakin luas permukaan maka bahan baku akan semakin cepat kering. Proses pengubahan bentuk ini meliputi : perajangan untuk rimpang, daun dan herba. Pengupasan untuk buah, kayu, kulit kayu dan biji-bijian yang ukurannya besar. Pemiprilan khusus untuk jagung, yaitu biji dipisahkan dari bonggolnya. Pemotongan untuk akar, batang, kayu, kulit kayu dan ranting. Penyerutan untuk kayu. 5. Pengeringan Proses pengeringan simplisia, terutama bertujuan : Menurunkan kadar air sehingga bahan tersebut tidak mudah ditumbuhi kapang dan bakteri. Menghilangkan aktivitas enzim yang bisa menguraikan lebih lanjut kandungan zat aktif. Memudahkan dalam hal pengelolaan proses, selanjutnya (ringkas,mudah disimpan, tahan lama dan sebagainya). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan yaitu : Waktu pengeringan. Semakin lama dikeringkan akan semakin kering bahan itu. Suhu pengeringan. Semakin tinggi suhunya semakin cepat kering, tetapi harus dipertimbangkan daya tahan kandungan zat aktif di dalam sel yang kebanyakan tidak tahan panas. Kelembapan udara disekitarnya dan kelembapan bahan atau kandungan air dari bahan. Ketebalan bahan yang dikeringkan. Sirkulasi udara. Luas permukaan bahan. Semakin luas permukaan bahan semakin mudah kering. 6. Sortasi Kering Sortasi kering adalah pemilihan bahan setelah mengalami proses pengeringan. Pemilihan dilakukan terhadap bahan-bahan yang terlalu gosong, bahan yang rusak akibat terlindas roda kendaraan, atau dibersihkan dari kotoran hewan.

7.

Pengepakan dan Penyimpanan

Setelah tahap pengeringan dan sortasi kering selesai maka simplisia perlu ditempatkan dalam suatu wadah tersendiri agar tidak saling bercampur antara simplisia satu dengan yang lainnya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengepakan dan penyimpanan simplisia adalah : cahaya oksigen atau sirkulasi udara reaksi kimia yang terjadi antara kandungan aktif tanaman dengan wadah. Penyerapan air Kemungkinan terjadinya proses dehidrasi. Pengotoran atau pencemaran, baik yabg diakibatkan oleh serangga, kapang, bulu-bulu tikus atau binatang lain. Sementara persyaratan wadah yang akan digunakan sebagai berikut: Harus inert, artinya tidak mudah bereaksi dengan bahan lain. Tidak beracun bagi bahan yang wadahinya maupun bagi manusia yang mannganinya. Mampu melindungi bahan simplisia dari cemaran mikroba, kotoran dan serangga. Mampu melindungi bahan simplisia dari penguapan kandungan kaif Mampu melindungi bahan simplisia dari pengaruh cahaya, oksigen, dan uap air. 2.3.4 Pemeriksaan Mutu Simplisia Tujuan pemeriksaan mutu simplisia agar diperoleh simplisia yang memenuhi persyaratan umum yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI dalam buku-buku resmi seperti Materia Medika Indonesia, Farmakope Indonesia, dan Ekstra Farmakope Indonesia.

Cara Mengidentifikasi Kandungan Kimia Simplisia a. Reaksi Warna Reaksi warna dilakukan terhadap hasil penyarian zat berkhasiat baik sebagai hasil mikrosublimasi atau langsung terhadap irisan serbuk simplisia (Uji Histokimia). Terdiri dari :

b. -

a) b) c.

Lignin, Suberin, Kutin, Minyak lemak, Minyak atsiri, Getah dan resin, Pati dan aleuron, Lendir dan pectin, Selulosa, Tannin, Dioksiantrakinon bebas, Fenol, Saponin, Flavanoid, Karbohidrat, Glikosida, Glikosida antrakinon, Steroid. Reaksi Pengendapan Alkaloida Timbang serbuk 500 mg simplisia, tambahkan 1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air, panaskan diatas tangas air selama 2 menit, dinginkan, dan saring, pindahkan masingmasing 3 tetes filtrate pada dua kaca arloji : Tambahkan 2 tetes Mayer LP pada kaca arloji pertama, terbentuk endapan menggumpal berwarna putih Tambahkan dua tetes Bouchardat LP pada kaca arloji kedua, terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam. Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi Lapis Tipis adalah salahsatu teknik pemisahan komponen kimia dengan prinsip adsorbsi dan partisi menggunakan lempeng berukuran 3x7 cm, yang dilapisi oleh silica gel sebagai fase adsorban (penyerap) atau disebut fase diam dan eluen berupa campuran beberapa atau fase gerak yang dapat memisahkan senyawa kimia dengan baik.

. Amin, A., 2005., Penuntun Praktikum Farmakognosi, Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia, Makassar. 2. Attamimi., 2003., Wawasan Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia, Makassar., 3. Dharma, A.P. 1985. Tanaman Obat Tradisional Indonesia. PN Balai Pustaka; Jakarta. 4. Depdiknas RI. 1985. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan RI; Jakarta. 5. Mirawati., 2005., Penuntun Praktikum Farmaseutik, Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia, Makassar. 6. Sastronoamidjojo., 2001., Obat Asli Indonesia, Dian Rakyat, Jakarta. 7. Tjay Tan Hoan., 2002., Obat-obat penting Edisi V, PT. Elex Media Komparindo,Jakarta.

Simplisia terbagi atas simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia mineral. 1. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan

belum berupa zat kimia murni. Simplisia nabati paling banyak digunakan seperti rimpang temulawak yang dikeringkan bunga melati, daun seledri, biji kopi, buah adas 2. Simplisia hewani, yaitu simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni contohnya sirip ikan hiu dan madu 3. Simplisia pelikan (mineral), yaitu simplisia yang berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.

simplisia nabati merupakan jumlah terbanyak yang digunakan untuk bahan obat. Penyiapan simplisia nabati merupakan suatu proses memperoleh simplisia dari tanaman sumbernya di alam. Proses ini meliputi pengumpulan (collection), pemanenan (harvesting), pengeringan (drying), pemilihan (garbling), serta pengepakan, penyimpanan dan pengawetan (packaging, storage, and preservation).

Simplisia dapat diperoleh dari tanaman liar atau dari tanaman yang sengaja dibudidayakan/dikultur. Tanaman liar disini diartikan sebagai tanaman yang tumbuh dengan sendirinya di hutan-hutan atau di tempat lain di luar hutan atau tanaman yang sengaja ditanam tetapi bukan untuk tujuan memperoleh simplisia untuk obat (misalnya tanaman hias, tanaman pagar). Sedangkan tanaman kultur diartikan sebagai tanaman budidaya, yang ditanam secara sengaja untuk tujuan mendapatkan simplisia. Tanaman budidaya dapat berupa perkebunan luas, usaha pertanian kecil-kecilan atau berupa tanaman halaman dengan jenis tanaman yang sengaja ditanam untuk tujuan memperoleh simplisia tetapi juga berfungsi sebagai tanaman hias. Dibandingkan dengan tanaman budidaya, tanaman liar sebagai sumber simplisia mempunyai beberapa kelemahan untuk dapat menghasilkan simplisia dengan mutu yang memenuhi standar tetap yang dikehendaki. Hal ini disebabkan karena : a. Unsur tanaman pada waktu pengumpulan tanaman atau organ tanaman sulit atau tidak dapat ditentukan oleh pengumpul. Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia sering dipengaruhi oleh umur tanaman pada waktu pengumpulan simplisia yang bersangkutan. Ini berarti aktivitas biologis yang dikehendaki dari suatu simplisia sering berubah apabila umur tanamn dari suatu pengumpulan ke waktu pengumpulan lain tidak sama. b. Jenis (spesies) tanaman yang dikehendaki sering tidak tetap dari satu waktu pengumpulan ke waktu pengumpulan berikutnya. Sering timbul kekeliruan akan jenis tanaman yang dikehendaki. Dua jenis tanaman dalam satu marga kadang mempunyai bentuk morfologi yang sama dari pengamatan seseorang (pengumpul) yang sering bukan seorang ahli / seorang yang berpengalaman dalam mengenal jenis tanaman yang dikehendaki sebagai sumber simplisia. Perbedaan jenis suatu tanaman akan berarti perbedaan kandungan senyawa aktif. c. Perbedaan lingkungan tempat tumbuh jenis tanaman yang dikehendaki. Satu jenis tanaman liar sering tumbuh pada tempat tumbuh dan lingkungan yang berbeda (ketinggian, keadaan tanah, cuaca yang berbeda). Simplisia yang diperoleh dari satu jenis tanaman sama tetapi berasal dari dua lingkungan dapat mengandung senyawa aktif dominan yang berbeda. Misalnya tanaman D. Myoporoides di daerah Australia utara kandungan skopolamina yang dominan, sedangkan di Australia selatan kandungan hiosiamina yang dominan. Jika simplisia diambil dari tanaman budidaya maka keseragaman umur, masa panen dan galur tanaman dapat dipantau. Namun tanaman budidaya juga ada kerugiannya. Pemeliharaan rutin menyebabkan tanaman menjadi manja, mudah terserang hama sehingga pemeliharaan ekstra diperlukan untuk mencegah serangan parasit. Penggunaan pestisida untuk ini membawa konsekuensi tercemarnya simplisia dengan residu pestisida (sehingga perlu pemeriksaan residu pestisida). Identifikasi simplisia yang akan dilakukan secara : Organoleptik meliputi pengujian morfologi, yaitu berdasarkan warna, bau, dan rasa, dari simplisia tersebut.

Makroskopik merupakan pengujian yang dilakukan dengan mata telanjang atau dengan bantuan kaca pembesar terhadap berbagai organ tanaman yang digunakan untuk simplisia. Mikroskopik, pada umumnya meliputi pemeriksaan irisan bahan atau serbuk dan pemeriksaan anatomi jaringan itu sendiri. Kandungan sel dapat langsung dilihat di bawah mikroskop atau dilakukan pewarnaan. Sedangkan untuk pemeriksaan anatomi jaringan dapat dilakukan setelah penetesan pelarut tertentu, seperti kloralhidrat yang berfungsi untuk menghilangkan kandungan sel seperti amilum dan protein sehingga akan dapat terlihat jelas di bawah mikroskop. Namun, untuk pemeriksaan

Anonim, 1975. Materia Medika Indonesia, Jilid I, Departemen Kesehatan RI, Jakarta Anonim, 1977. Materia Medika Indonesia, Jilid II, Departemen Kesehatan RI, Jakarta Anonim, 1979. Materia Medika Indonesia, Jilid III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta Anonim, 1979. Materia Medika Indonesia, Jilid IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta Anonim, 1979. Materia Medika Indonesia, Jilid V, Departemen Kesehatan RI, Jakarta Anonim, 1979. Materia Medika Indonesia, Jilid VI, Departemen Kesehatan RI, Jakarta Anonim, 2008, Buku Ajar Mata Kuliah Farmakognosi, Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana, Jimbaran Tim Penyusun, 2008, Petunjuk Praktikum Farmakognosi, Laboratorium Farmakognosi Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana, Jimbaran