Anda di halaman 1dari 39

W

TU T

UR I

H A ND

A
NI YA

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah

PUSAT PENGEMBANGAN TENAGA KEPENDIDIKAN BADAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA PENDIDIKAN DAN PENJAMINAN MUTUPENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2012

SAMBUTAN
KEPALA BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
Dalam rangka pelaksanaan program penguatan kemampuan kepala sekolah yang merupakan amanat Inpres Nomor 1 tahun 2010, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMPK dan PMP) telah menyusun materi pelatihan untuk penguatan kemampuan kepala sekolah. Pengembangan materi tersebut telah mengacu pada standar kepala sekolah/madrasah sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Saya memberikan penghargaan yang tinggi kepada Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan atas dihasilkannya materi penguatan kemampuan kepala sekolah dalam rangka meningkatkan kompetensi kepala sekolah. Materi pelatihan ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi individu kepala sekolah dan lembaga yang terkait dalam penguatan kemampuan kepala sekolah di propinsi dan kabupaten/kota. Berbagai pihak yang ingin berkontribusi terhadap program penguatan kepala sekolah dapat memperkaya dengan berbagai referensi dan khasanah bacaan lainnya untuk mewujudkan kepala sekolah yang profesional dan akuntabel. Semoga semua usaha kita untuk penguatan kemampuan kepala sekolah sesuai dengan standar kepala sekolah sebagaimana diamanatkan dalam Permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah dapat diwujudkan sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya dan menghasilkan lulusan yang cerdas, kreatif, inovatif, berpikir kritis, cakap menyelesaikan masalah, dan bernaluri kewirausahaan. Jakarta, Maret 2012 Kepala Badan PSDMPK dan PMP

Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd NIP.196202031987031002

KATA PENGANTAR
Materi pelatihan yang telah disusun merupakan bagian dari rencana pelaksanaan program penguatan kepala sekolah, program kedua dari delapan program 100 hari Mendiknas. Program penguatan kemampuan kepala sekolah sangat penting mengingat peran strategis kepala sekolah di dalam proses peningkatan mutu pendidikan. Kepala sekolah mempunyai tugas yang sangat penting di dalam mendorong guru untuk melakukan proses pembelajaran yang mampu menumbuhkan berpikir kritis, kreatif, inovatif, cakap menyelesaikan masalah, dan bernaluri kewirausahaan bagi siswa sebagai produk suatu sistem pendidikan. Materi pelatihan ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi peningkatan kompetensi kepala sekolah sesuai yang diamanahkan Permendiknas No 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Kami menyadari bahwa materi pelatihan ini masih jauh dari sempurna. Namun kami perlu menyampaikan penghargaan kepada tim penyusun yang telah berusaha dan berhasil menyiapkan materi pelatihan yang dapat dijadikan bahan bacaan bagi usaha peningkatan kompetensi kepala sekolah. Berbagai pihak yang terkait dengan penguatan kemampuan kepala sekolah dapat memperkaya dengan materi yang lain sepanjang mencapai tujuan yang sama yaitu meningkatkan kompetensi kepala sekolah sesuai dengan Permendiknas No 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Semoga materi pelatihan ini bermanfaat bagi usaha penguatan kemampuan kepala sekolah di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Jakarta, Maret 2012

Kepala Pusbang Tendik

Dr. Muhammad Hatta NIP 195507201983031003

ii

DAFTAR ISI

SAMBUTAN .......................................................................................... KATA ............................................................................... DAFTAR ............................................................................................. PENDAHULUAN ..................................................................................... PENDAHULUAN A. ISI PENGANTAR

iii

PENDAHULUAN

Latar Belakang .............................................................................


Kompetensi B. MBS Yang Diharapkan ............................................. Deskripsi C. Materi Pelatihan ............................................................ KEGIATAN BELAJAR 1 KONSEP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH .................................... Pengantar A. ..................................................................................... 3 4

5 5

iii

B. Materi Pokok

Latihan/Tugas C. Error!

Reference

source

not

found.

14Error ! Bookm ark not defined .

............................................

D. Rangkuman Error! Reference source not found. .....

15Error! Bookma rk not defined.

KEGIATAN BELAJAR 2 PELAKSANAAN MBS ............................................................................. Pengantar A. ..................................................................................... B. Materi

16 17Error! Bookma rk not defined.

PokokError!

Reference

source

not

found.

...........................................................

Latihan/Tugas: C. .............................................................................. D. Error!

255 25

Reference

source

not

found.

..................................................................................... KEGIATAN BELAJAR 3 MONITORING DAN EVALUASI ............................................................ Pengantar A. ..................................................................................... B. Materi Pokok............................................................................... Latihan C. /Tugas .............................................................................. Ringkasan D. .....................................................................................

27 277 288 3030 3030

iv

Refleksi E. ......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA

31

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tantangan yang dihadapi oleh kepala sekolah semakin beragam dan cepat berubah. Tantangan ini dapat lebih cepat direspon oleh sekolah kalau pengelola sekolah menerapkan kebijakan dengan menganggap sekolah sebagai pusat perhatiannya (school

at

the

center).

Konsep

pengembangan manajemen berbasis sekolah (MBS) berkembang sebagai respon dari sistem manajemen yang dikendalikan oleh otoritas eksternal (MKE). Upaya pengembangan konsep dan teori manajemen berbasis sekolah sudah dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu, dan sejak tahun 1999 konsep MBS telah di diujicobakan di beberapa sekolah di Indonesia. Beberapa sekolah berkemauan untuk melaksanakan MBS, tetapi terbentur kepada belum terbentuknya pemahaman bagaimana menerapkan konsep tersebut secara operasional.

Di beberapa belahan dunia, MBS terlahir dengan beberapa nama yang berbeda, antara lain tata kelola berbasis sekolah (school-based

governance), manajemen mandiri sekolah (school self-manegement),


dan bahkan juga dikenal dengan school site management atau manajemen yang bermarkas di sekolah. Istilah-istilah tersebut memang mempunyai pengertian dengan penekanan yang sedikit berbeda. Namun, nama-nama tersebut memiliki roh yang sama, yakni sekolah diharapkan dapat menjadi lebih otonom (bukan hanya sekedar unit pelaksana teknis) dalam pelaksanaan manajemen sekolahnya, khususnya dalam penggunaan 3M-nya, yakni man, money, dan material. Sekolah mengemban fungsi berposisi di garis paling depan dalam melayani pendidikan masyarakat, sehingga sekolah harus dapat merespon dengan cepat perubahan yang ada, namun juga tetap mengikuti standarstandar yang sudah ditentukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sekolah sebagai unit organisasi yang mempunyai otonomi, mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri. Pengoperasionalan MBS memerlukan langkah-langkah perumusan lingkup kegiatan pengelolaan yang sudah digariskan dalam peraturan kementerian dalam bentuk standar-standar pengelolaan yang harus diikuti oleh sekolah (kegiatan yang diikat oleh aturan), dan kegiatan-kegiatan yang sepenuhnya diatur oleh sekolah (otonomi sepenuhnya). Penerapan MBS secara yuridis diamanatkan oleh beberapa aturan perundangan antara lain 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 51, Ayat (1); 2

Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 49, Ayat (1); Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas 3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan, yang akan diuraikan lebih mendetail lagi pada BAB II dan III 4. Peraturan Pemerintah No 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendididikan, Pasal 50 dan 51. Pasal 50 Satuan atau program pendidikan wajib bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di satuan atau program pendidikannya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan sesuai dengan kewenangannya. Pasal 51 (1) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 17, Pasal 28, dan/atau Pasal 39, serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. B. Kompetensi MBS Yang Diharapkan Setelah mengikuti serangkaian kegiatan belajar MBS, peserta penguatan kepala sekolah diharapkan memiliki kompetensi-kompetensi berikut: a. memahami konsep MBS; b. menerapkan konsep MBS; c. melaksanakan monitoring dan evaluasi MBS.

C. Deskripsi Materi Pelatihan Untuk mencapai tiga kompetensi MBS sebagaimana disebut pada butir B, tiga kegiatan pembelajaran untuk penguatan kemampuan kepala sekolah telah disusun, yaitu: 1. Kegiatan pembelajaran 1, ditujukan untuk penguasaan materi Konsep MBS; mencakup arti, tujuan, konteks, prinsip, target, praktek-praktek dan kewenangan 2. Kegiatan pembelajaran Penerapan 2, ditujukan untuk penguasaan

kompetensi

MBS;

mencakup

mengidentifikasi

kegiatan pengelolaan, menyusun best practice dalam bentuk diagram alir, mengidentifikasi aturan mengenai kewenangan, dan mengidentifikasi penanggung jawab kegiatan dan pihak terlibat. 3. Kegiatan pembelajaran 3 ditujukan untuk penguasaan

kompetensi monitoring dan Evaluasi, mencakup menyusun perangkat monitoring dan evaluasi kegiatan pengelolaan.

II. KEGIATAN BELAJAR 1 KONSEP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

A. Pengantar Bukti-bukti empirik lemahnya pola lama manajemen pendidikan nasional dan digulirkannya otonomi daerah telah mendorong dilakukannya penyesuaian diri dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan masa depan yang lebih bernuansa otonomi dan yang lebih demokratis. Berikut disajikan dimensi-dimensi perubahan pola manajemen, dari yang lama menuju ke yang baru. Dimensi-dimensi perubahan pola manajemen pendidikan Pola Lama Subordinasi Pengambilan keputusan terpusat Ruang gerak kaku Pendekatan birokratik Sentralistik Pola Baru Otonomi Pengambilan keputusan partisipatif Ruang gerak luwes Pendekatan professional Desentralistik

Pola Lama Diatur Overregulasi Mengontrol Mengarahkan Menghindari resiko Gunakan uang semuanya Individual yang cerdas Informasi terpribadi Pendelegasian Organisasi herarkis Motivasi diri Deregulasi

Pola Baru

Mempengaruhi Memfasilitasi Mengelola resiko Gunakan uang seefisien mungkin Teamwork yang cerdas Informasi terbagi Pemberdayaan Organisasi datar

Pada pola lama, tugas dan fungsi sekolah lebih pada melaksanakan program dari pada mengambil inisiatif merumuskan dan melaksanakan program peningkatan mutu yang dibuat sendiri oleh sekolah. Pada Pola baru, sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya, pengambilan keputusan dilakukan secara partisipatif dan partsisipasi masyarakat makin besar, sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya, pendekatan profesionalisme lebih diutamakan dari pada pendekatan birokrasi, pengelolaan sekolah lebih desentralistik, perubahan sekolah lebih didorong oleh motivasi-diri sekolah dari pada diatur dari luar sekolah, regulasi pendidikan lebih sederhana, peranan pusat bergeser dari mengontrol memfasilitasi, menjadi dari mempengaruhi menghindari dan dari mengarahkan mengolah ke resiko menjadi resiko,

penggunaan uang lebih efisien karena sisa anggaran tahun ini dapat digunakan untuk anggaran tahun depan (efficiency-based budgeting), lebih mengutamakan teamwork, informasi terbagi ke semua warga 6

sekolah, lebih mengutamakan pemberdayaan, dan struktur organisasi lebih datar sehingga lebih efisien. B. Materi Pokok Lingkup materi yang akan dibahas dalam konsep MBS mencakup; arti MBS, Tujuan MBS, dan Karakteristik MBS. 1. Pengertian MBS Secara umum, manajemen berbasis sekolah (MBS) dapat diartikan sebagai model pengelolaan yang memberikan otonomi (kewenangan dan

tanggungjawab)

lebih

besar

terhadap

sekolah,

memberikan

fleksibilitas/keluwesan-keluwesan terhadap sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah,
karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusaha, dan sebagainya). Hal-hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan otonomi tersebut, sekolah diberikan kewenangan dan tanggungjawab untuk mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan tuntutan sekolah serta masyarakat atau stakeholder yang ada. (Catatan: MBS tidak dibenarkan menyimpang dari peraturan perundangundangan yang berlaku). De Grauwe dalam laporan kajiannya The Quality Imperative School-based management (SBM): does it improve quality? (2005) memberikan definisi MBS sebagai transfer kewenangan dalam pembuatan keputusan pengelolaan sekolah ke tingkat sekolah. Konsep MBS harus dapat

menjawab kewenangan mana saja yang sebelumnya menjadi kewenangan pengelola pendidikan tingkat nasional ditransfer menjadi kewenangan sekolah, dan kepada siapa saja kewenangan-kewenangan di tingkat sekolah tersebut diberikan. 2. Tujuan MBS MBS bertujuan untuk meningkatkan kinerja sekolah melalui pemberian kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar kepada sekolah yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola sekolah yang baik yaitu partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas. Peningkatan kinerja sekolah yang dimaksud meliputi peningkatan kualitas, efektivitas, efisiensi, produktivitas, dan inovasi pendidikan. Dengan MBS, sekolah diharapkan makin berdaya dalam mengurus dan mengatur sekolahnya dengan tetap berpegang pada koridor-koridor kebijakan pendidikan nasional. Perlu digarisbawahi bahwa pencapaian tujuan MBS harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (partisipasi, transparansi, akuntabilitas, dan sebagainya) 3. Karakteristik MBS Leithwood K., & Menzies T. (1998) (Forms and effects of school-based management: a review. Educational policy, vol. 12, no. 3, pp.325-347. 13) mengidentifikasi karakteristik MBS mencakup 4 aspek, yaitu: 1. Kontrol administratif: dibawah kewenangan kepala sekolah. 2. Kontrol professional: dibawah kewenangan korps guru 3. Kontrol masyarakat: dibawah kewenangan wali siswa melalui dewan sekolah

4. Kontrol keseimbangan: kontrol professional dan kontrol masyarakat diperagakan secara seimbang. Di Indonesia karakteristik MBS akan diuraikan dalam prinsip, konteks, target, dan praktek-praktek MBS. Prinsip, kontek, dan target MBS akan diuraikan dalam lanjutan BAB II ini, sedangkan praktek-praktek MBS akan diuraikan dalam bab selanjutnya, yaitu BAB III PELAKSANAAN MBS. a. Prinsip Penerapan MBS ini didasari oleh empat prinsip yang dikemukakan oleh Yin Cheong Cheng (1996) School

effectiveness

and

school-based

management: a mechanism for development; yaitu, ekuifinalitas,


desentralisasi, sekolah sebagai unit swakelola, dan inisiatif, yang mana prinsip-prinsip diatas tidak pernah diakomodasi pada MKE. Prinsip equifinalitas menyatakan bahwa ada banyak cara yang berbeda untuk mencapai satu tujuan. Satu organisasi mempunyai potensi dan kendala yang berbeda dibandingkan organisasi lain. Sangat tidak masuk akal kalau organisasi-organisasi yang berbeda karakternya dipaksa untuk mencapai satu tujuan dengan cara yang sama. Prinsip desentralisasi didasarkan kepada pelibatan kegiatan tidak hanya di pusat saja, tetapi disebar ke daerah-daerah untuk terlibat dalam pembuatan keputusan. Tugas pusat untuk membuat keputusan akan semakin sulit karena keragaman kondisi di daerah masing-masing. Pelibatan daerah untuk ikut memutuskan sendiri apa yang harus dilakukan, menjadi keharusan agar organisasi dapat melakukan tindakan

terbaik sesuai dengan kondisinya. Demikian juga dengan kewenangan di sekolah, pelibatan staf sekolah perlu dilakukan. Prinsip sekolah sebagai unit swakelola didasarkan bahwa kegiatan sekolah sehari-hari harus tetap berjalan. Semua masalah yang ada harus cepat ditangani tanpa menunggu instruksi dari otoritas eksternal. Kegiatan sekolah tidak dapat berjalan lancar kalau semua kegiatan harus menunggu instruksi dari otoritas eksternal. Prinsip inisiatif menegaskan bahwa sekolah sebagai organisasi mandiri tidak perlu menunggu keputusan otoritas eksternal dalam melakukan kegiatannya. Ada empat tingkat inisiatif dari yang paling rendah yaitu hanya menunggu, menuju ke tingkat lebih tinggi yaitu meminta petunjuk, meningkat ke lebih tinggi lagi yaitu meminta ijin, menuju ke inisiatif yang paling tinggi yaitu melakukan dulu baru melaporkan. b. Konteks Konteks penerapan MBS adalah dalam rangka membentuk sekolah yang memiliki kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas sebagaimana pesan PP 17, 2007 pasal 49; Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, akuntabilitas. Kemandirian Kemandirian dapat diartikan sebagai kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri, kemandirian dari sisi program dan pendanaan kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan

10

merupakan tolok ukur utama kemandirian sekolah. Jadi kemandirian sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. Kemitraan Setiap warga sekolah mempunyai fungsi dan peran yang spesifik. Hubungan antar warga sekolah didasarkan atas kemitraan atau

partnership yaitu bentuk hubungan setara dalam berbagi tanggung jawab


sesuai dengan fungsi dan perannya. Partisipasi Sekolah dapat mewujudkan visinya kalau semua warga terlibat sesuai dengan fungsi dan perannya. Pelibatan warga sekolah dalam penyelenggaraan sekolah harus mempertimbangkan keahlian, batas kewenangan, dan relevansinya dengan tujuan partisipasi. Peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah akan mampu menciptakan keterbukaan, kerjasama yang kuat, akuntabilitas, dan demokrasi pendidikan. Keterbukaan yang dimaksud adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. Keterbukaan Keterbukaan memberi kesempatan kepada warga sekolah untuk

mengetahui hal-hal yang sedang terjadi dan memahami kondisi nyata sekolah. Pemahaman ini menjadi awal tumbuhnya kepedulian warga sekolah.

11

Akuntabilitas MBS harus dipahami sebagai model pemberian kewenangan yang lebih besar kepada sekolah. Sebagai konsekuensinya, sekolah harus bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan. Untuk itu sekolah berkewajiban mempertanggungjawabkan kepada publik tentang apa yang dikerjakan sebagai konsekuensi dari mandat yang diberikan oleh publik. Itu berarti akuntabilitas publik menyangkut hak publik untuk memperoleh pertanggungjawaban penyelenggara sekolah. c. Target Target manajemen berbasis sekolah dirumuskan dalam permendiknas nomer 19 tahun 2007 tentang pengelolaan pendidikan, mencakup 6 target seperti berikut: (a) perencanaan program; (b) pelaksanaan rencana kerja; (c) pengawasan dan evaluasi; (d) kepemimpinan sekolah/madrasah; (e) sistem informasi manajemen; dan (f) penilaian khusus. Masing-masing target diuraikan lebih lanjut menjadi butir-butir target, misalnya komponen perencanaan program dibagi menjadi 4 butir yaitu visi, misi, tujuan dan rencana kerja sekolah. Secara ringkas target MBS digambarkan dalam Gambar 1 peta konsep berikut.

12

Gambar 1. Peta konsep pengelolaan sekolah sesuai dengan Permen nomer 19 tahun 2007 tentang pengelolaan sekolah

Untuk melakukan perumusan rencana kerja, sekolah perlu melakukan evaluasi diri sekolah, sebagaimana diatur dalam Permen 19 tahun 2007 tentang pengelolaan sekolah, peraturan menteri Pendidikan Nasional Nomer 63 tahun 2009 tentang Sistim Penjaminan Mutu Pendidikan.

13

C. Latihan/Tugas: Individu: 1. Pecahkanlah kasus manajemen di bawah ini secara individual.

Kasus: MANAJEMEN SEKOLAH


Kemajuan Sekolah, sebenarnya tidak hanya berada di pundak kepala sekolah saja. Ada tim kerja yang seharusnya solid di dalamnya. Ada guru, karyawan, siswa, dan komite sekolah. Mereka inilah yang berpengaruh dan yang terkena pengaruh oleh stakeholder yang seharusnya bahu membahu dalam mengembangkan sekolah. Hal ini terlihat pada kepedulian para guru terhadap materi yang diajarkan, kepedulian para orang tua terhadap mutu pendidikan yang telah diterima anaknya, dan juga kepedulian komite sekolah terhadap kualitas sekolah yang turut mereka kelola. Sebenarnya, terbuka juga kemungkinan untuk membuat jalur hubungan dengan pihak di luar dinas pendidikan setempat. Ada kepedulian pihak swasta yang seharusnya juga mampu kita dorong untuk mulai peduli pada pendidikan yang digelar tak jauh dari wilayah perusahaan mereka. Kepekaan ini mungkin memang butuh bantuan pihak pemda masingmasing. Karena sesungguhnya peluang melibatkan pihak swasta memang belum banyak dilakukan di Indonesia. Kontribusi pihak swasta bisa kita masukkan pada aneka aspek. Mulai dari kontribusi fisik sampai pada peningkatan mutu guru dan kepala sekolah melalui gelaran acara pelatihan. Sponsor-sponsor utamanya dapat ditarik dari pihak swasta. Dalam kenyataannya, semua cerita di atas belum terjadi secara maksimal. Kasus di atas dimodifikasi dari cerita Ade Hidayat, Guru SD Cipayung, Bogor. Upaya-upaya apa yang harus dilakukan agar teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah, baik di dalam sekolah maupun dengan pihak di luar sekolah dapat diwujudkan secara ikhlas dan amanah?

14

Kelompok: Bentuklah kelompok dengan anggota 5 sampai 10 orang. Diskusikan kasus di atas! Hasil diskusi disajikan untuk dikomentari kelompok lainnya dan fasilitator. D. Ringkasan Konsep manajemen berbasis sekolah (MBS) merupakan model pengelolaan sekolah yang memberikan otonomi (kewenangan dan tanggungjawab) yang lebih besar kepada sekolah, karena konsep lama dimana pengelolaan sekolah terlalu dipengaruhi oleh kekuasaan eksternal (MKE). MBS dicirikan oleh prinsip-prinsip, konteks, yang berbeda dengan manajemen dikontrol oleh otoritas luar. MBS menerapkan empat prinsip, yaitu prinsip equifinalitas, desentralisasi, sekolah sebagai unit swakelola, dan inisiatif, dan konteks MBS adalah dalam rangka menuju kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.

15

III. KEGIATAN BELAJAR 2 PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

A. Pengantar Pelaksanaan MBS lebih menekankan kepada merumuskan bagaimana praktek-praktek MBS dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Kegiatan-kegiatan yang sudah lama diotonomkan di sekolah diungkapkan oleh Alison Bullock dan Hywel Thomas dalam school at the center 1997 halaman 7-8, mencakup lingkup kegiatan (1) penerimaan siswa; (2) penilaian (assessment) siswa; (3) informasi seleksi , berupa dokumen, yang dipublikasikan ke luar sekolah (4) pendanaan mencakup keputusan penggalian dan penggunaan dana. Dengan diterapkannya MBS, Caldwell and Spinks (dalam Alison Bullock dan Hywel Thomas dalam school at the center 1997 halaman 7) melaporkan otonomi yang lebih luas dalam kegiatan pengelolaan sekolah, yang mencakup desentralisasi : isi pendidikan/knowledge (desentralisasi pembuatan keputusan menyangkut kurikulum termasuk perumusan tujuan akhir lulusan); 16

teknologi (desentralisasi pembuatan keputusan berkaitan dengan sarana teknologi pengajaran dan pembelajaran); kewenangan/power sekolah); (desentralisasi dalam membuat kebijakan

bahan/material (desentralisasi pembuatan keputusan menyangkut penggunaan fasilitas, bahan dan perkakas); pemberdayaan sumberdaya manusia/people (desentralisasi keputusan berkaitan dengan alokasi sdm untuk pengajaran); waktu/time (desentralisasi pembuatan keputusan menyangkut alokasi waktu dalam kegiatan delajar mengajar), dan keuangan/finance (desentralisasi menyangkut alokasi dana). pembuatan keputusan

Penerapan MBS di Indonesia belum mengotonomikan kegiatan-kegiatan pengelolaan sepenuhnya seperti yang dirumuskan oleh Caldwell dan Spinks. Pelaksanaan MBS di Indonesia mengacu kepada Permen 19 th 2007 sebagaimana akan diuraikan pada bagian B Materi Pokok MBS. Kegiatan pembelajaran 2 mengenai pelaksanaan MBS ditujukan untuk mengidentifikasi kewenangan-kewenangan apa saja yang diberikan sekolah dan kepada siapa kewenangan tingkat sekolah diberikan Hasil identifikasi ini menjadi acuan dalam melaksanakan MBS. B. Materi Pokok Sesuai dengan prinsip ekuifinalitas dan swakelola, praktek-praktek MBS perlu dijabarkan supaya lebih operasional oleh masing-masing sekolah, menjadi bentuk prosedur baku atau praktek terbaik untuk masing-masing sekolah. Prinsip-prinsip MBS mengamanatkan bahwa pelaksanaan MBS menerapkan pendekatan idiograpik dalam arti membolehkan adanya keragaman dalam cara melaksanakan MBS dan bukan lagi menggunakan

17

pendekatan nomotetik yaitu cara melaksanakan MBS yang cenderung seragam/konformitas untuk semua sekolah. Oleh karena itu, tidak ada satu resep pelaksanaan MBS terbaik yang cocok untuk diberlakukan ke semua sekolah, atau praktek terbaik di satu sekolah belum tentu menjadi praktek terbaik bagi sekolah lain. Sebagai model-model manajemen, maka MBS merupakan model

deskriptif, yakni model yang menjelaskan tentang apa itu MBS, bagaimana pelaksanaannya, bukan merupakan model preskriptif yaitu model yang sudah memberikan petunjuk langkah-langkah secara detil. Untuk melaksanakan MBS sekolah merumuskan sendiri resepnya melalui pengalaman, pengkajian hasil riset orang lain, atau hasil penelitian tindakan sekolah, sekolah dapat merumuskan prosedur pengelolaan terbaik untuk semua praktek pengelolaan yang diamanatkan oleh permen 19 tahun 2007. Praktek-praktek manajemen berbasis sekolah dirumuskan dalam

permendiknas 19 tahun 2007 tentang pengelolaan pendidikan. Praktekpraktek ini merupakan jabaran dari butir-butir target. Praktek-praktek pengelolaan selengkapnya disajikan dalam Tabel 1 berikut ini Tabel 1. Praktek-praktek pengelolaan sekolah menurut Peraturan Menteri no 19 tahun 2007 tentang pengelolaan sekolah Target Perencanaan Butir Target Visi Misi Praktek pengelolaan Merumuskan dan menetapkan visi sekolah dan mengembangkannya Merumuskan dan menetapkan misi sekolah dan mengembangkannya

18

Target

Butir Target Tujuan

Praktek pengelolaan Merumuskan dan menetapkan tujuan sekolah dan mengembangkannya Menyusun rencana menengah kerja jangka

Rencana kerja

Menyusun rencana kerja tahunan Pelaksanaan Pedoman sekolah Membuat dan memiliki pedoman yang mengatur berbagai aspek pengelolaan Menyusun struktur organisasi

Struktur organisasi

Pengelolaan bidang Menyusun dan menetapkan kesiswaan petunjuk pelaksanaan operasional mengenai proses penerimaan peserta didik Pengelolaan bidang Menyusun KTSP kurikulum dan Menjamin mutu pembelajaran kegiatan pembelajaran Menyusun program penilaian Menyusun peraturan akademik Pengelolaan bidang Menyusun program pendayagunaan Pendidik dan pendidik dan tenaga kependidikan Tenaga Mengangkat pendidik dan tenaga Kependidikan kependidikan tambahan Mendukung upaya promosi, pengembangan, penempatan, dan mutasi

19

Target

Butir Target Pengelolaan Bidang Sarana dan Prasarana

Praktek pengelolaan Menetapkan kebijakan program secara tertulis mengenai pengelolaan sarana dan prasarana

Pengelolaan bidang Menyusun pedoman pengelolaan Keuangan dan biaya investasi dan operasional Pembiayaan Pengelolaan bidang budaya dan Lingkungan Sekolah/Madrasah Peranserta Masyarakat dan Kemitraan Sekolah Pengawasan dan evaluasi Program pengawasan Evaluasi diri Evaluasi dan pe ngembangan KTSP Evaluasi pendayagunaan PTK Akreditasi Menciptakan suasana, iklim, dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan. Melibatkan warga dan masyarakat pendukung sekolah/madrasah dalam mengelola pendidikan. Menyusun program pengawasan secara obyektif, bertanggung jawab dan berkelanjutan Melakukan evaluasi diri terhadap kinerja sekolah/madrasah Melakukan evaluasi dan pengembangan KTSP Melakukan evaluasi pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan direncanakan secara komprehensif pada setiap akhir semester Menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk mengikuti akreditasi Menganalisis tantangan, peluang, 20

Kepemimpinan Kepemimpinan

Target

Butir Target

Praktek pengelolaan kekuatan, dan kelemahan sekolah Bertanggung jawab dalam membuat keputusan anggaran sekolah/madrasah Melibatkan guru, komite sekolah dalam pengambilan keputusan Berkomunikasi untuk menciptakan dukungan intensif dari orang tua peserta didik dan masyarakat Menjaga dan meningkatkan motivasi kerja pendidik dan tenaga kependidikan Menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif bagi peserta didik Bertanggung jawab atas perencanaan partisipatif mengenai pelaksanaan kurikulum Melaksanakan dan merumuskan program supervisi, serta memanfaatkan hasil supervisi untuk meningkatkan kinerja sekolah Meningkatkan mutu pendidikan M emberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya

21

Target

Butir Target

Praktek pengelolaan Memfasilitasi pengembangan, penyebarluasan, dan pelaksanaan visi pembelajaran Membantu, membina, dan mempertahankan lingkungan sekolah/ madrasah dan program pembelajaran yang kondusif bagi proses belajar peserta didik dan pertumbuhan profesional para guru dan tenaga kependidikan Menjamin manajemen organisasi dan pengoperasian sumber daya sekolah/madrasah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, efisien, dan efektif Menjalin kerja sama dengan orang tua peserta didik dan masyarakat, dan komite sekolah Memberi contoh/teladan/tindakan yang bertanggung jawab Mendelegasikan sebagian tugas dan kewenangan kepada wakil kepala sekolah sesuai dengan bidangnya

Sistem Informasi Manajemen

Sistem Informasi Manajemen

Mengelola sistem informasi Manajemen yang memadai untuk mendukung administrasi pendidikan yang efektif, efisien dan akuntabel; Menyediakan fasilitas informasi yang efisien, efektif dan mudah

22

Target

Butir Target

Praktek pengelolaan diakses; Menugaskan seorang guru atau tenaga kependidikan untuk melayani permintaan, maupun pemberian informasi atau pengaduan dari masyarakat berkaitan dengan pengelolaan sekolah/ madrasah secara lisan maupun tertulis, direkam dan didokumentasikan; Melaporkan data informasi sekolah/ madrasah yang telah terdokumentasikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota Komunikasi antar warga sekolah/ madrasah di lingkungan sekolah/ madrasah dilaksanakan secara efisien dan efektif

Untuk melaksanakan MBS perlu dirumuskan (1) tahapan-tahapan atau langkah-langkah kegiatan dari semua praktek misalnya dalam bentuk bagan alir (flow chart), (2) mengidentifikasi aturan masing-masing langkah kegiatan, (3) mengidentifikasi siapa yang bertanggungjawab dalam masing-masing kegiatan, dan (4) siapa saja yang terlibat dalam masing-masing kegiatan tersebut. Keempat rumusan tersebut merupakan pedoman dalam pelaksanaan MBS, dan menjawab pertanyaan yang dikemukakan pada pengantar kegiatan pembelajaran 2 yaitu di dalam MBS kewenangan pengelolaan apa saja yang ditransfer ke tingkat sekolah, dan kepada siapa kewenangan ini diberikan pada level sekolah.

23

Diagram alir atau bagan alir adalah penggambaran secara grafis langkahlangkah dan urut-urutan prosedur dari suatu kegiatan agar lebih mudah dipahami. Kegiatan pengelolaan sekolah dapat dipetakan secara garis besar, atau dapat juga dipetakan secara lebih detil. Elemen-elemen yang terdapat pada flowchart diantaranya adalah: serangkaian langkah, input dan output, keputusan yang diambil, orang yang terlibat, waktu hingga evaluasi. Manfaat flowchart salah satunya adalah untuk menganalisa dan mendefinisikan proses, supaya langkah dan keputusan dijabarkan lebih detail. Sehingga, dengan demikian melalui proses pada flowchart ini kita dapat melihat potensi masalah. Flowchart juga sangat bermanfaat sebagai perangkat komunikasi yang dapat menghindarkan dari kesalahpahaman yang mungkin terjadi. Sebagai alat manajemen bagan alir dapat berfungsi sebagai pedoman penerapan praktek terbaik, juga dapat digunakan untuk penjaminan mutu (akan diuraikan lebih rinci pada kegiatan pembelajaran 3). Contoh diagram alir salah satu kegiatan pengelolaan sekolah disajikan dalam Tabel 2 berikut. Tabel 2. Contoh diagram alir pengembangan kurikulum
Proses Deskripsi Penanggung Jawab / Pihak Terkait

Acuan Permendiknas 22/2006

Permendiknas 22 th 2006
Membentuk Tim Pengembang KTSP Menyusun Struktur dan Muatan KTSP Kepala Sekolah Waka. Kurikulum Ketua Program Keahlian Guru

Penyusunan Draf KTSP

Panduan Pengembangan KTSP oleh BNSP

24

Penyusunan Dokumen Silabus Revisi

Validasi

Pengesahan dokumen Kurikulum

KTSP

sah digunakan

Mengkaji substansi SK/KD dan menjabarkannya ke dalam indikator, Mengembangkan kegiatan pembelajaran, menentukan jenis penilaian dan alokasi waktu Mengirim dokumen ke Tim Pengembang Kurikulum Tim Pengembang Kurikulum melakukan validasi dan memberikan masukan terhadap substansi pembelajaran Melakukan revisi sesuai masukan Validasi dan rekomendasi dinas pend kab/kota Verifikasi dan penandatanganan oleh dinas pend. Propinsi Pemberlakuan disahkan oleh kepala sekolah dengan pertimbangan komite Dokumen KTSP dikirim ke dinas Kabupaten untuk mendapat persetujuan

Waka. Kurikulum Ketua Program Keahlian Guru Waka. Kurikulum Ketua Program Keahlian Guru Idustri Waka. Kurikulum Ketua Program Keahlian Dinas pendidikan Komite sekolah

Panduan Pengembanngan KTSP oleh BNSP

Permendiknas 22/2006
Panduan Pengembanngan KTSP oleh BNSP

E.

Latihan/Tugas:

a. Pilihlah satu praktek pengelolaan dari 6 target pengelolaan sekolah dalam permen 19 tahun 2007, yaitu: Perencanaan Program, Pelaksanaan Rencana Program, Pengawasan dan Evaluasi, Kepemimpinan Sekolah, Sistem Informasi Manajemen, dan penilaian khusus (dipandu fasilitator). b. Rumuskan alur proses atau langkah-langkah kegiatan dalam bentuk diagram alir. c. Setelah rumusan alur proses selesai, inventarisir aturan-aturan yang menjadi acuan pada setiap tahapan alur proses tersebut. d. Tentukan penanggung jawab setiap tahapan kegiatan

25

e. Tentukan fihak-fihak yang terlibat dalam setiap tahapan kegiatan f. Presentasikan hasil kegiatan tersebut (dipandu fasilitator)
D. Ringkasan

Sebagai model manajemen, MBS merupakan model deskriptif (model yang menjelaskan apa MBS, pelaksanaannya fleksibel), bukan merupakan model preskriptif (dari kata prescription artinya resep dokter, model yang sudah memberikan petunjuk langkah-langkah detil, pelaksanaannya sudah baku). Untuk melaksanakan MBS sekolah perlu merumuskan (1) tahapan-tahapan atau langkah-langkah kegiatan dari semua praktek misalnya dalam bentuk bagan alir (2) mengidentifikasi aturan hukum masing-masing kegiatan, (3) mengidentifikasi siapa yang bertanggungjawab dalam masing-masing kegiatan, dan (4) siapa saja yang terlibat dalam masing-masing kegiatan tersebut.

26

IV. KEGIATAN BELAJAR 3 MONITORING DAN EVALUASI

A. Pengantar Monitoring adalah suatu proses pemantauan untuk mendapatkan

informasi tentang pelaksanaan MBS. Jadi, fokus monitoring adalah pemantauan pada pelaksanaan MBS, bukan pada hasilnya. Tepatnya, fokus monitoring adalah pada komponen proses MBS, baik menyangkut proses pengambilan keputusan, pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, maupun pengelolaan proses belajar mengajar. Sedang evaluasi merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi tentang hasil MBS. Jadi, fokus evaluasi adalah pada hasil MBS. Informasi hasil ini kemudian dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan. Jika hasil sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan, berarti MBS efektif. Sebaliknya jika hasil tidak sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan, maka MBS dianggap tidak efektif (gagal). Oleh karena itu, sebaiknya setiap sekolah yang melaksanakan MBS diharapkan memiliki data-data tentang prestasi siswa sebelum dan sesudah MBS. Hal ini penting untuk dilakukan agar

27

sekolah dengan mudah membandingkan prestasi siswa sebelum dan sesudah MBS. Jika setelah MBS ada peningkatan prestasi yang signifikan dibanding sebelum MBS, maka hal ini dapat diduga bahwa MBS cukup berhasil. Monitoring dan evaluasi MBS bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memberi masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan MBS. Sedang hasil evaluasi dapat memberikan informasi yang dapat digunakan untuk memberi masukan terhadap keseluruhan komponen MBS, baik pada konteks, input, proses, output, maupun outcome nya. Masukan-masukan dari hasil monitoring dan evaluasi akan digunakan untuk pengambilan keputusan. B. Materi Pokok Bagian C permendiknas 19 tahun 2007 mengamanatkan bahwa sekolah perlu melakukan pengawasan dan evaluasi mencakup Program pengawasan, Evaluasi diri, Evaluasi dan pengembangan KTSP, Evaluasi pendayagunaan PTK, dan Akreditasi. Praktek-praktek pengawasan dan evaluasi MBS juga perlu dirumuskan dalam bentuk prosedur baku praktek terbaik pengawasan dan evaluasi. Semua kegiatan MBS perlu dilakukan monitoring dan evaluasi untuk melihat keterlaksanaan dan keberhasilan setiap kegiatan tersebut. Karena itu diperlukan pengembangan perangkat-perangkat untuk melakukan monitoring dan evaluasi tersebut. Di bagian kegiatan pembelajaran 2 sudah dibahas penyusunan bagan alir kegiatan pengelolaan sekolah.

28

Perangkat monitoring dan evaluasi dapat dikembangkan dari prosedur baku yang sudah disusun. Prosedur baku antara lain berisi langkahlangkah yang diberi simbol segi empat dan keputusan yang diberi simbol belah ketupat. Monitoring dilakukan untuk melihat apakah langkahlangkah tersebut dilakukan sesuai dengan yang tertulis di prosedur baku atau tidak, sedangkan evaluasi dilakukan untuk membuat keputusan (decision) ya atau tidak pada simbol belah ketupat. Contoh bagan alur monitoring dan evaluasi salah satu kegiatan pengelolaan sekolah disajikan dalam Tabel 3 berikut. Tabel 3. Contoh bagan alir monitoring dan evaluasi kegiatan pengembangan kurikulum
Proses Penanggung Jawab / Pihak Terkait Pemantauan Dilakukan Tidak

Aturan Permendiknas 22/2006

Permendiknas 22 th 2006
Kepala Sekolah Waka. Kurikulum Ketua Program Keahlian Guru Waka. Kurikulum Ketua Program Keahlian Guru Waka. Kurikulum Ketua Program Keahlian Guru

Penyusunan Draf KTSP

Panduan Pengembangan KTSP oleh BNSP

Penyusunan Dokumen Silabus Revisi

Panduan Pengembanngan KTSP oleh BNSP

Permendiknas 22/2006
Panduan Pengembanngan KTSP oleh BNSP

Digunakan perangkat evaluasi *)

Validasi

29

Pengesahan dokumen Kurikulum

Waka. Kurikulum Ketua Program Keahlian Dinas pendidikan Komite sekolah

KTSP

sah digunakan

*)Perangkat evaluasi yang digunakan adalah menilai kesesuaian dokumen mencakup kesesuaian komponen kurikulum, struktur program, mata pelajaran, SKKD.

C. Latihan /Tugas Kelompok: Buatlah instrumen untuk melaksanakan monitoring dan evaluasi MBS! D. Ringkasan Monitoring dan evaluasi (monev) merupakan bagian integral dari pengelolaan pendidikan, baik di tingkat mikro, meso maupun makro. Monev dapat mengukur tingkat kemajuan pendidikan pada tingkat sekolah, dinas pendidikan kabupaten/kota, dinas pendidikan propinsi, dan kementerian. Dengan monev, kita dapat menilai apakah MBS benar-benar mampu meningkatkan mutu pendidikan. Monev MBS bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki/mengembangkan MBS.

30

E. Refleksi Mata Diklat : , tanggal .. .. ..

Nama Peserta : Sekolah Asal :

Setelah kegiatan berakhir saudara dapat melakukan refleksi dengan menjawab pertanyaan berikut ini secara Individu!

1. Apa yang saudara pahami setelah mempelajari materi ini ?

2. Pengalaman penting apa yang anda peroleh setelah mempelajari materi ini ?

3. Apa manfaat materi ini terhadap tugas anda sebagai kepala sekolah/ pengawas sekolah?

4. Apa rencana tindak lanjut yang akan saudara lakukan setelah kegiatan ini? 31

F. Rencana Tindak Lanjut Pilih 5 praktek pengelolaan MBS (lihat hal 18-23) sebagaimana diamanatkan oleh permendiknas 19 th 2007. Susun prosedur-prosedur pengelolaan sekolah. Gunakan tabel seperti pada halaman 25.

32

DAFTAR PUSTAKA Alison Bullock dan Hywel Thomas (1997). School at the center: a study of decentralisastion. Routledge Publication New York. De Grauwe (2005). The Quality Imperative School-based management (SBM): does it improve quality? (2005). Leithwood K., & Menzies T. (1998). Forms and effects of school-based management: a review. Educational policy, vol. 12, no. 3, pp.325347. 13) Yin Cheong Cheng (1996). School effectiveness and school-based management: a mechanism for development

33