Anda di halaman 1dari 20

TUGAS PERANCANGAN JEMBATAN

CABLE STAYED

DISUSUN OLEH : WIDIAKSO NOER FAJRIN M. IRVAN ZIDNY PRAMUWICAKSONO JEFRY DWI PRASETYO PATRICK MATHEUS WIBOWO BUDI MUHAMMAD IRFAN AMELIA TUTUT S. DIKO M. ABE DWINA MAHARANI AHMAD BUSIRI L2A009157 L2A009162 L2A009164 L2A009166 L2A009222 L2A009227 L2A009234 L2A009235 L2A009236 L2A009242 L2A009244

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Diponegoro Semarang 2012

PENDAHULUAN Jembatan cable stayed (Kabel Tetap) sudah dikenal sejak lebih dari 200 tahun yang lalu (Walther, 1988) yang pada awal era tersebut umumnya dibangun dengan menggunakan kabel vertical dan miring seperti Dryburgh Abbey Footbridge di Skotlandia yang dibangun pada tahun 1817. Jembatan seperti ini masih merupakan kombinasi dari jembatan cable stayed modern. Sejak saat itu jembatan cable stayed mengalami banyak perkembangan dan mempunyai bentuk yang bervariasi dari segi material yang digunakan maupun segi estetika. Pada umumnya jembatan cable stayed menggunakan gelagar baja, rangka, beton atau beton pratekan sebagai gelagar utama (Zarkasi dan Rosliansjah, 1995). Pemilihan bahan gelagar tergantung pada ketersediaan bahan, metode pelaksanaan dan harga konstruksi. Penilaian parameter tersebut tidak hanya tergantung pada perhitungan semata melainkan masalah ekonomi dan estetika lebih dominan. Kecenderungan sekarang adalah menggunakan gelagar beton, cast in situ atau prefabricated (pre cast). Suatu penelitian menunjukkan antara jembatan gantung dan jembatan cable-stayed

bahwa kelebihan jembatan

cable-stayed lebih unggul daripada

jembatan gantung. Kelebihan jembatan cable-stayed antara lain rasio panjang bentang utama dan tinggi pilon yang lebih murah. Defleksi akibat pembebanan simetris dan asimetris pada lebih dari separuh bentang jembatan gantung

mempunyai defleksi yang lebih besar di tengah bentang daripada cable-stayed. Keuntungan yang menonjol dari cable-stayed adalah tidak dipcrlukan

pengangkeran kabcl yang berat dan besar seperti jembatan gantung. Gaya-gaya angker pada ujung kabei bekelja secara vertikal dan biasanya diseimbangkan dengan berat dari pilar dan pondasi tanpa menambah biaya konstruksi lagi. Komponen horisontal gaya pada kabel dilimpahkan pada struktur atas

gelagar berupa takanan dan tarik.

Di lihat dari segi panjang bentang utamanya ada perbedaan antara jembatan cable-stayed dan jembatan suspension. Jembatan cable-stayed hanya bisa digunakan untuk bentang utama dengan panjang maksimal 1000 m.

Untukjembatan yang memiliki bentang utama Iebih dari 1000 m digunakan jembatan tipe suspension

Jembatan cable-stayed adalah stmktur yang mempunyai sederetan kabellinear dan memikul elemen horisontal kaku (misalnya balok rangka batang). Jembatan cable-stayed terdiri atas atau

sistem strukturyang

meliputi suatu dek orthotropik dan balok girder menerus yang didukung oleh penunjang, bempa kebel yang dibentang miring dan dihubungkan ke menara sebagai tunjangan menyebar dari satu atau utamanya. Kabel-kabel tersebut lebih tiang tekan umumnya

penyangga. Keseluruhan hams menggunakan kabel

sistem dapat mempunyai bentang besar tanpa

lengkung yang rurnit Dewasa ini, banyak struktur jembatan yang dibangun dengan cara demikian, begitu pula dengan gedung-gedung. Untuk jembatan dengan bentang yang cukup panjang dipedukan struktur stayed) yang kabel (cable-

berfungsi sebagai pilar-pilar penghubung dalam memikul

sebagian besar dari bebanjembatan yang kemudian dilimpahkan ke pondasi.

Gambar : Jembatan Cable-stayed

Maksud

pengembangan

teknologi satu

kabel bentang

ialah

merangkai yang

bentang-bentang pendek mempunyai lintas yang kekuatan

menjadi memadai

panjang

untuk memikul berat scndiri dan lalu ti.mgsi sistem cable- stayed ialah

melewati jembatan. Dwi

sebagai perletakan antara dari bentangan gelagar pengaku dan sekaligus sebagai penahan untuk stabilitas menara. Dalam pelaksanaan konstruksi jembatan, setiap tahapan

konstruksi, besarnya gaya-gaya dalam, tidak boleh penampang dan pu.t1cak tower pada dan tahap akhir pembebanan,

melampaui kapasitas perpindahar1 titik

lendutan lantai jembatan hams memenuhi yang

disyaratkan da!am perencanaan. Pada kasus jembatan sistem cable-stayed, pada tahap akhir dari pembebanan (beban konstmksi), displacement dari puncak tower hams

sekecil mungkin dan

masih dalam

toleransi. Demikian pula

dengan

lendutan pada lantai jembatan. Sebagai syarat, bahwa displacement dari lantai pada posisi kabel (stay support) akibat beban konstruksi bekerja hams sekecil mungkin. Dengan dicapainya lendutan pada yang kecil, bidang momen dari posisi kabel

lantai jembatan menjadi optimun dan

bahkan dapat dicapai kondisi momen positif hampir sama dengan momen negatif pada setiap peralihan antar tumpuan stay. Untuk mendapatkan kondisi tersebut di atas dapat dilakukan

dengan mengaplikasikan gaya pratekan (gaya axial) pada kabel. Dengan cara dernikian, setiap tahapan pelaksanaan konstruksi jembatan besamya gaya pratekan dapat ditentukan. Pada analisa struktur jembatan sistem cable-stayed, metode konstruksi akan menentukan tahapan analisa. Jernbatan cable-stayed modem menyajikan suatu sistern tiga beton atau

dirnensi, secara umum, dek balok girder dapat berupa box

suatu sistem gabungan struktur baja yang membingkai girder, struktur komposit balok lantai melintang, dan sebuah dek beton. Bagian-bagian pendukung seperti tiang tower tertekan dan tertarik. Pada umumnya liang tower kabel yang melintang dari beton pada

terbuat

beberapa tipenya. Karakteristik yang penting dari struktur tiga dimensi adalah keikutsertaan penuh kerja pada konstruksi me!intang dalam struktur utama arab longitudinal. lni berarti sangat perlu ditingkatkan

momen inersia konstruksinya, yang mengijinkan suatu pengurangan tinggi balok girder dan secara ekonomi pada baja. Dek orthotropik sebab

untuk jembatan cable-stayed jarang digunakan sekarang ini, secara umum mahal dan dengan intensif. KOMPONEN JEMBATAN CABLE STAYED

pengeijaan pengelasannya harus dilakukan

Pada umumnya komponen utama jembatan cable-stayed terdiri atas gelagar, kabe!, dan menara atau pilon. Masing-masing bagian

mempunyai berbagai tipe dan bentuk yang bermacam-macam yang digunakan sesuai fungsinya. Setiap komponen jembatan cable-stayed saling berhubungan dimana kabel memikul beban dari besrta lalu lintasnya kemudian beban tersebut dek jalan raya ditransfer ke

menara

dan dilimpahkan ke

pondasi jembatan.

Di

bawah ini

akan

diuraikan beberapa tipe dan bentuk dari komponen utama jembatan cablestayed. 1. Memua atau Pilon Pemilihan bentuk pilon sangat dipengaruhi oleh konfigurasi kabel, estetika, dan kebutuhan perencanaan serta menara dari trapezium, berbagai konstruksi dapat menara kembar, menara A, pertimbangan biaya. berupa dan potal Tipe

berbentuk

menara tunggal. Pungsi

menara menyalurkan beban dari dek jalan raya melalui kabel kemudian dilimpahkan ke pondasi. Tinggi seperti sistem kabel, j umlah tinggi menara dan menara ditentukan dari dan beberapa hal

kabel

perbandingan estetika dalam itu direkomendasikan -

panjang bentang, untuk

perbandingan antara bentang terpanjang dan tinggi menara antara 0,19 0,25.

Gambar : Menara Jembatan Suramadu

2. Gelagar Bentuk gelagar jembatan cabie-stayed sangat bervariasi namun yang

paling sering digunakan ada dua yaitu stiffening truss dan solid web. Stiffening truss digunakan untuk struktur baja dan solid web digunakan untuk struktur baja atau beton baik beton bertulang maupun beton prategang. Pada awal

perkembangan jembatan cable-stayed modern, stiffening truss banyak diguitakan tetapi sekarang sudah mulai ditinggalkan dan jarang digunakan dalam desain,

karena mempunyai banyak

kekurangan. Kekurangannya adalah membutuhkan

pabrikasi yang besar, perawatan yang relatif sulit, dan kurang menarik dari segi estetika.

Gambar : Stiffening Truss

Gambar : Solid Web

Gelagar yang tersusun dari solid web yang terbuat dari baja atau beton cenderung atas duatipe, yaitu: a) Gelagar pelat (plate girder), dapat terdiri atas dua atau banyak gelagar, b) Gelagar box ( box girder ), dapat terdiri atas satu atau susunan box yang dapat berbentuk persegi panjang atau trapesium.

Susunan dek yang tersusun dari gelagar pelat tidak memiliki kekakuan torsi yang besar sehingga tidak dapat digunakan untuk jembatan yang bentangnya

panjang dan lebar atau jembatan yang dircncanakan hanya mcnggunakan satu bidang kabel penggantung. Dek jembatan yang menggunakan satu atau susunan box akan memilik.i kekakuan torsi yang besar sehingga cocok mengalami torsi yang sangat besar. Jembatan yang kabel penggantung biasanya menggunakan jembatan yang lebar gelagar untuk jembatan yang

menggunakan satu bidang box tunggal, sedangkan

menggunakan susunan gelagar box. Gelagar pelat atau box

yang terbuat dari baja rnempunyai masalah seperti pada truss berupa perawatan terhadap korosi yang relatif mahal meskipun biaya konstruksi lebih murah.

Bentuk gelagar yang digunakan untuk seperti Gambar 2.8.

Jembatan Suramadu adalah gel agar box

Stringer

Gambar : Gelagar Jembatan Suramadu

3. Kabel Sistem kabel merupakan salah satu hal mendasar dalam

perencanaan jembatan cable-stayed. Kabel digunakan gelagar di antara dua tumpuan dan memindahkan

untuk menopang beban terpusat ke

menara. Secara umum sistem kabel dapat dilihat sebagai tatanan kabel transversal dan tatanan kabel longitudinal. Pemilihan tatanan kabel karena akan memberikan pengaruh

tersebut didasarkan atas berbagai hal

yang berlainan tcrhadap perilaku struktur terutama pada bentuk menara dan tampang gelagar. Selain itu biaya dan akan berpengaruh pada metode pelaksanaan,

arsitektur jembatan. Sebagian besar struktur yang sudah sisi-sisi

dibangun terdiri atas dua bidang kabel dan diangkerkan pada gelagar. Namun ada Penggunaan tiga beberapa yang

hanya menggunakan satu bidang. dapat dipikirkan untuk

bidang atau

lebih mungkin

jembatan yang sangat Iebar agar dimensi balok melintang dapat lebih keciL

a. Tatanan Kabel Transversal Tatanan kabel tranversal terhadap arah sumbu longitudinal jembatan dapat dibuat satu atau dua simetri. Akan tetapi tiga bidang dan sebaliknya ditempatkan secara ada perencana yang

di beberapa bidang kabel

kasus

menggunakan diterapkan di

sampai sekarang belum dapat ruang

lapangan. Berkenaan dengan berbagai posisi pada

yang mungkin diambil pada bidang dimana kabel ditempatkan, tatanan kabel transversal terdiri dari beberapa penempatan dasar, yaitu :

1.

Sistem satu bidang Sistem ini sangat menguntungkan dari segi estetika karena tidak teljadi kabel bersilangan yang terlihat oleh pandangan sehingga terlihat penarnpilan

struktur yang indah. Kabel diternpatkan di tengah-tengah dek dan rnernbatasi dua arah jalur lalu lintas. Penempatan kabel di tengah-tengah dek menyebabkan

torsi pada dek menjadi besar akibat beban !alu lintas yang tidak simetri dan tiupan angin. Kelemahan tersebut diatasi dengan menggunakan dek kaku berupa

gelagar kotak (box g1rder) yang mempunyai kekakuan torsi yang sangat besar. Penempatan menara yang mengikuti bidang kabel di tengah Iebar lantai kendaraan sehingga perlu dek mengurangi

dilakukan penambahan Iebar sampai

batas

minimum yang dibutuhkan. Untuk

jembatan bentang panjang biasanya

memerlukan menara yang tinggi sangat besar. dengan tidak umum

mcnyebabkan Iebar menara di bawah dek dek dapat mengatasi hal tersebut dibutuhkan. Secara tidak cocok dengan

Penyebaran kaki ke sisi-sisi mengurangi Iebar lantai

kendaraan yang sangat Iebar

jembatan yang sangat panjang atau

penggantung kabcl satu bidang.

Gambar : Sistem satu bidangSistem dua bidang Penggantung dua atau bidang dapat berupa dua bidang vertikal seJaJar

dua bidang miring yang pada sisi atas lebih sempit. Penggunaan bidang

miring dapat menimbulkan masalah pada lalu lintas yang !ewat di antara dua bidang kabel, terlebih bila jembatan mempunyai bentang yang relatif pendek atau menengah. Kemiringan kabel akan sangat curam sehingga mungkin

diperlukan pelebaran dek jembatan. Pada ujung balok melintang dimana akan dipasang angker kabel, mungkin akan terjadi kesulilan pada pratekan. pcndetailan

struktur, khususnya bila menggunakan beton

Pengangkeran kabel

dapat bertentangan dengan kabel prategang balok melintang.

Gambar : Sistem dua bidang

!8

2.

Tatanan Kabel Longitudinal Tatanan kabel longitudinal jembatan mempunyai banyak variasi

tergantung pada pengalaman

perencana

menentukan

perbandingan antara lebih pendek kabe! Untuk

bentang dengan tinggi menara. Untuk bentang yang tunggal mungkin sudah bentang utama yang cukup untuk menahan

beban rencana.

panjang dan bentang tidak simetris yang menggunakan

angker, variasi tatanan kabel tidak cukup dengan kebutuhan sacara teknis tetapi harus menghasilkan konfigurasi dasar tatanan kabel longitudinal yaitu radial, harpa, bentuk kipas, dan bintang.

A. Tipe Radial Merupakan sistem memusat dimana semua kabel mengarah ke puncak tower. Secara struktural, pengaturan ini kabel mengarak kc puncak dicapai menara dan barangkali yang dengan terbaik, semua maksimwn baja gaya paling beban

kemiringan

untuk arab horisontal

memerlukan jumlah maksimwn dari

sedikit. Kabel menyalurkan komponen yang rnati dan beban hidup, dan

komponen minimwn yang

disalurkan adalah

struktur aksial dek jembatan. Kelebihan tipe ini adalah kemiringan rata-rata kabel cukup besar sehingga komponen gaya horisontal tidak terlalu besar kabel yang terkumpul di atas kepala menara menyulitkan dalam perencanaan dan pendetailan sambungan.

Gambar : Tipe Radial

B. Tipe Harpa Merupakan sistem paralel kabel yang dihubungkan dengan menara pada

ketinggian berbeda, dan menempatkan paralel untuk satu sama lain. Sistem ini lebih disukai dilihat dari scgi pandangan estctika. Bagaimanapun hal itu lentur di menara baik untuk tersebut. Kabel bentang utama berbentuk harpa jika tiap kabel

menyebabkan momen memberi suatu diangkur pada

kekakuan yang pangkal

jembatan. Jumlah baja yang diperlukan untuk kabel

disusun bcrbentuk harpa sedikii lebih banyak dari kabel yang disusun dengan bentuk kipas.

Gam bar : Tipe Harpa

C. Tipe Kipas Merupakan solusi tengah antara tipe radial dengan tipe harpa. Kabel clisebar pada bagian atas menara dan pada dek sepanjang bentang, menghasilkan kabel tidak sejajar. tulangan. Penyebaran kabel pada menara akan memudahkan pendetailan

Gambar : Tipe Kipas

D. Tipe Bintang Memiliki bentuk terpusat pada gelagar. namun menyulitkan antara dua tumpuan yang beriawanan dengan Bentuk ini memberikan sambungan hanya tipe radial efek pada ada dimana kabel baik

estetika yang gelagar.

pendetailan tetap

Dukungan

jembatan

pada

pertemuan kabel

sehingga momen lentur yang akan teijadi menjadi lebih besar.

Gambar : Tipe Bintang

Kelebihan Jembatan Cable Stayed :

Kabel lurus memberikan kekakuan yang lebih besar dari kabel melengkung. Disamping itu, analisis non linier tidak perlu dilakukan untuk geometri kabel lurus.

Kabel diangker pada lantai jembatan dan menimbulkan gaya aksial tekan yang menguntungkan secara ekonomis dan teknis.

Tiap tiap kabel penggantung lebih pendek dari panjang jembatan secara keseluruhan dan dapat diganti satu persatu.

Kelemahan Jembatan Cable Stayed : 1. Diperlukan metode pelaksanaan yang cukup teliti jika jembatan Cable Stayed dibangun dengan bentang yang lebih panjang, bagian yang terkantilever sangat rentan terhadap getaran akibat angin selama masa konstruksinya. 2. Sama halnya dengan jembatan penggantung, kabel penggantungnya memerlikan perawatan yang intensif untuk melindungi dari karat.

PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN (TESTING AND INSPECTION) Karakteristik angker dari stay cable system (sebagai contoh dalam hal ini produk OVM250 China) mengikuti the National Standard, Anchorage, Grip and Coupler for Prestressing Tendons, GB/T14370-2000 yang mana harus dicapai efisiensi > 95% dan > 2%. Terhadap angker dan kawat prategang dilakukan pengujian kelelahan (fatique test) pada tegangan sampai dengan 250 N/mm (diatas tegangan 0,45 ) untuk ketahanan atas lebih dari 2 (dua) juta load cycles sesuai FIP standard, Recommendations for Stay Cable Design, Testing and Installation. Stay cables harus terlihat baik performancenya pada kondisi tegangan rendah (0,15 0,45 ) serta terjamin baik karakteristiknya pada pengujian performance dari angker.

METODE PEMASANGAN Terdapat berbagai cara pemasangan stay cables yang tergantung kondisi lapangan, serta hambatan ruang dan waktu. Berikut ini dijelaskan dua methode utama sebagai berikut : a). Pertama kali, PE strands ditempatkan dan distress. Kemudian damping device dan strands hoop dipasang pada tempatnya. Terakhir, segmen selubung HDPE dipasang satu demi satu dengan sambungan HDPE kemudian di sekat pada ceruk pipanya.

b).

Kawat

prategang

ditempatkan

setelah

selubung

luar

HDPE

terpasang

Pertama, selubung HDPE dibentuk dahulu dengan panjang sesuai kebutuhan. Kemudian selubung pengarah yang dikaitkan dengan sebuah kawat prategang (strand) ditarik masuk keposisinya dengan menggunakan mesin penarik mini untuk kemudian dipasang pada tempatnya. Selanjutnya kawat-kawat prategang yang diperlukan, ditempatkan dalam stay pipa HDPE, selanjutnya distress satu per-satu sampai selesai.

Kawat-kawat prategang dari stay cable system di pasang satu persatu. Kabel dan angker harus di rangkai pada konstruksi dilapangan secara benar. Kabel tunggal prategang harus dicoating dengan epoxy, kemudian diberi gemuk dan di Hot Extruded dengan HDPE coating di pabrik. Oleh sebab itu tidak diperlukan lagi perlindungan korosi tambahan. Gulungan kawat prategang dibawa kelapangan kemudian dipotong sesuai kebutuhan untuk di

rangkai/dipasang. Kawat prategang yang telah siap tersebut diangkat dengan hati-hati dan cepat untuk kemudian distress.

Cara Penempatan Katrol pada Pylon

Cara Penarikan Kabel Prategangdengan Katrol

Cara Penempatan Kabel Prategang

Cara Stressing Kabel Prategang Tahapan pemasangan PC Girder dapat digambarkan sebagai berikut :

Tempatkan crane mengapung dekat Tower, pasang bagian bawah Tower; Pasang sejumlah segmen Girder baja pada Tower secara balance cantilever; Tempatkan crane didekat Tower; Diarah darat, girder dipasang bertahap menuju arah tower; Girder lanjutan dipasang dari arah tower ke arah darat;Demikian juga pasang girder dari Tower ke arah Tower yang lain

KESIMPULAN
Jembatan cable-stayed adalah struktur yang mempunyai sederetan kabel linear dan memikul elemen horisontal kaku (misalnya balok atau rangka batang). Jembatan cable-stayed terdiri atas sistem struktur yang meliputi suatu dek orthotropik dan balok girder menerus yang didukung oleh penunjang, berupa kabel yang dibentangkan miring dan dihubungkan ke menara sebagai tunjangan utamanya. Pada umumnya, komponen utama jembatan cable-stayed terdiri atas gelagar, kabel dan menara atau pilon. 1. Menara atau pilon Fungsi menara atau pilon ini adalah untuk menyalurkan beban dari dek jalan raya melalui kabel kemudian dilimpahkan ke pondasi. Tinggi menara ditentukan dari beberapa hal seperti sistem kabel, jumlah kabel dan perbandingan estetika dalam tinggi menara dan panjang bentang. Untuk itu, direkomendasikan perbandingan antara bentang terpanjang dan tinggi menara adalah antara 0,19-0,25. 2. Gelagar Bentuk gelagar jembatan yang paling sering digunakan adalah stiffening truss dan solid web. Stiffening truss digunakan untuk struktur baja dan solid web digunakan untuk struktur baja atau beton, baik bertulang ataupun beton prategang. 3. Kabel Kabel digunakan untuk menopang gelagar di antara dua tumpuan dan memindahkan beban terpusat ke menara. Pemilihan kabel akan berpengaruh pada metode pelaksanaan, biaya dan arsitektur jembatan. Sebagian besar struktur yang sudah dibangun terdiri atas dua bidang kabel dan diangkerkan pada sisi-sisi gelagar. Namun ada beberapa yang hanya menggunakan satu bidang. Penggunaan tiga bidang atau lebih mungkin dapat dipikirkan untuk jembatan yang sangat lebar agar dimensi balok melintang dapat lebih kecil. a. Tatanan Kabel Transversal 1. Sistem Satu Bidang Sistem ini sangat menguntungkan dari segi estetika karena tidak

terjadi kabel bersilangan yang terlihat oleh pandangan sehingga terlihat penarnpilan struktur yang indah. Kabel diternpatkan di tengah-tengah dek dan rnernbatasi dua arah jalur lalu lintas. Penempatan kabel di tengahtengah dek menyebabkan torsi pada dek menjadi besar akibat beban !alu lintas yang tidak simetri dan tiupan angin. Kelemahan tersebut diatasi

dengan

menggunakan dek

kaku

berupa gelagar kotak (box girder) yang

mempunyai kekakuan torsi yang sangat besar. 2. Sistem Dua Bidang Penggantungan dua bidang dapat berupa dua bidang vertikal sejajar atau dua bidang miring yang pada sisi atas lebih sempit. Kemiringan kabel akan sangat curam ujung sehingga mungkin diperlukan balok terjadi pelebaran dek

jembatan. Pada

melintang dimana akan dipasang angker kesulitan pada pendetailan struktur,

kabel, mungkin akan

khususnya bila menggunakan beton pratekan. b. Tatanan Kabel Longitudinal Untuk bentang yang lebih pendek kabel tunggal mungkin sudah cukup untuk menahan beban rencana. Untuk bentang utama yang bentang tidak simetris yang panjang dan

menggunakan angker, variasi tatanan kabel

tidak cukup dengan kebutuhan secara teknis tetapi harus menghasilkan konfigurasi dasar tatanan kabel longitudinal yaitu radial, harpa, bentuk kipas, dan bintang. 1. Tipe Radial Merupakan sistem memusat dimana semua kabel mengarah ke puncak tower. Secara struktural, pengaturan ini barangkali mungkin yang terbaik. Semua kabel mengarah ke puncak menara dengan kemiringan maksimum untuk arah horisontal dan memerlukan jumlah baja paling sedikit. 2. Tipe Harpa Merupakan sistem paralel kabel yang dihubungkan dengan menara pada ketinggian berbeda, dan menempatkan paralel untuk satu sama lain. Sistem ini lebih disukai dilihat dari segi pandangan estetika. 3. Tipe Kipas Kabel disebar pada bagian atas menara dan pada dek sepanjang bentang, menghasilkan kabel yang tidak sejajar. Penyebaran kabel pada menara akan memudahkan pendetailan tulangan. 4. Tipe Bintang Bentuk ini memberikan efek estetika yang baik namun

menyulitkan pendetailan

sambungan pada

gelagar.

Dukungan antara

dua tumpuan tetap jembatan hanya ada pada pertemuan kabel sehingga momen lentur yang akan teijadi menjadi lebih besar.

Kelebihan Jembatan Cable-Stayed:

Kabel lurus memberikan kekakuan yang lebih besar dari kabel melengkung. Disamping itu, analisis non linier tidak perlu dilakukan untuk geometri kabel lurus.

Kabel diangker pada lantai jembatan dan menimbulkan gaya aksial tekan yang menguntungkan secara ekonomis dan teknis.

Tiap tiap kabel penggantung lebih pendek dari panjang jembatan secara keseluruhan dan dapat diganti satu persatu.

Kelemahan Jembatan Cable-Stayed: 3. Diperlukan metode pelaksanaan yang cukup teliti jika jembatan cable-stayed dibangun dengan bentang yang lebih panjang, bagian yang terkantilever sangat rentan terhadap getaran akibat angin selama masa konstruksinya. 4. Sama halnya dengan jembatan penggantung, kabel penggantungnya memerlukan perawatan yang intensif untuk melindungi dari karat.