Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Sektor kesehatan merupakan bagian penting perekonomian di berbagai negara.

Sejumlah pendapat menyatakan bahwa sektor kesehatan sama seperti spons menyerap banyak sumber daya nasional untuk membiayai banyak tenaga kesehatan. Pendapat yang lain mengemukakan bahwa sektor kesehatan seperti pembangkit perekonomian, melalui inovasi dan investasi dibidang tekhnologi biomedis atau produksi dan penjualan obatobatan, atau dengan menjamin adanya populasi yang sehat yang produktif secara ekonomi. Sebagian warga masyarakat mengunjungi fasilitas kesehatan sebagai pasien atau pelanggan, dengan memanfaatkan rumah sakit, klinik atau apotik; atau sebagai profesi kesehatan perawat, dokter, tenaga pendukung kesehatan, apoteker, atau manajer. Karena pengambilan keputusan kesehatan berkaitan dengan hal kematian dan keselamatan, kesehatan diletakkan dalam kedudukan yang lebih istimewa dibanding dengan masalah sosial yang lainnya. Kesehatan juga dipengaruhi oleh sejumlah keputusan yang tidak ada kaitannya dengan layanan kesehatan: kemiskinan mempengaruhi kesehatan masyarakat, sama halnya dengan polusi, air kotor atau sanitasi yang buruk. Kebijakan ekonomi, seperti pajak merokok, atau alkohol dapat pula mempengaruhi perilaku masyarakat. Penyebab mutakhir meningkatnya obesitas ditengah masyarakat mencakup kesediaan makanan cepat saji yang murah namun tinggi kalori, penjualan soft drinks disekolah, juga menurunnya kebiasaan berolah raga. Memahami hubungan antara kebijakan kesehatan dan kesehatan itu sendiri menjadi sedemikian pentingnya sehingga memungkinkan untuk menyelesaikan masalah kesehatan utama yang terjadi saat ini meningkatnya obesitas, wabah HIV/AIDS, meningkatnya resistensi obat sekaligus memahani bagaimana perekonomian dan kebijakan lain berdampak pada kesehatan. Kebijakan kesehatan memberi arahan dalam pemilihan teknologi kesehatan yang akan dikembangkan dan digunakan, mengelola dan membiayai layanan kesehatan, atau jenis obat yang dapat dibeli bebas. Untuk memahami hal tersebut, perlu mengartikan apa yang dimaksud dengan kebijakan kesehatan. 1

B. RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah dalam makalah ini adalah : 1. Apa pengertian kebijakan dan kebijakan publik? 2. Apa urgensi kebijakan publik? 3. Siapa pembuat kebijakan publik ? 4. Bagaimana ciri dan jenis kebijakan publik? 5. Bagaimana proses dan tahapan kebijakan publik? 6. Bagaimana hubungan antara epidemiologi dan proses kebijakan publik? 7. Bagimana analisis kebijakan publik? 8. Bagaimana dampak kebijakan publik? 9. Bagaimana contoh penerapan kebijakan publik di bidang kesehatan? C. TUJUAN PENULISAN Tujuan penulisan makalah ini adalah: 1. Mengetahui pengertian kebijakan dan kebijakan publik 2. Mengetahui urgensi kebijakan publik 3. Mengetahui siapa yang membuat kebijakan 4. Mengetahui ciri dan jenis kebijakan publik 5. Mengetahui proses tahapan kebijakan publik di bidang kesehatan 6. Mengetahui hubungan antara epidemiologi dan proses kebijakan publik 7. Mengetahui analisis kebijakan publik 8. Mengetahui dampak kebijakan publik 9. Mengetahui contoh penerapan kebijakan publik di bidang kesehatan

BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN KEBIJAKAN Kebijakan atau policy adalah seperangkat panduan pengambilan keputusan. Penyediaan kebijakan merupakan kerangka kerja yang diusulkan yang dapat diuji dan diukur kemajuannya. Idealnya kebijakan itu berisi definisi yang jelas terhadap masalah yang akan diselesaikan, pernyataan tujuan (pendekatan dan kegiatannya) terhadap tujuan-tujuan yang akan dicapai (Pal, 1992). Pengertian Kebijakan Publik Dye (1978) mendefinisikan kebijakan publik sebagai Whatever governments choose to do or not to do., yaitu segala sesuatu atau apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan. Dye juga memaknai kebijakan publik sebagai suatu upaya untuk mengetahui apa sesungguhnya yang dilakukan oleh pemerintah, mengapa mereka melakukannya, dan apa yang menyebabkan mereka melakukannya secara berbeda- beda. Dia juga mengatakan bahwa apabila pemerintah memilih untuk melakukan suatu tindakan, maka tindakan tersebut harus memiliki tujuan. Kebijakan publik tersebut harus meliputi semua tindakan pemerintah, bukan hanya merupakan keinginan atau pejabat pemerintah saja. Di samping itu, sesuatu yang tidak dilaksanakan oleh pemerintah pun termasuk kebijakan publik. Hal ini disebabkan karena sesuatu yang tidak dilakukan oleh pemerintah akan mempunyai pengaruh yang sama besar dengan sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah. Pengertian kebijakan publik lainnya juga diungkapkan oleh Anderson yang menyatakan kebijakan publik sebagai a purposive course of action followed by an actor on set an actors in dealing with a problem or matter of concern atau sebagai tindakan yang memiliki tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh seorang pelaku atau sekelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah. Sedangkan Perpustakaan Nasional USA Medicine Science Heading mendefinisikan kebijakan publik sebagai a course of method of action selected, usually by government, from among alternatives to guide and determine present and future decisions. 3

Pengertian Kebijakan

Pengertian Kebijakan Kesehatan Kebijakan kesehatan dapat meliputi kebijakan publik dan swasta tentang kesehatan. Kebijakan kesehatan diasumsikan untuk merangkum segala arah tindakan (dan dilaksanakan) yang mempengaruhi tatanan kelembagaan, organisasi, layanan dan aturan pembiayaan dalam system kesehatan. Kebijakan ini mencakup sektor publik (pemerintah) sekaligus sektor swasta. Tetapi karena kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor penentu diluar system kesehatan, para pengkaji kebijakan kesehatan juga menaruh perhatian pada segala tindakan dan rencana tindakan dari organisasi diluar system B. URGENSI KEBIJAKAN PUBLIK Ada tiga alasan mengapa kebijakan publik penting dan perlu dipelajari. Sholichin Abdul Wahab dengan mengikuti pendapat dari Anderson (1978) dan Dye (1978) menjelaskan ketiga alasan itu diantaranya:
1. Alasan ilmiah (scientific reason),

Kebijakan

publik

dipelajari

dengan

maksud

untuk

memperoleh

pengetahuan yang luas tentang asal-muasalnya, proses-proses perkembangannya dan konsekuensi-konsekuensinya bagi masyarakat. Pada gilirannya hal ini akan menambah pengertian tentang sistem politik dan masyarakat secara umum.
2. Alasan profesional (professional reason)

Studi kebijakan dimaksudkan untuk menghimpun pengetahuan ilmiah di bidang kebijakan publik guna memecahkan masalah-masalah sosial sehari- hari. Disini kita berbicara bagaimana sesuatu berguna dalam pencapaian kebijakan baik dalam konteks perorangan, kelompok maupun pemerintah. James E. Anderson termasuk yang mendukung profesionalitas (bukan hanya saintifik). Menurutnya, jika kita mengetahui sesuatu tentang fakta-fakta yang membantu dalam membentuk kebijakan publik atau konsekuensi-konsekuensi dari kebijakankebijakan yang mungkin timbul, jika kita tahu bagaimana individu, kelompok atau pemerintah dapat bertindak untuk mencapai tujuan-tujuan kebijakan mereka, maka kita layak memberikan hal tersebut dan tidak layak untuk berdiam diri. Oleh karenanya menurut Anderson adalah sesuatu yang sah bagi seorang ilmuwan politik memberikan saran-saran kepada pemerintah maupun pemegang otoritas 4

pembuat kebijakan agar kebijakan yang dihasilkannya mampu memecahkan persoalan-persoalan dengan baik. Tentunya pengetahuan yang didasarkan pada fakta adalah prasyarat untuk menentukan dan menghadapi masalah-masalah masyarakat.
3. Alasan politis (political reason).

Mempelajari kebijakan

publik

pada dasarnya

dimaksudkan

agar

pemerintah dapat menempuh kebijakan yang tepat guna mencapai tujuan yang tepat pula. Sebagaimana telah diuraikan di atas beberapa ilmuwan politik cenderung pada pilihan bahwa studi kebijakan publik seharusnya diarahkan untuk memastikan apakah pemerintah mengambil kebijakan yang pantas untuk mencapai tujuan-tujuan yang tepat. Mereka menolak pendapat bahwa analis kebijakan harus bebas nilai. Bagi mereka ilmuwan politik tidak dapat berdiam diri atau tidak berbuat apa-apa mengenai masalah-masalah politik. Mereka ingin memperbaiki kualitas kebijakan politik dalam cara-cara menurut yang mereka sangat diperlukan, meskipun dalam masyarakat seringkali terdapat perbedaan substansial mengenai kebijakan apa yang disebut benar dan tepat itu. C. SIAPA YANG MEMBUAT KEBIJAKAN Para pembuat kebijakan adalah orang yang mempunyai wewenang yang sah untuk ikut serta dalam formulasi hingga penetapan kebijakan publik. Yang termasuk dalam pembuat kebijakan secara normatif adalah legislatif, eksekutif, administratur dan para hakim. Dalam tulisan James Anderson (1979), Charles Lindblom (1980), maupun James P. Lester dan Joseph Steward, Jr (2000), aktor- aktor atau pemeran serta dalam proses pemnbentukan kebijakan dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu para pemeran serta resmi dan para pemeran serta tidak resmi. Yang termasuk kedalam pemeran serta resmi adalah agen-agen pemerintah (birokrasi), presiden (eksekutif), legislative dan yudikatif. Sedangkan yang termasuk dalam kelompok peran serta tidak resmi meliputi kelompok-kelompok kepentingan, partai politik dan warganegara individu. Secara umum sesungguhnya aktor ini dapat dikategorikan dalam tiga yaitu aktor publik, aktor privat dan aktor masyarakat (civil society). Ketiga aktor ini sangat

berperan dalam sebuah proses penyusunan kebijakan publik (Moore 1995:112). Berikut ini disajikan para pemeran dalam perumusan kebijakan publik. Peran Lembaga Formal dalam Perumusan Kebijakan : 1. Badan- badan administasi (agen-agen pemerintah) Sistem administrasi di seluruh dunia mempunyai perbedaan dalam hal karakteristik-karakteristik seperti ukuran dan kerumitan, organisasi , struktur hierarkhis dan tingkat otonomi. Walaupun doktrin mengatakan bahwa badanbadan administasi dianggap sebagai badan pelaksana telah diakui secara umum dalam ilmu politik, namun bahwa politik dan administrasi telah bercampur aduk menjadi satu juga telah menjadi aksioma yang diakui kebenarannya. Hal ini terutama didasarkan atas konsep adminsitrasi baru yang diintrodusir oleh George Frederickson melalui bukunya New Publik Administration (1980) yang tak lagi membahas dikotomi administrasi public dan politik. Dalam masyarakatmasyarakat industri yang mempunyai tingkat kompleksitas yang tinggi, badan-badan administrasi sering membuat banyak keputusan mempunyai konsekuensi-konsekuensi politik dan kebijakan yang luas. Hal ini terjadi karena disamping tingkat kompleksitas masyarakat industri itu sendiri, juga disebabkan oleh alasan-alasan teknis, banyaknya masalah kebijakan, kebutuhan untuk melestarikan control serta waktu dan informasi dari para anggota legislative sehingga banyak sekali wewenang yang didelegasikan. 2. Presiden (eksekutif) Presiden sebagai kepala eksekutif mempunyai peran yang penting dalam perumusan kebijakan. Keterlibatan presiden dalam perumusan kebijakan dapat dilihat dalam komisi-komisi presidensial maupun dalam rapat- rapat kabinet. Dalam beberapa kasus, presiden terlibat secara personal dalam perumusan kebijakan, seperti misalnya keterlibatan Presiden Jimmy Carter dalam perumusan kebijakan presiden. Dia suka terlihat lebih aktif dalam memberikan inisiatif pembuatan perundang-undangan dan menggunakan stafnya untuk mempersiapkan lebih banyak peraturan perundang-undangan untuk keperluan congressional review. Selain keterlibatan secara langsung yang dilakukan oleh presiden juga membentuk kelompok- kelompok atau komisi- komisi penasehat yang terdiri dari 6

warganegara swasta maupun pejabat-pejabat yang ditujukan untuk menyelidi kebijakan tertentu dan mengembangkan usul-usul kebijakan. 3. Lembaga Yudikatif Lembaga ini memainkan peran yang besar dalam pembentukan kebijakan di Amerika Serikat. Namun sejauhmana badan ini mempunyai pengaruh di dalam pembentukan kebijakan di Indonesia tentunya memerlukan telaah lebih lanjut, walaupun jika didasarkan pada undang-undang dasar badan ini mempunyai kekuasaan yang cukup besar untuk mempengaruhi kebijakan public melalui pengujian kembali suatu undang-undang atau peraturan. Pada dasanya tinjauan yudisial merupakan kekuasaan pengadilan untuk menentukan apakah tindakan-tindakan yang diambil oleh cabang-cabang eksekutif maupun legisaltif sesuai dengan konstitusi atau tidak. Bila keputusankeputusan tersebut melawan atau bertentangan dengan konstitusi Negara, maka badan yudikatif berhak membatalkan atau menyatakan tidak sah terhadap peraturan atau undang-undang yang telah ditetapkan. 4. Lembaga Legislatif Di Amerika Serikat lembaga ini dikenal sebagai kongres. Dalam kasus Indonesia lembaha ini sering kita sebut sebagai DPR. Lembaga ini bersama-sama dengan pihak eksekutif (presiden dan pembantu- pembantunya), memegang peranan yang cukup krusial di dalam perumusan kebijakan. Setiap undang-undang menyangkut persoalan-persoalan public harus mendapatkan persetujuan dari lembaga legislatif. Selain itu keterlibatan langsung legislative dalam perumusan kebijakan juga dapat dilihat dari mekanisme dengar pendapat, penyelidikanpenyelidikan dan kontak-kontak yang mereka lakukan dengan pejabat-pejabat adminsitrasi, kelompok-kelompok kepentingan dan lain sebagainya. Peran Lembaga Informal dalam Perumusan Kebijakan Selain lermbaga- lembaga formal di atas yang terlibat dalam perumusan kebijakan masih ada elemen lain yang berpartisipasi dalam proses perumusan kebijakan yakni :

1.

Kelompok Kepentingan Kelompok ini merupakan pemeran serta tidak resmi yang memainkan peran

penting dalam pembentukan kebijakan di hamper semua Negara. Perbedaan yang mugkin ada tergantung pada apakah Negara-negara tersebut demokratis atau otoriter, modern atau berkembang. Perbedaan itu menyangkut keabsahan serta hubungan antara pemerintah dengan kelompok-kelompok tadi. Dengan demikian dalam system politik demokratis kelompok-kelompok kepentingan akan lebih memainkan peran yang penting dengan kegiatan yang lebih terbuka dibandingkan dengan sistem otoriter. Hal ini terjadi karena dalam system politik demokrasi kekebasan berpendapat dilindungi, serta warganegara lebih mempunyai keterlibatan politik . Walaupun dalam kedua system yang disebutkan di atas kelompok-kelompok kepentingan berbeda dalam hal hubungan dan sifat aktivitasnya, namun disemua system tadi kelompok-kelompok kepentingan menjalankan fungsi artikulasi kepentigan yaitu mereka berfungsi menyatakan tuntutan-tuntutan dan memberikan alternative tindakan kebijakan. Menurut Gbariel A. Almond jenis-jenis kelompok kepentingan meliputi : pertama, Kelompok Anomic : kelompok yang terbentuk diantara unsure-unsur dalam masyarakat secara spontan dan hanya seketika dank arena itu tidak memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur, maka kelompok ini seringa tumpang tindih (Overlap) dengan bentuk-bentuk partisipasi politik non konvesional, seperti demonstrasi, kerusuhan, tindakan kekerasan politik dan lainlain. Kedua, kelompok Non Assosiasional: kelompok yang termasuk kategori kelompok masyaralat awam (belum maju) dan tidak terorganisir rapid an kegiatannya bersifat temporer. Wujud kelompok ini antara lain kelompok keluarga, keturunan, etnis, regional yang menyatakan kepentingan secara kandangkala melalui individu-individu, kepala keluarga dan atau pemimpin agama. Ketiga, kelompok Institusional: kelompok formal yang memiliki struktur, visi, misi, tugas dan fungsi serta sebagai artikulasi kepentingan. Contohnya, Partai Politik, Korporasi Bisnis, Badan Legislatif, Militer, Birokrasi dan lain-lain. Keempat, Kelompok Assosiasional: kelompok yang terbentuk dari masyarakat dengan fungsi untuk mengartikulasi kepentingan anggotanya kepada pemerintah 8

atau perusahaan pemilik modal. Contohnya, Serikat Buruh, KADIN, Paguyuban, MUI, NU, Muhammadiyah, KWI dan lain-lain. 2. Partai Politik Dalam sistem demokrasi, partai-partai politik memegang peran penting. Dalam sistem tersebut, partai politik digunakan sebagai alat untuk meraih kekuasaan. Hal ini berarti bahwa partai politik pada dasarnya lebih berorientasi kepada kekuasaan dibandingkan dengan kebijakan publik. Namun demikian peran serta dalam perumusan kebijakan publik cukup besar. Dalam masyarakat modern, partai-partai politik seringkali melakukan agregasi kepentingan. Partai Politik tersebut berusaha untuk mengubah tuntutan-tuntutan tertentu dari kelompok-kelompok kepentingan menjadi alternative-alternatif kebijakan. Dalam sistem dua partai predominan seperti di Amerika Serikat dan Inggris, keinginan untuk memperoleh dukungan pemilih mengharuskan partai-partai ini untuk memasukkan dalam paket kebijakan mereka tuntutan-tuntutan yang mempunyai dukungan luasdari para pemilih atau rakyat serta mencegah kelompok-kelompok yang menonjol untuk menjauhkan diri. Sementara dalam system multi partai seperti di Negara Prancis, partai-partai politik kurang memiliki peran dalam mengagregasikan kepentingan. Mereka biasanya bertindak sebagai wakil-wakil dan kepentingan-kepentingan yang terbatas. Pada umumnya, walaupun partai-partai politik ini mempunyai jangkauan yang lebih luas dibandingkan dengan kelompok-kelompok kepentingan, namun mereka lebih cenderung bertindak sebagai perantara daripada pendukung kepentingan-kepentingan tertentu dalam pembentukan kebijakan. Sedangkan dalam system satu partai, partai politik merupakan kekuatan yang predominan dalam pembentukan kebijakan. 3. Warganegara Individu Dalam pembahasan mengenai pembuatan kebijakan, warganegara individu sering diabaikan dalam hubungannya dengan legislative, kelompok kepentingan serta pemeran serta lainnya yang lebih menonjol. Walaupun tugas pembentukan kebijakan pada dasarnya diserahkan kepada para pejabat public, namun dalam

beberapa hal para individu warganegara individu ini masih dapat mengambil peran secara aktif dalam pengambilan keputusan. Peran serta warganegara dalam sistem politik, walaupun sistem politik tersebut merupakan sistem politik demokrasi, sering dianggap mempunyai peran serta yang rendah. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa banyak orang yang tidak memberikan suaranya pada waktu pemilihan umum, tidak ikut serta dalam kegiatan partai politik, serta tidak terlibat dalam kelompok-kelompok penekan serta mempunyai perhatian yang rendah terhadap sistem politik. Dinegara-negara yang mendasarkan diri pada sistem otoriter, kepentingankepentingan dan keinginan-keinginan para warga Negara biasanya merupakan akibat dari kebijakan-kebijakan publik. Para diktator dalam sistem otoriter tetap akan menaruh perhatian terhadap apa yang menjadi keinginan rakyat agar kekacauan sedapat mungkin diminimalkan. Sementara itu di negara-negara demokratik pemilihan umum barangkali merupakan tanggapan tidak langsung terhadap tuntutan-tuntutan warga Negara. Dalam hal ini, Charles Lindblom menyatakan bahwa perbedaan yang paling menonjol antara rezim otoriter dengan rezim demokratik adalah bahwa dalam rezim demokratik para warganegara memilih para pembentuk kebijakan puncak dalam pemilihan-pemilihan yang murni. Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa pemberian suara dalam pemilihan-pemilihan yang murni mungkin merupakan suatu metode yang penting dari pengaruh warganegara dalam pembentukan kebijakan karena hal ini memungkinkan warganegara untuk memilih para pejabat dan sedikit banyak menginstrusikan pejabat-pejabat itu mengenai kebijakan tertentu. Oleh karena itu, menurut Lindblom keinginan para warga Negara perlu mendapat perhatian oleh para pembentuk kebijakan. Aturan yang dikemukan oleh Lindblom ini kadang-kadang dinyatakan dalam aphorisme bahwa warga negara mempunyai hak untuk didengar dan para pejabat mempunyai tugas untuk mendengarkan.

10

D.

CIRI DAN JENIS KEBIJAKAN PUBLIK

Ciri- ciri Kebijakan Publik : 1. Kebijakan publik merupakan tindakan yang mengarah pada tujuan, bukan tindakan yang acak dan kebetulan. Kebijakan publik dalam sisem politik modern merupakan suatu tindakan yang direncanakan. 2. Kebijakan pada hakikatnya terdiri atas tindakan-tindakan yang saling berkait dan berpola yang mengarah pada tujuan tertentu yang dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintah dan bukan merupakan keputusan yang beridiri sendiri. Kebijakan tidak hanya berupa keputusan untuk membuat undang-undang, melainkan diikuti pula dengan keputusan-keputusan yang bersangkut-paut dengan implementasi dan pemaksaan pemberlakuannya. 3. Kebijakan bersangkut-paut dengan apa yang senyatanya dilakukan pemerintah dalam bidang-bidang tertentu, misalnya dalam mengatur kebijakan kesehatan, dan bukan sekedar apa yang ingin dilakukan oleh pemerintah dalam bidang-bidang tersebut. 4. Kebijakan publik mungkin berbentuk positif, mungkin pula negatif. Dalam bentuknya yang positif, mungkin akan mencakup beberapa bentuk tindakan pemerintah yang dimaksudkan untuk mempengaruhi masalah tertentu, sementara dalam bentuknya yang negatif, kemungkinan meliputi keputusan-keputusan pejabat pemerintah untuk tidak bertindak atau tidak melakukan tindakan apapun ketika campur tangan pemerintah sebenarnya diharapkan. Sudah barang tentu tiadanya bentuk campur tangan/ keterlibatan pemerintah dapat membawa dampak tertentu bagi seluruh atau sebagian warga. Jenis Kebijakan Publik Banyak pakar mengajukan jenis kebijakan publik berdasarkan sudut pandangnya masing- masing. James Anderson. Misalnya, menyampaikan kategori tentang kebijakan publik tersebut sebagai berikut: 1. Kebijakan substansif versus kebijakan prosedural. Kebijakan substantif yakni kebijakan yang menyangkut apa yang akan dilakukan oleh pemerintah. Sedangkan kebijakan prosedural adalah bagaimana kebijakan substantif tersebut dapat dijalankan. 11

2.

Kebijakan distributif versus kebijakan regulatori versus kebijakan

re-distributif. Kebijakan distributif. Kebijakan distributis menyangkut distribusi pelayanan atau kemanfaatan pada masyarakat atau individu. Kebijakan regulatori adalah kebijakan yang berupa pembatasan atau pelarangan terhadap perilaku individu atau kelompok masyarakat. Sedangkan kebijakan re-distributif adalah kebijakan yang mengatur alokasi kekayaan, pendapatan, pemilikan atau hak-hak di antara berbagai kelompok dalam masyarakat. 3. Kebijakan material versus kebijakan simbolis. Kebijakan material adalah kebijakan yang memberikan keuntungan sumber daya konkrit pada kelompok sasaran. Sedangkan kebijkan simbolis adalah kebijakan yang memberikan manfaat simbolis pada kelompok sasaran. 4. Kebijakan yang berhubungan dengan barang umum (public goods) dan barang privat (privat goods). Kebijakan public goods adalah kebijakan yang bertujuan mengatur pemberian barang atau pelayanan publik. Sedangkan kebijakan privat goods adalah kebijakan yang mengatur penyediaan barang atau pelayanan untuk pasar bebas. E. PROSES KEBIJAKAN PUBLIK

Proses mengacu kepada cara bagaimana kebijakan dimulai, dikembangkan atau disusun, dinegosiasi, dikomunikasikan, dilaksanakan dan dievaluasi. Pendekatan yang paling sering digunakan untuk memahami proses kebijakan adalah dengan menggunakan apa yang disebut tahapan heuristiks (Sabatier dan JenkinsSmith 1993). Yang dimaksud disini adalah membagi proses kebijakan menjadi serangkaian tahapan sebagai alat teoritis, suatu model dan tidak selalu menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi didunia nyata. Namun, serangkaian tahapan ini membantu untuk memahami penyusunan kebijakan dalam tahapantahapan yang berbeda: Identifikasi masalah dan isu: menemukan bagaimana isu isu yang ada dapat masuk kedalam agenda kebijakan, mengapa isu isu yang lain justru tidak pernah dibicarakan.

12

Perumusan kebijakan: menemukan siapa saja yang terlibat dalam perumusan kebijakan, bagaimana kebijakan dihasilkan, disetujui, dan dikomunikasikan. Peran penyusunan kebijakan dalam pemerintahan dibicarakan

Pelaksanaan Kebijakan: tahap ini yang paling sering diacuhkan dan sering dianggap sebagai bagian yang terpisah dari kedua tahap yang pertama. Namun, tahap ini yang diperdebatkan sebagai tahap yang paling penting dalam penyusunan kebijakan sebab bila kebijakan tidak dilaksanakan, atau dirubah selama dalam pelaksanaan, sesuatu yang salah mungkin terjadi dan hasil kebijakan tidak seperti yang diharapkan.

Evaluasi kebijakan: temukan apa yang terjadi pada saat kebijakan dilaksanakan bagaimana pengawasannya, apakah tujuannya tercapai dan apakah terjadi akibat yang tidak diharapkan. Tahapan ini merupakan saat dimana kebijakan dapat diubah atau dibatalkan serta kebijakan yang baru ditetapkan.. Ada sejumlah peringatan dalam penggunaan kerangka yang berguna dan sederhana

ini. Pertama, proses kebijakan terlihat seperti proses yang linier dengan kata lain, proses ini berjalan dengan mulus dari satu tahap ke tahap yang lain, dari penemuan masalah hingga ke pelaksanaan dan evaluasi. Namun, sebenarnya jarang terlihat jelas sebagai suatu proses. Mungkin pada saat tahap pelaksanaan masalah baru ditemukan atau kebijakan mungkin diformulasikan tetapi tidak pernah mencapai tahap pelaksanaan. Dengan kata lain, penyusunan kebijakan jarang menjadi suatu proses yang rasional iterative dan dipengaruhi oleh kepentingan sepihak i.e. pelaku. Banyak yang sependapat dengan Lindblom (1959) bahwa proses kebijakan adalah sesuatu yang dicampur aduk oleh para penyusun kebijakan. Namun, tahap heuristics telah berlangsung sekian lama dan tetap bermanfaat. Tahap ini dapat digunakan untuk mengkaji tidak hanya kebijakan tingkat nasional tetapi juga internasional Guna memahami bagaimana kebijakan disebarkan ke seluruh dunia. Dimensi paling inti dari kebijakan publik adalah proses kebijakan. Di sini kebijakan publik dilihat sebagai sebuah proses kegiatan atau sebagai satu kesatuan sistem yang bergerak dari satu bagian ke bagian lain secara berkesinambungan, saling menentukan dan saling membentuk. Beberapa ahli menjabarkan proses kebijakan publik diantaranya :

13

1. Proses Kebijakan Publik Menurut Easton Model proses kebijakan yang paling klasik dikembangkan oleh David Easton (1984). Easton melakukan analogi dengan sistem biologi. Pada dasarnya sistem biologi merupakan proses interaksi antar mahluk hidup dengan lingkungannya, yang akhirnya menciptakan kelangsungan perubahan hidup yang relatif stabil. Dalam terminologi ini, Easton menganalogikannya dengan kehidupan sistem politik. Kebijakan publik dengan sistem mengandaikan bahwa kebijakan merupakan hasil atau output dari sistem (politik). Seperti dipelajari dalam ilmu politik, sistem politik terdiri atas input, throughput dan output, seperti digambarkan sebagai berikut:

Dari gambar tersebut dapat dipahami bahwa proses formulasi kebijakan publik berada dalam sistem politik dengan mengandalkan pada masukan ( input) yang terdiri atas dua hal, yaitu tuntutan dan dukungan. Model Easton inilah yang dikembangkan oleh para akademis di bidang kebijakan publik, seperti: Anderson, Dunn, Patton dan Savicky, dan Effendy. 2. Tahap- Tahap Kebijakan Publik Menurut William Dunn James E. Anderson, David W. Brady, dan Charles Bullock III (1978) membagi proses kebijakan menjadi: 1. 2. 3. Agenda kebijakan (policy agenda) Perumusan kebijakan (policy formulation) Penetapan kebijakan (policy adoption) 14

4. 5.

Pelaksanaan kebijakan (policy implementation) Evaluasi kebijakan (policy evaluation) Model ini selanjutnya dibandingkan dengan model proses kebijakan yang

dikembangkan oleh William N. Dunn sebagai berikut:

William Dunn menjabarkan tahapan kebijakan terdiri dari 4 proses: 1. Penyusunan Agenda Agenda setting adalah sebuah fase dan proses yang sangat strategis dalam realitas kebijakan publik. Dalam proses inilah memiliki ruang untuk memaknai apa yang disebut sebagai masalah publik dan prioritas dalam agenda publik dipertarungkan. Jika sebuah isu berhasil mendapatkan status sebagai masalah publik, dan mendapatkan prioritas dalam agenda publik, maka isu tersebut berhak mendapatkan alokasi sumber daya publik yang lebih daripada isu lain. Dalam agenda setting juga sangat penting untuk menentukan suatu isu publik yang akan diangkat dalam suatu agenda pemerintah. Issue kebijakan (policy issues) sering disebut juga sebagai masalah kebijakan (policy problem). Policy issues biasanya muncul karena telah terjadi silang pendapat di antara para aktor mengenai arah tindakan yang telah atau akan ditempuh, atau pertentangan pandangan mengenai karakter permasalahan tersebut. 15

Menurut William Dunn (1990), isu kebijakan merupakan produk atau fungsi dari adanya perdebatan baik tentang rumusan, rincian, penjelasan maupun penilaian atas suatu masalah tertentu. Namun tidak semua isu bisa masuk menjadi suatu agenda kebijakan. Ada beberapa Kriteria isu yang bisa dijadikan agenda kebijakan publik (Kimber, 1974; Salesbury 1976; Sandbach, 1980; Hogwood dan Gunn, 1986), diantaranya: 1. Telah mencapai titik kritis tertentu yang jika diabaikan, akan menjadi ancaman yang serius; 2. Telah mencapai tingkat partikularitas tertentu yang berdampak dramatis; 3. Menyangkut emosi tertentu dari sudut kepentingan orang banyak (umat manusia) dan mendapat dukungan media massa; 4. Menjangkau dampak yang amat luas ; 5. Mempermasalahkan kekuasaan dan keabsahan dalam masyarakat ; 6. Menyangkut suatu persoalan yang fasionable (sulit dijelaskan, tetapi mudah dirasakan kehadirannya) Penyusunan agenda kebijakan seyogianya dilakukan berdasarkan tingkat urgensi dan esensi kebijakan, juga keterlibatan stakeholder. Sebuah kebijakan tidak boleh mengaburkan tingkat urgensi, esensi, dan keterlibatan stakeholder. 2. Formulasi kebijakan Masalah yang sudah masuk dalam agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah- masalah tadi didefinisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah yang terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif atau pilihan kebijakan yang ada. Sama halnya dengan perjuangan suatu masalah untuk masuk dalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan masing- masing alternatif bersaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah. 3. Adopsi/ Legitimasi Kebijakan Tujuan legitimasi adalah untuk memberikan otorisasi pada proses dasar pemerintahan. Jika tindakan legitimasi dalam suatu masyarakat diatur oleh 16

kedaulatan rakyat, warga negara akan mengikuti arahan pemerintah. Namun warga negara harus percaya bahwa tindakan pemerintah yang sah mendukung. Dukungan untuk rezim cenderung berdifusi - cadangan dari sikap baik dan niat baik terhadap tindakan pemerintah yang membantu anggota mentolerir pemerintahan disonansi. Legitimasi dapat dikelola melalui manipulasi simbolsimbol tertentu. Di mana melalui proses ini orang belajar untuk mendukung pemerintah. 4. Penilaian/ Evaluasi Kebijakan Secara umum evaluasi kebijakan dapat dikatakan sebagai kegiatan yang menyangkut estimasi atau penilaian kebijakan yang mencakup substansi, implementasi dan dampak. Dalam hal ini, evaluasi dipandang sebagai suatu kegiatan fungsional. Artinya, evaluasi kebijakan tidak hanya dilakukan pada tahap akhir saja, melainkan dilakukan dalam seluruh proses kebijakan. Dengan demikian, evaluasi kebijakan bisa meliputi tahap perumusan masalahmasalah kebijakan, program- program yang diusulkan untuk menyelesaikan masalah kebijakan, implementasi, maupun tahap dampak kebijakan. 3. Proses Kebijakan Publik oleh Patton dan Savicky Proses kebijakan model ini dikembangkan melalui siklus proses kebijakan sebagai berikut: 1. Mendefinisikan masalah (define the problem) 2. Menentukan kriteria evaluasi (detrmine evaluation criteria) 3. Mengidentifikasi kebijakan-kebijakan alternatif (identify alternative policies) 4. Mengevaluasi kebijakan-kebijakan alternatif (evaluate alternative policies) 5. Menyeleksi kebijakan-kebijakan pilihan (select preferred policy) 6. Menerapkan kebijakan-kebijakan pilihan (implement the preferred policy) 4. Model proses kebijakan oleh Thomas R. Dye Model proses kebijakan ini terdiri dari : 1. Identifikasi masalah kebijakan (identification of policy problem) 2. Pengaturan agenda (agenda setting) 3. Perumusan kebijakan (policy formulation) 17

4. Pengesahan kebijakan (policy legitimation) 5. Pelaksanaan kebijakan (policy implementation) 6. Evaluasi kebijakan (policy evaluation) Dalam bidang kesehatan, proses kebijakan publik sama halnya dengan proses kebijaka publik lainnya, hanya saja kerangka konsep yag digunakan mengacu pada determinan kesehatan yang mempengaruhi proses kebijakan lainnya. Model konseptual untuk penyusunan kebijakan kesehatan (Sumber: Ruward et.al.1994 in Spasoff, 1999 ).

Health policy

determinants Autonomous developments Health status

Sedangkan model proses kebijakan publik di bidang kesehatan berkaitan dengan epidemiologi adalah : (sumber: Epidemiologi Perencanaan dan Pelayanan Kesehatan, Ridwan, 2011) Assesment of population health Assesment of potential intervention

Policy Evaluation

Policy Implementation Policy choices 18

Siklus seperti pada gambar diatas akan memberi framework pada organisasi. Siklus telah dibatasi kedalam langkah langkah yang lebih sederhana. Beberapa siklus kebijakan meliputi langkah agenda-setting, dengan melihat issu-issu yang dipertimbangkan menjadi kebijakan. Langkah ini ditempati oleh identifikasi masalah dan kebutuhan, dimana banyak arah dalam agenda kebijakan, hal hal ini dapat menjadi kontribusi epidemiologi. Penyusunan alternatif tindakan, estimasi konsekuensi, dan pemilihan satu atau lebih kegiatan untuk implememntasi yang telah dikombinasikan ke dalam langkah tunggal dari pemilihan pengambilan kebijakan. Spesifikasi tujuan menjadi hal yang mendasar dalam pengambilan kebijakan, spesifikasi tujuan dalam perspektif epidemiologi menjadi tool dalam implementasi dan evaluasi. Dalam setiap siklus diharapkan epidemiologi dapat memberi kontribusi. F. EPIDEMIOLOGI TERHADAP PROSES KEBIJAKAN KESEHATAN Epidemiologi memberikan kontribusi terhadap siklis kebijakan diantaranya sbb: (Sumber: Epidemiologi Perencanaan dan Pelayanan Kesehatan, Ridwan Amiruddin, 2011) 1. Assessment of population health. Ahli epidemiologi dapat berkontribusi terhadap konseptual dan pengukuran Kesehatan, menggunakan keahliannya dalam megolah data kesehatan populasi. Lebih khusus lagi, mereka dapat menilai kebutuhan Kesehatan dan risiko-risikonya, menentukan dampak masalah Kesehatan inequalitas terhadap Masyarakat, dan menilai dalam Kesehatan. Hampir semua riset epidemiologi terikat dengan

determinan penyebab sehat dan masalah Kesehatan. 2. Assessment of potential interventions Ahli epidemiologi dapat mengavaluasi dan menyusun fakta berdasarkan efikasi intervensi yang potensial dan menilai efektifitasnya. 3. Policy choices Ahli apidemiologi dapat memberi saran terhadap penceghaan penyakit, model dampak dari variasi intervensi terhadap Kesehatan populasi secatra keseluruhan, dan memberikan dasar tujuan untuk memilih prioritas diantara banyak pilihan.

19

4. Policy implementation Ahli epidemiologi dapat berkontribusi untuk menyusun tujuan dan objective yang berarti, menyediakan dasar-dasar rasional untuk alokasi resoursis, dan memberi saran terhadap data yang dibutuhkan untuk mendukung evaluasi kebijakan. 5. Policy evaluation Ahli epidemiologi dapat membantu mengembangkan desain riset yang valid dan reliable, dan dapat melaksanakan surveilens masalah Kesehatan dan pelayanan Kesehatan, mendeteksi kejadian yang tidak biasa dan mengevaluasi variasi wilayah dalam pelayanan Kesehatan.
G.

ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK DI BIDANG KESEHATAN William N. Dunn (2000) mengemukakan bahwa analisis kebijakan adalah

suatu disiplin ilmu sosial terapan yang menggunakan berbagai macam metode penelitian dan argumen untuk menghasilkan dan memindahkan informasi yang relevan dengan kebijakan, sehingga dapat dimanfaatkan di tingkat politik dalam rangka memecahkan masalah-masalah kebijakan. Weimer and Vining, (1998:1): The product of policy analysis is advice. Specifically, it is advice that inform some public policy decision. Jadi analisis kebijakan publik lebih merupakan nasehat atau bahan pertimbangan pembuat kebijakan publik yang berisi tentang masalah yang dihadapi, tugas yang mesti dilakukan oleh organisasi publik berkaitan dengan masalah tersebut, dan juga berbagai alternative kebijakan yang mungkin bisa diambil dengan berbagai penilaiannya berdasarkan tujuan kebijakan. Analisis kebijakan publik bertujuan memberikan rekomendasi untuk membantu para pembuat kebijakan dalam upaya memecahkan masalah-masalah publik. Di dalam analisis kebijakan publik terdapat informasi-informasi berkaitan dengan masalah-masalah publik serta argumen-argumen tentang berbagai alternatif kebijakan, sebagai bahan pertimbangan atau masukan kepada pihak pembuat kebijakan. Analisis kebijakan terdiri dari beberapa bentuk, yang dapat dipilih dan digunakan. Pilihan bentuk analisis yang tepat, menghendaki pemahaman masalah secara mendalam, sebab kondisi masalah yang cenderung menentukan bentuk analisis yang digunakan. Berdasarkan pendapat para ahli (Dunn, 1988; Moekijat, 1995; 20

Wahab, 1991) dapat diuraikan beberapa bentuk analisis kebijakan yang lazim digunakan sbb: 1. Analisis Kebijakan Prospektif Bentuk analisis ini berupa penciptaan dan pemindahan informasi sebelum tindakan kebijakan ditentukan dan dilaksanakan. Menurut Wiliam (1971), ciri analisis ini adalah: mengabungkan informasi dari berbagai alternatif yang tersedia, yang dapat dipilih dan dibandingkan. Diramalkan secara kuantitatif dan kualitatif untuk pedoman pembuatan keputusan kebijakan. Secara konseptual tidak termasuk pengumpulan informasi. 2. Analisis Kebijakan Restrospektif (AKR) Bentuk analisis ini selaras dengan deskripsi penelitian, dengan tujuannya adalah penciptaan dan pemindahan informasi setelah tindakan kebijakan diambil. Beberapa analisis kebijakan restropektif, adalah: 1. Analisis berorientasi Disiplin, lebih terfokus pada pengembangan dan pengujian teori dasar dalam disiplin keilmuan, dan menjelaskan sebab akibat kebijakan. Contoh: Upaya pencarian teori dan konsep kebutuhan serta kepuasan tenaga kesehatan di Indonesia, dapat memberi kontribusi pada pengembangan manajemen SDM original berciri Indonesia (kultural). Orientasi pada tujuan dan sasaran kebijakan tidak terlalu dominan. Dengan demikian, jika ditetapkan untuk dasar kebijakan memerlukan kajian tambahan agar lebih operasional. 2. Analisis berorientasi masalah, menitikberatkan pada aspek hubungan sebab akibat dari kebijakan, bersifat terapan, namun masih bersifat umum. Contoh: Pendidikan dapat meningkatkan cakupan layanan kesehatan. Orientasi tujuan bersifat umum, namun dapat memberi variabel kebijakan yang mungkin dapat dimanipulasikan untuk mencapai tujuan dan sasaran khusus, seperti meningkatnya kualitas kesehatan gigi anak sekolah melalui peningkatan program UKS oleh puskesmas. 3. Analisis beriorientasi penerapan, menjelaskan hubungan kausalitas, lebih tajam untuk mengidentifikasi tujuan dan sasaran dari kebijakan dan para pelakunya. Informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil kebijakan 21

khusus, merumuskan masalah kebijakan, membangun alternatif kebijakan yang baru, dan mengarah pada pemecahan masalah praktis. Contoh: analis dapat memperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan pelayanan KIA di Puskesmas. Informasi yang diperoleh dapat digunakan sebagai dasar pemecahan masalah kebijakan KIA di puskesmas. 3. Analisis Kebijakan Terpadu Bentuk analisis ini bersifat konprehensif dan kontinyu, menghasilkan dan memindahkan informasi gabungan baik sebelum maupun sesudah tindakan kebijakan dilakukan. Menggabungkan bentuk prospektif dan restropektif, serta secara ajeg menghasilkan informasi dari waktu ke waktu dan bersifat multidispliner. Bentuk analisis kebijakan di atas, menghasilkan jenis keputusan yang relatif berbeda yang, bila ditinjau dari pendekatan teori keputusan (teori keputusan deksriptif dan normatif), yang dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Teori Keputusan Deskriptif, bagian dari analisis retrospektif, mendeskripsikan tindakan dengan fokus menjelaskan hubungan kausal tindakan kebijakan, setelah kebijakan terjadi. Tujuan utama keputusan adalah memahami problem kebijakan, diarahkan pada pemecahan masalah, namun kurang pada usaha pemecahan masalah. 2. Teori Keputusan Normatif, memberi dasar untuk memperbaiki akibat tindakan, menjadi bagian dari metode prospektif (peramalan atau rekomendasi), lebih ditujukan pada usaha pemecahan masalah yang bersifat praktis dan langsung H. DAMPAK KEBIJAKAN PUBLIK Beberapa dampak kebijakan publik: 1. 2. 3. 4. Dampak pada masalah publik (pada kelompok sasaran) yang diharapakan Dampak pada kelompok diluar sasaran sering disebut eksternalitas / Dampak sekarang dan yang akan datang Dampak biaya langsung dikeluarkan untuk membiayai program dan tak

atau tidak. dampak melimpah (spillover effects)

langsung (yang dikeluarkan publik akibat suatu kebijakan.

22

Faktor Penyebab Kebijakan Tak Memperoleh Dampak yang Diinginkan (Anderson, 1996) : 1. 2. 3. 4. 5. lain. 6. 7. 8. 9. I. Biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar dari masalahnya. Banyak masalah publik yang tak mungkin dapat diselesaikan. Timbulnya masalah baru sehingga mendorong pengalihan perhatian dan Sifat dari masalah yang akan dipecahkan PENERAPAN KEBIJAKAN PUBLIK DI BIDANG Sumber daya tak memadai Cara implementasi tak tepat Masalah publik sering disebabkan banyak faktor tetapi kebijakan yang Cara menanggapi kebijakan yang justru dapat emngurangi dampak yang Tujuan-tujuan kebijakan tak sebanding bahkan bertentangan satu sama

dibuat hanya mengatasi satu faktor saja. diinginkan

tindakan CONTOH

KESEHATAN Proses Perumusan Kebijakan Global TB/HIV oleh WHO Kelompok Kerja Global TB/HIV menyumbang dalam perumusan kebijakan sementara kegiatan kerjasama TB/HIV, dengan komisi penulis yang menyiapkan versi awal dan berikutnya. Kelompok Kerja mengkoordinasikan tanggapan global terhadap epidemi TB dan HIV yang saling bersilangan, menempa kerja sama antara komunitas HIV/AIDS dan TB. Keanggotaannya meliputi manajer program, lembaga donor, LSM, lembaga pendidikan, aktivis dan kelompok pendukung pasien yang bekerja dengan WHO dan UNAIDS baik untuk program TB maupun HIV. Komisi penulis meliputi pakar teknis tuberkulosis dan HIV, pembuat kebijakan dalam manajemen kesehatan, orang yang hidup dengan HIV dan penasehatnya, manajer program TB dan HIV nasional maupun internasional, dan lembaga donor. Naskah kebijakan telah dibicarakan pada konperensi internasional oleh stakeholder nasional dan internasional dalam program HIV dan TB serta telah disahkan oleh Kelompok Kerja Global TB/HIV dan Strategic and Technical Advisory Group untuk TB 23

(STAG), yang memberikan kepada WHO strategi eksternal dan nasehat teknis dalam penanggulangan TB.
Tujuan umum kebijakan ialah mengurangi beban TB dan HIV pada populasi yang terkena kedua penyakit tersebut. Tujuan khusus kegiatan kerja sama TB/HIV adalah: (1) membangun mekanisme kerja sama antara program TB dan HIV/AIDS; (2) mengurangi beban TB pada orang dengan HIV/AIDS; dan (3) mengurangi beban HIV pada pasien TB

(Kebjakan sementara kegiatan Kerjasama TB/HIV Stop TB Department and Department of HIV/AIDS World Health Organization, Geneva, Switzerland, 2004) Kebijakan Mengenai DBD di Indonesia Banyak langkah yang telah ditempuh oleh pemerintah untuk mengurangi jumlah penderita DBD di Indonesia, mulai dari program pencegahan sampai program case management untuk masyarakat yang telah terjangkit oleh virus dengue ini, tahapantahapan program tersebut, antara lain : 1. Pemberantasan Sarang Nyamuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yaitu kegiatan memberantas jentik nyamuk di tempat berkembangbiaknya baik dengan cara kimia, yaitu dengan larvasida, biologi dengan cara memelihara ikan pemakan jentik atau dengan bakteri ataupun dengan cara fisik yang kita kenal dengan kegiatan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur) yakni menguras bak mandi, bak WC; menutup TPA rumah tangga (tempayan, drum dll) serta mengubur atau memusnahkan barang-barang bekas (kaleng, ban dll). Pencegahan penyakit DBD melalui metode lingkungan atau fisik untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh : Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu. Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali

24

Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) pada dasarnya, untuk memberantas

jentik

atau

mencegah

agar

nyamuk

tidak

dapat

berkembang

biak.

Pemberantasannya perlu peran aktif masyarakat khususnya memberantas jentik Aedes.aegypti di rumah dan lingkungannya masing-masing. Cara ini adalah suatu cara yang paling efektif dilaksanakan karena : 2. tidak memerlukan biaya yang besar bisa dilombakan untuk menjadi daerah yang terbersih menjadikan lingkungan bersih budaya bangsa Indonesia yang senang hidup bergotong royong dengan lingkungan yang baik tidak mustahil, penyakit lain yang diakibatkan oleh lingkungan yang kotor akan berkurang. Program 3M Plus Sebenarnya pelaksanaan 3M Plus merupakan upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk yang sederhana dan efektif. Melalui program ini, masyarakat dapat memutus rantai perkembang biakan nyamuk Aedes Aegypti. Sebagai gambaran, beberapa hal pembersihan yang dilakukan dalam 3M Plus merupakan upaya untuk mempersempit penyediaan sarang reproduksi bagi hewan vektor penyakit ini dan hal ini merupakan bagian yang sangat penting sebagai langkah awal untuk menghindari peningkatan prevalensi penderita PBD serta menghindari terjadinya KLB pada penyakit ini. Sedangkan untuk membasmi jumlah nyamuk dewasa yang telah dapat berkembang biak, dapat dilakukan dengan pengasapan (fogging) digunakan untuk mengurangi jumlah nyamuk dewasa yang dapat bertelur sebanyak 200 400 per hari. Jika dibandingkan dari kedua langkah diatas, tentu saja program 3M Plus memiliki peranan yang sangat penting untuk membatasi penyebaran virus penyakit ini asalkan masyarakat melakukannya secara kontinyu dan teratur. Permasalahan mengenai efektifitas pelaksanaan program Pemberantasan Sarang Nyamuk melalui 3M Plus adalah kurangnya minat masyarakat untuk melakukan semua hal tersebut. Hal ini berkaitan dengan pemahaman masyarakat 25

untuk terbiasa memiliki pola hidup bersih dan sehat sehingga merasa bahwa bukan hal yang kondusif untuk hidup berdampingan dengan nyamuk Aedes Aygepti. Efektifitas pelaksanaan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk ini melalui 3M Plus ini dapat terlaksana dengan baik jika semua jajaran masyarakat memiliki kesadaran untuk melakukannya secara serempak dan kontinyu di seluruh bagian negara Indonesia in. Atupun dapat ditambah dengan adanya kebijakan dari pemerintah pusat ataupun daerah mengenai pentingnya melakukan 3M Plus yang disertai dengan pemberlakuan punishment bagi tiap masyarakat yang tidak melakukan ataupn terlibat di dalam program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) ini. Sebagai contoh, mungkin kita dapat mengikuti pemberlakuan kebijakan di negara Singapura dan Malaysia yang memberikan denda bagi warganya yang kedapatan terdapat jentik nyamuk Aedes Aegypti di rumahnya. Atupun seperti Sri Lanka menggunakan gerakan Green Home Movement untuk tujuan yang sama yaitu menempelkan stiker hijau bagi rumah yang memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan termasuk bebas dari jentik nyamuk Aeds Aegypti dan menempelkan stiker hitam pada rumah yang tidak memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan. Bagi pemilik rumah dengan stiker hitam akan dberikan peringatan sebanyak 3 kali dan jka tidak dilakukan akan dikenai denda. Sedangkan untuk para pejabat pemerintahan Indonesia, mungkin dapat meniru semangat Jendral Grogas dalam membasmi penyakit ini dari Kuba pada 100 tahun yang lalu yaitu dengan menggunakan metode pelaksanaan progam program PSN secara serentak dan besar besaran di seluruh negeri. Semua contoh diatas seharusnya dapat dijadikan contoh oleh tiap daerah yang berpotensi menjadi daerah endemi DBD ketika musim penghujan datang apalagi saat ini telah adanya otonomi daerah yang dapat memberikan kebebasan kepada tiap derah untuk menyusun program ataupun kegiatan yang bertujuan untuk membasmi sarang nyamuk secara benar tanpa terlupakan adanya pengawasan dari pihak pemerintahan pusat.

26

3.

Abatisasi (Larvasiding) Larvasiding adalah pemberantasan jentik dengan bahan kimia dengan

menaburkan bubuk larvasida. Pemberantasan jentik Aedes aegypti dengan bahan kimia terbatas untuk wadah (peralatan) rumah tangga yang tidak dapat dimusnahkan, dibersihkan,dikurangi atau diatur. Dalam jangka panjang penerapan kegiatan larvasiding sulit dilakukan dan mahal. Kegiatan ini tepat digunakan apabila survelans penyakit dan vector menunjukkan adanya periode berisiko tinggi dan di lokasi dimana wabah mungkin timbul. Menentukan waktu dan tempat yang tepat untuk pelaksanaan larvasiding sangat penting untuk memaksimalkan efektifitasnya. Terdapat 2 jenis larvasida yang dapat digunakan pada wadah yang dipakai untuk menampung air minum (TPA) yakni: temephos (Abate 1%) dan Insect growth regulators (pengatur pertumbuhan serangga) Untuk pemberantasan larva dapat digunakan abate 1 % SG. Cara ini biasanya digunakan dengan menaburkan abate kedalam bejana tempat penampungan air seperti bak mandi, tempayan, drum dapat mencegah adanya jentik selama 2-3 bulan. Kegiatan larvasiding meliputi: a. Abatisasi selektif Abatisasi selektif adalah kegiatan pemeriksaan tempat penampungan air (TPA) baik didalam maupun diluar rumah pada seluruh rumah dan bangunan di desa/kelurahan endemis dan sporadik dan penaburan bubuk abate (larvasida) pada TPA yang ditemukan jentik dan dilaksanakan 4 kali setahun. Pelaksana abatisasi adalah kader yang telah dilatih oleh petugas Puskesmas.Tujuan pelaksanaan abatisasi selektif adalah sebagai tindakan sweeping hasil penggerakan masyarakat dalam PSN-DBD. b. Abatisasi massal Abatisasi massal adalah penaburan abate atau altosid (larvasida) secara serentak diseluruh wilayah/daerah tertentu disemua TPA baik terdapat jentik maupun tidak ada jentik di seluruh rumah/bangunan. Kegiatan abatisasi massal ini dilaksanakan dilokasi terjadinya KLB DBD. Dalam kegiatan abatisasi massal masyarakat diminta partisipasinya untuk melaksanakan pemberantasan Aedes 27

aegypti di wilayah masing-masing. Tenaga di beri latihan dahulu sebelum melaksanakan abatisasi, agar tidak mengalami kesalahan. 4. Fogging Fogging merupakan suatu kegiatan penyemprotan insektisida dan PSN-DBD serta penyuluhan pada masyarakat sekitar kasus dengan radius 200 meter, dilaksanakan 2 siklus dengan interval 7 hari oleh petugas. Biasanya Fogging diadakan 2 kali di suatu tempat menggunakan malathion dalam campuran solar dosis 438 g/ha. (500 ml malathion 96%technical grade/ha). Sasaran adalah rumah serta bangunan di pinggir jalan yang dapat dilalui mobil di desa endemis tinggi. Alat yang dipakai swing fog SN 1 untuk bangunan dan mesin ULV untuk perumahan. Waktu pengasapan pagi dan sore ini dengan memperhatikan kecepatan angin dan suhu udara. Fogging dilakukan oleh tim yang terlatih dari Dinas Kesehatan Propinsi dan Pusat sesudah survei dasar. Penanggulangan fogging fokus ini dilakukan dengan maksud untuk mencegah/membatasi penularan penyakit. Cara ini dapat dilakukan untuk nyamuk dewasa maupun larva. Untuk nyamuk dewasa saat ini dilakukan dengan cara pengasapan (thermal fogging) atau pengagutan (colg Fogging = Ultra low volume). Pemberantasan nyamuk dewasa tidak dengan menggunakan cara penyemprotan pada dinding (resisual spraying) karena nyamuk Ae.aegypti tidak suka hinggap pada dinding, melainkan pada benda-benda yang tergantung seperti kelambu dan pakaian yang tergantung. Untuk pemakaian di rumah tangga dipergunakan berbagai jenis insektisida yang disemprotkan yang disemprotkan kedalan kamar atau ruangan misalnya, golongan organophospat atau pyrethroid synthetic.[30] Adapun syarat-syarat untuk melakukan fogging, yaitu: 1. Adanya pasien yang meninggal di suatu daerah akibat DBD. 2. Tercatat dua orang yang positif terkena DBD di daerah tersebut. 3. Lebih dari tiga orang di daerah yang sama, mengalami demam.Plus adanya jentik-jentik nyamuk Aedes Aegypti.

28

Apabila ada laporan DBD di rumah sakit atau puskesmas di suatu daerah, maka pihak rumah sakit harus segera melaporkan dalam waktu 24 jam, setelah itu akan langsung diadakan penyelidikan epidemiologi kemudian baru fogging fokus. 5. Surveilans Epidemiologi Surveilans Epidemiologi DBD adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit DBD dan kondisi yang memperbesar resiko terjadinya, dengan maksud agar peningkatan dan penularannya dapat dilakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. Proses surveilans dibagi menjadi dua kegiatan,yaitu : 1. Kegiatan inti; mencakup (1) surveilans: deteksi, pencatatan, pelaporan, analisis, konfirmasi dan umpan balik (2) tindakan: respon segera (epidemic type response) dan respon terencana (management type response) 2. Kegiatan pendukung; mencakup, pelatihan, supervisi, penyediaan dan manajemen sumber daya. Program surveilans epidemiologi DBD meliputi surveilans penyakit yang dilakukan dengan cara meminta laporan kasus dari rumah sakit dan sarana kesehatan serta surveilans vektor yang dilakukan dengan melakukan penelitian epidemiologi di daerah yang terjangkit DBD. Pelaksanaan surveilans epidemiologi vektor DBD untuk deteksi dini biasanya dilakukan penelitian di tempat-tempat umum; sarana air bersih; pemukiman dan lingkungan perumahan; dan limbah industri, RS serta kegiatan lain. Kegiatan di atas dilakukan oleh petugas kesehatan, juru pemantau jentik dan tim pemberantasan nyamuk di sekolah dan masyarakat. Sebagai indikator keberhasilan program tersebut adalah Angka Bebas Jentik (ABJ). Surveilans epidemiologi penyakit DBD memegang peranan penting dalam upaya memutus mata rantai penyakit DBD. Namun, pada kenyataanya belum berjalan dengan baik disebabkan karena faktor eksternal dan internal, misalnya petugas puskesmas tidak menjalankan tugas dengan sebagaimana mestinya dalam melakukan Pemantauan Jentik Berkala (PJB).

29

Berdasarkan surveilans epidemiologi DBD yang telah dilakukan peningkatan dan penyebaran jumlah kejadian penyakit DBD ada kaitannya dengan beberapa hal berikut: 1. Pertumbuhan penduduk yang tinggi 2. Urbanisasi yang tidak terencana & tidak terkendali 3. Tidak adanya kontrol vektor nyamuk yang efektif di daerah endemis 4. Peningkatan sarana transportasi Badan Litbangkes berkerja sama dengan Namru telah mengembangkan suatu sistem surveilen dengan menggunakan teknologi informasi (Computerize) yang disebut dengan Early Warning Outbreak Recognition System ( EWORS ). EWORS adalah suatu sistem jaringan informasi yang menggunakan internet yang bertujuan untuk menyampaikan berita adanya kejadian luar biasa pada suatu daerah di seluruh Indonesia ke pusat EWORS (Badan Litbangkes. Depkes RI.) secara cepat. Melalui sistem ini peningkatan dan penyebaran kasus dapat diketahui dengan cepat, sehingga tindakan penanggulangan penyakit dapat dilakukan sedini mungkin. Dalam masalah DBD pada tahun 2004, EWORS telah berperan dalam hal menginformasikan data kasus DBD dari segi jumlah, gejala/karakteristik penyakit, tempat/lokasi, dan waktu kejadian dari seluruh rumah sakit DATI II di Indonesia. 6. Case Management Berbagai macam aksi telah dicanangkan untuk mencegah munculnya dan meluasnya kasus DBD (preventif primer). Namun, disamping aksi pencegahan, diperlukan juga penanganan kasus yang baik demi mencegah meningkatnya angka kematian dan Case Fatality Rate (CFR). Hal yang penting dalam penanganan kasus adalah penegakan diagnosis dan pengobatan segera (preventif sekunder). Sebagaimana yang diketahui, penyakit DBD sering salah didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau typhoid/ tipus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bisa bersifat asimptomatik atau tidak jelas gejalanya. Data dari berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa pasien DBD sering menunjukkan gejala batuk, pilek, demam, mual, muntah maupun diare. Masalah bisa bertambah karena virus tersebut dapat masuk bersamaan 30

dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau tipus. Oleh karena itu perlu kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan klinis. Untuk memperoleh kepastian tentang diagnosis, perlu juga dilakukan pemeriksaan penunjang di laboratorium. Penegakan diagnosis dengan cepat sangat penting karena memberikan efek yang besar terhadap prognosis penyakit. Jika terjadi keterlambatan sedikit saja, keadaan pasien bisa jauh lebih parah karena fase klinis penyakit DBD cukup pendek. Keputusan perawatan yang diberikan juga harus sesuai dengan kondisi pasien, apakah rawat inap biasa sudah cukup atau harus mendapatkan perawatan intensif di ICU.

31

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN 1. Kebijakan kesehatan dapat meliputi kebijakan publik dan swasta tentang kesehatan. Kebijakan kesehatan diasumsikan untuk merangkum segala arah tindakan (dan dilaksanakan) yang mempengaruhi tatanan kelembagaan, organisasi, layanan dan aturan pembiayaan dalam system kesehatan. 2. Model proses kebijakan yang dikembangkan oleh para para ilmuwan kebijakan publik di atas mempunyai satu kesamaan yaitu bahwa proses kebijakan berjalan dari formulasi menuju implementasi, untuk mencapai kinerja kebijakan. Pola kesamaan tersebut menjelaskan bahwa proses kebijakan adalah dari gagasan kebijakan, formalisasi dan legalisasi kebijakan, implementasi, baru kemudian menuju kinerja atau mencapai prestasi yang diharapkan sebagai hasil dari evaluasi kinerja kebijakan. 3. Dalam proses kebijakan, Epidemiologi memberikan kontribusi berupa penilaian terhadap kesehatan populasi dan intervensi yang mungkin ditegakkan, pemilihan dan pelaksanaan kebijakan serta evaluasi kebijakan. 4. Beberapa contoh penerapan proses kebijakan secara global berupa kebijakan kerjasama TB dan HIV AIDS oleh WHO serta kebijakan Nasional dalam penanganan DBD. B. SARAN 1. Pemerintah mempunyai tempat utama dalam pendanaan pelayanan kesehatan di sebagian besar negara. Negara memegang peranan utama dalam mengalokasikan sumber dayasumber daya untuk prioritasprioritas kesehatan yang berkompetisi dan dalam mengatur cakupan kegiatan kesehatan. Olehnya itu, pemerintah sebaiknya memberikan perhatian besar terhadap kebijakan public terutama di bidang kesehatan agar setiap individu dapat merasakan dampak positif dari kebijakan kesehatan. 32