P. 1
Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Kota Pekanbaru

Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Kota Pekanbaru

|Views: 1,128|Likes:
Dipublikasikan oleh Day Nuno
pertumbuhan ekonomi pekanbaru
pertumbuhan ekonomi pekanbaru

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Day Nuno on Mar 28, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial
Harga Terdaftar: $0.99 Beli Sekarang

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

09/07/2014

$0.99

USD

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan daerah sebagai bagian dari pembangunan nasional yang dilaksanakan melalui otonomi daerah dan pengaturan sumber daya, akan memberi kesempatan bagi peningkatan kinerja daerah yang berdaya guna dan berhasil guna. Karena salah satu tujuan pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka diperlukan keikutsertaan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan. Kota Pekanbaru merupakan salah satu wilayah yang akan dijadikan sebagai pusat perdagangan di Sumatera. Dalam proses pengembangan wilayah perlu diidentifikasi mengenai potensi dan permasalahan yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Dengan memperhatikan hal diatas maka setidaknya masalah yang dapat diantisipasi dan memanfaatkan potensi yang ada secara optimal. Tujuan dari pengembangan wilayah adalah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam

perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Masalah pertumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai masalah makroekonomi dalam jangka panjang. Dari satu periode ke periode lainnya kemampuan suatu negara untuk menghasilkan barang dan jasa akan meningkat. Kemampuan yang

1

meningkat ini disebabkan karena faktor-faktor produksi akan selalu mengalami pertambahan dalam jumlah dan kualitasnya. Investasi akan menambah jumlah barang modal. Teknologi yang digunakan menjadi berkembang. Disamping itu tenaga kerja bertambah sebagai akibat perkembangan penduduk, dan pengalaman kerja dan pendidikan menambah keterampilan mereka. Pertumbuhan ekonomi merupakan kunci dari tujuan ekonomi makro. Hal ini didasari oleh tiga alasan. Pertama, penduduk selalu bertambah. Bertambahnya jumlah penduduk ini berarti angkatan kerja juga selalu bertambah. Pertumbuhan ekonomi akan mampu menyediakan lapangan kerja bagi angkatan kerja. Jika pertumbuhan ekonomi yang mampu diciptakan lebih kecil daripada pertumbuhan angkatan kerja, hal ini mendorong terjadinya pengangguran. Kedua, selama keinginan dan kebutuhan selalu tidak terbatas, perekonomian harus selalu mampu memproduksi lebih banyak barang dan jasa untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan tersebut. Ketiga, usaha menciptakan kemerataan ekonomi (economic stability) melalui retribusi pendapatan (income redistribution) akan lebih mudah dicapai dalam periode pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi daerah yang dihitung melalui PDRB ( Produk Domestik Regional Bruto) harga konstan dapat juga dijadikan indikator atas laju perekonomian daerah yang dalam hal ini menyangkut efektifitas dari tingkat investasi dalam maupun luar negeri. Selama 15 tahun terakhir ( periode 1995 – 2009 ) terlihat perubahan yang fluktuatif.

2

Tabel 1.1 : Pertumbuhan Ekonomi Kota Pekanbaru Tahun 1995-2009 Tahun 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 PDRB atas dasar harga konstan 2000 (Juta Rupiah) 2.521.963,51 2.776.092,24 3.023.983,08 2.900.545,61 3.177.320,59 3.461.454,85 3.833.269,35 4.295.154,73 4.717.099,31 5.252.779,43 5.780.933,15 6.367.596,81 6.997.154,88 7.630.422,50 8.302.631,95 Laju Pertumbuhan (%) 9,86 10,08 8,93 -4,08 9,54 8,94 10,74 12,05 9,82 11,36 10,05 10,15 9,89 9,05 8,81

Sumber : laporan tahunan BPS, berbagai edisi

Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 1998 mengalami kondisi minus dikarenakan terjadinya krisis ekonomi dan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi menjadi -4,08% dengan nilai sebesar Rp 2.900.545,61 juta. Pada masa pasca krisis ekonomi terdapat gejolak perbaikan saat periode tahun 1999 pertumbuhan ekonomi berubah kembali dalam keadaan positif yaitu sebesar 9,54% dengan nilai pertumbuhan ekonomi sebesar Rp. 3.177.320,59 juta dan terus mengalami kenaikan hingga periode tahun 2009 dengan laju pertumbuhan sebesar 8,81% dan nominal sebesar Rp. 8.302.631,95. Laju pertumbuhan ekonomi terbesar tercatat pada tahun 2002 sebesar 12,05% dengan nilai pertumbuhan Rp. 4.295.154,73 juta.

3

Pertumbuhan ekonomi harus didukung oleh peningkatan produktifitas dan efisiensi serta sumber daya manusia yang berkualitas, pembangunan industri terus ditingkatkan dan di arahkan agar sektor industri menjadi penggerak utama ekonomi yang efisien, berdaya saing tinggi, mempunyai struktur yang makin kukuh dengan pola produksi yang berkembang. Pembangunan industri merupakan unsur penting dalam mempercepat tercapainya sasaran pembangunan dan dalam rangka menciptakan struktur perekonomian yang seimbang. Pembangunan dibidang industri sebagai bagian dari usaha pembangunan bidang ekonomi jangka panjang yang diarahkan untuk menciptakan struktur ekonomi yang lebih kokoh dan seimbang yaitu struktur ekonomi dengan titik berat industri yang maju didukung oleh pertanian yang tangguh. Untuk itu proses industrialisasi lebih dimantapkan guna mendukung lebih berkembangnya industri sebagai penggerak utama peningkatan pertumbuhan dan perluasan lapangan kerja. Dalam suatu pembangunan sudah pasti diharapkan terjadinya

pertumbuhan. Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan sarana dan prasarana, terutama dukungan dana yang memadai. Disinilah peran serta investasi mempunyai cakupan yang cukup penting karena sesuai dengan fungsinya sebagai penyokong pembangunan dan pertumbuhan nasional melalui pos penerimaan negara sedangkan tujuannya adalah untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat.

4

5 .Alur Investasi merupakan pembentukan modal yang mendukung peran swasta dalam perekonomian yang berasal dari dalam negeri. untuk menambah kemampuan memproduksi barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian yang berasal dari investasi dalam negeri. tingkat pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada setiap tabungan dan investasi tergantung dari tingkat produktivitas investasi tersebut (Todaro M. maka semakin cepat terjadi pertumbuhan ekonomi. Jelas dengan demikian bahwa investasi khususnya Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) memainkan peranan penting dalam menentukan jumlah output dan pendapatan. Akan tetapi secara riil. 2004 : 183). Kekuatan ekonomi utama yang menentukan investasi adalah hasil biaya investasi yang ditentukan oleh kebijakan tingkat bunga dan pajak. dalam mendukung pertumbuhan ekonomi diperlukan investasiinvestasi baru sebagai stok modal seperti Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan asing (PMA). Dengan adanya semakin banyak tabungan yang kemudian diinvestasikan. maka output potensial suatu bangsa akan bertambah dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang juga akan meningkat. serta harapan mengenai masa depan (Samuelson dan Nordhaus. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dapat diartikan sebagai pengeluaran atau pembelanjaan penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang produksi. Investasi menghimpun akumulasi modal dengan membangun sejumlah gedung dan peralatan yang berguna bagi kegiatan produktif. Harrod Domar menyatakan. 2000).

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pertumbuhan ekonomi daerah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di Kota Pekanbaru dengan judul “ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA PEKANBARU“. Tenaga Kerja dan Infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru. tujuan dari adanya investasi yaitu adanya public utilities dan public service yang diharapkan mampu menunjang kegiatan-kegiatan ekonomi yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. yaitu : “Apakah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). B. dan Infrastruktur berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru?” C. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Ekspor. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Perumusan Masalah Berdasarkan dari penjelasan latar belakang diatas. maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan untuk dilakukan penelitian.Dari sudut pemerintah. Tenaga Kerja. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah : a. Ekspor. 6 .

c.b. Pemerintah Penelitian ini semoga menjadi informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan kebijakan dalam upaya pengembangan wilayah dan perekonomian di kota Pekanbaru. 2. Untuk mengetahui variabel mana yang paling dominan dalam pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru. 7 . Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi banyak pihak terutama : a. Peneliti Merupakan sarana untuk melengkapi pengetahuan teori-teori yang selama ini dipelajari di bangku kuliah dengan pelaksanaannya di lapangan. Dunia Akademis Sebagai acuan bagi peneliti lain atau mahasiswa yang berminat melakukan penelitian yang sama dimasa yang akan datang. b.

TINJAUAN PUSTAKA 1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS A. yaitu: kelembagaan. Defenisi tersebut menurut Kuznet dalam Todaro (2000 : 140) memiliki tiga komponen pokok yaitu : 1. Pertumbuhan Ekonomi Profesor Simon Kuznet yang memenangkan Nobel di bidang ekonomi pada tahun 1971 untuk kepeloporannya dalam menggunakan ukuran dan analisis mengenai tingkat pertumbuhan historis pendapatan nasional di negara-negara maju. Adanya peningkatan terus menerus dalam keluaran atau produksi nasional. telah memberikan defenisi pertumbuhan ekonomi suatu negara sebagai suatu kenaikan dalam jangka panjang kemampuan untuk meningkatkan kesediaan berbagai macam barang ekonomi bagi penduduknya. sikap dan ideologi harus 8 . Kapasitas pertumbuhan ekonomi ini dimungkinkan oleh adanya perkembangan teknologi. Penyesuaian-penyesuaian diciptakan. penyesuaian kelembagaan dan ideologi sebagaimana yang diminta oleh kondisi masyarakatnya. 3. Dalam analisisnya. 2. Profesor Kuznets dalam Todaro (2000 :144) mengemukakan lima karateristik proses pertumbuhan di negara berkembang. Kemajuan dibidang teknologi telah memberikan dasar atau pra kondisi untuk berlangsungnya pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

9 . Proses pertumbuhan perekonomian menurut Ricardo dalam Boediono (1999:19) ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut : 1) Tanah terbatas jumlahnya 2) Tenaga kerja (penduduk) yang dipengaruhi oleh tingkat upah 3) Akumulasi kapital yang terjadi apabila tingkat keuntungan minimal yang diperlukan untuk menarik investor. Kata Smith: “Permintaan akan tenaga manusia. Tingkat transformasi struktural ekonomi yang tinggi. dan menyetopnya apabila terlalu cepat”. seperti juga akan mempercepat produksi tenaga kerja : ia akan mempercepat produksi tersebut apabila terlambat. 2) Pertumbuhan penduduk bersifat pasif dalam proses pertumbuhan output dimana dalam jangka panjang. c) Stock barang capital yang secara aktif menentukan tingkat output. Menurut Adam Smith dalam Boediono (1999:7) ada dua aspek utama dari pertumbuhan ekonomi. yaitu : a) Sumber alam yang tersedia (faktor produksi “tanah”) merupakan wadah paling penting dan mendasar dari kegiatan produksi suatu masyarakat. 5) Terbatasnya penyebaran pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai sektor sepertiga bagian penduduk dunia. b) Sumber manusiawi (jumlah penduduk) yang mempunyai peranan pasif dimana jumlah penduduk akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat tersebut.1) 2) 3) 4) Tingkat pertumbuhan perkapita dan pertumbuhan penduduk yang tinggi. 4) Kemajuan teknologi. berapapun jumlahnya tenaga kerja yang dibutuhkan oleh proses produksi akan tersedia melalui pertumbuhan penduduk. Tingkat kenaikan total produktivitas faktor yang tinggi. yaitu : 1) Pertumbuhan output (GDP) total yang terdiri dari tiga aspek pokok. Adanya kecendrungan negara-negara yang sudah maju perekonomiannya untuk berusaha merambah bagian dunia lainnya sebagai daerah pemasaran dan sumber bahan baku.

tenaga dan biaya sehingga membuat suatu daerah menarik untuk dikunjungi dan karena volume transaksi yang makin meningkat akan menciptakan economic of scale sehingga tercipta efisiensi lanjutan. 3) Adanya konsentrasi geografis dari berbagai sektor yang dapat menciptakan efisiensi diantara sektor yang saling membutuhkan dan meninggalkan daya tarik (attractivness) dari suatu daerah. Lokasi dari barang-barang pemenuhan kebutuhan yang berdekatan mengakibatkan penghematan waktu. 10 . (Todaro. 2000:137) Pusat pertumbuhan menurut Tarigan (2005 : 162) harus mempunyai ciriciri sebagai berikut : 1) Adanya hubungan internal dari berbagai macam kegiatan yang memiliki nilai ekonomi. 2) Adanya efek pengganda (multiplier effect) sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi.5) Sektor pertanian dominan. 3) Kemajuan teknologi (technological progress). artinya antara kota dan daerah belakangnya terdapat hubungan yang harmonis agar dapat saling memenuhi dan melengkapi kebutuhan masing-masing daerah sehingga dapat saling mendukung dalam pengembangan wilayah. peralatan fisik termasuk infrastruktur ekonomidan sosial dan modal tanah atau sumber daya manusia. yaitu : 1) Akumulasi modal yang meliputi jenis investasi baru yang ditanamkan pada tanah. 2) Pertumbuhan penduduk yang akan memperbanyak jumlah angkatan kerja. Ada tiga komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi dari setiap bangsa. 4) Bersifat mendorong daerah belakangnya. sehingga apabila ada satu sektor yang tumbuh maka akan mendorong pertumbuhan sektor lainnya karena adanya hubungan saling keterkaitan.

2001:324) 2.Untuk mempercepat pemulihan ekonomi indonesia. Harrod. Perekonomian terdiri dari dua sektor yaitu sektor rumah tangga dan sektor perusahaan. Perekonomian dalam keadaan pengerjaan penuh (full employment) dan barang-barang modal yang terdiri dalam masyarakat digunakan secara penuh. 25 Tahun 2000. langsung maupun tidak langsung. Teori Pertumbuhan Ekonomi Harrod-Domar Teori pertumbuhan Harrod-Domar ini dikembangkan oleh dua ekonom sesudah Keynes yaitu Evsey Domar dan Sir Roy F. 2. 2001:133) Program pengembangan wilayah mengacu pada : 1. 25 Tahun 2000. Teori Harrod-Domar ini mempunyai asumsi yaitu: 1. swasta. masyarakat serta antar daerah dan subregional. 2. (UU RI No. 2. Layak secara ekonomis dan financial sehingga menarik investor dalam maupun luar negeri. Menciptakan banyak lapangan kerja. (UU RI No. 3. pemanfaatan teknologi dan pengembangan jaringan informasi dan komunikasi modern. 4. industri dan pariwisata pada sentra produksi dan kawasan potensial lainnya termasuk kawasan transmigrasi. pembangunan sarana dan prasarana beserta jasa pelayanannya dilaksanakan dengan mempertimbangkan kriteria sebagai berikut : 1. Menciptakan manfaat ekonomis sebesar-besarnya pada masyarakat disekitar proyek infrastruktur. Menunjang pembangunan ekonomi wilayah. Pengembangan jaringan perdagangan dengan pemanfaatan potensi geografis dan kerjasama ekonomi antar dan antara pemerintah. Pengembangan prasarana pendukung pada wilayah strategis dan cepat tumbuh termasuk penyediaan tenaga kerja terampil. Pengembangan produksi dan pemasaran komoditas unggulan pertanian. 11 . 3.

L) yang berlaku bagi setiap periode. dimana asumsi yang melandasi model ini yaitu: 1. Dalam teori ini disebutkan bahwa. 12 . demikian juga ratio antara modal-output (capital-output ratio = COR) dan rasio pertambahan modal-output (incremental capital-output ratio = ICOR).3. Kecenderungan untuk menabung (marginal propensity to save = MPS) besarnya tetap. berarti fungsi tabungan dimulai dari titik nol. Besarnya tabungan masyarakat adalah proporsional dengan besarnya pendapatan nasional. Teori Pertumbuhan Ekonomi Solow-Swan Menurut teori ini garis besar proses pertumbuhan mirip dengan teori Harrod- Domar. Tenaga kerja (atau penduduk) tumbuh dengan laju tertentu. Hubungan tersebut telah kita kenal dengan istilah rasio modal-output (COR). Menurut Harrod-Domar. diperlukan investasi-investasi baru sebagai tambahan stok modal. 3. misalnya P per tahun. perekonomian harus menabung dan menginvestasikan suatu proporsi tertentu dari output totalnya. 2004:64-67). 4. setiap perekonomian dapat menyisihkan suatu proporsi tertentu dari pendapatan nasionalnya jika hanya untuk mengganti barangbarang modal yang rusak. Semakin banyak tabungan dan kemudian di investasikan. Namun demikian untuk menumbuhkan perekonomian tersebut. Adanya fungsi produksi Q = f (K. maka semakin cepat perekonomian itu akan tumbuh (Arsyad. 2. jika ingin tumbuh.

Tabungan masyarakat S = sQ. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Empat faktor pertumbuhan ekonomi (Samuelson dan Nordhaus. Sumber-sumber daya yang penting ini adalah tanah yang baik untuk ditanami.3. 2. Input tenaga kerja terdiri dari kuantitas tenaga kerja dan keterampilan angkatan kerja. jalan) 13 . minyak dan gas. Dengan begitu. hutan. 3. air dan mineral. 4. Adanya kecenderungan menabung (prospensity to save) oleh masyarakat yang dinyatakan sebagai proporsi (s) tertentu dari output (Q). kualitas lingkungan) Faktor produksi klasik kedua adalah sumber daya alam. Sesuai dengan anggapan mengenai kecenderungan menabung. bila Q naik S juga naik. mineral. Banyak ekonom meyakini bahwa kualitas input tenaga kerja yaitu keterampilan. maka dari output disisakan sejumlah proporsi untuk ditabung dan kemudian di investasikan. motivasi). 4. Sumber daya manusia (penawaran tenaga kerja. Pembentukan Modal (mesin. disiplin. pendidikan. Sumber daya alam (tanah. pabrik. Semua tabungan masyarakat di investasikan S = I = ∆K. maka terjadi penambahan stok kapital (Boediono. bahan bakar. dan disiplin angkatan kerja adalah satu-satunya unsur penting dari pertumbuhan ekonomi. 2004 : 250) : 1. dan sebaliknya. pengetahuan. 1999).

Seringkali.Modal nyata mencakup struktur-struktur seperti jalan dan pembangkit tenaga listrik. tenaga kerja. kewirausahaan). rekayasa. arus penemuan dan kemajuan teknologi yang tidak pernah berakhir menyebabkan kemajuan sangat besar dalam kemungkinan produksi. A menggambarkan tingkat tekhnologi dalam ekonomi. atau sumber daya meningkat. L = input tenaga kerja. Secara aljabar. R = input sumber daya alam. R) Dengan Q = output. Perubahan teknologi menunjukan perubahan proses produksi atau pengenalan produk atau jasa baru. Produktifitas merupakan rasio output terhadap rata-rata input yang tertimbang. pertumbuhan bukan sama sekali bukan merupakan proses peniruan sederhana. dan F adalah fungsi produksi. Sebaliknya. 4. maka kita dapat berharap bahwa output barangkali akan memperlihatkan berkurangnya keuntungan input-input tambahan dari faktorfaktor produksi. APF adalah Q = AF (K. yang menghubungkan total output nasional dengan input dan tekhnologi. para ekonom membahaskan hubungan itu sebagai fungsi produksi agregat (aggregate production function/APF). manajemen. peralatan seperti truk dan komputer. L. Teknologi (sains. Dalam sejarah. dan persediaan barang (stock of inventories). Ketika tekhnologi (A) meningkat berkat temuan-temuan baru 14 . Kemajuan teknologi telah menjadi unsur vital keempat dari pertumbuhan standar hidup yang pesat. K = jasa-jasa produktif modal. Ketika input modal. Kita dapat melihat peran tekhnologi sebagai penambah produktivitas input.

sebab modernisasi ekonomi memerlukan infrastruktur yang modern. Mengembangkan Infrastruktur.atau pengambilalihan tekhnologi dari luar negeri. 3. misalnya pembelian saham. Pertimbangan-pertimbangan utama yang perlu dilakukan dalam melakukan (memilih) suatu jenis investasi riil adalah tingkat bunga pinjaman yang berlaku 15 . kemajuan ini memungkinkan negara memproduksi lebih banyak output dengan tingkat yang sama dengan input. Teori Investasi Investasi adalah penambahan barang modal secara netto yang positif. Sedangkan investasi finansial adalah investasi terhadap surat-surat berharga. Investasi dapat dibedakan menjadi dua jenis. 2. 4. 5. Mengembangkan institusi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. dan surat bukti hutang lainnya. Kebijakan diversifasi kegiatan ekonomi adalah suatu kebijakan melakukan transformasi kegiatan ekonomi yang bersifat tradisional kepada kegiatan yang modern. Kebijakan-kebijakan mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi menurut Sukirno (2004) : 1. Meningkatkan taraf pendidikan masyarakat dapat menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas dan akan mempercepat pertumbuhan ekonomi. obligasi. yaitu investasi riil dan investasi finansial. Yang dimaksud dengan investasi riil adalah investasi terhadap barangbarang tahan lama (barang-barang modal) yang akan digunakan dalam proses produksi.

(i). 1998: 81). 6. asuransi. Ekspor maupun impor merupakan faktor penting dalam merangsang pertumbuhan ekonomi suatu negara. dan jasa-jasa pada suatu tahun tertentu. Arus sumber-sumber keuangan internasional dapat terwujud dalam dua bentuk. termasuk diantara barang-barang. Dengan tingkat output yang lebih tinggi lingkaran setan kemiskinan dapat dipatahkan dan pembangunan ekonomi dapat ditingkatkan (Jhingan. Fungsi penting komponen ekspor dari perdagangan luar negeri adalah negara memperoleh keuntungan dan pendapatan nasional naik. Ekspor merupakan total barang dan jasa yang dijual oleh sebuah negara ke negara lain. yang dana investasinya berupa portofolio (Todaro. Ekspor impor akan memperbesar kapasitas 16 . Yang pertama adalah penanaman modal asing yang dilakukan pihak swasta (private foreign investment) dan investasi portofolio. yang pada gilirannya menaikkan jumlah output dan laju pertumbuhan ekonomi. terdapat pula arus permodalan serupa dari bank-bank swasta internasional. 2000). dari barang modal. 2000: 156). terutama berupa penanaman modal asing ”langsung” yang biasanya dilakukan oleh perusahaanperusahaan raksasa multinasional. dan prospek (harapan berkembang) proyek investasi (Guritno. tingkat pengembalian (rate or return). Disamping itu. Ekspor Kegiatan ekspor adalah sistem perdagangan dengan cara mengeluarkan barang-barang dari dalam negeri keluar wilayah pabean Indonesia dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.

setiap negara perlu merumuskan dan menerapkan kebijakan-kebijakan internasional yang berorientasi ke luar. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan pada umumnya. baik yang penuh maupun yang hanya sebagian.konsumsi suatu negara meningkatkan output dunia. semakin besar penghasilan devisa yang diterima oleh negara. Ini berarti terjadi arus modal (capital flow) dari luar negeri ke dalam negeri yang tentu saja menguntungkan bagi suatu negara yang memerlukan tambahan modal untuk pembangunan yang pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Semakin ekspor berkembang. 2000). Ekspor juga dapat membantu semua negara dalam mengambil keuntungan dari skala ekonomi yang mereka miliki. baik itu berupa ketersediaan faktor-faktor produksi tertentu dalam jumlah yang melimpah. Dalam semua kasus. kemandirian yang didasarkan pada isolasi. serta menyajikan akses ke sumber-sumber daya yang langka dan pasar-pasar internasional yang potensial untuk berbagai produk ekspor yang mana tanpa produk-produk tersebut. tetap saja secara ekonomi akan lebih rendah nilainya daripada partisipasi ke dalam perdagangan dunia yang benar-benar bebas tanpa batasan atau hambatan apapun (Todaro. Pengaruh secara tidak langsung dari adanya perdagangan luar negeri adalah penghasilan devisa. maka negara-negara miskin tidak akan mampu mengembangkan kegiatan dan kehidupan perekonomian nasionalnya. 17 . atau keunggulan efisiensi alias produktifitas tenaga kerja. Ekspor juga dapat membantu semua negara dalam menjalankan usaha-usaha pembangunan mereka melalui promosi serta penguatan sektor-sektor ekonomi yang mengandung keunggulan komparatif.

18 . seperti Jepang. Fasilitas kredit perbankan yang murah untuk mendorong peningkatan ekspor barang-barang tertentu. Pembentukan organisasi eksportir. 3. pengambalian pajak ataupun pengenaan pajak ekspor untuk barang-barang ekspor tertentu. 6. b. Kebijakan perpajakan dalam bentuk pembebasan. dan lain-lain. 2000 : 63-64) a. Kebijakan ini diartikan sebagai tindakan dan peraturan yang dikeluarkan pemerintah. Kebijaksanaan perdagangan internasional dibidang ekspor dikelompokan menjadi dua macam kebijakan. keringanan. seperti pemberian sertifikat ekspor. Pembentukan International Trade Promotion Centre(ITPC) di berbagai negara. dan lain-lain. komposisi dan arah transaksi serta kelancaran usaha untuk peningkatan davisa ekspor suatu negara. yaitu : (Hady. 2. Eropa.Kebijaksanaan perdagangan internasional dibidang ekspor harus terus dilaksanakan oleh pemerintah. Kebijakan ekspor luar negeri 1. Pemberian subsidi ekspor. axport processing zone. Pembantukan kelembagaan seperti bounded warehouse. 5. yang akan mempengaruhi struktur. baik secara langsung maupun tidak langsung. Penetepan prosedur / tata laksana ekspor yang relatif mudah. 4. Kebijakan ekspor dalam negeri 1. Amerika Serikat. bounded island Batam.

MFA (Multifibre Agreement).2. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. yaitu fasilitas keringanan bea masuk yang diberikan negara-negara industri untuk barang manufaktur yang berasal dari negara yang sedang berkembang. Menjadi anggota Commodity Agreement between Producer and Consumer. tenaga kerja adalah setiap orang laki-laki atau perempuan yang sedang melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Menurut UndangUndang Republik Indonesia No. Pemanfaatan General System of Preferency (GSP). Tenaga Kerja Menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan No. seperti OPEC. Menurut Artuyo (1996:65) pengertian tenaga kerja secara umum adalah pengertian tentang potensi yang terkandung dalam diri manusia dikaitkan dengan pendayagunaan diberbagai kegiatan usaha yang ada keterlibatan pada unsur jasa atau tenaga kerja dalam hubungan kerja sehingga timbullah penyebutan tenaga kerja bagi yang menyediakan jasa tersebut. 3. tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat. 25 Tahun 1997 Pasal 1. dan lain-lain. pengusaha atau bagi yang menggunakannya. 7. 19 . Menjadi anggota Commodity Association of Producer(GSP). seperti ICO (International Coffe Organization). 4.

Tenaga kerja bersumber dari penduduk tetapi tidak semua penduduk merupakan tenaga kerja. Tenaga kerja bukan saja berarti jumlah buruh yang terdapat dalam perekonomian. 3. sedangkan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang selama seminggu 20 . karena itulah. 2002:77) : 1. Dari segi keahlian dan pendidikannya tenaga kerja dibedakan menjadi 3 golongan (Sukirno. Tenaga kerja merupakan penggerak sumber-sumber tersebut untuk mengasilkan barang dan jasa. Menurut Dinas Tenaga Kerja. ahli ekonomi dan insinyur. hanya penduduk yang mencapai usia kerja baru dapat dianggap sebagai anggkatan kerja atau tenaga kerja yang potensial. Tenaga kerja terampil yaitu tenaga kerja yang mempunyai keahlian dari pendidikan atau pengalaman kerja seperti montir.Tenaga kerja merupakan faktor yang penting dalam proses produksi atau dalam kegiatan pembangunan sebagai saran produksi lainya. arti tenaga kerja meliputi keahlian dan keterampilan yang mereka miliki. 2. akuntan. Tenaga kerja kasar yaitu tenaga kerja yang tidak berpendidikan dan tidak mempunyai keahlian dalam suatu bidang pekerjaan. tenaga kerja adalah bagian penduduk yang dipertimbangkan cukup usia untuk bekerja (15 tahun ke atas). tukang kayu. Tenaga kerja terdidik yaitu tenaga kerja yang mempunyai pendidikan yang tinggi dan ahli dibidangnya seperti dokter. tukang reparasi tv dan radio.

Simanjuntak (1998:41) menyatakan bahwa pendekatan penggunaan tenaga kerja (labour utilizatiaon approach) menititikberatkan pada seseorang apakah dia cukup dimanfaatkan dalam pekerjaan dalam pekerjaan dilihat dari segi jumlah jam kerja. (Simanjuntak. 2004:8). Bukan angkatan kerja adalah mereka yang berumur 10 tahun keatas dan selama seminggu yang lalu hanya bersekolah. produktifitas dan pendidikan yang diperoleh. dan sedang menunggu pekerjaan (pekerjaan bebas profesional seperti dukun dan dalang). Angkatan kerja adalah mereka yang berumur 10 tahun ke atas dan selama seminggu yang lalu mempunyai pekerjaan baik bekerja mupun sementara tidak bekerja karna suatu sebab seperti menunggu panen. yang sedang mencari pekerjaan dan yang melakukan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga sedangkan angkatan kerja adalah jumlah orang yang bekerja maupun yang sedang berusaha mencari pekerjaan. mengurus rumah tangga dan tidak melakukan suatu kegiatan yang dapat dimasukkan dalam kategori bekerja ataupun mencari pekerjaan (BPS Provinsi Riau. disamping itu mereka yang tidak mempunyai pekerjaan atau mengharapkan dapat pekerjaan termasuk ke dalam kelompok angkatan kerja. 1998:2) Dalam buku yang sama. Tenaga kerja mencakup penduduk yang sudah atau sedang bekerja. sedang cuti.sebelum pencacahan sedang bekerja dan mereka yang tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan (DISNAKER Provinsi Riau. Dengan pendekatan ini. angkatan kerja dibedakan menjadi 3 golongan yaitu sebagai berikut : 21 . 2009:9).

Setengah penganguran ini dapat digolongkan menjadi 2 kelompok : 1. Orang yang bekerja penuh dah cukup dimanfaatkan. produktifitas kerja dan pendapatan. 2. Orang yang menganggur yaitu orang yang sama sekali tidak bekerja (open employment) dan berusaha mencari pekerjaan. Setengah menganggur (under umployed) yaitu mereka yang kurang dimanfaatkan dalam bekerja (under utilized) dilihat dari segi jam kerja. karna rendahnya tingkat kesempatan kerja berhubungan dengan terbatasnya jumlah lapangan pekerjaan yang dapat menampung tenaga kerja yang ada. Masalah ketenagakerjaan merupakan masalah umum dihadapi oleh negaranegara berkembang mengingat pada umumnya negara berkembangmemiliki jumlah penduduk yang besar.1. 3. Setengah pengangguran tidak kentara (invisible under employed) atau pengangguran terselubung (disguised unemployment) yaitu mereka yang produktifitasnya kerja rendah dan pendapatannya rendah. semakin besar jumlah penduduk suatu negara maka semakin besar pula tingkat penawaran tenaga kerja dan hal ini tentunya harus diimbangi dengan tersedianya lapangan pekerjaan yang dapat menampung tenaga kerja di negara tersebut. Setengah penganguran kentara (visible under employed) yakni mereka yang bekerja kurang dari 35 jam kerja seminggu. 22 . 2.

6. Transportasi. Suatu faktor penting didaerah yang penduduknya terdiri dari orang desa dan tergantung pada hasil pertanian. Semenisasi jalan lingkungan. 2001 : 112). Pembangunan jalan baru 2. 4. (Mountjoy. Untuk meningkatkan infrastruktur jalan dan jembatan. Jalan sebagai sarana transportasi dapat membuka kesempatan untuk memasuki pasar domestik disamping merupakan rangsangan yang kuat bagi perbaikan dan perluasan pertanian. 2001 : 112). 5.8. 3. yaitu : 23 . komunikasi. Rehabilitasi dan pemeliharaan jalan. (Mountjoy. pemerintah Kota Pekanbaru secara rutin telah melakukan kegiatan sebagai berikut : 1. Pembangunan saluran Drainase /Gorong-gorong. sedangkan prasarana sosial meliputi penyediaan perumahan dan pelayanan kesehatan. Beberapa manfaat dari sebuah proyek pembangunan jalan menurut Oglesby (1999 : 267). Peningkatan kondisi jalan raya dari jalan tanah menjadi Makadam dari jalan Makadam menjadi Hotmix. Pembuatan Turab. penyediaan air dan tenaga listrik merupakan inti prasarana ekonomis. Transportasi adalah salah satu input universal dalam proses pembangunan dan pengaruhnya sangat terasa disemua bidang kegiatan. Jalan Sebagai Alat Transportasi Untuk Menunjang Perekonomian Infrastructure (prasarana) diartikan sebagai pelayanan pokok dan keperluan umum yang sangat penting bagi sektor-sektor penghasil komoditi suatu perekonomian.

1. 2. tujuan diselenggarakan transportasi jalan adalah untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan yang selamat. 5. Dengan menekan biaya operasi angkutan. Sebagimana tertuang dalam pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. jalan-jalan yang baik mempengaruhi jumlah dan sifat barang yang diangkut serta daya saing barang ekspor dan harga barang impor. 4. 3. Meningkatnya kenikmatan berkendaraan. tertib. Menurunkan biaya operasi dari kendaraan yang selama ini telah menggunakan jalan tersebut. cepat. Jalan raya sangat penting peranannya dalam usaha memperkecil kesenjangan prasarana wilayah secara menyeluruh. Menurunkan biaya produksi kendaraan pada jalan lain karena sebagian kendaraan pindah ke jalan yang baru d bangun/ditingkatkan. dan teratur. nyaman dan 24 . Tujuan pembangunan jalan raya dimaksudkan sebagai prasarana agar kendaraan dapat mengangkut penumpang dan atau barang langsung ketempat tujuan serta agar biaya angkut dan biaya bongkar muat barang maupun muatan dapat ditekan. 6. Mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga jumlah kendaraan yang melewati jalan itu dan jalan lain bertambah. lancar. Mungkin juga mengurangi kecelakaan. Berkurangnya waktu tempuh kendraan dan penumpang. aman. 2001 : 112). (Mountjoy. Fungsi utama jalan raya adalah untuk membantu pergerakan barang dan jasa selain sebagai suatu cara untuk meningkatkan perdagangan serta secara tidak langsung dapat membuka daerah-daerah yang dilaluinya.

Pengembangan jalan dapat dilakukan dengan memperlebar jalan yang sudah ada atau dengan membangun jalan baru sehingga terjadi peningkatan kemampuan jalan untuk menampung lebih banyak jumlah kendaraan. masyarakat. pertumbuhan dan stabilitas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa variabel investasi. subsidi daerah otonom dan tenaga kerja. 9. serta penunjang pembangunan nasional. pembangunan ekonomi dan sosial suatu negara.efisiensi untuk menunjang pemerataan. menganalisis tentang ”Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat tahun 1983-1996”. Subsidi daerah otonom juga berpengaruh signifikan. Penelitian Terdahulu Ace Kusnadi (1998). Sebagai dampak pertambahan jumlah kendaraan yang memasuki jalan raya kalau tidak disertai dengan perluasan jalan tersebut adalah adanya kenaikan (perubahan) biaya perjalanan dan angkutan. Transportasi mempunyai pengaruh besar terhadap perorangan. sebagai pendorong dan penggerak. khususnya kendaraan untuk perjalanan jarak jauh seperti bus dan truk. Pengangkutan merupakan sarana dan prasarana bagi pembangunan ekonomi suatu negara yang bisa mendorong lajunya pertumbuhan ekonomi. Penulis menggunakan variabel investasi. Pembangunan ekonomi membutuhkan jasa angkutan yang cukup serta memadai. Hal ini menunjukkan bahwa propinsi Jawa Barat masih mempunyai ketergantungan yang besar terhadap 25 . 2002 : 143). ekspor dan tenaga kerja berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat. ekspor. (Suparmoko.

jumlah tenaga kerja. berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Variabel bebas yang digunakan adalah investasi asing. nilai ekspor. jumlah tenaga kerja. Sedangkan variabel pariwisata dan 26 . berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. total nilai ekpor. karena pada umumnya. nilai ekspor berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di DIY. Variabel bebas yang digunakan adalah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). dimasa otonomi daerah seperti sekarang ini. Dan alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan metode OLS (Ordinary Least Square). Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah variabel investasi asing. dan alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan metode OLS (Ordinary Least Square). pariwisata. dalam penelitiannya “Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi DIY tahun 1990-2004”. jumlah perusahaan disektor industri. Prabowo Supranto (2004). Nelly Nur Laili (2007). tabungan domestik dan hutang luar negeri. Kondisi ini harus segera mendapat perhatian yang besar. pemerintah daerah dituntut harus mandiri khususnya daerah Jawa Barat. Sedangkan hutang luar negeri. dan tabungan domestik. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah variabel penanaman modal dalam negeri (PMDN). dalam penelitiannya “Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi tahun 1986-2002”. total nilai ekspor. Data yang digunakan dalam bentuk data tahunan tahun 1986-2002. Data yang digunakan dalam bentuk data tahunan tahun 1990-2004.kucuran dana dari pemerintah pusat.

jumlah perusahaan disektor industri berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi DIY. landasan teori dan penelitianpenelitian sebelumnya. Nilai Ekspor. B. HIPOTESIS Dengan mendasarkan pada latar belakang. hipotesis dalam penelitian ini adalah “Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Tenaga Kerja.” 27 . dan Infrastruktur dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru.

e. Kurun waktu obyek penelitian dari tahun 1995 sampai tahun 2009. B. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di Kota Pekanbaru. Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga kosntan tahun 2000 Kota Pekanbaru tahun 1995-2009.BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder runtun waktu (time series) yang diperoleh dari berbagai sumber seperti Badan Pusat Statistik. d. Adapun data yang digunakan adalah : a. Badan Penanaman Modal dan Promosi Daerah Propinsi Riau. Data Ekspor di Kota Pekanbaru tahun 1995-2009. c. b. Data Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Kota Pekanbaru tahun 1995-2009. Dalam penelitian ini penulis menganalisis pertumbuhan ekonomi dengan menjadikan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 sebagai indikator pertumbuhan ekonomi daerah. Data Tenaga Kerja di Kota Pekanbaru tahun 1995-2009. Data Panjang Jalan di Kota Pekanbaru tahun 1995-2009 28 . Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pekanbaru.

yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menelusuri dokumen-dokumen yang berkaitan dengan topik penelitian ini. dan data lainnya yang relevan dengan penelitian ini. Pertumbuhan Ekonomi Adalah nilai pertumbuhan PDRB atas harga konstan tahun 2000 dari tahun ke tahun. 2. Data operasional yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik dan Badan Penanaman Modal dan Promosi Daerah berdasarkan perhitungan tahunan dan dinyatakan dalam bentuk Juta Rp per tahun. Dimana definisi dari masing-masing variabel tersebut adalah sebagai berikut: 1. nilai ekspor. D. jumlah Industri. Teknik Pengumpulan Data Dalam memperoleh data digunakan metode file research. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Adalah keseluruhan Penanaman Modal Dalam Negeri yang telah disetujui oleh pemerintah menurut kegiatan sektor ekonomi di Kota Pekanbaru.C. Definisi Operasional Variable Penelitian Penelitian ini terdiri dari variabel terikat dan variabel bebas. 29 . seperti data tentang nilai Investasi. Data operasional yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik berdasarkan perhitungan tahunan dan dinyatakan dalam bentuk persen (%).

Ekspor Adalah jumlah keseluruhan ekspor barang dan jasa ke luar wilayah pabean di Kota Pekanbaru. infrastruktur (prasarana) yang dimaksud dikhususkan pada sarana jalan angkutan darat di Kota Pekanbaru. Data operasional yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari data yang dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum berdasarkan perhitungan tahunan dan dinyatakan dalam bentuk Km. Ekspor. 4. Data operasional yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik dan Dinas Tenaga Kerja Kota Pekanbaru berdasarkan perhitungan tahunan dan diukur dalam satuan orang. Tenaga Kerja dan Infrastruktur terhadap Pertumbuhan Ekonomi digunakan regresi linear 30 . Tenaga Kerja Adalah jumlah keseluruhan tenaga kerja yang bekerja di Kota Pekanbaru. Infrastruktur Dalam penelitian ini. E.3. 5. Analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Untuk mengetahui pengaruh PMDN. Data operasional yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik berdasarkan perhitungan tahunan dan dinyatakan dalam bentuk Juta Rp per tahun.

Tenaga Kerja (TK). (Gujarati. Uji Koefisien Determinasi (R2) Besaran R2 didefinisikan sebagai koefisien determinasi dan merupakan besaran yang paling lazim digunakan untuk mengukur kebaikan-suai (goodness of fit) garis regresi. R2 mengukur proporsi (bagian) atau prosentase total variasi dalam Y yang dijelaskan oleh model regresi. Secara verbal. Ekspor (Ex). INF) Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Pertumbuhan Ekonomi (PE). Ex. Model ini menggambarkan hubungan antara independent variabel dan dependent variabel dalam bentuk persamaan sebagai berikut (Gujarati. Analisis linear berganda digunakan untuk mengukur pengaruh antara lebih dari satu variabel bebas terhadap variabel terikat yang dinyatakan dengan fungsi persamaan sebagai berikut: PE = f(I. Infrastruktur (INF). Sedangkan variable bebasnya adalah PMDN (I). TK.berganda (multiple linear regression). 1995: 92): Y = β0 + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + e dimana : Y β0 βi X1 X2 X3 X4 e = Nilai Pertumbuhan Ekonomi (%) = Konstanta = Koefisien Varian ke i = Penanaman Modal Dalam Negeri (Juta Rp) = Ekspor (Juta Rp) = Tenaga Kerja (orang) = Infrastruktur (Km) = Variabel Pengganggu (Error Term) 1. 1995 : 98) 31 .

sedangkan R2 yang bernilai nol berarti tidak ada hubungan antara variabel bebas dan variabel tidak bebas. Sebaliknya jika F hitung > F tabel. Uji ini dlakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh antara variabel-variabel bebas dengan variabel tidak bebasnya secara bersama-sama. maka Ho diterima. b. Jika F hitung < F tabel. Jika F hitung > F tabel. Kriteria yang dipergunakan dalam uji F adalah sebagai berikut : a. maka Ho ditolak artinya ada pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. maka hipotesa nol (Ho) diterima dan hipotesa alternatif (Hi) ditolak Bila F hitung < F tabel. 32 . b) Batasnya adalah 0 ≤ R2 ≤ 1 . artinya tidak ada pengaruh antara variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Suatu R2 sebesar 1 berarti suatu kecocokan sempurna. maka hipotesa nol (Ho) ditolak dan hipotesa alternatif (Hi) diterima. Uji hipotesa Serentak (Uji F) Uji hipotesa serentak menggunakan uji F (F-test). 2.Dua sifat R2 adalah : a) R2 merupakan besaran non negatif. Uji F-test ini dilakukan dengan tingkat signifikansi tertentu. Tingkat signifikansi yang digunakan pada penelitian ini adalah 95%.

t T-test test digunakan untuk menguji hubungan regresi secara parsial.1. 3. …. ….t tabel → Ho ditolak Jika –t tabel ≤ t hitung ≤ + t tabel → Ho diterima Uji t yang digunakan adalah uji t untuk uji dua sisi dengan nilai t tabel sebesar t {α/2.. k ≠ Artinya. 3. Artinya pengujian ini dilakukan untuk melihat apakah suatu variabel bebas mempengaruhi variabel tak bebasnya. 2. variabel independen secara individual mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Kota Pekanbaru. i = 1. Hipotesa yang diajukan : Ho : βi = 0. digunakan t-test. Dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% (α = 5%) derajat kebebasan (df) sebesar (n – k).. Pekan Hi : βi 0. Uji Hipotesa Partial (Uji t) Untuk uji hipotesa partial ini. 2. variabel independen secara individual tidak mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Kota Pekanbaru. i = 1. n – k} Gambar 3. maka : Jika t hitung > t tabel atau -t hitung < . k Artinya. : Grafik Uji t Ho diterima 33 .3.

di antara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dari model regresi Masalah multikolinieritas bisa timbul karena berbagai sebab. Pengujian terhadap gejala multikolinearitas dapat dilakukan dengan membandingkan koefisien determinasi parsial. (Gujarati. Hubungan yang terjadi bisa sempurna. Multikolinearitas menjadi masalah jika derajat kolininearitasnya tinggi. Uji Asumsi Klasik a. bisa juga tidak sempurna. Oleh karena itu. Multikolinieritas berarti adanya hubungan linier yang “sempurna” atau pasti. (r2) dengan koefisien determinasi majemuk (R2) regreasi awal atau yang disebut dengan metode Klein rule of Thumbs. Satu asumsi model regresi klasik adalah bahwa tidak terdapat multikolinieritas diantara variabel yang menjelaskan termasuk dalam model. sekali faktor-faktor yang mempengaruhi itu menjadi operatif. Pertama sifat-sifat yang terkandung dalam kebanyakan variabel ekonomi berubah bersama-sama sepanjang waktu. jika derajat kolinearitasnya rendah maka tidak menjadi masalah yang berarti. penggunaan nilai lag (lagged values) dari variabel-variabel bebas tertentu dalam model regresi. Multikolinearitas dapat dideteksi dengan melihat R2 yang tinggi. Multikolinearitas Merupakan suatu keadaan dimana satu / lebih variabel independen dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier dari variabel lainnya. 1995). Kedua. Besaran-besaran ekonomi dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sama.4. Jika r2 < R2 maka tidak ada multikolineraitas. maka seluruh variabel akan cenderung berubah dalam satu arah. 34 .

Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap maka disebut homokedastisitas. Uji ini untuk menghindari kebiasan dalam proses pengambilan keputusan mengenai pengaruh parsial masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. 2006).Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independent variable). Variabel ortogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas bernilai nol. Untuk mendeteksi apakah terjadi problem multikolinearitas dapat melihat nilai tolerance dan lawannya variace inflation factor (VIF). karena jika hal tersebut terjadi maka variabel-variabel tersebut tidak ortogonal atau terjadi kemiripan. Apabila nilai tolerance value lebih tinggi daripada 0. b. Uji Multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF) dari hasil analisis dengan menggunakan SPSS.10 atau VIF lebih kecil daripada 10 maka dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas (Santoso. Heterokedastisitas muncul apabila kesalahan atau residual dari model yang diamati tidak memiliki varians yang konstan dari observasi ke 35 . Dan jika varians berbeda disebut heterokedastisitas. Uji Heterokedastisitas Uji heterokedasitas ini digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas.

Pengujian Glejser mempunyai semangat yang sama dengan pengujian Park. Atau jika nilai signifikansi lebih besar dari 5% (0. |ei|. Dalam percobaannya.05). Adapun hipotesis yang diuji adalah : Ho : tidak terdapat heterokedastisitas Ha : terdapat heterokedastisitas Jika hasil perhitungan menghasilkan t-hitung yang signifikan atau t-hitung > t-tabel maka dapat dikatakan terdapat heterokedastisitas atau Ho ditolak. Setelah mendapatkan residual ei dari regresi OLS. Sebaliknya. maka tidak terdapat heterokedastisitas. Glejser menggunakan bentuk fungsional berikut (Gujarati. terhadap variabel X yang diperkirakan mempunyai hubungan yang erat dengan σi . jika nilai signifikansi lebih kecil dari 5% (0. Jika thitung < t-tabel maka dapat dikatakan tidak terjadi heterokedastisitas atau Ho diterima. Heterokedastisitas dapat dideteksi dengan melakukan pengujian metode Glejser. maka terdapat heterokedastisitas.observasi lainnya.05). Glejser menyarankan untuk meregresi nilai absolut dari ei. 36 . 1995 : 187) : 2 | ei | = β1 Xi + vi Dimana : | ei | Xi = Nilai absolut dari residual yang dihasilkan dari regresi model = Variabel penjelas Bila variabel penjelas secara statistik signifikan mempengaruhi residual maka dapat dipastikan model ini memiliki masalah heteroskedisitas.

jika DW statistik berada diantara d dan 4.08 sampai dengan 1. Autokorelasi Autokorelasi adalah adanya korelasi antar anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data runtut waktu atau time series).66 1.1 berikut ini : Gambar 3. U U U Penentuan ada tidaknya autokorelasi dapat dilihat dengan jelas dalam gambar 3. Untuk mendiagnosis adanya autokorekasi dalam suatu model regresi dilakukan dengan pengujian terhadap nilai uji Durbin Watson (DW) dengan ketentuan sebagai berikut : Tabel 3.34 sampai dengan 2.1 : Pengukuran Autokorelasi Kesimpulan Ada Autokorelasi Tanpa Kesimpulan Tidak Ada Autokorelasi Tanpa Kesimpulan Ada Autokorelasi Durbin Watson Kurang dari 1.92 lebih dari 2.66 sampai dengan 2.d maka tidak ada autokorelasi.08 1. yaitu dengan cara membandingkan antara DW statistik ( d ) dengan d dan L d .34 2.c.2 : Daerah Autokorelasi Kriteria Pengambilan Keputusan : Autokorelasi Daerah Tidak ada positif keragu-raguan Autokorelasi Daerah keragu-raguan Autokorelasi negatif 0 dl du 4-du 4-dl 4 Algifari (2000:89) mengemukakan bahwa autokorelasi merupakan korelasi antara anggota sampel yang di urutkan berdasarkan waktu.92 37 . Pengujian terhadap gejala autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Durbin-Watson (DW).

Adapun perhitungannya sebagai berikut (Sugiarto. Elastisitas sempurna (η = ∞) c. Elastis (η > 1) 38 . Uji Elastisitas Elastisitas digunakan untuk mengukur tingkat kepekaan atau kontribusi antara variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat. Elastisitas nol (tidak elastis sempurna) b. maka semakin besar pula pengaruh variabel bebas tersebut terhadap variabel terikat. Inelastis (0 < η < 1) e. Semakin besar nilai elastisitas suatu variabel.5. 2005 : 103) : ∆Q η= ∆P η ∆Q ∆P Q P = Nilai Elastisitas = Perubahan Jumlah Barang = Perubahan Harga = Rata – rata Jumlah Barang = Rata – rata Harga P X Q Klasifikasi elastisitas : a. Elastisitas uniter (η = 1) d.

Pertumbuhan ekonomi Kota pekanbaru tahun 2008 sebesar 9. Pertumbuhan sektor keuangan yang mencapai 10. pertumbuhan tertinggi kedua terjadi di sektor Perdagangan.1 terlihat. Dengan daya beli masyarakat yang relatif stabil akibat kenaikan pendapatan dari tunjangan pemerintah dan perusahaan swasta membuat perekonomian Kota Pekanbaru cepat pulih. Pertumbuhan ekonomi subsektor restoran pada tahun 2009 mencapai 12.50 % di tahun 2009 didorong oleh banyak berdirinya lembaga keuangan (bank) yang ada di Kota Pekanbaru baik bank umum. syariah maupun bank perkreditan rakyat. Pertumbuhan Ekonomi Pekanbaru Kondisi ekonomi Kota Pekanbaru pada tahun 2008 secara total mengalami kemajuan dibanding tahun 2007.02 %. Tingginya pertumbuhan restoran menunjukkan semakin tingginya konsumsi masyarakat Kota Pekanbaru. perdagangan besar dan eceran yang meningkat. tahun 2008 memang mengalami sedikit perlambatan. Sementara itu.BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN A. yang bila dicermati disebabkan oleh pertumbuhan aktivitas subsektor restoran. Pada Tabel 4. pertumbuhan tertinggi PDRB pada tahun 2009 terjadi pada sektor keuangan. hotel dan restoran.47 % meningkat dibandingkan tahun lalu yang sebesar 12. tapi tetap tumbuh positif. Selain 39 . Keadaan Ekonomi Kota Pekanbaru 1.89 %.05 %. Dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2007 yang sebesar 9.42 %. Pertumbuhan tertingga terjadi pada sektor angkutan dan komunikasi yang mencapai angka 10.

07 %. sedangkan subsektor peternakan tumbuh sebesar 4.38 % meskipun terjadi sedikit perlambatan jika dibandingkan tahun sebelumnya.89 %.95 % dan 3. yang tumbuh sebesar 2. Hal ini menunjukkan tingginya keyakinan pengusaha akan konsumsi masyarakat Kota Pekanbaru.subsektor restoran. karena hal ini mengakibatkan Pekanbaru tidak dapat memenuhi kebutuhan bahan makannya sendiri dan selalu bergantung impor dari daerah lain.66 % pada tahun lalu menjadi 9. Pada tahun 2009 ini subsektor perikanan tumbuh sebesar 4. subsektor perdagangan besar dan eceran juga mengalami peningkatan pertumbuhan dari 9.67 %.69 % pada tahun 2009. hal ini terlihat dari pertumbuhan sektor tersebut yang relatif tinggi yaitu sekitar 9. 40 . Rendahnya pertumbuhan di subsektor tanaman bahan makanan.37 % hendaknya menjadi perhatian pemerintah Kota Pekanbaru. Pertumbuhan sektor angkutan dan komunikasi pada tahun 2009 cukup menggembirakan. Sektor pertanian dan sektor pertambangan & penggalian adalah sektor yang pertumbuhannya paling kecil. Peningkatan pertumbuhan pada subsektor ini didorong oleh banyak berdirinya supermarket atau pasar swalayan pada akhir-akhir ini. Pertumbuhan sektor ini terutama didorong oleh makin meningkatnya subsektor telekomunikasi khususnya penggunaan dan operator telepon seluler serta penggunaan internet. yaitu masing-masing 3. Ketiadaan lahan menjadi penyebab kenapa kedua sektor ini kurang berkembang. selain juga dapat menjadi salah satu indikator tentang meningkatnya kesejahteraan masyarakat Kota Pekanbaru.

00 4.64 9.70 7.69 8.35 6.1 : Pertumbuhan Ekonomi Kota Pekanbaru Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000.95 2.32 4.64 7.14 0. Jasa Perusahaan 20.34 8. Bangunan Perdagangan.73 2009 3. Pertambangan b. Kehutanan e.85 9.00 4.75 7.14 4.68 6.89 9.67 8. Lapangan Usaha Pertanian.89 3.13 6. Hotel c.87 12.89 6.58 6.62 7. Perikanan 2007 4.00 5.00 4.47 5. Tanaman Perkebunan c.89 3.49 5.00 4.97 5.02 7.23 2.10 17.53 14. Peternakan dan Hasil-hasilnya d. Angkutan Udara 4. Komunikasi 7.69 6.67 7. Swasta 1.02 8.57 5.39 7.81 41 .43 14.82 15.05 14. Pemerintah Umum b.01 5. Industri Besar/Sedang b.33 9.51 5. Persewaan dan Jasa Perusahaan a.03 2.13 6.94 9.76 7.13 4.01 6.49 6. Jasa Penunjang Angkutan b.67 2.39 7. Perdagangan Besar & Eceran b.27 9.01 8. Tahun 2007-2009 (persen %) No 1. Air Minum 4.00 5.33 9. Hotel & Restoran a. Pertambangan & Penggalian a.89 12.90 6.00 3.27 12.55 7.02 7.53 5.06 7. Keuangan.65 6. 9.37 0.53 9. Hiburan & Rekreasi 3. Perorangan & Rumahtangga 10.27 17.71 10.01 0.47 8.79 5. Sosial Kemasyarakatan 2.91 7.42 6.05 8.06 6. Tanaman Bahan Makanan b.67 6.53 0. pengangkutan 1. Restoran 11.00 9.81 10.62 10.18 6.67 5.22 12.00 4.80 5.00 4. Bank b. Pengangkutan & Komunikasi a. Jasa-Jasa a.78 7.Tabel 4.13 6.66 7. 6. Sewa Bangunan d.34 Laju Pertumbuhan Sumber : BPS Kota Pekanbaru. Industri Pengolahan a.38 8.40 6.15 0. Angkutan Darat 2.07 0. Listrik b.81 9.84 9.63 2008 4.91 7.25 6. Penggalian 0.67 9.56 5. Listrik. Angkutan Laut 3. Tahun 2010.03 11.00 9.47 12. Kehutanan &Perikanan a.08 7. Peternakan.01 0. Industri Kecil 6.39 0.66 6.83 18.50 9.58 8.30 6. Lembaga Keuangan Non Bank c. Gas dan Air Minum a.

akan tampak adanya perubahan kemakmuran yang terjadi di daerah tersebut.34 8.61 1. sehingga dapat diinterpretasikan apakah perubahannya menunjukan kemakmuran yang semakin membaik atau sebaliknya.79 23. Apabila data ini disajikan secara berkala. Tahun 2010 Tabel 4.47 35.02 9.72 juta rupiah di tahun 42 . Angka PDRB atau Perndapatan Per Kapita diperoleh dengan cara membagi total nilai PDRB atau Pendapatan dengan jumlah penduduk per tahun.96 29.80 juta rupiah di tahun 2007 naik menjadi 31. Pendapatan Perkapita 2007 2008 2009 Sumber : BPS Kota Pekanbaru. PDRB dan Pendapatan Per Kapita Pekanbaru PDRB dan Pendapatan Per Kapita secara tidak langsung dapat mencerminkan seberapa tinggi dan rendahnya tingkat kemakmuran yang telah dicapai oleh penduduk suatu daerah pada tahun tertentu.97 9.2.28 8.72 37.80 31.72 10.33 9. Tabel 4.2 menginformasikan tingkat PDRB per kapita atas dasar harga berlaku selama kurun waktu 2007-2009 mengalami peningkatan yang cukup nyata yaitu dari 25. PDRB Per Kapita 2007 2008 2009 2.2 : PDRB dan Pendapatan Per Kapita Kota Pekanbaru 20072009 (Juta Rp) No Rincian Atas Dasar Harga Berlaku Konstan 2000 25. Dengan demikian besar kecilnya jumlah penduduk ini akan sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya nilai PDRB atau Pendapatan Per Kapita tersebut.

Perkembangan Penanaman Modal Dalam Negeri Kota Pekanbaru dapat dilihat dari tabel berikut : 43 .2008 dan meningkat lagi menjadi 37. Investasi sendiri secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pengeluaran atau perbelanjaan penanampenanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian. Perkembangan Penanaman Modal Dalam Negeri Kota Pekanbaru Pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru diyakini banyak ditopang oleh adanya aliran investasi masuk ke Kota Pekanbaru.28 juta rupiah atau naik 47. menunjukan arah yang juga meningkat dari 8.21 % selama periode 2007-2009.25 % pada tahun 2009.61 juta rupiah. atau mengalami peningkatan sekitar 47.98 juta rupiah pada tahun 2009.72 juta rupiah di tahun 2008 dan meningkat lagi menjadi 10. Pada periode yang sama. yakni dari 8.33 juta rupiah menjadi 9. Sementara itu pendapatan per kapitanya atas dasar harga konstan 2000 juga mengalami kenaikan selama periode 2007-2009.97 juta rupiah di tahun 2007 naik menjadi 9. Ini berarti ada peningkatan daya beli secara rill penduduk Kota Pekanbaru selama periode tersebut. Seiring dengan perkembangan PDRB per kapita maka pendapatan per kapita Kota Pekanbaru atas dasar harga berlaku selama periode 2007-2009 juga mengalami kenaikan dari 23.96 juta rupiah di tahun 2007 menjadi 35. secara rill melalui PDRB per kapita atas dasar harga konstan 2000.34 juta rupiah di tahun 2009. 3.

hal ini menunjukkan belum adanya tingkat perkembangan investasi yang cukup stabil di Kota Pekanbaru.00 236.00 11.59 -88. Dimana nilai perkembangan PMDN terendah terjadi pada tahun 2001 yaitu sebesar -94.900.00 9. adanya kelengkapan sarana publik yang memadai.69 3.00 Perkembangan (%) 125. 11. Untuk peningkatan investasi perlu senantiasa diciptakan iklim usaha yang kondusif yang dalam hal ini merupakan elemen penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi.22 Sumber : Badan Penanaman Modal dan Promosi Daerah Berdasarkan tabel diatas bahwa perkembangan PMDN setiap tahunnya ada mengalami kenaikan dan penurunan hingga mencapai minus.521.000.69 % dengan nominal sebesar Rp.500.11 -91.429. pemberian layanan perijinan yang prima serta jaminan stabilitas keamanan yang mantap serta peraturanperaturan daerah berikut aturan pendukungnya termasuk dalam 44 . kesiapan SDM yang berkualitas.59 % atau delapan puluh kali lipat dari tahun sebelumnya yaitu dengan nilai sebesar Rp.739.150.Tabel 4.00 1.850.019.00 juta.211.339.739.00 1.3 : Perkembangan PMDN Kota Pekanbaru (Juta Ripiah) Tahun 2000-2009 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 PMDN (Juta Rp) 172.32 113.468.00 Juta dan nilai perkembangan PMDN tertinggi terjadi pada tahun 2006 mencapai angka pertumbuhan sebesar 8.00 303.06 -1.40 8.850. 9.800.00 504.956.00 134.000.056.68 402.150.00 135. Dengan demikian.70 -82.49 -94.

33 -39.92 539313. sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam mendorong pertumbuhan investasi di kota Pekanbaru. Nilai perkembangan ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2002 45 .28 -24.42 448084.34 -8. 503.pengimplementasiannya. seperti industri rotan dan industri makanan.65 Perkembangan (%) -13. 2010 Dari tabel diatas terlihat bahwa nilai ekspor setiap tahun ada mengalami kenaikan dan penurunan hingga mencapai minus.41 44.79 % dengan nominal sebesar Rp.91 89.69 Juta. Tingkat perkembangan nilai ekspor dari tahun ke tahun yang bergerak naik turun dapat dilihat dari tabel berikut : Tabel 4.08 836008.29 503345.71 0.69 440878.4 : Perkembangan Ekspor Kota Pekanbaru (Juta Rp) Tahun 2000-2009 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Nilai Ekspor (Juta Rp) 437575. Sebagian besar ekspor Kota Pekanbaru berasal dari industri menengah ke bawah.04 441556.70 10.40 -15. Duku. Perkembangan Ekspor Kota Pekanbaru Kegiatan ekspor Kota Pekanbaru didukung oleh sarana penunjang seperti Bandara Sutan Syarif Qasim II dan Pelabuhan Sei. 4.57 Sumber : BPS Kota Pekanbaru.345.05 636607. Nilai perkembangan ekspor terendah terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar -39.79 -12.87 406082.61 409672.

terutama yang berdekatan dengan daerah Propinsi Riau dengan Pekanbaru sebagai ibukotanya. Pergerakan ekspor yang turun naik lebih disebabkan ekspor dilakukan oleh perusahaan menengah ke bawah dan kegiatan ekspor juga dipengaruhi oleh permintaan dari negara tujuan ekspor. Perkembangan penduduk harus mutlak untuk diketahui oleh pemerintah sebagai pedoman dalam perencanaan dan evaluasi guna keberhasilan pembangunan dan menghadapi kegagalan pembangunan. Penduduk merupakan unsur yang sangat penting dalam kegiatan ekonomi dan usaha dalam membangun suatu perekonomian. Aspek Kependudukan 1. terutama dalam menentukan pertambahan penduduk di suatu daerah yang menjadi semakin besar. Sebagian besar dari penduduk Kota Pekanbaru merupakan pendatang yang berasal dari berbagai daerah. B. Jumlah Penduduk dan Perkembangannya Penduduk Kota Pekanbaru terdiri dari berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial. 46 .008.mencapai angka pertumbuhan sebesar 89. Perkembangan penduduk yang pesat dari waktu ke waktu disebabkan karena proses penurunan tingkat kematian yang tidak diikuti oleh perbedaan antara tingkat kelahiran dengan tingkat kematian.29 juta. Penduduk juga merupakan faktor penting dalam dinamika pembangunan karena penduduk adalah modal dasar dan objek dari pembangunan itu sendiri. agama dan kebudayaan yang beraneka ragam. karena pembangunan itu dilaksanakan oleh penduduk dan ditujukan untuk kesejahteraan penduduk.33 % dengan nilai sebesar Rp. 836. ekonomi. selain itu juga merupakan aspek dalam pembangunan.

076 531.319 339.5 : Perkembangan Penduduk Kota Pekanbaru Tahun 1995-2009 Tahun 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Laki-laki (orang) 219.40 34.64 54.841 289.834 720.970 302.971 625.993 389.575 0.720 251.217 11.961 260.270 4.122 4.588 10.48 3.32%.596 264.825 244.510 373.251 309.720 315.45 Sumber : BPS Kota Pekanbaru.14 8. tahun 2010 Dari tabel diatas terlihat bahwa jumlah penduduk Kota Pekanbaru setiap tahunnya mengalami peningkatan dengan tingkat pertumbuhan yang bervariasi.623 363.888 Jumlah Penduduk (orang) 431.859 333.57 30.559 1.399 5.223 597.5 mengenai perkembangan penduduk dari tahun 1995-2009 : Tabel 4.314 2.708 398.313 653.442 6.788 Pertambahan Pertumbuhan Penduduk (orang) (%) 50.37 19.213 802.432 3.927 398.123 orang pada tahun 1997 dengan tingkat pertumbuhan sebesar 6.64 30.123 523.618 262.899 799. Pada tahun 1997 penduduk yang bermukim di Kota Pekanbaru bertambah sebanyak 30.972 400.953 2. akan tetapi tidak terlalu signifikan karena pada tahun berikutnya yaitu pada tahun 2000 persentase pertumbuhan penduduk Kota Pekanbaru sangat 47 .197 754.50 36.116 350.681 512.442 orang dari 481.687 380.76 25.57 28. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.435 689. Pada tahun 1999 terjadi penurunan persentase pertumbuhan penduduk Kota Pekanbaru.27 11.Tingkat pertambahan penduduk yang terlalu tinggi secara tidak langsung dapat menimbulkan kesulitan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada.458 268.464 481.748 2.900 Perempuan (orang) 211.505 403.681 pada tahun 1996 menjadi 512.467 779.454 320.00 27.794 296.342 4.474 389.635 586.253 295.639 236.363 4.32 10.527 258.211 356.

jauh meningkat yaitu sebesar 10. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya penurunan persentase pertumbuhan penduduk Kota Pekanbaru menjadi 2. pertahanan.27 % dengan penambahan penduduknya sebesar 54. Penyebaran dan Kepadatan Penduduk Penyebaran dan kepadatan penduduk tidak hanya dipengaruhi oleh luas wilayah dan skala pembangunan tetapi juga skala kegiatan pemerintahan yang memiliki pengaruh terhadap persebaran penduduk. politik. Semakin membaiknya keadaan politik dan ekonomi pada tahun 2000 menyebabkan daya beli masyarakat dan kegiatan produksi semakin membaik. Hal ini berlangsung hingga tahun 2001.233 orang pada tahun 2000.588 orang dari 531. Hal ini terkait dengan ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana bagi penduduk yang ada. dan keamanan serta kesehatan masyarakat yang semakin membaik. Hal ini disebabkan pada tahun 2000 pemulihan keadaan ekonomi. Dengan pemerintahan yang baru dan adanya pengembangan wilayah serta otonomi daerah. Perkembangan penduduk yang besar ini berpengaruh terhadap perluasan pemikiman dan tempat usaha yang diharapkan oleh masyarakat.00 %. menyebabkan masing-masing daerah yang merasa berlomba-lomba untuk meningkatkan pembangunan daerahnya sehingga tahun 2001 banyak penduduk yang melakukan migrasi keluar Kota Pekanbaru. sehingga pertumbuhan ekonomi mulai meningkat dan banyak menyerap tenaga kerja. 2. Pada umumnya semakin tinggi skala kegiatan pemerintah pada suatu daerah maka akan 48 .635 orang pada tahun 1999 menjadi 586.

772 67.586 127.851 13.369 102. Pesatnya pertambahan penduduk Kota Pekanbaru dan berkembangnya kegiatan perekonomian yang ada ternyata tidak seimbang.283 598 10.65 128.315 14.26 2.160 74.759 22.6 yaitu penduduk yang ada pada masing-masing kecamatan di Kota pekanbaru tahun 2009. 49 .270 Sumber : BPS Kota Pekanbaru. berarti tingkat kepadatan penduduk yang terjadi di Kota Pekanbaru adalah sebesar 1.26 Jumlah Penduduk (jiwa) 106.270 jiwa per km2 nya. dan ketidakseimbangan antara luas daerah dengan jumlah penduduk jelas terlihat pada besarnya angka kepadatan penduduk yang ada perwilayah Kota Pekanbaru.24 22.85 157.6 : Densitas Penduduk di Kota Pekanbaru Dirinci Per Kecamatan Keadaan Akhir tahun 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kecamatan Tampan Payung Sekaki Bukit Raya Marpoyan Damai Tenayan Raya Lima Puluh Sail Pekanbaru Kota Sukajadi Senapelan Rumbai Rumbai Pesisir Jumlah Luas Wilayah (km²) 59.semakin baik fasilitas yang tersedia. tahun 2010 Dari tabel diatas dapat terlihat jumlah penduduk Kota Pekanbaru secara keseluruhan pada tahun 2006 sebanyak 802.614 51.33 632.26 km2.26 3. Tabel 4.656 402 427 1.584 6.093 5.335 30.972 4.775 1.27 4.989 37.788 jiwa dengan luas wilayah 632.74 171.092 52.81 43.494 42.788 Densitas Penduduk (jiwa/km²) 1.439 87.04 3.722 3.179 802.76 6.05 29. Hal ini disebabkan ketidakseimbangan pada penyebaran penduduk yang ad pada setiap kecamatan dan dapat dilihat pada tabel 4.

wilayah Kecamatan Sukajadi memiliki tingkat kepadatan penduduk terbesar yaitu 14. fasilitas pendidikan serta peluang kerja yang kurang memadai.989 jiwa. Usaha-usaha yang telah mulai dilakukan 50 . Sedangkan yang paling kecil jumlah penduduknya terdapat pada Kecamatan Sail yaitu 22.Jumlah penduduk terbesar terdapat pada Kecamatan Marpoyan Damai sebanyak 127. Seperti yang terlihat pada Tabel 4. Kecamatan Rmubai merupakan tingkat kepadatan penduduk terendah yang ada di kecamatan-kecamatan lainnya. Tingginya tingkat kepadatan penduduk yang ada di Kecamatan Sukajadi dikarenakan letaknya dekat dengan pusat Kota Pekanbaru.369 jiwa. Dimana jumlah penduduknya hanya 51. Selain itu juga disebabkan oleh faktor jaraknya yang jauh dari pusat kota.6. kesehatan.335 jiwa. Kecilnya jumlah penduduk daerah tersebut di sebabkan karena dampak dari keadaan sosial ekonomi seperti pendapatan. maka akan tercermin tingkat kepadatan penduduk yang cukup bervariasi. Meskipun Kecamatan Sukajadi hanya memiliki luas sebesar 3.772 jiwa dibandingkan dengan luas wilayah yang dimilikinya yaitu 128. Dengan melihat kenyataan yang ada bahwa tingkat kepadatan penduduk yang tidak merata pada kecamatan-kecamatan yang ada di Kota Pekanbaru. Jika dilihat pada tingkat kepadatan penduduk yang ada di masing-masing kecamatan dengan jumlah penduduk yang ada pada masing-masing kecamatan dengan luas wilayahnya.093 jiwa per km2.76 km2.85 km2. maka telah mulai dilakukan usaha-usaha dalam melakukan penyebaran jumlah penduduk ke wilayah yang lebih luas. dan jumlah penduduk sebesar 52.

456 50.970 90.568 42. Komposisi Penduduk Komposisi penduduk dapat dilihat berdasarkan penggolongan umur pada tabel berikut ini : Tabel 4.diantaranya dilaksanakannya pengembangan sarana dan prasarana perumahan dan pemukiman. kemudian diikuti pada kelompok umur 20 – 24 tahun dengan jumlah penduduk sebesar 90.877 3.545 3.888 Jumlah 95.712 19.770 71.900 398.728 22.763 33.093 17. 3.309 38.185 802.625 31.220 6.935 2. baik yang dilakukan oleh pemerintah sendiri maupun oleh pihak swasta.332 32.840 25.831 24.852 orang.852 79.129 6.268 4.154 41.714 orang.796 15.7 : Penduduk Kota Pekanbaru Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2009 Kelompok Umur 0–4 5–9 10 – 14 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 – 49 50 – 54 55 – 59 60 – 64 65 -69 70 – 74 75 + Jumlah Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 48.670 20.926 35.607 63.190 37. yaitu sebesar 95.542 3.931 34.145 47.896 9.7 dapat dilihat bahwa sebagian besar penduduk Kota Pekanbaru pada tahun 2009 berada pada usia 0 – 4 tahun.916 9.374 6.270 12. Sedangkan penduduk yang terkecil berada pada 51 .762 7.844 40.379 31.391 1.892 45.560 45. Tahun 2010 Berdasarkan Tabel 4.640 403.788 Sumber : BPS Kota Pekanbaru.707 40.194 2.522 75.240 66.078 38.228 36.714 82.

Ketenagakerjaan Masalah kependudukan selalu berkaitan dengan masalah ketenagakerjaan. Semakin besar angka beban tanggungan pada suatu daerah menunjukkan bahwa jumlah usia produktif lebih kecil dibanding dengan usia non produktif maupun usia yang tidak produktif lagi. Dari Tabel 4. yang merupakan angka perbandingan antara jumlah penduduk usia produktif yaitu usia 15 – 64 tahun dengan jumlah penduduk usia non produktif yaitu usia 0 – 14 dan usia diatas 64 tahun.592 = 48 X k Dari hasil perhitungan diatas didapat angka beban tanggungan penduduk Kota Pekanbaru adalah 48. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk akan berpengaruh juga kepada tingginya penyediaan (supply) tenaga kerja. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penduduk yang mendiami Kota Pekanbaru tergolong pada kelompok usia muda. Dependency Ratio = Penduduk (0-14th) + Penduduk (65th+) Penduduk (15-64th) = 241.614 + 17.582 X 100 543. Hal ini artinya bahwa setiap 100 orang penduduk produktif memiliki tanggungan terhadapa 48 orang penduduk yang tidak produktif.129 orang.kelompok umur 70 – 74 yaitu sebesar 4.7 dapat diperoleh angka beban tanggungan (Dependency Ratio). 4. Jika seseorang masih 52 . Tenaga kerja merupakan penduduk yang secara potensial dapat menghasilkan barang atau jasa dan di Indonesia tenaga kerja masih memakai batasan umur 15 tahun ke atas.

463 32. Kehutanan.49% 6.024 4.33% 5.berada dibawah 15 tahun tidak bisa digolongkan sebagai tenaga kerja. Usaha Persewaan Bangunan Jasa lainnya Jumlah Jumlah Persentase 13. Gas.58% 2. Di Indonesia Badan Pusat Statistik BPS menetapkan penduduk usia 15 tahun keatas sebagai kelompok penduduk usia kerja dan perhitungan usia angkatan kerja yang sekarang dipakai adalah 15 – 65 tahun.950 1.673 284. Namun kenyataannya masih banyak angkatan kerja yang masih berusia 14 tahun dan 65 tahun keatas.468 1.614 18.958 15. Pergudangan. Mereka ini (terutama yang berusia 10 – 14 tahun) dikategorikan sebagai penduduk yang terpaksa bekerja.00% Sumber : BPS Kota Pekanbaru. Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa tidak semua penduduk tergolong sebagai tenaga kerja. Untuk melihat jumlah penduduk yang berusia 15 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha utama pada tahun 2006 dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4. Perburuan dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.35% 91.22% 23.526 9. Tahun 2010 53 . Asuransi. melainkan penduduk yang secara potensial dapat menghasilkan barang atau jasa dan berada pada golongan umur tertentu.511 87. dan Komunikasi Keuangan.68% 3. dan Air Bangunan Perdagangan Besar.739 8.8 : Penduduk Kota Pekanbaru Berusia 15 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama Tahun 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Utama Pertanian.04% 27.51% 30. Eceran.82% 100. Rumah Makan dan Hotel Angkutan.

54 . Sarana dan Prasarana Kota Pekanbaru Sebagian besar dari dana anggaran pembangunan Kota Pekanbaru digunakan untuk meningkatkan tahap perencanaan pembangunan daerahnya terutama dalam menyediakan fasilitas pelayanan publiknya dalam pembangunan infrastruktur Kota Pekanbaru. C. sektor industri pengolahan sebesar 9.33% dengan jumlah 91.04% dengan jumlah 2. hal yang terpenting yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah sarana perhubungannya terutama kondisi jalan yang ada. maka daerah tersebut akan lebih cepat berkembang atau lebih maju jika dibandingkan dengan daerah lain yang masih rendah tingkat pendidikan penduduknya. seperti sarana transportasi. Faktor pendidikan merupakan salah satu faktor yang turut menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Pada umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan suatu daerah. Dalam sarana transportasi.526 orang.82% dengan jumlah 87. Masalah ketenagakerjaan juga bersangkutan dengan masalah tingkat pendidikan. disamping faktor lain.958 orang yang kemudian diikuti oleh sektor jasa lainnya yaitu sebesar 30. Adapun sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor yang paling sedikit digeluti oleh penduduk Kota Pekanbaru terutama yang berumur 15 tahun keatas yaitu hanya sebesar 1.Dari data ini dapat kita lihat bahwa penduduk Kota Pekanabaru terutama penduduk yang berusia 15 tahun keatas pada tahun 2009 kebanyakan berkerja pada sektor perdagangan yaitu sebesar 32.950 orang.673 orang.68% dengan jumlah 27. sarana kesehatan dan sarana ekonomi.

64 Pertambahan Pertumbuhan Jalan Jalan (km) (km) 1302.39 95.Sarana jalan ini merupakan faktor utama demi tercapainya kelancaran lalu lintas dalam melakukan kegiatan ekonomi.98 2574.34 2556.15 5.98 -17.67 0.69 2393.67 -10. seperti yang dapat kita lihat seperti pada Jalan Soebrantas.78 2426.24 28.35 -0. 90 % dengan total panjang jalan sebesar 2593.11 2297. Hal ini seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan bertambahnya jumlah kendaraan bermotor yang ada di Kota Pekanbaru. penurunan panjang jalan ini lebih disebabkan akses jalan yang rusak dan banyak yang hilang.91 2428.90 -295.99 2546.84 2427.9 : Perkembangan Panjang Jalan Kota Pekanbaru Tahun 2000-2009 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Panjang jalan (km) 2593. Pemerintah Kota Pekanbaru yaitu Dinas Perhubungan bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum dituntut untuk melakukan perluasan jalan.69 km. Pada tahun 2001 mengalami penurunan hingga -11.36 5. Jalan Soekarno Hatta. Jalan 55 .06 1.35 -0.07 0.42 -11.42 4.11 km.04 145. Untuk melihat perkembangan panjang jalan Kota Pekanbaru dari tahun 2000 sampai 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.07 0.35 100.04 1.39 % dengan total panjang jalan sebesar 2297.40 Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Pekanbaru Pada tabel diatas dapat diketahui perkembangan panjang jalan pada tahun 2000 mengalami peningkatan mencapai 100.11 2398.17 1.

Sarana kesehatan merupakan suatu indikator dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada. Jalan Tuanku Tambusai.Imam Munandar. Pekanbaru juga memiliki sarana pengangkutan umum massal yang diberi nama “Trans Metro” serta memiliki halte dan rute tersendiri yang terdapat di jalan-jalan utama kota. dan Jalan Sudirman. Jika kondisi penduduk sejahtera maka dapat menunjang pembangunan daerah kearah yang lebih baik lagi. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan sarana dan prasarana kesehatan yang ada di Kota Pekanbaru serta tenaga medis yang ada dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. 56 .

Sesuai dengan permasalahan dan perumusan model yang telah dikemukakan. maka regresi yang digunakan adalah regresi linear berganda dengan menggunakan data tahun 1995 sampai 2009. Data Tenaga Kerja. HASIL PENELITIAN 1. Tenaga kerja. Data Ekspor. Analisis Deskriptif Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series yang merupakan data tahunan. Variabel independen terdiri dari PMDN. dan Infrastruktur (Jalan).BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Sedangkan. dan Data Infrastruktur (Jalan) menggunakan data pertahun. maka teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis deskriptif dan analisis statistik. Berdasarkan perumusan model yang telah dijelaskan. yang digunakan untuk melihat kebenaran hipotesis. Ekspor. Data PDRB yang digunakan adalah PDRB riil atau berdasarkan tahun dasar 2000. Data PMDN. yang dimulai dari tahun 1995 sampai tahun 2009. Analisis deskriptif merupakan analisis yang menjelaskan gejala-gejala yang terjadi pada variabel-variabel penelitian untuk mendukung hasil analisis statistik. Sedangkan analisis 57 . Penelitian mengenai analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru disini menggunakan data Pertumbuhan PDRB sebagai variabel dependen (variabel tidak bebas) untuk mewakili pertumbuhan ekonomi. serta kepentingan pengujian hipotesis.

Variabel Ekspor (X2) mempunyai nilai minimum sebesar 358243.87 3003431.733 Variabel PERTUMBUHAN EKONOMI (Y) PMDN (X1) Ekspor (X2) Tenaga kerja (X3) Infrastruktur (X4) N 15 15 15 15 15 Minimum -4.1 diatas.70 302604.05 Mean 9. Rata-rata nilai Ekspor sebesar 561954.13 2040.01267 9150.969. Tabel 5.68 226236.916 625.1.0 11850000.29 dan nilai maksimum sebesar 1056553.00 358243.00.68 dengan standar deviasi sebesar 193758.0 dan nilai maksimum sebesar 11850000.0 dan nilai maksimum sebesar 302604.70.833. : Analisis Deskriptif Std.13 dengan standar deviasi sebesar 54387.0. Rata-rata nilai Industri sebesar 226236. 2011 Berdasarkan tabel 5.29 77401.854 Sumber: Hasil Pengolahan data sekunder.87 dengan standar deviasi sebesar 3003431.82 193758.833 561954.105 1119510.969 54387. Rata-rata nilai PMDN sebesar 1119510.512 1056553. dapat dijelaskan beberapa hal berikut : Variabel PMDN (X1) mempunyai nilai minimum sebesar 9150.916.08 Maximum 12.0 2593. Deviation 3. Variabel Tenaga Kerja (X3) mempunyai nilai minimum sebesar 77401.0 1121. 58 .statistik merupakan analisis yang mengacu pada perhitungan data penelitian yang berupa angka-angka yang dianalisis dengan bantuan komputer melalui program SPSS.

009 .929 t tabel -2.009 59 .228 2.4.711 0.707 0.780 -3.854.512 dan nilai maksimum sebesar 2593.228 2.82 dengan standar deviasi sebesar 625.228 2. : Ringkasan Hasil Regresi Linier Berganda Variabel Konstanta PMDN (X1) Ekspor (X2) Tenaga Kerja (X3) Infrastruktur (X4) Koefisien Regresi t hitung (B) -8.595 0. 2011 = = = = = 0.228 Keterangan Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Adjusted R Square R Square (R2) R F Hitung Sig-F Sumber: Hasil Pengolahan data sekunder.477 4.- Variabel Infratruktur (Panjang Jalan) (X4) mempunyai nilai minimum sebesar 1121.2.247E-5 2.001 0.207 9. 2.494E-6 2.843 6.105. Analisis Kuantitatif Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan persamaan regresi linear berganda dengan menggunakan fasilitas program komputer SPSS (Statistical Package Social Science) yaitu program stasistik untuk ilmu sosial maka diperoleh hasil regresi linear berganda sebagai berikut : Tabel 5.503E-8 -0.140 0.228 -2. Rata-rata nilai Pendapatan sebesar 2040.

yang ditunjukan oleh besarnya koefisien determinasi R2. PENGUJIAN HIPOTESIS 1. Tenaga Kerja.1% dan sisanya 28. 60 .780 .711 yang menunjukkan bahwa variabel independen yaitu Penanaman Modal Dalam Negeri.00004247 X3 + 0.9% dipengaruhi oleh variabel lain diluar variabel Penanaman Modal Dalam Negeri. Tenaga Kerja (X3). 2.2 diatas. Tenaga Kerja.000009494 X2 + 0. dan Infratruktur secara bersamasama terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru. dan Infratruktur mampu menjelaskan atau mempengaruhi variabel dependen sebesar 71. Tenaga Kerja. B. Ekspor.0. Uji Koefisien Determinasi (R2) Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui ketepatan yang baik dalam analisis. Ekspor. berdasarkan hasil estimasi di dapat nilai koefisien determinasi R2 sebesar 0.00000004503 X1 + 0. diperoleh variabel-variabel yang signifikan mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Kota Pekanbaru dalam bentuk persamaan regresi berikut : Y = -8. Ekspor. Uji Hipotesa Serentak (Uji F) Uji F dilakukan untuk menguji tingkat signifikansi pengaruh Penanaman Modal Dalam Negeri.Berdasarkan tabel 5.001 X4 Terlihat bahwa Pertumbuhan Ekonomi di Kota Pekanbaru dipengaruhi oleh variabel Ekspor (X2). dan Infratruktur.

Tenaga Kerja. 61 .48 Berdasarkan tabel 5.10) = 3. Tenaga Kerja. Ekspor. dan Infratruktur secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru. k-1. Ekspor. Ekspor. Ha : Penanaman Modal Dalam Negeri.05.4.1 : Grafik Uji F 6. Tenaga aga Kerja.2 diatas. n-k }) → Ho ditolak Diketahui nilai F tabel = F (0. dan Infratruktur secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru.140 3. k-1.Hipotesis : Ho : Penanaman Modal Dalam Negeri. diperoleh nilai F hitung sebesar 6.140 dengan sig F = 0. dan Infratruktur secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru.009. Jika F hitung < F tabel (F {α. .48 Gambar 5. n-k }) → Ho diterima Jika F hitung > F tabel (F {α. Oleh karena nilai F hitung > F tabel maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak atau dengan kata lain bahwa Penanaman Modal Dalam Negeri.

207 > -2. 2. Oleh karena nilai -t hitung > -t tabel (-0. Variabel Penanaman Modal Dalam Negeri (X1) Berdasarkan tabel 5.3.228 1. dan Infratruktur secara individual tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru. 10) = ±2. variabel Penanaman Modal Dalam Negeri tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru. Artinya.2. diperoleh nilai t hitung untuk variabel Penanaman Modal Dalam Negeri sebesar -0.477 > 2. Uji Hipotesa Partial (Uji t) Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel-variabel penjelas terhadap variabel bebasnya secara individual. Tenaga Kerja. Ekspor. Tenaga Kerja.207. Ha : Penanaman Modal Dalam Negeri.228) maka dapat 62 .025.t tabel → Ho ditolak Jika –t tabel ≤ t hitung ≤ + t tabel → Ho diterima Diketahui t tabel (2 sisi) = ±t (0.477. Jika t hitung > t tabel atau -t hitung < . Hipotesis : Ho : Penanaman Modal Dalam Negeri. Oleh karena nilai t hitung > t tabel (2. Variabel Ekspor (X2) Berdasarkan tabel 5. dan Infratruktur secara individual berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru.228) maka dapat dikatakan bahwa Ho diterima pada α = 5%. diperoleh nilai t hitung untuk variabel Ekspor sebesar 2.2. Ekspor.

Oleh karena nilai t hitung < t tabel (0. 4.2.228) maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima pada α = 5%. Artinya. diperoleh nilai t hitung untuk variabel Infrastruktur (Panjang Jalan) sebesar 0.228) maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak pada α = 5%. diperoleh nilai t hitung untuk variabel Jumlah Industri sebesar 2. Multikolinearitas terjadi jika nilai tolerance lebih kecil dari 63 . Variabel Infrastruktur (X4) Berdasarkan tabel 5. variabel Infrastruktur (Panjang Jalan) tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru. 4. Variabel Tenaga Kerja (X3) Berdasarkan tabel 5.929. Artinya. Multikolinieritas Untuk menguji adanya multikolinearitas dapat dilakukan dengan menganalisis korelasi antar variabel dan perhitungan nilai tolerance serta variance inflation factor(VIF). Uji Asumsi Klasik a.707.929 < 2. variabel Tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru. variabel Ekspor berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru. Artinya.2.dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima pada α = 5%. Oleh karena nilai t hitung > t tabel (2. 3.707 > 2.

2011 Berdasarkan tabel 5. dimana semua nilai VIF dari variabel penelitian di bawah 10 dan nilai tolerence lebih besar dari 0. Ekspor 0.440 Varian Inflation Factor (VIF) 1.10 maka dapat diketahui bahwa antara antara variabel independen tidak terdapat gangguan multikolinearitas. Tenaga Kerja 0.806.060 1.920.3 : Hasil Uji Multikolinearitas Variabel PMDN Ekspor Tenaga Kerja Infrastruktur (panjang jalan) Tolerance 0.10.554.731 0.943 0.271 Kesimpulan Tidak terjadi Multikolinearitas Tidak terjadi Multikolinearitas Tidak terjadi Multikolinearitas Tidak terjadi Multikolinearitas Sumber: Hasil Pengolahan data sekunder. oleh karena itu data dalam penelitian ini telah memenuhi syarat uji multikolinearitas sehingga dapat dimasukkan dalam pengujian model regresi.806 2. Tenaga Kerja 1.828.440.0. Ekspor 1.554 0.271.367. Pengujian atas batasan ini untuk persamaan regresi yang digunakan dalam penelitian menghasilkan : Tabel 5. dan Infrastruktur 0. Nilai tolerance untuk semua variabel independen lebih besar dari 0. sedangkan nilai apabila VIF kurang dari 10 dapat dikatakan bahwa variabel independen yang digunakan dalam model adalah dapat dipercaya dan objektif. 64 . dan Infrastruktur 2. sedangkan nilai VIF masing-masing variabel yaitu PMDN 1.367 1.10 yaitu PMDN 0.3 didapat nilai tolerance yang lebih besar dari 0.1 yang berarti tidak ada korelasi antar variabel independen yang nilainya lebih dari 95% .060.

t 0.297 0. maka terdapat heterokedastisitas. Untuk mendiagnosis adanya autokorekasi dalam suatu model regresi dilakukan dengan pengujian terhadap nilai uji Durbin Watson (DW) dengan ketentuan sebagai berikut : 65 . Autokorelasi Algifari (2000:89) mengemukakan bahwa autokorelasi merupakan korelasi antara anggota sampel yang di urutkan berdasarkan waktu. Tabel 5. semua nilai signifikansi variabel independent lebih besar dari 0.050 > 0.050 > 0. jika nilai signifikansi lebih kecil dari 5% (0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat heterokedastisitas dalam model regresi. Sebaliknya. c.b. Jika nilai signifikansi lebih besar dari 5% (0.389 0.520 Sig > 0.4 : Hasil Uji heterokedastisitas Variabel PMDN Ekspor Tenaga Kerja Infrastruktur (Panjang Jalan) Sig. Heterokedastisitas Pengujian terhadap heterokedastisitas dilakukan dengan pengujian Glejser.068 0.05). Caranya dengan meregresi nilai residual dengan nilai variabel independent untuk mempeoleh nilai koefisien yang kemudian dilihat signifikansinya.050 > 0.050 Kesimpulan Tidak terdapat heterokedastisitas Tidak terdapat heterokedastisitas Tidak terdapat heterokedastisitas Tidak terdapat heterokedastisitas Sumber: Hasil Pengolahan data sekunder.05). 2011 Berdasarkan tabel diatas. maka tidak terdapat heterokedastisitas.

Artinya jika terjadi kenaikan nilai Penanaman Modal Dalam Negeri sebesar 1 rupiah maka akan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar -0. Dari tabel 5.08 sampai dengan 1.34 sampai dengan 2. PEMBAHASAN 1.00000004503 % (cateris paribus).00000004503.66 sampai dengan 2. Dengan demikian.92 Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi antara anggota sampel yang diurutkan berdasarkan waktu. Berdasarkan tabel Model Summary (ada di lampiran).Tabel 5.5 di atas.5 : Pengukuran Autokorelasi Kesimpulan Ada Autokorelasi Tanpa Kesimpulan Tidak Ada Autokorelasi Tanpa Kesimpulan Ada Autokorelasi Durbin Watson Kurang dari 1.34. Untuk vaiabel X1 (Penanaman 66 . dapat di ambil kesimpulan bahwa nilai DW hitung terletak antara interval 1.34 2. Pengaruh Penanaman Modal Dalam Negeri terhadap Pertumbuhan Ekonomi Koefisien Penanaman Modal Dalam Negeri adalah -4.503E-8 atau 0.135.66 1.92 lebih dari 2. DW jatuh pada daerah tidak ada autokorelasi atau dapat dikatakan bahwa tidak terdapat autokorelasi antara anggota sampel yang diurutkan berdasarkan waktu. C. diperoleh DW hitung sebesar 2.08 1.66 sampai dengan 2.

Oleh karena itu Pemerintah Kota Pekanbaru seyogianya menyederhanakan prosedur investasi agar minat investor untuk menanamkan investasinya di wilayah ini semakin besar. sehingga Ha ditolak dan H0 diterima. 2. Pengaruh Ekspor terhadap Pertumbuhan Ekonomi Sebagaimana dilihat pada penjelasan sebelumnya bahwa koefisien Ekspor adalah 9. Tidak signifikan dan adanya hubungan negatif Penanaman Modal Dalam Negeri terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru lebih disebabkan karena investasi yang dilakukan oleh Penanaman Modal Dalam Negeri tersebut nilainya masih relatif rendah dan tidak stabil.494E-6 atau 0. Artinya jika terjadi kenaikan Nilai ekspor sebesar 1 Rupiah maka akan terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.Modal Dalam Negeri) diperoleh -t hitung lebih besar dari -t tabel. serta biaya birokrasi yang masih tinggi. dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa Ekspor berhubungan positif terhadap Pertumbuhan Ekonomi.000009494. artinya semakin tinggi Ekspor maka Pertumbuhan Ekonomi akan naik dan semakin turun Ekspor maka 67 .000009494 % (cateris paribus). Hasil analisis menunjukkan bahwa Penanaman Modal Dalam Negeri secara statistik negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru. jadi keuntungan yang diperoleh tidak terlalu besar dan tingginya biaya yang harus dibayar oleh Investor untuk berinvestasi di Kota Pekanbaru karena panjangnya prosedur yang harus ditempuh investor. Kebanyakan investasi yang dilakukan hanya pada industri kecil.

dokumen ekspor & impor). melakukan deregulasi dan debirokratisasi regulasi perdagangan baik. Selain itu juga dengan cara memperlancar arus barang dengan meningkatkan efisiensi distribusi. sehingga mengganggu dan meningkatkan biaya tambahan bagi para pengusaha di daerah-daerah. menyederhanakan prosedur perizinan di sektor perdagangan (seperti SIUP.muat kontainer rendah dan terminal handling cost tinggi). Hasil analisis menunjukkan bahwa ekspor secara statistik positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru. Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan transparansi kebijakan termasuk perizinan sektor perdagangan. Serta banyaknya pungutan-pungutan liar di pelabuhan yang makin mempersempit marjin keuntungan para pengusaha serta tidak profesionalnya pelayanan di pelabuhan (kemampuan bongkar . sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Masih kecilnya ekspor netto menunjukkan bahwa ekspor belum memberikan pengaruh yang terlalu besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Untuk vaiabel X2 (Ekspor) diperoleh t hitung lebih besar dari t tabel.Pertumbuhan Ekonomi akan turun. Selain itu masih banyaknya pungutan yang ditentukan melalui peraturan daerah dalam rangka mencapai target Pendapatan Asli Daerah (PAD). dengan cara antara lain pengurangan/penghapusan hambatan yang 68 . Signifikannya ekspor terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Pekanbaru. serta yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan sarana dan prasarana sektor perdagangan. ini lebih disebabkan karena pekanbaru memiliki sarana penunjang ekspor seperti bandar udara dan pelabuhan kapal. Oleh karena itu usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Pekanbaru untuk mendorong kegiatan ekspor adalah menekan ekonomi biaya tinggi.

00004247. karena itulah. 3.membebani distribusi (seperti Perda dan retribusi daerah). Dalam pembangunan nasional. artinya semakin banyak tenaga kerja maka Pertumbuhan Ekonomi akan semakin tinggi dan apabila tenaga kerja berkurang maka Pertumbuhan Ekonomi akan mengalami penurunan. Tenaga kerja merupakan faktor yang penting dalam proses produksi atau dalam kegiatan pembangunan sebagai saran produksi lainya.00004247 % (cateris paribus). peningkatan ketersediaan sarana transportasi serta peningkatan pengamanan pasar dalam negeri. Artinya jika terjadi kenaikan jumlah Tenaga kerja sebesar 1 orang maka akan terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0. Pada dasarnya tenaga kerja berperan besar dalam peningkatan hasil produksi (output). Berdasarkan penelitian ditemukan fakta bahwa Tenaga Kerja berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru. perkembangan jumlah tenaga kerja masih menjadi faktor yang sangat penting dalam menentukan laju pertumbuhan ekonomi. dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa Tenaga kerja berpengaruh positif terhadap Pertumbuhan Ekonomi.247E-5 atau 0. Untuk vaiabel X3 (Tenaga Kerja) diperoleh t hitung lebih besar dari t tabel. Tenaga kerja merupakan penggerak sumber-sumber tersebut untuk mengasilkan barang dan jasa. sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Pengaruh Tenaga Kerja terhadap Pertumbuhan Ekonomi Koefisien Tenaga Kerja adalah 4. 69 .

yaitu jika Infrastruktur (panjang jalan) ditingkatkan 1 satuan unit maka Pertumbuhan Ekonomi di Kota Pekanbaru akan bertambah sebesar 0. jika Infrastruktur (panjang jalan) berkurang 1 satuan unit maka Pertumbuhan Ekonomi akan turun sebesar 0. yakni sebesar 0. pengaruh variabel Infrastruktur menunjukan angka yang tidak signifikan dilihat dari t hitung lebih kecil dari t tabel. sehingga H0 diterima dan Ha ditolak.001 % (cateris paribus). 4. koefisien regresi untuk variabel Infrastruktur (X4) menunjukkan tanda positif. Sebaliknya.001 %. Pengaruh Infrastuktur terhadap Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan hasil regresi. Ketidakseimbangan antara pertumbuhan penduduk dengan kesempatan kerja dan dalam penyebaran penduduk antar daerah. Berdasarkan uji signifikansi parsial.001. Variabel Infrastruktur (panjang jalan) belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru yang disebabkan prasarana jalan yang belum semuanya dalam kondisi baik dan perhatian 70 .Perkembangan tenaga kerja tersebut seharusnya diiringi dengan peningkatan dari tenaga kerjanya sehingga kemampuan tenaga kerja tersebut sesuai dengan kualitas kebutuhan pasar tenaga kerja dan pada akhirnya dapat diserap oleh lapangan kerja yang tersedia. Hubungan positif ini memberi arti bahwa antara Infrastruktur (panjang jalan) dan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan yang searah. tentunya dapat mengakibatkan tidak proporsionalnya penggunaan tenaga kerja secara regional dan sektoral yang tentunya akan menghambat laju pertumbuhan perekonomian nasional maupun laju pertumbuhan daerah.

Sebaliknya pusat ini akan berkembang menjadi pusat pemukiman (nulel). dengan modal yang tinggi sebagai salah satu pendorong positif dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi. sebagai salah satu faktor penunjang perekonomian (The Promoting Sektor) maupun pemberi jasa (The Servicing Sektor). Transportasi mempunyai pengaruh besar terhadap perorangan. antar daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. Pengangkutan merupakan sarana dan prasarana bagi pembangunan ekonomi suatu negara yang bisa mendorong lajunya pertumbuhan ekonomi. karena Infrastruktur digolongkan kedalam modal nyata yang merupakan salah satu faktor produksi. 71 . Pada dasarnya Infrastruktur (panjang jalan) mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. pembangunan ekonomi dan sosial suatu negara. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.pemerintah masih kurang dalam membuka akses ke pemukiman dan industri yang terletak di lingkar kota. masyarakat. Pembangunan ekonomi membutuhkan jasa angkutan yang cukup serta memadai. Kota Pekanbaru sangat bergantung pada sarana pengangkutan yang memadai. Pada hakikatnya pembangunan sarana perhubungan merupakan suatu upaya untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang merata dan seimbang. baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Hal tersebut didorong oleh pertimbangan meningkatnya transit lalu lintas ditempat tersebut karena kegiatan ekonomis. Jalan raya sebagai salah satu prasarana perhubungan yang makin meningkat intensitas “Intra-Cities Traffic” nya mengakibatkan pada tempat tertentu sepanjang prasarana perhubungan itu timbulnya pusat-pusat pemukiman.

Elastisitas digunakan untuk mengukur tingkat kepekaan antara variabel-variabel bebas (PMDN.503E-8 1119510.86 9.707.59198 PMDN PE = -4. Tenaga Kerja dan Infrastruktur) terhadap variabel terikat. Berdasarkan tabel 5. Ekspor.954. Penanaman Modal Dalam Negeri Ex1 = ∆ PE ∆ PMDN b. nilat t hitung tertinggi terdapat pada variabel tenaga kerja dibandingkan dengan variabel lainnya yaitu sebesar 2. Variabel yang paling berpengaruh terhadap Pertumbuhan Ekonomi Untuk menentukan variabel bebas manakah yang paling berpengaruh terhadap Pertumbuhan Ekonomi dapat dilihat dari perbandingan nilai t hitung masing-masing variabel bebas.13 9. Semakin besar nilai elastisitas suatu variabel.5. Tenaga Kerja Ex1 = ∆ PE ∆ TK TK PE = 4.01267 = 1. Ekspor Ex1 = ∆ PE ∆ Ekspor c.68 9.236.01267 = -0.2.01267 = 0. maka semakin besar pula pengaruh variabel bebas tersebut terhadap variabel terikat. Untuk melihat kontribusi antar variabel bebas terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Pekanbaru dapat dilakukan dengan menggunakan teori elastisitas.00559 72 .494E-6 561. Adapun perhitungannya sebagai berikut : a.247E-6 226.06612 Ekspor PE = 9.

d. Ini berarti Tenaga Kerja memiliki kontribusi yang paling besar terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Pekanbaru. Tenaga Kerja dan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan positif. Berdasarkan data yang diolah.32161 Dari perhitungan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa variabel bebas yang paling besar kontribusinya terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Pekanbaru adalah variabel Tenaga kerja. Karena variabel Tenaga Kerja memiliki nilai elastisitas yang paling tinggi diantara variabel bebas lainnya. Infrastruktur Ex1 = ∆ PE ∆ INF INF PE = 0.81 9.01267 = 0. Variabel Tenaga Kerja memiliki nilai elastisitas sebesar 1.06612 atau lebih besar dari nilai elastisitas variabel bebas lainnya. 73 . Tanda positif menunjukan hubungan antara Tenaga Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi.001 2040.

Penanaman Modal Dalam Negeri secara individual berhubungan negatif dengan pertumbuhan ekonomi. b.000009494. Variabel-variabel yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru a.503E-8 atau -0.00000004503. Artinya jika terjadi kenaikan Nilai ekspor sebesar 1 Rupiah maka akan terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.477 > 2.207 > -2. Koefisien Ekspor adalah 0. Artinya jika terjadi kenaikan nilai Penanaman Modal Dalam Negeri sebesar 1 rupiah maka akan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.00000004503 % (cateris paribus).000009494 % (cateris paribus). Penanaman Modal Dalam Negeri tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi yang dibuktikan dengan -t hitung > -t tabel (-0. KESIMPULAN 1. 74 . Ekspor berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi yang dibuktikan dengan t hitung > t tabel (2. Nilai koefisien regresi Penanaman Modal Dalam Negeri adalah sebesar -4.228) pada tingkat kepercayaan 95%.228) pada tingkat kepercayaan 95%. Variabel Ekspor secara individual berhubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A.

929 < 2. Hal ini dibuktikan dari hasil perhitungan diperoleh nilai F hitung sebesar 14. Variabel yang paling besar berpengaruhnya terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota pekanbaru Penanman Modal Dalam Negeri. d. Hal ini berarti bahwa dengan kenaikan Infrastruktur (Jalan) sebesar 1 Km. Berdasarkan hasil regresi. Ekspor. Koefisien Tenaga Kerja adalah 0. Tenaga Kerja berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi yang dibuktikan dengan t hitung > t tabel (2.48. Tenaga Kerja. dengan membandingkan F hitung dan F tabel diketahui F hitung lebih besar dari F tabel. koefisien regresi untuk variabel Infrastruktur (Jalan) menunjukkan tanda positif.c. 2. Jumlah Industri secara individual berhubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi.00004247 % (cateris paribus).00004247. maka akan berakibat pada kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0. dan Infrastruktur (Jalan) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi.228) dengan tingkat kepercayaan 95%. Artinya jika terjadi kenaikan Tenaga Kerja sebesar 1 orang maka akan terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.228) pada tingkat kepercayaan 95%. yakni sebesar 0.001 % (cateris paribus). Infrastruktur (Jalan) secara individu berhubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi.336 dan nilai F tabel pada tingkat pengujian 95% adalah 3. Infrastruktur (Jalan) tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi yang dibuktikan dengan t hitung < t tabel (0.001.707 > 2. 75 .

maka dapat disarankan sebagai berikut : 1. sehingga terjamin kepastian berusaha dan keamanan untuk berinvestasi. 76 . B. Melalui kebijakan-kebijakan tersebut. sebagai masukan dan rekomendasi bagi Pemerintah Daerah dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru.artinya Penanman Modal Dalam Negeri. SARAN Dari berbagai kesimpulan yang telah dirangkumkan diatas. memberikan sarana dan prasarana yang menunjang. Tenaga Kerja. Namun secara individu variabel bebas yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru adalah variabel Tenaga Kerja. karena bertambahnya investor-investor baru untuk menanamkan modalnya yang akan menyebabkan menigkatnya pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga harus berhati-hati dalam memutuskan tipe dari modal asing yang akan ditanam. maka diusahakan memberikan prosedur yang sederhana dan terkendali. Dan untuk investasi asing. dan Infrastruktur (Jalan) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi (cateris paribus). pemerintah sebaiknya mengadakan kualifikasi kembali terhadap modal asing yang masuk agar tidak menghambat perkembangan investasi domestik. Ekspor. Dalam investasi. diharapkan nilai investasi semakin dapat meningkat. sebaiknya pemerintah menciptakan iklim investasi yang kondusif. serta peraturan dalam berinvestasi yang konsisten.

4. serta menaikan nilai tambah komoditi ekspor. Signifikannya Tenaga Kerja terhadap pertumbuhan ekonomi dan dalam hal ini berarti bahwa untuk mengupayakan peningkatan lapangan usaha. sehingga menaikan nilai tukar terhadap komoditi ekspor lainnya. Pemerintah perlu meningkatkan ekspor. terutama untuk komoditi primer.2. Dalam penelitian ini variabel Infrastruktur (Jalan) memiliki pengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Proses produksi ekspor tersebut harus dapat pula dikuasai oleh penduduk di dalam negeri. 3. agar tercipta pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Hal yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Kota Pekanbaru adalah meningkatkan jumlah perusahaan disemua sektor yang ada sehingga nantinya akan memperluas kesempatan kerja dan akan meningkatkan kegiatan perekonomian dan pertumbuhan ekonomi. Untuk itu pemerintah hendaknya mengupayakan perluasan lapangan kerja. yakni melakukan ekspor yang bertumpu pada kekuatan sumber daya sendiri dan mengurangi kandungan impor agar peranan dan nilai ekspor tidak berkurang terhadap pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu hal perlu dilakukan Pemerintah Kota Pekanbaru haruslah menciptakan dan menjaga sarana dan prasarana yang lebih baik agar penduduk kota merasa nyaman dan akan 77 . Infrastruktur secara tidak langsung dapat mencerminkan seberapa tinggi dan rendahnya tingkat pembangunan disuatu daerah. Maka dengan ini tenaga kerja dapat memberikan peningkatan pendapatan di Kota Pekanbaru. Cara untuk meningkatkan ekspor diantaranya adalah melalui diversifikasi komoditi ekspor.

berinvestasi demi tercapainya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di Kota Pekanbaru. 78 .

Artuyo. Jakarta. 1996. Penerbit Ghalia Indonesia. Hamdy. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Barat Tahun 1983-1996. Jakarta. Jakarta. Yogyakarta. Tenaga Kerja Perusahaan : pengertian dan peranannya. Yogyakarta. Jakarta. Pekanbaru. Teori Ekonomi Makro. Skripsi Sarjana (Tidak dipublikasikan). Fakultas Ekonomi. FE-UI. Gujarati. 2005. Penerbit BPFE. 2000. Penerbit Erlangga. 1995. Balai Pustaka. 2000. Yogyakarta. 2004. Adisasmita Raharjo. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi DIY Tahun 1990-2004. Skripsi Sarjana (Tidak dipublikasikan). Universitas Islam Indonesia. Perekonomian Indonesia. Yogyakarta. Yogyakarta. Fakultas Ekonomi. Penerbit Erlangga. Boediono. Ace. Guritno. Dasar – Dasar Ekonomi Wilayah. 1996. N. Mangkoesoebroto. Rencana Umum Tata Ruang Kota Pekanbaru. Jakarta. BPFE. Damodar. 1998. Ekonomitrika Dasar. Penerbit STIE YKPN. Dumairy. 1998. Badan Pusat Statistik. Yogyakarta.DAFTAR PUSTAKA Algifari. Ekonomi Internasional. Jhingan. Rustian.R. 1995-2009. Kusnadi. Pengantar Ekonomi Pembangunan. 2000. Ekonomi Pembangunan. Dinas Tata Kota Pekanbaru. Analisis Regresi. Teori dan Kebijakan Perdagangan Internasional. Buku Kesatu. Kamaludin. Pekanbaru Dalam Angka. Teori Pertumbuhan Ekonomi. Penerbit Graha Ilmu. Yogyakatra. Universitas Islam Indonesia.A. 1999. Arsyad Lincolin. Jakarta. Nelly. Hady.1998. Penerbit STIE YKPN. Penerbit Rajawali Press. 2007. 2004. 79 . Laili. Pekanbaru. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan.

Prabowo. 2002. Penerbit Bumi Aksara. Yogyakarta. Elex Media Komputindo. Alan. Jakarta. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. 2005. 2001. PT. 2005. Michael. Teori Lokasi Industri. Gramedia Pustaka. Paul A. Pengantar Makro Ekonomi. Universitas Islam Indonesia. Jakarta. H. 2001. Jakarta. 1998. P. Oglesby. Media Global Edukasi. Penerbit Universitas Trisakti. Edisi Ketujuh. Menggunakan SPSS Untuk Statistik Parametrik. Suparmoko. Sugiarto. 1997. PT. Jakarta. PT. Santoso. Tulus. Ilmu Makro Ekonomi. Pembangunan Ekonomi Didunia Ketiga. Edisi Bahasa Indonesia. Fakultas Ekonomi. Jakarta. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Skripsi Sarjana (Tidak dipublikasikan). _______________. Ekonomi Mikro Sebuah Kajian Komprehensif. Jakarta. Sadono. . 2004. Jilid Satu. Clarson dkk. Jakarta Samuelson. Jakarta. PT. 2004. M. Erlangga. Makro Ekonomi Modern Teori Pengantar. Teknik Jalan Raya. PT. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Tahun 1986-2002. Robinson. Singgih. Jakarta Sukirno. BPFE. Dunia Ketiga dan Permasalahannya. 2004. Tarigan. 2002.Mountjoy. Payaman. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Industrialisasi di Negara Sedang Berkembang Kasus Indonesia. LP FE-UI. Jakarta. PT. Parlin. Todaro. 2005. Penerbit Ghalia Indonesia. dan Nordhaus. 2006. PT. Penerbit Erlangga. Jakarta. 80 . Bumi Aksara. Sitorus. Raja Grafindo Persada. Supranto. 2000. PT. Pengantar Ekonomi Makro. Simanjuntak. 2002. Raja Grafindo Persada. Bumi Aksara. B. Yogyakarta. Jakarta. 1999. Jakarta. Tambunan. William D.

Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Riau. ______. Penerbit CV. Jakarta.UU RI No. Dinas Tenaga Kerja Kota Pekanbaru.1997. 2004. Tamita Utama. 2001. Pekanbaru. Keputusan Mentri Perindustrian dan Perdagangan RI. 25 Tahun 2000 Tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) tahun 2000-2004. ______. 81 .

Lampiran 1 DATA OBSERVASI Obs 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Y 9,86 10,08 8,93 -4,08 9,54 8,94 10,74 12,05 9,82 11,36 10,05 10,15 9,89 9,05 8,81 X1 44.575,00 123.702,00 226.086,00 76.486,00 114.536,00 172.468,00 9.150,00 303.019,00 1.521.500,00 135.956,00 134.056,00 11.850.000,00 1.339.429,00 236.800,00 504.900,00 X2 1.056.553,70 760.319,67 648.003,72 358.243,29 507.075,16 437.575,04 441.556,08 836.008,29 503.345,69 440.878,05 636.607,92 539.313,87 406.082,42 448.084,61 409.672,65 X3 191283 223035 214309 77401 195808 204732 191922 217549 302604 281651 242613 249168 252345 264659 284463 X4 1121,51 1177,43 1187,43 1190,76 1290,76 2593,11 2297,69 2393,11 2398,78 2426,84 2427,91 2428,98 2574,34 2556,99 2546,64

Dimana : Y X1 X2 X3 X4 = Pertumbuhan Ekonomi (%) = Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) (Juta Rp) = Ekspor (Juta Rp) = Tenaga Kerja (orang) = Infrastruktur Jalan (Km)

82

Lampiran 2 HASIL ANALISIS REGRESI LINIER BERGANDA

Variables Entered/Removed Variables Model 1 Entered Jalan, PMDN, Ekspor, Tenaga Kerjaa a. All requested variables entered. Variables Removed Method . Enter

Model Summary Adjusted R Model 1 R .843
a

b

Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 2.135

R Square .711

Square .595

2.37606

a. Predictors: (Constant), Jalan, PMDN, Ekspor, Tenaga Kerja b. Dependent Variable: Pertumbuhan

ANOVAb Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 138.661 56.456 195.118 df 4 10 14 Mean Square 34.665 5.646 F 6.140 Sig. .009a

a. Predictors: (Constant), Jalan, PMDN, Ekspor, Tenaga Kerja b. Dependent Variable: Pertumbuhan

83

Coefficients

a

Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) PMDN Ekspor Tenaga Kerja Jalan a. Dependent Variable: Pertumbuhan B -8.780 -4.503E-8 9.494E-6 4.247E-5 .001 Std. Error 3.881 .000 .000 .000 .002 -.036 .493 .619 .238 Coefficients Beta t -2.262 -.207 2.477 2.707 .929 Sig. .047 .840 .033 .022 .375

Residuals Statistics Minimum Predicted Value Residual Std. Predicted Value Std. Residual -.4031 -3.67692 -2.992 -1.547 Maximum 12.1900 3.91298 1.010 1.647

a

Mean 9.0127 .00000 .000 .000

Std. Deviation 3.14712 2.00814 1.000 .845

N 15 15 15 15

a. Dependent Variable: Pertumbuhan

84

Lampiran 3 UJI MULTIKOLINIERITAS

Coefficients Unstandardized Coefficients Std. Model 1 (Constant) PMDN Ekspor Tenaga Kerja Jalan .001 .002 .238 .929 B -8.780 -4.503E-8 9.494E-6 4.247E-5 Error 3.881 .000 .000 .000 -.036 .493 .619 Beta t -2.262 -.207 2.477 2.707 Standardized Coefficients

a

Collinearity Correlations ZeroSig. .047 .840 .033 .022 .104 .346 .726 -.065 -.035 .617 .650 .421 .460 .943 .731 .554 1.061 1.368 1.806 order Partial Part Statistics Toleran ce VIF

.375

.397

.282

.158

.440

2.271

a. Dependent Variable: Pertumbuhan

85

470E-8 -3. .667 Sig.04712 a.Lampiran 4 UJI HETEROSKEDASTISITAS Variables Entered/Removed Variables Model 1 Entered Jalan.673 -. . Ekspor.940 df 4 10 14 b Mean Square 2.004 . Error of the Estimate Durbin-Watson 2.502 Sig. Tenaga Kerja b.000 . Ekspor.975 10.882 -2.109 a a. Enter a. Tenaga Kerja a Variables Removed Method .101 -. Model Summary Adjusted R Model 1 R .139 -1.203 -.000 . Predictors: (Constant).710 . All requested variables entered.281 -8.331 -.611E-6 .068 .744 1. Dependent Variable: Ebesid Coefficientsa Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) PMDN Ekspor Tenaga Kerja Jalan B 6. Tenaga Kerja b. Jalan.297 .000 .225 Coefficients Beta t 3.500 Square . Jalan.398 . PMDN. Dependent Variable: Ebesid ANOVA Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 10.300 1. PMDN. Error 1.096 F 2. PMDN.001 -.520 86 .000 Std. Ekspor.707 a b Std.965 21.559 -.594 R Square .612E-6 -7. Predictors: (Constant).

2002 – 2005 4. Sukun Blok O/9. Universitas Riau (2005-2011) Penulis Muhammad Hidayat 87 . Riau Riwayat Pendidikan : 1.CURRICULUM VITAE Nama Tempat/Tgl Lahir Agama Jenis Kelamin Kewarganegaraan Mobile E-mail Alamat : MUHAMMAD HIDAYAT : Padang / 08 Februari 1987 : Islam : Laki-laki : Indonesia : 085766486188 : daynuno@yahoo.co.id : Delima Puri. Anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi. Jl. Fakultas Ekonomi. Sumatera Barat (1999-2002) 2. Tampan. 2005 – 2011 : SDN 33 Padang – Sumatera Barat : SLTPN 20 Padang – Sumatera Barat : SMUN 6 Padang – Sumatera Barat : Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Riau – Riau Pengalaman Organisasi : 1. 1999 – 2002 3. Pekanbaru. Universitas Riau (2005-2011) 4. Sumatera Barat (2002-2005) 3. Anggota OSIS SMUN 6 Padang. Anggota OSIS SLTPN 20 Padang. 1993 – 1999 2. Anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->